Updates from September, 2010 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 6:32 pm pada 8 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: takbir, takbir keliling, takbiran   

    Lafazh Takbiran Sahabat Rasulullah SAW 

    Oleh : Syaikh Ali Hasan bin Ali Al Halabi Al Atsari

    Sebatas pengetahuan kami (Syaikh Ali Hasan), tidak ada satu hadits Nabi pun yang shahih dalam menjelaskan sifat takbir (pada hari raya ‘Ied). Akan tetapi ada riwayat dari sebagian sahabat Nabi SAW, seperti Ibnu Mas’ud ra. pernah mengucapkan, “AllaHu Akbar AllaHu Akbar, Laa ilaHa illallaHu wallaHu Akbar, Allahu Akbar wa lillaHiil hamdu” (HR. Ibnu Abi Syaibah II/168, hadits shahih)

    Ibnu Abbas ra. juga pernah mengucapkan, “AllaHu Akbar, AllaHu Akbar, AllaHu Akbar wa lillaHil hamd, AllaHu Akbar wa ajallu, AllaHu Akbar ‘alaa maa Haadaanaa” (HR. Al Baihaqi III/315, hadits shahih)

    Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq yang diantara jalannya terdapat pada Al Baihaqi dalam kitab As Sunan Al Kubra (III/316) dengan sanad shahih dari Salman al Khair ra., dia mengatakan, “KabbirullaHu, AllaHu Akbar, AllaHu Akbar, AllaHu Akbar”

    Cukup banyak manusia menyelisihi dzikir yang bersumber dari kaum salafush shalih, dengan membaca dzikir – dzikir lain, melakukan penambahan, serta membuat lafazh – lafazh baru yang tidak memiliki dasar sama sekali.

    Sehingga Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari (II/536) mengatakan, “Dan zaman sekarang ini telah terjadi penambahan dalam hal takbir tersebut yang tidak memiliki dasar sama sekali”

    ***

    Maraji’: Buku Meneladani Rasulullah SAW dalam Berhari Raya, Syaikh Ali Hasan bin Ali Al Halabi Al Atsari*, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor, Cetakan Pertama, September 2005.

     
  • erva kurniawan 1:30 am pada 4 September 2010 Permalink | Balas  

    Orang Baik Atau Orang Beragama 

    Seorang lelaki berniat untuk menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah. Seorang nenek yang merasa iba melihat kehidupannya membantunya dengan membuatkan sebuah pondok kecil dan memberinya makan, sehingga lelaki itu dapat beribadah dengan tenang.

    Setelah berjalan selama 20 tahun, si nenek ingin melihat kemajuan yang telah dicapai lelaki itu. Ia memutuskan untuk mengujinya dengan seorang wanita cantik.

    ”Masuklah ke dalam pondok,” katanya kepada wanita itu, ”Peluklah ia dan katakan ‘Apa yang akan kita lakukan sekarang’?”

    Maka wanita itu pun masuk ke dalam pondok dan melakukan apa yang disarankan oleh si nenek.

    Lelaki itu menjadi sangat marah karena tindakan yang tak sopan itu. Ia mengambil sapu dan mengusir wanita itu keluar dari pondoknya. Ketika wanita itu kembali dan melaporkan apa yang terjadi, si nenek menjadi marah.

    ”Percuma saya memberi makan orang itu selama 20 tahun,” serunya. ”Ia tidak menunjukkan bahwa ia memahami kebutuhanmu, tidak bersedia untuk membantumu ke luar dari kesalahanmu. Ia tidak perlu menyerah pada nafsu, namun sekurang-kurangnya setelah sekian lama beribadah seharusnya ia memiliki rasa kasih pada sesama.”

    **

    Apa yang menarik dari cerita diatas? Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara taat beribadah dengan memiliki budi pekerti yang luhur.

    Taat beragama ternyata sama sekali tak menjamin perilaku seseorang. Ada banyak contoh yang dapat kita kemukakan disini. Anda pasti sudah sering mendengar cerita mengenai guru mengaji yang suka memperkosa muridnya.

    Seorang kawan yang rajin shalat limawaktu baru-baru ini di PHK dari kantornya karena memalsukan dokumen. Seorang kawan yang berjilbab rapih ternyata suka berselingkuh. Kawan yang lain sangat rajin ikut pengajian tapi tak henti-hentinya menyakiti orang lain. Adapula kawan yang berkali-kali menunaikan haji dan umrah tetapi terus melakukan korupsi di kantornya.

    Lantas dimana letak kesalahannya? Saya kira persoalan utamanya adalah pada kesalahan cara berpikir. Banyak orang yang memahami agama dalam pengertian ritual dan fiqih belaka. Dalam konsep mereka, beragama berarti melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan melagukan (bukannya membaca) Alquran. Padahal esensi beragama bukan disitu. Esensi beragama justru pada budi pekerti yang mulia.

    Kedua, agama sering dipahami sebagai serangkaian peraturan dan larangan. Dengan demikian makna agama telah tereduksi sedemikian rupa menjadi kewajiban dan bukan kebutuhan. Agama diajarkan dengan pendekatan hukum (outside-in), bukannya dengan pendekatan kebutuhan dan komitmen ( inside-out).

    Ini menjauhkan agama dari makna sebenarnya yaitu sebagai sebuah sebuah cara hidup ( way of life), apalagi cara berpikir (way of thinking).

    Agama seharusnya dipahami sebagai sebuah kebutuhan tertinggi manusia. Kita tidak beribadah karena surga dan neraka tetapi karena kita lapar secara rohani. Kita beribadah karena kita menginginkan kesejukan dan kenikmatan batin yang tiada taranya.

    Kita beribadah karena rindu untuk menyelami jiwa sejati kita dan merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita. Kita berbuat baik bukan karena takut tapi karena kita tak ingin melukai diri kita sendiri dengan perbuatan yang jahat.

    Adasebuah pengalaman menarik ketika saya bersekolah di London dulu. Kali ini berkaitan dengan polisi. Berbeda dengan di Indonesia, bertemu dengan polisi disana akan membuat perasaan kita aman dan tenteram. Bahkan masyarakat Inggris memanggil polisi dengan panggilan kesayangan: Bobby.

    Suatu ketika dompet saya yang berisi surat-surat penting dan sejumlah uang hilang. Kemungkinan tertinggal di dalam taksi. Ini tentu membuat saya agak panik, apalagi hal itu terjadi pada hari-hari pertama saya tinggal di London.

    Tapi setelah memblokir kartu kredit dan sebagainya, sayapun perlahan-lahan melupakan kejadian tersebut. Yang menarik, beberapa hari kemudian, keluarga saya di Jakarta menerima surat dari kepolisian Londonyang menyatakan bahwa saya dapat mengambil dompet tersebut di kantor kepolisian setempat.

    Ketika datang kesana, saya dilayani dengan ramah. Polisi memberikan dompet yang ternyata isinya masih lengkap. Ia juga memberikan kuitansi resmi berisi biaya yang harus saya bayar sekitar 2,5 pound. Saking gembiranya, saya memberikan selembar uang 5 pound sambil mengatakan, ”Ambil saja kembalinya.”

    Anehnya, si polisi hanya tersenyum dan memberikan uang kembalinya kepada saya seraya mengatakan bahwa itu bukan haknya. Sebelum saya pergi, ia bahkan meminta saya untuk mengecek dompet itu baik-baik seraya mengatakan bahwa kalau ada barang yang hilang ia bersedia membantu saya untuk menemukannya.

    Hakekat keberagamaan sebetulnya adalah berbudi luhur. Karena itu orang yang ”beragama” seharusnya juga menjadi orang yang baik. Itu semua ditunjukkan dengan integritas dan kejujuran yang tinggi serta kemauan untuk menolong dan melayani sesama manusia.

    ***

    disadur dari Republika Kepemimpinan

    Oleh: Arvan Pradiansyah, direktur pengelola Institute for Leadership & Life Management (ILM) & penulis buku Life is Beautiful

     
    • azkaazzahra 1:41 am pada 4 September 2010 Permalink

      orang baik dan beragama. cuma itu satu-satunya pilihan…
      jika dipisahkan semua sia-sia….
      salam…..

    • arwan 5:42 pm pada 16 September 2010 Permalink

      sungguh ini renungan yg sangat sederhana tp,,menyentuh???

  • erva kurniawan 1:04 am pada 3 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: Adakah Berbohong Yang Dibolehkan?   

    Adakah Berbohong Yang Dibolehkan? 

    Pada dasarnya Islam melarang seorang muslim untuk berbohong. Bahkan berbohong dalam Islam dipandang sebagai salah satu sifat kekufuran dan kemunafikan. Di dalam Al-Qur’an Alloh SWT berfirman, “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah mereka yang tidak mengimani (mempercayai) tanda-tanda kekuasaan Alloh. Mereka adalah kaum pendusta”. (An-Nahl: 105)

    Rasulullah SAW pun menggolongkan mereka yang berdusta termasuk orang-orang yang memiliki karekteristik kemunafikan. Beliau bersabda, “Empat hal jika semuanya ada pada seseorang ia adalah munafik semurni-murninya munafik. Jika satu di antara yang empat itu ada pada dirinya maka padanya terdapat saru sifat kemunafikan hingga ia dapat membuangnya; Jika berbicara ia berduta, jika diberi amanah ia khianat, jika berjanji ia melanggar dan jika membantah ia berbohong.” (HR. Bukhori Muslim)

    Dalil-dalil di atas menunjukan dengan tegas bagaimana kecaman Islam terhadap kebohongan dan orang-orang yang melakukannya.

    Namun demikian Rasulullah SAW memberikan pengecualian terhadap tiga kebohongan yang boleh (mubah) dilakukan oleh seorang muslim

    Dari Ummu Kultsum RA ia berkata:”Saya tidak pernah mendengar Rasulullah SAW memberi kelonggaran berdusta kecuali dalam tiga hal: [1] Orang yang berbicara dengan masud hendak mendamaikan, [2] orang yang berbicara bohong dalam peperangan dan [3] suami yang berbicara dengan istrinya serta istri yang berbicara dengan suaminya (mengharapkan kebaikan dan keselamatan atau keharmonisan rumah tangga)”. (HR. Muslim)

    Tidak mungkin dapat diterima jika orang yang hendak mendamaikan pihak-pihak yang berselisih menyampaikan apa yang oleh satu pihak kepada pihak lain. Itu pasti akan lebih mengobarkan api yang sedang menyala. Ia harus berusaha meredakan suasana, jika perlu ia boleh menambah-nambah dengan berbagai perkataan yang manis dan tidak menyebut cercaan atau umpatan pihak yang satu terhadap pihak yang lain.

    Dalam suasana perang pun tidak masuk akal jika orang memberi informasi kepada musuh, membuka rahasia pasukannya sendiri, atau memberitahu musuh tentang informasi-informasi yang mereka butuhkan. Rasulullah SAW bersabda, “Perang itu adalah tipu daya”

    Demikian pula, tidak bijaksana jika seorang istri berkata terus terang kepada suaminya tentang perasaan kasih sayangnya terhadap lelaki lain sebelum pernikahannya dengan suami sekarang padahal perasaan itu sendiri sudah hilang ditelan waktu.Atau pun suami mengkritik secara terbuka makanan yang dengan susah payah dimasakan oleh istrinya bahwa ini tidak enak lah, kurang anulah. akan menjadi lebih baik jika suami mengatakan makanan ini sangat lezat (meskipun pada kenyataannya memang tidak) hanya saja mungkin perlu tambahan ini dan itu.

    ***

    Cuplikan dari http://www.syariahonline.com

     
    • Sakti 10:25 am pada 5 September 2010 Permalink

      tetapi ada orang yg tetap gak suka dibohongi walau maksudnya baik…. akhirnya tetap jadi runyam

    • halimah 12:23 am pada 19 Desember 2010 Permalink

      ya benar, memang sakit hati jika tau kita telah dibohongi, apa lg dari seseorang yg kita cintai

  • erva kurniawan 1:43 am pada 1 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: lailatul qadr, malam lailatul, malam lailatul qadr   

    Keagungan Lailatul Qadr 

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadr.” (QS a,-Qadr: 1)

    Ramadhan adalah bulan yang sangat dirindukan dan dinanti-nantikan orang-orang beriman karena kemuliaan dan keagungan yang terdapat di dalamnya. Salah satunya adalah Lailatul Qadr Apakah Lailatul Qadar itu? Seberapa besarkah keagungan dan keutamaannya? Bilakah malam itu terjadi? Dan apa yang sebaiknya kita lakukan saat kita merasakan atau berada pada malam tersebut?

    Semua ini pertanyaan-pertanyaan yang menarik untuk kita ungkapkan dalam rangka mengapai dan memperoleh Lailatul Qadr. Sekalipun pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah sesuatu yang baru, tapi memiliki bobot tersendiri dan sangat relevan.

    Secara harfiyah Lailah berarti malam. Sedangkan Qadr berarti takaran, ukuran, sesuatu yang bernilai dan sesuatu yang terbatas. Kemudian para ulama beragam dalam mengartikan dan menafsirkannya.

    Ada yang menyebutnya malam kemuliaan, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan kitab suci al-Qur’an yang merupakan sumber kemuliaan manusia. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuh kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagi kamu. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS Al-Anbiyaa: 10)

    Sebagian yang lain mengartikan sebagai malam yang sangat bernilai. Karena pada malam itu ketaatan manusia akan mendapatkan nilai yang tnggi dan pahala yang besar. Bila dilihat dari kacamata bisnis keuntungan senilai 3.000.000% (1000 bulan X 30 hari X 10 kebaikan).

    Karena itu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, bulan Ramadhan telah hadir ditengah-tengah kalian. Didalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang diharamkan pada malam tersebut, berarti ia telah diharamkan dari semua kebaikan. Dan tidak ada yang yang diharamkannya melainkan orang-orang yang benar-benar merugi,” (HR Ibnu Majah dengan sanad hasan).

    Sebagian yang lain mengatakan malam yang sesak dengan Malaikat, sebab kata Qadr dapat berarti sempit. Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah SWT, “ Dan siapa yang dipersempit rezekinyaa…” (QS. Al-Thalaaq: 7)

    Banyak ayat dan hadits yang menyebutkan keutamaan dan keagungan Lailatul Qadr, baik secara tersurat maupun tersirat. Diantaranya:

    • Lailatul Qadr nilainya lebih baik dari seribu bulan, Artinya ibadah yang kita lakukan pada malam tersebu jauh lebih baik dari beribadah seribu bulan (QS al-Qadr: 3)
    • Malam tersebut penuh dengan keberkahan (kebaikan yang melimpah). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkan (al-Quran) pada malam yang penuh keberkahan”. (QS. Al-Dukhaan: 3)
    • Malam tersebut penuh dengan ampunan. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadr (dengan ibadah) semata-mata karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu,” (HR Bukhari)
    • Malam tersebut adalah malam dimana para malaikat makhluk Allah yang suci turun ke dunia untuk memberikan salam kepada hamba-hamba Allah yang taat beribadah kepada-Nya (QS Al-Qadr: 5)

    Mengenai waktu terjadinya Lailatul Qadr, para ulama beragam pendapat. Ibnu Hajar menyebutkan lebih dari 40 pendapat. Namun, bila kita membaca hadits-hadits Nabi SAW, dapat kita simpulkan sebagai berikut:

    • Lailatul Qadr terjadi setiap tahun di bulan suci Ramadhan, terutama pada malam-malam sepuluh hari terakhir ketika Rasulullah saw melakukan I’tikaf, “Apabila memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasulullah saja menghidupkan malam-malamnya dengan beribadah. Beliau membangunkan istrinya, bersungguh-sungguh dan serius bribadah,” (HR Bukhari dan Muslim)
    • Lebih utamanya pada malam-malam ganjil, yaitu 21, 23, 25, 27 , dan 29. Rasulullah saw bersabda, “Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari dan Muslim)
    • Lebih spesifik lagi adalah pada tanggal 27 Ramadhan menurut pendapat mayoritas ulama dan tanggal 21 menurut Imama Syafi’i. Ibnu Abbas pernah meminta sahabat yang lebih tua, lemah dan tidak mampu berdiri berlama-lama untuk bertanya kepada Rasul, kapankah ia bisa mendapatkan Lailatul Qadar? Rauslullah saw menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 (HR Thabrani dan Baihaqi).
    • Malam Jum’at yang jatuh pada tanggal ganjil, juga perlu diperhatikan, karena hari Jum’at adalah Sayyidul Ayyaam (penghulu hari-hari) dan Yaumul ‘Ied (Hari raya) pekanan.

    Yang paling baik kita lakukan pada Lailatul Qadr adalah beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah. Diantara ibadah yang dianjurkan adalah:

    • I’tikaf, yaitu berada di masjid. Karena, Rasulullah saw melakukan I’tikaf dan menjadikannya budaya yang tidak pernah beliau tinggalkan.
    • Qiyamul Lail (shalat Malam). Rasulullah saw bersabda,“Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan qiyamul Lail karena iman dan mengharap pahala dari Alalh, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lain,” (HR Bukhari)
    • Berdoa dan berdzikir. Aisyah ra berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu apabila aku mengetahui Lailatul Qadr? Apa yang sebaiknya aku ucapkan?” Beliau bersabda, ‘Ucapkanlah, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah pemaaf dan menyukai maaf, maka maafkanlah daku),” (HR Turmudzi).

    Lailatul Qadr dapat kita ketahui dari tanda-tandanya. Ahli hadits seperti Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Turmudzi meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Saat terjadi Lailatul Qadr, malam terasa jernih, terang, dan tenang. Cuaca Sejuk. Tidak terasa panas. Tidak terasa dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan terang benderang tanpa tertutup satu awan.”

    Semoga Allah SWT berkenan memberikan kita kemuliaan malam Qadr tersebut.

    Aamiin yaa Mujiibas Saaliliin.

    ***

    Oleh : KH Abdul Hasib Hasan , Lc. Pimpinan Ma’had Al-Hikmah, Bangka – Jakarta.

     
  • erva kurniawan 1:31 am pada 31 August 2010 Permalink | Balas  

    Hampir Saja Langit Pecah 

    water lily HelvolaPaling tidak, ada dua peristiwa yang menyebabkan langit hampir pecah. Pertama, dalam surat Maryam ayat 90-91 disebutkan:

    “Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak”

    Kedua, al-Qur’an menginformasikan kepada kita peristiwa lain yang juga hampir saja membuat langit pecah, yaitu dalam surat Asy-Syura ayat 5:

    “Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Dua peristiwa dengan dua sebab yang berbeda hampir saja menghasilkan kejadian yang luar biasa, yaitu pecahnya langit. Pada persitiwa yang pertama, langit hampir pecah karena kemurkaan Allah SWT. terhadap mereka yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak. Ucapan atau tuduhan itu begitu dahsyat kemungkarannya. Betapa tidak, Allah yang berbeda dengan makhluk manapun itu –mukhalafatu lil hawadits– diserupakan dengan manusia (yang mempunyai anak) yang justru diciptakan-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Penyerupaan ini jelas membuat Allah murka!

    Peristiwa kedua terjadi justru karena kebesaran Allah. Malaikat pun bertasbih serta memuji Allah dan memohonkan ampunan bagi penduduk bumi. Kebesaran dan keagungan Allah tidak terkira sehingga ketika Dia diminta Nabi Musa menampakkan wujud-Nya, bukit tempat Musa berdiri menjadi hancur dan Musa jatuh pingsan. Kali ini Allah menampakkan kebesaran-Nya pada langit, dan langit yang demikian luas itu hampir pecah karena tak mampu menyaksikan kebesaran dan keagungan Allah.

    Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kisah-kisah di atas?

    Seringkali ketika kita berkuasa, kita bertingkah laku hendak menyerupai Allah. Kitalah pemegang nasib bawahan kita. Hanya dengan selembar kertas yang kita tandatangani seorang anak manusia bisa jatuh terduduk atau bisa meloncat-loncat kegirangan. Ketika ada rakyat yang hendak datang ke kantor, kita lempar ia dari satu meja ke meja berikutnya.

    Semua kebijakan tergantung petunjuk kita; semua pengacau kekuasaan kita beri hadiah “azab yang pedih” dan nyawa mereka tak ada harganya bagi kita. Senyum kita menjadi tanda tanya; apakah sedang suka atau sedang marah. Bawahan kita sibuk menafsirkan gerak tubuh kita hanya untuk menyelami apakah kita sedang suka atau tengah berduka.

    Saya khawatir pada saat kita berprilaku menyerupai kekuasaan Allah maka langit akan pecah karena murka Allah. Bukankah segala bentuk penyerupaan harus ditiadakan; apakah itu berarti memiliki kekuasaan tiada batas, memberi azab ataupun menentukan nyawa orang lain. Segala bentuk kesombongan dan takabur harus dilenyapkan, karena hanya Allah yang berhak untuk takabur (Al-Mutakabbir).

    Sementara itu, di sepuluh malam terakhir Ramadhan ini, kita menunggu langit yang hampir pecah, saat Malaikat bertasbih memuji Allah dengan suara yang bergemuruh, mereka turun atas perintah Allah dan memohon ampun untuk penduduk bumi. Kita sambut kehadiran malaikat itu dengan gemuruh suara tasbih dan rintihan tangisan memohon ampunan Allah. Puji-pujian dari penduduk langit kepada Allah bertemu dengan puji-pujian penduduk bumi untuk Allah. Boleh jadi langit hampir pecah pada malam-malam akhir Ramadhan ini.

    Pertanyaannya, tengoklah diri kita sekarang baik-baik. Yang mana yang kita tunggu? apakah kita menunggu langit hampir pecah karena murka Allah atau karena kebesaran-Nya?

    ***

    Sumber email sahabat

     
  • erva kurniawan 1:38 am pada 29 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: itikaf, panduan itikaf   

    I’tikaf 

    Pada masa sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukan i’tikaf (berdiam diri di masjid). Hal ini terus dilakukan Rasulullah sampai beliau wafat Sudah semestinya kaum Muslimin melaksanakan sunnah yang diajarkan sosok teladan. Agar i’tikaf bisa memberikan hasil sesuai yang diharapkan dan agar orang yang beri’tikaf keluar dari masjid dalam kondisi telah diampuni dosa-dosanya, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan, yaitu:

    Niat yang Baik

    Hendaklah orang yang ingin beri’tikaf memurnikan niatnya untuk mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, meraih derajat di akhirat dengan cara melepaskan diri dari kegiatan dunia dan mengisinya dengan amaliyah akhirat, serta menghidupkan sunnah Rasulullah.

    Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan

    Inilah sunnah Rasulullah, yang berlandaskan pada hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Bahwasanya Rasulullah beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beri’tikaf setelahnya.” Boleh saja beri’tikaf selain waktu-waktu itu, akan tetapi tetap saja yang terbaik adalah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

    Di Masjid Jami’ (Agung)

    Tidak sah bila seseorang beri’tikaf di rumah Rasulullah mencontohkan i’tikaf di masjid. Allah berfirman, “Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid.” (Al-Baqarah [2]: 187). Ayat ini menunjukkan bahwa tempat i’tikaf adalah masjid.

    Seyogyanya orang yang beri’tikaf memilih masjid jami’ (yang menyelenggarakan shalat Jum’at) sehingga ia tidak perlu pindah dari masjid untuk menunaikan shalat Jum’at, berdasarkan kepada perkataan Aisyah, “Yang disunnahkan kepada orang yang sedang beri’tikaf ialah ia tidak menjenguk orang sakit, tidak melayat jenazah, tidak menyentuh wanita, tidak mencampurinya, tidak keluar masjid untuk satu urusan pun kecuali urusan yang tidak mungkin ia tinggalkan, tidak ada i’tikaf kecuali disertai dengan puasa dan tidak ada i’tikaf kecuali di masjid jami’.”

    Di Mihrab atau Tenda Khusus

    Cara ini akan membantu orang yang beri’tikaf untuk menyendiri bersama Tuhannya dan tidak menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap dengan temannya. Rasulullah juga melakukan cara ini, sebagaimana yang dikisahkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah, “Bahwasanya Rasulullah jika hendak beri’tikaf beliau menunaikan shalat Shubuh lalu memasuki tempat i’tikafnya, dan suatu ketika beliau ingin beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, lalu beliau memerintahkan untuk dirikan tenda untuknya…”

    Memasuki Tenda Setelah Shalat Shubuh

    Yaitu pada hari pertama dari sepertiga terakhir bulan Ramadhan, karena itulah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits di atas. Ibnu Hajar berkata, “…dalam hal itu menunjukkan bahwa permulaan seseorang yang beri’tikaf memasuki tempat i’tikafnya ialah setelah shalat Shubuh.”

    Tidak Keluar Masjid

    Hendaklah tidak keluar kecuali untuk urusan yang sangat penting dan tidak mungkin ditinggalkan. Ia tidak disunnahkan menjenguk orang sakit, atau melayat jenazah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits terdahulu, kecuali jika ia mensyaratkan hal-hal tersebut ketika ia memulai beri’tikaf.

    Tidak Menyentuh Wanita

    Berdasarkan hadits terdahulu, dan berdasarkan firman Allah, “Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid.” (Al-Baqarah [2]: 187).

    Sungguh-sungguh

    Tujuan utama dari i’tikaf adalah agar seseorang bisa berkonsentrasi untuk ibadah saja sambil menantikan datangnya lailatul qadr seperti yang disebutkan Allah, Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadr [97]: 3). Diriwayatkan, “Bahwasanya Rasulullah jika telah memasuki sepuluh terakhir beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” Maksud mengencangkan kain di sini ialah bersungguh-sungguh dalam beribadah atau tidak mencampuri istrinya.

    Tidak Menyia-nyiakan Waktu

    Hendaklah seseorang yang beri’tikaf memanfaatkan setiap kesempatan yang ia miliki untuk beribadah, berdoa, membaca Al-Qur`an, istighfar, dzikir kepada Allah Swt, shalat, berpikir, dan merenung. Janganlah menyia-yiakan waktu dengan berbincang-bincang dengan teman dan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan ibadah.

    ***

    (Pambudi, dikutip dari buku Ensiklopedi Etika Islam/Hidayatullah)

     
  • erva kurniawan 1:38 am pada 26 August 2010 Permalink | Balas  

    Mata Yang Tidak Menangis Di Hari Kiamat 

    Semua kaum Muslim berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini akan berakhir. Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadilan Allah Swt. Al-Quran menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini, seperti yang disebutkan dalam surah Al-Ghasyiyah ayat 1-16. Dalam surah itu, digambarkan bahwa tidak semua wajah ketakutan. Ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria. Mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia. Dia ditempatkan pada surga yang tinggi. Itulah kelompok orang yang di Hari Kiamat memperoleh kebahagiaan.

    Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di Hari Kiamat, Rasulullah  pernah bersabda, “Semua mata akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga hal. Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah Swt. Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah. Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah.”

    Mari kita melihat diri kita, apakah mata kita termasuk mata yang menangis di Hari Kiamat?

    Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya mengejar-ngejar hawa nafsu, bergumul dan berkelana di tempat-tempat maksiat, dan pulang larut malam.

    Dari tempat itu, dia pulang dalam keadaan sempoyongan. Di tengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang membaca Al-Quran.

    Ayat yang dibaca itu berbunyi: “Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang yang fasik (Qs 57: 16).

    Sepulangnya dia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan itu di dalam hatinya. Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Si pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa. Bergetar hatinya di hadapan Allah karena perbuatan maksiat yang pemah dia lakukan. Kemudian ia mengubah cara hidupnya. Ia mengisi hidupnya dengan mencari ilmu, beramal mulia dan beribadah kepada Allah Swt., sehingga di abad kesebelas Hijri dia menjadi seorang ulama besar, seorang bintang di dunia tasawuf.

    Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh. Dia kembali ke jalan yang benar kerena mengalirkan air mata penyesalan atas kesalahannya di masa lalu lantaran takut kepada Allah Swt. Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata penyesalan. Mata seperti itu insya Allah termasuk mata yang tidak menangis di Hari Kiamat.

    Kedua, mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah.

    Seperti telah kita ketahui bahwa Rasulullah pernah bercerita tentang orang-orang yang akan dilindungi di Hari Kiamat ketika orang-orang lain tidak mendapatkan perlindungan. Dari ketujuh orang itu salah satu di antaranya adalah seseorang yang diajak melakukan maksiat oleh perempuan, tetapi dia menolak ajakan itu dengan mengatakan, “Aku takut kepada Allah”.

    Nabi Yusuf as. mewakili kisah ini. Ketika dia menolak ajakan kemaksiatan majikannya. Mata beliau termasuk mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, lantaran matanya dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah Swt.

    Kemudian mata yang ketiga adalah mata yang tidak tidur karena membela agama Allah. Seperti mata pejuang Islam yang selalu mempertahahkan keutuhan agamanya, dan menegakkan tonggak Islam. Itulah tiga pasang mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, yang dilukiskan oleh Al-Quran sebagai wajah-wajah yang berbahagia di Hari Kiamat nanti.

    ***

    Disampaikan oleh Faisal Tofwandi, dalam miis Siar Islam

     
  • erva kurniawan 1:22 am pada 21 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: Membeli Surga dengan Harta   

    Membeli Surga dengan Harta 

    Kecintaan manusia kepada harta merupakan fitrah seorang manusia, namun Allah Ta’ala memberikan ganjaran yang begitu besar kepada seorang muslim yang menafkahkan sebagian hartanya fii sabilillaH baik dikala lapang maupun sempit.

    Semoga dengan hal-hal yang berikut ini akan dapat membuat kita lebih bersemangat dan lebih banyak lagi untuk menafkahkan sebagian dari apa yang kita miliki :

    Pertama, Balasannya adalah surga.

    Allah Ta’ala berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran : 133-134)

    Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan waktu lapang dan waktu sempit adalah dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan bersemangat maupun tidak berdaya, baik dalam kondisi sehat maupun sakit”

    Kedua, Allah Ta’ala menyandingkan perintah shalat dengan menafkahkan harta.

    Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. Dan orang-orang yang dalam bagian hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)” (QS. Al Ma’arij : 19-25)

    Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu, dia berkata, “Kami diperintahkan mendirikan shalat dan membayar zakat. Barangsiapa yang tidak membayar zakat, maka shalatnya sia-sia” (HR. ath Thabrani)

    Ketiga, Dekatnya kematian.

    Allah Ta’ala berfirman, “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kamu; lalu ia berkata, ‘Yaa Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang shalih’” (QS. Al Munaafiquun : 10)

    Keempat, Pahalanya adalah tujuh ratus kali lipat.

    Allah Ta’ala berfirman, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Baqarah : 261)

    Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima sedekah, lalu Dia mengambilnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian menumbuhkembangkannya untuk salah seorang diantara kalian, seperti kalian menumbuhkembangkan anak kuda, anak sapi ataupun anak unta miliknya, sehingga satu suapan saja bisa menjadi besar seperti gunung Uhud” (HR. at Tirmidzi dan Ahmad)

    Kelima, Allah Ta’ala akan menggantinya.

    Allah Ta’ala berfirman, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya” (QS. As Saba’ : 39)

    Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Allah Subhaana wa Ta’ala berfirman, ‘Hai anak Adam, berikanlah nafkah, niscaya kamu dinafkahi’” (HR. al Bukhari)

    Keenam, Harta tidak akan pernah berkurang karena disedekahkan.

    Dari Abu Kabsyah bin Sa’ad an Nari radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Aku bersumpah atas tiga hal dan aku menyampaikannya kepada kalian dengan sungguh-sungguh, maka peliharalah : harta seorang hamba tidak akan berkurang karena disedekahkan …” (HR. at Tirmidzi, dia mengatakan, “Hadits hasan shahih”, juga diriwayatkan oleh Ahmad)

    Ketujuh, Memberikan pinjaman kepada Allah Ta’ala.

    Allah Ta’ala berfirman, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan” (QS. Al Baqarah : 245)

    Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu, dia berkata, “Ketika ayat di atas turun, Abu Dahdah al Anshari berkata, ‘Yaa Rasulullah, sesungguhnya Allah menginginkan dari kita untuk memberi pinjaman?’, Rasulullah menjawab, ‘Benar, wahai Abu Dahdah’, Lalu Abu Dahdah berkata, ‘Ya Rasulullah, perlihatkan tanganmu kepada saya’, Abu Dahdah menggenggam tangan Rasulullah seraya berkata, ‘Saya ingin meminjamkan kebun dan tanah saya kepada Allah’” (HR. ath Thabrani)

    ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu meriwayatkan bahwa di kebun Abu Dahdah radhiyallaHu ‘anHu terdapat 600 pohon kurma.

    Pada suatu saat ketika sahabat Abu Dahdah meninggal, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Berapa banyak pelepah kurma yang tergantung di Surga, khusus disediakan untuk Abu Dahdah ?” (HR. Muslim, dari jalan Jabir bin Samrah radhiyallaHu ‘anHu)

    Kedelapan, Setanlah yang menakut-nakuti manusia akan kemiskinan

    Allah Ta’ala berfirman, “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Baqarah : 268)

    Kesembilan, Terhindar dari ancaman yang pedih.

    Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang – orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam jahannam, lalu dibakarnya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan’” (QS. At Taubah 34 – 35)

    Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang memiliki emas dan perak lalu tidak dikeluarkan zakatnya maka pada hari Kiamat nanti akan dibentangkan baginya lempengan dari api lalu dipanaskan dalam neraka kemudian dahi – dahi mereka, lambung dan punggung mereka dibakar dengannya. Setiap kali lempengan itu menjadi dingin, kembali dipanaskan. Demikianlahlah berlaku setiap hari yang panjangnya setara dengan 50.000 tahun di dunia. Hingga diputuskan ketentuan masing – masing hamba apakah ke surga ataukah ke neraka” (HR. Muslim)

    Demikianlah 9 hal yang insya Allah dapat memotivasi diri kita untuk menafkahkan dari sebagian harta yang kita miliki. Dan semoga dengan harta yang kita infakan di jalan Allah Ta’ala dapat membantu seluruh kaum muslimin yang sedang mengalami kesulitan terutama saudara-saudara kita di Palestina dan negeri-negeri Islam lainnya.

    “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya” (QS. Al Zalzalah : 7)

    ***

    Maraji’ :

    Disarikan dari Buku Membeli Jannah dengan Harta, Syaikh Dr. Ragib as Sirjani, Daar an Naba’, Surakarta.

    Semoga Bermanfaat.

     
  • erva kurniawan 9:57 am pada 19 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: Hindari Permusuhan   

    Hindari Permusuhan 

    Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, “Puasa itu perisai. Maka apabila salah seorang diantara kamu berpuasa, jangan mengeluarkan kata-kata keji, berbuat hingar bingar. Apabila seseorang mencaci maki atau memukulnya, maka katakan padanya, “Aku sedang berpuasa”.

    Waktu menjalani ibadah puasa, hindarilah pertengkaran, keutamaan menghindari pertengkaran dijelaskan oleh Baginda Rasul, yaitu dari Abu Umarah r.a, ia berujar, bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menghindari pertengkaran, padahal ia salah, maka akan dibangunkan baginya rumah disekitar surga. Dan barangsiapa meninggalkan pertengkaran sedang ia benar, maka akan dibangunkan baginya rumah dilantai tengah surga. Sedang barangsiapa membaguskan akhlaknya, akan dibangunkan untuknya rumah dilantai paling atas dari surga”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Baihaqi)

    Pertengkaran atau permusuhan merupakan suatu perbuatan yang sangat dibenci Allah. Hadis Riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa’I menyebutkan sabda Rasulullah, “Sesungguhnya lelaki yang paling dibenci oleh Allah, yaitu yang paling sangat teguh dalam permusuhan”.

    ***

    Source : Sudah betulkah puasa anda?

     
    • dwi 3:54 pm pada 2 September 2010 Permalink

      trmksh sdh mengingatkan…..

  • erva kurniawan 8:48 am pada 18 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , ,   

    Sedekah 

    Diantara sunnah puasa adalah memperbanyak sedekah selama bulan Ramadhan dalam rangka membantu fakir miskin, anak-anak yatim, serta orang-orang yang memerlukannya.

    Rasulullah mengajarkan, bahwa sedekah yang paling utama, yaitu sedekah dibulan Ramadhan. Hal ini merujuk sebuah hadits, “Seutama-utama sedekah adalah sedekah dibulan Ramadhan.” (HR. Turmudzi)

    Berbicara masalah keutamaan sedekah, teringatlah kita pada wasiat Rasulullah kepada putra menantunya yang bernama Ali bin Abu Thalib, “Wahai Ali! Janganlah kamu abaikan sedekah, karena sedekah dapat menolak kejahatan dari dirimu. Segeralah bersedekah, karena bencana tidak dapat melangkah mendahului sedekah. Wahai Ali! Sedekah secara sembunyi-sembunyi dapat merekam murka Allah, serta dapat menarik keberkahan dan rezeki sebanyak mungkin”.

    Keutamaan sedekah memang sering diwasiatkan Rasul kepada ummatnya. Orang yang bersedekah dapat terhindar dari Mati Suul Katimah. “Sedekah itu dapat menolak mati dalam keadaan yang tidak baik”. (HR. Qudha-I)

    Dapat menghindarkan dari panas kubur. “Sedekah itu dapat menghindarkan seseorang dari panas kubur, dan seorang pada hari kiamat hanya bernaung dibawah naungan sedekahnya”. (HR. Thabrani)

    Juga sebagai pelepas dari siksa api neraka. “Bersedekahlah kamu, karena sedekah itu sebagai pelepasmu dari api neraka” (HR. Thabrani)

    “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun sedekah separuh dari biji kurma, maka jika tidak dapat, yaitu dengan sepatah kata yang baik” (HR Bukhari Muslim)

    **

    Dikisahkan oleh Aisyah, suatu waktu datanglah seorang wanita menghadap Rasulullah s.a.w, seraya bercerita, “Ya rasul, kulihat dalam mimpiku, ibuku disiksa di dalam api neraka, sedang tangan kirinya tidak terlalap oleh si jago merah. Setelah kuteliti secara cermat, ternyata tangan kirinya memegang sehelai kain bekas”

    Kemudian aku bertanya, “wahai Ibu, mengapa hal ini terjadi, sedang ibu rajin shalat, puasa, zakat dan ibadah-ibadah lainnya?”

    Sang Ibu menjawab, “Wahai anakku! Selama hidup didunia, aku termasuk wanita bakhil yang enggan bersedekah. Dan di neraka inilah memang tempat penyiksaan bagi orang2 yang bakhil”

    “Mengapa tangan Ibu yang memegang sehelai kain bekas tidak terlalap api?”

    “Ketahuilah, kain bekas ini adalah sesuatu yang pernah kusedekahkan selama hidup didunia. Ya, sesobek kain yang biasa kupakai untuk membersihkan perabot-perobot rumah tangga seperti piring, gelas, meja, kursi, sepatu, sandal dan lain-lain yang dapat menyelamatkan tangan kiriku dari bakaran siksa api neraka” jawab sang Ibu.

    ***

     
  • erva kurniawan 9:15 am pada 13 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Sedekah Berbuka Pahalanya Besar 

    ramadhan 2Ibn ‘Abaas berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling banyak bersedekah dan baginda memperbanyakkan sedekah di bulan ramadhan iaitu bulan di mana Jibrael bertemu baginda setiap malam dari awal hingga akhir Ramadhan.” (alBukhari). Sabda Rasulullah SAW “Barangsiapa yang memberi makan (berbuka) untuk orang yang berpuasa ia akan mendapat pahala yang sama banyaknya dengan pahala puasa orang yang diberi makan itu, tanpa mengurangkan sedikitpun pahala orang itu.” Riwayat (at-Tirmidzi)

    Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud: “Apabila datang hari pertama Ramadan, maka bertiuplah angin ‘Al-Mutsiiratu’ dari Arsy dan menggerakkan daun pohon syurga hingga terdengar sayup-sayup suara merdu yang tidak pernah terdengar oleh sesiapa pun. “Bidadari melihat dan mendengar ke arah sayup-sayup suara merdu itu sambil berkata: “Ya Allah, jadikan kami pada bulan ini (Ramadan) sebagai isteri hamba-hamba- Mu. Maka Allah mengahwinkan hamba-Nya yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan bidadari cantik.”

    Ini adalah salah satu cebisan kebaikan dan ketinggian Ramadan yang sedang dilalui umat Islam. Kita harus bersyukur kerana dapat berada dalam Ramadan al-Mubarak, iaitu bulan awalnya rahmat, pertengahannya pengampunan dan akhirnya merdeka (terlepas) daripada api neraka.

    Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim daripada Abu Hurairah, Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Barang siapa menahan tidur serta beramal pada Ramadan dengan beriman bersungguh-sungguh akan kelebihannya serta ikhlas semata-mata kerana Allah, nescaya diampuni segala dosanya yang lalu.”

    Bulan Ramadan mempunyai lima keistimewaan yang tidak ada pada bulan yang lain, iaitu puasa selama sebulan, Lailatul Qadar, zakat fitrah, Nuzul Quran dan amal kebajikan.

    Salman Al Farisi meriwayatkan: “Dalam sebuah hadis panjang, Rasulullah berkhutbah di hadapan kami pada akhir bulan Syaaban. Baginda berpesan yang bermaksud: “Wahai umat manusia, sesungguhnya kami naungi bulan yang mulia lagi diberkati kerana Ramadan itu adalah bulan kesabaran dan sabar itu balasannya adalah syurga. Ramadan juga adalah bulan yang padanya ditambah Allah rezeki orang mukmin.“Barang siapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada bulan ini, adalah baginya pahala seperti memerdekakan seorang hamba dan dosa-dosanya pula diampunkan.”

    ***

    Sumber: Daarut Tauhid

     
  • erva kurniawan 8:51 am pada 12 August 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Akibat Enggan Menunaikan Puasa Ramadhan 

    ramadhan1“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah [2] : 183)

    Hukum Puasa Ramadhan

    Puasa Ramadhan itu wajib bagi setiap muslim yang baligh (dewasa), berakal, dalam keadaan sehat, dan dalam keadaan mukim (tidak melakukan safar/perjalanan jauh). Yang menunjukkan bahwa puasa Ramadhan adalah wajib yaitu firman Allah Ta’ala,

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah [2] : 183)

    Hal ini dapat dilihat pula pada pertanyaan seorang Arab Badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang badui ini datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berambut kusut, kemudian dia berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Beritahukan aku mengenai puasa yang Allah wajibkan padaku.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “(Puasa yang wajib bagimu adalah) puasa Ramadhan. Jika engkau menghendaki untuk melakukan puasa sunnah (maka lakukanlah). “ (HR. Bukhari)

    Dan kaum muslimin juga telah sepakat tentang wajibnya puasa ini dan sudah ma’lum minnad dini bidhoruroh yaitu seseorang akan kafir jika mengingkari wajibnya hal ini. Puasa ramadhan ini tidak gugur bagi orang yang telah dibebani syari’at kecuali apabila terdapat ‘udzur (halangan). Di antara ‘udzur sehingga mendapatkan keringanan dari agama ini untuk tidak berpuasa adalah orang yang sedang bepergian jauh (safar), sedang sakit, orang yang sudah berumur lanjut (tua renta) dan khusus bagi wanita apabila sedang dalam keadaan haidh, nifas, hamil atau menyusui (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/89, 118-127)

    Peringatan bagi Orang yang Sengaja Membatalkan Puasa

    Pada zaman ini kita sering melihat banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan kewajiban yang agung ini. Jika kita lihat di bulan Ramadhan di jalan-jalan ataupun tempat-tempat umum, banyak orang yang mengaku muslim tidak melakukan kewajiban ini atau sengaja membatalkannya. Mereka malah terang-terangan makan dan minum di tengah-tengah saudara mereka yang sedang berpuasa tanpa merasa berdosa sama sekali. Padahal mereka adalah orang-orang yang diwajibkan untuk berpuasa dan tidak punya halangan sama sekali. Mereka adalah orang-orang yang bukan sedang bepergian jauh, bukan sedang berbaring di tempat tidur karena sakit dan bukan pula orang yang sedang mendapatkan halangan haidh atau nifas.

    Mereka semua adalah orang yang mampu untuk berpuasa.  Sebagai peringatan bagi saudara-saudaraku ini yang masih saja enggan untuk menahan lapar dan dahaga pada bulan yang diwajibkan puasa bagi mereka, kami bawakan sebuah kisah dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu. Beliau (Abu Umamah) menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata,”Naiklah” . Lalu kukatakan,”Sesunggu hanya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu” . Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.” Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih. Lihat Shifat Shaum Nabi, hal. 25).

    Lihatlah siksaan bagi orang yang membatalkan puasa dengan sengaja dalam hadits ini, maka bagaimana lagi dengan orang yang enggan berpuasa sejak awal Ramadhan dan tidak pernah berpuasa sama sekali. Renungkanlah hal ini, wahai saudaraku!

    ***

    Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

     
  • erva kurniawan 5:12 pm pada 11 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: bulan puasa, marhaban ya ramadhan, ,   

    Marhaban Ya Ramadhan 

    ramadhanAssalamualaikum,

    Berikut tulisan Prof. Quraish Shihab mengenai Puasa, yang dikutip dari buku beliau yang berjudul: WAWASAN AL-QURAN Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A., Penerbit Mizan

    **

    MARHABAN YA RAMADHAN

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban” diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).” Ia sama dengan ahlan wa sahlan yang juga dalam kamus tersebut diartikan “selamat datang.”

    Walaupun keduanya berarti “selamat datang” tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan ahlan wasahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, melainkan “marhaban ya Ramadhan”.

    Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”, sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti “dataran rendah” karena mudah dilalui, tidak seperti “jalan mendaki”. Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, “(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkaLkar1 kaki di) dataran rendah yang mudah.”

    Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang”,  sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada  lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama dengan “marhaban”, terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti “ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan.” Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat datang Ramadhan” mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya “mengganggu ketenangan” atau suasana nyaman kita.

    Marhaban ya Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt.

    Ada gunung yang tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng yang curam, belukar yang lebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak melanjutkan.  Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah Swt. Demikian kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.

    Tentu kita perlu mempersiapkan bekal guna menelusuri jalan itu. Tahukah Anda apakah bekal itu? Benih-benih kebajikan yang harus kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama, bangsa dan negara. Semoga kita berhasil, dan untuk itu mari kita buka lembaran Al-Quran mempelajari bagaimana tuntunannya.

    **

    PUASA MENURUT AL-QURAN

    Al-Quran menggunakan kata shiyam sebanyak delapan kali, kesemuanya dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat. Sekali Al-Quran juga menggunakan kata shaum, tetapi maknanya adalah menahan diri untuk tidak bebicara:

    Sesungguhnya Aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun (QS Maryam [19]: 26).

    Demikian ucapan Maryam a.s. yang diajarkan oleh malaikat Jibril ketika ada yang mempertanyakan tentang kelahiran anaknya (Isa a.s.). Kata ini juga terdapat masing-masing sekali dalam bentuk perintah berpuasa di bulan Ramadhan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa “berpuasa adalah baik untuk kamu”, dan sekali menunjuk kepada pelaku-pelaku puasa pria dan wanita, yaitu ash-shaimin wash-shaimat.

    Kata-kata yang beraneka bentuk itu, kesemuanya terambil dari akar kata yang sama yakni sha-wa-ma yang dari segi bahasa maknanya berkisar pada “menahan” dan “berhenti atau “tidak bergerak”. Kuda yang berhenti berjalan dinamai faras shaim. Manusia yang berupaya menahan diri dari satu aktivitas –apa pun aktivitas itu– dinamai shaim (berpuasa). Pengertian kebahasaan ini, dipersempit maknanya oleh hukum syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk “menahan diri dar makan, minum, dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari”.

    Kaum sufi, merujuk ke hakikat dan tujuan puasa, menambahkan kegiatan yang harus dibatasi selama melakukan puasa. Ini mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa.

    Betapa pun, shiyam atau shaum –bagi manusia– pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu pula puasa dipersamakan dengan sikap sabar, baik dari segi pengertian bahasa  (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa.

    Hadis qudsi yang menyatakan antara lain bahwa, “Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran” dipersamakan oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39): 10.

    Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.

    Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa.

    Ada beberapa macam puasa dalam pengertian syariat/hukum sebagaimana disinggung di atas.

    1. Puasa wajib sebutan Ramadhan.
    2. Puasa kaffarat, akibat pelanggaran, atau semacamnya.
    3. Puasa sunnah.

    Tulisan ini akan membatasi uraian pada hal-hal yang berkisar pada puasa bulan Ramadhan.

    **

    PUASA RAMADHAN

    Uraian Al-Quran tentang puasa Ramadhan, ditemukan dalam suratAl-Baqarah (2): 183, 184, 185, dan 187. Ini berarti bahwa puasa Ramadhan baru diwajibkan setelah Nabi Saw. tiba di Madinah, karena ulama Al-Quran sepakat bahwa surat A1-Baqarah turun di Madinah. Para sejarawan menyatakan bahwa kewajiban melaksanakan puasa Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya’ban tahun kedua Hijrah.

    Apakah kewajiban itu langsung ditetapkan oleh Al-Quran selama sebutan penuh, ataukah bertahap? Kalau melihat sikap Al-Quran yang seringkali melakukan penahapan dalam perintah-perintahnya, maka agaknya kewajiban berpuasa pun dapat dikatakan demikian. Ayat 184 yang menyatakan ayyaman ma’dudat (beberapa hari tertentu) dipahami oleh sementara ulama sebagai tiga hari dalam sebutan yang merupakan tahap awal dari kewajiban berpuasa. Hari-hari tersebut kemudian diperpanjang dengan turunnya ayat 185:

    Barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu (Ramadhan), maka hendaklah ia berpuasa (selama bulan itu), dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya.

    Pemahaman semacam ini menjadikan ayat-ayat puasa Ramadhan terputus-putus tidak menjadi satu kesatuan. Merujuk kepada ketiga ayat puasa Ramadhan sebagai satu kesatuan, penulis lebih cenderung mendukung pendapat ulama yang menyatakan bahwa Al-Quran mewajibkannya tanpa penahapan. Memang, tidak mustahil bahwa Nabi dan sahabatnya telah melakukan puasa sunnah sebelumnya. Namun itu bukan kewajiban dari Al-Quran, apalagi tidak ditemukan satu ayat pun yang berbicara tentang puasa sunnah tertentu.

    Uraian Al-Quran tentang kewajiban puasa di bulan Ramadhan, dimulai dengan satu pendahuluan yang mendorong umat islam untuk melaksanakannya dengan baik, tanpa sedikit kekesalan pun.

    Perhatikan surat Al-Baqarah (2): 185. ia dimulai dengan panggilan mesra, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa.” Di sini tidak dijelaskan siapa yang mewajibkan, belum juga dijelaskan berapa kewajiban puasa itu, tetapi terlebih dahulu dikemukakan bahwa, “sebagaimana diwajibkan terhadap umat-umat sebelum kamu.” Jika demikian, maka wajar pula jika umat Islam melaksanakannya, apalagi tujuan puasa tersebut adalah untuk kepentingan yang berpuasa sendiri yakni “agar kamu bertakwa (terhindar dari siksa).”

    Kemudian Al-Quran dalam surat A1-Baqarah (2): 186 menjelaskan bahwa kewajiban itu bukannya sepanjang tahun, tetapi hanya “beberapa hari tertentu,” itu pun hanya diwajibkan bagi yang berada di kampung halaman tempat tinggalnya, dan dalam keadaan sehat, sehingga “barangsiapa sakit atau dalam perjalanan,” maka dia (boleh) tidak berpuasa dan menghitung berapa hari ia tidak berpuasa untuk digantikannya pada hari-hari yang lain. “Sedang yang merasa sangat  berat berpuasa, maka (sebagai gantinya) dia harus membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” Penjelasan di atas ditutup dengan pernyataan bahwa “berpuasa adalah baik.”

    Setelah itu disusul dengan penjelasan tentang keistimewaan bulan Ramadhan, dan dari sini datang perintah-Nya untuk berpuasa pada bulan tersebut, tetapi kembali diingatkan bahwa orang yang sakit dan dalam perjalanan (boleh) tidak berpuasa dengan memberikan penegasan mengenai peraturan berpuasa sebagaimana disebut sebelumnya. Ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan ditutup dengan “Allah menghendaki kemudahdn untuk kamu bukan kesulitan,” lalu diakhiri dengan perintah bertakbir dan bersyukur. Ayat 186 tidak berbicara tentang puasa, tetapi tentang doa. Penempatan uraian tentang doa atau penyisipannya dalam uraian Al-Quran tentang puasa tentu mempunyai rahasia tersendiri. Agaknya ia mengisyaratkan bahwa berdoa di bu1an Ramadhan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, dan karena itu ayat tersebut menegaskan bahwa “Allah dekat kepada hamba-hamba-Nya dan menerima doa siapa yang berdoa.”

    Selanjutnya ayat 187 antara lain menyangkut izin melakukan hubungan seks di malam Ramadhan, di samping penjelasan tentang lamanya puasa yang harus  dikerjakan, yakni dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

    Banyak informasi dan tuntunan yang dapat ditarik dari ayat-ayat di atas berkaitan dengan hukum maupun tujuan puasa. Berikut akan dikemukan sekelumit baik yang berkaitan dengan hukum maupun hikmahnya, dengan menggarisbawahi kata atau kalimat dari ayat-ayat puasa di atas.

    ***

     
  • erva kurniawan 8:23 am pada 10 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: Tingkatan Puasa   

    Tingkatan Puasa 

    Puasa menurut Hijjatul Islam Imam Ghazali yang lahir di Thus suatu tempat di Khurasa Iran pada tahun 450 H atau tahun 1058 M. dengan nama Asli Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al Imam abu Hamid Al Ghazali, ada tingkatan, antara lain:

    A. Puasa Orang Umum

    Puasa ini dilakukan dengan jalan menahan lapar, haus serta hubungan seksual. Bagi orang yang sampai pada taraf puasa ini, menurut hemat saya perlu diingat petuah Rasulullah saw, bahwa, “Adakalanya orang puasa itu tidak mendapat pahala apa-apa dari puasanya, kecuali haus” (HR. Nasai)

    B. Puasa Orang Khusus

    Selain menahan lapar, haus, bersetubuh maka puasa orang khusus ditambah dengan menahan mata, telinga, lidah, tangan, kaki dan anggota badan lainnya mulai ujung rambut ke ujung kaki dari berbagai macam kedosaan.

    “Puasa itu bukan sekedar menahan makan minum, tetapi puasa yang sungguh-sungguh itu menahan diri dari perkataan-perkataan kotor dan caci maki.” (HR. Muslim)

    Bahkan Allah sendiri tidak memerlukan puasanya orang-orang yang tidak sanggup mengekang lidahnya dari perkataan² bohong dan kepalsuan. meskipun ia kuat menahan lapar dan haus.

    “Barang siapa yg tidak sanggup mengendalikan lisannya dari memperkatakan kebohongan, kepalsuan, bahkan dengan kepalsuan itu juga ia bertingkah laku, maka Allah tidak memerlukan puasanya, walaupun ia sudah membuktikan meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

    C. Puasa Orang Khususnya Khusus

    Puasa ini, selain memenuhi syarat puasa orang umum dan puasa orang khusus, juga hatinya berpuasa, yaitu menahan diri dari berbagai perhatian yang rendah, pemikiran seputar keduniawian. Ringkasnya menahan diri dari segala sesuatu yang selain Allah secara menyeluruh.

    Dalam sebuah hadits nabi saw. Bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah, segumpal darah itu ialah hati.”

    Sedang Allah pernah berfirman, “Dan barang siapa beriman kepada Allah. dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.64:11)

    Berbicara masalah puasa ini, teringatlah kita pada wejangan Ahmad bin Athaillah dalam Kitab Al-Hikam, “Kosongkan hatimu dari masalah keduniawian, maka Allah akan memenuhinya dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia ke-Tuhanan. Jangan kau anggap lambat datangnya berbagai macam karunia dari Allah, tapi anggaplah dirimu begitu lambat menghadap Allah.

    ***

    Sumber: Email kiriman dari Sahabat

     
    • dan 5:56 pm pada 11 Agustus 2010 Permalink

      Terima kasih anda telah berbagi ilmu yang sangat bermanfaat.

    • maulida 3:48 pm pada 22 Agustus 2010 Permalink

      alhamdulillah dapet ilmu hari ini……makasih ya mas…moga ilmunya berkah dan bermanfaat..amiinn

  • erva kurniawan 8:36 am pada 9 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: makan   

    Makan 

    Banyak makan sehingga terlalu kenyang dapat mengeraskan hati, melemahkan pemahaman, menguatkan nafsu birahi dan meninggikan amarah. Sedangkan sedikit makan dapat melembutkan hati, menguatkan pemahaman, merendahkan nafsu birahi dan melemahkan nafsu amarah.

    Rasulullah SAW telah bersabda, “Anak Adam tidak memenuhi tempat yang lebih buruk daripada ia memenuhi perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap saja untuk menguatkan tulang-tulangnya. Jika tidak mungkin, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas”. (HR. Ahmad dan Turmidzi).

    Setan lebih suka menggoda seseorang ketika sedang kenyang. Karena saat itu hati dan bhatin dalam keadaan letih dan ingin istirahat. Ketika sedang mengantuk dan lebih itu rayuan setan lebih mudah masuk kedalam bhatin kita, akhirnya melakukan sesuatu yang dilarang agama. Oleh sebab itu jangan makan terlalu berlebih-lebihan, karena yang berlebih-lebihan itu adalah saudaranya setan. Dalam sebuah riwayat disebutkan “ Sempitkan jalan-jalan setan dengan berpuasa”.

    Contoh yang paling terbaik adalah Rasulullah SAW, karena baginda makan ketika perut tidak terlalu lapar dan berhenti ketika perut tidak terlalu kenyang. Bahkan baginda lebih banyak berpuasa. Baginda melakukan sesuatu dalam bentuk yang sederhana, tidak berlebih-lebihan sehingga menimbulkan kemudaratan.

    Ibrahim bin Adam berkata, “ Barang siapa mampu mengendalikan perutnya, maka ia mampu memelihara agamanya, dan barang siapa yang mampu menguasai rasa laparnya, maka ia mampu menguasai akhlak yang baik, sebab maksiat kepada Allah itu terhindar dari orang yang lapar dan dekat kepada orang yang kenyang.”

    ***

     
  • erva kurniawan 8:59 am pada 8 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    Risalah Ringkas Ramadhan Mubarak 

    Oleh : Abu Tauam Al Khalafy

    “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil. Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur” (Al Qur’an Surat Al Baqarah 185)

    Keutamaan Bulan Ramadhan

    Bulan diwajibkannya umat Islam berpuasa yang mana nantinya dengan Puasa Ramadhan itu mereka akan mendapatkan gelar ketakwaan dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al Baqarah 183)

    Bulan dimana dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka dan dibelenggunya setan-setan. Rasulullah SAW bersabda, “Jika bulan Ramadhan tiba maka pintu-pintu surga dibuka, sedangkan pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan pun dibelenggu” (HR. Bukhari IV/97 dan Muslim no. 1079)

    Pada bulan ini ada satu malam yang setara dengan 1000 bulan, yaitu malam lailatul qadar. Berkenaan dengan malam lailatul qadar ini Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mendirikan ibadah pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosa yang telah berlalu” (HR. Bukhari IV/217 dan Muslim no. 759)

    Dan disunnahkan membaca doa ini di malam-malam yang diyakini sebagai malam lailatu qadar yaitu diantara 10 malam terakhir di Bulan Ramadhan, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” yang artinya “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, karena itu berilah maaf kepadaku” (HR. Tirmidzi no. 3760 dan Ibnu Majah no. 3850, hadits ini shahih)

    Keutamaan Puasa Ramadhan

    1. Puasa Ramadhan adalah sebagai puasa untuk mengampuni dosa-dosa yang telah lalu. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah berlalu” (HR. Bukhari IV/99 dan Muslim no. 759)
    2. Dikabulkannya doa dan pembebasan dari api neraka sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya setiap hari, Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka yaitu pada Bulan Ramadhan. Dan sesungguhnya setiap orang muslim memiliki doa yang dipanjatkan, lalu dikabulkan untuknya” (HR. Al Bazzar no. 3142, Ahmad II/254 dan Ibnu Majah no. 1643, hadits ini shahih)

    Rukun-rukun Puasa

    1. Niat, yaitu niat berpuasa pada Bulan Ramadhan harus ada pada malam sebelum puasa karena niat ini wajib ditetapkan pada setiap ibadah dan amalan. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Dan sesungguhnya (balasan) bagi setiap urusan (sesuai dengan) apa yang ia niatkan” (HR. Bukhari I/22 dan Muslim VI/48)
    2. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, berhubungan badan, haid dan nifas bagi wanita dan hal-hal yang lain yang membatalkan puasa seperti muntah dengan sengaja sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa muntah (tanpa) sengaja, maka tidak ada kewajiban baginya untuk menqadha’nya. Tetapi barangsiapa sengaja muntah, maka wajib baginya menqadha’” (HR. Abu Dawud II/310, At Tirmidzi III/79, Ibnu Majah I/536 dan Ahmad II/498, hadits ini sanadnya shahih sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Haqiiqatush Shiyam hal. 14)
    3. Waktu berpuasa. Orang yang berpuasa harus menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari sejak terbit fajar (shadiq) sampai matahari tenggelam. Yang demikian itu didasarkan pada firman Allah SWT, “Makan dan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam” (QS Al Baqarah 187)

    Sifat orang yang berpuasa yaitu Muslim yang sudah baligh, berakal mampu untuk mengerjakan puasa (orang yang sudah tua renta serta wanita hamil dan menyusui terlepas dari kewajiban berpuasa namun mereka harus membayar fidyah) dan terlepas dari halangan puasa seperti sakit atau berpergian yang mana puasanya harus diganti pada hari yang lain.

    Sahabat Abdullah bin Abbas ra. mengatakan, “Dan sebagai bentuk keringanan oleh Allah SWT kepada orang laki-laki dan wanita yang sudah tua sedang keduanya tidak mampu menjalankan puasa, maka keduanya boleh untuk tidak berpuasa tetapi harus mengganti hal itu dengan memberi makan kepada satu orang miskin setiap harinya. Sedangkan wanita yang hamil dan menyusui, jika keduanya khawatir terhadap anak dan dirinya, maka mereka boleh untuk tidak berpuasa tetapi harus memberi makan seorang miskin setiap hari” (Kitab Al Jaami’ li Ahkaamil Qur’an karya Al Qurthubi II/288)

    Sahabat Abdullah bin Umar ra. pernah ditanyakan tentang seorang wanita hamil dan ia khawatir terhadap kandungannya maka ia menjawab, “Dia boleh tidak berpuasa, tetapi harus memberi makan 1 mud gandum setiap hari kepada satu orang miskin” (HR. Baihaqi IV/230, hadits ini shahih)

    Satu mud itu setara dengan 562,5 gram. Jadi orang-orang yang tidak berpuasa karena tidak mampu atau karena khawatir keselamatan jiwanya atau anak yang dikandung atau yang disusuinya maka harus memberikan makanan seberat 562,5 gram kepada seorang fakir miskin selama Bulan Ramadhan setiap harinya.

    Sunnah-sunnah Puasa Ramadhan

    1. Makan sahur dan mengakhirkan makan sahur. Rasulullah SAW bersabda, “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah” (HR. Bukhari IV/120 dan Muslim no. 1095). Dari Zaid bin Tsabit ra., bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur ?” Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Kira-kira sama seperti bacaan 50 ayat” (HR. IV/118 dan Muslim no. 1097)-hadits ini bukan menjelaskan tentang akhir sahur tetapi awal sahur. Namun juga tidak masalah bagi kaum muslimin yang ingin lebih menyegerakan sahurnya di awal waktu.
    2. Meninggalkan perkataan dusta. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata palsu dan mengamalkanya maka Allah tidak memerlukan orang itu untuk meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya)” (HR. Bukhari IV/99)
    3. Meninggalkan kata-kata yang tidak bermanfaat dan kata-kata kotor (Ar Rafats). Rasulullah SAW bersabda, “Puasa itu bukan (hanya) dari makan dan minum, tetapi puasa itu dari kata-kata (yang) tidak bermanfaat dan kata-kata kotor” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1996 dan Al Hakim I/430-431, hadits ini shahih)
    4. Menyegerakan berbuka karena menyegerakan berbuka akan mendatangkan kebaikan dan merupakan sunnah. Rasulullah SAW bersabda, “Umat manusia ini akan tetap baik selama mereka menyegerakan berbuka puasa” (HR. Bukhari IV/173 dan Muslim no. 1093)
    5. Berdoa ketika berbuka dengan doa yang diajarkan Rasulullah SAW, “DzaHabazh zhamaa-u wabtallatil ‘uruuqu watsabatal ajru insyaa Allah” yang artinya “ Telah hilang rasa haus dan basah pula urat-urat serta telah ditetapkan pahala, insya Allah” (HR. Abu Dawud II/306, Baihaqi IV/239, Al Hakim I/422, Ibnu Sunni no. 128 dan Ad Daraquthni II/185, hadits ini hasan)

    Ibadah-ibadah pada Bulan Ramadhan

    1. Shalat Tarawih. Sahabat Jabir bin Abdullah ra. berkata, “Bahwa Nabi SAW pada saat menghidupkan malam dengan orang-orang pada Bulan Ramadhan, beliau SAW mengerjakan shalat delapan rakaat dan mengerjakan shalat witir” (HR. Ibnu Hibban no. 920 dan Ath Thabrani, hadits ini hasan)
    2. I’tikaf di Mesjid. I’tikaf berarti tekun dalam melakukan sesuatu. Sahabat Abu Hurairah ra., berkata, “Rasulullah SAW biasa beri’tikaf selama bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Dan pada tahun dimana beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari” (HR. Bukhari IV/245)
    3. Zakat Fitrah. Mengeluarkan zakat ini merupakan kewajiban bagi kaum muslimin pada Bulan Ramadhan. Hal tersebut berdasarkan hadits Abdullah bin Umar ra., “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah (kepada kaum muslimin pada Bulan Ramadhan)” (HR. Bukhari III/291 dan Muslim no. 984, perkataan yang di dalam kurung adalah perkataan Abdullah bin Umar ra.)

    Adapun besarnya zakat fitrah adalah 1 sha’ makanan (setara dengan 2,25 kg) sebagaimana hadits Abu Sa’id Al Khudri ra., “Kami biasa mengeluarkan zakat fitrah berupa 1 sha’ makanan atau 1 sha’ gandum atau 1 sha’ tamr atau 1 sha’ keju atau 1 sha’ anggur kering (kismis)” (HR. Bukhari III/294 dan Muslim no. 985)

    Demikianlah risalah ringkas tentang ibadah dan keutamaan di Bulan Ramadhan, dan semoga apa yang kami tulis ini dapat diambil manfaatnya bagi pembaca untuk dapat mencapai ketakwaan kepada Allah SWT. Akhirnya kami ucapkan Selamat Berpuasa dan Semoga Allah SWT memberikan balasan berlipat ganda bagi kita semua. Amin.

    ***

    Sumber Rujukan :

    1. Meneladani Shaum Rasulullah SAW, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali dan Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali Abdul Hamid, Pustaka Imam Syafi’i, Bogor, Cetakan Kedua Agustus 2005 M
    2. Meraih Puasa Sempurna, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath Thayyar, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, September 2004.
     
  • erva kurniawan 1:15 am pada 6 August 2010 Permalink | Balas  

    Soul Mate: Where Are You?

    Narasumber: Ustadz Fathoni

    “21. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Surat Ar-Rum ayat 21 [QS 30:21])” .

    Setiap orang pasti merindukan untuk dapat memiliki pasangan hidup yang menjadi tempat mencurahkan segala keluh kesah, berbagi suka dan duka, melampiaskan rasa cinta dan sebagainya. Atau seringkali diungkapkan dengan istilah mendapatkan jodoh. Menurut Ustadz Fathoni, jodoh adalah seseorang yang saat ini mendampingi kita dalam berumah tangga, ketika kemudian bercerai maka bisa dikatakan orang tersebut bukan jodoh kita. Namun terkadang jodoh yang diimpikan, kehadiraannya tidak sama bagi setiap orang. Ada yang dimudahkan oleh Allah SWT dalam memperolehnya, ada pula yang sebaliknya.

    Sulit atau mudahnya memperoleh jodoh dapat disebabkan oleh berbagai hal, namun yang sebagian besar karena diri kita sendiri. Kita seringkali mempersullit diri kita sendiri dalam mendapatkan pasangan hidup kita. Penetapan kriteria-kriteria yang sangat ideal, seperti: syarat calon pasangan hidup kita itu haruslah yang berwajah cantik atau tampan, berkulit putih, berpenghasilan tinggi, lulusan Universitas Luar Negeri dan sebagainya. Padahal, semakin tinggi kriteria yang kita tetapkan, maka pemenuhan persyaratan itu akan semakin sulit bukan?

    Rasulullah SAW. Bersabda, “Perempuan itu dikawini karena empat perkara, yaitu: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, atau karena agamanya. Akan tetapi, pilihlah berdasarkan agamanya agar dirimu selamat” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadits tersebut memberikan gambaran mengenai kriteria-kriteria yang menjadi bahan pertimbangan seorang lelaki dalam memilih seorang perempuan sebagai isterinya. Kriteria-kriteria tersebut adalah kecantikan, keturunan, kekayaan, dan agamanya. Orang yang mengutamakan kriteria agama dijamin oleh Allah akan memperoleh kebahagiaan dalam berkeluarga.

    Agama atau diin adalah keyakinan yang disertai peribadatan yang sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Bila keyakinan dan peribadatan yang dilakukan seseorang menyimpang dari ketentuan syariat Islam, orang yang melakukannya telah sesat. Untuk mengetahui ketataatan seseorang dalam beragama, kita harus berpedoman dalam ketentuan Al-qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

    Rasulpun telah mengajarkan sebuah doa yang dipanjatkan dalam meminta diberikan pasangan yang sholeh oleh Allah SWT, yaitu: “Robbi Habli Jauzan Minassholihin” (Ya Allah, bimbinglahlah aku untuk mendapatkan pasangan hidup yang sholehah”

    Jadi dapat disimpulkan bahwa acuan dalam memilih pasangan hidup:

    • Jangan memilih pasangan hidup berdasarkan ukuran fisik.
    • Jangan memilih seseorang untuk menjadi pasangan hidup berdasarkan hitungan rasio / akal.

    Dalam sebuah buku karangan Muhammad Thalib, disampaikan mengenai petunjukmemilih isteri, yang diantaranya sebagai berikut:

    • Taat beragama.
    • Dari Lingkungan yang baik.
    • Perawan.
    • Penyabar.
    • Memikat Hati.
    • Tidak bersolek ketika Keluar Rumah.
    • Amanah.
    • Tabah Menderita.
    • Bukan Pencemburu Buta.
    • Perangai dan kata-katanya menyenangkan.
    • Tidak Materialistis.
    • Hemat (Tidak Boros)
    • Besar Kasih sayangnya kepada anak kecil.

    Agar kita dapat membentuk rumah tangga yang diridhai oleh Allah dan memperoleh kebahagiaan sepanjang hayat, tentunya hanya dapat diwujudkan apabila pasangan kita (jodoh) adalah orang yang taat menjalankan agama. Dan untuk memperoleh jodoh yang taat bergama, tentunya kita harus memperbaiki kualitas keimanan kita dengan makin meningkatkan ibadah kita, juga pengetahuan agama kita dengan jalan banyak membaca buku agama dan menghadiri pengajian. Banyak hadir di Majelis–majelis pengajian dan tempat dimana banyak disebut nama Allah juga akan memudahkan kita memperoleh pasangan hidup yang baik.

    Allah telah berfirman dalam surat an-Nuur ayat 24; “26. Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) “.

    Wallahu a’lam bisshowab.

     
  • erva kurniawan 1:51 am pada 5 August 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Antara Cinta dan Thalassemia

    AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

    Jakarta, Thalassemia adalah penyakit keturunan yang sulit dicegah. Pasangan berisiko tinggi, sangat dianjurkan untuk tidak menikah karena keturunannya punya peluang terkena penyakit kelainan darah ini. Dilematis memang, sebab manusia kadang tidak bisa memilih dengan siapa mereka akan jatuh cinta.

    Thalassemia merupakan penyakit darah bawaan yang sebenarnya dapat dicegah dengan menghindari memilih pasangan hidup yang membawa gen thalassemia tersebut.

    Penderita thalassemia mengalami kerusakan DNA yang menyebabkan tidak optimalnya produksi sel darah merah sehingga kerap menyebabkan anemia dan seumur hidup harus melakukan transfusi darah.

    Dengan melakukan skrining sebelum menikah, pasangan pembawa gen tersebut bisa mengukur tanggung jawab apa yang harus dilakukan jika hal tersebut terjadi pada keturunannya. Jika masing-masing pasangan memiliki bawaan gen juga bisa memutuskan apakah akan memiliki anak atau tidak.

    Hal ini dirasakan betul oleh Ruswandi, salah satu orangtua penderita thalassemia. Ketika menikah, ia dan pasangannya tidak tahu-menahu tentang thalassemia, hingga akhirnya anak kelimanya didiagnosis menderita thalassemia mayor.

    Berbagai upaya baik medis maupun alternatif telah ditempuh oleh Ruswandi. Pengobatan dan transfusi darah rutin juga dilakukan, namun tidak berhasil. Sekitar 12 tahun lalu, si anak bungsu tersebut akhirnya meninggal pada usia 20 tahun.

    Kehilangan orang yang dicintai juga dialami oleh Aan, warga Mampang Prapatan Jakarta Selatan. Kakak sulungnya meninggal karena pembengkakan jantung, yang merupakan salah satu komplikasi akibat penumpukan zat besi pada penderita thalassemia.

    Aan sendiri juga menderita thalassemia mayor, sehingga harus rutin memompa kelebihan zat besi dalam darahnya. Saat ini ia berusia 28 tahun, dan masih sehat bahkan cukup produktif dengan bekerja sebagai tenaga administrasi di Pusat Thalassemia RSCM.

    Seorang remaja asal Bekasi, Ina juga merasakan ‘kehilangan’ sebagai dampak dari thalassemia yang dideritanya. Karena harus menjalani transfusi darah tiap bulan, ia sering bolos sekolah dan kemudian mendapat cemooh yang tidak menyenangkan dari teman-teman sekolahnya.

    Tak kuat menghadapi tekanan, Ina yang kini berusia 18 tahun memilih berhenti sekolah saat masih duduk di kelas 2 SMA. Meski sempat menyesal, kini ia merasa baik-baik saja dengan hidupnya yang sehari-hari ia lewatkan dengan bermain band.

    Kisah nyata tersebut diceritakan oleh para keluarga maupun penderita thalassemia di acara launching Sahabat Thalassemia ’2000 untuk Berjuta Harapan’ yang digagas Yayasan Thalassemia Indonesia bekerjasama dengan Prodia, Jumat (29/4/2010).

    Obat-obatan Tidak Menyembuhkan, Hanya Meringankan Gejala

    Menurut Dr. dr. Pustika Amalia Wahidayat, ApA (K) dari Pusat Thalassemia RSCM, penyakit ini tetap harus diobati. Memang bukan untuk menyembuhkan, melainkan untuk mengurangi gejala maupun resiko komplikasi yang dapat timbul karenanya.

    Komplikasi paling berat adalah penumpukan zat besi, akibat rusaknya sel darah merah. Zat besi bisa menumpuk di berbagai organ, terutama jantung. Kerusakan jantung merupakan penyebab utama kematian pada penderita thalassemia.

    Untuk mencegahnya, dr Amalia menyebut obat deferoksiamin yang bisa digunakan secara rutin melalui injeksi. Ada juga yang diminum, antara lain deferiprone dan deferasirox. Fungsinya sama, untuk membuang kelebihan zat besi.

    Selain itu, zat besi juga bisa dibuang dengan alat bernama pompa kelasi besi. Pompa inilah yang dipakai secara rutin oleh Aan dan penderita thalassemia mayor yang lain, sebanyak 5 kali dalam seminggu.

    Bisa Dicegah Dengan Pemeriksaan Darah

    Ongkos perawatan bagi penderita thalassemia tidak bisa dibilang murah. Di banyak negara, biayanya sekitar 30 ribu dolas AS untuk 1 anak tiap tahun. Sementara di Indonesia berkisar antara 200-300 juta rupiah untuk 1 anak tiap tahun.

    Menurut dr Amalia, biaya tersebut tidak sebanding dengan biaya pencegahan yang bisa dilakukan. Untuk melakukan skrining thalassemia, biaya yang dikeluarkan berkisar antara 400-700 ribu rupiah sekali periksa.

    Pemeriksaan seharusnya dilakukan oleh setiap pasangan yang hendak menikah, supaya bisa diketahui seberapa besar kemungkinannya untuk memiliki anak dengan thalassemia. Pasangan beresiko tinggi, sangat dianjurkan untuk tidak menikah.

    Seorang pembawa sifat thalassmia, atau disebut thalassemia minor, tidak akan menampakkan gejala apapun. Namun jika ia menikah dengan sesama thalassemia minor, peluang untuk mendapatkan keturunan thalassemia mayor adalah 25 persen.

    “Susahnya adalah, orang yang merasa sehat pasti tidak merasa perlu untuk melakukan pemeriksaan pra-nikah. Padahal, bisa jadi orang yang sehat itu adalah pembawa sifat thalassemia,” ungkap dr Amalia.

    Jika pasangan thalassemia minor menikah lalu hamil, pemeriksaan masih bisa dilakukan lewat cairan ketuban pada usia kehamilan 10-12 minggu. Hanya saja jika ternyata janin mereka positif thalasemia mayor, pilihannya menjadi lebih sulit karena harus aborsi.

    Beberapa negara maju saat ini memang telah mensyaratkan krining thalassemia bagi pasangan yang hendak menikah. Karena penyakit ini menurun, maka kemungkinan penderitanya akan terus bertambah dari tahun ke tahunnya.

    Di Indonesia setidaknya ada 3.000 bayi lahir menjadi penderita thalesemia. Penderita thalasemia mulai terlihat sejak usia dini atau mulai dari 6 bulan. Jika sudah terkena umumnya memerlukan transfusi rutin 1-2 bulan sekali.(up/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/04/30/145505/1348651/775/antara-cinta-dan-thalassemia?l991101755

    

     
  • erva kurniawan 1:31 am pada 3 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: Menjenguk Orang Sakit dan Hukumnya   

    Menjenguk Orang Sakit dan Hukumnya

    (Sumber : Fatwa-fatwa Kontemporer – Dr. Yusuf Al-Qardhawi – Gema Insani Press)

    Orang sakit adalah orang yang lemah, yang memerlukan perlindungan dan sandaran. Perlindungan (pemeliharaan, penjagaan) atau sandaran itu tidak hanya berupa materiil sebagaimana anggapan banyak orang, melainkan dalam bentuk materiil dan spiritual sekaligus.

    Karena itulah menjenguk orang sakit termasuk dalam bab tersebut. Menjenguk si sakit ini memberi perasaan kepadanya bahwa orang di sekitarnya (yang menjenguknya) menaruh perhatian kepadanya, cinta kepadanya, menaruh keinginan kepadanya, dan mengharapkan agar dia segera sembuh. Faktor-faktor spiritual ini akan memberikan kekuatan dalam jiwanya untuk melawan serangan penyakit lahiriah. Oleh sebab itu, menjenguk orang sakit, menanyakan keadaannya, dan mendoakannya merupakan bagian dari pengobatan menurut orang-orang yang mengerti. Maka pengobatan tidak seluruhnya bersifat materiil (kebendaan).

    Karena itu, hadits-hadits Nabawi menganjurkan “menjenguk orang sakit” dengan bermacam-macam metode dan dengan menggunakan bentuk targhib wat-tarhib (menggemarkan dan menakut-nakuti yakni menggemarkan orang yang mematuhinya dan menakut-nakuti orang yang tidak melaksanakannya).

    Diriwayatkan di dalam hadits sahih muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Hak orang muslim atas orang muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantarkan jenazahnya, mendatangi undangannya, dan mendoakannya ketika bersin.”

    Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Berilah makan orang yang lapar, jenguklah orang yang sakit, dan tolonglah orang yang kesusahan.”

    Imam Bukhari juga meriwayatkan dari al-Barra’ bin Azib, ia berkata, “Rasulullah saw. menyuruh kami melakukan tujuh perkara … Lalu ia menyebutkan salah satunya adalah menjenguk orang sakit.”

    Apakah perintah dalam hadits di atas dan hadits sebelumnya menunjukkan kepada hukum wajib ataukah mustahab? Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini.

    Imam Bukhari berpendapat bahwa perintah disini menunjukkan hukum wajib, dan beliau menerjemahkan hal itu di dalam kitab Shahih-nya dengan mengatakan: “Bab Wujubi ‘Iyadatil-Maridh” (Bab Wajibnya Menjenguk Orang Sakit).

    Ibnu Baththal berkata, “Kemungkinan perintah ini menunjukkan hukum wajib dalam arti wajib kifayah, seperti memberi makan orang yang lapar dan melepaskan tawanan; dan boleh jadi mandub (sunnah), untuk menganjurkan menyambung kekeluargaan dan berkasih sayang.”

    Ad-Dawudi memastikan hukum yang pertama (yakni fardhu kifayah; Penj.).

    Beliau berkata, “Hukumnya adalah fardhu, yang dipikul oleh sebagian orang tanpa sebagian yang lain.”

    Jumhur ulama berkata, “Pada asalnya hukumnya mandub (sunnah), tetapi kadang-kadang bisa menjadi wajib bagi orang tertentu.”

    Sedangkan ath-Thabari menekankan bahwa menjenguk orang sakit itu merupakan kewajiban bagi orang yang diharapkan berkahnya, disunnahkan bagi orang yang memelihara kondisinya, dan mubah bagi orang selain mereka.

    Imam Nawawi mengutip kesepakatan (ijma’) ulama tentang tidak wajibnya, yakni tidak wajib ‘ain.

    Menurut zhahir hadits, pendapat yang kuat menurut pandangan saya ialah fardhu kifayah, artinya jangan sampai tidak ada seorang pun yang menjenguk si sakit. Dengan demikian, wajib bagi masyarakat Islam ada yang mewakili mereka untuk menanyakan keadaan si sakit dan menjenguknya, serta mendoakannya agar sembuh dan sehat.

    Sebagian ahli kebajikan dari kalangan kaum muslim zaman dulu mengkhususkan sebagian wakaf untuk keperluan ini, demi memelihara sisi kemanusiaan.

    Adapun masyarakat secara umum, maka hukumnya sunnah muakkadah, dan kadang-kadang bisa meningkat menjadi wajib bagi orang tertentu yang mempunyai hubungan khusus dan kuat dengan si sakit. Misalnya, kerabat, semenda, tetangga yang berdampingan rumahnya, orang yang telah lama menjalin persahabatan, sebagai hak guru dan kawan akrab, dan lain-lainnya, yang sekiranya dapat menimbulkan kesan yang macam-macam bagi si sakit seandainya mereka tidak menjenguknya, atau si sakit merasa kehilangan terhadap yang bersangkutan (bila tidak menjenguknya).

    Barangkali orang-orang macam inilah yang dimaksud dengan perkataan haq (hak) dalam hadits: “Hak orang muslim terhadap muslim lainnya ada lima,” karena tidaklah tergambarkan bahwa seluruh kaum muslim harus menjenguk setiap orang yang sakit. Maka yang dituntut ialah orang yang memiliki hubungan khusus dengan si sakit yang menghendaki ditunaikannya hak ini.

    Disebutkan dalam Nailul-Authar: “Yang dimaksud dengan sabda beliau (Rasulullah saw.) ‘hak orang muslim’ ialah tidak layak ditinggalkan, dan melaksanakannya ada kalanya hukumnya wajib atau sunnah muakkadah yang menyerupai wajib. Sedangkan menggunakan perkataan tersebut -yakni haq (hak)- dengan kedua arti di atas termasuk bab menggunakan lafal musytarik dalam kedua maknanya, karena lafal al-haq itu dapat dipergunakan dengan arti ‘wajib’, dan dapat juga dipergunakan dengan arti ‘tetap,’ ‘lazim,’ ‘benar,’ dan sebagainya.”

    ***

     
  • erva kurniawan 1:15 am pada 2 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: Keutamaan dan Pahala Menjenguk Orang Sakit   

    Keutamaan dan Pahala Menjenguk Orang Sakit 

    Keutamaan dan Pahala Menjenguk Orang Sakit

    (Sumber : Fatwa-fatwa Kontemporer – Dr. Yusuf Al-Qardhawi – Gema Insani Press)

    Diantara yang memperkuat kesunnahan menjenguk orang sakit ialah adanya hadits-hadits yang menerangkan keutamaan dan pahala orang yang melaksanakannya, misalnya:

    1. Hadits Tsauban yang marfu’ (dari Nabi saw.), “Sesungguhnya apabila seorang muslim menjenguk orang muslim lainnya, maka ia berada di dalam khurfatul jannah.”

    Dalam riwayat lain ditanyakan kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, apakah khurfatul jannah itu?” Beliau menjawab, “Yaitu taman buah surga.”

    2. Hadits Jabir yang marfu’, “Barangsiapa yang menjenguk orang sakit berarti dia menyelam dalam rahmat, sehingga ketika dia duduk berarti dia berhenti disitu (didalam rahmat).”

    3. Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda, “Barangsiapa menjenguk orang sakit maka berserulah seorang penyeru dari langit (malaikat), ‘Bagus engkau, bagus perjalananmu, dan engkau telah mempersiapkan tempat tinggal di dalam surga.”

    4. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan berfirman pada hari kiamat, ‘Hai anak Adam, Aku sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’ Orang itu bertanya, ‘Oh Tuhan, bagaimana aku harus menjengukMu sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya? Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu menjenguknya pasti kamu dapati Aku di sisinya?’ ‘Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi tidak kamu beri Aku makan.’ Orang itu menjawab, ‘Ya Rabbi, bagaimana aku memberi makan Engkau, sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan meminta makan kepadamu, tetapi tidak kauberi makan? Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu beri makan dia niscaya kamu dapati hal itu di sisiKu?’ ‘Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum.’ Orang itu bertanya, ‘Ya Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau Tuhan bagi alam semesta?’Allah menjawab, ‘Hamba-Ku si Fulan meminta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum. Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu memberinya minum niscaya akan kamu dapati (balasannya) itu di sisi-Ku?”

    5. Diriwayatkan dari Ali r.a., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Tiada seorang muslim yang menjenguk orang muslim lainnya pada pagi hari kecuali ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari; dan jika ia menjenguknya pada sore hari maka ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan baginya kurma yang dipetik di taman surga.” (HR Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hadits hasan.”)

    ***

     
  • erva kurniawan 1:09 am pada 25 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: Malam Pertama Pengantin   

    Malam Pertama Pengantin 

    Hukum Dan Etika Malam Pertama

    1. Dianjurkan kepada sang suami bersikap lemah lembut pada malam pertama dengan mengajak bicara sehingga terjadi keakraban atau menyuguhkan segelas minuman sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

    2. Dianjurkan untuk meletakkan tangan kanan di atas ubun ubun sang istri kemudian membaca doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, “Bismillah Allahumma bariklii fii zaujatii ..”

    3. Dianjurkan kepada sang suami shalat dua raka’at bersama istrinya dan sang istri berada di belakangnya. Sebab demikian itu lebih melanggengkan kasih sayang.

    4.  Jika ingin melakukan hubungan sebadan hendaknya berdoa: “Bismillah, allahumma jannibnasy syaithaan wa jannibisy syaithaan maa razaqtanaa”

    5. Tidak boleh sang suami menggauli istri kecuali di tempat jalan lahirnya bayi dan boleh melakukan cumbu rayu sesuka hati namun tidak boleh menggaulinya ketika masa haid atau nifas.

    6. Apabila sang suami memiliki lebih dari satu istri maka pada pagi hari dari malam pertama hendaknya sang suami mendatangi istri istri lain dengan tujuan saling mendoakan.

    7. Diharamkan bagi kedua mempelai menyebarkan rahasia hubungan seksual karena hal itu termasuk dosa besar.

    Hak Hak Suami Dan Istri

    Diantara hak hak yang harus ditegakkan bersama sama sebagai berikut:

    1. Kerja sama dalam rangka menegakkan ketaatan kepada Allah, satu dengan yang lain saling mengingatkan kepada nilai ketakwaan.

    Diantara contoh yang paling indah adalah kerjasama antara suami dengan istri dalam menghidupkan qiyamul lail sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam: “Semoga Allah merahmati seorang laki laki yang bangun malam kemudian shalat dan membangunkan istrinya untuk shalat dan bila tidak mau bangun maka ia memerciki dengan air di wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang perempuan yang bangun malam lalu shalat dan membangunkan suaminya untuk shalat, bila tidak mau bangun maka ia memerciki dengan air di wajahnya.” (HR. Ahmad, Ahlul Sunan kecuali At Tirmidzi dan hadits ini shahih).

    2. Menjalani kehidupan rumah tangga dengan tulus, ikhlas, setia dan penuh kasih sayang.

    3. Hendaknya masing masing suami istri merasa memiliki tanggung jawab penuh terhadap tugas dan kewajiban yang ada di pundaknya.

    Masing masing harus tahu bahwa dia dituntut untuk menunaikan kewajiban secara baik dan sempurna sebagaimana sabda Nabi: “Setiap kalian adalah pemimpiin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dan imam adalah pemimpin, dan orang laki laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan wanita adalah penanggungjawab atas rumah suami dan anaknya. Dan setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Al Bukhari)

    4. Antara suami dan istri harus kerjasama secara baik dalam rangka mewujudkan suasana tenang dan gembira serta berusaha semaksimal mungkin menjauhkan perkara perkara yang mendatangkan keburukan dan kesedihan.

    Betapa indahnya ucapan Abu Darda’ ketika berkata kepada istrinya: “Jika kamu sedang melihatku dalam keadaan marah maka carilah sesuatu yang bisa menyenangkanku dan jika aku melihatmu sedang marah maka aku akan mencari sesuatu yang bisa menyenangkanmu, dan bila tidak seperti itu maka kita tidak usah berkumpul saja”.

    5. Tidak menyebarkan rahasia masing masing dan tidak menyebut-nyebut keburukan pasangannya di depan orang lain karena demikian itu melecehkan harga diri pasangannya di depan orang lain. Ketika itu ia telah melakukan ghibah yang dibenci lagi berdosa.

    6. Hendaknya masing masing memperhatikan gaya dan penampilan, istri berdandan yang bagus untuk suami dan suami juga berdandan yang bagus untuk sang istri.

    Ibnu Abbas berkata: “Saya sangat senang berdandan untuk istriku sebagaimana saya senang bila ia berdandan untukku, karena Allah berfirman: ‘Dan bagi istri istri hak yang sepadan dengan kewajiban kewajibannya dengan baik’.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:57 am pada 24 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: Adab Shalat Tahajjud, Keutamaan Shalat Tahajjud, Sholat Tahajjud,   

    Sholat Tahajjud 

    Keutamaan Shalat Tahajjud/Qiyamullail:

    1. Orang yang shalat tahajud akan dibangkitkan Allah dalam di tempat yang terpuji.

    Allah SWT Berfirman: Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (QS. Al-Isra: 79)

    2. Orang yang shalat tahajud adalah orang yang disebut oleh Allah sebagai muhsinin dan berhak mendapatkan kebaikan dari-Nya serta rahmat-Nya.

    Allah SWT Berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). (QS Az-Zariyah: 15-18)

    3. Orang yang shalat tahajud dipuji Allah dan dimasukkan kedalam kelompok hamba-nya yang baik-baik.

    Allah SWT Berfirman: Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. (QS. Al-Furqan: 63-64)

    4. Kepada Orang yang shalat tahajud, Allah bersaksi atas mereka bahwa mereka adalah orang yang beriman.

    Allah SWT Berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam ni’mat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (As-Sajdah: 15-17)

    5. Allah membedakan Orang yang shalat tahajud dengan yang tidak secara jelas dan bahwa mereka berbeda dengan lainnya

    Allah SWT Berfirman: (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az-Zumar: 9).

    6. Kepada Orang yang shalat tahajud, Rasulullah SAW mengatakan bahwa mereka pasti akan masuk surga.

    Rasulullah SAW bersabda: Wahai manusia, sebarkanlah salam, beri makanlah, sambung tali kasih, shalat malamlah saat orang pada terlelap, maka masuklah surga dengan selamat. (HR. Al-Hakim, Ibnu Majah, At-Tirmizy).

    7. Shalat tahajjud itu adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kita, sarana pendekatan kepada Allah, penghapus keburukan, pencegah dosa dan penangkal penyakit di badan.

    Rasulullah SAW bersabda kepada Salman al-Farisi: “Hendaklah kamu melaksanakan qiyamullail karena qiyamullail itu adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kita, sarana pendekatan kepada Allah, penghapus keburukan, pencegah dosa dan penangkal penyakit di badan.” (HR. A-Tabarani dan Al-Hatsami).

    Adab Shalat Tahajjud/Qiyamullail:

    1. Ketika akan tidur pada malam hari berniat terlebih dahulu untuk melakukan qiyamullail.

    Dari Abi Darda’ bahwa Nabi SAW bersabda,”Siapa yang mendatangi tempat tidurnya dan berniat akan bangun malam, namun kantuknya membuatnya tidak bangun hingga pagi hari, dia tetap mendapat pahala sesuai yang diniatkannya. Sedangkan tidurnya itu merupakan sedekah dari Allah kepada hamba-Nya.” (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah).

    2. Ketika bangun malam untuk shalat, hendaknya mengusap wajahnya lalu bersiwak (membersihkan gigi), menengadah ke langit lalu berdoa.

    3. Sebelum mulai shalat lail, hendaknya dimulai dahulu dengan shalat dua rakaat yang ringan. Setelah itu barulah mulai shalat malam yang panjang terserah berapa lamanya.

    Dari Aisyah ra. Bahwa Rasulullah SAW bila shalat malam, beliau membukanya dengan terlebih dahulu shalat dua rakaat yang ringan”. (HR. Muslim).

    Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Bila kalian shalat malam, maka hendaknya memulai dengan shalat dua rakaat yang pendek”. (HR. Muslim).

    4. Membangunkan juga keluarganya (anak dan istri) untuk ikut shalat malam bersama.

    Dari Abi Hurairah ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah merahmati seorang yang bangun malam dan membangunkan istrinya, bila istrinya menolak, maka dipercikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun malam dan membangunkan suaminya, bila suaminya menolak, maka dipercikkan air ke wajahnya”. (HR. Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).

    Dan masih banyak lagi cara dan adab lainnya. Wallahu a’lam bis-shawab.

     
  • erva kurniawan 1:54 am pada 23 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: Larangan Beribadah Dikuburan Wali   

    Larangan Beribadah Dikuburan Wali 

    “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat: 56)

    Namun sayang banyak umat Islam sekarang ini telah menyimpang dari tujuan penciptaan mereka. Sebagian di antara mereka beribadah kepada wali-wali yang dianggap saleh. Atau mereka memiliki keyakinan bahwa beribadah di dekat kubur orang saleh adalah suatu hal yang utama.

    Penyimpangan Dalam Peribadatan di Kubur Wali

    Beribadah di kubur wali merupakan suatu penyimpangan yang sangat besar. Sebagai contoh, orang yang melakukan sholat di kubur wali. Meskipun dia meniatkan sholat tersebut ikhlas untuk Alloh semata, namun dia telah melakukan pelanggaran syariat karena Rosululloh telah melarang hal tersebut, sebagaimana sabdanya “Janganlah kalian menjadikan kubur sebagai masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut” (HR Muslim).

    Orang yang melakukan sholat di kubur wali maka pada kenyataannya dia telah menjadikan kubur wali itu sebagai masjid (Lihat Tahdzirus Sajid karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani). Selain itu, orang yang melakukan sholat di kubur wali telah melakukan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh Rosululloh. Selama hidupnya, Rosululloh tidak pernah sholat di kubur kecuali sholat jenazah bagi jenazah yang belum disholatkan. Sehingga dengan demikian, orang yang melakukan sholat di kubur wali maka sholatnya itu tidak diterima oleh Alloh.Karena hal itu tidak sesuai dengan tuntunan Rosululloh, meskipun dilakukan dengan ikhlas.

    Lebih parah lagi jika orang yang melakukan sholat itu memaksudkan sholatnya untuk para wali, maka ia telah melakukan syirik besar yang dapat mengeluarkannya dari Islam. Karena dia telah meniatkan ibadah yang seharusnya untuk Alloh tapi dimaksudkan untuk selainNya.

    Padahal dosa syirik merupakan dosa yang tidak akan diampuni oleh Alloh (kecuali bertaubat), sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An Nisa: 48)

    Ibadah-Ibadah Yang Dilarang Dilakukan di Pekuburan

    Sholat bukanlah satu-satunya ibadah yang dilarang untuk dilakukan di makam wali. Ibadah-ibadah lainnya yang hanya boleh diperuntukkan untuk Alloh, jika dilakukan di kubur wali maka hal ini juga terlarang.

    Semisal menyembelih di kubur wali, tawaf, berdoa di kubur wali dan sebagainya. Jika semua ibadah tersebut dilakukan di kubur wali dengan niat untuk Alloh semata, namun dilakukan di kubur wali karena tempat tersebut dianggap lebih afdhol, maka ini adalah ibadah yang tidak ada contohnya dari Rosululloh, dan di samping Rosululloh juga telah melarang untuk beribadah di pekuburan, Rosululloh juga tidak pernah menjelaskan bahwa kubur adalah tempat yang berkah dan afdhol untuk beribadah.

    Oleh karena itu, barang siapa yang melakukan hal tersebut maka dia telah berdosa dan melakukan suatu hal yang haram. Namun, jika dia ibadah itu ditujukan untuk sang wali di dalam kubur, maka dia telah melakukan syirik besar yang dapat mengeluarkan dari Islam.

    Kubur, Tempat Mengingat Kematian

    Jika kita tidak boleh melakukan berbagai bentuk ibadah di kubur, lalu apakah fungsi kubur di dalam syariat Islam? Jawabannya adalah, Alloh menjadikan kubur sebagai pengingat kematian. Setiap manusia, bagaimanapun keadaannya, kaya, miskin, cantik, jelek, pintar, ataupun bodoh pasti akan mengalami kematian. Meskipun dia masih muda belia atau pun tua renta maka pasti akan mati juga. Alloh berfirman, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Al Jumu’ah: 8)

    Kematian merupakan awal dari kehidupan kita yang hakiki, yaitu kehidupan akhirat yang tidak ada akhirnya. Barang siapa yang melakukan kebaikan ataupun kejahatan sekecil apapun maka ia pasti akan melihatnya di akhirat kelak, sebagaimana firman Alloh yang artinya, “Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya.” (QS Al Mujaadilah: 6).

    Semoga Alloh senantiasa meneguhkan kita di atas Islam dan mematikan kita di atas sunnah. Wallohu ‘alam.

    ***

    (Sumber: Buletin At Tauhid)

     
  • erva kurniawan 1:27 am pada 21 July 2010 Permalink | Balas  

    Bingkisan Kasih untuk si Buah Hati 

    Setiap anak yang dilahirkan adalah atas dasar Islam dan inilah yang dimaksud dengan fithrah dalam firman Allah Ta’ala berikut ini, “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang hanif (tauhid). Fithrah (ciptaan) Allah, yang Allah telah fithrahkan (ciptakan) manusia atas dasar fithrah tersebut. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar Rum : 30)

    Berkata Imam al Bukhari, “Al Fithrah yakni Islam” (Kitab Fathul Baari’ no. 4775). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa pendapat yang paling masyhur tentang arti fithrah adalah al Islam. Dan berkata pula Imam Ibnu Qayyim, “Bahwa kaum salaf tidak memahami lafazh fithrah kecuali al Islam” (Kitab Fathul Baari no. 1385)

    Demikian pula dengan sabda Nabi SAW berkaitan dengan masalah fithrah ini. Dari Abu Hurairah ra., Nabi SAW bersabda, “Kullu mauludin yuuladu ‘alal fithrah, fa-abawaaHu yuHawwidaaniHi aw yunashshiraaniHi aw yumajjisaaniHi” yang artinya “Setiap anak dilahirkan atas dasar fithrah (al Islam), kemudian kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nashara atau Majusi” (HR. al Bukhari no. 1358, Muslim 8/52-54 dan lainnya)

    Maka dari itu ketika sang buah hati lahir ke dunia dari rahim ibu yang muslimah maka hendaknyalah kaum muslimin memberikan suatu bingkisan yang istimewa untuknya yaitu bingkisan yang indah yang sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW agar keberkahan yang banyak tercurah kepadanya.

    Adapun sunnah – sunnah yang mulia berkaitan dengan kedatangan sang buah hati adalah sebagai berikut :

    Pertama : Memberikan nama kepada anak pada hari pertama atau hari ketujuh.

    Dari Anas bin Malik ra., Rasulullah SAW bersabda, “Telah dilahirkan untukku semalam seorang anak laki – laki, maka aku namakan dia dengan nama bapakku yaitu Ibrahim” (HR. Muslim 7/76)

    Imam Nawawi mengatakan bahwa di dalam hadits tersebut diperbolehkan memberi nama kepada anak pada hari kelahirannya dan juga diperbolehkan memberi nama dengan nama para Nabi (Kitab Syarah Muslim)

    Dari Samurah bin Jundub ra., Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih (kambing) untuknya pada hari ketujuh dan dicukur rambut(nya) dan diberi nama” (HR. Abu Dawud no. 2838, at Tirmidzi no. 1522, An Nasai no. 4231, Ibnu Majah no. 3165 dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Irwaa-ul Ghalil no. 1165)

    Sedangkan nama yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah Abdullah dan Abdurrahman, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya nama – nama kamu yang paling dicintai Allah ialah Abdullah dan Abdurrahman” (HR. Muslim 6/169)

    Kedua : Memberikan kabar gembira kepada kaum muslimin

    Karena kabar gembira itu dapat menggembirakan dan menyenangkan seorang hamba, maka seorang muslim disunnahkan segera menyampaikan dan memberitahukan kabar gembira kepada saudaranya, sehingga ia menjadi senang karenanya (Lihat Tuhfah al Wadud oleh Ibnul Qayyim al Jauziyyah)

    Allah Ta’ala berfirman, “Maka Kami pun memberi kabar gembira kepadanya dengan lahirnya seorang anak yang penyabar” (QS. Ash Shaffat : 101)

    “Dan mereka memberikan kabar gembira kepadanya dengan lahirnya seorang anak yang alim (Ishaq)” (QS. Adz Dzariyat : 28)

    “Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang bernama Yahya” (QS. Maryam : 7)

    Ketiga : Mentahniknya ketika lahir atau sehari sesudahnya.

    Tahnik adalah menguyah sesuatu kemudian meletakan/memasukkan ke mulut bayi lalu menggosok–gosokkan ke langit–langit (mulut)nya (Fathul Baari Kitabul ‘Aqiqah). Menurut Imam an Nawawi tahnik ini termasuk sunnah Nabi SAW dengan kesepakatan ulama (Syarah Muslim Kitabul Adab).

    Dalilnya adalah dari Abu Musa ra., ia berkata, “Telah dilahirkan untukku seorang anak laki – laki. Lalu aku membawanya kepada Nabi SAW, kemudian beliau menamakannya Ibrahim, lalu beliau mentahniknya dengan sebuah kurma dan mendoakan keberkahan untuknya, lalu menyerahkannya kepadaku (kembali)” (HR. al Bukhari no. 5467 dan Muslim 6/175)

    Keempat : Mendoakannya setelah ditahnik

    Yaitu mendoakan keberkahan untuknya ketika anak itu lahir dan waktunya sesudah tahnik sebagaimana hadits sahabat Abu Musa ra sebelumnya. Adapun lafazh doanya adalah, “BaarakallaHu fiHi” yang artinya “Semoga Berkah Allah kepadanya” atau “AllaHumma baarik fiih” yang artinya “Ya Allah berkahilah ia” (Kitab Fathul Baari’ no. 3909 oleh Al Hafizh Ibnu Hajar)

    Yang dimaksud dengan barakah adalah tetapnya kebaikan dan banyaknya kebaikan (Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid oleh Syaikh Utsaimin).

    Kelima : Mengadakan ‘Aqiqah pada hari ketujuh.

    ‘Aqiqah menurut bahasa artinya sembelihan atau pemotongan. Ini arti yang dipilih oleh Imam Ahmad bin Hambal sehingga beliau mengatakan, “Aqiqah itu artinya tidak lain melainkan sembelihan itu sendiri” (Tuhfatul Maudud VI/5)

    Sedangkan menurut istilah arti ‘aqiqah ialah, “Menyembelih kambing untuk anak pada hari ketujuh dari hari kelahirannya”.

    Hadits – hadits yang berbicara tentang disyariatkannya aqiqah terkumpul dari fi’il (perbuatan) dan qaul (perkataan) Nabi SAW. Dari fi’il beliau telah mutawatir beritanya bahwa beliau meng’aqiqahkan kedua cucu beliau yaitu Hasan dan Husain. Salah satunya adalah dari jalan Abdullah bin Abbas ra., ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah meng’aqiqahkan untuk Hasan dan Husain (masing–masing) dengan dua ekor kambing kibasy” (HR. An Nasai no. 4219, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Irwaa-ul Ghalil no. 1164)

    Adapun jumlah kambing yang disembelih untuk anak laki – laki adalah 2 ekor dan untuk anak perempuan adalah satu ekor. Dari Aisyah ra., ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada mereka agar kami ber’aqiqah untuk anak laki – laki dua ekor kambing yang sama dan untuk anak perempuan seekor kambing” (HR. at Tirmidzi no. 1513, at Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini hasan – shahih”, Syaikh al Albani mengatakan dalam al Irwaa no. 1166 bahwa sanad hadits ini shahih)

    Berkenaan dengan hukum ‘aqiqah para ulama berbeda pendapat, namun pendapat jumhur (kebanyakan) ulama adalah seperti pendapatnya Imam Malik yang mengatakan dalam al Muwaththa, “Dan ‘aqiqah itu tidaklah wajib, tetapi dianjurkan sebagai sunnah untuk diamalkan” (Lihat juga Syarhus Sunnah IX/276 oleh al Baghawi dan lainnya).

    Sementara itu yang dimaksud dengan hari ketujuh adalah dimana hari kelahiran itu dihitung sebagai satu hari dan ditambah dengan enam hari berikutnya, misalnya sang buah hati lahir pada hari Ahad (ini dihitung satu hari) maka penyembelihan dilakukan pada hari Sabtu dan seterusnya (Lihat perkataan Imam an Nawawi dalam Majmu’ Syarah Muhadzdzab 8/431)

    Dan daging aqiqah sebagiannya dapat dimakan dan sebagian dibagikan kepada tetangga, fakir dan miskin serta diperbolehkan pula mengundang orang untuk memakan daging ‘aqiqah (Lihat Tuhfah al Wadud oleh Ibnu Qayyim al Jauziyyah).

    Keenam : Mencukur rambut kepala bayi pada hari ketujuh.

    Sunnah mu’akkadah mencukur rambut kepala bayi pada hari ketujuh hingga habis berdasarkan hadits Samurah bin Jundub ra. yang telah disebutkan di atas. Dan dilarang mencukur rambut secara qaza’ yaitu mencukur habis sebagian rambut kepala bayi dan membiarkan sebagian yang lain. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata, “Rasulullah melarang potongan rambut qaza’” (HR. al Bukhari no. 5920 dan Muslim no. 2120)

    Demikianlah bingkisan kasih untuk si buah hati berdasarkan sunnah Rasulullah SAW. Semoga tulisan yang sederhana ini bisa menjadi kado bagi kaum muslimin yang sedang menanti putra – putrinya lahir ke dunia. Salam sayang saya buat si kecil. BarakallaHu fiHi.

    ***

    Maraji’ :

    Buah Hati yang Dinanti, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdar, Darul Qalam, Jakarta, Cetakan Keempat, 1425 H/2005 M. Ringkasan Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud, Peringkas : Abu Shuhaib al Karami, Pustaka Arafah, Solo, Cetakan Pertama, Maret 2006.

     
  • erva kurniawan 1:50 am pada 18 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: Takdir   

    Takdir Sudah Ditentukan 50.000 tahun Sebelum Langit dan Bumi Diciptakan (Termasuk Apakah Seseorang Menjadi Penduduk Surga atau Neraka)

    oleh : Abu Tauam Al Khalafy

    Seorang muslim yang bertakwa tentu memahami arti keimanan dengan baik, karena untuk mencapai derajat ketakwaan seseorang harus beriman terlebih dahulu sebagaimana salah satu firman Allah SWT pada ayat Al Qur’an berikut ini: “Hai orang – orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al Baqarah 183)

    Lalu mengapa seseorang harus bertakwa kepada Allah SWT? “Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran 123)

    Jadi pada intinya Allah SWT menyuruh kaum muslimin beramal shalih setelah beriman adalah dimaksudkan agar kaum muslimin dapat bersyukur kepada-Nya terutama atas nikmat-Nya yang sangat banyak. Maka dari itu kekokohan iman seorang muslim merupakan prasyarat mutlak dalam beramal shalih, agar amal shalih tersebut dapat berbuah ketakwaan kepada Allah SWT.

    Definisi iman itu sendiri dapat dilihat pada hadits shahih berikut ini, dari Umar bin Khaththab ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang iman yaitu, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan kepada takdir yang baik dan yang buruk” (HR Imam Muslim)

    Salah satu cabang keimanan yang utama berdasarkan nash shahih di atas adalah bahwa beriman kepada takdir (qadar) yang Allah SWT telah tetapkan kepada setiap hamba baik itu takdir baik maupun takdir buruk. Firman Allah SWT, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di Bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya” (QS Al Hadid 22)

    Dan dari ayat di atas jelas Allah SWT katakan bahwa takdir yang Allah SWT berikan kepada setiap hambanya sudah ditentukan sebelum Allah SWT menciptakan langit dan Bumi sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Allah telah menulis (di Lauhu Mahfuzh) segenap takdir makhluk 50.000 tahun sebelum Ia menciptakan langit dan bumi” (HR. Muslim)

    Termasuk apakah ia menjadi ahli surga atau neraka, Allah SWT sudah tentukan 50.000 tahun sebelum alam semesta ini diciptakan. Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra., Rasulullah SAW bersabda, “Maka demi Allah, yang tiada tuhan yang haq disembah melainkan Dia, sesungguhnya seseorang diantara kamu beramal dengan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dia dan surga kecuali sehasta, namun telah terdahulu ketentuan (takdir) Tuhan atasnya, lalu ia mengerjakan perbuatan ahli neraka, maka ia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya salah seorang diantara kamu beramal dengan amalan ahli neraka sehingga tidak ada jarak antara dia dan neraka kecuali sehasta, namun telah terdahulu ketentuan (takdir) Tuhan atasnya, lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka ia masuk ke dalamnya” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

    Pada hadits lain Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang dari kamu melainkan telah dituliskan tempat duduknya, apakah ia termasuk penduduk neraka atau penduduk surga” (HR. Imam Bukhari)

    Maka dari itu Imam Abu Ja’far Ath Thahawi (239 – 321 H) pada kitabnya Al Aqidah Ath Thahawiyah yang diberi ta’liq (komentar) oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengatakan, “Semenjak dahulu kala Allah Ta’ala telah mengetahui berapa jumlah hamba-Nya yang akan masuk surga dan yang akan masuk neraka. Total dari jumlah itu tidak akan bertambah dan tidak akan pula berkurang”

    Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani memberikan komentar atas ucapan Imam Abu Ja’far Ath Thahawi ini sebagai berikut, “Nampaknya Imam Ath Thahawi merujuk kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru, dia berkata, ‘Pernah suatu ketika Rasulullah SAW keluar menemui kami memegang 2 kitab … Kemudian sambil menunjuk kitab yang ada di tangan kanan, Beliau SAW berkata, Kitab ini berasal dari Tuhan Semesta Alam yang memuat nama – nama penduduk surga yang dilengkapi nama bapak – bapak dan nama – nama kabilah mereka. Kemudian Allah mengumpulkan mereka menjadi satu (dalam kitab ini). Jumlah nama – nama yang ada dalam kitab ini tidak akan bertambah maupun berkurang selama – lamanya … – hadits ini cukup panjang – … (HR. At Tirmidzi, hadits ini dishahihkan oleh Imam At Tirmidzi dan Syaikh Al Albani)’”

    Namun demikian, tidak ada seorangpun tahu apakah ia menjadi ahli surga atau ahli neraka karena hanya Allah SWT sajalah yang mengetahui perkara – perkara yang ghaib. Firman Allah SWT, “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS An Naml 65)

    Artinya walaupun seorang manusia apakah nanti takdirnya masuk ke dalam surga atau ke dalam neraka maka ia sebagai seorang hamba Allah wajib selalu berusaha mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala dan selalu meminta agar dimasukan ke dalam surga-Nya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang – orang yang bertakwa” (QS Al Imran 133)

    Dan tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah SWT walaupun hanya sebentar, “Dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir” (QS Yusuf 87)

    Juga dengan beriman kepada takdir Allah tidaklah berarti memberikan kesempatan kepada hamba untuk berdalih dengannya dalam meninggalkan perintah Allah atau melanggar apa yang dilarang-Nya. Karena Allah SWT berfirman, “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” (QS At Taghabun 16), yang artinya seorang hamba tidak akan dibebani kecuali sebatas kemampuannya.

    Dan sabda Rasulullah SAW, “Tidaklah salah seorang dari kamu melainkan telah dituliskan tempat duduknya, apakah ia termasuk penduduk neraka atau penduduk surga”. Maka berkatalah seorang laki – laki dari kaumnya, “Tidakkah (dengan demikian) kita berserah diri saja, wahai Rasulullah ?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak, tetapi berusahalah ! Karena masing – masing dimudahkan kepada (kententuan) penciptaannya” (HR. Imam Bukhari)

    Akhirnya dapat difahami bahwa hakekat takdir adalah rahasia Allah Ta’ala yang telah ditentukan atas hambanya sebelum Allah SWT menciptakan seluruh isi langit dan Bumi dan sebagai manusia maka wajib bagi kita untuk selalu berusaha mencapai ketakwaan kepada Allah SWT, karena pada hakekatnya Allah SWT tidak membebani kewajiban yang mana kita tidak sanggup untuk memikulnya.

    Dan takdir itu sendiri tidaklah diketahui oleh malaikat yang dekat dengan-Nya ataupun oleh Nabi yang diutus karena Allah SWT telah menutup ilmu takdir dari makhluk – makhluk-Nya sebagaimana firman Allah SWT dalam kitab-Nya, “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai” (Al Anbiya’ 23)

    ***

    Maraji’ :

    1. 40 Hadits Shahih, Imam An Nawawi, Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi Arabia, 1422 H.
    2. Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’liq oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, At Tibyan, Solo, Edisi Indonesia, November 2000 M.
    3. Aqidah Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’liq oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Media Hidayah, Cetakan Pertama, Mei 2005 M
    4. Tauhid, Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif. Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi Arabia, 1422 H.
     
  • erva kurniawan 1:00 am pada 11 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: Aurat   

    Aurat 

    Oleh: Hasan Husen Assagaf

    AURAT adalah bagian tubuh yang wajib ditutup dan haram melihatnya. Dalam hukum fiqih aurat laki laki antara pusar dan lutut, sedang aurat perempuan, karena sangat sensitive, seluruh tubuhnya kecuali muka dan tapak tangan. Menutup aurat adalah cabang dari iman. Yang tidak menutupnya berarti tidak ada iman, yang tidak punya iman berarti tidak punya malu. Jelasnya, malu termasuk cabang dari iman. Iman amat berkaitan dengan malu. “Bila malu hilang hilanglah iman, jika iman hilang malupun ikut terbang”. Itu yang kita dapatkan dari hadith Rasulallah saw.

    Saat Nabi Adam as dan istrinya Hawa turun ke bumi, keduanya dalam kondisi tak sehelai benangpun di tubuh mereka. Menyadari hal itu Adam as dan Hawa segera mencari dedaunan dan kulit pohon untuk dijadikan pakaian yang menutupi aurat mereka. Padahal pada saat itu tidak ada seorang pun yang melihat, kecuali mereka berdua, suami istri. Tapi mereka berusaha menutupi aurat mereka masing masing karena rasa malu mereka yang sangat tinggi.

    Ada cerita tentang Balqis, ratu negri Saba-Yaman ketika berkunjung ke istana nabi Sulaiman. Ia tercengang melihat kemewahan dan keindahan istana. Saking kagumnya Ratu Balqis menarik abayanya (rok panjangnya) karena ia mengira lantai istana digenangi air. Padahal itu semua karena kecanggihan istana Sulaiman as. Roknya sempat terangkat dan betisnya pun sempat terlihat. Walaupun kejadian itu hanya sekejap tapi cukup membuat ratu Balqis malu besar, mukanya merah padam dan segra menutup betisnya.

    Diriwayatan pernah siti Aisyah ra bertanya kepada Rasulallah saw “wahai Rasulallah, betulkan nanti di hari kiamat para perempuan dikumpulkan bersama lelaki kesemuanya dalam keadaan tanpa busana?” Rasulallah pun menjawab “Betul”. Mendengar yang demikian Aisyah ra menangis sejadi jadinya dan berkata “Alangkah malunya, alangkah malunya ya Rasulallah” Namun beliau kemudian menjelaskan: “wahai Aisyah, di akhirat nanti manusia sibuk dengan dirinya masing masing sehingga tidak ada waktu dan kesempatan untuk memperhatikan aurat orang lain”. Hadisth ini dimuat sebagai gambaran seorang wanita yang kuat imannya dan memiliki rasa malu yang dalam.

    Cerita tentang aurat tentu kita bertanya kenapa Rasulallah saw lahir dalam keadaan sudah berkhitan? Kalau kita sering membaca kitab maulid tentu kita akan mendapatkan jawabannya. Rasulallah lahir dalam keadaan berkhitan agar tidak ada yang melihat auratnya dari pandangan orang lain. Dan itu merupakan sebagian dari kemuliaan Allah yang diberikan kepada beliau. Jelasnya beliau terpelihara dan terjaga dari keburukan, kejelekan, dosa dan kemaksiatan.

    Satu kali, ketika Rasulallah saw masih kecil ikut memperbaiki Ka’bah bersama sama orang Quraisy Makah. Beliau pun ikut gotong royong membatu mengangkat sebuah batu yang cukup besar dan berat sehingga qamis beliau tersingkap. Tiba tiba batu itu jatuh dan mengenai kakinya sampai beliau pingsan. Dengan jatuhnya batu maka qamis beliau kembali menutup aurat beliau yang tersingkat.

    Dulu derajat malu khususnya dikalangan wanita sangat tinggi. Sangat jarang kita dapatkan wanita keluar rumah. Kalau keluar, auratnya selalu ditutup rapat-rapat dan selalu disertai mahram untuk menjaganya. Orang tua atau suami sangat cemburu bila aurat anaknya atau istrinya dilihat orang lain.

    Dulu orang selalu menjaga kadar iman dan menempatkan kaum wanita pada posisinya sesuai dengan syariat yang diajarkan agama. Makanya mereka selalu menjaga keturunan mereka dan memelihara auratnya serapi mungkin sejak kecil. Mereka berikan pakaian yang sesuai dengan standar syariat, tidak diobral semaunya, apalagi dipamerkan di halayak ramai. Karena aurat wanita secara otomatis berbeda dengan pria amat berharga dan sensitive mengundang orang berbuat dosa.

    Berbeda dengan zaman sekarang aurat, maksiat, kerusakan sudah menjadi lumrah dan sulit dibendung. Benar apa yang dikatakan Ahmad Syauqi “kukuhnya satu bangsa terletak pada moralnya. Apabila moralnya rusak, maka bangsa tersebut ikut bejat” Adapun salah satu penyeban kehancuran moral dan akhlak karena pengaruh pornografi. jadi sangat wajar sekali jika dilakukan pelarangan terhadap majalah Play Boy dan majalah majalah lainnya di Indonesia yang masih menyajikan hal hal yang berbau porno. Sebetulnya, kalo mau, pemerintah sendiri cukup untuk menyetop dan melarang penerbitan majalah Play Boy, tapi kok engga bisa? Ini pertanyaan yang harus dijawab oleh diri kita masing masing. Saya yakin anda, saya, dan siapa saja tahu jawabannya.

    Sudah barang tentu ada beberapa cara yang digunakan untuk menyelamatkan moral dan akhlak bangsa sesuai dengan yang dianjurkan Rasulallah saw. Pertama mereka yang mampu berda’wah dengan kekuatan. Yaitu orang yang bisa merobah dengan tangannya jika melihat kemungkaran dan kemaksiatan. Kedua mereka yang mampu berda’wah dengan lisannya. Sedang yang paling lemah ialah yang hanya mampu menjahui dan membenci di dalam hati tanpa berbuat apa apa.

    Memang ada hadits yang mengatakan “katakanlah yang hak (benar) walaupun yang benar itu pahit”. Hadist ini jelas menyuruh meluruskan, memperbaiki atau tegasnya merobah apa apa yang dilihat salah, tapi bukan dengan kekerasan, bukan dengan emosi, bukan dengan caci maki. Hati seorang muslim itu bukan batu, ia tidak sekeras batu. Batu saja masih lunak jika terus menerus ditetesi air.

    Jadi, cara menyampaikan yang haq (benar) pun harus bijaksana dan dengan menggunakan bahasa yang sopan, lembut dan menyentuh. Satu kali Khalifah Makmun putra Harun Al-Rasyid dikeritik,dikecam dengan pedas dan disertai caci maki oleh sekelompok orang. Beliau sangat marah dan menyuruh orang yang mengeritiknya membuka al-Quran surat Taha ayat 43-44, dimana Allah menyuruh kepada nabi Musa dan Harun as untuk mendatangi Firaun dan berbicara kepadanya dengan kata kata yang lembut (qaulan layyinan). Makmun putra Harun Al-Rasyid menegaskan bahwa dirinya adalah seorang muslim masih jauh lebih baik dibandingkan dengan Firaun yang musyrik bahkan mengaku Tuhan.

    ***

     
    • kolomkiri 1:05 am pada 11 Juli 2010 Permalink

      apakah termasuk pakai cadar..?????

    • amanda 10:00 pm pada 3 April 2012 Permalink

      caadar itu budaya orang arab, jadi sebenarnya Islam hanya mengajarkan untuk menutup smua bagian tubuh wanita KECUALI MUKA, dan TELAPAK TANGAN. :D

  • erva kurniawan 1:46 am pada 9 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: manfaat sholat subuh, Rahasia Shalat Subuh, sholat subuh   

    Rahasia Shalat Subuh 

    Oleh: Dr. dr. Barita Sitompul SpJP

    Setiap pagi kalau kita tinggal didekat mesjid maka akan terbangun mendengar adzan subuh, yang menyuruh kita untuk melaksanakan shalat subuh. Bagi mereka yang beriman segera saja melemparkan selimut dan segera wudhu dan shalat baik di rumah masing-masing atau ke mushalla atau masjid terdekat dengan berjalan kaki.

    Mungkin menjadi pertanyaan mengapa Tuhan memerintahkan kita bangun pagi dan shalat subuh? Berbagai jawaban dari semua disiplin ilmu tentunya akan banyak dijumpai dan membedah serta memberikan jawaban akan manfaat shalat subuh itu. Dibawah akan diulas sedikit mengani manfaat shalat subuh, instruksi Allah sejak 1400 tahun yang lalu.

    Dalam adzan subuh juga akan terdengar kalimat lain dibandingkan dengan kalimat-kalimat yang dikumandangkan muazin untuk waktu-waktu shalat selanjutnya. Kalimat yang terdengar berbeda dan tidak ada pada azan di lain waktu adalah “ash shalatu khairun minan naum“.

    Arti kalimat itu adalah shalat itu lebih baik dari pada tidur. Pernahkah kita mencoba sedikit saja menghayati kalimat “ash shalatu khairun minan naum“?

    Mengapa kalimat itu justru dikumandangkan hanya pada shalat subuh, tatkala kita semua sedang terlelap, dan bukan pada adzan untuk shalat lain. Sangat mudah bagi kita semua mengatakan bahwa shalat subuh memang baik karena menuruti perintah Allah SWT, Tuhan semesta Alam, Apapun perintahnya pasti bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tetapi disisi mana manfaat itu? Apa supaya waktu banyak untuk mencari rezeki, tidak ketinggalan kereta atau bus karena macet? Pada waktu dulukan belum ada desak-desakan seperti sekarang semua masih lancar, untuk itu tinjauan dari sisi kesehatan kardiovaskular masih menarik untuk dicermati.

    Untuk tidak berpanjang kata, maka dikemukakan data bahwa shalat subuh bermanfaat karena dapat mengurangi kecenderungan terjadinya gangguan kardiovaskular.

    Pada studi MILIS, studi GISSI 2 dan studi-studi lain di luar negeri, yang dipercaya sebagai suatu penelitian yang shahih maka dikatakan puncak terjadinya serangan jantung sebagian besar dimulai pada jam 6 pagi sampai jam 12 siang. Mengapa demikian? Karena pada saat itu sudah terjadi perubahan pada sistem tubuh dimana terjadi kenaikan tegangan saraf simpatis (istilah Cina:Yang) dan penurunan tegangan saraf parasimpatis (YIN). Tegangan simpatis yang meningkat akan menyebabkan kita siap tempur, tekanan darah akan meningkat, denyutan jantung lebih kuat dan sebagainya.

    Pada tegangan saraf simpatis yang meningkat maka terjadi penurunan tekanan darah, denyut jantung kurang kuat dan ritmenya melambat. Terjadi peningkatan aliran darah ke perut untuk menggiling makanan dan berkurangnya aliran darah ke otak sehingga kita merasa mengantuk, pokoknya yang cenderung kepada keadaan istirahat.

    Pada pergantian waktu pagi buta (mulai pukul 3 dinihari) sampai siang itulah secara diam-diam tekanan darah berangsur naik, terjadi peningkatan adrenalin yang berefek meningkatkan tekanan darah dan penyempitan pembuluh darah (efek vasokontriksi) dan meningkatkan sifat agregasi trombosit (sifat saling menempel satu sma lain pada sel trombosit agar darah membeku) walaupun kita tertidur. Aneh bukan? Hal ini terjadi pada semua manusia, setiap hari termasuk anda dan saya maupun bayi anda. Hal seperti ini disebut sebagai ritme Circardian/Ritme sehari-hari, yang secara kodrati diberikan Tuhan kepada manusia. Kenapa begitu dan apa keuntungannya Tuhan yang berkuasa menerangkannya saat ini. Namun apa kaitannya keterangan di atas dengan kalimat “ash shalatu khairun minan naum”? Shalat subuh lebih baik dari tidur?

    Secara tidak langsung hal ini dapat dirunut melalui penelitian Furgot dan Zawadsky yang pada tahun 1980 dalam penelitiannya mengeluarkan sekelompok sel dinding arteri sebelah dalam pada pembuluh darah yang sedang diseledikinya (dikerok). Pembuluh darah yang normal yang tidak dibuang sel-sel yang melapisi dinding bagian dalamnya akan melebar bila ditetesi suatu zat kimia yaitu: Asetilkolin. Pada penelitian ini terjadi keanehan, dengan dikeluarkannya sel-sel dari dinding sebelah dalam pembuluh darah itu, maka pembuluh tadi tidak melebar kalau ditetesi asetilkolin.

    Penemuan ini tentu saja menimbulkan kegemparan dalam dunia kedokteran. “Jadi itu toh yang menentukan melebar atau menyempitnya pembuluh darah, sesuatu penemuan baru yang sudah sekian lama, sekian puluh tahun diteliti tapi tidak ketemu”.

    Penelitian itu segera diikuti penelitian yang lain diseluruh dunia untuk mengetahui zat apa yang ada didalam sel bagian dalam pembuluh darah yang mampu mengembangkan/melebarkan pembuluh itu. Dari sekian ribu penelitian maka zat tadi ditemukan oleh Ignarro serta Murad dan disebut NO/Nitrik Oksida.

    Ketiga penelitian itu Furchgott dan Ignarro serta Murad mendapat hadiah NOBEL tahun 1998.

    Zat NO selalu diproduksi, dalam keadaan istirahat tidur pun selalu diproduksi, namun produksi dapat ditingkatkan oleh obat golongan Nifedipin dan nitrat dan lain-lain tetapi juga dapat ditingkatkan dengan bergerak, dengan olahraga.

    Efek Nitrik oksida yang lain adalah mencegah kecenderungan membekunya darah dengan cara mengurangi sifat agregasi/sifat menempel satu sama lain dari trombosit pada darah kita.

    Jadi kalau kita kita bangun tidur pada pagi buta dan bergerak, maka hal itu akan memberikan pengaruh baik pada pencegahan gangguan kardiovaskular.

    Naiknya kadar NO dalam darah karena exercise yaitu wudhu dan shalat sunnah dan wajib, apalagi bila disertai berjalan ke mesjid merupakan proteksi bagi pencegahan kejadian kardiovaskular.

    Selain itu patut dicatat bahwa pada posisi rukuk dan sujud terjadi proses mengejan, posisi ini meningkatkan tonus parasimpatis (yang melawan efek tonus simpatis). Dengan exercise tubuh memproduksi NO untuk melawan peningkatan kadar zat adrenalin di atas yang berefek menyempitkan pembuluh darah dan membuat sel trombosit darah kita jadi bertambah liar dan inginnya rangkulan terus.

    Demikianlah kekuasaan Allah, ciptaannya selalu dalam berpasang-pasangan, siang-malam, panas-dingin, dan NO-Kontra anti NO.

    Allah, sudah sejak awal Islam datang menyerukan shalat subuh. Hanya saja Allah tidak secara jelas menyatakan manfaat akan hal ini karena tingkat ilmu pengetahuan manusia belum sampai dan masih harus mencarinya sendiri walaupun harus melalui rentang waktu ribuan tahun. Petunjuk bagi kemaslahatan umat adalah tanda kasihNya pada hambaNya. Bukti manfaat instruksi Allah baru datang 1400 tahun kemudian. Allahu Akbar.

    Mudah-mudahan mulai saat ini kita tidak lagi memandang sholat sebagai perintahNya akan tetapi memandangnya sebagai kebutuhan kita. Sehingga tidak merasa berat dan terpaksa dalam menjalankan ibadah dan selalu shalat subuh didahului dengan shalat sunnah dan kalau dapat jalan ke mesjid.

    Selamat shalat subuh dengan penuh rasa syukur pada Allah akan karunia ini.

    Amien.

     
  • erva kurniawan 1:35 am pada 8 July 2010 Permalink | Balas  

    Hukum Shalat di Belakang Pelaku Maksiat yang Menampakkan Kemaksiatannya 

    Ahlus Sunnah menganggap shalat berjama’ah di belakang imam baik yang shalih maupun yang fasik dari kaum muslimin adalah sah. Dan menshalatkan siapa saja yang meninggal diantara mereka (Syarah Aqidah Thahawiyah hal. 529, takhrij dan ta’liq oleh Syaikh Syu’aib al Arnauth dan ‘Abdullah bin Abdul Muhsin at Turki).

    Dalam Shahih Bukhari no. 1660, 1662 dan 1663 disebutkan bahwa sahabat ‘Abdullah bin Umar radhiyallaHu ‘anHu pernah shalat dengan bermakmum kepada al Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafi. Padahal al Hajjaj adalah seorang yang fasik dan bengis, sementara Abdullah bin Umar radhiyallaHu ‘anHu adalah seorang sahabat yang sangat hati – hati dalam menjaga dan mengikuti sunnah Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam.

    Al Hajjaj adalah seorang amir yang zhalim, dia menjadi amir di Irak selama 20 tahun dan dialah yang membunuh Abdullah bin Zubair bin ‘Awam ra. di Makkah, padahal sahabat Abdullah bin Zubair ra. adalah salah seorang dari empat orang yang ditugaskan oleh Khalifah Utsman bin Affan ra. untuk menulis ulang Al Qur’an. Hajjaj mati tahun 95 H (Taqribut Tahdzib no. 1144 dan Tahdzibut Tahdzib II/184-186 oleh al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalany)

    Demikian juga yang dilakukan oleh sahabat Anas bin Malik radhiyallaHu ‘anHu yang juga bermakmum kepada al Hajjaj bin Yusuf.

    Berkaitan dengan masalah ini, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Mereka shalat mengimami kalian. Apabila mereka betul, kalian dan mereka mendapat pahala. Apabila mereka keliru, kalian mendapat pahala sedangkan mereka mendapat dosa” (HR. Al Bukhari no. 694 dan Ahmad II/355 dari Abu Hurairah ra.)

    Imam Hasan al Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang boleh atau tidaknya shalat di belakang ahlul bid’ah, beliau menjawab, “Shalatlah di belakangnya dan ia yang menanggung dosa bid’ahnya”. Lalu Imam al Bukhari memberikan Bab dalam Kitab Shahihnya berkaitan dengan perkataan Imam Hasan al Bashri rahimahullah tadi yaitu : Bab Imamatil Maftuun wal Mubtadi’ di Kitabul Adzan.

    Berkata pula Imam Nawawi rahimahullah, “Bahwa shalat di belakang orang yang fasik dan pemimpin yang zhalim, sah shalatnya” (al Majmu’ Syahrul Muhadzdzab IV/253)

    Dan Imam Syafi’i rahimahullah menyebutkan dalam al Mukhtashar bahwa makruh hukumnya shalat di belakang orang fasik dan ahlul bid’ah, kalau dikerjakan juga, maka shalatnya tetap sah, dan inilah pendapat jumhur ulama’.

    ***

    Maraji’: Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka At Taqwa, Bogor, Cetakan Kedua, April 2005 M. Semoga Bermanfaat.

     
  • erva kurniawan 1:21 am pada 6 July 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Taubat 

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Taubat adalah kembali dari bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan kepadaNya.

    Taubat itu disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Artinya : Sesunguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” [Al-Baqarah : 222]

    Taubat itu wajib atas setiap mukmin. “Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya” [At-Tahrim : 8]

    Taubat itu salah satu faktor keberuntungan. “Artinya : Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” [An-Nur : 31]

    Keberuntungan ialah mendapatkan apa yang dicarinya dan selamat dari apa yang dikhawatirkannya. Dengan taubat yang semurni-murninya Allah akan menghapuskan dosa-dosa meskipun besar dan meskipun banyak. “Artinya : Katakanlah, Hai hamba-hambaKu yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semunya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Az-Zumar : 53]

    Jangan berputus asa, wahai saudaraku yang berdosa, dari rahmat Tuhanmu. Sebab pintu taubat masih terbuka hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Allah membentangkan tanganNya pada malam hari agar pelaku dosa pada siang hari bertaubat, dan membentangkan tanganNya di siang hari agar pelaku dosa malam hari bertubat hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya” [Hadits Riwayat Muslim dalam At-Tubah, No. 2759]

    Betapa banyak orang yang bertaubat dari dosa-dosa yang banyak dan besar, lalu Allah menerima taubatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Artinya : Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain berserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih ; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Al-Furqan : 68-70]

    Taubat yang murni ialah taubat yang terhimpun padanya lima syarat.

    Pertama: Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan meniatkan taubat itu karena mengharapkan wajah Allah dan pahalanya serta selamat dari adzabnya.

    Kedua: Menyesal atas perbuatan maksiat itu, dengan bersedih karena melakukannya dan berangan-angan bahwa dia tidak pernah melakukannya.

    Ketiga: Meninggalkan kemasiatan dengan segera. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia meninggalkannya, jika itu berupa perbuatan haram dan ia segera mengerjakannya, jika kemaksiatan tersebut adalah meninggalkan kewajiban. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak makhluk, maka segera ia membebaskan diri darinya, baik dengan mengembalikannya kepada yang berhak maupun meminta maaf kepadanya.

    Keempat: Bertekad untuk tidak kembali kepada kemasiatan tersebut di masa yang akan datang.

    Kelima: Taubat tersebut dilakukan sebelum habis masa penerimaannya, baik ketika ajal datang maupun ketika matahari terbit dari tempat tenggelamnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Artinya : Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan. ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” [An-Nisa : 18]

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Barangsiapa bertubat sebelum matahri terbit dari tempat tenggelamnya, maka Allah menerima taubatnya” [Hadits Riwayat Muslim daalm Adz-Dzikir wa Ad-Du’a, No. 2703]

    Ya Allah, berilah kami taufik untuk bertaubat semurni-murninya dan terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    ***

    [Risalah fi Shifati Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 44-45, Syaikh Ibn Utsaimin]

    [Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerjemah Amir Hamzah, Penerbit Darul Haq]

     
  • erva kurniawan 1:53 am pada 27 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: panduan sholat berjamaah, ruku   

    Mendapatkan Ruku’ berarti Mendapat 1 Raka’at 

    Membaca Al Faatihah merupakan rukun di dalam shalat, dari Ubadah bin ash Shamit ra., Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Laa Shalaata liman lam yaqra’ bifaatihatil kitaab” yang artinya “Tidak (sah) shalat orang yang tidak membaca fatihatul kitab (al faatihah)” (HR. Bukhari no. 756, Muslim no. 394, At Tirmidzi no. 247, An Nasa’I II/137, Ibnu Majah no. 837 dan Abi Dawud no. 807)

    Namun dalil di atas adalah dalil yang sifatnya umum, dan jika terdapat dalil khusus yang berkaitan dengan dalil umum maka kaidahnya adalah dalil khusus yang didahulukan.

    Berkaitan dengan terlambatnya makmum untuk mengikuti shalat berjama’ah, maka Rasulullah ShalallaHu alaiHi wa sallam memberikan beberapa tuntunannya yaitu :

    1. Mengikuti imam shalat dalam keadaan apa pun.

    Dari Ali bin Abi Thalib ra. dan Mu’adz bin Jabal ra., mereka mengatakan bahwa Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian mendatangi shalat jama’ah pada saat imam sedang berada pada suatu keadaan, maka hendaklah ia melakukan gerakan sebagaimana yang dilakukan imam” (HR. At Tirmidzi no. 588, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan At Tirmidzi no. 484)

    2. Mendapatkan ruku’ berarti mendapatkan 1 raka’at.

    Dari Abu Hurairah ra., ia mengatakan bahwa Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Jika kalian mendatangi shalat jama’ah pada saat kami sedang sujud, maka sujudlah dan itu jangan dihitung (satu raka’at). Dan barangsiapa mendapati (imam) sedang ruku’, maka dia mendapatkan satu raka’at shalat” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiihul Jaami’ush Shaghiir no. 468)

    ***

    Maraji’:

    Panduan Fiqih Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:28 am pada 24 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , Dosa Besar Zina,   

    Dosa Besar Zina 

    Dosa zina itu tidaklah sama. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Isra’ : 32)

    Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali siapa saja yang bertaubat. (QS. al-Furqan: 68-70)

    Perempuan yang berzina. dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (QS. an-Nuur : 2)

    Para ulama berkata, “Ini adalah hukuman bagi pezina perempuan dan laki-laki yang masih bujang, belum menikah di dunia. Jika sudah menikah walaupun baru sekali seumur hidup, maka hukuman bagi keduanya adalah dirajam dengan bebatuan sampai mati. Demikian pula telah dijelaskan dalam hadits dari Nabi SAW bahwasanya jika hukuman qishash ini belum dilaksanakan bagi keduanya di dunia dan keduanya mati dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa zina itu niscaya keduanya akan diadzab di neraka dengan cambuk api.

    Dalam kitab Zabur tertulis, “Sesungguhnya para pezina itu akan digantung pada kemaluan mereka di neraka dan akan disiksa dengan cambuk besi. Maka jika mereka melolong karena pedihnya cambukan malaikat Zabaniyah berkata, “Ke mana suara ini ketika kamu tertawa-tawa, bersuka ria dan tidak merasa diawasi oleh Allah serta tidak malu kepada-Nya.

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah beriman seorang pezina itu ketika berzina. Tidaklah beriman seorang pencuri itu ketika mencuri. Tidaklah beriman seorang yang menenggak arak itu ketika menenggaknya. Dan tidaklah beriman orang yang merampas harta yang tinggi nilainya – karenanya orang-orang memandangnya – itu ketika merampasnya.” (Hadits Riwayat Bukhariy)

    Beliau juga bersabda, “Apabila seorang hamba berzina akan keluarlah iman darinya. Keimanan itu seperti payung yang ada di atasnya. Kemudian jika ia berhenti dari perbuatan itu maka imannya akan kembali kepadanya, Beliau juga bersabda, “Barangsiapa berzina atau meminum arak niscaya Allah mencabut keimanan dari dirinya sebagaimana manusia melepaskan baju dari kepalanya.” Juga, “Tiga orang yang tidak akan diajak berbicara oleh Allah pada hari kiamat dan tidak akan dilihat serta disucikan, pun bagi mereka azab yang pedih, seorang tua yang berzina, raja yang pendusta, dan orang miskin yang congkak.”

    Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Apakah dosa yang paling besar di sisi Allah ta’ala?; Beliau menjawab, ‘Yaitu kamu menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang menciptakanmu, ‘Sungguh itu sangatlah besar. Lalu apa lagi? Tanyaku kembali. Beliau menjawab, ‘Yaitu kamu membunuh anakmu karena takut jika kelak ia makan bersamamu. ‘Lalu apa lagi’, tanyaku lagi. Beliau menjawab, ‘Yaitu kamu berzina dengan kekasih (maksudnya istri) tetanggamu.’

    Maka Allah SWT menurunkan pembenaran dari sabda beliau itu dengan firman-Nya, “Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiarnat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan hina, kecuali siapa saja yang bertaubat.” (QS. Al-Furqan:68-70)

    Perhatikan, bagaimana Allah telah rnenyertakan penyebutan zina dengan istri tetangga dengan menyekutukan Allah dan membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah membunuhnya kecuali dengan alasan yang dibenarkan syara’. Hadits ini tercantum dalam Bukhari dan Muslim.

    Imam Bukhari meriwayatkan hadits tidur Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub. Dalam hadits itu disebutkan bahwa Beliau SAW didatangi oleh malaikat Jibril dan Mikail. Beliau berkisah,”Kami berangkat pergi sehingga sampai di suatu tempat semisal tannur bagian atasnya sempit sedangkan bagian bawahnya luas. Dari situ terdengar suara gaduh dan ribut-ribut. Kami menengoknya, ternyata disitu banyak laki-laki dan perempuan telanjang. Jika mereka dijilat api yang ada dibawahnya mereka melolong oleh panasnya yang dahsyat. Aku bertanya,; Wahai Jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah para pezina perempuan dan laki-laki. Itulah adzab bagi mereka sampai tibanya hari kiamat.”

    Semoga Allah melimpahkan ampunan dan kesejahteraan batin bagi kita semua.

    Tentang tafsir bahwa Jahannam itu ‘ia memiliki tujuh pintu’ (al-hijjr:44) ‘Atha’ berkata, “Pintu yang paling hebat panas dan sengatannya dan yang paling busuk baunya adalah pintu yang diperuntukkan bagi para pezina yang berzina setelah mereka tahu keharamannya.”

    Makhul ad-Dimasyqiy berkata, “Para penghuni neraka mencium bau busuk berkata, ‘Kami belum pernah mencium bau yang lebih busuk dari bau ini. Dijelaskan kepada mereka, ‘Itulah bau kemaluan para pezina.”

    Ibnu Zaid, salah seorang imam dalam bidang tafsir berkata ” Sesungguhnya bau kemaluan para pezina itu benar-benar menyiksa para penghuni neraka.”

    Di antara sepuluh ayat yang diperintahkan oleh Allah kepada Musa as. “Janganlah kamu mencuri dan jangan pula berzina sehingga Aku menutup wajah-Ku darimu!” Jika ini merupakan khithab (kalimat) untuk Nabi Allah, Musa, lalu bagaimana dengan yang lainnya?!

    Nabi SAW telah menyampaikan bahwa Iblis menyebar para tentaranya ke muka bumi, berkata, “Siapa di antara kalian yang menyesatkan seorang muslim akan aku kenakan sebuah mahkota di kepalanya. Siapa yang paling besar fitnahnya paling dekatlah kedudukannya kepadaku. Salah satu tentaranya menghadap dan berkata, “Aku akan terus menggoda si Fulan sampai ia mau menceraikan istrinya.” Iblis berkata, “Aku tidak akan memberikan mahkota sebab pasti nanti ia menikah lagi dengan yang lain. Tentara yang lain menghadap dan berkata, “Aku akan terus menggoda si fulan sampai aku berhasil menanamkan permusuhan antara ia dan saudaranya.” Iblis berkata, “Aku tidak akan memberikan mahkota sebab suatu saat ia pasti berdamai lagi.” Tentara yang lain menghadap dan ia berkata, “Aku akan terus menggoda si Fulan sampai ia berzina.” Iblis berkata, “Wah, bagus sekali itu.” Lalu Iblis mendekatkan tentaranya itu kepadanya dan meletakkan mahkota di atas kepalanya.

    Kita berlindung kepada Allah dari keburukan setan dan tentara-tentaranya.

    Dari Anas, Rasulullah SAW bersabda, ” Sesungguhnya iman ‘sirbal’, kain panjang yang dipakaikan oleh Allah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Apabila seorang hamba berzina maka Allah mencabut sirbal itu darinya. Jika bertaubat, Dia akan mengembalikannya.

    Diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Wahai sekalian orang-orang Islam, takutlah kalian dari (melakukan) zina. Sungguh padanya enam ancaman; tiga di dunia dan tiga yang lain di akhirat. Yang di dunia adalah hilangnya kharisma wajah, pendeknya umur, dan kefakiran yang berkepanjangan. Adapun yang di akhirat adalah kemurkaan Allah Tabara wa ta’ala, buruknya hisab, dan adzab neraka.”

    Beliau juga bersabda, “Barangsiapa mati dalam keadaan tidak berhenti minum arak, niscaya Allah ta’ala akan memberinya minum air sungai Ghuthah. Yaitu sungai di neraka yang bersumber dari kemaluan para pelacur (wanita-wanita pezina).” (Hadist riwayat Imam Ahmad)

    Begitulah, di neraka kelak akan mengalir dari kemaluan mereka nanah dan darah busuk lalu itu semua akan diminumkan kepada orang yang mati dalam keadaan ‘mushirr’, terus menerus dan tidak berhenti dari minum arak.

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada dosa setelah syirik yang lebih besar disisi Allah dari pada ‘setetes air’ yang dituangkan oleh seorang laki-laki ke kemaluan yang tidak dihalalkan baginya.”

    Rasulullah SAW juga bersabda,”Di Jahannam ada sebuah lembah yang dipenuhi oleh ular berbisa. Ukurannya sebesar leher unta. Ular-ular ini akan mematuk orang yang meninggalkan shalat dan bisanya akan menggerogoti tubuhnya selama 70 tahun, lalu terkelupaslah daging-dagingnya.Di sana juada lembah yang namanya Jubb al-Huzn. la dipenuhi ular dan kalajengking. Ukuran kalajengkingnya sebesar bighal (peranakan kuda dan keledai). la memiliki 70 sengat. Masing-masingnya memiliki kantung bisa. la akan menyengat pezina dan memasukkan isi kantung bisanya ke dalam tubuh pezina itu. la akan merasakan pedih sakitnya selama 1000 tahun. Lalu terkelupaslah daging-dagingnya dan akan mengalir dari kemaluannya nanah dan darah busuk.”

    Disebutkan pula bahwa barangsiapa meletakkan tangannya pada seorang wanita dengan disertai syahwat, pada hari kiamat nanti akan datang dengan tangan terbelenggu di leher. Jika ia menciumnya, kedua mulutnya akan digadaikan di neraka. Dan jika berzina dengannya, pahanya akan berbicara dan bersaksi pada hari kiamat nanti. Ia akan berkata, “Aku telah berbuat sesuatu yang haram.” Maka Allah memandangnya dengan pandangan murka. Pandangan Allah ini mengenai wajah orang itu dan ia pun mengingkarinya. la malah bertanya, Apa yang telah aku lakukan?” Tiba-tiba seraya bersaksi lidahnya berkata, “Aku telah mengucapkan kata-kata yang haram.” Kedua tangannya bersaksi, “Aku telah memegang sesuatu yang haram.” Kedua matanya juga bersaksi, “Aku telah melihat yang diharamkan.” Kedua kakinya juga, “Aku telah berjalan menuju kepada yang haram.” Kemaluannya berkata, “Aku telah melakukannya.” Malaikat penjaga berkata ”Aku telah mendengarnya.” Yang satu lagi berkata, “Aku telah melihatnya.; Akhirnya Allah berfirman, “Adapun Aku telah mengetahui semuanya dan menutupinya.” Selanjutnya Allah berfirman, “Wahai para Malaikat-Ku, bawa orang itu dan timpakan kepadanya adzab-Ku. Aku sudah teramat murka kepada seseorang yang tidak punya malu kepada-Ku.”

    Riwayat ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surat an-Nuur: 24 “Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

    Zina yang paling besar dosanya adalah berzina dengan saudara kandung, ibu tiri, dan semua wanita yang termasuk mahram. Hakim telah menyatakan keshahihan hadits yang berbunyi “Barangsiapa berzina dengan wanita yang masih mahramnya maka bunuhlah ia.” Sahabat Bara’ meriwayatkan bahwa pamannya (saudara ibu) telah diutus oleh Rasulullah SAW untuk menemui seseorang yang telah berzina dengan ibu tirinya. Ia diperintahkan untuk membunuh dan menjadikan hartanya sebagai ghanimah.

    Kita memohon kepada Allah yang Maha Pemberi agar mengampuni semua dosa-dosa kita. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

    ***

    Semoga bermanfaat

    Oleh: Said Alwin

     
    • hana 6:34 pm pada 4 September 2011 Permalink

      lalu bagaimana cara menanggulangi dan toubat nasuha yg benar agar allah mau mengampuni dosanya..?

    • Bagus 11:50 pm pada 11 Oktober 2011 Permalink

      Saya mendengar Taubat itu ada 3 syarat : 1. Amat sangat menyesali dengan apa yang sudah dilakukan 2. tidak pernah mengulangi lagi apa yang dilakukan 3. memperbaiki diri dengan perbuatan baik

    • jois 9:26 am pada 3 November 2011 Permalink

      Bagi adik-adik yg sudah jadi korban hasutan iblis dan tentaranya, bertobatlah agar Allah SWT berkenan memberikan kebajikan didunia dan diakhirat.Amin…

    • agustina madani 12:23 pm pada 6 Maret 2012 Permalink

      Syukron…

    • wahyu 4:35 pm pada 13 Maret 2012 Permalink

      pak ustad sya pernah melakukan zina 6 kali apakah allah mau 5fin q?

  • erva kurniawan 1:07 am pada 22 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Kehidupan Sesudah Mati   

    Kehidupan Sesudah Mati 

    Sesungguhnya hidup sesudah mati itu adalah hak. Allah telah menjelaskannya dalam Al Qur’an. Meski demikian, sejak zaman dulu hingga zaman sekarang, banyak orang yang tidak percaya akan adanya kehidupan sesudah mati. Mereka mengira jika sudah mati dan jadi tulang belulang, ya sudah. Tidak ada apa-apa lagi.

    Dengan cara begitu, orang bebas berbuat jahat. Toh mereka tidak akan dapat ganjaran di akhirat nanti.

    Inilah perkataan orang-orang yang kafir akan adanya hidup sesudah mati: “Itulah balasan bagi mereka, karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata:  “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?” [Al Israa’: 98]

    “Dan berkata manusia:  “Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?” [Maryam: 66]

    Mereka ragu bahwa Allah mampu menciptakan mereka kembali.

    Tapi Allah menegaskan bahwa Allah yang telah menciptakan mereka dari ketiadaan, sanggup menciptakan mereka kembali dari tulang-tulang yang berserakan. Ibarat seorang yang membuat mobil, begitu mobilnya hancur berantakan, dia bisa membuat mobil itu bangkit kembali dari rongsokan yang tersisa. Namun Allah SWT jauh lebih hebat dari itu.

    Kehidupan di dunia ini fana. Pasti akan hancur. Para ilmuwan menyatakan bahwa energi matahari dan juga bintang-bintang lainnya yang terbakar terus berkurang setiap hari. Suatu saat energi itu akan habis dan gaya gravitasi serta gaya lainnya yang membuat bintang-bintang tidak bertabrakan akan hilang. Oleh karena itu, kehidupan dunia pasti sirna dan diganti dengan kehidupan akhirat yang lebih kekal dan lebih baik.

    “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” [Al Israa’: 99]

    “Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?” [Maryam: 67]

    Dan Allah telah menjanjikan bahwa Dia akan membangkitkan orang-orang yang kafir bersama setan dan memasukkan mereka ke neraka Jahannam untuk menerima balasan atas kekafiran dan perbuatan jahatnya.

    “Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut.” [Maryam: 68]

    Mudah-mudahan kita beriman pada hari akhir dan hidup sesudah mati. Dan tidak tersesat oleh orang-orang kafir.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:05 am pada 15 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Mengakhirkan Sholat, Meninggalkan Sholat   

    Mengakhirkan dan Meninggalkan Sholat 

    Saudara-saudara Rahimakumullah, ketahuilah bahwa sesungguhnya bencana yang dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian masyarakat kita pada Sholat Lima Waktu, Sholat Jum’at dan Sholat Berjamaah, padahal semua itu adalah ibadah-ibadah yang dengannya Allah meninggikan derajat dan menghapuskan dosa-dosa maksiat. Dan sholat adalah cara ibadah seluruh penghuni bumi dan langit.

    Rasulullah SAW bersabda, “Langit merintih dan memang ia pantas merintih, karena pada setiap tempat untuk berpijak terdapat malaikat yang bersujud atau berdiri (sholat) kepada Allah Azza Wa Jalla.” (HR. Imam Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

    Orang yang meninggalkan sholat karena dilalaikan oleh urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya.

    Dengarkanlah nasihatku tentang nasib orang yang meninggalkan sholat, baik semasa hidup maupun setelah meninggal. Sesungguhnya Allah merahmati orang yang mendengarkan nasihat kemudian memperhatikan dan mengamalkannya.

    Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya sholat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’, 4:103)

    Abu Hurairah RA meriwayatkan, “Setelah Isya’ aku bersama Umar bin Khattab RA pergi ke rumah Abu Bakar AsShiddiq RA untuk suatu keperluan. Sewaktu melewati pintu rumah Rasulullah SAW, kami mendengar suara rintihan. Kami pun terhenyak dan berhenti sejenak. Kami dengar beliau menangis dan meratap.”

    “Ahh…, andaikan saja aku dapat hidup terus untuk melihat apa yang diperbuat oleh umatku terhadap sholat. Ahh…, aku sungguh menyesali umatku.”

    “Wahai Abu Hurairah, mari kita ketuk pintu ini,” kata Umar RA. Umar kemudian mengetuk pintu. “Siapa?” tanya Aisyah RA. “Aku bersama Abu Hurairah.”

    Kami meminta izin untuk masuk dan ia mengizinkannya. Setelah masuk, kami lihat Rasulullah SAW sedang bersujud dan menangis sedih, beliau berkata dalam sujudnya, “Duhai Tuhanku, Engkau adalah Waliku bagi umatku, maka perlakukan mereka sesuai sifat-Mu dan jangan perlakukan mereka sesuai perbuatan mereka.”

    “Ya Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Apa gerangan yang terjadi, mengapa engkau begitu sedih?”

    “Wahai Umar, dalam perjalananku ke rumah Aisyah sehabis mengerjakan sholat di mesjid, Jibril mendatangiku dan berkata, “Wahai Muhammad, Allah Yang Maha Benar mengucapkan salam kepadamu,” kemudian ia berkata, “Bacalah!”

    “Apa yang harus kubaca?”

    “Bacalah: “Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam, 19:59)

    “Wahai Jibril, apakah sepeninggalku nanti umatku akan mengabaikan sholat?”

    “Benar, wahai Muhammad, kelak di akhir zaman akan datang sekelompok manusia dari umatmu yang mengabaikan sholat, mengakhirkan sholat (hingga keluar dari waktunya), dan memperturutkan hawa nafsu. Bagi mereka satu dinar (uang) lebih berharga daripada sholat.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA.

    Abu Darda` berkata, “Hamba Allah yang terbaik adalah yang memperhatikan matahari, bulan dan awan untuk berdzikir kepada Allah, yakni untuk mengerjakan sholat.”

    Diriwayatkan pula bahwa amal yang pertama kali diperhatikan oleh Allah adalah sholat. Jika sholat seseorang cacat, maka seluruh amalnya akan ditolak.

    Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Hurairah, perintahkanlah keluargamu untuk sholat, karena Allah akan memberimu rezeki dari arah yang tidak pernah kamu duga.”

    Atha’ Al-Khurasaniy berkata, “Sekali saja seorang hamba bersujud kepada Allah di suatu tempat di bumi, maka tempat itu akan menjadi saksinya kelak di hari kiamat. Dan ketika meninggal dunia tempat sujud itu akan menangisinya.”

    Rasulullah SAW bersabda, “Sholat adalah tiang agama, barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama, dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama.” (HR. Imam Baihaqi)

    “Barang siapa meninggalkan sholat dengan sengaja, maka ia telah kafir.” (HR. Bazzar dari Abu Darda`), kafir yang dimaksud disini adalah ingkar terhadap perintah Allah karena perbuatan orang kafir adalah tidak pernah shalat. Dalam Shahih Muslim dijelaskan bahwa Rasulullah saw bersabda yang membedakan antara orang beriman dengan orang kafir adalah shalat. Maka maukah kita disamakan dengan orang kafir, padahal Rasulullah saw bersabda”Barang siapa mengikuti kebiasaan suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut”. Orang2 kafir adalah orang yang tidak pernah shalat, maukah kita termasuk golongan mereka.

    “Barang siapa bertemu Allah sedang ia mengabaikan sholat, maka Allah sama sekali tidak akan mempedulikan kebaikannya.” (HR. Thabrani)

    “Barang siapa meninggalkan sholat dengan sengaja, maka terlepas sudah darinya jaminan Muhammad.” (HR. Imam Ahmad dan Baihaqi)

    “Allah telah mewajibkan sholat lima waktu kepada hamba-Nya. Barang siapa menunaikan sholat pada waktunya, maka di hari kiamat, sholat itu akan menjadi cahaya dan bukti baginya. Dan barang siapa mengabaikannya, maka ia akan dikumpulkan bersama Firaun dan Haman.” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad).

    Wasiat ini mudah-mudahan sangat bermanfaat buat kita semuanya umat Islam. Tugas kita semua untuk saling mengingatkan sesama Muslim akan pentingnya Sholat!

    ***

    Dikutip dari Kitab Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

    Semoga bermanfaat, kiriman dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am pada 14 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Pohon Az-Zaqqum, Pohon Zaqqum, Zaqqum   

    Pohon Neraka Jahannam: Az-Zaqqum 

    Nabi bersabda, “Andai setetes pohon Az-Zaqqum menetes ke dunia, maka merusak kehidupan penduduk dunia. Bagaimana dengan orang yang makannya ialah Az-Zaqqum?” (HR. At Timidzi)

    Dari Ibnu Abbas ra, berkata, “Nabi SAW membaca ayat ini, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Al-Imran 102), lalu bersabda, ‘Andai setetes pohon Az-Zaqqum menetes ke dunia, maka merusak kehidupan penduduk dunia. Bagaimana dengan orang yang makannya ialah Az-Zaqqum?” (HR. At Timidzi-Hadits ini Hasan shahih)

    Diriwayatkan Ibnu Madjah di As-sunan, Kitab Az-Zuhud, Bab shifati AN-Naar, 2/1446 dan imam Ahmad di Al-Musnad,1/301, 338 Dan disebutkan Al-Albani di Shahih Al-Jami’ Ash-Shagir, 5/59, hadits no. 5126 dari Ibnu Abbas ra.

    Makna Hadits

    Motivasi orang untuk berbuat baik dan membekali diri dengan sifat mulia itu berbeda antar satu dengan lain. Ada orang yang motivasinya ialah menyukai hal yang baik dan akhlak mulia. Ada orang yang motivasinya ialah mengharapkan pahala dan imbala dan sebagainya.

    Jika motivasi seseorang semakin kuat, ia semakin termotivasi untuk mengerjakan kebaikan dan meningkatkan akhlak mulia. Begitu pula sebaliknya.

    Hadits yang sedang kita bahas sekarang memotivasi, dengan lembut, kelompok tertentu, yaitu orang yang tidak mau mengerjakan kebaikan.

    Dalil pohon Az-Zaqqum

    “(Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum? Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim.” (Ash-Shaffat: 62-68)

    “Sesungguhnya pohon zaqqum itu. Makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut. Seperti mendidihnya air yang amat panas. (Ad-Dukhan: 43-46)

    “Kemudian sesungguhnya kamu hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqqum. Dan akan memenuhi perutmu dengannya. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum. Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pembalasan” (Al Waaqi’ah: 51-56)

    Tafsir

    Az-Zaqqum adalah pohon yang tumbuh di dasar Saqar (Neraka jahannam), dahannya membentang tinggi hingga mengenai lapisan neraka, neraka jahanam membuatnya panas membara hingga mendidih seperti mendidihnya air panas. Penghuni neraka memakannya hingga penuh, setelah makan Az-Zaqqum maka mereka minum air panas seperti unta kehausan yang tak kan hilang sama sekali.

    Hikmah:

    1. Umat Islam harus komitmen dengan manhaj Allah SWT, dengan amal kebiakan, berhenti maksiat dan dosa, sebelum ajal menjelang, dan sebelum Az-Zaqqum menjadi makanan sehari dan air minum yang panas selamanya
    2. Dahsyatnya siksa neraka, yang tak pernah dilihat mata. Contohnya, Az-Zaqqum tersebut.
    3. Hadits dan ayat tersebut sebagai hiburan bagi pembela kebenaran, kendati pembela kebatilan menyiksa mereka namun kelak pembela kebatilan yang menyiksa pembela kebenaran tersebut akan mendapatkan siksa balasan di neraka.

    ***

    Dikutip dari Buku: Pesan Nabi-Dr. As-Sayyid Muhammad Nuh terbitan An-Nadwah 149-153 Cet 1. Syawwal 1425/ November 2004 H.

     
    • FADJAR SETYANTO 5:50 am pada 15 Juni 2010 Permalink

      Bagus, luar biasa.

    • rizal 9:46 pm pada 15 Juni 2010 Permalink

      Saya telah membaca tulisan ini hingga sampai akhir… Masyallah.. Subhannallah.. Bagaimana Allah Maha Teli dalam menghitung setiap mili detik apa saja yang telah manusia perbuat.
      Demi Allah, jika saya teringat ini, hamba mohon ampun kepadamu Ya Allah Azza Wa Jalla….. Engkaulah, Tuhan semesta jagad raya, yang menghidupkan dan mematikan. Jika Engkau tidak memberi hidayah hingga sampai sekarang , mungkin hamba adalah adalah orang yang termasuk golongan orang-orang kufur dari hidayahMu. Jika Engkau, masih memberi hamba, hidayah, semoga hamba termasuk orang-orang golongan yang ikhlas dan beriman kepadaMu ya Rab.

    • koecingoptek 3:44 pm pada 22 September 2010 Permalink

      di indonesia terdapat pohon itu?

    • endra 2:18 pm pada 8 April 2011 Permalink

      maha suci ALLAH tuhan Langit dan Bumi

      yang memiliki siksa yang paling pedih bagi hambanya yang membangkang……

    • Nieta Gengsolimus 7:02 pm pada 5 Februari 2012 Permalink

      subhanallah
      Kita berlindung dari segala siksa dan pedih kepada ALLAH SWT.

    • Gina 5:26 am pada 6 Maret 2012 Permalink

      MasyaAllah, Rahmat Mu Yaa Allah sangat luas dibandingkan dengan gunungan dosa, oleh karena Yaa Allah curahkan lah Rahmat Mu agar hamba dapat terhindar dari Maksiat

    • Fauzan 9:56 am pada 20 April 2012 Permalink

      Izinn COPAS ya Saya INGIN BAGI2 Ilmu!!

  • erva kurniawan 1:23 am pada 11 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Mencintai Rasul   

    Mencintai Rasul 

    Oleh : Alwi Shahab

    Abdullah bin Hisyam menceritakan, suatu hari ia dan sejumlah sahabat melihat Nabi Muhammad SAW sedang menjabat tangan Umar bin Khatab. Sambil berjabat tangan itu, Umar berkata, ”Demi Allah wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai daripada segalanya, kecuali diriku sendiri.”

    Mendengar perkataan Umar, Nabi berujar, ”Tidak beriman salah seorang dari kamu sampai aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri.” Mendengar sabda Nabi, Umar pun berkata, ”Kalau begitu, demi Allah engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Mendengar jawaban sahabatnya ini, Rasulullah menegaskan, ”Sekarang inilah imanmu telah sempurna, wahai Umar.”

    Dalam sejarah Islam, kita dapati banyak sekali sahabat Rasulullah yang membela dan mencintainya melebihi dirinya dan keluarganya. Mereka rela berkorban termasuk nyawanya sendiri dalam membela Nabi. Seperti Ali bin Abi Thalib, saat Nabi hendak hijrah ke Madinah, untuk mengelabui kaum kafir Quraish, bersedia tidur di tempat tidur Nabi.

    Ada kisah menarik dari seorang perempuan Anshar ketika Perang Uhud. Dalam peperangan melawan kaum kafir, perempuan ini telah kehilangan suami, ayah, dan saudara lelakinya, yang syahid membela Islam. Ketika oleh beberapa sahabat berita duka ini disampaikan kepadanya, perempuan itu bertanya, ”Bagaimanakah keadaan Rasulullah?” Dijawab, ”Beliau sebagaimana yang engkau cintai.”

    Setelah perempuan itu melihat sendiri Rasulullah, ia pun berkata, ”Segala musibah sesudah engkau adalah kecil.” Para ulama dan sejarawan Islam menyatakan, ”Mencintai Rasulullah merupakan fenomena kecintaan kepada Allah. Sebab, beliaulah pembawa wahyu, penyampai risalah, yang membimbing manusia ke jalan kebenaran dan penunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan Allah pemilik segala yang ada di langit dan bumi.

    Allah sendiri memberikan penghargaan yang tinggi kepada Rasulullah, sebagai contoh panutan. Begitu tingginya penghormatan kepada Nabi, sehingga diabadikan dalam surah Al-Ahzab ayat 56 yang berbunyi, ”Allah dan para malaikat memberikan salam kepada Nabi. Wahai, orang-orang beriman, berikanlah shalawat dan salam kepadanya.”

    Karena itulah, umat Islam di segenap penjuru dunia menjadi sangat tersinggung dan marah ketika Nabi Muhammad, yang mereka cintai dan hormati itu, dihina dalam bentuk kartun di sebuah harian di Denmark, dengan dalih kebebasan pers yang tidak dapat diterima oleh akal sehat, menunjukkan bagaimana kebencian mereka terhadap Islam.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:18 am pada 10 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Joki Dalam Sholat Berjamaah   

    Joki Dalam Sholat Berjamaah 

    Apabila seseorang yang telah selesai melakukan sholat berjamaah mendapati saudara muslim lainnya terlambat untuk sholat berjamaah boleh menjadi makmum kembali agar saudara muslim tersebut mendapatkan kebaikan sholat berjamaah dan hukumnya sebagai sedekah karena:

    Dari Ibnu Umar, ia berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Kebaikan salat berjamaah melebihi salat sendirian sebanyak 27 derajat.” (Bukhari dan Muslim)

    dan firman Allah swt

    “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan sholat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu….” (An-Nisa : 102)

    Adalah memberi sedekah kepada orang yang tidak dapat pahala sholat berjamaah lalu tidak ada orang lain yang seperti dia maka bagi orang yang sudah mengikuti sholat berjamaah yang on time boleh memberikan sedekah menjadi makmumnya.

    Dalil haditsnya sebagai berikut:

    Ada riwayat lain dari Imam Ahmad, yang riwayat ini masyhur di kalangan pengikutnya, pada intinya lmam Ahmad dan pengikut-pengikutnya daripada ahli tafsir membawakan hadits yang diriwayatkan oleh lmam Tirmidzi, lmam Ahmad sendiri dan lain-lainnya dari kalangan shahabat Abu Sa’id al-Khudri:

    “Ada seorang lelaki masuk masjid dan Rasulullah sallallaahu’alaihi wa sallam sudah selesai berjamaah shalat. Di sekitar Rasul waktu itu masih ada beberapa shahabat. Maka, Rasulullah sallallaahu’alaihi wa sallam melihat lelaki itu akan melakukan shalat sendiri. Kemudian Rasulullah sallallaahu’alaihi wa sallam bersabda, adakah seseorang yang bisa bersedekah kepadanya ?”. Kemudian ada seorang laki-laki berdiri, lantas shalat bersamanya. Maka (seseorang itupun) shalat bersamanya” (HR Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi)

    Dalam satu riwayat yang lain yang dibawakan oleh lmam Abu Bakar al-Baihaqi dalam kitab Sunan al-Kubra menjelaskan, bahwa laki-laki yang bersedekah dimaksud adalah shahabat Abu Bakar. Tetapi, riwayat ini dhaif sanadnya. Adapun yang shahih adalah riwayat yang tidak menyebutkan nama laki-laki dimaksud.

    Sebagaimana penjelasan dari Syaikh Muhammad Nashirudin dalam kajian hadits tentang “Hukum Sholat Jama’ah Kedua” maka didapatkan kesimpulan bahwa:

    Yang bersedekah menjadi makmum sedangkan yang disedekahi menjadi Imamnya karena yang bersedekah sudah mengikuti sholat berjamaah pertama.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:59 am pada 8 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Jin dan Iblis   

    Jin dan Iblis 

    Pembahasan ini adalah untuk semakin mempertebal keyakinan dan keimanan kita kepada makhluk ghoib, yang Alloh hanya berikan pengetahuan kecuali sedikit. Dan tentu saja untuk lebih mengenal musuh hakiki umat Islam yaitu iblis laknatulloh.

    Jin

    Jin ini adalah makhluk yang diciptakan oleh Alloh sebelum penciptaan Adam manusia pertama. Jin adalah makhluk yang juga dikenai kewajiban seperti halnya manusia. Mereka ada yang beriman dan ada juga yang kafir, ada yang menjadi mujahid dan ada juga yang menjadi pasukan Iblis. Merka memiliki kemampuan untuk memilih beriman atau kafir. Dan kepada mereka pun Alloh sudah menurunkan Rosul dari golongan mereka sendiri;

    “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS Al-An’am: 130)

    Kehidupan Jin ini adalah juga bermacam macam seperti manusia, berkembang biak, bekerja, makan dan minum, tentu saja di alam mereka. Bagi jin yang beriman, mereka juga melaksanakan syariat yang diturunkan oleh Alloh melalui rosul rosul dari golongan mereka, bentuk syariatnya seperti apa wallohualam.

    Iblis laknatulloh

    Iblis laknatulloh ini adalah dari golongan Jin dan memiliki posisi yang tinggi dan sejajar dengan para malaikat sampai pada waktunya iblis laknatulloh ini kemudian dilaknat Alloh karena kesombonganya.

    Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS Al Kahfi: 18)

    Kemudian dengan kemampuan leadership dan imortality (abadi,) iblis ini mengetahui rahasia alam dan lebih pintar karena telah mengarungi dunia ini beribu ribu tahun lamanya dan belajar dari setiap lintasan waktu yang dilaluinya. Bahkan Iblis laknatulloh ini kemudian berkolaborasi dengan dajjal laknatulloh membangun kerajaan mereka, wilayahnya meliputi 5 samudera 5 benua, terbentang dari Segitiga Bermuda mengelilingi bumi hingga pantai Meksiko. Pasukannya adalah dari golongan manusia dan jin, eh salah dari golongan jin dan manusia. Syetannirojiem adalah sebutan bagi mereka ini (jin dan manusia) yang telah tergoda dan terpedaya yang kemudian berpihak kepada iblis laknatulloh dan memusuhi Alloh dan semua makhluk yang beriman kepada Nya baik jin maupun manusia.

    Pasukan iblis laknatulloh dari golongan manusia menguasai hampir keseluruhan negara adikuasa Amerika Serikat, keseluruhan Israel, sebagian Eropa dan Afrika, juga Asia dan Australia. Walaupun secara kuantitas umat Islam masih mayoritas, tapi secara kualitas mereka sudah menguasai bumi dan dalam proses perusakan muka bumi dan melakukan pertumpahan darah, persis seperti yang dikhawatirkan malaikat saat berargumentasi dengan Alloh waktu penciptaan Adam as;

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(QS. Al-Baqoroh: 30)

    Sepertinya sejarah terulang kembali.

    Kelebihan pasukan iblis laknatulloh ini adalah invisiblenya (tak terlihat) oleh manusia, sehingga mereka bisa memainkan bidak catur tanpa bisa kita lihat langkah langkahnya. Langkah antisipatip yang bisa dilakukan untuk menangkal serangan mereka adalah dengan dzikir dan doa, insya Alloh bisa terhindar dari bujuk dan rayuan mereka. Sedangkan secara offensive, seruan jihad (bukan jihad kerdil, seperti bom boman yang merebak saat ini, tapi jihad besar dalam memerangi iblis dan sekutunya) harus terus dikumandangkan. Jihad melawan Iblis inilah jihad terbesar manusia, karena peperangan yang dilakukan oleh mujahid dimanapun dipelosok bumi, pada hakekatnya adalah peperangan melawan kekuatan iblis laknatulloh.

    Syurga mereka adalah Neraka bagi kita nantinya, sebaliknya Neraka mereka adalah Syurga bagi kita nantinya,  Insya Alloh.

    Audzubillahhiminasyaithonirojiem…

    Audzubillahhiminasyaithonirojiem…

    Sekali lagi deh biar ganjil…

    Audzubillahhiminasyaithonirojiem…

    ***

    Sahabat Ari

     
    • rizal 10:01 pm pada 15 Juni 2010 Permalink

      Persis seperti salah satu tanda-tanda sifat Dajjal, laknatullah…
      Apa yang ditangan kiri (Surga) adalah sebaliknya (neraka), Apa yang ditangan kanan (neraka) adalah sebaliknya Surga..

  • erva kurniawan 1:59 am pada 7 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , Haji Pengabdi Setan,   

    Haji Pengabdi Setan 

    Ali Mustafa Yaqub, Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

    Jamaah haji Indonesia yang pulang ke Tanah Air, bila mereka ditanya apakah Anda ingin kembali lagi ke Mekkah, hampir seluruhnya menjawab, ”Ingin.” Hanya segelintir yang menjawab, “Saya ingin beribadah haji sekali saja, seperti Nabi SAW.”

    Jawaban itu menunjukkan antusiasme umat Islam Indonesia beribadah haji. Sekilas, itu juga menunjukkan nilai positif. Karena beribadah haji berkali-kali dianggap sebagai barometer ketakwaan dan ketebalan kantong. Tapi, dari kacamata agama, itu tidak selamanya positif.

    Kendati ibadah haji telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, bagi umat Islam, ia baru diwajibkan pada tahun 6 H. Walau begitu, Nabi SAW dan para sahabat belum dapat menjalankan ibadah haji karena saat itu Mekkah masih dikuasai kaum musyrik. Setelah Nabi SAW menguasai Mekkah (Fath Makkah) pada 12 Ramadan 8 H, sejak itu beliau berkesempatan beribadah haji.

    Namun Nabi SAW tidak beribadah haji pada 8 H itu. Juga tidak pada 9 H. Pada 10 H, Nabi SAW baru menjalankan ibadah haji. Tiga bulan kemudian, Nabi SAW wafat. Karenanya, ibadah haji beliau disebut haji wida’ (haji perpisahan). Itu artinya, Nabi SAW berkesempatan beribadah haji tiga kali, namun beliau menjalaninya hanya sekali. Nabi SAW juga berkesempatan umrah ribuan kali, namun beliau hanya melakukan umrah sunah tiga kali dan umrah wajib bersama haji sekali.Mengapa?

    Sekiranya haji dan atau umrah berkali-kali itu baik, tentu Nabi SAW lebih dahulu mengerjakannya, karena salah satu peran Nabi SAW adalah memberi uswah (teladan) bagi umatnya. Selama tiga kali Ramadan, Nabi SAW juga tidak pernah mondar-mandir menggiring jamaah umrah dari Madinah ke Mekkah.

    Dalam Islam, ada dua kategori ibadah: ibadah qashirah (ibadah individual) yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya dan ibadah muta’addiyah (ibadah sosial) yang manfaatnya dirasakan pelakunya dan orang lain. Ibadah haji dan umrah termasuk ibadah qashirah. Karenanya, ketika pada saat bersamaan terdapat ibadah qashirah dan muta’addiyah, Nabi SAW tidak mengerjakan ibadah qashirah, melainkan memilih ibadah muta’addiyah.

    Menyantuni anak yatim, yang termasuk ibadah muta’addiyah, misalnya, oleh Nabi SAW, penyantunnya dijanjikan surga, malah kelak hidup berdampingan dengan beliau. Sementara untuk haji mabrur, Nabi SAW hanya menjanjikan surga, tanpa janji berdampingan bersama beliau. Ini bukti, ibadah sosial lebih utama ketimbang ibadah individual.

    Di Madinah, banyak ”mahasiswa” belajar pada Nabi SAW. Mereka tinggal di shuffah Masjid Nabawi. Jumlahnya ratusan. Mereka yang disebut ahl al-shuffah itu adalah mahasiswa Nabi SAW yang tidak memiliki apa-apa kecuali dirinya sendiri, seperti Abu Hurairah. Bersama para sahabat, Nabi SAW menanggung makan mereka. Ibadah muta’addiyah seperti ini yang diteladankan beliau, bukan pergi haji berkali-kali atau menggiring jamaah umrah tiap bulan.

    Karenanya, para ulama dari kalangan Tabiin seperti Muhammad bin Sirin, Ibrahim al-Nakha’i, dan  alik bin Anas berpendapat, beribadah umrah setahun dua kali hukumnya makruh (tidak disukai), karena Nabi SAW dan ulama salaf tidak pernah melakukannya.

    Dalam hadis qudsi riwayat Imam Muslim ditegaskan, Allah dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Nabi SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka’bah. Jadi, Allah berada di sisi orang lemah dan menderita. Allah dapat ditemui melalui ibadah sosial, bukan hanya ibadah individual. Kaidah fikih menyebutkan, al-muta’addiyah afdhol min al-qashirah (ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual).

    Jumlah jamaah haji Indonesia yang tiap tahun di atas 200.000 sekilas menggembirakan. Namun, bila ditelaah lebih jauh, kenyataan itu justru memprihatinkan, karena sebagian dari jumlah itu sudah beribadah haji berkali-kali. Boleh jadi, kepergian mereka yang berkali-kali itu bukan lagi sunah, melainkan makruh, bahkan haram.

    Ketika banyak anak yatim telantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak balita busung lapar, banyak rumah Allah roboh, banyak orang terkena pemutusan hubungan kerja, banyak orang makan nasi aking, dan banyak rumah yatim dan bangunan pesantren terbengkalai, lalu kita pergi haji kedua atau ketiga kalinya, maka kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah?

    Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita? Apakah haji kita itu mengikuti Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu, agar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan karena Allah, melainkan karena setan.

    Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan, setan hanya menyuruh kita berbuat kejahatan atau setan tidak pernah menyuruh beribadah. Mereka tidak tahu bahwa sahabat Abu Hurairah pernah disuruh setan untuk membaca ayat kursi setiap malam. Ibadah yang dimotivasi rayuan setan bukan lagi ibadah, melainkan maksiat.

    Jam terbang iblis dalam menggoda manusia sudah sangat lama. Ia tahu betul apa kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk minum khamr. Tapi Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali. Ketika manusia beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan hawa nafsunya, maka saat itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat padanya. Wa Allah a’lam.

    ***

    http://www.gatra.com

     
  • erva kurniawan 1:57 am pada 6 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , Dosa Besar dan Dosa Kecil, dosa kecil   

    Dosa Besar dan Dosa Kecil 

    Imam Ibnul Qayyim berkata, “Dosa itu dibagi menjadi dosa kecil dan dosa besar berdasarkan nash Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ Salafush Shalih dan qiyas” (Madarij As Salikin 1/342)

    Berikut beberapa dalil yang digunakan dalam permasalahan tersebut :

    Allah Ta’ala berfirman, “Jika kamu menjauhi dosa – dosa besar diantara dosa – dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan – kesalahanmu (dosa – dosamu yang kecil)” (QS An Nisa’ : 31)

    Imam Al Qurthubi berkata, “Ketika Allah Ta’ala melarang dosa – dosa besar dalam surat ini, Dia menjanjikan bagi orang yang menjauhinya keringanan terhadap dosa – dosa kecil” (Tafsir Al Qurthuby 5/158)

    Allah Ta’ala berfirman, “(Yaitu) orang yang menjauhi dosa – dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan – kesalahan kecil” (QS An Najm : 32)

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda, “Shalat lima waktu, dari (shalat) Jum’at ke (shalat) Jum’at yang lain dan dari (puasa) Ramadhan ke (puasa) Ramadhan yang lain adalah penghapus dosa – dosa kecil diantara waktu – waktu tersebut selama tidak melakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233)

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dosa besar adalah setiap dosa yang diancam dengan siksa khusus seperti berzina, mencuri, durhaka kepada kedua orangtua, menipu, bersikap jahat kepada kaum muslimin dan lainnya.

    Sedangkan hukum pelakunya dari segi nama adalah mukmin yang kurang keimanannya. Disebut juga ia beriman dengan keimanannya dan fasiq akibat dosa besar yang ia lakukan, namun ia tidak keluar dari keimanan. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika ada 2 golongan dari orang – orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Sesungguhnya orang – orang mukmin bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu” (QS Al Hujurat : 10)

    Allah Ta’ala menyebut dua kelompok yang saling berperang sebagai saudara meskipun kedua kelompok tersebut melakukan dosa besar dan juga kepada kelompok yang ketiga yaitu kelompok yang mengishlah keduanya.

    Namun ada satu dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah Ta’ala dan dapat menyebabkan pelakunya keluar dari Islam yaitu dosa syirik atau menyekutukan Allah SWT dengan yang lain, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS An Nisa’ : 48)

    ***

    Maraji’ :

    Muzilul Ilbas fii Al Ahkam ‘ala An Nas, Sa’id bin Shabir Abduh, Griya Ilmu, Jakarta, Cetakan Pertama, Sya’ban 1426 H/September 2005 M.

     
    • rizal 10:06 pm pada 15 Juni 2010 Permalink

      Demi Allah, jika saya teringat ini, hamba mohon ampun kepadamu Ya Allah Azza Wa Jalla….. Engkaulah, Tuhan semesta jagad raya, yang menghidupkan dan mematikan. Jika Engkau tidak memberi hidayah hingga sampai sekarang , mungkin hamba adalah adalah orang yang termasuk golongan orang-orang kufur dari hidayahMu. Jika Engkau, masih memberi hamba, hidayah, semoga hamba termasuk orang-orang golongan yang ikhlas dan beriman kepadaMu ya Rab.

  • erva kurniawan 1:54 am pada 3 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Waktu-Waktu Yang Dilarang Untuk Shalat   

    Waktu-Waktu Yang Dilarang Untuk Shalat 

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat (sunnah) setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit dan tidak ada shalat setelah shalat ‘Ashar hingga matahari terbenam” (Muttafaqun ‘alaih). Dalam lafadh Imam Muslim, “Tidak ada shalat setelah shalat fajar”.

    Dari ‘Uqbah bin Amir berkata, “Tiga waktu dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang kami melakukan shalat dan menguburkan mayit, yaitu : ketika matahari terbit hingga meninggi, ketika tengah hari hingga matahari condong ke barat, dan ketika matahari hamper terbenam” (HR. Muslim).

    Dari Amru bin Abasah radliyallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia pernah berkata kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Beritahukanlah kepadaku sesuatu tentang shalat”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lakukanlah shalat Shubuh, kemudian berhentilah melakukan shalat lain, hingga terbit matahari, hingga matahari meninggi. Sesungguhnya matahari itu terbit di antara sepasang tanduk setan. Waktu itulah orang-orang musyrik bersujud kepadanya. Kemudian shalatlah karena shalat pada saat itu disaksikan oleh para malaikat hingga baying-bayang tembok tegak. Kemudian berhentilah melakukan shalat lain, karena kala itu neraka Jahannam dinyalakan. Apabila matahari sudah tergelincir, shalatlah hingga datang waktu Ashar. Kemudian berhentilah melakukan sha;at hingga matahari tenggelam. Karena matahri tenggelam di antara sepasang tanduk setan, dan ketika itulah orang-orang musyrik bersujud kepadanya” (HR. Muslim).

    Dari 3 hadits di atas dapat diketahui ada 5 waktu terlarang untuk melakukan shalat:

    1. Setelah shalat Shubuh sampai terbit matahari.
    2. Ketika terbit matahari sampai matahari setinggi satu tombak (dimulainya waktu Dhuha), dimana hal ini dijelaskan lebih lanjut oleh hadits ‘Amr bin Abasah dengan lafadh, “Matahari itu meninggi kira-kira seukuran satu tombak atau dua tombak “
    3. Ketika matahari tepat di atas kepala (pertengahan siang) sampai tergelincir (zawal masuk waktu Dhuhur).
    4. Setelah shalat Ashar sampai terbenam matahari.
    5. Ketika matahari mulai tenggelam sampai betul-betul tenggelam (masuk waktu Maghrib).

    Kelima waktu di atas adalah diharamkan bagi setiap muslim untuk melakukan shalat (sunnah). Akan tetapi para ulama berbeda tentang dilakukannya shalat sunnah dengan sebab-sebab tertentu (contoh : shalat tahiyyatul masjid, shalat sunnah wudlu, shalat khusuf, dan lain-lain) yang dilakukan pada 5 waktu terlarang tersebut. Yang lebih rajih (kuat) insya allah adalah diperbolehkan melakukannya pada 5 waktu terlarang tersebut wallahu a’lam

    Sedikit dari tulisan di atas semoga dapat berguna untuk menambah kefahaman kita akan ilmu agama dan tentunya memperbaiki amalan shalat kita sehari-hari.

    ***

    myquran.com

     
  • erva kurniawan 1:43 am pada 3 June 2010 Permalink | Balas  

    Percekcokan Dalam Rumah Tangga Bernilai Ibadah? Benarkah ?

    “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniaaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32). Salah satu anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !”(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).

    Pernikahan menyatukan dua energi besar untuk sama-sama berjuang menggapai ridlo Allah SWT. Penyatuan energi sehingga membentuk suatu sinergi tentunya membutuhkan waktu untuk saling menyesuaikan diri. Dalam proses penyesuaian itulah akan banyak ditemui ketidakcocokan, pergesekan yang menimbulkan konflik dari masing -masing pasangan. Betapa tidak masing-masing memiliki latar belakang budaya, kebiasaan, karakter yang berbeda untuk diselaraskan sesuai dengan keinginan Allah SWT dalam sebuah pernikahan.

    Agar konflik dan masalah dalam berrumah tangga dapat diminimalisir maka setiap pasangan harus memiliki pengetahuan yang cukup sebelum mereka memasuki jenjang pernikahan, sehingga dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka sudah siap menghadapi goncangan, pergesakan dan hambatan yang ada.

    Pernikahan

    Pernikahan adalah konsep sakral dari sebuah kontak (ijab Qobul) secara syah yang dilakukan oleh pasangan lelaki dan perempuan sesuai tata nilai hukum yang berlaku, baik hukum positif maupun hukum religius.

    Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Qabul artinya menerima. Jadi Ijab qabul artinya seseorang menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan menerima. Ijab qabul adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/ perempuan yang di bawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil perempuan tersebut sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu.

    Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa:Sahl bin Said berkata: “Seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyerahkan dirinya, dia berkata: “Saya serahkan diriku kepadamu.” Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat padanya.” Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda: “Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Secara umum tujuan suatu penikahan menurut Islam adalah untuk mencapai ridho Allah, secara khusus yakni :

    1. Mengabdi ke hadapan Allah.
    2. Malaksanakan sunnah Rasulullah.
    3. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
    4. Membentuk suatu masyarakat islami.
    5. Mendapatkan ketenangan jiwa.

    “Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS At-Taubah: 71)

    Percekcokan dalam Rumah Tangga

    Dalam suatu interaksi dua manusia yang berlatar belakang beda baik secara kultur, karakter dan gaya hdup sudah dapat dipastikan tidak akan lepas dari suatu pergesekan nilai dan kebiasaan, sehingga menimbulkan suatu percekcokan.Hal ini sangat wajar dan manusiawi, jangankan pasangan seperti kita manusia biasa, rumah tangga Rasulullah pun tidak lepas dari percekcokan, yang membedakannya dengan kita Rasulullah memiliki akhlaq yang mulia dan dibimbing oleh Allah untuk menjadi contoh bagi ummatnya.

    Banyak keluarga muslim yang hanya karena masalah kecil mengakhiri pernikahan, suatu ikatan yang telah Allah kokohkan. Masalah bisa saja hanya bermula dari salah persepsi karena komunikasi yang tidak lancar sehingga menimbulkan salah pengertian atau mungkin kebiasaan kecil suami yang tidak disukai isteri atau juga ketidaktepatan mengekspresikan emosi seperti kecewa, marah. Semuanya bisa saja terjadi hanya saja ada pasangan yang mampu mengatasi masalah kecil tersebut dengan baik ada juga yang tidak mampu menyelesaikannya sehingga masalah kecil tersebut menumpuk dan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan bahtera rumah tangga yang sedang dibangun.

    Faktor-faktor penyebab terjadinya percekcokan dalam rumah tangga adalah:

    1. Kurang lancarnya komunikasi

    Komunikasi menjadi bagian yang sangat penting dalam berrumah tangga, bagaimana mungkin masing-masing pasangan mengetahui keinginan dan harapan pasangannnya kalau tidak adanya komunikasi yang baik sehingga keinginan dan harapan tersampaikan dan tidak salah persepsi. Seorang suami atau isteri hendaknya menyampaikan pesan dengan lembut dan baik, tentunya dengan mempertimbangkan pula waktu dalam menyampaikan pesan tersebut.

    Suami yang baru saja pulang kerja dengan badan yang lelah dan perut yang lapar tidak mungkin seorang isteri menyampaikan keluhannya sepanjang siang itu, tapi harus menunggu waktu yang tepat dimana suami dalam keadaan yang santai dan tenang

    2. Kurangnya pengetahuan/ ilmu

    Sebelum memasuki jenjang berrumah tangga calon suami atau isteri sebaiknya menggali dan menyempurnakan ilmu tentang pernikahan, dengan ilmu maka kita akan paham seperti apa rumah tangga yang dicontohkan Rasulullah dan bagaimana melajukan bahtera di tengah lautan kehidupan yang bergelombang.

    3. Kurangnya pengendalian diri masing-masing pasangan

    Sebelum menikah mungkin segalanya tampak indah di depan mata. Satu, dua, tiga bulan pertama semuanya bak di syurga dunia, tapi ketika usia pernikahan memasuki bulan keempat mulailah masalah bermunculan. Disini kita harus mampu mengendalikan diri kita. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri diuji oleh Allah. Sikap yang tepat dalam menghadapi dan mengatasi masalah adalah dengan senantiasa berlindung dan memohon pertolongan Allah untuk tetap tenang, diberi kemudahan untuk berpikir jernih dan bertindak tepat.

    Banyaklah belajar dari pengalaman orang-orang yang sudah berpengalaman dalam berrumah tangga, khususnya keluarga-keluarga mukmin, bagaimanakah mereka mengatasi konflik rumaha tangga, bagaimanakah mereka mengendalikan diri ketika menghadapi masalah.

    4. Tidak adanya kesadaran sebagai hamba

    Seorang hamba Allah sepanjang hidupnya selalu mengabdi, segala aktifitasnya harus selalu bernilai ibadah di hadapan Allah dalam QS. Adz Dzaariyaat : 55 dikatakan “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi (beribadah) kepadaKu”

    Maka seorang hamba Allah akan meninggalkan semua sikap dan perilakunya yang tidak bernilai ibadah. Semua yang dilakukannya harus untuk dan atas nama Allah, dengan bertitik tolak pada “Sukakah Allah dengan apa yang akan kulakukan?”

    Benarkah Budaya Jawa “Nrimo” Sesuai Syariat Islam?

    Perempuan adalah mahluk yang sangat istimewa dengan kehalusan budi pekerti, kelembutan cinta, wajah nan anggun berwibawa, suara yang lirih, langkah yang gemulai dan sikap yang taat, patuh, hormat pada orang tua serta berbakti pada suami, merupakan gambaran perempuan di mata bangsa Jawa dan beberapa bagian di Indonesia. Tabu jika ada seorang perempuan yang lantang, memberontak terhadap suatu keputusan orang tua atau suaminya, melanggar adat katanya. Bahkan ketika seorang suami menyakitinya, menjadikannya isteri simpanan pun tabu baginya untuk menolak apa lagi melawan.

    Nilai-nilai tersebut semakin menguat dengan datangnya Islam ke Pulau Jawa, walau salah kaprah dalam memahaminya budaya ‘nrimo’ sudah menjadi bagian dari kehidupan beragama di Jawa. Suami adalah pimpinan rumah tangga sehingga apa yang dikatakannya mutlak harus ditaati ‘pamali’ jika membantah atau menolak.

    Sebenarnya perintah taat dalam Islam tidak demikian, selalu diikuti kata “selama pimpinan (baik kepala rumah tangga, pemimpin masyarakat dan pimpinan negara) tersebut tunduk dan taat kepada Allah dan RasulNya.

    Ketaatan kepada ulil amri merupakan ketaatan bersyarat yakni taat manakala ulil amri tersebut berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, apalagi ketaatan terhadap seorang suami. Taat dan patuh kepada suami adalah semata-mata hanya karena Allah telah memerintahkannya, sehingga semua yang dilakukan suami atau isteri akan bernilai ibadah manakala ia melakukannya atas nama Allah SWT, mencintai suami atau isteri merupakan bentuk kecintaan terhadap Allah SWT.

    Manakala seorang pimpinan berbuat menyimpang dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah maka ketaatan tersebut menjadi batal adanya. Dalam berumah tangga jika suami berbuat salah maka isteri wajib mengingatkannya, mengajaknya kembali ke jalan yang benar, tetapi jika berbagai cara telah dilakukan untuk mengingatkan suami maka suami tersebut tidak wajib untuk ditaati, sehingga ‘nrimo’ nya Jawa tidak berlaku. Dalam hal ini manakala suami menyimpang dari ketentuan Allah SWT maka isteri tampil bak seorang ‘Srikandi’ di medan perang gigih berjuang melemahkan nafsu syetan yang ada dalam diri suami.

    Seperti telah disebutkan di atas QS At Taubah : 71 “Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS At-Taubah: 71)

    Suami isteri harus merupakan penolong menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada hal yang munkar, sehingga ketika percekcokan suami isteri karena salah satunya menyimpang dari ketentuan Allah, maka pasangannya mengingatkan dan meluruskannya, sehingga percekcokan tersebut akan bernilai ibadah. Percekcokan inilah yang dibenarkan oleh Allah SWT dan bahkan dianjurkan, seperti dalam hadits Bukhori Muslim “Jika melihat kemunkaran cegahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu cegah dengan lisanmu dan jika tidak mampu cukuplah dengan hati maka itulah selemah-lemahnya iman”

    Suami dan Isteri Sebagai Partner

    Era globalisasi informasi telah mengubah pandangan tentang wanita dan isteri, posisi wanita bukan berada di bawah telunjuk pria atau kaum suami tetapi memiliki kedudukan yang sama bahkan lebih tinggi. Fenomena pandangan tentang wanita ‘mampu mengerjakan semua pekerjaan seperti halnya pria’ telah menyeret wanita meniggalkan fitrahnya, banyak ditemukan keputusan dan pengelolaan rumah tangga mutlak di tangan isteri, sehingga suami kehilangan wibawa dan pengaruhnya dalam memimpin rumah tangga.

    Islam dien yang menjunjung tinggi wanita, dalam Islam wanita adalah partner dalam menjalani biduk rumah tangga. Wanita dan pria sama-sama sebagai subyek bukan obyek. Namun tetap pria dengan berbagai kelebihan yang Allah berikan ia sebagai pemimpin dalam berrumah tangga. Isteri dalam hal ini sebagai partner, sebagai wakil di rumah tangga.

    Jika fitrah yang Allah tetapkan ini dilanggar maka lihatlah kesudahan orang-orang yang tidak mentaati ketetapan Allah SWT, malapetaka dan kehancuran yang akan didapat., serta jauh dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

    Menjalankan peran sebagai subyek dalam rumah tangga, berarti isteri memiliki kewajiban untuk menolong, meluruskan suami ketika suami berbuat menyalahi aturan Allah SWT, sudah barang tentu sebaliknya jika isteri menyimpang dari jalan Allah SWT maka suami berkewajiban mendidik dan mengarahkannya ke jalan yang benar.

    Jika dalam menjalankan perannya baik suami atau isteri tidak mau mendengarkan tausyiah kita maka percekcokan akan terjadi, namun percekcokan ini akan menjadi ibadah di hadapan Allah, sehingga tidak perlu khawatir selama kita benar sesuai dengan ketetapan Allah janganlah takut atau merasa bersalah pada saat kita harus adu mulut atau mungkin adu otot dengan pasangan kita.

    Dari uraian di atas maka sebaiknya calon isteri atau suami sebelum memasuki jenjang pernikahan, sempurnakanlah ilmu dan pengetahuan tentang berumah tangga sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

    Melalui tahapan seperti di bawah ini :

    1. Ta’aruf

    ” Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.” (QS.Al Hujurat : 13)

    Ta’aruf tidak identik dengan pacaran, ta’aruf artinya saling mengenali diri masing- masing. Proses ta’aruf sebelum menikah hanya dibolehkan jika sesuai syariat yang telah Allah tetapkan, bukan liar dan tidak terkontrol. Ta’aruf yang dibenarkan memiliki rambu-rambu sebagai berikut:

    • bertujuan mengenali pasangan untuk menuju jenjang pernikan (bukan untuk eksploitasi hawa nafsu)
    • tidak berduaan, harus ada muhrim dari pihak calon mempelai perempuan
    • pembicaraan tidak mengarah pada hal-hal yang menimbulkan birahi
    • saling menyesuaikan diri satu sama lain

    Dalam ta’aruf ini hendaknya masing-masing pasangan saling bertanya mengenai :

    -          Apa yang menjadi tujuan dan hidup pasangannya?

    -          Apa saja yang disukai?

    -          Apa yang dibenci?

    -          Apa saja yang membuatnya kecewa?

    -          Apa saja yang membuatnya marah ?

    -          Apa cita-citanya?

    -          Apa tujuan menikah?

    -          Bagaimana cara mengatasi masalah selama ini?

    -          Dan lain sebagainya.

    Sehingga jika masing-masing pasangan mengenai kebiasaan dan sifat calon istri atau suaminya, ia memiliki bahan untuk saling menyesuaikan diri.

    2. Tafahum

    Tafahum adalah saling memahami, setelah masing-masing pasangan saling mengenal maka tahapan selanjutnya adalah saling paham, mengerti dan menyesuaikan diri kebiasaan masing-masing, sehingga semua masalah dihadapi dengan tenang karena masing-masing mengetahui cara pandangnya.

    3. Ta’awun

    “Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa  lagi Maha Bijaksana”. (QS At-Taubah: 71)

    Ta’awun berarti saling menolong, seperti ayat di atas bahwa suami/isteri adalah penolong bagi pasangannya, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kebaikan dengan penuh kasih sayang.

    4. Takaful

    Takaful artinya penyeimbang, pasangan suami isteri harus menjadi penyeimbang dari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kekurangan yang dimiliki isteri hendaknya dilengkapi oleh kelebihan yang dimiliki suami begitupun sebaliknya, sehingga sama-sama berproses untuk saling melengkapi dan saling menyempurnakan untuk menjadi hamba allah yang berprestasi.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:33 am pada 2 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Syarat-Syarat Sholat,   

    Tuntunan Shalat: Syarat-Syarat Sholat 

    Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan shalat dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) macam yaitu :

    I. Syarat-Syarat Wajib Shalat, yaitu syarat-syarat diwajibkannya seseorang mengerjakan shalat. Jadi jika seseorang tidak memenuhi syarat-syarat itu tidak diwajibkan mengerjakan shalat. yaitu :

    1. Islam, Orang yang tidak Islam tidak wajib mengerjakan shalat.

    2. Suci dari Haidl dan Nifas, Perempuan yang sedang Haidl (datang bulan)atau baru melahirkan tidak wajib mengerjakan shalat.

    3.Berakal Sehat, Orang yang tidak berakal sehat seperti orang gila,orang yang mabuk, dan Pingsan tidak wajib mengerjakan shalat, sebagaimana sabda Rasulullah, “Ada tiga golongan manusia yang telah diangkat pena darinya (tidak diberi beban syari’at) yaitu; orang yang tidur sampai dia terjaga, anak kecil sampai dia baligh dan orang yang gila sampai dia sembuh.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

    4. Baliqh (Dewasa), Orang yang belum baliqh tidak wajib mengerjakan shalat. Tanda-tanda orang yang sudah baliqh:

    a. Sudah berumur 10 tahun. sebagaimana sabda Rasulullah, “Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila telah berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

    b. Mimpi bersetubuh.

    c. Mulai keluar darah haidl (datang bulan) bagi anak perempuan

    5.Telah sampai da’wah kepadanya, Orang yang belum pernah mendapatkan da’wah/seruan agama tidak wajib mengerjakan shalat.

    6. Terjaga, Orang yang sedang tertidur tidak wajib mengerjakan shalat.

    II. Syarat-Syarat Sah Shalat, yaitu yang harus dipenuhi apabila seseorang hendak melakukan shalat. Apabila salah satu syarat tidak dipenuhi maka tidak sah shalatnya. Syarat-syarat tersebut ialah :

    1. Masuk waktu shalat. Shalat tidak wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk waktunya, dan tidak sah hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum masuk waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’: 103)

    Maksudnya, bahwa shalat itu mempunyai waktu tertentu. Dan malaikat Jibril pun pernah turun, untuk mengajari Nabi shallallaahu alaihi wasallam tentang waktu-waktu shalat. Jibril mengimaminya di awal waktu dan di akhir waktu, kemudian ia berkata kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam, “Di antara keduanya itu adalah waktu shalat.”

    2. Suci dari hadats besar dan hadats kecil. Hadats kecil ialah tidak dalam keadaan berwudhu dan hadats besar adalah belum mandi dari junub. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, artinya, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata.”

    Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, artinya, “Allah tidak akan menerima shalat yang tanpa disertai bersuci”. (HR. Muslim)

    3. Suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis, adapun dalil tentang suci badan adalah sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam terhadap perempuan yang keluar darah istihadhah, “Basuhlah darah yang ada pada badanmu kemudian laksanakanlah shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

    Adapun dalil tentang harusnya suci pakaian, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan.” (Al-Muddatstsir: 4)

    Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam , sehingga orang-orang ramai berdiri untuk memukulinya, maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, ‘Biarkanlah dia dan tuangkanlah di tempat kencingnya itu satu timba air, sesungguhnya kamu diutus dengan membawa kemudahan dan tidak diutus dengan membawa kesulitan.” (HR. Al-Bukhari).

    4. Menutup aurat, Aurat harus ditutup rapat-rapat dengan sesuatu yang dapat menghalangi terlihatnya warna kulit. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap kali berada ditempat sujud .” (Al-A’raf: 31)

    Yang dimaksud dengan pakaian yang indah adalah yang menutup aurat. sedangkan tempat sujud adalah tempat shalat. Para ulama sepakat bahwa menutup aurat adalah merupakan syarat sahnya shalat, dan barangsiapa shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu untuk menutupinya, maka shalatnya tidak sah.

    5. Menghadap kiblat, Orang yang mengerjakan shalat wajib menghadap kiblat yaitu menghadap ke arah Masjidil Charam. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Al-Baqarah: 144)

    ***

    Sumber: dzikir.org

     
  • erva kurniawan 1:48 am pada 30 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: Rukun Shalat,   

    Tuntunan Shalat: Rukun-Rukun Shalat 

    Shalat itu mempunyai rukun-rukun yang apabila salah satunya ditinggalkan maka tidak sah shalatnya. Rukun-rukun tersebut adalah :

    1. Berniat, yaitu niat di hati untuk melaksanakan shalat tertentu, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya”. (Muttafaq ‘alaih)

    Dan niat itu dilakukan bersamaan dengan melaksana-kan takbiratul ihram dan mengangkat kedua tangan, tidak mengapa kalau niat itu sedikit lebih dahulu dari keduanya.

    2. Takbiratul Ihram, yaitu takbir yang pertama kali diucapkan oleh orang yang mengerjakan shalat sebagai tanda mulai mengerjakan shalat dengan lafazh (ucapan) “Allaahu Akbar” Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Kunci shalat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih )

    3. Berdiri bagi yang sanggup. berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Peliharalah segala shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wustha (Ashar). Berdirilah karena Allah (dalam shalat-mu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah: 238)

    Dan berdasarkan Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam kepada Imran bin Hushain, “Shalatlah kamu dengan berdiri, apabila tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu juga maka shalatlah dengan berbaring ke samping.” (HR. Al-Bukhari)

    4. Membaca surat Al-Fatihah wajib pada setiap rakaat shalat fardhu dan shalat sunnah; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah.” (HR. Al-Bukhari)

    5. Ruku’ dengan thuma’ninah; bagi orang yang shalat dengan berdiri minimal adalah menunduk kira-kira dua telapak tangannya sampai kelutut dan yang sempurna yaitu betul-betul menunduk sampai datar/lurus antara tulang punggung dengan lehernya (90 derajat) serta meletakan dua telapak tangan kelutut. Ruku’ ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujud-lah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)

    Juga berdasarkan sabda Nabi shallallaahu alaihi wasallam kepada seseorang yang tidak benar shalatnya, “ … kemudian ruku’lah kamu sampai kamu tuma’ninah/ tenang dalam keadaan ruku’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    6. I’tidal dengan thuma’ninah ; artinya berdiri lurus seperti pada waktu membaca Fatihah.Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam terhadap seseorang yang salah dalam shalat-nya, ” … kemudian bangkitlah (dari ruku’) sampai kamu tegak lurus berdiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    7. Sujud dua kali dengan thuma’ninah; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah disebutkan di atas tadi. Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Kemudian sujudlah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam sujud.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    8. Duduk di antara dua sujud dengan thuma’ninah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Allah tidak akan melihat kepada shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad, dengan isnad shahih)

    9. Duduk dengan tumaninah serta Membaca tasyahhud akhir dan shawalat nabi ; Ada-pun tasyahhud akhir itu, maka berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu yang bunyinya, “Dahulu kami membaca di dalam shalat sebelum diwajibkan membaca tasyahhud adalah ‘Kesejahteraan atas Allah, kesejahteraan atas malaikat Jibril dan Mikail.’ Maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, ‘Janganlah kamu membaca itu, karena sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia itu sendiri adalah Maha Sejahtera, tetapi hendaklah kamu membaca, “Segala penghormatan, shalawat dan kalimat yang baik bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah dianugerahkan kepadamu wahai Nabi. Semoga kesejahteraan dianugerahkan kepada kita dan hamba-hamba yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.” (HR. An-Nasai, Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi dengan sanad shahih)

    Dan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Apabila salah seorang di antara kamu duduk (tasyah-hud), hendaklah dia mengucapkan: ‘Segala penghormatan, shalawat dan kalimat-kalimat yang baik bagi Allah’.” (HR. Abu Daud, An-Nasai dan yang lainnya, hadits ini shahih dan diriwayatkan pula dalam dalam”. (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim)

    Adapun duduk untuk tasyahhud itu termasuk rukun juga karena tasyahhud akhir itu termasuk rukun

    10. Membaca salam; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Pembuka shalat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih )

    11. Tertib (Melakukan rukun-rukun shalat secara ber-urutan) Oleh karena itu janganlah seseorang membaca surat Al-Fatihah sebelum takbiratul ihram dan jangan-lah ia sujud sebelum ruku’. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Al-Bukhari)

    Maka apabila seseorang menyalahi urutan rukun shalat sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, seperti mendahulukan yang semestinya diakhirkan atau sebaliknya, maka batallah shalatnya.

    ***

    Sumber: dzikir.org

     
  • erva kurniawan 1:23 am pada 29 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: Hal Yang Membatalkan Shalat,   

    Tuntunan Shalat: Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat 

    Shalat seseorang akan batal jika melakukan salah satu hal dibawah ini :

    1. Makan dan minum dengan sengaja. Hal ini ber-dasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya di dalam shalat itu ada kesibukkan tertentu.” (Muttafaq ‘alaih) (1) Dan ijma’ ulama juga mengatakan demikian.

    2. Berbicara dengan sengaja, bukan untuk kepentingan pelaksanaan shalat. “Dari Zaid bin Arqam radhiallaahu anhu, ia berkata, “Dahulu kami berbicara di waktu shalat, salah seorang dari kami berbicara kepada temannya yang berada di sampingnya sampai turun ayat: ‘Dan hendaklah kamu berdiri karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’, maka kami pun diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara.” (Muttafaq ‘alaih)

    Dan juga sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya shalat ini tidak pantas ada di dalamnya percakapan manusia sedikit pun.” (HR. Muslim)

    Adapun pembicaraan yang maksudnya untuk membetulkan pelaksanaan shalat, maka hal itu diperbolehkan seperti membetulkan bacaan (Al-Qur’an) imam, atau imam setelah memberi salam kemudian bertanya apakah shalatnya sudah sempurna, apabila ada yang menjawab belum, maka dia harus menyempurnakannya. Hal ini pernah terjadi terhadap Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam , kemudian Dzul Yadain bertanya kepada Beliau, “Apakah Anda lupa ataukah sengaja meng-qashar shalat, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam menjawab, ‘Aku tidak lupa dan aku pun tidak bermaksud meng-qashar shalat.’ Dzul Yadain berkata, ‘Kalau begitu Anda telah lupa wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Apa-kah yang dikatakan Dzul Yadain itu betul?’ Para sahabat menjawab, ‘Benar.’ Maka beliau pun menambah shalatnya dua rakaat lagi, kemudian melakukan sujud sahwi dua kali.” (Muttafaq ‘alaih)

    3. Meninggalkan salah satu rukun shalat atau syarat shalat yang telah disebutkan di muka, apabila hal itu tidak ia ganti/sempurnakan di tengah pelaksanaan shalat atau sesudah selesai shalat beberapa saat. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam terhadap orang yang shalatnya tidak tepat, “Kembalilah kamu melaksanakan shalat, sesungguhnya kamu belum melaksanakan shalat.” (Muttafaq ‘alaih)

    Lantaran orang itu telah meninggalkan tuma’ninah dan i’tidal. Padahal kedua hal itu termasuk rukun.

    4. Banyak melakukan gerakan, karena hal itu bertentangan dengan pelaksanaan ibadah dan membuat hati dan anggota tubuh sibuk dengan urusan selain ibadah. Adapun gerakan yang sekadarnya saja, seperti memberi isyarat untuk menjawab salam, membetulkan pakaian, menggaruk badan dengan tangan, dan yang semisalnya, maka hal itu tidaklah membatalkan shalat.

    5. Tertawa sampai terbahak-bahak. Para ulama sepakat mengenai batalnya shalat yang disebabkan tertawa seperti itu. Adapun tersenyum, maka kebanyakan ulama menganggap bahwa hal itu tidaklah merusak shalat seseorang.

    6. Tidak berurutan dalam pelaksanaan shalat, seperti mengerjakan shalat Isya sebelum mengerjakan shalat Maghrib, maka shalat Isya itu batal sehingga dia shalat Maghrib dulu, karena berurutan dalam melaksanakan shalat-shalat itu adalah wajib, dan begitulah perintah pelaksanaan shalat itu.

    7. Kelupaan yang fatal, seperti menambah shalat menjadi dua kali lipat, umpamanya shalat Isya’ delapan rakaat, karena perbuatan tersebut merupakan indikasi yang jelas, bahwa ia tidak khusyu’ yang mana hal ini merupakan ruhnya shalat.

    ***

    Sumber: dzikir.org

     
  • erva kurniawan 1:14 am pada 27 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: Hal Yang Makruh Didalam Shalat,   

    Tuntunan Shalat: Hal-Hal Yang Makruh Didalam Shalat 

    Yang dimaksud makruh yaitu : perbuatan yang apabila dikerjakan tidak membatalkan shalat tetapi jika ditinggalkan akan mendatangkan pahala. Oleh karena itu sebaiknya ditinggalkan.

    1. Menengadahkan pandangan ke atas. Hal ini ber-dasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat peng-lihatan mereka ke langit dalam shalat mereka? Hendak-lah mereka berhenti dari hal itu atau (kalau tidak), nis-caya akan tersambar penglihatan mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dengan makna yang sama)

    2. Meletakkan tangan di pinggang. Hal ini berdasar-kan larangan Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam meletakkan tangan di pinggang ketika shalat. (Muttafaq ‘alaih)

    3. Menoleh atau melirik, terkecuali apabila diperlukan. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiallaahu anha. Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam tentang seseorang yang menoleh dalam keadaan shalat, beliau menjawab, “Itu adalah pencurian yang dilakukan syaitan dari shalat seorang hamba.” (HR. Al-Bukhari dan Abu Daud, lafazh ini dari riwayatnya)

    4. Melakukan pekerjaan yang sia-sia, serta segala yang membuat orang lalai dalam shalatnya atau menghilangkan kekhusyu’an shalatnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Hendaklah kamu tenang dalam melaksanakan shalat.” (HR. Muslim)

    5. Menaikkan rambut yang terurai atau melipatkan lengah baju yang terulur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan dan tidak boleh melipat baju atau menaikkan rambut (yang terulur).” (Muttafaq ‘alaih)

    6. Menyapu kerikil yang ada di tempat sujud (dengan tangan) dan meratakan tanah lebih dari sekali. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Dari Mu’aiqib, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam menyebutkan tentang menyapu di masjid (ketika shalat), maksudnya menyapu kerikil (dengan telapak tangan). Beliau bersabda, ‘Apabila memang harus berbuat begitu, maka hendaklah sekali saja.” (HR. Muslim)

    “Dari Mu’aiqib pula, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda tentang seseorang yang meratakan tanah pada tempat sujudnya (dengan telapak tangan), beliau bersabda, ‘Kalau kamu melakukannya, maka hendaklah sekali saja.” (Muttafaq ‘alaih)

    7. Mengulurkan pakaian sampai mengenai lantai dan menutup mulut (tanpa alasan). “Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam melarang mengulurkan pakaian sampai mengenai lantai dalam shalat dan menutup mulut.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan)

    Adapun jika menutup mulut karena hal seperti menguap ataupun yang lainnya maka hal tersebut dibolehkan sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits.

    8. Shalat di hadapan makanan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan.” (HR. Muslim)

    9. Shalat sambil menahan buang air kecil atau besar, dan sebagainya yang mengganggu ketenangan hati. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan dan shalat seseorang yang menahan buang air kecil dan besar.” (HR. Muslim)

    10. Shalat ketika sudah terlalu mengantuk. Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu ada yang mengantuk dalam keadaan shalat, maka hendaklah ia tidur sampai hilang rasa kantuknya. Maka sesungguhnya apabila salah seorang di antara kamu ada yang shalat dalam keadaan mengantuk, dia tidak akan tahu apa yang ia lakukan, barangkali ia bermaksud minta ampun kepada Allah, ternyata dia malah mencerca dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)

    ***

    Sumber: dzikir.org

     
  • erva kurniawan 1:55 am pada 26 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: hal yang diperbolehkan dalam shalat,   

    Tuntunan Shalat: Hal-hal Yang Diperbolehkan Dalam Shalat 

    Diantara hal-hal yang diperbolehkan dalam shalat yaitu:

    1. Membetulkan bacaan imam. Apabila imam lupa ayat tertentu maka makmum boleh mengingatkan ayat tersebut kepada imam. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar, “Bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wasallam shalat, kemudian beliau membaca suatu ayat, lalu beliau salah dalam membaca ayat tersebut. Setelah selesai shalat beliau bersabda kepada Ubay, ‘Apakah kamu shalat bersama kami?’, ia menjawab, ‘Ya’, kemudian beliau bersabda, ‘Apakah yang menghalangi-mu untuk membetulkan bacaanku.” (HR. Abu Daud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban, shahih)

    2. Bertasbih atau bertepuk tangan (bagi wanita) apa-bila terjadi sesuatu hal, seperti ingin menegur imam yang lupa atau membimbing orang yang buta dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Barangsiapa terjadi padanya sesuatu dalam shalat, maka hendaklah bertasbih, sedangkan bertepuk tangan hanya untuk perempuan saja.” (Muttafaq ‘alaih)

    3. Membunuh ular, kalajengking dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Bunuhlah kedua binatang yang hitam itu sekalipun dalam (keadaan) shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, shahih)

    4. Mendorong orang yang melintas di hadapannya ketika shalat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Apabila salah seorang di antara kamu shalat meng-hadap ke arah sesuatu yang menjadi pembatas baginya dari manusia, kemudian ada yang mau melintas di hadapannya, maka hendaklah dia mendorongnya dan jika dia memaksa maka perangilah (cegahlah dengan keras). Sesungguhnya (perbuatannya) itu adalah (atas dorongan) syaitan.” (Muttafaq ‘alaih)

    5. Membalas dengan isyarat apabila ada yang me-ngajaknya bicara atau ada yang memberi salam kepadanya. Dasarnya ialah hadits Jabir bin Abdullah, “Dari Jabir bin Abdullah , ia berkata, ‘Telah mengutus-ku Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang beliau pergi ke Bani Musthaliq. Kemudian beliau saya temui sedang shalat di atas onta-nya, maka saya pun berbicara kepadanya. Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya. Saya ber-bicara lagi kepada beliau, kemudian beliau kembali memberi isyarat sedang saya mendengar beliau membaca sambil memberi isyarat dengan kepalanya. Ketika beliau selesai dari shalatnya beliau bersabda, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan perintahku tadi? Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk bicara kecuali karena aku dalam keadaan shalat.” (HR. Muslim)

    Dari Ibnu Umar, dari Shuhaib , ia berkata, “Aku telah melewati Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam ketika beliau sedang shalat, maka aku beri salam kepadanya, beliau pun membalasnya dengan isyarat. “Berkata Ibnu Umar: “Aku tidak tahu terkecuali ia (Shuhaib) berkata dengan isyarat jari-jarinya.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan selain mereka, hadits shahih)

    Dari sini dapat kita ketahui, bahwa isyarat itu terkadang dengan tangan atau dengan anggukan kepala atau dengan jari.

    6. Menggendong bayi ketika shalat. Hal ini berdasar-kan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Dari Abu Qatadah Al-Anshari berkata, ‘Aku melihat Nabi Shallallaahu alaihi wasallam mengimami shalat sedangkan Umamah binti Abi Al-’Ash, yaitu anak Zainab putri Nabi Shallallaahu alaihi wasallam berada di pundak beliau. Apabila beliau ruku’, beliau meletak-kannya dan apabila beliau bangkit dari sujudnya beliau kembalikan lagi Umamah itu ke pundak beliau.” (HR. Muslim)

    7. Berjalan sedikit karena keperluan. Dalilnya adalah hadits Aisyah radhiallaahhu anha, “Dari Aisyah radhialaahu anha, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang shalat di dalam rumah, sedangkan pintu tertutup, kemudian aku datang dan minta dibukakan pintu, beliau pun berjalan menuju pintu dan membukakannya untukku, kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya. Dan terbayang bagiku bahwa pintu itu menghadap kiblat.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan)

    8. Melakukan gerakan ringan, seperti membetulkan shaf dengan mendorong seseorang ke depan atau menarik-nya ke belakang, menggeser makmum dari kiri ke kanan, membetulkan pakaian, berdehem ketika perlu, menggaruk badan dengan tangan, atau meletakkan tangan ke mulut ketika menguap. Hal ini berdasarkan hadits berikut, “Dari Ibnu Abbas , ia berkata, ‘Aku pernah menginap di (rumah) bibiku, Maimunah, tiba-tiba Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bangun di waktu malam mendirikan shalat, maka aku pun ikut bangun, lalu aku ikut shalat bersama Nabi Shallallaahu alaihi wasallam, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di sebelah kanannya.” (Muttafaq ‘alaih)

    ***

    Sumber: dzikir.org

     
    • alv 8:17 pm pada 19 Maret 2011 Permalink

      ijin copy paste semua artikel yang menyejukkan hati ini.
      saya inggin menyebar luaskannya

  • erva kurniawan 1:10 am pada 22 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: Shalat Jama’ dan Qashar   

    Shalat Jama’ dan Qashar 

    Shalat Qashar

    Mengqashar shalat merupakan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaiHi wa sallam ketika beliau dalam keadaan safar dan merupakan sedekah dari Allah Ta’ala kepada kaum muslimin. Dia berfirman,

    “Dan apabila kamu berpergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang – orang kafir. Sesungguhnya orang – orang kafir itu musuh yang nyata bagimu” (QS An Nisa’ : 101)

    Ya’la bin Umayah, dia menanyakan ayat ini pada Umar bin Khaththab ra. [tentang] firman Allah Ta’ala, “…jika kamu takut diserang orang – orang kafir …”, padahal orang – orang sudah dalam keadaan aman. Umar ra. berkata, “Dulu aku juga bingung dengan masalah ini, lalu aku menanyakannya pada Rasulullah Shalallahu ‘alaiHi wa sallam, lantas beliau Shalallahu ‘alaiHi wa sallam bersabda, ‘Itu adalah shadaqah dari Allah untuk kalian, maka terimalah shadaqah-Nya’” (HR. Muslim no. 686, Abu Dawud no. 1187, An Nasa’i III/116, Ibnu Majah no. 1065 dan At Tirmidzi no. 5025)

    Ibnu Abbas ra. berkata, “Melalui lisan Nabi kalian, Allah mewajibkan shalat empat raka’at dalam keadaan mukim, dua raka’at ketika safar dan satu raka’at ketika dalam keadaan takut” (HR. Muslim no. 687, Abu Dawud no. 1234, dan An Nasa’i III/118)

    Ibnu Umar ra. berkata, “Aku pernah menemani perjalanan Rasulullah, dan beliau tidak pernah shalat lebih dari dua raka’at hingga Allah mewafatkannya” (HR. Al Bukhari no. 1102, Muslim no. 689, Abu Dawud no. 1211 dan An Nasa’i III/123)

    Batasan Jarak Shalat Qashar

    Para ulama memiliki banyak pendapat yang berbeda dalam menentukan batasan jarak diperbolehkannya mengqashar shalat. Sampai – sampai Ibnu Al Mundzir dan yang lainnya menyebutkan lebih dari 20 pendapat dalam masalah ini. Yang rajih adalah, “Pada dasarnya tidak ada batasan jarak yang pasti, kecuali yang disebut safar dalam bahasa Arab, yaitu bahasa yang digunakan Nabi Shalallahu ‘alaiHi wa sallam saat berkomunikasi dengan mereka (orang – orang Arab)” (Al Muhalla V/21)

    Syaikh Muhammad bin Musa Al Nashr (murid Syaikh Albani) mengatakan tentang masalah ini ketika berkunjung ke Indonesia, “Musafir atau tidak, itu kembali kepada ukuran ‘urf (adat kebiasaan yang dikenal masyarakat). Misalnya, bila ‘urf masyarakat disini (disini maksudnya adalah kota Malang, Jawa Timur) menganggap orang yang pergi ke Jakarta adalah sebagai seorang musafir, maka pada saat itu dia boleh mengqashar dan menjama’ shalat”

    Tempat Diperbolehkannya Mengqashar Shalat

    Mayoritas ulama berpendapat bahwa disyari’atkan mengqashar shalat ketika meninggalkan tempat mukim dan keluar dari daerah tempat tinggal. Dan tidaklah disempurnakan shalat menjadi 4 raka’at sampai memasuki rumah pertama (di dalam tempat tinggalnya).

    Anas ra. berkata, “Aku shalat dzuhur empat raka’at bersama Nabi di Madinah. Sedangkan di Dzul Hulaifah dua raka’at” (HR. Al Bukhari no. 1089, Muslim no. 690, Abu Dawud no. 1190, At Tirmidzi no. 544 dan An Nasa’i I/235)

    Sampai Kapankah Diperbolehkannya Mengqashar Shalat?

    Jika seorang musafir tinggal di suatu daerah untuk menunaikan suatu kepentingan, namun tidak berniat mukim, maka dia [dapat] melakukan qashar hingga meninggalkan daerah tersebut.

    Dari Jabir ra., dia berkata, “Nabi Shalallahu ‘alaiHi wa sallam tinggal di Tabuk selama dua puluh hari sambil tetap mengashar shalat” (HR. Abu Dawud no. 1223, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 1094)

    Jadi, kedudukan seseorang sebagai musafir akan gugur ketika ia berniat untuk bermukim di suatu tempat. Namun ia diperbolehkan untuk mengqashar shalat selama sembilan belas hari setelah berniat untuk bermukim, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas ra., “Nabi Shalallahu ‘alaiHi wa sallam tinggal selama 19 hari sambil melakukan qashar. Jika kami melakukan safar selama 19 hari, maka kami melakukan qashar. Dan jika lebih dari itu, maka kami menyempurnakan shalat” (HR. Al Bukhari no. 1080, At Tirmidzi no. 547, dan Ibnu Majah no. 1075)

    ***

    Maraji’

    1. Majalah As Sunnah, Edisi 11/Tahun VIII/1425 H/2005 M, halaman 9.
    2. Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.
     
  • erva kurniawan 1:26 am pada 20 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: Berhaji Cukup Sekali   

    Berhaji Cukup Sekali 

    Setiap tahun ada sekitar 200.000 orang jamaah haji Indonesia. Biaya yang dibutuhkan tak kurang dari 30 juta rupiah perorang. Seandainya 25 persen saja dari jumlah itu kita berdayakan, maka kita akan mendapatkan angka 1 trilyun rupiah pertahun. Angka yang tidak kecil untuk menuntaskan kemiskinan umat.

    Dalam keadaan fisik yang lelah, Abdullah bin Mubarak, tertidur di lantai Masjidil Haram. Dalam tidurnya, ulama zuhud ternama yang hidup di era pemerintahan Bani Abbasiyah ini bermimpi didatangi dua malaikat. Kedua malaikat itu, turun dari langit khusus untuk menemuinya. Dalam mimpinya, ia mendengar dialog kedua malaikat itu. “Berapa jumlah kaum Muslim yang menunaikan haji tahun ini? “tanya salah satu malaikat. “Ada 600 ribu orang,” jawab yang satunya. “Lalu berapa orang yang hajinya diterima Allah?”

    “Tidak seorang pun. Tapi, ada seorang lelaki bernama Muwaffaq dari Damaskus yang hajinya diterima oleh Allah. Bahkan berkat ibadahnya itu menyebabkan haji kaum Muslim diterima Allah,” jawab yang ditanya.

    Begitu terbangun, Abdullah bin Mubarak mencari orang bernama Muwaffaq. Ternyata Muwaffaq adalah seorang lelaki tukang sol sepatu yang telah bertahun-tahun mengumpulkan uang untuk bekal melaksanakan haji. Suatu saat, istrinya minta dibelikan makanan. Tak sulit bagi Muwaffaq menemukan makanan yang diminta istrinya. Ketika hendak pulang, Muwaffaq tertarik dengan kepulan asap yang keluar dari dapur rumah seorang tetangganya. Setelah mengucap salam, Muwaffaq masuk ke rumah itu. Apa yang didapatinya? Seorang perempuan tua dan beberapa anak yatim sedang memasak daging keledai. Menurut perempuan tua itu, yang ia masak adalah bangkai keledai. Ia terpaksa melakukannya karena telah beberapa hari tak ada yang bisa dimakan.

    Mendengar jawaban itu, Muwaffaq segera pulang menemui istrinya. Didapatinya sang istri tak bernafsu lagi dengan makanan hasil pencarian suaminya. Muwaffaq gembira dan lantas menceritakan kejadian yang baru saja dilihatnya. Akhirnya keduanya sepakat bawah tabungan mereka sejumlah 300 dirham yang semula mau digunakan sebagai bekal haji, diserahkan kepada perempuan tua yang menanggung beberapa anak yatim itu. “Aku telah menunaikan ibadah haji di depan rumahku,” ucap Muwaffaq kemudian sambil menengadahkan kedua tangannya ke langit.

    Kisah tersebut menarik untuk direnungi. Dalam Islam, pahala tak bisa dinilai semata dari kuantitas, tapi juga harus memperhatikan kualitasnya. Secara kualitas, mereka yang berangkat ke Tanah Suci, melakukan thawaf, sai, wukuf di Arafah dan rangkaian ibadah haji lainnya, tentu lebih besar dibandingkan dengan orang yang “hanya” memberi makan tetangganya. Padahal, dalam kisah di atas, Muwaffaq baru pertama kali ingin berhaji. Bagaimana dengan mereka yang sudah berulang-ulang?

    Imam al-Ghazali dalam karya magnum opus-nya, Ihya’ Ulumuddin dengan keras dan lantang mengritik para haji, baik yang melakukannya untuk kali pertama, maupun yang ingin mengulanginya. Terhadap mereka yang berangkat haji untuk kali pertama, al-Ghazali melontarkan kritiknya. Menurutnya, di antara mereka banyak yang berangkat tanpa lebih dulu membersihkan jiwa dan hati. Mereka banyak yang mengabaikan aspek-aspek ibadah haji yang berdimensi psikis maupun etis. Ketika tiba di Tanah Suci, mereka tak mampu menjaga kesucian diri untuk tidak menzalimi orang lain ketika thawaf, mengolok-olok, dan berkata keji.

    Kritik yang disampaikan al-Ghazali itu, sebenarnya sangat relevan dan signifikan bagi kondisi bangsa yang kini dihadapkan pada persoalan kemiskinan akibat krisis berkepanjangan. Lalu, mungkinkah hukum haji ulang itu bergeser dari sunnah menjadi makruh, atau bahkan haram?

    Secara umum, ada beberapa alasan pengulangan pelaksanaan ibadah haji. Pertama, mengulangi haji semata-mata untuk memperbanyak amalan sunnah. Kedua, mengulangi karena haji yang pertama terasa belum sah lantaran ada beberapa syarat dan rukun yang mungkin tak sempat atau lupa dijalankan. Ketiga, mengulangi ibadah haji karena gengsi dan ikut-ikutan.

    Dua kategori terakhir itulah yang relevan dengan kritik al-Ghazali pada mereka yang kemaruk melaksanakan ibadah haji. Mayoritas umat Islam Indonesia, bahkan yang hidup di tengah komunitas Muslim mancanegara, sampai detik ini masih memutlakkan wajibnya haji pertama, dan sunnah bagi yang bermaksud mengulanginya. Pandangan ini, disebabkan mayoritas umat Islam tak memiliki pengetahuan cukup memadai tentang thuruq al-istimbath al-ahkam (metode-metode pengambilan hukum), seiring ketidakberdayaan mereka dalam memahami ajaran Islam secara benar, integral, dan komprehensif. Selama ini yang diketahui masyarakat, ibadah haji hukumnya wajib dan sunnah bagi yang mengulanginya. Mereka belum pernah menemukan hukum haji yang berulang kali itu, makruh, atau bahkan haram, misalnya.

    Para ulama menetapkan hukum wajib dan sunnah itu karena mendasarkan pikirannya kepada nash yang dianggapnya qath’i (pasti). Ini sebagaimana platform-Nya, “Allah mewajibkan atas manusia untuk menyengaja bait (pergi ke Baitullah menunaikan ibadah haji) bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana,” (QS Ali Imran: 97).

    Sedangkan penetapan hukum sunnah didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, “Barangsiapa ingin menambah atau mengulangi ibadah haji itu hukumnya sunnah. “Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir, Rasulullah saw bersabda, “Tiada balasan apapun bagi haji mabrur kecuali surga. Ditanya kepadanya, apa makna mabrur itu? Dijawab, suka memberi makanan (bantuan sosial) dan selalu lemah lembut dalam berbicara.”

    Tak heran kalau Ibrahim bin Yazid al-Nakha’i, seorang tabiin yang lahir 46 H (666 M) dan hidup pada era pemerintahan Bani Umayyah, pernah mengeluarkan sebuah fatwa, “sedekah itu lebih baik daripada haji sunnah.” Dengan demikian, mengulangi ibadah haji sesudah haji pertama hukumnya makruh.

    Karena itu, pengulangan ibadah haji yang disebut oleh hadits di atas sebagai “sunnah”, bisa saja bergeser menjadi “makruh”, dan atau bahkan “haram” apabila realita bertentangan dengan maslahat (kebaikan) yang ditetapkan secara qath’i (pasti).

    Memelihara anak yatim dan menyantuni fakir miskin, yang disebut berkali-kali sebagai program pengentasan kemiskinan oleh al-Quran, merupakan mashlahat yang qath’i (pasti) dan amat mendesak ketimbang menunaikan haji sunnah yang berulang. Menyerahkan dan mendayagunakan haji sunnah (haji ulang) bagi mereka yang membutuhkan, jelas merupakan maslahat yang berimplikasi positif. Ini amat relevan dan signifikan buat kondisi bangsa Indonesia yang kini secara objektif sedang dihadapkan pada persoalan kemiskinan akibat krisis berkepanjangan.

    Mengingat secara kuantitatif umat Islam Indonesia mayoritas, maka problem kemiskinan merupakan urusan umat Islam itu sendiri. Karena itu, kepada kaum Muslim yang telah meraih gelar “haji” dan berkeinginan untuk melaksanakan lagi kali kedua dan seterusnya, sebaiknya berpikir. Secara kalkulasi pahala, memikirkan ulang keinginan berhaji juga bisa dijelaskan. Kalau saja kita berhaji tiga kali kemudian meninggal, maka tak ada lagi nilai tambah atau pahala bagi ibadah kita. Berbeda bila kita cukup berhaji sekali saja, lalu dana yang dua kali, didayagunakan untuk beasiswa bagi yang miskin, dan orang-orang yang kreatif serta produktif, kita akan tetap memperoleh pahala yang selalu berkesinambungan, meski kita telah terbujur kaku di liang kubur.

    Memang, dalam al-Qur’an ibadah haji yang dipelopori Nabi Ibrahim, wajib hukumnya. “Serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segala penjuru yang jauh,”(QS al-Hajj: 27). Dalam ayat lain Allah menyatakan, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Tuhan,” (QS Ali Imran: 97).

    Namun sebagian besar dari kita mungkin cenderung memandang ibadah haji sebagai ritual individu, bukan ritual politik komunal. Sehingga dalam praktiknya seakan-akan suatu keimanan seseorang belum mumpuni kalau belum berhaji. Umat pun berlomba-lomba mengumpulkan uang dan habis hanya untuk biaya haji.

    Menyejahterakan rakyat memang tugas pemerintah. Tapi, mungkinkah menunggu tindakan pemerintah di saat sebagian besar dana APBN didapat dari mengutang dan digerogoti KKN seperti sekarang? Akhirnya, bila dana yang dikeluarkan untuk berhaji ulang, disalurkan guna menolong mereka yang membutuhkan, manfaatnya akan lebih besar. Dana yang tersalurkan akan menetes terus ke bawah, menyebar ke samping dan mengalirkan pahala berlimpah. Ganjarannya bukan 10, tapi lebih dari 700 kali lipat. Allah berfirman, “Perumpamaan (manfaat) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, dimana pada setiap bulir mengandung seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa saja yang dikehendakinya. Allah maha luas (karunia) dan maha tahu,” (QS Al-Baqarah: 261).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:23 am pada 19 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , tata cara perkawinan menurut islam, Tata Cara Pernikahan Yang Islam   

    Proses Tata Cara Pernikahan Yang Islami 

    Oleh : Salmah Machfoedz

    Sesungguhnya Islam telah memberikan tuntunan kepada pemeluknya yang akan memasuki jenjang pernikahan, lengkap dengan tata cara atau aturan-aturan Allah Subhanallah. Sehingga mereka yang tergolong ahli ibadah, tidak akan memilih tata cara yang lain. Namun di masyarakat kita, hal ini tidak banyak diketahui orang.

    Pada risalah yang singkat ini, kami akan mengungkap tata cara penikahan sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam yang hanya dengan cara inilah kita terhindar dari jalan yang sesat (bidah). Sehingga orang-orang yang mengamalkannya akan berjalan di atas landasan yang jelas tentang ajaran agamanya karena meyakini kebenaran yang dilakukannya. Dalam masalah pernikahan sesunggguhnya Islam telah mengatur sedemikian rupa. Dari mulai bagaimana mencari calon pendamping hidup sampai mewujudkan sebuah pesta pernikahan. Walaupun sederhana tetapi penuh barakah dan tetap terlihat mempesona. Islam juga menuntun bagaimana memperlakukan calon pendamping hidup setelah resmi menjadi sang penyejuk hati. Berikut ini kami akan membahas tata cara pernikahan menurut Islam secara singkat.

    Hal-Hal Yang Perlu Dilakukan Sebelum Menikah

    I. Minta Pertimbangan

    Bagi seorang lelaki sebelum ia memutuskan untuk mempersunting seorang wanita untuk menjadi isterinya, hendaklah ia juga minta pertimbangan dari kerabat dekat wanita tersebut yang baik agamanya. Mereka hendaknya orang yang tahu benar tentang hal ihwal wanita yang akan dilamar oleh lelaki tersebut, agar ia dapat memberikan pertimbangan dengan jujur dan adil. Begitu pula bagi wanita yang akan dilamar oleh seorang lelaki, sebaiknya ia minta pertimbangan dari kerabat dekatnya yang baik agamanya.

    II. Shalat Istikharah

    Setelah mendapatkan pertimbangan tentang bagaimana calon isterinya, hendaknya ia melakukan shalat istikharah sampai hatinya diberi kemantapan oleh Allah Taala dalam mengambil keputusan.

    Shalat istikharah adalah shalat untuk meminta kepada Allah Taala agar diberi petunjuk dalam memilih mana yang terbaik untuknya. Shalat istikharah ini tidak hanya dilakukan untuk keperluan mencari jodoh saja, akan tetapi dalam segala urusan jika seseorang mengalami rasa bimbang untuk mengambil suatu keputusan tentang urusan yang penting. Hal ini untuk menjauhkan diri dari kemungkinan terjatuh kepada penderitaan hidup. Insya Allah ia akan mendapatkan kemudahan dalam menetapkan suatu pilihan.

    III. Khithbah (peminangan)

    Setelah seseorang mendapat kemantapan dalam menentukan wanita pilihannya, maka hendaklah segera meminangnya. Laki-laki tersebut harus menghadap orang tua/wali dari wanita pilihannya itu untuk menyampaikan kehendak hatinya, yaitu meminta agar ia direstui untuk menikahi anaknya. Adapun wanita yang boleh dipinang adalah bilamana memenuhi dua syarat sebagai berikut, yaitu:

    1. Pada waktu dipinang tidak ada halangan-halangan syari yang menyebabkan laki-laki dilarang memperisterinya saat itu. Seperti karena suatu hal sehingga wanita tersebut haram dinikahi selamanya (masih mahram) atau sementara (masa iddah/ditinggal suami atau ipar dan lain-lain).
    2. Belum dipinang orang lain secara sah, sebab Islam mengharamkan seseorang meminang pinangan saudaranya.

    Dari Uqbah bin Amir radiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang mukmin adalah saudara orang mukmin yang lain. Maka tidak halal bagi seorang mukmin menjual barang yang sudah dibeli saudaranya, dan tidak halal pula meminang wanita yang sudah dipinang saudaranya, sehingga saudaranya itu meninggalkannya.” (HR. Jamaah)

    Apabila seorang wanita memiliki dua syarat di atas maka haram bagi seorang laki-laki untuk meminangnya.

    IV. Melihat Wanita yang Dipinang

    Islam adalah agama yang hanif yang mensyariatkan pelamar untuk melihat wanita yang dilamar dan mensyariatkan wanita yang dilamar untuk melihat laki-laki yang meminangnya, agar masing- masing pihak benar-benar mendapatkan kejelasan tatkala menjatuhkan pilihan pasangan hidupnya.

    Dari Jabir radliyallahu anhu, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, maka apabila ia mampu hendaknya ia melihat kepada apa yang mendorongnya untuk menikahinya.” Jabir berkata: “Maka aku meminang seorang budak wanita dan aku bersembunyi untuk bisa melihat apa yang mendorong aku untuk menikahinya. Lalu aku menikahinya.” (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Abu Dawud, 1832).

    Adapun ketentuan hukum yang diletakkan Islam dalam masalah melihat pinangan ini di antaranya adalah:

    1. Dilarang berkhalwat dengan laki-laki peminang tanpa disertai mahram.
    2. Wanita yang dipinang tidak boleh berjabat tangan dengan laki- laki yang meminangnya.

    V. Aqad Nikah

    Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi:

    1. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.

    2. Adanya ijab qabul.

      Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Qabul artinya menerima. Jadi Ijab qabul itu artinya seseorang menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan menerima. Dalam perkawinan yang dimaksud dengan “ijab qabul” adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/ perempuan yang di bawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil perempuan tersebut sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu.

      Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa, Sahl bin Said berkata, “Seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyerahkan dirinya, dia berkata: “Saya serahkan diriku kepadamu.” Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat padanya.” Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

      Hadist Sahl di atas menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengijabkan seorang perempuan kepada Sahl dengan mahar atau maskawinnya ayat Al-Quran dan Sahl menerimanya.

      3. Adanya Mahar (mas kawin)

        Islam memuliakan wanita dengan mewajibkan laki-laki yang hendak menikahinya menyerahkan mahar (mas kawin). Islam tidak menetapkan batasan nilai tertentu dalam mas kawin ini, tetapi atas kesepakatan kedua belah pihak dan menurut kadar kemampuan. Islam juga lebih menyukai mas kawin yang mudah dan sederhana serta tidak berlebih-lebihan dalam memintanya.

        Dari Uqbah bin Amir, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan.” (HR. Al-Hakim dan Ibnu Majah, shahih, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir 3279 oleh Al-Albani)

        4. Adanya Wali

          Dari Abu Musa radliyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah sah suatu pernikahan tanpa wali.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 1836).

          Wali yang mendapat prioritas pertama di antara sekalian wali-wali yang ada adalah ayah dari pengantin wanita. Kalau tidak ada barulah kakeknya (ayahnya ayah), kemudian saudara lelaki seayah seibu atau seayah, kemudian anak saudara lelaki. Sesudah itu barulah kerabat-kerabat terdekat yang lainnya atau hakim.

          5. Adanya Saksi-Saksi

            Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali dan dua orang saksi yang adil.” (HR. Al-Baihaqi dari Imran dan dari Aisyah, shahih, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir oleh Syaikh Al-Albani no. 7557).

            Menurut sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam, sebelum aqad nikah diadakan khuthbah lebih dahulu yang dinamakan khuthbatun nikah atau khuthbatul-hajat.

            VI. Walimah

            Walimatul Urus hukumnya wajib. Dasarnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaih wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf, “….Adakanlah walimah sekalipun hanya dengan seekor kambing.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Alabni dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1854)

            Memenuhi undangan walimah hukumnya juga wajib, sesuai riwayat “Jika kalian diundang walimah, sambutlah undangan itu (baik undangan perkawinan atau yang lainnya). Barangsiapa yang tidak menyambut undangan itu berarti ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari 9/198, Muslim 4/152, dan Ahmad no. 6337 dan Al-Baihaqi 7/262 dari Ibnu Umar).

            Akan tetapi tidak wajib menghadiri undangan yang didalamnya terdapat maksiat kepada Allah Taala dan Rasul-Nya, kecuali dengan maksud akan merubah atau menggagalkannya. Jika telah terlanjur hadir, tetapi tidak mampu untuk merubah atau menggagalkannya maka wajib meninggalkan tempat itu.

            Dari Ali berkata, “Saya membuat makanan maka aku mengundang Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dan beliaupun datang. Beliau masuk dan melihat tirai yang bergambar maka beliau keluar dan bersabda, “Sesungguhnya malaikat tidak masuk suatu rumah yang di dalamnya ada gambar.” (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah, shahih, lihat Al-Jamius Shahih mimma Laisa fis Shahihain 4/318 oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadii).

            Adapun Sunnah yang harus diperhatikan ketika mengadakan walimah adalah sebagai berikut:

            1. Dilakukan selama 3 (tiga) hari setelah hari dukhul (masuk- nya) seperti yang dibawakan oleh Anas radliallahu `anhu, katanya, Dari Anas radliallahu `anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam telah menikahi Shafiyah dengan maskawin pembebasannya (sebagai tawanan perang Khaibar) dan mengadakan walimah selama tiga hari.” (HR. Abu Yala, sanad hasan, seperti yang terdapat pada Al-Fath 9/199 dan terdapat di dalam Shahih Bukhari 7/387 dengan makna seperti itu. Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah Al-Muthaharah oleh Al-Albani hal. 65)
            2. Hendaklah mengundang orang-orang shalih, baik miskin atau kaya sesuai dengan wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Jangan bersahabat kecuali dengan seorang mukmin dan jangan makan makananmu kecuali seorang yang bertaqwa.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Abi Said Al-Khudri, hasan, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir 7341 dan Misykah Al-Mashabih 5018).
            3. Sedapat mungkin memotong seekor kambing atau lebih, sesuai dengan taraf ekonominya. Keterangan ini terdapat dalam hadits Al-Bukhari, An-Nasai, Al-Baihaqi dan lain-lain dari Anas radliallahu `anhu. Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf, “Adakanlah walimah meski hanya dengan seekor kambing.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1854)

            Akan tetapi dari beberapa hadits yang shahih menunjukkan dibolehkan pula mengadakan walimah tanpa daging. Dibolehkan pula memeriahkan perkawinan dengan nyanyi-nyanyian dan menabuh rebana (bukan musik) dengan syarat lagu yang dinyanyikan tidak bertentangan dengan ahklaq seperti yang diriwayatkan dalam hadits berikut ini, Dari Aisyah bahwasanya ia mengarak seorang wanita menemui seorang pria Anshar. Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Aisyah, mengapa kalian tidak menyuguhkan hiburan? Karena kaum Anshar senang pada hiburan.” (HR. Bukhari 9/184-185 dan Al-Hakim 2/184, dan Al-Baihaqi 7/288).

            Tuntunan Islam bagi para tamu undangan yang datang ke pesta perkawinan hendaknya mendoakan kedua mempelai dan keluarganya.

            Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaih wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan doa, “Mudah-mudahan Allah memberimu berkah. Mudah-mudahahan Allah mencurahkan keberkahan kepadamu dan mudah – mudahan Dia mempersatukan kalian berdua dalam kebajikan.” (HR. Said bin Manshur di dalam Sunannya 522, begitu pula Abu Dawud 1/332 dan At-Tirmidzi 2/171 dan yang lainnya, lihat Adabuz Zifaf hal. 89)

            Adapun ucapan seperti “Semoga mempelai dapat murah rezeki dan banyak anak” sebagai ucapan selamat kepada kedua mempelai adalah ucapan yang dilarang oleh Islam, karena hal itu adalah ucapan yang sering dikatakan oleh Kaum jahiliyyah.

            Dari Hasan bahwa Aqil bin Abi Thalib menikah dengan seorang wanita dari Jisyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyyah: “Bir rafa wal banin.” Aqil bin Abi Thalib mencegahnya, katanya: “Jangan kalian mengatakan demikian karena Rasulullah melarangnya.” Para tamu bertanya: ” Lalu apa yang harus kami ucapkan ya Aba Zaid?” Aqil menjelaskan, ucapkanlah: “Mudah- mudahan Allah memberi kalian berkah dan melimpahkan atas kalian keberkahan.” Seperti itulah kami diperintahkan. (HR. Ibnu Abi Syaibah 7/52/2, An-Nasai 2/91, Ibnu Majah 1/589 dan yang lainnya, lihat Adabuz Zifaf hal. 90)

            Demikianlah tata cara pernikahan yang disyariatkan oleh Islam. Semoga Allah Taala memberikan kelapangan bagi orang- orang yang ikhlas untuk mengikuti petunjuk yang benar dalam memulai hidup berumah tangga dengan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaih wa sallam.

            Mudah-mudahan mereka digolongkan ke dalam hamba-hamba yang dimaksudkan dalam firman-Nya: “Yaitu orang-orang yang berdoa: Ya Rabb kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Furqan: 74).

            ***

            Maraji:

            • Fiqhul Marah Al-Muslimah, Ibrahim Muhammad Al-Jamal.
            • Adabuz Zifaf fis Sunnah Al-Muthahharah, Syaikh Nashiruddin Al-Albani.
             
            • said 12:33 am pada 20 Mei 2010 Permalink

              cukup memadai urain nya , alhamdullah.

          1. erva kurniawan 1:58 am pada 18 May 2010 Permalink | Balas
            Tags: syarat diterima amalan   

            Amal yang Diterima 

            Oleh : Iin Rosliah

            Cinta dan semangat saja tak cukup dijadikan modal agar amal diterima Allah SWT. Ada dua syarat yang mutlak harus dipenuhi supaya amal tidak sia-sia di hadapan-Nya.

            1. Pertama, ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT, bukan karena motivasi duniawi atau ingin meraih puji.
            2. Kedua, muwafaqah, artinya amal yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah Rasulullah SAW.

            Ikhlas dan muwafaqah, ibarat dua sisi mata uang, saling terkait dan tak dapat dipisahkan. Ibnu Katsir saat menafsirkan QS Al Kahfi: 110 menguraikan, ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah SAW merupakan dua rukun amal yang akan diterima. Rukun adalah tiang. Sebuah bangunan akan terwujud manakala kedua tiangnya berdiri tegak. Begitu pula amal, akan diterima ketika dua syaratnya terpenuhi.

            Ketika kita beribadah karena ingin mendapat sanjungan sesama, berarti hati kita telah mendua. Dalam kacamata agama, ini dikategorikan sebagai perbuatan syirik yang akan menghalangi diterimanya amal oleh Allah SWT. ”Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada-Nya.” (QS Al Kahfi;110).

            Ibnul Qayyim mengibaratkan orang yang beramal tanpa keikhlasan seperti seorang musafir yang mengisi penuh kantongnya dengan pasir. Ia membawanya, tapi tidak mendapatkan manfaat apa pun. Walau secara lahiriah tampak besar dan bagus, bila tak dihiasi dengan keikhlasan, amal apa pun menjadi tak bermakna dalam pandangan Allah SWT. Alhasil, bukannya pahala yang diraih, justru azab yang didapat.

            Jangan pula sampai terjadi seperti tiga orang Muslim di hadapan mahkamah Allah SWT kelak. Imam Muslim meriwayatkan, ada seorang mujahid, seorang alim, dan seorang dermawan. Bukan surga yang diperoleh, justru neraka yang didapat ketiganya. Pasalnya, amal yang mereka lakukan hanya untuk mengejar prestise. Yang satu berjuang agar disebut syuhada. Yang kedua menuntut ilmu dan mengajarkannya agar disebut ulama. Dan yang terakhir menginfakkan hartanya agar dinilai sebagai dermawan.

            Setelah ikhlas, syarat berikutnya adalah kesesuaian setiap amal dengan tuntunan dalam Alquran dan sunah. Ini mengandung makna, ibadah apa pun yang diperbuat, hendaknya dilandasi oleh ilmu. Beribadah tanpa dasar ilmu, cenderung menjadikan perasaan sebagai standar. Baik buruk bukan diukur oleh dalil, tapi semata-mata menimbang rasa. Alhasil, mudah tergelincir dalam perbuatan bid’ah, mengada-ada dalam urusan ibadah.

            Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa mengerjakan satu amalan yang tak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR Bukhari dan Muslim).

            ***

            Sumber: Republika

             
          c
          Compose new post
          j
          Postingan berikutnya/Komentar berikutnya
          k
          Postingan sebelumnya/Komentar sebelumnya
          r
          Balas
          e
          Edit
          o
          Tampilkan/Sembunyikan komentar
          t
          Go to top
          l
          Go to login
          h
          Show/Hide help
          shift + esc
          Batal
          Ikuti

          Get every new post delivered to your Inbox.

          Bergabunglah dengan 640 pengikut lainnya.

          %d bloggers like this: