Updates from Juni, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:56 am on 29 June 2012 Permalink | Balas  

    Beriman kepada Takdir yang Baik dan Buruk

    Beriman kepada Qadar/Taqdir Allah yang baik atau pun yang buruk adalah rukun Iman yang ke 6.

    Dari Umar bin Khaththab ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang iman yaitu, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan kepada takdir yang baik dan yang buruk” (HR Imam Muslim)

    Meski kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga dan berdo’a, namun kita harus menerima dan mensyukuri apa yang terjadi. Sehingga hati kita selalu bahagia.

    “Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran 123)

    “Tuhanmu berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah nikmat kepadamu. Jika kamu ingkar, sesungguhnya azabKu sangat pedih.” [Ibrahim:7]

    Jika kita bersyukur, maka kita akan bahagia. Allah pun akan menambah nikmatnya. Tapi jika kita tidak bersyukur, kita akan kecewa, frustrasi, dan akhirnya putus asa.

    Segala Sesuatu Telah Ditulis dalam Lauhul Mahfudz

    Kita sering membaca buku, koran, majalah, ensiklopedi yang ditulis manusia tentang kejadian yang telah terjadi. Kadang yang ditulis itu ternyata tidak benar meski mereka berusaha menulis seakurat mungkin.

    Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib dan tersembunyi bahkan ketika semua yang lain tidak mengetahuinya. Semua hal, bukan hanya yang sudah terjadi, namun yang akan terjadi sudah ditulis Allah dalam Lauhul Mahfudz. Jangan heran karena ilmu Allah sangat luas.

    Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; “tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An'aam:59]

    “Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]

    “Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” [Al Qamar:53]

    “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” [Huud:6]

    Sebagai Tuhan yang Maha Tahu, maka seluruh tulisan yang ditulis Allah itu adalah benar.

    Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” [Al Israa' :58]

    Tak ada satu bencana pun yang menimpa kita kecuali sudah ditulis dalam kitab Lauhul Mahfuz

    “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al Hadiid:22]

    Oleh sebab itu janganlah kita khawatir akan segala musibah yang akan menimpa kita.

    Sering orang datang ke peramal atau paranormal untuk mengetahui takdirnya. Padahal ini adalah dosa besar dan tak ada seorang pun tahu perkara yang ghaib kecuali Allah SWT

    “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS An Naml:65)

    Allah Maha Berkehendak

    Kita harus meyakini bahwa Allah adalah yang Maha Berkehendak. Allah dengan mudah dapat mewujudkan segala keinginannya.

    Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]

    Oleh karena itu Nabi dan para sahabat tidak gentar menghadapi musuh baik kelompok kafir Quraisy, Yahudi, bahkan dua negara adidaya Romawi dan Persia. Mereka tahu bahwa Allah sudah menentukan kematian mereka. Tak ada satu pun yang dapat memajukan atau memundurkannya meski hanya sedetik saja.

    Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula)” memajukannya. [Al A'raaf:34]

    Mendekat Kepada Allah

    Untuk itu patutlah kita mendekati Allah SWT dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita seharusnya mencintai Allah agar Allah juga mencintai kita. Jika Allah mencintai kita, insya Allah apa yang kita inginkan akan dikabulkannya.

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa'idah:35]

    Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” [Al Ahzab:17]

    Berserah diri Kepada Allah

    Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” [Yusuf:67]

    “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [Ath Thalaaq:3]

    “Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” [Ali ‘Imran:166]

    Menerima Ketetapan/Takdir Allah

    Sering kita dihadapkan pada situasi yang kita benci atau sesuatu yang buruk menimpa kita. Hendaknya kita tawakkal kepada Allah karena boleh jadi itu baik bagi kita.

    Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Al Baqarah:216]

    Jangan Putus Asa!

    Di media massa diberitakan beberapa ibu membunuh anaknya (kemudian bunuh diri) hanya karena khawatir tidak bisa membahagiakan anaknya.

    Di AS ada seorang bapak yang dikenal baik kemudian membunuh 2 putri kembarnya. Seorang psikolog di acara Oprah Winfrey mengatakan bahwa itu terjadi karena bapak tersebut menderita depresi. Diperkirakan 20% penduduk AS pernah menderita depresi. Yang paling berbahaya adalah jika penderita depresi sudah kehilangan harapan (hope) atau putus asa. Orang seperti ini bukan hanya bisa bunuh diri tapi juga bisa membunuh orang yang dia cintai.

    Dalam Islam kita dilarang putus asa dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.

    Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” [Al Hijr:56]

    Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]

    Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi larangannya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.

    Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.

    Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.

    Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al Baqarah:155-157]

    …Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf :87]

    Kita harus yakin bahwa dibalik kesulitan yang menimpa kita, insya Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!

    “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Alam Nasyrah:5-6]

    …Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]

    Allah tidak Membebani Cobaan di luar Kemampuan Kita

    Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita cobaan di luar kemampuan kita. Segala macam cobaan insya Allah bisa kita atasi selama kita dekat dengan Allah SWT.

    Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah:286]

    Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya…” [Al Mu'minuun:62]

    “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” [At Taghabun:16]

    Berusaha Mencari Karunia Allah

    Meski kita beriman kepada Takdir Allah, tidak berarti kita jadi fatalis dan tidak berusaha melakukan apa-apa.

    Jika telah shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu'ah:10]

    “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77]

    Allah Maha Tahu

    Sebagai Tuhan yang Maha Mengetahui, Allah sebelum menciptakan sesuatu sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan ciptaannya dan Dia tuliskan itu. Meski demikian kita tetap wajib berusaha. Karena orang yang ditakdirkan masuk surga akan dimudahkan Allah untuk mengerjakan perbuatan ahli surga. Dan orang yang ditakdirkan masuk neraka akan dimudahkan

    Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)

    Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)

    Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata: Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789)

    ***

    Sumber : disusun oleh oleh : Abu Tauam Al Khalafy, dari berbagai sumber :

    1. 40 Hadits Shahih, Imam An Nawawi, Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi Arabia, 1422 H.
    2. Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’liq oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, At Tibyan, Solo, Edisi Indonesia, November 2000 M.
    3. Aqidah Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’liq oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Media Hidayah, Cetakan Pertama, Mei 2005 M
    4. Tauhid, Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif. Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi Arabia, 1422 H

    syiarislam.wordpress.com

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 28 June 2012 Permalink | Balas  

    Malas 

    Kata Rasulullah SAW malas adalah sebuah penyakit. Penyakit malas ini selalu menjadi musuh manusia dan banyak manusia yang terpedaya oleh penyakit ini. Salah satunya mungkin diri kita.

    Coba kita rasakan, adakah penyakit malas didiri kita? Ketika kita mau melaksanakan shalat tahajud atau shalat subuh adakah penyakit malas disana? Ketika kita selesai shalat Fardu lalu kita berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT adakah penyakit malas disana? Ketika disuruh oleh ibu kita untuk mengerjakan sesuatu hal padahal kita lagi asyiknya nonton tv, adakah penyakit malas disana? Ketika menerima tugas dari atasan di kantor, adakah penyakit malas disana? Dan banyak lagi suasana atau keadaan diri kita yang mana pada waktu itu diri kita sedang dilanda penyakit malas. Dan ini dirasakan oleh semua, baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua.

    Pernah suatu hari teman saya bilang, dulu sewaktu saya masih sekolah, saya jarang sekali dapat rengking di kelas saya, karena saya malas untuk belajar sehingga nilai ulanganpun saya selalu dapat nilai kecil. Tetapi, setelah saya buang rasa malas yang ada didiri saya, Alhamdulillah nilai-nilai ulanganpun menjadi bagus dan Alhamdulillah saya dapat rangking satu terus.

    Begitupun dengan teman yang dulu satu kerjaan dengan saya yang sekarang telah tiada (meninggal dunia) mudah-mudahan Allah mengampuni atas semua dosanya dan menerima semua amal salihnya dan dilapangkan kuburnya amin. Dia pindah kerja ke perusahaan lain, disana kerjanya bagus sampai oleh atasannya dia diangkat menjadi kepala bagian diperusahannya yang lain, dan dia dapat menjalankannya dengan baik dan penuh tanggungjawab, sampai atasanya memberikan penghargaan atas dedikasi kerjanya yang baik itu. Itu semua dia lakukan dengan semangat yang tinggi dan tidak kalah penting lagi dia lakukan dengan Ikhlas.

    Dan perlu diingat oleh kita semua, bahwa semua pengusaha, pendidik, pekerja, olahragawan dan lain sebagainya bisa berhasil dibidangnya, karena, mereka semua bisa melepaskan diri dari penyakit malas yang menyerangnya itu. Dan Allah SWT pun telah menganjurkan agar kita sebagai hamba-Nya untuk selalu bersemangat dalam melakukan suatu aktivitas. Baik itu dalam beribadah kepada Allah SWT maupun dalam bermuamalah dengan sesama manusia.

    Ada sebuah gambaran yang sangat indah dari Allah untuk kita renungkan, yang mana gambaran itu Allah tuangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Aadiyaat ayat 1 sampai 5:

     “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,” (QS. Al-Aadiyaat (100): 1-5)

    Dalam kitabnya “Tafsir Al-Qur’an Kontemporer EUstadz Aam Amiruddin mengatakan bahwa, Ayat 1-5 menggambarkan keperkasaan kuda perang yang berlari kencang menyerang kumpulan musuh . Begitu semangat dan kencangnya kuda itu berlari hingga hentakan kakinya memercikkan api dan menerbangkan debu.

    Hal tersebut merupakan penggambaran yang sangat indah dari Allah SWT untuk kita renungkan. Umat Islam seharusnya menadi umat yang gigih, penuh semangat dan kerja keras dalam memperjuangkan apapun, sebagaimana halnya kuda perang yang begitu gigih, penuh semangat, dan mengerahkan seluruh kemampuannya menerjang kumpulan musuh.

    Namun, fakta dalam kehidupan keseharian menunjukkan bahwa kita belum menjadi bangsa yang memiliki etos kerja yang baik. Padahal kalau kita gali pesan-pesan Ilahi, sungguh banyak ayat yang mendorong kita agar menjadi orang yang giat bekerja dan banyak berkarya, misalnya ayat-ayat berikut ini,

     “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu…,” (QS. At-Tubah (9): 105)

     “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah (94): 7-8)

    Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu melakukan yang terbaik. Kalau kita menjadi ibu, jadilah ibu yang terbaik dalam mendidik anak-anak dan mengatur rumah tangga. Kalau kita menjadi ayah, jadilah ayah yang terbaik dalam mengayomi dan menapkahi keluarga. Kalau kita menjadi karyawan, jadilah karyawan yang bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas-tugas perusahaan. Jadi, apapun profesi dan bidang kerja kita, maka jadilah yang terbaik di bidangnya.

    Maka tidak ada kata malas dalam ajaran Islam. Apabila kita telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain karena Allah SWT lebih menyukai muslim yang kuat daripada muslim yang lemah. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang di sukai dan dikasihi oleh Allah SWT karena kita berani melepaskan diri dari penyakit malas itu.

    Wallahu A’lam

    ***

    Sumber: jkmhal.com

    e…@jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 27 June 2012 Permalink | Balas  

    Berwudlu Dalam Makna

    Apakah sebenarnya makna wudlu? Apakah ia berfungsi membersihkan ataukah mensucikan? Ternyata, berwudlu lebih memiliki makna untuk mensucikan diri. Bukan sekedar membersihkan.

    Membersihkan dalam istilah agama disebut sebagai istinja’. Misalnya, setelah kita buang air kecil atau besar. Maka kita diwajibkan membersihkan diri dengan air atau batu atau cara-cara yang telah diajarkan.

    Namun berwudlu lebih kepada mensucikan. Dan ini lebih bermakna batiniah daripada lahiriah. Memang berwudlu mesti bersih dulu lewat istinja’, tetapi berwudlu sendiri tidak harus bersifat membersihkan. Memang, berwudlu juga harus mengusap anggota badan dengan air atau debu. Tapi coba perhatikan, anggota badan yang diusap tidak terkait secara langsung dengan hadats yang terjadi. Apalagi dengan najisnya, sama sekali tidak. Karena itu, jika kita tidak menemukan air, maka kita oleh bertayamum dengan menggunakan ‘debu yang bersih’.

    Tentu kita segera paham, bahwa debu (sebersih apa pun) ya tetaplah debu. Ia tidak akan bisa membersihkan badan kita yang kotor (malah semakin ‘berdebu’), sebagaimana air membersihkan badan kita. Jadi makna bertayamum (sebagai pengganti wudlu) bukanlah membersihkan melainkan mensucikan. Demikian pula berwudlu, adalah mensucikan. Bukan badan tetapi batin.

    Jadi berwudlu bukanlah membersihkan najis, melainkan menghilangkan hadats kecil, karena buang air besar dan buang air kecil. Sedangkan hadats besar, yang disebabkan oleh ‘hubungan suami istri’ dihilangkan dengan cara mandi. Coba perhatikan ini : ‘hadats kecil’ dihilangkan dengan cara membasuh sebagian anggota tubuh kita dengan

    cara berwudlu, sedangkan hadats besar dihilangkan dengan cara membasuh seluruh badan kita dengan air, alias mandi besar. Jika tidak menemukan, maka lakukan dengan debu yang bersih. Baik wudlu maupun mandi besar bisa digantikan dengan tayamum. Ini, sekali lagi menunjukkan kepada kita, bahwa yang disucikan bukanlah badan. Tapi, batin.

    Namun demikian, dalam aktivitas berwudlu, sebenarnya Allah juga menghendaki agar kita selalu menjaga kebersihan. Karena itu, sebelum berwudlu kita mesti beristinja’ terlebih dahulu. Hilangkan najis dulu, baru kemudian mensucikan diri. Sebagaimana difirmankan Allah berikut ini.

    QS. Al Maidah (5): 6

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

    Berwudlu memang membasuh anggota-anggota badan, mulai dari muka sampai ke kaki. Akan tetapi yang membatakan wudlu bukanlah kotoran yang mengotori badan kita, melainkan ‘pikiran kotor’ yang menghinggapi hati kita.

    Coba cermati filosofi wudlu ini. Jika kita sudah berwudlu, maka aktivitas makan dan minum tidaklah membatakannya. Demikian pula jika badan kita kena najis. Untuk mengatasi kedua hal tersebut, cukup membersihkannya saja. Tidak perlu mengulangi berwudlu. Jika anda. makan minum ketika masih mempunyai wudlu, maka untuk melakukan shalat, anda cukup berkumur saja. Demikian pula jika anda terkena najis atau kotoran pada anggota badan, anda cukup mencuci dan membersihkannya saja.

    Kalau begitu apakah yang membatakan wudlu? Wudlu dibatakan oleh ‘kotoran-kotoran’ atau gangguan yang bersifat kejiwaan. Misalnya, menyentuh kemaluan dan menyentuh perempuan yang mengarah kepada syahwat. Atau, ketiduran dan pingsan yang menyebabkan hilangnya akal. Atau kentut, kencing dan buang air besar, yang memang ditetapkan oleh Allah sebagai pembatal wudlu dalam arti melatih kemampuan kita dalam mengendalikan diri.

    Khusus tentang kentut, buang air kecil dan buang air besar, ada yang menganggap bahwa pembatalan wudlu itu bersifat jasmani. Bagi saya tidak demikian. Bukan ‘gas’ kentut, air seni dan faeces itu sebenarnya yang membatakan. Melainkan ketidak mampuan kita mengendalikan ketiga hal itulah yang oleh Allah dijadikan pembatal wudlu.

    Buktinya, jika kita terkena ‘gas’ kentut, atau terkena air kencing, atau terkena faeces orang lain, hal itu tidak membatakan wudlu kita. Cukup dengan membersihkan saja. Ini membuktikan bahwa yang membatakan wudlu kita bukanlah bendanya, melainkan prosesnya.

    Nah, dengan menetapkan ketiga hal tersebut sebagai pembatal wudlu, sebenarnya Allah menginginkan kita hidup bersih dan teratur. Selain itu, juga mampu mengendalikan diri untuk tidak berlaku sembarangan. Hidup bersih dan teratur akan membuat hidup kita sehat.

    Dengan demikian, seorang muslim harus selalu menjaga kesehatan ‘perutnya’, berkait dengan shalat 5 waktu yang dijalaninya. Apalagi kesehatan perut ini sangatlah vital. Lebih dari 80 persen penyakit modern dewasa ini berasal dari tidak terjaganya ‘perut’. Makan sembarang makan, dengan pola yang jelek bakal menyebabkan problem kesehatan.

    (Cermatilah berbagai macam penyakit modern dewasa ini berasal dari perut. Misalnya, darah tinggi, asam urat, diabetes, liver, typhus, jantung, dan obesitas (kegemukan) dengan berbagai macam komplikasinya.. Pengaturan pola makan yang baik dan hidup yang teratur akan sangat mengurangi berbagai resiko penyakit tersebut.

    Jadi, filosofi wudlu adalah filosofi mensucikan hati dan pengendalian diri secara kejiwaan. Kesucian hati dan pengendalian diri itu akan semakin sempurna, ketika seseorang bisa menata hatinya untuk berserah diri penuh keikhlasan, karena Allah semata.

    Orang yang kurang ikhlas dalam wudlu biasanya malah akan memperoleh ‘godaan’ yang bersifat membatakan wudlunya. Di antaranya adalah kecenderungan untuk kentut yang berlebihan. Jika, anda menemui hal semacam itu, maka relakan sajalah. Artinya, kalau memang Allah menghendaki kita tidak bisa menahan diri untuk tidak kentut, ya buang saja gas itu. Dan kita relakan untuk berwudlu kembali.

    Ketakutan untuk ‘kentut’ seringkali malah membuat kita merasa was-was, ‘wudlu kita sudah batal atau belum’. Sekali lagi ini adalah latihan untuk mengendalikan diri dan keikhlasan kita kepada Allah. Bagi orang yang ikhlas, semuanya akan terasa menjadi mudah saja. Dan Keikhlasan itulah yan menjadi salah satu kunci bagi kekhusyukan shalat kita. Termasuk bagi kemustajaban do’a kita di dalam shalat.

    Dengan demikian, sejak dari niat melakukan wudlu, kita harus sudah mengkondisilkan hati bahwa wudlu kita ini adalah untuk mensucikan hati dalam menyongsong ibadah shalat. Sehingga seluruh tatacara wudlu itu mesti kita barengi dengan do’a untuk mensucikan anggota-anggota badan yang kita wudlukan.

    Kalau kita mengacu pada ayat tersebut di atas, maka berwudlu memiliki 4 gerakan utama, yaitu mengusap wajah, mengusap tangan, mengusap kepala, dan mengusap kaki. Keempat anggota badan itu adalah anggota vital yang sering kita gunakan dalam interaksi kehidupan kita sehari-hari.

    Wajah adalah representasi dari kepribadian dan diri seseorang. Dalam shalat, wajah kita inilah yang dihadapkan kepada Allah sebagaimana kita ucapkan dalam do’a iftitah (inni wajahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawati wal ardhisesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat Yang Menciptakan Langit dan Bumi).

    QS. Ar Ruum (30): 30

    “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tdak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

    Maka dengan mengusap wajah, kita meniatkan untuk mensucikan seluruh diri kita, lahir dan batin. Kita ingin menghadapkan ‘wajah’ dan diri kepada Allah dalam keadaan terbaik yang kita miliki.

    Di wajah itu pula terdapat mata, mulut, hidung, dan telinga yang juga mesti kita sucikan dari berbagai ‘kekotoran’ perbuatan kita selama ini. Mudah-mudahan dengan mengusapkan air wudlu ke wajah kita, berbagai indera kita itu ikut tersucikan. Tidak lagi makan, minum, berkata, melihat, mendengar dan mencium sembarangan yang bisa menyebabkan berbagai persoalan dalam kehidupan kita, pribadi maupun masyarakat.

    Sebaliknya, dengan mensucikannya kita berharap memunculkan manfaat yang positip dari indera-indera yang kita gunakan untuk kebaikan. Dan dari wajah yang sering terkena air wudlu itu, mudah-mudahan memancar cahaya jernih yang menggambarkan aura positip dari orang-orang yang saleh.

    Selain wajah, Allah mengajarkan agar kita juga mensucikan kedua tangan. Tangan adalah representasi dari perbuatan dan karya-karya kita. Maka mensucikan kedua belah tangan adalah bermakna menjauhkan seluruh perbuatan dan berbagai hasil karya kita dari hal-hal yang kotor.

    Betapa banyaknya orang berbuat kerusakan di muka Bumi dengan tangan-tangan mereka. Daratan dan lautan mengalami kerusakan yang sangat parah yang justru menyebabkan turunnya kualitas kehidupan manusia itu sendiri. Banjir dan kerusakan lingkungan serta rusaknya atmosfer memunculkan problem yang serius buat kehidupan generasi-generasi mendatang. Maka, kita harus mengendalikan tangan-tangan kita, agar tidak semakin memperparah keadaan. Nah komitmen itulah yang kita tegaskan lewat aktivitas wudlu’.

    QS. Ar Ruum (30): 41

    “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

    Yang ketiga, adalah mengusap kepala. Inilah anggota badan yang paling penting dalam kehidupan kita. Kepala adalah anggota badan yang mengendalikan seluruh kemauan untuk melakukan sesuatu dan kemudian membuat keputusan. Di otak itulah kehendak kita berada. Karena itu, Allah memerintahkan kepada kita untuk mensucikannya.

    Mensucikan kepala adalah mensucikan berbagai kehendak yang ‘tersembunyi’ di dalam otak. Betapa menyenangkannya dunia ini, kalau isi kepala setiap kita adalah hal-hal yang positip. Hal-hal yang memberikan manfaat untuk kehidupan kita, kini maupun nanti.

    Maka, disinilah Allah mengajarkan kepada kita untuk membangun komitmen : mari kita sucikan kehendak dan segala keinginan kita menjadi kehendak dan keinginan yang suci yang memberikan manfaat besar buat siapa saja. Diri kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita, masyarakat bangsa dan negara, serta umat manusia seluruhnya.

    Dan yang terakhir, kita mengusap kaki dalam berwudlu. Kita semua berharap agar seluruh langkah kehidupan kita mencerminkan ‘wajah-wajah’ yang suci, ‘tangan-tangan’ yang suci, dan ‘isi kepala’ yang suci.

    Inilah makna wudlu kita. Wudlu adalah sebuah komitmen suci untuk mengendalikan diri agar menjadi orang yang bertaubat dari segala kesalahan kemanusiaan kita, bersih dari keinginan yang keji dan merugikan orang lain, serta komitmen untuk selalu berbuat dan menghasilkan karya yang bermanfaat untuk generasi sekarang maupun yang akan datang. Karena itu, seusai wudlu kita diajari untuk membaca do’a:

    Asyhadu anlaa ilaaha illailaahu wahdahu laa syariikalahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluhu laa Nabiyya ba’dahu Allahummaj’alni minattawwabin waj’alni minal mutathaahiriin waj’alni minal ‘ibaadihash shaalihiin

    “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada serikat bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, tidak ada Nabi sesudahnya. Ya Allah jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang mensucikan diri, dan jadikanlah aku dari golongan hamba-hambaMu yang saleh.”

    Do’a sesudah wudlu di atas memberikan penegasan kepada kita bahwa berwudlu itu untuk memperoleh tiga hal yang terkandung dalam do’a di atas. Yaitu, bertaubat atas segala hal yang selama ini ‘kurang bagus’. Karena itu lantas mohon menjadi orang yang ‘disucikan’ dari berbagai ‘kekurangan’ tersebut. Dan akhirnya, memohon untuk dijadikan sebagai orang-orang yang banyak ‘berbuat kebaikan’ atau orang-orang yang beribadah dalam keihklasan, alias orang-orang yang saleh.

    Jadi, wudlu adalah sebuah proses untuk membangun komitmen menjadi lebih berkualitas. Menyiapkan diri untuk menapaki langkah-langkah berikutnya. Siap menghadapi proses yang lebih berat lagi ke depan.

    Dengan demikian, diharapkan shalatnya akan lebih khusyuk. Lebih bermakna. Bermakna dalam dzikirnya. dan bermakna dalam do’anya. Ya, bukankah shalat kita memiliki makna untuk berdzikir dan berdo’a?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 26 June 2012 Permalink | Balas  

    Bershalat Dalam Makna

    Kebanyakan kita shalat secara hafalan. Sangat jarang yang melakukan shalat dengan memahami maknanya Padahal kunci kekhusyukan shalat adalah kefahaman tentang apa yang kita lakukan dan apa yang kita ucapkan. Maka, mau tidak mau kita harus menggunakan akal untuk memahami makna shalat kita.

    Jika tidak, maka hal yang menimpa laki-laki yang pernah disuruh Rasul mengulangi shalatnya sampai 3 kali bakal menimpa kita. Artinya, shalat kita ternyata tidak memiliki makna apa-apa. Dan dianggap belum melaksanakan shalat. Tentu, shalat yang demikian, bukanlah seperti yang diharapkan Rasulullah saw. Apalagi, kalau kita ingin ketemu Allah, tentu sangatlah jauh. Karena itu, marilah kita mulai berusaha untuk memaknai setiap shalat kita.

    Secara umum, makna shalat kita ada 2, yaitu ‘berdzikir’ dan ‘berdo’a’. Maka, sebelum kita memulai shalat, kita harus sudah membangun suasana hati, bahwa shalat itu bertujuan untuk ‘berdzikir’ dan ‘berdo’a’.

    1. Shalat sebagai Dzikir kepada Allah

    Untuk apakah berdzikir? Fungsinya adalah agar kita ‘ingat Eterus dengan Allah. Untuk apa ‘ingat’ sama Allah? Agar setiap ‘langkah kehidupan’ kita bermakna laa ilaaha illaallaah. Kenapa mesti laa ilaaha illallah? Disinilah proses keimanan berperan penting! Orang yang tidak menggunakan akalnya tidak akan bisa menemukan jawabnya.

    Proses keimanan yang baik adalah seperti yang diajarkan Nabi Ibrahim. Beliau beriman kepada Allah bukan karena memperoleh warisan dari orang tuanya, atau gurunya. beliau memperolehnya dengan cara ‘bereksperimen’: mencari ‘SESUATU Eyang layak dianggap sebagai Tuhan.

    Maka, Allah mengabadikan catatan sejarah ‘pencarian’ Ibrahim itu di dalam al Qur’an. Dan kita semua umat muhammad disuruhNya untuk meneladani beliau. Dan bahkan, kemudian menjadikan do’a Ibrahim itu sebagai salah satu do’a yang kita baca di dalam shalat kita setiap hari.

    (Baca rentetan ayat berikut ini. Dan, perhatikan bagian terakhir, yaitu di ayat 79. Do’a tersebut diabadikan sebagai do’a iftitah dalam shalat yang diajarkan Rasulullah saw kepada kita.)

    QS. Al An’aam (6): 74 – 79

    “Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar. “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.

    “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan Bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. “

    “Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

    “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

    “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

    “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan Bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

    Dari pencariannya itulah Ibrahim akhirnya memperoleh kesimpulan yang sangat mendasar, bahwa kehidupan kita ini harus berorientasi kepada satu tujuan saja, yaitu Allah. Kenapa demikian? Karena ternyata segala sesuatu yang selain DIA hanya semu belaka. Semuanya akan musnah dan binasa kecuali Allah saja.

    QS. Qashaash (28): 88

    “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNyalah segala penentuan, dan hanya kepada Nyalah kamu dikembalikan.”

    Kesimpulan itulah yang merasuk ke dalam jiwa Nabi Ibrahim, sehingga beliau memiliki keteguhan iman yang luar biasa. Tidak bisa digoyahkan, meskipun diperintahkan untuk mengorbankan anak yang dicintainya, Ismail. Maka, Allah lantas memerintahkan kepada kita semua untuk mengikuti cara-cara Ibrahim di dalam beragama, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

    QS. An Nisaa’(4): 125

    “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”

    Segala yang kita miliki dan kita bangga-banggakan bakal lenyap. Harta yang bertumpuk, kekuasaan, penampilan diri, dan berbagai kecintaan pada Dunia bakal berakhir seiring dengan berjalannya waktu. Akan tetapi Allah tidak. Itulah sebagian dari makna laa ilaaha illallah.

    Karena itu, semua tujuan hidup mesti kita arahkan kepada Allah saja. Dialah yang memiliki segala kebahagiaan Dunia dan kebahagiaan Akhirat. Maka, jika Dia berkehendak, segalanya bisa terjadi untuk kebahagiaan kita di Dunia dan Akhirat nanti.

    Inilah yang dimaksudkan dengan berdzikir kepada Allah. Bukan sekedar ingat Allah, dengan tidak jelas jluntrungannya, melainkan ingat dalam arti laa ilaaha illallah. Ingat bahwa seluruh eksistensi ini hanya milik Allah belaka.

    Bahwa Allah lah yang layak mengisi ingatan kita setiap saat setiap waktu. (Secara lebih detil akan saya uraikan pada pembahasan secara terpisah). Itulah yang kita rasakan dalam shalat. Dan itu pula yang kita lakukan setelah shalat, sebagaimana DIA ajarkan pada ayat-ayat berikut ini.

    QS. Thahaa (20): 14

    ‘Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

    QS. An Nisaa’(4): 103

    “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    Secara umum, dengan selalu ingat kepada Allah kita akan memetik banyak manfaat, diantaranya adalah:

    1. Hati kita akan selalu tenang dan tentram, jauh dari rasa was-was.

    Sebagaimana difirmankan Allah berikut ini.

    QS. Ar Ra’d (13): 28

    “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram.

    2. Menjadi orang yang ‘tahan banting’ alias sabar dan tegar, karena kita merasa selalu dekat dengan Allah.

    QS. Al Baqarah (2): 153

    “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

    3. Menjadi orang yang ikhlas dan rendah hati, karena kita tahu bahwa kita ini memang sebenarnya kecil. Hanya Allah yang Maha Besar.

    QS. Al Furqaan (25): 63 – 64

    “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas Bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. ” “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.”

    4. Terhindar dari perbuatan yang kotor (keji) dan merugikan (mungkar) orang lain.

    QS. Al Ankabut (29): 45

    “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

    5. Menjadi orang yang ‘Berhati kaya’, alias tidak ‘Serakah’ dan suka menolong orang lain, karena kita merasa dekat dengan Dzat Yang Maha Kaya lagi Menyayangi.

    QS. Ali lmran (3):134

    “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

    Dan masih ratusan manfaat lagi yang bisa kita petik dari kedekatan kita kepada Allah. Secara umum Allah mengatakan bahwa orang yang dekat kepada Allah akan terjauhkan dari rasa sedih dan bakal bergembira terus di Dunia maupun di Akhirat. Sebagaimana Dia firmankan berikut ini.

    QS. Yunus (10): 62 – 64

    “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

    “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bettakwa.”

    “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di Dunia dan (dalam kehidupan) di Akhirat. Tdak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. “

    2. Shalat adalah Berdo’a.

    Seringkali, shalat kita tidak bermakna sebagai do’a (permintaan tolong kepada Allah). Shalat adalah sebuah kewajiban belaka. Sedangkan untuk berdoa, kebanyakan kita melakukannya di luar shalat. Misalnya, setelah shalat. Atau, waktu-waktu lain yang dianggap mustajab.

    Padahal, coba perhatikan ayat-ayat berikut ini. Allah memerintahkan agar kita minta tolong (berdo’a) kepadaNya dengan cara shalat. Mereka adalah orang-orang, yang istilah Allah ‘lambungnya jauh dari tempat tidumya E Artinya, mereka banyak melakukan shalat malam untuk berdo’a kepada Allah dengan penuh harap.

    QS. Al Baqarah (2): 45

    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat Dan sesungguhnya yang demikian itu. sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’

    QS. Al Badarah (2): 153

    Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

    QS. As Sajdah (32): 15 – 16

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri,

    Lambung mereka jauh dari tempat tidumya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

    Nah, dengan demikian, mestinya kita mulai merubah cara minta tolong kita kepada Allah. Cara berdo’a yang paling baik yang dianjurkan Allah adalah dengan melakukan shalat. Di dalam shalat itulah kita berdo’a dan memohon pertolongan atas berbagai permasalahan yang kita hadapi. Dan setelah itu, tunggulah ‘hasilnya’ dengan penuh kesabaran.

    Namun demikian, berdo’a memang tidak dibatasi hanya dalam shalat. Allah ‘menerima’ do’a kita kapan saja kita butuh. Akan tetapi, shalat adalah tatacara yang secara ‘formal’ diajarkan oleh Allah. Insya Allah, jika kita mengikuti petunjuk tersebut do’a kita lebih mustajab.

    Pada dasarnya, tatacara dan ucapan-ucapan di dalam shalat telah ditentukan oleh Rasulullah saw. Akan tetapi, kita bisa memaknai ucapan-ucapan itu dengan hal-hal yang sedang menjadi permasalahan dalam kehidupan kita. Sehingga do’a kita di dalam shalat itu tidaklah hambar, melainkan ‘ngematch’ alias nyambung dengan problem kehidupan sehari-hari.

    Selain memberikan makna kepada do’a standar dalam shalat, ada saat-saat yang kita diperbolehkan berdoa secara ‘lebih bebas’ di dalam shalat kita. Di antaranya adalah pada saat i’tidal, yaitu seusai membaca do’a i’tidal (contohnya: ada yang membaca do’a Qunut ada yang tidak).

    Saat-saat yang lain, adalah ketika duduk di antara dua sujud, dimana kita selalu mengucapkan do’a memohon kesehatan, rezeki, permohonan ampun dan permintaan maaf, dan lain sebagainya. Juga di dalam sujud, dimana kita sedang dalam ‘kondisi terdekat’ kita dengan Allah. Dan akhirnya, pada saat menjelang salam, setelah membaca tasyahud akhir dan shalawat Nabi.

    Begitulah, sangat banyak kesempatan yang diberikan kepada kita untuk berdo’a di dalam shalat. Intinya, agar shalat kita tidak terasa hambar. Tetapi memiliki ‘muatan’ kebutuhan hidup dan permintaan tolong kepada Allah atas segala problem kehidupan kita.

    Dan yang paling penting dari proses berdo’a kita itu adalah sikap hati. Janganlah kita ragu di dalam berdo’a. Yakinlah, Allah pasti menjawab do’a kita, asalkan kita memang bersungguh-sungguh di dalam berdo’a. Hal itu telah Dia janjikan dalam firmanNya. Nggak usah ragu. Sekali lagi jangan sampai ragu, karena Allah akan mengabulkan do’a kita sesuai dengan prasangka hati kita. Kalau yakin, hasilnya ya meyakinkan. Kalau ragu, hasilnya ya meragukan.

    QS. Al Baqarah (2): 186

    “Dan apabila hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. “

    Sebelum lebih jauh kita membahas makna do’a-do’a shalat, maka cermatilah firman-firman Allah berikut ini agar do’a kita di dalam shalat lebih ‘diperhatikan’ Allah. Dan mudah-mudahan dikabulkanNya.

    QS. Yunus (10): 22

    “… dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada Nya semata-mata… “

    QS. As Sajdah (32): 16

    “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

    QS. Al Qalam (68): 48

    Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).

    QS. Al Israa’ (17): 11

    Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.

    QS. Al A’raaf (7): 55

    Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang, yang melampaui batas.

    Lewat ayat-ayat tersebut Allah mengajarkan kepada kita bahwa do’a yang baik adalah mengikuti kondisi-kondisi tersebut. Di antaranya adalah :

    1. Berdo’alah dengan penuh keikhlasan, hanya semata mata, kepada Allah saja. Bahkan, kalimat yang digunakan adalah, mukhlisiina lahuddiin, yaitu mengikhlaskan diri dalam beragama. Bukan hanya ketika berdo’a, melainkan dalam seluruh peribadatan yang kita jalankan, kita ikhlas hanya untuk Allah saja.
    2. Dengan rasa takut dan penuh harap. Artinya, janganlah kita berdo’a dengan tidak serius. Misalnya, dengan perasaan ‘cuek’ dikabulkan syukur, nggak dikabulkan ya sudah. Berdo’a yang seperti ini tidaklah serius. Berdo’a adalah memohon pertolongan kepada Allah, maka tentu dilakukan dengan sepenuh hati dan ‘harap-harap cemas’.
    3. Jangan berdo’a dalam keadaan marah atau penuh kebencian atas perbuatan seseorang kepada kita. Bertawakallah kepada Allah dengan penuh kesabaran, Insya Allah Dia akan memberikan yang tebaik buat kita.
    4. Jangan berdo’a untuk kejahatan. Ikutilah jalan yang lurus yang diajarkan Allah dan RasulNya kepada kita. Meskipun kita sedang terjepit, usahakan agar kita tidak melakukan kejahatan. Sekali lagi bertawakallah kepada Allah, maka Dia akan memberikan yang terbaik buat kita.
    5. Ucapkanlah do’a kita dengan suara yang lembut dan berendah diri kepada Allah. Jangan berdo’a dengan suara yang keras, karena Allah sebenarnya begitu dekat dengan kita. Dia lebih dekat kepada kita daripada urat leher kita (QS.50:16). Dia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hati kita. Jadi kenapa kita mesti berteriak-teriak dalam berdo’a. Orang-orang yang berdo’a dengan suara keras, cenderung memiliki hati yang riya’ atau pamer kepada orang lain. Do’a yang demikian menjadi tidak ikhlas adanya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 25 June 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Meremehkan Wirid

    “Tidak akan meremehkan wirid kecuali orang yang bodoh. Karena  Allah (Al-Warid) itu diperoleh di akherat’, sedangkan Al-Wirid, akan selesai dengan musnahnya dunia. Yang paling baik diperintahkan oleh manusia, adalah yang tidak pernah musnah. Wirid yang diperintahkan Allah kepadamu, serta karunia yang kalian terima, adalah merupakan hajatmu sendiri terhadap Allah Ta’ala. Dimanakah letaknya perbedaan antara perintah Allah kepadamu dengan pengharapan kalian kepada-Nya.”

    Yang dimaksud wirid ialah perbuatan seorang hamba yang berbentuk ibadah, lahir dan batin. Sedangkan Al-Warid adalah karunia Allah ke dalam batinnya seorang hamba ibarat cahaya yang halus,  yang bersinar sinar di dalam dadanya dan memberi nur ke dalam dadanya, semuanya sebagai karunia Allah yang wujudnya dalam ibadah si hamba. Al-Warid itu adalah dari Allah Swt, merupakan muamalah dan ibadah.

    Adapun wirid adalah amalan yaang dikerjakan di dunia secara tetap dan tertib di dunia ini juga berupa ibadah secara tertib termasuk dzikir yang dikerjakan terus menerus, tidak pernah ditinggalkan. Warid merupakan karunia Allah kepada para hamba berupa penjelasan, nurullah, kenikmatan  merasakan ibadah, hidayah dan taufik Allah, semuanya merupakan amalan batin yang kuat. Kenikmatan warid itu berkelanjutan hingga hari akhirat. Antara Wirid dan Al-Warid mempunyai kaitan yang kuat Apabila Al-Warid itu karunia Allah, wirid adalah ibadah yang tetap dan tertib.

    Orang yang melaksanakan wirid dalam ibadah, adalah orang yang memelihara hubungannya dengan Allah secara tetap, tidak pernah tertutup dalam saat waktu yang tetap pula. Dalam keadaan apapun dan di manapun, ia senantiasa menjaga ibadah rutinnya itu dengan baik dan dikerjakan sebagus bagusnya. Contoh ibadah yang diwiridkan, seperti sholat sunah yang dipilih untuk wirid, dzikir yang diwiridkan, puasa sunah yang diwiridkan, dan lain lainnya. Hamba yang wirid selalu membasahi jiwa dan lidahnya dengan dzikrullah. Karena dikerjakan secara rutin, maka ibadah tersebut sudah menjadi kebiasaan serta dikerjakan dengn senang hati dan dirasakan kenikmatannya.

    Kedua duanya, Wirid dan Warid, ibarat saudara kembar yang saling berlomba menjadi ibadah yang sangat dicintai untuk mendapatkan keridhoan Allah Swt. Yang satu (wirid) ibadah untuk menghiasi lahir, yang satu ibadah (warid) untuk menghiasi batin.  Wirid adalah hak Allah yang diperintahkan agar diamalkan oleh para hamba. Sedang warid adalah hak hamba yang disampaikan kepada Allah Swt.

    Menghidupkan wirid dalam hidup hamba Allah diperlukan, agar si hamba tetap kontak dengan Allah di waktu waktu yang sudah ditentukan oleh si hamba sendiri. Sebab amal ibadah yang paling baik ialah dikerjakan terus menerus, walaupun sedikit (kecil). Amal seperti ini sangat disukai oleh Allah   Ta’ala

    Diriwayatkan bahwasanya Al Jundi adalah seorang ahli makrifat yang membiasakan dirinya membaca Al-Qur an dalam waktu yang telah ditetapkan, sehingga waktu ia wafat bertepatan dengan ia menghatamkan Al-Qur an, dan menghatamkan bacaannya di saat itu. Disebutkan juga dalam beberapa riwayat oleh Abu Qosim Ad-Daraj, bahwa Al Jundi adalah seorang ahli makrifat yang senang beribadah dan mewiridkan ibadah ibadahnya itu.

    Abu Tolib Al Makky berkata, “Orang yang senantiasa men-dawam-kan (membiasakan ibadah rutin), termasuk akhlak orang beriman, dan jalan para abidin, sebab cara ini akan memperkokoh iman, termasuk hal juga yang menjadi amalan Rosulullah Saw.”

    Di samping wirid yang dikerjakan secara tetap dan tertib, seorang hamba memerlukan warid, yang disebut Imdad, artinya warid yang tidak terputus putus dan senantiasa bersambung yang dipersiapkan.  Dengan persiapan melalui wirid ini barulah warid itu masuk menjadi hiasan kalbu para ahli makrifat. Tanpa wirid maka tidak ada warid.

    Syekh Ahmad Atailah (pengarang kitab Al-Hikam) menjelaskan lagi :

    “Masuknya warid Imdad menurut persiapannya (wirid), dan terbitnya cahaya atas hati sesuai kebersihan hati itu pula.”

    Warid itu dapat memasuki hati dan rasa seorang hamba, apabila hati si hamba telah bersih dari pengaruh duniawi yang meresahkan dan mengendorkan iman. Hati akan menjadi bersih menurut wirid yang dilakukan oleh si hamba dengan terus menerus, tertib, dan kontinyu. Memelihara terlaksananya wirid sangat diperlukan bagi terangnya hati manusia dengan nurullah.

    ***

    Narasumber : Buku “Mutumanikan dari kitab Al-Hikam”

    Firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 5: “Padahal mereka tidak diperintah kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan (supaya) mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

    Lurus artinya jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 24 June 2012 Permalink | Balas  

    Makruhnya Mencabut Uban 

    Assalamu’alaikum wa rohmatullohi Ta’ala wa barokatuhu

    Makruhnya Mencabut Uban

    Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, Rosululloh bersabda, “Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang memiliki uban sehelaipun sesudah masuk Islam kecuali uban tersebut akan menjadi cahaya untuknya di hari kiamat kelak.” (Shohih Jami’ush Shoghir diriwayatkan oleh Abu Dawud 11/256/4184 dan Nasai 8/136).

    Anjuran untuk Mewarnai Uban dengan Daun Pacar, Katm atau Sejenisnya dan Haram Mewarnainya dengan Warna Hitam

    Dari Abu Dzar rodhiyallohu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Rosululloh bersabda, “Sesungguhnya termasuk yang paling baik untuk merubah warna uban ialah daun pacar dan katm.” (Shohih Jami’ush Shoghir no.1546. Diriwayatkan oleh Abu Dawud 11/259/4187, Tirmidzi 3/145/1806, Ibnu Majah 2/1196/3622 dan An Nasai 8/139. Teks hadits tersebut ada dalam riwayat Ibnu Majah).

    Katm adalah tumbuhan yang menghasilkan warna hitam kemerah-merahan. Demikian keterangan dalam Fiqh Sunnah 1/35. Ed.

    Dari Abu Huroiroh, beliau menyatakan bahwa Rosululloh bersabda, “Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani tidak mewarnai uban mereka, maka selisihilah mereka!” (Muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Bukhori 1/354/5899, Muslim 3/1663/2103, Abu Dawud 11/257/4185, dan An Nasai 8/137).

    Dari jabir rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Abu Quhafah didatangkan ke hadapan Rosululloh ketika Fathul Makkah dalam keadaan rambut dan jenggotnya seperti tsagomah. Rosululloh bersabda, “Ubahlah warna ubannya dengan warna apapun akan tetapi jauhilah penggunaan warna hitam.” (Shohih Jami’ush Shoghir no.4170. Diriwayatkan oleh Muslim 3/1663-69-2102, Abu Dawud 11/258/4186, An Nasai 8/138, dan Ibnu Majah 2/1197/3624). Tsaghomah adalah pohon yang daun dan bunganya berwarna putih.

    Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa Rosululloh bersabda, “Kelak di akhir jaman akan muncul sekelompok orang yang mewarnai ubannya dengan warna hitam seperti warna tembolok merpati. Mereka tidak akan mencium bau surga.” (Shohih Jami’ush Shoghir no.8153. Diriwayatkan oleh Abu Dawud 11/266/4194 dan An Nasai 8/138)

    Wallahu’alam bish showwab

    Wassalamu’alaikum wa rohmatullohi Ta’ala wa barokatuhu

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 22 June 2012 Permalink | Balas  

    Jauhi Sifat Angkuh dan Sombong

    Sifat angkuh dan sombong telah banyak mencelakakan makhluk ciptaan Allah subhanahu wata’ala, mulai dari peristiwa terusirnya Iblis dari sorga karena kesombongannya untuk tidak mau sujud kepada Nabi Adam alaihis salam tatkala diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk sujud hormat kepadanya.

    Demikian juga Allah subhanahu wata’ala telah menenggelamkan Qorun beserta seluruh hartanya ke dalam perut bumi karena kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah subhanahu wata’ala dan juga kepada sesama kaumnya.

    Allah subhanahu wata’ala juga telah menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya di lautan karena kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah subhanahu wata’ala dan juga kepada sesama kaumnya, dan karena kesombongannya itulah dia lupa diri sehingga dengan keangkuhannya dia menyatakan dirinya adalah tuhan yang harus disembah dan diagungkan.

    Kehancuran kaum Nabi Luth alaihis salam juga karena kesombongan mereka dengan menolak kebenaran yang disampaikan Nabi Luth alaihis salam agar mereka meninggalkan kebiasaan buruk mereka yaitu melakukan penyimpangan seksual, yakni lebih memilih pasangan hidup mereka sesama jenis (homosek), sehingga tanpa disangka-sangka pada suatu pagi, Allah subhanahu wata’ala membalikkan bumi yang mereka tempati dan tiada satu pun di antara mereka yang bisa menyelamatkan diri dari adzab Allah yang datangnya tiba-tiba.

    Dan masih banyak kisah lain yang bisa menyadarkan manusia dari kesombongan dan keangkuhan, kalaulah mereka mau mempergunakan hati nurani dan akalnya secara sehat.

    Mengapa manusia tidak boleh sombong? Sebab manusia adalah makhluk yang lemah, maka pantaskah makhluk yang lemah itu bermega-megahan dan sombong di hadapan penguasa langit dan bumi? Namun fenomena dan realita yang ada masih banyak manusia itu yang lupa hakikat dan jati dirinya, sehingga membuat dia sombong dan angkuh untuk menerima kebenaran, merendahkan orang lain, serta memandang dirinya sempurna segala-galanya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, telah menjelaskan tentang bahayanya sifat kesombongan dan keangkuhan, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

    “Tidak masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya ada sedikit kesombongan, kemudian seseorang berkata: “(ya Rasulullah) sesungguhnya seseorang itu senang pakaiannya bagus dan sandalnya bagus”, Beliau bersabda: “Sesunguhnya Allah itu Indah dan Dia menyenangi keindahan, (dan yang dimaksud dengan) kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan melecehkan orang lain” (HR. Muslim)

    Imam An-Nawawi rahimahullah berkomentar tentang hadits ini, “Hadits ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka dan menolak kebenaran”. (Syarah Shahih Muslim 2/269).

    Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Orang yang sombong adalah orang yang memandang dirinya sempurna segala-galanya, dia memandang orang lain rendah, meremehkannya dan menganggap orang lain itu tidak pantas mengerjakan suatu urusan, dia juga sombong menerima kebenaran dari orang lain”. (Jami’ul Ulum Wal Hikam 2/275)

    Raghib Al-Asfahani rahimahullah berkata, “Sombong adalah keadaan/kondisi seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri, memandang dirinya lebih utama dari orang lain, kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabbnya dengan cara menolak kebenaran (dari-Nya) dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan maupun dalam mentauhidkan-Nya.” (Umdatul Qari` 22/140).

    Nash-nash Ilahiyyah banyak sekali mencela orang yang sombong dan angkuh, baik yang terdapat dalam Al-Qur`an maupun dalam As-Sunnah.

    1. Orang Yang Sombong Telah Mengabaikan Perintah Allah subhanahu wata’ala.

    Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (angkuh).” (QS. 31:18)

    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, menjelaskan makna firman Allah subhanahu wata’ala: (Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia) dia berkata: “Janganlah kamu sombong dan merendahkan manusia, hingga kamu memalingkan wajahmu ketika mereka berbicara kepadamu.” (Tafsir At-Thobari 21/74)

    Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan Firman Allah subhanahu wata’ala, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh”, maksudnya janganlah kamu menjadi orang yang sombong, keras kepala, berbuat semena-mena, janganlah kamu lakukan semua itu yang menyebabkan Allah murka kepadamu”. (Tafsir Ibnu Katsir 3/417).

    2. Orang Yang Sombong Menjadi Penghuni Neraka.

    Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

    “Katakanlah kepada mereka: Masuklah kalian ke pintu-pintu neraka jahannam dan kekal di dalamnya, maka itulah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. Az-Zumar: 72)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    “Tidak akan masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya terdapat sedikit kesombongan.” (HR. Muslim)

    Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah Aku beritakan kepada kalian tentang penghuni surga? Para shahabat menjawab: tentu (wahai Rasulullah), lalu beliau berkata: “(Penghuni surga adalah) orang-orang yang lemah lagi direndahkan oleh orang lain, kalau dia bersumpah (berdo’a) kepada Allah niscaya Allah kabulkan do’anya, Maukah Aku beritakan kepada kalian tentang penghuni neraka? Para shahabat menjawab: tentu (wahai Rasulullah), lalu beliau berkata: “(Penghuni neraka adalah) orang-orang yang keras kepala, berbuat semena-mena (kasar), lagi sombong”. (HR. Bukhori & Muslim)

    3. Orang Yang Sombong Pintu Hatinya Terkunci & Tertutup.

    Sebagaimana Firman Allah subhanahu wata’ala, artinya:

    “Demikianah Allah mengunci mati pintu hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (QS. Ghafir 35)

    Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Sebagaimana Allah mengunci mati hati orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah maka demikian juga halnya Allah juga mengunci mati hati orang yang sombong lagi berbuat semena-mena, yang demikian itu karena hati merupakan sumber pangkal kesombongan, sedangkan anggota tubuh hanya tunduk dan patuh mengikuti hati”. (Fathul Qodir 4/492).

    4. Kesombongan Membawa Kepada Kehinaan Di Dunia & Di Akhirat

    Orang yang sombong akan mendapatkan kehinaan di dunia ini berupa kejahilan, sebagai balasan dari perbuatannya, perhatikanlah firman Allah subhanahu wata’ala, artinya:

    “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di dunia ini tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaanku”. (QS. Al-’Araf: 146)

    (Maksudnya) yaitu Aku (Allah) halangi mereka memahami hujah-hujjah dan dalil-dalil yang menunjukkan tentang keagungan-Ku, syari’at-Ku, hukum-hukum-Ku pada hati orang-orang yang sombong untuk ta’at kepada kepada-Ku dan sombong kepada manusia tanpa alasan yang benar, sebagaimana mereka sombong tanpa alasan yang benar, maka Allah hinakan mereka dengan kebodohan (kejahilan). (Tafsir Ibnu Katsir 2/228)

    Kebodohan adalah sumber segala malapetaka, sehingga Allah sangat mencela orang-orang yang jahil dan orang-orang yang betah dengan kejahilannya, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

    “Sesungguhnya makhluk yang paling jelek (paling hina) di sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak mengerti apapun (jahil).” (QS. Al-Anfal:22)

    Maksudnya Allah subhanahu wata’ala menghinakan orang-orang yang tidak mau mendengar-kan kebenaran dan tidak mau menutur-kan yang haq, sehingga orang tersebut tidak memahami ayat-ayat-Nya yang pada akhirnya menyebabkan dia menjadi seorang yang jahil dan tidak mengerti apa-apa, dan kejahilan itulah bentuk kehinaan bagi orang-orang yang sombong.

    Dan orang yang sombong di akhirat dihinakan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan memperkecil postur tubuh mereka sekecil semut dan hinaan datang kepada dari segala penjuru tempat, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits berikut:

    “Orang-orang yang sombong akan dihimpunkan pada hari kiamat seperti dalam bentuk semut-semut kecil dengan rupa manusia, dari segala tempat datang hinaan kepada mereka, mereka digiring ke penjara neraka jahannam yang di sebut Bulas, di bagian atasnya api yang menyala-nyala dan mereka diberi minuman dari kotoran penghuni neraka”. (HR. Tirmizi & Ahmad, dihasankan oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Misykat)

    Semoga dengan merenungi nash-nash Ilahiyyah diatas, karunia Allah subhanahu wata’ala beserta kita dan bisa menjauhkan kita dari sifat angkuh dan sombong. (Abu Abdillah Dzahabi)

    ***

    Tulisan ini disadur dari Majalah Al-Furqon Edisi: 5 Tahun V /Dzulhijjah 1426 /Januari 2006

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 19 June 2012 Permalink | Balas  

    Zikir Mengingat Allah

    Allah memerintahkan orang yang beriman untuk berzikir (mengingat dan menyebut nama Allah) sebanyak-banyaknya:

    “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [QS Al Ahzab 33:41]

    Tidak berzikir akan mengakibatkan seseorang jadi orang yang rugi.

    “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” [QS Al Munaafiquun 63:9]

    Allah mengingat orang yang mengingatNya.

    “Karena itu, ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” [Al Baqarah:152]

    Orang yang beriman selalu ingat kepada Allah dalam berbagai keadaan :

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS Ali 'Imran 3:190-191]

    Dengan berzikir hati menjadi tenteram.

    “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [QS 13:28]

    Menyebut Allah dapat membawa ketenangan dan menyembuhkan jiwa :

    “Menyebut-nyebut Allah adalah suatu penyembuhan dan menyebut-nyebut tentang manusia adalah penyakit (artinya penyakit akhlak).” (HR. Al-Baihaqi)

    Nabi berkata: Tiada amal perbuatan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah daripada zikrullah. (HR. Ahmad)

    “Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, kalau kamu selamanya bersikap seperti saat kamu ada bersamaku dan mendengarkan zikir, pasti para malaikat akan bersalaman dengan kamu di tempat tidurmu dan di jalan-jalan yang kamu lalui. Tetapi, wahai Hanzhalah (nama seorang sahabat) kadangkala begini dan kadangkala begitu. (Beliau mengucapkan perkataan itu kepada Hanzhalah hingga diulang-ulang tiga kali).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

    “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Robbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Nabi berkata: “ Nyanyian dan permainan hiburan yang melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati, bagaikan air menumbuhkan rerumputan. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, sesungguhnya Al Qur’an dan zikir menumbuhkan keimanan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan” (HR. Ad-Dailami)

    Nabi berkata: “Maukah aku beritahu amalanmu yang terbaik, yang paling tinggi dalam derajatmu, paling bersih di sisi Robbmu serta lebih baik dari menerima emas dan perak dan lebih baik bagimu daripada berperang dengan musuhmu yang kamu potong lehernya atau mereka memotong lehermu? Para sahabat lalu menjawab, “Ya.” Nabi Saw berkata,”Zikrullah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

    Seorang sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku. Beritahu aku sesuatu yang dapat aku menjadikannya pegangan.” Nabi Saw berkata, “Biasakanlah lidahmu selalu bergerak menyebut-nyebut Allah (zikrullah).” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

    Nabi berkata: Sebaik-baik zikir dengan suara rendah dan sebaik-baik rezeki yang secukupnya. (HR. Abu Ya’la)

    Di antara ucapan tasbih Rasulullah Saw ialah : “Maha suci yang memiliki kerajaan dan kekuasaan seluruh alam semesta, Maha suci yang memiliki kemuliaan dan kemahakuasaan, Maha suci yang hidup kekal dan tidak mati.” (HR. Ad-Dailami)

    “Dua kalimat ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan dan disukai oleh Allah yaitu kalimat: “Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Adzhim” (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung). (HR. Bukhari)

    Nabi berkata: “Ada empat perkara, barangsiapa memilikinya Allah akan membangun untuknya rumah di surga, dan dia dalam naungan cahaya Allah yang Maha Agung. Apabila pegangan teguhnya “Laailaha illallah”. Jika memperoleh kebaikan dia mengucapkan “Alhamdulillah”, jika berbuat salah (dosa) dia mengucapkan “Astaghfirullah” dan jika ditimpa musibah dia berkata “Inna lillahi wainna ilaihi roji’uun.” (HR. Ad-Dailami)

    Nabi berkata: Wahai Aba Musa, maukah aku tunjukkan ucapan dari perbendaharaan surga? Aku menjawab, “Ya.” Nabi berkata, “La haula wala Quwwata illa billah.” (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad)

    Di antara zikir yang utama adalah Laa ilaaha illallahu (Tidak ada Tuhan selain Allah) “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Zikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallahu” [HR Turmudzi]

    “Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku berkata bahwa kalimat : “Subhanallah, wal hamdulillah, wa Laa Ilaaha Illallah, wallahu akbar” (Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Allah Maha Besar) itu lebih kusukai daripada apa yang dibawa oleh matahari terbit.” (HR Bukhari dan Muslim)

    ***

    Referensi: Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press Disadur dari: HaditsWeb 2.0 – Sofyan Efendi – Kumpulan dan Referensi Belajar Hadits

    Syiarislam.wordpress.com

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 18 June 2012 Permalink | Balas  

    Matematika Sedekah

    Pengantar

    Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah, dan sedekah bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah. Inilah sekian fadilah sedekah yang ditawarkan Allah bagi para pelakunya.

    Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan- kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya, menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain. Kepada yang mau peduli dan berbagi.

    Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan.

    Di pembahasan-pembahasan tentang sedekah, saya akan banyak mendorong diri saya dan saudara, untuk melakukan sedekah, dengan mengemukakan fadilah-fadilah/ keutamaannya. Insya Allah pembahasan akan sampai kepada Ihsan, Mahabbah, Ikhlas dan Ridha Allah. Apa yang tertulis, adalah untuk memotivasi supaya tumbuh keringanan dalam berbagi, kemauan dalam bersedekah. Sebab biar bagaimanapun, manusia adalah pedagang. Ia perlu dimotivasi untuk melakukan Akhirnya, mintalah doa kepada Allah, agar Allah terus menerus membukakan pintu ilmu, hikmah, taufiq dan hidayah-Nya hingga sampai kepada derajat ‘mukhlishiina lahuddien’, derajat orang-orang yang mengikhlaskan diri kepada Allah.

    Matematika Dasar Sedekah

    Apa yang kita lihat dari matematika di bawah ini?

    10 – 1 = 19

    Pertambahan ya? Bukan pengurangan? Kenapa matematikanya begitu? Matematika pengurangan darimana? Koq ketika dikurangi, hasilnya malah lebih besar? Kenapa bukan 10-1 = 9?

    Inilah kiranya matematika sedekah. Dimana ketika kita memberi dari apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak lagi. Matematika sedekah di atas, matematika sederhana yang diambil dari QS. 6: 160, dimana Allah menjanjikan balasan 10x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik.

    Jadi, ketika kita punya 10, lalu kita sedekahkan 1 di antara yang sepuluh itu, maka hasil akhirnya, bukan 9. Melainkan 19. Sebab yang satu yang kita keluarkan, dikembalikan Allah sepuluh kali lipat. Hasil akhir, atau jumlah akhir, bagi mereka yang mau bersedekah, tentu akan lebih banyak lagi, tergantung Kehendak Allah. Sebab Allah juga menjanjikan balasan berkali-kali lipat lebih dari sekedar sepuluh kali lipat.

    Dalam QS. 2: 261, Allah menjanjikan 700x lipat. Tinggallah kita yang kemudian membuka mata, bahwa pengembalian Allah itu bentuknya apa? Bukalah mata hati, dan kembangkan ke- husnudzdzanan, atau positif thinking ke Allah. Bahwa Allah pasti membalas dengan balasan yang pas buat kita.

    Memberi Lebih Banyak, Menuai Lebih Banyak

    Kita sudah belajar matematika dasar sedekah, dimana setiap kita bersedekah Allah menjanjikan minimal pengembalian sepuluh kali lipat (walaupun ada di ayat lain yg Allah menyatakan akan membayar 2x lipat). Atas dasar ini pula, kita coba bermain-main dengan matematika sedekah yang mengagumkan. Bahwa semakin banyak kita bersedekah, ternyata betul Allah akan semakin banyak juga memberikan gantinya, memberikan pengambalian dari-Nya.

    Coba lihat ilustrasi matematika berikut ini:

    Pada pembahasan diatas, kita belajar: 10 – 1 = 19. Maka, ketemulah ilustrasi matematika ini:

    • 10 – 2= 28
    • 10 – 3= 37
    • 10 – 4= 46
    • 10 – 5= 55
    • 10 – 6= 64
    • 10 – 7= 73
    • 10 – 8= 82
    • 10 – 9= 91
    • 10 – 10= 100

    Menarik bukan? Lihat hasil akhirnya? Semakin banyak dan semakin banyak. Sekali lagi, semakin banyak bersedekah, semakin banyak penggantian dari Allah. Mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan kita untuk bersedekah, meringankan langkah untuk bersedekah, dan membuat balasan Allah tidak terhalang sebab dosa dan kesalahan kita.

    2.5 % Tidaklah Cukup

    Saudaraku, barangkali sekarang ini zamannya minimalis. Sehingga ke sedekah juga hitung-hitungannya jadi minimalis. Angka yang biasa diangkat, 2,5%. Kita akan coba ilustrasikan, dengan perkalian sepuluh kali lipat, bahwa sedekah minimalis itu tidak punya pengaruh yang signifikan.

    Contoh berikut ini, adalah contoh seorang karyawan yang punya gaji 1jt. Dia punya pengeluaran rutin sebesar 2jt. Kemudian dia bersedekah 2,5% dari penghasilan yang 1jt itu. Maka kita dapat perhitungannya sebagai berikut:

    Sedekah: Sebesar 2,5%

    2,5% dari 1.000.000 = 25.000

    Maka, tercatat di atas kertas:

    1.000.000 – 25.000 = 975.000

    Tapi kita belajar, bahwa 975.000 bukan hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau sebesar 250.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar: 975.000 + 250.000 = 1.225.000 Lihat, ‘hasil akhir’ dari perhitungan sedekah 2,5% dari 1jt, ‘hanya’ jadi Rp. 1.225.000,-. Masih jauh dari pengeluaran dia yang sebesar Rp. 2jt. Boleh dibilang secara bercanda, bahwa jika dia sedekahnya ‘hanya’ 2,5%, dia masih akan keringetan untuk mencari sisa 775.000 untuk menutupi kebutuhannya.

    Coba Sedekah 10 %.

    Saudara sudah belajar, bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Ketika diterapkan dalam kasus seorang karyawan yang memiliki gaji 1jt dan pengeluarannya 2jt, maka dia hanya mendapatkan pertambahan 250rb, yang merupakan perkalian sedekah 2,5% dari 1jt, dikalikan sepuluh. Sehingga ‘skor’ akhir, pendapatan dia hanya berubah menjadi Rp. 1.225.000. Masih cukup jauh dari kebutuhan dia yang 2jt.

    Sekarang kita coba terapkan ilustrasi berbeda. Ilustrasi sedekah 10%.

    Sedekah: Sebesar 10%

    10% dari 1.000.000 = 100.000

    Maka, tercatat di atas kertas:

    1.000.000 – 100.000 = 900.000

    Kita lihat, memang kurangnya semakin banyak, dibandingkan dengan kita bersedekah 2,5%. Tapi kita belajar, bahwa 900.000 itu bukanlah hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau dikembalikan sebesar 1.000.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar: 900.000 + 1.000.000 = 1.900.000

    Dengan perhitungan ini, dia ‘berhasil’ mengubah penghasilannya, menjadi mendekati angka pengeluaran yang 2 juta nya. Dia cukup butuh 100 rb tambahan lagi, yang barangkali Allah yang akan menggenapkan 2 juta.

    Dan satu hal yang saya kagumi dari matematika Allah, bahwa Spiritual Values, ternyata selalu punya keterkaitan dengan Economic Values. Kita akan bahas pelan-pelan sisi ini, sampai kepada pemahaman yang mengagumkan tentang kebenaran janji Allah tentang perbuatan baik dan perbuatan buruk. Kita sedang membicarakan bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Mestinya sedekah kita, haruslah minimal 10%. Dengan bersedekah 10%, insya Allah kebutuhan- kebutuhan kita, yang memang kita hidup di dunia pasti punya kebutuhan, akan tercukupi.

    Dari ilustrasi diatas, saya memaparkan bahwa ketika seorang karyawan bersedekah 2,5% dari gajinya yang 1jt, maka ‘pertambahannya’ menjadi Rp. 1.225.000. Yakni didapat dari Rp.975.000, sebagai uang tercatat setelah dipotong sedekah, ditambah dengan pengembalian sepuluh kali lipat dari Allah dari 2,5% nya.

    Bila sedekah 2,5% ini yang dia tempuh, sedangkan dia punya pengeluaran 2jt, maka kekurangannya teramat jauh. Dia masih butuh Rp. 775.000,-. Maka kemudian saya mengajukan agar kita bersedekah jangan 2,5%, tapi lebihkan. Misalnya 10%.

    Saudaraku, ada pernyataan menarik dari guru-guru sedekah, bahwa katanya, sedekah kita yang 2,5% itu sebenarnya tetap akan mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita, di dunia ini, maupun kebutuhan yang lebih hebat lagi di akhirat, kalau kita bagus dalam amaliyah lain selain sedekah. Misalnya, bagus dalam mengerjakan shalat. Shalat dilakukan selalu berjamaah. Shalat dilakukan dengan menambah sunnah-sunnahnya; qabliyah ba’diyah, hajat, dhuha, tahajjud. Bagus juga dalam hubungan dengan orang tua, dengan keluarga, dengan tetangga, dengan kawan sekerja, kawan usaha. Terus, kita punya maksiat sedikit, keburukan sedikit. Bila ini yang terjadi, maka insya Allah, cukuplah kita akan segala hajat kita. Allah akan menambah poin demi poin dari apa yang kita lakukan. Hanya sayangnya, kita-kita ini justru orang yang sedikit beramal, dan banyak maksiatnya. Jadilah kita orang-orang yang merugi. Skor akhir yang sebenarnya sudah bertambah, dengan sedekah 2,5% itu, malah harus melorot, harus tekor, sebab kita tidak menjaga diri. Perbuatan buruk kita, memakan perbuatan baik kita. Tambahi terus amaliyah kita, dan kurangi terus maksiat kita

    Kalikan Dari Target Supaya Beroleh Lebih.

    Saudaraku, ini menyambung tulisan diatas. Kasusnya, tetap sama: Seorang karyawan dengan gaji 1jt, yang punya pengeluaran 2jt. Bila karyawan tersebut mau hidup tidak pas-pasan, dan mau dicukupkan Allah, dia harus menjaga dirinya dari keburukan, dan terus memacu dirinya dengan berbuat kebaikan dan kebaikan. Kemudian, lakukan sedekah 10% bukan dari gajinya, melainkan dari pengeluarannya.

    Sedekah 10% dari 2jt (bukan dari gajinya yang 1jt), maka akan didapat angka sedekah sebesar Rp. 200rb. Gaji pokok sebesar 1jt, dikurang 200rb, menjadi tinggal 800rb. Lihat, angka tercatatnya tambah mengecil, menjadi tinggal 800.000. Tapi di sinilah misteri sedekah yang ajaib. Yang 200rb yang disedekahkan, akan dikembalikan sepuluh kali lipat oleh Allah, atau menjadi 2jt. sehingga skor akhirnya bukan 800rb, melainkan 2,8jt.

    Dengan perhitungan di atas, kebutuhannya yang 2jt, malah terlampaui. Dia lebih 800rb. Subhanallah. Apalagi kalau kemudian dia betul-betul mau memelihara diri dari maksiat dan dosa, dan mempertahankan perbuatan baik, maka lompatan besar akan terjadi dalam hidupnya. Sebuah perubahan besar, sungguh-sungguh akan terjadi. Baik kemuliaan hidup, kejayaan, kekayaan, hingga keberkahan dan ketenangan hidup. Sekali lagi, subhanallah.

    ***

    Artikel Ustadz Yusuf Mansur

     
    • R.Suryo Basuki 3:05 am on 30 Januari 2013 Permalink

      subhanallah…ya Allah jadikan hambamu ini ahli sedekah dan jauhkan dari maksiat….

  • erva kurniawan 1:29 am on 17 June 2012 Permalink | Balas  

    Siapakah diantara manusia yang merugi? 

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

    Siapakah diantara manusia yang merugi?

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman :” Yaitu, orang-orang yang melanggar perjanjian Allah, sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan untuk menghubunginya, dan membuat kerusakan dimuka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi”(Q.S Al Baqarah 27).

    FirmanNya lagi :”Dan orang-orang yang merusak janji Allah, sesudah diikrarkan dengan teguh, dan memutuskan apa-apa yang diperintahkan untuk dihubungkan, dan mengadakan kerusakan dimuka bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk(jahannam).(Q.S Ar Ra’d 25)

    Diriwayatkan dari Imam Bukhari, dalam kitabnya Adabul Mufrad(1:36), dan Al baihaqi 6:220, dan dari sahabat Jubair bin Math’am, Ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturrahm”.

    Dari Abi Bukrah, Rasulullah bersabda :” Tidak ada dosa, yang paling disegerakan hukumannya didunia, dan disimpan azabnya diakhirat , selain mereka yang memutuskan hubungan silaturrahm”.

    Dalam riwayat lain, “Langit dunia ini sangat luas, kecuali untuk mereka yang memutuskan hubungan silaturrahm”

    Dalam riwayat Al Baihaqi kitab su’bah iman juga, dari Abi Hurairah, Rasulullah bersabda :” Tiap hari khamis malam Jum’at segala amalan akan dipersembahkan kepada Allah Ta’ala, kecuali mereka yang memutuskan hubungan silaturrahm

    Dalam riwayat Bukhari, kitab adabul mufrad (1:36), dari Abdullah bin’aufa, Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan rahmatnya kepada mereka yang memutuskan hubungan silaturrahm”.

    Dalam syarah (penjelasan) Imam Bukhari, Kitab fathul baari, Ibnu Hajar menjelaskan, diriwayatkan dari Siti ‘Aisyah, dari Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang ingin dimudahkan rezekinya, hendaklah ia menghubungkan silaturrahm, baik dengan tetangga, dan baik akhlaqnya.”(H.R Atturmidzi dan hadis ini derajatnya Hadist Hasan).

    Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

    ***

    Dari Milis, oleh Sahabat: Rahima.

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 16 June 2012 Permalink | Balas  

    Renungan Kehidupan

    Setelah sholat malam, ditengah keheningan malam coba diri ini merenung tentang :

    1. Kepala kita! Apakah ia sudah kita tundukkan, rukukkan dan sujudkan dengan segenap kepasrahan seorang hamba yang tiada daya di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, atau ia tetap tengadah dengan segenap keangkuhan, kecongkakan dan kesombongan seorang manusia?
    2. Mata kita! Apakah ia sudah kita gunakan untuk menatap keindahan dan keagungan ciptaan-ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, atau kita gunakan untuk melihat segala pemandangan dan kemaksiatan yang dilarang?
    3. Telinga Kita! Apakah ia sudah kita gunakan untuk mendengarkan suara adzan, bacaan Al Qur’an, seruan kebaikan, atau kita gunakan utk mendengarkan suara-suara yang sia-sia tiada bermakna?
    4. Hidung Kita! Apakah sudah kita gunakan untuk mencium sajadah yang terhampar di tempat sholat, mencium anak-anak tercinta serta mencium kepala anak-anak yatim piatu yang sangat kehilangan kedua orangtuanya dan sangat mendambakan cinta bunda dan ayahnya?
    5. Mulut kita! Apakah sudah kita gunakan untuk mengatakan kebenaran dan kebaikan, nasehat-nasehat bermanfaat serta kata-kata bermakna atau kita gunakan untuk mengatakan kata-kata tak berguna dan berbisa, mengeluarkan tahafaul lisan alias penyakit lisan seperti: bergibah, memfitnah, mengadu domba, berdusta bahkan menyakiti hati sesama?
    6. Tangan Kita! Apakah sudah kita gunakan utk bersedekah kepada dhuafa, membantu sesama yang kena musibah, membantu sesama yang butuh bantuan, mencipta karya yang berguna bagi ummat atau kita gunakan untuk mencuri, korupsi, menzalimi orang lain serta merampas hak-hak serta harta orang yang tak berdaya?
    7. Kaki Kita! Apakah sudah kita gunakan untuk melangkah ke tempat ibadah, ke tempat menuntut ilmu bermanfaat, ke tempat-tempat pengajian yang kian mendekatkan perasaan kepada Allah Yang Maha Penyayang atau kita gunakan untuk melangkah ke tempat maksiat dan kejahatan?
    8. Dada Kita! Apakah didalamnya tersimpan perasaan yang lapang, sabar, tawakal dan keikhlasan serta perasaan selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Bijaksana, atau di dalamnya tertanam ladang jiwa yang tumbuh subur daun-daun takabur, biji-biji bakhil, benih iri hati dan dengki serta pepohonan berbuah riya?
    9. Perut kita! Apakah didalamnya diisi oleh makanan halal dan makanan yang diperoleh dengan cara yang halal sehingga semua terasa nikmat dan barokah. Atau didalamnya diisi oleh makanan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal, dengan segala ketamakan dan kerakusan kita?
    10. Diri kita! Apakah kita sering tafakur, tadabur, dan selalu bersyukur atas karunia yang kita terima dari Allah Yang Maha Perkasa?

    ***

    (Dari berbagai sumber, dengan sedikit ‘editing’ tanpa mengubah makna aslinya)

    Sumber : taushiyah-online.com

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 15 June 2012 Permalink | Balas  

    Oleh-Oleh dari Sidratul Muntaha Shalat Lima Waktu

    Apakah oleh-oleh yang dibawa Rasulullah saw sepulang dari Isra’ Mi’raj? Pada umumnya ulama sepakat bahwa beliau membawa ‘oleh-oleh’ perintah shalat 5 waktu. Hal ini didasarkan kepada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kumpulan hadits shahihnya, lewat Anas Ibn Malik.

    Disana diceritakan bahwa Rasulullah saw pada awalnya menerima perintah shalat 50 waktu, tetapi akhirnya diturunkan sampai 5 waktu, setelah Rasulullah disarankan oleh Nabi Musa untuk mohon keringanan. Maka, akhirnya jadilah perintah shalat itu hanya 5 waktu dalam sehari semalam.

    Akan tetapi, apakah yang dimaksudkan dengan perintah ‘shalat 5 waktu’ itu? Di kalangan umat Islam ada beberapa persepsi yang berkembang.

    1. Ada yang berpendapat bahwa saat Mi’raj itulah Rasulullah saw menerima perintah shalat untuk pertama kalinya. Atau dengan kata lain, sebelum itu beliau belum menjalani shalat.
    2. Mirip dengan yang pertama, ada yang berpendapat bahwa dengan Isra’ Mi’raj itu Allah bertujuan untuk memberikan perintah dan mengajarkan ‘tatacara shalat’. Jadi tatacara shalat yang kita lakukan sekarang ini adalah ‘oleh-oleh’ Nabi saat Mi’raj ke Sidratul Muntaha.
    3. Namun, agak berbeda dengan dua pendapat di atas, ada yang mengatakan bahwa perintah shalat dalam peristiwa Isra’ Mi’raj itu hanya terkait dengan jumlah waktunya saja, yaitu 5 waktu : Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’. Sedangkan tatacara shalatnya sudah turun sebelumnya.
    4. Dan, lebih jauh lagi, ada yang mengemukakan pendapat bahwa peristiwa itu bukan untuk menerima perintah shalat, melainkan untuk menunjukkan tanda-tanda Kebesaran dan Kekuasaan Allah kepada Rasulullah saw, yang sedang terhimpit beban berat dalam masa perjuangan beliau. Namun demikian, proses Isra’ dan Mi’raj itu sendiri memberikan pelajaran kepada kita bagaimana seharusnya shalat yang khusyuk.

    Bagi saya, keempat persepsi itu agak rancu. Dan memberikan pengaruh pada kepahaman kita secara mendasar. Karena itu kita harus mendiskusikan secara lebih mendalam. Untuk memahami pendapat-pendapat itu, ada baiknya kita menengok kembali beberapa landasan yang dipakai untuk memahami peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut.

    Yang pertama adalah hadits yang meriwayatkan peristiwa Isra’Mi’raj. Hadits itu terdapat dalam kumpulan hadits shahih Imam Muslim, yang diceritakan oleh Anas Ibn Malik. Di hadits yang cukup panjang itu diceritakan seluruh kisah perjalanan Nabi Muhammad saw pada malam itu. Dan salah satu informasinya, Rasulullah saw menerima perintah shalat 5 waktu, setelah terjadi ‘tawar-menawar’ dari 50 waktu.

    Lepas dari ‘ketidak setujuan’ beberapa kalangan terhadap, proses ‘tawar menawar Eitu, menurut hadits tersebut, akhirnya Rasulullah saw menerima perintah shalat 5 waktu. Di sinilah muncul beberapa persepsi yang agak ‘rancu’.

    Misalnya, tentang pendapat ‘apakah benar Rasulullah saw menerima perintah shalat pertama kalinya pada waktu itu’. Kenapa muncul pertanyaan demikian? Karena ada beberapa informasi di dalam hadits maupun Qur’an yang mengatakan bahwa perintah shalat itu sebenarnya diberikan untuk pertama kalinya bukan kepada beliau. Bahkan pada saat perjalanan Isra’ Mi’raj itu pun Rasulullah saw sudah menjalankan shalat di beberapa tempat pemberhentian. Termasuk juga shalat di masjidil Aqsha sebelum berangkat Mi’raj.

    Maka, kita memang pantas untuk mempertanyakan, manakah informasi yang harus kita ambil sebagai kesimpulan : Rasullullah saw menerima perintah shalat pada saat Mi’raj di langit ke tujuh, ataukah sebelum itu beliau sudah menjalankan shalat.

    Apalagi dalam berbagai ayat Qur’an Allah berfirman bahwa perintah shalat itu memang sudah diberikan sejak zaman Nabi Ibrahim as. Sehingga seluruh keturunan, anak cucu Nabi Ibrahim, juga telah menjalankan shalat. Tentu saja, termasuk Nabi Muhammad saw. Coba cermati ayat-ayat berikut ini.

    Dalam beberapa ayat Qur’an disebutkan bahwa perintah shalat itu sebenarnya sudah diwahyukan sejak lama kepada para Nabi dan Rasul sebagai ibadah utama untuk berkomunikasi dengan Allah. Jadi bukan hanya pada saat Rasulullah saw saja shalat itu diperintahkan.

    QSAl Anbiyaa’ (21):72 – 73

    “Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim), Ishaq dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh.”

    “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,”

    Ayat di atas secara tegas menginformasikan kepada kita bahwa Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ya’kub telah menerima wahyu untuk mengerjakan shalat (wa iqaamash shalaati). Selain kepada beliau bertiga, Musa ternyata juga sudah memperoleh perintah shalat itu. Hal tersebut diceritakan Allah kepada Nabi Muhammad dalam ayat berikut ini.

    QS. Thahaa (20): 13 – 14

    “Dan Aku telah memilih kamu (Musa), maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).

    “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

    Lebih jauh, Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah agar anak keturunan beliau dijadikan Allah sebagai orang-orang yang menjaga shalatnya, dan terus istiqamah untuk menegakkan. Termasuk di dalamnya adalah Nabi Isa as.

    QS. Ibrahim (14): 39 – 40

    “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a.”

    “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku-orang orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku.”

    QS. Maryam (19): 30 – 31

    “Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup”

    Dan yang lebih menarik, Allah memberikan gambaran bahwa cara shalat mereka juga dengan ruku’ dan sujud kepada Allah. Selain itu ditegaskan bahwa mereka tidak menyerikatkan Allah, mensucikan, dan mengagungkan, serta memuji muji KebesaranNya.

    QS. Al Hajj (22): 26

    “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.“

    QS. Maryam (19): 58 – 59

    “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”

    “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.

    Kalimat ‘menyia-nyiakan shalat’ di bagian terakhir ayat di atas, menunjukkan kepada kita bahwa beliau-beliau adalah hamba-hamba Allah yang sangat taat menegakkan shalat. Karena digambarkan, banyak orang sesudah mereka yang menyia-nyiakan shalat, dan bermalas-malasan dalam mengerjakannya. Maka, lantas turun Rasul baru (sampai Nabi Muhammad saw.) untuk memompa kembali semangat dan ketaatan umat dalam menegakkan shalat.

    QS. Al Hajj (22) : 78

    “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

    Dan kalau kita cermati ayat di atas, kita bahkan memperoleh informasi bahwa sejak zaman Nabi Ibrahim kita memang sudah disebut sebagai orang Islam. Juga pada zaman Nabi Muhammad, yang menjadi saksi atas keislaman kita. Maka, kita memperoleh perintah untuk mendirikan shalat sebagaimana Nabi Ibrahim juga menjalankan shalat.

    Nah, berbagai ayat dan informasi di atas, saya kira memberikan penegasan kepada kita bahwa sebenarnya shalat itu sudah menjadi bagian wahyu-wahyu Allah sejak zaman Rasul-Rasul sebelumnya. Bukan hanya kepada Rasulullah Muhammad saw. Apalagi kalau kita baca hadits ‘shahih dan kuat’ berikut ini :

    “Aku didatangi Jibril a.s. pada awal-awal turunnya wahyu kepadaku. Dia mengajarkan kepadaku wudlu dan shalat”

    (HR Imam Hakim – vol. III : 217, Al Baihaqi vol. I : 162, dan Imam Ahmad vol. V : 203, sebagaimana dikutip dalam buku ‘Shalat bersama Nabi Saw’, Hasan Bin ‘Ali as Saqqaf, Yordania, terjemahan oleh Drs Tarmana Ahmad Qosim, Agustus 2003).

    Hadits Nabi ini menceritakan, sebenarnya turunnya perintah shalat itu terjadi di awal-awal masa kenabian. Berarti sejak awal masa kenabian beliau, Rasulullah saw memang sudah menjalani shalat. Bukan setelah peristiwa Isra’Mi’raj.

    Dan agaknya ini ada kaitannya dengan masa turunnya surat Al Fatihah. Dalam bukunya, ‘Al Fatihah, Membuka Mata Batin dengan Surat Pembuka’, Achmad Chodjim menuturkan bahwa Al Fatihah adalah surat yang diturunkan di awal-awal masa kenabian.

    Meskipun ada perbedaan pendapat tentang urutan ke berapa wahyu ini diturunkan, tetapi sebagian besar ulama sepakat bahwa surat Al Fatihah adalah surat yang diturunkan pertamakali secara lengkap 1 surat. Wahyu yang lainnya biasanya diturunkan secara terpotong-potong dalam satu atau beberapa ayat.

    Maka, kalau kita amati antara turunnya wahyu Al Fatihah dan datangnya Jibril mengajari shalat kepada Rasulullah saw terdapat pada kurun waktu yang hampir bersamaan. Atau bahkan mungkin saling berkaitan. Hal ini, karena surat Al Fatihah merupakan surat yang wajib dibaca dalam shalat. Rasulullah saw mengatakan, tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca al Fatihah.

    Dengan adanya berbagai informasi di atas, maka agaknya kita perlu menata kembali kefahaman tentang turunnya perintah shalat pada saat beliau Mi’raj. Khususnya, persepsi yang berkembang di beberapa kalangan Islam selama ini, bahwa shalat untuk pertama kalinya diperintahkan kepada umat Islam pada saat Rasulullah saw Mi’raj.

    Persepsi yang kedua, adalah yang berkait dengan ‘tata cara’ shalat. Diskusi kita di atas saya kira telah memberikan gambaran yang berbeda tentang turunnya perintah ‘tatacara’ shalat Rasulullah saw.

    Secara umum, kita telah dapat menangkap informasi, dari berbagai ayat di atas, bahwa gerakan-gerakan shalat para Nabi sebelum Rasulullah saw pun sama, yaitu ruku’ dan sujud. Gerakan ruku’ adalah gerakan membungkuk dari posisi berdiri, dan kemudian dilanjutkan dengan bersujud yaitu menyentuhkan dahi kita ke permukaan Bumi.

    Memang tidak ada penjelasan yang khusus tentang cara shalatnya umat sebelum Nabi Muhammad. Tetapi secara umum kita melihatnya memiliki dasar-dasar yang sama. Sehingga pada umat nasrani tertentu, di Timur Tengah, pun kita melihat mereka memiliki gerakan yang mirip dengan gerakan shalat umat Islam. Yaitu ada ruku’ dan sujudnya.

    Dan, shalat yang diajarkan oleh Rasulullah saw kepada kita itu berasal dari apa yang diajarkan oleh Jibril kepada beliau. termasuk cara berwudlunya. Praktek shalat telah beliau jalankan, jauh sebelum peristiwa Isra’dan Mi’raj.

    Yang menarik, tatacara shalat yang kita lakukan sebagai umat beliau ini adalah hasil penglihatan para sahabat terhadap shalat Rasulullah saw. Dan kemudian diteruskan pada generasi-generasi selanjutnya. Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan secara khusus, beliau cuma mengucapkan “shalatlah sebagaimana kamu melihat aku shalat E

    Maka pada jaman itu, para sahabat selalu mencermati melihat, mendengarkan, dan menirukan bagaimana shalatnya Rasulullah saw. Termasuk saling menceritakan tentang tatacara shalat beliau.

    Namun demikian, Rasulullah saw juga mengkoreksi praktek shalat yang dilakukan oleh sahabat. Di antaranya, yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim (diceritakan secara rinci dalam buku ‘Shalat Bersama Nabi Saw’, sebagaimana saya sebutkan di atas).

    Digambarkan ada seorang laki-laki masuk masjid, sementara Rasulullah saw berada di bagian lain masjid itu. Rasul melihat laki-laki itu melakukan shalat 2 rakaat. Selesai shalat, laki-laki itu mendekati Nabi dan mengucapkan salam. Rasulullah saw menjawabnya.

    Namun, beliau memerintahkan kepada laki-laki itu untuk mengulangi shalatnya: “Kembalilah, ulangi shalatmu, karena sesungguhnya kamu belum shalat”. Maka lelaki itu pun mengulangi shalatnya 2 rakaat. Setelah itu dia mendekat lagi kepada Nabi sambil mengucapkan salam.

    Rasul menjawab salamnya, tapi kemudian mengucapkan perintah yang sama : “Kembalilah, ulangi shalatmu, karena kamu sesungguhnya belum shalat.” Maka, lelaki itu pun kembali melakukan shalat, dan setelah itu kembali kepada Rasulullah saw. Tapi lagi-lagi Rasul menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya. Hal itu terjadi sampai tiga kali. Akhirnya, si lelaki ‘menyerah’ kepada Rasul.”

    Demi Tuhan yang mengutusmu dengan hak, aku tidak dapat melakukan shalat yang lebih baik dari pada ini (maka perlihatkanlah kepadaku) dan ajari aku karena sesungguhnya aku manusia biasa, kadang aku benar dan kadang aku salah. “Maka Rasulullah saw pun mengajari laki-laki tesebut, bagaimana cara shalat yang seharusnya.

    Kisah ini, selain menggambarkan kepada kita bahwa Rasulullah saw tidak memberikan pelatihan shalat secara khusus kepada setiap sahabat, tetapi beliau tetap mengkoreksi orang-orang yang tidak melakukan shalatnya secara baik. Bahkan, ada kesan, orang-orang yang tidak menguasai ilmu shalat dengan baik, kualitas shalatnya juga dianggap tidak baik. Sehingga, secara tegas Rasulullah saw mengatakan bahwa dia sebenarnya belum shalat, karena itu perlu mengulanginya.

    Kembali kepada tatacara shalat sebelum Rasulullah saw. Memang penulis belum menemukan penjelasan detil tentang perbedaan tatacara shalat Rasulullah saw dengan Rasul sebelumnya. Akan tetapi, secara umum, shalat mereka. memiliki makna yang sama. Apalagi dengan adanya gerakan ruku’ dan sujud.

    Sebagaimana saya uraikan di depan, shalat memiliki makna untuk berserah diri kepada Allah, mengagungkanNya, mensucikanNya, dan memuji KebesaranNya. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara shalat para Nabi itu. Akan tetapi, dalam bacaan yang diucapkan tentu memiliki perbedaan. Terutama pada Surat Al Fatihah dan syahadat serta shalawat yang dibaca pada saat Tasyahud. Hal ini disebabkan Al Fatihah memang baru turun pada zaman Rasulullah saw, dan syahadat serta. shalawat Nabi terkait langsung dengan beliau. Namun begitu, pada saat tasyahud akhir, kita yang umat Muhammad ini membaca shalawat untuk beliau dengan cara mendoakannya sebagaimana shalawat dan barokah yang dilimpahkan Allah kepada Nabi Ibrahim (dikenal sebagai shalawat lbrahimiyyah).

    Hal ini, memberikan penegasan kepada kita bahwa memang ada keterkaitan yang sangat erat antara shalat Muhammad saw dengan shalat Ibrahim a.s. Intinya sama, tapi dengan redaksi yang berbeda.

    Dalam buku ‘Shalat Bersama Nabi Saw’ dikatakan bahwa bacaan tasyahud diajarkan secara jelas oleh Rasulullah saw dengan redaksi tertentu. Sedangkan, setelah itu kita diwajibkan membaca shalawat Nabi, dengan redaksi yang lebih longgar. Dan sesudah bacaan shalawat itu kita. disunnahkan untuk berdo’a, menjelang salam.

    Bacaan tasyahud akhir.

    Attahiyatul mubaarakatush shalawaatuth thayyibaatulillah

    Assalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatullaahi

    wabarakaatuh assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadilahish

    shaalihin Asyhadu anlaa i1aaha ifiallaah wa asyhadu anna

    Muhammadarrasulullaah

    “Salam sejahtera penuh berkah, dan shalawat (rahmat) yang baik (semuanya) hanya milik Allah. Semoga salam sejahtera ditetapkan kepada engkau wahai Nabi, dan rahmat serta berkah (dari) Allah SWT Dan semoga pula salam sejahtera dilimpahkan kepada kami dan kepada semua hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. E

    Bacaan Shalawat:

    Allaahumma shalli’alaa Muhammad wa’ala ‘ali Muhammad kamaa shallaita ‘alaa lbraahim wa’alaa ‘ali Ibrahim wa baarik’alaa Muhammad wa’alaa ‘ali Muhammad kamaa baarakta ‘alaa lbraahim wa ‘alaa ‘ali lbraahim fil ‘alaamfina innaka hamfidum majiid.

    “Ya Allah berikanlah shalawat (rahmat) kepada Nabi Muhamad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana telah Engkau berikan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Dan berikanlah berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana telah Engkau berikan berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau di seluruh alam, Maha Terpuji dan Maha Mulia.

    Maka dalam hal ‘tatacara’ shalat terkait dengan Isra’ Mi’raj, kita memperoleh ‘tanda-tanda’ atau ‘jejak’ bahwa tidak seluruh tatacara shalat Rasulullah saw yang kita jalankan sekarang ini diturunkan pada zaman Rasulullah saw. Sebagian besar dan pokok ternyata telah diajarkan sejak zaman Nabi Ibrahim. Dan kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad lewat perantaraan malaikat Jibril.

    Perintah untuk mengikuti Nabi Ibrahim itu banyak kita temui di dalam Al Qur’an, di antaranya adalah ayat-ayat di bawah ini.

    QS. An Nahl (16): 123

    “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

    QS. An Nisaa’ (4): 125

    “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”

    QS. Ali Imran (3): 95

    Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.

    QS. Yusuf (12): 38

    “Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri (Nya).”

    Yang ketiga, persepsi mengenai shalat 5 waktu. Persepsi tentang turunnya perintah shalat 5 waktu pada saat Mi’raj Rasulullah saw lebih menemukan pijakannya, dibandingkan dengan perintah tentang ‘tata cara’ dan ‘perintah shalat pertama kali’ yang telah kita diskusikan di atas.

    Perintah shalat 5 waktu itu, telah kita ketahui diceritakan dalam hadits tentang Isra’ Mi’raj yang, kita bahas di atas. Selain itu, perintah tentang waktu-waktu shalat juga difirmankan Allah dalam ayat berikut ini.

    QS Al Israa’ (17): 78

    “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”

    Dalam tafsir Al Misbah, vol 7 : 525, Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat tersebut memberikan perintah shalat 5 waktu secara langsung. Yang dimaksud dengan sesudah matahari tergelincir (li duluk asy syams) adalah shalat Dhuhur, Ashar dan Maghrib. Sedangkan yang dimaksud sampai gelap malam (ilaa ghasaq al lail) adalah shalat lsya’. Dan shalat subuh diistilahkan sebagai Qur-aan al fajr.

    Menurut Quraish Shihab, penempatan perintah shalat 5 waktu dalam surat al Israa’ ini sangatlah tepat, karena berkait langsung dengan cerita Isra’ Mi’raj yang membawa ‘oleh-oleh’ perintah shalat 5 waktu. Meskipun kita tidak menemukan penjelasan yang eksplisit dalam firman Allah bahwa perintah shalat 5 waktu itu diterima oleh Rasulullah saw pada saat Mi’raj di langit ke tujuh.

    Quraish Shihab menjelaskan bahwa turunnya surat al Israa’ ini memang terjadi sebelum peristiwa Hijrah. Artinya, turun di Mekkah di sekitar peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut.

    Jadi dalam persepsi ini dikatakan, bahwa sebenarnya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj ini Rasulullah saw memang tidak menerima perintah menjalankan shalat. Atau juga tidak diajari tata cara shalat. Rasulullah cuma menerima perintah, yaitu umat Muhammad mesti menjalankan shalat 5 waktu dalam sehari semalam. Akan tetapi mengenai tatacaranya sudah diterima oleh Rasulullah saw di awal-awal masa kenabian beliau dari malaikat Jibril. Bahkan beliau sudah menjalankannya.

    Persepsi yang ke empat, adalah pendapat yang mengatakan bahwa perjalanan Isra’Mi’raj itu bukan bertujuan menerima perintah shalat. Melainkan sebuah perjalanan yang dimaksudkan Allah untuk ‘memompa’ semangat Rasulullah saw dalam memperjuangkan penyampaian risalah Islam. Karena pada waktu itu Rasulullah saw memang sedang mengalami keprihatinan yang sangat mendalam, akibat Lantas Allah menunjukkan tanda-tanda KebesaranNya di alam semesta kepada Rasulullah saw, dengan maksud membesarkan hati beliau. Sekaligus memberikan keyakinan yang lebih besar tentang kekuasaanNya. Sedangkan perintah shalat 5 waktu, menurut persepsi ini, diterima beliau lewat wahyu seperti biasanya. Termasuk perintah shalat yang terdapat pada QS. Al lsraa’ (17) : 78 tersebut.

    Pendapat ini didasarkan pada Firman Allah SWT dalam QS. Al Israa’ (17): 1, yang bercerita tentang perjalanan Isra’, maupun QS. An Najm (53): 14-18 yang dijadikan dasar pijakan cerita Mi’raj. Kedua-duanya tidak menyinggung perintah shalat, melainkan bertujuan ‘mempertontonkan’ kebesaran Allah di alam semesta. Mulai dari langit pertama sampai ke tujuh, di Sidratul Muntaha.

    Apalagi kalau kita ingat bahwa ternyata masjid al-Haram dan masjd al Aqsha tersebut adalah dua masjid yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, dalam masa perjuangan beliau menyebarkan agama Islam. Maka, dalam konteks ini, Rasulullah saw diutus untuk napak tilas rute perjuangan Nabi Ibrahim itu bersama Jibril. Dimulai dari Mekkah ke Palestina kemudian balik lagi ke Mekkah.

    Ini juga ada kaitannya dengan informasi Al Qur’an bahwa rumah ibadah yang tertua memang ada di Mekkah. Sedangkan yang di Palestina (al Aqsha) dibangun oleh Ibrahim sesudah yang di Mekkah. Dalam hadits Bukhari Muslim, yang diriwayatkan oleh Abu Dzar, Rasulullah mengatakan bahwa al Aqsha dibangun sekitar 40 tahun sesudah yang di Mekkah

    (Tafsir al Misbah, vol. 7, Quraish Shihab, h1m. 404)

    QS. Ali lmran (3): 96

    “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

    Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Barra’ra, katanya : setelah Rasulullah saw, sampai di Madinah, beliau sembahyang menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Beliau ingin supaya diperintahkan menghadap ke Ka’bah. Maka diturunkan oleh Allah ayat “Sesungguhnya telah Kami lihat tengadah mukamu ke langit (berdoa). Sebab itu Kami palingkan mukamu menghadap kiblat yang engkau sukai. (QS. 2: 144). Beliau diperintahkan menghadap ke arah Kabah. Ada seorang laki-laki sembahyang Ashar bersama dengan Nabi saw, kemudian itu dia pergi dan bertemu dengan satu kumpulan kaum Anshar. Lalu dia mengatakan, bahwa dia hadir sembahyang bersama Nabi saw. Dan beliau telah diperintahkan menghadap ke arah Kabah. Lalu orang yang sedang sembahyang itu berputar ketika sedang ruku’ dalam sembahyang Ashar.

    Hadits ini bercerita tentang arah kiblat Rasulullah saw sesudah terjadinya Isra’ Mi’raj. Beliau menghadap ke Baitul Maqdis selama 16 atau 17 bulan. Akan tetapi, hal itu memunculkan ‘rasan-rasan’ yang kurang mengenakkan hati dari orang-orang Yahudi, bahwa shalatnya umat Islam menghadap ke arah tanah kelahiran mereka. Maka, Rasulullah saw pun berdo’a kepada Allah sambil berharap turunnya perintah tentang arah kiblat. Dan memang lantas turun QS. Al Badarah (2) : 144, sebagaimana diceritakan oleh hadits di atas.

    Dengan adanya cerita-cerita di atas, maka kita melihat adanya keterkaitan antara sejarah kedua masjid tersebut, dengan perjuangan penyampaian agama Islam oleh Nabi-Nabi sebelumnya, serta dengan tatacara shalat pada zaman Nabi Muhammad, termasuk penentuan kiblatnya.

    Dalam tafsir al Misbah, vol 7, Quraish Shihab, halaman 405 diceritakan bahwa perjalanan Isra’ Mi’raj itu menjadi semacam Isyarat tentang ajaran tauhid yang dibawa para Nabi sejak zaman Ibrahim as sampai Nabi Muhammad saw. Agama Islam dikembangkan dimulai dari Masjid al Haram, kemudian berkembang ke Palestina, berpusat di Baitul Maqdis, dan kemudian berakhir di Masjid al Haram lagi.

    Maka, persepsi yang keempat ini lantas memperoleh pijakan yang kuat, berdasarkan firman-firman Allah di dalam al Qur’an. Untuk itu, di bawah ini saya kutipkan lagi kedua surat yang terkait dengan perjalanan tersebut.

    QS. Israa’ (17): 1 -Kisah Israa’

    “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba Nya pada suatu malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (Kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

    QS. An Najm (53): 14 – 18 -Kisah Mi’raj

    “Di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada Surga tempat tinggal. Ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu, dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda Kekuasaan Tuhannya yang paling besar”

    Kalau kita mencoba mencermati kembali QS. lsraa’(17): 1, maka kita tidak memperoleh sedikit pun tentang perintah shalat. Padahal itulah satu-satunya ayat yang menceritakan perjalanan Rasulullah saw dari Mekkah ke Palestina. Bahkan, dengan sangat gamblang Allah menginformasikan di ayat itu, “agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (Kebesaran) Kami.” (linuriyahu min aayaatinaa). Jadi menurut ayat tersebut, tujuan Allah memperjalankan Rasulullah saw dari Mekkah ke Palestina adalah untuk menunjukkan tanda-tanda Kebesaran Allah di alam semesta.

    Demikian pula, kalau kita lihat ayat-ayat di surat An Najm: 14-18, yang menggambarkan kejadian Mi’raj. Ayat-ayat inilah yang dijadikan pijakan oleh para ulama untuk memahami peristiwa Mi’raj Rasulullah saw. Dan sekali lagi ayat-ayat tersebut tidak menceritakan tentang perintah shalat. Melainkan, untuk menunjukkan betapa hebatnya ciptaan Allah yang telah dipertontonkanNya kepada Rasulullah di langit yang ke tujuh.

    “Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda Kekuasaan Tuhannya yang paling besar” (laqad ra-aa min aayaati rabbihil qubraa).

    Tentang kejadian Isra’ Mi’raj ini, ada ulama yang berpendapat bahwa keduanya terjadi dalam satu paket perjalanan, sebagaimana digambarkan oleh hadits Shahih Muslim, dari Anas Ibn Malik. Namun ada juga yang berpendapat bahwa antara Isra’ dan Mi’raj sebenarnya terjadi dalam waktu yang berbeda. Alasan pendapat yang kedua ini didasarkan pada ayat-ayat yang digunakan Allah untuk menceritakan Isra’ Mi’raj itu adalah ayat yang berbeda. dan turun dalam masa yang berbeda pula.

    Namun demikian, dalam konteks pembahasan turunnya shalat, kedua-duanya tidak menceritakan tentang perintah shalat. Melainkan bertujuan untuk menunjukkan Kekuasaan dan Kebesaran Allah di alam semesta. Sedangkan perintan shalat diberikan Allah lewat wahyu-wahyu seperti biasanya. Dan tata cara shalatnya diajarkan oleh Jibril di awal-awal masa kenabian beliau.

    Berikut ini adalah sebagian dari puluhan perintah shalat yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah saw.

    QS. Al Baqarah (2): 43

    “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku.”

    QS. Al Baqarah (2): 45

    “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”

    QS. Al Baqarah (2): 110

    Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.

    QS. Al Baqarah (2): 153

    Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

    QS. Al Baqarah (2): 238

    Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.

    QS. An Nisaa’ (4): 43

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”

    QS. An Nisaa’ (4): 103

    “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    QS. Al Maa-idah (5): 6

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, danjika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih);sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

    QS. Ibrahim (14): 31

    “Katakanlah kepada hamba-hamba Ku yang telah beriman. Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang terangan sebelum datang harrii (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan”

    QS. Al Hijr (15): 98

    maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat).

    QS. Al Israa’ (17): 78

    Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

    QS. Thaahaa (20):14

    Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

    QS. Thaahaa (20): 132

    Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

    QSAl ‘Ankabuut (29): 45

    Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    Lebih jelas lagi soal datangnya perintah shalat itu, kalau kita membaca ayat-ayat di dalam surat Al Muzammil (73) : 1 – 9. Ayat-ayat ini adalah wahyu di awal-awal masa kenabian. Bahkan ini adalah wahyu kedua setelah turunnya surat Al ‘Alaq. Ya, di wahyu kedua itu Allah sudah memerintahkan kepada Nabi untuk melakukan shalat.

    QS. Al Muzammil (73):1 – 9

    “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada Nya dengan penuh ketekunan. (Dia lah) Tuhan masyriq dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.”

    Di ayat-ayat tersebut Allah telah memerintahkan Nabi untuk melakukan shalat malam, secara khusyu’, sebagai persiapan untuk menerima wahyu-wahyu berikutnya yang sangat berat. Ini menunjukkan kepada kita bahwa perintah shalat itu memang sudah turun sejak awal masa kenabian beliau. Dan ini sesuai dengan hadits Nabi yang mengatakan bahwa Jibril datang kepada beliau untuk mengajarkan tatacara wudlu dan tatacara shalat di awal-awal masa kenabian.

    Dan masih banyak lagi ayat-ayat di dalam al Qur’an yang memerintahkan untuk menjalankan ibadah shalat. Jumlah ayat tentang shalat tersebut ada puluhan. Mulai dari yang mengandung perintah mengerjakan, waktu pelaksanaannya, cara mencapai kekhusyukan, sampai perintah agar kita paham apa yang kita baca di dalam shalat. Semuanya telah difirmankan Allah dengan jelas.

    Yang belum jelas di dalam al Qur’an adalah tentang tatacara shalat itu sendiri. Nah, untuk itu Rasulullah saw mengatakan kepada umatnya agar melihat dan menirukan tatacara shalat yang beliau lakukan sepanjang hidupnya. Dan, tatacara shalat itu langsung kita praktekkan secara turun temurun sejak dulu sampai sekarang. Itulahtatacara shalat yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada beliau.

    Kembali kepada pembahasan kita tentang persepsi ke empat. Dengan demikian mereka berpendapat, bahwa perintah shalat itu sebenarnya disampaikan Allah kepada Rasulullah saw lewat firman dalam berbagai ayatNya. Termasuk yang berkait dengan waktu-waktu pelaksanaannya, mulai Subuh sampai Isya’.

    Jadi shalat 5 waktu itu pun diperintahkan Allah lewat wahyu sebagaimana wahyu yang lain. Bukan lewat Isra’ dan Mi’raj. Kenapa demikian? Karena ternyata perintah shalat 5 waktu itu bisa kita temukan dalam al Qur’an, diantaranya adalah QS. An Nisaa’: 103 dan QS. Israa: 78.

    Perjalanan Isra’ Mi’raj, lantas dimaknai sebagai perjalanan yang memberikan penegasan terhadap Kebesaran Allah di alam semesta, kepada Rasulullah saw. Karena itu, selama dalam perjalanan tersebut diperlihatkan seluruh petilasan agama-agama tauhid yang diperjuangkan oleh para Rasul sebelum beliau. Sehingga dikabarkan juga, beliau berhenti di beberapa tempat petilasan para Rasul terdahulu. Dan disana beliau melakukan shalat 2 rakaat. Hal ini untuk, memberikan motivasi yang besar kepada Rasulullah saw bahwa para Nabi terdahulu juga mengalami perjuangan yang berat. Ltulah ‘pesan’ yang ada pada perjalanan Isra’ dari Mekkah, ke Palestina.

    Sedangkan perjalanan Mi’raj ke langit ke tujuh adalah perjalanan spiritual melintasi berbagai dimensi yang menghasilkan pelajaran kekhusyukan dalam shalat. Hal ini, telah saya uraikan di bagian terdahulu tentang Mi’raj Rasulullah saw menembus berbagai batas langit. Dimana kekhusyukan beliau itu telah memberikan penglihatan-penglihatan yang menakjubkan di setiap perpindahan dimensi.

     
    • hevnypmu 8:52 am on 11 Maret 2013 Permalink

      bagus

    • honeysmile17 4:38 pm on 4 Mei 2013 Permalink

      Benar sekali sholat, sudah dilakukan sejak dulu oleh para nabi … kalau ada perintah sholat pada jaman nabi muhammad ketika isro’ mi’roj dan Allah memerintahkan kepada nabi muhammad sebagai wahyu sholat 5-waktu sebagai suatu perintah terakhir yang disetujui nabi muhammad yang sebelumnya terjadi tawar menawar dengan Allah … dari jumlah 50-waktu akhirnya menjadi 5-waktu… Allah kalau berfrman memerintahkan hanya sekali dan harus dilaksanakan … bisa dilihat firman-2-Nya dalam al-quran .. sedangkan perintah sholat terjadi tawar menawar dengan manusia sebagai nabi …menurut saya tidak masuk akal … mana ada Allah tawar menawar dengan manusia kaya jual beli aja, sepertinya inforrmasi wahyu sholat 5-waktu itu terjadi karena tawar menawar adalah cerita yang sangat lucu adanya menurut saya …

    • nothing 6:03 pm on 18 Juni 2013 Permalink

      Bagaimana klo orang yg kena santet apa harus sholat dalam keadaan kesakitan kena santet. Apa wajib diadakan sumpah pocong untuk membantu mencari dan mendamaikan korban dengan pelaku dukun si penyantet.

    • honeysmile17 3:13 pm on 19 Juni 2013 Permalink

      Bila ada perselisihan diantara manusia/mukmin… maka kembalilah berhukum kepada Petunjuknya yaitu Al-Quran ….jangan berhukum kepada yang lain.. lihat Firman-Nya 6/106, 7/3, 43/43 …please buka petunjukmu.. semoga kamu menjadi faham..

  • erva kurniawan 1:06 am on 14 June 2012 Permalink | Balas  

    Godaan Menjelang Hari Pernikahan   

    Sejak era 80-an pesta pernikahan seringkali dilakukan di “gedung” daripada di rumah. Semakin lama untuk memperoleh gedung yang dapat digunakan untuk acara pernikahan menjadi semakin jauh dari waktu acara akan dilakukan. Untuk mendapatkan tempat memakan waktu enam bulan, bahkan sampai satu tahun. Hal tersebut, tentu saja membawa pengaruh dalam persiapan mental seseorang yang akan menikah. Jika dahulu sepasang anak manusia yang mau menikah, dapat langsung menikah beberapa saat kemudian Karena tidak perlu memesan gedung berikut aksesori yang terkait dengan pesta pernikahan tersebut. Dengan demikian, seringkali niat suci sepasang manusia yang akan menikah menjadi tertunda untuk dapat melaksanakannya, bahkan terkadang niat suci tersebut terselenggara dalam keadaan tidak suci lagi.

    Dalam beberapa kondisi yang penulis temukan, beberapa pasang calon mempelai terjebak melakukan hal-hal yang seharusnya mereka jaga kesuciannya sebelum akad nikah dilaksanakan akibat panjangnya waktu antara niat suci tersebut diikrarkan dengan waktu pelaksanaan ibadah suci tersebut. Kondisi yang serba permisif saat ini turut pula menambah kesempatan untuk melakukan hal-hal yang belum waktunya dilakukan.

    Pernah sebuah kejadian yang penulis temukan, yakni seorang anak muda yang “taat” beribadah melakukan hal yang belum dibenarkan untuk dilakukan dengan calon isterinya beberapa hari sebelum akad dilaksanakan karena kondisi yang membuat mereka tidak menyadari apa yang mereka lakukan. Sebagaimana banyak ditemukan, semakin dekat dengan akan dilaksanakannya acara pernikahan, maka semakin banyak pula tekanan yang diterima. Sang anak muda dan calon isterinya berkeluh kesah dan saling “curhat” terhadap tekanan-tekanan yang mereka terima baik menyangkut segala “tetek-bengek” acara yang tak kunjung “beres” dan permintaan-permintan dari keluarga dan berbagai pihak yang cukup “memusingkan”. Untuk saling menenangkan hati, maka mereka saling ‘curhat” berduaan, mulai dari kata-kata hingga gerakan dan akhirnya tanpa disadari mereka telah jauh melangkah melakukan hal yang telah mereka jaga selama ini.

    Sang anak muda dengan penuh penyesalan menyampaikan “keteledorannya” kepada penulis. Dia menyesal tidak dapat menjaga kesucian niat suci mereka untuk menempuh kehidupan suci berumahtangga hanya beberapa hari sebelum acara suci tersebut dilakukan. Penulis hanya dapat menyampaikan, bahwa sesuatu yang telah terjadi tidak ada gunanya disesali terus menerus. Hanya minta ampun kepada Allah yang dapat menjadi jalan keluarnya.

    Kejadian sepasang anak manusia yang telah berniat suci untuk mengarungi bahtera rumah tangga sakinah mawaddah waramah yang ternoda sebelum niat suci tersebut terlaksana, bukan hanya dialami oleh anak muda di atas. Beberapa kasus yang hampir serupa penulis temui pula pada beberapa pasang anak muda lainnya. Ada yang beberapa hari menjelang pernikahan seperti di atas, ada yang sebulan sebelum akad nikah dilangsungkan, ada yang dua bulan atau tiga bulan sebelum acara suci tersebut dilaksanakan. Mereka berbeda dengan pasangan-pasangan yang menikah karena “kecelakaan” dan berbeda sama sekali dengan orang-orang yang hidup bebas tanpa ikatan pernikahan.

    Mereka telah merencanakan suatu kehidupan suci untuk membentuk keluarga sakinah mawadah waramah. Namun di tengah jalan, sebelum kehidupan suci tersebut mereka lalui, mereka “tanpa sadar” telah menodai kesucian niat suci yang mereka ikrarkan. Kondisi ini mungkin lebih berat daripada kondisi orang-orang yang sebelum ketemu pasangan dalam rumah tangga mereka telah terjerumus melakukan pergaulan bebas dengan orang lain, dan kemudian mereka insyaf lalu menikah dengan orang lain. Suatu perbuatan masa lalu yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, seringkali menghantui alam bawah sadar seseorang. Seorang yang melakukan perbuatan “terlarang” dengan orang lain mungkin tidak akan seberat orang yang pernah melakukan perbuatan “terlarang” dengan pasangan “syah” nya sendiri. Orang yang taubat dan telah melakukan perbuatan “terlarang” dengan bukan pasangan “syah”nya akan berkurang rasa penyesalannya karena tidak menemui orang yang pernah melakukan dosa bersamanya, sedangkan orang yang melakukan dengan orang yang saat ini telah menjadi pasangan “syah”nya setiap dia ingat dosanya dia akan menemui orang yang pernah bersama melakukan dosa dengannya.

    Oleh karena itu, saya sering menghimbau kepada pasangan-pasangan muda yang telah merencanakan pernikahan mereka, tetapi dilakukan dengan jarak waktu yang cukup panjang karena berbagai macam “persiapan” yang harus dilakukan sebelum pernikahan itu sendiri dilakukan, untuk menjaga diri mereka untuk tidak terlalu sering berdua-duaan karena syetan tidak pernah relah melihat anak manusia hidup dengan kesucian. Banyak dari mereka yang merasa yakin bahwa mereka cukup kuat dengan iman yang dimiliki. Namun pada akhirnya, anak-anak manusia yang yakin dengan keimanan mereka tadi, tidak sedikit yang terjerembab menodai ikrar suci yang akan mereka laksanakan. Oleh karena itu, Al Qur’an secara tegas menyatakan bahwa jangan kau dekati zinah. Jadi bukan hanya zinah yang dilarang. Berdua-duaan di tempat yang tak terawasi merupakan pintu untuk mendekati zinah bahkan zinah itu sendiri.

    Ketaatan beribadah seseorang tidak menjadi jaminan, bahwa syetan tidak akan menggoda mereka. Semakin kuat iman seseorang akan semakin kuat syetan yang diutus untuk menggoda anak manusia yang sedang berdua-duaan sebelum ikrar suci mereka terlaksana. Akhirnya penyesalan datang karena mereka tidak sempat menikmati malam pertama mereka nan suci. Kondisi tersebut ibarat seorang yang berpuasa sedang menunggu bedug maghrib, tetapi tergoda menikmati makanan yang disiapkannya untuk berbuka puasa menjelang azan maghrib berkumandang. Nauzubillah min zalik.

    ***

    Penulis: MERZA GAMAL

    (Tulisan ini kupersembahkan untuk “anak-anakku” yang sedang menanti pelaksanaan ikrar suci mereka)

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 13 June 2012 Permalink | Balas  

    Allah Menjawab Doa Dengan Cara-Nya

    Masalah terbesar dari doa adalah bagaimana membiarkannya mengalir dan mengizinkan Allah menjawab dengan cara-NYA. Pada suatu hari, seorang wanita sedang mengajar keponakannya. Dia biasanya menyimak apa yang diajarkan bibinya, tetapi kali ini dia tidak bisa berkonsentrasi.

    Ternyata salah satu kelerengnya hilang. Tiba-tiba anak itu berkata: “Bi, bolehkan aku berlutut dan meminta Allah untuk menemukan kelerengku?”

    Ketika bibinya mengizinkan, anak itu berlutut di kursinya, menutup matanya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia bangkit dan melanjutkan pelajaran.

    Keesokan harinya, bibinya yang takut doa keponakannya tidak terjawab dan dengan demikian melemahkan imannya, dengan khawatir bertanya: “Sayang apakah engkau sudah menemukan kelerengmu?”

    “Tidak Bi”, jawab anak itu, “tetapi Allah telah membuatku tidak menginginkan kelereng itu lagi.”

    Alangkah indahnya iman anak itu. Allah memang tidak selalu menjawab doa kita menurut kehendak kita, tetapi jika kita tulus berdoa, Dia akan mengambil keinginan kita yang bertentangan dengan kehendakNya.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • susi 10:23 pm on 16 Juni 2012 Permalink

      Subhanallah.

  • erva kurniawan 1:58 am on 12 June 2012 Permalink | Balas  

    Rukhsah Shalat dari Allah

    Islam adalah agama yang mudah dan banyak sekali memberikan kemudahan (rukhsah) bagi umatnya. Termasuk dalam hal pelaksanaan ibadah shalat atas apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Berikut ini di antara bentuk-bentuk kemudahan dari Allah SWT tersebut.

    1. Membukakan pintu ketika sedang shalat.

    Hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah sedang shalat di rumah dan pintu terkunci dari dalam, lalu saya datang dan meminta agar dibukakan pintu, lalu Rasulullah bergerak membuka pintu kemudian melanjutkan shalatnya.” Aisyah berkata, “Pintu itu berada di arah kiblat.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

    Namun, sebelum melakukan gerakan tersebut (membuka pintu), hendaknya orang yang sedang shalat mengeraskan bacaan takbirnya agar diketahui oleh orang yang mengetuk pintu. Jika tidak mengerti juga maka hendaknya membuka pintu dengan gerakan yang sangat halus dan tidak memalingkan tubuhnya dari arah kiblat.

    2. Shalat sambil menggendong bayi atau balita

    Ada sebuah pertanyaan. Apa yang dilakukan seseorang (ibu) jika ia mempunyai bayi atau balita yang rewel yang menyebabkan ia susah melaksanakan shalat karena kerewelannya?

    Islam adalah agama yang mudah dan memudahkan pemeluknya untuk melakukan ibadah tanpa terhalang oleh apa pun. Oleh karena itu, dalam kasus di atas, jika tidak ada orang lain yang mengasuhnya atau seseorang yang menjaganya ketika kita akan melakukan shalat, sebagai rukhsah (keringanan) bagi kita adalah kita boleh menggendongnya ketika kita shalat.

    Adapun caranya adalah sebagai berikut.

    1. Sebelum digendong terlebih dahulu bersihkan dari segala macam najis yang menempel pada bayi atau balita.
    2. Niat seperti biasa sambil menggendong bayi atau balita.
    3. Tangan tidak perlu diangkat ketika takbir dan juga tidak bersedekap di atas dada, karena hukum mengangkat tangan dan menyedekapkan di atas dada adalah sunah.
    4. Ketika rukuk, tangan tidak perlu diletakkan di atas lutut, tapi tetap memegang erat bayi atau balita.
    5. Ketika hendak sujud, letakkan bayi atau balita tersebut di tempat yang mudah dijangkau tanpa gerakan yang berlebihan.
    6. Laksanakan seperti itu hingga shalat selesai.

    Hal ini berdasarkan hadist dari Abu Qatadah, ia berkata, “Rasulullah shalat sedang cucunya Umamah putri Zainab berada di punggungnya. Bila beliau rukuk, diletakkannya cucunya tersebut dan bila berdiri dari sujud, diambilnya kembali dan diletakkan di punggungnya seperti semula.”

    Dari Abdullah bin Syidad dari ayahnya berkata, “Pada suatu ketika Rasulullah keluar untuk mengerjakan shalat Zuhur atau Asar, beliau membawa cucunya Hasan atau Husein, lalu maju ke depan dan meletakkan cucunya kemudian bertakbir. Ketika sujud, beliau sujud lama sekali hingga terangkat kepalaku. Terlihat olehku, ternyata sang cucu sedang berada di punggung Rasulullah, maka aku pun kembali sujud. Setelah selesai shalat, para jamaah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, lama sekali Anda sujud hingga kami mengira bahwa telah terjadi sesuatu atau wahyu sedang diturunkan kepadamu.’ Rasulullah menjawab, ‘Semua itu tidak terjadi, melainkan ketika itu cucuku sedang berada di punggungku dan aku tidak mau mengganggunya hingga dia merasa puas bermain-main.” (HR Ahmad, An-Nasa`i, dan Hakim)

    3. Memberi isyarat dalam shalat.

    Diperbolehkan memberi isyarat kepada orang yang sangat membutuhkan. Misalnya seseorang yang menanyakan kunci kendaraan, sedangkan kita sedang melaksanakan shalat dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya selain kita. Sedangkan dia sangat membutuhkan kendaraan, atau memberi isyarat kepada seseorang untuk melakukan sesuatu, atau memberi isyarat ketika menjawab salam. Hal ini berdasarkan pada sebuah hadits:

    Jabir bin Abdullah ra berkata, “Aku diperintahkan oleh Nabi agar datang menemuinya, karena pada waktu itu beliau hendak pergi bertemu dengan Bani Musthalik, kebetulan aku tiba ketika Nabi sedang shalat di atas kendaraannya. Aku berkata-kata kepadanya, maka beliau pun memberikan isyarat dengan tangannya sambil menganggukkan kepalanya sedangkan aku mendengarkan bacaan shalat beliau. Setelah selesai shalat, beliau bertanya kepadaku, “Bagaimana tugas yang aku berikan kepadamu? Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab ucapanmu, karena ketika itu aku sedang shalat.” (HR Muslim dan Ahmad)

    Hadits lain menerangkan, Syuaib berkata, “Subhaanallah”, dan bagi makmum perempuan dengan menepukkan tangan sehingga menimbulkan bunyi. Dengan bunyi tersebut, imam akan segera menyadari kesalahannya dan memperbaikinya. Hal ini didasarkan pada hadist, dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah bersabda, “Aku berjalan di dekat Rasulullah ketika beliau sedang melaksanakan shalat. Aku pun mengucapkan salam kepadanya dan beliau menjawab dengan isyarat.” (HR At-Tirmidzi dan Ahmad)

    ***

    Artikel ini dikutip dari buku “Panduan Pintar Shalat”

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 11 June 2012 Permalink | Balas  

    Iman, Islam, dan Ihsan

    Pokok ajaran Islam ada 3, yaitu: Iman, Islam dan Ihsan. Dasarnya adalah hadits sebagai berikut:

    Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata, “Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.” Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.” Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.” Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.” Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan.” Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda. Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).” Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata. Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)

    a. Rukun Iman 6 Perkara

    Iman adalah keyakinan kita pada 6 rukun iman. Islam adalah pokok-pokok ibadah yang wajib kita kerjakan. Ada pun Ihsan adalah cara mendekatkan diri kita kepada Allah.

    Tanpa iman semua amal perbuatan baik kita akan sia-sia. Tidak ada pahalanya di akhirat nanti:

    Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun…” [An Nuur:39]

    Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” [Ibrahim:18]

    Iman ini harus dilandasi ilmu yang mantap sehingga kita bisa menjelaskannya kepada orang lain. Bukan sekedar taqlid atau ikut-ikutan.

    Sebagaimana hadits di atas, rukun Iman ada 6. Pertama Iman kepada Allah. Artinya kita meyakini adanya Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah. Di bab-bab berikutnya akan dijelaskan secara rinci tentang hal ini.

    Rukun Iman yang kedua adalah iman kepada Malaikat-malaikat Allah. Kita yakin bahwa Malaikat adalah hamba Allah yang selalu patuh pada perintah Allah.

    Rukun Iman yang ketiga adalah beriman kepada Kitab-kitabNya. Kita yakin bahwa Allah telah menurunkan Taurat kepada Musa, Zabur kepada Daud, Injil kepada Isa, dan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad. Namun kita harus yakin juga bahwa semua kitab-kitab suci di atas telah dirubah oleh manusia sehingga Allah kembali menurunkan Al Qur’an yang dijaga kesuciannya sebagai pedoman hingga hari kiamat nanti.

    Maka kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” [Al Baqarah:79]

    Kita harus meyakini kebenaran Al Qur’an dan mengamalkannya:

    Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” [Al Baqarah:2]

    Rukun Iman yang keempat adalah beriman kepada Rasul-rasul (Utusan) Allah. Rasul/Nabi merupakan manusia yang terbaik yang pantas dijadikan suri teladan yang diutus Allah untuk menyeru manusia ke jalan Allah. Ada 25 Nabi yang disebut dalam Al Qur’an yang wajib kita imani di antaranya Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad.

    Karena ajaran Nabi-Nabi sebelumnya telah dirubah ummatnya, kita harus meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir yang harus kita ikuti ajarannya.

    Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi…” [Al Ahzab:40]

    Rukun Iman yang kelima adalah beriman kepada Hari Akhir (Kiamat/Akhirat). Kita harus yakin bahwa dunia ini fana. Suatu saat akan tiba hari Kiamat. Pada saat itu manusia akan dihisab. Orang yang beriman dan beramal saleh masuk ke surga. Orang yang kafir masuk neraka.

    Selain kiamat besar kita juga harus yakin akan kiamat kecil yaitu mati. Setiap orang pasti mati. Untuk itu kita harus selalu hati-hati dalam bertindak.

    Rukun Iman yang keenam adalah percaya kepada Takdir/qadar yang baik atau pun yang buruk. Meski manusia wajib berusaha dan berdoa, namun apa pun hasilnya kita harus menerima dan mensyukurinya sebagai takdir dari Allah.

    b. Rukun Islam 5 Perkara

    Ada pun rukun Islam terdiri dari 5 perkara. Barang siapa yang tidak mengerjakannya maka Islamnya tidak benar karena rukunnya tidak sempurna.

    Rukun Islam pertama yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Asyhaadu alla ilaaha illallaahu wa asyhaadu anna muhammadar rasuulullaah. Artinya kita meyakini hanya Allah Tuhan yang wajib kita patuhi perintah dan larangannya. Jika ada perintah dan larangan dari selain Allah, misalnya manusia, yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah, maka Allah yang harus kita patuhi. Ada pun Muhammad adalah utusan Allah yang menjelaskan ajaran Islam. Untuk mengetahui ajaran Islam yang benar, kita berkewajiban mempelajari dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad.

    Konsekwensi dari 2 kalimat syahadat adalah kita harus mempelajari dan memahami Al Qur’an dan Hadits yang sahih (minimal Kutuubus sittah: Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, An Nasaa’i, dan Ibnu Majah) dan mengamalkannya.

    Rukun Islam kedua adalah shalat 5 waktu, yaitu: Subuh 2 rakaat, Dzuhur dan Ashar 4 raka’at, Maghrib 3 rakaat, dan Isya 4 raka’at. Shalat adalah tiang agama barang siapa meninggalkannya berarti merusak agamanya.

    Rukun Islam ketiga adalah puasa di Bulan Ramadhan. Yaitu menahan diri dari makan, minum, hubungan seks, bertengkar, marah, dan segala perbuatan negatif lainnya dari subuh hingga maghrib.

    Rukun Islam keempat adalah membayar zakat bagi para muzakki (orang yang wajib pajak/mampu). Ada pun orang yang mustahiq (berhak menerima zakat seperti fakir, miskin, amil, mualaf, orang budak, berhutang, Sabilillah, dan ibnu Sabil) berhak menerima zakat. Zakat merupakan hak orang miskin agar harta tidak hanya beredar di antara orang kaya saja.

    Rukun Islam yang kelima adalah berhaji ke Mekkah jika mampu. Mampu di sini dalam arti mampu secara fisik dan juga secara keuangan. Sebelum berhaji, hutang yang jatuh tempo harus dibayar dan keluarga yang ditinggalkan harus diberi bekal yang cukup. Nabi berkata barang siapa yang mati tapi tidak berhaji padahal dia mampu, maka dia mati dalam keadaan munafik.

    c. Ihsan Mendekatkan Diri kepada Allah

    Ada pun Ihsan adalah cara agar kita bisa khusyuk dalam beribadah kepada Allah. Kita beribadah seolah-olah kita melihat Allah. Jika tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah SWT yang Maha Melihat selalu melihat kita. Ihsan ini harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga jika kita berbuat baik, maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk Allah. Sebaliknya jika terbersit niat kita untuk berbuat keburukan, kita tidak mengerjakannya karena Ihsan tadi.

    Orang yang ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha membuat senang Allah yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya.

    Itulah sekilas pokok-pokok dari ajaran Islam. Semoga kita semua bisa memahami dan mengamalkannya.

    ***

    Dari Sahabat

    http://syiarislam.wordpress.com

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 10 June 2012 Permalink | Balas  

    Nabi Muhammad Manusia Terbaik di Dunia

    “Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada suri teladan yang baik bagimu yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan banyak menyebut Allah.” [Al Ahzab:31]

    Itulah firman Allah yang menyatakan kemuliaan Nabi Muhammad. Bahkan non Muslim seperti Sir George Bernard Shaw dalam buku ‘The Genuine Islam,’ Vol. 1, No. 8, 1936 menyatakan bahwa jika ada agama yang akan menguasai Inggris atau Eropa dalam abad mendatang mungkin itu adalah Islam. Muhammad adalah orang yang mengagumkan dan pantas disebut Penyelamat Manusia (the Savior of Humanity). Begitu katanya.

    Mahatma Gandhi, dalam pernyataan yang diterbitkan di “Young India”, tahun 1924 menyatakan bahwa bukanlah pedang yang menyebarkan Islam. Tapi kepedulian, keberanian, dan keimanan Nabi kepada Tuhan yang menyebabkan itu. Ketika saya menutup buku jilid kedua dari Kisah Nabi Muhammad, saya menyesal karena tidak ada lagi yang dapat dibaca.

    Dan memang Muhammad yang kala itu pengikutnya hanya istri dan keponakannya, Ali, tidaklah mungkin bisa menyebarkan Islam dengan pedang. Karena kepribadiannya dan kebenaran Islamlah maka orang-orang berbondong memeluk Islam. Jika pun ada perang, maka itu tak lebih dari membela diri sebagaimana diketahui bahwa 3 perang besar pertama seperti perang Badar, Uhud, dan Khandaq terjadi di kota tempat tinggal ummat Islam di Madinah ketika mereka diserang kaum kafir Mekkah bersama sekutunya. Begitu pula perang Mu’tah terjadi di tanah Arab ketika tentara Romawi yang beragama Kristen menyerang untuk menghancurkan Islam.

    Michael H Hart dalam buku ‘The 100, A Ranking of the Most Influential Persons In History,’ New York, 1978 menempatkan Nabi Muhammad dalam urutan pertama 100 orang paling berpengaruh di dunia mengalahkan Isaac Newton, Paulus, dan Yesus.

    Menurut Michael H Hart, kebanyakan dari orang-orang besar yang ada dalam bukunya menjadi besar karena kebetulan lahir di negara-negara maju yang jadi pusat peradaban dunia. Bahkan tanpa ada mereka pun tetap saja negara-negara tersebut akan maju dan akan ada banyak orang yang akan menggantikannya untuk memimpin kemajuan tersebut.

    Sebagai contoh Napoleon Bonaparte yang memimpin Perancis untuk menguasai Eropa itu terjadi karena Perancis adalah memang negara Eropa yang besar dan kuat. Napoleon tidak bisa melakukan itu jika Perancis adalah negara yang kecil dan lemah. Dan pada akhirnya, Napoleon pun gagal dan meninggal dalam pengasingan.

    Yesus pun meski merupakan penyebar agama Kristen yang pertama, namun dia ditangkap dan disalib oleh tentara Romawi. Jumlah pengikutnya saat Yesus meninggal tidak banyak. Paulus lah yang berhasil mengembangkan agama Kristen sehingga diterima bangsa Eropa.

    Sebaliknya, Nabi Muhammad lahir di kawasan yang terbelakang. Mekkah kota kelahiran Nabi adalah kota kecil di pinggiran yang jauh dari pusat perdagangan, seni, dan ilmu pengetahuan. Saat itu yang jadi negara besar dalah Romawi dan Persia. Ada pun bangsa Arab adalah bangsa jajahan yang terbelakang dengan jumlah penduduk yang hingga sekarang pun tidak banyak serta terpecah menjadi berbagai suku yang saling perang satu sama lain.

    Pada saat Nabi lahir, kebanyakan bangsa Arab menyembah berhala. Selama 3 tahun pertama Nabi Muhammad menyeru Islam pada keluarga dan teman dekatnya. Baru pada tahun 613 Nabi menyiarkan Islam secara terbuka sehingga Islam mulai menyebar. Penguasa Mekkah yang kafir pun menganggap Nabi Muhammad sebagai bahaya dan ingin membunuhnya sehingga Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Setelah 3 kali serangan kaum kafir Mekkah dalam perang Badar, Uhud, dan Khandaq gagal, Nabi Muhammad dan pengikutnya menaklukkan kota Mekkah tahun 630. Pada saat meninggal tahun 632 Nabi Muhammad yang bertahun-tahun pada masa awal kenabiannya ditentang penduduk kafir Quraisy dalam tempo 23 tahun sanggup menyatukan bangsa Arab di dalam Islam.

    Bangsa Arab bukan hanya sanggup menahan serangan tentara Romawi dan Persia, bahkan sanggup menaklukkannya. Hingga saat ini ibukota Romawi, Constantinople, di bawah kepemimpinan negara Islam dan berganti nama jadi Istambul (Turki). Begitu pula Baghdad yang sebelumnya jadi ibukota Persia ada di negara Islam Iraq.

    Yang harus diingat adalah bahwa peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad bukanlah peperangan yang penuh darah seperti yang dilakukan tentara Salib yang membantai semua ummat Islam yang mereka taklukkan seperti dalam film “Kingdom of Heaven” (dibintangi Orlando Bloom). Peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad seperti pada perang Badar, Uhud, Khandaq, dan Tabuk terjadi karena mereka membela diri dari serangan kaum kafir. Peperangan terhadap kerajaan Romawi dan Persia justru membebaskan daerah jajahan kerajaan tersebut sehingga mereka lepas dari penindasan kerajaan Romawi dan Persia yang membebani rakyat dengan pajak yang besar. Pada saat penaklukan kota Mekkah misalnya boleh dikata tidak ada peperangan yang penuh darah. Tapi penyerahan yang penuh kedamaian.

    Dalam 100 tahun sejak kematian Nabi Muhammad, Kerajaan Islam menyebar dari India, Pakistan, Iran, Timur Tengah, Afrika Utara, Albania, Yugoslavia, hingga Spanyol sepanjang 7.600 km dengan lebar 3.200 km di 3 benua! Ini adalah satu imperium terbesar yang pernah ada dalam sejarah. Meski Spanyol kembali dikuasai Katolik setelah 7 abad, namun Islam tetap berkuasa di negara-negara Afrika Utara, Timur Tengah, Iran, dan Pakistan.

    Islam bukan hanya maju secara politik dan militer. Dalam ilmu pengetahuan pun tiba-tiba bangsa Arab yang dulunya terbelakang di bawah ilmuwan Yunani atau Persia tiba-tiba jadi pemimpin. Banyak penemuan Islam / ilmuwan Arab/Islam yang diakui dunia hingga sekarang.

    Sebagai contoh, sistem angka yang dipakai dunia sekarang adalah sistem angka Arab (Arabic Numeral) menggantikan sistem angka Romawi (Roman Numeral) yang kaku. Dengan angka Arab anda dapat menulis 93.567.794.214.698 dengan mudah. Angka tersebut tidak bisa ditulis dengan sistem angka Romawi.

    Dalam ensiklopedi Microsoft Encarta disebut bahwa dalam dunia Islam yang menyebar ke Barat hingga Spanyol banyak dihasilkan penemuan Ilmiah seperti angka Arab: === The Islamic world, which in medieval times extended as far west as Spain, also produced many scientific breakthroughs. The Arab mathematician Muhammad al-Khwrizm introduced Hindu-Arabic numerals to Europe many centuries after they had been devised in southern Asia. === Astronom Arab (baca Astronom Muslim) juga banyak yang menemukan dan menamakan bintang seperti Aldebaran, Altair, dan Deneb. Al Haytham (Alhacen) yang mengantarkan ilmu Optic juga menemukan metode Ilmiah yang menekankan kepada observasi, eksperimen, dan pencatatan yang akurat.

    Singkatnya, Nabi Muhammad bukan hanya sekedar pemimpin agama atau Nabi. Namun beliau juga adalah pemimpin militer, pemimpin negara, dan juga peletak fondasi berkembangnya ilmu pengetahuan Islam (Islam Golden Age) di kalangan ummat Islam.

    Hanya dalam waktu 23 tahun, Nabi Muhammad berhasil merubah bangsa Arab yang bodoh dan terbelakang serta terjajah menjadi bangsa yang cerdas dan terkemuka di dunia mengalahkan 2 super power dunia: Romawi dan Persia. Ini merupakan satu teladan yang harus bisa ditiru oleh pemimpin-pemimpin Islam!

    Tak heran jika seorang Non Muslim seperti Michael H Hart pun mengakui Nabi Muhammad sebagai orang nomor satu di dunia mengalahkan Yesus dan manusia-manusia lain di dunia.

    Jika Non Muslim saja bersikap seperti itu, maka ummat Islam yang dalam syahadahnya mengakui Muhammad sebagai utusan Allah juga harus mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah manusia paling sempurna yang maksum (terpelihara dari kesalahan). Oleh karena itu ummat Islam harus mempelajari siroh/sejarah Nabi dan mengikuti sunnah Nabi.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 9 June 2012 Permalink | Balas  

    Panggilan Allah Hanya 3x Saja

    Saat itu, Dhuha, hari terakhir aku di Masjid Nabawi untuk menuju Mekah, aku bertanya pada Ibu.

    “Ibu”, kataku, “ada cerita apa yang menarik dari Umrah.?” Maklum, ini pertama kali aku ber Umrah.

    Dan Ibu, memberikan Tausyiahnya. Kebetulan umrahku dimulai di Madinah dulu selama 4 hari, baru ke Mekah. Tujuannya adalah mendapatkan saat Malam Jumat di depan Kabah. Jadi aku punya kesempatan untuk bertanya tentang Umrah.

    Ibu berkata,”Sayang-ku, Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup.”

    Keningku berkerut, “Sedikit sekali Allah memanggil kita?”

    Ibu tersenyum, “Sayang, tahu tidak apa saja 3 panggilan itu?”

    Saya menggelengkan kepala.

    “Panggilan pertama adalah Azan”, ujar Ibu.

    “Itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat terdengar. Ketika kita sholat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Allah. Tetapi Allah masih fleksibel, Dia tidak ‘cepat marah’ akan sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak sholat sama sekali karena malas. Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmatNya, masih memberikan kebahagiaan bagi umatNya, baik umatNya itu menjawab panggilan Azan-Nya atau tidak. Allah hanya akan membalas umatNya ketika hari Kiamat nanti”.

    Saya terpekur, mata saya berkaca-kaca. Terbayang saya masih melambatkan sholat karena meeting lah, mengajar lah, dan lain lain. Masya Allah. .

    Ibu melanjutkan, “Sayang-ku, Panggilan yang kedua adalah panggilan Umrah/Haji. Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba-hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya ‘bergiliran’. Hamba yang satu mendapatkan kesempatan yang berbeda dengan hamba yang lain. Jalannya pun berbeda-beda. Yang tidak punya uang menjadi punya uang, yang tidak berencana pula akan pergi, ada yang memang berencana dan terkabul. Ketika kita mengambil niat Haji / Umrah, berpakaian Ihram dan melafazkan ‘Labaik Allahuma Labaik/ Umrotan’, sesungguhnya kita saat itu menjawab panggilan Allah yang kedua. Saat itu kita merasa bahagia, karena panggilan Allah sudah kita jawab, meskipun panggilan itu halus sekali. Allah berkata, laksanakan Haji / Umrah bagi yang mampu”.

    Mata saya semakin berkaca-kaca, Subhanallah, saya datang menjawab panggilan Allah lebih cepat dari yang saya rencanakan, Alhamdulillah.

    “Dan panggilan ke-3”, lanjut Ibu, “Adalah KEMATIAN . Panggilan yang kita jawab dengan amal kita. Pada kebanyakan kasus, Allah tidak memberikan tanda tanda secara langsung, dan kita tidak mampu menjawab dengan lisan dan gerakan. Kita hanya menjawabnya dengan amal sholeh. Karena itu sayangku, manfaatkan waktumu sebaik-baiknya. Jawablah 3 panggilan Allah dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah, Insya Allah syurga adalah balasannya”.

    Renungkanlah bersama…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 7 June 2012 Permalink | Balas  

    Pesan Untuk Para Calon Istri

    Asma’ binti Kharijah Al Fazary berpesan kepada puterinya ketika menikah (sebelum melepaskan kepergiannya menuju suaminya):

    “Wahai puteriku sayang, tak lama lagi kau akan keluar meninggalkan ayunan tempat kau ditimang dulu, dan berpindah ke atas ranjang yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Kau akan hidup bersama seorang kawan yang belum pernah kau kenal sebelumnya. Oleh karena itu, jadilah bumi tempat ia berpijak, maka ia akan menjadi langit yang menaungimu. Jadikanlah dirimu tempat sandaran baginya, maka ia akan menjadi tiang yang meneguhkanmu. Jadilah pelayan baginya, ia akan menjadi abdi bagimu. Jangan kau merepotkannya sehingga ia merasa kesal. Dan jangan terlalu jauh darinya sehingga ia lupa akan dirimu. Jika ia mendekatimu, maka dekatilah. Jika ia berpaling, maka menjauhlah. Peliharalah pandangannya, pendengarannya dan penciumannya. Jangan sampai ia memandang sesuatu yang buruk darimu. Dan jangan sampai ia mendengar kata-kata kasar darimu. Dan jangan sampai ia mencium bau yang tak sedap darimu. Jadikanlah setiap apa yang ia lihat adalah wajahmu yang cantik berseri-seri. Jadikanlah setiap apa yang ia dengar adalah ucapanmu yang santun dan lembut. Jadikanlah setiap apa yang ia cium adalah aroma wangi tubuh dan pakaianmu.”

    “Ayahmu dulu berpesan kepada ibumu: Maafkanlah segala kesalahan dan kehilafanku, niscaya cinta kita akan terus bersemi. Ketika aku marah, janganlah kau memancing lagi amarahku. Karena benci dan cinta takkan pernah bersatu. Saat benci datang, cinta pun kan berlalu.”

    Demikian isi pesan tersebut. Semoga bermanfaat dan dapat dijadikan bahan renungan untuk para calon istri yang akan memasuki sebuah kehidupan baru. Kehidupan yang mengakhiri masa lajang penuh penantian yang melelahkan.

    Wallahu a’lamu bis showab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 6 June 2012 Permalink | Balas  

    Siapakah orang yang sibuk?

    Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya, seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman A.S. Maka sempatkanlah bagimu untuk beribadah dan bersegeralah!

    Siapakah orang yang manis senyumannya?

    Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ketika ditimpa musibah, lalu dia berucap “Inna lillahi wainna illaihi rajiuun.” Kemudian berkata,”Ya Rabbi, Aku ridho dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman. Maka berbaik hatilah dan bersabar…

    Siapakah orang yang kaya?

    Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada, dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini. Maka bersyukurlah atas nikmat yang kau terima dan berbagilah.. .

    Siapakah orang yang miskin?

    Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada,selalu menumpuk-numpukkan harta. Maka janganlah kau menjadi kikir juga dengki…

    Siapakah orang yang rugi?

    Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan, namun masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan. Maka hargailah waktumu dan bersegeralah. ..

    Siapakah orang yang paling cantik?

    Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik. Maka peliharalah akhlakmu dari dosa dan noda…

    Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?

    Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan, dimana kuburnya akan diluaskan sejauh mata memandang. Maka beramal shalehlah selagi sempat dan mampu…

    Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?

    Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan, lalu kuburnya menghimpitnya. Maka ingatlah akan kematian dan kehidupan setelah dunia…

    Siapakah orang yang mempunyai akal?

    Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak, karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka. Maka peliharalah akal sehatmu dan pergunakan semaksimal mungkin untuk mengharap ridho-Nya…

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 5 June 2012 Permalink | Balas  

    Shalat 5 Waktu Pembeda Muslim dari Orang Kafir

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

    Berikut satu tulisan dari buku “Iman, Islam, dan Ihsan” yang bisa didownload di: http://syiarislam.wordpress.com

    Shalat 5 Waktu – Rukun Islam yang kedua. Rukun Islam yang kedua (setelah membaca 2 kalimat syahadat) adalah shalat 5 waktu (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya). Dalam Al Qur’an Allah memerintahkan kita untuk shalat 5 waktu:

    Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” [Al Israa’:78]

    … Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [An Nisaa’:103]

    Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’“ [Al Baqarah:43]

    Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” [Al Kautsar:2]

    Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” [Al Baqarah:110]

    a. Shalat Bisa Mencegah Perbuatan Keji Dan Munkar

    Shalat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar:

    Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al ‘Ankabuut:45]

    Shalat untuk mengingat Allah:

    Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [Thaahaa:14]

    b. Didiklah Anak/Keluarga Anda Untuk Shalat

    Didiklah anak/keluarga anda untuk shalat:

    Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Luqman:17]

    “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya” (Thaha : 132)

    “Hendaknya kita tetap memelihara/mengerjakan shalat kita: “Peliharalah semua Shalat(mu), dan peliharalah shalat wusthaa” (Al Baqarah :238)

    Shalat sangat penting. Shalat adalah tiang agama. Siapa yang tidak mengerjakannya berarti dia meruntuhkan agama:

    “Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama” (HR. Baihaqi)

    c. Shalat Pembeda Orang Islam dengan Orang Kafir

    Pembeda antara orang muslim dengan kafir adalah shalat. Barang siapa tidak shalat berarti dia kafir:

    “Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

    “Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia kafir.” (HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079)

    Amal yang pertama dihisab adalah shalat. Begitu dia tidak shalat, meski puasa, zakat, haji, rajin sedekah, dia langsung dimasukkan ke neraka:

    Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seseorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat, maka apabila shalatnya baik (lengkap), maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika shalatnya itu rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain” (Thabrani)

    Jangan sampai kita dan keluarga kita yang sudah baligh bolong-bolong shalatnya. Apalagi sampai meninggalkannya. Orang yang tidak mengerjakan shalat disiksa di neraka:

    “Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat….” (Al-Muddatstsir: 42-43)

    “Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari mengerjakan shalatnya.” (Al-Ma’un: 4-5)

    “Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kerugian.” (Maryam: 59)

    d. Shalat Tepat Waktu dan Berjama’ah

    Hendaknya kita shalat tepat waktu:

    Pekerjaan yang sangat disuka Allah, ialah mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Sesudah itu berbakti kepada ibu-bapak. Sesudah itu berjihad menegakkan agama Allah” (Bukhori dan Muslim)

    Jika shalat 5 waktu, hendaknya berjama’ah: Anas r.a.:

    Nabi SAW selalu memotivasi umatnya untuk sholat berjamaah dan melarang mereka pergi keluar sebelum imam mereka pergi (Muslim)

    Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, pahalanya berlipat ganda sampai duapuluh tujuh derajat (dibandingkan dengan shalat sendirian) (Bukhori dan Muslim)

    Jika shalat berjama’ah, jangan mendahului imam. Tunggu imam ruku dulu, baru anda ruku. Tunggu imam sujud dulu, baru anda sujud: Rasul Bersabda: Takutlah kamu bila angkat kepalamu dari sujud mendahului imam, karena Allah akan ubah kepalamu jadi kepala keledai (Bukhori dan Muslim)

    Ummu Salamah r.a.: Bila selesai salam pada saat sholat di masjid, Rasul berhenti sejenak agar wanita pulang lebih dahulu sebelum pria (Bukhori)

    Semoga kita di akhirat nanti termasuk dalam golongan orang yang mengerjakan shalat.

    Wassalammualaikum Wr. Wb.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 2 June 2012 Permalink | Balas  

    Air Kencing : Penyebab kebanyakan siksa kubur.  

    Ibnu Abbas ra mengisahkan bahwa suatu hari Rasulullah saw melintasi dua makam, lalu beliau berkata, “Sesungguhnya mereka berdua sedang disiksa, mereka berdua disiksa bukan disebabkan melakukan dosa besar. Salah satu dari mereka disiksa karena tidak sampai bersih saat bersuci dari buang air kecil.” Seorang perempuan Yahudi mendatangi Aisyah seraya berkata, “Sesungguhnya azab kubur itu disebabkan air kencing.” Mendengar perkataannya, Aisyah berkata, “Engkau bohong.” Perempuan Yahudi itu menjelaskan, “Karena air kencing itu mengenai kulit dan pakaian.” Kemudian Rasulullah saw keluar untuk mengerjakan shalat, sedangkan suara kami semakin keras terdengar (karena ribut). Mendengar keributan ini Rasulullah saw bertanya, “Ada apa ini?” Aisyah pun meceritakan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh perempuan Yahudi tadi, setelah itu Rasulullah saw bersabda, “Dia memang benar.” Abdurrahman bin Hasaah mendengar Rasulullah saw bertanya, “Tahukah kalian apa yang telah menimpa salah seorang Bani Israil? Dulu, saat mereka terkena air kencing, mereka segera membersihkannya dengan memotong pakaian yang terkena cipratan air kencing tersebut. Melihat perbuatan ini, orang itu melarang mereka, maka dia pun diadzab dalam kuburnya. Dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Huraihah ra secara mauquf, Rasulullah saw bersabda, ” Kebanyakan siksa kubur itu disebabkan air kencing.”

    Pada suatu malam Abdullah bin Umar pergi ke rumah seorang perempuan tua yang di samping rumahnya terdapat pemakaman. Lalu dia mendengar suara lirih yang berkata, “Kencing, apa itu kencing? Gayung, apa itu gayung?” Abdullah bin Umar pun berkata, “Celaka, apa yang terjadi?” Perempuan tua itu menjawab, “Itu adalah suara suamiku yang tidak pernah bersuci dari buang air kecil.” Mendengar penjelasan tersebut, Abdullah bin Umar berkata, “Celakalah dia! Unta saja kalau kencing bersuci, tapi dia malah tidak peduli.” Perempuan tua itu kembali menuturkan kisah suaminya : Ketika suamiku sedang duduk, ada seorang lelaki mendatanginya seraya berkata, “Berilah aku minum, aku sangat haus.” Suamiku malah berkata, “Engkau membawa gayung sedangkan gayung kami tergantung.” Orang itu berkata, “Wahai tuan, berilah aku minum, aku hampir mati kehausan.” Suamiku berkata, “Engkau membawa gayung.” Akhirnya lelaki yang meminta air untuk minum itu meninggal dunia. Setelah itu, suamiku juga meninggal dunia. Namun sejak hari pertama dia meninggal dunia, seringkali terdengar suara suamiku dari arah pemakaman, “Kencing, apa itu kencing? Gayung, apa itu gayung?”

    Nauzubillah min dzalik, ternyata perkara kecil saja bisa menyebabkan kita mendapat siksa kubur ya? Banyak orang memandang remeh bersuci setelah buang air kecil (kurang bersih bahkan tidak bersuci sama sekali), padahal hal yang remeh itu bisa menjadi malapetaka ketika kita masuk pada Alam Barzakh.

    “Ya Allah, lindungi kami semua dari siksa neraka, siksa kubur, fitnah dunia & alam barzakh, serta fitnah yang ditimbulkan oleh dajjal, amin.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Veishayana Inalatani Ayu 5:00 pm on 5 Februari 2013 Permalink

      Sungguh ..sngatt lah berarty bagi.kita smua … :) (^_^)

  • erva kurniawan 1:24 am on 1 June 2012 Permalink | Balas  

    Hadits tentang Haramnya Khamar / Minuman Keras      

    Assalamu’alaikum wr wb, Dari hadits di bawah kita dapat menyaksikan keimanan para sahabat Nabi. Begitu Allah mengharamkan khamar, tanpa banyak tanya apalagi debat, mereka tumpahkan khamar-khamar yang mereka miliki ke jalan sehingga jalanan jadi berbau khamar. Sungguh beda dengan sekarang.

    1. Pengharaman khamar serta menerangkan bahwa khamar itu terbuat dari perasan anggur, kurma basah, kurma kering dan lain sebagainya yang dapat memabukkan.

    Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra., ia berkata: Aku mendapat seekor unta bersama Rasulullah saw. dari rampasan perang Badar. Dan Rasulullah saw. memberiku seekor unta yang lain. Pada suatu hari aku menderumkan keduanya di depan pintu seorang sahabat Ansar, aku hendak memuatkan idzkhir (sejenis tumbuh-tumbuhan) di atas kedua unta tersebut untuk aku jual kepada seorang tukang emas dari Bani Qainuqa` yang datang bersamaku. Uang penjualan itu akan kupergunakan membantu walimah Fatimah ra. Pada saat itu, Hamzah bin Abdul Muthalib ra. sedang minum minuman keras di rumah tersebut. Ia ditemani seorang budak perempuan yang bernyanyi untuknya. Budak itu berkata: Hai Hamzah, perhatikanlah unta-unta yang gemuk itu! Tiba-tiba Hamzah melompat ke arah kedua untaku dengan pedang, lalu ia potong ponok keduanya dan ia belah lambung keduanya, kemudian ia ambil hati keduanya. Aku katakan kepada Ibnu Syihab: Dan bagaimana dengan ponoknya? Ia berkata: Ponok-ponoknya di pangkas dan dibawa pergi. Kata Ibnu Syihab: Ali berkata: Dan aku menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu. Lalu aku mendatangi Rasulullah saw. yang pada saat itu Zaid bin Haritsah sedang berada di dekat beliau. Aku pun menceritakan peristiwa tersebut. Kemudian beliau bersama Zaid keluar dan aku juga ikut bersama beliau. Lalu beliau masuk menemui Hamzah dan marah kepadanya. Hamzah mengangkat pandangannya, kemudian berkata: Kalian ini tidak lain hanyalah budak-budak bapakku! Rasulullah saw. kemudian mundur ke belakang lalu meninggalkan mereka. (Shahih Muslim No.3660)

    Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Aku sedang memberi minum para tamu di rumah Abu Thalhah, pada hari khamar diharamkan. Minuman mereka hanyalah arak yang terbuat dari buah kurma. Tiba-tiba terdengar seorang penyeru menyerukan sesuatu. Abu Thalhah berkata: Keluar dan lihatlah! Aku pun keluar. Ternyata seorang penyeru sedang mengumumkan: Ketahuilah bahwa khamar telah diharamkan. Arak mengalir di jalan-jalan Madinah. Abu Thalhah berkata kepadaku: Keluarlah dan tumpahkan arak itu! Lalu aku menumpahkannya (membuangnya). Orang-orang berkata: Si polan terbunuh. Si polan terbunuh. Padahal arak ada dalam perutnya. (Perawi hadis berkata: Aku tidak tahu apakah itu juga termasuk hadis Anas). Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat: Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh karena makanan yang telah mereka makan dahulu, asal mereka bertakwa serta beriman dan mengerjakan amal-amal saleh. (Shahih Muslim No.3662)

    2. Makruh membuat minuman dari kurma dan anggur kering yang dicampur

    Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Al-Anshari ra.: Bahwa Nabi saw. melarang anggur kering dicampur dengan kurma atau kurma yang belum matang dengan kurma yang matang. (Shahih Muslim No.3674)

    Hadis riwayat Abu Qatadah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian membuat minuman kurma setengah matang (mengkal) dan kurma matang sekaligus. Janganlah kalian membuat minuman anggur dan kurma sekaligus. Masaklah masing-masing dari keduanya secara terpisah. (Shahih Muslim No.3681)

    3. Larangan membuat nabiz dalam wadah yang dicat dengan teer, dalam labu kering, panci seng, kayu yang dilubangi, dan menerangkan bahwa larangan itu dihapus dan sekarang halal asal tidak memabukkan

    Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Rasulullah saw. melarang pembuatan minuman dalam kulit labu dan wadah yang dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3693)

    Hadis riwayat Aisyah, Ummul Mukminin ra.: Dari Aswad, ia berkata: Aku bertanya kepada Ummul Mukminin: Wahai Ummul Mukminin! Beritahukanlah kepadaku, apa yang dilarang oleh Rasulullah saw. untuk dijadikan bahan membuat minuman! Ummul Mukminin berkata: Rasulullah saw. melarang kami ahlulbait membuat minuman nabidz dalam kulit labu dan wadah yang dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3694)

    Hadis riwayat Ibnu Umar ra. dan Ibnu Abbas ra.: Dari Said bin Jubair ia berkata: Aku bersaksi bahwa Ibnu Umar ra. dan Ibnu Abbas ra. menyaksikan bahwa Rasulullah saw. melarang kulit labu, tempayan, wadah yang dicat dengan teer dan kayu yang dilubangi. (Shahih Muslim No.3705)

    Hadis riwayat Abdullah bin Amru ra., ia berkata: Ketika Rasulullah saw. melarang nabiz dalam beberapa bejana, orang-orang berkata: Tidak setiap orang mempunyai bejana lain. Lalu Rasulullah saw. memberikan kemurahan (dispensasi) kepada mereka, boleh minum dalam guci yang tidak dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3726)

    4. Menerangkan bahwa setiap yang memabukkan adalah khamar dan semua khamar adalah haram

    Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah ditanya tentang arak dari madu. Beliau menjawab: Setiap minuman yang memabukkan adalah haram. (Shahih Muslim No.3727)

    5. Balasan peminum khamar yang belum bertobat di akhirat

    Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Setiap minuman yang memabukkan adalah khamar dan setiap yang memabukkan adalah haram. Barang siapa minum khamar di dunia lalu ia mati dalam keadaan masih tetap meminumnya (kecanduan) dan tidak bertobat, maka ia tidak akan dapat meminumnya di akhirat (di surga). (Shahih Muslim No.3733)

    ***

    Sumber: hadith.al-islam.com

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 30 May 2012 Permalink | Balas  

    Hadits tentang Ayah, Ibu, Anak, dan Keluarga    

    1. Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)

    2. Seorang datang kepada Nabi Saw. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut berjihad. Nabi Saw bertanya kepadanya, “Apakah kamu masih mempunyai kedua orangg tua?” Orang itu menjawab, “Masih.” Lalu Nabi Saw bersabda, “Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad.” (Mutafaq’alaih)

    Penjelasan: Nabi Saw melarangnya ikut berperang karena dia lebih diperlukan kedua orang tuanya untuk mengurusi mereka.

    3. Rasulullah Saw pernah berkata kepada seseorang, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.” (Asy-Syafi’i dan Abu Dawud)

    Keterangan: Terdapat satu riwayat yang cukup panjang berkaitan dengan hal ini. Dari Jabir Ra meriwayatkan, ada laki-laki yang datang menemui Nabi Saw dan melapor.

    Dia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku ….”

    “Pergilah Kau membawa ayahmu kesini”, perintah beliau. Bersamaan dengan itu Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau.

    Jibril berkata: “Ya, Muhammad, Allah ‘Azza wa Jalla mengucapkan salam kepadamu, dan berpesan kepadamu, kalau orangtua itu datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh teliganya”.

    Ketika orang tua itu tiba, maka nabi pun bertanya kepadanya: “Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?”

    Lelaki tua itu menjawab: “Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu) nya, atau untuk keperluan saya sendiri?”

    Rasulullah bersabda lagi: “Lupakanlah hal itu. Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu!”

    Maka wajah keriput lelaki itu tiba-tiba menjadi cerah dan tampak bahagia, dia berkata: “Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah Swt berkenan menambah kuat keimananku dengan ke-Rasul-anmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya …”

    Nabi mendesak: “Katakanlah, aku ingin mendengarnya.”

    Orang tua itu berkata dengan sedih dan airmata yang berlinang: “Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini: ‘Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita. Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang…, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu …, seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.’

    Selanjutnya Jabir berkata: “Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: “Engkau dan hartamu milik ayahmu!” (HR. At-Thabarani dalam “As-Saghir” dan Al-Ausath).

    4. Jangan mengabaikan (membenci dan menjauhi) orang tuamu. Barangsiapa mengabaikan orang tuanya maka dia kafir. (HR. Muslim)

    Penjelasan: Yang dimaksud kufur nikmat dan bukan kufur akidah.

    5. Barangsiapa menisbatkan keturunan dirinya kepada selain ayahnya sendiri dan dia mengetahuinya bahwa dia bukan ayah yang sebenarnya maka surga diharamkan baginya. (HR. Muslim)

    6. Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?” Nabi Saw menjawab, “ibumu…ibumu…ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.” (Mutafaq’alaih).

    7. Ibu dan Bapak berhak makan dari harta milik anak mereka dengan cara yang makruf. Seorang anak tidak boleh makan dari harta ibu bapaknya kecuali dengan ijin mereka. (HR. Ad-Dailami).

    8. Barangsiapa berhaji untuk kedua orang tuanya atau melunasi hutang-hutangnya maka dia akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dari golongan orang-orang yang mengamalkan kebajikan. (HR. Ath-Thabrani dan Ad-Daar Quthni).

    9. Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah)

    Penjelasan: Kalau berbakti masuk surga dan kalau bersikap durhaka kepada mereka masuk neraka.

    10. Apabila seorang meninggalkan do’a bagi kedua orang tuanya maka akan terputus rezekinya. (HR. Ad-Dailami)

    11. Termasuk dosa besar seorang yang mencaci-maki ibu-bapaknya. Mereka bertanya, “Bagaimana (mungkin) seorang yang mencaci-maki ayah dan ibunya sendiri?” Nabi Saw menjawab, “Dia mencaci-maki ayah orang lain lalu orang itu (membalas) mencaci-maki ayahnya dan dia mencaci-maki ibu orang lain lalu orang lain itupun (membalas) mencaci-maki ibunya. (Mutafaq’alaih)

    12. Kedudukan seorang paman sebagai (pengganti) kedudukan ayahnya. (HR. Adarqothani)

    13. Warisan bagi Allah ‘Azza wajalla dari hambaNya yang beriman ialah puteranya yang beribadah kepada Allah sesudahnya. (HR. Ath-Thahawi).

    14. Salah satu kenikmatan Allah atas seorang ialah dijadikan anaknya mirip dengan ayahnya (dalam kebaikan). (HR. Ath-Thahawi)

    15. Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala). (HR. Bukhari)

    16. Seorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya, ” Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi Saw menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu).” (HR. Aththusi).

    17. Cintailah anak-anak dan kasih sayangi lah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki. (HR. Ath-Thahawi).

    18. Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu. (HR. Bukhari dan Muslim)

    19. Sama ratakan pemberianmu kepada anak-anakmu. Jika aku akan mengutamakan yang satu terhadap yang lain tentu aku akan mengutamakan pemberian kepada yang perempuan. (HR. Ath-Thabrani)

    20. Barangsiapa mempunyai dua anak perempuan dan diasuh dengan baik maka mereka akan menyebabkannya masuk surga. (HR. Bukhari)

    21. Anak menyebabkan kedua orang tuanya kikir dan penakut. (HR. Ibnu Babawih dan Ibnu ‘Asakir).

    22. Barangsiapa memelihara (mengasuh) tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan wajib baginya masuk surga. (HR. Ath-Thahawi).

    23. Seorang ibu yang kematian tiga orang puteranya lalu berserah diri (pasrah) kepada Allah, rela dan ikhlas, maka dia akan masuk surga. (HR. Muslim)

    24. Ajarkan putera-puteramu berenang dan memanah. (HR. Ath-Thahawi).

    25. Setiap anak tergadai dengan (tebusan) akikahnya (seekor atau dua ekor kambing) yang disembelih pada umur tujuh hari dan dicukur rambut kepalanya (sebagian atau seluruhnya) dan diberi nama. (HR. An-Nasaa’i)

    26. Barangsiapa menjamin untukku satu perkara, aku jamin untuknya empat perkara. Hendaklah dia bersilaturrahim (berhubungan baik dengan keluarga dekat) niscaya keluarganya akan mencintainya, diperluas baginya rezekinya, ditambah umurnya dan Allah memasukkannya ke dalam surga yang dijanjikanNya. (HR. Ar-Rabii’).

    27. Ibu mertua kedudukannya sebagai ibu. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

    28. Abang yang tertua (sulung) kedudukannya sebagai ayah. (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)

    29. Orang yang memutus hubungan kekeluargaan tidak akan masuk surga. (Mutafaq’alaih)

    30. Rahim adalah cabang dari nama Arrahman (Arrahman Arrahim). Rahim mengucapkan keluhan dan pengaduan: “Ya Robbi, aku telah diputus (hubungan kekeluargaanku), aku telah diperlakukan dengan buruk oleh keluarga dekatku. Ya Robbi, aku telah dizalimi mereka, ya Robbi, ya Robbi.” Lalu Allah menjawab: “Tidakkah kamu ridha Aku menyambung hubunganKu dengan orang yang menghubungimu dan Aku putus hubunganKu dengan orang yang memutus hubungannya dengan kamu. (HR. Bukhari)

    31. Rasulullah Saw memberi uang belanja kepada keluarga beliau dari bagian rampasan perang yang menjadi hak beliau untuk kebutuhan rumah tangga selama setahun. Apabila ternyata ada kelebihannya maka uang itu diminta kembali dan dimasukkan ke dalam perbendaharaan negara (baitul maal). (HR. Ahmad)

    33. Cukup berdosa orang yang menyia-nyiakan tanggungjawab keluarga. (HR. Abu Dawud).

    32. Bukanlah dari golongan kami orang yang diperluas rezekinya oleh Allah lalu kikir dalam menafkahi keluarganya. (HR. Ad-Dailami)

    ***

    Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 29 May 2012 Permalink | Balas  

    Rapat dan Luruskan Shof-Shof Kalian!!!

    Judul ini merupakan sebuah penggalan perintah sang Umar Al-Faruq rodhiyallohu’anhu kepada makmum sesaat sebelum mengimami sholat berjamaah. Hal itu merupakan wujud perhatian besar beliau terhadap tuntunan Rosulululloh shollallohu ‘alaihi wassalam yang mulia ini. Sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas rodhiyallohu’anhu bahwasanya Rosululloh bersabda yang artinya, Rapikan (rapat dan lurus) shof kalian, sesungguhnya shof termasuk bagian menegakkan sholat.” (HR. Bukhori 732)

    Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar rodhiyallohu’anhuma, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda, Rapikanlah shof, sejajarkan antara bahu, penuhi yang masih kosong (masih longgar), bersikap lunaklah terhadap saudara kalian dan janganlah kalian biarkan kelonggaran untuk setan. Barangsiapa yang menyambung shof, Alloh akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutus shof Alloh akan memutusnya.” (HR. Abu Dawud no. 666). Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang menekankan pentingnya merapatkan dan meluruskan shof.

    Wajibnya Meluruskan dan Merapatkan Shof

    Ternyata Rosululloh tidak hanya memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shof, namun beliau juga mengancam keras orang-orang yang tidak merapikan shof mereka seperti dalam suatu redaksi hadits, “Sungguh kalian mau merapikan shof kalian atau kalau tidak maka Alloh akan menjadikan perselisihan diantara kalian.” (HR. Bukhori-Muslim)

    Sebuah kaidah dalam Islam menyatakan bahwa asal perintah adalah wajib. Begitu pula mustahil suatu perkara yang mendapatkan ancaman maka hukumnya hanya sampai sunnah saja. Maka pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah wajibnya merapikan shof dan apabila suatu jama’ah sholat tidak merapikan shof mereka maka mereka berdosa. Dan inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullohu yang dapat kita lihat dalam kitab Majmu’ Fatawa beliau. Namun bagi yang tidak merapikan sholat maka sholatnya tetap sah berdasarkan perbuatan Anas rodhiyallohu’anhu yang mengingkari mereka yang tidak merapikan sholat tetapi tidak memerintahkan agar mereka mengulanginya.

    Bagaimana Cara Meluruskan Shof?

    Adapun sifat dan tata cara merapikan shof telah tercantum dalam banyak hadits diantaranya sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir rodhiyallohu’anhu, beliau berkata, Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam pernah menghadap manusia dengan wajahnya seraya mengatakan, Rapikanlah shof-shof kalian (3x). Demi Alloh, kalian merapikan shof kalian, atau kalau tidak maka Alloh akan menjadikan perselisihan diantara hati kalian.’ Nu’man berkata, ‘Lalu saya melihat seorang merapatkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya.” (HR. Abu Dawud no. 662)

    Hadits-hadits ini menunjukan secara jelas pentingnya merapikan shof dan hal itu termasuk kesempurnaan sholat hendaknya saling lurus dan tidak maju mundur antara satu dengan yang lain, dan saling rapat satu dengan yang lain, dan saling rapat antara bahu dengan bahu, kaki dengan kaki, dan lutut dengan lutut. Namun pada zaman sekarang, sunnah ini dilupakan, seandainya engkau mempraktekkannya, niscaya masyarakat lari seperti keledai. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

    Adapun kita sesudah mengetahui tentang perintah ini sudah sepantasnya berusaha sekuat kemampuan melaksanakannya. Tidakkah kita ingin merasakan kelezatan menegakkan amalan ini di dalam hati kita. Serta menjadi pemegang tombak syariat di muka bumi ini. Semoga Alloh subhana wata’ala memberikan hidayah kepada kita semua.

    Kesimpulannya, merapikan shof meliputi hal-hal berikut:

    1. Meluruskan barisan sholat dan merapikannya.
    2. Memenuhi shof yang masih renggang.
    3. Menyempurnakan shof yang pertama terlebih dahulu dan begitu seterusnya.
    4. Saling berdekatan.

    Sholat di Antara Dua Tiang?

    Maka konsekuensi dari perintah merapikan dan merapikan shof sholat adalah tidak membuat shof diantara tiang -kecuali dharuri (terpaksa)- sehingga shof sholat terputus. Sebagaimana para sahabat menghindari hal tersebut di zaman Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam. Konsekuensi yang lain adalah seyogyanya mengisi kekosongan dalam shof sekalipun di tengah sholat mengamalkan hadits yang diriwayatkan Thabrani dengan redaksi terjemahannya “Tidak ada langkah yang lebih banyak pahalanya daripada pahala seseorang menuju kelonggaran dalam shof untuk menutupinya.”

    ***

    Oleh: Muhammad Ikrar Yamin

    (Disarikan dari Majalah Al-Furqon edisi 10 tahun IV)

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 28 May 2012 Permalink | Balas  

    Jujur

    Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur. ( QS. At-Taubah 9:119 )

    Menurut penuturan Ibnu Mas’ud r.a. Rasulullah SAW. Pernah bersabda: Hendaklah kamu bersifat jujur karena sifat jujur akan membawa kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa kesyurga. Apabila seseorang bersifat jujur dan membiasakan dirinya untuk senantiasa jujur, maka Alllah akan menetapkannya sebagai orang yang jujur. Jauhilah olehmu sifat bohong karena bohong itu membawa pada kejahatan dan kejahatan itu akan membawa kedalam neraka. Bila seseorang bersifat bohong dan membiasakan dirinya bersifat bohong, maka Allah akan menetapkannya sebagai seorang pembohong. (HR.Muttafaq ‘alaih).

    Orang yang jujur adalah orang yang pernyataannya sesuai dengan kenyataan. Baik pernyataan itu dengan lisan, dengan tulisan, ataupun dalam bentuk penampilan dan perbuatan.

    Bila seorang pemimpin memberikan pernyataan dengan lisan atau tulisan, bahwa dia sangat prihatinan dengan kemiskinan rakyat, karena itu dia akan sangat peduli dan akan memperhatikan dengan serius nasib rakyat kecil yang miskin, padahal dalam kenyataannya dia lebih mementingkan rakyat lapisan atas karena akan menguntungkan pada peribadinya, maka pemimpin itu adalah pemimpin yang tidak jujur, karena perkataannya tidak sesuai dengan kenyataan. Allah sangat murka kepada orang yang perkatannya tidak sejalan dengan perbuatannya :

    Amat besar kemurkaan Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. ( QS. Ash-Shaf 3 )

    Bila seseorang calon pemimpin tampil dihadapan rakyatnya dengan penampilan seorang pemimpin yang meyakinkan, padahal sebenarnya dia tidaklah mempunyai kemampuan untuk kepemimpinan yang akan dipegangnya karena bukan bidangnya, dan dia tidak punya pengalaman sama sekali dalam bidang yang akan di pimimpin nya. Maka orang itu adalah calon pemimpin yang tidak jujur , dan bila jadi pemimpin nanti, maka dia adalah pemimpin yang tidak jujur.( baca: pemimpin gadungan). Sama saja dengan seorang yang berpenampilan sebagai seorang dokter, padahal dia bukan dokter, maka orang itu adalah dokter gadungan.

    Bila seseorang mendirikan rumah sakit atau panti asuhan, atau yayasan sosial yang secara lahir diduga orang bahwa itu adalah project kemanusiaan, padahal sebenarnya projet itu adalah project bisnis, atau atau projek untuk mengeruk kekayaan untuk dirinya dan keluarganya, maka orang itu adalah orang yang tidak jujur dalam perbuatannnya, atau orang yang bohong , membohongi masyarakat ramai.

    Sifat jujur merupakan syarat utama untuk seorang pemimpin, karena itulah salah sifat yang wajib bagi seorang rasul, sifat yang pertamanya adalah sifat jujur atau ash-shidqu. Secara umum, sifat jujur juga merupakan sifat utama bagi seorang mukimn, karena orang mukmin itu adalah orang yang jujur, tidak ada artinya iman tanpa kejujuran. Karena itulah firman Allah swt. diatas (QS.9:119) memerintahkan orang beriman untuk bersifat jujur.

    Sabda Rasulullah saw. diatas memerintahkan orang beriman agar bersifat jujur, karena sifat jujur itu adalah induk kebaikan (kebahagiaan) yang akan membawa sesorang masuk syurga. Sifat jujur itu sangat berat bagi mereka yang tidak terbiasa bersifat jujur, karena itu Rasulullah saw. Mengingatkan agar kita membiasakan sifat jujur agar sifat jujur itu menjadi ringan dan membudaya dalam kehidupan.

    Sebaliknya Rasulullah memperingatkan agar kita menjauhi sifat bohong. Karena bohong itu adalah induk kejahatan dan kemaksiatan. Orang yang tidak biasa berbohong, akan merasakan bahwa bohong itu sebenarnya berat, karena itu Rasululullah mengingatkan kita agar tidak membiasakan bohong agar sifat bohong itu tidak menjadi kebiasaan, bila sudah menjadi kebiasaan akan sangat berat meninggalkannya.

    Sebaliknya bila bohong itu tidak dibiasakan, maka bohong itu akan terasa berat. Bila seseorang sudah terbiasa bohong, maka dia akan terbiasa pula berbuat jahat dan maksiat, karena sifat bohong adalah sumber semua kejahatan dan kemaksiatan.

    ***

    Oleh : Ust. DR. H. Suhairy Ilyas. MA

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 27 May 2012 Permalink | Balas  

    Tahapan Setelah Mati 

     

    Tahapan Setelah Mati

     

    (Tahapan Perjalanan Manusia Menuju Hari Kebangkitan di Akhirat)

     

    Setelah manusia mati akan mengalami tahapan sbb :

     

    1.Alam Barzakh

     

    Para salaf bersepakat tentang kebenaran adzab dan nikmat yang ada di alam kubur (barzakh) . Nikmat tersebut merupakan nikmat yang hakiki, begitu pula adzabnya, bukan sekedar bayangan atau perasaan sebagaimana diklaim oleh kebanyakan ahli bid’ah. Pertanyaan (fitnah) kubur itu berlaku terhadap ruh dan jasad manusia baik orang mukmin maupun kafir. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan Rasulullah SAW selalu berlindung kepada Allah SWT dari siksa kubur. Rasulullah SAW menyebutkan sebagian dari pelaku maksiat yang akan mendapatkan adzab kubur, diantaranya mereka yang

     

    1. Suka mengadu domba
    2. Suka berbuat ghulul
    3. Berbuat kebohongan
    4. Membaca Al Qur’an tetapi tidak melaksanakan apa yang diperintahkan dan yang dilarang dalam Al’Qur’an
    5. Melakukan zina
    6. Memakan riba
    7. Belum membayar hutang setelah mati (orang yang berhutang akan tertahan tidak masuk surga karena hutangnya)
    8. Tidak bersuci setelah buang air kecil, sehingga masih bernajis

     

    Adapun yang dapat menyelamatkan seseorang dari siksa kubur adalah Shalat wajib, shaum, zakat, dan perbuatan baik berupa kejujuran, menyambung silaturahim, segala perbuatan yang ma’ruf dan berbuat baik kepada manusia , juga berlindung kepada Allah SWT dari adzab kubur.

     

     2. Peniupan Sangkakala

     

    Sangkakala adalah terompet yang ditiup oleh malaikat Israfil yang menunggu kapan diperintahkan Allah SWT. Tiupan yang pertama akan mengejutkan manusia dan membinasakan mereka dengan kehendak Allah SWT, spt dijelaskan pada Al Qur’an :

     

     “Dan ditiuplah sangkakala maka matilah semua yang di langit dan di bumi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT” ( QS. Az Zumar :68 ).

     

    Tiupan ini akan mengguncang seluruh alam dengan guncangan yang keras dan hebat sehingga merusak seluruh susunan alam yang sempurna ini. Ia akan membuat gunung menjadi rata, bintang bertabrakan, matahari akan digulung, lalu hilanglah cahaya seluruh benda-benda di alam semesta. Setelah I tu keadaan alam semesta kembali seperti awal penciptaannya.

     

    Allah SWT menggambarkan kedahsyatan saat kehancuran tersebut sebagaimana firman-Nya : “ Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” (QS.Al Hajj:1-2).

     

    Sedangkan pada tiupan sangkakala yang kedua adalah tiupan untuk membangkitkan seluruh manusia ; “Dan tiupan sangkakala (kedua), maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (QS. Yaa Siin : 51).

     

    Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian ditiuplah sangkakala, dimana tidak seorangpun tersisa kecuali semuanya akan dibinasakan. Lalu Allah SWT menurunkan hujan seperti embun atau bayang-bayang, lalu tumbuhlah jasad manusia. Kemudian sangkakala yang kedua ditiup kembali, dan manusia pun bermunculan (bangkit) dan berdiri”.(HR. Muslim).

     

     3.Hari Berbangkit

     

    “Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakannya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu”. (QS. Al Mujadilah : 6).

     

     4.Padang Mahsyar

     

    “(Yaitu) pada hari (ketika ) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit dan mereka semuanya di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (QS. Ibrahim:48).

     

    Hasr adalah pengumpulan seluruh mahluk pada hari kiamat untuk dihisap dan diambil keputusannaya. Lamanya di Padang Mahsyar adalah satu hari yang berbanding 50.000 tahun di dunia. Allah berfirman: “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun.(QS. Al Maarij:4). Karena amat lamanya hari itu, manusia merasa hidup mereka di dunia ini hanya seperti satu jam saja.

     

    Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari. (QS.Yunus:45).

     

     “Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, bahwa mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat saja” (QS. ArRuum:55).

     

    Adapun orang yang beriman merasakan lama pada hari itu seperti waktu antara dhuhur dan ashar saja. Subhanallah.

     

    Keadaan orang kafir saat itu sebagaimana firman-Nya.”Orang kafir ingin seandainya ia dapat menebus dirinya dari adzab hari itu dengan anak-anaknya, dengan istri serta saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya ketika di dunia, dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya”.(QS.AlMa’arij:11-14).

     

    5. Syafaat

     

    Syafaat ini khusus hanya untuk umat Muslim, dengan syarat tidak berbuat syirik besar yang menyebabkan kepada kekafiran. Adapun bagi orang musyrik, kafir dan munafik, maka tidak ada syafaat bagi mereka.

     

    Syafaat ini diberikan Rasulullah SAW kepada umat Muslim (dengan izin dari Allah SWT).

     

    6. Hisab

     

    Pada tahap (fase) ini, Allah SWT menunjukkan amal-amal yang mereka perbuat dan ucapan yang mereka lontarkan, serta segala yang terjadi dalam kehidupan dunia baik berupa keimanan, keistiqomahan atau kekafiran.

     

    Setiap manusia berlutut di atas lutut mereka. “Dan kamu lihat tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya . Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Jatsiah:28).

     

    Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Muhammad SAW, kita umat yang terakhir tapi yang pertama dihisab. Yang pertama kali dihisab dari hak-hak Allah pada seorang hamba adalah Shalatnya, sedang yang pertama kali diadili diantara manusia adalah urusan darah.

     

    Allah SWT mengatakan kepada orang kafir : “Dan kamu tidak melakukan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya”.(QS. Yunus:61). Seluruh anggota badan juga akan menjadi saksi.

     

    Allah bertanya kepada hamba-Nya tentang apa yang telah ia kerjakan di dunia : “Maka demi Rabbmu, kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang akan mereke kerjakan dahulu”.(Al Hijr:92-93).

     

    Seorang hamba akan ditanya tentang hal : umurnya, masa mudanya, hartanya dan amalnya dan akan ditanya tentang nikmat yang ia nikmati.

     

    7. Pembagian catatan amal

     

    Pada detik-detik terakhir hari perhitungan , setiap hamba akan diberi kitab (amal) nya yang mencakup lembaran-lembaran yang lengkap tentang amalan yang telah ia kerjakan di dunia.

     

    Al Kitab di sini merupakan lembaran-lembaran yang berisi catatan amal yang ditulis oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT.

     

    Manusia yang baik amalnya selama di dunia, akan menerima catatan amal dari sebelah kanan. Sedangkan manusia yang jelek amalnya akan menerima catatan amal dari belakang dan sebelah kiri, spt pada firman Allah berikut ini:

     

    “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak : “celakalah aku”, dan ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”, (QS. Al Insyiqaq:8-12) .

     

    “Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:”wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku” (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al Haqqah:25 31).

     

    8. Mizan

     

    Mizan adalah apa yang Allah letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan hamba-hamba-Nya. Allah berfirman : “Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah seorang dirugikan walau sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”. (QS. Al Anbiya:47)

     

    Setelah tahapan Mizan ini, bagi yang kafir, dan mereka yang melakukan perbuatan syirik akan masuk neraka.

     

    Sedangkan umat muslim lainnya, akan melalui tahap selanjutnya yaitu Telaga

     

     9. Telaga

     

    Umat Muhammad SAW akan mendatangi air pada telaga tersebut. Barang siapa minum dari telaga tersebut maka ia tidak akan haus selamanya. Setiap Nabi mempunyai telaga masing-masing. Telaga Rasulullah SAW lebih besar, lebih agung dan lebih luas dari yang lain, sebagaimana sabdanya :

     

    “Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai telaga dan sesungguhnya mereka berlomba untuk mendapatkan lebih banyak pengikutnya di antara mereka dan sesungguhnya Nabi Muhammad mengharapkan agar menjadikan pengikutnya yang lebih banyak”, (HR. Bukhari Muslim).

     

    Setelah Telaga, umat muslim akan ke tahap selanjutnya yaitu tahap Ujian Keimanan Seseorang. Perlu dicatat bahwa orang kafir dan orang yang berbuat syirik sudah masuk neraka (setelah tahap Mizan, seperti dijelaskan di atas).

     

    10.Ujian Keimanan Seseorang

     

    Selama di dunia, orang munafik terlihat seperti orang beriman karena mereka menampakkan keislamannya. Pada fase inilah kepalsuan iman mereka akan diketahui, diantaranya cahaya mereka redup. Mereka tidak mampu bersujud sebagaimana sujudnya orang mukmin. Saat digiring, orang-orang munafik ini merengek-rengek agar orang-orang mukmin menunggu dan menuntun jalannya.Karena saat itu benar-benar gelap dan tidak ada petunjuk kecuali cahaya yang ada pada tubuh mereka.

     

    Allah SWT berfirman,”Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman:”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): ”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat da di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS.Al hadid:13).

     

    Setelah ini umat muslim yang lolos sampai tahap Ujian Keimanan Seseorang ini, akan melalui Shirat.

     

     11. Shirat

     

    Shirath adalah jembatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam, untuk diseberangi orang-orang mukmin menuju Jannah (Surga).

     

    Beberapa Hadits tentang Shirath

     

    Sesungguhnya rasulullah SAW pernah ditanya tentang Shirath, maka beliau berkata : Tempat menggelincirkan, di atasnya ada besi penyambar dan pengait dan tumbuhan berduri yang besar, ia mempunyai duri yang membahayakan seperti yang ada di Najd yang disebut pohon Sud’an.(HR. Muslim)

     

     “Telah sampai kepadaku bahwasanya shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang”. (HR. Muslim)

     

    “Ada yang melewati shirath laksana kejapan mata dan ada yang seperti kilat, ada yang seperti tiupan angin, ada yang terbang seperti burung dan ada yang menyerupai orang yang mengendarai kuda, ada yang selamat seratus persen, ada yang lecet-lecet dan ada juga yang ditenggelamkan di neraka jahannam”. (HR. Bukhari Muslim)

     

    Yang paling pertama menyebarangi shirath adalah Nabi Muhammad SAW dan para pemimpin umat beliau. Beliau bersabda : “Aku dan umatku yang paling pertama yang diperbolehkan melewati shirath dan ketika itu tidak ada seorangpun yang bicara, kecuali Rasul dan Rasul berdo’a ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.” (HRBukhari).

     

    Bagi umat muslim yang berhasil melalui shirath tersebut, akan ke tahap selanjutnya jembatan

     

     12. Jembatan

     

    Jembatan disini, bukan shirath yang letaknya di atas neraka jahannam. Jembatan ini dibentangkan setelah orang mukmin berhasil melewati shirath yang berada di atas neraka jahannam.

     

    Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin akan dibebaskan dari api neraka, lalu mereka diberhentikan di atas jembatan antara Jannah(surga) dan neraka, mereka akan saling diqhisash antara satu sama lainnya atas kezhaliman mereka di dunia. Setelah mereka bersih dan terbebas dari segalanya, barulah mereka diizinkan masuk Jannah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, seorang diantara kalian lebih mengenal tempat tinggalnya di jannah daripada tempat tinggalnya di dunia”. (HR. Bukhari).

     

    Setelah melewati jembatan ini barulah orang mukmin masuk Surga.

     

    Kesimpulan :

     

    Setelah penjelasan di atas tinggal kita menunggu apa yang akan kita alami di hari akhir nanti, tentunya sesuai dengan apa yang kita lakukan di dunia ini. Semoga Alah SWT memberi kekuatan dan selalu membimbing kita untuk tetap istiqomah di jalan-Nya sehingga dapat mencapai surga-Nya dan dijauhkan dari siksa neraka-Mu ya Allah, karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu ya Allah……

     

    ***

     

    Sumber :

     

    1. Poster ‘Hidup Sesudah Mati” (berupa diagram tahapan dan penjelasan setiap tahapan)
    2. Hidup Sesudah Mati edisi terjemah oleh Syaikh Jasim Muhammad Al Muthawwi
    3. Al Yaum Al Akhir, Juz I,II,III oleh Dr. umar Sulaiman Al Asyqar
    4. Syarah Lum’atul I’tiqad Al hadi Ila Sabilir Rasyad oleh Syaikh Utsaimin
    5. Tahdzib Syarah Ath thahawiyah oleh Ibnu Abil Izz Al Hanafi
    6. Tadzkirah, Imam Qurthubi
    7. At Takhwif Minan Naar oleh Ibnu rajab Al Hambali
    8. Hadiul Arwah Ila Biladil Afrah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah
    9. Nihayatul Bidayah wan Nihayah oleh Al hafidz Ibnu Katsir
    10. Ahwalun Naar oleh Muhammad Ali Al Kulaib. (Disalin/ diketik pada tgl : 17 Ramadhan 1428 H, pkl 8 pagi).

     

    Sumber : http://www.taushiyah-online.com

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 26 May 2012 Permalink | Balas  

    Ternyata Kesyirikan di Zaman Kita Lebih Parah

    Para pembaca yang budiman, diantara musibah besar yang menimpa kaum muslimin dewasa ini adalah acuh terhadap urusan agama dan sibuk dengan urusan dunia. Oleh karena itu banyak diantara mereka yang terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan Alloh karena sedikitnya pemahaman tentang permasalahan-permasalahan agama. Dan jurang terdalam yang mereka masuki yaitu lembah hitam kesyirikan.

    Perbuatan dosa yang paling besar inipun begitu samar bagi kebanyakan manusia karena kejahilan mereka dan rajinnya setan dalam meyesatkan manusia sebagaimana yang dikisahkan Alloh tentang sumpah iblis, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al-A’rof: 16). Bahkan kesyirikan hasil tipudaya iblis yang terjadi pada masa kita sekarang ini lebih parah daripada kesyirikan yang terjadi pada zaman Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam!! Kenapa bisa demikian ?

    Kemusyrikan Zaman Dahulu Hanya di Waktu Lapang

    Sesungguhnya orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh melakukan kesyirikan hanya ketika dalam keadaan lapang saja. Namun tatkala mereka dalam keadaan sempit, terjepit, susah dan ketakutan mereka kembali mentauhidkan Alloh, hanya berdo’a kepada Alloh saja dan melupakan segala sesembahan selain Alloh. Hal ini sebagaimana dikabarkan oleh Alloh tentang keadaan mereka,

    “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (Al-Isra’: 67).

    “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Alloh) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka’.” (Az-Zumar: 8).

    Itulah keadaan musyrikin zaman dahulu, lalu bagaimana keadaan musyrikin pada zaman kita ini? Ternyata sama saja bagi orang-orang musyrik zaman kita ini, baik dalam waktu lapang ataupun sempit tetap saja mereka menjadikan bagi Alloh sekutu. Tatkala punya hajatan (misalnya pernikahan, membangun rumah ataupun yang lainnya) mereka memberikan sesajen ke tempat-tempat yang dianggap keramat. Tatkala sesuatu ketika terkena musibah, mereka beranggapan bahwa mereka telah kuwalat terhadap yang mbaurekso (jin penunggu) kampungnya kemudian meminta ampun dan berdoa kepadanya agar menghilangkan musibah itu atau pergi ke dukun untuk menghilangkannya. Ini adalah bentuk kesyirikan kepada Alloh yang amat nyata.

    Alloh berfirman, “Hanya bagi Alloh-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan sesuatu yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Ar-Ro’du: 14)

    Sesembahan Musyrikin Dulu Lebih Mending Sholehnya

    Orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wasallam menjadikan sekutu bagi Alloh dari dua kelompok, yang pertama adalah hamba-hamba Alloh yang sholeh, baik dari kalangan para nabi, malaikat ataupun wali. Dan yang kedua adalah seperti pohon, batu dan lainnya. Lalu bagaimana keadaan orang-orang musyrik zaman kita? Saking parahnya keadaan mereka, orang-orang yang telah mereka kenal sebagai orang suka berbuat maksiatpun mereka sembah dan diharapkan berkahnya. Lihat betapa banyak orang yang berbondong-bondong ngalap berkah ke makam Pangeran Samudro dan Nyai Ontrowulan di Gunung Kemukus, Sragen. Diceritakan bahwa mereka berdua adalah seorang anak dan ibu tiri (permaisuri raja) dari kerajaan Majapahit yang berselingkuh, kemudian mereka diusir dari kerajaan dan menetap di Gunung Kemukus hingga meninggal. Konon sebelum meninggal Pangeran Samudro berpesan bahwa keinginan peziarah dapat terkabul jika melakukan seperti apa yang ia lakukan bersama ibu tirinya. Sehingga sebagai syarat “mujarab” untuk mendapat berkah di sana, harus dengan berselingkuh dulu!! Allohu Akbar!

    Musyrikin Zaman Dahulu Tidak Menyekutukan Alloh Dalam Rububiyah-Nya

    Tauhid Rububiyah adalah mengikrarkan bahwa Alloh lah satu-satunya pencipta segala sesuatu, yang memberikan rizki, yang menghidupkan dan mematikan serta hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Alloh.. Ini semua diakui oleh orang-orang musyrik zaman dahulu.

    Dalilnya adalah firman Alloh, “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: ‘Alloh’, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Alloh )?.” (Az-Zukhruf: 87).

    Juga firman-Nya, “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh.’ Maka katakanlah ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’.” (Yunus: 31)

    Akan tetapi titik penyimpangan mereka yaitu kesyirikan dalam Tauhid Uluhiyah (mengikrarkan bahwa hanya Alloh sajalah yang berhak ditujukan kepada-Nya segala bentuk ibadah, seperti do’a, nadzar, menyembelih kurban dan lain-lain). Inilah yang diingkari oleh musyrikin zaman dulu. Mereka berdoa kepada patung atau penghuni kubur bukan dengan keyakinan bahwa patung itu bisa mengabulkan do’a mereka atau punya kekuasaan untuk mendatangkan keburukan, namun yang mereka maksudkan hanyalah supaya patung (sebagai perwujudan dari orang sholeh) atau penghuni kubur itu dapat menyampaikan do’a mereka kepada Alloh. Mereka berkeyakinan bahwa orang sholeh itu yang telah diwujudkan/dilambangkan dalam bentuk gambar/patung tersebut mempunyai kedudukan mulia di sisi Alloh. Sementara mereka merasa banyak berbuat dosa dan maksiat, sehingga tidak pantas meminta langsung kepada Alloh, tetapi harus melalui perantara. Inilah yang mereka kenal dengan meminta syafa’at pada sesembahan mereka Mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat- dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

    Lalu bagaimana keadaan musyrikin sekarang ini? Diantara mereka ada yang berkeyakinan bahwa yang memberikan jatah ikan bagi nelayan, yang mengatur ombak laut selatan adalah Nyi Roro Kidul. Sungguh tidak seorang pun dapat menciptakan seekor ikan kecil pun, ini adalah hak khusus Alloh dalam Rububiyah-Nya, tetapi mereka menisbatkannya kepada Nyi Roro Kidul. Allohu akbar! betapa keterlaluan dan lancangnya terhadap Pencipta alam semesta!!! Sehingga tidaklah heran pula jika banyak diantara masyarakat yang takut memakai baju hijau tatkala berada di pantai selatan, karena khawatir ditelan ombak yang telah diatur oleh Nyi Roro Kidul.

    Lihatlah, betapa orang-orang musyrik zaman dahulu lebih berakal daripada orang-orang musyrik sekarang ini. Karena maraknya bentuk-bentuk kesyirikan dan samarnya hal tersebut sudah seharusnya setiap kita untuk mempelajari ilmu tauhid agar dapat menghindarkan diri sejauh-jauhnya dari segala macam bentuk kesyirikan. Sungguh betapa jahilnya orang yang mengatakan “Untuk apa belajar tauhid sekarang ini?”

    Akhirnya kita memohon kepada Alloh agar memberikan kepada kita taufik dan menjauhkan diri kita dari berbagai macam bentuk kesyirikan yang merupakan sebab kehancuran di dunia maupun di akhirat. Wallohu A’lam.

    ***

    Artikel muslim.or.id

    Ibnu ‘Ali Al-Barepany

     
    • iwan 7:35 am on 3 Juni 2012 Permalink

      ya karena da sebagian golongan dari kita yang salah dalam mamaknai tawasul \ wasilah .

  • erva kurniawan 1:16 am on 25 May 2012 Permalink | Balas  

    Bidadari Surga

    “Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik, sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Waaqi’ah [56] : 22-24).

    Sebuah kehidupan di Jannah yang penuh dengan kenikmatan yang tiada tara. Air yang terpancar dari mata air Kafur, Tsanim, dan Salsabil serta sungai-sungai yang mengalirkan air susu. Kemudian, para gadis yang elok nan rupawan berdiam diri di dalam istana-istana surga, mereka tak kan pernah keluar melainkan menunggu para calon suaminya yang beriman ketika di dunia.

    Kecantikan, keindahan tubuh, keanggunan, dan segala kelebihan yang dimilikinya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, tak mampu untuk digambarkan dengan pena-pena kita. Gadis perawan itu terjaga kesuciannya, tak pernah tersentuh oleh tangan-tangan, jahil baik dari kalangan manusia maupun jin. Mereka adalah para wanita surga atau yang lebih kita kenal dengan nama BIDADARI.

    Demikianlah gambaran yang terlintas di benak kita, sekilas mengenai bidadari dan keindahan surga. Untuk selebihnya, wallahu a’lam. Gambaran tentang surga dan neraka, malaikat dan bidadari, merupakan sesuatu yang termasuk ke dalam perkara ghaibiah. Kita mengimaninya berdasarkan informasi yang diberikan melalui firman Allah dan sabda RasulNya.

    ***

    Karakteristik Sang Bidadari

    Mengenai bidadari itu sendiri, kita mengetahuinya sesuai dengan yang diinformasikan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di antara kabar itu, adalah karakter sang bidadari, inilah karakter yang dimiliki oleh wanita surga itu, yakni Cantik dan Berakhlak baik.

    Sekali lagi, siapa pun tak dapat menggambarkan kecantikannya. Jangankan untuk itu, sekadar mengkhayalkannya saja kita tak berdaya. Namun kecantikan dan keindahan bentuk tubuhnya, Allah berfirman, “Seakan-akan bidadari itu permata yaqut dan marjan.” (QS. Ar-Rahmaan [55] : 58).

    “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (QS. Ar-Rahmaan [55] : 70).

    “(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit di dalam rumah.” (QS. Ar-Rahmaan [55] : 72).

    Ath-Thabrani meriwayatkan dalam kitab Mujamnya dari Ummu Salamah, dia berkata, “Wahai Rasulullah, tolong terangkan kepadaku tentang firman Allah : Huurun ‘iin.” Rasulullah berkata, “Huurun ‘iin artinya mata yang indah dan jeli.” Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, tolong terangkan kepadaku tentang firmanNya : Kaamtsaalil lu’lu’il maknun.” Rasulullah berkata, “Artinya bersih sebersih mutiara yang tak pernah disentuh tangan.” Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, tolong terangkan kepadaku tentang firmanNya : Fii hinna khairaat hisaan.” Rasulullah berkata, “Baik akhlaknya dan cantik wajahnya.” Aku berkata lagi, “Tolong terangkan kepadaku tentang firmanNya : Kaannahunna baidhun maknuun.” Rasulullah berkata, “Kelembutan kulit mereka seperti kulit yang ada di bagian dalam kulit telur.” Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, tolong terangkan kepadaku tentang firmanNya : Uruban atrooban.” Rasulullah berkata, Mereka yang di dunia sudah tua renta, di surga menjadi gadis-gadis yang sebaya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani, dari Bakar bin Sahl Ad-Dimyathi, dari Umar bin Hasyim Al-Hassan, dari Hasan, dari bapaknya, dari Ummu Salamah, dia berkata, “Aku mengingatnya.”).

    Itulah gambaran tentang karakteristik dari bidadari surga. Di samping itu, juga ada karakteristik khusus yang tak dimiliki oleh wanita dunia, di antara karakteristik khusus wanita surga itu adalah :

    “Suci dan disucikan,” sebagaimana firman Allah SWT, “Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci.” (QS. Al-Baqarah [2] : 25). Mereka tidak memiliki sejumlah kotoran atau mengalami proses sekresi seperti halnya wanita dunia, misalnya haidh, nifas, buang air kecil atau buang air besar, ludah, dahak, peluh, serta kentut, baik yang berbunyi maupun tidak.

    Penuh CINTA, dalil yang berkenaan dengan ini adalah firman Allah SWT dalam surat Al-Waaqi’ah [56] : 37, “Penuh cinta lagi sebaya umurnya.”

    Gadis ABADI, dalam surat An-Naba ayat 33, diterangkan maksud dari gadis-gadis remaja yang sebaya adalah mereka tidak pernah mengenal uban atau tua, bahkan setiap pekan mereka akan bertambah cantik dan menawan.

    Tidak Mata Keranjang (QS. Ar-Rahmaan [55] : 56) dan hanya tinggal di dalam rumah. Inilah yang seharusnya menjadi kaca perbandingan bagi setiap mu’minah, sang bidadari begitu extra dalam menahan pandangan dan tidak pernah ke luar dari istananya.

    Tubuhnya wangi dan bercahaya. Dalam riwayat Bukhari dalam Kitab Shahihnya, Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya salah seorang dari wanita surga menampakkan diri ke bumi, niscaya akan bercahaya antara bumi dan langit dan niscaya antara bumi dan langit itu dipenuhi dengan bau wangi. Tutup kepala wanita surga saja lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (Diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Dunya).

    Do’a bidadari untuk para suami mereka di dunia, dalam Kitab Maraasilnya, ‘Ikrimah meriwayatkan, “Sesungguhnya para bidadari berdo’a untuk para suami mereka saat para suami mereka masih berada di dunia. Mereka berkata : Ya Allah, tolonglah dia dalam menjalankan agama, hadapkan dia dengan hatinya untuk taat kepadaMu, dan sampaikan dia kepada kami, demi kemuliaanMu, wahai Rabb Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.”

    Subhanallah… Demikianlah karakteristik wanita surga itu. Untuk para wanita, seharusnyalah kita terbetik rasa iri dengan para bidadari tersebut, agar termotivasi untuk menjadi wanita muslimah yang taat pada Allah dan RasulNya. Sekarang kalau sudah begitu, apa yang ada di benakmu, wahai mukminah???

    ***

    Wanita Dunia Bisa Lebih Baik dari Bidadari Surga

    Surga adalah hak asasi atas muslim yang beriman dan beramal shalih. Surga dipersembahkan khusus bagi hambaNya yang taat, baik dari kaum pria maupun wanita. Begitu pula dengan seorang wanita jika ia berniat untuk berhijrah menjadi seorang mukminah sejati. Perlombaan untuk menjadi lebih baik dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya adalah hak asasinya sebagai seorang hamba.

    Dengan melihat karakteristik sang bidadari, seharusnyalah hal tersebut menjadi cermin bagi setiap wanita dunia. Bidadari adalah makhluk yang tercipta mirip dengan bangsamu, wahai wanita, tapi ketahuilah engkau bisa lebih baik dan lebih mulia darinya, Insya Allah. Ingatlah firman Allah dalam surat At-Tiin ayat 4, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.”

    Maka dari itu, berusahalah, berlombalah, dan bersegeralah dalam ketaatan kepada Allah SWT agar engkau lebih anggun daripadanya. Di antara jalan yang dapat ditempuh adalah MENJAGA KESUCIAN. Jagalah permatamu, wahai mukminah, janganlah kau umbar dan kau jual dengan harga yang murah, apalagi harga itu adalah harga duniawi yang kotor.

    Milikilah rasa penuh cinta. Tumbuhkanlah cinta itu hanya kepada Allah serta mempersiapkan cintamu itu untuk seorang laki-laki yang akan menjadi suamimu atau telah sah menjadi suamimu. Janganlah terjerat dan terperangkap dengan rayuan gombal dan cinta buta, sebab hal itu hanya akan menggoreskan luka di hatimu.

    Jagalah dan tundukkanlah pandanganmu, karena wanita dunia yang menyakiti suaminya dengan memandang pria lain (sekalipun terpaksa), merupakan wanita yang memiliki kekurangan dan kehinaan dalam dirinya. Maka pantaslah jika suaminya (yang shaleh) akan direbut oleh para bidadari surgawi.

    Referensi :

    1. Ukhti Al-Muslimah Sabiiluki ilal Jannah. Karya Itisham Ahmad Sharraf, Daar Al-I’tisham.
    2. Ensiklopedia Surga, Karya Mahir Ahmad Ash-shufi, Pustaka Azzam. 3. Mu’minah, No. 8 Tahun I, 2006.

    ***

    Penulis : Indriani Budi Astuti

    KotaSantri.com

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 24 May 2012 Permalink | Balas
    Tags: kibr, maha suci allah, puji, rizki, syirik   

    Nasihat Nuh as kepada Anaknya

    Dari Abdullah bin Umar r. huma,

    Rasulullah saw bersabda, ”Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang nasihat Nuh kepada anaknya?”

    Para sahabat berkata, ”Ya, beritahukanlah kepada kami.”

    Rasulullah bersabda: ”Nuh menasehati anaknya, ’Wahai anakku, aku menasehati kamu dengan ucapan Laa ilaaha illallaah, karena sesungguhnya jika kalimat itu diletakkan dalam satu timbangan, lalu langit dan bumi ditempatkan pada timbangan yang lain, niscaya kalimat itu akan lebih berat. Meskipun dibentuk dalam lingkaran yang kokoh, maka kalimat itu akan memecahkan lingkaran itu sehingga ia sampai ke hadapan Allah swt; dan aku menasehatimu dengan ucapan Subhanallaahil Azhiim Wabihamdihii (Maha Suci Allah yang Maha Agung dan dengan segala puji-Nya) dan Hamdulillah (Segala Puji bagi-Nya), karena ucapan ini adalah ibadahnya seluruh makhluk dan [dengan ucapan tersebut] mereka diberi rizki; dan aku melarang kamu dari dua perkara: Syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu) dan Kibr (sombong), karena dua sifat ini menjauhkan manusia dari Allah.’”

    (HR: Al-Bazaar)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 23 May 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Marah

    Sering kita marah-marah padahal Nabi sangat melarang hal ini. Adakalanya kita berdalih dengan alasan kita melakukannya karena agama. Padahal Allah mengutamakan kebaikan akhlak, bukan kekasaran:

    “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [Ali ‘Imran:159]

    Memang ada beberapa kondisi yang mewajibkan kita marah bahkan berperang mengangkat senjata terhadap orang-orang yang sangat zhalim tapi itu ada persyaratan khusus yang biasanya dibahas dalam bab lain khususnya yang berkaitan dengan jihad. Di sini kita akan mempelajari tentang marah.

    Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” [HR Bukhari]

    “Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk.” (HR. Bukhari dan Al Hakim)

    Dari hadits di atas jelaslah seorang yang pemarah bukanlah orang Islam dan juga bukan orang beriman karena orang-orang takut mendekat dan kena marah olehnya.

    Abu Musa r.a. berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab, ‘Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya.“ [HR Bukhari]

    Ketika marah, kita harus bisa menahan diri.

    Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” Muttafaq Alaihi.

    Orang yang suka marah/zhalim pada orang lain niscaya akan merasa kegelapan pada hari kiamat. Ketika listrik mati di malam hari dan gelap tak ada alat penerang kita tidak suka hal itu. Nah kegelapan hari kiamat jauh lebih buruk dari hal itu dan lebih lama:

    Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jauhilah kedholiman karena kedholiman ialah kegelapan pada hari kiamat, dan jauhilah kikir karena ia telah membinasakan orang sebelummu.” Riwayat Muslim.

    Ketika seseorang minta nasehat, Nabi menjawab “Jangan marah” berulangkali:

    Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa ada seseorang berkata: Wahai Rasulullah, berilah aku nasehat. Beliau bersabda: “Jangan marah.” Lalu orang itu mengulangi beberapa kali, dan beliau bersabda: “Jangan marah.” Riwayat Bukhari.

    Orang yang paling baik akhlaknya yang dekat dengan Nabi. Bukan orang yang pemarah:

    Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya. (HR. Ar-Ridha)

    Orang yang marah karena diingatkan untuk takwa kepada Allah berdosa besar:

    Cukup berdosa orang yang jika diingatkan agar bertaqwa kepada Allah, dia marah. (HR. Ath-Thabrani)

    Salah satu penyebab yang paling banyak membuat orang masuk neraka adalah mulut yang suka marah. Meski dia rajin sholat, puasa, zakat dan haji tapi jika suka marah tetap masuk neraka:

    Rasulullah Saw ditanya tentang sebab-sebab paling banyak yang memasukkan manusia ke surga. Beliau menjawab, “Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang baik.” Beliau ditanya lagi, “Apa penyebab banyaknya manusia masuk neraka?” Rasulullah Saw menjawab, “Mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

    Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

    Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai.”(HR. Muslim)

    Sulaiman bin Shurad ra., ia berkata: Dua orang pemuda saling mencaci di hadapan Rasulullah saw. lalu mulailah mata salah seorang dari mereka memerah dan urat lehernya membesar. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang apabila diucapkan, maka akan hilanglah kemarahan yang didapati yaitu “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”. Lelaki itu berkata: Apakah engkau menyangka aku orang gila?. (Shahih Muslim No.4725)

    Sering orang marah kepada pembantunya / bawahannya karena dia merasa lebih tinggi sementara pembantunya / bawahannya lebih rendah dan selalu takut kepadanya. Padahal menurut Anas seorang pembantu Nabi, selama 10 tahun dia bekerja dengan Nabi, tak pernah sekalipun Nabi memarahinya meski dia ada salah.

    Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah Saw, “Pelayan (pembantu rumah tangga) saya berbuat keburukan dan kezaliman.” Nabi Saw menjawab, “Kamu harus memaafkannya setiap hari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Baihaqi)

    Biasanya orang marah terhadap pembantu / bawahan karena pekerjaan “kurang/tidak beres”. Padahal Nabi memerintahkan untuk memberi pekerjaan hanya sesuai kemampuan mereka dan jika perlu kita harus membantu mereka jika mereka kesulitan. Allah memberi ganjaran pahala untuk itu:

    Apa yang kamu ringankan dari pekerjaan pembantumu bagimu pahala di neraca timbanganmu. (HR. Ibnu Hibban)

    Bagi seorang budak jaminan pangan dan sandangnya. Dia tidak boleh dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak mampu dilakukannya. (HR. Muslim)

    Pelayan-pelayanmu adalah saudara-saudaramu. Allah menjadikan mereka bernaung di bawah kekuasaanmu. Barangsiapa saudaranya yang berada di bawah naungan kekuasaannya hendaklah mereka diberi makan serupa dengan yang dia makan dan diberi pakaian serupa dengan yang dia pakai. Janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak dapat mereka tunaikan. Jika kamu memaksakan suatu pekerjaan hendaklah kamu ikut membantu mereka. (HR. Bukhari)

    Allah melarang kita untuk banyak bicara. Apalagi banyak marah. Karena akan menyebabkan kita masuk neraka:

    Sesungguhnya Allah melarang kamu banyak omong, yang diomongkan, dan menyia-nyiakan harta serta banyak bertanya. (HR. Asysyihaab)

    Barangsiapa banyak bicara maka banyak pula salahnya dan barangsiapa banyak salah maka banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya. (HR. Ath-Thabrani)

    Jika marah, diamlah. Kebanyakan penyebab retaknya rumah tangga / keluarga adalah ketika suami/istri marah, mereka tidak diam. Justru melontarkan perkataan yang menyakitkan hati pasangannya. Padahal dengan diam pun pasangan kita tahu kita sedang marah tanpa membuat dia sakit hati karena perkataan kita:

    Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam. (HR. Ahmad)

    Jika kita marah, maka pahala kita akan diberikan kepada orang yang kita marahi. Jika pahala kita habis, maka dosa orang yang kita marahi dipindahkan Allah ke kita. Inilah orang yang muflis/bangkrut di akhirat. Dia mengira akan masuk surga karena rajin beribadah, tapi dia juga rajin menzhalimi/memarahi orang lain hingga akhirnya masuk neraka:

    Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui pada dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia. (HR. Ad-Dailami)

    Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Nabi Saw lalu berkata, “ Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci-maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah memakan harta orang itu. Di akhirat orang-orang yang disakitinya menuntut dan mengambil pahalanya sebagai tebusan. Bila pahalanya habis sebelum selesai ganti rugi atas dosa-dosanya maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka.” (HR. Muslim)

    Jika kita berbuat salah kepada Allah, begitu kita tobat dan minta ampun kepada Allah, niscaya Allah memaafkan. Tetapi jika kita berbuat salah terhadap manusia, misalnya memarahinya, dosa kita tidak akan diampuni kecuali orang yang kita meminta maaf kepada orang yang kita zhalimi.

    Ada satu kisah seorang ayah menyuruh anaknya yang pemarah untuk memaku beberapa paku ke pagar. Meski paku-paku itu dicabut, namun lubang bekas paku itu tetap ada. Begitulah jika kita memarahi orang. Meski kita sudah minta maaf, namun bekas luka di hati orang yang kita marahi akan tetap ada.

    Kita harus yakin bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar. Sehingga Allah mengetahui jika kita sedang menzhalimi seseorang. Kita juga harus yakin bahwa segala ucapan dan tindakan kita selalu dicatat oleh dua malaikat, yaitu Roqib dan ‘Atid dan akan dihitung di hari Kiamat nanti. Oleh sebab itu hindarilah segala ucapan dan perbuatan yang buruk.

    Jangan mencaci/menghina orang lain dengan sebutan yang anda sendiri tidak suka:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri (maksudnya saudaramu) dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan” [Al Hujuraat:11]

    Tips agar tidak marah:

    • Baca ta”awudz (a”udzubillahi minasy syaithoonir rojiim) sebab setan membisikkan manusia untuk berbuat dosa termasuk marah. Berlindunglah terhadap Allah.
    • Bersabarlah. Tahan kemarahan anda
    • Diamlah
    • Jika anda berdiri, duduklah.
    • Jika masih marah, berwudlu-lah
    • Jika terpaksa bicara, beritahu cara yang benar. Misalnya: Kalau melakukan ini caranya begini sambil memperagakannya. Jangan panjang-panjang cukup 2x. Kalau kesalahan masih terulang, ulangi lagi nasehat tersebut. Hindari menggelari orang dengan sebutan yang anda sendiri tidak suka seperti bodoh, dan sebagainya.

    ***

    Sumber: syiarislam.wordpress.com/2008/03/17/jangan-marah/

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 22 May 2012 Permalink | Balas  

    Adab ke Masjid

    Hadits pertama “Dari Abu Qatadah, ia berkata : Tatkala kami sedang shalat bersama Nabi SAW, tiba-tiba beliau mendengar suara berisik orang-orang (yang datang). Maka ketika Nabi telah selesai shalat, ia bertanya : “Ada apa urusan kamu tadi (berisik) ?”. Mereka menjawab : “Kami terburu-buru untuk turut (jama’ah)”, Nabi SAW berkata : “Janganlah kamu berbuat begitu !. Apabila kamu mendatangi shalat, hendaklah kamu berlaku tenang ! Apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan, sempurnakanlah !” (Hadits riwayat : Ahmad, Muslim dan Bukhari).

    Hadits keduaDari Abu Hurairah dari Nabi SAW beliau bersabda : “Apabila kamu mendengar iqamat, maka pergilah kamu ke tempat shalat itu, dan kamu haruslah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat, dan janganlah kamu tergesa-gesa, apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan sempurnakanlah”. (Hadits riwayat : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i & Ahmad).

    Kedua hadits ini mengandung beberapa hukum :

    1. Kita diperintah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat apabila mendatangi tempat shalat/masjid.
    2. Kita dilarang tergesa-gesa/terburu-buru apabila mendatangi tempat shalat, seperti berlari-lari, meskipun iqamat telah dikumandangkan.
    3. Kita dilarang berisik apabila sampai di tempat shalat, sedang shalat (jama’ah) telah didirikan. Ini dapat mengganggu orang-orang yang sedang shalat jama’ah.
    4. Imam masjid perlu menegur (memberikan pelajaran/nasehat) kepada para jama’ah (ma’mum) yang kelakuannya tidak sopan di masjid, seperti berisik, mengganggu orang shalat, melewati orang yang sedang shalat, shaf tidak beres, berdzikir dengan suara keras, yang dapat mengganggu orang yang sedang shalat atau belajar atau lain-lain.
    5. Apa yang kita dapatkan dari shalatnya Imam, maka hendaklah langsung kita shalat sebagaimana keadaan shalat Imam waktu itu.
    6. Setelah Imam selesai memberi salam ke kanan dan ke kiri, barulah kita sempurnakan apa-apa yang ketinggalan.

    Diantara hikmahnya kita diperintahkan tenang dan sopan serta tidak boleh tergesa-gesa, Nabi SAW pernah bersabda. Artinya : “Karena sesungguhnya salah seorang diantara kamu, apabila menuju shalat, maka berarti dia sudah dianggap dalam shalat”. (Hadits riwayat : Muslim). Periksa : Shahih Muslim 2 : 99,100. Shahih Bukhari 1 : 156. Subulus Salam (syarah Bulughul Maram) 2 : 33, 34. Nailul Authar (terjemahan) 2 : 781. koleksi hadits hukum, Ustadz Hasbi 4 : 27. Fiqih Sunnah.

    Hadits ketiga “…..Kemudian muadzin adzan (Shubuh), lalu Nabi keluar ke (tempat) shalat (masjid), dan beliau mengucapkan : “ALLAHUMMAJ ‘AL FI QALBY NUURAN dan seterusnya (yang artinya) : “Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, dan didalam ucapanku cahaya, dan jadikanlah pada pendengaranku cahaya, dan jadikanlah pada penglihatanku cahaya, dan jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya, dan jadikanlah dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya”. (Hadits riwayat : Muslim & Abu Dawud).

    Keterangan :

    1. Hadits ini diriwayatkan dari jalan Ibnu Abbas ra yang menerangkan tentang shalat Nabi SAW diwaktu malam (shalat ul-lail).
    2. Hadits ini menyatakan : Disukai kita mengucapkan do’a di atas di waktu pergi ke Masjid. Periksa : Tuhfatudz Dzakirin hal : 93, Imam Syaukani. Al-Adzkar hal : 25, Imam Nawawi. Fathul Bari’ 11 : 16, Ibnu hajar. Aunul Ma’bud (syarah Abu Dawud) 4 : 232. Syarah shahih Muslim 5 : 51, Imam Nawawi.

    Hadits keempat “Dari Abi Humaid atau dari Abi Usaid, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW : “Apabila salah seorang kamu masuk masjid, maka ucapkanlah : “ALLAHUMMAF TAHLI ABWAABA RAHMATIKA (Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”. Dan apabila keluar (dari masjid), maka ucapkanlah : “ALLAHUMMA IN-NI AS ALUKA MIN FADLIKA (Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu)”. (Hadits riwayat : Muslim, Ahmad & Nasa’i).

    Hadits ini menyatakan : Disunatkan kita mengucapkan do’a di atas apabila masuk ke masjid dan keluar dari padanya. Periksa : Shahih Muslim 2 : 155. Sunan Nasa’i 2 : 41. Fathur Rabbani 3 : 51,52 Nomor hadits 314. Al-Adzkar hal : 25.

    Hadits kelimaDari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi SAW, bahwasanya Nabi SAW, apabila masuk masjid, beliau mengucapkan : “AUDZU BILLAHIL ‘AZHIMI WABIWAJHIHIL KARIIMI WA SULTHANIHIL ADIIMI MINASY SYAITHANIR RAJIIM” (Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dan dengan wajah-Nya yang Mulia serta kekuasaan-Nya yang tidak mendahuluinya, dari (gangguan) syaithan yang terkutuk)”. Nabi SAW berkata : Apabila ia mengucapkan demikian (do’a di atas), syaithanpun berkata : Dipeliharalah ia dari padaku sisa harinya”. (Hadits riwayat Abu Dawud).

    Hadits ini menyatakan : Disunatkan kita membaca do’a mohon perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan apabila memasuki masjid. Periksa : Sunan Abu Dawud Nomor hadits : 466, Aunul Ma’bud Nomor hadits : 462. Minhalul ‘Adzbul Mauruud (syarah Abu Dawud) 4 : 75, Imam As-Subki. Adzkar hal : 26. Tafsir Ibnu Katsir 3 : 294.

    ***

    Abdul Hakim bin Amir Abdat

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 20 May 2012 Permalink | Balas  

    Jihad Ibu

    Rasulullah SAW bersabda, ”Setiap jerih payah istri di rumah sama nilainya dengan jerih payah suami di medan jihad.” (HR Bukhari dan Muslim). Pada dasarnya, Islam telah memberikan keistimewaan kepada para istri untuk tetap berada di rumahnya. Untuk mendapatkan surga-Nya kelak, para istri cukup berjuang di rumah tangganya dengan ikhlas. Tetesan keringat mereka di dapur dinilai sama dengan darah mujahid di medan perang.

    Menjadi ibu rumah tangga kedengarannya memang sepele dan remeh, hanya berkecimpung dengan urusan rumah dari A-Z, namun siapa sangka banyak sekali kebaikan dan hikmah yang dapat diperoleh. Ibulah yang mengambil porsi terbesar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi.

    Pertumbuhan suatu generasi bangsa pertama kali berada di buaian para ibu. Di tangan ibu pula pendidikan anak ditanamkan dari usia dini, dan berkat keuletan dan ketulusan ibu jualah bermunculan generasi-generasi berkualitas dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.

    Dalam Islam, ini adalah tugas besar, namun sangat mulia dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ”Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Sayangnya, kebanyakan wanita modern saat ini tidak menyukai aktivitas rumah tangga. Mereka lebih bangga bekerja di luar rumah karena beranggapan tinggal di rumah identik dengan ketidakmandirian dan ketidakberdayaan ekonomi. Maka, jadilah peran ibu di rumah dianggap rendah, dan tidak sedikit ibu rumah tangga yang malu-malu ketika ditanya apa pekerjaannya.

    Meskipun seorang wanita tidak bekerja setelah lulus sarjana, ilmunya tidak akan sia-sia, sebab ia akan menjadi ibu sekaligus pendidik bagi anak-anaknya. Kebiasaan berpikir ilmiah yang ia dapatkan dari proses belajar di bangku kuliah itulah yang akan membedakannya dalam mendidik anak. Seorang ibu memang harus cerdas dan berkualitas, sebab kewajiban mengurus anak tidak sebatas memberi makan.

    Ia harus mampu merawat dan mendidik anak-anaknya dengan benar, penuh kasih sayang, kesabaran, menempanya dengan nilai dan norma agama agar sang anak mampu menghindar dari pengaruh lingkungan dan kemajuan teknologi yang merusak akal dan akhlaknya. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh seorang ibu yang cerdas. (Siti Yuliati)

    ***

    Sumber: republika

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 19 May 2012 Permalink | Balas  

    Amanah

    Ust. DR H. Suhairy Ilyas. MA

    Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, (QS..4:58)

    Amanah, Iman dan Aman adalah tiga kata yang berasal dari akar kata yang sama, yaitu kata Amina. Pada umumnya kata-kata yang berasal dari akar kata yang sama masing-masing mempunyai kedekatan makna, disamping juga mempunyai korelasi makna. Demikian juga dengan kata-kata : Amanah, Iman dan Aman.

    Amanah artinya adalah sesuatu yang dititipkan atau dipercayakan kepada seseorang. Iman artinya adalah kepercayaan atau keyakinan.. Aman adalah sesuatu yang dipercayai atau diyakini tidak ada gangguan sedikitpun. Lawan dari aman adalah ketakutan atau kekacauan karena ada yang mengacau atau mengganggu.

    Adapun korelasi diantara ketiganya itu adalah bahwa Amanah itu tidak akan terlaksana tanpa Iman, hanya dengan landasan Iman lah amanah itu akan terlaksana. Sedangkan Aman adalah hasil daripada Amanah yang berlandaskan Iman. Dengan artikata Amanah yang diserahkan kepada orang yang beriman pasti akan menimbulkan rasa aman.

    Demikialah, Amanah itu akan menjamin rasa Aman : Bila suatu negeri dipimpin oleh pemimpin yang beriman maka negeri itu pasti akan aman, itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para Khulafaurrasyidin yang penuh amanah. Sebaliknya bila suatu negeri rakyatnya tidak merasa aman, salah satu penyebabnya ialah karena pemimpin negeri itu yang tidak amanah alias khianat. Kenapa terjadi korupsi besar-besaran disuatu negeri sehingga negeri itu menjadi terancam bangkrut karena dililit hutang, dan rakyat terancam kemiskinan yang menyedihkan ? Jawabnya karena hilangnya amanah dari pemimpin negeri tersebut.

    Karena itulah Rasulullah SAW. Pernah mengingatkan: “Idza dhuyi’atil amanah fantazhirissa’ah” artinya : Bila disia-siakan amanah maka tunggulah kehancuran!. Lalu sahabat bertanya: “Wakaifa idha’atuha?” Rasulullah menjawab : “Idza wusidal amru ila khairi ahlihi fantazhirissa’ah!”. Bila diserahkan suatu urusan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran! Maksudnya, bila diserahkan kepemimpinan kepada orang yang bukan ahlinya, ahlinya disini bukan hanya ahli dalam hal ilmu atau managemen, tapi pengertian ahli disini adalah orang yang memenuhi syarat, berhak dan pantas untuk memikul tanggung jawab. Orang yang tidak amanah seharusnya tidak berhak untuk jadi pemimpin atau memegang keuangan; bila diserahkan juga kepemimpin kepada orang yang tidak amanah tentulah dia akan khianat dalam kepemimpinannya.

    Rasulullah SAW sebelum menjadi Rasul mendapatkan gelar kehormatan dari masyarakat Arab waktu itu dengan “Al-Amin” karena dikenal oleh masyarakat sebagai seorang yang sangat dipercaya dalam menjaga Amanah. Setelah beliau menjadi Rasul, maka salah satu sifat yang wajib beliau miliki adalah sifat Amanah. Dalam kenyataanya memang beliau seumur hidupnya sangat berpegang teguh pada Amanah, baik amanah yang beliau terima dari Allah secara lansung untuk menegakkan Islam, maupun amanah yang diberikan masyarakat kepada beliau. Karena itulah kepemimpinan beliau berhasil dengan gemilang-gemilang, beliau berhasil menciptakan rasa aman yang merata, padahal beliau mendapati masyarakat jahiliyah dalam keadaan kacau balau, jauh dari rasa aman. Waktu prosesi Hijrah ke Madinah.

    Ali bin Abi Thalib selain diperintah Rasulullah untuk mengelabui orang-orang kafir yang mengepung rumah beliau dengan tidur ditempat tidur dan memakai selimut beliau; Ali juga diperintahkan Rasulullah untuk mengembalikan kunci-kunci kedai dan gudang yang diamanahkan masyarakat Arab pada beliau.

    Dengan demikian dapat difahami bahwa Amanah merupakan salah satu tanda orang yang beriman. Apabila seorang tidak dapat memegang amanah suatu pertanda dia bukan orang yang beriman, tepatnya orang munafiq. Karena itulah dalam salah satu hadits shahih Rasulullah SAW. Bersabda (yang artinya) : “Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga : Bila berbicara bohong, bila berjanji mungkir, bila diberi amanah dia khianat (HR.Bukhari Muslim dari Ibnu Mas’ud). Hadits ini menjelaskan bahwa salah satu tanda orang munafiq ialah tidak dapat memegang amanah atau khianat terhadap amanah.. Dalam kenyataannya memang orang-orang munafiq sangat sering mengkhianati Rasulullah dan para sahabat..

    Amanah akan mudah dikhianati bila yang memegang amanah merasakan bahwa amanah yang dipegangnya itu adalah amanah dari atasannya atau dari seseorang manusia, karena orang yang memberi amanah itu tidak selalu bersama dia dan mengawasinya. Akan tetapi bila yang memegang amanah menyadari sepenuhnya bahwa hakikat semua amanah itu adalah perintah Allah SWT, kepada hamba-Nya (QS.4:58), maka amanah itu tidak akan mudah dikhianati, karena dia merasakan bahwa Allah senantiasa mengawasi amanah yang diamanahkan kepadanya..Bila dia berhasil menjaga amanah tersebut, dia yakin bahwa Allah akan ridha kepadanya, dan bila dia khianat pada amanah tersebut, maka Allah akan murka kepadanya.

    Seorang mukmin sangat takut mengkhianati amanah, karena mengkhianati amanah berarti melunturkan iman, bahkan melunturkan agamanya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW Bersabda : “Addinu amanah, la diina liman la amanita lahu” Agama itu adalah amanah, tidak ada agama bagi orang yang tidak amanah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 18 May 2012 Permalink | Balas  

    Keajaiban Tasbih 

    KEAJAIBAN TASBIH

    Oleh: Abu Bakrin al-Atsari

     Subhanallahi wa bihamdihi , Subhanallahil ‘adhim

    “Maha Suci Allah dan dengan pujian-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung ” (HR. Muslim :2692, Abu Dawud:5091)

    A. Makna Dzikir Ini

    Tasbih artinya penyucian Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala sifat kekurangan. Adapun Bihamdihi maknanya aku bertasbih sambil memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maksud seseorang bertasbih dengan dzikir ini adalah untuk menjauhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya seperti bodoh, lemah, mati, ngantuk dan sifat-sifat yang serupa dengan makhluk-Nya sekaligus memuji-Nya dengan menetapkan sifat- sifat yang sempurna bagi-Nya. (Syarh Aqidah Wasithiyyah:1/128, Syahrul Mumti’:2/67, al-futuhat:1/135).

    B. Kapan Dzikiri Ini Dibaca

    Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa membaca tatkala pagi dan sore Subhanallah wa bihamdihi 100kali maka tidaklah datang seseorang pada hari kiamat dengan amalan yang lebih utama daripada bacaan ini kecuali seseorang yang mengucapkan yang serupa atau lebih banyak lagi.” (HR. Muslim no.2692, Abu Dawud 5091)

    C. Keutamaan Dzikir Ini

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan: “Dua kata yang ringan di lidah, berat dalam mizan (timbangan amal hari kiamat), disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘adhim. (Shahih Bukhari :6406)

    Dari Jabir radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan Subhanallahil ‘adhim wa bihamdihi maka ditanamkan baginya kurma di surga”. (Hasan Shahih, Sunan Tirmidzi:3464)

    Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan: “Barangsiapa yang membaca Subhanallahi wa bihamdihi dalam sehari 100 kali maka diampuni dosanya sekalipun seperti buih dilautan”. (Muslim:6842)

    Dari Sulaimana bin Yasar dari seorang laki-laki Anshor bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Berkata Nabi Nuh ‘alaihissallam kepada anaknya: ‘ Aku wasiatkan kepadamu dengan suatu wasiat yang aku ringkas agar engkau tidak melupakannya. Aku wasiatkan dengan dua hal dan aku larang dari dua hal’. Kemudian beliau menyebutkan diantara wasiatanya, “Dan aku wasiatkan dengan Subhanallahi wa bihamdihi karena ia adalah do’anya para makhluk dan dengan dua kata itu makhluk diberikan rezeki. Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (QS. Al Isra’(17):44). (HR. an-Nasai dan al-Bazzar, lihat Shahih Targhib wa Tarhib:1543)

    D. Faedah

    Konteks hadits ini (Hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu diatas) menunjukkan bahwa dzikir ini dibaca 100kali sekaligus untuk dua waktu itu tidak dipisah menjadi dua waktu, pagi 100 kali dan sore 100kali, berdasarkan riwayat lain yang menjelaskan hal itu. Lebih utama maksudnya lebih utama dari jenis dzikir ini bukan dari amalan yang lain. (lihat al-Futuhat:1/669) Bolehnya menambah bilangan dzikir ini karena disyariatkan dan tidaklah terlarang, sebagaimana larangan untuk menambah ibadah yang memang sudah dibatasi bilangannya seperti roka’at shalat, bilangan wudhu dan lainnya. (al Futuhat:1/670) Allah-lah pemberi taufiq ke jalan yang benar.

    Wallahu ‘alamu bish showab.

    ***

    Diketik ulang dari Majalah Al-Mawwadah Edisi 12 Tahun ke 1, Jumadil Tsani – Rajab 1429 H, Rubrik Benteng Diri Muslim hal.20

    Humaira Ummu Abdillah

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 16 May 2012 Permalink | Balas  

    Malaikat Yang Mengunjungi Orang Sakit

    “Apabila seorang hamba yg beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yg terbaik yg dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”

    Oleh Abu Imamah al Bahili. Dalam hadist yg lain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.

    Allah memerintahkan:

    • Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
    • Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya
    • Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
    • Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

    Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.

    Namun untuk malaikat ke 4 , Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa2nya kepada hamba mukmin.

    Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata :

    “‘Ya Allah mengapa dosa2 ini tidak Engkau kembalikan ?”

    Allah menjawab : “ Tidak baik bagi kemuliaanKu jika Aku mengembalikan dosa2nya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa2 tersebut ke dalam laut.”

    Dengan ini , maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

    “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”

    ***

    (Diambil dari Kitab Klasik Al Mawa’izh al Ushfuriah)

    Smg kisah ini dapat memberi hikmah dan manfaat bagi kita semua terlebih bagi teman2ku, saudara2ku dan orang2 yg aku cintai yg sedang dalam keadaan sakit, smg diberikan kesabaran dan ketabahan…..Aamiin..

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 15 May 2012 Permalink | Balas  

    Syarat Untuk Ingkar Kepada Allah

    Berikut ini ialah beberapa syarat seandainya kita ingin ingkar kepada Allah:

    1. Janganlah engkau tinggal di buminya Allah, termasuk juga di semesta alam yang diciptakan Allah swt.
    2. Janganlah engkau mengirup udara yang disediakan Allah bagi hambaNya
    3. Janganlah engkau memakan rezekiNya
    4. Seandainya datang malaikat pencabut nyawa hendak mencabut nyawamu, usirlah dia dan kalau bisa bunuhlah dia.
    5. Hindarilah pertanyaan dan siksa kubur.
    6. Tolaklah ketika engkau di putuskan untuk menghuni neraka
    7. Janganlah engkau menghuni syurga Allah
    8. Dan lain – lain sebagainya

    Seandainya engkau dapat melakukan hal tersebut silahkan engkau ingkari kepada Allah swt dan berlakulah sesuka hatimu. Namun, jika engkau tidak sanggup melaksanakannya walaupun hanya satu, wajiblah engkau mengikuti jalan yang telah di risalahkan Allah melalui para Rasul Nya

    ***

    Oleh Sahabat: Alex Kibadachi

    Referensi : Ali bin Abi Thalib, karya Ali Audah

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 14 May 2012 Permalink | Balas  

    Manfaat Dzikir  

    1.Membuat hati menjadi tenang.

    Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar Ra’d : 28)

    Banyak orang yang ketika mendapat kesulitan maka mereka mencari cara-cara yang salah untuk dapat mencapai ketenangan hidup. Diantaranya dengan mendengarkan musik yang diharamkan Allah, meminum khamr atau bir atau obat terlarang lainnya. Mereka berharap agar bisa mendapatkan ketenangan.. Yang mereka dapatkan bukanlah ketenangan yang hakiki, tetapi ketenangan yang semu. Karena cara-cara yang mereka tempuh dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

    Ingatlah firman Allah Jalla wa ‘Ala di atas, sehingga bila kita mendapat musibah atau kesulitan yang membuat hati menjadi gundah, maka ingatlah Allah, insya Allah hati menjadi tenang.

    2.Mendapatkan pengampunan dan pahala yang besar.

    “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab : 35)

    3.Dengan mengingat Allah, maka Allah akan ingat kepada kita.

    Allah berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan)”. (Al Baqarah : 152)

    4.Dzikir itu diperintahkan oleh Allah agar kita berdzikir sebanyak-banyaknya.

    Firman Allah Azza wa Jalla “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada – Nya di waktu pagi dan petang.” (Al Ahzab : 41 – 42)

    5.Banyak menyebut nama Allah akan menjadikan kita beruntung.

    “Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Al Anfal : 45)

    6.Dzikir kepada Allah merupakan pembeda antara orang mukmin dan munafik, karena sifat orang munafik adalah tidak mau berdzikir kepada Allah kecuali hanya sedikit saja.

    “Sesungguhnya orang – orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (An Nisaa’ : 142)

    7.Dzikir merupakan amal ibadah yang paling mudah dilakukan.

    Banyak amal ibadah yang sebetulnya mudah untuk kita lakukan. Semisal :

    • Membaca basmillah ketika akan makan / minum
    • Membaca doa keluar / masuk kamar mandi
    • Membaca dzikir – dzikir sewaktu pagi dan petang
    • Membaca doa keluar / masuk rumah
    • Membaca doa ketika turun hujan
    • Membaca dzikir setelah hujan turun
    • Membaca doa ketika berjalan menuju masjid
    • Membaca dzikir ketika masuk / keluar masjid
    • Membaca hamdalah ketika bersin
    • Membaca dzikir – dzikir ketika akan tidur
    • Membaca doa ketika bangun tidur

    Dan lain-lain banyak sekali amalan yang mudah kita lakukan. Bila kita tinggalkan, maka rugilah kita berapa banyak ganjaran yang harusnya kita dapat, tetapi tidak kita peroleh padahal itu mudah untuk diraih. Coba saja hitung berapa banyak kita keluar masuk kamar mandi dalam sehari?

    ***

    Oleh Sahabat: Alex Kibadachi

    Di rangkum dan diunduh dari Perpustakaan Islam

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 13 May 2012 Permalink | Balas  

    Besarnya Kebutuhan Hamba Kepada Allah   

    Kata Rabb sebagai salah satu nama Allah memiliki makna yang sangat luas. Kata itu mancakup seluruh makna tarbiyah. Bahwa Allah lah yang mengurus seluruh mahluk  dengan berbagai nikmat yang Dia berikan. Dialah  yang memiliki, menguasai, mencipta, mengatur, menghidupkan, memberi rezeki, mematikan dan sebagainya. Sehingga, seluruh kenikmatan yang ada pada seluruh mahluk, hanyalah dating dari Allah Ta’ala.

    Allah Ta’ala berfirman, “Dan apa saja nikmat yang ada  pada kamu, maka dari dari Allah-lah(datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl:53)

    Maka Allah adalah Dzat yang Maha Kaya, tidak butuh kepada selain-Nya, sedangkan mahluk adalah dzat yang penuh dengan kekurangan, selalu butuh kepada yang lain. Oleh karena itu, tatkala Allah menyatakan tujuan penciptaan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya, Dia menegaskan bahwa hal itu bukan karena Allah, butuh kepada  peribadahan yang mereka lakukan, bahkan Allah-lah yang memberi rezeki kepada mereka.

    Allah berfirman: “Dan aku  tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Adz-Dzariyat: 56-58)

    Kebutuhan Duniawi Kebutuhan seorang hamba kepada Allah dalam hal keduniaan, tidaklah samar. Bahkan setiap orang pasti mengakuinya, kecuali orang-orang yang sombong dan takabbur.

    Allah Ta’ala berfirman tentang pengakuan orang-orang musyrik, “Katakanlah, siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan. Maka mereka (orang-orang musyrik) akan menjawab, Allah. Maka katakanlah, mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”(Yunus:31)

    Dan pengakuan seperti ini menuntut seorang hamba untuk beribadah kepada-Nya dan mengesakan-Nya dalam ibadah. Karena dzat yang memiliki kepemilikan, kekuasaan dan pengaturan yang mutlak, adalah Dzat yang berhak dan wajib diibadahi. Sedangkan Dzat yang memiliki sedikit saja kebutuhan kepada yang lain, maka tidak layak untuk dijadikan sesembahan. Maka seorang hamba yang memperhatikan bahwa kebutuhan dunianya hanya berada pada Allah, tidak ada yang menguasainya selain Dia, dia akan meminta hanya  kepada Allah, bertawakal hanya kepada Allah, beribadah hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain. Dan dia akan senantiasa mengagungkan dan mencintai Allah Ta’ala. Kebutuhan Ukhrawi Kehidupan dan kebahagiaan yang abadi di akhirat, hanya akan digapai dengan taat dan beribadah hanya kepada Allah.

    “(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api Neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.”(An-Nisa: 13-14)

    Dan di sini, kita harus memahami bahwa seorang hamba tidak akan mungkin mampu melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada Allah melainkan taufik dan pertolongan dari-Nya. Syekh Abdurahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah ketika menafsirkan kalimat iyyakana’budu wa iyyaka nasta’in dalam surat Al-Fatihah, berkata,”Dia (Allah) menyebutkan isti’anah (permohonan pertolongan) setelah menyebutkan ibadah –padahal isti’anah termasuk ibadah-karena seorang hamba dalam seluruh ibadah yang dilakukannya senantiasa butuh kepada pertolongan Allah. Jika Allah tidak memberikan pertolongan kepadanya, niscaya dia tidak mampu mewujudkan kehendaknya untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.” (Lihat Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Man-nan)

    Perhatikan pula wasiat Rasulullah kepada Mu’adz, “Wahai Mu’adz, demi Allah aku mencintaimu. Kemudian aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah engkau tinggalkan pada akhir setiap shalat untuk mengucapkan (doa yang artinya), ‘Wahai Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu dan memperbagus ibadah kepada-Mu.’”(Hadist Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasa’i)

    Setelah kita memahami ini, adakah sedikit celah bagi kita untuk merasa tidak butuh kepada Allah, lalu melupakan dan meninggalkan-Nya? Bahkan, setiap saat dan setiap detik kita senantiasa butuh kepada-NYa. Lalu, kenapa terus bermaksiat?!

    Wallahul musta’an.

    ***

    Diketik ulang dari Majalah Nikah Vol. 7, No. 1, Apr-Mei 2008, Hal. 20-21

     
    • solehudin 8:32 pm on 16 Mei 2012 Permalink

      Jazakumullah, izin capos, moga bermanfaat buat sudara kita yang lainnya…

  • erva kurniawan 1:07 am on 12 May 2012 Permalink | Balas  

    Kitab Khusus Dewasa

    Sungguh telah banyak kuketahui pengalaman masuk Islamnya orang-orang Nasrani, baik laki-laki maupun perempuan di negeri yang berbeda-beda. Tetapi ada satu kisah yang paling mengesankan, bahkan membuatku menangis panjang. Ia sebuah kisah yang kudengar langsung dari pemiliknya.

    Ia seorang gadis Mesir yang masih muda belia. Ia sangat mencintai agamanya, dan sangat berpegang teguh dengan ajaran-ajarannya. Dia seorang gadis yang beradab, suci, lagi berakhlak mulia. Tetapi di saat dia meragukan sesuatu dari Bibel, pikirannya tidak tenang kecuali dia harus sampai pada hakikat yang sebenarnya agar keraguan itu hilang dari dirinya. Dia ingin beribadah kepada Allah melalui agama yang Dia ridhai.

    Akhirnya, dia pun sampai kepada hakikat yang sebenarnya dengan seorang diri, tanpa seorang pun yang mempengaruhi atau ikut campur. Agar tidak memperpanjang kata, saya persilahkan Anda untuk membaca kisahnya langsung dari penuturannya. Sungguh, sepanjang penuturan kisah ini, dari awal hingga akhir, dia banyak menangis, bahkan terhenti dari perkataan untuk beberapa lama karena dia teruskan penuturannya setiap kali dia sedikit tenang.

    Dia berkata:

    Pertama, saya ingin mengatakan kepada seluruh orang Nasrani, sesungguhnya firman Tuhan kita haruslah bisa dipahami keseluruhannya oleh orang terpelajar, orang jahil, orang kaya, miskin, dan seluruh makhluk.

    Permulaan kisah berawal ketika aku duduk dalam sebuah bis, di tempat khusus untuk kaum wanita. Lalu aku mendapati seorang muslimah duduk di tengah teman-temannya. Ia sedang membaca al-Qur’an di hadapan mereka.

    Aku melihat kepadanya, dan kagum. Lalu aku bertanya-tanya, apakah mungkin bagiku untuk memegang Bibel, lalu aku bacakan ‘Kidung Agung’ di hadapan seluruh manusia tanpa ada seorang pun di antara mereka yang memahaminya dengan pemahaman yang buruk?

    Aku berkata pada diri sendiri,”Aku harus menirunya.” Lalu kukeluarkan Bibel, dan berusaha untuk membacanya, tetapi aku tidak bisa. Setiap kali berusaha membaca, kudapati diriku merasa tidak enak untuk membaca kalimat-kalimat kitabku.

    Kukatakan pada diri sendiri,”Mengapa wahai Yesus, aku takut mereka akan salah dalam memahami-Mu? Mengapa aku tidak bisa membaca firman-Mu?” Kemudian aku pun duduk sambil menangis.

    Aku pergi ke gereja, lalu masuk menemui pastur. Kukatakan kepadanya,”Wahai Bapa, aku telah membuka Bibel. Tadi aku ingin membacanya di hadapan manusia, tetapi aku tidak kuasa. Apakah Anda kuasa wahai Bapa untuk membaca Kidung Agung di hadapan manusia?” Anda akan mengatakan, ‘Perutmu, pahamu, dan pusarmu?’ Wahai Bapa, bukankah firman itu dari roh Allah? Jika demikian haruslah ia berbicara dengan roh pula? Akan tetapi kitab kita hanya membicarakan gairah dan syahwat belaka. Jika saya membacanya di hadapan siapapun, apakah saya akan mengatakan kepadanya, perut adalah roh, paha adalah roh, dan segala sesuatu adalah roh. Kemudian setelah itu aku katakana kepadanya bahwa zina itu adalah sebuah kesalahan?!

    Pastur itu pun menjawab seraya berkata,”Yesus akan marah kepadamu, bukan urusanmu terhadap orang lain.”

    Aku kembali ke rumah dalam keadaan bingung. Aku tidak kuasa berbicara dengan seorang pun. Lebih dari sehari aku tinggal, tidak makan dan minum, dalam keadaan menangis setiap kali ada yang bertanya kepadaku tentang sebabnya, aku mengatakan,’Temanku mati dalam sebuah kecelakaan di hadapanku.’

    Beberapa hari setelahnya, aku masuk ke internet. Kuceritakan kisahku kepada orang-orang Nasrani,’Aku ingin ada seorang kristiani yang memahamkan dan menjawabku.’

    Aku menungggu selama tiga hari, tidak seorang pun yang menjawab.

    Lalu kuputuskan untuk masuk ke website milik seorang Nasrani terkenal yang ahli dalam bidang teologi. Websitenya terkemuka di kalangan Nasrani. Kukatakan pada diriku,’Dialah yang akan memberikan  petunjuk kepadaku.’ Aku pun langsung bertanya kepadanya,’Apakah mungkin bagiku untuk membaca Kidung Agung di hadapan manusia tanpa malu?’

    Dia menjawab,’Di tengah-tengah kaum muslimin ada orang-orang sufi yang mengatakan perkataan tidak bagus, dan Rabi’ah al-Adawiyah mengatakan,’Aku mencintai-Mu dengan dua cinta.’

    Kukatakan kepadanya,’Jawablah saya (dengan jawaban) dari agama saya sendiri, jangan menjawab dari agama lain. Saya katakan kepada Anda firman Tuhan kita, maka jangan berdalil atas orang lain dengan perkataan seorang wanita dari mereka. Tetapi sebutkanlah dalil dari kitab Tuhan mereka.’

    Dia menjawab dan berkata kepada saya,’Di dalam al-Qur’an, Tuhan kita mensifati Bidadari dengan: “Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 37)

    Kukatakan kepadanya,’Apakah Tuhan kita menyerupakan hubungannya dengan bidadari itu seperti penyerupaan-Nya dalam Bibel, yaitu seakan-akan keduanya tidur bersama? Kemudian setiap melihat saluran televisi keIslaman, tidak pernah aku dapati ada seorang ulama yang menjawab pertanyaan berdalil dengan Bibel. Ia hanya berdalil dari kitab mereka, dan perkataan nabi mereka. Lalu mengapa Anda tidak menjawab saya dari Bibel?’

    Dia menjawab dengan marah dan mencibir,’Sudah, biarkan al-Qur’an memberimu manfaat.’

    Kukatakan kepadanya,’Aku akan diam dan tidak akan bertanya, agar aku tidak paham, karena tidak ditemukan jawaban pada kitab Tuhan kita.’

    Di saat aku lelah berpikir, timbullah satu pemikiran,’Aku akan memcoba membacakan sesuatu dari Injil kepada manusia, barangkali aku salah persepsi bahwa manusia akan salah paham.’ Lalu kukatakan,’Aku harus mencoba agar waswas ini menjauh dariku, dan waswas itu akan menjauh karena Yesus telah melakukan beberapa mukjizat. Aku yakin, di saat aku membaca, firman itu akan sampai kepada roh manusia. Dan barangkali salah satu di antara orang yang nantinya akan beriman kepada Yesus, atau kagum dengan firman Tuhan yang kemudian hilanglah keragu-raguanku.’

    Aku pun pergi ke halte bis. Ketika menunggu bis, di sebelahku terdapat beberapa gadis muslim. Kala itu aku bersama seorang teman. Kukatakan kepada temanku,’Bagaimana pendapatmu, aku bacakan kepadamu beberapa ayat yang indah dari Bibel?’ Dia setuju.

    Aku mengeraskan suaraku agar gadis-gadis muslimah itu mendengar ayat-ayat Bibel (dalam bahasa Arab) tersebut:

    Betapa indah langkah-langkahmu dengan sandal-sandal itu, putri yang berwatak luhur! Lengkung pinggangmu bagaikan perhiasan, karya tangan seniman. Pusarmu seperti cawan yang bulat, yang tak kekurangan anggur campur. Perutmu timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung. Seperti dua anak rusa, buah dadamu, seperti anak kembar kijang. Lehermu bagaikan menara gading, matamu bagaikan telaga di Hesybon, dekat pintu gerbang Batrabim; hidungmu seperti menara di gunung Libanon, yang menghadap ke kota Damsyik. Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung; seorang raja tertawan dalam kepang-kepangnya. Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi. Sosok tubuhmu seumpama pohon kurma dan buah dadamu gugusannya. Kataku: “Aku ingin memanjat pohon kurma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel. Kata-katamu manis bagaikan anggur!” Ya, anggur itu mengalir kepada kekasihku dengan tak putus-putusnya, melimpah ke bibir orang-orang yang sedang tidur! Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairah tertuju. Mari, kekasihku, kita pergi ke padang, bermalam di antara bunga-bunga pacar! Mari, kita pergi pagi-pagi ke kebun anggur dan melihat apakah pohon anggur sudah berkuncup, apakah sudah mekar bunganya, apakan pohon-pohon delima sudah berbunga! Di sanalah aku akan memberikan cintaku kepadamu! Semerbak bau buah dudaim; dekat pintu kita ada pelbagai buah-buah yang lezat, yang telah lama dan yang baru saja dipetik. Itu telah kusimpan bagimu, kekasihku! (Kidung Agung 7: 1-13)

    Hingga:

    Kidung Agung (8-10) “Aku adalah suatu tembok dan buah dadaku bagaikan menara.”

    Kemudian aku pun membaca ayat-ayat perzinaan, dan sisa ayat-ayat lain serta kalimat kotor yang ada padanya. Kemudian aku dapati gadis-gadis tersebut tertawa sambil tangan-tangan mereka menutupi mulut-mulut mereka, seakan-akan mereka tengah melihat pemandangan porno.

    Kemudian aku dikagetkan dengan seorang pemuda di belakangku yang telah mendengarkan seluruh perkataanku. Lalu dia mendekat di belakangku, dan berbisik di telingaku dengan kalimat-kalimat kotor. Dan dia membuatku merasa bahwa aku adalah salah satu gadis-gadis malam yang kotor.

    Kukatakan pada diri sendiri,’Mengapa aku seperti gadis malam, sementara aku membaca firman-Mu wahai Yesus?’

    Lalu aku melihat kepada pemuda itu dan kukatakan kepadanya,’Ini adalah kitabku, aku membaca darinya, dan itu bukan urusanmu.’

    Maka dia berkata kepadaku, sementara dia telah menganggapku sebagai bagian dari gadis-gadis malam,’Apa pendapatmu jika kita mengingat bersama apa yang telah engkau baca?’

    Aku memberikan al-Kitab padanya, kemudian aku pergi sambil menangis. Kutinggalkan temanku, lalu aku berjalan kaki sangat jauh, jauh sekali, sejauh 9 halte bis, dalam keadaan bingung.

    Kemudian aku berpikir,’Apakah mungkin bagi seseorang yang mendengarkan firman ini lalu menerima bahwa maknanya adalah roh dan teladan yang mulia? Apakah, saat aku berkata kepada seorang pemuda,’Sesungguhnya gadis yang sedang berjalan di jalan itu akan bermanfaat jika menjadi istrimu.’ Lalu saat dia mendapatinya mencaci, dan perkataannya buruk, serta akhlaknya rusak, kukatakan kepadanya,’Tidak, wanita itu tujuan mulia, dan ucapannya itu ditujukan untuk roh!’

    Setelah itu, aku duduk sambil bertanya-tanya,’Mengapa Tuhan tidak menjadikan hubungan cinta itu sebagai sesuatu yang suci di dalam Bibel?’

    Mengapa dia tidak menyerupakannya dengan hubungan cinta seorang ibu kepada anaknya, atau saudara dengan saudaranya?!

    Akhirnya aku sampai di rumah. Pintu kamar kututup rapat. Lalu aku bicara kepada Yesus,’Buatlah aku tenang, pahamkanlah aku, dan jawablah aku!’ Tetapi dia tidak menjawab, dan aku tidak tenang. Di saat aku lelah, aku berkata.’Mengapa tidak ada seorang pun yang menjawabku? Mengapa tidak ada seorang pun yang mendengarku? Sungguh aku telah berusaha bersama kalian, dan lelah tanpa guna…’

    Aku keluar dari rumah, ketika seluruh penghuni rumah telah tidur. Lalu aku naik keatap rumah. Sekalipun saat itu hujan, angin bertiup kencang dan suara Guntur pun keras, aku berdiri di atap rumah dan ingin sampai kepada kebenaran.

    Aku mengangkat kepalaku. Aku berbicara kepada Tuhanku yang sesungguhnya, kukatakan kepada-Nya,’Wahai Rabbku, wahai Tuhanku yang sejati, wahai Dzat yang telah menciptakanku, Engkau telah menciptakan segala sesuatu, dan Engkau ingin agar kami menyembah-Mu, maka rahmatilah aku, tenangkanlah diriku. Wahai Pencipta langit yang aku melihatnya, wahai Pencipta Guntur yang aku mendengarnya, wahai pencipta hujan yang sedang turun, tenangkanlah diriku, beritahukanlah kepadaku, apakah Bibel dan Kidung Agung adalah firman-Mu ataukah ucapan selain-Mu?’

    Tiba-tiba Allah, Tuhanku yang sebenarnya menjawab, dan Dialah satu-satunya yang menjawab dan menenangkanku, smentara aku di atas atap, dia berfirman:

    “Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar (Allah Maha Besar… Allah Maha Besar).”

    Aku mengulang pertanyaan kedua, sementara aku kebingungan,’Apakah Kidung Agung adalah firman-Mu?’

    Lalu kudapati masjid lain mengumandangkan:

    “Allaahu Akbar… Allaahu Akbar (Allah Maha Besar… Allah Maha Besar).”

    Dan setiap kali aku mendapat jawaban, aku berkata,’Ya, wahai Tuhanku, Engkau Maha Besar dari itu semua, Engkau Maha Besar dari penyerupaan yang tidak layak dan tidak pantas itu.’

    Kemudian aku berkata,’Terima kasih wahai Tuhanku, aku mohon ampun kepada-Mu wahai Tuhan, aku tidak ingin lebih dari itu. Aku telah berkata kepada Yesus, dan bunda Maria, ternyata tidak ada yang menjawabku. Dan ketika aku berbicara dengan-Mu wahai Tuhanku, Engkau menjawab dan menenangkanku.’

    Sekalipun aku telah mencelamu, dan mencela Rasul-Mu, serta mencela kaum muslimin, Engkau membiarkanku, dan tetap menjadikanku hidup. Kemudian setelah itu Engkau muliakan aku dengan menenangkan aku. Sungguh aku tidak pantas menerima semua itu dari-Mu, ya Allah.

    Sungguh aku sudah terbiasa mendengar imam shalat di mushalla sebelah membaca dua buah surat yang sama setiap hari, tidak pernah menggantinya. Dan pada saat itu terjadi kejadian aneh, ternyata yang menjadi imam adalah imam lain, dan dia membaca firman Allah:

    “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah..?”

    Hingga:

    “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah 116-120)

    Maka aku pun menangis keras, dan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.

    Sesungguhnya aku adalah manusia yang paling berbahagia di dunia. Tidak ada seorang pun yang bisa merasakan kebahagiaan dan kegembiraan yang kini kurasakan.

    Kita memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada gadis tersebut di dunia dan akhirat, serta meninggikan kedudukan dan derajatnya di surga. Amin.

    (Sumber: Kidung Agung Membuatku Masuk Islam, majalah Qiblati)

    Seorang anak tidak akan malu atau risih jika membacakan Al Qur’an di hadapan orangtuanya, begitu juga sebaliknya orangtua tidak akan malu atau risih jika membacakan Al Qur’an di hadapan anaknya. Sekarang murid juga tidak akan malu dan risih jika membacakan Al Qur’an di hadapan gurunya, begitu juga sebaliknya. Dikarenakan Al Qur’an adalah kitab yang berbahasa sopan dan mendidik.

    Bagaimana halnya jika yang dibacakan adalah kitab Injil (kitab suci milik agama Nasrani sekarang ini)?

    Apakah seorang anak berani dan tidak malu jika membacakan ayat-ayat Injil di depan orangtua mereka? begitu juga sebaliknya?

    Apakah seorang murid berani dan tidak malu jika membacakan ayat-ayat Injil di depan gurunya? begitu juga sebaliknya?

    Bagaimana jika yang dibacakannya adalah ayat-ayat ini (khusus dewasa) :

    - Ayat-ayat jorok tentang seksual.

    “Datanglah firman TUHAN kepadaku: “Hai anak manusia, ada dua orang perempuan, anak dari satu ibu. Mereka bersundal di Mesir, mereka bersundal pada masa mudanya; di sana su**nya dijamah-jamah dan da** keperawanannya dipegang-pegang.” (Yehezkiel 23:1-3).

    “Nama yang tertua ialah Ohola dan nama adiknya ialah Oholiba. Mereka Aku punya dan mereka melahirkan anak-anak lelaki dan perempuan. Mengenai nama-nama mereka, Ohola ialah Samaria dan Oholiba ialah Yerusalem.” (Yehezkiel 23:4).

    “Dan Ohola berzinah, sedang ia Aku punya. Ia sangat berahi kepada kekasih-kekasihnya, kepada orang Asyur, pahlawan-pahlawan perang, berpakaian kain ungu tua, bupati-bupati dan penguasa-penguasa, semuanya pemuda yang ganteng, pasukan kuda.” (Yehezkiel 23:5-6).

    “Ia melakukan persundalannya dengan mereka, semuanya orang Asyur pilihan; ia menajiskan dirinya dengan semua orang, kepada siapa ia berahi dan dengan berhala-berhalanya.” (Yehezkiel 23:7).

    “Ia tidak meninggalkan persundalannya yang dilakukannya sejak dari Mesir, sebab pada masa mudanya orang sudah menidurinya, dan mereka memegang-megang da** keperawanannya dan mencurahkan persundalan mereka kepadanya.” (Yehezkiel 23:8).

    “Oleh sebab itu Aku menyerahkan dia ke dalam tangan kekasih-kekasihnya, dalam tangan orang Asyur, kepada siapa ia berahi.” (Yehezkiel 23:9).

    “Mereka menyingkapkan auratnya, anak-anaknya lelaki dan perempuan ditangkap dan ia sendiri dibunuh dengan pedang. Dengan demikian namanya dipercakapkan di antara kaum perempuan sebab hukuman telah dijatuhkan atasnya.” (Yehezkiel 23:10).

    “Walaupun hal itu dilihat oleh adiknya, Oholiba, ia lebih berahi lagi dan persundalannya melebihi lagi dari kakaknya.” (Yehezkiel 23:11).

    “Ia berahi kepada orang Asyur, kepada bupati-bupati dan penguasa-penguasan kepada pahlawan-pahlawan perang yang pakaiannya sangat sempurna, kepada pasukan kuda, semuanya pemuda yang ganteng.” (Yehezkiel 23:12).

    “Aku melihat bahwa ia menajiskan diri; kelakuan mereka berdua adalah sama. Bahkan, ia menambah persundalannya lagi: ia melihat laki-laki yang terukir pada dinding, gambar orang-orang Kasdim, diukir dalam warna linggam,” (Yehezkiel 23:13-14).

    “pinggangnya diikat dengan ikat pinggang, kepalanya memakai serban yang berjuntai, semuanya kelihatan seperti perwira, yang menyerupai orang Babel dari Kasdim, tanah kelahiran mereka. Segera sesudah kelihatan oleh matanya ia berahi kepada mereka dan mengirim suruhan kepada mereka ke tanah Kasdim.” (Yehezkiel 23:15-16).

    “Maka orang Babel datang kepadanya menikmati tempat tidur percintaan dan menajiskan dia dengan persundalan mereka; sesudah ia menjadi najis oleh mereka, ia meronta dari mereka.” (Yehezkiel 23:17).

    “Oleh karena ia melakukan persundalannya dengan terang-terangan dan memperlihatkan sendiri auratnya, maka Aku menjauhkan diri karena jijik dari padanya, seperti Aku menjauhkan diri dari adiknya.” (Yehezkiel 23:18).

    “Ia melakukan lebih banyak lagi persundalannya sambil teringat kepada masa mudanya, waktu ia bersundal di tanah Mesir. Ia berahi kepada kawan-kawannya bersundal, yang auratnya seperti aurat keledai dan zak**nya seperti zak** kuda.” (Yehezkiel 23:19-20).

    “Engkau menginginkan kemesuman masa mudamu, waktu orang Mesir memegang-megang dadamu dan menjamah-jamah su** kegadisanmu.” (Yehezkiel 23:21).

    - Ayat porno yang bugil-bugil.Yehezkiel 16: 22-38,

    “….Waktu engkau telanjang bugil sambil menendang nendang dengan kakimu ….”(ayat.22).

    “…dan menjual kecantikanmu menjadi kekejian dengan meregangkan kedua pahamu bagi setiap orang yang lewat, sehingga persundalanmu bertambah-tambah” (ayat.25).

    “Engkau bersundal dengan orang Mesir, tetanggamu, si aurat besar itu…..”(ayat.26).

    “Engkau bersundal juga dengan orang Asyur, oleh karena engkau belum merasa puas ya, engkau bersundal dengan mereka, tetapi masih belum puas” (ayat.28).

    - Puisi Kenikmatan Cinta. Kidung Agung 7:6-13,

    “Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dada gugusannya. Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur.”

    - Anak Gadis Meniduri Ayahnya : (Kitab Perjanjian Lama, Kitab Kejadian: 19)

    “Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya. Kata kakaknya kepada adiknya: “Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi. Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita  menyambung keturunan dari ayah kita. Pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu masuklah yang lebih tua untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: “Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita. Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka.” (19:30-34).

    Dan juga ayat-ayat yang lain:

    - Kejadian 35:22 : Perzinahan ibu – anak.

    - Kejadian 38:15-30 : Perzinahan ayah-menantu.

    - 2 Samuel 13:5-14 : Perzinahan kakak-adik.

    - 2 Samuel 16:21-23 : Anak memperkosa Ibu.

    - Yehezkiel 16:23-24 : Pelacur tak pernah puas.

    - Amsal 7:7-22 : Istri berselingkuh.

    - Hakim-hakim 16:1 : Berzinah dengan sundal.

    Berikut komentar-komentar dari tokoh Nasrani sendiri:

    • George Bernard Shaw (Budayawan dan Kritikus Kaliber International dan pemenang Nobel tahun 1925) dia berpendapat : “Alkitab adalah kitab yang paling berbahaya di muka bumi, simpanlah kitab ini di laci dan kuncilah.”
    • Majalah Time 31 Maret 2001: “Alkitab merupakan kitab orang dewasa yang penuh sekali dengan erotisme.”
    • Romo Don Bruno Maggioni: “Alkitab adalah sebuah karangan untuk orang dewasa. Bukan hanya karena-halaman seksualnya tetapi karena jenis masalah yang muncul di seputar seks manusia.”

    ***

    Oleh Abu Fahd Negara Tauhid, dengan menukil dari berbagai sumber.

     
    • Muhammad Idris Al-Bandany 9:14 am on 13 November 2012 Permalink

      Subhanalloh, kisah di atas sangat mengagumkan, dan menjadi hujjah tentang kebenaran & kebesaran agama Islam…Alloohu Akbar.. Alloohu Akbar…walillaahilhamd.

  • erva kurniawan 1:44 am on 11 May 2012 Permalink | Balas  

    Shalat Khusyu’ Menurut Tuntunan Rasulullah

    Sesungguhnya Ibadah Shalat merupakan sebaik-baiknya amal, ia mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah Subhânahu wa Ta’âla, ibadah inilah yang membedakan antara orang mukmin dan kafir. Ia merupakan ibadah yang mampu melebur dosa seseorang. Ketika seorang mukmin mengetahui betapa pentingnya shalat dan begitu mulianya kedudukannya di sisi Allah Subhânahu wa Ta’âla, maka tentu sebagai seorang muslim kita harus melaksanakannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh aturan Syariat kita, yaitu Islam. Shalat khusyu’ merupakan dambaan setiap kita, bahkan berbagai macam cara yang dilakukan seseorang untuk menggapai Shalat khusyu’, diantara mereka ada yang mematikan lampu ketika shalat, ada yang memejamkan matanya, ada yang mengosongkan semua fikirannya, ada yang merasakan terbangnya rohnya ketika shalat, bahkan untuk menggapai kekhusyukan mereka membuat pelatihan-pelatihan shalat khusyu’. Tentunya semua hal ini menimbulkan suatu pertanyaan, apakah memang seperti itu shalat khusyu’? Apakah cara-cara seperti tersebut sudah sesuai menurut tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Insya Allah melalui beberapa edisi buletin ini kita akan kupas kenapa pentingnya shalat khusyu’? Apa definisi khusyu’? Apa hukumnya dan apa kiat-kiat untuk menggapainya?

    Pentingnya Khusyu’ dalam Shalat.

    Khusyu’ merupakan perkara agung, cepat sirnanya dan jarang keberadaanya ditemukan, khususnya di akhir zaman ini yang penuh dengan berbagai macam fitnah dan godaan, baik godaan dari manusia maupun godaan dari syetan yang berupaya memalingkan manusia dari kekhusyukan.

    Jauhnya manusia dari kekhusyukan dalam melaksanakan shalat, hal ini adalah benar adanya, bahkan seorang sahabat besar yang bernama Huzaifah ibnu Yaman radhiyallahu ‘anhu telah menggambarkan: “Yang pertama kali yang akan hilang dari agamamu adalah khusyuk’, dan hal yang terakhir yang akan hilang dari agamamu adalah shalat. Betapa banyak orang shalat tetapi tiada kebaikan padanya, hampir saja engkau memasuki masjid, sementara tidak ditemukan diantara mereka orang yang khusyuk.” (Madarijussalikin, Imam Ibnul Qayyim 1/521)

    Bila kita tanyakan dan kita pantau shalat yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, maka jawabannya adalah mereka jauh dari kekhusyukan. Fikiran mereka menerawang entah kemana, hati mereka lalai, bahkan was-was dari syetanpun muncul tatkala mereka melaksanakan shalat, Oleh karena itu pembahasan seputar tentang shalat khusyuk ini merupakan pembahasan yang sangat penting sekali, dan dibutuhkan oleh kaum muslimin yang ingin meningkatkan kualitas ibadah shalatnya. Dimana hal ini akan membawa mereka kepada kebahagian dan kemenangan, sebagaimana yang telah disebutkan Allah Subhânahu wa Ta’âla di dalam al-Qurân: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. al-Mu’minuun: 1-2)

    Makna Khusyu’

    Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan bahwa Khusyu’ adalah: “Ketenangan, tuma’ninah, pelan-pelan, ketetapan hati, tawadhu’, serta merasa takut dan selalu merasa diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla.”

    Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa Khusyu’ adalah: “Menghadapnya hati di hadapan Robb ‘Azza wa Jalla dengan sikap tunduk dan rendah diri.” (Madarijusslikin 1/520 )

    Definisi lain dari khusyu’ dalam shalat adalah: “Hadirnya hati di hadapan Allah Subhânahu wa Ta’âla, sambil mengkonsertasikan hati agar dekat kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla, dengan demikian akan membuat hati tenang, tenangnya gerakan-gerakannya, beradab di hadapan Robbnya, konsentrasi terhadap apa yang dia katakan dan yang dilakukan dalam shalat dari awal sampai akhir, jauh dari was-was syaithan dan pemikiran yang jelek, dan ia merupakan ruh shalat. Shalat yang tidak ada kekhusyukan adalah shalat yang tidak ada ruhnya.” (Tafsir Taisir Karimirrahman, oleh Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di)

    Letak Khusyu’

    Tempat khusyu’ adalah di hati, sedangkan buahnya akan tampak pada anggota badan. Anggota badan hanya akan mengikuti hati, jika kekhusyukan rusak akibat kelalaian dan kelengahan, serta was-was, maka rusaklah ‘ubudiyah anggota badan yang lain. Sebab hati adalah ibarat raja, sedangkan anggota badan yang lainnya sebagai pasukan dan bala tentaranya. Kepadanya-lah mereka ta’at dan darinya-lah sumber segala perintah, jika sang raja dipecat dengan bentuk hilangnya penghambaan hati, maka hilanglah rakyat yaitu anggota-anggota badan.

    Dengan demikian, menampakkan kekhusyukkan dengan anggota badan, atau melalui gerakan-gerakan, supaya orang menyangka bahwa si fulan khusyu’, maka hal itu adalah sikap yang tercela, sebab diantara tanda-tanda keikhlasan adalah menyembunyikan kekhusyukan.

    Suatu ketika Huzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jauhilah oleh kalian kekhusyukan munafik, lalu ditanyakan kepadanya: Apa yang dimaksud kekhusyukan munafik? Ia menjawab: “Engkau melihat jasadnya khusyu’ sementara hatinya tidak”.

    Imam Ibnul Qayyim rahimahullah membagi khusyu’ kepada dua macam, yaitu khusyu’ nifaq dan khusyuk iman.

    Khusyu’ nifaq adalah: “Khusyu’ yang tampak pada permukaan anggota badan saja dalam sifatnya, yang dipaksakan dan dibuat-buat, sementara hatinya tidak khusyuk.”

    Khusyuk iman adalah: “Khusyuknya hati kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla dengan sikap mengagungkan, memuliakan, sikap tenang, takut dan malu. Hatinya terbuka untuk Allah Subhânahu wa Ta’âla, dengan keterbukaan yang diliputi kehinaan karena khawatir, malu bercampur cinta menyaksikan nikmat-nikmat Allah ‘Azza wa Jalla dan kejahatan dirinya sendiri. Dengan demikian secara otomatis hati menjadi khusyu’ yang kemudian diikuti khusyu’nya anggota badan.”

    Hukum Khusyu’ dalam Shalat.

    Menurut pendapat yang kuat, bahwa khusyu’ dalam shalat hukumnya wajib. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam menafsirkan firman Allah Ta’âla: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu lebih berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. al-Baqarah: 45)

    Beliau rahimahullah mengomentari ayat tersebut dengan mengatakan: “Ayat tersebut mengandung celaan atas orang-orang yang tidak khusyu’ dalam shalat, celaan tidak akan terjadi kecuali karena meninggalkan perkara-perkara penting atau wajib, atau karena keharaman yang dilakukan”.

    Kemudian bila kita lihat dalam al-Qurân Allah Subhânahu wa Ta’âla menjelaskan sifat-sifat calon penghuni surga firdaus: “Sungguh beruntunglah orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. al-Mu’minuun: 1-2), pada ayat ke 11 Allah Subhânahu wa Ta’âla memberikan isyarat, (bagi orang yang khusyu’), dengan mengatakan: “Mereka itulah, orang-orang yang mewarisi Surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Mu’minuun: 11)

    Melalui ayat tersebut Allah Subhânahu wa Ta’âla mengabarkan bahwa mereka (orang yang khusyu’) adalah calon pewaris Jannatul Firdaus. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa selain mereka tidak layak mewarisinya. Meraih surga bagi seorang muslim hukumnya adalah wajib, maka jalan atau wasilah untuk mencapai surga tersebut hukumnya juga wajib, dan shalat yang khusyu’ hukumnya ikut menjadi wajib karena merupakan salah satu sarana untuk meraih surga firdaus.

    Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyu’ Menurut Tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .

    Dalam meraih shalat khusyu’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kiat-kiat yang jelas, bahkan para ulama telah membuat bab-bab dalam kitab-kitab mereka, seperti Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah membuat Bab Anjuran Khusyu’ dalam Shalat.

    Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Munajjid rahimahullah dalam kitab beliau “33 Kiat Mencapai Khusyu’ dalam Shalat” menjelaskan; bahwa untuk mencapai khusyu’ dalam shalat ada dua hal pokok yang perlu diperhatikan:

    1. Memperhatikan hal-hal yang mendatangkan kekhusyukan dalam shalat.
    2. Menolak hal-hal yang menghilangkan kekhusyukan dan melemahkannya.

     Ad1. Memperhatikan hal-hal yang mendatangkan kekhusyukan dalam shalat

    Untuk mencapai hal-hal yang akan mendatangkan kekhusyukan ada beberapa kiat yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya:

    a. Mempersiapkan diri sepenuhnya untuk shalat

    Adapun bentuk-bentuk persiapannya yaitu: ikut menjawab azan yang dikumandangkan oleh muazin, kemudian diikuti dengan membaca do’a yang disyariatkan, bersiwak karena hal ini akan membersihkan mulut dan menyegarkannya, kemudian memakai pakaian yang baik dan bersih, sebagaimana firman Allah Ta’âla: “Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makanlah dan minumlah. Jangan berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.” (QS. al-A’raaf: 31)

    Diantara bentuk persiapan lain adalah berjalan ke masjid dengan penuh ketenangan dan tidak tergesa-gesa, lalu setelah sampai di depan masjid, maka masuk dengan membaca do’a dan keluar darinya juga membaca do’a, melaksanakan shalat sunnat Tahiyyatul masjid ketika telah berada di dalam masjid, merapatkan dan meluruskan shaf, karena syetan berupaya untuk mencari celah untuk ditempatinya dalam barisan shaf shalat.

    Dengan melakukan bentuk persiapan tersebut maka Insya Allah akan membantu dalam kekhusyukan.

    b. Tuma’ninah

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu tuma’ninah dalam shalatnya, sehingga seluruh anggota badannya menempati posisi semula, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang buruk shalatnya supaya melakukan tuma’ninah sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak sempurna shalat salah seorang diantara kalian, kecuali dengannya (tuma’ninah).”

    Bahkan di dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakan orang yang tidak tuima’ninah tersebut dengan orang yang mencuri dalam shalatnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Qatadah radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seburuk-buruk pencurian yang dilakukan manusia adalah orang yang mencuri shalatnya.” Qatadah berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana seseorang tersebut di katakan mencuri shalatnya? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad dan al-Hakim 1/229)

    Orang yang tidak tuma’ninah dalam shalatnya, tentu tidak akan merasakan kekhusyukan, sebab menunaikan shalat dengan cepat akan menghilangkan kekhusyukan, sedangkan shalat seperti mematuk burung, maka hal itu akan menghilangkan pahala.

    Oleh karena itulah karena pentingnya tuma’ninah, maka wajib bagi seorang muslim untuk tuma’ninah dalam shalatnya sehingga shalatnya diterima oleh Allah Ta’âla.

    C. Mengingat mati ketika shalat

    Hal ini berdasarkan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila engkau shalat maka shalatlah seperti orang yang hendak berpisah (mati)”. (HR. Ahmad V/412, Shahihul Jami’, no. 742)

    Jelaslah bahwasanya hal ini akan mendorong setiap orang untuk bersungguh-sungguh dalam shalatnya, karena orang yang akan berpisah tentu akan merasa kehilangan dan tidak akan berjumpa kembali, sehingga akan muncul upaya dari dalam dirinya untuk bersungguh-sungguh, dan hal ini seolah-olah baginya merupakan kesempatan terakhir untuk shalat.

    D. Menghayati makna bacaan shalat

    Al-Qurân diturunkan agar direnungkan dan dihayati maknanya, sebagaimana firman-Nya ‘Azza wa Jalla: “Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (QS. Shaad: 29)

    Sikap penghayatan tidak akan terwujud kecuali dengan memahami makna swetiap yang kita baca. Dengan memahami maknanya, maka seseorang akan dapat menghayati dan berfikir tentangnya, sehingga mengucurlah air matanya, karena pengaruh makna yang mendalam sampai ke lubuk hatinya. Dalam hal ini Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman: “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Robb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang yang tuli dan buta”. (QS. al-Furqan: 73)

    Di dalam ayat yang mulia ini Allah Subhânahu wa Ta’âla menjelaskan betapa pentingnya memperhatikan makna dari ayat yang dibaca. al-Imam Ibnu Jarir rahimahullah berkata: “Sesungguhnya saya sangat heran kepada orang yang membaca al-Qurân, sementara dia tidak mengetahui maknanya. Bagaimana mungkin dia akan mendapatkan kelezatan ketika dia membacanya? (Muqaddimah Tafsir at-Thobari karya Muhammad Syakir)

    E. Membaca surat sambil berhenti pada tiap ayat

    Hal ini merupakan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tentang bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membaca al-fatihah, yaitu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Basmalah, kemudian berhenti, kemudian membaca ayat berikutnya lalu berhenti. Demikian seterusnya sampai selesai (HR. Abu Daud, no. 4001)

    F. Membaca al-Qurân dengan tartil

    Hal ini berdasarkan firman Allah Subhânahu wa Ta’âla: “Dan bacalah al-Qurân dengan perlahan-lahan”. (QS. al-Muzammil: 4)

    Dan diriwayatkan dengan shahih bahwa bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perlahan-lahan serta satu huruf-satu huruf (Musnad Ahmad 6/294 dengan sanad shahih, Shifatus sholah: 105)

    Membaca dengan perlahan dan tartil lebih bisa membantu untuk merenungi ayat-ayat yang dibaca dan mendatangkan kekhusyu’an. Adapun membaca dengan ketergesa-gesaan akan menjauhkan hati dari kekhusyukan.

    G. Meyakini bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âla akan mengabulkan permintaannya ketika seorang hamba sedang melaksanakan shalat

    Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Qudsi: “Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman: ‘Aku membagi Shalatku dengan hamba-Ku-menjadi dua bagian, dan bagi hambaku setiap apa yang dia minta. Jika hamba-Ku mengucapkan Alhamdu lillahi Robbil’âlamin, Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman: ‘hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Jika ia mengucapkan Mâ likiyaumiddin, Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman: ‘Hamba-Ku telah memuliakan dan mengagungkan-Ku”. (Shahih Muslim, Kitabus Shalat, Bab Wajibnya Membaca al-Fatihah dalam Setiap Rakaat)

    Hadits yang mulia ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang yang sedang melaksanakan shalat, yaitu ketika ia membaca al-Fatihah maka bacaan tersebut mendapat balasan langsung dari Allah ‘Azza wa Jalla, maka ini akan menjadi pendorong kita dalam mencapai kekhusyukan.

    H. Meletakkan sutrah.(tabir pembatas) dan mendekatkan diri kepadanya

    Hal ini lebih bertujuan untuk memperpendek dan menjaga penglihatan orang yang sedang melaksankan Shalat, sekaligus menjaga dirinya dari syetan. Disamping itu juga dapat menjauhkan diri dari lalu lalangnya orang yang lewat di sekitar kita, karena lewatnya orang lain secara hilir mudik dapat mengganggu kekhusyukan shalat.

    Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian melaksanakan Shalat dengan menggunakan tabir, maka hendaklah ia mendekat padanya, sehingga syetan tidak akan memotong Shalatnya”.(HR. Abu Daud, no. 446/1695)

    Adapun jarak antara seseorang dengan tabir (sutrah) adalah tiga kali panjang lengan, dan antara tabir dengan tempat sujudnya adalah, seluas tempat lewatnya seekor kambing, sebagaimana yang banyak disebut dalam hadits-hadits shahih. (lihat Fathul Bari 1/574-579)

    I. Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri di dada

    “Adalah Rasulullah jika sedang Shalat,beliau meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri”. (HR. Muslim)

    Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Para ulama berkata: ‘Hikmah dari sikap tersebut (meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri di dada)-pen merupakan bentuk sifat dari seseorang yang meminta-minta dengan perasaan hina, sikap tersebut lebih mampu menghindarkan sifat main-main, dan lebih dekat kepada kekhusyukan”. (lihat Fathul Bari 2/224)

    J. Melihat kearah tempat sujud

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika sedang shalat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menundukkan kepala serta mengarahkan pandangannya ke tanah (tempat sujud)”. (HR. al-Hakim 1/479, dia berkata shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim, disepakati juga oleh al-Albani dalam buku shifatus Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hal 89)

    Dari sini jelaslah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Shalat melihat ke arah tempat sujud dan tidak memejamkan matanya, maka orang yang memejamkan matanya berarti amalannya bertentangan dengan sunnah.

    K. Memohon perlindungan kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla dari godaan syetan

    Godaan syetan akan selalu datang kepada siapa saja yang akan menghadap Allah Subhânahu wa Ta’âla, oleh karena itu seorang hamba hendaknya tegar dalam beribadah kepada Allah Ta’âla, seraya tetap melakukan amalan-amalan zikir ataupun shalat,dan jangan sampai goyah, sebab dengan selalu menekuni hal-hal tersebut,godaan dan tipu daya syetan akan hilang dengan sendirinya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah.(QS. an-Nisa’: 76)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika seorang diantara kalian berdiri shalat, maka datanglah syetan, kemudian ia mengacaukannya (mengacaukan shalatnya dan memasukkan padanya keraguan) sehingga tidak mengetahui berapa rakaat ia shalat. Jika salah seorang diantara kalian mendapati hal demikian, maka hendaklah ia bersujud dua kali ketika dia sedang duduk”. (HR. Bukhari)

    Itulah diantara hal-hal yang membantu kekhusyukan, yang tidak bisa kami sebutkan semuanya karena keterbatasan tempat, namun setidak-tidaknya ini sebagai suatu jalan bagi kita untuk menuju khusyu’.

    Adapun faktor yang kedua dari hal-hal yang akan membawa kekhusyukan adalah dengan mengetahui penghalang-penghalang kekhusyukan dan menolaknya. Adapun penghalang-penghalang kekhusyukan adalah sebagai berikut:

    A. Menghilangkan sesuatu yang mengganggu di tempat shalat

    Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Adalah ‘Aisyah memiliki selembar kain yang berwarna-warni yang digunakan untuk menutupi bagian samping rumahnya. Melihat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Hilangkan itu dari pandanganku, sebab gambar-gambarnya selalu terbayang dan menggoda pandanganku pada waktu shalat”. (HR. Bukhari/lihat Fathul Bari 10/391). Dan termasuk perkara yang harus dihindari adalah Shalat di tempat lalu lalang manusia, tempat yang ramai dan gaduh serta berisik, di dekat orang yang sedang bercakap-cakap.

    B. Tidak shalat di tempat yang terlalu dingin atau terlalu panas, jika hal tersebut memungkinkan

    Karena hal ini jelas akan mengganggu kekhusyukan dalam shalat.

    C. Menghindari shalat di dekat makanan yang disukai

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak baik Shalat dilaksanakan di hadapan (di dekat) makanan yang telah dihidangkan”. (HR. Muslim, no. 560). Jika makanan yang telah dihidangkan dan berada dihadapannya, maka ia berhak mendahulukan makan, sebab jika ia tidak makan dan meninggalkannya (tidak makan terlebih dahulu), ia tidak akan merasa khusyu’ dan hatinya akan selalu teringat pada makanan tersebut, bahkan seyogyanya dia tidak tergesa-gesa dalam makannya sehingga betul-betul terpenuhi hajatnya.

    D.Menghindari shalat dalam kondisi mengantuk

    Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian merasa mengantuk dalam shalat, hendaklah ia tidur terlebih dahulu, sehingga ia mengetahui apa yang diucapkannya”. (HR. Bukhari, no. 210)

    E. Jangan shalat di belakang orang-orang yang bercakap-cakap ataupun tidur

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah Shalat di belakang orang yang sedang tidur dan juga orang-orang yang sedang bercakap-cakap”. (HR. Abu Daud, no. 694)

    Karena suara orang-orang yang sedang bercakap-cakap dapat merusak konsentrasi seseorang yang sedang Shalat.

    F. Menghindari shalat dalam keadaan menahan buang air besar ataupun kecil

    Karena hal ini jelas akan mengganggu kekhusyukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat dalam kondisi Haaqin yaitu menahan buang air kecil dan besar. (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya no. 617)

    G. Tidak menyibukkan diri untuk membersihkan debu

    H. Dimakruhkan mengusap dahi dan hidung dalam shalat

    I. Tidak boleh mengganggu orang yang sedang shalat dengan mengeraskan bacaan

    J. Tidak boleh menoleh ke kiri dan ke kanan ketika shalat

    K. Tidak mengarahkan pandangan ke langit

    L. Jangan meludah ke depan ketika sedang shalat

    M. Berusaha untuk tidak menguap ketika shalat

    N. Tidak mencontoh gerakan atau tingkah laku binatang

    Driwayatkan dalam hadits bahwasanya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang tiga perkara dalam Shalat, yaitu perilaku mematuk seperti burung gagak, duduk seperti duduknya binatang buas, mengambil tempat tertentu sebagaimana unta mengambil tempat duduknya (menderum)”. (HR. Ahmad 3/428)

    Demikianlah beberapa kiat-kiat dalam meraih Shalat Khusyu, semoga dengan mengetahuinya akan mengantarkan kita menuju Shalat yang khusyu’, yang pada intinya sangat praktis, mudah dan ekonomis tanpa membutuhkan biaya yang besar. Wallahu a’lam

    ***

    Oleh: Faishal Abdurrahman, Lc

    Referensi: 33 Kiat Mencapai Kekhusyukan dalam Shalat oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Munajjid.

     
    • Maxgrosir 11:15 am on 15 November 2013 Permalink

      Benar sekali,, ane kalo sholat kadang ada yang dipikirkan tuh gan alias gak konsen, mungkin artikel ini dapat membantu saya kedepannya.

  • erva kurniawan 1:08 am on 9 May 2012 Permalink | Balas  

    Diet Ala Rasulullah SAW

    Rupanya tanpa kita sadari, dalam makanan yang kita makan sehari-hari, kita tak boleh sembarangan. Hal inilah penyebab terjadinya berbagai penyakit antara lain penyakit kencing manis, lumpuh, sakit jantung, keracunan makanan dan lain-lain penyakit. Apabila anda telah mengetahui ilmu ini, tolonglah ajarkan kepada yang lainnya. Ini pun adalah diet Rasullulah SAW kita juga.

    Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet Rasullullah ini, Anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.

    • Jangan makan SUSU bersama DAGING
    • Jangan makan DAGING bersama IKAN
    • Jangan makan IKAN bersama SUSU
    • Jangan makan AYAM bersama SUSU
    • Jangan makan IKAN bersama TELUR
    • Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD
    • Jangan makan SUSU bersama CUKA
    • Jangan makan BUAH bersama SUSU (Contoh : KOKTEL)

    Cara makan:

    • Jangan makan buah setelah makan nasi, sebaliknya makanlah buah terlebih dahulu, baru makan nasi.
    • Tidur 1 jam setelah makan tengah hari.
    • Jangan sesekali tinggal makan malam. Barang siapa yang tinggal makan malam dia akan dimakan usia dan kolesterol dalam badan akan berganda. Nampak memang sulit.. tapi, kalau tak percaya cobalah. Pengaruhnya tidak dalam jangka pendek. Akan berpengaruh bila kita sudah tua nanti.
    • Dalam Al-Quran juga melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut. Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama susu. karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita.

    Al-Quran Juga mengajarkan kita menjaga kesehatan seperti membuat amalan antara lain:

    1. Mandi pagi sebelum subuh, sekurang kurangnya sejam sebelum matahari terbit. Air sejuk yang meresap kedalam badan dapat mengurangi penimbunan lemak. Kita boleh saksikan orang yang mandi pagi kebanyakan badan tak gemuk.
    2. Rasulullah mengamalkan minum segelas air sejuk (bukan air es) setiap pagi. Mujarabnya Insya Allah jauh dari penyakit (susah mendapat sakit).
    3. Waktu sembahyang subuh disunatkan kita bertafakur (yaitu sujud sekurang kurangnya semenit setelah membaca doa). Kita akan terhindar dari sakit kepala atau migrain. Ini terbukti oleh para ilmuwan yang membuat kajian kenapa dalam sehari perlu kita sujud. Ahli-ahli sains telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yang tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka darah akan mengalir keruang tersebut.
    4. Nabi juga mengajar kita makan dengan tangan dan bila habis hendaklah menjilat jari.
    5. Begitu juga ahli saintis telah menemukan bahwa enzyme banyak terkandung di celah jari jari, yaitu 10 kali ganda terdapat dalam air liur. (enzyme sejenis alat percerna makanan).

    ***

    Sabda nabi, “Ilmu itu milik Allah, barang siapa menyebarkan ilmu demi kebaikan insya Allah, Allah akan menggandakan 10 kali kepadanya”

    Dari Shabat

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 8 May 2012 Permalink | Balas  

    Nabi Menjadikan Shalat Untuk Mengadu Kepada Allah 

    Nabi Menjadikan Shalat untuk Mengadu Kepada Allah 

    Allah berfirman : Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan bertemu Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah : 45-46)

    Ibnu Katsir, dalam tafsir al Qur’ani al ¡Azhim (1/89) menerangkan ayat di atas dengan bertutur : “Allah memerintahkan hambaNya untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai pijakan bantuan dalam meraih apa yang mereka harapkan dari kebaikan dunia dan akhirat”.

    Dari sahabat Hudzaifah, ia berkata, “Bila kedatangan masalah, Nabi mengerjakan shalat. (Hadist hasan riwayat Ahmad dalam Musnad (5/388) dan Abu Dawud (2/35). Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (1/245).)

    Itulah shalat yang sebenarnya, yang berperan sebagai piranti bagi seorang muslim dalam meminta perlindungan dan mengadu kepada Allah Ta’ala dari berbagai macam kesulitan dan kesedihan,permasalahan dan kepenatan. Dia tidak akan merasa sendirian, tetapi mendapatkan dukungan dari Allah, Pemilik langit dan bumi. Maka, tidak disangsikan lagi potensi yang tersimpan pada shalat. Sebab kondisi seorang hamba sangat dekat dengan Allah dalam sholat.

    Nabi bersabda, “Seorang hamba akan menjadi paling dekat dengan Rabb-nya saat ia sedang sujud. Maka, perbanyaklah doa (di dalamnya).” (HR. Muslim)

    Oleh karena itu, semestinya seorang muslim memperbanyak doa saat bersujud, bertadharru’ (tunduk) kepada Allah, supaya Dia menyingkirkan berbagai permasalahan dan kesulitan, serta memberi kita anugerah kebaikan dunia dan akhirat.

    Ibnul Qayyim menjelaskan faedah shalat, “Shalat termasuk factor dominant dalam mendatangkan maslahat dunia dan akhirat, dan menyingkirkan keburukan dunia dan akhirat. Ia menghalangi dari dosa, menolak penyakit hati, mengusir keluhan fisik, menerangi kalbu, mencerahkan wajah, menyegarkan anggota tubuh dan jiwa, memelihara kenikmatan, menepis siksa, menurunkan rahmat dan menyibak tabir permasalahan.” (Zadu al Ma’ad (4/120)

    Shalat sendiri akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman jiwa. Dan seorang muslim, ia akan menggapai ketenangan jika dekat dengan Allah Ta’ala.

    Disebutkan dalam firman Allah, Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar Ra’du : 27-28).

    Nabi berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, kumandangkan iqamah shalat. Buatlah kami tenang dengannya.” (Hadist hasan, Shahihu al Jami’ : 7892)

    Wahai orang yang mencari ketenangan dan ketentraman, dan kesejukan mata, tujulah shalat dengan penuh khusyu dan rasa hina di hadapan Allah, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah, agar engkau dapat merengkuh keinginanmu. Kalau tidak, maka janganlah mencela kecuali kepada dirimu sendiri.

    ***

    Penulis : Syaikh Muhammad bin Sholeh Utsaimin

    (Diangkat dari ash Shalatu wa Atsarahu fi  Zayadati al Iman wa Tahdzibi an Nafs, karya Husain al ¡Awaysyah, Dar Ibni Hazm, Beirut, cet. III, Th. 1418 H)

    Sumber : Majalah Assunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M, Hal. 07

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 7 May 2012 Permalink | Balas  

    Hadist Tentang Mendermakan Harta

    Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Tidak ada satu hari pun yang dijelang umat manusia, kecuali setiap pagi ada dua malaikat yang turun. Salah satu dari malaikat itu berkata: “Ya Allah, berilah ganti yang berlipat ganda kepada orang yang telah menyedekahkan hartanya.” Sedang yang satu lagi berkata: “Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang tidak mau bersedekah (pada hari ini).” (HR. Bukhari dan Muslim).

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 6 May 2012 Permalink | Balas  

    Sholat Berjamaah 

    SHALAT BERJAMAAH

    Suatu hari Abdullah bin Umi Maktum menghadap kepada Rasulullah saw melaporkan keadaannya yang buta dan tidak ada orang yang menuntunnya untuk shalat berjama’ah di masjid. Padahal rumah ibnu Ummi Maktum dengan masjid lumayan jauh. Untuk itulah Ibnu Ummi maktum meminta keringanan untuk diizinkan tidak menunaikan shalat secara berjama’ah di masjid. Mendengar penuturan itu Rasulullah pun mengizinkannya. Namun kemudian ketika orang itu berpaling, Rasulullah saw memanggilnya seraya berkata: “Apakah engkau mendengar panggilan untuk shalat?” Dia menjawab: “Ya”. Maka beliau saw bersabda: “Kalau begitu penuhilah!” (HR. Muslim).

    Dalam hadits di atas sangat jelas disebutkan bahwasannya Rasulullah saw tidak memberikan izin bagi orang yang buta tersebut untuk meninggalkan shalat secara berjama’ah. Alasannya sederhana, sebab ia masih mendengar panggilan adzan.

    Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa dapat mendengar adzan adalah ukuran jarak rumahnya dari masjid. Jadi selama dia masih mendengar adzan, dia masih dianggap dekat dan tidak ada keringanan baginya.

    Mungkin ada yang akan mengatakan, bahwa adzan jaman dahulu kan ndak pakai pengeras suara, jadi selama masih mendengar teriakan berarti masih dekat. Ya, memang demikian, tetapi coba kita bandingkan dengan orang di daerah yang masih alami, tidak banyak gedung tinggi, berapa jarak teriakan seseorang bisa didengar. Apalagi kalau adzan dikumandangkan dari tempat yang lebih tinggi, maka jarak dengar suara menjadi cukup jauh.

    Ibnu Ummi Maktum ternyata bukan hanya mempersoalkan jarak, tetapi juga mempersoalkan kondisi perjalanan yang masih rawan. Dalam teks hadits yang lain tentang permintaan izin Abdullah bin Umi Maktum, ditambahkan penjelasan bahwa perjalanan antara masjid dengan rumahnya masih banyak binatang buas atau binatang berbahaya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari Abdullah bin umi Maktum, bahwa ia mengatakan:

    “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di kota Madinah ini masih banyak binatang-binatang buas dan binatang yang berbahaya. Maka Nabi saw bertanya: “Apakah engkau mendengar hayya ‘ala shalah, hayya ‘alal falah? Kalau ya, maka segeralah engkau penuhi panggilan itu!” (HR. Abu Dawud).

    Di dalam hadis ini bukan hanya jarak yang jauh, tetapi medan yang berat dan berbahaya pun tidak menjadikan toleransi untuk meninggalkan shalat berjama’ah. Sedangkan sekarang, mungkin jangkauan mikropon sedikit lebih jauh dari adzan dengan suara non-mikropon, tetapi kondisi jalan sangat bagus, sudah dipaving, dibeton, atau aspal. Sementara di masa Rasulullah saw, Ibnu Ummi Maktum harus melewati semak-semak yang mungkin ada ular, atau binatang berbahaya lainnya. Meskipun demikian rasulullah tetap tidak mengizinkan Ibnu Ummi Maktum untuk meninggalkan shalat jama’ah.

    Ibnu Khuzaimah menyebutkan hadits tersebut di dalam dua tempat yang berdekatan. Pertama diletakkan di bawah judul “Bab perintah bagi orang yang buta untuk mengikuti shalat jama’ah walaupun rumahnya jauh dari masjid, tidak ada penuntunnya yang mau menuntun ke masjid”, setelah itu beliau menambahkan komentar, “Ini merupakan dalil bahwa shalat jama’ah adalah faridlah (wajib hukumnya) bukan fadlilah (keutamaan saja)”.

    Yang kedua Ibnu Khuzaimah menyebutkan hadits ini dalam judul “Bab perintah bagi orang yang buta untuk menghadiri shalat jama’ah walaupun ia khawatir terhadap binatang-binatang berbisa/buas jika menghadiri jama’ah”.

    Selain alasan jarak dan bahaya, telah masyhur di telinga kaum muslimin bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang shahabat yang buta. Tempat tingga jauh, medan berbahaya, buta, tidak memiliki keluarga untuk menuntun ke masjid, tetapi Rasulullah saw tetap memerintahkan shalat ke masjid. Jika orang yang buta saja tidak mendapatkan izin untuk meninggalkan shalat jama’ah, maka orang yang memiliki penglihatan normal lebih tidak diizinkan meninggalkan jama’ah.

    Berdasarkan riwayat inilah Imam Al Khathabi berkata, “Hadits ini menjadi dalil bahwa menghadiri shalat jama’ah adalah wajib. Kalau saja shalat jama’ah itu hanya anjuran, maka yang lebih pantas untuk meninggalkannya adalah orang yang memiliki udzur dan kelemahan atau orang yang seperti Abdullah bin Umi Maktum.

    Tetapi persoalan shalat berjama’ah saat ini sangat diacuhkan oleh kaum muslimin. Kita lihat kebanyakan masjid hanya terisi penuh ketika shalat jum’at. Padahal pada hari-hari biasa pun masyarakat yang beragama Islam juga ada di rumah. Lalu mengapa untuk shalat lima waktu enggan berjama’ah di masjid? Mengapa mereka lebih suka untuk shalat di rumah daripada shalat di masjid dengan berjama’ah.

    Apakah hadis dari Ibnu Ummi Maktum kurang tegas? Apakah masih mencari dalil dari al-Qur’an? Kalau ya, sesungguhnya al-Qur’an pun telah memberikan isyarat kewajiban shalat berjama’ah di dalam firmanNya, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (Al Baqarah: 43)

    Al-Baidhawi di dalam tafsirnya menjelaskan, makna ruku’lah beserta orang yang ruku’ maksudnya adalah, “Bersama jama’ah mereka”. Abu Bakar Al-Kisani berkata, “Ini adalah perintah untuk ruku’ bersama-sama dengan orang-orang yang ruku’, dan ini menunjukkan adanya perintah untuk menegakkan shalat berjama’ah. Sedangkan perintah yang mutlak menunjukkan wajibnya perkara tersebut”.

    Senada dengan petunjuk rasulullah saw, al-Qur’an pun memerintahkan untuk tetap menjaga shalat berjama’ah meskipun di tengah peperangan, sebagaimana firman-Nya, “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat untuk mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” (An-Nisaa’: 102)

    Kalau ketika dalam keadaan perang saha Allah memerintahkan untuk shalat berjama’ah, dengan shalat khauf, tentunya dalam keadaan aman lebih diwajibkan”. Kalau saja shalat berjama’ah tidak diwajibkan, tentu perang merupakan udzur yang sangat besar untuk meninggalkan shalat jama’ah.

    Ibnu Taimiyyah berkata: “Sesungguhnya diperintahkannya shalat khauf bersama jama’ah dengan tata cara khusus yang membolehkan perkara-perkara yang pada asalnya dilarang tanpa udzur seperti tidak menghadap kiblat dan banyak bergerak -dimana perkara-perkara tersebut tidak boleh dilakukan jika tanpa udzur dengan kesepakatan para ulama-, atau meninggalkan imam sebelum salam menurut jumhur, demikian pula menyelisihi perbuatan imam seperti tetap berdirinya shaf belakang ketika imam ruku’ bersama shaf depan, jika musuh ada di hadapannya. Para ulama berkata: “Perkara-perkara tersebut akan membatalkan shalat jika dilakukan tanpa udzur. Kalau saja shalat jama’ah tidak diwajibkan namun hanya merupakan anjuran, niscaya perbuatan-perbuatan di atas membatalkan shalat, karena meninggalkan sesuatu yang wajib hanya karena sesuatu yang sunnah. Padahal, sangat mungkin shalat dilakukan oleh mereka secara sempurna jika mereka masing-masing shalat sendirian (bergantian). Maka jelaslah shalat berjama’ah merupakan perkara yang wajib”.

    Maka dengan alasan apa lagikah kaum muslimin meninggalkan shalat jama’ah ke masjid, padahal mereka dalam keadaan tidak buta, kuat badannya, muda umurnya, aman jalannya dan dekat rumahnya dengan masjid?

    Tidakkah mereka takut terkena penyakit di dalam hatinya, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah saw dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang akan mereka dapat dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak.”

    Hadis tersebut setidaknya memberikan dua pelajaran kepada kita. Pertama, bahwa orang yang malas melakukan shalat berjama’ah di masjid di dalam hatinya terinveksi virus kemunafikan. Kalau seseorang tertular virus cikungunya, DB, atau HIV sudah ribut untuk mengobatinya, mengapa ketika terkena virus kemunafikan ini malah senang? Tidakkah berfikir bagaimana nasib di akhirat kelak?

    Kedua, shalat berjama’ah, khususnya subuh dan Isya’ memiliki mkeutamaan yang sangat besar. Di dalam hadis rasululah menyebutkan besarnya pahala berjama’ah, “Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh kali”. (HR Muslim)

    Atau mungkin banyak di antara kaum muslimin sudah tidak membutuhkan pahala dari Allah, sehingga ketika Rasulullah saw menunjukkan keutaman shalat berjama’ah, petunjuk itu tidak menarik.

    Selain hadits merangkak di atas, Rasulullah saw juga bersabda tentang keutamaan shalat jamaah dalam hadits lainnya, seperti hadis dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada bila shalat sendirian atau shalat di pasarnya dengan duap puluh sekian derajat. Hal itu karena dia berwudhu dan membaguskan wudhu`nya, kemudian mendatangi masjid di mana dia tidak melakukannya kecuali untuk shalat dan tidak menginginkannya kecuali dengan niat shalat. Tidaklah dia melangkah dengan satu langkah kecuali ditinggikan baginya derajatnya dan dihapuskan kesalahannya hingga dia masuk masjid….dan malaikat tetap bershalawat kepadanya selama dia berada pada tempat shalatnya seraya berdoa, “Ya Allah berikanlah kasihmu kepadanya, Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah ampunilah dia….” (HR Muslim)

    Dari Abi Darda` ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah 3 orang yang tinggal di suatu kampung atau pelosok tapi tidak melakukan shalat jamaah, kecuali syetan telah menguasai mereka. Hendaklah kalian berjamaah, sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya.” (HR Abu Daud 547 dan Nasai 2/106 dengan sanad yang hasan)

    Dari Ibnu Mas`ud ra berkata bahwa “aku melihat dari kami yaitu tidaklah seseorang meninggalkan shalat jamaah kecuali orang-orang munafik yang sudah dikenal kemunafikannya atau seorang yang memang sakit yang tidak bisa berjalan.” (HR Muslim)

    Dengan adanya hadits-hadits di atas, tidakkah hati kita tergerak untuk hadir di majelis yang mulia, dalam rangka menunaikan shalat secara berjamaah? Atau kita biarkan saja penyakit kemunafikan bersarang di dalam hati kita?

    ***

    Oleh Sahabat: Abah Zacky as-Samarani

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 5 May 2012 Permalink | Balas  

    Bukti Kebenaran Al-Quran

    Al-Quran mempunyai sekian banyak fungsi. Di antaranya adalah menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad saw. Bukti kebenaran tersebut dikemukakan dalam tantangan yang sifatnya bertahap. Pertama, menantang siapa pun yang meragukannya untuk menyusun semacam Al-Quran secara keseluruhan (baca QS 52:34). Kedua, menantang mereka untuk menyusun sepuluh surah semacam Al-Quran (baca QS 11:13). Seluruh Al-Quran berisikan 114 surah. Ketiga, menantang mereka untuk menyusun satu surah saja semacam Al-Quran (baca QS 10:38). Keempat, menantang mereka untuk menyusun sesuatu seperti atau lebih kurang sama dengan satu surah dari Al-Quran (baca QS 2:23).

    Dalam hal ini, Al-Quran menegaskan: Katakanlah (hai Muhammad) sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (QS 17 :88).

    Seorang ahli berkomentar bahwa tantangan yang sedemikian lantang ini tidak dapat dikemukakan oleh seseorang kecuali jika ia memiliki satu dari dua sifat: gila atau sangat yakin. Muhammad saw. sangat yakin akan wahyu-wahyu Tuhan, karena “Wahyu adalah informasi yang diyakini dengan sebenarnya bersumber dari Tuhan.”

    Walaupun Al-Quran menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad, tapi fungsi utamanya adalah menjadi “petunjuk untuk seluruh umat manusia.” Petunjuk yang dimaksud adalah petunjuk agama, atau yang biasa juga disebut sebagai syari’at. Syari’at, dari segi pengertian kebahasaan, berarti ‘ jalan menuju sumber air.” Jasmani manusia, bahkan seluruh makhluk hidup, membutuhkan air, demi kelangsungan hidupnya. Ruhaninya pun membutuhkan “air kehidupan.” Di sini, syari’at mengantarkan seseorang menuju air kehidupan itu.

    Dalam syari’at ditemukan sekian banyak rambu-rambu jalan: ada yang berwarna merah, yang berarti larangan; ada pula yang berwarna kuning, yang memerlukan kehati-hatian; dan ada yang hijau warnanya, yang melambangkan kebolehan melanjutkan perjalanan. Ini semua, persis sama dengan lampu-lampu lalulintas. Lampu merah tidak memperlambat seseorang sampai ke tujuan. Bahkan ia merupakan salah satu faktor utama yang memelihara pejalan dari mara bahaya. Demikian juga halnya dengan “lampu-lampu merah” atau larangan-larangan agama.

    Kita sangat membutuhkan peraturan-peraturan lalulintas demi memelihara keselamatan kita. Demikian juga dengan peraturan lalulintas menuju kehidupan yang lebih jauh, kehidupan sesudah mati. Di sini, siapakah yang seharusnya membuat peraturan-peraturan menuju perjalanan yang sangat jauh itu?

    Manusia memiliki kelemahan-kelemahan. Antara lain, ia seringkali bersifat egoistis. Disamping itu, pengetahuannya sangat terbatas. Lantaran itu, jika ia yang diserahi menyusun peraturan lalulintas menuju kehidupan sesudah mati, maka diduga keras bahwa ia, di samping hanya akan menguntungkan dirinya sendiri, juga akan sangat terbatas bahkan keliru, karena ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelah kematian.

    Jika demikian, yang harus menyusunnya adalah “Sesuatu” yang tidak bersifat egoistis, yang tidak mempunyai sedikit kepentingan pun, sekaligus memiliki pengetahuan yang Mahaluas. “Sesuatu” itu adalah Tuhan Yang Mahaesa, dan peraturan yang dibuatnya itu dinamai “agama”.

    Sayang bahwa tidak semua manusia dapat berhubungan langsung secara jelas dengan Tuhan, guna memperoleh informasi-Nya. Karena itu, Tuhan memilih orang-orang tertentu, yang memiliki kesucian jiwa dan kecerdasan pikiran untuk menyampaikan informasi tersebut kepada mereka. Mereka yang terpilih itu dinamai Nabi atau Rasul.

    Karena sifat egoistis manusia, maka ia tidak mempercayai informasi-informasi Tuhan yang disampaikan oleh para Nabi itu. Mereka bahkan tidak percaya bahwa manusia-manusia terpilih itu adalah Nabi-nabi yang mendapat tugas khusus dari Tuhan.

    Untuk meyakinkan manusia, para Nabi atau Rasul diberi bukti-bukti yang pasti dan terjangkau. Bukti-bukti tersebut merupakan hal-hal tertentu yang tidak mungkin dapat mereka –sebagai manusia biasa (bukan pilihan Tuhan)– lakukan. Bukti-bukti tersebut dalam bahasa agama dinamai “mukjizat”.

    Para Nabi atau Rasul terdahulu memiliki mukjizat-mukjizat yang bersifat temporal, lokal, dan material. Ini disebabkan karena misi mereka terbatas pada daerah tertentu dan waktu tertentu. Ini jelas berbeda dengan misi Nabi Muhammad saw. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia, di mana dan kapan pun hingga akhir zaman.

    Pengutusan ini juga memerlukan mukjizat. Dan karena sifat pengutusan itu, maka bukti kebenaran beliau juga tidak mungkin bersifat lokal, temporal, dan material. Bukti itu harus bersifat universal, kekal, dapat dipikirkan dan dibuktikan kebenarannya oleh akal manusia. Di sinilah terletak fungsi Al-Quran sebagai mukjizat.

    Paling tidak ada tiga aspek dalam Al-Quran yang dapat menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad saw., sekaligus menjadi bukti bahwa seluruh informasi atau petunjuk yang disampaikannya adalah benar bersumber dari Allah SWT.

    Ketiga aspek tersebut akan lebih meyakinkan lagi, bila diketahui bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang yang pandai membaca dan menulis. Ia juga tidak hidup dan bermukim di tengah-tengah masyarakat yang relatif telah mengenal peradaban, seperti Mesir, Persia atau Romawi. Beliau dibesarkan dan hidup di tengah-tengah kaum yang oleh beliau sendiri dilukiskan sebagai “Kami adalah masyarakat yang tidak pandai menulis dan berhitung.” Inilah sebabnya, konon, sehingga angka yang tertinggi yang mereka ketahui adalah tujuh. Inilah latar belakang, mengapa mereka mengartikan “tujuh langit” sebagai “banyak langit.” Al-Quran juga menyatakan bahwa seandainya Muhammad dapat membaca atau menulis pastilah akan ada yang meragukan kenabian beliau (baca QS 29:48).

    Ketiga aspek yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut. Pertama, aspek keindahan dan ketelitian redaksi-redaksinya. Tidak mudah untuk menguraikan hal ini, khususnya bagi kita yang tidak memahami dan memiliki “rasa bahasa” Arab –karena keindahan diperoleh melalui “perasaan”, bukan melalui nalar. Namun demikian, ada satu atau dua hal menyangkut redaksi Al-Quran yang dapat membantu pemahaman aspek pertama ini.

    Seperti diketahui, seringkali Al-Quran “turun” secara spontan, guna menjawab pertanyaan atau mengomentari peristiwa. Misalnya pertanyaan orang Yahudi tentang hakikat ruh. Pertanyaan ini dijawab secara langsung, dan tentunya spontanitas tersebut tidak memberi peluang untuk berpikir dan menyusun jawaban dengan redaksi yang indah apalagi teliti. Namun demikian, setelah Al-Quran rampung diturunkan dan kemudian dilakukan analisis serta perhitungan tentang redaksi-redaksinya, ditemukanlah hal-hal yang sangat menakjubkan. Ditemukan adanya keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakannya, seperti keserasian jumlah dua kata yang bertolak belakang.

    Abdurrazaq Nawfal, dalam Al-Ijaz Al-Adabiy li Al-Qur’an Al-Karim yang terdiri dari tiga jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan tersebut, yang dapat kita simpulkan secara sangat singkat sebagai berikut.

    *A. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya.*

    Beberapa contoh, di antaranya:

    • Al-hayah (hidup) dan al-mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali;
    • Al-naf’ (manfaat) dan al-madharrah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali;
    • Al-har (panas) dan al-bard (dingin), masing-masing 4 kali;
    • Al-shalihat (kebajikan) dan al-sayyi’at (keburukan), masing-masing 167 kali;
    • Al-Thumaninah (kelapangan/ketenangan) dan al-dhiq (kesempitan/kekesalan), masing-masing 13 kali;
    • Al-rahbah (cemas/takut) dan al-raghbah (harap/ingin), masing-masing 8 kali;
    • Al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk definite, masing-masing 17 kali;
    • Kufr (kekufuran) dan iman (iman) dalam bentuk indifinite, masing-masing 8 kali;
    • Al-shayf (musim panas) dan al-syita’ (musim dingin), masing-masing 1 kali.

    *B. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya.*

    • Al-harts dan al-zira’ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali;
    • Al-’ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing 27 kali;
    • Al-dhallun dan al-mawta (orang sesat/mati [jiwanya]), masing-masing 17 kali;
    • Al-Qur’an, al-wahyu dan Al-Islam (Al-Quran, wahyu dan Islam), masing-masing 70 kali;
    • Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-masing 49 kali;
    • Al-jahr dan al-’alaniyah (nyata), masing-masing 16 kali.

    *C. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.*

    • Al-infaq (infak) dengan al-ridha (kerelaan), masing-masing 73 kali;
    • Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali;
    • Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/al-ahraq (neraka/ pembakaran), masing-masing 154 kali;
    • Al-zakah (zakat/penyucian) dengan al-barakat (kebajikan yang banyak), masing-masing 32 kali;
    • Al-fahisyah (kekejian) dengan al-ghadhb (murka), masing-masing 26 kali.

    *D. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.*

    • Al-israf (pemborosan) dengan al-sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali;
    • Al-maw’izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan (lidah), masing-masing 25 kali;
    • Al-asra (tawanan) dengan al-harb (perang), masing-masing 6 kali;
    • Al-salam (kedamaian) dengan al-thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali.

    *E. Di samping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus.*

    (1) Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni), jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain, kata yang berarti “bulan” (syahr) hanya terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.

    (2) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada “tujuh.” Penjelasan ini diulanginya sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah 29, Al-Isra’ 44, Al-Mu’minun 86, Fushshilat 12, Al-Thalaq 12, Al-Mulk 3, dan Nuh 15. Selain itu, penjelasannya tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat.

    (3) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul (rasul), atau nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.

    Demikianlah sebagian dari hasil penelitian yang kita rangkum dan kelompokkan ke dalam bentuk seperti terlihat di atas.

    Kedua adalah pemberitaan-pemberitaan gaibnya. Fir’aun, yang mengejar-ngejar Nabi Musa., diceritakan dalam surah Yunus. Pada ayat 92 surah itu, ditegaskan bahwa “Badan Fir’aun tersebut akan diselamatkan Tuhan untuk menjadi pelajaran generasi berikut.” Tidak seorang pun mengetahui hal tersebut, karena hal itu telah terjadi sekitar 1200 tahun S.M. Nanti, pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1896, ahli purbakala Loret menemukan di Lembah Raja-raja Luxor Mesir, satu mumi, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir’aun yang bernama Maniptah dan yang pernah mengejar Nabi Musa a.s. Selain itu, pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut-pembalut Fir’aun tersebut. Apa yang ditemukannya adalah satu jasad utuh, seperti yang diberitakan oleh Al-Quran melalui Nabi yang ummiy (tak pandai membaca dan menulis itu). Mungkinkah ini?

    Setiap orang yang pernah berkunjung ke Museum Kairo, akan dapat melihat Fir’aun tersebut. Terlalu banyak ragam serta peristiwa gaib yang telah diungkapkan Al-Quran dan yang tidak mungkin dikemukakan dalam kesempatan yang terbatas ini.

    Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya. Banyak sekali isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Al-Quran. Misalnya diisyaratkannya bahwa “Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedang cahaya bulan adalah pantulan (dari cahaya matahari)” (perhatikan QS 10:5); atau bahwa jenis kelamin anak adalah hasil sperma pria, sedang wanita sekadar mengandung karena mereka hanya bagaikan “ladang” (QS 2:223); dan masih banyak lagi lainnya yang kesemuanya belum diketahui manusia kecuali pada abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir ini. Dari manakah Muhammad mengetahuinya kalau bukan dari Dia, Allah Yang Maha Mengetahui!

    Kesemua aspek tersebut tidak dimaksudkan kecuali menjadi bukti bahwa petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh Al-Quran adalah benar, sehingga dengan demikian manusia yakin serta secara tulus mengamalkan petunjuk-petunjuknya.

    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

    ***

    Oleh Sahabat: A Dani Permana

     
    • andi yoger 9:29 pm on 28 Desember 2012 Permalink

      mohon kopas yaa mau saya sebarkan di Kompasiana.com
      makasih.

  • erva kurniawan 1:19 am on 4 May 2012 Permalink | Balas  

    Rahasia Sujud   

    Assalamualaikum,

    Subhanallah, sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita? Naudzubillah….

    Seorang doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran.

    Dia adalah seorang doktor neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Qur’an” Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat di dalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu , biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

    Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal.

    Setelah membuat kajian yang memakan waktu akkhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang di wajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah.

    Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

    Kesimpulannya :

    Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi lagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal.

    Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak Segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini.

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 3 May 2012 Permalink | Balas  

    12 Barisan di Akhirat

    Suatu ketika, Muaz b Jabal ra menghadap Rasulullah saw dan bertanya:”Wahai Rasulullah, tolong uraikan kepadaku mengenai firman Allah SWT: “Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris” Surah an-Naba’:18

    Mendengar pertanyaan itu, baginda menangis dan basah pakaian dengan air mata. Lalu menjawab: “wahai Muaz, engkau telah bertanya kepadaku, perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris Maka dinyatakan apakah 12 barisan tersebut…..

    BARISAN PERTAMA

    Digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih:”Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya, maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KEDUA

    Digiring dari kubur berbentuk babi hutan. Datanglah suara dari sisi Yang Maha Pengasih:”Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan sholat,maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KETIGA

    Mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kala jengking.”Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KEEMPAT

    Digiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancuran keluar dari mulut mereka.”Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jual beli,

    BARISAN KELIMA

    Digiring dari kubur dengan bau busuk dari bangkai. Ketika itu Allah SWT menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman di Padang Mahsyar.”Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka takut diketahui oleh manusia tetapi tidak pula merasa takut kepada Allah SWT, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KEENAM

    Digiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan.”Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KETUJUH

    Digiring dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah.”Mereka itu adalah orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KEDELAPAN

    Digiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas. “Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KESEMBILAN

    Digiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. “Mereka itu adalah orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KESEPULUH

    Digiring dari kubur mereka dalam keadaan tubuh mereka penuh dengan penyakit sopak dan kusta. “Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KESEBELAS

    Digiring dari kubur mereka dengan berkeadaan buta mata-kepala, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut mereka dan keluar beraneka kotoran.”Mereka adalah orang yang minum arak, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KEDUA BELAS

    Mereka digiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama. Mereka melalui titian sirat seperti kilat. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih memaklumkan:”Mereka adalah orang yang beramal saleh dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, mereka memelihara sholat lima waktu,ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah syurga, mendapat ampunan, kasih sayang dan keredhaan Allah Yang Maha Pengasih…”

    Semoga kita semua di saf yang Ke-12 yang mendapat rahmat dari Allah SWT….Amin…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 1 May 2012 Permalink | Balas  

    Kematian

    Kematian adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan karena setiap manusia pasti menghadapi maut. Tentang kesakitan yang dirasakan ketika sedang bertarung dengan maut, Rasulullah saw menjelaskan dalam hadist-hadistnya bahwa sakit ketika hampir mati itu laksana kesakitan dicerca seratus kali dengan pedang yang tajam atau seperti dikoyak kulit dari daging hidup-hidup.

    Amatlah beruntung seseorang itu sekiranya dia mati dalam keadaan khusnul khatimah (kebajikan) dan adalah menyedihkan sekiranya dia mati dalam keadaan suul-khatimah.

    Tentang tanda-tanda seseorang itu akan mendapat kebajikan (khusnul khatimah) atau tidak, terdapat hadist Rasulullah saw dari Salman Al Farisi yang bermaksud:

    “Perhatikanlah tiga perkara kepada orang yang sudah hampir mati : Pertama: berkeringat pada pelipis pipinya Kedua: berlinang air matanya dan Ketiga: lubang hidungnya kembang kempis. Itu adalah tanda bahwa rahmat Allah sedang turun dan dirasai oleh orang yang hampir mati itu. Sebaliknya jika ia mengeluh seperti tercekik, raut mukanya nampak gelap dan keruh serta mulutnya berbuih, ini menandakan azab Allah sedang menimpa dia.” (Hadis riwayat Abdullah, Al-Hakim dan At-Tarmizi)

    Berdasarkan hadist ini, ada beberapa mukmin yang ketika hampir mati, masih terdapat sisa-sisa dosa padanya. Namun Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani menentukan orang itu mati dalam keadaan khusnul khatimah dan mengampuni segala dosa-dosanya itu.

    Diyakini bahwa kematian berlaku pada jasad manusia secara berangsur, dari ujung kaki ke paha. Apabila rahmat diturunkan padanya karena mati dalam khusnul khatimah ini, si mati akan merasa terlalu gembira dan kegembiraaan itu terlihat dengan keluarnya keringat pada pelipisnya.

    Air mata yang keluar dan hidung yang kembang kempis pula adalah tanda bahwa si mati amat malu pada Allah SWT terhadap sisa-sisa dosanya yang belum sempat ditaubatinya. Orang-orang yang kuat imannya akan merasa malu untuk melakukan dosa semasa hidupnya karena merasa bahwa Allah sentiasa memperhatikannya. Oleh sebab itu, disaat kematiannya, Allah melimpahkan rahmatNya dengan mengampunkan dosa-dosanya.

    Orang-orang yang kafir pula, dia tidak merasa malu pada Allah SWT. Oleh sebab itu apabila nyawanya hendak dicabut oleh Izrail, wajahnya gelap dan keruh dan dia mengeluh seperti binatang yang disembelih. Ini juga merupakan penanda bagi azab yang diterimanya disebabkan oleh dosa-dosa dan kekufurannya.

    Dari Alqamah bin Abdullah, Rasulullah saw bersabda yang Artinya :

    “Bahwa roh orang mukmin akan ditarik oleh Izrail dari jasadnya dengan perlahan-lahan dan sopan sementara roh orang kafir akan ditarik dengan kasar oleh malaikat maut bagaikan mencabut nyawa seekor khimar.”

    Terdapat juga orang mukmin yang berdosa, dan Allah menimpakan kekasaran dan mala petaka sebelum dia menghembuskan nafasnya yang terakhir sebagai kaffarah atas segala dosanya.

    Oleh sebab itu apabila rohnya keluar dari jasad, Dosannya ikut terangkat (terhapus).

    Kadang-kadang kita melihat seorang mukmin yang mati dalam kepayahan dan seorang kafir yang mati dalam ketenangan. Hendaklah kita berbaik sangka dengan orang mukmin tersebut kerana mungkin itu merupakan kaffrarah terhadap dosanya dan dia menemui Allah SWT dalam ampunan karena sisa-sisa dosanya telah dikaffarah.

    Orang kafir yang mati dalam ketenangan, mungkin semasa hidupnya dia berbuat kebajikan dan itu adalah balasan terhadapnya karena janji Allah bahwa setiap kebajikan akan dibalas.

    Tetapi karena dia tidak beriman, kebajikan itu tidak menjadi pahala dan kekufurannya akan diazab di akhirat kelak.

    Oleh itu, kita yang masih hidup harus senantiasa berbaik sangka dan mengambil pelajaran terhadap segala yang berlaku. Moga-moga kita akan menemui Allah dalam keadaan khusnul khatimah dan dalam limpahan rahmat dan keampunanNya.

    Amin ya Robbal “Alamiin

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 29 April 2012 Permalink | Balas  

    Gelap Gulita yang Tindih-Bertindih

    Ketika anda berada di ruangan yang gelap gulita, apa yang bisa anda lakukan? Tentu saja anda akan meraba-raba untuk menemukan jalan sambil mengerahkan daya insting anda. Anda tak tahu jalan untuk keluar, nafas anda sesak dan kegelisahan mulai menyelimuti anda. Tak ada sebersit cahayapun yang menyinari tempat anda berada.

    Sekarang bayangkan bila hidup anda tak disinari oleh cahaya ilahi. Tentu saja anda pun akan berputar-putar tanpa arah di dalam kegelapan. Atau dalam bahasa Al-Qur’an: “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia, mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS 24: 40)

    Di saat keadaan gelap gulita, jiwa gelisah dan anda tak tahu apa yang harus anda kerjakan, beban kerjapun semakin menumpuk, himpitan ekonomi menghadang langkah anda, tubuh anda bergetar dan semuanya menjadi serba tak berarturan dan serba salah, jika hal ini menimpa anda maka carilah cahaya ilahi agar anda dapat keluar dari kegelapan itu.

    Bagaimana caranya mencari cahaya ilahi yang akan menerangi hati anda?

    “dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (QS 74:4-5)

    Mari kita bersihkan pakaian kita.tengoklah diri kita di cermin, berapa banyak pakaian kesombongan, pakaian riya’, pakaian dengki, pakaian takabur yang kita kenakan. Pakaian itu kita percantik dengan segala macam asesoris seperti lalai mengingat Allah, enggan bersedekah, merasa berat untuk pergi haji, dan lain sebagainya. Maka bersihkanlah segala macam pakaian lengkap dengan asesorisnya tersebut. Setelah itu usahakanlah untuk tak mengenakan pakaian itu selamanya.

    Sekarang tengoklah hati anda, rasakan cahaya ilahi mulai masuk ke dalam relung hati. “Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki…”(QS 24: 35)

    Mari kita kumpulkan cahaya ilahi itu mulai sekarang, dari hari ke hari hingga di hari kiamat nanti kita berdo’a, sebagaimana terekam dalam QS 66:28 : “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Berbahagialah mereka yang mendapat cahaya ilahi….

    ***

    Dari Sahabat

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 695 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: