Updates from Juni, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:13 am on 7 June 2012 Permalink | Balas  

    Pesan Untuk Para Calon Istri

    Asma’ binti Kharijah Al Fazary berpesan kepada puterinya ketika menikah (sebelum melepaskan kepergiannya menuju suaminya):

    “Wahai puteriku sayang, tak lama lagi kau akan keluar meninggalkan ayunan tempat kau ditimang dulu, dan berpindah ke atas ranjang yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Kau akan hidup bersama seorang kawan yang belum pernah kau kenal sebelumnya. Oleh karena itu, jadilah bumi tempat ia berpijak, maka ia akan menjadi langit yang menaungimu. Jadikanlah dirimu tempat sandaran baginya, maka ia akan menjadi tiang yang meneguhkanmu. Jadilah pelayan baginya, ia akan menjadi abdi bagimu. Jangan kau merepotkannya sehingga ia merasa kesal. Dan jangan terlalu jauh darinya sehingga ia lupa akan dirimu. Jika ia mendekatimu, maka dekatilah. Jika ia berpaling, maka menjauhlah. Peliharalah pandangannya, pendengarannya dan penciumannya. Jangan sampai ia memandang sesuatu yang buruk darimu. Dan jangan sampai ia mendengar kata-kata kasar darimu. Dan jangan sampai ia mencium bau yang tak sedap darimu. Jadikanlah setiap apa yang ia lihat adalah wajahmu yang cantik berseri-seri. Jadikanlah setiap apa yang ia dengar adalah ucapanmu yang santun dan lembut. Jadikanlah setiap apa yang ia cium adalah aroma wangi tubuh dan pakaianmu.”

    “Ayahmu dulu berpesan kepada ibumu: Maafkanlah segala kesalahan dan kehilafanku, niscaya cinta kita akan terus bersemi. Ketika aku marah, janganlah kau memancing lagi amarahku. Karena benci dan cinta takkan pernah bersatu. Saat benci datang, cinta pun kan berlalu.”

    Demikian isi pesan tersebut. Semoga bermanfaat dan dapat dijadikan bahan renungan untuk para calon istri yang akan memasuki sebuah kehidupan baru. Kehidupan yang mengakhiri masa lajang penuh penantian yang melelahkan.

    Wallahu a’lamu bis showab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 6 June 2012 Permalink | Balas  

    Siapakah orang yang sibuk?

    Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya, seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman A.S. Maka sempatkanlah bagimu untuk beribadah dan bersegeralah!

    Siapakah orang yang manis senyumannya?

    Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ketika ditimpa musibah, lalu dia berucap “Inna lillahi wainna illaihi rajiuun.” Kemudian berkata,”Ya Rabbi, Aku ridho dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman. Maka berbaik hatilah dan bersabar…

    Siapakah orang yang kaya?

    Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada, dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini. Maka bersyukurlah atas nikmat yang kau terima dan berbagilah.. .

    Siapakah orang yang miskin?

    Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada,selalu menumpuk-numpukkan harta. Maka janganlah kau menjadi kikir juga dengki…

    Siapakah orang yang rugi?

    Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan, namun masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan. Maka hargailah waktumu dan bersegeralah. ..

    Siapakah orang yang paling cantik?

    Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik. Maka peliharalah akhlakmu dari dosa dan noda…

    Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?

    Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan, dimana kuburnya akan diluaskan sejauh mata memandang. Maka beramal shalehlah selagi sempat dan mampu…

    Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?

    Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan, lalu kuburnya menghimpitnya. Maka ingatlah akan kematian dan kehidupan setelah dunia…

    Siapakah orang yang mempunyai akal?

    Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak, karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka. Maka peliharalah akal sehatmu dan pergunakan semaksimal mungkin untuk mengharap ridho-Nya…

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 5 June 2012 Permalink | Balas  

    Shalat 5 Waktu Pembeda Muslim dari Orang Kafir

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

    Berikut satu tulisan dari buku “Iman, Islam, dan Ihsan” yang bisa didownload di: http://syiarislam.wordpress.com

    Shalat 5 Waktu – Rukun Islam yang kedua. Rukun Islam yang kedua (setelah membaca 2 kalimat syahadat) adalah shalat 5 waktu (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya). Dalam Al Qur’an Allah memerintahkan kita untuk shalat 5 waktu:

    Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” [Al Israa’:78]

    … Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [An Nisaa’:103]

    Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’“ [Al Baqarah:43]

    Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” [Al Kautsar:2]

    Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” [Al Baqarah:110]

    a. Shalat Bisa Mencegah Perbuatan Keji Dan Munkar

    Shalat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar:

    Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al ‘Ankabuut:45]

    Shalat untuk mengingat Allah:

    Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [Thaahaa:14]

    b. Didiklah Anak/Keluarga Anda Untuk Shalat

    Didiklah anak/keluarga anda untuk shalat:

    Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Luqman:17]

    “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya” (Thaha : 132)

    “Hendaknya kita tetap memelihara/mengerjakan shalat kita: “Peliharalah semua Shalat(mu), dan peliharalah shalat wusthaa” (Al Baqarah :238)

    Shalat sangat penting. Shalat adalah tiang agama. Siapa yang tidak mengerjakannya berarti dia meruntuhkan agama:

    “Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama” (HR. Baihaqi)

    c. Shalat Pembeda Orang Islam dengan Orang Kafir

    Pembeda antara orang muslim dengan kafir adalah shalat. Barang siapa tidak shalat berarti dia kafir:

    “Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

    “Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia kafir.” (HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079)

    Amal yang pertama dihisab adalah shalat. Begitu dia tidak shalat, meski puasa, zakat, haji, rajin sedekah, dia langsung dimasukkan ke neraka:

    Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seseorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat, maka apabila shalatnya baik (lengkap), maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika shalatnya itu rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain” (Thabrani)

    Jangan sampai kita dan keluarga kita yang sudah baligh bolong-bolong shalatnya. Apalagi sampai meninggalkannya. Orang yang tidak mengerjakan shalat disiksa di neraka:

    “Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat….” (Al-Muddatstsir: 42-43)

    “Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari mengerjakan shalatnya.” (Al-Ma’un: 4-5)

    “Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kerugian.” (Maryam: 59)

    d. Shalat Tepat Waktu dan Berjama’ah

    Hendaknya kita shalat tepat waktu:

    Pekerjaan yang sangat disuka Allah, ialah mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Sesudah itu berbakti kepada ibu-bapak. Sesudah itu berjihad menegakkan agama Allah” (Bukhori dan Muslim)

    Jika shalat 5 waktu, hendaknya berjama’ah: Anas r.a.:

    Nabi SAW selalu memotivasi umatnya untuk sholat berjamaah dan melarang mereka pergi keluar sebelum imam mereka pergi (Muslim)

    Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, pahalanya berlipat ganda sampai duapuluh tujuh derajat (dibandingkan dengan shalat sendirian) (Bukhori dan Muslim)

    Jika shalat berjama’ah, jangan mendahului imam. Tunggu imam ruku dulu, baru anda ruku. Tunggu imam sujud dulu, baru anda sujud: Rasul Bersabda: Takutlah kamu bila angkat kepalamu dari sujud mendahului imam, karena Allah akan ubah kepalamu jadi kepala keledai (Bukhori dan Muslim)

    Ummu Salamah r.a.: Bila selesai salam pada saat sholat di masjid, Rasul berhenti sejenak agar wanita pulang lebih dahulu sebelum pria (Bukhori)

    Semoga kita di akhirat nanti termasuk dalam golongan orang yang mengerjakan shalat.

    Wassalammualaikum Wr. Wb.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 2 June 2012 Permalink | Balas  

    Air Kencing : Penyebab kebanyakan siksa kubur.  

    Ibnu Abbas ra mengisahkan bahwa suatu hari Rasulullah saw melintasi dua makam, lalu beliau berkata, “Sesungguhnya mereka berdua sedang disiksa, mereka berdua disiksa bukan disebabkan melakukan dosa besar. Salah satu dari mereka disiksa karena tidak sampai bersih saat bersuci dari buang air kecil.” Seorang perempuan Yahudi mendatangi Aisyah seraya berkata, “Sesungguhnya azab kubur itu disebabkan air kencing.” Mendengar perkataannya, Aisyah berkata, “Engkau bohong.” Perempuan Yahudi itu menjelaskan, “Karena air kencing itu mengenai kulit dan pakaian.” Kemudian Rasulullah saw keluar untuk mengerjakan shalat, sedangkan suara kami semakin keras terdengar (karena ribut). Mendengar keributan ini Rasulullah saw bertanya, “Ada apa ini?” Aisyah pun meceritakan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh perempuan Yahudi tadi, setelah itu Rasulullah saw bersabda, “Dia memang benar.” Abdurrahman bin Hasaah mendengar Rasulullah saw bertanya, “Tahukah kalian apa yang telah menimpa salah seorang Bani Israil? Dulu, saat mereka terkena air kencing, mereka segera membersihkannya dengan memotong pakaian yang terkena cipratan air kencing tersebut. Melihat perbuatan ini, orang itu melarang mereka, maka dia pun diadzab dalam kuburnya. Dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Huraihah ra secara mauquf, Rasulullah saw bersabda, ” Kebanyakan siksa kubur itu disebabkan air kencing.”

    Pada suatu malam Abdullah bin Umar pergi ke rumah seorang perempuan tua yang di samping rumahnya terdapat pemakaman. Lalu dia mendengar suara lirih yang berkata, “Kencing, apa itu kencing? Gayung, apa itu gayung?” Abdullah bin Umar pun berkata, “Celaka, apa yang terjadi?” Perempuan tua itu menjawab, “Itu adalah suara suamiku yang tidak pernah bersuci dari buang air kecil.” Mendengar penjelasan tersebut, Abdullah bin Umar berkata, “Celakalah dia! Unta saja kalau kencing bersuci, tapi dia malah tidak peduli.” Perempuan tua itu kembali menuturkan kisah suaminya : Ketika suamiku sedang duduk, ada seorang lelaki mendatanginya seraya berkata, “Berilah aku minum, aku sangat haus.” Suamiku malah berkata, “Engkau membawa gayung sedangkan gayung kami tergantung.” Orang itu berkata, “Wahai tuan, berilah aku minum, aku hampir mati kehausan.” Suamiku berkata, “Engkau membawa gayung.” Akhirnya lelaki yang meminta air untuk minum itu meninggal dunia. Setelah itu, suamiku juga meninggal dunia. Namun sejak hari pertama dia meninggal dunia, seringkali terdengar suara suamiku dari arah pemakaman, “Kencing, apa itu kencing? Gayung, apa itu gayung?”

    Nauzubillah min dzalik, ternyata perkara kecil saja bisa menyebabkan kita mendapat siksa kubur ya? Banyak orang memandang remeh bersuci setelah buang air kecil (kurang bersih bahkan tidak bersuci sama sekali), padahal hal yang remeh itu bisa menjadi malapetaka ketika kita masuk pada Alam Barzakh.

    “Ya Allah, lindungi kami semua dari siksa neraka, siksa kubur, fitnah dunia & alam barzakh, serta fitnah yang ditimbulkan oleh dajjal, amin.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Veishayana Inalatani Ayu 5:00 pm on 5 Februari 2013 Permalink

      Sungguh ..sngatt lah berarty bagi.kita smua … :) (^_^)

  • erva kurniawan 1:24 am on 1 June 2012 Permalink | Balas  

    Hadits tentang Haramnya Khamar / Minuman Keras      

    Assalamu’alaikum wr wb, Dari hadits di bawah kita dapat menyaksikan keimanan para sahabat Nabi. Begitu Allah mengharamkan khamar, tanpa banyak tanya apalagi debat, mereka tumpahkan khamar-khamar yang mereka miliki ke jalan sehingga jalanan jadi berbau khamar. Sungguh beda dengan sekarang.

    1. Pengharaman khamar serta menerangkan bahwa khamar itu terbuat dari perasan anggur, kurma basah, kurma kering dan lain sebagainya yang dapat memabukkan.

    Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra., ia berkata: Aku mendapat seekor unta bersama Rasulullah saw. dari rampasan perang Badar. Dan Rasulullah saw. memberiku seekor unta yang lain. Pada suatu hari aku menderumkan keduanya di depan pintu seorang sahabat Ansar, aku hendak memuatkan idzkhir (sejenis tumbuh-tumbuhan) di atas kedua unta tersebut untuk aku jual kepada seorang tukang emas dari Bani Qainuqa` yang datang bersamaku. Uang penjualan itu akan kupergunakan membantu walimah Fatimah ra. Pada saat itu, Hamzah bin Abdul Muthalib ra. sedang minum minuman keras di rumah tersebut. Ia ditemani seorang budak perempuan yang bernyanyi untuknya. Budak itu berkata: Hai Hamzah, perhatikanlah unta-unta yang gemuk itu! Tiba-tiba Hamzah melompat ke arah kedua untaku dengan pedang, lalu ia potong ponok keduanya dan ia belah lambung keduanya, kemudian ia ambil hati keduanya. Aku katakan kepada Ibnu Syihab: Dan bagaimana dengan ponoknya? Ia berkata: Ponok-ponoknya di pangkas dan dibawa pergi. Kata Ibnu Syihab: Ali berkata: Dan aku menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu. Lalu aku mendatangi Rasulullah saw. yang pada saat itu Zaid bin Haritsah sedang berada di dekat beliau. Aku pun menceritakan peristiwa tersebut. Kemudian beliau bersama Zaid keluar dan aku juga ikut bersama beliau. Lalu beliau masuk menemui Hamzah dan marah kepadanya. Hamzah mengangkat pandangannya, kemudian berkata: Kalian ini tidak lain hanyalah budak-budak bapakku! Rasulullah saw. kemudian mundur ke belakang lalu meninggalkan mereka. (Shahih Muslim No.3660)

    Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Aku sedang memberi minum para tamu di rumah Abu Thalhah, pada hari khamar diharamkan. Minuman mereka hanyalah arak yang terbuat dari buah kurma. Tiba-tiba terdengar seorang penyeru menyerukan sesuatu. Abu Thalhah berkata: Keluar dan lihatlah! Aku pun keluar. Ternyata seorang penyeru sedang mengumumkan: Ketahuilah bahwa khamar telah diharamkan. Arak mengalir di jalan-jalan Madinah. Abu Thalhah berkata kepadaku: Keluarlah dan tumpahkan arak itu! Lalu aku menumpahkannya (membuangnya). Orang-orang berkata: Si polan terbunuh. Si polan terbunuh. Padahal arak ada dalam perutnya. (Perawi hadis berkata: Aku tidak tahu apakah itu juga termasuk hadis Anas). Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat: Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh karena makanan yang telah mereka makan dahulu, asal mereka bertakwa serta beriman dan mengerjakan amal-amal saleh. (Shahih Muslim No.3662)

    2. Makruh membuat minuman dari kurma dan anggur kering yang dicampur

    Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Al-Anshari ra.: Bahwa Nabi saw. melarang anggur kering dicampur dengan kurma atau kurma yang belum matang dengan kurma yang matang. (Shahih Muslim No.3674)

    Hadis riwayat Abu Qatadah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian membuat minuman kurma setengah matang (mengkal) dan kurma matang sekaligus. Janganlah kalian membuat minuman anggur dan kurma sekaligus. Masaklah masing-masing dari keduanya secara terpisah. (Shahih Muslim No.3681)

    3. Larangan membuat nabiz dalam wadah yang dicat dengan teer, dalam labu kering, panci seng, kayu yang dilubangi, dan menerangkan bahwa larangan itu dihapus dan sekarang halal asal tidak memabukkan

    Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Rasulullah saw. melarang pembuatan minuman dalam kulit labu dan wadah yang dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3693)

    Hadis riwayat Aisyah, Ummul Mukminin ra.: Dari Aswad, ia berkata: Aku bertanya kepada Ummul Mukminin: Wahai Ummul Mukminin! Beritahukanlah kepadaku, apa yang dilarang oleh Rasulullah saw. untuk dijadikan bahan membuat minuman! Ummul Mukminin berkata: Rasulullah saw. melarang kami ahlulbait membuat minuman nabidz dalam kulit labu dan wadah yang dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3694)

    Hadis riwayat Ibnu Umar ra. dan Ibnu Abbas ra.: Dari Said bin Jubair ia berkata: Aku bersaksi bahwa Ibnu Umar ra. dan Ibnu Abbas ra. menyaksikan bahwa Rasulullah saw. melarang kulit labu, tempayan, wadah yang dicat dengan teer dan kayu yang dilubangi. (Shahih Muslim No.3705)

    Hadis riwayat Abdullah bin Amru ra., ia berkata: Ketika Rasulullah saw. melarang nabiz dalam beberapa bejana, orang-orang berkata: Tidak setiap orang mempunyai bejana lain. Lalu Rasulullah saw. memberikan kemurahan (dispensasi) kepada mereka, boleh minum dalam guci yang tidak dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3726)

    4. Menerangkan bahwa setiap yang memabukkan adalah khamar dan semua khamar adalah haram

    Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah ditanya tentang arak dari madu. Beliau menjawab: Setiap minuman yang memabukkan adalah haram. (Shahih Muslim No.3727)

    5. Balasan peminum khamar yang belum bertobat di akhirat

    Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Setiap minuman yang memabukkan adalah khamar dan setiap yang memabukkan adalah haram. Barang siapa minum khamar di dunia lalu ia mati dalam keadaan masih tetap meminumnya (kecanduan) dan tidak bertobat, maka ia tidak akan dapat meminumnya di akhirat (di surga). (Shahih Muslim No.3733)

    ***

    Sumber: hadith.al-islam.com

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 30 May 2012 Permalink | Balas  

    Hadits tentang Ayah, Ibu, Anak, dan Keluarga    

    1. Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)

    2. Seorang datang kepada Nabi Saw. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut berjihad. Nabi Saw bertanya kepadanya, “Apakah kamu masih mempunyai kedua orangg tua?” Orang itu menjawab, “Masih.” Lalu Nabi Saw bersabda, “Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad.” (Mutafaq’alaih)

    Penjelasan: Nabi Saw melarangnya ikut berperang karena dia lebih diperlukan kedua orang tuanya untuk mengurusi mereka.

    3. Rasulullah Saw pernah berkata kepada seseorang, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.” (Asy-Syafi’i dan Abu Dawud)

    Keterangan: Terdapat satu riwayat yang cukup panjang berkaitan dengan hal ini. Dari Jabir Ra meriwayatkan, ada laki-laki yang datang menemui Nabi Saw dan melapor.

    Dia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku ….”

    “Pergilah Kau membawa ayahmu kesini”, perintah beliau. Bersamaan dengan itu Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau.

    Jibril berkata: “Ya, Muhammad, Allah ‘Azza wa Jalla mengucapkan salam kepadamu, dan berpesan kepadamu, kalau orangtua itu datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh teliganya”.

    Ketika orang tua itu tiba, maka nabi pun bertanya kepadanya: “Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?”

    Lelaki tua itu menjawab: “Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu) nya, atau untuk keperluan saya sendiri?”

    Rasulullah bersabda lagi: “Lupakanlah hal itu. Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu!”

    Maka wajah keriput lelaki itu tiba-tiba menjadi cerah dan tampak bahagia, dia berkata: “Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah Swt berkenan menambah kuat keimananku dengan ke-Rasul-anmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya …”

    Nabi mendesak: “Katakanlah, aku ingin mendengarnya.”

    Orang tua itu berkata dengan sedih dan airmata yang berlinang: “Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini: ‘Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita. Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang…, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu …, seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.’

    Selanjutnya Jabir berkata: “Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: “Engkau dan hartamu milik ayahmu!” (HR. At-Thabarani dalam “As-Saghir” dan Al-Ausath).

    4. Jangan mengabaikan (membenci dan menjauhi) orang tuamu. Barangsiapa mengabaikan orang tuanya maka dia kafir. (HR. Muslim)

    Penjelasan: Yang dimaksud kufur nikmat dan bukan kufur akidah.

    5. Barangsiapa menisbatkan keturunan dirinya kepada selain ayahnya sendiri dan dia mengetahuinya bahwa dia bukan ayah yang sebenarnya maka surga diharamkan baginya. (HR. Muslim)

    6. Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?” Nabi Saw menjawab, “ibumu…ibumu…ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.” (Mutafaq’alaih).

    7. Ibu dan Bapak berhak makan dari harta milik anak mereka dengan cara yang makruf. Seorang anak tidak boleh makan dari harta ibu bapaknya kecuali dengan ijin mereka. (HR. Ad-Dailami).

    8. Barangsiapa berhaji untuk kedua orang tuanya atau melunasi hutang-hutangnya maka dia akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dari golongan orang-orang yang mengamalkan kebajikan. (HR. Ath-Thabrani dan Ad-Daar Quthni).

    9. Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah)

    Penjelasan: Kalau berbakti masuk surga dan kalau bersikap durhaka kepada mereka masuk neraka.

    10. Apabila seorang meninggalkan do’a bagi kedua orang tuanya maka akan terputus rezekinya. (HR. Ad-Dailami)

    11. Termasuk dosa besar seorang yang mencaci-maki ibu-bapaknya. Mereka bertanya, “Bagaimana (mungkin) seorang yang mencaci-maki ayah dan ibunya sendiri?” Nabi Saw menjawab, “Dia mencaci-maki ayah orang lain lalu orang itu (membalas) mencaci-maki ayahnya dan dia mencaci-maki ibu orang lain lalu orang lain itupun (membalas) mencaci-maki ibunya. (Mutafaq’alaih)

    12. Kedudukan seorang paman sebagai (pengganti) kedudukan ayahnya. (HR. Adarqothani)

    13. Warisan bagi Allah ‘Azza wajalla dari hambaNya yang beriman ialah puteranya yang beribadah kepada Allah sesudahnya. (HR. Ath-Thahawi).

    14. Salah satu kenikmatan Allah atas seorang ialah dijadikan anaknya mirip dengan ayahnya (dalam kebaikan). (HR. Ath-Thahawi)

    15. Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala). (HR. Bukhari)

    16. Seorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya, ” Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi Saw menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu).” (HR. Aththusi).

    17. Cintailah anak-anak dan kasih sayangi lah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki. (HR. Ath-Thahawi).

    18. Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu. (HR. Bukhari dan Muslim)

    19. Sama ratakan pemberianmu kepada anak-anakmu. Jika aku akan mengutamakan yang satu terhadap yang lain tentu aku akan mengutamakan pemberian kepada yang perempuan. (HR. Ath-Thabrani)

    20. Barangsiapa mempunyai dua anak perempuan dan diasuh dengan baik maka mereka akan menyebabkannya masuk surga. (HR. Bukhari)

    21. Anak menyebabkan kedua orang tuanya kikir dan penakut. (HR. Ibnu Babawih dan Ibnu ‘Asakir).

    22. Barangsiapa memelihara (mengasuh) tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan wajib baginya masuk surga. (HR. Ath-Thahawi).

    23. Seorang ibu yang kematian tiga orang puteranya lalu berserah diri (pasrah) kepada Allah, rela dan ikhlas, maka dia akan masuk surga. (HR. Muslim)

    24. Ajarkan putera-puteramu berenang dan memanah. (HR. Ath-Thahawi).

    25. Setiap anak tergadai dengan (tebusan) akikahnya (seekor atau dua ekor kambing) yang disembelih pada umur tujuh hari dan dicukur rambut kepalanya (sebagian atau seluruhnya) dan diberi nama. (HR. An-Nasaa’i)

    26. Barangsiapa menjamin untukku satu perkara, aku jamin untuknya empat perkara. Hendaklah dia bersilaturrahim (berhubungan baik dengan keluarga dekat) niscaya keluarganya akan mencintainya, diperluas baginya rezekinya, ditambah umurnya dan Allah memasukkannya ke dalam surga yang dijanjikanNya. (HR. Ar-Rabii’).

    27. Ibu mertua kedudukannya sebagai ibu. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

    28. Abang yang tertua (sulung) kedudukannya sebagai ayah. (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)

    29. Orang yang memutus hubungan kekeluargaan tidak akan masuk surga. (Mutafaq’alaih)

    30. Rahim adalah cabang dari nama Arrahman (Arrahman Arrahim). Rahim mengucapkan keluhan dan pengaduan: “Ya Robbi, aku telah diputus (hubungan kekeluargaanku), aku telah diperlakukan dengan buruk oleh keluarga dekatku. Ya Robbi, aku telah dizalimi mereka, ya Robbi, ya Robbi.” Lalu Allah menjawab: “Tidakkah kamu ridha Aku menyambung hubunganKu dengan orang yang menghubungimu dan Aku putus hubunganKu dengan orang yang memutus hubungannya dengan kamu. (HR. Bukhari)

    31. Rasulullah Saw memberi uang belanja kepada keluarga beliau dari bagian rampasan perang yang menjadi hak beliau untuk kebutuhan rumah tangga selama setahun. Apabila ternyata ada kelebihannya maka uang itu diminta kembali dan dimasukkan ke dalam perbendaharaan negara (baitul maal). (HR. Ahmad)

    33. Cukup berdosa orang yang menyia-nyiakan tanggungjawab keluarga. (HR. Abu Dawud).

    32. Bukanlah dari golongan kami orang yang diperluas rezekinya oleh Allah lalu kikir dalam menafkahi keluarganya. (HR. Ad-Dailami)

    ***

    Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 29 May 2012 Permalink | Balas  

    Rapat dan Luruskan Shof-Shof Kalian!!!

    Judul ini merupakan sebuah penggalan perintah sang Umar Al-Faruq rodhiyallohu’anhu kepada makmum sesaat sebelum mengimami sholat berjamaah. Hal itu merupakan wujud perhatian besar beliau terhadap tuntunan Rosulululloh shollallohu ‘alaihi wassalam yang mulia ini. Sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas rodhiyallohu’anhu bahwasanya Rosululloh bersabda yang artinya, Rapikan (rapat dan lurus) shof kalian, sesungguhnya shof termasuk bagian menegakkan sholat.” (HR. Bukhori 732)

    Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar rodhiyallohu’anhuma, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda, Rapikanlah shof, sejajarkan antara bahu, penuhi yang masih kosong (masih longgar), bersikap lunaklah terhadap saudara kalian dan janganlah kalian biarkan kelonggaran untuk setan. Barangsiapa yang menyambung shof, Alloh akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutus shof Alloh akan memutusnya.” (HR. Abu Dawud no. 666). Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang menekankan pentingnya merapatkan dan meluruskan shof.

    Wajibnya Meluruskan dan Merapatkan Shof

    Ternyata Rosululloh tidak hanya memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shof, namun beliau juga mengancam keras orang-orang yang tidak merapikan shof mereka seperti dalam suatu redaksi hadits, “Sungguh kalian mau merapikan shof kalian atau kalau tidak maka Alloh akan menjadikan perselisihan diantara kalian.” (HR. Bukhori-Muslim)

    Sebuah kaidah dalam Islam menyatakan bahwa asal perintah adalah wajib. Begitu pula mustahil suatu perkara yang mendapatkan ancaman maka hukumnya hanya sampai sunnah saja. Maka pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah wajibnya merapikan shof dan apabila suatu jama’ah sholat tidak merapikan shof mereka maka mereka berdosa. Dan inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullohu yang dapat kita lihat dalam kitab Majmu’ Fatawa beliau. Namun bagi yang tidak merapikan sholat maka sholatnya tetap sah berdasarkan perbuatan Anas rodhiyallohu’anhu yang mengingkari mereka yang tidak merapikan sholat tetapi tidak memerintahkan agar mereka mengulanginya.

    Bagaimana Cara Meluruskan Shof?

    Adapun sifat dan tata cara merapikan shof telah tercantum dalam banyak hadits diantaranya sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir rodhiyallohu’anhu, beliau berkata, Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam pernah menghadap manusia dengan wajahnya seraya mengatakan, Rapikanlah shof-shof kalian (3x). Demi Alloh, kalian merapikan shof kalian, atau kalau tidak maka Alloh akan menjadikan perselisihan diantara hati kalian.’ Nu’man berkata, ‘Lalu saya melihat seorang merapatkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya.” (HR. Abu Dawud no. 662)

    Hadits-hadits ini menunjukan secara jelas pentingnya merapikan shof dan hal itu termasuk kesempurnaan sholat hendaknya saling lurus dan tidak maju mundur antara satu dengan yang lain, dan saling rapat satu dengan yang lain, dan saling rapat antara bahu dengan bahu, kaki dengan kaki, dan lutut dengan lutut. Namun pada zaman sekarang, sunnah ini dilupakan, seandainya engkau mempraktekkannya, niscaya masyarakat lari seperti keledai. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

    Adapun kita sesudah mengetahui tentang perintah ini sudah sepantasnya berusaha sekuat kemampuan melaksanakannya. Tidakkah kita ingin merasakan kelezatan menegakkan amalan ini di dalam hati kita. Serta menjadi pemegang tombak syariat di muka bumi ini. Semoga Alloh subhana wata’ala memberikan hidayah kepada kita semua.

    Kesimpulannya, merapikan shof meliputi hal-hal berikut:

    1. Meluruskan barisan sholat dan merapikannya.
    2. Memenuhi shof yang masih renggang.
    3. Menyempurnakan shof yang pertama terlebih dahulu dan begitu seterusnya.
    4. Saling berdekatan.

    Sholat di Antara Dua Tiang?

    Maka konsekuensi dari perintah merapikan dan merapikan shof sholat adalah tidak membuat shof diantara tiang -kecuali dharuri (terpaksa)- sehingga shof sholat terputus. Sebagaimana para sahabat menghindari hal tersebut di zaman Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam. Konsekuensi yang lain adalah seyogyanya mengisi kekosongan dalam shof sekalipun di tengah sholat mengamalkan hadits yang diriwayatkan Thabrani dengan redaksi terjemahannya “Tidak ada langkah yang lebih banyak pahalanya daripada pahala seseorang menuju kelonggaran dalam shof untuk menutupinya.”

    ***

    Oleh: Muhammad Ikrar Yamin

    (Disarikan dari Majalah Al-Furqon edisi 10 tahun IV)

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 28 May 2012 Permalink | Balas  

    Jujur

    Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur. ( QS. At-Taubah 9:119 )

    Menurut penuturan Ibnu Mas’ud r.a. Rasulullah SAW. Pernah bersabda: Hendaklah kamu bersifat jujur karena sifat jujur akan membawa kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa kesyurga. Apabila seseorang bersifat jujur dan membiasakan dirinya untuk senantiasa jujur, maka Alllah akan menetapkannya sebagai orang yang jujur. Jauhilah olehmu sifat bohong karena bohong itu membawa pada kejahatan dan kejahatan itu akan membawa kedalam neraka. Bila seseorang bersifat bohong dan membiasakan dirinya bersifat bohong, maka Allah akan menetapkannya sebagai seorang pembohong. (HR.Muttafaq ‘alaih).

    Orang yang jujur adalah orang yang pernyataannya sesuai dengan kenyataan. Baik pernyataan itu dengan lisan, dengan tulisan, ataupun dalam bentuk penampilan dan perbuatan.

    Bila seorang pemimpin memberikan pernyataan dengan lisan atau tulisan, bahwa dia sangat prihatinan dengan kemiskinan rakyat, karena itu dia akan sangat peduli dan akan memperhatikan dengan serius nasib rakyat kecil yang miskin, padahal dalam kenyataannya dia lebih mementingkan rakyat lapisan atas karena akan menguntungkan pada peribadinya, maka pemimpin itu adalah pemimpin yang tidak jujur, karena perkataannya tidak sesuai dengan kenyataan. Allah sangat murka kepada orang yang perkatannya tidak sejalan dengan perbuatannya :

    Amat besar kemurkaan Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. ( QS. Ash-Shaf 3 )

    Bila seseorang calon pemimpin tampil dihadapan rakyatnya dengan penampilan seorang pemimpin yang meyakinkan, padahal sebenarnya dia tidaklah mempunyai kemampuan untuk kepemimpinan yang akan dipegangnya karena bukan bidangnya, dan dia tidak punya pengalaman sama sekali dalam bidang yang akan di pimimpin nya. Maka orang itu adalah calon pemimpin yang tidak jujur , dan bila jadi pemimpin nanti, maka dia adalah pemimpin yang tidak jujur.( baca: pemimpin gadungan). Sama saja dengan seorang yang berpenampilan sebagai seorang dokter, padahal dia bukan dokter, maka orang itu adalah dokter gadungan.

    Bila seseorang mendirikan rumah sakit atau panti asuhan, atau yayasan sosial yang secara lahir diduga orang bahwa itu adalah project kemanusiaan, padahal sebenarnya projet itu adalah project bisnis, atau atau projek untuk mengeruk kekayaan untuk dirinya dan keluarganya, maka orang itu adalah orang yang tidak jujur dalam perbuatannnya, atau orang yang bohong , membohongi masyarakat ramai.

    Sifat jujur merupakan syarat utama untuk seorang pemimpin, karena itulah salah sifat yang wajib bagi seorang rasul, sifat yang pertamanya adalah sifat jujur atau ash-shidqu. Secara umum, sifat jujur juga merupakan sifat utama bagi seorang mukimn, karena orang mukmin itu adalah orang yang jujur, tidak ada artinya iman tanpa kejujuran. Karena itulah firman Allah swt. diatas (QS.9:119) memerintahkan orang beriman untuk bersifat jujur.

    Sabda Rasulullah saw. diatas memerintahkan orang beriman agar bersifat jujur, karena sifat jujur itu adalah induk kebaikan (kebahagiaan) yang akan membawa sesorang masuk syurga. Sifat jujur itu sangat berat bagi mereka yang tidak terbiasa bersifat jujur, karena itu Rasulullah saw. Mengingatkan agar kita membiasakan sifat jujur agar sifat jujur itu menjadi ringan dan membudaya dalam kehidupan.

    Sebaliknya Rasulullah memperingatkan agar kita menjauhi sifat bohong. Karena bohong itu adalah induk kejahatan dan kemaksiatan. Orang yang tidak biasa berbohong, akan merasakan bahwa bohong itu sebenarnya berat, karena itu Rasululullah mengingatkan kita agar tidak membiasakan bohong agar sifat bohong itu tidak menjadi kebiasaan, bila sudah menjadi kebiasaan akan sangat berat meninggalkannya.

    Sebaliknya bila bohong itu tidak dibiasakan, maka bohong itu akan terasa berat. Bila seseorang sudah terbiasa bohong, maka dia akan terbiasa pula berbuat jahat dan maksiat, karena sifat bohong adalah sumber semua kejahatan dan kemaksiatan.

    ***

    Oleh : Ust. DR. H. Suhairy Ilyas. MA

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 27 May 2012 Permalink | Balas  

    Tahapan Setelah Mati 

     

    Tahapan Setelah Mati

     

    (Tahapan Perjalanan Manusia Menuju Hari Kebangkitan di Akhirat)

     

    Setelah manusia mati akan mengalami tahapan sbb :

     

    1.Alam Barzakh

     

    Para salaf bersepakat tentang kebenaran adzab dan nikmat yang ada di alam kubur (barzakh) . Nikmat tersebut merupakan nikmat yang hakiki, begitu pula adzabnya, bukan sekedar bayangan atau perasaan sebagaimana diklaim oleh kebanyakan ahli bid’ah. Pertanyaan (fitnah) kubur itu berlaku terhadap ruh dan jasad manusia baik orang mukmin maupun kafir. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan Rasulullah SAW selalu berlindung kepada Allah SWT dari siksa kubur. Rasulullah SAW menyebutkan sebagian dari pelaku maksiat yang akan mendapatkan adzab kubur, diantaranya mereka yang

     

    1. Suka mengadu domba
    2. Suka berbuat ghulul
    3. Berbuat kebohongan
    4. Membaca Al Qur’an tetapi tidak melaksanakan apa yang diperintahkan dan yang dilarang dalam Al’Qur’an
    5. Melakukan zina
    6. Memakan riba
    7. Belum membayar hutang setelah mati (orang yang berhutang akan tertahan tidak masuk surga karena hutangnya)
    8. Tidak bersuci setelah buang air kecil, sehingga masih bernajis

     

    Adapun yang dapat menyelamatkan seseorang dari siksa kubur adalah Shalat wajib, shaum, zakat, dan perbuatan baik berupa kejujuran, menyambung silaturahim, segala perbuatan yang ma’ruf dan berbuat baik kepada manusia , juga berlindung kepada Allah SWT dari adzab kubur.

     

     2. Peniupan Sangkakala

     

    Sangkakala adalah terompet yang ditiup oleh malaikat Israfil yang menunggu kapan diperintahkan Allah SWT. Tiupan yang pertama akan mengejutkan manusia dan membinasakan mereka dengan kehendak Allah SWT, spt dijelaskan pada Al Qur’an :

     

     “Dan ditiuplah sangkakala maka matilah semua yang di langit dan di bumi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT” ( QS. Az Zumar :68 ).

     

    Tiupan ini akan mengguncang seluruh alam dengan guncangan yang keras dan hebat sehingga merusak seluruh susunan alam yang sempurna ini. Ia akan membuat gunung menjadi rata, bintang bertabrakan, matahari akan digulung, lalu hilanglah cahaya seluruh benda-benda di alam semesta. Setelah I tu keadaan alam semesta kembali seperti awal penciptaannya.

     

    Allah SWT menggambarkan kedahsyatan saat kehancuran tersebut sebagaimana firman-Nya : “ Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” (QS.Al Hajj:1-2).

     

    Sedangkan pada tiupan sangkakala yang kedua adalah tiupan untuk membangkitkan seluruh manusia ; “Dan tiupan sangkakala (kedua), maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (QS. Yaa Siin : 51).

     

    Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian ditiuplah sangkakala, dimana tidak seorangpun tersisa kecuali semuanya akan dibinasakan. Lalu Allah SWT menurunkan hujan seperti embun atau bayang-bayang, lalu tumbuhlah jasad manusia. Kemudian sangkakala yang kedua ditiup kembali, dan manusia pun bermunculan (bangkit) dan berdiri”.(HR. Muslim).

     

     3.Hari Berbangkit

     

    “Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakannya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu”. (QS. Al Mujadilah : 6).

     

     4.Padang Mahsyar

     

    “(Yaitu) pada hari (ketika ) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit dan mereka semuanya di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (QS. Ibrahim:48).

     

    Hasr adalah pengumpulan seluruh mahluk pada hari kiamat untuk dihisap dan diambil keputusannaya. Lamanya di Padang Mahsyar adalah satu hari yang berbanding 50.000 tahun di dunia. Allah berfirman: “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun.(QS. Al Maarij:4). Karena amat lamanya hari itu, manusia merasa hidup mereka di dunia ini hanya seperti satu jam saja.

     

    Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari. (QS.Yunus:45).

     

     “Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, bahwa mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat saja” (QS. ArRuum:55).

     

    Adapun orang yang beriman merasakan lama pada hari itu seperti waktu antara dhuhur dan ashar saja. Subhanallah.

     

    Keadaan orang kafir saat itu sebagaimana firman-Nya.”Orang kafir ingin seandainya ia dapat menebus dirinya dari adzab hari itu dengan anak-anaknya, dengan istri serta saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya ketika di dunia, dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya”.(QS.AlMa’arij:11-14).

     

    5. Syafaat

     

    Syafaat ini khusus hanya untuk umat Muslim, dengan syarat tidak berbuat syirik besar yang menyebabkan kepada kekafiran. Adapun bagi orang musyrik, kafir dan munafik, maka tidak ada syafaat bagi mereka.

     

    Syafaat ini diberikan Rasulullah SAW kepada umat Muslim (dengan izin dari Allah SWT).

     

    6. Hisab

     

    Pada tahap (fase) ini, Allah SWT menunjukkan amal-amal yang mereka perbuat dan ucapan yang mereka lontarkan, serta segala yang terjadi dalam kehidupan dunia baik berupa keimanan, keistiqomahan atau kekafiran.

     

    Setiap manusia berlutut di atas lutut mereka. “Dan kamu lihat tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya . Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Jatsiah:28).

     

    Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Muhammad SAW, kita umat yang terakhir tapi yang pertama dihisab. Yang pertama kali dihisab dari hak-hak Allah pada seorang hamba adalah Shalatnya, sedang yang pertama kali diadili diantara manusia adalah urusan darah.

     

    Allah SWT mengatakan kepada orang kafir : “Dan kamu tidak melakukan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya”.(QS. Yunus:61). Seluruh anggota badan juga akan menjadi saksi.

     

    Allah bertanya kepada hamba-Nya tentang apa yang telah ia kerjakan di dunia : “Maka demi Rabbmu, kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang akan mereke kerjakan dahulu”.(Al Hijr:92-93).

     

    Seorang hamba akan ditanya tentang hal : umurnya, masa mudanya, hartanya dan amalnya dan akan ditanya tentang nikmat yang ia nikmati.

     

    7. Pembagian catatan amal

     

    Pada detik-detik terakhir hari perhitungan , setiap hamba akan diberi kitab (amal) nya yang mencakup lembaran-lembaran yang lengkap tentang amalan yang telah ia kerjakan di dunia.

     

    Al Kitab di sini merupakan lembaran-lembaran yang berisi catatan amal yang ditulis oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT.

     

    Manusia yang baik amalnya selama di dunia, akan menerima catatan amal dari sebelah kanan. Sedangkan manusia yang jelek amalnya akan menerima catatan amal dari belakang dan sebelah kiri, spt pada firman Allah berikut ini:

     

    “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak : “celakalah aku”, dan ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”, (QS. Al Insyiqaq:8-12) .

     

    “Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:”wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku” (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al Haqqah:25 31).

     

    8. Mizan

     

    Mizan adalah apa yang Allah letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan hamba-hamba-Nya. Allah berfirman : “Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah seorang dirugikan walau sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”. (QS. Al Anbiya:47)

     

    Setelah tahapan Mizan ini, bagi yang kafir, dan mereka yang melakukan perbuatan syirik akan masuk neraka.

     

    Sedangkan umat muslim lainnya, akan melalui tahap selanjutnya yaitu Telaga

     

     9. Telaga

     

    Umat Muhammad SAW akan mendatangi air pada telaga tersebut. Barang siapa minum dari telaga tersebut maka ia tidak akan haus selamanya. Setiap Nabi mempunyai telaga masing-masing. Telaga Rasulullah SAW lebih besar, lebih agung dan lebih luas dari yang lain, sebagaimana sabdanya :

     

    “Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai telaga dan sesungguhnya mereka berlomba untuk mendapatkan lebih banyak pengikutnya di antara mereka dan sesungguhnya Nabi Muhammad mengharapkan agar menjadikan pengikutnya yang lebih banyak”, (HR. Bukhari Muslim).

     

    Setelah Telaga, umat muslim akan ke tahap selanjutnya yaitu tahap Ujian Keimanan Seseorang. Perlu dicatat bahwa orang kafir dan orang yang berbuat syirik sudah masuk neraka (setelah tahap Mizan, seperti dijelaskan di atas).

     

    10.Ujian Keimanan Seseorang

     

    Selama di dunia, orang munafik terlihat seperti orang beriman karena mereka menampakkan keislamannya. Pada fase inilah kepalsuan iman mereka akan diketahui, diantaranya cahaya mereka redup. Mereka tidak mampu bersujud sebagaimana sujudnya orang mukmin. Saat digiring, orang-orang munafik ini merengek-rengek agar orang-orang mukmin menunggu dan menuntun jalannya.Karena saat itu benar-benar gelap dan tidak ada petunjuk kecuali cahaya yang ada pada tubuh mereka.

     

    Allah SWT berfirman,”Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman:”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): ”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat da di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS.Al hadid:13).

     

    Setelah ini umat muslim yang lolos sampai tahap Ujian Keimanan Seseorang ini, akan melalui Shirat.

     

     11. Shirat

     

    Shirath adalah jembatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam, untuk diseberangi orang-orang mukmin menuju Jannah (Surga).

     

    Beberapa Hadits tentang Shirath

     

    Sesungguhnya rasulullah SAW pernah ditanya tentang Shirath, maka beliau berkata : Tempat menggelincirkan, di atasnya ada besi penyambar dan pengait dan tumbuhan berduri yang besar, ia mempunyai duri yang membahayakan seperti yang ada di Najd yang disebut pohon Sud’an.(HR. Muslim)

     

     “Telah sampai kepadaku bahwasanya shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang”. (HR. Muslim)

     

    “Ada yang melewati shirath laksana kejapan mata dan ada yang seperti kilat, ada yang seperti tiupan angin, ada yang terbang seperti burung dan ada yang menyerupai orang yang mengendarai kuda, ada yang selamat seratus persen, ada yang lecet-lecet dan ada juga yang ditenggelamkan di neraka jahannam”. (HR. Bukhari Muslim)

     

    Yang paling pertama menyebarangi shirath adalah Nabi Muhammad SAW dan para pemimpin umat beliau. Beliau bersabda : “Aku dan umatku yang paling pertama yang diperbolehkan melewati shirath dan ketika itu tidak ada seorangpun yang bicara, kecuali Rasul dan Rasul berdo’a ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.” (HRBukhari).

     

    Bagi umat muslim yang berhasil melalui shirath tersebut, akan ke tahap selanjutnya jembatan

     

     12. Jembatan

     

    Jembatan disini, bukan shirath yang letaknya di atas neraka jahannam. Jembatan ini dibentangkan setelah orang mukmin berhasil melewati shirath yang berada di atas neraka jahannam.

     

    Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin akan dibebaskan dari api neraka, lalu mereka diberhentikan di atas jembatan antara Jannah(surga) dan neraka, mereka akan saling diqhisash antara satu sama lainnya atas kezhaliman mereka di dunia. Setelah mereka bersih dan terbebas dari segalanya, barulah mereka diizinkan masuk Jannah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, seorang diantara kalian lebih mengenal tempat tinggalnya di jannah daripada tempat tinggalnya di dunia”. (HR. Bukhari).

     

    Setelah melewati jembatan ini barulah orang mukmin masuk Surga.

     

    Kesimpulan :

     

    Setelah penjelasan di atas tinggal kita menunggu apa yang akan kita alami di hari akhir nanti, tentunya sesuai dengan apa yang kita lakukan di dunia ini. Semoga Alah SWT memberi kekuatan dan selalu membimbing kita untuk tetap istiqomah di jalan-Nya sehingga dapat mencapai surga-Nya dan dijauhkan dari siksa neraka-Mu ya Allah, karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu ya Allah……

     

    ***

     

    Sumber :

     

    1. Poster ‘Hidup Sesudah Mati” (berupa diagram tahapan dan penjelasan setiap tahapan)
    2. Hidup Sesudah Mati edisi terjemah oleh Syaikh Jasim Muhammad Al Muthawwi
    3. Al Yaum Al Akhir, Juz I,II,III oleh Dr. umar Sulaiman Al Asyqar
    4. Syarah Lum’atul I’tiqad Al hadi Ila Sabilir Rasyad oleh Syaikh Utsaimin
    5. Tahdzib Syarah Ath thahawiyah oleh Ibnu Abil Izz Al Hanafi
    6. Tadzkirah, Imam Qurthubi
    7. At Takhwif Minan Naar oleh Ibnu rajab Al Hambali
    8. Hadiul Arwah Ila Biladil Afrah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah
    9. Nihayatul Bidayah wan Nihayah oleh Al hafidz Ibnu Katsir
    10. Ahwalun Naar oleh Muhammad Ali Al Kulaib. (Disalin/ diketik pada tgl : 17 Ramadhan 1428 H, pkl 8 pagi).

     

    Sumber : http://www.taushiyah-online.com

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 26 May 2012 Permalink | Balas  

    Ternyata Kesyirikan di Zaman Kita Lebih Parah

    Para pembaca yang budiman, diantara musibah besar yang menimpa kaum muslimin dewasa ini adalah acuh terhadap urusan agama dan sibuk dengan urusan dunia. Oleh karena itu banyak diantara mereka yang terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan Alloh karena sedikitnya pemahaman tentang permasalahan-permasalahan agama. Dan jurang terdalam yang mereka masuki yaitu lembah hitam kesyirikan.

    Perbuatan dosa yang paling besar inipun begitu samar bagi kebanyakan manusia karena kejahilan mereka dan rajinnya setan dalam meyesatkan manusia sebagaimana yang dikisahkan Alloh tentang sumpah iblis, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al-A’rof: 16). Bahkan kesyirikan hasil tipudaya iblis yang terjadi pada masa kita sekarang ini lebih parah daripada kesyirikan yang terjadi pada zaman Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam!! Kenapa bisa demikian ?

    Kemusyrikan Zaman Dahulu Hanya di Waktu Lapang

    Sesungguhnya orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh melakukan kesyirikan hanya ketika dalam keadaan lapang saja. Namun tatkala mereka dalam keadaan sempit, terjepit, susah dan ketakutan mereka kembali mentauhidkan Alloh, hanya berdo’a kepada Alloh saja dan melupakan segala sesembahan selain Alloh. Hal ini sebagaimana dikabarkan oleh Alloh tentang keadaan mereka,

    “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (Al-Isra’: 67).

    “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Alloh) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka’.” (Az-Zumar: 8).

    Itulah keadaan musyrikin zaman dahulu, lalu bagaimana keadaan musyrikin pada zaman kita ini? Ternyata sama saja bagi orang-orang musyrik zaman kita ini, baik dalam waktu lapang ataupun sempit tetap saja mereka menjadikan bagi Alloh sekutu. Tatkala punya hajatan (misalnya pernikahan, membangun rumah ataupun yang lainnya) mereka memberikan sesajen ke tempat-tempat yang dianggap keramat. Tatkala sesuatu ketika terkena musibah, mereka beranggapan bahwa mereka telah kuwalat terhadap yang mbaurekso (jin penunggu) kampungnya kemudian meminta ampun dan berdoa kepadanya agar menghilangkan musibah itu atau pergi ke dukun untuk menghilangkannya. Ini adalah bentuk kesyirikan kepada Alloh yang amat nyata.

    Alloh berfirman, “Hanya bagi Alloh-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan sesuatu yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Ar-Ro’du: 14)

    Sesembahan Musyrikin Dulu Lebih Mending Sholehnya

    Orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wasallam menjadikan sekutu bagi Alloh dari dua kelompok, yang pertama adalah hamba-hamba Alloh yang sholeh, baik dari kalangan para nabi, malaikat ataupun wali. Dan yang kedua adalah seperti pohon, batu dan lainnya. Lalu bagaimana keadaan orang-orang musyrik zaman kita? Saking parahnya keadaan mereka, orang-orang yang telah mereka kenal sebagai orang suka berbuat maksiatpun mereka sembah dan diharapkan berkahnya. Lihat betapa banyak orang yang berbondong-bondong ngalap berkah ke makam Pangeran Samudro dan Nyai Ontrowulan di Gunung Kemukus, Sragen. Diceritakan bahwa mereka berdua adalah seorang anak dan ibu tiri (permaisuri raja) dari kerajaan Majapahit yang berselingkuh, kemudian mereka diusir dari kerajaan dan menetap di Gunung Kemukus hingga meninggal. Konon sebelum meninggal Pangeran Samudro berpesan bahwa keinginan peziarah dapat terkabul jika melakukan seperti apa yang ia lakukan bersama ibu tirinya. Sehingga sebagai syarat “mujarab” untuk mendapat berkah di sana, harus dengan berselingkuh dulu!! Allohu Akbar!

    Musyrikin Zaman Dahulu Tidak Menyekutukan Alloh Dalam Rububiyah-Nya

    Tauhid Rububiyah adalah mengikrarkan bahwa Alloh lah satu-satunya pencipta segala sesuatu, yang memberikan rizki, yang menghidupkan dan mematikan serta hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Alloh.. Ini semua diakui oleh orang-orang musyrik zaman dahulu.

    Dalilnya adalah firman Alloh, “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: ‘Alloh’, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Alloh )?.” (Az-Zukhruf: 87).

    Juga firman-Nya, “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh.’ Maka katakanlah ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’.” (Yunus: 31)

    Akan tetapi titik penyimpangan mereka yaitu kesyirikan dalam Tauhid Uluhiyah (mengikrarkan bahwa hanya Alloh sajalah yang berhak ditujukan kepada-Nya segala bentuk ibadah, seperti do’a, nadzar, menyembelih kurban dan lain-lain). Inilah yang diingkari oleh musyrikin zaman dulu. Mereka berdoa kepada patung atau penghuni kubur bukan dengan keyakinan bahwa patung itu bisa mengabulkan do’a mereka atau punya kekuasaan untuk mendatangkan keburukan, namun yang mereka maksudkan hanyalah supaya patung (sebagai perwujudan dari orang sholeh) atau penghuni kubur itu dapat menyampaikan do’a mereka kepada Alloh. Mereka berkeyakinan bahwa orang sholeh itu yang telah diwujudkan/dilambangkan dalam bentuk gambar/patung tersebut mempunyai kedudukan mulia di sisi Alloh. Sementara mereka merasa banyak berbuat dosa dan maksiat, sehingga tidak pantas meminta langsung kepada Alloh, tetapi harus melalui perantara. Inilah yang mereka kenal dengan meminta syafa’at pada sesembahan mereka Mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat- dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

    Lalu bagaimana keadaan musyrikin sekarang ini? Diantara mereka ada yang berkeyakinan bahwa yang memberikan jatah ikan bagi nelayan, yang mengatur ombak laut selatan adalah Nyi Roro Kidul. Sungguh tidak seorang pun dapat menciptakan seekor ikan kecil pun, ini adalah hak khusus Alloh dalam Rububiyah-Nya, tetapi mereka menisbatkannya kepada Nyi Roro Kidul. Allohu akbar! betapa keterlaluan dan lancangnya terhadap Pencipta alam semesta!!! Sehingga tidaklah heran pula jika banyak diantara masyarakat yang takut memakai baju hijau tatkala berada di pantai selatan, karena khawatir ditelan ombak yang telah diatur oleh Nyi Roro Kidul.

    Lihatlah, betapa orang-orang musyrik zaman dahulu lebih berakal daripada orang-orang musyrik sekarang ini. Karena maraknya bentuk-bentuk kesyirikan dan samarnya hal tersebut sudah seharusnya setiap kita untuk mempelajari ilmu tauhid agar dapat menghindarkan diri sejauh-jauhnya dari segala macam bentuk kesyirikan. Sungguh betapa jahilnya orang yang mengatakan “Untuk apa belajar tauhid sekarang ini?”

    Akhirnya kita memohon kepada Alloh agar memberikan kepada kita taufik dan menjauhkan diri kita dari berbagai macam bentuk kesyirikan yang merupakan sebab kehancuran di dunia maupun di akhirat. Wallohu A’lam.

    ***

    Artikel muslim.or.id

    Ibnu ‘Ali Al-Barepany

     
    • iwan 7:35 am on 3 Juni 2012 Permalink

      ya karena da sebagian golongan dari kita yang salah dalam mamaknai tawasul \ wasilah .

  • erva kurniawan 1:16 am on 25 May 2012 Permalink | Balas  

    Bidadari Surga

    “Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik, sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Waaqi’ah [56] : 22-24).

    Sebuah kehidupan di Jannah yang penuh dengan kenikmatan yang tiada tara. Air yang terpancar dari mata air Kafur, Tsanim, dan Salsabil serta sungai-sungai yang mengalirkan air susu. Kemudian, para gadis yang elok nan rupawan berdiam diri di dalam istana-istana surga, mereka tak kan pernah keluar melainkan menunggu para calon suaminya yang beriman ketika di dunia.

    Kecantikan, keindahan tubuh, keanggunan, dan segala kelebihan yang dimilikinya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, tak mampu untuk digambarkan dengan pena-pena kita. Gadis perawan itu terjaga kesuciannya, tak pernah tersentuh oleh tangan-tangan, jahil baik dari kalangan manusia maupun jin. Mereka adalah para wanita surga atau yang lebih kita kenal dengan nama BIDADARI.

    Demikianlah gambaran yang terlintas di benak kita, sekilas mengenai bidadari dan keindahan surga. Untuk selebihnya, wallahu a’lam. Gambaran tentang surga dan neraka, malaikat dan bidadari, merupakan sesuatu yang termasuk ke dalam perkara ghaibiah. Kita mengimaninya berdasarkan informasi yang diberikan melalui firman Allah dan sabda RasulNya.

    ***

    Karakteristik Sang Bidadari

    Mengenai bidadari itu sendiri, kita mengetahuinya sesuai dengan yang diinformasikan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di antara kabar itu, adalah karakter sang bidadari, inilah karakter yang dimiliki oleh wanita surga itu, yakni Cantik dan Berakhlak baik.

    Sekali lagi, siapa pun tak dapat menggambarkan kecantikannya. Jangankan untuk itu, sekadar mengkhayalkannya saja kita tak berdaya. Namun kecantikan dan keindahan bentuk tubuhnya, Allah berfirman, “Seakan-akan bidadari itu permata yaqut dan marjan.” (QS. Ar-Rahmaan [55] : 58).

    “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (QS. Ar-Rahmaan [55] : 70).

    “(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit di dalam rumah.” (QS. Ar-Rahmaan [55] : 72).

    Ath-Thabrani meriwayatkan dalam kitab Mujamnya dari Ummu Salamah, dia berkata, “Wahai Rasulullah, tolong terangkan kepadaku tentang firman Allah : Huurun ‘iin.” Rasulullah berkata, “Huurun ‘iin artinya mata yang indah dan jeli.” Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, tolong terangkan kepadaku tentang firmanNya : Kaamtsaalil lu’lu’il maknun.” Rasulullah berkata, “Artinya bersih sebersih mutiara yang tak pernah disentuh tangan.” Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, tolong terangkan kepadaku tentang firmanNya : Fii hinna khairaat hisaan.” Rasulullah berkata, “Baik akhlaknya dan cantik wajahnya.” Aku berkata lagi, “Tolong terangkan kepadaku tentang firmanNya : Kaannahunna baidhun maknuun.” Rasulullah berkata, “Kelembutan kulit mereka seperti kulit yang ada di bagian dalam kulit telur.” Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, tolong terangkan kepadaku tentang firmanNya : Uruban atrooban.” Rasulullah berkata, Mereka yang di dunia sudah tua renta, di surga menjadi gadis-gadis yang sebaya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani, dari Bakar bin Sahl Ad-Dimyathi, dari Umar bin Hasyim Al-Hassan, dari Hasan, dari bapaknya, dari Ummu Salamah, dia berkata, “Aku mengingatnya.”).

    Itulah gambaran tentang karakteristik dari bidadari surga. Di samping itu, juga ada karakteristik khusus yang tak dimiliki oleh wanita dunia, di antara karakteristik khusus wanita surga itu adalah :

    “Suci dan disucikan,” sebagaimana firman Allah SWT, “Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci.” (QS. Al-Baqarah [2] : 25). Mereka tidak memiliki sejumlah kotoran atau mengalami proses sekresi seperti halnya wanita dunia, misalnya haidh, nifas, buang air kecil atau buang air besar, ludah, dahak, peluh, serta kentut, baik yang berbunyi maupun tidak.

    Penuh CINTA, dalil yang berkenaan dengan ini adalah firman Allah SWT dalam surat Al-Waaqi’ah [56] : 37, “Penuh cinta lagi sebaya umurnya.”

    Gadis ABADI, dalam surat An-Naba ayat 33, diterangkan maksud dari gadis-gadis remaja yang sebaya adalah mereka tidak pernah mengenal uban atau tua, bahkan setiap pekan mereka akan bertambah cantik dan menawan.

    Tidak Mata Keranjang (QS. Ar-Rahmaan [55] : 56) dan hanya tinggal di dalam rumah. Inilah yang seharusnya menjadi kaca perbandingan bagi setiap mu’minah, sang bidadari begitu extra dalam menahan pandangan dan tidak pernah ke luar dari istananya.

    Tubuhnya wangi dan bercahaya. Dalam riwayat Bukhari dalam Kitab Shahihnya, Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya salah seorang dari wanita surga menampakkan diri ke bumi, niscaya akan bercahaya antara bumi dan langit dan niscaya antara bumi dan langit itu dipenuhi dengan bau wangi. Tutup kepala wanita surga saja lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (Diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Dunya).

    Do’a bidadari untuk para suami mereka di dunia, dalam Kitab Maraasilnya, ‘Ikrimah meriwayatkan, “Sesungguhnya para bidadari berdo’a untuk para suami mereka saat para suami mereka masih berada di dunia. Mereka berkata : Ya Allah, tolonglah dia dalam menjalankan agama, hadapkan dia dengan hatinya untuk taat kepadaMu, dan sampaikan dia kepada kami, demi kemuliaanMu, wahai Rabb Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.”

    Subhanallah… Demikianlah karakteristik wanita surga itu. Untuk para wanita, seharusnyalah kita terbetik rasa iri dengan para bidadari tersebut, agar termotivasi untuk menjadi wanita muslimah yang taat pada Allah dan RasulNya. Sekarang kalau sudah begitu, apa yang ada di benakmu, wahai mukminah???

    ***

    Wanita Dunia Bisa Lebih Baik dari Bidadari Surga

    Surga adalah hak asasi atas muslim yang beriman dan beramal shalih. Surga dipersembahkan khusus bagi hambaNya yang taat, baik dari kaum pria maupun wanita. Begitu pula dengan seorang wanita jika ia berniat untuk berhijrah menjadi seorang mukminah sejati. Perlombaan untuk menjadi lebih baik dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya adalah hak asasinya sebagai seorang hamba.

    Dengan melihat karakteristik sang bidadari, seharusnyalah hal tersebut menjadi cermin bagi setiap wanita dunia. Bidadari adalah makhluk yang tercipta mirip dengan bangsamu, wahai wanita, tapi ketahuilah engkau bisa lebih baik dan lebih mulia darinya, Insya Allah. Ingatlah firman Allah dalam surat At-Tiin ayat 4, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.”

    Maka dari itu, berusahalah, berlombalah, dan bersegeralah dalam ketaatan kepada Allah SWT agar engkau lebih anggun daripadanya. Di antara jalan yang dapat ditempuh adalah MENJAGA KESUCIAN. Jagalah permatamu, wahai mukminah, janganlah kau umbar dan kau jual dengan harga yang murah, apalagi harga itu adalah harga duniawi yang kotor.

    Milikilah rasa penuh cinta. Tumbuhkanlah cinta itu hanya kepada Allah serta mempersiapkan cintamu itu untuk seorang laki-laki yang akan menjadi suamimu atau telah sah menjadi suamimu. Janganlah terjerat dan terperangkap dengan rayuan gombal dan cinta buta, sebab hal itu hanya akan menggoreskan luka di hatimu.

    Jagalah dan tundukkanlah pandanganmu, karena wanita dunia yang menyakiti suaminya dengan memandang pria lain (sekalipun terpaksa), merupakan wanita yang memiliki kekurangan dan kehinaan dalam dirinya. Maka pantaslah jika suaminya (yang shaleh) akan direbut oleh para bidadari surgawi.

    Referensi :

    1. Ukhti Al-Muslimah Sabiiluki ilal Jannah. Karya Itisham Ahmad Sharraf, Daar Al-I’tisham.
    2. Ensiklopedia Surga, Karya Mahir Ahmad Ash-shufi, Pustaka Azzam. 3. Mu’minah, No. 8 Tahun I, 2006.

    ***

    Penulis : Indriani Budi Astuti

    KotaSantri.com

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 24 May 2012 Permalink | Balas
    Tags: kibr, maha suci allah, puji, rizki, syirik   

    Nasihat Nuh as kepada Anaknya

    Dari Abdullah bin Umar r. huma,

    Rasulullah saw bersabda, ”Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang nasihat Nuh kepada anaknya?”

    Para sahabat berkata, ”Ya, beritahukanlah kepada kami.”

    Rasulullah bersabda: ”Nuh menasehati anaknya, ’Wahai anakku, aku menasehati kamu dengan ucapan Laa ilaaha illallaah, karena sesungguhnya jika kalimat itu diletakkan dalam satu timbangan, lalu langit dan bumi ditempatkan pada timbangan yang lain, niscaya kalimat itu akan lebih berat. Meskipun dibentuk dalam lingkaran yang kokoh, maka kalimat itu akan memecahkan lingkaran itu sehingga ia sampai ke hadapan Allah swt; dan aku menasehatimu dengan ucapan Subhanallaahil Azhiim Wabihamdihii (Maha Suci Allah yang Maha Agung dan dengan segala puji-Nya) dan Hamdulillah (Segala Puji bagi-Nya), karena ucapan ini adalah ibadahnya seluruh makhluk dan [dengan ucapan tersebut] mereka diberi rizki; dan aku melarang kamu dari dua perkara: Syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu) dan Kibr (sombong), karena dua sifat ini menjauhkan manusia dari Allah.’”

    (HR: Al-Bazaar)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 23 May 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Marah

    Sering kita marah-marah padahal Nabi sangat melarang hal ini. Adakalanya kita berdalih dengan alasan kita melakukannya karena agama. Padahal Allah mengutamakan kebaikan akhlak, bukan kekasaran:

    “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [Ali ‘Imran:159]

    Memang ada beberapa kondisi yang mewajibkan kita marah bahkan berperang mengangkat senjata terhadap orang-orang yang sangat zhalim tapi itu ada persyaratan khusus yang biasanya dibahas dalam bab lain khususnya yang berkaitan dengan jihad. Di sini kita akan mempelajari tentang marah.

    Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” [HR Bukhari]

    “Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk.” (HR. Bukhari dan Al Hakim)

    Dari hadits di atas jelaslah seorang yang pemarah bukanlah orang Islam dan juga bukan orang beriman karena orang-orang takut mendekat dan kena marah olehnya.

    Abu Musa r.a. berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab, ‘Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya.“ [HR Bukhari]

    Ketika marah, kita harus bisa menahan diri.

    Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” Muttafaq Alaihi.

    Orang yang suka marah/zhalim pada orang lain niscaya akan merasa kegelapan pada hari kiamat. Ketika listrik mati di malam hari dan gelap tak ada alat penerang kita tidak suka hal itu. Nah kegelapan hari kiamat jauh lebih buruk dari hal itu dan lebih lama:

    Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jauhilah kedholiman karena kedholiman ialah kegelapan pada hari kiamat, dan jauhilah kikir karena ia telah membinasakan orang sebelummu.” Riwayat Muslim.

    Ketika seseorang minta nasehat, Nabi menjawab “Jangan marah” berulangkali:

    Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa ada seseorang berkata: Wahai Rasulullah, berilah aku nasehat. Beliau bersabda: “Jangan marah.” Lalu orang itu mengulangi beberapa kali, dan beliau bersabda: “Jangan marah.” Riwayat Bukhari.

    Orang yang paling baik akhlaknya yang dekat dengan Nabi. Bukan orang yang pemarah:

    Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya. (HR. Ar-Ridha)

    Orang yang marah karena diingatkan untuk takwa kepada Allah berdosa besar:

    Cukup berdosa orang yang jika diingatkan agar bertaqwa kepada Allah, dia marah. (HR. Ath-Thabrani)

    Salah satu penyebab yang paling banyak membuat orang masuk neraka adalah mulut yang suka marah. Meski dia rajin sholat, puasa, zakat dan haji tapi jika suka marah tetap masuk neraka:

    Rasulullah Saw ditanya tentang sebab-sebab paling banyak yang memasukkan manusia ke surga. Beliau menjawab, “Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang baik.” Beliau ditanya lagi, “Apa penyebab banyaknya manusia masuk neraka?” Rasulullah Saw menjawab, “Mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

    Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

    Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai.”(HR. Muslim)

    Sulaiman bin Shurad ra., ia berkata: Dua orang pemuda saling mencaci di hadapan Rasulullah saw. lalu mulailah mata salah seorang dari mereka memerah dan urat lehernya membesar. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang apabila diucapkan, maka akan hilanglah kemarahan yang didapati yaitu “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”. Lelaki itu berkata: Apakah engkau menyangka aku orang gila?. (Shahih Muslim No.4725)

    Sering orang marah kepada pembantunya / bawahannya karena dia merasa lebih tinggi sementara pembantunya / bawahannya lebih rendah dan selalu takut kepadanya. Padahal menurut Anas seorang pembantu Nabi, selama 10 tahun dia bekerja dengan Nabi, tak pernah sekalipun Nabi memarahinya meski dia ada salah.

    Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah Saw, “Pelayan (pembantu rumah tangga) saya berbuat keburukan dan kezaliman.” Nabi Saw menjawab, “Kamu harus memaafkannya setiap hari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Baihaqi)

    Biasanya orang marah terhadap pembantu / bawahan karena pekerjaan “kurang/tidak beres”. Padahal Nabi memerintahkan untuk memberi pekerjaan hanya sesuai kemampuan mereka dan jika perlu kita harus membantu mereka jika mereka kesulitan. Allah memberi ganjaran pahala untuk itu:

    Apa yang kamu ringankan dari pekerjaan pembantumu bagimu pahala di neraca timbanganmu. (HR. Ibnu Hibban)

    Bagi seorang budak jaminan pangan dan sandangnya. Dia tidak boleh dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak mampu dilakukannya. (HR. Muslim)

    Pelayan-pelayanmu adalah saudara-saudaramu. Allah menjadikan mereka bernaung di bawah kekuasaanmu. Barangsiapa saudaranya yang berada di bawah naungan kekuasaannya hendaklah mereka diberi makan serupa dengan yang dia makan dan diberi pakaian serupa dengan yang dia pakai. Janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak dapat mereka tunaikan. Jika kamu memaksakan suatu pekerjaan hendaklah kamu ikut membantu mereka. (HR. Bukhari)

    Allah melarang kita untuk banyak bicara. Apalagi banyak marah. Karena akan menyebabkan kita masuk neraka:

    Sesungguhnya Allah melarang kamu banyak omong, yang diomongkan, dan menyia-nyiakan harta serta banyak bertanya. (HR. Asysyihaab)

    Barangsiapa banyak bicara maka banyak pula salahnya dan barangsiapa banyak salah maka banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya. (HR. Ath-Thabrani)

    Jika marah, diamlah. Kebanyakan penyebab retaknya rumah tangga / keluarga adalah ketika suami/istri marah, mereka tidak diam. Justru melontarkan perkataan yang menyakitkan hati pasangannya. Padahal dengan diam pun pasangan kita tahu kita sedang marah tanpa membuat dia sakit hati karena perkataan kita:

    Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam. (HR. Ahmad)

    Jika kita marah, maka pahala kita akan diberikan kepada orang yang kita marahi. Jika pahala kita habis, maka dosa orang yang kita marahi dipindahkan Allah ke kita. Inilah orang yang muflis/bangkrut di akhirat. Dia mengira akan masuk surga karena rajin beribadah, tapi dia juga rajin menzhalimi/memarahi orang lain hingga akhirnya masuk neraka:

    Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui pada dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia. (HR. Ad-Dailami)

    Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Nabi Saw lalu berkata, “ Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci-maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah memakan harta orang itu. Di akhirat orang-orang yang disakitinya menuntut dan mengambil pahalanya sebagai tebusan. Bila pahalanya habis sebelum selesai ganti rugi atas dosa-dosanya maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka.” (HR. Muslim)

    Jika kita berbuat salah kepada Allah, begitu kita tobat dan minta ampun kepada Allah, niscaya Allah memaafkan. Tetapi jika kita berbuat salah terhadap manusia, misalnya memarahinya, dosa kita tidak akan diampuni kecuali orang yang kita meminta maaf kepada orang yang kita zhalimi.

    Ada satu kisah seorang ayah menyuruh anaknya yang pemarah untuk memaku beberapa paku ke pagar. Meski paku-paku itu dicabut, namun lubang bekas paku itu tetap ada. Begitulah jika kita memarahi orang. Meski kita sudah minta maaf, namun bekas luka di hati orang yang kita marahi akan tetap ada.

    Kita harus yakin bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar. Sehingga Allah mengetahui jika kita sedang menzhalimi seseorang. Kita juga harus yakin bahwa segala ucapan dan tindakan kita selalu dicatat oleh dua malaikat, yaitu Roqib dan ‘Atid dan akan dihitung di hari Kiamat nanti. Oleh sebab itu hindarilah segala ucapan dan perbuatan yang buruk.

    Jangan mencaci/menghina orang lain dengan sebutan yang anda sendiri tidak suka:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri (maksudnya saudaramu) dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan” [Al Hujuraat:11]

    Tips agar tidak marah:

    • Baca ta”awudz (a”udzubillahi minasy syaithoonir rojiim) sebab setan membisikkan manusia untuk berbuat dosa termasuk marah. Berlindunglah terhadap Allah.
    • Bersabarlah. Tahan kemarahan anda
    • Diamlah
    • Jika anda berdiri, duduklah.
    • Jika masih marah, berwudlu-lah
    • Jika terpaksa bicara, beritahu cara yang benar. Misalnya: Kalau melakukan ini caranya begini sambil memperagakannya. Jangan panjang-panjang cukup 2x. Kalau kesalahan masih terulang, ulangi lagi nasehat tersebut. Hindari menggelari orang dengan sebutan yang anda sendiri tidak suka seperti bodoh, dan sebagainya.

    ***

    Sumber: syiarislam.wordpress.com/2008/03/17/jangan-marah/

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 22 May 2012 Permalink | Balas  

    Adab ke Masjid

    Hadits pertama “Dari Abu Qatadah, ia berkata : Tatkala kami sedang shalat bersama Nabi SAW, tiba-tiba beliau mendengar suara berisik orang-orang (yang datang). Maka ketika Nabi telah selesai shalat, ia bertanya : “Ada apa urusan kamu tadi (berisik) ?”. Mereka menjawab : “Kami terburu-buru untuk turut (jama’ah)”, Nabi SAW berkata : “Janganlah kamu berbuat begitu !. Apabila kamu mendatangi shalat, hendaklah kamu berlaku tenang ! Apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan, sempurnakanlah !” (Hadits riwayat : Ahmad, Muslim dan Bukhari).

    Hadits keduaDari Abu Hurairah dari Nabi SAW beliau bersabda : “Apabila kamu mendengar iqamat, maka pergilah kamu ke tempat shalat itu, dan kamu haruslah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat, dan janganlah kamu tergesa-gesa, apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan sempurnakanlah”. (Hadits riwayat : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i & Ahmad).

    Kedua hadits ini mengandung beberapa hukum :

    1. Kita diperintah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat apabila mendatangi tempat shalat/masjid.
    2. Kita dilarang tergesa-gesa/terburu-buru apabila mendatangi tempat shalat, seperti berlari-lari, meskipun iqamat telah dikumandangkan.
    3. Kita dilarang berisik apabila sampai di tempat shalat, sedang shalat (jama’ah) telah didirikan. Ini dapat mengganggu orang-orang yang sedang shalat jama’ah.
    4. Imam masjid perlu menegur (memberikan pelajaran/nasehat) kepada para jama’ah (ma’mum) yang kelakuannya tidak sopan di masjid, seperti berisik, mengganggu orang shalat, melewati orang yang sedang shalat, shaf tidak beres, berdzikir dengan suara keras, yang dapat mengganggu orang yang sedang shalat atau belajar atau lain-lain.
    5. Apa yang kita dapatkan dari shalatnya Imam, maka hendaklah langsung kita shalat sebagaimana keadaan shalat Imam waktu itu.
    6. Setelah Imam selesai memberi salam ke kanan dan ke kiri, barulah kita sempurnakan apa-apa yang ketinggalan.

    Diantara hikmahnya kita diperintahkan tenang dan sopan serta tidak boleh tergesa-gesa, Nabi SAW pernah bersabda. Artinya : “Karena sesungguhnya salah seorang diantara kamu, apabila menuju shalat, maka berarti dia sudah dianggap dalam shalat”. (Hadits riwayat : Muslim). Periksa : Shahih Muslim 2 : 99,100. Shahih Bukhari 1 : 156. Subulus Salam (syarah Bulughul Maram) 2 : 33, 34. Nailul Authar (terjemahan) 2 : 781. koleksi hadits hukum, Ustadz Hasbi 4 : 27. Fiqih Sunnah.

    Hadits ketiga “…..Kemudian muadzin adzan (Shubuh), lalu Nabi keluar ke (tempat) shalat (masjid), dan beliau mengucapkan : “ALLAHUMMAJ ‘AL FI QALBY NUURAN dan seterusnya (yang artinya) : “Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, dan didalam ucapanku cahaya, dan jadikanlah pada pendengaranku cahaya, dan jadikanlah pada penglihatanku cahaya, dan jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya, dan jadikanlah dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya”. (Hadits riwayat : Muslim & Abu Dawud).

    Keterangan :

    1. Hadits ini diriwayatkan dari jalan Ibnu Abbas ra yang menerangkan tentang shalat Nabi SAW diwaktu malam (shalat ul-lail).
    2. Hadits ini menyatakan : Disukai kita mengucapkan do’a di atas di waktu pergi ke Masjid. Periksa : Tuhfatudz Dzakirin hal : 93, Imam Syaukani. Al-Adzkar hal : 25, Imam Nawawi. Fathul Bari’ 11 : 16, Ibnu hajar. Aunul Ma’bud (syarah Abu Dawud) 4 : 232. Syarah shahih Muslim 5 : 51, Imam Nawawi.

    Hadits keempat “Dari Abi Humaid atau dari Abi Usaid, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW : “Apabila salah seorang kamu masuk masjid, maka ucapkanlah : “ALLAHUMMAF TAHLI ABWAABA RAHMATIKA (Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”. Dan apabila keluar (dari masjid), maka ucapkanlah : “ALLAHUMMA IN-NI AS ALUKA MIN FADLIKA (Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu)”. (Hadits riwayat : Muslim, Ahmad & Nasa’i).

    Hadits ini menyatakan : Disunatkan kita mengucapkan do’a di atas apabila masuk ke masjid dan keluar dari padanya. Periksa : Shahih Muslim 2 : 155. Sunan Nasa’i 2 : 41. Fathur Rabbani 3 : 51,52 Nomor hadits 314. Al-Adzkar hal : 25.

    Hadits kelimaDari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi SAW, bahwasanya Nabi SAW, apabila masuk masjid, beliau mengucapkan : “AUDZU BILLAHIL ‘AZHIMI WABIWAJHIHIL KARIIMI WA SULTHANIHIL ADIIMI MINASY SYAITHANIR RAJIIM” (Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dan dengan wajah-Nya yang Mulia serta kekuasaan-Nya yang tidak mendahuluinya, dari (gangguan) syaithan yang terkutuk)”. Nabi SAW berkata : Apabila ia mengucapkan demikian (do’a di atas), syaithanpun berkata : Dipeliharalah ia dari padaku sisa harinya”. (Hadits riwayat Abu Dawud).

    Hadits ini menyatakan : Disunatkan kita membaca do’a mohon perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan apabila memasuki masjid. Periksa : Sunan Abu Dawud Nomor hadits : 466, Aunul Ma’bud Nomor hadits : 462. Minhalul ‘Adzbul Mauruud (syarah Abu Dawud) 4 : 75, Imam As-Subki. Adzkar hal : 26. Tafsir Ibnu Katsir 3 : 294.

    ***

    Abdul Hakim bin Amir Abdat

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 20 May 2012 Permalink | Balas  

    Jihad Ibu

    Rasulullah SAW bersabda, ”Setiap jerih payah istri di rumah sama nilainya dengan jerih payah suami di medan jihad.” (HR Bukhari dan Muslim). Pada dasarnya, Islam telah memberikan keistimewaan kepada para istri untuk tetap berada di rumahnya. Untuk mendapatkan surga-Nya kelak, para istri cukup berjuang di rumah tangganya dengan ikhlas. Tetesan keringat mereka di dapur dinilai sama dengan darah mujahid di medan perang.

    Menjadi ibu rumah tangga kedengarannya memang sepele dan remeh, hanya berkecimpung dengan urusan rumah dari A-Z, namun siapa sangka banyak sekali kebaikan dan hikmah yang dapat diperoleh. Ibulah yang mengambil porsi terbesar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi.

    Pertumbuhan suatu generasi bangsa pertama kali berada di buaian para ibu. Di tangan ibu pula pendidikan anak ditanamkan dari usia dini, dan berkat keuletan dan ketulusan ibu jualah bermunculan generasi-generasi berkualitas dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.

    Dalam Islam, ini adalah tugas besar, namun sangat mulia dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ”Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Sayangnya, kebanyakan wanita modern saat ini tidak menyukai aktivitas rumah tangga. Mereka lebih bangga bekerja di luar rumah karena beranggapan tinggal di rumah identik dengan ketidakmandirian dan ketidakberdayaan ekonomi. Maka, jadilah peran ibu di rumah dianggap rendah, dan tidak sedikit ibu rumah tangga yang malu-malu ketika ditanya apa pekerjaannya.

    Meskipun seorang wanita tidak bekerja setelah lulus sarjana, ilmunya tidak akan sia-sia, sebab ia akan menjadi ibu sekaligus pendidik bagi anak-anaknya. Kebiasaan berpikir ilmiah yang ia dapatkan dari proses belajar di bangku kuliah itulah yang akan membedakannya dalam mendidik anak. Seorang ibu memang harus cerdas dan berkualitas, sebab kewajiban mengurus anak tidak sebatas memberi makan.

    Ia harus mampu merawat dan mendidik anak-anaknya dengan benar, penuh kasih sayang, kesabaran, menempanya dengan nilai dan norma agama agar sang anak mampu menghindar dari pengaruh lingkungan dan kemajuan teknologi yang merusak akal dan akhlaknya. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh seorang ibu yang cerdas. (Siti Yuliati)

    ***

    Sumber: republika

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 19 May 2012 Permalink | Balas  

    Amanah

    Ust. DR H. Suhairy Ilyas. MA

    Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, (QS..4:58)

    Amanah, Iman dan Aman adalah tiga kata yang berasal dari akar kata yang sama, yaitu kata Amina. Pada umumnya kata-kata yang berasal dari akar kata yang sama masing-masing mempunyai kedekatan makna, disamping juga mempunyai korelasi makna. Demikian juga dengan kata-kata : Amanah, Iman dan Aman.

    Amanah artinya adalah sesuatu yang dititipkan atau dipercayakan kepada seseorang. Iman artinya adalah kepercayaan atau keyakinan.. Aman adalah sesuatu yang dipercayai atau diyakini tidak ada gangguan sedikitpun. Lawan dari aman adalah ketakutan atau kekacauan karena ada yang mengacau atau mengganggu.

    Adapun korelasi diantara ketiganya itu adalah bahwa Amanah itu tidak akan terlaksana tanpa Iman, hanya dengan landasan Iman lah amanah itu akan terlaksana. Sedangkan Aman adalah hasil daripada Amanah yang berlandaskan Iman. Dengan artikata Amanah yang diserahkan kepada orang yang beriman pasti akan menimbulkan rasa aman.

    Demikialah, Amanah itu akan menjamin rasa Aman : Bila suatu negeri dipimpin oleh pemimpin yang beriman maka negeri itu pasti akan aman, itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para Khulafaurrasyidin yang penuh amanah. Sebaliknya bila suatu negeri rakyatnya tidak merasa aman, salah satu penyebabnya ialah karena pemimpin negeri itu yang tidak amanah alias khianat. Kenapa terjadi korupsi besar-besaran disuatu negeri sehingga negeri itu menjadi terancam bangkrut karena dililit hutang, dan rakyat terancam kemiskinan yang menyedihkan ? Jawabnya karena hilangnya amanah dari pemimpin negeri tersebut.

    Karena itulah Rasulullah SAW. Pernah mengingatkan: “Idza dhuyi’atil amanah fantazhirissa’ah” artinya : Bila disia-siakan amanah maka tunggulah kehancuran!. Lalu sahabat bertanya: “Wakaifa idha’atuha?” Rasulullah menjawab : “Idza wusidal amru ila khairi ahlihi fantazhirissa’ah!”. Bila diserahkan suatu urusan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran! Maksudnya, bila diserahkan kepemimpinan kepada orang yang bukan ahlinya, ahlinya disini bukan hanya ahli dalam hal ilmu atau managemen, tapi pengertian ahli disini adalah orang yang memenuhi syarat, berhak dan pantas untuk memikul tanggung jawab. Orang yang tidak amanah seharusnya tidak berhak untuk jadi pemimpin atau memegang keuangan; bila diserahkan juga kepemimpin kepada orang yang tidak amanah tentulah dia akan khianat dalam kepemimpinannya.

    Rasulullah SAW sebelum menjadi Rasul mendapatkan gelar kehormatan dari masyarakat Arab waktu itu dengan “Al-Amin” karena dikenal oleh masyarakat sebagai seorang yang sangat dipercaya dalam menjaga Amanah. Setelah beliau menjadi Rasul, maka salah satu sifat yang wajib beliau miliki adalah sifat Amanah. Dalam kenyataanya memang beliau seumur hidupnya sangat berpegang teguh pada Amanah, baik amanah yang beliau terima dari Allah secara lansung untuk menegakkan Islam, maupun amanah yang diberikan masyarakat kepada beliau. Karena itulah kepemimpinan beliau berhasil dengan gemilang-gemilang, beliau berhasil menciptakan rasa aman yang merata, padahal beliau mendapati masyarakat jahiliyah dalam keadaan kacau balau, jauh dari rasa aman. Waktu prosesi Hijrah ke Madinah.

    Ali bin Abi Thalib selain diperintah Rasulullah untuk mengelabui orang-orang kafir yang mengepung rumah beliau dengan tidur ditempat tidur dan memakai selimut beliau; Ali juga diperintahkan Rasulullah untuk mengembalikan kunci-kunci kedai dan gudang yang diamanahkan masyarakat Arab pada beliau.

    Dengan demikian dapat difahami bahwa Amanah merupakan salah satu tanda orang yang beriman. Apabila seorang tidak dapat memegang amanah suatu pertanda dia bukan orang yang beriman, tepatnya orang munafiq. Karena itulah dalam salah satu hadits shahih Rasulullah SAW. Bersabda (yang artinya) : “Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga : Bila berbicara bohong, bila berjanji mungkir, bila diberi amanah dia khianat (HR.Bukhari Muslim dari Ibnu Mas’ud). Hadits ini menjelaskan bahwa salah satu tanda orang munafiq ialah tidak dapat memegang amanah atau khianat terhadap amanah.. Dalam kenyataannya memang orang-orang munafiq sangat sering mengkhianati Rasulullah dan para sahabat..

    Amanah akan mudah dikhianati bila yang memegang amanah merasakan bahwa amanah yang dipegangnya itu adalah amanah dari atasannya atau dari seseorang manusia, karena orang yang memberi amanah itu tidak selalu bersama dia dan mengawasinya. Akan tetapi bila yang memegang amanah menyadari sepenuhnya bahwa hakikat semua amanah itu adalah perintah Allah SWT, kepada hamba-Nya (QS.4:58), maka amanah itu tidak akan mudah dikhianati, karena dia merasakan bahwa Allah senantiasa mengawasi amanah yang diamanahkan kepadanya..Bila dia berhasil menjaga amanah tersebut, dia yakin bahwa Allah akan ridha kepadanya, dan bila dia khianat pada amanah tersebut, maka Allah akan murka kepadanya.

    Seorang mukmin sangat takut mengkhianati amanah, karena mengkhianati amanah berarti melunturkan iman, bahkan melunturkan agamanya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW Bersabda : “Addinu amanah, la diina liman la amanita lahu” Agama itu adalah amanah, tidak ada agama bagi orang yang tidak amanah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 18 May 2012 Permalink | Balas  

    Keajaiban Tasbih 

    KEAJAIBAN TASBIH

    Oleh: Abu Bakrin al-Atsari

     Subhanallahi wa bihamdihi , Subhanallahil ‘adhim

    “Maha Suci Allah dan dengan pujian-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung ” (HR. Muslim :2692, Abu Dawud:5091)

    A. Makna Dzikir Ini

    Tasbih artinya penyucian Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala sifat kekurangan. Adapun Bihamdihi maknanya aku bertasbih sambil memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maksud seseorang bertasbih dengan dzikir ini adalah untuk menjauhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya seperti bodoh, lemah, mati, ngantuk dan sifat-sifat yang serupa dengan makhluk-Nya sekaligus memuji-Nya dengan menetapkan sifat- sifat yang sempurna bagi-Nya. (Syarh Aqidah Wasithiyyah:1/128, Syahrul Mumti':2/67, al-futuhat:1/135).

    B. Kapan Dzikiri Ini Dibaca

    Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa membaca tatkala pagi dan sore Subhanallah wa bihamdihi 100kali maka tidaklah datang seseorang pada hari kiamat dengan amalan yang lebih utama daripada bacaan ini kecuali seseorang yang mengucapkan yang serupa atau lebih banyak lagi.” (HR. Muslim no.2692, Abu Dawud 5091)

    C. Keutamaan Dzikir Ini

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan: “Dua kata yang ringan di lidah, berat dalam mizan (timbangan amal hari kiamat), disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘adhim. (Shahih Bukhari :6406)

    Dari Jabir radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan Subhanallahil ‘adhim wa bihamdihi maka ditanamkan baginya kurma di surga”. (Hasan Shahih, Sunan Tirmidzi:3464)

    Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan: “Barangsiapa yang membaca Subhanallahi wa bihamdihi dalam sehari 100 kali maka diampuni dosanya sekalipun seperti buih dilautan”. (Muslim:6842)

    Dari Sulaimana bin Yasar dari seorang laki-laki Anshor bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Berkata Nabi Nuh ‘alaihissallam kepada anaknya: ‘ Aku wasiatkan kepadamu dengan suatu wasiat yang aku ringkas agar engkau tidak melupakannya. Aku wasiatkan dengan dua hal dan aku larang dari dua hal’. Kemudian beliau menyebutkan diantara wasiatanya, “Dan aku wasiatkan dengan Subhanallahi wa bihamdihi karena ia adalah do’anya para makhluk dan dengan dua kata itu makhluk diberikan rezeki. Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (QS. Al Isra'(17):44). (HR. an-Nasai dan al-Bazzar, lihat Shahih Targhib wa Tarhib:1543)

    D. Faedah

    Konteks hadits ini (Hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu diatas) menunjukkan bahwa dzikir ini dibaca 100kali sekaligus untuk dua waktu itu tidak dipisah menjadi dua waktu, pagi 100 kali dan sore 100kali, berdasarkan riwayat lain yang menjelaskan hal itu. Lebih utama maksudnya lebih utama dari jenis dzikir ini bukan dari amalan yang lain. (lihat al-Futuhat:1/669) Bolehnya menambah bilangan dzikir ini karena disyariatkan dan tidaklah terlarang, sebagaimana larangan untuk menambah ibadah yang memang sudah dibatasi bilangannya seperti roka’at shalat, bilangan wudhu dan lainnya. (al Futuhat:1/670) Allah-lah pemberi taufiq ke jalan yang benar.

    Wallahu ‘alamu bish showab.

    ***

    Diketik ulang dari Majalah Al-Mawwadah Edisi 12 Tahun ke 1, Jumadil Tsani – Rajab 1429 H, Rubrik Benteng Diri Muslim hal.20

    Humaira Ummu Abdillah

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 16 May 2012 Permalink | Balas  

    Malaikat Yang Mengunjungi Orang Sakit

    “Apabila seorang hamba yg beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yg terbaik yg dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”

    Oleh Abu Imamah al Bahili. Dalam hadist yg lain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.

    Allah memerintahkan:

    • Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
    • Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya
    • Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
    • Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

    Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.

    Namun untuk malaikat ke 4 , Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa2nya kepada hamba mukmin.

    Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata :

    “‘Ya Allah mengapa dosa2 ini tidak Engkau kembalikan ?”

    Allah menjawab : “ Tidak baik bagi kemuliaanKu jika Aku mengembalikan dosa2nya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa2 tersebut ke dalam laut.”

    Dengan ini , maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

    “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”

    ***

    (Diambil dari Kitab Klasik Al Mawa’izh al Ushfuriah)

    Smg kisah ini dapat memberi hikmah dan manfaat bagi kita semua terlebih bagi teman2ku, saudara2ku dan orang2 yg aku cintai yg sedang dalam keadaan sakit, smg diberikan kesabaran dan ketabahan…..Aamiin..

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 15 May 2012 Permalink | Balas  

    Syarat Untuk Ingkar Kepada Allah

    Berikut ini ialah beberapa syarat seandainya kita ingin ingkar kepada Allah:

    1. Janganlah engkau tinggal di buminya Allah, termasuk juga di semesta alam yang diciptakan Allah swt.
    2. Janganlah engkau mengirup udara yang disediakan Allah bagi hambaNya
    3. Janganlah engkau memakan rezekiNya
    4. Seandainya datang malaikat pencabut nyawa hendak mencabut nyawamu, usirlah dia dan kalau bisa bunuhlah dia.
    5. Hindarilah pertanyaan dan siksa kubur.
    6. Tolaklah ketika engkau di putuskan untuk menghuni neraka
    7. Janganlah engkau menghuni syurga Allah
    8. Dan lain – lain sebagainya

    Seandainya engkau dapat melakukan hal tersebut silahkan engkau ingkari kepada Allah swt dan berlakulah sesuka hatimu. Namun, jika engkau tidak sanggup melaksanakannya walaupun hanya satu, wajiblah engkau mengikuti jalan yang telah di risalahkan Allah melalui para Rasul Nya

    ***

    Oleh Sahabat: Alex Kibadachi

    Referensi : Ali bin Abi Thalib, karya Ali Audah

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 14 May 2012 Permalink | Balas  

    Manfaat Dzikir  

    1.Membuat hati menjadi tenang.

    Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar Ra’d : 28)

    Banyak orang yang ketika mendapat kesulitan maka mereka mencari cara-cara yang salah untuk dapat mencapai ketenangan hidup. Diantaranya dengan mendengarkan musik yang diharamkan Allah, meminum khamr atau bir atau obat terlarang lainnya. Mereka berharap agar bisa mendapatkan ketenangan.. Yang mereka dapatkan bukanlah ketenangan yang hakiki, tetapi ketenangan yang semu. Karena cara-cara yang mereka tempuh dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

    Ingatlah firman Allah Jalla wa ‘Ala di atas, sehingga bila kita mendapat musibah atau kesulitan yang membuat hati menjadi gundah, maka ingatlah Allah, insya Allah hati menjadi tenang.

    2.Mendapatkan pengampunan dan pahala yang besar.

    “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab : 35)

    3.Dengan mengingat Allah, maka Allah akan ingat kepada kita.

    Allah berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan)”. (Al Baqarah : 152)

    4.Dzikir itu diperintahkan oleh Allah agar kita berdzikir sebanyak-banyaknya.

    Firman Allah Azza wa Jalla “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada – Nya di waktu pagi dan petang.” (Al Ahzab : 41 – 42)

    5.Banyak menyebut nama Allah akan menjadikan kita beruntung.

    “Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Al Anfal : 45)

    6.Dzikir kepada Allah merupakan pembeda antara orang mukmin dan munafik, karena sifat orang munafik adalah tidak mau berdzikir kepada Allah kecuali hanya sedikit saja.

    “Sesungguhnya orang – orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (An Nisaa’ : 142)

    7.Dzikir merupakan amal ibadah yang paling mudah dilakukan.

    Banyak amal ibadah yang sebetulnya mudah untuk kita lakukan. Semisal :

    • Membaca basmillah ketika akan makan / minum
    • Membaca doa keluar / masuk kamar mandi
    • Membaca dzikir – dzikir sewaktu pagi dan petang
    • Membaca doa keluar / masuk rumah
    • Membaca doa ketika turun hujan
    • Membaca dzikir setelah hujan turun
    • Membaca doa ketika berjalan menuju masjid
    • Membaca dzikir ketika masuk / keluar masjid
    • Membaca hamdalah ketika bersin
    • Membaca dzikir – dzikir ketika akan tidur
    • Membaca doa ketika bangun tidur

    Dan lain-lain banyak sekali amalan yang mudah kita lakukan. Bila kita tinggalkan, maka rugilah kita berapa banyak ganjaran yang harusnya kita dapat, tetapi tidak kita peroleh padahal itu mudah untuk diraih. Coba saja hitung berapa banyak kita keluar masuk kamar mandi dalam sehari?

    ***

    Oleh Sahabat: Alex Kibadachi

    Di rangkum dan diunduh dari Perpustakaan Islam

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 13 May 2012 Permalink | Balas  

    Besarnya Kebutuhan Hamba Kepada Allah   

    Kata Rabb sebagai salah satu nama Allah memiliki makna yang sangat luas. Kata itu mancakup seluruh makna tarbiyah. Bahwa Allah lah yang mengurus seluruh mahluk  dengan berbagai nikmat yang Dia berikan. Dialah  yang memiliki, menguasai, mencipta, mengatur, menghidupkan, memberi rezeki, mematikan dan sebagainya. Sehingga, seluruh kenikmatan yang ada pada seluruh mahluk, hanyalah dating dari Allah Ta’ala.

    Allah Ta’ala berfirman, “Dan apa saja nikmat yang ada  pada kamu, maka dari dari Allah-lah(datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl:53)

    Maka Allah adalah Dzat yang Maha Kaya, tidak butuh kepada selain-Nya, sedangkan mahluk adalah dzat yang penuh dengan kekurangan, selalu butuh kepada yang lain. Oleh karena itu, tatkala Allah menyatakan tujuan penciptaan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya, Dia menegaskan bahwa hal itu bukan karena Allah, butuh kepada  peribadahan yang mereka lakukan, bahkan Allah-lah yang memberi rezeki kepada mereka.

    Allah berfirman: “Dan aku  tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Adz-Dzariyat: 56-58)

    Kebutuhan Duniawi Kebutuhan seorang hamba kepada Allah dalam hal keduniaan, tidaklah samar. Bahkan setiap orang pasti mengakuinya, kecuali orang-orang yang sombong dan takabbur.

    Allah Ta’ala berfirman tentang pengakuan orang-orang musyrik, “Katakanlah, siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan. Maka mereka (orang-orang musyrik) akan menjawab, Allah. Maka katakanlah, mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”(Yunus:31)

    Dan pengakuan seperti ini menuntut seorang hamba untuk beribadah kepada-Nya dan mengesakan-Nya dalam ibadah. Karena dzat yang memiliki kepemilikan, kekuasaan dan pengaturan yang mutlak, adalah Dzat yang berhak dan wajib diibadahi. Sedangkan Dzat yang memiliki sedikit saja kebutuhan kepada yang lain, maka tidak layak untuk dijadikan sesembahan. Maka seorang hamba yang memperhatikan bahwa kebutuhan dunianya hanya berada pada Allah, tidak ada yang menguasainya selain Dia, dia akan meminta hanya  kepada Allah, bertawakal hanya kepada Allah, beribadah hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain. Dan dia akan senantiasa mengagungkan dan mencintai Allah Ta’ala. Kebutuhan Ukhrawi Kehidupan dan kebahagiaan yang abadi di akhirat, hanya akan digapai dengan taat dan beribadah hanya kepada Allah.

    “(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api Neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.”(An-Nisa: 13-14)

    Dan di sini, kita harus memahami bahwa seorang hamba tidak akan mungkin mampu melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada Allah melainkan taufik dan pertolongan dari-Nya. Syekh Abdurahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah ketika menafsirkan kalimat iyyakana’budu wa iyyaka nasta’in dalam surat Al-Fatihah, berkata,”Dia (Allah) menyebutkan isti’anah (permohonan pertolongan) setelah menyebutkan ibadah –padahal isti’anah termasuk ibadah-karena seorang hamba dalam seluruh ibadah yang dilakukannya senantiasa butuh kepada pertolongan Allah. Jika Allah tidak memberikan pertolongan kepadanya, niscaya dia tidak mampu mewujudkan kehendaknya untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.” (Lihat Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Man-nan)

    Perhatikan pula wasiat Rasulullah kepada Mu’adz, “Wahai Mu’adz, demi Allah aku mencintaimu. Kemudian aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah engkau tinggalkan pada akhir setiap shalat untuk mengucapkan (doa yang artinya), ‘Wahai Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu dan memperbagus ibadah kepada-Mu.’”(Hadist Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasa’i)

    Setelah kita memahami ini, adakah sedikit celah bagi kita untuk merasa tidak butuh kepada Allah, lalu melupakan dan meninggalkan-Nya? Bahkan, setiap saat dan setiap detik kita senantiasa butuh kepada-NYa. Lalu, kenapa terus bermaksiat?!

    Wallahul musta’an.

    ***

    Diketik ulang dari Majalah Nikah Vol. 7, No. 1, Apr-Mei 2008, Hal. 20-21

     
    • solehudin 8:32 pm on 16 Mei 2012 Permalink

      Jazakumullah, izin capos, moga bermanfaat buat sudara kita yang lainnya…

  • erva kurniawan 1:07 am on 12 May 2012 Permalink | Balas  

    Kitab Khusus Dewasa

    Sungguh telah banyak kuketahui pengalaman masuk Islamnya orang-orang Nasrani, baik laki-laki maupun perempuan di negeri yang berbeda-beda. Tetapi ada satu kisah yang paling mengesankan, bahkan membuatku menangis panjang. Ia sebuah kisah yang kudengar langsung dari pemiliknya.

    Ia seorang gadis Mesir yang masih muda belia. Ia sangat mencintai agamanya, dan sangat berpegang teguh dengan ajaran-ajarannya. Dia seorang gadis yang beradab, suci, lagi berakhlak mulia. Tetapi di saat dia meragukan sesuatu dari Bibel, pikirannya tidak tenang kecuali dia harus sampai pada hakikat yang sebenarnya agar keraguan itu hilang dari dirinya. Dia ingin beribadah kepada Allah melalui agama yang Dia ridhai.

    Akhirnya, dia pun sampai kepada hakikat yang sebenarnya dengan seorang diri, tanpa seorang pun yang mempengaruhi atau ikut campur. Agar tidak memperpanjang kata, saya persilahkan Anda untuk membaca kisahnya langsung dari penuturannya. Sungguh, sepanjang penuturan kisah ini, dari awal hingga akhir, dia banyak menangis, bahkan terhenti dari perkataan untuk beberapa lama karena dia teruskan penuturannya setiap kali dia sedikit tenang.

    Dia berkata:

    Pertama, saya ingin mengatakan kepada seluruh orang Nasrani, sesungguhnya firman Tuhan kita haruslah bisa dipahami keseluruhannya oleh orang terpelajar, orang jahil, orang kaya, miskin, dan seluruh makhluk.

    Permulaan kisah berawal ketika aku duduk dalam sebuah bis, di tempat khusus untuk kaum wanita. Lalu aku mendapati seorang muslimah duduk di tengah teman-temannya. Ia sedang membaca al-Qur’an di hadapan mereka.

    Aku melihat kepadanya, dan kagum. Lalu aku bertanya-tanya, apakah mungkin bagiku untuk memegang Bibel, lalu aku bacakan ‘Kidung Agung’ di hadapan seluruh manusia tanpa ada seorang pun di antara mereka yang memahaminya dengan pemahaman yang buruk?

    Aku berkata pada diri sendiri,”Aku harus menirunya.” Lalu kukeluarkan Bibel, dan berusaha untuk membacanya, tetapi aku tidak bisa. Setiap kali berusaha membaca, kudapati diriku merasa tidak enak untuk membaca kalimat-kalimat kitabku.

    Kukatakan pada diri sendiri,”Mengapa wahai Yesus, aku takut mereka akan salah dalam memahami-Mu? Mengapa aku tidak bisa membaca firman-Mu?” Kemudian aku pun duduk sambil menangis.

    Aku pergi ke gereja, lalu masuk menemui pastur. Kukatakan kepadanya,”Wahai Bapa, aku telah membuka Bibel. Tadi aku ingin membacanya di hadapan manusia, tetapi aku tidak kuasa. Apakah Anda kuasa wahai Bapa untuk membaca Kidung Agung di hadapan manusia?” Anda akan mengatakan, ‘Perutmu, pahamu, dan pusarmu?’ Wahai Bapa, bukankah firman itu dari roh Allah? Jika demikian haruslah ia berbicara dengan roh pula? Akan tetapi kitab kita hanya membicarakan gairah dan syahwat belaka. Jika saya membacanya di hadapan siapapun, apakah saya akan mengatakan kepadanya, perut adalah roh, paha adalah roh, dan segala sesuatu adalah roh. Kemudian setelah itu aku katakana kepadanya bahwa zina itu adalah sebuah kesalahan?!

    Pastur itu pun menjawab seraya berkata,”Yesus akan marah kepadamu, bukan urusanmu terhadap orang lain.”

    Aku kembali ke rumah dalam keadaan bingung. Aku tidak kuasa berbicara dengan seorang pun. Lebih dari sehari aku tinggal, tidak makan dan minum, dalam keadaan menangis setiap kali ada yang bertanya kepadaku tentang sebabnya, aku mengatakan,’Temanku mati dalam sebuah kecelakaan di hadapanku.’

    Beberapa hari setelahnya, aku masuk ke internet. Kuceritakan kisahku kepada orang-orang Nasrani,’Aku ingin ada seorang kristiani yang memahamkan dan menjawabku.’

    Aku menungggu selama tiga hari, tidak seorang pun yang menjawab.

    Lalu kuputuskan untuk masuk ke website milik seorang Nasrani terkenal yang ahli dalam bidang teologi. Websitenya terkemuka di kalangan Nasrani. Kukatakan pada diriku,’Dialah yang akan memberikan  petunjuk kepadaku.’ Aku pun langsung bertanya kepadanya,’Apakah mungkin bagiku untuk membaca Kidung Agung di hadapan manusia tanpa malu?’

    Dia menjawab,’Di tengah-tengah kaum muslimin ada orang-orang sufi yang mengatakan perkataan tidak bagus, dan Rabi’ah al-Adawiyah mengatakan,’Aku mencintai-Mu dengan dua cinta.’

    Kukatakan kepadanya,’Jawablah saya (dengan jawaban) dari agama saya sendiri, jangan menjawab dari agama lain. Saya katakan kepada Anda firman Tuhan kita, maka jangan berdalil atas orang lain dengan perkataan seorang wanita dari mereka. Tetapi sebutkanlah dalil dari kitab Tuhan mereka.’

    Dia menjawab dan berkata kepada saya,’Di dalam al-Qur’an, Tuhan kita mensifati Bidadari dengan: “Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 37)

    Kukatakan kepadanya,’Apakah Tuhan kita menyerupakan hubungannya dengan bidadari itu seperti penyerupaan-Nya dalam Bibel, yaitu seakan-akan keduanya tidur bersama? Kemudian setiap melihat saluran televisi keIslaman, tidak pernah aku dapati ada seorang ulama yang menjawab pertanyaan berdalil dengan Bibel. Ia hanya berdalil dari kitab mereka, dan perkataan nabi mereka. Lalu mengapa Anda tidak menjawab saya dari Bibel?’

    Dia menjawab dengan marah dan mencibir,’Sudah, biarkan al-Qur’an memberimu manfaat.’

    Kukatakan kepadanya,’Aku akan diam dan tidak akan bertanya, agar aku tidak paham, karena tidak ditemukan jawaban pada kitab Tuhan kita.’

    Di saat aku lelah berpikir, timbullah satu pemikiran,’Aku akan memcoba membacakan sesuatu dari Injil kepada manusia, barangkali aku salah persepsi bahwa manusia akan salah paham.’ Lalu kukatakan,’Aku harus mencoba agar waswas ini menjauh dariku, dan waswas itu akan menjauh karena Yesus telah melakukan beberapa mukjizat. Aku yakin, di saat aku membaca, firman itu akan sampai kepada roh manusia. Dan barangkali salah satu di antara orang yang nantinya akan beriman kepada Yesus, atau kagum dengan firman Tuhan yang kemudian hilanglah keragu-raguanku.’

    Aku pun pergi ke halte bis. Ketika menunggu bis, di sebelahku terdapat beberapa gadis muslim. Kala itu aku bersama seorang teman. Kukatakan kepada temanku,’Bagaimana pendapatmu, aku bacakan kepadamu beberapa ayat yang indah dari Bibel?’ Dia setuju.

    Aku mengeraskan suaraku agar gadis-gadis muslimah itu mendengar ayat-ayat Bibel (dalam bahasa Arab) tersebut:

    Betapa indah langkah-langkahmu dengan sandal-sandal itu, putri yang berwatak luhur! Lengkung pinggangmu bagaikan perhiasan, karya tangan seniman. Pusarmu seperti cawan yang bulat, yang tak kekurangan anggur campur. Perutmu timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung. Seperti dua anak rusa, buah dadamu, seperti anak kembar kijang. Lehermu bagaikan menara gading, matamu bagaikan telaga di Hesybon, dekat pintu gerbang Batrabim; hidungmu seperti menara di gunung Libanon, yang menghadap ke kota Damsyik. Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung; seorang raja tertawan dalam kepang-kepangnya. Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi. Sosok tubuhmu seumpama pohon kurma dan buah dadamu gugusannya. Kataku: “Aku ingin memanjat pohon kurma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel. Kata-katamu manis bagaikan anggur!” Ya, anggur itu mengalir kepada kekasihku dengan tak putus-putusnya, melimpah ke bibir orang-orang yang sedang tidur! Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairah tertuju. Mari, kekasihku, kita pergi ke padang, bermalam di antara bunga-bunga pacar! Mari, kita pergi pagi-pagi ke kebun anggur dan melihat apakah pohon anggur sudah berkuncup, apakah sudah mekar bunganya, apakan pohon-pohon delima sudah berbunga! Di sanalah aku akan memberikan cintaku kepadamu! Semerbak bau buah dudaim; dekat pintu kita ada pelbagai buah-buah yang lezat, yang telah lama dan yang baru saja dipetik. Itu telah kusimpan bagimu, kekasihku! (Kidung Agung 7: 1-13)

    Hingga:

    Kidung Agung (8-10) “Aku adalah suatu tembok dan buah dadaku bagaikan menara.”

    Kemudian aku pun membaca ayat-ayat perzinaan, dan sisa ayat-ayat lain serta kalimat kotor yang ada padanya. Kemudian aku dapati gadis-gadis tersebut tertawa sambil tangan-tangan mereka menutupi mulut-mulut mereka, seakan-akan mereka tengah melihat pemandangan porno.

    Kemudian aku dikagetkan dengan seorang pemuda di belakangku yang telah mendengarkan seluruh perkataanku. Lalu dia mendekat di belakangku, dan berbisik di telingaku dengan kalimat-kalimat kotor. Dan dia membuatku merasa bahwa aku adalah salah satu gadis-gadis malam yang kotor.

    Kukatakan pada diri sendiri,’Mengapa aku seperti gadis malam, sementara aku membaca firman-Mu wahai Yesus?’

    Lalu aku melihat kepada pemuda itu dan kukatakan kepadanya,’Ini adalah kitabku, aku membaca darinya, dan itu bukan urusanmu.’

    Maka dia berkata kepadaku, sementara dia telah menganggapku sebagai bagian dari gadis-gadis malam,’Apa pendapatmu jika kita mengingat bersama apa yang telah engkau baca?’

    Aku memberikan al-Kitab padanya, kemudian aku pergi sambil menangis. Kutinggalkan temanku, lalu aku berjalan kaki sangat jauh, jauh sekali, sejauh 9 halte bis, dalam keadaan bingung.

    Kemudian aku berpikir,’Apakah mungkin bagi seseorang yang mendengarkan firman ini lalu menerima bahwa maknanya adalah roh dan teladan yang mulia? Apakah, saat aku berkata kepada seorang pemuda,’Sesungguhnya gadis yang sedang berjalan di jalan itu akan bermanfaat jika menjadi istrimu.’ Lalu saat dia mendapatinya mencaci, dan perkataannya buruk, serta akhlaknya rusak, kukatakan kepadanya,’Tidak, wanita itu tujuan mulia, dan ucapannya itu ditujukan untuk roh!’

    Setelah itu, aku duduk sambil bertanya-tanya,’Mengapa Tuhan tidak menjadikan hubungan cinta itu sebagai sesuatu yang suci di dalam Bibel?’

    Mengapa dia tidak menyerupakannya dengan hubungan cinta seorang ibu kepada anaknya, atau saudara dengan saudaranya?!

    Akhirnya aku sampai di rumah. Pintu kamar kututup rapat. Lalu aku bicara kepada Yesus,’Buatlah aku tenang, pahamkanlah aku, dan jawablah aku!’ Tetapi dia tidak menjawab, dan aku tidak tenang. Di saat aku lelah, aku berkata.’Mengapa tidak ada seorang pun yang menjawabku? Mengapa tidak ada seorang pun yang mendengarku? Sungguh aku telah berusaha bersama kalian, dan lelah tanpa guna…’

    Aku keluar dari rumah, ketika seluruh penghuni rumah telah tidur. Lalu aku naik keatap rumah. Sekalipun saat itu hujan, angin bertiup kencang dan suara Guntur pun keras, aku berdiri di atap rumah dan ingin sampai kepada kebenaran.

    Aku mengangkat kepalaku. Aku berbicara kepada Tuhanku yang sesungguhnya, kukatakan kepada-Nya,’Wahai Rabbku, wahai Tuhanku yang sejati, wahai Dzat yang telah menciptakanku, Engkau telah menciptakan segala sesuatu, dan Engkau ingin agar kami menyembah-Mu, maka rahmatilah aku, tenangkanlah diriku. Wahai Pencipta langit yang aku melihatnya, wahai Pencipta Guntur yang aku mendengarnya, wahai pencipta hujan yang sedang turun, tenangkanlah diriku, beritahukanlah kepadaku, apakah Bibel dan Kidung Agung adalah firman-Mu ataukah ucapan selain-Mu?’

    Tiba-tiba Allah, Tuhanku yang sebenarnya menjawab, dan Dialah satu-satunya yang menjawab dan menenangkanku, smentara aku di atas atap, dia berfirman:

    “Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar (Allah Maha Besar… Allah Maha Besar).”

    Aku mengulang pertanyaan kedua, sementara aku kebingungan,’Apakah Kidung Agung adalah firman-Mu?’

    Lalu kudapati masjid lain mengumandangkan:

    “Allaahu Akbar… Allaahu Akbar (Allah Maha Besar… Allah Maha Besar).”

    Dan setiap kali aku mendapat jawaban, aku berkata,’Ya, wahai Tuhanku, Engkau Maha Besar dari itu semua, Engkau Maha Besar dari penyerupaan yang tidak layak dan tidak pantas itu.’

    Kemudian aku berkata,’Terima kasih wahai Tuhanku, aku mohon ampun kepada-Mu wahai Tuhan, aku tidak ingin lebih dari itu. Aku telah berkata kepada Yesus, dan bunda Maria, ternyata tidak ada yang menjawabku. Dan ketika aku berbicara dengan-Mu wahai Tuhanku, Engkau menjawab dan menenangkanku.’

    Sekalipun aku telah mencelamu, dan mencela Rasul-Mu, serta mencela kaum muslimin, Engkau membiarkanku, dan tetap menjadikanku hidup. Kemudian setelah itu Engkau muliakan aku dengan menenangkan aku. Sungguh aku tidak pantas menerima semua itu dari-Mu, ya Allah.

    Sungguh aku sudah terbiasa mendengar imam shalat di mushalla sebelah membaca dua buah surat yang sama setiap hari, tidak pernah menggantinya. Dan pada saat itu terjadi kejadian aneh, ternyata yang menjadi imam adalah imam lain, dan dia membaca firman Allah:

    “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah..?”

    Hingga:

    “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah 116-120)

    Maka aku pun menangis keras, dan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.

    Sesungguhnya aku adalah manusia yang paling berbahagia di dunia. Tidak ada seorang pun yang bisa merasakan kebahagiaan dan kegembiraan yang kini kurasakan.

    Kita memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada gadis tersebut di dunia dan akhirat, serta meninggikan kedudukan dan derajatnya di surga. Amin.

    (Sumber: Kidung Agung Membuatku Masuk Islam, majalah Qiblati)

    Seorang anak tidak akan malu atau risih jika membacakan Al Qur’an di hadapan orangtuanya, begitu juga sebaliknya orangtua tidak akan malu atau risih jika membacakan Al Qur’an di hadapan anaknya. Sekarang murid juga tidak akan malu dan risih jika membacakan Al Qur’an di hadapan gurunya, begitu juga sebaliknya. Dikarenakan Al Qur’an adalah kitab yang berbahasa sopan dan mendidik.

    Bagaimana halnya jika yang dibacakan adalah kitab Injil (kitab suci milik agama Nasrani sekarang ini)?

    Apakah seorang anak berani dan tidak malu jika membacakan ayat-ayat Injil di depan orangtua mereka? begitu juga sebaliknya?

    Apakah seorang murid berani dan tidak malu jika membacakan ayat-ayat Injil di depan gurunya? begitu juga sebaliknya?

    Bagaimana jika yang dibacakannya adalah ayat-ayat ini (khusus dewasa) :

    - Ayat-ayat jorok tentang seksual.

    “Datanglah firman TUHAN kepadaku: “Hai anak manusia, ada dua orang perempuan, anak dari satu ibu. Mereka bersundal di Mesir, mereka bersundal pada masa mudanya; di sana su**nya dijamah-jamah dan da** keperawanannya dipegang-pegang.” (Yehezkiel 23:1-3).

    “Nama yang tertua ialah Ohola dan nama adiknya ialah Oholiba. Mereka Aku punya dan mereka melahirkan anak-anak lelaki dan perempuan. Mengenai nama-nama mereka, Ohola ialah Samaria dan Oholiba ialah Yerusalem.” (Yehezkiel 23:4).

    “Dan Ohola berzinah, sedang ia Aku punya. Ia sangat berahi kepada kekasih-kekasihnya, kepada orang Asyur, pahlawan-pahlawan perang, berpakaian kain ungu tua, bupati-bupati dan penguasa-penguasa, semuanya pemuda yang ganteng, pasukan kuda.” (Yehezkiel 23:5-6).

    “Ia melakukan persundalannya dengan mereka, semuanya orang Asyur pilihan; ia menajiskan dirinya dengan semua orang, kepada siapa ia berahi dan dengan berhala-berhalanya.” (Yehezkiel 23:7).

    “Ia tidak meninggalkan persundalannya yang dilakukannya sejak dari Mesir, sebab pada masa mudanya orang sudah menidurinya, dan mereka memegang-megang da** keperawanannya dan mencurahkan persundalan mereka kepadanya.” (Yehezkiel 23:8).

    “Oleh sebab itu Aku menyerahkan dia ke dalam tangan kekasih-kekasihnya, dalam tangan orang Asyur, kepada siapa ia berahi.” (Yehezkiel 23:9).

    “Mereka menyingkapkan auratnya, anak-anaknya lelaki dan perempuan ditangkap dan ia sendiri dibunuh dengan pedang. Dengan demikian namanya dipercakapkan di antara kaum perempuan sebab hukuman telah dijatuhkan atasnya.” (Yehezkiel 23:10).

    “Walaupun hal itu dilihat oleh adiknya, Oholiba, ia lebih berahi lagi dan persundalannya melebihi lagi dari kakaknya.” (Yehezkiel 23:11).

    “Ia berahi kepada orang Asyur, kepada bupati-bupati dan penguasa-penguasan kepada pahlawan-pahlawan perang yang pakaiannya sangat sempurna, kepada pasukan kuda, semuanya pemuda yang ganteng.” (Yehezkiel 23:12).

    “Aku melihat bahwa ia menajiskan diri; kelakuan mereka berdua adalah sama. Bahkan, ia menambah persundalannya lagi: ia melihat laki-laki yang terukir pada dinding, gambar orang-orang Kasdim, diukir dalam warna linggam,” (Yehezkiel 23:13-14).

    “pinggangnya diikat dengan ikat pinggang, kepalanya memakai serban yang berjuntai, semuanya kelihatan seperti perwira, yang menyerupai orang Babel dari Kasdim, tanah kelahiran mereka. Segera sesudah kelihatan oleh matanya ia berahi kepada mereka dan mengirim suruhan kepada mereka ke tanah Kasdim.” (Yehezkiel 23:15-16).

    “Maka orang Babel datang kepadanya menikmati tempat tidur percintaan dan menajiskan dia dengan persundalan mereka; sesudah ia menjadi najis oleh mereka, ia meronta dari mereka.” (Yehezkiel 23:17).

    “Oleh karena ia melakukan persundalannya dengan terang-terangan dan memperlihatkan sendiri auratnya, maka Aku menjauhkan diri karena jijik dari padanya, seperti Aku menjauhkan diri dari adiknya.” (Yehezkiel 23:18).

    “Ia melakukan lebih banyak lagi persundalannya sambil teringat kepada masa mudanya, waktu ia bersundal di tanah Mesir. Ia berahi kepada kawan-kawannya bersundal, yang auratnya seperti aurat keledai dan zak**nya seperti zak** kuda.” (Yehezkiel 23:19-20).

    “Engkau menginginkan kemesuman masa mudamu, waktu orang Mesir memegang-megang dadamu dan menjamah-jamah su** kegadisanmu.” (Yehezkiel 23:21).

    - Ayat porno yang bugil-bugil.Yehezkiel 16: 22-38,

    “….Waktu engkau telanjang bugil sambil menendang nendang dengan kakimu ….”(ayat.22).

    “…dan menjual kecantikanmu menjadi kekejian dengan meregangkan kedua pahamu bagi setiap orang yang lewat, sehingga persundalanmu bertambah-tambah” (ayat.25).

    “Engkau bersundal dengan orang Mesir, tetanggamu, si aurat besar itu…..”(ayat.26).

    “Engkau bersundal juga dengan orang Asyur, oleh karena engkau belum merasa puas ya, engkau bersundal dengan mereka, tetapi masih belum puas” (ayat.28).

    - Puisi Kenikmatan Cinta. Kidung Agung 7:6-13,

    “Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dada gugusannya. Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur.”

    - Anak Gadis Meniduri Ayahnya : (Kitab Perjanjian Lama, Kitab Kejadian: 19)

    “Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya. Kata kakaknya kepada adiknya: “Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi. Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita  menyambung keturunan dari ayah kita. Pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu masuklah yang lebih tua untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: “Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita. Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka.” (19:30-34).

    Dan juga ayat-ayat yang lain:

    - Kejadian 35:22 : Perzinahan ibu – anak.

    - Kejadian 38:15-30 : Perzinahan ayah-menantu.

    - 2 Samuel 13:5-14 : Perzinahan kakak-adik.

    - 2 Samuel 16:21-23 : Anak memperkosa Ibu.

    - Yehezkiel 16:23-24 : Pelacur tak pernah puas.

    - Amsal 7:7-22 : Istri berselingkuh.

    - Hakim-hakim 16:1 : Berzinah dengan sundal.

    Berikut komentar-komentar dari tokoh Nasrani sendiri:

    • George Bernard Shaw (Budayawan dan Kritikus Kaliber International dan pemenang Nobel tahun 1925) dia berpendapat : “Alkitab adalah kitab yang paling berbahaya di muka bumi, simpanlah kitab ini di laci dan kuncilah.”
    • Majalah Time 31 Maret 2001: “Alkitab merupakan kitab orang dewasa yang penuh sekali dengan erotisme.”
    • Romo Don Bruno Maggioni: “Alkitab adalah sebuah karangan untuk orang dewasa. Bukan hanya karena-halaman seksualnya tetapi karena jenis masalah yang muncul di seputar seks manusia.”

    ***

    Oleh Abu Fahd Negara Tauhid, dengan menukil dari berbagai sumber.

     
    • Muhammad Idris Al-Bandany 9:14 am on 13 November 2012 Permalink

      Subhanalloh, kisah di atas sangat mengagumkan, dan menjadi hujjah tentang kebenaran & kebesaran agama Islam…Alloohu Akbar.. Alloohu Akbar…walillaahilhamd.

  • erva kurniawan 1:44 am on 11 May 2012 Permalink | Balas  

    Shalat Khusyu’ Menurut Tuntunan Rasulullah

    Sesungguhnya Ibadah Shalat merupakan sebaik-baiknya amal, ia mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah Subhânahu wa Ta’âla, ibadah inilah yang membedakan antara orang mukmin dan kafir. Ia merupakan ibadah yang mampu melebur dosa seseorang. Ketika seorang mukmin mengetahui betapa pentingnya shalat dan begitu mulianya kedudukannya di sisi Allah Subhânahu wa Ta’âla, maka tentu sebagai seorang muslim kita harus melaksanakannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh aturan Syariat kita, yaitu Islam. Shalat khusyu’ merupakan dambaan setiap kita, bahkan berbagai macam cara yang dilakukan seseorang untuk menggapai Shalat khusyu’, diantara mereka ada yang mematikan lampu ketika shalat, ada yang memejamkan matanya, ada yang mengosongkan semua fikirannya, ada yang merasakan terbangnya rohnya ketika shalat, bahkan untuk menggapai kekhusyukan mereka membuat pelatihan-pelatihan shalat khusyu’. Tentunya semua hal ini menimbulkan suatu pertanyaan, apakah memang seperti itu shalat khusyu’? Apakah cara-cara seperti tersebut sudah sesuai menurut tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Insya Allah melalui beberapa edisi buletin ini kita akan kupas kenapa pentingnya shalat khusyu’? Apa definisi khusyu’? Apa hukumnya dan apa kiat-kiat untuk menggapainya?

    Pentingnya Khusyu’ dalam Shalat.

    Khusyu’ merupakan perkara agung, cepat sirnanya dan jarang keberadaanya ditemukan, khususnya di akhir zaman ini yang penuh dengan berbagai macam fitnah dan godaan, baik godaan dari manusia maupun godaan dari syetan yang berupaya memalingkan manusia dari kekhusyukan.

    Jauhnya manusia dari kekhusyukan dalam melaksanakan shalat, hal ini adalah benar adanya, bahkan seorang sahabat besar yang bernama Huzaifah ibnu Yaman radhiyallahu ‘anhu telah menggambarkan: “Yang pertama kali yang akan hilang dari agamamu adalah khusyuk’, dan hal yang terakhir yang akan hilang dari agamamu adalah shalat. Betapa banyak orang shalat tetapi tiada kebaikan padanya, hampir saja engkau memasuki masjid, sementara tidak ditemukan diantara mereka orang yang khusyuk.” (Madarijussalikin, Imam Ibnul Qayyim 1/521)

    Bila kita tanyakan dan kita pantau shalat yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, maka jawabannya adalah mereka jauh dari kekhusyukan. Fikiran mereka menerawang entah kemana, hati mereka lalai, bahkan was-was dari syetanpun muncul tatkala mereka melaksanakan shalat, Oleh karena itu pembahasan seputar tentang shalat khusyuk ini merupakan pembahasan yang sangat penting sekali, dan dibutuhkan oleh kaum muslimin yang ingin meningkatkan kualitas ibadah shalatnya. Dimana hal ini akan membawa mereka kepada kebahagian dan kemenangan, sebagaimana yang telah disebutkan Allah Subhânahu wa Ta’âla di dalam al-Qurân: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. al-Mu’minuun: 1-2)

    Makna Khusyu’

    Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan bahwa Khusyu’ adalah: “Ketenangan, tuma’ninah, pelan-pelan, ketetapan hati, tawadhu’, serta merasa takut dan selalu merasa diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla.”

    Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa Khusyu’ adalah: “Menghadapnya hati di hadapan Robb ‘Azza wa Jalla dengan sikap tunduk dan rendah diri.” (Madarijusslikin 1/520 )

    Definisi lain dari khusyu’ dalam shalat adalah: “Hadirnya hati di hadapan Allah Subhânahu wa Ta’âla, sambil mengkonsertasikan hati agar dekat kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla, dengan demikian akan membuat hati tenang, tenangnya gerakan-gerakannya, beradab di hadapan Robbnya, konsentrasi terhadap apa yang dia katakan dan yang dilakukan dalam shalat dari awal sampai akhir, jauh dari was-was syaithan dan pemikiran yang jelek, dan ia merupakan ruh shalat. Shalat yang tidak ada kekhusyukan adalah shalat yang tidak ada ruhnya.” (Tafsir Taisir Karimirrahman, oleh Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di)

    Letak Khusyu’

    Tempat khusyu’ adalah di hati, sedangkan buahnya akan tampak pada anggota badan. Anggota badan hanya akan mengikuti hati, jika kekhusyukan rusak akibat kelalaian dan kelengahan, serta was-was, maka rusaklah ‘ubudiyah anggota badan yang lain. Sebab hati adalah ibarat raja, sedangkan anggota badan yang lainnya sebagai pasukan dan bala tentaranya. Kepadanya-lah mereka ta’at dan darinya-lah sumber segala perintah, jika sang raja dipecat dengan bentuk hilangnya penghambaan hati, maka hilanglah rakyat yaitu anggota-anggota badan.

    Dengan demikian, menampakkan kekhusyukkan dengan anggota badan, atau melalui gerakan-gerakan, supaya orang menyangka bahwa si fulan khusyu’, maka hal itu adalah sikap yang tercela, sebab diantara tanda-tanda keikhlasan adalah menyembunyikan kekhusyukan.

    Suatu ketika Huzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jauhilah oleh kalian kekhusyukan munafik, lalu ditanyakan kepadanya: Apa yang dimaksud kekhusyukan munafik? Ia menjawab: “Engkau melihat jasadnya khusyu’ sementara hatinya tidak”.

    Imam Ibnul Qayyim rahimahullah membagi khusyu’ kepada dua macam, yaitu khusyu’ nifaq dan khusyuk iman.

    Khusyu’ nifaq adalah: “Khusyu’ yang tampak pada permukaan anggota badan saja dalam sifatnya, yang dipaksakan dan dibuat-buat, sementara hatinya tidak khusyuk.”

    Khusyuk iman adalah: “Khusyuknya hati kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla dengan sikap mengagungkan, memuliakan, sikap tenang, takut dan malu. Hatinya terbuka untuk Allah Subhânahu wa Ta’âla, dengan keterbukaan yang diliputi kehinaan karena khawatir, malu bercampur cinta menyaksikan nikmat-nikmat Allah ‘Azza wa Jalla dan kejahatan dirinya sendiri. Dengan demikian secara otomatis hati menjadi khusyu’ yang kemudian diikuti khusyu’nya anggota badan.”

    Hukum Khusyu’ dalam Shalat.

    Menurut pendapat yang kuat, bahwa khusyu’ dalam shalat hukumnya wajib. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam menafsirkan firman Allah Ta’âla: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu lebih berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. al-Baqarah: 45)

    Beliau rahimahullah mengomentari ayat tersebut dengan mengatakan: “Ayat tersebut mengandung celaan atas orang-orang yang tidak khusyu’ dalam shalat, celaan tidak akan terjadi kecuali karena meninggalkan perkara-perkara penting atau wajib, atau karena keharaman yang dilakukan”.

    Kemudian bila kita lihat dalam al-Qurân Allah Subhânahu wa Ta’âla menjelaskan sifat-sifat calon penghuni surga firdaus: “Sungguh beruntunglah orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. al-Mu’minuun: 1-2), pada ayat ke 11 Allah Subhânahu wa Ta’âla memberikan isyarat, (bagi orang yang khusyu’), dengan mengatakan: “Mereka itulah, orang-orang yang mewarisi Surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Mu’minuun: 11)

    Melalui ayat tersebut Allah Subhânahu wa Ta’âla mengabarkan bahwa mereka (orang yang khusyu’) adalah calon pewaris Jannatul Firdaus. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa selain mereka tidak layak mewarisinya. Meraih surga bagi seorang muslim hukumnya adalah wajib, maka jalan atau wasilah untuk mencapai surga tersebut hukumnya juga wajib, dan shalat yang khusyu’ hukumnya ikut menjadi wajib karena merupakan salah satu sarana untuk meraih surga firdaus.

    Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyu’ Menurut Tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .

    Dalam meraih shalat khusyu’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kiat-kiat yang jelas, bahkan para ulama telah membuat bab-bab dalam kitab-kitab mereka, seperti Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah membuat Bab Anjuran Khusyu’ dalam Shalat.

    Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Munajjid rahimahullah dalam kitab beliau “33 Kiat Mencapai Khusyu’ dalam Shalat” menjelaskan; bahwa untuk mencapai khusyu’ dalam shalat ada dua hal pokok yang perlu diperhatikan:

    1. Memperhatikan hal-hal yang mendatangkan kekhusyukan dalam shalat.
    2. Menolak hal-hal yang menghilangkan kekhusyukan dan melemahkannya.

     Ad1. Memperhatikan hal-hal yang mendatangkan kekhusyukan dalam shalat

    Untuk mencapai hal-hal yang akan mendatangkan kekhusyukan ada beberapa kiat yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya:

    a. Mempersiapkan diri sepenuhnya untuk shalat

    Adapun bentuk-bentuk persiapannya yaitu: ikut menjawab azan yang dikumandangkan oleh muazin, kemudian diikuti dengan membaca do’a yang disyariatkan, bersiwak karena hal ini akan membersihkan mulut dan menyegarkannya, kemudian memakai pakaian yang baik dan bersih, sebagaimana firman Allah Ta’âla: “Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makanlah dan minumlah. Jangan berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.” (QS. al-A’raaf: 31)

    Diantara bentuk persiapan lain adalah berjalan ke masjid dengan penuh ketenangan dan tidak tergesa-gesa, lalu setelah sampai di depan masjid, maka masuk dengan membaca do’a dan keluar darinya juga membaca do’a, melaksanakan shalat sunnat Tahiyyatul masjid ketika telah berada di dalam masjid, merapatkan dan meluruskan shaf, karena syetan berupaya untuk mencari celah untuk ditempatinya dalam barisan shaf shalat.

    Dengan melakukan bentuk persiapan tersebut maka Insya Allah akan membantu dalam kekhusyukan.

    b. Tuma’ninah

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu tuma’ninah dalam shalatnya, sehingga seluruh anggota badannya menempati posisi semula, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang buruk shalatnya supaya melakukan tuma’ninah sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak sempurna shalat salah seorang diantara kalian, kecuali dengannya (tuma’ninah).”

    Bahkan di dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakan orang yang tidak tuima’ninah tersebut dengan orang yang mencuri dalam shalatnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Qatadah radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seburuk-buruk pencurian yang dilakukan manusia adalah orang yang mencuri shalatnya.” Qatadah berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana seseorang tersebut di katakan mencuri shalatnya? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad dan al-Hakim 1/229)

    Orang yang tidak tuma’ninah dalam shalatnya, tentu tidak akan merasakan kekhusyukan, sebab menunaikan shalat dengan cepat akan menghilangkan kekhusyukan, sedangkan shalat seperti mematuk burung, maka hal itu akan menghilangkan pahala.

    Oleh karena itulah karena pentingnya tuma’ninah, maka wajib bagi seorang muslim untuk tuma’ninah dalam shalatnya sehingga shalatnya diterima oleh Allah Ta’âla.

    C. Mengingat mati ketika shalat

    Hal ini berdasarkan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila engkau shalat maka shalatlah seperti orang yang hendak berpisah (mati)”. (HR. Ahmad V/412, Shahihul Jami’, no. 742)

    Jelaslah bahwasanya hal ini akan mendorong setiap orang untuk bersungguh-sungguh dalam shalatnya, karena orang yang akan berpisah tentu akan merasa kehilangan dan tidak akan berjumpa kembali, sehingga akan muncul upaya dari dalam dirinya untuk bersungguh-sungguh, dan hal ini seolah-olah baginya merupakan kesempatan terakhir untuk shalat.

    D. Menghayati makna bacaan shalat

    Al-Qurân diturunkan agar direnungkan dan dihayati maknanya, sebagaimana firman-Nya ‘Azza wa Jalla: “Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (QS. Shaad: 29)

    Sikap penghayatan tidak akan terwujud kecuali dengan memahami makna swetiap yang kita baca. Dengan memahami maknanya, maka seseorang akan dapat menghayati dan berfikir tentangnya, sehingga mengucurlah air matanya, karena pengaruh makna yang mendalam sampai ke lubuk hatinya. Dalam hal ini Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman: “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Robb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang yang tuli dan buta”. (QS. al-Furqan: 73)

    Di dalam ayat yang mulia ini Allah Subhânahu wa Ta’âla menjelaskan betapa pentingnya memperhatikan makna dari ayat yang dibaca. al-Imam Ibnu Jarir rahimahullah berkata: “Sesungguhnya saya sangat heran kepada orang yang membaca al-Qurân, sementara dia tidak mengetahui maknanya. Bagaimana mungkin dia akan mendapatkan kelezatan ketika dia membacanya? (Muqaddimah Tafsir at-Thobari karya Muhammad Syakir)

    E. Membaca surat sambil berhenti pada tiap ayat

    Hal ini merupakan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tentang bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membaca al-fatihah, yaitu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Basmalah, kemudian berhenti, kemudian membaca ayat berikutnya lalu berhenti. Demikian seterusnya sampai selesai (HR. Abu Daud, no. 4001)

    F. Membaca al-Qurân dengan tartil

    Hal ini berdasarkan firman Allah Subhânahu wa Ta’âla: “Dan bacalah al-Qurân dengan perlahan-lahan”. (QS. al-Muzammil: 4)

    Dan diriwayatkan dengan shahih bahwa bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perlahan-lahan serta satu huruf-satu huruf (Musnad Ahmad 6/294 dengan sanad shahih, Shifatus sholah: 105)

    Membaca dengan perlahan dan tartil lebih bisa membantu untuk merenungi ayat-ayat yang dibaca dan mendatangkan kekhusyu’an. Adapun membaca dengan ketergesa-gesaan akan menjauhkan hati dari kekhusyukan.

    G. Meyakini bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âla akan mengabulkan permintaannya ketika seorang hamba sedang melaksanakan shalat

    Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Qudsi: “Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman: ‘Aku membagi Shalatku dengan hamba-Ku-menjadi dua bagian, dan bagi hambaku setiap apa yang dia minta. Jika hamba-Ku mengucapkan Alhamdu lillahi Robbil’âlamin, Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman: ‘hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Jika ia mengucapkan Mâ likiyaumiddin, Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman: ‘Hamba-Ku telah memuliakan dan mengagungkan-Ku”. (Shahih Muslim, Kitabus Shalat, Bab Wajibnya Membaca al-Fatihah dalam Setiap Rakaat)

    Hadits yang mulia ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang yang sedang melaksanakan shalat, yaitu ketika ia membaca al-Fatihah maka bacaan tersebut mendapat balasan langsung dari Allah ‘Azza wa Jalla, maka ini akan menjadi pendorong kita dalam mencapai kekhusyukan.

    H. Meletakkan sutrah.(tabir pembatas) dan mendekatkan diri kepadanya

    Hal ini lebih bertujuan untuk memperpendek dan menjaga penglihatan orang yang sedang melaksankan Shalat, sekaligus menjaga dirinya dari syetan. Disamping itu juga dapat menjauhkan diri dari lalu lalangnya orang yang lewat di sekitar kita, karena lewatnya orang lain secara hilir mudik dapat mengganggu kekhusyukan shalat.

    Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian melaksanakan Shalat dengan menggunakan tabir, maka hendaklah ia mendekat padanya, sehingga syetan tidak akan memotong Shalatnya”.(HR. Abu Daud, no. 446/1695)

    Adapun jarak antara seseorang dengan tabir (sutrah) adalah tiga kali panjang lengan, dan antara tabir dengan tempat sujudnya adalah, seluas tempat lewatnya seekor kambing, sebagaimana yang banyak disebut dalam hadits-hadits shahih. (lihat Fathul Bari 1/574-579)

    I. Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri di dada

    “Adalah Rasulullah jika sedang Shalat,beliau meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri”. (HR. Muslim)

    Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Para ulama berkata: ‘Hikmah dari sikap tersebut (meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri di dada)-pen merupakan bentuk sifat dari seseorang yang meminta-minta dengan perasaan hina, sikap tersebut lebih mampu menghindarkan sifat main-main, dan lebih dekat kepada kekhusyukan”. (lihat Fathul Bari 2/224)

    J. Melihat kearah tempat sujud

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika sedang shalat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menundukkan kepala serta mengarahkan pandangannya ke tanah (tempat sujud)”. (HR. al-Hakim 1/479, dia berkata shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim, disepakati juga oleh al-Albani dalam buku shifatus Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hal 89)

    Dari sini jelaslah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Shalat melihat ke arah tempat sujud dan tidak memejamkan matanya, maka orang yang memejamkan matanya berarti amalannya bertentangan dengan sunnah.

    K. Memohon perlindungan kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla dari godaan syetan

    Godaan syetan akan selalu datang kepada siapa saja yang akan menghadap Allah Subhânahu wa Ta’âla, oleh karena itu seorang hamba hendaknya tegar dalam beribadah kepada Allah Ta’âla, seraya tetap melakukan amalan-amalan zikir ataupun shalat,dan jangan sampai goyah, sebab dengan selalu menekuni hal-hal tersebut,godaan dan tipu daya syetan akan hilang dengan sendirinya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah.(QS. an-Nisa': 76)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika seorang diantara kalian berdiri shalat, maka datanglah syetan, kemudian ia mengacaukannya (mengacaukan shalatnya dan memasukkan padanya keraguan) sehingga tidak mengetahui berapa rakaat ia shalat. Jika salah seorang diantara kalian mendapati hal demikian, maka hendaklah ia bersujud dua kali ketika dia sedang duduk”. (HR. Bukhari)

    Itulah diantara hal-hal yang membantu kekhusyukan, yang tidak bisa kami sebutkan semuanya karena keterbatasan tempat, namun setidak-tidaknya ini sebagai suatu jalan bagi kita untuk menuju khusyu’.

    Adapun faktor yang kedua dari hal-hal yang akan membawa kekhusyukan adalah dengan mengetahui penghalang-penghalang kekhusyukan dan menolaknya. Adapun penghalang-penghalang kekhusyukan adalah sebagai berikut:

    A. Menghilangkan sesuatu yang mengganggu di tempat shalat

    Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Adalah ‘Aisyah memiliki selembar kain yang berwarna-warni yang digunakan untuk menutupi bagian samping rumahnya. Melihat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Hilangkan itu dari pandanganku, sebab gambar-gambarnya selalu terbayang dan menggoda pandanganku pada waktu shalat”. (HR. Bukhari/lihat Fathul Bari 10/391). Dan termasuk perkara yang harus dihindari adalah Shalat di tempat lalu lalang manusia, tempat yang ramai dan gaduh serta berisik, di dekat orang yang sedang bercakap-cakap.

    B. Tidak shalat di tempat yang terlalu dingin atau terlalu panas, jika hal tersebut memungkinkan

    Karena hal ini jelas akan mengganggu kekhusyukan dalam shalat.

    C. Menghindari shalat di dekat makanan yang disukai

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak baik Shalat dilaksanakan di hadapan (di dekat) makanan yang telah dihidangkan”. (HR. Muslim, no. 560). Jika makanan yang telah dihidangkan dan berada dihadapannya, maka ia berhak mendahulukan makan, sebab jika ia tidak makan dan meninggalkannya (tidak makan terlebih dahulu), ia tidak akan merasa khusyu’ dan hatinya akan selalu teringat pada makanan tersebut, bahkan seyogyanya dia tidak tergesa-gesa dalam makannya sehingga betul-betul terpenuhi hajatnya.

    D.Menghindari shalat dalam kondisi mengantuk

    Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian merasa mengantuk dalam shalat, hendaklah ia tidur terlebih dahulu, sehingga ia mengetahui apa yang diucapkannya”. (HR. Bukhari, no. 210)

    E. Jangan shalat di belakang orang-orang yang bercakap-cakap ataupun tidur

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah Shalat di belakang orang yang sedang tidur dan juga orang-orang yang sedang bercakap-cakap”. (HR. Abu Daud, no. 694)

    Karena suara orang-orang yang sedang bercakap-cakap dapat merusak konsentrasi seseorang yang sedang Shalat.

    F. Menghindari shalat dalam keadaan menahan buang air besar ataupun kecil

    Karena hal ini jelas akan mengganggu kekhusyukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat dalam kondisi Haaqin yaitu menahan buang air kecil dan besar. (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya no. 617)

    G. Tidak menyibukkan diri untuk membersihkan debu

    H. Dimakruhkan mengusap dahi dan hidung dalam shalat

    I. Tidak boleh mengganggu orang yang sedang shalat dengan mengeraskan bacaan

    J. Tidak boleh menoleh ke kiri dan ke kanan ketika shalat

    K. Tidak mengarahkan pandangan ke langit

    L. Jangan meludah ke depan ketika sedang shalat

    M. Berusaha untuk tidak menguap ketika shalat

    N. Tidak mencontoh gerakan atau tingkah laku binatang

    Driwayatkan dalam hadits bahwasanya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang tiga perkara dalam Shalat, yaitu perilaku mematuk seperti burung gagak, duduk seperti duduknya binatang buas, mengambil tempat tertentu sebagaimana unta mengambil tempat duduknya (menderum)”. (HR. Ahmad 3/428)

    Demikianlah beberapa kiat-kiat dalam meraih Shalat Khusyu, semoga dengan mengetahuinya akan mengantarkan kita menuju Shalat yang khusyu’, yang pada intinya sangat praktis, mudah dan ekonomis tanpa membutuhkan biaya yang besar. Wallahu a’lam

    ***

    Oleh: Faishal Abdurrahman, Lc

    Referensi: 33 Kiat Mencapai Kekhusyukan dalam Shalat oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Munajjid.

     
    • Maxgrosir 11:15 am on 15 November 2013 Permalink

      Benar sekali,, ane kalo sholat kadang ada yang dipikirkan tuh gan alias gak konsen, mungkin artikel ini dapat membantu saya kedepannya.

  • erva kurniawan 1:08 am on 9 May 2012 Permalink | Balas  

    Diet Ala Rasulullah SAW

    Rupanya tanpa kita sadari, dalam makanan yang kita makan sehari-hari, kita tak boleh sembarangan. Hal inilah penyebab terjadinya berbagai penyakit antara lain penyakit kencing manis, lumpuh, sakit jantung, keracunan makanan dan lain-lain penyakit. Apabila anda telah mengetahui ilmu ini, tolonglah ajarkan kepada yang lainnya. Ini pun adalah diet Rasullulah SAW kita juga.

    Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet Rasullullah ini, Anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.

    • Jangan makan SUSU bersama DAGING
    • Jangan makan DAGING bersama IKAN
    • Jangan makan IKAN bersama SUSU
    • Jangan makan AYAM bersama SUSU
    • Jangan makan IKAN bersama TELUR
    • Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD
    • Jangan makan SUSU bersama CUKA
    • Jangan makan BUAH bersama SUSU (Contoh : KOKTEL)

    Cara makan:

    • Jangan makan buah setelah makan nasi, sebaliknya makanlah buah terlebih dahulu, baru makan nasi.
    • Tidur 1 jam setelah makan tengah hari.
    • Jangan sesekali tinggal makan malam. Barang siapa yang tinggal makan malam dia akan dimakan usia dan kolesterol dalam badan akan berganda. Nampak memang sulit.. tapi, kalau tak percaya cobalah. Pengaruhnya tidak dalam jangka pendek. Akan berpengaruh bila kita sudah tua nanti.
    • Dalam Al-Quran juga melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut. Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama susu. karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita.

    Al-Quran Juga mengajarkan kita menjaga kesehatan seperti membuat amalan antara lain:

    1. Mandi pagi sebelum subuh, sekurang kurangnya sejam sebelum matahari terbit. Air sejuk yang meresap kedalam badan dapat mengurangi penimbunan lemak. Kita boleh saksikan orang yang mandi pagi kebanyakan badan tak gemuk.
    2. Rasulullah mengamalkan minum segelas air sejuk (bukan air es) setiap pagi. Mujarabnya Insya Allah jauh dari penyakit (susah mendapat sakit).
    3. Waktu sembahyang subuh disunatkan kita bertafakur (yaitu sujud sekurang kurangnya semenit setelah membaca doa). Kita akan terhindar dari sakit kepala atau migrain. Ini terbukti oleh para ilmuwan yang membuat kajian kenapa dalam sehari perlu kita sujud. Ahli-ahli sains telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yang tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka darah akan mengalir keruang tersebut.
    4. Nabi juga mengajar kita makan dengan tangan dan bila habis hendaklah menjilat jari.
    5. Begitu juga ahli saintis telah menemukan bahwa enzyme banyak terkandung di celah jari jari, yaitu 10 kali ganda terdapat dalam air liur. (enzyme sejenis alat percerna makanan).

    ***

    Sabda nabi, “Ilmu itu milik Allah, barang siapa menyebarkan ilmu demi kebaikan insya Allah, Allah akan menggandakan 10 kali kepadanya”

    Dari Shabat

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 8 May 2012 Permalink | Balas  

    Nabi Menjadikan Shalat Untuk Mengadu Kepada Allah 

    Nabi Menjadikan Shalat untuk Mengadu Kepada Allah 

    Allah berfirman : Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan bertemu Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah : 45-46)

    Ibnu Katsir, dalam tafsir al Qur’ani al ¡Azhim (1/89) menerangkan ayat di atas dengan bertutur : “Allah memerintahkan hambaNya untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai pijakan bantuan dalam meraih apa yang mereka harapkan dari kebaikan dunia dan akhirat”.

    Dari sahabat Hudzaifah, ia berkata, “Bila kedatangan masalah, Nabi mengerjakan shalat. (Hadist hasan riwayat Ahmad dalam Musnad (5/388) dan Abu Dawud (2/35). Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (1/245).)

    Itulah shalat yang sebenarnya, yang berperan sebagai piranti bagi seorang muslim dalam meminta perlindungan dan mengadu kepada Allah Ta’ala dari berbagai macam kesulitan dan kesedihan,permasalahan dan kepenatan. Dia tidak akan merasa sendirian, tetapi mendapatkan dukungan dari Allah, Pemilik langit dan bumi. Maka, tidak disangsikan lagi potensi yang tersimpan pada shalat. Sebab kondisi seorang hamba sangat dekat dengan Allah dalam sholat.

    Nabi bersabda, “Seorang hamba akan menjadi paling dekat dengan Rabb-nya saat ia sedang sujud. Maka, perbanyaklah doa (di dalamnya).” (HR. Muslim)

    Oleh karena itu, semestinya seorang muslim memperbanyak doa saat bersujud, bertadharru’ (tunduk) kepada Allah, supaya Dia menyingkirkan berbagai permasalahan dan kesulitan, serta memberi kita anugerah kebaikan dunia dan akhirat.

    Ibnul Qayyim menjelaskan faedah shalat, “Shalat termasuk factor dominant dalam mendatangkan maslahat dunia dan akhirat, dan menyingkirkan keburukan dunia dan akhirat. Ia menghalangi dari dosa, menolak penyakit hati, mengusir keluhan fisik, menerangi kalbu, mencerahkan wajah, menyegarkan anggota tubuh dan jiwa, memelihara kenikmatan, menepis siksa, menurunkan rahmat dan menyibak tabir permasalahan.” (Zadu al Ma’ad (4/120)

    Shalat sendiri akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman jiwa. Dan seorang muslim, ia akan menggapai ketenangan jika dekat dengan Allah Ta’ala.

    Disebutkan dalam firman Allah, Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar Ra’du : 27-28).

    Nabi berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, kumandangkan iqamah shalat. Buatlah kami tenang dengannya.” (Hadist hasan, Shahihu al Jami’ : 7892)

    Wahai orang yang mencari ketenangan dan ketentraman, dan kesejukan mata, tujulah shalat dengan penuh khusyu dan rasa hina di hadapan Allah, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah, agar engkau dapat merengkuh keinginanmu. Kalau tidak, maka janganlah mencela kecuali kepada dirimu sendiri.

    ***

    Penulis : Syaikh Muhammad bin Sholeh Utsaimin

    (Diangkat dari ash Shalatu wa Atsarahu fi  Zayadati al Iman wa Tahdzibi an Nafs, karya Husain al ¡Awaysyah, Dar Ibni Hazm, Beirut, cet. III, Th. 1418 H)

    Sumber : Majalah Assunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M, Hal. 07

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 7 May 2012 Permalink | Balas  

    Hadist Tentang Mendermakan Harta

    Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Tidak ada satu hari pun yang dijelang umat manusia, kecuali setiap pagi ada dua malaikat yang turun. Salah satu dari malaikat itu berkata: “Ya Allah, berilah ganti yang berlipat ganda kepada orang yang telah menyedekahkan hartanya.” Sedang yang satu lagi berkata: “Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang tidak mau bersedekah (pada hari ini).” (HR. Bukhari dan Muslim).

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 6 May 2012 Permalink | Balas  

    Sholat Berjamaah 

    SHALAT BERJAMAAH

    Suatu hari Abdullah bin Umi Maktum menghadap kepada Rasulullah saw melaporkan keadaannya yang buta dan tidak ada orang yang menuntunnya untuk shalat berjama’ah di masjid. Padahal rumah ibnu Ummi Maktum dengan masjid lumayan jauh. Untuk itulah Ibnu Ummi maktum meminta keringanan untuk diizinkan tidak menunaikan shalat secara berjama’ah di masjid. Mendengar penuturan itu Rasulullah pun mengizinkannya. Namun kemudian ketika orang itu berpaling, Rasulullah saw memanggilnya seraya berkata: “Apakah engkau mendengar panggilan untuk shalat?” Dia menjawab: “Ya”. Maka beliau saw bersabda: “Kalau begitu penuhilah!” (HR. Muslim).

    Dalam hadits di atas sangat jelas disebutkan bahwasannya Rasulullah saw tidak memberikan izin bagi orang yang buta tersebut untuk meninggalkan shalat secara berjama’ah. Alasannya sederhana, sebab ia masih mendengar panggilan adzan.

    Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa dapat mendengar adzan adalah ukuran jarak rumahnya dari masjid. Jadi selama dia masih mendengar adzan, dia masih dianggap dekat dan tidak ada keringanan baginya.

    Mungkin ada yang akan mengatakan, bahwa adzan jaman dahulu kan ndak pakai pengeras suara, jadi selama masih mendengar teriakan berarti masih dekat. Ya, memang demikian, tetapi coba kita bandingkan dengan orang di daerah yang masih alami, tidak banyak gedung tinggi, berapa jarak teriakan seseorang bisa didengar. Apalagi kalau adzan dikumandangkan dari tempat yang lebih tinggi, maka jarak dengar suara menjadi cukup jauh.

    Ibnu Ummi Maktum ternyata bukan hanya mempersoalkan jarak, tetapi juga mempersoalkan kondisi perjalanan yang masih rawan. Dalam teks hadits yang lain tentang permintaan izin Abdullah bin Umi Maktum, ditambahkan penjelasan bahwa perjalanan antara masjid dengan rumahnya masih banyak binatang buas atau binatang berbahaya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari Abdullah bin umi Maktum, bahwa ia mengatakan:

    “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di kota Madinah ini masih banyak binatang-binatang buas dan binatang yang berbahaya. Maka Nabi saw bertanya: “Apakah engkau mendengar hayya ‘ala shalah, hayya ‘alal falah? Kalau ya, maka segeralah engkau penuhi panggilan itu!” (HR. Abu Dawud).

    Di dalam hadis ini bukan hanya jarak yang jauh, tetapi medan yang berat dan berbahaya pun tidak menjadikan toleransi untuk meninggalkan shalat berjama’ah. Sedangkan sekarang, mungkin jangkauan mikropon sedikit lebih jauh dari adzan dengan suara non-mikropon, tetapi kondisi jalan sangat bagus, sudah dipaving, dibeton, atau aspal. Sementara di masa Rasulullah saw, Ibnu Ummi Maktum harus melewati semak-semak yang mungkin ada ular, atau binatang berbahaya lainnya. Meskipun demikian rasulullah tetap tidak mengizinkan Ibnu Ummi Maktum untuk meninggalkan shalat jama’ah.

    Ibnu Khuzaimah menyebutkan hadits tersebut di dalam dua tempat yang berdekatan. Pertama diletakkan di bawah judul “Bab perintah bagi orang yang buta untuk mengikuti shalat jama’ah walaupun rumahnya jauh dari masjid, tidak ada penuntunnya yang mau menuntun ke masjid”, setelah itu beliau menambahkan komentar, “Ini merupakan dalil bahwa shalat jama’ah adalah faridlah (wajib hukumnya) bukan fadlilah (keutamaan saja)”.

    Yang kedua Ibnu Khuzaimah menyebutkan hadits ini dalam judul “Bab perintah bagi orang yang buta untuk menghadiri shalat jama’ah walaupun ia khawatir terhadap binatang-binatang berbisa/buas jika menghadiri jama’ah”.

    Selain alasan jarak dan bahaya, telah masyhur di telinga kaum muslimin bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang shahabat yang buta. Tempat tingga jauh, medan berbahaya, buta, tidak memiliki keluarga untuk menuntun ke masjid, tetapi Rasulullah saw tetap memerintahkan shalat ke masjid. Jika orang yang buta saja tidak mendapatkan izin untuk meninggalkan shalat jama’ah, maka orang yang memiliki penglihatan normal lebih tidak diizinkan meninggalkan jama’ah.

    Berdasarkan riwayat inilah Imam Al Khathabi berkata, “Hadits ini menjadi dalil bahwa menghadiri shalat jama’ah adalah wajib. Kalau saja shalat jama’ah itu hanya anjuran, maka yang lebih pantas untuk meninggalkannya adalah orang yang memiliki udzur dan kelemahan atau orang yang seperti Abdullah bin Umi Maktum.

    Tetapi persoalan shalat berjama’ah saat ini sangat diacuhkan oleh kaum muslimin. Kita lihat kebanyakan masjid hanya terisi penuh ketika shalat jum’at. Padahal pada hari-hari biasa pun masyarakat yang beragama Islam juga ada di rumah. Lalu mengapa untuk shalat lima waktu enggan berjama’ah di masjid? Mengapa mereka lebih suka untuk shalat di rumah daripada shalat di masjid dengan berjama’ah.

    Apakah hadis dari Ibnu Ummi Maktum kurang tegas? Apakah masih mencari dalil dari al-Qur’an? Kalau ya, sesungguhnya al-Qur’an pun telah memberikan isyarat kewajiban shalat berjama’ah di dalam firmanNya, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (Al Baqarah: 43)

    Al-Baidhawi di dalam tafsirnya menjelaskan, makna ruku’lah beserta orang yang ruku’ maksudnya adalah, “Bersama jama’ah mereka”. Abu Bakar Al-Kisani berkata, “Ini adalah perintah untuk ruku’ bersama-sama dengan orang-orang yang ruku’, dan ini menunjukkan adanya perintah untuk menegakkan shalat berjama’ah. Sedangkan perintah yang mutlak menunjukkan wajibnya perkara tersebut”.

    Senada dengan petunjuk rasulullah saw, al-Qur’an pun memerintahkan untuk tetap menjaga shalat berjama’ah meskipun di tengah peperangan, sebagaimana firman-Nya, “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat untuk mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” (An-Nisaa': 102)

    Kalau ketika dalam keadaan perang saha Allah memerintahkan untuk shalat berjama’ah, dengan shalat khauf, tentunya dalam keadaan aman lebih diwajibkan”. Kalau saja shalat berjama’ah tidak diwajibkan, tentu perang merupakan udzur yang sangat besar untuk meninggalkan shalat jama’ah.

    Ibnu Taimiyyah berkata: “Sesungguhnya diperintahkannya shalat khauf bersama jama’ah dengan tata cara khusus yang membolehkan perkara-perkara yang pada asalnya dilarang tanpa udzur seperti tidak menghadap kiblat dan banyak bergerak -dimana perkara-perkara tersebut tidak boleh dilakukan jika tanpa udzur dengan kesepakatan para ulama-, atau meninggalkan imam sebelum salam menurut jumhur, demikian pula menyelisihi perbuatan imam seperti tetap berdirinya shaf belakang ketika imam ruku’ bersama shaf depan, jika musuh ada di hadapannya. Para ulama berkata: “Perkara-perkara tersebut akan membatalkan shalat jika dilakukan tanpa udzur. Kalau saja shalat jama’ah tidak diwajibkan namun hanya merupakan anjuran, niscaya perbuatan-perbuatan di atas membatalkan shalat, karena meninggalkan sesuatu yang wajib hanya karena sesuatu yang sunnah. Padahal, sangat mungkin shalat dilakukan oleh mereka secara sempurna jika mereka masing-masing shalat sendirian (bergantian). Maka jelaslah shalat berjama’ah merupakan perkara yang wajib”.

    Maka dengan alasan apa lagikah kaum muslimin meninggalkan shalat jama’ah ke masjid, padahal mereka dalam keadaan tidak buta, kuat badannya, muda umurnya, aman jalannya dan dekat rumahnya dengan masjid?

    Tidakkah mereka takut terkena penyakit di dalam hatinya, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah saw dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang akan mereka dapat dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak.”

    Hadis tersebut setidaknya memberikan dua pelajaran kepada kita. Pertama, bahwa orang yang malas melakukan shalat berjama’ah di masjid di dalam hatinya terinveksi virus kemunafikan. Kalau seseorang tertular virus cikungunya, DB, atau HIV sudah ribut untuk mengobatinya, mengapa ketika terkena virus kemunafikan ini malah senang? Tidakkah berfikir bagaimana nasib di akhirat kelak?

    Kedua, shalat berjama’ah, khususnya subuh dan Isya’ memiliki mkeutamaan yang sangat besar. Di dalam hadis rasululah menyebutkan besarnya pahala berjama’ah, “Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh kali”. (HR Muslim)

    Atau mungkin banyak di antara kaum muslimin sudah tidak membutuhkan pahala dari Allah, sehingga ketika Rasulullah saw menunjukkan keutaman shalat berjama’ah, petunjuk itu tidak menarik.

    Selain hadits merangkak di atas, Rasulullah saw juga bersabda tentang keutamaan shalat jamaah dalam hadits lainnya, seperti hadis dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada bila shalat sendirian atau shalat di pasarnya dengan duap puluh sekian derajat. Hal itu karena dia berwudhu dan membaguskan wudhu`nya, kemudian mendatangi masjid di mana dia tidak melakukannya kecuali untuk shalat dan tidak menginginkannya kecuali dengan niat shalat. Tidaklah dia melangkah dengan satu langkah kecuali ditinggikan baginya derajatnya dan dihapuskan kesalahannya hingga dia masuk masjid….dan malaikat tetap bershalawat kepadanya selama dia berada pada tempat shalatnya seraya berdoa, “Ya Allah berikanlah kasihmu kepadanya, Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah ampunilah dia….” (HR Muslim)

    Dari Abi Darda` ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah 3 orang yang tinggal di suatu kampung atau pelosok tapi tidak melakukan shalat jamaah, kecuali syetan telah menguasai mereka. Hendaklah kalian berjamaah, sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya.” (HR Abu Daud 547 dan Nasai 2/106 dengan sanad yang hasan)

    Dari Ibnu Mas`ud ra berkata bahwa “aku melihat dari kami yaitu tidaklah seseorang meninggalkan shalat jamaah kecuali orang-orang munafik yang sudah dikenal kemunafikannya atau seorang yang memang sakit yang tidak bisa berjalan.” (HR Muslim)

    Dengan adanya hadits-hadits di atas, tidakkah hati kita tergerak untuk hadir di majelis yang mulia, dalam rangka menunaikan shalat secara berjamaah? Atau kita biarkan saja penyakit kemunafikan bersarang di dalam hati kita?

    ***

    Oleh Sahabat: Abah Zacky as-Samarani

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 5 May 2012 Permalink | Balas  

    Bukti Kebenaran Al-Quran

    Al-Quran mempunyai sekian banyak fungsi. Di antaranya adalah menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad saw. Bukti kebenaran tersebut dikemukakan dalam tantangan yang sifatnya bertahap. Pertama, menantang siapa pun yang meragukannya untuk menyusun semacam Al-Quran secara keseluruhan (baca QS 52:34). Kedua, menantang mereka untuk menyusun sepuluh surah semacam Al-Quran (baca QS 11:13). Seluruh Al-Quran berisikan 114 surah. Ketiga, menantang mereka untuk menyusun satu surah saja semacam Al-Quran (baca QS 10:38). Keempat, menantang mereka untuk menyusun sesuatu seperti atau lebih kurang sama dengan satu surah dari Al-Quran (baca QS 2:23).

    Dalam hal ini, Al-Quran menegaskan: Katakanlah (hai Muhammad) sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (QS 17 :88).

    Seorang ahli berkomentar bahwa tantangan yang sedemikian lantang ini tidak dapat dikemukakan oleh seseorang kecuali jika ia memiliki satu dari dua sifat: gila atau sangat yakin. Muhammad saw. sangat yakin akan wahyu-wahyu Tuhan, karena “Wahyu adalah informasi yang diyakini dengan sebenarnya bersumber dari Tuhan.”

    Walaupun Al-Quran menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad, tapi fungsi utamanya adalah menjadi “petunjuk untuk seluruh umat manusia.” Petunjuk yang dimaksud adalah petunjuk agama, atau yang biasa juga disebut sebagai syari’at. Syari’at, dari segi pengertian kebahasaan, berarti ‘ jalan menuju sumber air.” Jasmani manusia, bahkan seluruh makhluk hidup, membutuhkan air, demi kelangsungan hidupnya. Ruhaninya pun membutuhkan “air kehidupan.” Di sini, syari’at mengantarkan seseorang menuju air kehidupan itu.

    Dalam syari’at ditemukan sekian banyak rambu-rambu jalan: ada yang berwarna merah, yang berarti larangan; ada pula yang berwarna kuning, yang memerlukan kehati-hatian; dan ada yang hijau warnanya, yang melambangkan kebolehan melanjutkan perjalanan. Ini semua, persis sama dengan lampu-lampu lalulintas. Lampu merah tidak memperlambat seseorang sampai ke tujuan. Bahkan ia merupakan salah satu faktor utama yang memelihara pejalan dari mara bahaya. Demikian juga halnya dengan “lampu-lampu merah” atau larangan-larangan agama.

    Kita sangat membutuhkan peraturan-peraturan lalulintas demi memelihara keselamatan kita. Demikian juga dengan peraturan lalulintas menuju kehidupan yang lebih jauh, kehidupan sesudah mati. Di sini, siapakah yang seharusnya membuat peraturan-peraturan menuju perjalanan yang sangat jauh itu?

    Manusia memiliki kelemahan-kelemahan. Antara lain, ia seringkali bersifat egoistis. Disamping itu, pengetahuannya sangat terbatas. Lantaran itu, jika ia yang diserahi menyusun peraturan lalulintas menuju kehidupan sesudah mati, maka diduga keras bahwa ia, di samping hanya akan menguntungkan dirinya sendiri, juga akan sangat terbatas bahkan keliru, karena ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelah kematian.

    Jika demikian, yang harus menyusunnya adalah “Sesuatu” yang tidak bersifat egoistis, yang tidak mempunyai sedikit kepentingan pun, sekaligus memiliki pengetahuan yang Mahaluas. “Sesuatu” itu adalah Tuhan Yang Mahaesa, dan peraturan yang dibuatnya itu dinamai “agama”.

    Sayang bahwa tidak semua manusia dapat berhubungan langsung secara jelas dengan Tuhan, guna memperoleh informasi-Nya. Karena itu, Tuhan memilih orang-orang tertentu, yang memiliki kesucian jiwa dan kecerdasan pikiran untuk menyampaikan informasi tersebut kepada mereka. Mereka yang terpilih itu dinamai Nabi atau Rasul.

    Karena sifat egoistis manusia, maka ia tidak mempercayai informasi-informasi Tuhan yang disampaikan oleh para Nabi itu. Mereka bahkan tidak percaya bahwa manusia-manusia terpilih itu adalah Nabi-nabi yang mendapat tugas khusus dari Tuhan.

    Untuk meyakinkan manusia, para Nabi atau Rasul diberi bukti-bukti yang pasti dan terjangkau. Bukti-bukti tersebut merupakan hal-hal tertentu yang tidak mungkin dapat mereka –sebagai manusia biasa (bukan pilihan Tuhan)– lakukan. Bukti-bukti tersebut dalam bahasa agama dinamai “mukjizat”.

    Para Nabi atau Rasul terdahulu memiliki mukjizat-mukjizat yang bersifat temporal, lokal, dan material. Ini disebabkan karena misi mereka terbatas pada daerah tertentu dan waktu tertentu. Ini jelas berbeda dengan misi Nabi Muhammad saw. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia, di mana dan kapan pun hingga akhir zaman.

    Pengutusan ini juga memerlukan mukjizat. Dan karena sifat pengutusan itu, maka bukti kebenaran beliau juga tidak mungkin bersifat lokal, temporal, dan material. Bukti itu harus bersifat universal, kekal, dapat dipikirkan dan dibuktikan kebenarannya oleh akal manusia. Di sinilah terletak fungsi Al-Quran sebagai mukjizat.

    Paling tidak ada tiga aspek dalam Al-Quran yang dapat menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad saw., sekaligus menjadi bukti bahwa seluruh informasi atau petunjuk yang disampaikannya adalah benar bersumber dari Allah SWT.

    Ketiga aspek tersebut akan lebih meyakinkan lagi, bila diketahui bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang yang pandai membaca dan menulis. Ia juga tidak hidup dan bermukim di tengah-tengah masyarakat yang relatif telah mengenal peradaban, seperti Mesir, Persia atau Romawi. Beliau dibesarkan dan hidup di tengah-tengah kaum yang oleh beliau sendiri dilukiskan sebagai “Kami adalah masyarakat yang tidak pandai menulis dan berhitung.” Inilah sebabnya, konon, sehingga angka yang tertinggi yang mereka ketahui adalah tujuh. Inilah latar belakang, mengapa mereka mengartikan “tujuh langit” sebagai “banyak langit.” Al-Quran juga menyatakan bahwa seandainya Muhammad dapat membaca atau menulis pastilah akan ada yang meragukan kenabian beliau (baca QS 29:48).

    Ketiga aspek yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut. Pertama, aspek keindahan dan ketelitian redaksi-redaksinya. Tidak mudah untuk menguraikan hal ini, khususnya bagi kita yang tidak memahami dan memiliki “rasa bahasa” Arab –karena keindahan diperoleh melalui “perasaan”, bukan melalui nalar. Namun demikian, ada satu atau dua hal menyangkut redaksi Al-Quran yang dapat membantu pemahaman aspek pertama ini.

    Seperti diketahui, seringkali Al-Quran “turun” secara spontan, guna menjawab pertanyaan atau mengomentari peristiwa. Misalnya pertanyaan orang Yahudi tentang hakikat ruh. Pertanyaan ini dijawab secara langsung, dan tentunya spontanitas tersebut tidak memberi peluang untuk berpikir dan menyusun jawaban dengan redaksi yang indah apalagi teliti. Namun demikian, setelah Al-Quran rampung diturunkan dan kemudian dilakukan analisis serta perhitungan tentang redaksi-redaksinya, ditemukanlah hal-hal yang sangat menakjubkan. Ditemukan adanya keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakannya, seperti keserasian jumlah dua kata yang bertolak belakang.

    Abdurrazaq Nawfal, dalam Al-Ijaz Al-Adabiy li Al-Qur’an Al-Karim yang terdiri dari tiga jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan tersebut, yang dapat kita simpulkan secara sangat singkat sebagai berikut.

    *A. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya.*

    Beberapa contoh, di antaranya:

    • Al-hayah (hidup) dan al-mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali;
    • Al-naf’ (manfaat) dan al-madharrah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali;
    • Al-har (panas) dan al-bard (dingin), masing-masing 4 kali;
    • Al-shalihat (kebajikan) dan al-sayyi’at (keburukan), masing-masing 167 kali;
    • Al-Thumaninah (kelapangan/ketenangan) dan al-dhiq (kesempitan/kekesalan), masing-masing 13 kali;
    • Al-rahbah (cemas/takut) dan al-raghbah (harap/ingin), masing-masing 8 kali;
    • Al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk definite, masing-masing 17 kali;
    • Kufr (kekufuran) dan iman (iman) dalam bentuk indifinite, masing-masing 8 kali;
    • Al-shayf (musim panas) dan al-syita’ (musim dingin), masing-masing 1 kali.

    *B. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya.*

    • Al-harts dan al-zira’ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali;
    • Al-‘ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing 27 kali;
    • Al-dhallun dan al-mawta (orang sesat/mati [jiwanya]), masing-masing 17 kali;
    • Al-Qur’an, al-wahyu dan Al-Islam (Al-Quran, wahyu dan Islam), masing-masing 70 kali;
    • Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-masing 49 kali;
    • Al-jahr dan al-‘alaniyah (nyata), masing-masing 16 kali.

    *C. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.*

    • Al-infaq (infak) dengan al-ridha (kerelaan), masing-masing 73 kali;
    • Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali;
    • Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/al-ahraq (neraka/ pembakaran), masing-masing 154 kali;
    • Al-zakah (zakat/penyucian) dengan al-barakat (kebajikan yang banyak), masing-masing 32 kali;
    • Al-fahisyah (kekejian) dengan al-ghadhb (murka), masing-masing 26 kali.

    *D. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.*

    • Al-israf (pemborosan) dengan al-sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali;
    • Al-maw’izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan (lidah), masing-masing 25 kali;
    • Al-asra (tawanan) dengan al-harb (perang), masing-masing 6 kali;
    • Al-salam (kedamaian) dengan al-thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali.

    *E. Di samping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus.*

    (1) Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni), jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain, kata yang berarti “bulan” (syahr) hanya terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.

    (2) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada “tujuh.” Penjelasan ini diulanginya sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah 29, Al-Isra’ 44, Al-Mu’minun 86, Fushshilat 12, Al-Thalaq 12, Al-Mulk 3, dan Nuh 15. Selain itu, penjelasannya tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat.

    (3) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul (rasul), atau nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.

    Demikianlah sebagian dari hasil penelitian yang kita rangkum dan kelompokkan ke dalam bentuk seperti terlihat di atas.

    Kedua adalah pemberitaan-pemberitaan gaibnya. Fir’aun, yang mengejar-ngejar Nabi Musa., diceritakan dalam surah Yunus. Pada ayat 92 surah itu, ditegaskan bahwa “Badan Fir’aun tersebut akan diselamatkan Tuhan untuk menjadi pelajaran generasi berikut.” Tidak seorang pun mengetahui hal tersebut, karena hal itu telah terjadi sekitar 1200 tahun S.M. Nanti, pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1896, ahli purbakala Loret menemukan di Lembah Raja-raja Luxor Mesir, satu mumi, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir’aun yang bernama Maniptah dan yang pernah mengejar Nabi Musa a.s. Selain itu, pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut-pembalut Fir’aun tersebut. Apa yang ditemukannya adalah satu jasad utuh, seperti yang diberitakan oleh Al-Quran melalui Nabi yang ummiy (tak pandai membaca dan menulis itu). Mungkinkah ini?

    Setiap orang yang pernah berkunjung ke Museum Kairo, akan dapat melihat Fir’aun tersebut. Terlalu banyak ragam serta peristiwa gaib yang telah diungkapkan Al-Quran dan yang tidak mungkin dikemukakan dalam kesempatan yang terbatas ini.

    Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya. Banyak sekali isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Al-Quran. Misalnya diisyaratkannya bahwa “Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedang cahaya bulan adalah pantulan (dari cahaya matahari)” (perhatikan QS 10:5); atau bahwa jenis kelamin anak adalah hasil sperma pria, sedang wanita sekadar mengandung karena mereka hanya bagaikan “ladang” (QS 2:223); dan masih banyak lagi lainnya yang kesemuanya belum diketahui manusia kecuali pada abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir ini. Dari manakah Muhammad mengetahuinya kalau bukan dari Dia, Allah Yang Maha Mengetahui!

    Kesemua aspek tersebut tidak dimaksudkan kecuali menjadi bukti bahwa petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh Al-Quran adalah benar, sehingga dengan demikian manusia yakin serta secara tulus mengamalkan petunjuk-petunjuknya.

    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

    ***

    Oleh Sahabat: A Dani Permana

     
    • andi yoger 9:29 pm on 28 Desember 2012 Permalink

      mohon kopas yaa mau saya sebarkan di Kompasiana.com
      makasih.

  • erva kurniawan 1:19 am on 4 May 2012 Permalink | Balas  

    Rahasia Sujud   

    Assalamualaikum,

    Subhanallah, sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita? Naudzubillah….

    Seorang doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran.

    Dia adalah seorang doktor neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Qur’an” Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat di dalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu , biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

    Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal.

    Setelah membuat kajian yang memakan waktu akkhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang di wajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah.

    Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

    Kesimpulannya :

    Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi lagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal.

    Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak Segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini.

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 3 May 2012 Permalink | Balas  

    12 Barisan di Akhirat

    Suatu ketika, Muaz b Jabal ra menghadap Rasulullah saw dan bertanya:”Wahai Rasulullah, tolong uraikan kepadaku mengenai firman Allah SWT: “Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris” Surah an-Naba':18

    Mendengar pertanyaan itu, baginda menangis dan basah pakaian dengan air mata. Lalu menjawab: “wahai Muaz, engkau telah bertanya kepadaku, perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris Maka dinyatakan apakah 12 barisan tersebut…..

    BARISAN PERTAMA

    Digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih:”Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya, maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KEDUA

    Digiring dari kubur berbentuk babi hutan. Datanglah suara dari sisi Yang Maha Pengasih:”Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan sholat,maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KETIGA

    Mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kala jengking.”Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KEEMPAT

    Digiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancuran keluar dari mulut mereka.”Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jual beli,

    BARISAN KELIMA

    Digiring dari kubur dengan bau busuk dari bangkai. Ketika itu Allah SWT menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman di Padang Mahsyar.”Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka takut diketahui oleh manusia tetapi tidak pula merasa takut kepada Allah SWT, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KEENAM

    Digiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan.”Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KETUJUH

    Digiring dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah.”Mereka itu adalah orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KEDELAPAN

    Digiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas. “Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KESEMBILAN

    Digiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. “Mereka itu adalah orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KESEPULUH

    Digiring dari kubur mereka dalam keadaan tubuh mereka penuh dengan penyakit sopak dan kusta. “Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KESEBELAS

    Digiring dari kubur mereka dengan berkeadaan buta mata-kepala, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut mereka dan keluar beraneka kotoran.”Mereka adalah orang yang minum arak, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

    BARISAN KEDUA BELAS

    Mereka digiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama. Mereka melalui titian sirat seperti kilat. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih memaklumkan:”Mereka adalah orang yang beramal saleh dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, mereka memelihara sholat lima waktu,ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah syurga, mendapat ampunan, kasih sayang dan keredhaan Allah Yang Maha Pengasih…”

    Semoga kita semua di saf yang Ke-12 yang mendapat rahmat dari Allah SWT….Amin…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 1 May 2012 Permalink | Balas  

    Kematian

    Kematian adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan karena setiap manusia pasti menghadapi maut. Tentang kesakitan yang dirasakan ketika sedang bertarung dengan maut, Rasulullah saw menjelaskan dalam hadist-hadistnya bahwa sakit ketika hampir mati itu laksana kesakitan dicerca seratus kali dengan pedang yang tajam atau seperti dikoyak kulit dari daging hidup-hidup.

    Amatlah beruntung seseorang itu sekiranya dia mati dalam keadaan khusnul khatimah (kebajikan) dan adalah menyedihkan sekiranya dia mati dalam keadaan suul-khatimah.

    Tentang tanda-tanda seseorang itu akan mendapat kebajikan (khusnul khatimah) atau tidak, terdapat hadist Rasulullah saw dari Salman Al Farisi yang bermaksud:

    “Perhatikanlah tiga perkara kepada orang yang sudah hampir mati : Pertama: berkeringat pada pelipis pipinya Kedua: berlinang air matanya dan Ketiga: lubang hidungnya kembang kempis. Itu adalah tanda bahwa rahmat Allah sedang turun dan dirasai oleh orang yang hampir mati itu. Sebaliknya jika ia mengeluh seperti tercekik, raut mukanya nampak gelap dan keruh serta mulutnya berbuih, ini menandakan azab Allah sedang menimpa dia.” (Hadis riwayat Abdullah, Al-Hakim dan At-Tarmizi)

    Berdasarkan hadist ini, ada beberapa mukmin yang ketika hampir mati, masih terdapat sisa-sisa dosa padanya. Namun Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani menentukan orang itu mati dalam keadaan khusnul khatimah dan mengampuni segala dosa-dosanya itu.

    Diyakini bahwa kematian berlaku pada jasad manusia secara berangsur, dari ujung kaki ke paha. Apabila rahmat diturunkan padanya karena mati dalam khusnul khatimah ini, si mati akan merasa terlalu gembira dan kegembiraaan itu terlihat dengan keluarnya keringat pada pelipisnya.

    Air mata yang keluar dan hidung yang kembang kempis pula adalah tanda bahwa si mati amat malu pada Allah SWT terhadap sisa-sisa dosanya yang belum sempat ditaubatinya. Orang-orang yang kuat imannya akan merasa malu untuk melakukan dosa semasa hidupnya karena merasa bahwa Allah sentiasa memperhatikannya. Oleh sebab itu, disaat kematiannya, Allah melimpahkan rahmatNya dengan mengampunkan dosa-dosanya.

    Orang-orang yang kafir pula, dia tidak merasa malu pada Allah SWT. Oleh sebab itu apabila nyawanya hendak dicabut oleh Izrail, wajahnya gelap dan keruh dan dia mengeluh seperti binatang yang disembelih. Ini juga merupakan penanda bagi azab yang diterimanya disebabkan oleh dosa-dosa dan kekufurannya.

    Dari Alqamah bin Abdullah, Rasulullah saw bersabda yang Artinya :

    “Bahwa roh orang mukmin akan ditarik oleh Izrail dari jasadnya dengan perlahan-lahan dan sopan sementara roh orang kafir akan ditarik dengan kasar oleh malaikat maut bagaikan mencabut nyawa seekor khimar.”

    Terdapat juga orang mukmin yang berdosa, dan Allah menimpakan kekasaran dan mala petaka sebelum dia menghembuskan nafasnya yang terakhir sebagai kaffarah atas segala dosanya.

    Oleh sebab itu apabila rohnya keluar dari jasad, Dosannya ikut terangkat (terhapus).

    Kadang-kadang kita melihat seorang mukmin yang mati dalam kepayahan dan seorang kafir yang mati dalam ketenangan. Hendaklah kita berbaik sangka dengan orang mukmin tersebut kerana mungkin itu merupakan kaffrarah terhadap dosanya dan dia menemui Allah SWT dalam ampunan karena sisa-sisa dosanya telah dikaffarah.

    Orang kafir yang mati dalam ketenangan, mungkin semasa hidupnya dia berbuat kebajikan dan itu adalah balasan terhadapnya karena janji Allah bahwa setiap kebajikan akan dibalas.

    Tetapi karena dia tidak beriman, kebajikan itu tidak menjadi pahala dan kekufurannya akan diazab di akhirat kelak.

    Oleh itu, kita yang masih hidup harus senantiasa berbaik sangka dan mengambil pelajaran terhadap segala yang berlaku. Moga-moga kita akan menemui Allah dalam keadaan khusnul khatimah dan dalam limpahan rahmat dan keampunanNya.

    Amin ya Robbal “Alamiin

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 29 April 2012 Permalink | Balas  

    Gelap Gulita yang Tindih-Bertindih

    Ketika anda berada di ruangan yang gelap gulita, apa yang bisa anda lakukan? Tentu saja anda akan meraba-raba untuk menemukan jalan sambil mengerahkan daya insting anda. Anda tak tahu jalan untuk keluar, nafas anda sesak dan kegelisahan mulai menyelimuti anda. Tak ada sebersit cahayapun yang menyinari tempat anda berada.

    Sekarang bayangkan bila hidup anda tak disinari oleh cahaya ilahi. Tentu saja anda pun akan berputar-putar tanpa arah di dalam kegelapan. Atau dalam bahasa Al-Qur’an: “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia, mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS 24: 40)

    Di saat keadaan gelap gulita, jiwa gelisah dan anda tak tahu apa yang harus anda kerjakan, beban kerjapun semakin menumpuk, himpitan ekonomi menghadang langkah anda, tubuh anda bergetar dan semuanya menjadi serba tak berarturan dan serba salah, jika hal ini menimpa anda maka carilah cahaya ilahi agar anda dapat keluar dari kegelapan itu.

    Bagaimana caranya mencari cahaya ilahi yang akan menerangi hati anda?

    “dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (QS 74:4-5)

    Mari kita bersihkan pakaian kita.tengoklah diri kita di cermin, berapa banyak pakaian kesombongan, pakaian riya’, pakaian dengki, pakaian takabur yang kita kenakan. Pakaian itu kita percantik dengan segala macam asesoris seperti lalai mengingat Allah, enggan bersedekah, merasa berat untuk pergi haji, dan lain sebagainya. Maka bersihkanlah segala macam pakaian lengkap dengan asesorisnya tersebut. Setelah itu usahakanlah untuk tak mengenakan pakaian itu selamanya.

    Sekarang tengoklah hati anda, rasakan cahaya ilahi mulai masuk ke dalam relung hati. “Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki…”(QS 24: 35)

    Mari kita kumpulkan cahaya ilahi itu mulai sekarang, dari hari ke hari hingga di hari kiamat nanti kita berdo’a, sebagaimana terekam dalam QS 66:28 : “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Berbahagialah mereka yang mendapat cahaya ilahi….

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 28 April 2012 Permalink | Balas  

    Dialog Abu Dzar dengan Rosulullah SAW

    1. Abu Dzar bertanya, “Ya Rasulullah, engkau memerintahkan aku bersholat?” Rasulullah menjawab: “Sholat adalah sebaik-baik perbuatan, maka perbanyakkanlah atau sedikit.”

    2. Aku tanya, “Amal apakah yang paling afdhal?” Beliau jawab:”Beriman kepada Allah dan berjihad fi sabiilillah

    3. Aku tanya,”Mu’min yang bagaimanakah yang paling afdhal?” Beliau jawab: “ialah yang terbaik akhlaknya.”

    4. Tanya, “Muslim yg bagaimanakah yang paling selamat?” Jawab: “ialah yg menyelamatkan orang-orang dari gangguan lidahnya dan tangannya.”

    5. Tanya, “Hijrah yg bagaimanakah yg afdhal, ya Rasulullah?” Jawab: “ialah hijrah dari (meninggalkan) perbuatan maksiat.”

    6. Tanya,”Sholat yang bagaimanakah yang afdhal, ya Rasulullah?” Jawab:”Berkhusyu’ yang panjang (lama berdiri).”

    7. Tanya,”Hamba-hamba sahaya manakah yg paling afdhal utk dimerdekakan?” Jawab:”Hamba yg paling mahal harganya dan yg paling disayang oleh pemiliknya.”

    8. Tanya,”Sedekah yg bagaimanakah yg paling afdhal, ya Rasulullah?” Jawab:”Pemberian dari orang yg masih kekurangan (tidak kaya) dan pemberian secara rahasia kepada fakir miskin.”

    9. Tanya,”Ayat apakah di antara ayat-ayat yg diturunkan kpdmu yg paling besar?” Jawab:”Ayat Kursi, dan tujuh langit itu jika dibandingkan dengan Kursi, adalah seperti sebuah cincin (atau lingkaran besi) yg berada di tengah-tengah padang pasir, dan perbandingan Arasy terhadap Kursi adalah perbandingan padang pasir itu terhadap cincin tadi.”

    10. Tanya,”Berapakah bilangan Nabi-Nabi, ya Rasulullah?” Jawab:”Seratus dua puluh empat ribu.” (124,000)

    11. Tanya,”Berapakah yg menjadi Rasul di antara mereka, ya Rasulullah?” Jawab:”Sebanyak tiga ratus tiga belas.” (313)

    12. Tanya,”Siapakah yg pertama, ya Rasulullah?” Jawab:”Adam.”

    13. Tanya,”Apakah dia seorang Nabi yg diutus ?” Jawab:”Benar, dia diciptakan oleh Allah dengan tanganNYA, ditiupkan ruh ke dalam tubuhnya yang disempurnakan.”

    Dan selanjutnya Rasulullah bersabda: Hai Abu Dzarr, empat dari mereka adalah dari golongan Siryaniun, yaitu Adam, Syith, Nuh, dan Idris, yaitu Nabi pertama yg dapat menulis dengan pensil. Dan empat Nabi dari keturunan Arab, yaitu Hud, Syuaib, Saleh, dan Nabimu, hai Abu Dzarr.”

    14. Abu Dzarr bertanya,”Berapa kitab yang telah diturunkan Allah, ya Rasulullah?” Beliau menjawab:”Seratus empat kitab (104). Kepada Syith tlh diturunkan lima puluh halaman, Idris tiga puluh halaman, Ibrahim sepuluh halaman, Musa sebelum Taurat ada sepuluh halaman, di samping kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an.”

    15. Tanya,”Ya Rasulullah, apakah isi lembaran yg diturunkan kepada Ibrahim?” Jawab:”Isinya ialah: Hai Raja yg berkuasa, dipuji dan sombong, sesungguhnya AKU tidak mengutusmu untuk mengumpulkan dunia, melonggokkan sebagian di atas sebagian, akan tetapi AKU mengutusmu untuk menerima doanya orang yg teraniaya agar tidak sampai kepada-KU, kerana AKU tidak akan mengembalikannya walaupun ia datang dari seorang yg kafir. Seorang yg bijaksana akan membagi waktunya menjadi beberapa waktu untuk bermunajat kepada Tuhannya, beberapa waktu utk bertanya pd dirinya sendiri (muhasabah), beberapa waktu utk merenungkan ciptaan Allah, dan beberapa waktu lagi utk mengurus keperluan makan dan minumnya. Seorang yg bijaksana tidak akan meributkan (menyibukkan) diri melainkan utk tiga tujuan: mencari bekal utk hari kemudian (Akhirat), mencari nafkah hidup, dan mencari rizqi yg halal. Seorang yg bijaksana hendaklah mengenal zamannya, tekun mengurus urusannya, dan menjaga lidahnya. Barangsiapa yg menyesuaikan bicaranya dengan perbuatan, maka akan jarang berbicara melainkan dalam hal-hal yg mengenai dirinya.”

    16. Tanya,”Apakah isi lembaran-lembaran yg diturunkan kepada Musa, ya Rasulullah?” jawab:”Isinya adalah semua peringatan dan ibarat; aku heran dari orang yg yakin akn mati bagaimana ia dapat bersuka-ria, aku heran dari orang yg yakin dgn adanya takdir bagaimana ia membanting tulang bekerja, aku heran dari org yg melihat keadaan dunia yg selalu berubah bagaimana ia dapat tenang mempercayainya dan aku heran dari orang yg yakin adanya hari hisab besok, bagaimana ia enggan beramal.”

    17. Tanya,”Ya Rasulullah, apakah ada yg sampai kpd kita sesuatu yg dulu ada di tangan Ibrahim dan Musa, dan apakah yg diturunkan Allah kepadamu?” Jawab:”Ada, cobalah baca hai Abu Dzarr, ‘Sesungguhnya beruntunglah orang yg membersihkan diri (dengan beriman) dan ia ingat akan nama Tuhannya, lalu ia bersembahyang. Tetapi kamu (orang2 kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.’ Sesungguhnya ini benar2 terdapat dalam kitab2 yg dahulu yaitu kitab2 Ibrahim dan Musa.”

    18. Abu Dzarr bertanya,”Apakah wasiatmu kepadaku, ya Rasulullah?” Ar-Rasul saw menjawab:”Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah, kerana itu (taqwa) adalah pokok segala urusanmu.”

    19. Abu Dzarr bertanya lagi,”Apa lagi ya Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab:”Bacalah Al-Qur’an dan berzikirlah kepada Allah, karena itu akan menjadi zikir buatmu di langit dan cahaya bagimu di dunia.”

    20. Tanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?” Jawab:”Hindarilah banyak ketawa, kerana itu mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah.”

    21. Tanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?” Jawab:”Laksanakanlah kewajiban berjihad, karena itu merupakan kerahiban perjuangan bagi umatku.”

    22. Tanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?” Jawab:”Hendaklah engkau selalu diam (tidak bercakap) melainkan untuk kebaikan, kerana itu dapat mengusir syaitan dan dapat menolongmu dalam urusan agamamu.”

    23. Tanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?” Jawab:”Lihatlah kepada orang yg di bawahmu dan janganlah melihat orang yg berada di atasmu, agar engkau tidak memandang rendah akan nikmat yg Allah berikan kepadamu.”

    24. Abu Dzarr bertanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?” Jawab:”Cintailah orang2 fakir miskin dan duduklah bersama-sama mereka, agar engkau tidak memandang rendah dan kecil nikmat Allah kepadamu.”

    25. Bertanya Abu Dzarr,”Apa lagi, ya Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab:”Hubungilah kerabatmu, walaupun mereka memutuskan hubungannya dengan engkau.”

    26. Tanya Abu Dzarr,”Apa lagi ya Rasulullah?” Jawab Rasululllah:”Katakanlah apa yang haq (yg benar) walaupun itu merupakan hal yg pahit.”

    27. Tanya,”Apa lagi ya Rasulullah?” Jawab:”Janganlah engkau takut dicerca orang kerana membela agama Allah.”

    28. Tanya,”Apa lagi ya Rasulullah?” Jawab:”Apa yang engkau ketahui tentang dirimu akan mencegahmu mencampuri urusan orang lain dan janganlah engkau sesalkan bahwa orang tidak melakukan apa yg engkau sukai. Dan cukup sebagai aib bahwa engkau mengetahui tentang orang lain apa yg engkau tidak mengetahui tentang dirimu sendiri.”

    Kemudian Rasulullah saw. memukul dadaku dengan tangannya seraya bersabda: “Tiada akal seperti kebijaksanaan, tiada wara’ seperti memahami diri dan tiada kebanggaan seperti akhlak yang baik.”

    ***

    Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 2, Hal. 610-619.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 27 April 2012 Permalink | Balas  

    Bagaimanakah Rasulullah SAW

    1. Makan

    Nabi s.a.w. makan menggunakan tangan kanan. Sewaktu makan, baginda menggunakan 3 jari dan sesudah makan jari-jarinya dihisap sebelum membersihkannya.

    Baginda makan menggunakan suapan yang kecil, berhati-hati hingga makanan tidak terjatuh dari dulang atau tempat hidangan.

    Baginda sering bertanya apakah hidangan makanan itu berbentuk hadiah atau sedekah. Bila makanan itu berbentuk sedekah, baginda tidak memakannya dan menyuruh sahabat makan tetapi bila makanan itu berbentuk hadiah, baginda akan turut makan bersama. (Riwayat Bukhari, Muslim, Nasaai dari Abu Hurairah)

    2. Tidur

    Apabila Nabi s.a.w. merebahkan diri di tempat tidur, baginda sering berdoa yang artinya : “Alhamdulillah yang telah memberi kami makan, minum, tempat perlindungan dan keperluan hidup karena masih banyak yang kurang makan, minum dan tidak mempunyai tempat tidur.” (Riwayat Bukhari Muslim, Abu Daud, Termizi dan Nasaai dari Anas)

    Di waktu Nabi s.a.w. hendak tidur, baginda meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanan baginda. (Riwayat Thabarany dari Hafshah)

    Sebelum Nabi s.a.w. memejamkan mata, baginda berdoa yang artinya : “Ya Allah, dengan namaMu aku hidup dan dengan namaMu aku mati.” Bila bangun dari tidur, baginda mengucapkan: “Alhamdulillah yang menghidupkan kami sesudah kami dimatikan dan kepadaNya kami akan kembali berkumpul,” (Riwayat Ahmad, Muslim dan Nasaai dari al-Barraaq).

    3. Marah

    Kemarahan Nabi saw adalah karena kebenaran, artinya karena kebenaranlah baginda melahirkan kemarahannya. Nabi saw marah dengan cara sopan, sesuai dengan do’anya ini, yaitu:

    “Aku mohonkan kepada Engkau kalimat kebenaran pada saat marah dan suka.”

    Maksudnya, Rasulullah saw tidak berkata kecuali yang benar saja begitu juga waktu marah atau waktu tidak marah. Kemarahan Rasulullah saw karena ada perkara yg tidak disukai yang menyalahi dari yang benar sebagaimana yang diajarkan agama atau yang terang-terangan dilarang oleh agama. [Kitab Matan al-Arba'in - Sheikh Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfuan-Nawawi]

    Imam Ghazali berkata: “Kemarahan manusia bermacam-macam. Setengahnya lekas marah, lekas tenang dan lekas hilang. setengahnya lambat marah, lambat pula redanya. Setengahnya lambat akan marahnya dan lekas pula hilangnya. Yang akhir inilah yang terpuji.”

    4. Ketawa

    Bila nabi s.a.w. ketawa, baginda akan meletakkan tangan di mulut baginda dan bila terjadi sesuatu yang mengembirakan, baginda akan mengucap syukur kepada Allah. Bila bercakap-cakap, baginda sentiasa tersenyum. (Riwayat Abu Daud dan Abu Musa)

    5. Warna & pakaian kesukaan

    Warna yang disukai nabi s.a.w. ialah hijau dan pakaian yang digemari ialah habarah seperti kemeja panjang berwarna putih. (Riwayat Bukhari Muslim)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 26 April 2012 Permalink | Balas  

    7 Rombongan Iblis

    Iblis akan senantiasa mengganggu manusia, mulai dengan memperdayakan manusia dari terjadinya dengan setitik mani hingga ke akhir hayat mereka, dan yang paling dahsyat ialah sewaktu akhir hayat yaitu ketika sakaratul maut. Iblis mengganggu manusia sewaktu sakaratul maut disusun menjadi 7 golongan dan rombongan.

    Hadith Rasulullah SAW. menerangkan: “Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari tipuan syaitan diwaktu sakaratul maut.”

    Rombongan 1

    Akan datang Iblis dengan berbagai rupa aneh seperti emas, perak dan lain-lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lezat-lezat. disebabkan orang yang di dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya sangat tamak dan loba kepada barang-barang tersebut, maka diraba dan disentuhnya barang2 Iblis itu, pada waktu itu nyawanya putus dari tubuh. Inilah yang dikatakan mati yang lalai dan lupa kepada Allah SWT inilah jenis mati fasik dan munafik, ke nerakalah tempatnya.

    Rombongan 2

    Akan datang Iblis kepada orang yang didalam sakaratul maut itu merupakan diri sebagai rupa binatang yang di takuti seperti, Harimau, Singa, Ular yang berbisa. Yang apabila orang yang sedang sakaratul maut itu memandang ke binatang itu, maka dia pun menjerit dan melompat sekuat hati. Maka seketika itu juga akan putuslah nyawa itu dari badannya, maka matinya itu disebut sebagai mati lalai dan mati dalam keadaan lupa kepada Allah SWT, matinya itu sebagai Fasik dan Munafik dan ke nerakalah tempatnya.

    Rombongan 3

    Akan datang Iblis mengacau dan memperdayakan orang yang di dalam sakaratul maut itu dengan menyerupai binatang kesayangannya. Apabila tangan orang yang hendak mati itu meraba-raba kepada binatang kesayangan itu dan waktu tengah meraba-raba itu dia pun mati, maka matinya itu di dalam golongan yang lalai dan lupa kepada Allah SWT. Matinya itu mati Fasik dan Munafik, maka nerakalah tempatnya.

    Rombongan 4

    Akan datang Iblis merupakan dirinya sebagai rupa yang paling dibenci oleh orang yang akan mati, seperti musuhnya ketika hidupnya dahulu maka orang yang di dalam sakaratul maut itu akan menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu kepada musuh yang dibencinya itu. Maka sewaktu itulah maut pun datang dan matilah ia sebagai mati Fasik dan Munafik, dan nerakalah tempatnya

    Rombongan 5

    Akan datang Iblis merupakan dirinya dengan rupa sanak-saudara yang hendak mati itu, seperi ayah ibunya dengan membawa makanan dan minuman, sedangkan orang yang di dalam sakaratul maut itu sangat mengharapkan minuman dan makanan lalu dia pun menghulurkan tangannya untuk mengambil makanan dan minuman yang dibawa oleh si ayah dan si ibu yang dirupai oleh Iblis, berkata dengan penuh kasih “Wahai anakku inilah saja makanan dan bekal yang kami bawakan untukmu dan berjanjilah bahwa engkau akan menurut kami dan menyembah Tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak lagi bercerai dan marilah bersama kami masuk ke dalam syurga.”

    Maka dia pun sudi mengikut tawaran itu dengan tanpa berfikir lagi, ketika itu waktu matinya pun sampai maka matilah dia di dalam keadaan kafir, kekal di dalam neraka dan terhapuslah semua amal kebajikan semasa hidupnya.

    Rombongan 6

    Akan datanglah Iblis merupakan dirinya sebagai ulama’-ulama’ yang membawa banyak kitab-kitab, lalu berkata ia: “Wahai muridku, lama sudah kami menunggu akan dikau, ternyata kamu sedang sakit di sini, karena itu kami bawakan kepada kamu dokter dan obat untukmu.” Lalu diminumnya obat, itu maka hilanglah rasa penyakit itu, kemudian penyakit itu datang lagi. Lalu datang pula Iblis yang menyerupai ulama’ dengan berkata: “Kali ini kami datang kepadamu untuk memberi nasihat agar kamu mati didalam keadaan baik, tahukah kamu bagaimana hakikat Allah?”

    Berkata orang yang sedang dalam sakaratul maut: “Aku tidak tahu.”

    Berkata ulama’ Iblis: “Ketahuilah, aku ini adalah seorang ulama’ yang tinggi dan hebat, baru saja kembali dari alam ghaib dan telah mendapat syurga yang tinggi. Cobalah kamu lihat syurga yang telah disediakan untukmu, kalau kamu hendak mengetahui Zat Allah SWT hendaklah kamu patuh kepada kami.”

    Ketika itu orang yang dalam sakaratul maut itu pun memandang ke kanan dan ke kiri, dan dilihatnya sanak-saudaranya semuanya berada di dalam kesenangan syurga, (syurga palsu yang dibentangkan oleh Iblis untuk tujuan menggoda orang yang sedang dalam sakaratul maut). Kemudian orang yang sedang dalam sakaratul maut itu bertanya kepada ulama’ palsu: “Bagaimanakah Zat Allah?” Iblis merasa gembira apabila jeratnya mengena.

    Lalu berkata ulama’ palsu: “Tunggu, sebentar lagi dinding dan tirai akan dibuka kepadamu.”

    Ketika tirai dibuka selapis demi selapis tirai yang berwarna warni itu, maka orang yang dalam sakaratul maut itu pun dapat melihat satu benda yang sangat besar, seolah-olah lebih besar dari langit dan bumi.

    Berkata Iblis: “Itulah dia Zat Allah yang patut kita sembah.”

    Berkata orang yang dalam sakaratul maut: “Wahai guruku, bukankah ini benda yang benar-benar besar, tetapi benda ini mempunyai enam sisi, yaitu benda besar ini ada kiri dan kanannya, mempunyai atas dan bawah, mempunyai depan dan belakang. Sedangkan Zat Allah tidak menyerupai makhluk, sempurna Maha Suci Dia dari sebarang sifat kekurangan. Tapi sekarang ini lain pula keadaannya dari yang di ketahui dahulu. Tapi sekarang yang patut aku sembah ialah benda yang besar ini.”

    Dalam keraguan itu maka Malaikat Maut pun datang dan terus mencabut nyawanya, maka matilah orang itu di dalam keadaan kafir dan kekal di dalam neraka dan terhapuslah segala amalan baik selama hidupnya di dunia ini.

    Rombongan 7

    Rombongan Iblis yang ketujuh ini terdiri dari 72 barisan sebab dari menjadi 72 barisan ialah karena dia menepati Iktikad Muhammad SAW bahwa umat Muhammad akan terbagi kepada 73 barisan). Satu barisan/golongan yang benar yaitu ahli sunnah waljamaah, 72 yang lain masuk ke neraka karena sesat.

    Ketahuilah bahwa Iblis itu akan mengacau dan mengganggu anak Adam dengan 72 macam yang setiap satu berlainan di dalam waktu manusia sakaratul maut. Oleh karena itu hendaklah kita mengajarkan kepada orang yang hampir meninggal dunia akan talkin Laa Ilaaha Illallah untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan Iblis dan syaitan yang akan berusaha bersungguh-sungguh menggoda orang yang sedang dalam sakaratul maut.

    Disebutkan dalam sebuah hadith yang artinya: “Ajarkan oleh kamu (orangyang masih hidup) kepada orang yang hampir mati itu: Laa Ilaaha Illallah.”

    Wa Allahu A’lam

    ***

    Dari Sahabat

     
    • achmad usman 12:46 pm on 8 Mei 2012 Permalink

      setahu saya, ada ayat quran ( lupa suratnya ) bahwa kematian nabi sulaiman diketahui jin setelah rayap menggrogoti tongkat nabi sulaiman yg sedang duduk, ketika tongkat itu patah dimakan rayap, jatuhlah nabi sulaiman dari kursinya barulah jin tahu bahwa nabi sulaiman telah meniggal dunia,..

      bahwa kematian manusia, hanya ALLAH yg tahu, bangsa jin dan saitan tidak punya kemampuan kapan manusia dicabut nyawanya……..
      bahwa mengajarkan lafadz Laa Ilaaha Illallah kpd manusia yg sakratul maut semata janji sorga bagi yg dapat mengucapkan kata2 itu… ( ini baru hadis nabi )…..
      gangguan iblis 72 macam kpd hamba Allah yg sakratul maut, ..saya tidak tahu sumber dan dari mana sumber itu anda tahu…….wassalaam……………….

  • erva kurniawan 1:33 am on 21 April 2012 Permalink | Balas  

    Hidup Zuhud

    Manusia adalah makhluk pengejar kebahagiaan. Namun, tak semua manusia mencicipi hidup bahagia. Karena tidak setiap manusia tahu bagaimana merengkuh kebahagiaan.

    Kebahagiaan tergantung pada pola hidup. Islam menganjurkan pola hidup zuhud. Apakah zuhud itu? Zuhud terumuskan dalam dua kalimat Alquran.

    ”Supaya kamu tidak bersedih karena apa yang lepas dari tanganmu dan tidak bangga dengan apa yang diberikan kepadamu.” (QS Al-Hadid: 23).

    Ada dua ciri zahid (individu yang menjadikan zuhud sebagai pola hidup).

    Pertama, zahid tidak menggantungkan kebahagiaan hidupnya pada apa yang dimiliki. Bila bahagia ditambatkan pada kendaraan yang dimiliki, kala kendaraan itu tergores, hilanglah bahagia yang bersemayam di dada. Jika hati dilabuhkan pada yang dimiliki, maka saat apa yang dimiliki itu terlepas dari genggaman, terlepaslah kebahagiaannya.

    Kedua, kebahagiaan zahid tidak terletak pada materi, tapi pada dataran spiritual. Hidup akan menjelma menjadi guyonan yang mengerikan bila makna bahagia disandarkan pada benda. Sebab, benda hanya menunggu waktu untuk lenyap.

    ”Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS Al-Rahman: 26-27).

    Hakikat zuhud bukanlah meninggalkan dunia, namun tidak meletakkan hati padanya. Zuhud bukan menghindari kenikmatan duniawi, tetapi tidak meletakkan nilai yang tinggi padanya.

    ”Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seorang yang memasukkan jarinya dalam lautan besar, maka perhatikan berapa dapatnya. (HR Muslim).

    Oleh sebab itu, zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal.

    ”Zuhud terhadap kehidupan dunia tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti dari apa yang ada pada Allah SWT dan hendaklah engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu.” (HR Ahmad).

    Dalam hadis Qudsi, diriwayatkan,

    ”Allah berfirman wahai dunia, berkhidmatlah kepada orang yang telah berkhidmat kepada-Ku, dan perbudaklah orang yang mengabdi kepadamu. (HR Al-Qudlai).”

    Ringkasnya, rumus hidup bahagia adalah kemampuan memilih nikmat yang abadi di atas kenikmatan yang fana. Bagaimana supaya baju zuhud dapat dikenakan? Dalam Nashaih Al-Ibad, Syaikh Nawawi al-Bantani menceritakan kisah Ibrahim bin Adham tentang mencapai zuhud.

    Beliau menjawab, ”Ada tiga sebab, saya melihat kuburan itu mengerikan, sedangkan belum kudapati pelipur (atasnya). saya melihat jarak perjalanan amatlah jauh, padahal belum kumiliki bekal, dan saya melihat Allah yang Maha perkasa akan mengadili, padahal belum kudapati alasan (untuk mengelak dari hukumannya). ”

    ***

    (M Subhi-Ibrahim, HIKMAH – REPUBLIKA )

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 20 April 2012 Permalink | Balas  

    Nabi Muhammad SAW Makhluk Teragung

    Nabi Muhammad saw meskipun sama kejadiannya dengan manusia lain di muka bumi ini, namun bentuk lahiriah dan rohaniahnya tidak sama. Baginda mempunyai keistimewaan yang sama sekali tidak terdapat pada manusia-manusia biasa. Sebagai manusia yang terbaik di muka bumi ini, Baginda dianugerahkan dengan keperibadian dan perwatakan yang istimewa karena padanyalah terdapat contoh untuk diteladani.

    Umum mengetahui keadaan yang zahir adalah gambaran yang terjelma dari unsur-unsur batin. Rupa paras seseorang boleh membantu menjelaskan keperibadian setiap individu. Ciri-ciri seperti bentuk badan, sifat fizikal dan rupa bentuk anggota adalah menggambarkan tentang akal dan akhlak seseorang. Begitulah dengan Nabi Muhammad saw. yang mempunyai bentuk badan yang indah dan segak, namun tidak dapat digambarkan oleh semua pelukis potret di dunia ini. Allah mengharamkan penggambaran potret Baginda oleh sesiapa saja. Sungguhpun begitu sifat-sifat kecantikan baginda masih boleh diillusikan melalui pertuturan dan riwayat para sahabat dan tabi’in.

    Begitu indahnya sifat fizikal Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bersua muka dengan Baginda lantas melafazkan keIslaman dan mengaku akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Baginda. Ulama Yahudi berkenaan terpukau dengan raut paras dan akhlak baginda yang sudah tentunya milik seorang Rasul Agung di muka bumi ini. Para sahabat yang sentiasa bersamanya sentiasa meneliti bentuk tubuh tokoh kesayangannya secara terperinci. Di antara kata-kata appresiasi mereka yang pernah melihat baginda saw:

    • Aku belum pernah melihat lelaki yang sekacak Rasulullah. Aku melihat cahaya memancar dari lidahnya.
    • Seandainya kamu melihat Rasulullah, kamu akan merasa seolah-olah sedang melihat matahari terbit.
    • Aku pernah melihat Rasulullah saw di bawah sinaran bulan. Aku bandingkan wajahnya dengan bulan, akhirnya aku sadari bahwa Rasulullah saw jauh lebih cantik daripada sinaran bulan.
    • Rasulullah saw seumpama matahari yang bersinar. Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah saw.
    • Apabila Rasulullah saw berasa gembira, wajahnya bercahaya seperti bulan purnama dan dari situ kami mengetahui yang baginda sedang gembira.
    • Kali pertama memandangnya, sudah tentu kamu akan terpesona
    • Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat
    • Wajahnya seperti bulan purnama
    • Dahi Baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya. Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.
    • Mata Baginda hitam dengan bulu mata yang panjang
    • Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli di bahagian sudut.
    • Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali pertama kali melihatnya.
    • Mulut baginda sederhana luas dan cantik
    • Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.
    • Apabila berkata-kata cahaya kelihatan memancar dari giginya
    • Janggutnya penuh dan tebal menawan
    • Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca. Warna lehernya putih seperti perak sangat indah.
    • Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya
    • Rambutnya sedikit ikal
    • Rambutnya tebal kadang-kadang menyentuh pangkal telinga dan kadang-kadang mencecah bahu tapi disisir rapi
    • Rambutnya terbelah di tengah
    • Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur dari dada ke pusat
    • Dadanya bidang dan selaras dengan perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih daripada biasa
    • Seimbang antara kedua bahunya
    • Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya , jarinya juga besar dan tersusun dengan cantik
    • Aku tidak pernah menyentuh sebarang sutera yang tipis mahupun tebal yang lebih lembut daripada tapak tangan Rasulullah saw.
    • Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik. kakinya berisi, di tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air. Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.
    • Warna kulitnya tidak putih seperti kapur atau coklat tapi campuran antara coklat dan putih. Warna putihnya lebih banyak.
    • Warna kulit Baginda putih kemerah-merahan
    • Warna kulitnya putih tapi sehat
    • Kulitnya putih lagi bercahaya
    • Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kukuh
    • Badannya tidak gemuk
    • Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran sederhana lagi kacak
    • Perutnya tidak buncit
    • Badannya cenderung kepada tinggi. Semasa berada di kalangan orang ramai, baginda kelihatan lebih tinggi daripada mereka
    • Sekalipun baginda miskin dan lapar tapi tubuhnya lebih gagah dan sehat daripada orang yang cukup makan. Aku tidak pernah melihat seorang lelaki yang lebih gagah dan berani daripada Rasulullah saw.

    Begitu hebat personaliti dan ketokohan Baginda saw., makhluk terpuji dan teragung di muka bumi. Kesimpulannya Nabi Muhammad saw. adalah manusia agung yang ideal dan sebaik-baik contoh sepanjang zaman.

    MORAL & IKTIBAR

    Nabi Muhammad saw. adalah manusia terbaik pilihan Allah. Sifatnya yang terpuji merangkumi aspek fizikal dan rohani. Atas sifatnya yang superior inilah baginda dilantik menjadi pemimpin seluruh manusia di dunia ini.. Baginda adalah manusia mithali yang serba lengkap dan serba kamil dan layaklah baginda tidak disentuh sebarang dosa lagi bersifat dengan maksum. Kepimpinan Baginda sepatutnya menjadi contoh teladan kepada semua manusia di muka bumi ini. Barangsiapa mentaati Allah tanpa mengakui kerasulan Nabi saw, nescaya Allah tidak menerima keimanannya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 18 April 2012 Permalink | Balas  

    Menjadi Suami yang Mempesona, Mengapa Tidak?

    Menjadi istri yang mempesona suami? Itu hal biasa yang telah banyak dibahas dalam berbagai literatur, kajian, diskusi dan kesempatan. Tetapi tahukah Anda wahai para suami, para istri juga menginginkan laki-laki yang mempesona sebagai suaminya. Meski gambaran suami yang mempesona boleh jadi relatif, berbeda antara satu perempuan dengan perempuan lainnya, tetapi dapat dikatakan secara umum kaum perempuan membutuhkan pesona yang dapat lebih membuat mereka senantiasa mencintai suaminya.

    Boleh jadi selama ini Anda para suami menyangka bahwa istri Anda mencintai Anda karena ia telah mendampingi, melayani, melahirkan dan mengasuh anak-anak Anda. Mungkin hal itu benar, tetapi untuk membuat perasaan istri Anda tidak berubah ia tetap selalu mencintai Anda dari waktu ke waktu dibutuhkan lebih banyak proses, perbuatan, tingkah laku yang semuanya bermuara pada satu titik bahwa Anda tetap mempesonanya, sehingga ia menganggap Anda layak untuk mendapatkan cintanya untuk selamanya.

    Ada satu pelajaran yang menarik terutama untuk para suami dari kisah seorang perempuan yang mendatangi Rasulullah SAW untuk menceritakan, bahwa sekian lama berumah tangga ternyata perasaannya mengalami perubahan, ia tidak lagi bisa mencintai suaminya dan karena itu ia khawatir berbuat kekufuran.

    Adalah istri Tsabit bin Qais bin Syamas (sahabat Rasulullah SAW) yang bernama Jamilah, ia mendatangi Rasulullah SAW untuk menceritakan perasaannya terhadap suaminya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak mencela agama dan akhlak Tsabit, tetapi aku khawatir jika hidup bersamanya aku berbuat kekufuran.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apakah engkau hendak mengembalikan kebunnya?” (waktu itu mahar Tsabit adalah kebunnya). Jamilah menjawab, “Benar ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah mengutus seseorang kepada Tsabit untuk menyampaikan pesannya,”Terimalah kebun itu dan ceraikanlah dia.” (HR Bukhari dari Ibnu Abbas ra)

    Kisah lainnya yang juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas ra berikut ini menunjukkan bahwa seorang istri diperbolehkan melepaskan diri dari suami yang tidak dapat dicintainya. Barirah adalah seorang budak wanita dari Habasyah yang berada dibawah kekuasaan Utbah bin Lahab. Majikannya ini memaksa Barirah untuk menikah dengan seorang yang tidak disukainya yaitu budak laki-laki bernama Mughits. Merekapun menikah, Barirah tidak mencintai suaminya tapi sebaliknya Mughits sangat mencintai istrinya. Ummul Mukminin Aisyah ra merasa kasihan kepada Barirah, beliau lalu membeli dan memerdekakannya. Setelah itu Barirah merasa benar-benar memiliki kebebasannya dan merasa dapat menentukan hidupnya, maka ia meminta cerai dari suaminya. Ibnu Abbas ra berkata, “Suami Barirah adalah seorang budak bernama Mughits, seakan-akan aku melihatnya berjalan dibelakangnya sambil menangis, air matanya menetes sampai ke jenggotnya. Nabi SAW berkata kepadaku , “Wahai Ibnu Abbas, tidakkah engkau takjub pada cinta Mughits pada Barirah dan kebencian Barirah pada Mughits?’ Selanjutnya Nabi berkata kepada Barirah, “Seandainya engkau mau kembali, sesungguhnya dia adalah suamimu dan ayah anakmu.” Maka Barirah bertanya, “Apakah engkau memerintahkan aku ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku hanya menawarkan kepadamu.” Barirah berucap, “Aku tidak membutuhkannya”.

    Nah, para suami, beberapa saran berikut ini dapat membantu Anda untuk menjadi pribadi yang mempesona dimata istri Anda:

    Memperhatikan penampilan luar.

    Tidak disangsikan lagi bahwa penampilan luar dapat membangkitkan pesona pada jiwa perempuan. Suami yang dapat menjaga kebersihan dirinya, rapi dan perlente umumnya lebih mempesona ketimbang suami yang jorok, lusuh dan kumal. Bukankah Rasulullah SAW bersabda bahwa kebersihan itu cabang iman? Umar bin Khattab ra pun pernah berkata, “Perempuan menyukai kalau suaminya berhias untuk dirinya, sebagaimana laki-laki suka istrinya berhias untuk dirinya.”

    Tidak Kaku dan Monoton

    Suami seperti ini selalu mau belajar memahami perasaan istrinya, punya banyak cara dan gaya dalam mengungkapkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada istrinya, juga tidak enggan untuk menyatakan cintanya dengan kata-kata.

    Terbuka

    Suami seperti ini tidak enggan mengungkapkan harapan, keinginan dan perasaannya agar istri mengerti dan dapat melakukan hal yang sesuai dengan yang dikehendakinya. Ia bukan suami yang diam dan membiarkan istrinya dalam kesulitan menebak-nebak apa yang diinginkannya.

    Matang

    Kebanyakan perempuan ketika menikah menginginkan suaminya adalah orang yang siap melindungi, membimbing dan dapat menjadi tempat bersandar. Laki-laki yang matang seperti ini lebih mempesona perempuan dibanding yang kekanak-kanakan dan emosional.

    Peduli dengan Keluarga

    Adalah benar suami memiliki tanggung jawab dalam masalah nafkah, tetapi kesibukannya dalam pekerjaan atau hal lainnya tidak membuatnya menjadi orang yang acuh terhadap istri dan anak-anaknya. Ia mau menemani anak belajar dan tidak keberatan mengantar istrinya pergi menghadiri acara-acaranya.

    Dapat Berbagi Rasa

    Suami mempesona mau belajar bagaimana dapat ikut merasakan apa yang sedang dirasakan istrinya. Ia mau mendengar dengan penuh perhatian ketika istri sedang mengungkapkan permasalahannya, ikut merasakan kegelisahannya dan dapat membantu menentramkannya atau mengatasi permasalahannya. Ia adalah tempat curhat istrinya yang setia dan dapat dipercaya.

    Mencintai Orang Tua, Saudara dan Kerabat Istri

    Anda akan semakin mempesona istri Anda manakala Anda mencintai orang tuanya, menyayangi saudara-saudaranya dan bersikap baik kepada kerabatnya. Dan jika Anda senantiasa bersikap demikian maka percayalah iapun akan berusaha keras untuk mencintai orang tua Anda dan bersikap baik pada saudara dan kerabat Anda.

    Jangan ragu dan gengsi untuk melakukan saran-saran diatas, mulailah sekarang juga maka Anda akan takjub mendapati limpahan cinta istri Anda yang seolah tanpa batas, karena begitulah sifat dan karakter perempuan, ia akan memberi lebih dari apa yang Anda berikan kepadanya!***

    Wallahua’lam bishawab…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 17 April 2012 Permalink | Balas  

    Menghantarkan Orang Tua ke Surga

    Masih ingatkah kita dengan sebuah kisah di masa Rasulullah? Tentang ketaatan seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya berjihad dengan satu pesan, “Jangan pergi sebelum saya pulang”. Dan ternyata, dalam masa kepergian suaminya, orangtuanya sakit keras. Saudara-saudaranyapun memintanya hadir, untuk menemui orang tuanya yang sedang sakit, namun karena ketaatannya kepada suami, dia tak juga berangkat menemui orang tuanya hingga meninggal. Tentu, kita semua mengingatnya bukan?

    Bagi kita manusia biasa, peristiwa tersebut terasa amat janggal. Tak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang anak mampu bertahan tidak menemui orang tuanya yang sedang sakit keras bahkan sampai meninggal, hanya karena taat kepada pesan suami. Mungkin, sebagian kita bahkan akan mengumpat dan mencaci maki kepada wanita tersebut bila kita hidup di masa itu.

    Kita akan katakan kepada wanita tersebut sebagai anak yang tak berbakti, anak yang tak tahu balas budi atas kasih sayang orang tua, anak yang keterlaluan, tak punya perasaan, dan berbagai umpatan yang lainnya.

    Namun, apa kata Rasulullah ketika ditanya tentang kejadian itu? Rasulullah dengan mantap menjawab, bahwa orang tua wanita tersebut masuk surga karena telah berhasil mendidik anaknya menjadi wanita shalihah. Subhaanallah!

    Karenanya, marilah kita para orang tua berusaha sekuat tenaga, untuk menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihah. Anak yang akan senantiasa mendo’akan kita kapan pun dan di manapun berada. Anak lelaki yang mampu menjadi qowwam bagi keluarganya, dan tetap berbakti kepada orang tuanya, serta anak perempuan yang menjadi istri dan ibu shalihah, yang mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang shaleh dan shalihah pula.

    Kepada para orang tua yang telah mengantarkan putra-putrinya ke dalam kehidupan rumah tangga, janganlah menjadi orang tua yang egois, yang selalu ingin didampingi anak-anak, dan tak mau melepaskan kepergiannya. Relakan anak-anak pergi dari pangkuan kita, untuk menjalani hidup mandiri, menjadi nahkoda kapal layar yang telah dibangunnya, sebagai salah satu bukti kasih sayang kita kepada mereka.

    Do’akan selalu, agar anak-anak lelaki kita dapat menjadi nahkoda-nahkoda yang handal, yang mampu mengarahkan bahtera rumah tangga menjadi rumah tangga yang barokah, penuh cinta dan kasih sayang, serta mampu menjadi qowam bagi istri dan anak-anaknya. Do’akan pula agar anak-anak perempuan kita dapat menjadi istri-istri sholihah, yang dapat mencipatakan susana rumah yang bagaikan surga dunia dimata keluarganya, mampu melahirkan anak-anak yang taat kepada Allah dan kepada kedua orang tuanya, serta mampu memberikan rasa nyaman kepada suami dan anak-anaknya. Hingga pada akhirnya, mereka menjadi pengantar-pengantar kita meraih surga-Nya. Insya Allah. Aamiin.

    Wallohu a’lam bbishshowwab.

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 16 April 2012 Permalink | Balas  

    Jilbab Itu Indah

    Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab? Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau? Di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.

    Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas “Tank Top”, noleh ke kiri pemandangan “Pinggul terbuka”, menghindar kekanan ada sajian “Celana ketat plus You Can See”, balik ke belakang dihadang oleh “Dada menantang!” Astaghfirullah… kemana lagi mata ini harus memandang?

    Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! Tapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran “ngeres” dan hatipun menjadi keras. Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk memakai aset berharga yang mereka punya.

    Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih… dan lebih lagi. Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki? Yaitunya: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan!

    Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya “lelaki” bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang ini.

    Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.

    Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya…? tapi saya sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan nanti? sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya. Allah Taala telah berfirman: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur : 30-31).

    Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggung jawabkan nantinya. Jadi tak salah juga bukan? kalau saya paling malas diajak ke mall, jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.

    Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan?

    So, berjilbablah … karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, canti, mempersona dan tentunya sejuk dimata.

    ***

    Sumber: Friendster Bulletinboard

     
    • ram 12:33 pm on 16 April 2012 Permalink

      Wanita remaja dan dewasa pakai jilbab tapi busananya ketat, sama juga ngumbar bentuk tubuh.
      Laki-laki muslim harus menahan pandangannya, bagi yang belum menikah, perbanyak puasa, amal dan ibadah.

    • irahakim 4:46 pm on 16 April 2012 Permalink

      Tulisannya amat jujur dan mengena, semoga makin banyak lelaki yang berfikiran sama lalu meluruskan pandangannya, dan juga wanita yang sadar untuk tidak “dzolim visual” terhadap lelaki :)

    • widytanpanama 6:09 pm on 16 April 2012 Permalink

      boleh saya share?

    • DolPin Merchandise Nikah 7:57 am on 17 April 2012 Permalink

      Cewek kalo pake jilbab lebih cantik
      save artikel ini ah, buat adek2

      maen kesini ya gan http://www.dolpinjogja.wordpress.com

    • DolPin Merchandise Nikah 8:04 am on 17 April 2012 Permalink

      kata orang tips bagi laki2 cuman 1
      NIKAH

      http://hantaranmaharhias.wordpress.com/

    • Putri 8:30 pm on 17 Juni 2012 Permalink

      saya suka tulisannya,, klo share ke group kira2 ada yg tersinggung gk yaa?

  • erva kurniawan 1:34 am on 15 April 2012 Permalink | Balas  

    Tanda-tanda Mencintai Allah

    Oleh : Imam Al Ghozali

    Seseorang itu hendaklah tidak benci kepada mati karena tidak ada orang yang enggan bertemu dengan sahabatnya. Nabi Muhammad saw bersabda: “Siapa yang ingin bertemu Allah, Allah ingin bertemu dengannya.” Memang ada juga orang yang ikhlas cintanya kepada Allah merasa gentar apabila mengingat kedatangan mati sebelum ia bersedia untuk pulang ke akhirat. Tetapi jika ia betul-betul ikhlas, ia akan bertambah rajin berusaha untuk membuat persediaan itu.

    Seseorang itu mestilah bersedia mengorbankan kehendaknya untukmengikuti kehendak Allah. Ia coba segala upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan benci kepada apa saja yang menjauhkan dirinya dari Allah. Dosa yang dilakukan oleh seseorang itu tidaklah menandakan ia tidak mencintai Allah sama sekali, tetapi itu menunjukkan bahwa ia tidak mencintai Allah sepenuh jiwa dan raga. Fudhail bin Iyadh berkata kepada seseorang: “Jika seseorang bertanya kepadamu apakah kamu cinta kepada Allah, hendaklah kamu diam. Jika kamu berkata: ‘Saya tidak cinta kepadaNya’, maka kamu kafir. Tetapi jika kamu berkata: ‘Saya cinta’, maka perbuatan kamu berlawanan dengan kata-katamu.”

    Ingat kepada Allah senantiasa ada dalam hati seseorang, tanpa ditekan atau diusahakan benar. Ini karena apa yang kita cintai itu senantiasa kita ingat.

    Sekiranya cinta itu sempurna, ia tidak akan lupa yang dicintainya itu. Ada juga kemungkinan bahwa senantiasa cinta kepada Allah itu tidak mengambil tempat yang utama dalam hati seseorang, maka cinta kepada mencintai Allah itu mungkin mengambil tempat juga. Cinta itu satu perkara dan cinta kepada cinta itu adalah perkara yang lain pula.

    Seseorang itu cinta kepada Al-Quran, yaitu Kalam Allah dan cinta kepada Nabi Muhammad yaitu Rasul Allah. Jika cintanya benar-benar kuat, ia akan cinta kepada semua manusia karena mereka semuanya hamba Allah. Bahkan cintanya meliputi semua makhluk, karena orang yang cinta kepada seseorang itu tentulah kasih juga kepada apapun yang dilakukan oleh kekasihnya itu termasuklah tulisan atau karangannya.

    Seseorang itu suka duduk sendirian untuk maksud beribadat. Ia suka malam itu lekas datang agar ia dapat berbicara dengan sahabatnya tanpa gangguan. Jika ia suka berbincang-bincang di siang hari dan tidur di malamnya maka itu menunjukkan cintanya tidak sempurna. Allah berfirman kepada Nabi Daud: “Janganlah terlalu dekat dengan manusia karena ada dua jenis manusia tersingkir dari majlisKu: yaitu mereka yang benar2 mencari ganjaran dan menjadi malas apabila mereka mendapat ganjaran itu; dan mereka yang mementingkan diri mereka sendiri lalu melupakan Aku. Tanda tidak ridhonya Aku ialah Aku biarkan mereka begitu.”

    Pada hakikatnya, jika cinta kepada Allah itu benar-benar mengambil tempat seluruhnya di dalam hati seseorang itu, maka cinta kepada yang lain itu tidak akan dapat mengambil tempat langsung di dalam hati itu. Diceritakan bahwa seorang dari Bani Israel mempunyai kebiasaan sembahyang di malam hari. Tetapi apabila melihat burung bernyanyi di pohon dengan merdu sekali, dia pun sembahyang di bawah pohon itu supaya dapat menikmati nyanyian burung itu. Allah menyuruh Nabi Daud berjumpa dengan dia dan berkata: “Engkau telah mencampurkan cinta kepada nyanyian burung dengan cinta kepadaKu. Martabat engkau di kalangan auliya Allah telah diturunkan.”

    Sebaliknya ada pula orang yang terlalu cinta kepada Allah. Di suatu hari ia sedang melakukan ibadatnya kepada Allah, rumahnya terbakar. Ia tidak nampak atau menyadari akan kejadian itu.

    Seseorang beribadat dengan perasaan senang. Seorang wali Allah berkata: “Dalam tiga puluh tahun yang pertama aku melakukan sembahyang malam dengan susah payah sekali. Dalam tiga puluh tahun yang kedua sembahyang itu menjadi enak dan nikmat.” Apabila cinta kepada Allah itu sempurna, maka tidak ada kenikmatan yang sebanding dengan kenikmatan ibadat

    Seseorang itu cinta kepada orang yang taat kepada Allah dan benci kepada orang-orang kafir dan orang-orang yang durhaka kepada Allah. Al-Quran menyatakan: “Mereka itu berkasih sayang terhadap orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir.”

    Nabi bertanya kepada Allah, “Wahai Tuhan, siapakah kekasihMu?” Terdengarlah jawaban, “siapa yang berpegang teguh kepadaKu seperti bayi dengan ibunya, mengambil perlindungan dengan mengingatKu seperti burung mencari perlindungan di sarangnya, dan yang marah melihat dosa seperti singa yang marah yang tidak takut kepada apa dan siapa pun.”

    ***

    Referensi : Kimia’u Sa’adah (Kimia Kebahagian)

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 11 April 2012 Permalink | Balas  

    Ikhlas

    Ikhlas. Inilah kata yang mudah sekali diucapkan -saya rela kok, saya ikhlas kok- tetapi sangat susah diaplikasikan dalam perbuatan sehari-hari. Karena ikhlas adalah amalan hati. Karena ikhlas tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Kita hanya dapat melihat dari tanda-tandanya. Itupun tidak pasti. Inilah (mungkin) sebagian makna dari keikhlasan:

    Ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak mendapat pujian dari orang lain, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak diekspos oleh media massa/elektronik, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata mendapat tanggapan yang negatif oleh orang lain, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak dicatat oleh sejarah, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata merugikan diri kita sendiri secara lahiriah, disitulah makna keikhlasan; dan seterusnya.

    Ada ataupun tidak ada orang lain kita tetap melakukan kebaikan; dicatat ataupun tidak dicatat oleh sejarah kita tetap melakukan kebaikan; diekspos ataupun tidak oleh media massa/elektronik kita tetap melakukan kebaikan; Ada ataupun tidak ada orang lain kita tetap melakukan kebaikan; mendapat pujian ataupun tidak kita tetap melakukan kebaikan; mendapat tanggapan positif ataupun negatif kita tetap melakukan kebaikan; dan seterusnya.

    Sehingga dalam Al Qur’an Surat 38:83 disebutkan salah satu kejujuran dari iblis/syetan bahwa dia tidak dapat menggoda orang-orang yang ikhlas.

    Wallahu A’lam bis Showab

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 10 April 2012 Permalink | Balas  

    Prasangka

    Allah SWT berfirman : “Hai orang – orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (At Taubah : 12)

    Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Jauhilah oleh kalian berprasangka, karena berprasangka merupakan seburuk-buruk pembicaraan, serta janganlah kalian meraba- meraba dan mencari-cari kesalahan orang lain. Janganlah kalian saling berdebat, saling hasut-menghasut, saling benci-membenci dan saling belakang – membelakangi, tetapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan kepada kalian. Orang Islam adalah saudara bagi orang Islam yang lain, tidak boleh saling menganiaya, membiarkan, mendustakan, dan saling menghina. Takwa itu disini dan (sambil) beliau mengisyaratkan (menunjuk)ke dadanya tiga kali. Cukuplah seseorang dikatakan orang jahat (buruk perangai) apabila dia menghina saudaranya yang Islam. Setiap orang Islam terhadap orang Islam yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya, dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak memandang tubuh, rupa, dan amal – amal perbuatanmu, tetapi Allah memandang kepada hatimu.” (HR.Bukhari & Muslim)

    “Gossip” mungkin kata ini bisa mewakili sebagian dari gambaran diatas. Ia sudah tidak asing lagi di telinga kita & seringkali menjadi tema pembicaraan sehari-hari, dan bahkan menjadi acara TV yang digemari. Dengan atau tanpa disadari, seringkali kita terperangkap didalamnya. Awalnya mungkin hanya sekilas mendengar, lalu menyimak, dan akhirnya ‘urun rembug’. “Seru” memang kala bergossip ria, tapi apakah kita sadar sebagian besar gossip itu adalah prasangka, dan kemungkinan besar orang yang menjadi objek gossip itu akan sakit hati atau bahkan menimbulkan fitnah, apakah kita mau, jika suatu saat, kitalah yang menjadi objek..?

    Pada hadits yang lain, dari Ibnu Mas’ud ra, bahwasanya ada seseorang yang dihadapkan kepadanya, kemudian dikatakan bahwa si Fulan itu jenggotnya masih meneteskan minuman keras, kemudian Ibnu Mas’ud berkata : “Sesungguhnya kami telah dilarang untuk mencari-cari kasalahan, tetapi kalau kami benar-benar mengetahui adanya suatu penyelewengan, maka kami pasti akan menghukumnya.” (HR. Abu Dawud)

    Dan pada surat Al Hujurat : 11, Allah berfirman : “Hai Orang – orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok- olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan), dan janganlah pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita- wanita (yang dolok-olokkan), lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan), dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu pangil memanggil dengan gelar – gelar yang buruk. Seburuk – buruk panggilan ialah (panggilan)yang buruk sesudah iman, dan itulah orang-orang yang zalim.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 9 April 2012 Permalink | Balas  

    Takut

    Rasa takut (khauf) selalu ada pada diri manusia. Ia muncul silih berganti dengan perasaan-perasaan lainnya. Meski keberadaannya wajar, namun umumnya manusia selalu berusaha menghilangkan rasa takut.

    Bahkan, sebisa mungkin menggantikannya dengan keberanian (saja’ah). Maka, tak berlebihan bila Ibnu Hazm, dalam al-Akhlaq washiyar mengatakan, “Tak ada satu tujuan pun yang dicari manusia dalam hidup ini kecuali untuk menghilangkan perasaan takut dan duka cita.”

    Memang, usaha menghilangkan perasaan ini menjadi tujuan inti, bahkan merupakan motif utama yang mendasari seluruh perbuatan dan aktivitas manusia. Orang mencari kekayaan dan harta sebanyak-banyaknya pada hakekatnya berusaha untuk menghilangkan ketakutan dan kemiskinan. Orang mencari popularitas merupakan usaha menolak ketertindasan dan perbudakan. Orang mencari ilmu pengetahuan karena takut akan bodoh dan dungu. Orang mencari kawan karena ingin membuang kesunyian dan keterasingan. Sejarah mencatat bagaimana Qarun tamak menimbun harta, karena takut akan kemiskinaan dan kehilangan harta. Fir’aun la’natullah ‘alaihi, juga takut jabatan dan kekuasaan tercabut dari genggamannya. Maka ia bunuh setiap bayi laki-laki yang lahir.

    Tapi, cukupkah manusia dengan rasa takut seperti itu? Tidak. Ia membutuhkan dimensi lain dari rasa takutnya. Yaitu rasa takut ukhrawi. Rasa takut seperti inilah sebenarnya yang bisa mendatangkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan hidup. Karena ia bermuara pada maghfirah Allah. Begitulah para salafushalih mencontohkan.

    Umar bin Abdul Aziz, sewaktu kecil sangat peka dan mudah berurai air mata karena rasa takutnya kepada Allah SWT. Suatu hari, ibunya menjumpai Umar kecil sedang menangis di kamar. Melihat itu, ibunya menghampiri dan merengkuh puteranya ke dalam pelukan. Sang ibunda lalu menanyakan perihal kesedihannya itu. “Tiada sesuatu pun wahai Ibunda, hanya saja ananda takut karena teringat akan mati,” jawab Umar tulus.

    Shalih Ibnu Kaisan, seorang ulama besar Madinah (guru dari Umar bin Abdul Aziz), mengisahkan masa kecil Umar. “Saya belum pernah mendengar seseorang yang demikian besar rasa takutnya kepada Allah SWT melebihi Umar.” Sedangkan Fatimah, istri Umar mengatakan, “Ia selalu mengingat Allah meskipun di tempat tidurnya, tubuhnya gemetar laksana seekor burung pipit yang kedingingan karena rasa takutnya. Bahkan aku sering berkata dalam hati, jangan-jangan esok hari, saat semua orang bangun dari tidurnya, mereka telah kehilangan khalifah mereka.” Sementara Ali bin Zaid memberitahukan, Umar bin Abdul Aziz selalu ketakutan seakan-akan neraka itu diciptakan untuk dirinya saja.”

    Takut seperti ini akan melahirkan jiwa-jiwa muttaqin. Bukan seperti takutnya manusia kepada sesamanya, binatang atau sesuatu lainnya. Namun takut yang diliputi oleh hati yang khusyu’ dan menerima ketentuan qadar-Nya. Takut kalau dijauhkan rahmat dan barakah-Nya. Seperti ditulis Najati dalam Al-Qur’an wa ‘ilmun nafs, bahwa takut kepada Allah di samping melahirkan sikap muttaqin, juga dapat menghindarkan diri dari bahaya. Sebab, rasa takut membuat orang selalu berfikir dan berhati-hati dalam melangkah, serta mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi.

    ***

    Oleh Taufik

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 5 April 2012 Permalink | Balas  

    Hukum Ghibah

    Apakah ghibah itu? yaitu mengucapkan perkataan (atau dengan gerak badan, mata, tulisan dsbnya) sesuatu yang tidak disukai pada diri orang lain. Termasuk yang tidak disenangi itu ada pada badannya, tingkah laku, agamanya dan sebagainya.

    Menurut al-Ghazali, definisi ini adalah yang telah diijma’kan oleh kaum muslimin (tiada seorangpun menolak). Maksudnya, mereka bersepakat mengatakan bahwa inilah definasi ghibah. Ghibah, dalam bahasa indonesia lebih dikenal Dengan kata mengumpat. Yaitu menceritakan keburukkan orang lain di belakangnya.

    Hukum Ghibah Umat Islam seluruhnya juga telah ijma’ mengatakan bahwa hukum ghibah adalah haram. Sebagian dalilnya ada termaktub pada ayat al-Quran dan hadis. Rasulullah s.a.w. bersabda : orang yang mengutuk orang Islam yang lain adalah fasik (melakukan maksiat )

    Dan siksaannya amat berat sekali, karena ia adalah termasuk diantara dosa-dosa besar. Dalam sebuah hadis diceritakan Ada 2 orang yang akan menerima siksa di alam kubur yaitu :

    1. Orang yang suka menyampaikan aib orang lain
    2. Orang yang tidak bersuci (sucinya tidak sempurna ) sehabis buang air kecil (kencing ).

    Namimah Adalah mengadu domba yaitu menyampaikan perkataan orang lain kepada yang lainnya dengan maksud kedua belah pihak berkelahi. Jadi, apabila hukum ghibah dan namimah itu haram, maka menasehati orang yang melakukan ghibah adalah wajib.

    Dalam menghadapi kemungkaran ada 3 hal yang harus kita lakukan menurut aturan agama kita, yaitu :

    1. Hentikan dengan kekuasaan bila kita punya kuasa.
    2. Cegah dengan perkataan
    3. Tolak dengan hati

    Namun sesungguhnya bila kita hanya mampu melakukan yang no 3 adalah termasuk orang yang lemah imannya.

    Ghibah yang diperbolehkan Hukum ghibah adalah haram. Ini adalah hukum asal. Atas alasan-alasan syarak ghibah diperbolehkan. Apakah alasan syarak itu? Yaitu ingin mencapai satu tujuan yang benar menurut pertimbangan syarak, di mana jika tidak melalui cara itu tujuan itu tak mungkin akan tercapai. Walaupun demikian, jika ada cara lain yang lebih baik sebaiknya ghibah ditinggalkan.

    Dalam masalah yang anda hadapi, saudara ingin Membela diri. maka dibenarkan jika: a) atas tujuan yang dibenarkan oleh syarak b) Jika tiada jalan lain melainkan dengan membuka aib orang lain. Contohnya, saudara telah dituduh mencuri, sedangkan saudara tahu siapa yang mencuri. Saudara terpaksa mempertahankan diri dengan berkata benar. Ini biasa berlaku di pengadilan. Pengadilan terpaksa membuka aib mereka yang terlibat untuk tujuan yang dibenarkan oleh syarak, yaitu membuktikan benar atau salahnya orang yang dituduh.

    Di bawah ini ada lima perkara yang diperbolehkan ghibah.

    1. Ingin mengadu kepada hakim, polisi, tokoh masyarakat dsbnya karena teraniaya. Kita terpaksa membuka kedzaliman yang telah dilakukan pada diri kita dengan membuka aib Pelaku sehingga keadilan bisa ditegakkan.
    2. Ingin mencegah kemungkaran & kemaksiatan yang akan terjadi. Keburukan si pelaku maksiat boleh diceritakan dengan harapan dapat menghindarkan orang lain Ikut melakukan kemaksiatan.
    3. Meminta fatwa / nasehat dari Ulama. Seorang istri bisa menceritakan perlakuan jelek suaminya karena sering memukul, tidak diberi nafkah dengan harapan mendapat nasehat dari ulama
    4. Mencela orang yang secara terang-terangan melakukan kefasikkan, dan kezaliman. Contoh: seorang yang secara terang-terangan meminum arak, berjudi, melaksanakan maksiat. Yang dibenarkan hanyalah menyebutkan kemaksiatan yang dilakukan secara terang-terangan itu saja. Dan diharamkan menyebutkan aib-aib lain.
    5. Untuk mengenalkan seseorang. Jika seseorang itu memang dikenal dengan julukan si pincang, si buta dan sebagainya, boleh menyebutkan julukan itu dengan niat mengenalkan. Haram jika dengan niat mencemooh, namum demikian selagi dapat mengenalkan dengan tidak menyebut julukan maka kenalkan dengan cara tersebut.

    Firman Allah Taala: “Allah tidak suka kepada perkataan yang tidak baik diperdengarkan, kecuali dari orang-orang yang teraniaya…” (al-Nisaa’, ayat 148)

    Hadis: “Aisyah r.a. berkata: Seseorang datang minta izin kepada nabi s.a.w. (masuk ke rumah). Lalu nabi s.a.w. bersabda: Izinkanlah. Dia adalah sejahat-jahat orang di kalangan kaumnya.” (riwayat Bukhari & Muslim)

    Hadis: “Aisyah r.a. berkata: Hindun binti Uthbah (isteri Abu Sufian) berkata kepada nabi s.a.w.: Sesungguhnya Abu Sufian seorang yang pelit dan tidak memberi belanja yang cukup kepada ku dan anak-anakku, kecuali kalau saya ambil di luar pengetahuannya. Nabi s.a.w. menjawab: Ambillah secukupmu dan anak-anakmu dengan sederhana.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

    Hadis: “Fatimah binti Qais berkata: Saya datang kepada Nabi s.a.w. bertanya tentang dua orang yang meminang saya,yaitu Abu Jahm dan Muawiyah. Maka Nabi s.a.w. bersabda: Adapun Muawiyah, dia adalah seorang yang miskin, dan Abu Jahm, dia adalah seorang yang suka memukul isteri.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

    Hadis di atas menunjukkan bahwa Nabi s.a.w. telah menceritakan keburukan orang lain untuk mencapai tujuan yang dibenarkan oleh syarak. Dan tiada pilihan lain melainkan memberitahu aib orang tersebut.

    Wallahu’alam..

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Deni 7:35 am on 4 Mei 2012 Permalink

      Naudzubillahiminzalik…

    • setiyo 12:06 pm on 28 Maret 2013 Permalink

      ada koreksi … menyampaikan kebenaran mengenai fatimah binti qais itu adalah kejadian saat dia harus memilih siapa yg akan diterima pinangannya dan bukan dalam rangka mengolok olok sedang pada saat itu fatimah tidak berbicara ke khalayak umum melainkan ke 1 orang saja yg dipercaya keilmuannya yaitu Rasulullah SAW .. harus dikoreksi penjelasan tsb

  • erva kurniawan 1:17 am on 4 April 2012 Permalink | Balas  

    Insya Allah

    Beberapa penduduk Mekkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan.” Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja “kegagalan” ini menjadi cemoohan kaum kafir.

    Saat itulah turun ayat menegur Nabi, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS 18: 24)

    Kata “Insya Allah” berarti “jika Allah menghendaki”. Ini menunjukkan bahwa kita tidak tahu sedetik ke depan apa yang terjadi dengan kita. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa manusia punya rencana, Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata “insya Allah” menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan ilahi.

    Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan insya Allah.

    Sayang, sebagian diantara kita sering melupakan peranan dan kekuasaan Allah ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu. Sebagian diantara kita malah secara keliru mengamalkan kata “insya Allah” sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Ketika kita diundang, kita menjawab dengan kata “Insya Allah” bukan dengan keyakinan bahwa Allah yang punya kuasa tetapi sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata “Insya Allah”. Begitu pula halnya ketika kita berjanji, sering kali kata “insya Allah” keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.

    Yang benar adalah, ketika kita diundang atau berjanji pada orang lain, kita ucapkan “insya Allah”, lalu kita berusaha memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti sakit, hujan, dan lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu, maka disinilah letak kekuasaan Allah. Disinilah baru berlaku makna “insya Allah”.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 3 April 2012 Permalink | Balas  

    Mengapa Tak Mau Berdoa?

    “Saya tak bisa bahasa Arab, saya malu memimpin do’a selepas sholat jama’ah bersama isteri saya, apalagi didepan jama’ah yang lain.”

    Pernahkah pengalaman ini menimpa kita? Insya Allah tidak. Tapi andaikata pernah, janganlah khawatir. Sungguh Allah itu mengerti segala macam bahasa. Jangan malu untuk berdo’a dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Kalau anda hapal do’a dalam bahasa arab, saya ucapkan alhamdulillah! Namun kalau anda lebih “sreg” berdo’a dengan bahasa selain bahasa Arab, saya pun berucap alhamdulillah! Yang terpenting adalah kita masih mau berdo’a. Kalimat terakhir ini mengundang pertanyaan, “Mengapa sih kita harus berdo’a?”

    Allah adalah Tuhan kita satu-satunya. Allah pun dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu” (QS 112:2). Dalam surat al-Fatihah kita pun berseru, “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in” (Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan). Karena itu, kalau ada orang yang mengaku bahwa Allah itu Tuhannya lalu ia tak mau berdo’a maka pantas kalau kita sebut orang tersebut orang sombong. Bukankah Allah telah berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS 40:60).

    Betulkah setiap do’a akan dikabulkan oleh Allah? Boleh jadi ada diantara kita yang telah berdo’a sesuatu namun tak kita rasakan hasil dari do’a tersebut. Pertama, harus disadari bahwa kita ini “hamba” sehingga tak berhak memaksa Allah. Kita yang membutuhkan Allah; bukan sebaliknya.

    Kedua, Allah lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Boleh jadi, sebuah do’a yang kita minta bila dikabulkan oleh Allah justru ujung-ujungnya dapat menimbulkan kesulitan dalam hidup kita atau mungkin Allah punya ketentuan lain yang tak kita ketahui. Sebagai contoh, Nabi Nuh berdo’a agar anaknya diselamatkan dari banjir dahsyat, Tuhan tidak mengabulkannya dan bahkan menegur Nabi Nuh sehingga Nabi Nuh pun berdo’a: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakekatnya) dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang rugi.” (QS 11: 47) Allah Maha Tahu, maka do’a kita kadang kala bukan tak dikabulkan tapi ditunda waktunya, atau malah diganti dengan yang lebih baik. Wa Allahu A’lam.

    Ketiga, sudah seberapa jauh usaha kita untuk “meminta” dan “memelas” pada Allah. Nabi Zakariya sendiri telah puluhan tahun berdo’a namun belum dikabulkan Allah. Tapi berbeda dengan kita yang cenderung tak sabar, Nabi Zakariya berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.” (QS 19:4)

    Begitulah sikap kita seharusnya: jangan pernah kecewa dalam berdo’a. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa “Aku ini bagaimana persangkaan hambaKu saja…” Maksudnya, kalau kita dalam berdo’a belum-belum sudah beranggapan bahwa do’a ini tak akan dikabulkan, yah begitulah jadinya. Insya Allah kita selalu berbaik sangka dan tak pernah kecewa dalam berdo’a.

    Dalam berdo’a kita diminta untuk berharap-harap cemas (QS 21:90). Artinya, kita berharap do’a kita akan dikabulkan, namun disisi lain kita juga cemas kalau-kalau do’a ini tidak dikabulkan. Gabungan perasaan inilah yang menjadi etika dalam berdo’a. Kita tidak terlalu yakin pasti akan dikabulkan, namun juga tidak putus asa. Etika lainnya adalah kita disuruh berdo’a dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut (QS 7:55). Kalau kita jalani etika berdo’a ini insya Allah hati kita akan tergetar dan seringkali tanpa sadar air mata menggantung di pelopak mata.

    Pendek kata, berdo’alah baik dalam keadaan sehat-sakit, suka-duka, kaya-miskin, berdiri-duduk-berbaring, pagi-siang-malam…….

    ***

    Dari Sahabat

     
    • eny 7:49 am on 3 April 2012 Permalink

      terima kasih buat artikelnya yang bagus dan penuh makna,sekaligus membuka hati….

    • Hanan Lutfi 9:35 pm on 3 April 2012 Permalink

      semua doa akan dikabulkan Allah selama manusia tidak tergesa-gesa,, yaitu dengan meminta doa itu dipercepat dan berkata, “aku telah berdoa tapi belum juga dikabulkan” ^_^

  • erva kurniawan 1:21 am on 2 April 2012 Permalink | Balas  

    “Kiat” Menjemput Maut

    Alkisah menurut shirah, pernah Nabi Ibrahim as berdialog dengan Malaikat Maut soal sakratulmaut. Sahabat Allah itu bertanya, ”Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu saat engkau mencabut nyawa manusia yang gemar berbuat dosa?”

    Malaikat menjawab pendek: ”Engkau tak akan sanggup.”

    ”Aku pasti sanggup,” tegas beliau.

    ”Baiklah, berpalinglah dariku,” pinta si Malaikat.

    Saat Nabi Ibrahim as berpaling kembali, di hadapannya telah berdiri sesosok makhluk berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau busuk, dan berpakaian serba hitam. Dari hidung dan mulutnya tersembur jilatan api. Seketika itu pula Nabi Ibrahim as jatuh pingsan! Ketika tersadar kembali, beliau pun berkata kepada Malaikat Maut, ”Wahai Malaikat Maut, seandainya para pendosa itu tak menghadapi sesuatu yang lain dari wajahmu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu menjadi hukuman untuknya.”

    Di kesempatan lain, kisah yang diriwayatkan oleh ‘Ikrimah dari Ibn ‘Abbas ini, menceritakan Nabi Ibrahim as meminta Malaikat Maut mengubah wujudnya saat mencabut nyawa orang-orang beriman. Dengan mengajukan syarat yang sama kepada Ibrahim as, Malaikat Maut pun mengubah wujudnya. Maka di hadapan Nabi yang telah membalikkan badannya kembali, telah berdiri seorang pemuda tampan, gagah, berpakaian indah dan menyebar aroma wewangian yang sangat harum.

    ”Seandainya orang beriman melihat rupamu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu sebagai imbalan amal baiknya,” kata Nabi Ibrahim as.

    Dari nukilan kisah itu, apakah bisik-bisik misteri tentang penampakan Malaikat Maut menjelang ajal seseorang benar adanya? Dalam pergaulan sehari-hari, kita sering mendengar kisah dari mulut ke mulut, misalnya tentang seseorang yang tiba-tiba melihat ”sesuatu” ketika salah seorang kerabatnya tengah menghadapi maut. Apakah itu berupa bayangan hitam, putih, atau pun hanya gumaman dialog mirip kata-kata yang dilontarkan oleh orang yang mengigau.

    Namun yang pasti selain Nabi Ibrahim as, dari beberapa riwayat, Nabi Daud dan Nabi Isa as juga pernah dihadapkan pada fenomena penampakan Malaikat Maut itu. Kisah sakratulmaut itu belum seberapa bila dibandingkan dengan sakratulmaut itu sendiri. Sakratul maut adalah sebuah ungkapan untuk menggambarkan rasa sakit yang menyerang inti jiwa manusia dan menjalar ke seluruh bagian tubuh, sehingga tak satu pun bagian yang terbebas dari rasa sakit itu. Malapetaka paling dahsyat di kehidupan paripurna manusia ini memberi rasa sakit yang berbeda-beda pada setiap orang.

    Untuk menggambarkan rasa itu, pernah Rasulullah SAW berkata: ”Kematian yang paling mudah adalah serupa dengan sebatang duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang terkoyak?”

    Tapi di bagian lain Rasulullah — seperti yang dikisahkan oleh Al-Hasan — pernah menyinggung soal kematian, cekikan, dan rasa pedih. ”Sakitnya sama dengan tiga ratus tusukan pedang,” sabda beliau.

    Diriwayatkan, ketika ruh Nabi Ibrahim as akan dicabut, Allah SWT bertanya kepada Ibrahim: ”Bagaimana engkau merasakan kematian wahai kawanku?”

    Beliau menjawab, ”Seperti sebuah pengait yang dimasukkan ke dalam gumpalan bulu basah yang kemudian ditarik.”

    ”Yang seperti itulah, sudah Kami ringankan atas dirimu,” firman-Nya.

    Tentang sakratulmaut, Nabi SAW bersabda, ”Manusia pasti akan merasakan derita dan rasa sakit kematian, dan sesungguhnya sendi-sendinya akan mengucapkan selamat tinggal satu sama lain seraya berkata ‘Sejahteralah atasmu; sekarang kita saling berpisah hingga datang hari kiamat kelak’.”

    Ustadz Aam Amirullah, da’i Radio OZ Bandung, menuturkan bahwa Rasulullah saw sendiri menjelang akhir hayatnya berucap ”Ya Allah ringankanlah aku dari sakitnya sakratulmaut” berulang hingga tiga kali. Padahal telah ada jaminan dari Allah SWT bahwa beliau akan masuk surga. ”Lalu, mari kita bandingkan tingkat keimanan dan keshalehan beliau dengan kita, yang hanya manusia biasa ini,” lanjut Aam. Maka sekitar 200-an hadirin yang memadati Aula Kantor Pusat PT Pos Indonesia, Bandung, mendadak tercekam hening.

    Untung banyolan KH Abdullah Gymnastiar — yang menyapa hadirin dengan sebutan ‘Calon Jenazah’ — segera memecah keheningan. Kematian, menurut Aa’ Agim, mestinya tak perlu menjadi sesuatu yang perlu ditakuti, tapi sebaliknya harus senantiasa dirindukan. Jika sesuatu itu begitu dirindukan, logikanya menurut dia, berarti ingin cepat-cepat pula ditemui. ”Barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah akan benci bertemu dengannya,” sabda Rasulullah SAW.

    Maka, terhadap manusia yang tak pernah tergugah dengan kematian manusia lain, Aa’ Agim secara guyon menyebutnya sebagai golongan ”mandom” alias manusia domba. ”Seperti domba di Idul Kurban. Terus makan rumput sambil menatap kawan-kawannya disembelih, padahal dia bakal dapat giliran juga,” tambah pimpinan Pesantren Daarut Tauhiid ini.

    Agim menganalogikan orang dalam golongan ini sebagai orang bodoh, yang meski telah diberi modal hidup tapi terhambur dengan sia-sia. ”Semakin banyak kesia-siaan yang kita lakukan, maka semakin tinggi pula tingkat kebodohan kita. Sebaliknya, orang yang paling cerdas adalah orang yang paling sering mengingat ajal dan paling banyak mempersiapkan diri menghadapi maut,” katanya.

    Khusnulkhotimah, menurut Agim, adalah suatu karunia Allah SWT yang khusus diberikan kepada manusia. Kyai yang kocak ini bilang, tak ada ceritanya muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Khusnulkhotimah itu seperti hadiah buat manusia, atas upaya manusia yang sungguh-sungguh menjalankan tugas hidup di dunia ini. ”Seperti mahasiswa yang belajar mati-matian, lalu lulus dengan predikat summa cum laude.”

    Jadi jangan pernah berpikir bagaimana supaya kita bisa mendapatkan khusnulkhotimah terlebih dulu. ”Kata-kata mati, harusnya mampu kita hadirkan dalam hati kita setiap hari,” paparnya.

    Sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa dengan banyak-banyak mengingat maut menjadikan seseorang menjadi makhluk yang produktif, cermat, dan selektif, adalah benar adanya, menurut Agim. ”Ini karena setiap pekerjaan yang dilakukannya dianggap sebagai pekerjaan terakhirnya. Karena maut itu bisa datang kapan saja.” Sebaliknya, kalau Allah belum memberi izin, maut tak akan datang. Agim memberi anekdot seperti orang yang bekeinginan bunuh diri di rel kereta api. Sesaat kereta melintas, ternyata badannya masih utuh. Karena ternyata ia berada di lintasan dengan tiga jalur rel.

    Dengan selalu mengingat maut, intinya kematian menjadi semacam bahan bakar agar manusia mampu hidup produktif dan bermanfaat. Menurut Aam Amirullah, ada empat ”selalu” agar manusia memiliki manfaat hidup. Pertama, selalu bermunajat kepada Allah SWT; kedua, selalu mengevaluasi dan mengintospeksi diri sendiri; ketiga, selalu bertafakur, mengasah diri dan ilmu; dan keempat, selalu memenuhi hak hidup, seperti makan, minum, tidur dengan teratur. ”Jadi sebelum kita mendekati sakratulmaut, Rasulullah sudah memberi solusi kepada manusia. Jika ajal telah tiba, tak perlu kita takut menghadapinya,” tambah Aam.

    ***

    Republika, 29 Mei 1999

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 1 April 2012 Permalink | Balas  

    Mengingat Mati

    Kematian adalah permulaan kepada kehidupan baru yang kekal abadi (Akhirat). Yakin dengan sebenar-benar yakin akan alam Akhirat sangat dituntut karena merupakan penjabaran dari rukun iman yang kelima.

    Sabda Rasulullah:

    “Perbanyakkanlah mengingati mati, niscaya akan meremehkan berbagai kelazatan.” (An Nasai, Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

    Ketika Malaikat maut datang menemui Nabi Yaakub AS untuk mencabut nyawa, beliau bertanya,”bukankah aku minta agar dikirimkan utusan terlebih dahulu”

    Malaikat maut menjawab,”demi Allah telah banyak utusanku memberi peringantan wahai nabi Allah,

    Jawab Nabi Yaakub,”aku tidak mengetahui dan mengenalinya,”

    Jawab malaikat maut pula,”yaitu berupa sakit, uban, pendengaran kurang dan penglihatan kabur.”

    Rasulullah bersadba,“Berziarahlah kubur karena ia dapat mengingatkan kamu kepada Akhirat. Mandikan orang mati karena mengurus jasad orang mati merupakan peringatan yang mendalam. Dan sembahyangkan jenazah karena ia dapat menyedihkan hati kamu karena orang yang bersedih dibawah naungan Allah SWT berarti bersedia dengan segala kebajikan. (Dari Abu Dzar)

    Barang siapa yang banyak mengingat mati akan mengutamakan 3 perkara:

    1. Segera bertaubat, karena yakin mati akan datang dengan tiba-tiba, tanpa disangka dan tidak mengira tempat.
    2. Berhati tenang dan senantiasa mewaspadai hati dari dihinggapi dan dikotori oleh berbagai mazmumah (sifat keji). Dan sentiasa mengingati Allah SWT.
    3. Rajin beribadah dan taat, dunia ini adalah tempat beramal dan akhirat adalah tempat perhitungan

    Tanda-tanda orang yang melupakan mati

    1. Menunda-nunda taubat, akhirnya mati dalam keadaan membawa dosa dan belum bertaubat. Seringkali berangan-angan karena menyangka mati masih lambat dan umur akan panjang.
    2. Tidak rela hidup sederhana akhirnya memburu kesenangan dan kemewahan dunia hingga lalai dari menginggati Allah SWT. Sering merasa kecewa dan putus asa seolah-olah dunia ini segala-galanya. Terlalu mementingkan diri sendiri dan sanggup menindas orang lain
    3. Malas beribadah, kelezatan menikmati nikmat dunia menyebabkan lenyapnya kelazatan beribadah pada Allah SWT. Hilang kemanisan ibadah, malah merasakan kosong dan tidak bermanafaat.

    Allah SWT Berfirman :

    Audzubillahi minasy syathonirrijim

    1. Kullu nafsindza iqotul maut (Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian)
    2. Faidza ja’a Ajaluhum laa yasta’khiruna sa’ah wala yastaqdimun (Maka apabila datang waktu kematian tidaklah dapat diundur dan tidak pula dapat dimajukan.)
    3. Wamal hayatuddun ya illa mata’ul ghuruur (Sesungguhnya dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Shodaqollohul adhim.)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 31 March 2012 Permalink | Balas  

    Bisul Yang Aneh – Hikmah (bag. 2 dari 2)

    Tiba-tiba aku dikejutkan oleh perubahan yang terjadi pada diriku. Aku lihat bisul-bisul kecil mulai bermunculan di badanku. Dan tiap kali aku bertanya kepada teman-teman yang ada disekitarku mereka selalu menjawab “Nggak, aku tidak melihatnya. Dimana sih”? Aku jadi semakin bingung. Aku yang salah lihat atau mereka yang tidak melihatnya.

    Bahkan ketika hari aku melihat bisul itu mulai mengeluarkan nanah. Tiap kali aku berjumpa dengan teman-temanku aku khawatir bau nanah yang busuk itu akan tercium oleh mereka, eh?.mereka malah tenang-tenang saja, seakan tidak melihatnya. Kadangkala aku tanyakan kepada mereka dengan bergurau (tapi serius), “eh kamu bau nggak”!? Mereka malah menjawab, “bau apa?! Ah..kamu belum mandi ya”..?

    Mereka tidak membaunya, mereka tidak melihatnya apakah bisul ini memang hanya mau dilihat olehku saja?! Sekali waktu karena jengkelnya aku tarik lengan sahabatku dan aku bawa ke depan kaca di kamarku dan aku tunjukkan bisul yang sebesar jagung dipipi kiriku, dia malah tertawa mengatakan aku bergurau dan menghinanya karena dia banyak jerawat. Padahal demi Allah aku melihat bisul itu dengan jelas.

    Aku ingin barang sekali saja ada orang yang bisa melihat bisul itu dan mengatakan “ya aku melihatnya dan aku mencium baunya yang busuk”..  supaya aku tahu bahwa bisul itu ada, bahwa aku tahu ini adalah penyakit yang memang terjadi pada diriku agar aku tahu bahwa aku harus berobat untuk menyembuhkannya. Tapi betapa sering aku ketemu orang dan sebegitu tidak juga mereka melihatku dengan cara yang aneh yang menunjukkan mereka mengetahui bisul yang ada dimukaku ini. Sekali waktu dalam perjalananku, aku pernah berpapasan dengan orang yang nampaknya tahu akan bisul itu, tapi kenapa dia tidak mau mengatakannya? Mungkin karena aku tidak cukup berani untuk menanyakan kepadanya apakah dia melihat bisulku.

    Akhirnya aku menyerah. Karena aku melihat setiap kali aku ribut dengan bisul-bisulku, semakin besar ia jadinya. Maka aku putuskan daripada orang-orang mengatakan aku gila, lebih baik aku nggak keluar kamar dulu. Memang betul …..beberapa waktu aku tidak keluar kamar eh….sedikit-sedikit bisul itu semakin mengecil.

    Akhirnya, aku putuskan untuk bertemu dengan teman-teman di ta’lim dan mulailah obrolan yang mengasyikkan dengan mereka, tentang perkembangan ta’lim, tentang betapa perasaan kangen karena ketidak munculanku dan tentu saja berita terbaru dari sekelilingku. Tiba-tiba aku merasakan bajuku menjadi sempit sementara lagi-lagi teman-temanku tenang-tenang saja, seakan mereka tidak melihat badanku yang menjadi gemuk dengan tiba-tiba. Dengan menahan kekalutan akan apa yang tiba-tiba terjadi, aku putuskan untuk pulang kembali ke rumah.

    Senja itu ketika kudapati diriku termenung di depan jendala kamar sambil menikmati matahari terbenam, tiba-tiba kurasakan badanku kembali kecil dan rasanya aku tidak bisa bicara, lidahku kelu tak dapat lagi mengucapkan dzikir yang biasa kubaca sesudah sholat. Tapi bisul itu tak pernah hilang. Dan dia selalu membengkak ketika aku sedang kalut.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 691 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: