Updates from April, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:26 am on 26 April 2012 Permalink | Balas  

    7 Rombongan Iblis

    Iblis akan senantiasa mengganggu manusia, mulai dengan memperdayakan manusia dari terjadinya dengan setitik mani hingga ke akhir hayat mereka, dan yang paling dahsyat ialah sewaktu akhir hayat yaitu ketika sakaratul maut. Iblis mengganggu manusia sewaktu sakaratul maut disusun menjadi 7 golongan dan rombongan.

    Hadith Rasulullah SAW. menerangkan: “Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari tipuan syaitan diwaktu sakaratul maut.”

    Rombongan 1

    Akan datang Iblis dengan berbagai rupa aneh seperti emas, perak dan lain-lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lezat-lezat. disebabkan orang yang di dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya sangat tamak dan loba kepada barang-barang tersebut, maka diraba dan disentuhnya barang2 Iblis itu, pada waktu itu nyawanya putus dari tubuh. Inilah yang dikatakan mati yang lalai dan lupa kepada Allah SWT inilah jenis mati fasik dan munafik, ke nerakalah tempatnya.

    Rombongan 2

    Akan datang Iblis kepada orang yang didalam sakaratul maut itu merupakan diri sebagai rupa binatang yang di takuti seperti, Harimau, Singa, Ular yang berbisa. Yang apabila orang yang sedang sakaratul maut itu memandang ke binatang itu, maka dia pun menjerit dan melompat sekuat hati. Maka seketika itu juga akan putuslah nyawa itu dari badannya, maka matinya itu disebut sebagai mati lalai dan mati dalam keadaan lupa kepada Allah SWT, matinya itu sebagai Fasik dan Munafik dan ke nerakalah tempatnya.

    Rombongan 3

    Akan datang Iblis mengacau dan memperdayakan orang yang di dalam sakaratul maut itu dengan menyerupai binatang kesayangannya. Apabila tangan orang yang hendak mati itu meraba-raba kepada binatang kesayangan itu dan waktu tengah meraba-raba itu dia pun mati, maka matinya itu di dalam golongan yang lalai dan lupa kepada Allah SWT. Matinya itu mati Fasik dan Munafik, maka nerakalah tempatnya.

    Rombongan 4

    Akan datang Iblis merupakan dirinya sebagai rupa yang paling dibenci oleh orang yang akan mati, seperti musuhnya ketika hidupnya dahulu maka orang yang di dalam sakaratul maut itu akan menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu kepada musuh yang dibencinya itu. Maka sewaktu itulah maut pun datang dan matilah ia sebagai mati Fasik dan Munafik, dan nerakalah tempatnya

    Rombongan 5

    Akan datang Iblis merupakan dirinya dengan rupa sanak-saudara yang hendak mati itu, seperi ayah ibunya dengan membawa makanan dan minuman, sedangkan orang yang di dalam sakaratul maut itu sangat mengharapkan minuman dan makanan lalu dia pun menghulurkan tangannya untuk mengambil makanan dan minuman yang dibawa oleh si ayah dan si ibu yang dirupai oleh Iblis, berkata dengan penuh kasih “Wahai anakku inilah saja makanan dan bekal yang kami bawakan untukmu dan berjanjilah bahwa engkau akan menurut kami dan menyembah Tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak lagi bercerai dan marilah bersama kami masuk ke dalam syurga.”

    Maka dia pun sudi mengikut tawaran itu dengan tanpa berfikir lagi, ketika itu waktu matinya pun sampai maka matilah dia di dalam keadaan kafir, kekal di dalam neraka dan terhapuslah semua amal kebajikan semasa hidupnya.

    Rombongan 6

    Akan datanglah Iblis merupakan dirinya sebagai ulama’-ulama’ yang membawa banyak kitab-kitab, lalu berkata ia: “Wahai muridku, lama sudah kami menunggu akan dikau, ternyata kamu sedang sakit di sini, karena itu kami bawakan kepada kamu dokter dan obat untukmu.” Lalu diminumnya obat, itu maka hilanglah rasa penyakit itu, kemudian penyakit itu datang lagi. Lalu datang pula Iblis yang menyerupai ulama’ dengan berkata: “Kali ini kami datang kepadamu untuk memberi nasihat agar kamu mati didalam keadaan baik, tahukah kamu bagaimana hakikat Allah?”

    Berkata orang yang sedang dalam sakaratul maut: “Aku tidak tahu.”

    Berkata ulama’ Iblis: “Ketahuilah, aku ini adalah seorang ulama’ yang tinggi dan hebat, baru saja kembali dari alam ghaib dan telah mendapat syurga yang tinggi. Cobalah kamu lihat syurga yang telah disediakan untukmu, kalau kamu hendak mengetahui Zat Allah SWT hendaklah kamu patuh kepada kami.”

    Ketika itu orang yang dalam sakaratul maut itu pun memandang ke kanan dan ke kiri, dan dilihatnya sanak-saudaranya semuanya berada di dalam kesenangan syurga, (syurga palsu yang dibentangkan oleh Iblis untuk tujuan menggoda orang yang sedang dalam sakaratul maut). Kemudian orang yang sedang dalam sakaratul maut itu bertanya kepada ulama’ palsu: “Bagaimanakah Zat Allah?” Iblis merasa gembira apabila jeratnya mengena.

    Lalu berkata ulama’ palsu: “Tunggu, sebentar lagi dinding dan tirai akan dibuka kepadamu.”

    Ketika tirai dibuka selapis demi selapis tirai yang berwarna warni itu, maka orang yang dalam sakaratul maut itu pun dapat melihat satu benda yang sangat besar, seolah-olah lebih besar dari langit dan bumi.

    Berkata Iblis: “Itulah dia Zat Allah yang patut kita sembah.”

    Berkata orang yang dalam sakaratul maut: “Wahai guruku, bukankah ini benda yang benar-benar besar, tetapi benda ini mempunyai enam sisi, yaitu benda besar ini ada kiri dan kanannya, mempunyai atas dan bawah, mempunyai depan dan belakang. Sedangkan Zat Allah tidak menyerupai makhluk, sempurna Maha Suci Dia dari sebarang sifat kekurangan. Tapi sekarang ini lain pula keadaannya dari yang di ketahui dahulu. Tapi sekarang yang patut aku sembah ialah benda yang besar ini.”

    Dalam keraguan itu maka Malaikat Maut pun datang dan terus mencabut nyawanya, maka matilah orang itu di dalam keadaan kafir dan kekal di dalam neraka dan terhapuslah segala amalan baik selama hidupnya di dunia ini.

    Rombongan 7

    Rombongan Iblis yang ketujuh ini terdiri dari 72 barisan sebab dari menjadi 72 barisan ialah karena dia menepati Iktikad Muhammad SAW bahwa umat Muhammad akan terbagi kepada 73 barisan). Satu barisan/golongan yang benar yaitu ahli sunnah waljamaah, 72 yang lain masuk ke neraka karena sesat.

    Ketahuilah bahwa Iblis itu akan mengacau dan mengganggu anak Adam dengan 72 macam yang setiap satu berlainan di dalam waktu manusia sakaratul maut. Oleh karena itu hendaklah kita mengajarkan kepada orang yang hampir meninggal dunia akan talkin Laa Ilaaha Illallah untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan Iblis dan syaitan yang akan berusaha bersungguh-sungguh menggoda orang yang sedang dalam sakaratul maut.

    Disebutkan dalam sebuah hadith yang artinya: “Ajarkan oleh kamu (orangyang masih hidup) kepada orang yang hampir mati itu: Laa Ilaaha Illallah.”

    Wa Allahu A’lam

    ***

    Dari Sahabat

     
    • achmad usman 12:46 pm on 8 Mei 2012 Permalink

      setahu saya, ada ayat quran ( lupa suratnya ) bahwa kematian nabi sulaiman diketahui jin setelah rayap menggrogoti tongkat nabi sulaiman yg sedang duduk, ketika tongkat itu patah dimakan rayap, jatuhlah nabi sulaiman dari kursinya barulah jin tahu bahwa nabi sulaiman telah meniggal dunia,..

      bahwa kematian manusia, hanya ALLAH yg tahu, bangsa jin dan saitan tidak punya kemampuan kapan manusia dicabut nyawanya……..
      bahwa mengajarkan lafadz Laa Ilaaha Illallah kpd manusia yg sakratul maut semata janji sorga bagi yg dapat mengucapkan kata2 itu… ( ini baru hadis nabi )…..
      gangguan iblis 72 macam kpd hamba Allah yg sakratul maut, ..saya tidak tahu sumber dan dari mana sumber itu anda tahu…….wassalaam……………….

  • erva kurniawan 1:33 am on 21 April 2012 Permalink | Balas  

    Hidup Zuhud

    Manusia adalah makhluk pengejar kebahagiaan. Namun, tak semua manusia mencicipi hidup bahagia. Karena tidak setiap manusia tahu bagaimana merengkuh kebahagiaan.

    Kebahagiaan tergantung pada pola hidup. Islam menganjurkan pola hidup zuhud. Apakah zuhud itu? Zuhud terumuskan dalam dua kalimat Alquran.

    ”Supaya kamu tidak bersedih karena apa yang lepas dari tanganmu dan tidak bangga dengan apa yang diberikan kepadamu.” (QS Al-Hadid: 23).

    Ada dua ciri zahid (individu yang menjadikan zuhud sebagai pola hidup).

    Pertama, zahid tidak menggantungkan kebahagiaan hidupnya pada apa yang dimiliki. Bila bahagia ditambatkan pada kendaraan yang dimiliki, kala kendaraan itu tergores, hilanglah bahagia yang bersemayam di dada. Jika hati dilabuhkan pada yang dimiliki, maka saat apa yang dimiliki itu terlepas dari genggaman, terlepaslah kebahagiaannya.

    Kedua, kebahagiaan zahid tidak terletak pada materi, tapi pada dataran spiritual. Hidup akan menjelma menjadi guyonan yang mengerikan bila makna bahagia disandarkan pada benda. Sebab, benda hanya menunggu waktu untuk lenyap.

    ”Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS Al-Rahman: 26-27).

    Hakikat zuhud bukanlah meninggalkan dunia, namun tidak meletakkan hati padanya. Zuhud bukan menghindari kenikmatan duniawi, tetapi tidak meletakkan nilai yang tinggi padanya.

    ”Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seorang yang memasukkan jarinya dalam lautan besar, maka perhatikan berapa dapatnya. (HR Muslim).

    Oleh sebab itu, zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal.

    ”Zuhud terhadap kehidupan dunia tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti dari apa yang ada pada Allah SWT dan hendaklah engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu.” (HR Ahmad).

    Dalam hadis Qudsi, diriwayatkan,

    ”Allah berfirman wahai dunia, berkhidmatlah kepada orang yang telah berkhidmat kepada-Ku, dan perbudaklah orang yang mengabdi kepadamu. (HR Al-Qudlai).”

    Ringkasnya, rumus hidup bahagia adalah kemampuan memilih nikmat yang abadi di atas kenikmatan yang fana. Bagaimana supaya baju zuhud dapat dikenakan? Dalam Nashaih Al-Ibad, Syaikh Nawawi al-Bantani menceritakan kisah Ibrahim bin Adham tentang mencapai zuhud.

    Beliau menjawab, ”Ada tiga sebab, saya melihat kuburan itu mengerikan, sedangkan belum kudapati pelipur (atasnya). saya melihat jarak perjalanan amatlah jauh, padahal belum kumiliki bekal, dan saya melihat Allah yang Maha perkasa akan mengadili, padahal belum kudapati alasan (untuk mengelak dari hukumannya). ”

    ***

    (M Subhi-Ibrahim, HIKMAH – REPUBLIKA )

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 20 April 2012 Permalink | Balas  

    Nabi Muhammad SAW Makhluk Teragung

    Nabi Muhammad saw meskipun sama kejadiannya dengan manusia lain di muka bumi ini, namun bentuk lahiriah dan rohaniahnya tidak sama. Baginda mempunyai keistimewaan yang sama sekali tidak terdapat pada manusia-manusia biasa. Sebagai manusia yang terbaik di muka bumi ini, Baginda dianugerahkan dengan keperibadian dan perwatakan yang istimewa karena padanyalah terdapat contoh untuk diteladani.

    Umum mengetahui keadaan yang zahir adalah gambaran yang terjelma dari unsur-unsur batin. Rupa paras seseorang boleh membantu menjelaskan keperibadian setiap individu. Ciri-ciri seperti bentuk badan, sifat fizikal dan rupa bentuk anggota adalah menggambarkan tentang akal dan akhlak seseorang. Begitulah dengan Nabi Muhammad saw. yang mempunyai bentuk badan yang indah dan segak, namun tidak dapat digambarkan oleh semua pelukis potret di dunia ini. Allah mengharamkan penggambaran potret Baginda oleh sesiapa saja. Sungguhpun begitu sifat-sifat kecantikan baginda masih boleh diillusikan melalui pertuturan dan riwayat para sahabat dan tabi’in.

    Begitu indahnya sifat fizikal Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bersua muka dengan Baginda lantas melafazkan keIslaman dan mengaku akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Baginda. Ulama Yahudi berkenaan terpukau dengan raut paras dan akhlak baginda yang sudah tentunya milik seorang Rasul Agung di muka bumi ini. Para sahabat yang sentiasa bersamanya sentiasa meneliti bentuk tubuh tokoh kesayangannya secara terperinci. Di antara kata-kata appresiasi mereka yang pernah melihat baginda saw:

    • Aku belum pernah melihat lelaki yang sekacak Rasulullah. Aku melihat cahaya memancar dari lidahnya.
    • Seandainya kamu melihat Rasulullah, kamu akan merasa seolah-olah sedang melihat matahari terbit.
    • Aku pernah melihat Rasulullah saw di bawah sinaran bulan. Aku bandingkan wajahnya dengan bulan, akhirnya aku sadari bahwa Rasulullah saw jauh lebih cantik daripada sinaran bulan.
    • Rasulullah saw seumpama matahari yang bersinar. Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah saw.
    • Apabila Rasulullah saw berasa gembira, wajahnya bercahaya seperti bulan purnama dan dari situ kami mengetahui yang baginda sedang gembira.
    • Kali pertama memandangnya, sudah tentu kamu akan terpesona
    • Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat
    • Wajahnya seperti bulan purnama
    • Dahi Baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya. Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.
    • Mata Baginda hitam dengan bulu mata yang panjang
    • Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli di bahagian sudut.
    • Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali pertama kali melihatnya.
    • Mulut baginda sederhana luas dan cantik
    • Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.
    • Apabila berkata-kata cahaya kelihatan memancar dari giginya
    • Janggutnya penuh dan tebal menawan
    • Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca. Warna lehernya putih seperti perak sangat indah.
    • Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya
    • Rambutnya sedikit ikal
    • Rambutnya tebal kadang-kadang menyentuh pangkal telinga dan kadang-kadang mencecah bahu tapi disisir rapi
    • Rambutnya terbelah di tengah
    • Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur dari dada ke pusat
    • Dadanya bidang dan selaras dengan perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih daripada biasa
    • Seimbang antara kedua bahunya
    • Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya , jarinya juga besar dan tersusun dengan cantik
    • Aku tidak pernah menyentuh sebarang sutera yang tipis mahupun tebal yang lebih lembut daripada tapak tangan Rasulullah saw.
    • Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik. kakinya berisi, di tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air. Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.
    • Warna kulitnya tidak putih seperti kapur atau coklat tapi campuran antara coklat dan putih. Warna putihnya lebih banyak.
    • Warna kulit Baginda putih kemerah-merahan
    • Warna kulitnya putih tapi sehat
    • Kulitnya putih lagi bercahaya
    • Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kukuh
    • Badannya tidak gemuk
    • Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran sederhana lagi kacak
    • Perutnya tidak buncit
    • Badannya cenderung kepada tinggi. Semasa berada di kalangan orang ramai, baginda kelihatan lebih tinggi daripada mereka
    • Sekalipun baginda miskin dan lapar tapi tubuhnya lebih gagah dan sehat daripada orang yang cukup makan. Aku tidak pernah melihat seorang lelaki yang lebih gagah dan berani daripada Rasulullah saw.

    Begitu hebat personaliti dan ketokohan Baginda saw., makhluk terpuji dan teragung di muka bumi. Kesimpulannya Nabi Muhammad saw. adalah manusia agung yang ideal dan sebaik-baik contoh sepanjang zaman.

    MORAL & IKTIBAR

    Nabi Muhammad saw. adalah manusia terbaik pilihan Allah. Sifatnya yang terpuji merangkumi aspek fizikal dan rohani. Atas sifatnya yang superior inilah baginda dilantik menjadi pemimpin seluruh manusia di dunia ini.. Baginda adalah manusia mithali yang serba lengkap dan serba kamil dan layaklah baginda tidak disentuh sebarang dosa lagi bersifat dengan maksum. Kepimpinan Baginda sepatutnya menjadi contoh teladan kepada semua manusia di muka bumi ini. Barangsiapa mentaati Allah tanpa mengakui kerasulan Nabi saw, nescaya Allah tidak menerima keimanannya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 18 April 2012 Permalink | Balas  

    Menjadi Suami yang Mempesona, Mengapa Tidak?

    Menjadi istri yang mempesona suami? Itu hal biasa yang telah banyak dibahas dalam berbagai literatur, kajian, diskusi dan kesempatan. Tetapi tahukah Anda wahai para suami, para istri juga menginginkan laki-laki yang mempesona sebagai suaminya. Meski gambaran suami yang mempesona boleh jadi relatif, berbeda antara satu perempuan dengan perempuan lainnya, tetapi dapat dikatakan secara umum kaum perempuan membutuhkan pesona yang dapat lebih membuat mereka senantiasa mencintai suaminya.

    Boleh jadi selama ini Anda para suami menyangka bahwa istri Anda mencintai Anda karena ia telah mendampingi, melayani, melahirkan dan mengasuh anak-anak Anda. Mungkin hal itu benar, tetapi untuk membuat perasaan istri Anda tidak berubah ia tetap selalu mencintai Anda dari waktu ke waktu dibutuhkan lebih banyak proses, perbuatan, tingkah laku yang semuanya bermuara pada satu titik bahwa Anda tetap mempesonanya, sehingga ia menganggap Anda layak untuk mendapatkan cintanya untuk selamanya.

    Ada satu pelajaran yang menarik terutama untuk para suami dari kisah seorang perempuan yang mendatangi Rasulullah SAW untuk menceritakan, bahwa sekian lama berumah tangga ternyata perasaannya mengalami perubahan, ia tidak lagi bisa mencintai suaminya dan karena itu ia khawatir berbuat kekufuran.

    Adalah istri Tsabit bin Qais bin Syamas (sahabat Rasulullah SAW) yang bernama Jamilah, ia mendatangi Rasulullah SAW untuk menceritakan perasaannya terhadap suaminya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak mencela agama dan akhlak Tsabit, tetapi aku khawatir jika hidup bersamanya aku berbuat kekufuran.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apakah engkau hendak mengembalikan kebunnya?” (waktu itu mahar Tsabit adalah kebunnya). Jamilah menjawab, “Benar ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah mengutus seseorang kepada Tsabit untuk menyampaikan pesannya,”Terimalah kebun itu dan ceraikanlah dia.” (HR Bukhari dari Ibnu Abbas ra)

    Kisah lainnya yang juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas ra berikut ini menunjukkan bahwa seorang istri diperbolehkan melepaskan diri dari suami yang tidak dapat dicintainya. Barirah adalah seorang budak wanita dari Habasyah yang berada dibawah kekuasaan Utbah bin Lahab. Majikannya ini memaksa Barirah untuk menikah dengan seorang yang tidak disukainya yaitu budak laki-laki bernama Mughits. Merekapun menikah, Barirah tidak mencintai suaminya tapi sebaliknya Mughits sangat mencintai istrinya. Ummul Mukminin Aisyah ra merasa kasihan kepada Barirah, beliau lalu membeli dan memerdekakannya. Setelah itu Barirah merasa benar-benar memiliki kebebasannya dan merasa dapat menentukan hidupnya, maka ia meminta cerai dari suaminya. Ibnu Abbas ra berkata, “Suami Barirah adalah seorang budak bernama Mughits, seakan-akan aku melihatnya berjalan dibelakangnya sambil menangis, air matanya menetes sampai ke jenggotnya. Nabi SAW berkata kepadaku , “Wahai Ibnu Abbas, tidakkah engkau takjub pada cinta Mughits pada Barirah dan kebencian Barirah pada Mughits?’ Selanjutnya Nabi berkata kepada Barirah, “Seandainya engkau mau kembali, sesungguhnya dia adalah suamimu dan ayah anakmu.” Maka Barirah bertanya, “Apakah engkau memerintahkan aku ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku hanya menawarkan kepadamu.” Barirah berucap, “Aku tidak membutuhkannya”.

    Nah, para suami, beberapa saran berikut ini dapat membantu Anda untuk menjadi pribadi yang mempesona dimata istri Anda:

    Memperhatikan penampilan luar.

    Tidak disangsikan lagi bahwa penampilan luar dapat membangkitkan pesona pada jiwa perempuan. Suami yang dapat menjaga kebersihan dirinya, rapi dan perlente umumnya lebih mempesona ketimbang suami yang jorok, lusuh dan kumal. Bukankah Rasulullah SAW bersabda bahwa kebersihan itu cabang iman? Umar bin Khattab ra pun pernah berkata, “Perempuan menyukai kalau suaminya berhias untuk dirinya, sebagaimana laki-laki suka istrinya berhias untuk dirinya.”

    Tidak Kaku dan Monoton

    Suami seperti ini selalu mau belajar memahami perasaan istrinya, punya banyak cara dan gaya dalam mengungkapkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada istrinya, juga tidak enggan untuk menyatakan cintanya dengan kata-kata.

    Terbuka

    Suami seperti ini tidak enggan mengungkapkan harapan, keinginan dan perasaannya agar istri mengerti dan dapat melakukan hal yang sesuai dengan yang dikehendakinya. Ia bukan suami yang diam dan membiarkan istrinya dalam kesulitan menebak-nebak apa yang diinginkannya.

    Matang

    Kebanyakan perempuan ketika menikah menginginkan suaminya adalah orang yang siap melindungi, membimbing dan dapat menjadi tempat bersandar. Laki-laki yang matang seperti ini lebih mempesona perempuan dibanding yang kekanak-kanakan dan emosional.

    Peduli dengan Keluarga

    Adalah benar suami memiliki tanggung jawab dalam masalah nafkah, tetapi kesibukannya dalam pekerjaan atau hal lainnya tidak membuatnya menjadi orang yang acuh terhadap istri dan anak-anaknya. Ia mau menemani anak belajar dan tidak keberatan mengantar istrinya pergi menghadiri acara-acaranya.

    Dapat Berbagi Rasa

    Suami mempesona mau belajar bagaimana dapat ikut merasakan apa yang sedang dirasakan istrinya. Ia mau mendengar dengan penuh perhatian ketika istri sedang mengungkapkan permasalahannya, ikut merasakan kegelisahannya dan dapat membantu menentramkannya atau mengatasi permasalahannya. Ia adalah tempat curhat istrinya yang setia dan dapat dipercaya.

    Mencintai Orang Tua, Saudara dan Kerabat Istri

    Anda akan semakin mempesona istri Anda manakala Anda mencintai orang tuanya, menyayangi saudara-saudaranya dan bersikap baik kepada kerabatnya. Dan jika Anda senantiasa bersikap demikian maka percayalah iapun akan berusaha keras untuk mencintai orang tua Anda dan bersikap baik pada saudara dan kerabat Anda.

    Jangan ragu dan gengsi untuk melakukan saran-saran diatas, mulailah sekarang juga maka Anda akan takjub mendapati limpahan cinta istri Anda yang seolah tanpa batas, karena begitulah sifat dan karakter perempuan, ia akan memberi lebih dari apa yang Anda berikan kepadanya!***

    Wallahua’lam bishawab…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 17 April 2012 Permalink | Balas  

    Menghantarkan Orang Tua ke Surga

    Masih ingatkah kita dengan sebuah kisah di masa Rasulullah? Tentang ketaatan seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya berjihad dengan satu pesan, “Jangan pergi sebelum saya pulang”. Dan ternyata, dalam masa kepergian suaminya, orangtuanya sakit keras. Saudara-saudaranyapun memintanya hadir, untuk menemui orang tuanya yang sedang sakit, namun karena ketaatannya kepada suami, dia tak juga berangkat menemui orang tuanya hingga meninggal. Tentu, kita semua mengingatnya bukan?

    Bagi kita manusia biasa, peristiwa tersebut terasa amat janggal. Tak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang anak mampu bertahan tidak menemui orang tuanya yang sedang sakit keras bahkan sampai meninggal, hanya karena taat kepada pesan suami. Mungkin, sebagian kita bahkan akan mengumpat dan mencaci maki kepada wanita tersebut bila kita hidup di masa itu.

    Kita akan katakan kepada wanita tersebut sebagai anak yang tak berbakti, anak yang tak tahu balas budi atas kasih sayang orang tua, anak yang keterlaluan, tak punya perasaan, dan berbagai umpatan yang lainnya.

    Namun, apa kata Rasulullah ketika ditanya tentang kejadian itu? Rasulullah dengan mantap menjawab, bahwa orang tua wanita tersebut masuk surga karena telah berhasil mendidik anaknya menjadi wanita shalihah. Subhaanallah!

    Karenanya, marilah kita para orang tua berusaha sekuat tenaga, untuk menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihah. Anak yang akan senantiasa mendo’akan kita kapan pun dan di manapun berada. Anak lelaki yang mampu menjadi qowwam bagi keluarganya, dan tetap berbakti kepada orang tuanya, serta anak perempuan yang menjadi istri dan ibu shalihah, yang mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang shaleh dan shalihah pula.

    Kepada para orang tua yang telah mengantarkan putra-putrinya ke dalam kehidupan rumah tangga, janganlah menjadi orang tua yang egois, yang selalu ingin didampingi anak-anak, dan tak mau melepaskan kepergiannya. Relakan anak-anak pergi dari pangkuan kita, untuk menjalani hidup mandiri, menjadi nahkoda kapal layar yang telah dibangunnya, sebagai salah satu bukti kasih sayang kita kepada mereka.

    Do’akan selalu, agar anak-anak lelaki kita dapat menjadi nahkoda-nahkoda yang handal, yang mampu mengarahkan bahtera rumah tangga menjadi rumah tangga yang barokah, penuh cinta dan kasih sayang, serta mampu menjadi qowam bagi istri dan anak-anaknya. Do’akan pula agar anak-anak perempuan kita dapat menjadi istri-istri sholihah, yang dapat mencipatakan susana rumah yang bagaikan surga dunia dimata keluarganya, mampu melahirkan anak-anak yang taat kepada Allah dan kepada kedua orang tuanya, serta mampu memberikan rasa nyaman kepada suami dan anak-anaknya. Hingga pada akhirnya, mereka menjadi pengantar-pengantar kita meraih surga-Nya. Insya Allah. Aamiin.

    Wallohu a’lam bbishshowwab.

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 16 April 2012 Permalink | Balas  

    Jilbab Itu Indah

    Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab? Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau? Di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.

    Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas “Tank Top”, noleh ke kiri pemandangan “Pinggul terbuka”, menghindar kekanan ada sajian “Celana ketat plus You Can See”, balik ke belakang dihadang oleh “Dada menantang!” Astaghfirullah… kemana lagi mata ini harus memandang?

    Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! Tapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran “ngeres” dan hatipun menjadi keras. Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk memakai aset berharga yang mereka punya.

    Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih… dan lebih lagi. Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki? Yaitunya: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan!

    Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya “lelaki” bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang ini.

    Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.

    Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya…? tapi saya sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan nanti? sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya. Allah Taala telah berfirman: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur : 30-31).

    Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggung jawabkan nantinya. Jadi tak salah juga bukan? kalau saya paling malas diajak ke mall, jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.

    Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan?

    So, berjilbablah … karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, canti, mempersona dan tentunya sejuk dimata.

    ***

    Sumber: Friendster Bulletinboard

     
    • ram 12:33 pm on 16 April 2012 Permalink

      Wanita remaja dan dewasa pakai jilbab tapi busananya ketat, sama juga ngumbar bentuk tubuh.
      Laki-laki muslim harus menahan pandangannya, bagi yang belum menikah, perbanyak puasa, amal dan ibadah.

    • irahakim 4:46 pm on 16 April 2012 Permalink

      Tulisannya amat jujur dan mengena, semoga makin banyak lelaki yang berfikiran sama lalu meluruskan pandangannya, dan juga wanita yang sadar untuk tidak “dzolim visual” terhadap lelaki :)

    • widytanpanama 6:09 pm on 16 April 2012 Permalink

      boleh saya share?

    • DolPin Merchandise Nikah 7:57 am on 17 April 2012 Permalink

      Cewek kalo pake jilbab lebih cantik
      save artikel ini ah, buat adek2

      maen kesini ya gan http://www.dolpinjogja.wordpress.com

    • DolPin Merchandise Nikah 8:04 am on 17 April 2012 Permalink

      kata orang tips bagi laki2 cuman 1
      NIKAH

      http://hantaranmaharhias.wordpress.com/

    • Putri 8:30 pm on 17 Juni 2012 Permalink

      saya suka tulisannya,, klo share ke group kira2 ada yg tersinggung gk yaa?

  • erva kurniawan 1:34 am on 15 April 2012 Permalink | Balas  

    Tanda-tanda Mencintai Allah

    Oleh : Imam Al Ghozali

    Seseorang itu hendaklah tidak benci kepada mati karena tidak ada orang yang enggan bertemu dengan sahabatnya. Nabi Muhammad saw bersabda: “Siapa yang ingin bertemu Allah, Allah ingin bertemu dengannya.” Memang ada juga orang yang ikhlas cintanya kepada Allah merasa gentar apabila mengingat kedatangan mati sebelum ia bersedia untuk pulang ke akhirat. Tetapi jika ia betul-betul ikhlas, ia akan bertambah rajin berusaha untuk membuat persediaan itu.

    Seseorang itu mestilah bersedia mengorbankan kehendaknya untukmengikuti kehendak Allah. Ia coba segala upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan benci kepada apa saja yang menjauhkan dirinya dari Allah. Dosa yang dilakukan oleh seseorang itu tidaklah menandakan ia tidak mencintai Allah sama sekali, tetapi itu menunjukkan bahwa ia tidak mencintai Allah sepenuh jiwa dan raga. Fudhail bin Iyadh berkata kepada seseorang: “Jika seseorang bertanya kepadamu apakah kamu cinta kepada Allah, hendaklah kamu diam. Jika kamu berkata: ‘Saya tidak cinta kepadaNya’, maka kamu kafir. Tetapi jika kamu berkata: ‘Saya cinta’, maka perbuatan kamu berlawanan dengan kata-katamu.”

    Ingat kepada Allah senantiasa ada dalam hati seseorang, tanpa ditekan atau diusahakan benar. Ini karena apa yang kita cintai itu senantiasa kita ingat.

    Sekiranya cinta itu sempurna, ia tidak akan lupa yang dicintainya itu. Ada juga kemungkinan bahwa senantiasa cinta kepada Allah itu tidak mengambil tempat yang utama dalam hati seseorang, maka cinta kepada mencintai Allah itu mungkin mengambil tempat juga. Cinta itu satu perkara dan cinta kepada cinta itu adalah perkara yang lain pula.

    Seseorang itu cinta kepada Al-Quran, yaitu Kalam Allah dan cinta kepada Nabi Muhammad yaitu Rasul Allah. Jika cintanya benar-benar kuat, ia akan cinta kepada semua manusia karena mereka semuanya hamba Allah. Bahkan cintanya meliputi semua makhluk, karena orang yang cinta kepada seseorang itu tentulah kasih juga kepada apapun yang dilakukan oleh kekasihnya itu termasuklah tulisan atau karangannya.

    Seseorang itu suka duduk sendirian untuk maksud beribadat. Ia suka malam itu lekas datang agar ia dapat berbicara dengan sahabatnya tanpa gangguan. Jika ia suka berbincang-bincang di siang hari dan tidur di malamnya maka itu menunjukkan cintanya tidak sempurna. Allah berfirman kepada Nabi Daud: “Janganlah terlalu dekat dengan manusia karena ada dua jenis manusia tersingkir dari majlisKu: yaitu mereka yang benar2 mencari ganjaran dan menjadi malas apabila mereka mendapat ganjaran itu; dan mereka yang mementingkan diri mereka sendiri lalu melupakan Aku. Tanda tidak ridhonya Aku ialah Aku biarkan mereka begitu.”

    Pada hakikatnya, jika cinta kepada Allah itu benar-benar mengambil tempat seluruhnya di dalam hati seseorang itu, maka cinta kepada yang lain itu tidak akan dapat mengambil tempat langsung di dalam hati itu. Diceritakan bahwa seorang dari Bani Israel mempunyai kebiasaan sembahyang di malam hari. Tetapi apabila melihat burung bernyanyi di pohon dengan merdu sekali, dia pun sembahyang di bawah pohon itu supaya dapat menikmati nyanyian burung itu. Allah menyuruh Nabi Daud berjumpa dengan dia dan berkata: “Engkau telah mencampurkan cinta kepada nyanyian burung dengan cinta kepadaKu. Martabat engkau di kalangan auliya Allah telah diturunkan.”

    Sebaliknya ada pula orang yang terlalu cinta kepada Allah. Di suatu hari ia sedang melakukan ibadatnya kepada Allah, rumahnya terbakar. Ia tidak nampak atau menyadari akan kejadian itu.

    Seseorang beribadat dengan perasaan senang. Seorang wali Allah berkata: “Dalam tiga puluh tahun yang pertama aku melakukan sembahyang malam dengan susah payah sekali. Dalam tiga puluh tahun yang kedua sembahyang itu menjadi enak dan nikmat.” Apabila cinta kepada Allah itu sempurna, maka tidak ada kenikmatan yang sebanding dengan kenikmatan ibadat

    Seseorang itu cinta kepada orang yang taat kepada Allah dan benci kepada orang-orang kafir dan orang-orang yang durhaka kepada Allah. Al-Quran menyatakan: “Mereka itu berkasih sayang terhadap orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir.”

    Nabi bertanya kepada Allah, “Wahai Tuhan, siapakah kekasihMu?” Terdengarlah jawaban, “siapa yang berpegang teguh kepadaKu seperti bayi dengan ibunya, mengambil perlindungan dengan mengingatKu seperti burung mencari perlindungan di sarangnya, dan yang marah melihat dosa seperti singa yang marah yang tidak takut kepada apa dan siapa pun.”

    ***

    Referensi : Kimia’u Sa’adah (Kimia Kebahagian)

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 11 April 2012 Permalink | Balas  

    Ikhlas

    Ikhlas. Inilah kata yang mudah sekali diucapkan -saya rela kok, saya ikhlas kok- tetapi sangat susah diaplikasikan dalam perbuatan sehari-hari. Karena ikhlas adalah amalan hati. Karena ikhlas tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Kita hanya dapat melihat dari tanda-tandanya. Itupun tidak pasti. Inilah (mungkin) sebagian makna dari keikhlasan:

    Ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak mendapat pujian dari orang lain, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak diekspos oleh media massa/elektronik, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata mendapat tanggapan yang negatif oleh orang lain, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak dicatat oleh sejarah, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata merugikan diri kita sendiri secara lahiriah, disitulah makna keikhlasan; dan seterusnya.

    Ada ataupun tidak ada orang lain kita tetap melakukan kebaikan; dicatat ataupun tidak dicatat oleh sejarah kita tetap melakukan kebaikan; diekspos ataupun tidak oleh media massa/elektronik kita tetap melakukan kebaikan; Ada ataupun tidak ada orang lain kita tetap melakukan kebaikan; mendapat pujian ataupun tidak kita tetap melakukan kebaikan; mendapat tanggapan positif ataupun negatif kita tetap melakukan kebaikan; dan seterusnya.

    Sehingga dalam Al Qur’an Surat 38:83 disebutkan salah satu kejujuran dari iblis/syetan bahwa dia tidak dapat menggoda orang-orang yang ikhlas.

    Wallahu A’lam bis Showab

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 10 April 2012 Permalink | Balas  

    Prasangka

    Allah SWT berfirman : “Hai orang – orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (At Taubah : 12)

    Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Jauhilah oleh kalian berprasangka, karena berprasangka merupakan seburuk-buruk pembicaraan, serta janganlah kalian meraba- meraba dan mencari-cari kesalahan orang lain. Janganlah kalian saling berdebat, saling hasut-menghasut, saling benci-membenci dan saling belakang – membelakangi, tetapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan kepada kalian. Orang Islam adalah saudara bagi orang Islam yang lain, tidak boleh saling menganiaya, membiarkan, mendustakan, dan saling menghina. Takwa itu disini dan (sambil) beliau mengisyaratkan (menunjuk)ke dadanya tiga kali. Cukuplah seseorang dikatakan orang jahat (buruk perangai) apabila dia menghina saudaranya yang Islam. Setiap orang Islam terhadap orang Islam yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya, dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak memandang tubuh, rupa, dan amal – amal perbuatanmu, tetapi Allah memandang kepada hatimu.” (HR.Bukhari & Muslim)

    “Gossip” mungkin kata ini bisa mewakili sebagian dari gambaran diatas. Ia sudah tidak asing lagi di telinga kita & seringkali menjadi tema pembicaraan sehari-hari, dan bahkan menjadi acara TV yang digemari. Dengan atau tanpa disadari, seringkali kita terperangkap didalamnya. Awalnya mungkin hanya sekilas mendengar, lalu menyimak, dan akhirnya ‘urun rembug’. “Seru” memang kala bergossip ria, tapi apakah kita sadar sebagian besar gossip itu adalah prasangka, dan kemungkinan besar orang yang menjadi objek gossip itu akan sakit hati atau bahkan menimbulkan fitnah, apakah kita mau, jika suatu saat, kitalah yang menjadi objek..?

    Pada hadits yang lain, dari Ibnu Mas’ud ra, bahwasanya ada seseorang yang dihadapkan kepadanya, kemudian dikatakan bahwa si Fulan itu jenggotnya masih meneteskan minuman keras, kemudian Ibnu Mas’ud berkata : “Sesungguhnya kami telah dilarang untuk mencari-cari kasalahan, tetapi kalau kami benar-benar mengetahui adanya suatu penyelewengan, maka kami pasti akan menghukumnya.” (HR. Abu Dawud)

    Dan pada surat Al Hujurat : 11, Allah berfirman : “Hai Orang – orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok- olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan), dan janganlah pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita- wanita (yang dolok-olokkan), lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan), dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu pangil memanggil dengan gelar – gelar yang buruk. Seburuk – buruk panggilan ialah (panggilan)yang buruk sesudah iman, dan itulah orang-orang yang zalim.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 9 April 2012 Permalink | Balas  

    Takut

    Rasa takut (khauf) selalu ada pada diri manusia. Ia muncul silih berganti dengan perasaan-perasaan lainnya. Meski keberadaannya wajar, namun umumnya manusia selalu berusaha menghilangkan rasa takut.

    Bahkan, sebisa mungkin menggantikannya dengan keberanian (saja’ah). Maka, tak berlebihan bila Ibnu Hazm, dalam al-Akhlaq washiyar mengatakan, “Tak ada satu tujuan pun yang dicari manusia dalam hidup ini kecuali untuk menghilangkan perasaan takut dan duka cita.”

    Memang, usaha menghilangkan perasaan ini menjadi tujuan inti, bahkan merupakan motif utama yang mendasari seluruh perbuatan dan aktivitas manusia. Orang mencari kekayaan dan harta sebanyak-banyaknya pada hakekatnya berusaha untuk menghilangkan ketakutan dan kemiskinan. Orang mencari popularitas merupakan usaha menolak ketertindasan dan perbudakan. Orang mencari ilmu pengetahuan karena takut akan bodoh dan dungu. Orang mencari kawan karena ingin membuang kesunyian dan keterasingan. Sejarah mencatat bagaimana Qarun tamak menimbun harta, karena takut akan kemiskinaan dan kehilangan harta. Fir’aun la’natullah ‘alaihi, juga takut jabatan dan kekuasaan tercabut dari genggamannya. Maka ia bunuh setiap bayi laki-laki yang lahir.

    Tapi, cukupkah manusia dengan rasa takut seperti itu? Tidak. Ia membutuhkan dimensi lain dari rasa takutnya. Yaitu rasa takut ukhrawi. Rasa takut seperti inilah sebenarnya yang bisa mendatangkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan hidup. Karena ia bermuara pada maghfirah Allah. Begitulah para salafushalih mencontohkan.

    Umar bin Abdul Aziz, sewaktu kecil sangat peka dan mudah berurai air mata karena rasa takutnya kepada Allah SWT. Suatu hari, ibunya menjumpai Umar kecil sedang menangis di kamar. Melihat itu, ibunya menghampiri dan merengkuh puteranya ke dalam pelukan. Sang ibunda lalu menanyakan perihal kesedihannya itu. “Tiada sesuatu pun wahai Ibunda, hanya saja ananda takut karena teringat akan mati,” jawab Umar tulus.

    Shalih Ibnu Kaisan, seorang ulama besar Madinah (guru dari Umar bin Abdul Aziz), mengisahkan masa kecil Umar. “Saya belum pernah mendengar seseorang yang demikian besar rasa takutnya kepada Allah SWT melebihi Umar.” Sedangkan Fatimah, istri Umar mengatakan, “Ia selalu mengingat Allah meskipun di tempat tidurnya, tubuhnya gemetar laksana seekor burung pipit yang kedingingan karena rasa takutnya. Bahkan aku sering berkata dalam hati, jangan-jangan esok hari, saat semua orang bangun dari tidurnya, mereka telah kehilangan khalifah mereka.” Sementara Ali bin Zaid memberitahukan, Umar bin Abdul Aziz selalu ketakutan seakan-akan neraka itu diciptakan untuk dirinya saja.”

    Takut seperti ini akan melahirkan jiwa-jiwa muttaqin. Bukan seperti takutnya manusia kepada sesamanya, binatang atau sesuatu lainnya. Namun takut yang diliputi oleh hati yang khusyu’ dan menerima ketentuan qadar-Nya. Takut kalau dijauhkan rahmat dan barakah-Nya. Seperti ditulis Najati dalam Al-Qur’an wa ‘ilmun nafs, bahwa takut kepada Allah di samping melahirkan sikap muttaqin, juga dapat menghindarkan diri dari bahaya. Sebab, rasa takut membuat orang selalu berfikir dan berhati-hati dalam melangkah, serta mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi.

    ***

    Oleh Taufik

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 5 April 2012 Permalink | Balas  

    Hukum Ghibah

    Apakah ghibah itu? yaitu mengucapkan perkataan (atau dengan gerak badan, mata, tulisan dsbnya) sesuatu yang tidak disukai pada diri orang lain. Termasuk yang tidak disenangi itu ada pada badannya, tingkah laku, agamanya dan sebagainya.

    Menurut al-Ghazali, definisi ini adalah yang telah diijma’kan oleh kaum muslimin (tiada seorangpun menolak). Maksudnya, mereka bersepakat mengatakan bahwa inilah definasi ghibah. Ghibah, dalam bahasa indonesia lebih dikenal Dengan kata mengumpat. Yaitu menceritakan keburukkan orang lain di belakangnya.

    Hukum Ghibah Umat Islam seluruhnya juga telah ijma’ mengatakan bahwa hukum ghibah adalah haram. Sebagian dalilnya ada termaktub pada ayat al-Quran dan hadis. Rasulullah s.a.w. bersabda : orang yang mengutuk orang Islam yang lain adalah fasik (melakukan maksiat )

    Dan siksaannya amat berat sekali, karena ia adalah termasuk diantara dosa-dosa besar. Dalam sebuah hadis diceritakan Ada 2 orang yang akan menerima siksa di alam kubur yaitu :

    1. Orang yang suka menyampaikan aib orang lain
    2. Orang yang tidak bersuci (sucinya tidak sempurna ) sehabis buang air kecil (kencing ).

    Namimah Adalah mengadu domba yaitu menyampaikan perkataan orang lain kepada yang lainnya dengan maksud kedua belah pihak berkelahi. Jadi, apabila hukum ghibah dan namimah itu haram, maka menasehati orang yang melakukan ghibah adalah wajib.

    Dalam menghadapi kemungkaran ada 3 hal yang harus kita lakukan menurut aturan agama kita, yaitu :

    1. Hentikan dengan kekuasaan bila kita punya kuasa.
    2. Cegah dengan perkataan
    3. Tolak dengan hati

    Namun sesungguhnya bila kita hanya mampu melakukan yang no 3 adalah termasuk orang yang lemah imannya.

    Ghibah yang diperbolehkan Hukum ghibah adalah haram. Ini adalah hukum asal. Atas alasan-alasan syarak ghibah diperbolehkan. Apakah alasan syarak itu? Yaitu ingin mencapai satu tujuan yang benar menurut pertimbangan syarak, di mana jika tidak melalui cara itu tujuan itu tak mungkin akan tercapai. Walaupun demikian, jika ada cara lain yang lebih baik sebaiknya ghibah ditinggalkan.

    Dalam masalah yang anda hadapi, saudara ingin Membela diri. maka dibenarkan jika: a) atas tujuan yang dibenarkan oleh syarak b) Jika tiada jalan lain melainkan dengan membuka aib orang lain. Contohnya, saudara telah dituduh mencuri, sedangkan saudara tahu siapa yang mencuri. Saudara terpaksa mempertahankan diri dengan berkata benar. Ini biasa berlaku di pengadilan. Pengadilan terpaksa membuka aib mereka yang terlibat untuk tujuan yang dibenarkan oleh syarak, yaitu membuktikan benar atau salahnya orang yang dituduh.

    Di bawah ini ada lima perkara yang diperbolehkan ghibah.

    1. Ingin mengadu kepada hakim, polisi, tokoh masyarakat dsbnya karena teraniaya. Kita terpaksa membuka kedzaliman yang telah dilakukan pada diri kita dengan membuka aib Pelaku sehingga keadilan bisa ditegakkan.
    2. Ingin mencegah kemungkaran & kemaksiatan yang akan terjadi. Keburukan si pelaku maksiat boleh diceritakan dengan harapan dapat menghindarkan orang lain Ikut melakukan kemaksiatan.
    3. Meminta fatwa / nasehat dari Ulama. Seorang istri bisa menceritakan perlakuan jelek suaminya karena sering memukul, tidak diberi nafkah dengan harapan mendapat nasehat dari ulama
    4. Mencela orang yang secara terang-terangan melakukan kefasikkan, dan kezaliman. Contoh: seorang yang secara terang-terangan meminum arak, berjudi, melaksanakan maksiat. Yang dibenarkan hanyalah menyebutkan kemaksiatan yang dilakukan secara terang-terangan itu saja. Dan diharamkan menyebutkan aib-aib lain.
    5. Untuk mengenalkan seseorang. Jika seseorang itu memang dikenal dengan julukan si pincang, si buta dan sebagainya, boleh menyebutkan julukan itu dengan niat mengenalkan. Haram jika dengan niat mencemooh, namum demikian selagi dapat mengenalkan dengan tidak menyebut julukan maka kenalkan dengan cara tersebut.

    Firman Allah Taala: “Allah tidak suka kepada perkataan yang tidak baik diperdengarkan, kecuali dari orang-orang yang teraniaya…” (al-Nisaa’, ayat 148)

    Hadis: “Aisyah r.a. berkata: Seseorang datang minta izin kepada nabi s.a.w. (masuk ke rumah). Lalu nabi s.a.w. bersabda: Izinkanlah. Dia adalah sejahat-jahat orang di kalangan kaumnya.” (riwayat Bukhari & Muslim)

    Hadis: “Aisyah r.a. berkata: Hindun binti Uthbah (isteri Abu Sufian) berkata kepada nabi s.a.w.: Sesungguhnya Abu Sufian seorang yang pelit dan tidak memberi belanja yang cukup kepada ku dan anak-anakku, kecuali kalau saya ambil di luar pengetahuannya. Nabi s.a.w. menjawab: Ambillah secukupmu dan anak-anakmu dengan sederhana.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

    Hadis: “Fatimah binti Qais berkata: Saya datang kepada Nabi s.a.w. bertanya tentang dua orang yang meminang saya,yaitu Abu Jahm dan Muawiyah. Maka Nabi s.a.w. bersabda: Adapun Muawiyah, dia adalah seorang yang miskin, dan Abu Jahm, dia adalah seorang yang suka memukul isteri.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

    Hadis di atas menunjukkan bahwa Nabi s.a.w. telah menceritakan keburukan orang lain untuk mencapai tujuan yang dibenarkan oleh syarak. Dan tiada pilihan lain melainkan memberitahu aib orang tersebut.

    Wallahu’alam..

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Deni 7:35 am on 4 Mei 2012 Permalink

      Naudzubillahiminzalik…

    • setiyo 12:06 pm on 28 Maret 2013 Permalink

      ada koreksi … menyampaikan kebenaran mengenai fatimah binti qais itu adalah kejadian saat dia harus memilih siapa yg akan diterima pinangannya dan bukan dalam rangka mengolok olok sedang pada saat itu fatimah tidak berbicara ke khalayak umum melainkan ke 1 orang saja yg dipercaya keilmuannya yaitu Rasulullah SAW .. harus dikoreksi penjelasan tsb

  • erva kurniawan 1:17 am on 4 April 2012 Permalink | Balas  

    Insya Allah

    Beberapa penduduk Mekkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan.” Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja “kegagalan” ini menjadi cemoohan kaum kafir.

    Saat itulah turun ayat menegur Nabi, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS 18: 24)

    Kata “Insya Allah” berarti “jika Allah menghendaki”. Ini menunjukkan bahwa kita tidak tahu sedetik ke depan apa yang terjadi dengan kita. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa manusia punya rencana, Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata “insya Allah” menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan ilahi.

    Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan insya Allah.

    Sayang, sebagian diantara kita sering melupakan peranan dan kekuasaan Allah ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu. Sebagian diantara kita malah secara keliru mengamalkan kata “insya Allah” sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Ketika kita diundang, kita menjawab dengan kata “Insya Allah” bukan dengan keyakinan bahwa Allah yang punya kuasa tetapi sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata “Insya Allah”. Begitu pula halnya ketika kita berjanji, sering kali kata “insya Allah” keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.

    Yang benar adalah, ketika kita diundang atau berjanji pada orang lain, kita ucapkan “insya Allah”, lalu kita berusaha memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti sakit, hujan, dan lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu, maka disinilah letak kekuasaan Allah. Disinilah baru berlaku makna “insya Allah”.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 3 April 2012 Permalink | Balas  

    Mengapa Tak Mau Berdoa?

    “Saya tak bisa bahasa Arab, saya malu memimpin do’a selepas sholat jama’ah bersama isteri saya, apalagi didepan jama’ah yang lain.”

    Pernahkah pengalaman ini menimpa kita? Insya Allah tidak. Tapi andaikata pernah, janganlah khawatir. Sungguh Allah itu mengerti segala macam bahasa. Jangan malu untuk berdo’a dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Kalau anda hapal do’a dalam bahasa arab, saya ucapkan alhamdulillah! Namun kalau anda lebih “sreg” berdo’a dengan bahasa selain bahasa Arab, saya pun berucap alhamdulillah! Yang terpenting adalah kita masih mau berdo’a. Kalimat terakhir ini mengundang pertanyaan, “Mengapa sih kita harus berdo’a?”

    Allah adalah Tuhan kita satu-satunya. Allah pun dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu” (QS 112:2). Dalam surat al-Fatihah kita pun berseru, “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in” (Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan). Karena itu, kalau ada orang yang mengaku bahwa Allah itu Tuhannya lalu ia tak mau berdo’a maka pantas kalau kita sebut orang tersebut orang sombong. Bukankah Allah telah berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS 40:60).

    Betulkah setiap do’a akan dikabulkan oleh Allah? Boleh jadi ada diantara kita yang telah berdo’a sesuatu namun tak kita rasakan hasil dari do’a tersebut. Pertama, harus disadari bahwa kita ini “hamba” sehingga tak berhak memaksa Allah. Kita yang membutuhkan Allah; bukan sebaliknya.

    Kedua, Allah lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Boleh jadi, sebuah do’a yang kita minta bila dikabulkan oleh Allah justru ujung-ujungnya dapat menimbulkan kesulitan dalam hidup kita atau mungkin Allah punya ketentuan lain yang tak kita ketahui. Sebagai contoh, Nabi Nuh berdo’a agar anaknya diselamatkan dari banjir dahsyat, Tuhan tidak mengabulkannya dan bahkan menegur Nabi Nuh sehingga Nabi Nuh pun berdo’a: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakekatnya) dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang rugi.” (QS 11: 47) Allah Maha Tahu, maka do’a kita kadang kala bukan tak dikabulkan tapi ditunda waktunya, atau malah diganti dengan yang lebih baik. Wa Allahu A’lam.

    Ketiga, sudah seberapa jauh usaha kita untuk “meminta” dan “memelas” pada Allah. Nabi Zakariya sendiri telah puluhan tahun berdo’a namun belum dikabulkan Allah. Tapi berbeda dengan kita yang cenderung tak sabar, Nabi Zakariya berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.” (QS 19:4)

    Begitulah sikap kita seharusnya: jangan pernah kecewa dalam berdo’a. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa “Aku ini bagaimana persangkaan hambaKu saja…” Maksudnya, kalau kita dalam berdo’a belum-belum sudah beranggapan bahwa do’a ini tak akan dikabulkan, yah begitulah jadinya. Insya Allah kita selalu berbaik sangka dan tak pernah kecewa dalam berdo’a.

    Dalam berdo’a kita diminta untuk berharap-harap cemas (QS 21:90). Artinya, kita berharap do’a kita akan dikabulkan, namun disisi lain kita juga cemas kalau-kalau do’a ini tidak dikabulkan. Gabungan perasaan inilah yang menjadi etika dalam berdo’a. Kita tidak terlalu yakin pasti akan dikabulkan, namun juga tidak putus asa. Etika lainnya adalah kita disuruh berdo’a dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut (QS 7:55). Kalau kita jalani etika berdo’a ini insya Allah hati kita akan tergetar dan seringkali tanpa sadar air mata menggantung di pelopak mata.

    Pendek kata, berdo’alah baik dalam keadaan sehat-sakit, suka-duka, kaya-miskin, berdiri-duduk-berbaring, pagi-siang-malam…….

    ***

    Dari Sahabat

     
    • eny 7:49 am on 3 April 2012 Permalink

      terima kasih buat artikelnya yang bagus dan penuh makna,sekaligus membuka hati….

    • Hanan Lutfi 9:35 pm on 3 April 2012 Permalink

      semua doa akan dikabulkan Allah selama manusia tidak tergesa-gesa,, yaitu dengan meminta doa itu dipercepat dan berkata, “aku telah berdoa tapi belum juga dikabulkan” ^_^

  • erva kurniawan 1:21 am on 2 April 2012 Permalink | Balas  

    “Kiat” Menjemput Maut

    Alkisah menurut shirah, pernah Nabi Ibrahim as berdialog dengan Malaikat Maut soal sakratulmaut. Sahabat Allah itu bertanya, ”Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu saat engkau mencabut nyawa manusia yang gemar berbuat dosa?”

    Malaikat menjawab pendek: ”Engkau tak akan sanggup.”

    ”Aku pasti sanggup,” tegas beliau.

    ”Baiklah, berpalinglah dariku,” pinta si Malaikat.

    Saat Nabi Ibrahim as berpaling kembali, di hadapannya telah berdiri sesosok makhluk berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau busuk, dan berpakaian serba hitam. Dari hidung dan mulutnya tersembur jilatan api. Seketika itu pula Nabi Ibrahim as jatuh pingsan! Ketika tersadar kembali, beliau pun berkata kepada Malaikat Maut, ”Wahai Malaikat Maut, seandainya para pendosa itu tak menghadapi sesuatu yang lain dari wajahmu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu menjadi hukuman untuknya.”

    Di kesempatan lain, kisah yang diriwayatkan oleh ‘Ikrimah dari Ibn ‘Abbas ini, menceritakan Nabi Ibrahim as meminta Malaikat Maut mengubah wujudnya saat mencabut nyawa orang-orang beriman. Dengan mengajukan syarat yang sama kepada Ibrahim as, Malaikat Maut pun mengubah wujudnya. Maka di hadapan Nabi yang telah membalikkan badannya kembali, telah berdiri seorang pemuda tampan, gagah, berpakaian indah dan menyebar aroma wewangian yang sangat harum.

    ”Seandainya orang beriman melihat rupamu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu sebagai imbalan amal baiknya,” kata Nabi Ibrahim as.

    Dari nukilan kisah itu, apakah bisik-bisik misteri tentang penampakan Malaikat Maut menjelang ajal seseorang benar adanya? Dalam pergaulan sehari-hari, kita sering mendengar kisah dari mulut ke mulut, misalnya tentang seseorang yang tiba-tiba melihat ”sesuatu” ketika salah seorang kerabatnya tengah menghadapi maut. Apakah itu berupa bayangan hitam, putih, atau pun hanya gumaman dialog mirip kata-kata yang dilontarkan oleh orang yang mengigau.

    Namun yang pasti selain Nabi Ibrahim as, dari beberapa riwayat, Nabi Daud dan Nabi Isa as juga pernah dihadapkan pada fenomena penampakan Malaikat Maut itu. Kisah sakratulmaut itu belum seberapa bila dibandingkan dengan sakratulmaut itu sendiri. Sakratul maut adalah sebuah ungkapan untuk menggambarkan rasa sakit yang menyerang inti jiwa manusia dan menjalar ke seluruh bagian tubuh, sehingga tak satu pun bagian yang terbebas dari rasa sakit itu. Malapetaka paling dahsyat di kehidupan paripurna manusia ini memberi rasa sakit yang berbeda-beda pada setiap orang.

    Untuk menggambarkan rasa itu, pernah Rasulullah SAW berkata: ”Kematian yang paling mudah adalah serupa dengan sebatang duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang terkoyak?”

    Tapi di bagian lain Rasulullah — seperti yang dikisahkan oleh Al-Hasan — pernah menyinggung soal kematian, cekikan, dan rasa pedih. ”Sakitnya sama dengan tiga ratus tusukan pedang,” sabda beliau.

    Diriwayatkan, ketika ruh Nabi Ibrahim as akan dicabut, Allah SWT bertanya kepada Ibrahim: ”Bagaimana engkau merasakan kematian wahai kawanku?”

    Beliau menjawab, ”Seperti sebuah pengait yang dimasukkan ke dalam gumpalan bulu basah yang kemudian ditarik.”

    ”Yang seperti itulah, sudah Kami ringankan atas dirimu,” firman-Nya.

    Tentang sakratulmaut, Nabi SAW bersabda, ”Manusia pasti akan merasakan derita dan rasa sakit kematian, dan sesungguhnya sendi-sendinya akan mengucapkan selamat tinggal satu sama lain seraya berkata ‘Sejahteralah atasmu; sekarang kita saling berpisah hingga datang hari kiamat kelak’.”

    Ustadz Aam Amirullah, da’i Radio OZ Bandung, menuturkan bahwa Rasulullah saw sendiri menjelang akhir hayatnya berucap ”Ya Allah ringankanlah aku dari sakitnya sakratulmaut” berulang hingga tiga kali. Padahal telah ada jaminan dari Allah SWT bahwa beliau akan masuk surga. ”Lalu, mari kita bandingkan tingkat keimanan dan keshalehan beliau dengan kita, yang hanya manusia biasa ini,” lanjut Aam. Maka sekitar 200-an hadirin yang memadati Aula Kantor Pusat PT Pos Indonesia, Bandung, mendadak tercekam hening.

    Untung banyolan KH Abdullah Gymnastiar — yang menyapa hadirin dengan sebutan ‘Calon Jenazah’ — segera memecah keheningan. Kematian, menurut Aa’ Agim, mestinya tak perlu menjadi sesuatu yang perlu ditakuti, tapi sebaliknya harus senantiasa dirindukan. Jika sesuatu itu begitu dirindukan, logikanya menurut dia, berarti ingin cepat-cepat pula ditemui. ”Barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah akan benci bertemu dengannya,” sabda Rasulullah SAW.

    Maka, terhadap manusia yang tak pernah tergugah dengan kematian manusia lain, Aa’ Agim secara guyon menyebutnya sebagai golongan ”mandom” alias manusia domba. ”Seperti domba di Idul Kurban. Terus makan rumput sambil menatap kawan-kawannya disembelih, padahal dia bakal dapat giliran juga,” tambah pimpinan Pesantren Daarut Tauhiid ini.

    Agim menganalogikan orang dalam golongan ini sebagai orang bodoh, yang meski telah diberi modal hidup tapi terhambur dengan sia-sia. ”Semakin banyak kesia-siaan yang kita lakukan, maka semakin tinggi pula tingkat kebodohan kita. Sebaliknya, orang yang paling cerdas adalah orang yang paling sering mengingat ajal dan paling banyak mempersiapkan diri menghadapi maut,” katanya.

    Khusnulkhotimah, menurut Agim, adalah suatu karunia Allah SWT yang khusus diberikan kepada manusia. Kyai yang kocak ini bilang, tak ada ceritanya muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Khusnulkhotimah itu seperti hadiah buat manusia, atas upaya manusia yang sungguh-sungguh menjalankan tugas hidup di dunia ini. ”Seperti mahasiswa yang belajar mati-matian, lalu lulus dengan predikat summa cum laude.”

    Jadi jangan pernah berpikir bagaimana supaya kita bisa mendapatkan khusnulkhotimah terlebih dulu. ”Kata-kata mati, harusnya mampu kita hadirkan dalam hati kita setiap hari,” paparnya.

    Sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa dengan banyak-banyak mengingat maut menjadikan seseorang menjadi makhluk yang produktif, cermat, dan selektif, adalah benar adanya, menurut Agim. ”Ini karena setiap pekerjaan yang dilakukannya dianggap sebagai pekerjaan terakhirnya. Karena maut itu bisa datang kapan saja.” Sebaliknya, kalau Allah belum memberi izin, maut tak akan datang. Agim memberi anekdot seperti orang yang bekeinginan bunuh diri di rel kereta api. Sesaat kereta melintas, ternyata badannya masih utuh. Karena ternyata ia berada di lintasan dengan tiga jalur rel.

    Dengan selalu mengingat maut, intinya kematian menjadi semacam bahan bakar agar manusia mampu hidup produktif dan bermanfaat. Menurut Aam Amirullah, ada empat ”selalu” agar manusia memiliki manfaat hidup. Pertama, selalu bermunajat kepada Allah SWT; kedua, selalu mengevaluasi dan mengintospeksi diri sendiri; ketiga, selalu bertafakur, mengasah diri dan ilmu; dan keempat, selalu memenuhi hak hidup, seperti makan, minum, tidur dengan teratur. ”Jadi sebelum kita mendekati sakratulmaut, Rasulullah sudah memberi solusi kepada manusia. Jika ajal telah tiba, tak perlu kita takut menghadapinya,” tambah Aam.

    ***

    Republika, 29 Mei 1999

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 1 April 2012 Permalink | Balas  

    Mengingat Mati

    Kematian adalah permulaan kepada kehidupan baru yang kekal abadi (Akhirat). Yakin dengan sebenar-benar yakin akan alam Akhirat sangat dituntut karena merupakan penjabaran dari rukun iman yang kelima.

    Sabda Rasulullah:

    “Perbanyakkanlah mengingati mati, niscaya akan meremehkan berbagai kelazatan.” (An Nasai, Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

    Ketika Malaikat maut datang menemui Nabi Yaakub AS untuk mencabut nyawa, beliau bertanya,”bukankah aku minta agar dikirimkan utusan terlebih dahulu”

    Malaikat maut menjawab,”demi Allah telah banyak utusanku memberi peringantan wahai nabi Allah,

    Jawab Nabi Yaakub,”aku tidak mengetahui dan mengenalinya,”

    Jawab malaikat maut pula,”yaitu berupa sakit, uban, pendengaran kurang dan penglihatan kabur.”

    Rasulullah bersadba,“Berziarahlah kubur karena ia dapat mengingatkan kamu kepada Akhirat. Mandikan orang mati karena mengurus jasad orang mati merupakan peringatan yang mendalam. Dan sembahyangkan jenazah karena ia dapat menyedihkan hati kamu karena orang yang bersedih dibawah naungan Allah SWT berarti bersedia dengan segala kebajikan. (Dari Abu Dzar)

    Barang siapa yang banyak mengingat mati akan mengutamakan 3 perkara:

    1. Segera bertaubat, karena yakin mati akan datang dengan tiba-tiba, tanpa disangka dan tidak mengira tempat.
    2. Berhati tenang dan senantiasa mewaspadai hati dari dihinggapi dan dikotori oleh berbagai mazmumah (sifat keji). Dan sentiasa mengingati Allah SWT.
    3. Rajin beribadah dan taat, dunia ini adalah tempat beramal dan akhirat adalah tempat perhitungan

    Tanda-tanda orang yang melupakan mati

    1. Menunda-nunda taubat, akhirnya mati dalam keadaan membawa dosa dan belum bertaubat. Seringkali berangan-angan karena menyangka mati masih lambat dan umur akan panjang.
    2. Tidak rela hidup sederhana akhirnya memburu kesenangan dan kemewahan dunia hingga lalai dari menginggati Allah SWT. Sering merasa kecewa dan putus asa seolah-olah dunia ini segala-galanya. Terlalu mementingkan diri sendiri dan sanggup menindas orang lain
    3. Malas beribadah, kelezatan menikmati nikmat dunia menyebabkan lenyapnya kelazatan beribadah pada Allah SWT. Hilang kemanisan ibadah, malah merasakan kosong dan tidak bermanafaat.

    Allah SWT Berfirman :

    Audzubillahi minasy syathonirrijim

    1. Kullu nafsindza iqotul maut (Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian)
    2. Faidza ja’a Ajaluhum laa yasta’khiruna sa’ah wala yastaqdimun (Maka apabila datang waktu kematian tidaklah dapat diundur dan tidak pula dapat dimajukan.)
    3. Wamal hayatuddun ya illa mata’ul ghuruur (Sesungguhnya dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Shodaqollohul adhim.)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 31 March 2012 Permalink | Balas  

    Bisul Yang Aneh – Hikmah (bag. 2 dari 2)

    Tiba-tiba aku dikejutkan oleh perubahan yang terjadi pada diriku. Aku lihat bisul-bisul kecil mulai bermunculan di badanku. Dan tiap kali aku bertanya kepada teman-teman yang ada disekitarku mereka selalu menjawab “Nggak, aku tidak melihatnya. Dimana sih”? Aku jadi semakin bingung. Aku yang salah lihat atau mereka yang tidak melihatnya.

    Bahkan ketika hari aku melihat bisul itu mulai mengeluarkan nanah. Tiap kali aku berjumpa dengan teman-temanku aku khawatir bau nanah yang busuk itu akan tercium oleh mereka, eh?.mereka malah tenang-tenang saja, seakan tidak melihatnya. Kadangkala aku tanyakan kepada mereka dengan bergurau (tapi serius), “eh kamu bau nggak”!? Mereka malah menjawab, “bau apa?! Ah..kamu belum mandi ya”..?

    Mereka tidak membaunya, mereka tidak melihatnya apakah bisul ini memang hanya mau dilihat olehku saja?! Sekali waktu karena jengkelnya aku tarik lengan sahabatku dan aku bawa ke depan kaca di kamarku dan aku tunjukkan bisul yang sebesar jagung dipipi kiriku, dia malah tertawa mengatakan aku bergurau dan menghinanya karena dia banyak jerawat. Padahal demi Allah aku melihat bisul itu dengan jelas.

    Aku ingin barang sekali saja ada orang yang bisa melihat bisul itu dan mengatakan “ya aku melihatnya dan aku mencium baunya yang busuk”..  supaya aku tahu bahwa bisul itu ada, bahwa aku tahu ini adalah penyakit yang memang terjadi pada diriku agar aku tahu bahwa aku harus berobat untuk menyembuhkannya. Tapi betapa sering aku ketemu orang dan sebegitu tidak juga mereka melihatku dengan cara yang aneh yang menunjukkan mereka mengetahui bisul yang ada dimukaku ini. Sekali waktu dalam perjalananku, aku pernah berpapasan dengan orang yang nampaknya tahu akan bisul itu, tapi kenapa dia tidak mau mengatakannya? Mungkin karena aku tidak cukup berani untuk menanyakan kepadanya apakah dia melihat bisulku.

    Akhirnya aku menyerah. Karena aku melihat setiap kali aku ribut dengan bisul-bisulku, semakin besar ia jadinya. Maka aku putuskan daripada orang-orang mengatakan aku gila, lebih baik aku nggak keluar kamar dulu. Memang betul …..beberapa waktu aku tidak keluar kamar eh….sedikit-sedikit bisul itu semakin mengecil.

    Akhirnya, aku putuskan untuk bertemu dengan teman-teman di ta’lim dan mulailah obrolan yang mengasyikkan dengan mereka, tentang perkembangan ta’lim, tentang betapa perasaan kangen karena ketidak munculanku dan tentu saja berita terbaru dari sekelilingku. Tiba-tiba aku merasakan bajuku menjadi sempit sementara lagi-lagi teman-temanku tenang-tenang saja, seakan mereka tidak melihat badanku yang menjadi gemuk dengan tiba-tiba. Dengan menahan kekalutan akan apa yang tiba-tiba terjadi, aku putuskan untuk pulang kembali ke rumah.

    Senja itu ketika kudapati diriku termenung di depan jendala kamar sambil menikmati matahari terbenam, tiba-tiba kurasakan badanku kembali kecil dan rasanya aku tidak bisa bicara, lidahku kelu tak dapat lagi mengucapkan dzikir yang biasa kubaca sesudah sholat. Tapi bisul itu tak pernah hilang. Dan dia selalu membengkak ketika aku sedang kalut.

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 30 March 2012 Permalink | Balas  

    Bisul Yang Aneh – Hikmah (bag. 1 dari 2)

    Dosa sebagai sesuatu yang samar pada beberapa orang karena tertutupnya kalbu membutuhkan mata yang lain untuk melihatnya. Dosa besar sebagai sesuatu yang nyata dan telah disebutkan dengan jelas nash-nya dalam al Qur’an mungkin sesuatu yang kita boleh jadi bisa langsung melihatnya. Tapi bagaimana dengan dosa-dosa kecil? Kadangkala kita melakukannya tapi kita tidak menyadarinya. Ketika kita melihat dengan menggunakan mata yang lain kita dapati ia telah menjadi sebuah borok/bisul dalam diri kita.

    Dan karena keterbatasan dan masih kurang percayanya kita dengan apa yang kita lihat (akal kita melakukan justifikasi bahwa itu kan sedikit, itu kan tidak apa-apa, itu kan nggak sengaja dst) kita berusaha memastikan dengan menanyakan kepada orang-orang disekeliling kita, apa betul sih ada bisul/dosa-dosa kecil itu yang telah kita lakukan.

    Justifikasi ini tidak akan pernah memuaskan mata yang lain yang melihatnya. Karena boleh jadi lingkungan mengatakan tidak apa-apa, nggak salah. Aku nggak melihat itu sebagai dosa. Tapi mata yang lain melihat bisul itu dengan jelas dan itu dipertegas dengan adanya cermin yang kita pakai untuk memastikannya. Justifikasi ini tentunya menunjukkan lingkungan dan teman yang bagaimana yang kita pilih untuk melakukan justifikasi tersebut.

    Maka ketika kita melakukan isolasi diri/seklusi sebagai bentuk introspeksi/muhasabah maka kesempatan untuk mengurangi dosa-dosa kecil itu bisa kita lakukan dan dzikir (lisan/kalbu) yang kita lakukan dalam kesendirian itu bisa menghapus dosa-dosa keci tsb.

    Ketika kita telah berinteraksi lagi dengan sekeliling kita sekalipun teman-teman di majelis taklim dosa- dosa kecil itu bisa saja muncul tanpa kita sadari. Ketika mereka mengatakan kangen nggak ketemu kita, dan kita merasa bangga tiba-tiba terbersit pikiran bahwa kita jadi orang penting nich. Dan itu mereka nggak tahu hanya mata yang lain yang mengetahuinya. Itulah mata hati kita dia melihat tubuh kita yang tiba-tiba menjadi besar dan dada kita terbusung.

    Tapi justru ketika kita melihat senja dalam kesunyian dan tidak mampunya lidah kita mengeluarkan ungkapan dzikir menunjukkan adanya pengakuan hati (yang itu tidak membutuhkan gerakan lidah) kita justru menyadari (lahir batin) akan kebesaran Allah dan inilah yang mampu mengembalikan kita pada posisi kita sebagai manusia yang tidak lebih hanya hamba sahaya saja.

    Wallohu’alam bish showab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 29 March 2012 Permalink | Balas  

    Buah Mengembalikan Urusan Kepada Allah dan Bersabar

    Dalam hidup ini setiap muslim kadang menghadapi ujian, cobaan dan bencana. Karena itu, ketika diuji, hendaknya ia bersabar dan mengharapkan pahala kepada Allah atas musibahnya. Jika demikian, tentu Allah tidak akan menyia-nyiakan sesuatu pun untuknya, bahkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang hilang darinya.

    Dalam Shahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah ra, bahwasanya ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw, ‘Tidaklah seorang muslim yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah, ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah ini, dan gantikanlah untukku sesuatu yang lebih baik darinya,’ kecuali Allah akan memberinya ganti yang lebih baik.’ Ummu Salamah berkata, ‘Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku berkata, ‘Siapakah orang Islam yang lebih baik dari Abu Salamah?, (penghuni) rumah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah saw? Lalu aku mengucapkan perkataan diatas, kemudian Allah menggantikan untukku Rasulullah saw sebagai suami’.”

    Wahai ummat Islam, ketahuilah! Sesungguhnya barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari padanya. Siapa yang meninggalkan dari menampar pipi sendiri, mengoyak-ngoyak pakaian dan berteriak-teriak meratap serta kemungkaran yang sejenisnya, kemudian ia memohon pahala di sisi Allah atas musibahnya serta mengembalikan semuanya kepada Allah, niscaya Allah akan menggantikanya dan sungguh Allah adalah sebaik-baik Pemberi ganti.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 28 March 2012 Permalink | Balas  

    Gugurnya Dosa bersama tetesan air Wudlu        

    “Abu Nadjih (Amru) bin Abasah Assulamy r.a berkata : Pada masa Jahiliyah, saya merasa bahwa semua manusia dalam kesesatan, karena mereka menyembah berhala. Kemudian saya mendengar berita ; Ada seorang di Mekkah memberi ajaran-ajaran yang baik. Maka saya pergi ke Mekkah, di sana saya dapatkan Rasulullah SAW masih sembunyi-sembunyi, dan kaumnya sangat congkak dan menentang padanya.

    Maka saya berdaya-upaya hingga dapat menemuinya, dan bertanya kepadanya : Apakah kau ini?

    Jawabnya : Saya Nabi.

    Saya tanya : Apakah nabi itu?

    Jawabnya : Allah mengutus saya.

    Diutus dengan apakah?

    Jawabnya : Allah mengutus saya supaya menghubungi famili dan menghancurkan berhala, dan meng-Esa-kan Tuhan dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

    Saya bertanya : Siapakah yang telah mengikuti engkau atas ajaran itu?

    Jawabnya : Seorang merdeka dan seorang hamba sahaya (Abubakar dan Bilal).

    Saya berkata : Saya akan mengikuti kau.

    Jawabnya : Tidak dapat kalau sekarang, tidakkah kau perhatikan keadaan orang-orang yang menentang kepadaku, tetapi pulanglah kembali ke kampung, kemudian jika telah mendengar berita kemenanganku, maka datanglah kepadaku.

    Maka segera saya pulang kembali ke kampung, hingga hijrah Rasulullah SAW ke Madinah, dan saya ketika itu masih terus mencari berita, hingga bertemu beberapa orang dari familiku yang baru kembali dari Madinah, maka saya bertanya : Bagaimana kabar orang yang baru datang ke kota Madinah itu?

    Jawab mereka : Orang-orang pada menyambutnya dengan baik, meskipun ia akan dibunuh oleh kaumnya, tetapi tidak dapat. Maka berangkatlah saya ke Madinah dan bertemu pada Rasulullah SAW.

    Saya berkata : Ya Rasulullah apakah kau masih ingat pada saya?

    Jawabnya : Ya, kau yang telah menemui saya di Mekkah.

    Lalu saya berkata : Ya Rasulullah beritahukan kepada saya apa yang telah diajarkan Allah kepadamu dan belum saya ketahui. Beritahukan kepada saya tentang sembahyang?

    Jawab Nabi : Sembahyanglah waktu Shubuh, kemudian hentikan sembahyang hingga matahari naik tinggi sekadar tombak, karena pada waktu terbit matahari itu seolah-olah terbit di antara dua tanduk syaitan, dan ketika itu orang-orang kafir menyembah sujud kepadanya. Kemudian setelah itu kau boleh sembahyang sekuat tenagamu dari sunnat, karena sembahyang itu selalu disaksikan dan dihadiri Malaikat, hingga matahari tegak di tengah-tengah, maka di situ hentikan sembahyang karena pada saat itu dinyalakan Jahannam, maka bila telah telingsir dan mulai ada bayangan, sembahyanglah, karena sembahyang itu selalu disaksikan dan dihadiri Malaikat, hingga sembahyang Asar. Kemudian hentikan sembahyang hingga terbenam matahari, karena ketika akan terbenam matahari itu seolah-olah terbenam di antara dua tanduk syaithan dan pada saat itu bersujudlah orang-orang kafir.

    Saya bertanya : Ya Nabiyullah : Ceriterakan kepada saya tentang wudlu’!

    Bersabda Nabi : Tiada seorang yang berwudlu’ lalu berkumur dan menghirup air, kemudian mengeluarkannya dari hidungnya melainkan keluar semua dosa-dosa dari mulut dan hidung. Kemudian jika ia membasuh mukanya menurut apa yang diperintahkan Allah, jatuhlah dosa-dosa mukanya dari ujung jenggotnya bersama tetesan air. Kemudian bila membasuh kedua tangan sampai kedua siku, jatuhlah dosa-dosa dari ujung jari-jarinya bersama tetesan air. Kemudian mengusap kepala maka jatuh semua dosa dari ujung rambut bersama tetesan air, kemudian membasuh dua kaki ke matakaki, maka jatuhlah semua dosa kakinya dari ujung jari bersama tetesan air. Maka bila ia sembahyang sambil memuja dan memuji Allah menurut lazimnya, dan membersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah, maka keluar dari semua dosanya bagaikan lahir dari perut ibunya ” (HR. Muslim)

    “Ketika Amru bin Abasah menceritakan hadits ini kepada Abu Umamah, oleh Abu Umamah ditegur : Hai Amru bin Abasah perhatikan keteranganmu itu, masakan dalam satu perbuatan orang diberi ampun demikian rupa. Jawab Amru : Hai Abu Umamah, telah tua usiaku, dan rapuh tulangku, dan hampir ajalku, dan tiada kepentingan bagiku untuk berdusta terhadap Allah atau Rasulullah SAW. Andaikan saya tidak mendengar dari Rasulullah, hanya satu dua atau tiga empat kali, atau lima enam tujuh kali tidak akan saya ceritakan, tetapi saya telah mendengar lebih dari itu” (HR. Muslim)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 26 March 2012 Permalink | Balas  

    Al Quran Dibukukan

    Tiap-tiap diturunkan ayat-ayat itu Rasul s.a.w. menyuruh menghafalkan, dan menuliskannya di batu, kulit binatang, pelepah tamar (tamar = kurma = dates), dan apa saja yang bisa disusun dalam suatu surat.

    Karena mereka belum mengenal kitab atau buku sebagai yang dikenal sekarang, sebab itu di waktu Al Qur`anul Karim dibukukan di masa khalifah Utsman bin `Affan.

    Rasul s.a.w. mengadakan peraturan, yakni Al Qur`an saja yang boleh dituliskan, selain dari Al Qur`an, hadits atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari mulut Rasul s.a.w. dilarang menuliskannya. Larangan ini dengan maksud supaya Al Qur’anul Karim itu terpelihara, jangan campur aduk dengan yang lain-lain yang juga didengar dari Rasul s.a.w.

    Bersabda Rasul s.a.w. janganlah kamu tuliskan ucapan-ucapanku! Siapa yang menuliskan ucapanku selain Al Qur`an, hendaklah dihapuskan, dan kamu boleh meriwayatkan perkataan-perkataan ini. Siapa yang dengan sengaja berdusta terhadapku maka tempatnya adalah neraka.

    Allah tidak menjamin kemurnian hadits Rasul s.a.w. maka ada kufar yang mampu memalsukannya. Inilah alasan larangan Rasul s.a.w. Yang pertama memalsukan hadits : Yahudi dan Zindiq.

    ***

    Diambil dari pengantar yang ada dalam Al Qur`an dan terjemahannya oleh Khadim al Haramain Asy Syarifain, 1992.

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 25 March 2012 Permalink | Balas  

    999 Masuk Neraka 

    999 MASUK NERAKA

    Allah berfiman dalam Hadits Qudsi sebagai berikut:

    Allah swt. berfirman pada hari qiamat: “Hai Adam! Bangkitlah, siapkanlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan keturunanmu (untuk ditempatkan) dalam neraka, dan satu (di antara mereka itu), akan ditempatkan dalam syurga”.

    (Ketika Rasulullah saw menerimanya kemudian menyampaikannya kepada para sahabat), beliau menangis tersedu-sedu, demikian pula para sahabat lainnya, lalu beliau bersabda: “Angkatlah kepala kalian. Demi Allah Yang menguasai jiwaku. (Dibandingkan) dengan ummat-ummat Nabi yang lain, ummat-Ku hanyalah bagaikan selembar bulu putih (yang terdapat) pada kulit lembu jantan yang berbulu hitam. (Hadith Qudsi Riwayat Thabarani di dalam kitab al-Kabir yang bersumber dari Abud-Darda’ r.a.)

    Banyaknya yang masuk neraka dan sedikitnya yang masuk syurga menurut Hadits di atas, dapat kita ramalkan dari sekarang. Di saat kita hidup dewasa ini kita saksikan banyaknya orang-orang kafir, orang-orang musyrik, munafiq, dan atheis yang menghiasi dunia ini dengan kema’siatan. Malah banyak pula orang-orang yang dirinya mengaku Muslim (beragama Islam) tetapi fasiq , suka menurutkan keinginan hawa nafsu, hanya mengikuti arus kehidupan yang melanggar ketentuan Agama. Banyak pula yang dengan sadar atau tidak sadar keluar dari garis-garis batasnya. Mereka inilah yang dimaksud dan termasuk golongan yang 999 itu.

    Ketika Nabi saw. mendengar hal sedikitnya orang-orang yang masuk syurga itu, beliau merasa sedih, lalu menangis. Para shahabat merasa kuatir dan takut kalau-kalau termasuk golongan banyak yang masuk neraka, sehingga mereka pun turut menangis pula.

    Menyaksikan betapa sedu-sedannya para sahabat menangis, Nabi saw. berkeinginan untuk menghibur mereka dan menyampaikan khabar gembira yang telah dikurniakan dan disampaikan Allah kepada ummat beliau. Beliau memerintahkan kepada mereka untuk mengangkat muka dan berhenti menangis. Beliau menyampaikan berita yang menegaskan bahwa banyak di antara ummat Muhammad yang mendapat taufiq dan hidayah Allah, serta berjalan di atas rel-Nya.

    Sehelai bulu berwarna putih pada kulit lembu hitam itu memang sedikit. Ummat Muhammad saw. itu memang sedikit dibandingkan dengan banyaknya ummat-ummat yang sesat dan menyeleweng. Selain jumlahnya sedikit, ummat Nabi Muhammad, adalah sebaik-baik ummat, menurut al-Quran. Sewajibnyalah kita sebagai ummat yang baik, berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa dapat mempertahankan kedudukan yang mulia ini.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 21 March 2012 Permalink | Balas  

    Orang-Orang Tamak

    Ada dua orang yang tamak dan masing-masing tidak akan kenyang. Pertama, orang tamak untuk menuntut ilmu, dia tidak akan kenyang. Kedua, orang tamak memburu harta, dia tidak akan kenyang.

    Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas ra di atas, ada dua karakter orang tamak yang tidak akan pernah puas terhadap apa yang dimilikinya dan senantiasa berusaha untuk menambahnya. Namun, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda menurut sisi pandang Islam.

    Adalah terpuji jika ada seorang Muslim yang tamak terhadap ilmu. Muslim seperti ini senantiasa menginginkan derajat keilmuan, akhlak, amal kebajikan, dan usahanya untuk meraih kemuliaan, yang akan mengetuk hatinya untuk menapaki tangga kesempurnaan sebagai seorang Muslim. Ia selalu memanfaatkan segala kesempatan untuk mengkaji Islam dalam memecahkan problem kehidupan manusia dengan hikmah. Sabda Rasulullah saw, ”Ilmu laksana hak milik seorang Mukmin yang hilang, di manapun ia menjumpainya, di sana ia mengambilnya,” (HR Al Askari dari Anas ra).

    Sedangkan ketamakan terhadap harta hanyalah akan menghasilkan sifat buas, laksana serigala yang terus mengejar dan memangsa buruannya walaupun harta itu bukan haknya. Fitrah manusia memang sangat mencintai harta kekayaan dan berhasrat keras mendapatkannya sebanyak mungkin dengan segala cara dan usaha. Firman Allah SWT: Katakanlah (hai Muhammad), jika seandainya kalian menguasai semua perbendaharaan rahmat Tuhan, niscaya perbendaharaan (kekayaan) itu kalian tahan (simpan) karena takut menginfakkannya (mengeluarkannya). Manusia itu memang sangat kikir. (QS Al Isra': 100).

    Rasulullah saw bersabda, ”Hamba Allah selalu mengatakan, ‘Hartaku, hartaku’, padahal hanya dalam tiga soal saja yang menjadi miliknya yaitu apa yang dimakan sampai habis, apa yang dipakai hingga rusak, dan apa yang diberikan kepada orang sebagai kebajikan. Selain itu harus dianggap kekayaan hilang yang ditinggalkan untuk kepentingan orang lain,” (HR Muslim).

    Seorang Mukmin adalah orang yang meyakini bahwa rezeki telah ditentukan oleh Allah SWT. Dia juga yakin bahwa setiap manusia tidak akan menemui ajalnya sebelum semua rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah dicukupkan kepadanya. Ia merasa cukup terhadap harta yang telah diperolehnya dan menyadari ada hak orang lain atas kelebihan harta yang dimilikinya. Ia infakkan sebagian hartanya di jalan Allah untuk membantu saudara-saudaranya yang dilanda kelaparan dan kekurangan. Demikianlah yang patut dilakukan seorang Muslim dan ia tidak lagi silau terhadap kekayaan orang lain yang dihimpun karena ketamakan.

    Rasulullah bersabda, ”Tidak ada iri hati kecuali dalam dua perkara, (yaitu) orang yang dikaruniai harta kekayaan dan dihabiskan untuk menegakkan kebenaran, dan orang yang dikaruniai hikmah kemudian ia melaksanakan dan mengajarkannya (kepada orang lain).”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 19 March 2012 Permalink | Balas  

    Memahami berbagai “KEBETULAN” dalam kehidupan

    Abraham Lincoln menjadi presiden Amerika tahun 1860 John F. Kennedy jadi presiden Amerika tahun 1960. pengganti Lincoln bernama Johnson (Andre) lahir tahun 1808 sedangkan pengganti Kennedy juga Johnson (Lindon) lahir tahun 1908 Kedua presiden, Lincoln dan Kennedy tewas terbunuh Pembunuh Lincoln lahir tahun 1839, pembunuh Kennedy lahir tahun 1939 kedua pembunuh presiden ini terbunuh sebelum sempat diadili. Sekretaris Lincoln bernama Kennedy, sekretaris Kennedy bernama Lincoln kedua sekretaris menyarankan kepada presiden agar tidak pergi ke tempat dimana kemudian terjadi pembunuhan, namun keduanya menolak. Pembunuh Lincoln melakukan pembunuhan di teater kemudian bersembunyi di pasar swalayan pembunuh Kennedy, sebaliknya.

    Apakah semua itu “kebetulan”?

    Dalam kehidupan Rasulullah terdapat pula hal-hal yang dapat dinamai kebetulan-kebetulan. Beliau lahir, hijrah dan wafat pada hari Senin bulan Rabiul awwal. Ayah beliau bernama Abdullah (pengabdian kepada ALLAH) Ibunya Aminah (kedamaian dan keamanan) bidan yang menangani kelahirannya bernama Asy-Syifa (kesembuhan, perolehan sempurna dan memuaskan), sedangkan yang menyusukan beliau bernama Halimah (yang lapang dada). Beliau sendiri diberi nama Muhammad (yang terpuji), suatu nama yang sebelumnya tidak dikenal sehingga menimbulkan banyak pertanyaan, “mengapa kakeknya menamainya demikian?”

    Apakah nama-nama tersebut merupakan kebetulan-kebetulan atau ia merupakan isyarat tentang kepribadian manusia ini?

    Suatu peristiwa yang tidak sejalan dengan kebiasaan atau terjadi secara tidak terduga biasa kita sebut “kebetulan”. Keterbatasan kemampuan dan pengetahuan mengantarkan kita untuk menamainya demikian. Tidak ada “kebetulan” disisi ALLAH SWT. Bukankah DIA Maha Mengetahui, Maha Berkuasa, Pengendali dan Pengatur alam ini? Sebahagian dari kebetulan-kebetulan itu tidak dapat ditafsirkan dengan teori kausalitas (sebab-akibat).

    Disamping sunnatullah ada juga yang dinamai inayatullah (uluran tangan Ilahi) yang tidak harus selalu sama dengan sunnahNYA. Bukankah sunnatullah, yang sering diterjemahkan “hukum hukum alam” tidak lain adalah kebiasaan-kebiasaan yang dialami kemudian diformulasikan? Bukankah ia pada hakikatnya hanyalah ikhtisar dari pukul rata statistik? Itulah anugerah ALLAH yang diberikan kepada siapa yang dikehendakiNYA.

    ***

    (dari : Lentera Hati, M Quraish Shihab).

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 18 March 2012 Permalink | Balas  

    Ketika Dosa Anda Sedalam Samudera

    Pernahkah kita menghitung dosa yang kita lakukan dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun bahkan sepanjang usia kita?

    Andaikan saja kita bersedia menyediakan satu kotak kosong, lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan, kira-kira apa yang terjadi? Saya menduga kuat bahwa kotak tersebut sudah tak berbentuk kotak lagi, karena tak mampu menaham muatan dosa kita.

    Bukankah shalat kita masih “bolong-bolong”? Bukankah pernah kita tahan hak orang miskin yang ada di harta kita? Bukankah pernah kita kobarkan rasa dengki dan permusuhan kepada sesama muslim? Bukankah kita pernah melepitkan selembar amplop agar urusan kita lancar? Bukankah pernah kita terima uang tak jelas statusnya sehingga pendapatan kita berlipat ganda? Bukankah kita tak mau menolong saudara kita yg dalam kesulitan walaupun kita sanggup menolongnya?

    Daftar ini akan menjadi sangat panjang……

    Lalu, apa yang harus kita lakukan?

    Allah berfirman dalam Surat az-Zumar [39]: 53 “Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Indah benar ayat ini, Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti dengan kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allah pun menjanjikan untuk mengampuni dosa-dosa kita.

    Karena itu, kosongkanlah lagi kotak yang telah penuh tadi dengan taubat pada-Nya. Kita kembalikan kotak itu seperti keadaan semula, kita kembalikan jiwa kita ke pada jiwa yang fitri dan nazih.

    Jika anda mempunyai onta yang lengkap dengan segala perabotannya, lalu tiba-tiba onta itu hilang. Bukankah anda sedih? Bagaimana kalau tiba-tiba onta itu datang kembali berjalan menuju anda lengkap dengan segala perbekalannya? Bukankah Anda akan bahagia? “Ketahuilah,” kata Rasul, “Allah akan lebih senang lagi melihat hamba-Nya yang berlumuran dosa berjalan kembali menuju-Nya!”

    Allah berfirman: “Dan kembalilahh kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS 39:54)

    Seperti onta yang sesat jalan dan mungkin telah tenggelam di dasar samudera, mengapa kita tak berjalan kembali menuju Allah dan menangis di “kaki kebesaran-Nya” mengakui kesalahan kita dan memohon ampunNya…

    Wahai Tuhan Yang Kasih Sayang-Nya lebih besar dari murka-Nya, Ampuni kami Ya Allah!

    ***

    Sumber: Tarbiyah Ramadhan

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 15 March 2012 Permalink | Balas  

    Wanita Penghuni Syurga

    Ketika Baginda Rasul SAW mengatakan, “Penghuni Neraka kelak lebih banyak kaum wanita”. Maka salah satu sahabat bertanya, ya Rasulullah. Apakah mereka tidak gemar beribadah kepada Allah?

    “Bukan”, jawab Rasulullah SAW.

    “Lalu kenapa?”, tanya sahabat.

    “ Mereka bahkan lebih taat menjalankan Sholat, puasa dan hadir dalam majlis ta’lim tapi mereka tidak bisa menjaga kehormatan suaminya”. Diantaranya:

    1. Mengeluhkan uang belanja yang diberikan suaminya (tidak mensyukurinya).
    2. Menceritakan kekurangan suaminya (tidurnya mendengkur dll).
    3. Tidak dapat menjaga harta suaminya.

    Dalam hadits lain disebutkan :

    1. Ya Rasulullah siapakah yang berhak atas diriku tanya seorang muslimah? “Suamimu”, lalu siapa lagi “Ibumu”, jawab Rasulullah.
    2. Rasulullah bersabda “Seandainya Allah mengizinkan manusia menyembah manusia maka aku suruh seorang istri menyembah suaminya”.

    Lalu siapakah wanita penghuni syurga?

    1. Wanita yang menegakkan Sholat.
    2. Wanita yang menjalankan Puasa dibulan Ramadhan.
    3. Wanita yang menjaga kehormatan dirinya (diantaranya menutup aurat).
    4. Patuh pada suami, dan suaminya ikhlas kepadanya .

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 13 March 2012 Permalink | Balas  

    Panggilan Terhadap Mayat

    Dalam suatu riwayat disebutkan, tatkala roh berpisah dari tubuh, maka ia dipanggil dari langit dengan tiga kai jeritan:

    Wahai anak Adam!!!

    • Apakah kamu meninggalkan dunia, atau dunia yang meninggalkan kamu?
    • Apakah kamu mengumpulkan dunia, atau dunia mengumpulkan kamu?
    • Apakah kamu mematikan dunia, atau dunia mematikan kamu?

    Jika mayat diletakkan di tempat untuk dimandikan, maka ia dipanggil tiga kali teriakan:

    Wahai anak Adam!!!

    • Dimanakah tubuhmu yang kuat, bukankah sekarang ini kamu menjadi lemah?
    • Dimana mulutmu yang bijak, bukankah sekarang kamu diam?
    • Dimana kekasihmu, bukankah mereka sekarang mengasingkan kamu?

    Dikala mayat diletakkan di tempat kafan, ia dipanggil tiga kali jeritan:

    Wahai anak Adam!!!

    • Pergilah kamu ketempat yang jauh ke tanpa membawa bekal!
    • Keluarlah kamu dari rumahmu, dan tidak usah kembali!
    • Naiklah kuda, dan kamu tidak akan naik seperti itu selamanya, kamu akan menjadi sesuatu di dalam rumah yang penuh kesedihan!

    Sewaktu mayat itu dipikul diatas usungan, ia dipanggil tiga kali jeritan:

    “Wahai anak Adam!!!

    • Sangat berbahagialah kamu jika kamu termasuk orang yan bertaubat.
    • Sangat berbahagialah kamu jika amal kamu baik.
    • Sangat berbahagialah kamu jika sahabatmu dalam keridhaan Allah, dan alangkah celakanya kamu jika para sahabatmu orang yang dimurkai Allah.”

    Sewaktu mayat diletakkan untuk disholatkan, maka ia dipanggil tiga kali teriakan:

    Wahai anak Adam!!!

    • Segala amal yang telah kamu lakukan akan kamu lihat!
    • Jika amal perbuatanmu baik, maka kamu akan melihat baik!
    • Jika amal perbuatanmu buruk, kamu pun akan melihat buruk!”

    Kemudian apabila mayat sudah berada di tepi kubur, maka ia dipanggil lagi tiga kali teriakan:

    “Wahai anak Adam!!!

    • Bukankah kamu menambahkan damai pada tempat yang sempit ini?
    • Bukankah kamu membawa kekayaan di tempat kekafiran ini?
    • Bukankah kamu membawa penerang di tempat yang gelap ini?

    Dan jika mayat diletakkan pada liang kubur, maka iapun dipanggil dengan tiga kali jeritan:

    Wahai anak Adam!!!

    • Kamu di atas punggungku bersenda gurau, tapi kamu dalam perutku menjadi menangis.
    • Kamu berada diatas punggungku bergembira ria, tapi kamu dalam perutku menjadi cemas dan duka.
    • Kamu diatas punggungku dapat berbicara, tapi kamu dalam perutku kamu menjadi diam.”

    Setelah manusia pulang meninggalkan mayat yang sudah dikuburkan itu, lalu Allah SWT berfirman: “Wahai hamba-hambaKu, kamu tetap terpencil dan bersendirian, para manusia sudah pergi dan pulang meninggalkan kamu bersendirian dalam kegelapan kubur. Padahal kamu telah berbuat maksiat kepada-Ku karena para manusia, karena isteri dan anak. Namun Aku sangat kasihan kepadamu pada hari ini dengan limpahan Rahmat, yang denganya para makhluk semua kagum. Dan aku lebih kasihan kepadamu daripada kasih IBU kepada anaknya.”

    Wahai saudara muslimin ku, siapakah mayat itu, aku, kau, kamu semua sudah pasti akan menjadi mayat suatu hari nanti. Dikala itu kita pasti akan mendengar jeritan yang amat menggerikan itu hinggakan makhluk yang lain mendengarnya merasa takut dan kagum terhadap Maha Pencipta. Mana amalanmu, mana kebaikanmu sebagai Khalifah Allah dimuka bumi ini………………???????

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 12 March 2012 Permalink | Balas  

    Tipu Daya Syetan

    Oleh: K.H. Abdullah Gymnastiar

    Ada kaidah bahwa sesuatu yang tidak terlihat tidak lantas disebut tidak ada. Contoh sederhananya adalah elektron, udara, jin.  Seorang Profesor elektro pun pasti belum pernah melihat elektron dengan kasat mata, atau melihat arus listrik yang mengalir pada kabel. Bila tidak percaya pegang saja kabel listrik kalau tidak kabel itu “menggigit” alias nyetrum. Tapi jangan coba-coba mengetesnya sendiri pokonya percaya saja.  Udara juga kita pasti tidak dapat melihatnya. Yang terlihat hanyalah gerakan benda-benda yang terhempas oleh udara contohnya dedaunan yang bergoyang terhempas udara.  Begitu juga jin. Dan untuk masalah jin ini, walaupun tidak terlihat dia pasti ada. Jin itu sendiri ada yang muslim dan ada yang kafir. Dan yang mengajak kejahatan itu disebut dengan syetan dan nenek moyangnya adalah iblis laknatulloh.

    Mengapa kita harus percaya bahwa sesuatu yang tidak terlihat belum tentu tidak ada? Itu karena manusia sendiri diciptakan sempurna oleh Alloh. Manusia diciptakan dengan keterbatasan. Dengan keterbatasannya itu sesungguhnya itu adalah rahmat bagi manusia itu sendiri. Manusia diciptakan dengan kemampuan melihat pergerakan benda yang kecepatannya terbatas. Juga manusia diciptakan dengan kemampuan mendengar yang terbatas. Coba kita lihat baling-baling pesawat, pasti bila putaran baling-baling itu kecepatannya makin tinggi maka tidak akan kelihatan anak baling-baling tsb. Coba kita bisa mendengar semua frekuensi suara bisa stress jadinya bila setiap hari mendengar suara kelelawar, suara gelombang radio atau suara semut.  Maha suci Alloh yang telah menciptakan keterbatasan pada diri manusia.

    Manusia diciptakan dari tanah/sari pati tanah. Tapi bukan berarti kalau kita ditimpuk oleh tanah langsung bersenyawa , hasilnya yang pasti adalah benjol. Begitu juga dengan jin yang diciptakan dari panas api dan itu tidak berati jin tidak bisa meraskan panasnya api (neraka).

    Menurut sejarahnya iblis/syetan selalu akan berusaha membuat manusia menyimpang dari jalan yang lurus. Dan itu dilakukan dalam ukuran detik atau bahkan bila ada yang lebih kecil dari detik maka begitu gencarlah syetan berusaha menyesatkan manusia.

    Kita yang tidak bisa melihat jin kafir/syetan suka terlena akan godaan syetan ini. Kita suka tidak sadar bahwa mereka selalu mengintai dan menyesatkan manusia seperti halnya aliran darah dalam tubuh manusia yang terus bersirkulasi begitu juga syetan , terus menyesatkan manusia tanpa henti.

    Oleh sebab itu yakini sesungguhnya kita sedang berperang antara manusia dengan syetan. Dan syetan adalah musuh yang nyata bagi manusia walaupun tidak terlihat mata. Dan alangkah aneh kita manusia tetapi tidak tahu atau tidak awas siapa musuh kita, bagaimana musuh kita.

    Syetan itu bekerja sama antara syetan dari golongan jin dengan syetan dari golongan manusia.  Contohnya adalah: melalui desainer pakaian syetan membisik-bisikan agar si desainer menghasilkan desain pakaian yang mini-mini yang membuka aurat. Juga syetan memberikan ide-ide kepada para pembuat iklan untuk membuat iklan yang menghasilkan kesan mesum dan juga para penggubah lagu juga dibisik-bisiki supaya menghasilkan lagu yang mengundang syahwat. Kesemuanya bermuara kepada melalaikan untuk mengingat Alloh! Bila melihat sinetron jaman sekarang, pasti bapak-bapak/ibu-ibu juga anak laki-laki/perempuan suka nonton sinetron bukan karena jalan ceritanya yang bagus tapi cenderung karena pemainnya yang muda-muda cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Dan ini tanpa disadari bisa menjadi sumber ketidak harmonisan rumah tangga. Coba saja lihat “habis lihat sinetron dengan pemainnya wanita-wanita cantik lalu setelah itu lihat wajah istri sendiri”, pasti akan kelihatan lebih tua. Karena apa, karena barusan melihat wanita-wanita muda dan cantik disinetron. Begitu juga dengan ibu-ibu “habis lihat pemain yang muda gagah” lalu lihat suami, wah koq kelihatan sudah tua sekali. Itulah cara-cara syetan memalingkan manusia melalui berbagai cara agar kehidupan manusia penuh dengan perpecahan dan jauh dari mengingat Alloh.

    Coba jalan-jalan ke Mall, dimana ada di Mall itu sesuatu yang bisa mengingatkan kita kepada Alloh.  Suaran adzan / lantunan Al-Qur’an tidak terdengar, sholat pun bisa jadi lewat begitu saja.

    Begitu juga halnya dengan pacaran. Bila ada yang berkata “Aku cinta padamu”, padahal arti sebenarnya adalah “Aku nafsu sama kamu”.  Kenapa? Karena cinta itu sejatinya setelah memasuki jenjang perkawinan. Sebelum pernikahan yang ada hanyalah nafsu. Untuk itu berhati-hatilah antara pergaulan muda-mudi jangan sampai tergelincir kepada zina.

    Dalam upaya kita berbuat kebaikan juga selalu berusaha syetan itu menyusup, misalnya ketika berbuat baik ditiup-tiupkan perasaan riya’ atau ketika baca Al-Qur’an dibagus-baguskan supaya orang lain memuji kita.

    Oleh sebab itu yakinlah bahwa syetan itu ada dan selalu berusaha menggelincirkan manusia kepada maksiat dan jauh dari mengingat Alloh.

    Ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menjauhkan godaan syetan, antara lain adalah memohon perlindungan kepada Alloh agar diselamatkan dari godaan syetan, sebab syetan itu sendiri mutlak berada dalam genggaman Alloh.

    Jangan jadikan rumah kita menjadi sarang syetan. Caranya adalah hindari barang -barang yang bisa menarik syetan untuk dijadikan tempat bersarang. Contoh: jangan ada patung, lukisan makhluk hidup, jangan ada tempat-tempat kotor, lembab, bau dan tidak terawat. Jangan pelihara anjing – Bagi yang punya anjing kasihkan saja sama orang lain yang non muslim – karena anjing itu bisa menahan malaikat rahmat memasuki rumah kita. kalau untuk penjaga pakai saja alarm atau sewa satpam.  Buat juga kamar atau rumah itu suasananya bisa mengingat Alloh. kalau perlu pajang kain kafan di kamar. Hati-hati dengan barang-barang elektronik seperti Komputer, TV, VCD , dll karena barang -barang itu juga bisa dijadikan alat perusak iman kita oleh syetan.

    Disamping menjaga lingkungan dari kemungkinan dijadikannya sarang syetan maka diri kitapun harus dijaga dengan dzikir kepada Alloh baik diwaktu pagi atau petang dan juga sebelum tidur. Beberapa contoh yang dapat dilakukan adalah berwudhu sebelum tidur, membaca do’a sebelum tidur, juga baca ayat kursi atau baca lafadz : Laa ilaaha illallohu wahdahu Laa syarikalah lahul mulku walahul hamdu yuhyii wa yumiitu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir sebanyak 100 kali (kalau bisa) atau baca doa-doa yang mashyur ( Dzikir Al Ma’tsurat misalnya ).

    Dan sebagai salah satu bentuk pertahanan yang harus selalu kita lakukan bagi keluarga / anak-anak kita atau saudara-saudara kita adalah berdo’a kepada Alloh – yang menguasai segala makhluk – agar terlindung dari godaan syetan.

    Semoga kita semua dapat diselamatkan dan dilindugi oleh Alloh dari godaan syetan dan iblis yang terkutuk. Aamiin.

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 4 March 2012 Permalink | Balas  

    Bila Al Qur’an bisa bicara!

    “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al A’raaf [7] : 36).

    Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
    Dengan wudu’ aku kau sentuh dalam keadaan suci
    Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
    Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
    Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra

    Sekarang engkau telah dewasa…
    Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku…
    Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah…
    Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu
    Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

    Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya
    Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
    Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa
    Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
    Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian
    Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.

    Dulu…pagi-pagi…surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
    Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau…..

    Sekarang… pagi-pagi sambil minum kopi…engkau baca
    Koran pagi atau nonton berita TV Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia
    Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
    Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan…

    Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surah2ku (Basmalah)
    Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
    Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
    Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
    Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku

    Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
    Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu
    Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
    E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
    Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu
    Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku

    Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
    Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga
    Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
    Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah

    Waktupun cepat berlalu…aku menjadi semakin kusam dalam lemari
    Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
    Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali Itupun hanya beberapa lembar dariku
    Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
    Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.

    Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan?
    Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba
    Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya
    Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selama melaluinya.

    Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu…
    Setiap saat berlalu…kuranglah jatah umurmu…
    Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
    Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
    Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.

    Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati…
    Di kuburmu nanti….
    Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
    Yang akan membantu engkau membela diri
    Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu
    Dari perjalanan di alam akhirat
    Tapi Akulah “Qur’an” kitab sucimu
    Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu

    Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari
    Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
    Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui
    Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.

    Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu…
    Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
    Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
    Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu

    Sentuhilah aku kembali…
    Baca dan pelajari lagi aku….
    Setiap datangnya pagi dan sore hari
    Seperti dulu….dulu sekali…
    Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos…
    Di surau kecil kampungmu yang damai

    Jangan biarkan aku sendiri…. Dalam bisu dan sepi….

    “Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan SHOLAT dan ZAKAT untuk akhiratmu”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Eka 2:37 pm on 5 Maret 2012 Permalink

      Bermanfaatttt,,,

    • rumahbukuislami 9:50 pm on 6 Maret 2012 Permalink

      infonya bagus banget, syarat dengan pengetahuan………..
      rumah buku

    • susi 10:40 am on 14 Maret 2012 Permalink

      Subhanallah…
      izin copas lagi ya…

    • indra 10:47 am on 14 Maret 2012 Permalink

      good story

    • mico 4:04 pm on 15 Maret 2012 Permalink

      subhanallah…. trimakasih pengetahuannya

    • Faishal 9:26 am on 24 Juli 2012 Permalink

      teerimakasih filenya bagus banget :)
      izin Copas ya…

  • erva kurniawan 1:56 am on 3 March 2012 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an

    Di antara kemurahan Allah terhadap manusia adalah Dia tidak saja memberikan sifat yang bersih yang dapat membimbing dan memberi petunjuk kepada mereka ke arah kebaikan, tetapi juga dari waktu ke waktu Dia mengutus seorang rasul kepada umat manusia dengan membawa kitab dari Allah, dan menyuruh mereka beribadah hanya kepada Allah saja, menyampaikan kabar gembira, dan memberikan peringatan agar menjadi bukti bagi manusia.

    “(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An Nisaa':165).

    Perkembangan dan kemajuan berpikir manusia senantiasa disertai wahyu yang sesuai dan dapat memecahkan problematika yang dihadapi kaum setiap rasul, sampai perkembangan itu mengalami kematangannya. Allah menghendaki agar risalah Muhammad saw. muncul di dunia ini, maka diutuslah beliau saat manusia tengah mengalami kekosongan para rasul, untuk menyempurnakan “bangunan” saudara-saudara pendahulunya (para rasul) dengan syariatnya yang universal dan abadi, serta dengan kitab yang diturunkan kepadanya, yaitu Alquran.

    Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Perumpamaan diriku dengan para nabi sebelumku adalah bagaikan orang yang membangun sebuah rumah. Ia kemudian membaikkan dan memperindah rumah itu, kecuali letak satu bata di sebuah sudutnya. Maka orang- orang pun mengelilingi rumah itu, mereka mengaguminya dan berkata, ‘Seandainya bukan karena batu bata ini, tentulah rumah itu sudah sempurna.’ Maka akulah batu bata itu, dan akulah penutup para nabi.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi).

    Alquran adalah risalah Allah kepada seluruh manusia. Banyak nas yang menunjukkan hal itu, baik di dalam Alquran maupun sunah. “Katakanlah, ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua ….” (Al- A’raaf: 158).

    “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al- Furqaan (Alquran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Al Furqaan: 1).

    Rasulullah saw. bersabda, “Setiap nabi diutus kepada kaumnya secara khusus, sedang aku diutus kepada segenap umat manusia.” (HR Bukhari Muslim).

    Sesudah Muhammad saw. tidak akan ada lagi kerasulan lain. “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah rasul Allah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Ahzaab: 40).

    Maka, tidaklah aneh bila Alquran dapat memenuhi semua tuntutan kemanusiaan berdasarkan asas-asas pertama konsep agama samawi. Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu ‘Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya ….” (Asy Syuuraa: 13).

    Rasulullah saw. juga telah menantang orang-orang Arab dengan Alquran, padahal Alquran diturunkan dengan bahasa mereka, dan mereka pun ahli dalam bahasa dan retorikanya. Namun, ternyata mereka tidak mampu membuat apa pun seperti Alquran, atau membuat sepuluh surat saja, bahkan satu surah pun seperti Alquran. Maka, terbuktilah kemukjizatan Alquran dan terbukti pula kerasulan Muhammad.

    Allah juga menetapkan untuk menjaga Alquran dan menjaga pula penyampaiannya yang beruntun, sehingga tak ada penyimpangan atau perubahan apa pun. Tentang Jibril yang membawa Alquran didasarkan pada firman Allah yang artinya, “Dia dibawa turun oleh ar-ruh al-amin (Jibril).” (Asy Syu’araa: 193).

    Dan, diantara sifat Alquran dan sifat orang yang diturunkan kepadanya Alquran adalah “Sesungguhnya Alquran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang gaib.” (At Takwiir: 19–24).

    “Sesungguhnya Alquran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba- hamba yang disucikan.” (Al Waaqi’ah: 77–79).

    Keistimewaan yang demikian ini tidak dimiliki oleh kitab-kitab yang terdahulu, karena kitab-kitab itu diperuntukkan bagi satu waktu tertentu. Maha Benar Allah dalam firman-Nya yang artinya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-dzikr (Alquran), dan sesungguhnya Kamilah yang benar-benar akan menjaganya.” (Al Hijr: 9).

    Risalah Alquran di samping ditujukan kepada manusia, juga kepada jin. “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Alquran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).’ Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Alquran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya …’.”(Al Ahqaf: 29–31).

    Dengan keistimewaan ini, Alquran memecahkan problematika manusia dalam berbagai segi kehidupan, baik rohani, jasmani, sosial, ekonomi maupun politik dengan solusi yang bijaksana. Karena, ia diturunkan oleh Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji. Pada setiap problem itu Alquran meletakkan sentuhannya yang mujarab dengan dasar-dasar yang umum yang dapat dijadikan landasan untuk langkah-langkah manusia, dan yang sesuai pula buat setiap zaman. Dengan demikian, Alquran selalu memperoleh kelayakannya di setiap waktu dan tempat, karena Islam adalah agama yang abadi. Alangkah menariknya apa yang dikatakan oleh seorang juru dakwah abad ke-14 ini, “Islam adalah suatu sistem yang lengkap; ia dapat mengatasi segala gejala kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, atau pemerintah dan bangsa. Ia adalah moral dan potensi atau rahmat dan keadilan; ia adalah pengetahuan dan undang-undang atau ilmu dan keputusan. Ia adalah materi dan kekayaan, atau pendapatan dan kesejahteraan. Ia adalah jihad dan dakwah atau negara dan ideologi. Begitu pula, ia adalah akidah yang benar dan ibadah yang sah.”

    Manusia yang kini hati nuraninya tersiksa dan akhlaknya rusak tidak mempunyai pelindung lagi dari kejatuhannya ke jurang kehinaan selain Alquran. “… barang siapa yang mengikuti petunjuk- Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaahaa: 123–124).

    Kaum muslimin sendirilah yang membangun obor di tengah gelapnya sistem dan prinsip lain. Mereka harus menjauhkan diri dari segala kegemerlapan yang palsu. Mereka harus membimbing manusia yang kebingungan dengan Alquran sehingga terbimbing ke pantai keselamatan. Seperti halnya kaum muslimin dahulu mempunyai negara dengan melalui Alquran, maka tidak boleh tidak pada masa kini pun mereka harus memiliki bangsa dengan Alquran juga.

    ***

    Sumber: Studi Ilmu-Ilmu Quran , terjemahan dari Mabaahits fii ‘Uluumil Quraan, Manna’ Khaliil al- Qattaan PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 2 March 2012 Permalink | Balas  

    Bagaimana Wanita Memilih dan Dipilih Suami

    Oleh: Ummu Abdillah

    Menikah bukan perkara gampang, bukan pula perkara susah. Jadi, bagaimana seharusnya? Dalam risalahnya, Syaikh menulis banyak tentang hal ini. Dan ini ada beberapa nasehat di antaranya:

    1. Jangan kau memandang kepada harta, kedudukan, dan kecakapan paras, tetapi pilihlah yang taat pada agama. RosuluLLOH sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Kalau datang kepadamu seorang pria yang meminang yang kau senangi agama dan akhlaqnya, maka terimalah. Kalau tidak, bisa menjadi fitnah di atas bumi dan kerusakan yang besar.” (HR Tirmidzi dan selainnya)
    2. Kalau dicintai oleh suami yang taat beragama, maka dia menjadi pendorong dalam hal agama dan duniamu.
    3. Kalau Anda tidak dicintai, maka minimal dia tidak membencimu, mendholimi dirimu, dan menghinamu, karena dia akan beramal seperti apa yang disabdakan RosuluLLOH: ”Dilarang seorang mukmin mengina mukminah(istrinya), kalau dia tidak menyenangi sesuatu, maka akan menyukai yang lain” (HR. Muslim)
    4. Suami yang taat agama akan menjadi pemandu dalam mendidik anak dan memelihara dengan pendidikan agama Islam yang shahihah.
    5. Maka Islam akan menjadi pedoman asas hidup dan hukum mereka, dan akan berhasil mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
    6. Suami yang taat agama akan menasehati kalau keliru dan menjelaskan tentang kebenaran, maka terimalah dia.
    7. Bagi suami yang muslim agar memilih istri yang shalihah yang berpegang kepada agama, yang bisa menjaga rumahnya dan keluarganya dari kerusakan. Dan menjaga hak suami menurut sabda Rosululloh: ”Dikawininya wanita karena empat hal: (1) hartanya, (2) keturunannya, (3) kecantikannya, (4) agamanya, maka pilihlah yang taat beragama, karena akan sejahtera hidupnya” (muttafaq ‘alaih)

    Dan hidayah Nabawiyah bagi suami istri, bahwa yang penting adalah amalnya, bukan parasnya, sebagaimana sabda Rosululloh: ”Sesungguhnya ALLOH tidak melihat kepada rupa kalian, atau keturunan kalian, akan tetapi Ia melihat hati dan amal kalian” (HR Muslim)

    ***

    Diambil dari: Penghargaan Islam terhadap Wanita, terj. Takrimul mar’atu fil Islam, Muhammad bin Jamil Zainu, Pustaka Mantiq, 1996

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 29 February 2012 Permalink | Balas  

    Sifat Rasulullah SAW 

    Berikut adalah file dalam format powerpoint slide (PPS) sifat Rasulullah SAW sebagai tauladan yang semoga dapat kita ambil hikmahnya.

    Semoga bermanfaat.

    Tautan untuk mengunduh file Sifat Rasulullah SAW.pps

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 26 February 2012 Permalink | Balas  

    Poligaminya Rasulullah SAW

    Assalamualaikum wr.wb

    Semoga tulisan ini bermanfaat.

    1. Aisyah binti Abu Bakar. ra.

    Rasulullah menikahi Sayyidah Aisyah.ra ketika masih di Mekkah. Pernikahan ini disebutkan berdasarkan mimpi beliau. Rasulullah bersabda kepada Aisyah.ra “bahwasannya aku melihatmu dalam mimpi selama 3 hari, dimana malaikat datang kepadaku bersamamu dalam kain sutera seraya berkata “inilah istrimu”, maka aku singkapkan kain itu dari wajahmu dan aku dapati bahwa ternyata engkau (Aisyah), lalu aku berkata pada diri sendiri, jika memang ini petunjuk dari ALLAH maka aku akan segera melaksanakannya”(shahih Muslim,kitab Fadlail Al-Shahabu. Bab Fadl Aisyah. 44:2438).

    Dari Al-Tirmidzi meriwayatkan dari Aisyah ra, bahwa “Jibril membawa gambar dirinya yang terbungkus dengan kain sutera hijau dan berkata “inilah istrimu didunia dan akhirat”. Dari riwayat ini maka ALLAH sesungguhnya telah memilih Aisyah ra untuk menjadi istri Rasulullah dan mengutus Jibril untuk memberitahukannya.

    2. Saudah ra.

    Beliau adalah Saudah binti Zam’ah Ibn Qois Al-Qursyiyah, merupakan janda dari Sukran Ibn Amru, yaitu salah seorang muslim pertama. Dua kali ikut hijrah bersama suaminya ke Habasyah, dan ketika pulang dari hijrah yang kedua inilah suaminya meninggal dunia. Dalam kondisi seperti itu, Saudah memutuskan untuk tidak kembali ke kabilahnya, karena mereka selalu memaksanya keluar dari islam serta menyakitinya dengan berbagai siksaan. Rasulullah menikahinya di Mekkah, sepeninggal istri pertama beliau, Khadijah ra. Saudah ra tergolong wanita yang sangat membutuhkan pertolongan.

    3. Hafsah binti Umar Ibn Khattab

    Hafsah ra merupakan janda Kunais Ibn Hudzaifah al-Anshari. Rasulullah menikahi Hafsah pada tahun 3 H, karena pertimbangan kadudukan dan kehormatan ayah Hafsah disisi Rasulullah, juga agar sama kedudukannya dengan Abu Bakar al Shiddiq dalam hal pertalian darah. Sebelumnya Umar telah menawarkan Hafsah kepada Ustman ibn Affan, beberapa saat setelah istrinya Rugayyah binti Rasulullah wafat, namun Ustman mengatakan dirinya belum berkeinginan untuk menikah lagi.Lalu Umar mengadu kepada Rasulullah, dan Rasulullah berkata bahwa Hafsah akan mendapatkan yang lebih baik dari Ustman.

    4. Zainab binti Khuzaimah ra.

    Beliau adalah janda Abdullah ibn Jahsy. Rasulullah menikahi nya setelah suaminya gugur sebagai syahid pada tahun 4 H.Beliau terkenal dengan kebaikan dan kelembutan hatinya terhadap fakir miskin, sehingga dijuluki “Ummul Masakin” (ibunya fakir miskin). Beliau wafat 2 bulan setelah menikah dengan Rasulullah.

    5. Ummu Salmah ra.

    Beliau adalah janda Abdullah ibn Abdul Asad Abu Salmah. Abdullah syahid dalam perang Uhud dan ummu Salmah menjadi Janda dengan tanggungan 4 orang anak tanpa penopang. Rasulullah menikahinya pada tahun 4 H.

    6. Zainab ra.

    Beliau adalah Zainab binti Jahsy ibn R’ab al-Asadiyah, Janda dari Zaid ibn Tsabit, anak angkat Rasulullah. ALLAH SWT telah melukiskan hal ini dalam Al-Quran : “Maka tatkala Zaid telah menceraikan istrinya, kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak asa keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menceraikan istrinya, dan ketetapan ALLAH itu pasti terjadi. (QS. Al=Ahzab/33:37). Dari ayat diatas jelaslah bahwa pernikahan ini merupakan suatu contoh nyata kepada orang mukmin bahwa boleh menikahi istri anak angkat yang telah diceraikan.

    7. Ummu Habibah ra.

    Beliau adalah Ramlah binti Abu Sufyan ibn Harb ra. dan dijuluki Ummu Habibah. Seorang janda dari Ubaidillah ibn Jahsy. Bersama suaminya hijrah ke Habasyah untuk menghindari siksaan kaum Quraisy.Tetapi suaminya meninggal dunia disana, sehingga Ummu Habibah kehilangan tempat bernaung serta tidak tahu kemana harus pergi. Rasulullah SAW menikahinya untuk memuliakan kondisi dan statusnya, serta untuk menghargai sikap dan perjuangannya. ALLAH SWT juga telah mensyaratkannya melalui mimpi kepada Ummu Habibah ra. dan iamengatakan ” Ketika Ubaidillah ibn Jahsy meningga di Habasyah, aku bermimpi ada seseorang yang memanggilku dengan sebutan Ummul Mukminin, pertama aku bingung namun setelah aku takwilkan bahwa Rasulullah saw kelak akan menikahiku”. (Shifat al-Shafwah (2/43);Taqrib al-Tahdzib :747).

    8. Juwairiyah ra.

    Adalah putri Harist ibn Abi Dharar al-Khaza’iyyah dari bani Mustaliq. Beliau seorang janda dari Musafi’ ibn Safwan. Ayahnya seorang panglima bani Mustaliq, yang tewas oleh kaum muslimin dalam perang Murisi’. Rasulullah menikahinya pada tahun 5 H untuk menyentuh hati orang-orang bani Mustaliq. Aisyah ra. berkata “saya tidak pernah tahu ada seorang wanita yang membawa berkah besar kepada kaumnya selain dia (Juwairiyah)”. Sikap inilah yang kelak berperan besar dalam melunakkan hari Bani Mustaliq untuk masuk Islam.

    9. Sofiyah ra.

    Adalah putri Huyai ibn Akhtab, seorang panglima Yahudi,. Merupakan janda dari Kinanah ibn Abi al-Haqiq, yang terbunuh dalam perang Khaibar tahun 7 H, dan menjadi tawanan perang Khaibar. Nabi SAW memperlakukannya dengan baik dan memberi 2 pilihan yaitu :dibebaskan sebagai tawanan dan kembali ke kabilahnya, atau jika mau masuk ISlam ia akan dijadikan istri Beliau.Sofiyah lalu berkata “aku lebih memilih ALLAH dan Rasul-Nya”. Dalam buku Shifat al-Shofwah dikisahkan bahwa pada suatu hari Sofiyah bermimpi bahwa ada bulan yang jatuh ke kamarnya. Ketika diceritakan kepada ayahnya,. maka ayahnya sangat marah dan menampar wajah Sofiyah ra. hingga membekas sampai ia menjadi istri Nabi SAW.

    10. Maimunah ra.

    Yaitu putri dari Harist al-Hilaliyah, dari kabilah Bani Hilah. Rasulullah menikahinya pada akhir tahun 7 H, dalam perjalanan Beliau untuk menunaikan umroh Qadha.Menurut Qatadah dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa yang dimaksud dalam ayat 50 Surat Al-Ahzab adalah Maimunah binti Harist (Tafsir Ibnu Katsir, 5/483). “Dan perempuan mikmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya”. (QS.Al-Ahzab.33:50).

    Demikianlah ke 10 istri Nabi Muhammad SAW + Siti Khadijah. Poligami diatas didasarkan untuk menolong atau sebagai tuntunan/contoh bagi umat Islam, dan BUKAN BERDASARKAN HAWA NAFSU SEMATA. Dari 11 istri Nabi SAW tersebut, hanya Aisyah ra. yang bukan janda (saat menikah).

    Wassalam.

    ***

    Sumber buku “Sejarah Masjid Nabawi” Dr. Muh. Ilyas Abdul Ghani.2003.

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 25 February 2012 Permalink | Balas  

    Meneladani Allah Yang Mahaluas

    Oleh: KH Abdullah Gymnastiar

    Ingin jadi orang bijak, ingin bahagia dan mulia, maka luaskanlah ilmu, wawasan, dan pengalaman. Kalau kita kaya dengan ilmu maka dunia dengan sendirinya akan menghampiri kita.

    Al-Waasi’ adalah satu sifat Allah yang tercantum dalam asma’ul husna, yang artinya adalah Allah Yang Mahaluas. Kata Al-Waasi’ tersusun dari huruf wau, syin, dan ‘ain. Setiap kata yang tersusun dari huruf-huruf ini menjadi antonim dari sempit atau sulit. Dari sini lahir makna-makna seperti “kaya”, “mampu”, “luas”, “meliputi”, “langkah panjang”, dan sebagainya.

    Allah adalah Dzat Yang Mahaluas. Luasnya kekuasaan Allah sungguh tidak terbatas, meliputi semua yang ada di langit dan di bumi. Allah Mahaluas Keagungan-Nya, sehingga Ia kuasa memuliakan siapa saja yang Ia kehendaki tanpa berkurang kemuliaan-Nya. Allah Mahaluas rezeki-Nya, sehingga Ia mampu memberikan karunia kepada semua makhluk tanpa berkurang sedikit pun kekayaan-Nya. Allah Mahaluas ilmu-Nya, sehingga Ia mengetahui segala sesuatu tentang ciptaan-Nya sampai hal sekecil-kecilnya. Ia mengetahui lintasan hati setiap manusia. Ia mengetahui jalannya seekor semut hitam yang merayap di batu hitam saat tengah malam yang kelam.

    Ternyata, luas-Nya Allah itu berbeda dengan luasnya manusia. Luasnya dalam pandangan manusia selalu dibatasi ukuran. Lapangan sepakbola itu luas, namun bisa dihitung dalam meter. Seorang profesor pasti memiliki ilmu yang luas, namun luasnya ilmu profesor pasti berbatas dan hanya pada satu segi. Luas dalam pandangan Allah tidak dibatasi ukuran atau dimensi waktu. Ia laitsa kamitslihi syai’un; tidak bisa diserupai makhluk. Intinya, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini ada dalam genggaman Allah. Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di alam ini.

    Hikmah apa yang bisa kita ambil dari sifat Allah ini? Kita layak meniru sifat Allah ini dengan meluaskan ilmu, pengetahuan, dan wawasan dengan banyak menyimak, membaca, dan bergaul dengan para ulama. Makin luas ilmu kita, akan makin bijak pula kita, makin mudah menghadapi hidup, dan makin paham pula kita akan arah hidup. Keluasan ilmu dan pengetahuan akan memudahkan kita menyikapi masalah dengan cara tepat. Ingin jadi orang bijak, ingin bahagia dan mulia, maka luaskanlah ilmu, wawasan, dan pengalaman. Kalau kita kaya dengan ilmu maka dunia dengan sendirinya akan menghampiri kita.

    Dengan meneladani sifat Al-Waasi’ ini, kita pun harus belajar mengubah sudut pandang kita dalam hidup. Jangan memandang harta di atas segalanya. Harta memang rezeki dari Allah, tapi itu adalah tingkatan yang paling rendah. Kekayaan ilmu, kekayaan hati yang bersumber dari kekayaan iman jauh lebih tinggi di atas harta. Karena itu, kita jangan bangga dengan sesuatu yang rendah. Bukankah penjahat pun diberikan harta.

    Yang tak kalah penting, kita pun harus memiliki keluasan hati. Suasana hati akan menentukan bahagia tidaknya hidup kita. Sehingga kita harus melatihnya agar senantiasa lapang. Berlatih untuk tidak mudah tersinggung, tidak mendramatisasi masalah, mudah memaafkan, dan menyadari bahwa yang dilakukan orang lain tidak akan selalu sesuai dengan kehendak kita, adalah sebagian cara untuk mendapatkan kelapangan hati. Makin luas sebuah lapangan, makin sulit terjadi gesekan. Ilustrasinya, di lapangan yang luas kita tidak takut dengan seekor tikus, kecoa, atau ular. Namun, akan beda rasanya jika kita bersama hewan-hewan tersebut di kamar kecil.

    Rumusnya “2B2L” dapat pula dijadikan formula untuk menciptakan keluasan hati, terutama saat bergaul dengan orang lain. “B” pertama bijak terhadap kekurangan dan kesalahan, “B” kedua adalah berani mengakui kelebihan dan jasa orang lain. “L” pertama adalah melupakan jasa atau kebaikan diri. Dan “L” kedua adalah mampu melihat kekurangan dan kesalahan diri.

    Wallahu a’lam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 24 February 2012 Permalink | Balas  

    Pentingnya Hidup Sederhana

    Oleh: KH Abdullah Gymnastiar

    Dengan hidup sederhana; tidak berlebihan, kita memiliki anggaran berlebih untuk ibadah, untuk meningkatkan kemampuan kita, dan untuk beramal saleh menolong sesama.

    Semoga Allah Yang Mahakaya mengaruniakan kekayaan yang penuh berkah, dan melindungi kita dan tipu daya kekayaan yang menjadi fitnah.

    Saudaraku, salah satu penyebab maraknya korupsi di negeri kita adalah kegemaran sebagian orang terhadap kemewahan dan menggejalanya pola hidup konsumtif. Memang, tantangan untuk tampil lebih (konsumtif) sangat terbuka di sekitar kita. Tayangan televisi sering membuat standar hidup melampaui kemampuan yang kita miliki. Iklan-iklan tidak semuanya memberikan keinginan primer, tapi juga yang sekunder dan tertier yang tidak terlalu penting. Tidak dilarang kita memiliki, tapi apakah yang kita miliki ini tergolong kemewahan atau tidak? Itulah yang harus kita pertanyakan.

    Lalu apa kerugian hidup bermewah-mewah? Di zaman sekarang kemewahan bisa membawa bencana. Minimal dicurigai orang lain. Siksaan pertama dari kemewahan adalah ingin pamer, ingin diketahui orang lain. Siksaan kedua dari kemewahan adalah takut ada saingan. Pemuja kemewahan akan mudah dengkinya kepada yang punya lebih. Penyakit ketiga cemas, takut rusak, takut dicuri. Makin mahal barang yang dimiliki, kita akan semakin takut kehilangan.

    Pentingnya hidup sederhana

    Tampaknya, pola hidup sederhana harus dibudayakan kembali di masyarakat. Tak terkecuali di keluarga kita. Kalau orangtua memberikan contoh pada anak-anaknya tentang kesederhanaan, maka anak akan terjaga dari merasa diri lebih dari orang lain, tidak senang dengan kemewahan, dan mampu mengendalikan diri dari hidup bermewah-mewah.

    Saudaraku, sederhana adalah suatu keindahan. Mengapa? Karena seseorang yang sederhana akan mudah melepaskan diri dari kesombongan dan lebih mudah meraba penderitaan orang lain. Jadi bagi orang yang merasa penampilannya kurang indah, perindahlah dengan kesederhanaan. Sederhana adalah buah dari kekuatan mengendalikan keinginan.

    Dalam Islam, kaya itu bukan hal yang hina, bahkan dianjurkan. Perintah zakat bisa dipenuhi kalau kita punya harta, demikian pula perintah haji. Yang dilarang itu adalah berlebih-lebihan. Dalam QS At-Takaatsur, Allah SWT dengan tegas mencela orang yang berlebih-lebihan. Memang kita harus kaya tapi tidak harus bermegah-megah. Beli apa saja asal perlu, bukan karena ingin. Keinginan itu biasanya tidak ada ujungnya. Beli semua yang kita mampu beli, asal manfaat. Kita harus punya, tapi bukan untuk pamer dan bermegah-megah, tapi untuk manfaat. Kita tidak dilarang punya barang apa saja, sepanjang barang yang dimiliki halal dan diperoleh dengan cara halal. Saya tidak mengajak untuk miskin, tapi mengajak agar kita berhati-hati dengan keinginan hidup mewah.

    Satu hal yang penting, ternyata di negara manapun orang yang bersahaja itu lebih disegani, lebih dihormati daripada orang yang bergelimang kemewahan. Apalagi mewahnya tidak jelas asal-usulnya.

    Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat sederhana, walaupun harta beliau sangat banyak. Rumahnya Rasul sangat sederhana, tidak ada singgasana, tidak ada mahkota. Lalu, untuk apa Rasulullah SAW memiliki harta? Beliau menggunakan harta tersebut untuk menyebarkan risalah Islam, berdakwah, membantu fakir miskin, dan memberdayakan orang-orang yang lemah.

    Dari apa yang dicontohkan Rasulullah SAW, kita harus kaya dan harus mendistribusikan kekayaan tersebut pada sebanyak-banyak orang, minimal untuk orang terdekat. Maka, bila kita memiliki uang dan kebutuhan keluarga telah terpenuhi, bersihkan dari hak orang lain dengan berzakat. Kalau masih ada lebih, maka siapkan untuk orangtua, mertua, sanak saudara yang lain, dst. Kakak-adik, keponakan, juga harus kita pikirkan. Kekayaan kita harus dapat dinikmati banyak orang.

    Semoga dengan hidup sederhana; tidak berlebihan, kita memiliki anggaran berlebih untuk ibadah, untuk meningkatkan kemampuan kita, dan untuk beramal saleh menolong sesama. Amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 22 February 2012 Permalink | Balas  

    Perbedaan Pendapat Bukanlah Rahmat

    Assalamu’alaikum wr wb,

    Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, selama masih tidak menyimpang dari Al Qur’an dan Hadits. Misalkan ada orang sholat dengan mengeraskan bismillah, sementara yang lain tidak kedengaran. Keduanya punya landasan hadits yang shahih. Jadi tidak masalah apalagi itu cuma furu’iyah (masalah kecil/cabang).

    Tapi jika sudah menyimpang jauh atau masalah aqidah/dasar kepercayaan, misalkan Tuhannya sudah bukan satu lagi atau tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir, maka ini sudah sesat.

    “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al Baqarah:256]

    Berikut artikel yang menarik tentang hadits palsu yang menyatakan perbedaan adalah rahmat. Hadits ini sering dipakai oleh pentolan kelompok sesat untuk menyimpang dari Al Qur’an dan Hadits dengan alasan perbedaan adalah rahmat.

    Perbedaan Pendapat Pada Umatku Adalah Rahmat?

    Berkata sebagian kaum Muslimin : “Biarkanlah keragaman pendapat yang ada di tubuh kaum Muslimin tentang agama mereka tumbuh subur dan berkembang, asalkan setiap perselisihan dibawa ketempat yang sejuk.”

    Alasan mereka didasarkan pada sebuah hadits yang selalu mereka ulang-ulang dalam setiap kesempatan, yaitu hadits: “Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat”

    Benarkah ungkapan ini? benarkah Rasulullah mengucapkan hadits tersebut? Apa kata Muhadditsin (Ahli Hadits) tentang hadits tersebut??

    Syaikh Al-Albani rahimahulah berkata: “Hadits tersebut tidak ada asalnya”. [Adh-Dha’ifah :II / 76-85]

    Imam As-Subki berkata: “Hadits ini tidak dikenal oleh ahli hadits dan saya belum mendapatkannya baik dengan sanad shahih, dha’if (lemah), maupun maudhu (palsu).”

    Syaikh Ali-hasan Al-Halaby Al-Atsari berkata: “ini adalah hadits bathil dan kebohongan.” [Ushul Al-Bida’]

    Dan dari sisi makna hadits ini disalahkan oleh para ulama.

    Al-‘Alamah Ibnu Hazm berkata dalam Al-Ahkam Fii Ushuli Ahkam (5/64) setelah menjelaskan bahwa ini bukan hadits: “Dan ini adalah perkataan yang paling rusak, sebab jika perselisihan itu adalah rahmat, maka berarti persatuan adalah adzhab. Ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang muslim, karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan, rahmat dan adzhab.”

    Bagaimanakah Daya Rusak Hadits Palsu Tersebut Terhadap Islam?

    Mengekalkan perpecahan dalam Islam Tidak ragu lagi bahwa hadits tersebut adalah tikaman para pembawanya bagi persatuan Islam yang haqiqi. Ketika para pembawa panji-panji sunnah menyeru umat kepada persatuan Aqidah dan Manhaj (jalan/metode) yang shahih. Tiba-tiba muncul orang-orang yang mengaku mengajak kepada persatuan Islam dengan berkata: “Biarkanlah kaum muslimin dengan keyakinannya masing-masing, biarkanlah kaum muslimin dengan metodenya masing-masing dalam berjalan menuju Allah , janganlah memaksakan perselisihan yang ada harus seragam dengan keyakinan dan pola pikir orang-orang arab padang pasir 15 abad yang lalu. Karena Rasulullah bersabda: “perselisihan pendapat pada umatku adalah rahmat.”

    Allahu Akbar…!! Alangkah kejinya ungkapan tersebut dan banyak lagi perkataan yang semisalnya yang mengakibatkan kaum muslimin abadi di dalam aqidah dan manhaj yang berbeda. Padahal ayat-ayat dalam Al-Qur’an melarang berselisih pendapat dalam urusan agama dan menyuruh bersatu. Seperti Firman Allah dalam:

    Surat Al-Anfal ayat 46 yang artinya; “Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” Surat Ar-Rum ayat 31-32:

    “Jangan kamu seperti orang-orang yang musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” Surat Hud ayat: 118-119:

    “Mereka terus-menerus berselisih kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu.”

    Dan kita diperintah Allah untuk bersatu dalam Aqidah dan manhaj diatas Aqidah dan Manhajnya Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-An’am ayat: 153 yang artinya: “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.”

    Dan kita diperintahkan Allah untuk merujuk bersama kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika terjadi perselisihan, bukannya membiarkan perselisihan aqidah dan hal-hal yang pokok dalam agama meradang di tengah ummat dengan dalih sepotong hadist palsu. Firman-Nya dalan surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

    Kaum muslimin tidak lagi menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagi sandaran kebenaran dan hakim Syaikh Al-Albani berkata: “Diantara dampak buruk hadits ini adalah banyak kaum muslimin yang mengakui terjadinya perselisihan sengit yang terjadi diantara 4 madzab dan tidak pernah sama sekali berupaya untuk mengembalikannya kepada Al-Qu’an dan Al-Hadits.” [Adh-Dha’ifah: I/76]

    Allah berfirman menceritakan Nabi-Nya Muhammad ketika mengadu kepada-Nya: “Berkatalah rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” [QS. Al-Furqan:30].

    Sungguh hal itu terulang kembali di zaman ini dikarenakan hadist palsu yang menggerogoti ummat.

    Umat islam tidak lagi menjadi umat terbaik yang jaya di atas umat yang lainnya. ini dikarenakan hadits palsu tersebut menjadi dinding bagi seorang muslim untuk beramar ma’ruf nahi mungkar, seorang muslim tidak lagi menegur saudaranya yang berbuat salah dalam syirik, kekufuran, dan bid’ah serta maksiat disebabkan meyakini hadits palsu tersebut. Karena mereka menganggap semua itu sebagai suatu perbedaan yang hakikatnya adalah rahmat, sehingga tidak perlu untuk ber-nahi mungkar. Akibatnya, predikat ummat terbaik tidak lagi disandang oleh umat islam, karena telah meninggalkan syaratnya yakni Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali-’Imran ayat: 110 yang artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah .”

    Ancaman dan kecaman yang keras dari Nabi, karena berkata dengan mengatasnamakan Rasulullah secara dusta. Rasulullah bersabda : “Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia siapkan tempat duduknya dari api neraka” [Riwayat Bukhari-Muslim].

    Hendaklah takut orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta atas nama Rasulullah , demikian pula orang-orang yang menyebarkan dan mendongengkan kisah-kisah palsu dan lemah yang hanya muncul dari prasangka belaka yang padahal prasangka itu adalah seburuk-buruk perkataan.

    Meninggalkan perintah Allah Ini adalah efek lanjutan dari hadist palsu tesebut, karena ketika seseorang mentolelir perselisihan aqidah, halal dan haram, serta segala sesuatu yang telah tegas digariskan oleh dua wahyu, maka di saat yang sama ia telah meninggalkan perintah Allah untuk menuntaskan setiap perselisihan kepada Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Sebagaimana Allah berfiman : “Jika kamu berselisih pendapat maka kembali-kanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya” [An-Nisa:59]

    Melemahkan kekuatan kaum Muslimin serta membuka jalan bagi orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam dari dalam

    Syaikh Ali Hasan dalam kitabnya “ushul bida” mengisyaratkan dampak buruk hadist tersebut yang dapat melemahkan kaum muslimin dan menjatuhkan kewibawaannya, karena jelas-jelas hadist palsu tersebut menebarkan benih-benih perpecahan di tubuh kaum Muslimin, sedangkan Allah berfirman : “Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” [Al-Anfal: 46]

    Ibnu mas’ud meriwayatkan : “Rasulullah membuat satu garis dengan tangannya lalu bersabda “ini jalan Allah yang lurus”, lalu beliau membuat garis-garis dikanan kirinya, kemudian bersabda, “ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satupun dari jalan-jalan ini kecuali didalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya.” Selanjutnya beliau membaca firman Allah , “dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia janganah mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa (Qs. Al-an’am153)”. (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasa’i).

    Wassalam

    ***

    Maraji’:

    Ushul bida’ [Syaikh Ali Hasan Ali Abdul hamid], Sifatush shalaty An-Naby [Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani], dan sumber-sumber lainnya

    Dicopy dari: anshorussunnah.cjb.net

     

     
    • fathiah 8:31 am on 22 Februari 2012 Permalink

      saya menyukai artikel ini.
      apakah saya diperkenankan untuk menanyakan suatu hal dalam kehidupan islami?

  • erva kurniawan 1:49 am on 20 February 2012 Permalink | Balas  

    Menghantarkan Orang Tua ke Surga

    Masih ingatkah kita dengan sebuah kisah di masa Rasulullah? Tentang ketaatan seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya berjihad dengan satu pesan, “Jangan pergi sebelum saya pulang”. Dan ternyata, dalam masa kepergian suaminya, orangtuanya sakit keras. Saudara-saudaranyapun memintanya hadir, untuk menemui orang tuanya yang sedang sakit, namun karena ketaatannya kepada suami, dia tak juga berangkat menemui orang tuanya hingga meninggal. Tentu, kita semua mengingatnya bukan?

    Bagi kita manusia biasa, peristiwa tersebut terasa amat janggal. Tak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang anak mampu bertahan tidak menemui orang tuanya yang sedang sakit keras bahkan sampai meninggal, hanya karena taat kepada pesan suami. Mungkin, sebagian kita bahkan akan mengumpat dan mencaci maki kepada wanita tersebut bila kita hidup di masa itu.

    Kita akan katakan kepada wanita tersebut sebagai anak yang tak berbakti, anak yang tak tahu balas budi atas kasih sayang orang tua, anak yang keterlaluan, tak punya perasaan, dan berbagai umpatan yang lainnya.

    Namun, apa kata Rasulullah ketika ditanya tentang kejadian itu? Rasulullah dengan mantap menjawab, bahwa orang tua wanita tersebut masuk surga karena telah berhasil mendidik anaknya menjadi wanita shalihah. Subhaanallah!

    Karenanya, marilah kita para orang tua berusaha sekuat tenaga, untuk menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihah. Anak yang akan senantiasa mendo’akan kita kapan pun dan di manapun berada. Anak lelaki yang mampu menjadi qowwam bagi keluarganya, dan tetap berbakti kepada orang tuanya, serta anak perempuan yang menjadi istri dan ibu shalihah, yang mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang shaleh dan shalihah pula.

    Kepada para orang tua yang telah mengantarkan putra-putrinya ke dalam kehidupan rumah tangga, janganlah menjadi orang tua yang egois, yang selalu ingin didampingi anak-anak, dan tak mau melepaskan kepergiannya. Relakan anak-anak pergi dari pangkuan kita, untuk menjalani hidup mandiri, menjadi nahkoda kapal layar yang telah dibangunnya, sebagai salah satu bukti kasih sayang kita kepada mereka.

    Do’akan selalu, agar anak-anak lelaki kita dapat menjadi nahkoda-nahkoda yang handal, yang mampu mengarahkan bahtera rumah tangga menjadi rumah tangga yang barokah, penuh cinta dan kasih sayang, serta mampu menjadi qowam bagi istri dan anak-anaknya. Do’akan pula agar anak-anak perempuan kita dapat menjadi istri-istri sholihah, yang dapat mencipatakan susana rumah yang bagaikan surga dunia dimata keluarganya, mampu melahirkan anak-anak yang taat kepada Allah dan kepada kedua orang tuanya, serta mampu memberikan rasa nyaman kepada suami dan anak-anaknya. Hingga pada akhirnya, mereka menjadi pengantar-pengantar kita meraih surga-Nya. Insya Allah. Aamiin.

    Wallohu a’lam bbishshowwab.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Alno 10:54 pm on 24 Februari 2012 Permalink

      AllahuAkbar.

  • erva kurniawan 1:28 am on 18 February 2012 Permalink | Balas  

    Fadhillah Wanita

    Point-point  ini terdapat di dalam kitab Kanzul ‘Ummal, Misykah, Riadhush  Shalihin, Uqudilijjain, Bhahishti Zewar, Al-Hijab, dan lain-lain, checking  satu persatu belum dibuat. Mudah-mudahan dapat diambil ibrah darinya.

    1. Doa wanita lebih maqbul dari lelaki kerana sifat penyayang yang lebih  kuat dari lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulallah SAW akan hal tersebut,  jawab baginda : “Ibu lebih penyayang dari bapak dan doa orang yang penyayang  tidak akan sia-sia.”
    2. Wanita yang solehah itu lebih baik dari 1,000 orang lelaki yang tidak  soleh.
    3. Seorang wanita solehah adalah lebih baik dari 70 orang wali.
    4. Seorang wanita solehah adalah lebih baik dari 70 lelaki soleh.
    5. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama  orang yang senantiasa menangis kerana takutkan Allah SWT dan orang yang  takutkan Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
    6. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah)  lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedakah.  Hendaklah mendahulukan anak perempuan dari anak lelaki. Maka barangsiapa  yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail  AS
    7. Tidaklah seorang wanita yang haidh itu, kecuali haidhnya merupakan  kifarah (tebusan) untuk dosa-dosanya yang telah lalu, dan apabila pada hari  pertama haidhnya membaca “Alhamdulillahi’alaa Kulli Halin Wa  Astaghfirullah”. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan dan aku mohon  ampun kepada Allah dari segala dosa.”; maka Allah menetapkan dia bebas dari  neraka dan dengan mudah melalui shiratul mustaqim yang aman dari siksa,  bahkan Allah Ta’ala mengangkatnya ke atas derajat, seperti derajatnya 40  orang mati syahid, apabila dia selalu berzikir kepada Allah selama haidhnya.
    8. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku  (Rasulullah SAW.) di dalam syurga.
    9. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan  atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan  dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa  serta bertanggung jawab, maka baginya adalah syurga.
    10. Dari ‘Aisyah r.ha. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari  anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka  akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”
    11. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.
    12. Apabila memanggil akan engkau kedua ibu bapamu, maka jawablah panggilan  ibumu dahulu.
    13. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu  neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang  dia kehendaki dengan tidak dihisab.
    14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di  udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya  selama mana dia taat kepada suaminya dan meredhainya. (serta menjaga  sembahyang dan puasanya)
    15. ‘Aisyah r.ha. berkata “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW. siapakah yang  lebih besar haknya terhadap wanita ?” Jawab baginda, “Suaminya”. “Siapa pula  berhak terhadap lelaki ?” Jawab Rasulullah SAW. “Ibunya”.
    16. Seorang wanita yang apabila mengerjakan solat lima waktu, berpuasa wajib  sebulan (Ramadhan), memelihara kehormatannya serta taat kepada suaminya,  maka pasti akan masuk syurga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.
    17. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT  memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu dari suaminya (10,000 tahun).
    18. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka  beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap  hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
    19. Dua rakaat solat dari wanita yang hamil adalah lebih baik dari 80 rakaat  solat wanita yang tidak hamil.
    20. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.
    21. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat pada malam hari.
    22. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT  mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah SWT .
    23. Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan  setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengaruniakan satu pahala haji.
    24. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari  dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
    25. Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan  dikira sebagai mati syahid.
    26. Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya dari badannya (ASI) akan  dapat satu pahala dari tiap-tiap titik susu yang diberikannya.
    27. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempo (2 1/2 tahun), maka  malaikat-malaikat di langit akan khabarkan berita bahwa syurga wajib  baginya.
    28. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah  akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.
    29. Wanita yang habiskan malamnya dengan tidur yang tidak selesai kerana  menjaga anaknya yang sakit akan mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang  hamba.
    30. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari kerana menjaga anak yang  sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia hiburkan  hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.
    31. Apabila seorang wanita mencucikan pakaian suaminya, maka Allah  mencatatkan baginya seribu kebaikan, dan mengampuni dua ribu kesalahannya,  bahkan segala sesuatu yang disinari sang surya akan meminta keampunan  baginya, dan Allah mengangkatkannya seribu derajat untuknya.
    32. Seorang wanita yang solehah lebih baik dari seribu orang lelaki yang  tidak soleh, dan seorang wanita yang melayani suaminya selama seminggu, maka  ditutupkan baginya tujuh pintu neraka dan dibukakan baginya pintu syurga,  yang dia dapat masuk dari pintu mana saja tanpa dihisab.
    33. Mana-mana wanita yang menunggu suaminya hingga pulanglah ia, disapukan  mukanya, dihamparkan duduknya atau menyediakan makan minumnya atau memandang  ia pada suaminya atau memegang tangannya, memperelokkan hidangan  padanya,memelihara anaknya atau memanfaatkan hartanya pada suaminya kerana  mencari keridhaan Allah, maka disunatkan baginya akan tiap-tiap kalimah  ucapannya, tiap-tiap langkahnya dan setiap pandangannya pada suaminya  sebagaimana memerdekakan seorang hamba. Pada hari Qiamat kelak, Allah  karuniakan Nur hingga tercengang wanita mukmin semuanya atas karunia rahmat  itu. Tiada seorang pun yang sampai ke martabat itu melainkan Nabi-nabi.
    34. Tidakkan putus ganjaran dari Allah kepada seorang isteri yang siang dan  malamnya menggembirakan suaminya.
    35. Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suaminya melihat  isterinya dengan kasih sayang akan di pandang Allah dengan penuh rahmat.
    36. Jika wanita melayani suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun  solat.
    37. Wanita yang melayani dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam  keadaan letih akan medapat pahala jihad.
    38. Jika wanita memijat suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas  dan jika wanita memijat suami bila disuruh akan mendapat pahala tola perak.
    39. Dari Hadrat Muaz ra.: Mana-mana wanita yang berdiri atas dua kakinya  membakar roti untuk suaminya hingga muka dan tangannya kepanasan oleh api,  maka diharamkan muka dan tangannya dari bakaran api neraka.
    40. Thabit Al Banani berkata : Seorang wanita dari Bani Israel yang buta  sebelah matanya sangat baik khidmatnya kepada suaminya. Apabila ia  menghidangkan makanan dihadapan suaminya, dipegangnya pelita sehingga  suaminya selesai makan. Pada suatu malam pelitanya kehabisan sumbu, maka  diambilnya rambutnya dijadikan sumbu pelita. Pada keesokkannya matanya yang  buta telah celik. Allah karuniakan kemuliaan pada perempuan itu kerana  memuliakan dan menghormati suaminya.
    41. Pada suatu ketika di Madinah, Rasulullah SAW. keluar mengiringi jenazah.  Baginda dapati beberapa orang wanita dalam majlis itu. Baginda lalu  bertanya, “Adakah kamu menyembahyangkan mayat ?” Jawab mereka,”Tidak”. Sabda  Baginda “Sebaiknya kamu sekalian tidak perlu ziarah dan tidak ada pahala  bagi kamu. Tetapi tinggallah di rumah dan berkhidmatlah kepada suami niscaya  pahalanya sama dengan ibadat-ibadat orang lelaki.”
    42. Wanita yang memerah susu binatang dengan “Bismillah” akan didoakan oleh  binatang itu dengan doa keberkatan.
    43. Wanita yang menguli tepung gandum dengan “Bismillah”, Allah akan  berkahkan rezekinya.
    44. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti  menyapu lantai di Baitullah.
    45. “Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika  membuat roti, Allah akan mejadikan 7 parit diantara dirinya dengan api  neraka, jarak diantara parit itu ialah sejauh langit dan bumi.”
    46. “Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang, Allah akan  mencatatkan untuknya perbuatan baik sebanyak utus benang yang dibuat dan  memadamkan seratus perbuatan jahat.”
    47. “Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang menganyam akan benang  dibuatnya, Allah telah menentukan satu tempat khas untuknya di atas tahta di  hari akhirat.”
    48. “Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang dan kemudian  dibuat pakaian untuk anak-anaknya maka Allah akan mencatatkan baginya  ganjaran sama seperti orang yang memberi makan kepada 1000 orang lapar dan  memberi pakaian kepada 1000 orang yang tidak berpakaian.”
    49. “Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang meminyakkan rambut  anaknya,menyikatnya, mencuci pakaian mereka dan mencuci akan diri anaknya  itu, Allah akan mencatatkan untuknya pekerjaan baik sebanyak helai rambut  mereka dan memadamkan sebanyak itu pula pekerjaan jahat dan menjadikan  dirinya kelihatan berseri di mata orang-orang yang memperhatikannya.”
    50. Sabda Nabi SAW: “Ya Fatimah barang mana wanita meminyakkan rambut dan  janggut suaminya, memotong kumis (misai) dan mengerat kukunya, Allah akan  memberi minum akan dia dari sungai-sungai serta diringankan Allah baginya  sakaratul maut dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari  taman- taman syurga dan dicatatkan Allah baginya kelepasan dari api neraka  dan selamatlah ia melintas Titian Shirat.”
    51. Jika suami mengajarkan isterinya satu masalah akan mendapat pahala 80  tahun ibadat.
    52. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan  kemudian menjaga adab rumah tangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal  dari suaminya, akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita  itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang  kuda yang dibuat dari yakut.
    53. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat, tetapi  Allah akan datang sendiri kepada wanita yang memberati auratnya yaitu  memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah.
    54. Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita  (isteri) yang solehah.
    55. Salah satu tanda keberkatan wanita itu ialah cepat perkahwinannya, cepat  pula kehamilannya dan ringan pula maharnya (mas kawin).
    56. Sebaik-baik wanita ialah wanita (isteri) yang apabila engkau memandang  kepadanya ia menggirangkan engkau, jika engkau memerintah ditaatinya  perintah engkau (taat) dan jika engkau berpergian dijaga harta engkau dan  dirinya.
    57. Dunia yang paling aku sukai ialah wanita solehah.
    58. Rasulullah SAW bersabda bahwa, “Allah telah memberikan sifat iri  (pencemburu) untuk wanita dan jihad untuk lelaki. Jika seorang wanita  melatih kesabarannya dengan iman dengan mengharapkan pahala dari sesuatu  perkara yang menyebabkannya menjadi cemburu (iri hati), seperti misalnya  suaminya menikahi istri kedua, maka ia akan menerima ganjaran seorang  syahid”.

    ***

    Dari Sahabat

    sahabatnabi.com

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 16 February 2012 Permalink | Balas  

    Tidak Akan Masuk Neraka Orang yang Menangis Karena Takutkan Allah

    Rasulullah S.A.W. telah bersabda, “Bahwa tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah sehingga ada air susu kembali ke tempat asalnya.”

    Dalam sebuah kitab Daqa’iqul Akhbar menjelaskan bahwa akan datang seorang hamba pada hari kiamat nanti, dengan timbangan yang lebih berat kejahatannya, dan telah diperintahkan untuk dimasukkan ke dalam neraka.

    Maka salah satu dari rambut-rambut matanya berkata, “Wahai Tuhanku, Rasul engkau Nabi Muhammad S.A.W. telah bersabda, barang siapa yang menangis karena takut kepada Allah S.W.T., maka Allah mengharamkan matanya itu ke neraka dan sesungguhnya aku menangis karena amat takut kepadaMu.”

    Akhirnya Allah S.W.T mengampuni hamba itu dan menyelamatkannya dari api neraka berkat sehelai rambut yang pernah menangis karena takut kepada Allah S.W.T. Malaikat Jibrail A.S. mengumumkan, “Telah selamat Fulan bin Fulan sebab sehelai rambut,”

    Dalam sebuah kitab yang lain, Bidayatul-Hidayah, diceritakan bahwa pada hari kiamat nanti, akan didatangkan neraka jahanam dengan mengeluarkan suaranya, suara nyalaan api yang sangat menggerunkan, semua umat menjadi berlutut karena kesusahan yang menghadapinya.

    Allah S.W.T. berfirman yang artinya, “Kamu lihat (pada hari itu) setiap umat berlutut (yakni merangkak pada lututnya). Tiap-tiap umat diseru kepada buku amalannya. (Dikatakan kepadanya) Pada hari ini kamu dibalasi menurut apa-apa yang telah kau kerjakan.” (Surah al-Jatsiyah ayat 28).

    Setiap dari mereka mendekati neraka, mereka mendengar gemuruh api neraka dengan nyala apinya, dan dijelaskan dalam kitab tersebut bahwa suara nyalaan api neraka dapat terdengari dari jarak 500 tahun perjalanan.

    Pada saat itu, akan berkata setiap orang hingga Nabi-nabi dengan ucapan, “Diriku, diriku (selamatkanlah diriku Ya Allah) kecuali hanya seorang Nabi saja yang akan berkata, “Umatku, umatku,”

    Beliau adalah junjungan besar kita Nabi Muhammad S.A.W. Pada masa itu akan keluar api dari neraka jahim seperti gunung-ganang, umat nabi Muhammad berusaha menghalangi dengan berkata, “Wahai api! Demi hak orang-orang yang solat, demi hak orang-orang yang ahli sedekah, demi hak orang-orang yang khusyuk dan demi hak orang yang berpuasa, supaya engkau kembali.”

    Walaupun dikata demikian, api neraka itu tetap tidak mau kembali, lalu Malaikat Jibrail berkata, “Sesungguhnya api neraka itu menuju kepada umat Nabi Muhammad S.A.W.”

    Kemudian Jibrail membawa semangkuk air dan Rasulullah meraihnya. Berkata Jibrail A.S., “Wahai Rasulullah, ambillah air ini dan siramkan padanya.” Lalu baginda mengambil dan menyiramkan api itu, maka padamlah api itu.

    Setelah itu Rasulullah S.A.W. pun bertanya kepada Jibrail A.S., “Wahai Jibrail! Air apakah itu?” Maka Jibrail berkata, “Itulah air mata orang durhaka di kalangan umatmu yang menangis karena takut kepada Allah S.W.T. Sekarang aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu agar engkau menyiramkan pada api itu.” Maka padamlah api itu dengan izin Allah S.W.T.

    Telah bersabda Rasulullah S.A.W., “Ya Allah, anugerahilah kepada kami dua buah mata yang menangis karena takut kepadaMu, sebelum tidak ditemunya air mata.”

     
    • firdauspratamaputra 8:34 pm on 23 September 2012 Permalink

      ﴾ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحيمِ ﴿

      Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

      ﴿ حٰم ﴾

      1. Hâ Mîm.

      ﴿ تَنْزيلُ الْكِتابِ مِنَ اللهِ الْعَزيزِ الْحَكيمِ ﴾

      2. Kitab ini diturunkan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

      ﴿ إِنَّ فِي السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ لَآياتٍ لِلْمُؤْمِنينَ ﴾

      3. Sesungguhnya dia langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman.

      ﴿ وَ في‏ خَلْقِكُمْ وَما يَبُثُّ مِنْ دابَّةٍ آياتٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ ﴾

      4. Dan pada penciptaanmu sekalian dan pada binatang-binatang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini,

      ﴿ وَ اخْتِلافِ اللَّيْلِ وَ النَّهارِ وَما أَنْزَلَ اللهُ مِنَ السَّماءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيى بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِها وَ تَصْريفِ الرِّياحِ آياتٌ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ﴾

      5. dan pada pergantian malam dan siang dan rezeki (hujan) yang diturunkan Allah dari langit lalu Dia hidupkan dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.

      ﴿ تِلْكَ آياتُ اللهِ نَتْلُوها عَلَيْكَ بِالْحَقِّ فَبِأَيِّ حَديثٍ بَعْدَ اللهِ وَ آياتِهِ يُؤْمِنُونَ ﴾

      6. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar. (Jika mereka tidak beriman kepadanya), maka kepada ucapan mana lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya?

      ﴿ وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثيمٍ ﴾

      7. Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa.

      ﴿ يَسْمَعُ آياتِ اللهِ تُتْلى‏ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِراً كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْها فَبَشِّرْهُ بِعَذابٍ أَليمٍ ﴾

      8. Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak pernah mendengarnya. Maka berilah kabar gembira kepadanya dengan azab yang pedih.

      ﴿ وَ إِذا عَلِمَ مِنْ آياتِنا شَيْئاً اتَّخَذَها هُزُواً أُولٰئِكَ لَهُمْ عَذابٌ مُهينٌ ﴾

      9. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka dia jadikan ayat-ayat itu sebagai bahan ejekan. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.

      ﴿ مِنْ وَرائِهِمْ جَهَنَّمُ وَلا يُغْني‏ عَنْهُمْ ما كَسَبُوا شَيْئاً وَلا مَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ أَوْلِياءَ وَ لَهُمْ عَذابٌ عَظيمٌ ﴾

      10. Di hadapan mereka Neraka Jahanam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikit pun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula apa yang mereka jadikan sebagai penolong dari selain Allah. Dan bagi mereka azab yang besar.

      ﴿ هٰذا هُدىً وَ الَّذينَ كَفَرُوا بِآياتِ رَبِّهِمْ لَهُمْ عَذابٌ مِنْ رِجْزٍ أَليمٌ ﴾

      11. Ini (Al-Qur’an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Tuhan mereka, bagi mereka azab, yaitu siksaan, yang sangat pedih.

      ﴿ ٱللهُ الَّذي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فيهِ بِأَمْرِهِ وَ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴾

      12. Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan mudah-mudahan kamu bersyukur.

      ﴿ وَ سَخَّرَ لَكُمْ ما فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ جَميعاً مِنْهُ إِنَّ في‏ ذلِكَ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴾

      13. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.

      ﴿ قُلْ لِلَّذينَ آمَنُوا يَغْفِرُوا لِلَّذينَ لا يَرْجُونَ أَيَّامَ اللهِ لِيَجْزِيَ قَوْماً بِما كانُوا يَكْسِبُونَ ﴾

      14. Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak mengharap hari-hari Allah (hari kiamat), karena Dia akan membalas suatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

      ﴿ مَنْ عَمِلَ صالِحاً فَلِنَفْسِهِ وَ مَنْ أَساءَ فَعَلَيْها ثُمَّ إِلى‏ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ ﴾

      15. Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kamu semua akan dikembalikan kepada Tuhan-mu.

      ﴿ وَ لَقَدْ آتَيْنا بَني‏ إِسْرائيلَ الْكِتابَ وَ الْحُكْمَ وَ النُّبُوَّةَ وَ رَزَقْناهُمْ مِنَ الطَّيِّباتِ وَ فَضَّلْناهُمْ عَلَى الْعالَمينَ ﴾

      16. Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Isra’il al-Kitab (Taurat), kekuasaan, dan kenabian, dan Kami anugerahkan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya).

      ﴿ وَ آتَيْناهُمْ بَيِّناتٍ مِنَ الْأَمْرِ فَمَا اخْتَلَفُوا إِلاَّ مِنْ بَعْدِ ما جاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْياً بَيْنَهُمْ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضي‏ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيامَةِ فيما كانُوا فيهِ يَخْتَلِفُونَ ﴾

      17. Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama dan syariat); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhan-mu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya.

      ﴿ ثُمَّ جَعَلْناكَ عَلى‏ شَريعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْها وَلا تَتَّبِعْ أَهْواءَ الَّذينَ لا يَعْلَمُونَ ﴾

      18. Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat untuk urusan (agama yang benar). Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.

      ﴿ إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئاً وَ إِنَّ الظَّالِمينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ وَ اللهُ وَلِيُّ الْمُتَّقينَ ﴾

      19. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu (siksaan) Allah sedikit pun. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.

      ﴿ هٰذا بَصائِرُ لِلنَّاسِ وَ هُدىً وَ رَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ ﴾

      20. (Al-Qur’an dan syariat) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

      ﴿ أَمْ حَسِبَ الَّذينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ سَواءً مَحْياهُمْ وَ مَماتُهُمْ ساءَ ما يَحْكُمُونَ ﴾

      21. Apakah orang-orang yang berbuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.

      ﴿ وَ خَلَقَ اللهُ السَّماواتِ وَ الْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَ لِتُجْزى‏ كُلُّ نَفْسٍ بِما كَسَبَتْ وَ هُمْ لا يُظْلَمُونَ ﴾

      22. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan benar dan agar dibalas tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.

      ﴿ أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَواهُ وَ أَضَلَّهُ اللهُ عَلى‏ عِلْمٍ وَ خَتَمَ عَلى‏ سَمْعِهِ وَ قَلْبِهِ وَ جَعَلَ عَلى‏ بَصَرِهِ غِشاوَةً فَمَنْ يَهْديهِ مِنْ بَعْدِ اللهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ ﴾

      23. Pernahkah kamu pernah melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (bahwa ia tidak layak lagi memperoleh petunjuk), serta Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan di atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mau ingat?

      ﴿ وَ قالُوا ما هِيَ إِلاَّ حَياتُنَا الدُّنْيا نَمُوتُ وَ نَحْيى وَما يُهْلِكُنا إِلاَّ الدَّهْرُ وَما لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّونَ ﴾

      24. Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja. Kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

      ﴿ وَ إِذا تُتْلى‏ عَلَيْهِمْ آياتُنا بَيِّناتٍ ما كانَ حُجَّتَهُمْ إِلاَّ أَنْ قالُوا ائْتُوا بِآبائِنا إِنْ كُنْتُمْ صادِقينَ ﴾

      25. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan, “Datangkanlah nenek moyang kami (supaya mereka bersaksi), jika kamu adalah orang-orang yang benar.”

      ﴿ قُلِ اللهُ يُحْييكُمْ ثُمَّ يُميتُكُمْ ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلى‏ يَوْمِ الْقِيامَةِ لا رَيْبَ فيهِ وَ لٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ ﴾

      26. Katakanlah, “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

      ﴿ وَ لِلَّهِ مُلْكُ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ وَ يَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَخْسَرُ الْمُبْطِلُونَ ﴾

      27. Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, merugilah orang-orang yang mengerjakan kebatilan.

      ﴿ وَ تَرى‏ كُلَّ أُمَّةٍ جاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعى‏ إِلى‏ كِتابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ ما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ﴾

      28. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amal mereka. Pada hari itu kamu sekalian diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.

      ﴿ هٰذا كِتابُنا يَنْطِقُ عَلَيْكُمْ بِالْحَقِّ إِنَّا كُنَّا نَسْتَنْسِخُ ما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ﴾

      29. (Allah berfirman), “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.”

      ﴿ فَأَمَّا الَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ فَيُدْخِلُهُمْ رَبُّهُمْ في‏ رَحْمَتِهِ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْمُبينُ ﴾

      30. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata.

      ﴿ وَ أَمَّا الَّذينَ كَفَرُوا أَفَلَمْ تَكُنْ آياتي‏ تُتْلى‏ عَلَيْكُمْ فَاسْتَكْبَرْتُمْ وَ كُنْتُمْ قَوْماً مُجْرِمينَ ﴾

      31. Dan adapun orang-orang yang kafir, (kepada mereka dikatakan), “Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu jadi kaum yang berbuat dosa?

      ﴿ وَ إِذا قيلَ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ وَ السَّاعَةُ لا رَيْبَ فيها قُلْتُمْ ما نَدْري مَا السَّاعَةُ إِنْ نَظُنُّ إِلاَّ ظَنًّا وَما نَحْنُ بِمُسْتَيْقِنينَ ﴾

      32. Dan apabila dikatakan (kepadamu), ‘Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya’, niscaya kamu menjawab, ‘Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu. Kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya).’”

      ﴿ وَ بَدا لَهُمْ سَيِّئاتُ ما عَمِلُوا وَ حاقَ بِهِمْ ما كانُوا بِهِ يَسْتَهْزِؤُونَ ﴾

      33. Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya.

      ﴿ وَ قيلَ الْيَوْمَ نَنْساكُمْ كَما نَسيتُمْ لِقاءَ يَوْمِكُمْ هٰذا وَ مَأْواكُمُ النَّارُ وَما لَكُمْ مِنْ ناصِرينَ ﴾

      34. Dan dikatakan (kepada mereka), “Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini, dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong.

      ﴿ ذٰلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آياتِ اللهِ هُزُواً وَ غَرَّتْكُمُ الْحَياةُ الدُّنْيا فَالْيَوْمَ لا يُخْرَجُونَ مِنْها وَلا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ ﴾

      35. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia.” Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula alasan mereka diterima.

      ﴿ فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّماواتِ وَ رَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعالَمينَ ﴾

      36. Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam.

      ﴿ وَ لَهُ الْكِبْرِياءُ فِي السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ وَ هُوَ الْعَزيزُ الْحَكيمُ ﴾

      37. Dan bagi-Nya-lah keagungan di langit dan di bumi, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

  • erva kurniawan 1:50 am on 13 February 2012 Permalink | Balas  

    Semoga Lidah Kita Kita tidak Kelu

    Teman-teman ku yang dirahmati ALLAH SWT, Mengapa lidah kelu disaat kematian? tetapi kematian itu pasti menjelma. Hanya masa dan waktunya yang tidak kita ketahui. Coba kita amati.

    Mengapa kebanyakan orang yang nazak (hampir ajal) tidak dapat berkata apa- apa.. lidahnya kelu, keras dan hanya mimik mukanya yang menahan kesakitan ‘sakaratul maut’.

    Diriwayatkan sebuah hadist : “Hendaklah kamu mendiamkan diri ketika adzan,jika tidak Allah akan kelukan lidahnya ketika maut menghampirinya.” Ini jelas menunjukkan, kita disarankan agar mendiamkan diri, jangan berkata apa-apa pun semasa azan berkumandang.

    Jika lagu kebangsaan kita diajar agar berdiri tegak dan mendiamkan diri. Mengapa ketika adzan kita tidak boleh mendiamkan diri? Lantas siapa yang berkata-kata ketika adzan, Allah akan kelukan lidahnya ketika nazak.

    Kita takut dengan kelunya lidah kita semasa ajal hampir tiba maka kita tidak dapat mengucap kalimat “Laillahaillallah..” yang mana barang siapa yang dapat mengucapkan kalimat ini ketika nyawanya akan dicabut Allah dgn izin Nya menjanjikan surga untuk mereka. Dari itu marilah kita sama-sama menghormati adzan dan mohon kepada Allah supaya lidah ini tidak kelu semasa nyawa kita sedang dicabut.

    “Ya Allah! Anugerah kan lah kematian kami dengan kematian yang baik lagi mulia, lancarkan lidah kami mengucap kalimah “Laillahaillallah..” semasa sakaratul maut menghampiri kami. Amin.. amin.. amin Yarobbal a’lamin..”

    WASIAT NABI MUHAMMAD S.A.W. kepada SAIDINA ALI R.A.; Wahai Ali, bagi orang MUKMIN ada 3 tanda-tandanya:

    1. Tidak terpaut hatinya pada harta benda dunia.
    2. Tidak terpesona dengan pujuk rayu.
    3. Benci terhadap perbualan dan perkataan sia-sia..

    Wahai Ali, bagi orang ‘ALIM itu ada 3 tanda2nya:

    1. Jujur dalam berkata-kata.
    2. Menjauhi segala yang haram.
    3. Merendahkan diri.

    Wahai Ali, bagi orang yang JUJUR itu ada 3 tanda2nya:

    1. Merahasiakan ibadahnya.
    2. Merahasiakan sedekahnya.
    3. Merahasiakan ujian yang menimpanya.

    Wahai Ali, bagi orang yang TAKWA itu ada 3 tanda2nya:

    1. Takut berlaku dusta dan keji.
    2. Menjauhi kejahatan.
    3. Memohon yang halal karena takut jatuh dalam keharaman.

    Wahai Ali, bagi AHLI IBADAH itu ada 3 tanda2nya:

    1. Mengawasi dirinya.
    2. Menghisab dirinya.
    3. Memperbanyakkan ibadah kepada Allah s.w.t.

    ***

    Uang Rp 50.000 atau S$50 kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak derma masjid, tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket. 45 menit terasa terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan bola sepak. Semua insan ingin memasuki surga tetapi tidak ramai yang berfikir dan berbicara tentang bagaimana untuk memasukinya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 10 February 2012 Permalink | Balas  

    12 Azab Meninggalkan Sholat

    Dalam sebuah hadist Rasulullah pernah beersabda : “Barangsiapa yang meninggalkan sholat, maka akan mengenakan 12 azab kepadanya”. 3 darinya akan dirasakan semasa didunia ini antaranya:

    1. Allah akan menghilangkan berkah dari usahanya dan begitu juga rezekinya.
    2. Allah akan mencabut cahaya hidayah dari dalam dirinya.
    3. Dia akan dibenci oleh orang-orang yang beriman.

    3 macam bahaya adalah ketika dia hendak mati, antaranya :

    1. Roh dicabut ketika dia didalam keadaan yang sangat haus walaupun ia telah meminum seluruh air.
    2. Dia akan merasa yang amat pedih ketika roh dicabut keluar
    3. DIa akan dirisaukan akan hilang imannya.

    3 Macam bahaya yang akan dihadapinya ketika berada di dalam kubur, antaranya :

    1. Dia akan merasa susah terhadap pertanyaan malaikat munkar dan nakir yang sangat kejam.
    2. Kuburnya akan menjadi gelap gulita.
    3. Kuburnya akan menghimpit sehingga semua tulang rusuknya berkumpul (seperti jari ketemu jari).

    3 azab lagi nanti dihari kiamat, antaranya :

    1. Hisabnya menjadi sangat berat.
    2. Allah sangat murka kepadanya.
    3. Allah akan menyiksanya dengan bara api neraka

    ***

    Dari Sahabat

     
    • mila apriana 1:45 pm on 13 Februari 2012 Permalink

      ya Allah jaga hamba u ni dri semua itu…dan jagalah solat ku dan sikap ku ya Robb..

    • hergani putra 1:37 pm on 23 April 2012 Permalink

      ya allah bimbinglah aku dalam ridho’mu

    • Rudi harianto 11:35 am on 19 Juli 2012 Permalink

      ya allh lonfungilah hamba dari sixsa orang yg lali dalam sholat

    • rahma 10:34 am on 16 November 2012 Permalink

      ya Allah luruskanlah iman hamba dan agar sllu ingat kpdmu

    • Puue 9:34 pm on 24 Januari 2013 Permalink

      Ya Allah jagalah hamba dari godaan syetan. Agar hamba tidak lalai dgn shlt.amin

  • erva kurniawan 1:52 am on 9 February 2012 Permalink | Balas  

    Jilbab Itu Indah

    Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab? Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau? Di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.

    Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas “Tank Top”, noleh ke kiri pemandangan “Pinggul terbuka”, menghindar kekanan ada sajian “Celana ketat plus You Can See”, balik ke belakang dihadang oleh “Dada menantang!” Astaghfirullah… kemana lagi mata ini harus memandang?

    Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! Tapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran “ngeres” dan hatipun menjadi keras. Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk memakai aset berharga yang mereka punya.

    Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih… dan lebih lagi. Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki? Yaitunya: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan!

    Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya “lelaki” bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang ini.

    Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.

    Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya…? tapi saya sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan nanti? sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya. Allah Taala telah berfirman: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur : 30-31).

    Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggung jawabkan nantinya. Jadi tak salah juga bukan? kalau saya paling malas diajak ke mall, jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.

    Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan?

    So, berjilbablah … karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, mempersona dan tentunya sejuk dimata.

    ***

    Sumber: Friendster Bulletinboard

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 8 February 2012 Permalink | Balas  

    Muhasabah atau Penilaian terhadap diri sendiri

    File ini dalam bentuk excel kami dapatkan dari mailing list, adalah cara sederhana untuk menilai diri sendiri apakah kita lebih banyak melakukan kewajiban dan amalan sunnah serta meninggalkan yang haram ataukah sebaliknya.

    Tautan untuk mengunduh file muhasabah.xls

     
    • mohammad ian 9:22 am on 8 Februari 2012 Permalink

      terima kasih..
      wassalam

  • erva kurniawan 1:29 am on 7 February 2012 Permalink | Balas  

    Gratifikasi

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim terdapat kisah:

    Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mengutus seorang laki-laki bernama Lutbiyah untuk memungut zakat dari seseorang. Setelah menerima zakat dari orang yang dimaksud, Lutbiyah menghadap ke Rasulullah. Dia kemudian menyetorkan sebagian uang yang diperolehnya kepada Rasulullah, seraya berkata, “Ini untuk Anda (maksudnya untuk Baitul Maal).” Sedangkan sebagian yang lain ditahan oleh Lutbiyah, sambil berkata, “Dan yang ini hadiah yang diberikan orang kepadaku.”

    Setelah mendengar pernyataan itu Rasulullah berdiri di atas mimbar. Mula-mula beliau memuji dan menyanjung Allah Ta’ala, kemudian beliau bersabda, “Ada seorang petugas yang kutugaskan memungut zakat, dia berkata, “Ini zakat yang kupungut kusetorkan kepada Anda, dan yang ini hadiah pemberian orang kepadaku.” (Kalau benar itu hadiah untuknya pribadi, tidak ada kaitannya dengan tugasnya memungut zakat), mengapa dia tidak duduk saja di rumah orangtuanya menunggu orang mengantar hadiah kepadanya? Demi Allah yang jiwaku berada dalam kuasa-Nya, tidak seorang jua pun di antara kalian yang menggelapkan zakat yang ditugaskan kepadanya memungutnya, melainkan pada hari kiamat kelak, dia akan memikul unta (dari zakat) yang digelapkannya itu melenguh-lenguh di kuduknya, atau sapi yang menguak-nguak, atau kambing yang mengembik-ngembik.”

    **

    Di zaman kini pemberian “hadiah” dari seseorang atau suatu lembaga kepada pejabat negara atau pegawai negeri seperti diterima Lutbiyah itu disebut gratifikasi. Dan karena perkembangan teknologi, gratifikasi di zaman kini tidak lagi hanya berupa barang.

    Menurut UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi juncto UU No. 20/2001 bab penjelasan Pasal 12B ayat (1), gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma dan fasilitas lainnya.

    Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mengungkapkan, sesuai Pasal 12B UU No. 20/2001, setiap gratifikasi pada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap sebagai pemberian suap, bila berhubungan dengan jabatan dan berlawanan dengan kewajibannya.

    Kenapa sejak zaman dulu gratifikasi diharamkan Rasulullah dan di zaman kini juga dilarang oleh negara? Padahal kita tahu bahwa beliau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam sangat menganjurkan untuk saling memberi hadiah: “Saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian akan saling mencintai,” sabdanya. Sebab gratifikasi bukanlah hadiah yang semata-mata diberi agar terjadi saling mencintai di antara mereka, melainkan karena ada patgulipat atau kong-kalikong di balik gratifikasi itu, yang menguntungkan mereka tapi merugikan negara atau masyarakat luas.

    Dalam kasus zakat misalnya, seseorang seharusnya membayar zakat Rp 10 juta. Namun karena dia bakhil, dia hanya mau mengeluarkan Rp 5 juta. Lantas dia bekerjasama” dengan petugas zakat. Dia setorkan uang Rp 5 juta, dan dia berikan “hadiah” Rp 1 juta bagi petugas pemungut zakat. Sehingga ada Rp 4 juta uang zakat yang mereka gelapkan.

    Masalahnya di zaman kini tidak mudah mengungkap adanya gratifikasi yang bernuansa suap itu jika kedua belah pihak bersetuju menyembunyikan adanya praktek tersebut. Karena itu sulit sekali memberantas praktek suap berdalih hadiah itu. hanya ada satu cara efektif untuk memberantasnya yakni meningkatkan ketakwaan. Ingatlah bahwa semua harta yang digelapkan kelak di hari kiamat akan dipikulkan di pundak pelakunya lalu harta itu mengeluarkan bunyi-bunyi yang memalukan.*

    Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 188).

    ***

    Oleh Widi Nofiarto

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 6 February 2012 Permalink | Balas  

    Islam dan Jalan Pedang

    Belakangan ini, media banyak mewartakan protes para pemuka Muslim di dunia, atas pernyataan Paus Benediktus XVI bahwa Nabi Muhammad SAW menyebarkan Islam dengan kekerasan. Ini merupakan gambaran stigmatik sebagian tokoh Barat tentang Islam. Gambaran stigmatik serupa pernah menyeruak ke permukaan dalam kasus poster Nabi Muhammad SAW. Tentu saja harus ada upaya pelurusan terhadap kekeliruan-keleliruan ini. Benarkah Islam disebarkan dengan pedang?

    Tanpa pedang

    Islam disebarkan dengan dakwah, bukan dengan pedang. Perhatikan argumentasi historis berikut.

    Pertama, ketika berada di Makkah untuk memulai dakwahnya, Nabi tidak disertai senjata dan harta. Kendati demikian, banyak pemuka Makkah seperti Abu Bakar, Utsman, Sa’ad ibn Waqqas, Zubair, Talhah, Umar bin Khattab, dan Hamzah yang masuk Islam. Berkaitan dengan ini, Ustadz Al Aqqad, dalam buku ‘Abqariyyah Muhammad, mengatakan bahwa banyak orang Makkah masuk Islam bukan karena tunduk kepada senjata (fai: umat islam hanya sedikit).

    Kedua, ketika Nabi dan para pengikutnya mendapat tekanan yang sangat berat dari kafir Quraisy, penduduk Madinah banyak yang masuk Islam dan mengundang Nabi serta pengikutnya hijrah ke Madinah. Mungkinkah Islam tersebar di Madinah dengan senjata?

    Ketiga, pasukan Salib datang ke Timur ketika Khalifah Bani Abbas berada dalam masa kemunduran. Tak diduga, banyak anggota pasukan Salib tertarik kepada Islam dan kemudian menggabungkan diri dengan pasukan Salib lainnya. Thomas Arnold, dalam Al Da’wah ila Al Islam, menyebutkan bahwa mereka masuk Islam setelah melihat kepahlawanan Salahuddin sebagai cerminan ajaran Islam.

    Keempat, pada abad VII H (XIII M) pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu memporak-porandakan Baghdad, ibu kota Khilafah Abbasiyah, beserta peradaban yang dimiliki Islam. Mereka menghancurkan masjid-masjid, membakar kitab-kitab, membunuh para ulama, dan serentetan perbuatan sadis lainnya. Tahun 1258 merupakan lonceng kematian bagi khilafah Abbasiyah. Akan tetapi, sungguh mencengangkan bahwa di antara orang-orang Mongol sendiri yang menghancurkan pemerintahan Islam ternyata banyak yang memeluk Islam.

    Kelima, sejarah menjelaskan bahwa masa terpenting Islam adalah masa damai ketika diadakan perjanjian Hudaibiyah antara orang-orang Quraisy dan Muslimin yang berlangsung selama dua tahun. Para sejarawan pun mengatakan bahwa orang yang masuk Islam pada masa itu lebih banyak dibanding masa sesudahnya. Ini menunjukkan bahwa penyebaran Islam banyak terjadi pada masa damai bukan masa peperangan.

    Keenam, tidak ada kaitan antara penyebaran Islam dan peperangan yang terjadi antara Muslimin dan Persia serta Romawi (fai: Perhatikan: AS dan Inggris menyerang Afghanistan dan Irak). Ketika peperangan antara mereka berkecamuk dan orang-orang Islam memperoleh kemenangan kemudian peperangan berhenti, pada saat itu para dai menjelaskan bangunan, dasar, dan filsafah Islam. Dakwah Islam itu yang kemudian menyebabkan orang-orang non-Islam –terutama mereka yang tertindas oleh penguasa– masuk Islam. Fage Roland Oliver, dalam bukunya A Short History of Africa, menjelaskan bahwa Islam tersebar di Afrika justru ketika daulah-daulah Islam di sana telah runtuh. Islam tersebar di sana melalui peradaban, pemikiran, dan dakwah Islamiyah.

    Ketujuh, Islam tersebar luas di Indonesia, Malaysia, dan Afrika lewat orang-orang dari Hadramaut yang tidak didukung oleh harta dan penguasa, dan atau Islam diajarkan oleh orang-orang Indonesia yang berwatakkan Islam dalam kefakiran.

    Kedelapan, peneliti dunia Islam Jerman, Ilse Lictenstadter, dalam Islam and the Modern Age, mengatakan bahwa pilihan yang diberikan kepada Persia dan Romawi bukanlah antara Islam dan pedang, tetapi antara Islam dan jizyah (pembayaran pajak).

    Motivasi perang

    Kenyataan bahwa sejarah Islam diwarnai dengan peperangan merupakan fakta yang tidak dapat dibantah. Bila Islam disebarkan dengan dakwah, lalu kenapa terjadi peperangan? Di antara motivasi peperangan dalam sejarah Islam adalah:

    Pertama, mempertahankan jiwa raga. Seperti disebutkan dalam sejarah, sebelum hijrah orang-orang Islam belum diizinkan untuk berperang. Padahal umat Islam memperoleh berbagai siksaan dan tekanan dari kafir Quraisy.`Ammar, Bilal, Yasir, dan Abu Bakar adalah di antara mereka yang mendapat perlakuan keras itu. Ketika perlakuan kafir Quraisy semakin keras dan umat Islam meminta izin kepada Nabi untuk berperang, Nabi belum juga mengizinkan karena belum ada perintah dari Allah SWT. Namun, ketika Nabi beserta pengikutnya hijrah ke Madinah dan kafir Quraisy bertekad untuk membebaskan kota itu dari Islam, maka Allah SWT akhirnya –karena demi membela diri — mengizinkan mereka berperang (QS Al Hajj [22]:37). Namun izin itu dikeluarkan dengan beberapa persyaratan seperti demi jalan Allah SWT, bukan demi harta atau prestise, mempertahankan diri, dan tidak berlebihan (QS Al-Baqarah [2]:190).

    Data historis yang dapat dikemukakan berkaitan dengan hal di atas adalah penyebaran Islam ke Habsyi, sebuah kota yang tidak begitu jauh dari jazirah Arab dan kota yang pernah menjadi tujuan hijrah Nabi. Orang-orang Islam tidak pernah memerangi kota itu karena tidak mengancam keselamatan mereka. Bila penyebaran Islam dengan kekuatan, tentunya orang-orang Islam sudah menghancurkan kota itu. Seperti diketahui, umat Islam saat itu sudah memiliki angkatan laut yang cukup kuat.

    Kedua, melindungi dakwah dan orang-orang lemah yang hendak memeluk Islam. Seperti diketahui bahwa dakwah Nabi memperoleh tantangan keras dari kafir Quraisy Makkah. Mereka menempuh jalan apa saja untuk menghalanginya (QS al-Fath [48]:25). Banyak penduduk Makkah dan Arab lainnya bermaksud memeluk Islam, tetapi mereka takut terhadap ancaman itu. Allah lalu mengizinkan Rasul-Nya beserta pengikutnya untuk melindungi dakwah dengan cara berperang.

    Ketiga, mempertahankan umat Islam dari serangan pasukan Persia dan Romawi. Keberhasilan dakwah Nabi dalam menyatukan kabilah-kabilah Arab di bawah bendera Islam ternyata dianggap ancaman oleh penguasa Persia dan Romawi –dua adikuasa saat itu. Itu sebabnya, mereka mengumumkan perang dengan umat Islam (fai: dan umat Islam hanya mempertahankan diri dari serangan musuh).

    Tahun 629 M Nabi mengutus satu kelompok berjumlah 15 orang ke perbatasan Timur Ardan untuk berdakwah, tetapi semuanya dibunuh atas perintah penguasa Romawi. Pada tahun 627 M Farwah bin Umar Al Judzami, gubernur Romawi di Amman, memeluk Islam. Untuk itu, ia mengutus Mas’ud bin Sa’ad Al Judzami menghadap Nabi untuk menyampaikan hadiah. Ketika berita itu sampai ke telinga 49 orang-orang Romawi, mereka memaksa Farwah untuk keluar dari Islam, tetapi paksaan itu ditolaknya. Akibatnya, ia dipenjara dan akhirnya disalib. Atas alasan itu dan demi melindungi umat Islam dari serangan-serangan Romawi dan Persia berikutnya, Nabi kemudian mengumumkan perang (membela diri).

    Berdasarkan uraian tersebut, tidak ada satu ayat pun atau satu kejadian pun dalam sejarah permulaan Islam yang mengisyaratkan bahwa Islam disebarkan dengan peperangan (senjata). Peperangan yang terjadi hanyalah karena terpaksa untuk membela diri, melindungi dakwah dan kebebasan beragama, serta melindungi umat Islam dari serangan Romawi dan Persia.

    Ikhtisar

    -          Pernyataan Islam disebarkan dengan pedang adalah stigma yang dibuat Barat terhadap Islam.

    -          Sejarah menunjukkan bahwa Islam selalu disebarkan lewat jalan dakwah, pemikiran, dan kesantunan.

    -          Keterlibatan umat Islam dalam perang, selalu didorong oleh motivasi hanya membela diri di jalan Allah SWT.

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 5 February 2012 Permalink | Balas  

    Tanggung Jawab Dalam Islam

    Oleh: Dr. H. Achmad Satori Ismail, MA

    Dalam sejarah ulama salaf, diriwayatkan bahwa khalifah rasyidin ke V Umar bin Abdil Aziz dalam suatu shalat tahajjudnya membaca ayat 22-24 dari surat ashshoffat yang artinya : (Kepada para malaikat diperintahkan) “Kumpulkanlah orang-orang yang dzalim beserta teman sejawat merekadan sembah-sembahan yangselalu mereka sembah, selain Allah: maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka di tempat perhentian karena mereka sesungguhnya mereka akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban ).”

    Beliau mengulangi ayat tersebut beberapa kali karena merenungi besarnya tanggungjawab seorang pemimpin di akhirat bila telab melakukan kedzaliman. Dalam riwayat lain Umar bin Khatab r.a. mengungkapkan besarnya tanggung jawab seorang pemimpin di akhiarat nanti dengan kata-katanya yang terkenal : “Seandainya seekor keledai terperosok di kota Baghdad nicaya Umar akan dimintai pertanggungjawabannya, seraya ditanya : Mengapa tidak meratakan jalan untuknya ?” Itulah dua dari ribuan contoh yang pernah dilukiskan para salafus sholih tentang tanggungjawab pemimpin di hadapan Allah kelak.

    Pada prinsipnya tanggungjawab dalam Islam itu berdasarkan atas perbuatan individu saja sebagaimana ditegaskan dalam beberapa ayat seperti ayat 164 surat Al An’am yang Artinya: “Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

    Dalam surat Al Mudatstsir ayat 38 yang artinya: “Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya”

    Akan tetapi perbuatan individu itu merupakan suatu gerakan yang dilakukan seorang pada waktu, tempat dan kondisi-kondisi tertentu yang mungkin bisa meninggalkan bekas atau pengaruh pada orang lain. Oleh sebab itu apakah tanggung jawab seseorang terbatas pada amalannya saja ataukah bisa melewati batas waktu yang tak terbatas bila akibat dan pengaruh amalannya itu masih terus berlangsung mungkin sampai setelah dia meninggal ?

    Seorang yang cerdas selayaknya merenungi hal ini sehingga tidak meremehkan perbuatan baik sekecil apapun dan tidak gegabah berbuat dosa walau sekecil biji sawi. Mengapa demikian ? Boleh jadi perbuatan baik atau jahat itu mula-mula amat kecil ketika dilakukan, akan tetapi bila pengaruh dan akibatnya terus berlangsung lama, bisa jadi akan amat besar pahala atau dosanya.

    Allah SWT menyatakan dalam QS Yaasiin yang artinya: “Kami menuliskan apa-apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (Yaasiin 12).

    Ayat ini menegaskan bahwa tanggangjawab itu bukan saja terhadap apa yang diperbuatnya akan tetapi melebar sampai semua akibat dan bekas-bekas dari perbuatan tersebut. Orang yang meninggalkan ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah atau anak yang sholeh , kesemuanya itu akan meninggalkan bekas kebaikan selama masih berbekas sampai kapanpun. Dari sini jelaslah bahwa Orang yang berbuat baik atau berbuat jahat akan mendapat pahala atau menanggung dosanya ditambah dengan pahala atau dosa orang-orang yang meniru perbuatannya. Hal ini ditegaskan dalam Surat An nahl 25

    Artinya: “(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat dan sebagian dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun bahwa mereka disesatkan. Ingatlah amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.”

    Di sini kita merenung sejenak seraya bertanya: “apabila yang memerintah kejahatan atau kedurhakaan itu seorang pemimpin yang memilik kekuasaan penuh, apakah dia saja yang akan menanggung dosanya dan dosa rakyatnya karrena mereka dipaksa ? Ataukah rakyat juga harus menaggung dosanya walau ia lakukan di bawah ancaman paksaan tersebut ?” Menurut hemat saya, seorang penguasa dianggap tidak memaksa selama raksyat masih bisa memiliki kehendak yang aada dalam dirinya. Perintah seorang pimpinan secara lisan maupun tulisan tidak berarti melepaskan seorang bawahan dari tanggungjawab atas semua perbuatannya. Alquran mencela orang-orang yang melakukan dosa dengan alasan pimpinannya menyuruh berbuat dosa. Allah menyatakan sbb. : “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat pula kepada Rasul” Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami , lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar”. (Al ahzab 66-67).

    Allah membantah mereka dengan tegas: “Harapanmu itu sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya dirimu sendiri . Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu.” (Az Zukhruf 39).

    Dari sini jelaslah bahwa pemimpin yang dzalim tidak akan bisa memaksa hati seseorang kendati mampu memaksa yang lahiriyahnya. Oleh sebab itu rakyat atau bawahanpun harus bertanggung jawab terhadap akidahnya dan perbuatannya kendati di sana ada perintah dan larangan pimpinan.

    Berbeda dengan hukum paksaan yang menimpa orang-orang lemah yang ditindas penguasa yang mengancam akan membunuhnya dan memang bisa dilaksanakan. Hal ini pernah terjadi pada masa awal Islam di Makkah dimana orang yang masuk Islam di paksa harus murtad seperti Bilal bin Rabbah, keluarga Yasir dst. Mereka dipaksa menyatakan kekufuran. (lihat An Nahl 106 dan An Nisa’ 97-99)

    Tanggung jawab seorang berkaitan erat dengan kewajiban yang dibebankan padanya. Semakin tinggi kedudukannya di masyarakat maka semakin tinggi pula tanggungjawabnya. Seorang pemimpin negara bertanggung jawab atas prilaku dirinya, keluarganya, saudara-saudaranya, masyarakatnya dan rakyatnya. Hal ini ditegaskan Allah sbb.; “Wahai orang-orang mukmin peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At Tahrim 6) Sebagaimana yang ditegaskan Rasululah saw : “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya..”(Al Hadit)

    Tanggungjawab vertikal ini bertingkat-tingkat tergantung levelnya. Kepala keluarga, kepala desa, camat, bupati, gubernur, dan kepala negara, semuanya itu akan dimnitai pertanggungjawabannya sesuai dengan ruang lingkup yang dipimpinnya. Seroang mukmin yang cerdas tidak akan menerima kepemimpinan itu kecuali dengan ekstra hati-hati dan senantiasa akan mempeprbaiki dirinya, keluarganya dan semua yang menjadi tanggungannya. Para salafus sholih banyak yang menolak jabatan sekiranya ia khawatir tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.

    Pemimpin dalam level apapun akan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah atas semua perbuatannya disamping seluruh apa yang terjadi pada rakyat yang dipimpinnya. Baik dan buruknya prilaku dan keadaan rakyat tergantung kepada pemimpinnya. Sebagaimana rakyat juga akan dimintai pertanggungjawabannya ketika memilihseorang pemimpin. Bila mereka memilih pemimpin yang bodoh dan tidak memiliki kapabilitas serta akseptabilitas sehingga kelak pemimpin itu akan membawa rakyatnya ke jurang kedurhakaan rakyat juga dibebani pertanggungjawaban itu.

    Seorang penguasa tidak akan terlepas dari beban berat tersebut kecuali bila selalu melakukan kontrol, mereformasi yang rusak pada rakyatnya , menyingkirkan orang-orang yang tidak amanah dan menggantinya dengan orang yang sholeh. Perrtolongan allah tergantung niat sesuai dengan firman Allah Artinya : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah akan ditunjuki hatinya danAllah Maha Mengetahui ats segala sesuatu.” (At Taghobun 11)

    Wallahu a’lamu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 4 February 2012 Permalink | Balas  

    Mu’aqobah

    Kesibukan kerja mungkin membuat kita terlena, entah karena target yang begitu ketat sehingga tanggung jika tidak terselesaikan atau karena kita memang menikmati pekerjaan sehingga lupa bahwa waktu waktu sholat telah tiba. Atau mungkin juga kita sudah terbiasa dan nyaman dengan melaksanakan sholat di akhir akhir waktu, sehingga tidak sibuk pun waktu sholat di akhirkan. Sholat Dhuhur dilaksanakan jam 13:30 sementara waktu sebelum itu sebenarnya santai juga. Sholat Ashar jika belum jam 16:30 belum dilaksanakan. Toh kerja juga ibadah, mungkin demikian pendapat sebagian orang.Justifikasinya adaaaa aja Padahal kita yakin seyakin yakinnya bahwa tujuan kerja adalah ibadah juga, bahwa sholat di awal waktu adalah yang paling Afdhal, bagi laki laki tentu lebih baik berjamaah. Kita sepakat untuk itu, bahkan jika kita ditanya, segera saja kita akan menjawab bahwa kerja kita juga diniatkan ibadah. Jadi konsepnya sudah benar.

    Lingkungan kerja memang berbeda untuk masing masing kantor. Ada yang bekerja dengan full deadline , pressure namun ada juga yang relative santai. Waktu memang kadang menjadi permasalahan namun sikap mental kita sebenarnya lebih menjadikan masalah, apakah kita bisa ” memaksa ” diri kita untuk sholat tepat waktu atau tidak. Biasanya jika kita sudah terbiasa mengakhirkan sholat, perasaan untuk sholat di akhir waktu juga biasa biasa saja. Bahkan mungkin untuk jarak Jakarta – Bogor, Jakarta – Bekasi yang tidak jauh pun dijamak, karena tanggung maghrib dijalan, padahal syarat untuk dijamak belum memenuhi. Padahal jika sudah terbiasa sholat berjamaah di masjid, ketinggalan sholat berjamaah ada perasaan lain, ada perasaan rugi disana.

    Para Salafus Shalih memberikan contoh yang sangat menarik dan patut kita contoh untuk hal ini. Mereka memberikan hukuman, Punishment, Mu’aqobah kepada dirinya sendiri manakala mereka ketinggalan dalam sholat sunnah atau sholat berjamaah. Bukan sholat Wajib lho yang ketinggalan, tapi sholat sunnah atau sholat berjamaahnya.

    Ketika Abu Thalhah sedang Sholat, didepannya lewat seekor burung,lalu beliaupun melihatnya, sehingga lupa sudah berapa roka’at sholat beliau. Karena kejadian tersebut beliau mensedekahkan kebunnya untuk kepentingan orang orang miskin sebagai sanksi atas kelalaian dan ketidak khusu’annya.

    Umar Bin Khattab raddhiyallahu ‘anhu pernah pergi ke kebunnya. Ketika pulang didapatinya orang orang sudah selesai melaksanakan sholat Ashar. Maka Umar berkata ” aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang orang sudah shalat Ashar …! Kini kebun ku aku jadikan shadaqah untuk orang orang miskin “.

    Hasan bin Hannan pernah melewati sebuah rumah yang baru selesai dibangun. Beliau berkata ” Kapan rumah ini dibangun ?” Kemudian beliau menegur dirinya sendiri, ” kenapa kamu tanyakan sesuatu yang tidak berguna untuk dirimu ? akan kujatuhkan sangsi dengan berpuasa sunnah.

    Subhanallah ini bukan negeri dongneng, namun ini adalah contoh dari generasi generasi terbaik yang memang sudah seharusnya kita mengusahakan semaksimal mungkin untuk mencontohnya. Naik turunya iman sering terjadi, kemalasan sering melanda kita apalagi dengan dunia kerja yang begitu dinamis. Yang terbaik adalah jika kita terseret dalam arus kemalasan dan santai, maka kita harus memaksa diri kita untuk memulainya. Jika kita terbiasa sholat lebih dari Jam 13:00 paksa untuk lebih awal lagi dsb. Jika kita senantiasa menunda nundanya biasanya hari berikutnya pun masih akan kita tunda lagi, itupun belum tentu berhasil. Ulama mengajarkan kita untuk salah satu agar komitmen ini berhasil adalah bergaullah dan akrablah dengan orang orang shalih, niscaya ruhiyah kita akan meningkat,. “Hai orang orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu beserta orang orang yang benar” ( Qs 9:119 ).

    “Seseorang itu bersama dengan orang yang ia cintai” ( Bukhori – Muslim ).

    Berat rasanya jika kita pinginnya sholih, sholat sunnah nya kuat, sholatnya tepat waktu, namun pergaulan sehari hari didominasi dengan pergaulan yang tidak islami. Sangat mungkin turunnya lebih sering daripada naiknya. Pentingnya bergaul dengan orang orang sholih ini, sangat ditekankan oleh para ulama salaf,Salah seorang ulama salaf mengatakan “Kalau saya merasa malas dalam beribadah maka saya perhatikan wajah Muhammad bin Wasi ( seorang alim yang banyak beribadah ) dan bagaimana kesungguhannya dalam beribadah, kemudian saya ikuti cara ibadahnya selama satu minggu “.

    Saudaraku semua, semoga bermanfaat, terutama bagi diri saya sendiri. Saya tujukan tulisan ini terutama bagi diri saya sendiri juga jika berkenan bagi rekan rekan di milis kariramanah ini semuanya. Ayo, kita tingkatkan semangat. Kita lawan kemalasan. Jika kita masing dalam Last minute mentality dalam mengerjakan sesuatu, sudah seharusnya kita mulai rubah. Islam tidak demikian. Tidak salah juga kita mencari rekan yang baik, dan sholih. Jika masih dalam lingkungan yang kurang baik, tidak salah juga dibarengi dengan lingkungan yang kondusif untuk menguatkannya. Karena sahabat yang baik memang sungguh berarti untuk keimanan kita. Peribahasa mengatakan: Sahabat adalah penentu, Jangan Tanya siapa aku, Tanyakan siapa sahabatku, Pasti Anda tahu siapa diriku

    Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Daromi 11:41 am on 7 Februari 2012 Permalink

      شكرا جزيلا. Semoga kita senantiasa Istiqomah.

  • erva kurniawan 1:37 am on 3 February 2012 Permalink | Balas  

    Manfaat Membaca Basmalah

    Bismillah sebuah kalimat yang tidak asing di telinga dan lisan seorang muslim. Bismillah diucapkan ketika akan memulai setiap perkara yang bermanfaat. Dzikir ini mengandung keutamaan, diantaranya sebagai berikut:

    Terjaga dari Setan

    Rasulullah bersabda: “Apabila seorang masuk ke rumahnya dan mengingat Allah (berdzikir) ketika masuknya dan ketika makan, maka setan berkata: “Tidak ada tempat istirahat dan makan malam untuk kalian.” Dan apabila ia masuk dan tidak mengingat Allah ketika masuk, maka setan berkata: “Kalian telah mendapatkan tempat istirahat.” Dan apabila ia tidak mengingat Allah ketika makan, maka ia berkata:”Kalian mendapatkan tempat istirahat dan makan malam”.1 Imam Nawawi berkata, “Dengan demikian, disunnahkan untuk mengingat Allah ketika masuk rumah dan makan.”2

    Menyempurnakan Barakah

    Dengan bismillah akan dapat menyempurnakan keberkahan pada amal, Rasulullah bersabda, “Setiap perkara yang tidak dimulai dengan bismillah (dalam riwayat lain: dengan mengingat Allah), maka amalan tersebut terputus (kurang) keberkahan-Nya.”3

    Dilindungi Allah dari gangguan Jin

    Dan sabdanya, “Penghalang antara mata jin dan aurat Bani Adam, apabila salah seorang dari mereka melepas pakaiannya, ialah dengan membaca Bismillah.”4

    Pengalaman Nyata

    Ketika Khalid bin Walid tertimpa kebimbangan, mereka berkata kepadanya, “Berhati-hatilah dengan racun, jangan sampai orang asing memberikan minum padamu,” maka ia berkata, “berikanlah kepadaku,” dan ia pun mengambil dengan tangannya dan membaca: “Bismillah,” lalu ia meminumnya. Maka sedikitpun tidak memberikan bahaya kepadanya. 5 Sumber : Al-Hisnu al-Waqi’, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Muhammad as-Sad-han, dengan pengantar dari Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Abdir-Rahman bin Jibrin.

    ***

    1. HR. Muslim, 2018. Syarh Muslim ‘ala Muslim, 7/54 Dishahihkan oleh Jamaah, seperti Ibnu Shalah, Nawawi di dalam Adzkar-nya.
    2. Syaikh bin Baz berkata: “Hadist Hasan dengan syawahidnya”.
    3. Sebagaimana terdapat dalam al-Jami’ Shaghir. Dan dihasankan oleh Munawi dalam syarhnya.
    4. Dikeluarkan oleh al-Baihaqi, Abu Nu’aim, Thabrani, Ibnu Sa’ad dengan sanad yang shahih. Lihat Tahdzib at-Tahzib, Ibnu Hajar, 3/125.
    5. Diketik ulang dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/Th. XII/1429H/2008M Hal. 8 dalam kolom “Baituna”.

    ***

    Sumber : Pustaka Aisyah(http://safuan.wordpress.com)

     
    • badawi 9:10 pm on 17 Januari 2013 Permalink

      sangat bermanfaat

  • erva kurniawan 1:27 am on 2 February 2012 Permalink | Balas  

    Pemimpin Contoh

    Pemimpin adalah contoh dan lambang kepada rakyat yang di pimpinnya.Baik pemimpin, baiklah rakyatnya.Buruk pemimpin, buruklah rakyat pimpinannya.

    Bersabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

    “Dua golongan daripada umatku, apa bila mereka baik, baiklah manusia, dan apabila mereka rosak, rosaklah manusia. Itulah dia para pemimpin dan ahli feqah (Ulama)”. (Riwayat Ibnu Abdul Barr idan Abu Naim).*

    Hari ini umat Islam mengenali pemimpin mereka sebagai orang atasan yang antara mereka hampir hampir mustahil untuk bertemu mesra. Dalam mimpi pun tidak boleh pergi ke rumah pemimpin, apalagi secara jaga. Kekayaan dan kemewahan pemimpin tidak terkata. Pakaian, makanan dan ala alat kegunaan pemimpin amat jauh bezanya daripada apa yang Rakyat dapati. Pendek kata terdapat jurang yang dalam memisahkan pemimpin dengan rakayat. Hampir hampir tiada kaitan apa apa antara pemimpin dengan Rakyat.

    Kalau ada hanyalah secara rasmi, pemimpin di atas pentas dan Rakyat di bawah. Dalam kesempatan begini, pemimpin akan membuat ucapan yang begitu rasmi untuk menaikan semangat Rakyat. Pemimpin akan membuat janji janji manis untuk menarik simpati Rakyat padanya. Di samping itu diselitkan suara ugutan yang membuatkan Rakyat takut untuk tidak taat pada pemimpinnya. Setelah selesai berucap maka mereka pun berpisah dan saling lupa melupai dan saling tidak kenal mengenal antara satu dengan yang lain. Hakikatnya mereka tidak tahu menahu antara satu dengan lain. Begitulah bentuk kepimpinan dalam dunia sekarang. Ia lebih merupakan satu jawatan yang menjadikan seorang itu terpisah dari masyarakatnya untuk menjalani hidup yang berkuasa,mewah dan glamor.

    Dalam Islam pemimpin adalah khadam kepada Rakyat.Rasulullah bersabda yang bermaksud: ” Ketua (penghulu) satu kaum itu adalah orang yang berkhidmat kepada mereka.” (Riwayat Al Hakim)

    Menjadi seorang pemimpin ertinya menjadi seorang yang berkhidmat untuk Rakyat. Menjadi pemimpin bukan memegang jawatan tinggi bergaji besar, tetapi memikul tanggungjawab yang berat. Seorang bapa tidak pernah kenyang sebelum anaknya kenyang.Begitulah sepatutnya sikap seorang pemimpin. Dia tidak berlebih lebihan sehingga Rakyat nya terbiar dalam kekurangan. Dia tidak akan bersenang lenang sedangkan rakyatnya terbiar dalam kesusahan.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 28 January 2012 Permalink | Balas  

    Iman Kepada Malaikat

    Assalamu’alaikum wr wb,

    Beriman kepada Malaikat adalah rukun Iman yang kedua.

    Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya…” [Al Baqarah:285]

    Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” [An Nisaa’:136]

    Malaikat diciptakan Allah dari Nur/Cahaya [HR Muslim] dan merupakan makhluk ghaib yang tidak dapat dilihat oleh manusia kecuali jika Allah mengizinkan.

    Malaikat tidak memiliki hawa nafsu dan selalu taat dan melaksanakan perintah Allah:

    Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” [An Nahl:50]

    Para Malaikat tidak lalai dalam menjalankan kewajiban:

    Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” [Al An’aam:61]

    Malaikat merupakan hamba Allah yang dimuliakan:

    Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan” [Al Anbiyaa’:26]

    Malaikat senantiasa beribadah kepada Allah dan bertasbih:

    Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud” [Al A’raaf:206]

    Para Malaikat mengerjakan berbagai urusan yang diberikan Allah kepada mereka:

    Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan untuk mengurus berbagai macam urusan yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Faathir:1]

    Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” [Al Qadr:4]

    Para malaikat senantiasa berdoa untuk orang-orang yang beriman:

    (Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”. [Al Mu’min:7-9]

    Bahkan Malaikat dikirim Allah untuk menolong orang-orang yang beriman jika mereka bersabar dan siap siaga: . Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” [Ali ‘Imran:125]

    Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” [Al Ahzab:9]

    Jumlah Malaikat banyak dan teratur dalam barisan-barisan yang rapi:

    dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” [Al Fajr:22]

    Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.” [An Naba’:38]

    Di antara para malaikat yang wajib setiap orang Islam ketahui sebagai salah satu Rukun Iman berserta tugas-tugas mereka adalah:

    1. Jibril – Menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul Allah. Sesungguhnya Al Qur’aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)” [At Takwiir:19]

    Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”[Al Baqarah:98]

    2. Mikail – Membagi rezeki kepada seluruh makhluk, di antaranya menurunkan hujan [QS 2:98]

    3. Israfil – Meniup sangkakala (terompet) pada hari kiamat [HR An Nasaa’i]

    4. Maut – Mencabut nyawa seluruh makhluk [QS 32:11] Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” [As Sajdah:11]

    5. Munkar – Memeriksa amal perbuatan manusia di alam kubur [HR Ibnu Abi ‘Ashim]

    6. Nakir – Memeriksa amal perbuatan manusia di alam kubur [HR Ibnu Abi ‘Ashim]

    7. Raqib – Mencatat amal baik manusia ketika hidup di dunia [QS 50:18] Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [Qaaf:18]

    8. Atid – Mencatat amal buruk manusia ketika hidup di dunia [QS 50:18]

    9. Malik / Zabaniyah- Menjaga neraka dengan bengis dan kejam Mereka berseru: “Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.” Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal di neraka.” [Az Zukhruf:77]

    kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah” [Al ‘Alaq:18]

    10. Ridwan, Penjaga Surga – Menjaga sorga dengan lemah lembut [QS 39:73] Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan. Sesampai di surga dan pintu-pintunya telah terbuka berkatalah penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan dilimpahkan atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” [Az Zumar:73]

    Nama Malaikat Maut, Izrail, tidak ditemukan sumbernya baik dalam Al Quran maupun Hadits. Ibnu Katsir mentafsirkannya dari surat As Sajdah ayat 11 dengan sumber hadits yang tidak jelas [(Ahkamul Jana’iz, I/254 dan Takhrij At-Thahawiyyah, I/72]

    Nama Malaikat Ridwan menurut sebagian ahli hadits haditsnya maudhu’ [Dha’if At-Targhib wat Tarhib, I/149 dan Adh-Dha’ifah, X/138]. Dalam QS 39:73 hanya disebut Penjaga Surga.

    Hikmah dari beriman kepada malaikat cukup banyak. Misalnya dengan menyadari adanya malaikat Roqib dan ‘Atid yang selalu mencatat amal baik/buruk kita, maka kita akan lebih hati-hati dalam berbuat. Kita malu berbuat dosa.

    Padahal sesungguhnya bagi kamu ada malaikat-malaikat yang mengawasi pekerjaanmu, yang mulia di sisi Allah dan mencatat pekerjaan-pekerjaanmu, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Infithaar:10-12]

    Dengan meyakini adanya malaikat Maut yang mencabut nyawa kita, Munkar dan Nakir yang memeriksa kita di alam kubur serta malaikat Malik yang menyiksa para pendosa di neraka, niscaya kita takut berbuat dosa.

    Kita juga bisa meniru ketaatan dan kerajinan malaikat dalam beribadah.

    Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.” [Al Anbiyaa’:19]

    Di TV saya menyaksikan bagaimana pemerintah AS dan Inggris khusus mendirikan Lembaga untuk menyelidiki keberadaan piring terbang/UFO (Unidentified Flying Object) atau makhluk ruang angkasa (alien). Mereka bahkan membuat teleskop radio raksasa untuk mendeteksi keberadaan UFO/alien.

    Sebagian ilmuwan berpendapat bahwa mungkin tidak hanya ada satu alam semesta (universe). Tapi ada alam semesta lain yang paralel keberadaannya (Parallel Universe/Dimension). Sebagai contoh ada orang yang melihat UFO kemudian benda itu menghilang. Sebetulnya tidak hilang. Tapi dia merubah “frekuensinya” sehingga tidak terlihat lagi oleh mata manusia.

    Para ilmuwan itu masih mencari-cari dan meraba-raba keberadaan UFO, Alien, atau Parallel Universe. Padahal dalam Islam hal itu sudah ada penjelasannya. Dalam Islam disebut ada dunia dan ada juga akhirat. Kemudian selain manusia yang kasat mata, ada juga makhluk ghaib seperti jin dan malaikat yang tidak bisa dideteksi oleh manusia. Hanya kadang-kadang saja mereka nampak sehingga Nabi dan para sahabat bisa melihat mereka. Hal yang ghaib ini harus kita imani:

    yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” [Al Baqarah:3]

    Jika kadang-kadang ada orang yang mengaku melihat benda yang bersinar dan terbang dengan cepat, meski mungkin tidak semua laporan itu benar, bisa jadi yang mereka lihat itu adalah makhluk ghaib seperti Malaikat yang memang diciptakan Allah dari Nur atau Cahaya.

    Malaikat memang biasa naik turun ke bumi pada subuh dan sore hari:

    Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” [Al Israa’:78]

    Dan malaikat memang kecepatannya luar biasa yaitu lebih dari 17 juta kali kecepatan maksimal yang dilakukan manusia. Saat ini benda tercepat yang diakui oleh manusia adalah cahaya (300.000 km/detik) dan Malaikat memang diciptakan Allah dari cahaya.

    dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang” [An Naazi’aat:3-4]

    Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” [Al Ma’aarij:4]

    ***

    Referensi: Wikipedia, al-ihwan.net

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 25 January 2012 Permalink | Balas  

    Jihad Ibu

    Oleh: Siti Yuliati

    Rasulullah SAW bersabda, ”Setiap jerih payah istri di rumah sama nilainya dengan jerih payah suami di medan jihad.’‘ (HR Bukhari dan Muslim). Pada dasarnya, Islam telah memberikan keistimewaan kepada para istri untuk tetap berada di rumahnya. Untuk mendapatkan surga-Nya kelak, para istri cukup berjuang di rumah tangganya dengan ikhlas. Tetesan keringat mereka di dapur dinilai sama dengan darah mujahid di medan perang.

    Menjadi ibu rumah tangga kedengarannya memang sepele dan remeh, hanya berkecimpung dengan urusan rumah dari A-Z, namun siapa sangka banyak sekali kebaikan dan hikmah yang dapat diperoleh. Ibulah yang mengambil porsi terbesar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi.

    Pertumbuhan suatu generasi bangsa pertama kali berada di buaian para ibu. Di tangan ibu pula pendidikan anak ditanamkan dari usia dini, dan berkat keuletan dan ketulusan ibu jualah bermunculan generasi-generasi berkualitas dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.

    Dalam Islam, ini adalah tugas besar, namun sangat mulia dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ”Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Sayangnya, kebanyakan wanita modern saat ini tidak menyukai aktivitas rumah tangga. Mereka lebih bangga bekerja di luar rumah karena beranggapan tinggal di rumah identik dengan ketidakmandirian dan ketidakberdayaan ekonomi. Maka, jadilah peran ibu di rumah dianggap rendah, dan tidak sedikit ibu rumah tangga yang malu-malu ketika ditanya apa pekerjaannya.

    Meskipun seorang wanita tidak bekerja setelah lulus sarjana, ilmunya tidak akan sia-sia, sebab ia akan menjadi ibu sekaligus pendidik bagi anak-anaknya. Kebiasaan berpikir ilmiah yang ia dapatkan dari proses belajar di bangku kuliah itulah yang akan membedakannya dalam mendidik anak. Seorang ibu memang harus cerdas dan berkualitas, sebab kewajiban mengurus anak tidak sebatas memberi makan.

    Ia harus mampu merawat dan mendidik anak-anaknya dengan benar, penuh kasih sayang, kesabaran, menempanya dengan nilai dan norma agama agar sang anak mampu menghindar dari pengaruh lingkungan dan kemajuan teknologi yang merusak akal dan akhlaknya. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh seorang ibu yang cerdas.

    ***

    Republika Online

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 661 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: