Updates from erva kurniawan Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 7:42 am pada 4 March 2014 Permalink | Balas  

    sakitPerjalanan Jauh Kita yang Sesungguhnya

    Sangat merugilah orang yang menjadikan dunia fana ini tujuan hidupnya. Sedangkan Rasulullah bersabda, “….Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya…”

    Betapa indah dan bijaksanannya perumpamaan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah terminal kehidupan sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya. Subhanallah….

    **

    Nurah, saudara perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi seperti biasa, ia masih membaca Al-Qur’anul Karim. Tika ingin menemuinya, pergilah ke mushallanya. Di sana engkau akan mendapatinya sedang ruku’, sujud dan menengadahkan ke langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore dan di tengah malam hari. Ia tidak pernah jenuh.

    Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah seni, tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tak pernah beranjak dari video. Bahkan, aku sudah identik dengan benda yang satu ini. Setiap video diputar pasti di situ ada aku. Karena ‘kesibukanku’ ini, banyak kewajiban yang tak bisa kuselesaikan bahkan, aku suka meninggalkan shalat.

    Setelah tiga jam berturut-turut menonton video di tengah malam, aku dikagetkan oleh suara adzan yang berkumandang dari masjid dekat rumahku. Sekonyong-konyong malas menggelayuti semua persendianku, maka aku pun segera menghampiri tempat tidur. Nurah memanggilku dari mushallanya.

    Dengan berat sekali, aku menyeret kaki menghampirinya. “Ada apa Nurah?,” tanyaku. “Jangan tidur sebelum shalat Shubuh!”, ia mengingatkan. “Ah. Shubuh kan masih satu jam lagi. Yang baru saja kan adzan pertama” Begitulah, ia selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, sampai akhimya ia terbaring sakit. ia tergeletak lemah di tempat tidur.

    “Hanah!,” panggilnya lagi suatu ketika. Aku tak mampu menolaknya. Suara itu begitu jujur dan polos.

    “Ada apa saudariku?”, tanyaku pelan.

    “Duduklah!” Aku menurut dan duduk di sisinya. Hening… Sejenak kemudian Nurah melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. “Tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempumnkan pahalamu.” (Al Imran: 185)

    Diam sebentar, lalu ia bertanya: “Apakah kamu tidak percaya adanya kematian?” “Tentu saja percaya!”

    “Apakah kamu tidak percaya bahwa amalmu kelak akan dihisab, baik yang besar maupun yang kecil?” “Percaya. Tetapi bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda, umurku masih panjang!” “Ukhti, apakah kamu tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba? Lihatlah Hindun, dia lebih muda darimu, tetapi meninggal karena sebuah kecelakaan. Lihat pula si fulanah…Kematian tidak mengenal umur. Umur bukan ukuran bagi kematian seseorang. Aku menjawabnya penuh ketakutan. Suasana tengah malam yang gelap mencekam, semakin menambah rasa takutku.

    “Aku takut dengan gelap, bagaimana engkau menakut-nakutiku lagi dengan kematian? Di mana aku akan tidur nanti?” Jiwa asliku yang amat penakut betul-betul tampak. Kucoba menenangkan diri aku berusaha tegar dengan mengalihkan pembicaraan pada tema yang menyenangkan, rekreasi.

    “Oh ya, kukira ukhti setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi bersama?”, pancingku. “‘Tidak, karena barangkali tahun ini aku akan pergi jauh, ke tempat yang jauh… mungkin… umur ada di tangan Allah, Hanah”, ia lalu terisak. Suara itu bergetar, aku ikut hanyut dalam kesedihan.

    Sekejap, langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang ganas. Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada ayah. Menurut analisa medis, para doker sudah tak sanggup, dan itu berarti dekatnya kematian. Tetapi, siapa yang mengabarkan ini semua padanya?, atau ia memang merasa sudah datang waktunya?,

    “Mengapa termenung? Apa yang engkau lamunkan?”, Nurah membuyarkan lamunanku. “Apa kau mengira, hal ini kukatakan karena aku sedang sakit? Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari umur orang-orang sehat. Dan kamu, sampai kapan akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi, 40 tahun atau… Lalu apa setelah itu? Kita tidak berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke Surga atau ke Neraka. Apakah engkau belum mendengar ayat:

    “Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung” (Ali Imran: 185)

    “Sampai besok pagi,” ia menutup nasihatnya. Aku bergegas meninggalkannya menuju kamar. Nasihatnya masih tergiang-ngiang di gendang telingaku, “Semoga Allah memberimu petunjuk, jangan lupa shalat!”

    Pagi hari…Jam dinding menunjukkan angka delapan pagi. Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. “Pada jam ini biasanya aku belum mau bangun” pikirku. Tetapi di luar terdengar suara gaduh, orang banyak terisak. “Ya Rabbi, apa yang tejadi?”

    “Mungkin Nurah…?, “firasatku berbicara. Dan benar, Nurah pingsan, ayah segera melarikannya ke rumah sakit. Tidak ada rekreasi tahun ini. Kami semua harus menunggui Nurah yang sedang sakit. Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas.

    Tepat pukul satu siang, telepon di rumah kami berdering. Ibu segera mengangkatnya. Suara ayah di seberang, ia menelpon dari rumah sakit. “Kalian bisa pergi ke rumah sakit sekarang!,” demikian pesan ayah singkat. Kata ibu, tampak sekali ayah begitu panik, nada suaranya berbeda dari biasanya.

    “Mana sopir…?” kami semua terburu-buru: Kami menyuruh sopir menjalankan mobil dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa dekat bila aku menikmatinya dalam pejalanan liburan, kini terasa amat panjang, panjang dan lama sekali. Jalanan macet yang biasanya kunanti-nanti sehingga aku bisa menengok ke kanan-kiri, cuci mata, kini terasa menyebalkan. Di sampingku, ibu berdo’a untuk keselamatan Nurah.

    “Dia anak shalihah. Ia tidak pernah menyia-nyia kan waktunya. Ia begitu rajin beribadah”, ibu bergumam sendirian. Kami turun di depan pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan. Para pasien pada tergeletak lunglai. Di sana sini terdengar lirih suara rintihan. Ada yang baru saja masuk karena kecelakaan mobil, ada yang matanya buta, ada yang mengerang keras. Pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding. Kami naik tangga eskalator menuju lantai atas. Nurah berada di ruang perawatan intensif. Di depan pintu terpampang papan peringatan: “Tidak boleh masuk lebih dari satu orang!” Kami terperangah. Tak lama kemudian, seorang perawat datang menemui kami. Perawat memberitahu kalau kini kondisi Nurah mulai membaik, setelah beberapa saat sebelumnya tak sadarkan diri.

    Di tengah kerumunan para dokter yang merawat, dari sebuah lubang kecil jendela yang ada di pintu, aku melihat kedua bola mata Nurah sedang memandangiku. Ibu yang berdiri di sampingnya tak kuat menahan air matanya. Waktu besuknya habis, ibu segera keluar dari ruang perawatan intensif. Kini tiba giliranku masuk. Dokter memperingatkan agar aku tidak banyak mengajaknya bicara. Aku diberi waktu dua menit.

    “Assalamu ‘alaikum!, bagaimana keadaanmu Nurah?, tadi malam, engkau baik-baik saja. Apa yang terjadi denganmu?”, aku menghujaninya dengan pertanyaan. “Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja, jawabnya dengan berusaha tersenyum. “Tapi, mengapa tanganmu dingin sekali, kenapa?” aku menyelidik. Aku duduk di pinggir dipan. Lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia segera menjauhkannya dari jangkauanku. “Ma’af, kalau aku mengganggumu!”, aku tertunduk. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingat firman Allah Ta’ala: “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kami dihalau”. (Al-Qiyamah: 29-30)

    Nurah melantunkan ayat suci Alquran. Aku menguatkan diri. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak menangis dihadapan Nurah, aku membisu. ” Hanah, berdoalah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan menghadap. Mungkin aku segera mengawali hari pertama kehidupanku diakhirat…Perjalananku amat jauh tapi bekalku sedikit sekali”. Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Ayah mengkhawatirkan keadaanku. Sebab mereka tak pernah melihatku menangis seperti itu. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada hari itu. Nurah meninggal dunia…. Suasana begitu sepat berubah. Seperti baru beberapa menit aku bebincang-bincang dengannya. Kini ia telah meninggalkan kami buat selama-selamanya. Dan, ia tak akan pernah bertemu lagi dengan kami. Tak akan pernah pulang lagi. Tidak akan bersama-sama lagi. Oh Nurah…

    Suasana dirumah kami digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu pecah oleh tangisan yang mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga berdatangan melawat. Aku tidak bisa membedakan lagi, siapa-siapa yang datang, tidak pula apa yang mereka percakapan. Aku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya Allah, bagaimana dengan diriku? Apa yang bakal terjadi pada diriku? Aku tak kuasa lagi, meski sekedar menangis. Aku ingin memberinya penghormatan terakhir. Aku ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin mencium keningnya.

    Kini, tak ada sesuatu yang kuingat selain satu hal. Aku ingat firman Allah yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya. “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)”. Aku kini benar-benar paham bahwa, “Kepada Tuhanmullah pada hari itu kamu dihalau”

    “Aku tidak tahu, ternyata malam itu, adalah malam terakhir aku menjumpainya di mushallanya. Malam ini, aku sendirian di mushalla almarhumah, terbayang kembali saudara kembarku, Nurah yang demikian baik kepadaku. Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku, ikut memahami dn merasakan kegalauanku, saudari yang selalu mendo’akanku agar aku mendapat hidayah Allah, saudari yang senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menasihatiku tentang mati, hari perhitungan…. ya Allah! Malam ini adalah malam pertama bagi Nurah dikuburnya. Ya Allah, rahmatilah dia, terangilah kuburnya.

    Ya Allah, ini mushaf Nurah,… ini sajadahnya… dan ini.. ini gaun merah muda yang pernah dikatakannya padaku, bakal dijadikan kenangan manis pernikahannya. Aku menangisi hari-hariku yang berlalu dengan sia-sia. Aku menangis terus-menerus, tak bisa berhenti. Aku berdo’a kepada Allah semoga Dia merahmatiku dan menerima taubatku. Aku mendo’akan Nurah agar mendapat keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaimana ia begitu sering dan suka mendo’akanku. Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. “Apa yang terjadi jika yang meninggal adalah aku? Bagaimana kesudahanku?” Aku tak berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku menangis, menangis lebih keras lagi. Allahu Akbar, Allahu Akbar…Adzan fajar berkumandang.

    Tetapi, duhai alangkah merdunya suara panggilan itu kali ini. Aku merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan muadzin, lalu segera kuhamparkan lipatan sajadah, selanjutnya aku shalat Shubuh. Aku shalat seperti keadaan orang yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pemah kusaksikan terakhir kali dari saudari kembarku Nurah. Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu sore dan jika tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu pagi.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:26 am pada 3 March 2014 Permalink | Balas  

    Nasehat Imam Hasan Al Basri

    Imam Hasan Al Basri berkata pada murid-muridnya. Jika engkau ingin ketenangan hati dan ketentraman jiwa maka:

    1. Tadzabur Qur’an (baca Al Qur’an dengan artinya)
    2. Istiqomah puasa sunnat (senin & kamis).
    3. Shalat tahajud (qiyamul lail).
    4. Muhasabah (menghisab diri) di sepertiga malam.
    5. Bergaulah dengan orang-orang sholeh.

    Insya Alloh…

    Alloh akan memberi kebersihan hati dengan lisan yang terjaga. Kecerdasan, kearifan dan bijaksana dalam berfikir, serta adil dan ikhlas dalam mengambil keputusan

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:23 am pada 2 March 2014 Permalink | Balas  

    Mimpi 2Mimpi

    Dia Cantik. Kadang-kadang mengenakan rok atau celana jeans sedengkul. Kaos masa kini dilengkapi dengan vest denim pendek, sepatu kets putih dan kaos kaki. Rambutnya kadang diikat di atas tengkuk, kadang dikepang dengan pita-pita banyak. Hampir setiap pagi, saat berangkat ke kantor saya bertemu dengannya. Beberapa kali saya lihat dia duduk di atas mobil yang terparkir di pinggir jalan. Bergaya ala fotomodel, sambil mengisap rokok yang terselip diantara jari-jemarinya. Dia selalu tampak sibuk dengan dunianya sendiri.

    Pernah saya bertanya pada tukang warung rokok di pinggir jalan tempat perempuan itu biasa mangkal. Dimana rumahnya? Apa yang terjadi dengannya? Tapi tak seorang pun tahu. Yang mereka tahu adalah, wanita itu gila. Melihat tingkah lakuknya, saya menduga, mungkin dulu ia pernah bermimpi menjadi seorang bintang, fotomodel, peragawati atau apapun yang berbau selebritis. Terlihat dari pakaiannya yang selalu trendi dan gayanya yang bak fotomodel. Entahlah!

    ***

    Mimpi. Siapa sih manusia di dunia ini yang tak memiliki mimpi? Sesederhana apa pun -dan meskipun orang tak menyebutnya dengan mimpi- saya yakin setiap kita punya mimpi. Punya keinginan yang suatu saat ingin diwujudkan.

    Dulu ketika kecil saya suka membayangkan menjadi anak orang kaya, memiliki rumah megah seperti rumah sahabat saya. Ketika saya menginjak remaja, saya bermimpi menjadi selebriti, meskipun sekadar menjadi selebriti tingkat kelas, atau anak gaul sekolah yang dikenal teman-teman. Saat memasuki bangku kuliah, saya mimpi menjadi mahasiswa terbaik, ikut berbagai aktivitas kampus, dan menguasai berbagai bahasa asing selain Inggris. Saat saya selesai kuliah, belasan impian, juga idealita, saya miliki dan menjadi obsesi. Dapat hadiah gebyar BCA, Kodok dari Citibank, dan segudang lainnya.

    Namun jika saya telusuri, nyaris semua kenyataan hidup yang saya jalani berbeda jauh dan bertolak belakang dengan impian dan idealita saya. Mengapa?

    Pertama, mungkin kurang memiliki motivasi berprestasi , Saya kurang kuat berusaha, kurang tekun menjalani, kurang sabar melewati tantangan. Mudah capek, mudah ngambek, mudah patah arang. Padahal, mungkin saja usaha saya belum ada apa-apanya dibanding mereka yang berhasil meraih impiannya.

    Kedua, kurang mengenali potensi diri: potensi otak, jiwa, materi. Impian saya yang terlalu tinggi sementara modal dan pemahaman pas-pasan, tidak sesuai ndengan kapasitas. Modal semangat saja tidaklah cukup untuk meraih mimpi. Alih-alih dapat merealisasikan impian, semangat yang terlalu besar menjadikan kita ambisius dan terobsesi kemudian stress.

    Ketiga, takdir! Apa yang saya impikan adalah apa yang saya ketahui baik untuk saya pada waktu itu, menurut batas pengetahuan saya, menurut paradigma saya. Namun semestinya saya menyadari, Allah jauh lebih tahu apa yang baik bagi saya dan apa yang tidak. Allah telah menetapkan sesuatu bagi hambaNya, sesuai ukuran dan kapasitas. Kita hanya diperintahkan untuk berusaha semaksimal mungkin.

    Ketika Allah telah menampakkan realitas hidup, tibalah masanya kita berdamai dengan kenyataan. Tawakkal, berserah diri. Agar tak seperti gadis trendi yang saya temui setiap hari, selalu terobsesi sehingga akhirnya terpaksa hidup dalam dunia mimpi.

    Buanglah mimpi yang tidak realistis. Berpikirlah, berusahalah, dan berdoalah…

    ***

    (Diambil dari artikel eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 7:16 am pada 1 March 2014 Permalink | Balas  

    ghibahHukum Mengolok-Olok Orang Teguh Menjalankan Ajaran Agama

    Mengolok-olok orang-orang yang berpegang teguh dengan perintah Allah dan Rasul-Nya disebabkan karena mereka itu berpegang teguh (konsisten) dengan perintah itu, hukumnya haram, dan berbahaya sekali terhadap dirinya. Karena dikhawatirkan kebenciannya terhadap mereka itu disebabkan kebenciannya terhadap kondisi mereka yang berpegang teguh dengan ajaran agama Allah, di saat itu, pengolok-olokannya terhadap mereka menjadi pengolok-olokan terhadap jalan yang mereka tempuh (ajaran yang mereka pegang), maka mereka menyerupai orang yang telah dikatakan Allah tentang mereka :

    “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman”. At-Taubah : 65,66).

    Sesungguhnya ayat ini turun kepada satu kaum dari orang-orang munafik yang mereka berkata: “Kami tidak melihat mereka ini seperti qari (pembaca-pembaca) kami -yang mereka maksudkan adalah Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- dan para sahabatnya- yang lebih suka makan, yang lebih pendusta lidahnya, dan yang lebih penakut dihadapan musuh.

    Lalu Allah menurunkan ayat ini terhadap diri mereka. Berhati-hatilah orang yang mengolok-olok penegak kebenaran, dikarenakan mereka itu dari penegak agama. Sesungguhnya Allah telah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lewat di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan:

    “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”. Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al-Muthaffifiin : 29-36).

    ***

    Sumber: Jawaban Syeikh Ibnu Utsaimin (diambil dari kitab kecil ” Asilah Muhimmah”)

     
  • erva kurniawan 7:55 am pada 28 February 2014 Permalink | Balas  

    uang dinarRiba Merajalela

    Oleh: Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

    Di antara tanda-tanda semakin dekatnya kiamat lagi ialah munculnya riba secara merajalela di tengah-tengah masyarakat dan ketidakpedulian mereka terhadap makanan yang haram. Di dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

    “Artinya : Menjelang datangnya hari kiamat akan merajalela riba”. (Diriwayatkan oleh Thabrani sebagaimana termaktub dalam At-Targhib Wat-tarhib karya Al-Mundziri 3:9, dan beliau berkata, “Perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih”).

    Dan di dalam kitab Shahih diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Sungguh akan datang pada manusia suatu zaman yang pada waktu itu orang tidak memperdulikan lagi harta yang diperolehnya, apakah dari jalan halal atau dari jalan haram”. (Shahih Bukhari, Kitab Al-Buyu’, Bab Qaulil-Lah Azza wa Jalla : “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu ta’kuluu ar-ribaa” 4 : 313, dan Sunan Nasa’i 7 : 234, Kitab Al-Buyu’, Bab Ijtinaabi Asy-Syubuhaat fi Al-Kasbi).

    Kandungan atau isi hadits-hadits ini telah terbukti pada banyak kaum muslimin pada masa sekarang ini. Mereka tidak memilih yang halal lagi dalam berusaha, bahkan mereka kumpulkan saja harta baik dari jalan halal maupun dari jalan haram. Dan kebanyakan hal ini karena keterlibatan mereka dalam muamalah riba. Banyak bank yang berpaktik secara ribawi, dan banyak pula orang yang terjerembab ke dalammnya.

    Betapa jelinya Imam Bukhari hingga beliau memasukkan hadits ini dalam Bab Firman Allah Azza wa Jalla “Yaa ayyuhal-ladziina amanuu laa ta’kulur-ribaa adh’aafan mudhoo’affah” ayat 130 surat Ali Imran (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba secara berlipat ganda), untuk mejelaskan, bahwa praktik memakan riba secara berlipat ganda itu akan terjadi secara leluasa, yakni apabila manusia tidak mempedulikan cara mencari harta serta tidak membedakan antara yang halal dan yang haram.

    ***

    Disalin dari buku Asyratus Sa’ah Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA Edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 108. terbitan Pustaka Mantiq. Penerjemah Drs As’ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi.

     
  • erva kurniawan 7:50 am pada 27 February 2014 Permalink | Balas  

    Benarkah Poligami Sunah? 

    poligami2Benarkah Poligami Sunah..?

    UNGKAPAN “poligami itu sunah” sering digunakan sebagai pembenaran poligami. Namun, berlindung pada pernyataan itu, sebenarnya bentuk lain dari pengalihan tanggung jawab atas tuntutan untuk berlaku adil karena pada kenyataannya, sebagaimana ditegaskan Al Quran, berlaku adil sangat sulit dilakukan (An-Nisa: 129).

    DALIL “poligami adalah sunah” biasanya diajukan karena sandaran kepada teks ayat Al Quran (QS An-Nisa, 4:2-3) lebih mudah dipatahkan. Satu-satunya ayat yang berbicara tentang poligami sebenarnya tidak mengungkapkan hal itu pada konteks memotivasi, apalagi mengapresiasi poligami. Ayat ini meletakkan poligami pada konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang.

    Dari kedua ayat itu, beberapa ulama kontemporer, seperti Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad al-Madan – ketiganya ulama terkemuka Azhar Mesir – lebih memilih memperketat.

    Lebih jauh Abduh menyatakan, poligami adalah penyimpangan dari relasi perkawinan yang wajar dan hanya dibenarkan secara syar’i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman (Tafsir al-Manar, 4/287).

    Anehnya, ayat tersebut bagi kalangan yang propoligami dipelintir menjadi “hak penuh” laki-laki untuk berpoligami. Dalih mereka, perbuatan itu untuk mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. Menjadi menggelikan ketika praktik poligami bahkan dipakai sebagai tolok ukur keislaman seseorang: semakin aktif berpoligami dianggap semakin baik poisisi keagamaannya. Atau, semakin bersabar seorang istri menerima permaduan, semakin baik kualitas imannya. Slogan-slogan yang sering dimunculkan misalnya, “poligami membawa berkah”, atau “poligami itu indah”, dan yang lebih populer adalah “poligami itu sunah”.

    Dalam definisi fikih, sunah berarti tindakan yang baik untuk dilakukan. Umumnya mengacu kepada perilaku Nabi. Namun, amalan poligami, yang dinisbatkan kepada Nabi, ini jelas sangat distorsif. Alasannya, jika memang dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga?

    Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan “poligami itu sunah”.

    Sunah, seperti yang didefinisikan Imam Syafi’i (w. 204 H), adalah penerapan Nabi SAW terhadap wahyu yang diturunkan. Pada kasus poligami Nabi sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Dengan menelusuri kitab Jami’ al-Ushul (kompilasi dari enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibn al-Atsir (544-606H), kita dapat menemukan bukti bahwa poligami Nabi adalah media untuk menyelesaikan persoalan sosial saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kukuh untuk solusi.

    Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian problem sosial bisa dilihat pada teks-teks hadis yang membicarakan perkawinan-perkawinan Nabi. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti Abu Bakr RA.

    Selain itu, sebagai rekaman sejarah jurisprudensi Islam, ungkapan “poligami itu sunah” juga merupakan reduksi yang sangat besar. Nikah saja, menurut fikih, memiliki berbagai predikat hukum, tergantung kondisi calon suami, calon istri, atau kondisi masyarakatnya. Nikah bisa wajib, sunah, mubah (boleh), atau sekadar diizinkan. Bahkan, Imam al-Alusi dalam tafsirnya, Rûh al-Ma’âni, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami. Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu, lebih memilih mengharamkan poligami.

    Nabi dan larangan poligami

    Dalam kitab Ibn al-Atsir, poligami yang dilakukan Nabi adalah upaya transformasi sosial (lihat pada Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 108-179). Mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka. Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktik poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami. Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali.

    Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan : “Barang siapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus” (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri.

    Teks-teks hadis poligami sebenarnya mengarah kepada kritik, pelurusan, dan pengembalian pada prinsip keadilan. Dari sudut ini, pernyataan “poligami itu sunah” sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan Nabi. Apalagi dengan melihat pernyataan dan sikap Nabi yang sangat tegas menolak poligami Ali bin Abi Thalib RA. Anehnya, teks hadis ini jarang dimunculkan kalangan propoligami. Padahal, teks ini diriwayatkan para ulama hadis terkemuka: Bukhari, Muslim, Turmudzi, dan Ibn Majah.

    Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

    Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fathimah, hampir setiap orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya. Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunah justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak dikehendaki Nabi. Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami sampai Fathimah RA wafat.

    Poligami tak butuh dukungan teks

    Sebenarnya, praktik poligami bukanlah persoalan teks, berkah, apalagi sunah, melainkan persoalan budaya. Dalam pemahaman budaya, praktik poligami dapat dilihat dari tingkatan sosial yang berbeda. Bagi kalangan miskin atau petani dalam tradisi agraris, poligami dianggap sebagai strategi pertahanan hidup untuk penghematan pengelolaan sumber daya. Tanpa susah payah, lewat poligami akan diperoleh tenaga kerja ganda tanpa upah. Kultur ini dibawa migrasi ke kota meskipun stuktur masyarakat telah berubah. Sementara untuk kalangan priayi, poligami tak lain dari bentuk pembendamatian perempuan. Ia disepadankan dengan harta dan takhta yang berguna untuk mendukung penyempurnaan derajat sosial lelaki.

    Dari cara pandang budaya memang menjadi jelas bahwa poligami merupakan proses dehumanisasi perempuan. Mengambil pandangan ahli pendidikan Freire, dehumanisasi dalam konteks poligami terlihat mana kala perempuan yang dipoligami mengalami self-depreciation. Mereka membenarkan, bahkan bersetuju dengan tindakan poligami meskipun mengalami penderitaan lahir batin luar biasa. Tak sedikit di antara mereka yang menganggap penderitaan itu adalah pengorbanan yang sudah sepatutnya dijalani, atau poligami itu terjadi karena kesalahannya sendiri.

    Dalam kerangka demografi, para pelaku poligami kerap mengemukakan argumen statistik. Bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah kerja bakti untuk menutupi kesenjangan jumlah penduduk yang tidak seimbang antara lelaki dan perempuan. Tentu saja argumen ini malah menjadi bahan tertawaan. Sebab, secara statistik, meskipun jumlah perempuan sedikit lebih tinggi, namun itu hanya terjadi pada usia di atas 65 tahun atau di bawah 20 tahun. Bahkan, di dalam kelompok umur 25-29 tahun, 30-34 tahun, dan 45-49 tahun jumlah lelaki lebih tinggi. (Sensus DKI dan Nasional tahun 2000; terima kasih kepada lembaga penelitian IHS yang telah memasok data ini).

    Namun, jika argumen agama akan digunakan, maka sebagaimana prinsip yang dikandung dari teks-teks keagamaan itu, dasar poligami seharusnya dilihat sebagai jalan darurat. Dalam kaidah fikih, kedaruratan memang diperkenankan. Ini sama halnya dengan memakan bangkai; suatu tindakan yang dibenarkan manakala tidak ada yang lain yang bisa dimakan kecuali bangkai.

    Dalam karakter fikih Islam, sebenarnya pilihan monogami atau poligami dianggap persoalan parsial. Predikat hukumnya akan mengikuti kondisi ruang dan waktu. Perilaku Nabi sendiri menunjukkan betapa persoalan ini bisa berbeda dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Karena itu, pilihan monogami-poligami bukanlah sesuatu yang prinsip. Yang prinsip adalah keharusan untuk selalu merujuk pada prinsip-prinsip dasar syariah, yaitu keadilan, membawa kemaslahatan dan tidak mendatangkan mudarat atau kerusakan (mafsadah).

    Dan, manakala diterapkan, maka untuk mengidentifikasi nilai-nilai prinsipal dalam kaitannya dengan praktik poligami ini, semestinya perempuan diletakkan sebagai subyek penentu keadilan. Ini prinsip karena merekalah yang secara langsung menerima akibat dari poligami. Dan, untuk pengujian nilai-nilai ini haruslah dilakukan secara empiris, interdisipliner, dan obyektif dengan melihat efek poligami dalam realitas sosial masyarakat. Dan, ketika ukuran itu diterapkan, sebagaimana disaksikan Muhammad Abduh, ternyata yang terjadi lebih banyak menghasilkan keburukan daripada kebaikan. Karena itulah Abduh kemudian meminta pelarangan poligami.

    Dalam konteks ini, Abduh menyitir teks hadis Nabi SAW: “Tidak dibenarkan segala bentuk kerusakan (dharar) terhadap diri atau orang lain.” (Jâmi’a al-Ushûl, VII, 412, nomor hadis: 4926). Ungkapan ini tentu lebih prinsip dari pernyataan “poligami itu sunah”.

    Penulis :

    Faqihuddin Abdul Kodir Dosen STAIN Cirebon dan peneliti Fahmina Institute Cirebon, Alumnus Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah

     
  • erva kurniawan 7:44 am pada 26 February 2014 Permalink | Balas  

    amanah semutRiya Lebih Tersembunyi Daripada Rambatan Semut

    Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy (Ibnu Qudamah)

    Pengantar:

    Duhai betapa beruntung pembaca ini dan betapa rugi penulisnya. Antum mendapatkan air jernih darinya sementara penulisnya mendapat air keruh. Tapi inilah perdagangan yang saya tawarkan. Bila hati pembaca lebih bersih maka itulah yang diharapkan, dengan tanpa terkotorinya hati penulis tentunya. Bila yang terjadi adalah sebaliknya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tempat meminta pertolongan, dan segala kebaikan yang ada berasal dari Allah Yang Maha Tunggal semata.

    Al-’alamah Ibnu Qudamah memberikan uraian tentang Riya’, Hakekat, Pembagian dan Celaannya, termasuk keterangan riya’ yang menggugurkan amal dan yang tidak, obat dan cara mengobati riya’ dan sebagainya. Uraiannya yang berdasar keterangan dari qur’an dan sunnah cukup jelas, dapat membuat takut orang yang terlalu beharap hingga meremehkan dan memberikan harapan kepada orang yang terlalu takut. Berikut ini saya kutipkan beberapa paragraf dari nasehat beliau yang bisa di jadikan perhatian agar kita bisa hati-hati, karena ini masalah hati. (ALS) Ketahuilah bahwa kata riya’ itu berasal dari kata ru’yah (melihat), sedangkan sum’ah (reputasi) berasal dari kata sami’a (mendengar). Orang yang riya’ menginginkan agar orang-orang bisa melihat apa yang dilakukannya.

    Riya’ itu ada yang tampak dan ada pula yang tersembunyi. Riya’ yang tampak ialah yang dibangkitkan amal dan yang dibawanya. Yang sedikit tersembunyi dari itu adalah riya’ yang tidak dibangkitkan amal, tetapi amal yang sebenarnya ditujukan bagi Allah menjadi ringan, seperti orang yang biasa tahajud setiap malam dan merasa berat melakukannya, namun kemudian dia menjadi ringan mengerjakannya tatkala ada tamu di rumahnya. Yang lebih tersembunyi lagi ialah yang tidak berpengaruh terhadap amal dan tidak membuat pelaksanaannya mudah, tetapi sekalipun begitu riya’ itu tetap ada di dalam hati. Hal ini tidak bisa diketahui secara pasti kecuali lewat tanda-tanda.

    Tanda yang paling jelas adalah, dia merasa senang jika ada orang yang melihat ketaatannya. Berapa banyak orang yang ikhlas mengerjakan amal secara ikhlas dan tidak bermaksud riya’ dan bahkan membencinya. Dengan begitu amalnya menjadi sempurna. Tapi jika ada orang-orang yang melihat dia merasa senang dan bahkan mendorong semangatnya, maka kesenangan ini dinamakan riya’ yang tersembunyi. Andaikan orang-orang tidak melihatnya, maka dia tidak merasa senang. Dari sini bisa diketahui bahwa riya’ itu tersembunyi di dalam hati, seperti api yang tersembunyi di dalam batu. Jika orang-orang melihatnya, maka bisa menimbulkan kesenangannya. Kesenangan ini tidak membawanya kepada hal-hal yang dimakruhkan, tapi ia bergerak dengan gerakan yang sangat halus, lalu membangkitkannya untuk menampakkan amalnya, secara tidak langsung maupun secara langsung.

    Kesenangan atau riya’ ini sangat tersembunyi, hampir tidak mendorongnya untuk mengatakannya, tapi cukup dengan sifat-sifat tertentu, seperti muka pucat, badan kurus, suara parau, bibir kuyu, bekas lelehan air mata dan kurang tidur, yang menunjukkan bahwa dia banyak shalat malam.

    Yang lebih tersembunyi lagi ialah menyembunyikan sesuatu tanpa menginginkan untuk diketahui orang lain, tetapi jika bertemu dengan orang-orang, maka dia merasa suka merekalah yang lebih dahulu mengucapkan salam, menerima kedatangannya dengan muka berseri dan rasa hormat, langsung memenuhi segala kebutuhannya, menyuruhnya duduk dan memberinya tempat. Jika mereka tidak berbuat seperti itu, maka ada yang terasa mengganjal di dalam hati.

    Orang-orang yang ikhlas senantiasa merasa takut terhadap riya’ yang tersembunyi, yaitu yang berusaha mengecoh orang-orang dengan amalnya yang shalih, menjaga apa yang disembunyikannya dengan cara yang lebih ketat daripada orang-orang yang menyembunyikan perbuatan kejinya. Semua itu mereka lakukan karena mengharap agar diberi pahala oleh Allah pada Hari Kiamat.

    Noda-noda riya’ yang tersembunyi banyak sekali ragamnya, hampir tidak terhitung jumlahnya. Selagi seseorang menyadari darinya yang terbagi antara memperlihatkan ibadahnya kepada orang-orang dan antara tidak memperlihatkannya, maka di sini sudah ada benih-benih riya’. Tapi tidak setiap noda itu menggugurkan pahala dan merusak amal. Masalah ini harus dirinci lagi secara detail.

    Telah disebutkan dalam riwayat Muslim, dari hadits Abu Dzarr Radliyallahu Anhu, dia berkata, “Ada orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang orang yang mengerjakan suatu amal dari kebaikan dan orang-orang memujinya?” Beliau menjawab, “Itu merupakan kabar gembira bagi orang Mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia.”

    Namun jika dia ta’ajub agar orang-orang tahu kebaikannya dan memuliakannya, berarti ini adalah riya’.

    ***

    Dipetik dari: Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy , “Muhtashor Minhajul Qoshidin, Edisi Indonesia: Minhajul Qashidhin Jalan Orang-orang yang Mendapat Petunjuk”, penerjemah: Kathur Suhardi, Pustaka al-Kautsar, Jakarta Timur, 1997, hal. 271-286.

     
  • erva kurniawan 7:35 am pada 25 February 2014 Permalink | Balas  

    gandeng-tanganPacaran = Percobaan Tindak Pidana Perzinahan

    “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalan hukum Alloh, jika kamu beriman kepada Alloh dan hari akhir, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman” (QS.An-Nuur:2)

    Oleh: Haryanto

    Tidak di kampus, tidak di kantor, tidak di pertokoan, tidak di bus, tidak di kereta api, lebih-lebih di tempat-tempat hiburan dengan mudah kita akan temukan dua sejoli yang belum terikat tali pernikahan asyik berduaan, bergandengan tangan bahkan berpelukan mesra. Kadang kita menjadi kikuk karenanya. Mau ditegur jadi ribut. Tidak ditegur merusak pandangan. Akibatnya perjalanan kita menjadi tidak nyaman.

    Itulah pacaran. Salah satu budaya sekaligus gaya hidup kaum muda Indonesia. Dengan alasan penjajakan pra nikah, berbagai carapun dilakukannya. Yang penting katanya “Tidak MBA (Married By Accident”. Meskipun realitas membuktikan tidak sedikit para remaja yang hamil sebelum nikah. Dan telah melakukan hubungan badan sesama lawan jenisnya.

    Sehubungan dengan itu, mari kita kaji masalah ini dalam tinjauan hukum positif Indonesia. Pada saat yang sama kita juga perlu membandingkannya dengan hukum Islam, sebagai referensi dan pedoman tertingggi bagi kehidupan kaum muslimin. Sehingga dengan ini, kita sebagai kaum muslimin dapat menentukan sikap berkaitan dengan masalah pacaran ini. Baik terhadap diri kita, saudara kita, anak kita, tetangga kita atau teman dan kolega kita.

    Dalam Hukum Positif

    Dalam KUHP Indonesia, kita tidak temukan istilah pacaran. Namun bukan berarti masalah ini tidak diatur dalam KUHP. Karena dalam Bab XIV diatur masalah kejahatan terhadap kesopanan. Khususnya pasal 281 yang menyatakan bahwa barang siapa yang sengaja merusak kesopanan dimuka umum diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan. Yang dimaksud dengan merusak kesopanan ini, R. Susilo dalam bukunya “Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-Komentarnya” antara lain yaitu mencium lawan jenis dsb. Dan sebagainya disini bisa berarti pula berpelukan tergantung kebijakan hakim dalam memtuskan masalah ini. Tergantung pula dengan adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku pada sebuah masyarakat.

    Yang perlu digarisbawahi tindakan ini harus dilakukan di depan umum. Diantaranya yaitu di terminal, stasiun, tempat perbelanjaan, gedung bioskop, kampus dan perkantoran. Dan harus dilakukan dengan sengaja. Yang dibuktikan dengan tindakan saling berpelukan atau berciuman di depan umum. Sedangkan bagi mereka yang melakukan diluar tempat umum tidak dapat dikenakan delik ini. Karena unsur di tempat umum tidak terpenuhi.

    Dari ketentuan itu sebenarnya cukup jelas bahwa pacaran yang dibarengi dengan pelukan atau berciuman di depan umum dapat dianggap sebagai kejahatan yang diancam dengan penjara 2 tahun 8 bulan.

    Masalahnya adalah karena terjadinya pergeseran budaya, sehingga tindakan semacam itu sepertinya telah menjadi kebiasaan dan dianggap wajar oleh sebagian besar orang tua, pendidik dan aparat penegak hukum lainnya. Ini menunjukkan bahwa tingkat kesopanan bangsa Indonesia telah menurun. Demikian halnya rasa malu yang dimiliki bangsa ini. Padahal Rasulullah menyatakan Al Hayaau minal iiman (malu adalah sebagian dari iman). Lalu dimana letak keimanan kita jika membiarkan anak-anak kita melakukan hal itu ???.

    Menurut Hukum Islam

    Sebelum kita berbicara masalah pacaran dalam tinjauan hukum Islam kita perlu lebih dahulu memahami maslah hudud, qishash dan ta’zir. Yang dimaksud dengan hudud adalah ketentuan – ketentuan pidana yang telah diatur secara tegas dan jelas termasuk jenis hukumannya dalam Alqur’an atau sunnah Nabi dan yang merupakan hak prerogratif Allah Swt. Semisal mencuri, menyamun, berzina, dan memfitnah.

    Sedangkan qishash adalah pembalasan setimpal sehubungan dengan pembunuhan atau penganiayaan dimana hak menentukan hukumannya diserahkan kepada korban atau ahli waris korban. Apakah ingin membalas yang setimpal, membayar denda atau memaafkan pelakunya.

    Adapun ta’zir adalah ketentuan yang diatur oleh penguasa atau hakim selain dari kedua hal diatas (hudud dan qishash). Fungsinya yaitu untuk mengisi kekosongan hukum. Semisal masalah percobaan pembunuhan atau percobaan pencurian atau percobaan perzinahan yang tidak diatur dalam syariat Islam. Disini penguasa atau hakim diberikan wewenang untuk menentukan besarnya hukuman yang harus diterima oleh pelaku tindak pidana.

    Kembali ke masalah pacaran, penulis juga cukup terkejut ketika membaca buku Al Ahkam Al Sulthaniyyah; halaman 459 karya Imam Al Mawardi. Ternyata dalam hukum Islam pacaran dimasukkan sebagai salah satu bentuk percobaan tindak pidana perzinahan. Dimana hukumannya ditentukan oleh ta’zir penguasa atau hakim.

    Menurut beliau pacaran yang dibarengi dengan ngobrol berduaan dalam satu kamar / rumah maka dikenakan hukuman cambuk sebanyak tiga puluh kali (30). Jika berduaan dan berpelukan tanpa pakaian namun belum sampai bersetubuh dikenakan hukuman cambuk sebanyak enam puluh (60) kali. Jika ngobrol dijalanan maka dikenakan dua puluh (20) cambukan. Jika saling mengikuti dengan saling memberikan isyarat maka dikenakan hukuman cambuk sebanyak sepuluh (10) kali.

    Hal itu selaras dengan ayat ayat 32 surat Al Israa’ yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk”.

    Disini cukup jelas bahwa yang dilarang bukan hanya zina, bahkan segala sesuatu yang dapat menghantarkan seseorang jatuh kepada perbuatan zina. Satu diantaranya adalah pacaran. Karena pacaran akan menghantarkan pada zina hati, penglihatan, pendengaran dan tangan.

    Karena itu dalam ayat yang lain Allah menyuruh kita untuk menundukkan pandangan (ghadhul bashar). Firman Allah artinya :

    “Katakanlah kepada laki-laki beriman “ hendaklah mereka menundukkan / menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya …”(An Nuur : 30).

    Jalan Keluar

    Masalah yang timbul sekarang adalah bagaimana dengan anak-anak, teman atau saudara kita yang saat ini pacaran. Haruskah kita cambuk sesuai hukum Islam ?. Tentu saja tidak semudah itu, karena hukum pidana Islam belum diformalkan di negeri kita. Jalan keluar yang paling mungkin yaitu dengan cara mensegerakan mereka menikah. Kalau mereka masih sekolah atau kuliyah bisa dengan cara nikah gantung sebagaimana terjadi dalam hukum adat masyarakat jawa. Yaitu menikahkan secara resmi tapi belum boleh berkumpul dalam satu rumah dan melakukan hubungan suami istri.

    Hal itu juga pernah dicontohkan Rasulullah ketika menikahi ‘Aisyah, karena saat itu Aisyah belum menginjak baligh. Dan Rasulullah baru berkumpul dalam satu rumah setelah ‘Aisyah dewasa atau baligh. Model nikah semacam inilah yang seharusnya kita populerkan. Sehingga pacarannya menjadi resmi, karena dilakukan setelah ijab kabul. Sehingga ketika sang suami yang nikah gantung apel pada malam minggu akan merasa tenang dan nyaman. Tidak takut ditangkap hansip apalagi dicambuk hingga puluhan kali.

    Lalu bagaimana dengan yang belum pacaran dan belum menikah. Jalan keluarnya yaitu dengan cara mencari istri lewat orang tua, ustadz atau teman. Apabila sudah cocok setelah melakukan penyelidikan terhadap sang calon segera saja dilamar dan dinikahi. Hal ini pernah dicontohkan oleh orang tua kita. Meskipun mereka tidak berpacaran toh anaknya banyak dan perkawinannya kekal hingga akhir hayat. Ini sangat berbeda dengan para artis dan anak muda sekarang, meskipun berpacaran cukup lama, tapi toh tingkat perceraiannya cukup tinggi.

    Model pernikahan semacam itu juga sudah mulai dipraktekkan oleh para aktivis dakwah kampus dan anak-anak tarbiyyah Islamiyyah. Dan alhamdulillah menurut pengamatan penulis perjalanan rumah tangga mereka berjalan dengan baik, aman dan nyaman. Jika anda masih ragu-ragu jangan segan-segan bacalah buku “Indahnya Pernikahan Dini” atau buku “Berpacaran Dalam Islam”. Mudah-mudahan dengan itu budaya pacaran lambat laun akan hilang dari kehidupan masyarakat Indonesia yang mengaku religius ini. Wallahu ‘alam. (pay/alhikmah online)

     
  • erva kurniawan 2:51 am pada 24 February 2014 Permalink | Balas  

    kakek penjual amplopKakek Penjual Amplop

    Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah “Kakek Penjual Amplop di ITB”.

    Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

    Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

    Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

    Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

    Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

     

    Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

    Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

    Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

    Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.

    Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

    Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:19 am pada 23 February 2014 Permalink | Balas  

    cintaTa’aruf atau Pacaran

    Di kalangan tertentu pacaran tidak dikenal, pun mereka tahu tetapi cenderung menghindari karena menganggap gaya itu tidak lagi mutlak dilakukan pada masa pranikah. Selain dinilai tidak sesuai dengan norma agama -ini terbukti dari pengalaman sepanjang sejarah keberadaan manusia bahwa pacaran cenderung kelewat batas bahkan tidak sedikit yang amoral- juga berkembangnya pemikiran bahwa satu kesia-siaan saja berjalan bersama orang yang belum tentu 100 % menjadi pasangannya. Ya, bagaimana mungkin bisa meyakinkan bahwa orang yang saat ini berjalan bersamanya memiliki komitmen untuk tetap ‘setia’ sampai ke jenjang pernikahan, la wong sudah sekian tahun berpacaran ternyata wacananya hanya sebatas curhat-curhatan dan take n give yang tak berdasar, tidak meningkat pada satu tindakan gentle, menikah! Atau setidaknya mengajukan surat lamaran ke orangtua si gadis. Berbagai dalih dan argumentasi pun meluncur untuk mengkamuflasekan ketidakgentle-annya itu, yang kemudian semua orang pun tahu itu cuma lips service dari orang yang tidak benar-benar dewasa alias childish.

    Kedewasaan, ukurannya tidak terwakili hanya oleh umurnya yang diatas seperempat abad misalnya, tetapi juga pada sikap diri, attitude yang tertampilkan dalam kesehariannya. Dalam dunia pekerjaan, sikap dewasa dapat dilihat dari profesionalisme kerja, termasuk didalamnya kedisplinan. Dalam hubungan interelasi, bijaksana, proporsional dalam bersikap dan berbicara bisa jadi satu parameter kedewasaan. Nah yang menjadi masalahnya kemudian, tidak sedikit orang yang seharusnya bersikap dewasa justru memamerkan sifat kekanakkan saat berkesempatan bersama pasangannya, sikap yang dipraktekkan secara tidak proporsional dari ungkapan kasih sayang dan pengorbanan.

    Orang terlihat dewasa mungkin hanya dari fisiknya saja, namun sisi lainnya seringkali luput dari perhatian. Padahal kedewasaan jelas meliputi beberapa aspek yang sekiranya patut diperhatikan dalam memilih pasangan yang kelak dinominasikan untuk menjadi pasangan hidup. Dewasa secara fisik, dimana organ-organ reproduksi telah berfungsi secara optimal yang ditandai dengan produksi sperma yang baik pada pria dan produksi sel telur yang memadai pada wanita. Selain perkembangan sel-sel otot tubuh menandakan -sekaligus membedakan- pria dan wanita. Dewasa secara psikologis, yang ditandai dengan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan, serta mampu menjalani hubungan interdependensi. Ini penting untuk diperhatikan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan bersama dalam pernikahan.

    Dewasa secara sosial-ekonomi ditampakkan dalam kemampuan seseorang untuk membiayai kebutuhan hidup yang layak sebagai suami-istri. Tentu hal ini terkait dengan adanya pekerjaan yang jelas serta penghasilan yang tetap, serta kesadaran akan meningkatnya biaya kehidupan dari waktu ke waktu seiring dengan bertambahnya anggota keluarga kelak. Berdasarkan aspek kedewasaan diatas, maka wajarlah jika disatu sisi justru ada orang yang enggan berpacaran. Seperti diuraikan sebelumnya, bahwa pacaran selain tidak diajarkan dalam agama Islam karena melanggar norma yang digariskan, juga dianggap ‘buang-buang waktu’, ‘wujud ketidakgentle-an’, ‘aktifitas sia-sia’ dan lain-lain. Namun sekedar diketahui, bahwa diluar itu ada sebagian yang memang benar-benar takut untuk mencintai, dicintai dan bahkan takut jatuh cinta. Dalam psikologi, orang-orang ini mungkin dianggap terkena sindrom fear of intimacy, satu kondisi yang disebabkan oleh ketakutan yang teramat sangat untuk menerima resiko kenyataan di kemudian hari. Seperti ditulis astaga.com, menurut psikolog Robert W Firestone dan Joyce Catlett, fear of intimacy ini adalah salah satu perwujudan dari pertahanan psikologis, yang lebih merupakan cermin dari pikiran dan sikap negatif atas hal-hal yang dilihat dan dipelajarinya waktu kecil.

    Maka kemudian, Islam mengenal ‘pacaran’ dalam kemasan yang berbeda. Ustadz Ihsan Arlansyah Tanjung, konsultan keluarga sakinah di situs eramuslim sering mengatakan bahwa pacaran akronim dari ‘pakai cara nikah’. Ya, Islam hanya mengajarkan bentuk-bentuk curahan kasih sayang dan cinta itu setelah melalui satu proses sakral yakni pernikahan. Sementara proses pranikah yang dilakukan untuk saling mengenal antara calon pria dan wanita biasa disebut proses ta’aruf (perkenalan). Yang penting dari ta’aruf adalah saling mengenal antara kedua belah pihak, saling memberitahu keadaan keluarga masing-masing, saling memberi tahu harapan dan prinsip hidup, saling mengungkapkan apa yang disukai dan tidak disukai, dan seterusnya.

    Kaidah-kaidah yang perlu dijaga dalam proses ini antar lain nondefensif, tidak bereaksi berlebihan pada feedback negatif, serta terbuka untuk mencoba pengalaman-pengalaman baru, Jujur, tidak curang, berbohong dan punya sense of integrity yang kuat, Menghormati batas-batas, prioritas dan tujuan calon pasangan yang menyangkut diri mereka maupun tidak, Pengertian, empati, dan tidak mengubah pasangannya sedemikian rupa serta tidak mengontrol, manipulatif, apalagi mengancam pasangan dalam bentuk apa pun.

    Dalam tahap ini anda dan dia bisa saling mengukur diri apakah cocok satu sama lain atau tidak. Masing-masing pihak masih harus sama-sama membuka options/kemungkinan batal atau jadi. Maka umumnya dilakukan tanpa terlebih dahulu melibatkan orangtua agar tidak menimbulkan kesan ‘harga jadi’ dan tidak ada lagi proses tawar menawar, sehingga jika pun gagal/batal tidak ada konsekuensi apa-apa. Karena jika sudah sampai menemui orangtua berarti secara samar maupun terang-terangan seorang pria sudah menunjukkan niat untuk memperistri si wanita. Yang perlu jadi ingatan, seringkali pasangan-pasangan itu terjebak dalam aktifitas pacaran yang terbungkus sampul ta’aruf. Apa namanya bukan pacaran kalau ada rutinitas kunjungan yang melegitimasi silaturahmi dengan embel-embel ‘ingin lebih kenal’.

    Jika sudah mantap atas pilihan masing-masing barulah kemudian melibatkan orang tua dalam proses selanjutnya, lamaran (khitbah). Untuk khitbah tak ada aturan yang kaku, yang penting dalam masa penjajagan keduanya berkenalan dan saling mengungkap apa yang disukai dan tidak disukai, saling mengungkap apa visi misi dalam pernikahan dan seterusnya. Tentunya khitbah harus tetap mengikuti aturan pergaulan Islami, tak berkhalwat, tak mengumbar pandangan, tak menimbulkan zina mata, hati (apalagi badan), tak membicarakan hal-hal yang termasuk kejahatan dan sebagainya.

    Yang perlu disadari, khitbah mirip jual beli, dalam masa tawar menawar bisa jadi, bisa juga batal. Pembatalannya harus tetap sopan menurut aturan Islami, tidak menyakiti hati dengan kata-kata yang kasar, tidak membicarakan aib yang sempat diketahui dalam khitbah kepada orang lain.

    Namun sebagaimana jual beli harus ada prinsip kedua belah pihak ridho. Khitbah baru bisa berlanjut ke pernikahan jika kedua pihak ridho, jika salah satu membatalkan proses tawar menawar maka pernikahan tak akan jadi. Kalaupun dibatalkan (meski mungkin menyakitkan), harus ada alasan yang kuat untuk salah satu pihak membatalkan rencana nikah yang sudah matang. Sebab Islam melarang ummatnya saling menyakiti tanpa alasan. Jadi jika ada yang ragu (dengan alasan yang benar) sebelum menikah, sebaiknya membatalkan sebelum terlanjur.

    Adapun jarak antara khitbah dan akad nikah, tidak ada aturan yang menjelaskan harus berapa lama, tentu dalam hal ini masing-masing pihak bisa mengukurnya sendiri. Satu hari bisa jadi sudah deadline bagi pria-wanita yang sudah sedemikian menggebunya hingga khawatir terjerumus kepada dosa zina. Namun jika bisa merasa ‘aman’ dengan menunda beberapa waktu tidak masalah.

    Jadi, jika segalanya sudah terencana dengan matang dan baik, seperti kata seorang bijak, jika berani menyelam ke dasar laut, mengapa terus bermain di kubangan, kalau siap berperang mengapa cuma bermimpi menjadi pahlawan

    Wallahu a’lam bishshowaab

    ***

    Abinya Hufha

     
  • erva kurniawan 2:06 am pada 22 February 2014 Permalink | Balas  

    muslimat-air-mata1Tetesan Air Mata

    Pernah menangis? Pasti pernah ya, paling tidak sekali seumur hidup kita pasti menangis, yaitu saat dilahirkan. Saat itu uraian tetesan air di sudut mata menjadi kebahagiaan orang-orang yang mengasihi kita. Lalu, apakah air mata itu identik dengan kelemahan, bahkan kecengengan? Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak. Air mata bisa juga menjadi berharga atau malah tidak berharga lho.

    Seseorang lelaki yang sesenggukan karena kekasihnya telah pergi meninggalkan dirinya, bisa jadi air mata saat itu tidak berharga sama sekali. Demikian juga uraian air mata seorang wanita yang ‘mengorbankan harga dirinya’ kepada Arjuna, Sang Pemetik Cinta, justru pada saat cinta mereka sebenarnya belum diikat dengan ikatan suci, maka saat itu air mata hanyalah kesia-siaan.

    Namun air mata juga bisa menjadi sangat berharga, bahkan sangat berharga. Di dunia, sebagai contoh, air mata bisa menjadi tema tulisan yang laku dijual dan menjadi tema yang tak pernah henti-hentinya mengalir ke benak banyak penulis.

    Pernah tahu buku-buku yang pernah laris di Jepang? Di antara buku-buku terlaris itu adalah “Gotan Fumanzoku”, karya autobiografis Hirotada Ototake, seorang pria yang lahir tanpa kaki dan tangan namun tetap bersemangat dalam hidupnya, menamatkan studinya di Universitas Waseda dan pernah menjadi presenter berita olahraga di televisi.

    Ada pula buku yang lain, yaitu “Dakara Anata mo Ikinuite”, sebuah autobiografi Mitsuyo Ohira, seorang wanita yang menjadi sasaran olok-olok ketika duduk di sekolah menengah. Ohira san pernah mencoba bunuh diri ketika remaja, menikah dengan seorang gangster pada usia enam belas tahun, bercerai, namun kemudian berhasil bangkit dari masa lalunya dan kini menjadi pengacara. Kisah-kisah haru seperti ini dan menguras air mata juga banyak diminati masyarakat pembaca di Jepang.

    Air mata memang ibarat hujan yang jatuh dari langit pada lahan hati yang tandus, gersang dan kering kerontang. Ia bisa melunakkan hati dan jiwa yang keras membatu, perlahan lunak dan menjadi peka terhadap lingkungan sosial.

    Dalam Islam, air mata sangat berharga nilainya saat penyesalan, kerinduan pada manusia-manusia yang tawadhu’. Menyiram kegersangan taman hati dan jiwa, serta qalbu yang gersang dengan berbagai nista hingga perlahan pupus, bagaikan debu-debu yang hanyut terbawa arus oleh butiran-butiran do’a yang dimunajatkan kepada-Nya.

    Mahal… sungguh sangat mahal harganya tetesan air mata yang mengalir saat khusuk menghadap-Nya, bahkan salah satu dari dua tetesan yang disukai Rasulullah SAW adalah air mata yang mengalir karena rasa takut dan rindu kepada Allah SWT. Beliau, kekasih Allah, merengguk, menumpahkan air mata karena penuh harap untuk berjumpa dengan-Nya. Abu Bakar ash-Shidiq r.a. pun senantiasa sesegukan ketika menegakkan sholat.

    Seorang mujahid serta sekaligus mujaddid yang pernah hidup di dunia ini, Hasan al Banna juga pernah menguraikan air matanya karena memikirkan ummat ini. Betapa sang mujahid menginginkan agar ummat mengetahui bahwa mereka lebih dicintai daripada dirinya sendiri, sesaat pun kami tidak akan pernah menjadi musuh kalian. Betapa bangganya beliau ketika jiwa-jiwa ini gugur sebagai penebus kehormatan mereka, atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan dan terwujudnya cita-cita Islam. Rasa cinta yang mengharu-biru hati, menguasai perasaan bahkan mencabut rasa ngantuk di pelupuk mata hingga membuat beliau memeras air matanya. Air mata yang mengalir karena menyaksikan bencana yang mencabik-cabik ummat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan serta pasrah pada keputusasaan.

    Lalu, bagaimanakah dengan kita? Takkala kita lahir menangis, namun orang-orang di sekeliling kita tertawa bahagia karena menyambut kelahiran kita. Namun orang-orang yang kita tinggalkan menangis pilu saat kita tutup usia, saat itu apakah kita juga turut menangis ataukah tertawa bahagia karena akan berjumpa dengan Allah SWT? Adakah amal kita lebih banyak dari dosa yang kita lakukan selama hidup di dunia yang singkat ini? Adakah prestasi kita hanya lahir, hidup, mati, kemudian dilupakan orang, bahkan oleh orang-orang terdekat kita? Lalu setelah itu pasrah, rebah di bantalan tanah, cemas menanti pengadilan akhir yang pasti tiba.

    Ya akhi wa ukhti fillah, Semoga Allah SWT menjadikan air mata yang jatuh di sudut-sudut mata kita adalah air mata yang berharga dipandangan-Nya, hingga dapat membersihkan hati yang pekat ini untuk mudah disusupi cahaya Ilahi Rabbi. Semoga air mata ini kelak tidak menjadi tetesan darah karena letihnya kita berteriak dan mengetuk pintu surga yang telah tertutup rapat setelah pengadilan itu nanti.

    Sungguh, tetesan air mata di dunia ini adalah lebih baik bagi kita ketimbang menangis di akhirat nanti, menangislah sebelum datang hari di mana kita semua akan ditangisi, karena itu pasti terjadi.

    Ya Allah, yang manusia harus takuti Angkatlah kami dari lembah maksiat Sampai kami keluar dari dunia Tak bawa beban walau sebesar zarah [Air Mata: from Izzatul Islam]

    Wallahu alam bi showab,

    ***

    Abu Aufa

     
  • erva kurniawan 2:02 am pada 21 February 2014 Permalink | Balas  

    kerja kerasOptimisme

    Kesulitan dan kelapangan adalah dua hal yang senantiasa berputar menimpa diri manusia, silih berganti. Kesulitan identik dengan kegagalan dan kesengsaraan. Seseorang yang ditimpa kesulitan, maka ia tengah berkutat dengan kekhawatiran dan kesedihan.

    Optimisme tidak berarti kepercayaan diri berlebih, bukan pula kepasrahan jiwa. Akan tetapi, sebentuk semangat yang bersemayam dalam hati untuk senantiasa berusaha dan berupaya ketika kesulitan menimpa.

    Di samping itu, dalam konteks seorang Muslim, optimisme merupakan pemicu agar kita bersungguh-sungguh dalam melaksanakan suatu pekerjaan, walaupun baru saja menyelesaikan pekerjaan yang lainnya. Tiada kekosongan setelah satu bidang terpenuhi (QS Asy-Syarh: 7).

    Rasulullah Saw mengajak umatnya agar terus-menerus bekerja dan berusaha tanpa menggantungkan diri kepada orang lain. Sabda beliau, “Demi Tuhan, sesungguhnya seseorang di antara kamu mengambil tali, kemudian mengikat sekeping kayu dan memikul di punggungnya untuk dijual, sehingga Allah memelihara air mukanya dari meminta-minta, adalah lebih baik daripada ia meminta kepada orang lain, baik ia diberi maupun tidak.” (HR Bukhari).

    Sepatutnya sikap optimisme tetap tersemai di hati umat Islam. Membangun sikap optimisme, setidaknya ada dua hal yang seyogianya kita lakukan, Pertama, melakukan perbaikan diri lewat usaha-usaha konkret dan amal nyata. Sesungguhnya keterpurukan menimpa umat Islam karena kita belum mampu menghasilkan karya berharga bagi umat. Kata belum menjadi perbuatan. Konsep belum berwujud aksi.

    Kedua, yakin akan ada kelapangan di hari kemudian. Kelapangan yang diperoleh dari kesungguhan, kontinuitas beramal, dan berinovasi tiada henti dengan dibarengi keyakinan adanya bantuan Ilahi. “Sesungguhnya kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia,” demikian kata Muhammad Abduh.

    ***

    Diambil dari Refleksi Republika

     
  • erva kurniawan 4:54 am pada 20 February 2014 Permalink | Balas  

    tetes-airDan Umar pun Menangis

    Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khatab menangis? Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain. Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.

    Mengapa “singa padang pasir” ini sampai menangis?

    Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku.

    Rasul yang mulia bertanya, “mengapa engkau menangis ya Umar?” Umar menjawab, “bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”.

    Nabi berkata, “mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.”

    Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.

     
  • erva kurniawan 7:27 am pada 19 February 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan anak lelakinya berdoaNasehat Luqman Al Hakim Kepada Putranya

    Segala puji bagi Allah SWT, sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, shahabat, keluarga serta orang-orang yang masih berittiba’ (mengikuti) kepada beliau sampai hari kiamat.

    Al Qur’an adalah sumber hukum dan ilmu pengetahuan yang tak pernah kering untuk ditimba, penuh dengan pelajaran, di dalamnya terdapat hikmah dan teladan. Salah satu isi pokok dari Al Qur’an adalah kisah perjalanan kehidupan para nabi dan rasul serta orang-orang saleh dari umat-umat sebelum nabi Muhammad SAW. Hikmah diceritakannya sirah manusia-manusia pilihan itu tidak lain karena besarnya manfaat dari keteladanan iman, sifat dan akhlaq mereka. Maka disini akan saya angkat sebuah kisah Luqman Al Hakim yang penuh dengan hikmah bagi kita semua.

    1. Tidak menyekutukan Allah.

    Sebesar-besar kedzaliman dan kemungkaran adalah menyekutukan Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT

    “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.(Q.S. Luqman:13)

    Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, kecuali ia bertobat dan meninggalkan perbuatannya. Sesungguhnya hanya Allah sajalah yang berhak untuk disembah (Allahu mustahiqqul ‘ibaadah). Dia lah yang berhaq di mintai pertolongan. Hanya kepada-Nyalah segala urusan diserahkan, takut (khouf), berharap (raja’) hanya layak ditujukan kepada Allah swt, bukan kepada yang lainnya

    2. Berbuat baik kepada kedua orang tua.

    Firman Allah SWT.

    “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”( QS.Luqman: 14)

    Di dalam riwayat Bukhari, Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat:

    “Amalan apakah yang dicintai oleh Allah ?Beliau menjawab: Shalat pada waktunya, ia bertanya lagi: Kemudian Apa ?, Beliau menjawab: berbuat baik kepada orang tua, .Ia bertanya lagi: kemudian apa?, Belau menjawab: Jihad di jalan Allah” (shahih Bukhari V/2227, hadits No.5625)

    3. Ketaatan kepada kedua orang tua harus dilandasi oleh ketaatan kepada Allah; karena tidak boleh taat kepada keduanya dalam rangka berbuat maksiat kepada Allah, lebih-lebih menyekutukan Allah ( syirik ). Allah berfirman

    “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”(QS. Luqman: 14).

    4. Mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada Allah SWT

    Firman Allah SWT

    Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS. Luqman: 15)

    Disini Luqman memberikan sebuah nasehat kepada anaknya agar ia mengikuti jejak orang-orang yang kembali kepada Allah SWT yaitu para nabi dan rasul serta orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, yang selalu bertaubat kepada Allah SWT, yang telah diberi Allah SWT hidayah, yaitu tetap dalam agama yang hanif yakni Islam.

    5. Allah akan membalas semua perbuatan manusia.

    Firman Allah swt :

    (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.(Q.S: 16)

    “Maka Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (QS. Al Zalzalah: 7-8).

    6. Menegakkan sholat.

    Shalat adalah tiang agama, sehingga ia tidak akan tegak tanpa shalat. Maka sebagai seorang yang beriman kita diwajibkan menegakkannya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Luqman ayat 17 yang berbunyi :

    “Hai anakku, dirikanlah shalat …”

    Shalat dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah SWT.

    …”Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabuut: 45)

    7. Amar Ma’ruf nahi Munkar.

    Ada dua komponen penting dalam Islam yang memberikan sebuah dorongan yang kuat kepada setiap muslim untuk mendakwahkan agama yang dianutnya, yaitu Amar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan berbuat kebajikan dan mencegah yang mungkar). Perintah untuk beramar ma’ruf nahi mungkar sangat banyak di dalam Al Qur’an seperti :

    “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.(QS. Ali Imran:104).

    8. Bersabar terhadap apa yang menimpa kita.

    Sesungguhnya segala cobaan yang menimpa seorang muslim itu adalah merupakan sesuatu yang mesti terjadi karena itulah bentuk ujian (ikhtibar) dari Allah SWT, apakah ia sabar atau tidak ?, firman Allah SWT.

    “Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”(QS. Luqman:17)

    9. Tidak Menyombongkan diri

    Sifat takabur atau merasa besar dihadapan manusia adalah sifat yang dibenci oleh Allah SWT.

    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

    10. Bersikap pertengahan dalam segala hal dan berakhlaq yang baik

    Islam tidak menghendaki sikap Ghuluw (berlebih-lebihan) juga tidak menginginkan untuk bersikap tahawun (meremehkan) dalam segala hal termasuk juga dalam perkara-perkara yang menurut penilaian sebagian orang dianggap kecil seperti sikap berjalan, berbicara dsb. Allah SWT mengatur itu semua sebagaimana firmanNya:

    “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

    Manusia akan mempunyai nilai jika menampakkan akhlaq yang baik, karena tujun diutusnya Rasulullah SAW selain untuk menyeru kepada Allah (Ad-dakwah ilallah) adalah untuk menyempurnakan Akhlaq dan budi pekerti.

    ***

    Sumber : Tafsir Ibnu Katsir

     
  • erva kurniawan 7:23 am pada 18 February 2014 Permalink | Balas  

    tukang-baksoMaafkan Saya Tuhan

    “Mas Ento”, biasa saya menyebutnya. Seorang lelaki yang tidak lagi muda, penjual bakso keliling di tempat saya. Keriput kulit begitu nyata terukir di wajah legam tanpa ekspresinya. Sebenarnya baksonya tidak seenak 2 penjual bakso rivalnya, itulah mengapa jarang sekali pembeli menghentikannya. Sering saya melihatnya termenung sendiri dibawah pohon jambu dekat lapangan tempat anak-anak bermain. Setiap rivalnya datang, dia bergegas seperti ketakutan membawa dagangannya yang tanpa roda itu pergi. Saya pernah bertanya tentang hal ini kepadanya, namun seperti biasanya dia diam dan beralih menanyakan berapa porsi bakso yang ingin saya beli.

    Akhirnya saya mendapatkan jawabannya sendiri. Saya sangat faham, pias wajah ketakutan yang membayang ketika rivalnya datang. Saat itu, di tempat sepi saya menyaksikan rivalnya melakukan sebuah hal yang sungguh tidak dapat saya fahami. Mangkuk-mangkuk bakso milik mas Ento menjadi terserak dijalanan, belum lagi botol-botol itu, bulatan-bulatan bakso terhambur dari tempatnya. Kuahnya tumpah mengenai kakinya yang tak lagi sempurna berjalan. Tanpa beban, sang rival melenggang pergi meninggalinya banyak kepedihan. Ingin sekali saya meneriakinya “kurang ajar”, tetapi melihat sosoknya yang besar membuat saya hanya mematung, meski hati saya ribut tidak karuan.

    Setiap teringat mas Ento, saya pasti berguman dengan ungkapan yang saya adopsi dari sebuah puisi “Maafkan saya Tuhan, di depan saya ada orang yang di zalimi tetapi saya tidak menolongnya”.

    ***

    Suatu saat menjelang siang, seorang bocah kecil pengamen, berdiri di dalam bis menghadap para penumpang. Suara paraunya menggema di bis yang akan membawa saya ke terminal Leuwi Panjang, Bandung. Beberapa lagu diperdengarkannya kepada kami. Saya memandangnya sayang, tangannya hanya satu yang sempurna, tangan sebelah kiri buntung sampai sikut. Mungkin karena itulah hampir semua penumpang memasukkan uang ke dalam bekas bungkus kemasan aqua gelas yang diedarkannya. Saya yang duduk dibelakang dapat menyaksikan binar mata kegembiraan sang bocah yang mengaso dekat pintu.

    Bis sudah masuk terminal, penumpang telah banyak turun. Si kondektur menyeret bocah tadi hampir tepat di hadapan saya. “Sini!!” bentak lelaki bertopi itu, tangannya meraih paksa tempat uang si bocah. Dengan tersenyum dia menghitung, dan tanpa beban dia mengembalikan wadah kosong ke tangan sang bocah. Dan lagi-lagi saya tidak berbuat apa-apa. Saya hanya diam, meski hati ini juga ribut tak karuan. Saya menatap wajah pasrah itu. “Ngga apa-apa, sudah biasa”. Itu yang diucapkan si bocah sebelum pergi.

    Jika sudah begitu, tak ada yang dapat menentramkan hati kecuali sebuah doa ampunan, “Maafkan saya Tuhan, di hadapan saya ada mahlukmu yang dizalimi, tetapi saya tidak mampu berbuat apa-apa”.

    ***

    Jari ditangan tak akan mampu membilang episode-episode kezaliman. Israel yang begitu pongah mengobrak-abrik Palestina. Bom-bom cluster yang tercurah, mengoyak banyak tubuh manusia.  Mereka yang direnggut nyawa dengan cara demikian, adalah saudara kita. Bukankah mereka juga shalat, puasa dan berdoa kepada Allah, sama sepert kita. Belum lagi di Mesir yang dilanda perang saudara atau yang kita lihat langsung di lingkungan sekitar.

    Nabi bersabda, ketika kemungkaran berada dihadapan, cegahlah dengan tangan, itulah seutama-utamanya iman. Jika belum mampu, sergahlah dengan lisan yang kita punya. Dan yang terakhir, bencilah dengan hatimu, berdoalah. Dan nabi melabelkan hal ini sebagai selemah-lemahnya iman.

    ***

    Diambil dari eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 7:17 am pada 17 February 2014 Permalink | Balas  

    nasehat-quran1Bahaya Cinta Dunia

    Ibnu Qayyim al-Jauziyah

    Diceritakan Nabi Isa AS pernah berkata, “Cinta dunia adalah sumber segala kesalahan. Di dalam harta kekayaan itu penyakit yang banyak sekali.” Orang-orang yang ada disekitarnya bertanya, “Apakah penyakit itu?” Beliau menjawab, “Pemiliknya tidak akan selamat dari sifat berbangga diri dan angkuh.” Mereka berkata, “Bagaimana jika kita bisa selamat?” Nabi Isa AS menjawab, “Dia akan sibuk mengurusnya, dan terlupakan dari dzikir terhadap Allah.”

    Cinta dunialah yang memakmurkan neraka dengan dipenuhi oleh para pelakunya. Mabuk karena cinta dunia lebih berbahaya daripada mabuk karena minum arak. Seseorang yang mabuk karena cinta dunia hanya akan sadar ketika ia berada di kegelapan lahat.

    Yahya bin Mu’adz berkata, “Dunia itu arak setan. Barang siapa mabuk karenanya niscaya tidak akan sadar sampai ia berada di antara orang-orang yang sudah mati, menyesal bersama orang-orang yang merugi.”

    Paling tidak, cinta dunia akan melengahkan seseorang dari cinta kepada Allah SWT dan berdzikir kepadanya. Barang siapa dilengahkan oleh harta bendanya termasuklah ia ke dalam orang-orang yang merugi. Dan hati, jika telah lalai dari dzikrullah pasti setan menguasainya, dan disetir sesuai kehendaknya. Setan akan menipunya sehingga ia merasa telah mengerjakan banyak kebaikan , padahal ia baru mengerjakan sedikit saja.

    Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bagi semua orang dunia ini adalah tamu, dan harta itu adalah pinjaman. Setiap tamu pasti akan pergi lagi dan setiap pinjaman pasti harus dikembalikan.”

    Para ulama berkata, “Cinta dunia itu pangkal segala kesalahan dan pasti merusak agama dari berbagai sisi:

    Pertama, mencintainya akan mengakibatkan mengagungkannya. Padalah di sisi Allah SWT dunia itu sangatlah remeh. Termasuk dosa terbesar, mengagungkan sesuatu yang dianggap remeh oleh Allah SWT.

    Kedua, Allah SWT telah melaknatnya, memurkai, dan membencinya, kecuali yang ditujukan kepadaNya. Barangsiapa mencintai sesuatu yang telah dilaknat, dimurkai, dan dibenci oleh Allah SWT berarti ia menyediakan diri untuk mendapat siksa, kemurkaan Allah SWT, dan juga kebencianNya.

    Ketiga, orang yang cinta dunia pasti menjadikannya sebagai tujuan akhir dari segalanya. Pun ia akan berusaha semampunya untuk mendapatkannya. Padahal seharusnya ia melakukan hal itu untuk sampai kepada Allah SWT, sampai ke akhirat. Ia telah membolak-balikan urusan dan juga hikmah. Dalam hal ini ada dua kesalahan. Pertama, ia menjadikan saran sebagai tujuan. Kedua, ia berusaha mendapatkan dunia dengan amalan akhirat. Bagaimanapun ini adalah sesuatu yang terbalik, keliru, dan buruk. Hatinya benar-benar terbalik total. Allah SWT berfirman:

    Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan. (Q.S. Hud:15-16)

    Hadits hadits yang menjelaskan tentang ini pun banyak. Salah satunya hadits Abu Hurairah tentang tiga orang yang pertama kali dijilat api neraka. Yaitu orang yang berperang, orang yang bersedekah, dan orang yang membaca Al-Qur’an. Mereka mengerjakan amalan itu untuk mendapatkan dunia dan kekayaannya.

    Begitulah cinta dunia. Ia bisa menghalangi seseorang dari pahala. Bisa merusak amal. Bahkan bisa menjadikannya sebagai orang yang pertama kali masuk neraka.

    Keempat, mencintai dunia akan menghalangi seorang hamba dari aktivitas yang bermanfaat untuk kehidupan di akhirat. Ia akan sibuk dengan apa yang dicintainya. Kerinduan dan kecintaan kepada dunia pasti membahayakan kehidupan akhirat. Begitu juga sebaliknya.

    Kelima, mencintai dunia menjadikan dunia sebagai harapan terbesar seorang hamba. Sahabat Anas bin Malik meriwayatkan: Rasulullah bersabda, Barangsiapa mengharapkan akhirat, Allah akan menjadikan kekayaan dihatinya dan menghimpun seluruh urusan untuknya, serta dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Adapun siapa yang mengharapkan dunia, Allah akan menjadikan kefakiran didepan matanya dan mencerai-beraikan urusannya, serta dunia tidak akan datang kepadanya kecuali yang sudah ditakdirkan baginya.

    Keenam, pecinta dunia adalah manusia dengan adzab yang paling berat. Mereka disiksa di tiga negara; di dunia, di barzakh, dan di akhirat. Di dunia mereka di adzab dengan kerja keras untuk mendapatkannya dan persaingan dengan orang lain. Adapun di alam Barzakh mereka di adzab dengan perpisahan dengan kekayaan dunia dan kerugian yang nyata atas apa yang mereka kerjakan.

    Ketujuh, orang yang rindu dan cinta kepada dunia sehingga lebih mengutamakannya dari pada akhirat adalah makhluk yang paling bodoh, dungu, dan tidak berakal. Karena mereka mendahulukan khayalan dari pada sesuatu yang hakiki, mendahulukan impian dari kenyataan, mendahulukan kenikmatan sesaat daripada kenikmatan yang abadi, dan mendahulukan negeri yang fana daripada negeri yang kekal selamanya. Mereka menukar kehidupan yang kekal ini dengan kenikmatan semu.

    Sesuatu yang paling mirip dengan dunia adalah bayang-bayang. Disangka memiliki hakekat yang tetap, padahal tidak demikian. Dikejar untuk digapai, sudah pasti tidak akan pernah sampai. Dunia mirip dengan seorang perempuan tua yang sama sekali tidak cantik. Ia ingin menikah dan berdandanlah ia. Dipakainya seluruh perhiasan. Ditutupinyalah segala kekurangan. Orang yang hanya memandang tampilan luarnya pasti tertipu. Ia ingin seseorang menikahinya dengan mahar suaminya harus menceraikan akhirat. Sebab, ia dan akhirat tidak mungkin bisa bertemu, duduk bersama.

    ***

    (Diambil dari Tazkiyah An-Nafs).

     
  • erva kurniawan 6:47 am pada 16 February 2014 Permalink | Balas  

    cinta di hari tuaSayangilah Aku Hingga Ujung Waktu

    Kalau kita berbicara tentang pernikahan, pasti semua mengharapkan yang enak-enak atau kondisi ideal. Normal aja dong, kalau mengharapkan kriteria ideal untuk calon pasangan hidupnya. Sang pemuda mengharapkan calon istri yang cantik jelita, keluarganya tajir, pinter, akhlak mulia, sholehah, dll. Begitu juga sang wanita ingin punya suami yang ganteng, kaya, sabar, pinter, bertanggung jawab, setia, akhlaknya memikat, dan sebagainya. Coba bayangin semua ini terjadi pada diri kita, wuah…surga dunia tuh! Siapa sih yang gak mau, iya gak?

    Saat kita lanjut usia, rambut mulai satu-persatu rontok, raga pun perlahan rapuh dan sepuh, sang istri atau suami masih tetap setia mendampingi. Saat di pembaringan, ada yang mijitin pundak hingga kitapun tertidur pulas. Saat dingin menyerang rangkulan kekasih pun semakin erat, bersama saling menopang saat kaki-kaki kita semakin melemah. Kalau sedih ada yang menghibur, saat senang, apalagi, wuah…uendah nian.

    Namun, menurut Hasan Al Banna, waktu itu adalah kehidupan, ia tak pernah berhenti sesaatpun, seiring waktu berlalu, istri semakin keriput dan endut. Tapi menurut sang suami, “Istriku masih yang tercantik,” sementara suami pun perutnya udah buncit, tapi menurut sang istri, “Engkaulah satu-satunya Pangeran dalam istana hatiku.”

    Kebesaran Allah SWT pun selalu tampak di dalam rumah tangga. Setiap anggota keluarga melakukan sholat berjamaah, qiyamullail, membaca Al Qur’an, tasbih, tahmid, saling bertausyiah, bermaafan, menasehati, dan mengingatkan. Inilah hasil dari sepasang anak manusia yang menikah karena ingin mengharapkan ridho-Nya dan cita-cita Islam serta kemegahan ajaran-Nya. Inilah dia surga yang disegerakan sebelum surga yang kekal abadi.

    Semua diatas adalah harapan setiap pasangan. Namun, tak jarang juga ditemukan dalam suatu keluarga yang terjadi adalah sebaliknya. Dari istri yang dibilang gak pinter mengatur rumah tangga, menjaga anak, atau suami yang selalu pulang malam tak peduli dengan anak dan istri, dan macam-macam lagi. Kata nista, kata-kata yang nyelekit, tuduhan, makian bahkan saling memukul, bisa juga terjadi pada sebuah keluarga, yang gini nih sepet banget! Rumah tangga serasa bagai hidup di neraka, tak ada ketenangan apalagi kasih sayang.

    Memang, segala sesuatu itu bisa tak seindah bayangan semula. Ada bunga-bunga indah, namun cukup banyak juga onak dan duri yang siap menghadang. Karena itu, berbagai masalah kehidupan dalam lembaga pernikahan harus dihadapi secara realistis oleh setiap pasangan.

    Apalagi hidup di zaman seperti sekarang ini memang tak mudah, namun Al Qur’an memberikan arahan dalam kehidupan berumah tangga, “…. dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik…. [QS Ath Thalaaq: 6] “….. dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian, bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS An Nisaa': 19]

    Seperti gading, tak ada yang tak retak, begitu juga manusia, tak ada yang sempurna. Setiap kita pasti ada kekurangannya, bisa saja seorang suami atau istri terlihat mempunyai satu kekurangan, namun kalau dipikir-pikir lebih banyak kelebihannya. Apakah kekurangannya saja yang diperhatikan oleh pasangannya atau kedua-duanya dengan pertimbangan yang adil?

    Konflik dalam kehidupan rumah tangga juga tak jarang menyebabkan banyak pasangan kehilangan cinta yang dulunya mempersatukan mereka, dan Allah SWT juga telah memberikan arahan yang jelas, “Hai orang-orang mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS At Taghaabun: 14]

    Karena itu, sesungguhnya dalam kehidupan berkeluarga yang kita harapkan adalah indahnya keampunan Allah dan surga-Nya, juga kasih sayang orang-orang yang terdekat dengan kita, yang setiap hari saling membutuhkan, karena itu ‘sayangilah aku (pasangan hidup) hingga ujung waktu.’

    Wahai akhi wa ukhti fillah, mari kita saling mendoakan ya, Semoga dengan kita mengambil panduan Al Qur’an dan sunnah Rasul-Nya serta contoh teladan dari keluarga Rasulullah SAW, akan semakin banyak rumah tangga yang tadinya kurang sakinah kembali menjadi sakinah, rumah tangga yang sakinah menjadi lebih sakinah, dan insya Allah pula saudara-saudara yang belum berumah tangga dikabulkan do’anya berupa pasangan hidup yang sholeh atau sholehah, aamiin allahumma aamiin.

    Wallahu alam bi showab,

    ***

    Al-Hubb Fillah wa Lillah, Abu Aufa

     
  • erva kurniawan 6:35 am pada 15 February 2014 Permalink | Balas  

    pemimpin1Jejak Indah Sang Pemimpin

    Malam telah pekat, selimut-selimut semakin dirapatkan para pemiliknya untuk menambah lelap. Dia mengendap-endap keluar dari petak rumah sederhana, menyusuri setiap lorong perkampungan Madinah. Ditajamkannya pendengaran, adakah rakyatnya menyelami derita yang luput dari perhatian. Diawaskannya mata, terdapatkah rakyat alami duka akibat kepemimpinannya.

    Sendirian, dia memamah malam, langkahnya berjinjit khawatir mengganggu istirahat rakyat yang begitu dicintai. Dari setiap detik yang mengalir, selalu kecemasan membayang di wajahnya, jangan-jangan di rumah ini ada janda dengan anak-anak yang kelaparan, atau khawatir di rumah selanjutnya orang tua terkapar kesakitan tanpa sanak saudara, adakah di rumah itu yang sakit hati karena pajak terlalu tinggi. Sendirian dia menikmati paruh malam, menyulam harapan keadaan rakyat sentosa senantiasa, merajut do’a agar rakyat dibawah naungan perlindungannya dilingkupi pilinan kedamaian. Dialah Amirul Mukmini Ummar bin Khattab.

    Suatu periode dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.

    Putus asa mendera dimana-mana. Saat itu, Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya seksama. Setiap hari diinstruksikan menyembelih onta-onta potong dan disebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong ribuan rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran ditanganku ini”.

    Sejarah menorehkan kisah Umar yang mengharamkan daging, samin dan susu untuk perutnya, khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu hanya menyantap minyak zaitun dengan sedikit roti. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata “Kurangilah panas minyak itu dengan api”. Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, hingga rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar”.

    Pada saat kematian menjelang lewat tikaman pisau Abu Lu’Lu’a, ringan ia bertutur, “Alhamdulillah, bahwa aku tidak dibunuh oleh seorang muslim”. Mata yang jarang terlelap karena mengutamakan rakyatnya itu menutup untuk selama-lamanya. Umar pun syahid, dalam usia 60 tahun. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiiun.

    Pemilu, tinggal menunggu hitungan bulan, sungguh kami merindukan sosok pemimpin yang meneladani Umar dalam mengayomi rakyatnya.

    ***

    Diambil dari artikel eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 9:34 am pada 14 February 2014 Permalink | Balas  

    cintaIndahnya Ketulusan Cinta

    Menerima pendamping kita apa adanya dengan tidak berharap terlalu banyak, merupakan bekal untuk mencapai kemesraan dalam rumah tangga dan kebahagiaan di akhirat.

    Sebagai hamba yang dianugerahi fitrah, kita memang perlu menyeimbangkan harapan. Tak salah kita berdoa memohon suami yang sempurna, tetapi pada saat yang sama kita juga harus melapangkan dada untuk menerima kekurangan. Kita boleh memancangkan harapan, tapi kita juga perlu bertanya apa yang sudah kita persiapkan agar layak mendampingi pasangan idaman.

    Ini bukan berarti kita tidak boleh mempunyai keinginan untuk memperbaiki kehidupan kita, rumah tangga kita, serta pasangan kita. Akan tetapi, semakin besar harapan kita dalam pernikahan semakin sulit kita mencapai kebahagiaan dan kemesraan. Sebaliknya, semakin tinggi komitmen pernikahan kita (marital commitment) akan semakin lebar jalan yang terbentang untuk memperoleh kebahagian dan kepuasan.

    Apa bedanya harapan dan komitmen? Apa pula pengaruhnya terhadap keutuhan rumah tangga kita? Harapan terhadap perkawinan menunjukkan apa yang ingin kita dapatkan dalam perkawinan. Bila kita memiliki harapan perkawinan yang sangat besar, sulit bagi kita untuk menerima pasangan apa adanya. Kita akan selalu melihat dia penuh kekurangan. Jika kita menikah karena terpesona oleh kecantikannya, kita akan segera kehilangan kemesraan sehingga tidak bisa berlemah lembut begitu istri kita sudah tidak memikat lagi. Betapa cepat dan berlalu dan betapa besar nestapa yang harus ditanggung.

    Sementara itu, komitmen perkawinan lebih menunjukkan rumah tangga seperti apa yang ingin kita bangun. Kerelaan untuk menerima kekurangan, termasuk mengikhlaskan hati menerima kekurangannya membuat kita lebih mudah mensyukuri perkawinan.

    Disebabkan oleh komitmen yang sangat kuat pada Allah dan Rasul-Nya istri Julaibib  mengikhlaskan hati untuk menikah dengan Julaibib. Yang baru semalam usia pernikahan mereka Julaibib mengakhiri hayat di medan syahid. Ketika ibunya merasa tidak rela dikarenakan rendahnya rendahnya martabat dan buruknya perawakan fisik, ia meminta agar orang tuanya menerima pinangan itu kalau memang Rasulullah saw. yang menentukan.

    Orang yang melapangkan hati untuk menenggang perbedaan, cenderung akan menemukan banyak kesamaan. Perbedaan itu bukan lantas tidak ada, tetapi kesediaan untuk menenggang perbedaan membuat kita mudah untuk melihat kesamaan dan kebaikannya. Sebaliknya, kita akan merasa tidak nyaman berhubungan dengan orang lain, tidak terkecuali pendamping hidup kita, bila kita sibuk mempersoalkan perbedaan. Apalagi jika kita sering menyebut-nyebutnya, semakin terasa perbedaan itu dan semakin tidak nyaman membina hubungan dengannya.

    Semoga Allah melindungi kita dari mempersoalkan perbedaan tanpa mengilmui. Semoga Allah menjauhkan kita dari kesibukan yang membinasakan. Semoga Allah pula kelak mengukuhkan ikatan perasaan di antara kita dengan kasih sayang, ketulusan, dan kerelaan menenggang perbedaan. Sesungguhnya telah berlalu umat-umat sebelum kita yang mereka binasa karena sibuk mempersoalkan perbedaan dan memperdebatkan hal-hal yang menjadi rahasia Allah.

    Nah, jika mempersoalkan perbedaan, menyebut-nyebutnya, dan mengeluhkannya akan membuat hubungan renggang, mengapa tidak melapangkan hati untuk menenggangnya? Sesungguhnya menenggang perbedaan akan menumbuhkan kasih sayang dan kemesraan yang hangat. Ada perasaan mengharukan yang sekaligus membahagiakan jika kita memberikan untuknya apa yang ia sukai.

    Untuk itu, ada tiga hal yang perlu kita pahami agar ia mempercayai ketulusan kita. Pertama, berikanlah perhatian yang hangat kepadanya. Besarnya perhatian membuat dia merasa kita sayang dan kita cintai. Kedua terimalah ia tanpa syarat. Penerimaan tanpa syarat menunjukkan bahwa kita mencintainya dengan tulus. Tidak mungkin menerima dia apa adanya jika kita tidak memiliki ketulusan cinta dan kebersihan niat. Ketiga, ungkapkanlah dengan kata-kata yang tepat.

    Berkaitan dengan ungkapan ini, ada sebuah tips yang ahsan yang disampaikan oleh ustaz yang kini masih mengajar di jurusan Psikologi, UII, Yogyakarta ini. Yakni terminologi “aku” dan kamu”. Saat kita mendapatkan bahwa masakan yang dibuat pasangan kita keasinan misalnya, maka gunakanlah kata ganti “aku” . “Aku lebih suka kalau sayurnya lebih manis, sayang” Tapi saat kita mendapatkan suatu kelebihan pada diri pasangan, ia sukses menggoreng telor dadar misalnya (biasanya ia menggoreng berkerak), maka kita gunakan kata ganti “kamu”. “Kamu memang pintar, istriku”. Kita gunakan kata “aku” untuk sesuatu yang sifatnya negatif dan “kamu” untuk sesuatu yang sifatnya positif. Untuk semua hal.

    Tampaknya memang benar, karena penggunaan kata ganti “kamu” untuk sebuah kesalahan yang telah dilakukan oleh pasangan kita cenderung menyaran pada arti memvonis alih-alih memosisikan pasangan kita sebagai tertuduh.

    Dalam perspektif pragmatik (linguistik), terminologi ini merupakan sebuah upaya penggunaan maksim kesopanan dengan tetap mempertahankan maksim kerja sama. Dengan tujuan agar tidak terjadi konflik pada keduanya.

    Berangkat dari petunjuk Allah ini tidak layak bagi kita untuk sibuk mempersoalkan kekurangan ataupun kesalahan, apalagi kekurangan yang sulit dihilangkan, sepanjang ia tidak melakukan kekejian yang nyata. Betapa pun banyak yang tidak kita sukai darinya, kemesraan dengannya tak akan pudar jika kita mencoba untuk berbaik sangka kepada Allah, barangkali di balik itu Allah berikan kebaikan yang sangat besar. Sebaliknya, sesedikit apa pun keburukannya, bila kita sibuk menyebut-nyebut dan mengingatnya, akan sangat memberatkan jiwa. Dampak selanjutnya tidak hanya bagi hubungan suami istri, tetapi merembet pada hubungan kita dan si kecil.

    Terimalah ia apa adanya. Terimalah kekurangannya dengan keikhlasan hati maka akan kita temukan cinta yang bersemi indah. Sesudahnya berupaya memperbaiki dan bukan menuntut untuk sempurna. Bukankah kita sendiri mempunyai kekurangan, mengapa kita sibuk menuntut istri untuk sempurna? Ada amanat yang harus kita emban ketika kita menikah. Ada ruang untuk saling berbagi. Ada ruang untuk saling memperbaiki. Dan bukan saling mengeluhkan, alih-alih menyebut-nyebut kekurangan.

    Pahamilah kekhilafannya agar ia merasa ringan dalam memperbaiki, meski bukan berarti kita lantas membiarkan kesalahan. Berikanlah dukungan dan kehangatan kepadanya sehingga ia berbesar hati menghadapi tantangan-tantangan yang ada di depan. Tunjukkanlah bahwa kita memang sangat menghargainya, menerimanya dengan tulus, mau mengerti dan bersemangat mendampinginya.

    Dalam buku ini Ustaz Fauzil memang tidak hanya membahas seputar keikhlasan menerima pasangan kita apa adanya. Namun tampaknya beliau memandang masalah yang remeh temeh ini dalam beberapa hal telah menjadi batu karang yang cukup terjal yang kemudian melahirkan benih-benih konflik dan alih-alih  perceraian.

    Seperti pada bagian akhir, beliau menjelaskan bagaimana upaya belajar itu tidak sebatas menerima apa adanya, tetapi juga diikuti dengan belajar mendengar dengan sepenuh hati. Karena tidak jarang kita bukan tidak paham jawaban yang sesungguhnya diinginkan di balik pertanyaan pasangan.

    Cukup banyak hal sepele yang tampaknya kita anggap telah kita berikan tetapi ternyata hal itu jauh meleset dari dugaan. Kita bukan mendengar pasangan tetapi mendengar diri sendiri, kita bukan memberi solusi tapi malah menambah materi. Kita bukan memberi jalan keluar alih-alih menghakimi. Kita bukan memberikan jawaban, tetapi malah memberikan pertanyaan. Kita bukan meringankan tetapi malah memberatkan. Benarkah?

    Al akhir, kekayaan itu ada di jiwa. Dan keping kekayaan itu dimulai dari ketulusan menerima. Dengan kekayaan jiwa kita akan lebih mudah memberikan empati, lebih mudah untuk memahami, lebih mudah untuk berbagi dan lebih mudah mendengar dengan sepenuh hati.

    Hari ini, ketika kita bermimpi tentang sebuah pernikahan yang romantis sementara ikatan batin di antara kita dan pasangan begitu rapuh, sudahkah kita berterima kasih kepadanya? Sudahkah kita meminta maaf atas kesalahan kesalahan kita? Jika belum, mulailah dengan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan kita dan ungkapkan sebuah panggilan sayang untuknya. Mulailah dari yang paling mudah, hatta yang paling remeh atau kecil sekalipun. Mulailah dari yang paling kecil, demikian Ustaz Aa’ berpesan. Little things mean a lot, demikian Ustaz Fauzil menambahkan. Agar cinta bersemi dalam keluarga kita, agar cinta senantiasa berbunga dalam kehidupan kita.

    Masya Allah. Subhanallah. Alhamdulillahirabbil alamiin. Wallahu alam bisshawab.

    (bagi yang belum menikah tidak usah khawatir, jika engkau jaga risalah Allah adalah sebuah keniscayaan jika Allah kan berikan yang terbaik buat antum, sekali lagi terbaik dalam perspektif Allah, dan bukan perpektif kita)

    ***

    Judul buku: Agar Cinta Bersemi Indah

    Penulis: M. Fauzil Adhim

     
  • erva kurniawan 9:05 am pada 13 February 2014 Permalink | Balas  

    kurmaSebutir Kurma

    Selesai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua didekat mesjidil Haram.

    Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa. 4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

    “Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu.

    “Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yang lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.

    Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

    “Astaghfirullahal adzhim” Ibrahim beristighfar.

    Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya. Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda.

    “4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang?” tanya Ibrahim.

    “Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.

    “Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan?”. Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yang dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat.

    “Nah, begitulah” kata ibrahim setelah bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?”.

    “Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya. “Dimana alamat saudara-saudaramu? Biar saya temui mereka satu persatu.”

    Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.

    4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap.

    “Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.”

    “O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”
    ***
    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 8:51 am pada 12 February 2014 Permalink | Balas  

    bekerjaAllah Lebih Tahu Yang Terbaik Buat Kita

    Sore itu kulihat suamiku mondar mandir keluar masuk ruangan dengan wajah murung. Aku tahu sebabnya, dia tidak diterima dalam seleksi masuk S-2 di sebuah lembaga pendidikan yang dia inginkan, walaupun hasil test dia terbaik dari hasil tes peserta yang lain, dengan alasan suamiku telah diterima di lembaga lain yang masih ada dalam satu naungan.

    Suatu hal yang sangat wajar bila dia kecewa. Namun aku mencoba untuk menghibur walau aku sendiri merasakan kesedihan yang sama, dengan mengatakan: “Sudahlah mas, Insya Allah ada hikmahnya. Mungkin ini pilihan yang terbaik dari Allah buat kita”.

    Suamikupun berusaha untuk melapangkan hati, berusaha menghilangkan kekecewaan, dan menjalani pilihan Allah itu dengan sungguh-sungguh. Dengan rasa yakin, Allah pasti memberi yang terbaik.

    Benar saja, dalam perjalanan kuliah, Allah memberikan kepada suamiku tempat kerja yang memungkinkan untuk memperoleh beasiswa belajar. Padahal sekiranya suamiku diterima di lembaga yang dia inginkan, tidak ada program beasiswa di sana, walaupun diakui secara kualitas pendidikan di lembaga tersebut mungkin lebih baik.

    Beberapa bulan sebelum beasiswa turun, negeri ini dilanda krisis ekonomi. Segala kebutuhan pokok naik, biaya transport naik, dan usaha yang dirintis suamiku tidak lancar. Apabila suamiku diterima di lembaga pendidikan yang dia inginkan, mungkin study-nya tidak selesai, dan pekerjaanpun lepas entah kemana.

    Inilah sekilas pengalaman pribadi kami, yang mungkin dapat diambil hikmahnya. Bahwa, seringkali kita sulit menerima kenyataan yang ditentukan oleh Allah Sang Penguasa kepada kita. Hingga kita banyak berkeluh kesah, memendam kekecewaan yang panjang dan bersu’udzon kepada Allah. Bahkan ada yang sampai berani mengatakan, Allah tidak adil (na’udzu billahi min dzaalik).

    Demikianlah, kehidupan kita senantiasa diwarnai dengan kejadian yang senantiasa berpasangan. Ada senang ada susah, ada kesuksesan ada kegagalan. Yang sering kali kita tidak mengerti dan tidak mampu memahami hikmah dibalik setiap peristiwa. Yang kesemuanya mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersyukur atas setiap rahmat yang dianugerahkan kepada kita, dan bersikap sabar dalam setiap ujian.

    Kita harus meyakini sepenuhnya bahwa Allah Pencipta kita, lebih Tahu mana yang terbaik bagi kita. Apa saja yang kita inginkan dan kita senangi, belum tentu baik menurut pandangan Allah. Sebaliknya, apa yang tidak kita inginkan dan tidak kita senangi belum tentu buruk untuk kita, menurut pandangan Allah.

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al Baqoroh : 216).

    Sehingga, seharusnyalah kita sebagai ummat-Nya selalu menggantungkan diri kepada-Nya. Mengkomunikasikan segala keinginan kepada-Nya. Memohon petunjuk dan bimbingan untuk dapat memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk, dan selalu berprasangka baik kepada Allah atas segala ketentuan yang ditetapkan.

    Menyertakan do’a dalam setiap usaha. Dan lapang dada, tawakkal kepada Allah terhadap segala yang terjadi. Sehingga kehidupan ini akan menjadi nikmat dijalani. Nikmat yang dianugerahkan-Nya akan menambah ketaatan kita, dan cobaan yang diberikan akan menjadikan kita lebih dekat kepada-Nya.

    “Robbi awzi’nii an asykuroo ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shoolihan tardhoohu wa ad khilnaa birohmatika fii ‘ibaadikashshoolihiin”.

    Ya Robb kami, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada dua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh. (QS An Naml:19).

    Wallaahu ‘a’lam bishshowwab.

    ***

    Diambil dari artikel kiriman Ummu Shofi, http://www.eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 8:32 am pada 11 February 2014 Permalink | Balas  

    quranOrang Yang Mengucapkan Syahadat, Pasti Masuk Surga

    Bagaimana hukumnya orang yang semasa hidupnya selalu mengerjakan maksiat, akan tetapi pada akhir hayatnya (ketika sakaratul maut) dia mengucapkan dua kalimat Syahadat?

    Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan bertauhid, yaitu sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir dia berikrar dan mengucapkan dua kalimat Syahadat, maka dia berhak berada di sisi Allah dan masuk surgaNya.

    Orang tersebut sudah dapat dipastikan oleh Allah akan masuk surga, walaupun masuknya terakhir (tidak bersama-sama orang yang masuk pertama), karena dia diazab terlebih dahulu di neraka disebabkan kemaksiatan dan dosa-dosanya yang dikerjakan, yang belum bertobat dan tidak diampuni. Tetapi dia juga tidak kekal di neraka, karena didalam hatinya masih ada sebutir iman. Adapun dalil-dalilnya sebagaimana

    diterangkan dalam hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, yaitu:

    Dari Abu Dzar r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ kemudian meninggal, maka pasti masuk surga.”

    Dari Anas r.a., bahwa Nabi saw. telah bersabda, “Akan keluar dari neraka bagi orang yang mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ walaupun hanya sebesar satu butir iman di hatinya.”

    Dari Abu Dzar pula, dia telah berkata bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda, “Telah datang kepadaku malaikat Jibril dan memberi kabar gembira kepadaku, bahwa barangsiapa yang meninggal diantara umatmu dalam keadaan tanpa mempersekutukan Allah, maka pasti akan masuk surga, walaupun dia berbuat zina dan mencuri.” Nabi saw. mengulangi sampai dua kali.

    Banyak hadis yang menunjukkan bahwa kalimat Syahadat memberi hak untuk masuk surga dan terlindung dari neraka bagi yang mengucapkannya (mengucap Laa ilaaha illallaah). Maksudnya ialah, meskipun dia banyak berbuat dosa, dia tetap masuk surga, walaupun terakhir.

    Sedangkan yang dimaksud terlindung dari neraka ialah tidak selama-lamanya di dalam neraka, tetapi diazab terlebih dahulu karena perbuatan maksiatnya.

     
  • erva kurniawan 8:28 am pada 10 February 2014 Permalink | Balas  

    Apa syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam? 

    quranSyarat Utama Bagi Orang Yang Masuk Islam

    Apa syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam?

    Syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam ialah mengucapkan dua kalimat Syahadat. Yaitu, “Asyhadu allaa ilaaha ilallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah.” Barangsiapa yang mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisannya, maka dia menjadi orang Islam. Dan berlaku baginya hukum-hukum Islam, walaupun dalam hatinya dia mengingkari. Karena kita diperintahkan untuk memberlakukan secara lahirnya. Adapun batinnya, kita serahkan kepada Allah. Dalil dari hal itu adalah ketika Nabi saw. menerima orang-orang yang hendak masuk Islam, beliau hanya mewajibkan mereka mengucapkan dua kalimat Syahadat. Nabi saw. tidak menunggu hingga datangnya waktu salat atau bulan Puasa (Ramadhan).

    Di saat Usamah, sahabat Rasulullah saw, membunuh orang yang sedang mengucapkan, “Laa ilaaha illallaah,” Nabi menyalahkannya dengan sabdanya, “Engkau bunuh dia, setelah dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah.” Usamah lalu berkata, “Dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah karena takut mati.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kamu mengetahui isi hatinya?”

    Dalam Musnad Al-Imam Ahmad diterangkan, ketika kaum Tsaqif masuk Islam, mereka mengajukan satu syarat kepada Rasulullah saw, yaitu supaya dibebaskan dari kewajiban bersedekah dan jihad. Lalu Nabi saw. bersabda, “Mereka akan melakukan (mengerjakan) sedekah dan jihad.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 8:24 am pada 9 February 2014 Permalink | Balas  

    tidurMimpi, Sekedar Bunga Tidur atau Mempunyai Makna?

    Apakah mimpi seorang muslim dapat ditafsirkan (memiliki alamat) atau hanya sekedar bunga tidur belaka?

    Mimpi bisa saja sekedar bunga tidur tapi bisa pula memiliki makna atau pertanda akan suatu hal. Namun yang jelas sebuah mimpi tidak bisa dijadikan dasar hukum dalam syariat Islam.

    Sebagai contoh, bila anda dalam kondisi harus mengambil keputusan pribadi untuk menentukan pilihan pasangan hidup, maka anda disunnahkan untuk shalat istikharah yang intinya meminta petunjuk dari Allah SWT. Dan diantara cara datangnya petunjuk itu adalah melalui mimpi. Sehingga atas dasar hal itu anda memiiki kekuatan batin untuk memilih pasangan hidup yang menurut anda paling sesuai. Berarti mimpi anda dalam hal ini bukanlah sekedar bunga tidur. Dan pengambilan keputusan pribadi untuk masalah ini dibenarkan secara syariat.

    Tapi bila ada seorang mengatakan bahwa tadi malam mimpi bertemu dengan kiyai anu lalu kiayi itu memberitahu hukum syariat tertentu, misalnya dia mengatakan bahwa khamar itu tidak haram diminum asal tidak terlalu banyak, maka ini sudah pasti sesat dan tidak bisa dijadikan dalil atas suatu hukum agama.

    Kecuali mimpi itu terjadi pada diri seorang nabi yang diutus Allah kepada manusia untuk membawa risalah. Seperti mimpinya Nabi Ibrahim AS bahwa beliau menyembelih puteranya Ismail. Mimpi ini adalah mimpi yang memiliki nilai syariat dan perintah dari Allah SWT. Tapi bila terjadi pada manusia biasa, maka tidak boleh dijadikan dasar syariat. Karena yang berhak membawa syariat itu hanyalah para nabi. Dan semua manusia sejak para shahabat hingga manusia terakhir terikat dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW saja. Mereka sendiri tidak berhak untuk menjadi ‘agen’ wahyu atau syariat yang baru.

    Wallahu a‘lam bishshowab.

    ***

    Diambil dari kolom konsultasi, http://www.syariahonline.com

     
  • erva kurniawan 8:21 am pada 8 February 2014 Permalink | Balas  

    pengemisMulailah Memberi

    Bila tak seorang pun berbelas kasih pada kesulitan anda. Atau, tak ada yang mau merayakan keberhasilan anda. Atau tak seorang pun bersedia mendengarkan, memandang, memperhatikan apa pun pada diri anda. Jangan masukkan ke dalam hati.

    Manusia selalu disibukkan oleh urusannya sendiri. Manusia kebanyakan mendahulukan kepentingannya sendiri. Anda tak perlu memasukkan itu ke dalam hati. Karena hanya akan menyesakkan dan membebani langkah anda.

    Ringankan hidup anda dengan memberi pada orang lain. Semakin banyak anda memberi semakin mudah anda memikul hidup ini. Berdirilah di depan jendela, pandanglah keluar. Tanyakan pada diri sendiri, apa yang bisa anda berikan pada dunia ini. Pasti ada alasan kuat mengapa anda hadir di sini. Bukan untuk merengek atau meminta dunia menyanjung anda.

    Keberadaan anda bukan untuk kesia-siaan.

    Bahkan seekor cacing pun dihidupkan untuk menggemburkan tanah. Dan, sebongkah batu dipadatkan untuk menahan gunung. Alangkah hebatnya anda dengan segala kekuatan yang tak dimiliki siapapun untuk mengubah dunia. Itu hanya terwujud bila anda mau memberikannya.

    ***

    Diambil dari artikel IA-WIKUSUMA, kiriman sdr. Pitoyo

     
  • erva kurniawan 8:15 am pada 7 February 2014 Permalink | Balas  

    Bsyukur (1)elajar Bersyukur

    Seorang Ibu terlihat gusar, setelah melihat tumpukan piring kotor di dapurnya. Semua itu bekas makan siang beberapa orang tamu yang baru saja berkunjung. Bukan karena banyaknya cucian piring, tetapi masih terlihatnya potongan-potongan daging bersisa, belum lagi sisa nasi yang masih menumpuk di piringnya. Ah… padahal untuk menyediakan lauk pauk itu tentu si ibu mesti mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Semua itu demi menjamu tamunya. Kalau saja para tamu itu hanya memakan daging dan mengambil nasi secukupnya saja, tentu tidak akan ada makanan bersisa di piring kotor. Dan anak-anaknya bisa ikut menikmati sebagian daging utuh lainnya. Melihat sisa potongan daging itu, si Ibu bingung, mau di buang … sayang… mau di olah lagi… sudah kotor bercampur sisa makanan lain…. tapi Alhamdulillah tetangga sebelah punya kucing… mungkin ini rezeki si kucing.

    ***

    “Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl:18).

    Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita. Nikmat iman, nikmat sehat, nikmat penghidupan (harta, ilmu, anak, waktu luang, ketentraman, dan lain-lain) serta nikmat-nikmat lain yang tak terkira. Namun dengan sekian banyak nikmat yang Allah berikan seringkali kita lupa dan menjadikan kita makhluk yang sedikit sekali bersyukur, bahkan tidak bersyukur, Na’udzubillahi min dzalik…

    Seringkali kita baru menyadari suatu nikmat bila nikmat itu di ambil atau hilang dari siklus hidup kita. Ketika sakit, baru kita ingat semasa sehat, bila kita kekurangan baru kita ingat masa-masa hidup cukup.

    Syukur diartikan dengan memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita, berupa perbuatan ma’ruf dalam pengertian tunduk dan berserah diri pada-Nya. Cobalah kita memikirkan setiap langkah yang kita lakukan. Bila makan berlebihan dan bersisa. Bayangkan, di tempat lain begitu banyak orang yang kesulitan dan bekerja keras demi untuk mencari sesuap nasi. Bahkan banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung, mencari makan dari tong-tong sampah. Lantas sedemikian teganyakah kita menyia-nyiakan rezeki makanan yang didapat dengan berbuat mubazir. Ketika punya waktu luang malah dipergunakan untuk beraktivitas yang tidak bermanfaat bahkan cenderung merugikan orang lain. Kala tubuh sehat, malah lebih banyak dipakai dengan melangkahkan kaki ke tempat tak berguna. Tidak terbayangkah bila nikmat itu hilang dengan datangnya penyakit atau musibah lainnya. Ah… alangkah ruginya… karena semuanya menjadi percuma disebabkan tidak bersyukurnya kita atas nikmat. Bahkan karena sikap-sikap tadi yang didapat hanyalah dosa dan murka-Nya. Na’udzubillah….

    Kita harus berusaha mengaktualisasikan rasa syukur kita dari hal-hal yang sederhana. Setiap aktifitas sekecil apapun usahakan untuk selalu sesuai aturan-Nya, selaku pencipta kita. Kerusakan yang sekarang timbul di sekeliling kita tidak lain karena sikap kufur nikmat sebagian dari kita. Bayangkan, negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi sebagian besar rakyatnya miskin.

    Untuk itu, tidak ada salahya bila kita mulai dari diri dan keluarga, belajar bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Agar nikmat itu jangan sampai menjadi naqmah (balasan siksa), karena kufur akan nikmat-Nya. Mulailah untuk sering melihat kondisi orang-orang yang berada di bawah kita. Jika sudah, tentulah kita akan lebih banyak mengatakan “Alhamdulillah”. Seperti dalam hadits Rasulullah Saw, ”Perhatikanlah orang yang berada di bawah tingkatanmu (dalam urusan duniawi), dan jangalah kamu memandang kepada orang yang berada di atasmu. Itu lebih layak bagimu supaya kamu tidak menghina pemberian Allah kepadamu.” (HR.Muslim).

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kehilangan nikmat (yang telah Engkau berikan), dari siksa-Mu yang mendadak, dari menurunkannya kesehatan (yang engkau anugrahkan) dan dari setiap kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar).

    ***

    Diambil dari http://www.eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 7:24 am pada 6 February 2014 Permalink | Balas  

    kasih-sayang-ibuAnak Sepasang Bintang

    Bunda …, jadah itu artinya apa?”

    Bunda tersentak waktu itu. Tak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari sela bibir mungilku, gadis kecilnya yang baru berumur lima tahun. “Kenapa Sayang?” Bunda bertanya sambil mendekapku di dadanya. “Orang-orang menyebutku seperti itu,” jawabku dengan sangat polos. Aku memeluk Bunda semakin erat dan merasakan perlindungannya.

    Di waktu lainnya aku ajukan pertanyaan lain padanya.

    “Bunda …, apa saya punya Ayah? Orang-orang itu bilang saya tak punya Ayah,” tanyaku. Bunda baru saja selesai mendongeng padaku waktu itu. Bunda tertegun begitu lama.

    “Ada!” tegas Bunda meyakinkanku. “Di mana? Kenapa aku tak bisa menemuinya?”

    Bunda membimbingku bangkit dari tempat tidur kayu berkepinding. Berjalan ke halaman tanpa penerangan.

    “Kau lihat langit di atas sana?” Bunda bertanya tanpa melepas genggamannya. Aku mengangguk mengiyakan.

    “Ayahmu ada di sana!” jawab Bunda meyakinkan.

    Aku tidak melihat apa-apa. Selain langit hitam dan taburan berjuta bintang tidak ada gambar wajah manusia terlihat di sana.

    Tapi aku tidak ingin bertanya lagi. Barangkali ayahku adalah satu diantara kerlip bintang-bintang itu. Besok jika anak-anak itu menggodaku lagi dan mengatakan aku tidak punya ayah aku sudah punya jawabannya.

    • * *

    Sejak kecil aku cuma punya Bunda. Perempuan yang miskin tanpa harta tapi penuh cinta. Yang selalu menyediakan dadanya untuk menyerap luka-luka. Dengan upah seadaanya sebagai tukang cuci pakaian pada beberapa keluarga, Bunda selalu menabung. Katanya aku harus sekolah setinggi mungkin dan jadi orang pandai. Agar tidak bodoh dan melarat seperti dirinya.

    Bunda lewati seluruh kehidupan berat sendiri. Mengasuh anak yang terus tumbuh tanpa pendamping di sisi. Tidak mudah memang. Tapi tidak sekalipun aku melihatnya berduka. Kecuali sekali pada suatu malam aku terbangun dan melihatnya mengisak di atas sehelai sajadah.

    Setiap kali aku menanyakan hal itu pada Bunda, cuma air matalah yang kemudian menjadi jawabannya. Seperti menguak luka yang tak pernah kering sama sekali. Lalu aku jadi tak pernah tega memaksa Bunda untuk menjawabnya. Sebab Bunda terlalu mulia untuk terluka.

    Aku tidak ingin mengecewakan Bunda. Perjuangannya tidak boleh sia-sia. Keinginannya melihatku sekolah setinggi mungkin memacu semangatku untuk belajar dengan giat. Aku selalu berhasil mencapai gelar juara sejak duduk di bangku SD hingga SMU. Lalu kemudian aku terpaksa berpisah dengan Bunda. Aku diterima masuk tanpa test di salah satu perguruan tinggi terkemuka di kota Pontianak. Sekarang aku bahkan telah diterima bekerja di salah satu Bank Syariah terkemuka yang baru berdiri. Aku ingin menjemput Bunda untuk mengajaknya pindah ke kota ini. Tapi Bunda menolak.

    • * *

    Kukira dengan meninggalkan tempat kelahiran aku akan bisa hidup dengan tenang. Semua mimpi buruk masa kecil tentang siapa ayahku tidak akan memburuku sampai ke kota ini. Tapi tidak. Sepertinya ia menjelma jadi kutukan yang mengikuti kemana pergi.

    Aku telah dewasa kini. Telah siap untuk menikah dan berkeluarga. Sudah tiga orang lelaki shaleh yang datang mengajukan lamaran padaku. Tapi sudah tiga kali pula aku terpaksa menolaknya. Aku takut menceritakan keluargaku. Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku anak sebuah bintang. “Rabbi …, aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang menjadi ayahku. Hanya itu. Apa aku durhaka pada Bunda?”

    “Kau beruntung masih mempunyai Bunda. Aku dibesarkan di panti asuhan, tak tahu siapa keluargaku.” Asti , teman satu kamarku mencoba menghiburku. Aku insyaf kini. Aku masih sangat beruntung mempunyai Bunda. Dalam sujudku malam itu aku menangis. Mohon kesempatan pada Allah untuk membahagiakan Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga.

    • * *

    Berita itu sampai lewat seorang tamu. Salah seorang tetangga kami di kampung dulu. Sengaja datang untuk mengunjungiku. Padaku ia cerita Bunda sedang sakit. “Sebenarnya ia sakit sejak lama. Tapi tak mau cerita. Bunda bilang tak mau kalau pekerjaanmu terganggu. Tapi aku pikir kau memang perlu tahu!”

    Di rumah aku lihat Bunda terbaring di tempat tidurnya. Tempat tidur yang sama seperti masa kecilku dulu. Tempat Bunda biasa mendekap, mendongeng dan berdoa sebelum lelap menyergapku.

    “Kenapa Bunda tidak memberitahuku?” tanyaku setelah mencium tangannya.

    “Bunda tak mau pikiranmu terganggu,” jawabnya sambil tetap mengukir senyum di wajahnya. Tapi aku melihatnya semakin lemah saja. “Bunda ingin mengatakan sesuatu tentang ayahmu, ia …,”

    “Tidak perlu, Bunda,” potongku cepat. “Jangan katakan apa-apa. Tidak ada yang perlu Bunda jelaskan tentang masa lalu. Bunda tetaplah Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga!”

    Aku memang sudah tidak lagi perduli. Bunda manusia biasa. Mungkin pernah khilaf di masa lalunya. Tapi bagiku kini Bunda adalah anugerah Allah terbesar dalam hidup ini. Dua hari kemudian Bunda berpulang ke Rahmatullah.

    Malam itu kembali aku menatap langit. Seperti waktu kecil dulu saat aku bertanya pada Bunda di mana ayahku. Bunda akan menunjuk ke arah langit. Tempat kegelapan malam dihiasi pendar jutaan bintang. Bunda kini telah pergi. Menyusul ayahku di tempat yang abadi. Dan aku tahu kini. Jika seorang lelaki shaleh datang untuk melamar dan bertanya tentang keluargaku, aku akan mengatakan bahwa aku adalah anak sepasang bintang!

    ***

    Diambil dari Rubrik Cerpen Islamuda

     
  • erva kurniawan 7:21 am pada 5 February 2014 Permalink | Balas  

    sombongKesombongan Macam Apa?

    Sebuah kapal karam diterjang badai hebat. Hanya dua lelaki yang bisa menyelamatkan diri dan berenang ke pulau kecil yang gersang. Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan kecuali berdoa. Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat membagi pulau kecil itu menjadi dua dan mereka tinggal berseberangan di sisi-sisi pulau tsb.

    Doa pertama, mereka memohon diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki ke satu melihat sebuah pohon penuh buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.

    Seminggu kemudian, lelaki ke satu merasa kesepian dan memutuskan berdoa agar diberikan istri. Keesokan harinya, ada kapal karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang terdampar di sisi pulau tempat lelaki ke satu tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apanya.

    Segera saja, lelaki ke satu ini berdoa memohon rumah, pakaian, dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban, semua yang diminta hadir untuknya. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya, lelaki ke satu ini berdoa meminta kapal agar ia dan istrinya dapat meninggalkan pulau itu. Pagi hari mereka menemukan kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki ke satu dan istrinya naik ke atas kapal dan siap-siap berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan meninggalkan lelaki ke dua yang tinggal di sisi lain pulau. Menurutnya, lelaki kedua itu tidak pantas menerima berkat tersebut karena doa-doanya tak pernah terkabulkan.

    Begitu kapal siap berangkat, lelaki ke satu mendengar suara dari langit,”Hai, mengapa engkau meninggalkan rekanmu yang ada di sisi lain pulau ini?”.

    “Berkatku hanyalah milikku sendiri, karena hanya doakulah yang dikabulkan,” jawab lelaki ke satu.

    “Doa temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka,ia tak pantas mendapatkan apa-apa.”

    “Kau salah!” suara itu membahana. “Tahukah kau bahwa rekanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan, semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa.”

    Lelaki ke satu itu bertanya, “Doa macam apa yang ia panjatkan sehingga aku harus berhutang atas semua ini padanya?”

    “Ia berdoa agar semua doamu dikabulkan!”

    ***

    Kesombongan macam apakah yang membuat kita merasa lebih baik dari yang lain? Banyak orang yang telah mengorbankan segala sesuatu demi keberhasilan kita. Tak selayaknya kita mengabaikan peran orang lain, dan janganlah menilai sesuatu hanya dari “yang terlihat” saja.

    Haris Satriawan

     
  • erva kurniawan 7:16 am pada 4 February 2014 Permalink | Balas  

    siluet sungaiAl-Bashri dan Gadis Kecil

    Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusut dan terurai, tak beraturan.

    Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu. Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya. “Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini.” Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, “Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini.”

    Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. “Gadis kecil yang bijak,” gumam Al-Bashri. “Aku akan ikuti gadis kecil itu.”

    Gadis kecil itu tiba di makan ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.

    “Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam? Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?”

    “Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalam, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?”

    Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.

    “Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, “Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercabik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, Ayah?”

    “Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?”

    “Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?”

    “Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?”

    “Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan  tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?”

    “Jika kupanggil, engkau selalu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?”

    “Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti.”

    Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, “Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai.”

    Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.

    ***

    Maraji’: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah (Al-Islam)

     
  • erva kurniawan 7:11 am pada 3 February 2014 Permalink | Balas  

    cintaSi Pencari Cinta

    Author: Abu Aufa

    Alkisah di suatu zaman, hidup seorang lelaki yang mencari cinta, namanya Arjuna. Saking ngebetnya, gunung tertinggi didaki, isi bumi dijelajahi, lautan pun diarungi, cuma untuk mencari tempat berlabuh, yaitu wanita. Gilee beneer… Nih Arjuna, kagak peduli gunung, bumi, lautan, alam semesta ini punya siapa, maen grasak-grusuk aja! Di setiap tempat Arjuna berkata, “Wahai wanita, cintailah aku.” Ih… nih anak, malu-maluin ya! Masa’ sih sampe’ gitu-gitu banget, ya…namanya juga pencari cinta bo!

    Di kisah yang lain, seorang laki-laki yang bernama Ibrahim pun mencari cinta. Saat malam mulai menyapa alam, tampak sebuah bintang, tak lama kemudian sang bintang pun tenggelam. “Aku tak menyukai yang tenggelam,” kata Ibrahim. Beberapa saat kemudian, terbitlah sang rembulan, bersinar indah penuh kelembutan. Namun, bulan pun hanya sesaat, tersipu malu dengan keindahannya. Adzan subuh pun menyeruak kegelapan, kokok ayam jantan membelah tetesan embun pagi, tak lama keperkasaan mentari menerangi jagat raya ini, “Inikah dia yang kucari?” tanya beliau pula. Bukan…bukan itu, karena mentari pun bersujud, lalu merunduk sembunyi.

    Ikhwah fillah rahimakumullah…

    Kisah di atas adalah ilustrasi dari 2 manusia si pencari cinta. Di dunia ini, betapa banyak orang-orang yang mencari cinta. Namun jelas ada bedanya disini, antara laki-laki yang bernama Arjuna dengan Ibrahim a.s., yang namanya termaktub indah di lembaran suci Al Qur’an. Arjuna mencari cintanya tanpa tedeng aling-aling, gak peduli sana-sini, jumpalitan, cuma mencari cinta wanita. Emangnya salah si Arjuna, karena mencari cinta? Ih…jangan protes dulu dong, emang sih fitrah manusia itu ya pasti merasakan cinta [QS Al Imran: 14]. Tapi apa iya harus seperti itu? Masa’ sih akal, nalar dan fikiran sampe’ gak jalan, bahkan hingga melebihi cinta-Nya! Waduh…

    Padahal banyak kisah cinta sejati di dunia ini lho, salah satunya adalah cinta Ibrahim yang tak pernah pudar, setelah ia mengenal dan mengetahui siapa yang patut menerima cintanya. Beliau mengenal, dan kemudian sayang, lantas jatuh hati kepada Sang Pencipta. Karena itu yang dicintai pun berkenan menyambut cintanya, bahkan menjadikannya sebagai khalilullah [QS An Nisaa': 125].

    Cinta disini bukan cinta yang penuh kepalsuan, emosi apalagi birahi, namun cinta laksana mutiara yang memancarkan cintanya pada Rabb seluruh jagat raya ini, mengaliri denyut nadi, helaan nafas serta aliran darah untuk tunduk dan patuh pada titah-Nya. Cinta ini mestinya menempati prioritas utama pada diri seorang muslim, yakni cinta kepada Allah SWT, Rasul dan jihad di jalan-Nya. Inilah cinta hakiki!

    Dari nenek moyang kita dulu, sampai sekarang, buanyak buanget manusia-manusia yang telah jatuh cinta, namun apakah cinta mereka dan kita adalah cinta hakiki sebagaimana cinta mereka yang disebut ‘manusia langit?’

    Adakah cinta kita adalah cinta seorang Sumayah binti Khayyath, yang siap menjadi syahidah pertama dalam sejarah Islam demi mempertahankan akidah yang dicintainya. Ataukah Ali bin Abi Thalib r.a. yang rela ‘pasang badan’ menggantikan Rasulullah SAW di tempat tidurnya sewaktu beliau keluar untuk hijrah, padahal beliau tahu maut telah didepan mata siap mengancam jiwanya? Atau pun Abu Bakar Shiddiq r.a. yang tak kalah ikhlas tangan dan kakinya dipatuk binatang berbisa saat berdua dengan seseorang yang dicintainya? Ia tak ingin tubuh orang yang dicintai dan dikasihinya tersentuh sedikitpun oleh binatang-binatang yang berbisa itu.

    Mereka hanyalah sedikit contoh dari orang-orang yang jatuh cinta dengan cinta yang sebenarnya. Sebuah cinta sejati, cinta hakiki yang akan mendapatkan ridha Illahi Rabbi.

    Nah…sekarang milih yang mana, seorang Arjuna yang grasak-grusuk mencari cinta, atau seorang Ibrahim a.s., Sumayah binti Khayyath, Ali bin Abi Thalib r.a. atau pun Abu Bakar Shiddiq r.a. yang mencari cinta sejati?

    Ya akhi wa ukhti,

    Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang selalu mendambakan cinta, keridhoan kepada-Nya ya, insya Allah, aamin allahumma aamiin.

    ***

    Abu Aufa

     
  • erva kurniawan 7:07 am pada 2 February 2014 Permalink | Balas  

    airmata 2Apa Salahnya Menangis

    Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya.

    Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina dan merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.

    Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur’an, ketika sampai pada ayat: “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka.

    Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo’a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat.

    Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo’a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada.

    ***

    Dari eramuslim

     
  • erva kurniawan 6:57 am pada 1 February 2014 Permalink | Balas  

    sholat-subuhSuara Emas Dari Ethiopia

    Suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah, Bilal bin Rabbah, salah seorang sahabat utama, bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, Bilal bertemu dengan Rasulullah.”Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu,” demikian Rasulullah berkata dalam mimpi Bilal.”Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu,” kata Bilal masih dalam mimpi-Nya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu.

    Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah. Hari itu, Madinah benar-benar terbungkus rasa haru. Kenangan semasa Rasulullah masih bersama mereka kembali hadir, seakan baru kemarin saja Rasulullah tiada. Satu persatu dari mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia mulia itu.

    Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat meminta Bilal mengumandangkan adzan Maghrib,  padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi muadzin sejak Rasulullah tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal. Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu. Senjapun datang mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan. Tatkala, suara Bilal terdengar, seketika, Madinah seolah tercekat oleh berjuta memori. Tak terasa hampir semua penduduk Madinah meneteskan air mata. “Marhaban ya Rasulullah,” bisik salah seorang dari mereka.

    Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk mengumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat. Waktu itu, beberapa saat setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah, Muhammad, Bilal mengumandangkan adzan. Jenazah Rasulullah, belum dimakam-kan. Satu persatu kalimat adzan dikumandangkan sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah.” Tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah Rasulullah pecah. Seperti suara guntur yang hendak membelah langit Madinah.

    Kemudian setelah, Rasulullah telah dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal untuk adzan. “Adzanlah wahai Bilal,” perintah Abu

    Bakar. Dan Bilal menjawab perintah itu, “Jika engkau dulu membe-baskan demi kepentinganmu, maka aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, maka biarkan aku menentukan pilihanku”. “Hanya demi Allah aku membebaskanmu Bilal,” kata Abu Bakar. “Maka biarkan aku memilih pilihanku,” pinta Bilal. “Sungguh, aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah,” lanjut Bilal.

    “Kalau demikian, terserah apa maumu,” jawab Abu Bakar.

    Bilal bin Rabah, terakhir melaksanakan tugasnya sebagai muadzin saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Saat

    itu, Bilal sudah bermukim di Syiria dan Umar mengunjunginya. Saat itu, waktu shalat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk

    mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan shalat. Bilal pun naik ke atas menara dan bergemalah suaranya.

    Semua sahabat Rasulullah, yang ada di sana menangis tak terkecuali. Dan di antara mereka, tangis yang paling kencang

    dan keras adalah tangis Umar bin Khattab. Dan itu, menjadi adzan terakhir yang dikumandangan Bilal, hatinya tak kuasa

    menahan kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir zaman.

    ***

    Diambil dari milis

     
    • Suryadi Achmad 6:50 am pada 9 Februari 2014 Permalink

      Ass wr wb, Saya ada terima email dari sepupu saya yang intinya sama yaitu tentang adzan terakhir dari Bilal. Walaupun ada sedikit berbeda, tetapi intinya sama.

      Wass, Suryadi

  • erva kurniawan 6:25 am pada 31 January 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan  anakSepotong Maaf Untuk Mama

    “Ki… Tolongin mama sebentar dong.”

    Aku merungut sambil beringsut setengah malas. Beginilah nasib jadi anak satu-satunya di rumah. Sejak bang Edo kuliah di Jakarta, akulah yang jadi tempat mama minta tolong. Biasanya bang Edolah yang mengantar mama ke supermarket, ke pengajian, atau sekadar membawakan tas mama yang pulang dari kantor. Memang begitulah abangku yang satu itu. Sedang aku ? Wuih, biasanya aku dengan bandelnya menghindar. Tapi sekarang aku sudah tidak bisa lari lagi.

    Memang, sejak papa meninggal, mama makin sering minta ditemani ke mana-mana. Mungkin mama kesepian. Di hari kerja, mama disibukkan dengan urusan kantornya. Sedang di akhir pekan, mama selalu minta ditemani anak-anaknya.

    “Ki, mama minta tolong dong…”

    Aku menyumpalkan tangan ke telinga. Aduh, mama….

    “Ki, tolong ambilin berkas kerja mama di bu Joko dong.”

    “Lho, kok bisa ada di bu Joko, Ma ?”

    “Iya, tadi habis pulang dari kantor, mama mampir dulu ke sana. Kayaknya berkas-berkas itu ketinggalan deh di sana. Soalnya di mobil udah nggak ada. Bisa nggak kamu ambilin ?”

    Aku melongo, sering sekali mama minta tolong saat aku benar-benar sibuk. Rasanya ingin teriak. Kali ini aku benar-benar sibuk ! Besok ada dua tugas yang harus dikumpulkan. Belum lagi sorenya ada ujian akhir. Mana sempat mampir-mampir ke rumah orang? Mana sudah malam begini…

    “Aduh, Mama…. Kiki bener-bener sibuk… Besok ada ujian dan tugas-tugas yang harus dikumpulin. Jadi…”

    “Ya, udah kalo kamu nggak mau.”, balas mama dengan ketus. Aku hanya bisa menghembuskan nafas dan kembali mengerjakan tugasku.

    “…Kamu tuh memang nggak pernah kasihan sama Mama…”, bisik mama lirih dengan sedikit terisak.

    Suara mama sedikit sumbang. Sepertinya mama sedang terkena flu. Aku menatap langit-langit dengan lesu. Dengan lemas akhirnya aku memanggil mama. “Iya deh Ma… Biar Kiki yang pergi…”

    Gelap. Gelap sekali. Apalagi banyak lampu jalanan yang sudah mati. Capek rasanya harus berusaha melihat. Rumah bu Joko sebenarnya tidak jauh dari rumah kami. Tapi karena sudah malam, palang-palang jalan di kompleks itu sudah diturunkan dan tidak ada penjaganya. Jadinya, aku harus mengambil jalan memutar yang letaknya cukup jauh. Kalau tidak salah, satu-satunya palang yang tidak ditutup ketika malam adalah… Ah, dari sini belok kiri. Astaghfirulllah… Ternyata ditutup juga… Aku membaringkan kepalaku di atas kemudi. Rasanya penat sekali.

    Entah, harus masuk ke kompleks ini lewat jalan yang mana. Setelah setengah jam berputar-putar, barulah aku menemukan jalan masuknya. Rasanya lega sekali ketika sampai di depan rumah bu Joko. Kutekan belnya sekali, tidak ada jawaban. Dua kali, tetap tidak ada jawaban. Tiga kali, empat kali, hasilnya tetap sama. Akhirnya dengan menelan setumpuk rasa malu, kutekan lagi bel rumah mereka sambil mengucapkan salam keras-keras. Dari belakang aku mendengar suara berdehem. Aduh, ada hansip. Aku menangguk basa-basi. Aduh, mama ! Bikin malu saja !

    “Oh, kertas apa ya ?”, tanya bu Joko dengan mata setengah mengantuk.

    Aku jadi tidak enak sendiri menganggu malam-malam begini. Menit-menit selanjutnya, kami berdua mencari-cari berkas yang dikatakan mama. Tidak hanya di ruang tamu. Tapi juga di ruang tengah, ruang makan dan dapur. Lalu aku menelepon ke rumah. “Ma, berkasnya nggak ada tuh. Mama simpan di map warna apa ?”

    “He..he…he…Udah ketemu, Ki. Ternyata sama bi Isah diturunin dari mobil terus ditaruh di meja makan.”

    “Tau gitu kenapa nggak telpon Kiki ! Kiki kan bawa handphone !”

    “Wah, maaf Ki… Mama nggak tahu kamu bawa handphone. Mama kira…”

    “Ah, udahlah ! Mama nyusahin Kiki aja !” Aku lantas membanting gagang telepon dengan sedikit kejam.

    Aku berbalik dan menemukan bu Joko menatapku dengan tatapan ngeri. Aku memaksakan sebuah senyum, minta maaf lalu pamit secepatnya. Setengah ngebut aku memacu mobilku. Hujan rintik-rintik membuat ruang pandangku semakin sempit. Nyaris jam dua belas malam. Hah, dua jam terbuang percuma. Kalau dipakai untuk mengerjakan tugas, mungkin sekarang sudah selesai… Dasar mama …

    Brakkk!!! Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras. Bunyinya seperti kaleng yang robek. Sesaat aku semuanya semakin gelap. Aku tidak bisa Lagi membedakan mana atas dan bawah. Sekujur tubuhku seperti dihimpit dari berbagai arah. Sejenak kesadaranku seperti lenyap.

    Penduduk-penduduk sekitar mulai berdatangan. Mereka membantuku keluar dari mobil yang sepertinya ringsek parah. Mataku dibasahi sesuatu. Ketika  kusentuh, rasanya lengket. Ya Allah, darah… Tubuhku lebih gemetar karena takut daripada karena sakit. “Neng, nggak apa-apa neng ?”, tanya seseorang.

    Aku berusaha berdiri walau sempoyongan. Kucoba menggerakkan tangan,kaki,  serta mencek apakah semuanya masih ada. Kupejamkan mata dan berusaha mencari sumber sakit. Sepertinya tubuhku baik-baik saja. Tidak ada yang patah. Aku menatap rongsokan mobilku dengan tidak percaya. Ternyata aku menabrak sebuah truk besar yang sedang diparkir di pinggir jalan. Sumpah, aku tidak melihatnya sama sekali tadi !

    “Neng, nggak apa-apa ?”, ucap seseorang mengulangi pertanyaannya. Aku berusaha menjawab. Tapi yang terasa malah sakit dan darah. Orang di hadapanku lalu mengucap istighfar. Barulah aku sadar apa yang menyebabkannya. Darah segar berlomba mengucur dari mulutku. Lidahku…Aku langsung tak sadarkan diri.

    Ketika tersadar, aku sudah berada di rumah sakit. Rasa nyeri mengikuti dan menghajarku tanpa ampun. Air mata menetes dari mataku… Ya Allah, sakit sekali….

    “Udah, Ki. Jangan banyak bergerak. Dokter bilang kamu butuh banyak istirahat.” Aku hanya bisa menatap mata mama yang sembab tanpa bisa menjawab sepatah katapun. Mama ikut menangis mendengar rintihanku. Kecelakaan itu tidak mencederaiku parah. Tidak ada tulang yang patah,tidak ada luka dalam. Hanya satu, lidahku nyaris putus karena tergigit olehku ketika tabrakan terjadi. Akibatnya lidahku harus dijahit. Sayangnya tidak ada bius yang bisa meredakan sakitnya. Setelah itupun dokter tidak yakin aku bisa berbicara selancar sebelumnya. Tangisku meluber lagi. Yang langsung teringat adalah setumpuk kata-kata dan perilaku kasar yang selama ini kulontarkan pada mama. Ini betul-betul hukuman dari Allah…

    Walau sepertinya hanya luka ringan, namun sakitnya teramat sangat. Setiap kali jarum disisipkan dan benangnya ditarik, sepertinya nyawaku dirobek. Dan dikoyak-koyak. Aku hanya bisa melolong tanpa bisa melawan. Kata dokter kalau lukanya di tempat lain, sakitnya mungkin bisa diredam dengan bius. Tapi tidak bisa jika lukanya di lidah. Hari-hari selanjutnya betul-betul siksaan. Lupakanlah tentang kuliah, tugas atau ujian. Untuk minum saja aku tersiksa. Aku menjerit-jerit tiap ada benda yang harus melewati mulutku.

    Aku hanya bisa menangis. Menangis karena sakit, dan penyesalan. Selama aku dirawat, mamalah yang dengan telaten menungguiku. Dengan sabar ia membantuku untuk apapun yang aku perlukan. Kami hanya bisa berkomunikasi lewat sehelai kertas. Berkali-kali aku tuliskan, “Mama, maafkan Kiki…”

    Mama juga sudah berkali-kali mengatakan telah memaafkan aku. Tapi tetap  saja rasa bersalah itu tak kunjung hilang. Ini benar-benar peringatan keras dari Allah. Aku benar-benar malu. Walau aktif di kegiatan keagamaan, ternyata nilai-nilai itu belum benar-benar mengalir dalam darahku. Aku tersenguk-senguk setiap ingat bagaimana cara aku memperlakukan mama.

    Bagaimana mungkin aku merasa diberatkan dengan permintaannya padahal aku sudah menyusahkannya seumur hidup ? Allah, ampuni aku… Aku benar-benar telah menzhalimi diriku sendiri…. Jangan biarkan aku mati sebagai anak durhaka…. Kukira penderitaanku berakhir jika sudah diizinkan pulang ke rumah.

    Ternyata hukuman ini belum berakhir di situ. Bulan-bulan selanjutnya aku harus berlatih mengucapkan kata-kata yang selama ini mengalir mudah dari bibirku. Kembali lagi mama membimbingku belajar bicara seperti yang ia lakukan ketika aku kecil. Himpitan penyesalan itu baru hilang ketika kata-kata itu berhasil kuucapkan walau patah-patah. “Mama… Maafkan Kiki…”

    ***

    Diambil dari tulisan Ariyanti Pratiwi, Matematika ’99 ITB, kiriman sdr. Andry Irawan,

     
  • erva kurniawan 5:26 am pada 30 January 2014 Permalink | Balas  

    Ada Air Mata Tertahan

    Oleh: M. Fauzil Adhim

    “Apabila datang kepadamu seorang laki-laki datang untuk meminang yang engkau ridho terhadap agama dan akhlaqnya maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi.” (HR Tarmidzi dan Ahmad)

    Saya tidak tahu apakah ini merupakan hukum sejarah yang digariskan oleh Allah. Ketika orang mempersulit apa yang dimudahkan Allah,  mereka akhirnya benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris tak menemukan jalan keluarnya. Mereka menunda-nunda pernikahan tanpa ada alasan syar’i dan akhirnya mereka mereka benar-benar takut melangkah di saat hati sudah sangat menginginkannya. Atau ada yang sudah benar-benar gelisah tak kunjung ada yang mau serius.

    Kadangkala lingkaran ketakutan itu berlanjut. Bila di usia dua puluh tahunan mereka menunda pernikahan karena takut dengan ekonominya yang belum mapan, di usia menjelang tiga puluh hingga sampai tiga puluh lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki mengalami sindrom kemapanan (meski wanita juga banyak yang demikian, terutama mendekati usia 30). Mereka (laki-laki) menginginkan pendamping dengan kriteria yang sulit dipenuhi. Seperti hukum kategori, semakin banyak kriteria semakin sedikit yang masuk kategori. Begitu pula kriteria tentang jodoh, ketika menetapkan kriteria yang terlalu banyak maka akhirnya bahkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan kita. Sementara wanita yang sudah berusia sektar 35 tahun, masalah nya bukan kriteria tetapi soal apakah ada orang yang mau menikah dengannya. Ketika usia sudah 40-an, ketakutan kaum laki-laki sudah berbeda lagi, kecuali bagi mereka yang tetap terjaga hatinya. Jika sebelumnya banyak kriteria yang dipasang pada usia 40-an muncul ketakutan apakah dapat mendampingi isteri dengan baik. Lebih-lebih ketika usia beranjak 50 tahun, ada ketakutan lain yang mencekam. Yaitu kekhawatiran ketidakmampuan mencari nafkah sementara anak masih kecil. Atau ketika masalah nafkah tak merisaukan khawatir kematian lebih dahulu menjemput sementara anak-anak masih banyak perlu dinasehati. Apabila tak ada iman maka muncul keputusasaan.

    WAHAI ALI JANGAN KAU TUNDA-TUNDA

    Apa yang menghimpit saudara kita sehingga mereka sanggup meneteskan air mata. Awalnya adalah karena mereka menunda apa yang harus disegerakan, mempersulit apa yang seharusnya dimudahkan. Padahal Rasululloh berpesan:

    “Wahai Ali, ada tiga perkara jangan di tunda-tunda, apabila sholat telah tiba waktunya, jenazah apabila telah siap penguburannya, dan perempuan apabila telah datang laki-laki yang sepadan meminangnya.” (HR Ahmad)

    Hadis ini menunjukan agar tidak boleh mempersulit pernikahan baik langsung maupun tak langsung. Secara langsung adalah menuntut mahar yang terlalu tinggi. Atau yang sejenis dengan itu. Ada lagi yang tidak secara langsung. Mereka membuat kebiasaan yang mempersulit, meski nyata-nyata menuntut mahar yang tinggi atau resepsi yang mewah. Sebagian orang mengadakan acara peminangan sebagai acara tersendiri yang tidak boleh kalah mewah dari resepsi pernikahan, sebagian lainnya melazimkan acara penyerahan hadiah atau uang belanja untuk biaya pernikahan secara tersendiri.

    Bila seseorang tak kuat menahan beban, maka bisa saja melakukan penundaan pernikahan semata karena masalah ini. Saya sangat khawatir akan keruhnya niat dan bergesernya tujuan. Sehingga pernikahan itu kehilangan barokahnya. Na’udzubillah

    Penyebab lain adalah lemahnya keyakinan kita bahwa Allah pasti akan memberi rezeki atau bisa jadi cerminan dari seifat tidak qona’ah  mencukupkan diri dengan yang ada).

    PILIHLAH YANG BERTAKWA

    Suatu saat ada yang datang menemui Al Hasan (cucu Rasululloh). Ia ingin bertanya sebaiknya dengan siapa putrinya menikah? Maka Al Hasan ra berkata:

    “Kawinkanlah dia dengan orang yang bertakwa kepada Allah. Sebab jika laki-laki mencintainya, ia memuliakannya, dan jika ia tidak  menyenaginya ia tidak akan berbuat zalim padanya.”

    Nasihat AL Hasan menuntun kita untuk membenahi pikiran. Jika kita menikah dengan orang yang bertakwa cinta yang semula tak ada meski Cuma benihnya dapat bersemi indah karena komitmen yang memenuhi jiwa.

    ***

     
  • erva kurniawan 2:26 am pada 29 January 2014 Permalink | Balas  

    berdoa 1Untaian Harap

    Dengarkanlah untaian harap seorang hamba yang duduk bersimpuh sambil menengadahkan tangan ditengah sunyinya malam diakhir sujud-sujud panjangnya…

    “….. Ya Allah berikan aku handphone lengkap dengan pulsanya yang banyak supaya aku bisa mudah berhubungan saudara2ku dan mengetahui kabarnya”

    “Ya Allah berikan aku notebook plus multimedia dan printer portable-nya agar aku bisa mengetahui informasi dunia memberitahu pada yang belum tahu dan membuat dokumentasi yang baik”

    “Ya Allah berikan aku mobil yang keciil saja supaya aku bisa dipakai urusan da’wah dengan mudah survey … syuro …jemput muajih..”

    “Ya Allah berikan aku sebuah rumah sederhana yang luaaas pekarangannya supaya bisa kujadikan markazud da’wah”

    “Ya Allah berikan aku kompor gas dan tabungnya supaya aku bisa buat konsumsi dengan cepat untuk para mujahid”

    “Ya Allah berikan aku otak yang encer dan kesempatan belajar setinggi2nya supaya aku bisa pintar dan mudah menghafal Al Qur’an”

    “Ya Allah berikan aku uang yang banyak biar bisa kusumbangkan pada yang membutuhkan”

    “Ya Allah berikan pasangan hidup yang Engkau sukai dan baik supaya aku bisa bersama-sama membangun miniatur daulah yang baik”

    “Ya Allah berikan aku anak-anak yang cerdik dan sholeh supaya bisa dijadikan kebanggaan dan tabungan di akhirat kelak”

    “Ya Allah berikan aku kesempatan untuk keliling dunia supaya kubisa tafakuri belahan duniaMu yang lain”

    ……………………………… Namun Ya Allah aku ….. (sambil terisak ia meneruskan untaian harapnya)…………………… aku ini hanyalah seorang hamba yang dhoif dan lemah …………….. seringkali khilaf untuk bersyukur

    janganlah kau kabulkan Ya Allah……… jangan … kalau sekiranya itu semua bisa membuatku terlena………. Apalah arti semua itu ….. kalau bukan untukMu…..

    Ya Allah ….. sesungguhya kuminta semua itu karna hanya ingin membuktikan cinta padaMu dengan berbagai cara……. Engkaulah yang Maha Mengetahui mana saja yang patut kudapat……. atau tidak sama sekali bila itu semua justru membuatku jauh dariMu tak usahlah Kau berikan…. cukup saja hamba diberi setitik cintaMu…………………kabulkanlah Ya Allah….. (Adzan Subuh berkumandang menutup untaian-untaian harap seorang hamba)

    “Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wafil aakhirati hasanah..waqinaa adzabannaar”.

    ***

    Dari sahabat di Pesanggrahan

     
  • erva kurniawan 2:15 am pada 28 January 2014 Permalink | Balas  

    tertawa 1Jaga Mulut

    Luqman Alhakim adalah seorang budak hitam. Bibirnya tebal, dan kedua kakinya melekuk, sehingga kalau berjalan tampak lucu. Meskipun demikian, dia seorang yang arif bijaksana. Luqman tidak pernah berperilaku buruk, bahkan dalam ucapannya. Apa yang keluar dari kedua bibirnya adalah kebijaksanaan. Ia tidak pernah mengucapkan sesuatu pun, kecuali hal-hal yang mulia, penuh makna dan hikmah, serta berguna. Allah mengabadikan namanya di dalam Alquran sebagai salah satu teladan umat manusia.

    Suatu kali tuannya menyuruh Luqman agar menyembelih beberapa ekor kambing untuk sebuah keperluan. ”Luqman, coba ambilkan untukku dua bagian yang terbaik dari daging-daging itu,” kata tuannya. Sejurus kemudian Luqman datang dan menyerahkan potongan hati dan lidah.

    ”Sekarang, ambilkan untukku bagian yang terburuknya,” pinta tuannya lagi. Luqman bergegas, dan sejenak kemudian datang. Namun, lagi-lagi ia menyerahkan potongan hati dan lidah. ”Apa maksudmu dengan ini semua, Luqman? Mengapa yang terbaik dan terburuk sama bentuknya?” tanya sang tuan keheranan.

    ”Tuan, jika kedua bagian ini sudah baik, tidak ada lagi yang lebih baik dari keduanya. Sebaliknya, jika kedua bagian ini sudah buruk, tidak ada lagi yang lebih buruk dibandingkan dengan keduanya,” jawab Luqman.

    Tentang mulut, Nabi saw seringkali mewanti-wanti agar menjaganya dengan sungguh-sungguh karena ia paling berpotensi mencelakakan kita. ”Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berbicaralah hanya yang baik-baik. Jika tidak sanggup, sebaiknya diam.” Sabda beliau di kali yang lain, ”Cukuplah seorang menjadi penduduk neraka, ketika ia tidak bisa menjaga lisannya.” Berkenaan dengan itu pula, Ali bin Abi Talib berkata, ”Berbahagialah orang yang bisa menahan kelebihan mulutnya dan menginfakkan kelebihan hartanya”.

    ***

    Diambil dari kolom Hikmah Republika

     
  • erva kurniawan 6:27 am pada 27 January 2014 Permalink | Balas  

    adab-sedekahMemberi Itu Indah

    Banyak orang beranggapan bahwa memberikan sesuatu (harta, ilmu pengetahuan, dan pemikiran) kepada orang lain yang tidak dapat memberikan balasan langsung, merupakan sesuatu yang sia-sia dan tidak boleh dilakukan. Teori kerja dengan imbalan yang bersifat material, atau ibadah yang hanya dikaitkan dengan balasan pahala semata itu begitu mendominasi sebagian besar umat kita. Karenanya, tidak jarang umat Islam memiliki sifat bakhil, kikir, dan sama sekali tidak mau memberi, kecuali dengan imbalan dan upah yang jelas, terukur dan terstruktur.

    Dalam sebuah hadis riwayat Imam Turmudzi, Rasulullah SAW bersabda, ”Pemurah itu akan dekat dengan Allah [rahmat-Nya], dekat dengan sesama manusia [cinta dan kasih sayangnya], dengan surga [nikmatnya], dan jauh dari neraka [adzanya]. Sebaliknya, orang yang bakhil akan jauh dari Allah, jauh dari sesama manusia, jauh dari surga, tetapi dekat dengan neraka.”

    Orang yang mengeluarkan zakat dengan kesadaran dan keikhlasan penuh akan mendapatkan kebersihan, kesucian, dan ketenangan jiwa (QS 9:103). Ia akan diberi kemudahan oleh Allah SWT dalam mengatasi berbagai problem hidup dan kehidupannya (QS 70: 19-25). Sementara itu, hartanya akan terus berkembang dan bertambah dari waktu ke waktu (QS 30:39).

    Dalam sebuah hadis sahih riwayat Ibn Abiddunya, Rasulullah SAW bersabda, ”Sedekah itu tidak akan menyebabkan sesuatu pada harta, kecuali hanya akan memperbanyaknya. Karena itu, bersedekahlah kamu sekalian, pasti Allah akan mencurahkan rahmat-Nya.” Dalam sebuah hadis yang lain riwayat Ibn Majah, Rasulullah SAW bersabda, ”Iri dan dengki itu akan menghabiskan segala kebaikan yang kita lakukan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar. Sedekah akan menghapuskan segala kesalahan sebagaimana air memadamkan api. Shalat itu adalah cahayanya orang mukmin dan puasa itu penghalang mukmin dari azab neraka.”

    Orang yang suka berzakat dan berinfak akan memiliki etos kerja dan usaha kuat, yang menyebabkannya senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan rezeki yang halal, untuk kemudian sebagiannya diberikan kepada mereka yang membutuhkan dan berhak menerima. Mari kita tumbuhkan kecintaan untuk memberi dan memberi. Insya Allah kita akan menjadi orang kaya, baik material maupun spiritual.

    ***

    Diambil dari artikel kolom Hikmah Republika, karya KH. Didin Hafidzuddin

     
  • erva kurniawan 5:22 am pada 26 January 2014 Permalink | Balas  

    ampunDosa yang kita lupakan

    Sahabat,

    Dalam suatu kesempatan, seorang rekan berkisah tentang seorang pembantu rumah tangga. Pada awal kerjanya, dia diberitahu majikannya bahwa tugasnya adalah membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu untuk orang yang datang dan pergi. Majikannya menjanjikan bonus tertentu bila dia melakukan tugas-tugasnya dengan baik; Sederhana dan tampaknya mudah; bekerja sebaik-baiknya lalu dia akan dapat gaji ditambah bonus.

    Dengan suka hati dia menghapal ‘diluar kepala’ kelima tugasnya. Membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu. Diulang-ulangnya hingga dia dapat memastikan bahwa kelima tugas tersebut dapat diselesaikannya dengan sebaik-baiknya. Demi bonus yang akan diperolehnya, diapun berkonsentrasi pada tugas-tugasnya.

    Suatu ketika sang majikan harus pergi dengan meninggalkan anak-anaknya di rumah. Sementara anak-anak yang besar sibuk dengan urusannya masing-masing, si bungsu malah asyik bermain di halaman. Dia mendekati kolam lalu berusaha untuk berenang. Adalah suatu hal yang berbahaya bagi anak kecil bermain-main di kolam seorang diri, meski kolam itu ada di dekat rumah. Namun demikian sang pembantu coba menyakinkan diri bahwa tugas dia hanya lima. Menjaga anak bukanlah tugasnya. Dia coba meyakinkan lagi bahwa bila saja dia tunaikan kelima tugas tersebut dengan sebaik-baiknya tentu dia akan mendapatkan bonus sebagaimana yang dijanjikan kepadanya.

    Singkat cerita, sang anak bungsu ‘gelagepan’ di kolam lalu tenggelam. Sang pembantu masih coba meyakinkan bahwa menolong anak tersebut bukan tugasnya. Untuk lebih menyakinkan lagi, dia ucapkannya kembali kata-kata majikannya tentang tugasnya, yakni membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu. Ternyata tidak dia jumpai tugas menjaga anak. Maka dia tidak bergerak sedikitpun untuk menolong anak tersebut hingga tak ada lagi gerakan di kolam. Anak tesebut mati lemas.

    Ketika sang majikan datang dan menanyakan kemana si bungsu, tanpa rasa bersalah sedikitpun sang pembantu memberitahu bahwa anak tersebut ada di kolam, barangkali tenggelam di sana, sembari mengingat-ingat tugasnya yang lima yang selalu ditunaikannya dengan baik. Lalu bagaimana reaksi sang majikan terhadap pembantu ini? Bila kita adalah majikan tersebut, tentu saja kita tahu tindakan apa yang paling pantas terhadapnya.

    Keadaan kita hari ini, barangkali tidak bedanya dengan keadaan sang pembantu tersebut. Kita telah berusaha sebaik-baiknya menunaikan tugas apa saja sebatas pada yang ‘diperintahkan’ kepada kita. Kita tahu betul bahwa kewajiban sholat lima waktu harus kita tunaikan sebaik-baiknya setiap hari, namun kita tidak peduli dengan orang-orang lain yang melalaikannya. Kita tahu betul tanggung jawab kita terhadap diri sendiri, istri, anak, orangtua dan saudara-saudara kita, dan apa saja yang dapat kita berikan sebagai tanda sayang kita kepada mereka, namun kita tidak peduli dengan yang selainnya. Kita tahu bagaimana ‘mengamalkan’ agama tapi kita lupa bahwa dakwah adalah bagian dari amal agama.

    Hari ini kita mengetahui bahwa membunuh adalah dosa, mencuri atau korupsi adalah dosa, berzina adalah dosa, minum arak adalah dosa, berkata dusta adalah dosa, akan tetapi kita lupa bahwa meninggalkan dakwah adalah dosa. Padahal dosa tidak dakwah kadarnya mencakup dosa membunuh, mencuri, zina dan sebagainya. Karena tidak ada dakwahlah maka ada pembunuhan. Karena tidak ada dakwahlah maka ada pencurian. Karena tidak ada dakwahlah maka ada perzinaan dan seterusnya.

    Sebagian dari kita mengatakan bahwa untuk dakwah kita perlu punya ilmu dulu. Dan ilmu yang dimaksud adalah penguasaan yang baik atas berbagai pengetahuan (yang justru baru berkembang bersamaan dengan menyebarnya Islam ke seluruh pelosok dunia). Barangkali pernyataan ini benar, bila kita bermaksud menyempurnakan segala sesuatunya. Namun demikian, sebagaimana yang kita sampaikan kepada para mu’alaf, kita tetap harus melakukan sholat meskipun kita baru bisa mengucapkan basmallah. Dan dengan cara yang sama, kita harus buat dakwah meskipun kita baru bisa menjabat tangan saudara kita.

    Menjadi da’i sebenarnya tidak sesukar yang kita bayangkan pada hari ini. Siapapun dari ummat ini yang memiliki kalimah laa ilaaha illallah dalam hatinya adalah orang-orang yang punya tanggung jawab untuk ‘menumpahkannya’ kepada orang lain. Keadaan saat ini dimana kita mempersulit diri dengan berbagai syarat agar kita ‘layak’ buat dakwah, hanya menunjukkan betapa jauhnya kita dari kepahaman para sahabat Rasulullah saw.

    Lalu pertanyaannya adalah berapa lamakah seseorang dapat menjadi da’i sejak pertama kali dia bersyahadat? Adakah setiap orang berkewajiban menuntut ‘ilmu’ yang menjadikannya layak dipanggil ‘ulama atau ustdaz, baru setelah itu buat dakwah? Mestinya tidak demikian bila referensi kita adalah para sahabat Rasulullah saw.

    Saat Abu Bakar ra. menyatakan keislamannya, dia telah mengajak beberapa orang lainnya kepada iman-yakin yang benar pada hari yang sama. Dari usahanya pada hari itu beberapa orang mengimani bahwa Allah adalah tuhan mereka dan tidak ada tuhan selain-Nya dan mereka mengimani bahwa Muhammad (saw) adalah nabi dan rasul-Nya.

    Pada hari pertama Abu Dzar Ghiffari ra bersyahadat, dia telah umumkan keislamannya kepada kaum Quraisy di depan ka’bah. Seolah-olah dia ingin mengatakan sekaligus mengajak kaum yang belum beriman tersebut agar segera beriman. Kalau saja Ibnu Abbas (yang saat itu masih dalam kekafiran) tidak mengingatkan kaumnya akan perhubungannya dengan kaum Ghiffar, tentu mereka semua sudah membunuhnya.

    Selanjutnya bila kita baca atau dengar lagi dan lagi kisah-kisah mereka (yakni sahabat-sahabat Rasulullah), kita akan jumpai di sana bahwa mereka adalah para da’i sejak awal keislamannya. Demikianlah Rasulullah saw membina mereka sehingga siapa saja yang menyatakan keimanannya, mereka akan meyakini bahwa dakwah adalah tugas mereka. Setiap orang yang buat dakwah adalah da’i. Lalu kita dapati di sana (pada masa Rasulullah saw), setiap da’i akan ‘melahirkan’ da’i baru. Bahkan sebelum perintah ibadah (sholat) diturunkan, mereka menyangka bahwa agama ini identik dengan dakwah manusia kepada Allah.

    Kita mestinya bangga dengan titel da’i. Gelar inilah yang pada gilirannya kelak akan menjadikan kita mulia, bahkan ketika kita masih hidup di dunia ini. Bayangkan, betapa pilihan Allah tidak pernah salah. Dia memilih (selalu yang terbaik dari kebanyakan manusia) orang-orang yang akan mengemban kerja para nabi. Dia memuliakan kita dengan kerja ini sebagaimana kita meletakkan sesuatu di puncak ketinggian.

    Dan pilihan itu telah jatuh kepada kita ketika Dia berkata, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab (Kristen/Yahudi) beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS 3:110)

    Ketika kita sadar dan kita tidak ingin seperti pembantu di atas, maka tidak ada jalan lain buat kita (bahkan bagi keselamatan ummat ini) selain dengan segera buat dakwah. Hendaknya kita tidak menundanya lagi hingga ‘anak yang akan tenggelam’ dapat diselamatkan. Kita bergerak menjumpai manusia dan tidak menunggu sampai mereka datang kepada kita. Kita yakin bahwa pada saatnya kelak, sama saja apakah kita mengharapkannya atau tidak, kita akan mendapat gaji, bonus dan tentu saja hadiah yang luar biasa dari Allah yang maha memiliki lagi maha kaya.

    Subhanallah.

    ***

    Diambil dari artikel kolom Hikmah Republika, karya KH. Didin Hafidzuddin

     
  • erva kurniawan 3:03 am pada 25 January 2014 Permalink | Balas  

    Jagalah Makananmu Maka Allah Akan Menjagamu MasyaAllah Sebanyak… 

    makanan1Jagalah Makananmu Maka Allah Akan Menjagamu

    MasyaAllah, Sebanyak ini.?

    Kuamati kembali daftar dzat halal dan haram yang tertera di dalam majalah tersebut. Aku benar-benar shock karena makanan yang selama ini masuk dalam tubuhku mengandung dzat haram. Ingin rasanya aku keluarkan kembali semua isi perutku tapi hal itu tidaklah mungkin. Penyesalan tidak ada gunanya justru saat inilah seharusnya aku banyak bersyukur kepadaNya. Dia Yang Maha Tahu telah mengingatkan aku betapa pentingnya menjaga setiap tetes dzat yang masuk ke dalam tubuh. Dia Yang Maha Tahu pula yang telah mengajariku bahwa dengan menjaga makanan kita, maka kita telah menjaga keimanan.

    Saat ini, di negeri orang yang mayoritas penduduknya non muslim, aku merasakan betapa pentingnya arti makanan. Di saat yang lain makan dengan lahap, sementara kita harus teliti membaca kandungan dzat makanan kita. Disaat yang lain bebas memilih makanan kesukaan kita, sementara kita harus menahan rasa lapar yang mendera. Dan semua tidak semudah seperti yang aku bayangkan sebelumnya karena dzat-dzat itu tidak hanya menyeretku ke jurang kemalasan dan ke lembah kehinaan tetapi menutup semua jalan yang ingin aku lewati. “Ya” Aku jadi malas beibadah kepadaNya, dan Allah tidak memperkenankan aku bermunajat kepadaNya di malam hari karena tanpa aku sadari telah begitu banyaknya dzat haram yang masuk kedalam tubuh ini. Belum lagi urusan-urusan tiba-tiba jadi sulit untuk aku tembus.

    Kenapa dzat? Kenapa tidak langsung khamr, daging babi dan yang lainnya?”

    Karena yang besar dan terlihat secara fisik biasanya lebih mudah untuk dihindari. Justru yang kecil dan tidak terlihat yang sulit sekali dihindari dan kita mudah terjebak. Pada awalnya, aku hanya mengetahui dzat 472e saja yang haram. Setiap kali membeli sesuatu, aku selalu mengeceknya dan semua berjalan lancar. Ibadah harian yang biasa aku kerjakanpun tidak ada masalah berarti. Sampai akhirnya aku menyadari “ada sesuatu yang tidak beres.” Aku sangat sulit sekali bangun malam walaupun aku sudah mencoba berbagai macam strategi. Dan akhirnya aku menemukan daftar itu di sebuah majalah Islam. Aku bersihkan semua makanan yang mengandung dzat-dzat tersebut dan mulai saat itu aku memilih tidak makan kalau kandungan dzatnya tidak jelas atau meragukan. Subhanallah kini aku bisa bangun malam kembali, bermunajat kepadaNya, dan melaksanakan ibadah yang lain dengan lebih khusyuk. Allahpun membuka begitu banyak jalan kemudahan untukku dan segala urusan menjadi lancar. Alhamdulillah segala Puji Hanya Untuk Allah Yang Mencintai kebaikan dan hanya menerima sesuatu yang baik.

    Ada kebiasaan hidup yang hampir sama antara Rasulullah, para sahabat, dan orang–orang sholeh, mereka selalu menjaga makanan mereka. Menggalakan puasa demi penyucian diri dan kedekatan dengan RobbNya.

    Masih segar dalam ingatan kita kisah seorang pemuda yang menemukan apel di sungai, kemudian ia memakannya. Di tengah menikmati apel itu, ia tersadar bahwa apa yang ia makan bukanlah miliknya. Setelah mencari dan mencari, akhirnya ia dapat menemukan sang pemilik buah apel itu. Akhir cerita, sang pemilik pohon apel, menikahkan pemuda itu dengan salah seorang anaknya. Bukti keimanan terpancar dalam diri pemuda tersebut. Ia sangat menyadari bahwa setiap tetes makanan yang masuk kedalam tubuh pasti akan mempengaruhi kecintaannya pada Allah. Karena setiap output pasti tergantung dengan input maka makanlah makanan yang halal, cek dzat-dzat yang terkandung didalamnya, jangan remehkan yang kecil, karena kita bisa selamat dengannya atau bahkan terpuruk dilembah kehinaan karenanya. Jagalah makananmu, maka Allah akan menjagamu.

    Wallahu’a’lam bishshowab

    ***

    Dari Sahabat: Zamah Saari – eramuslim.

     
  • erva kurniawan 3:46 am pada 24 January 2014 Permalink | Balas  

    Reciting-QuranMenyiasiati Rapuhnya Kemauan

    Lemahnya kemauan sering membuat orang enggan berbuat kebaikan, padahal manfaat dan maslahat terpulang pada dirinya. Mengapa ini sering terjadi?

    Siapa yang tak kenal Salman al-Farisi? Sahabat Rasul berkebangsaan Persia ini menempuh perjalanan panjang dan rintangan berat demi menjemput hidayah. Berbagai dera siksa telah dirasainya. Keluarga yang dikasihinya rela ia tinggalkan. Lebih dari itu, ia juga telah mengecap derita menjadi budak yang diperjual belikan. Usahanya tak sia-sia, ketika akhirnya ia tiba di Madinah dan bertemu Rasulullah saw. Keimanan dan hidayah yang diperolehnya berhasil memupus duka dan kepedihan yang telah ia jalani. Strateginya yang brilian dengan cara menggali parit, atas izin Allah, sukses melindungi Madinah dari serangan pasukan koalisi kaum Musyrikin dan Yahudi dalam perang Ahzab.

    Salman adalah contoh nyata sebuah perjuangan gigih menggapai hidayah. Fitrah dan nuraninya yang jernih mendambakan petunjuk yang dapat dipakainya dalam hidup. Amat wajar, jika ia mendapat anugerah dari Rasulullah saw sebagai bagian dari keluarga Rasul. Ia menjadi contoh tentang semangat dan tekad yang membaja dalam menemukan kebenaran.

    Dalam kenyataan sehari-hari, berbagai godaan memang datang silih berganti memenuhi ruang benak setiap Muslim. Sering terjadi, kemauan begitu lemah sehingga enggan berbuat demi kemaslahatan diri sendiri, di dunia ataupun di akhirat. Lemahnya kemauan itu, dilatari oleh kekeliruan dalam menyikapi tipu daya syetan. Dalam rangka pencerahan tekad dan kemauan ini, Ustadz Abdullah Abdul Aziz al-Idan dalam “Man yamna’uka min al-hidayah” , menguraikan enam pandangan yang layak diresapi oleh setiap Mukmin dalam rangka mengokohkan kemauan dan membajakan tekad untuk bersama menjemput hidayah Allah.

    Pertama, penting ditegaskan tentang urgensi kebertahapan jiwa (tadarruj), dengan memulai dari amal shalih yang sedikit tapi kontinu. Ibnul Qayyim, seorang ulama yang banyak menulis tentang masalah-masalah ruhiyah, menjelaskan fenomena ini dalam Ighatsah al-Lahfaan (I/183-184). Menurutnya, syetan ingin menjatuhkan manusia pada satu dari dua sisi. Di satu sisi, ia begitu semangat sehingga bernafsu melakukan banyak hal sehingga ia tak sanggup lagi lalu berhenti. Di sisi lain, ia menganggap enteng sehingga hanya melakukan sedikit amal.

    Seorang ulama pernah mengungkapkan, “Allah tidak memerintahkan suatu urusan, kecuali syetan mempunyai dua jalan untuk menggoda: sikap berlaku kurang dan lalai, atau melampaui batas dan berlebih-lebihan.”

    Kedua, keinginan dan tekad kuat itu hanya datang dari dalam diri, bukan dari luar. Ia harus menggunakan waktunya dengan penuh semangat betapapun sulit dan buruk situasi dihadapinya. Ia harus dalam tujuan baiknya untuk istiqamah, berdakwah dan menebar manfaat bagi diri dan umat. Bukan malah terbuai dalam angan-angan menanti masa depan yang tak pasti.

    Ketiga, harus disadari bahwa “barang dagangan” Allah itu mahal (Ash-Shaff:10-11). Setelah menyadarinya, akan terasa ringanlah berbagai kepayahan dan kesulitan yang dirasakan dalam mengerjakan ketaatan. Rasulullah saw dan para sahabat ra telah memberi teladan perjuangan dalam menegakkan agama, dengan pengorbanan waktu, kesungguhan dan harta, mulai dari menuntut ilmu, mengamalkannya, dan sabar mendakwahkannya. “Ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah sorga,” (HR Tirmidzi No. 2374).

    Keempat, hendaknya kita renungkan kondisi orang-orang kafir dan penganut ajaran dan pemikiran sesat. Mereka berjuang habis-habisan dalam kebatilan, tapi tak beroleh ganjaran di akhirat. Sebaliknya, orang Mukmin pasti mendapat ganjaran atas usaha dan perjuangannya. Menghindari kemaksiatan dan kemungkaran hanyalah sebuah pengorbanan kecil dibanding ganjaran sorga yang akan diperoleh.

    Kelima, setiap Mukmin yang ikhlas dan bertekad kuat dalam melaksanakan sunnah Rasulullah saw dan amal shalih, pasti mendapat pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT (QS al-Ankabut: 69). Problema yang sering dihadapi oleh umat Islam, mereka ingin berbuat yang besar tapi melupakan yang kecil. Ini adalah kekeliruan besar dalam pendidikan. Semestinya, ia memulai dari yang kecil agar dapat melaksanakan yang besar. Seperti ungkapan seorang ulama, “Siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, Allah akan menganugrahkan kepadanya pengetahuan terhadap sesuatu yang tak ia ketahui.”

    Keenam, doa adalah senjata Mukmin yang amat efektif. Doa adalah otaknya ibadah, sabda Rasul saw (HR Tirmidzi No. 3293). Seorang yang bertekad dengan sungguh-sungguh dan ikhlas memperbaiki diri, hendaknya memperbanyak doa dan kepasrahan kepada Allah. Diriwayatkan bahwa kaum salaf berdoa kepada Allah dalam setiap kebutuhan mereka, bahkan garam untuk makanan mereka sekalipun. Orang yang mengharapkan istiqamah, petunjuk dan keteguhan hati dalam kebenaran, tentu sangat memerlukan doa. Apalagi di zaman ini yang penuh dengan sebab-sebab futur (lemahnya semangat ketaatan), kelalaian dan penyimpangan. Rasulullah saw mengajarkan doa, “Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu,” (HR Tirmidzi No.2066).

    Berbagai pemahaman ini diharapkan membantu kita mengokohkan kemauan dan semangat yang terkadang lemah dan rapuh. Sebab, dengan memahami tinggi dan mulianya tujuan dapat membantu mengokohkan semangat untuk berbuat dan terus berbuat. Bi idzinillah.

    ***

    Dari Sahabat: M. Nurkholis Ridwan

     
  • erva kurniawan 2:41 am pada 23 January 2014 Permalink | Balas  

    cincin pernikahanAntara Harapan Dan Kenyataan

    EPISODE 1 :

    Saat Fulanah masih seorang gadis, yang ada di benaknya dan yang kemudian menjadi tekadnya adalah keinginan menjadi isteri shalihat yang taat dan selalu tersenyum manis. Pendeknya, ingin memberikan yang terbaik bagi suaminya kelak sebagai jalan pintas menuju surga. Tekad itu diperolehnya setelah mengikuti berbagai ‘tabligh’, ceramah, dan seminar keputerian serta membaca sendiri berbagai risalah. Bahkan banyak pula ayat Al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan hal itu telah dihafalnya, seperti “Ar Rijalu qowwamuna alan nisaa’…”,”Faso lihatu qonitatu hafizhotu lilghoibi bima hafizhallah…” (QS. An-Nisa ayat 34).

    Juga Hadits :”Ad dunya mata’, wa khoiru mata’iha al mar’atus sholihat.” (dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri sholihat).

    Atau, hadits “Wanita sholihat adalah yang menyenangkan bila dipandang, taat bila disuruh dan menjaga apa-apa yang diamanahkan padanya.

    Begitu pula hadits “Jika seorang isteri sholat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan dan menjaga kehormatan dirinya serta suaminya dalam keadaan ridha padanya saat ia mati, maka ia boleh masuk surga lewat pintu yang mana saja. (HR Ahmad dan Thabrani). Hadits yang berat dan seram pun dihafalnya, “Jika manusia boleh menyembah manusia lainnya, maka aku perintahkan isteri menyembah suaminya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi,Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban) Figur isteri yang sholihat, taat, dan setia serta qona’ah seperti Kha-\dijah r.a. benar-benar terpatri kuat di benak Fulanah dan jelas ingin ditirunya.

    Maka, tatkala Allah SWT telah menakdirkan ia mendapat jodoh seorang Muslim yang sholih, ‘alim dan berkomitmen penuh pada Islam,Fulanah pun melangkah ke gerbang pernikahan dengan mantap. Begitu khidmat dan khusyu karena kesadaran penuh untuk beribadah dan menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan hidup berumah tangga.

    EPISODE 2

    Tatkala Fulan masih menjadi seorang jejaka, ia sering membatin, berangan-angan, dan bercita-cita membentuk rumah tangga Islami dengan seorang Muslimah sholihat yang menyejukkan hati dan mata.

    Alangkah bahagianya menjadi seorang suami dan seorang “qowwam” yang “qooimin bi nafsihi wa muuqimun lil ghoirihi” (tegak atas dirinya dan mampu menegakkan orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya). Juga menjadi ‘imam yang adil’ yang akan memimpin dan mengarahkan isteri dan anak-anaknya. Alangkah menenangkannya mempunyai seorang isteri yang akan dijaganya lahir dan batin, dilindungi dan disayanginya karena ia adalah amanah Allah SWT yang telah dihalalkan baginya dengan dua kalimat Allah SWT.

    Ia bertekad untuk mempergauli isterinya dengan ma’ruf (QS An-Nisa:19) dan memperhatikan hadits Rasulullah SAW tentang kewajiban-kewajiban seorang suami. “Hanya laki-laki mulialah yang memuliakan wanita.”

    “Yang paling baik di antara kamu, wahai mu’min, adalah yang paling baik perlakuannya terhadap isterinya. Dan akulah (Muhammad SAW) yang paling baik perlakuannya terhadap isteri-isteriku.”

    “Wanita seperti tulang rusuk manakala dibiarkan ia akan tetap bengkok, dan manakala diluruskan secara paksa ia akan patah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Fulan pun bertekad meneladani Rasulullah SAW yang begitu sayang dan lembut pada isterinya. Tidak merasa rendah dengan ikut meringankan beban pekerjaan isteri seperti membantu menyapu, menisik baju dan sekali-sekali turun ke dapur.

    Seperti ucapan Rasulullah kepada Bilal : “Hai Bilal, mari bersenang-senang dengan menolong wanita di dapur.” Karena Rasulullah suka bergurau dan bermain-main dengan isteri seperti berlomba lari dengan Aisyah r.a. (HR Ahmad), maka ia pun berkeinginan meniru hal itu serta menyapa isteri dengan panggilan lembut ‘Dik’ atau ‘Yang’.

    EPISODE-EPISODE SELANJUTNYA

    Fulan dan Fulanah pun ditakdirkan Allah SWT untuk menikah. Pasangan yang serasi karena sekufu dalam dien, akhlaq, dan komitmen dengan Islam. Waktu pun terus berjalan. Dan walaupun tekad dan cita-cita terus membara, kian banyak hal-hal realistis yang harus dihadapi. Sifat, karakter, pembawaan, selera, dan kegemaran serta perbedaan latar belakang keluarga yang semula mudah terjembatani oleh kesatuan iman, cita-cita, dan komitmen ternyata lambat laun menjadi bahan-bahan perselisihan.

    Pertengkaran memang bumbunya perkawinan,tetapi manakala bumbu yang dibubuhkan terlalu banyak, tentu rasanya menjadi tajam dan tak enak lagi. Ternyata, segala sesuatunya tak seindah bayangan semula. Antara harapan dan kenyataan ada terbentang satu jarak. Taman bunga yang dilalui ternyata pendek dan singkat saja.

    Cukup banyak onak dan duri siap menghadang. Sehabis meneguk madu, ternyata ‘brotowali’ yang pahitpun harus diteguk. Berbagai masalah kehidupan dalam perkawinan harus dihadapi secara realistis oleh pasangan mujahid dan mujahidah sekalipun.

    Allah tak akan begitu saja menurunkan malaikat-malaikat untuk menyelesaikan setiap konflik yang dihadapi. “Innallaha laa yughoyyiru ma biqoumi hatta yughoyyiru maa bi anfusihim” (QS Ar-Raad : 6). Ada seorang isteri yang mengeluhkan cara bicara suaminya terutama jika marah atau menegur, terdengar begitu ‘nyelekit’. Ada pula suami yang mengeluh karena dominasi ibu mertua terlalu besar.

    Perselisihan dapat timbul karena perbedaan gaya bicara, pola asuh, dan latar belakang keluarganya. Kejengkelan juga mulai timbul karena ternyata suami bersikap ‘cuek’, tidak mau tahu kerepotan rumah tangga, karena beranggapan “itu khan memang tugas isteri.”

    Sebaliknya, ada suami yang kesal karena isterinya tidak gesit dan terampil dalam urusan rumah tangga, maklum sebelumnya sibuk kuliah dan jadi ‘kutu buku’ saja. Fulan pun mulai mengeluh. Ternyata isterinya tidak se-”qonaah” yang diduganya, bahkan cenderung menuntut, kurang bersahaja dan kurang bersyukur.

    Fulanah sebaliknya. Ia mengeluh, sang suami begitu irit bahkan cenderung kikir, padahal kebutuhan rumah tangga dan anak-anak terus meningkat. Seorang sahabat Fulan juga kesal karena isterinya sulit menerima keadaan keluargan. Sebab musababnya sih karena perbedaan status sosial, ekonomi dan adat istiadat. Kekesalannya bertambah-tambah karena dilihatnya sang isteri malas meningkatkan kemampuan intelektual, manajemen rumah tangga, serta kiat-kiat mendidik anak.

    Sebaliknya, sang isteri menuduh suaminya sebagai “anak mama” yang kurang mandiri dan tidak memberi perhatian yang cukup pada isteri dan anak-anaknya.

    Belum lagi problem yang akan dihadapi pasangan-pasangan muda yang masih tinggal menumpang di rumah orang tua. Atau di dl rumah mereka ikut tinggal kakak-kakak atau adik-adik ipar. Kesemua keadaan itu potensial mengundang konflik bila tidak bijak-bijak mengaturnya.

    Kadang-kadang semangat seorang Muslimah untuk da’wah keluar rumah terlalu berlebihan. Tidak “tawazun”. Hal ini dapat menyebabkan seorang suami mengeluh karena terbebani dengan tugas-tugas rumah tangga yang seabreg-abreg dan mengurus anak-anak.

    Selanjutnya, ada pula Muslimah yang terlalu banyak menceritakan kekurangan suaminya, kekecewaan-kekecewaannya pada suaminya. Padahal ia sendiri kurang instrospeksi bahwa ia sering lupa melihat kebaikan dan kelebihan suaminya. Ada suami yang begitu “kikir” dalam memuji, kurang “sense of humor” dan “sedikit” berkata lembut pada isteri. Kalau ada kebaikan isteri yang dilihatnya, disimpannya dalam hati, tetapi bila ia melihat kekurangan segera diutarakannya.

    Bahkan ada pula pasangan suami-isteri yang memiliki problem “hubungan intim suami-isteri”. Mereka merasa tabu untuk membicarakannya secara terus terang di antara mereka berdua. Padahal akibatnya menghilangkan kesakinahan rumah tangga. Kalau mau dideretkan dan diuraikan lagi, pasti daftar konflik yang terjadi di antara pasangan suami-isteri muda Muslim dan Muslimah akan lebih panjang lagi. Memang, persoalan-persoalan tidak begitu saja hilang. Rumah tangga tidak pasti akan berjalan mulus tanpa konflik hanya dengan kesamaan fikrah dan cita-cita menegakkan Islam.

    Mereka yakni Fulan dan Fulanah cs tetap manusia-manusia biasa yang bisa membuat kekhilafan dan tidak lepas dari kekurangan- kekurangan. Dan mereka pun pasti mengalami juga fluktuasi iman. Pasangan yang bijak dan kuat imannya akan mampu istiqomah dan lebih punya kemampuan menepis badai dengan menurunkan standar harapan. Tidak perlu berharap muluk-muluk seperti ketika masih gadis atau jejaka. Karena, ternyata kita pun belum bisa mewujudkan tekad kita itu. Sebagai Muslim dan Muslimah hendaknya kita sadar, tidak mungkin kita dapat menjadi isteri atau suami yang sempurna seperti bidadari atau malaikat. Maka kita pun tentunya tidak perlu menuntut kesempurnaan dari suami atau isteri kita. “Just the way you are” lah. Kita terima pasangan hidup kita seadanya, lengkap dengan segala kekurangan (asal tidak melanggar syar’i) dan kelebihannya. Kita memang berasal dari latar belakang keluarga, kebiasaan, dan karakter yang berbeda, walau tentunya dien, fikrah, dan cita-cita kita sama.

    Pada saat ghirah tinggi, iman dalam kondisi puncak,”Prima”, semua perbedaan seolah sirna. Namun pada saat “ghirah” turun, iman menurun, semua perbedaan itu menyembul ke permukaan, mengganjal,mengganggu, dan menyebalkan. Akibatnya tidak terwujud sakinah. Kiat utama mengatasi permasalahan dalam rumah tangga, tentunya setelah berdoa memohon pertolongan Allah SWT dan mau ber”muhasabah” (introspeksi), adalah mengusahakan adanya komunikasi yang baik dan terbuka antara suami-isteri. Masalah yang timbul sedapat mungkin diselesaikan secara intern dulu di antara suami-isteri dengan pembicaraan dari hati ke hati. “Uneg-uneg” yang ada secara fair dan bijak diungkapkan. Selanjutnya, yang memang bersalah diharapkan tidak segan-segan mengakui kesalahan dan meminta maaf. Yang dimintai maaf juga segera mau memaafkan dan tidak mendendam. Masing-masing pihak berusaha keras untuk tidak mengadu ke orang tua, atau orang lain. Jadi tidak membongkar atau membeberkan aib dan kekurangan suami atau isteri.

    Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak membanding- bandingkan suami atau isteri dengan orang lain, karena itu akan menyakitkan pasangan hidup kita. Setelah itu,masing-masing juga perlu ‘waspada’ agar tidak terbiasa kikir pujian dan royal celaan.

    Jika terpaksa, kadang-kadang memang diperlukan bantuan pihak ketiga (tetapi pastikan yang dapat dipercaya keimanan dan akhlaqnya) untuk membantu melihat permasalahan secara lebih jernih.

    Kadang-kadang “kacamata” yang kita pakai sudah begitu buram sehingga semua kebaikan pasangan hidup kita menjadi tidak terlihat, bahkan yang terlihat keburukannya saja. Orang lain yang terpercaya InsyaAllah akan bisa membantu menggosok ‘kacamata’ yang buram itu. Alhamdulillah ada yang tertolong dengan cara ini dan mengatakan setelah konflik terselesaikan mereka pun berbaikan lagi seperti baru menikah saja ! Layaknya ! Dengan berikhtiar maksimal, bermujahadah, dan bersandar pada Allah SWT, InsyaAllah kita dapat mengembalikan kesakinahan dan kebahagiaan rumah tangga kita, serta kembali bertekad menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan kita berumah tangga.

    Amiin yaa Robbal’aalamiin.

    ***

    Sumber: tulisan dari Ummu Samy Romadhon di majalah Ummi No. 6/V, 1414 H/1993

     
  • erva kurniawan 2:26 am pada 22 January 2014 Permalink | Balas  

    rumah21Rumah Seribu Cermin

    Dahulu, di sebuah desa kecil yang terpencil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama “Rumah Seribu Cermin.”

    Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi “Rumah Seribu Cermin”. Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya. Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi. Ekornya bergerak-gerak secepat mungkin. Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria anjing-anjing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah anjing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat. Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, “Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat aku akan kembali mengunjunginya sesering mungkin.”

    Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang lain. Namun, anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah anjing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia menyalak keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, “Tempat ini sungguh menakutkan, aku takkan pernah mau kembali ke sini lagi.”

    Semua wajah yang ada di dunia ini adalah cermin wajah kita sendiri. Wajah bagaimanakah yang tampak pada orang-orang yang anda jumpai?

    (Japanese Folktale)

    Hikmah:

    1. Bukan dengan siapa Anda bergaul, tetapi bagaimana Anda bergaul.

    Jika Anda tidak pernah ngobrol dengan preman di dekat rumah Anda, ketahuilah bahwa Nabi saw mengajak preman Makkah (mis: Umar bin Khattab, Rukanah sang pegulat) masuk Islam. Ketika Anda mengaplikasikan Islam dengan baik, insya Allah akan Anda temukan sekitar Anda menjadi baik. Kata ust. Al Hudaibi (kira-kira): Dirikan Islam dalam hatimu, maka ia akan berdiri di negaramu.

    2. Jangan lupa: rumah kaca kita ada dua: Dunia dan akhirat. Buat apa termasyhur di kalangan penduduk dunia, jika dipandang hina oleh penduduk langit? Kita harus bergaul dengan penduduk dunia dan beribadah kepada Allah secara baik, dan pada keduanya ada cara-caranya sendiri.

    3. Bagi yang belum menikah: pernahkah Anda berdoa meminta istri/suami yang rajin tahajjud, rajin tilawah, dsb? Lihatlah cermin Anda! Jika Anda temukan bayangan yang rajin, kira-kira begitulah nanti pasangan hidup Anda. Sebaliknya jika Anda temukan bayangan seorang pemalas, banyak tidur, banyak menghamburkan waktu dsb, kira-kira begitu jugalah pasangan Anda. Allah tidak akan berlaku dzalim kepada Anda dan pasangan Anda. Tetapi jangan pesimis. Kita masih bisa memperbaiki diri asal memulainya sekarang juga

    4. Sabda nabi saw: Senyummu pada wajah saudaramu adalah shadaqah….. Jadi jangan pelit ya :)))

    Mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu ‘alam bi Showab Wal Hamdulillah Awalan wa Akhiron

    ***

    Dari Sahabat: Annisa Riyanti

     
  • erva kurniawan 1:13 am pada 21 January 2014 Permalink | Balas  

    sujud-shalat-di-masjidSutrah Dalam Sholat

    1. Dari Ibnu `Umar radliallahu `anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

    “Janganlah kamu shalat kecuali menghadap sutrah (batas tempat sholat) dan jangan biarkan seorang pun lewat di depanmu, jika ia enggan maka perangilah karena bersamanya ada qarin (teman).” (HR. Muslim dalam As-Shahih no. 260, Ibnu Khuzaimah dalam As-Shahih 800, Al- Hakim dalam Al-Mustadrak 1/251 dan Baihaqi dalam As-Sunan Al- Kubra 2/268)

    2. Dari Abu Said Al-Khudri radliallahu `anhu ia berkata: “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

    “Jika shalat salah seorang diantara kalian, hendaklah shalat menghadap sutrah dan hendaklah mendekat padanya dan jangan biarkan seorangpun lewat antara dia dengan sutrah. Jika ada seseorang lewat (didepannya) maka perangilah karena dia adalah syaitan.” (HR. Ibnu Abi yaibah dalam Al-Mushannaf 1/279, Abu Dawud dalam As-Sunan 297, Ibnu Majah dalam As-Sunan no. 954, Ibnu Hibban dalam As-Shahih 4/48, 49-Al-Ihsan, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra 2/267, sanadnya hasan) Di dalam riwayat lain (yang artinya): “(Karena) sesungguhnya setan lewat antara dia dengan sutrah.”

    Mengomentari hadits Abu Said di atas As-Syaukani berkata: “Padanya (menunjukkan) bahwa memasang sutrah itu adalah wajib.” (Nailul Authar 3/2). Beliau juga berkata: “Dan kebanyakan hadits- hadits (dalam masalah ini) mengandung perintah dengannya dan dhahir perintah (menunjukkan) wajib. Jika dijumpai sesuatu yang memalingkan perintah-perintah ini dari wajib ke mandub maka itulah hukumnya. Dan tidak tepat dijadikan pemaling (pengubah hukum) sabda shallallahu `alaihi wa sallam (yang artinya): “Sesungguhnya tidak memudharatkan apapun yang lewat di depannya karena menghindarnya orang shalat dari perkara yang memudharatkan shalatnya dan menghindari hilangnya sebagian pahalanya adalah wajib atasnya.” (As-Sailul Jarar 1/176)

    Di antara perkara yang menguatkan wajibnya: Sesungguhnya sutrah merupakan sebab syari yang menyebabkan tidak sahnya shalat karena lewatnya wanita baligh, keledai dan anjing hitam sebagaimana telah sah yang demikian itu dalam hadits yang menyatakan larangan orang lewat di depan orang shalat, dan hukum-hukum lainnya yang berkaitan dengan sutrah. (Tamamul Minnah hal. 300)

    5. Qurrah bin Iyas berkata: “Umar melihatku sedangkan aku (ketika itu) shalat di antara dua tiang. Maka dia memegang tengkukku dan mendekatkan aku ke sutrah seraya berkata: Shalatlah menghadap kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya 1/577 [lihat pula Al-Fath] secara muallaq 3 dengan lafadz jazm (pasti datang dari Rasulullah, pent) dan disambungkan [sanadnya] oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 2/370)

    Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Umar memaksudkan perbuatannya itu agar shalat (Qurrah bin Iyas) menghadap sutrah.” (Fathul Bari 1/577)

    6. Dari Nafi,ia berkata :”Bahwa Ibnu Umar jika tidak mendapati tempat yang menghadap tiang dari tiang-tiang Masjid, lalu ia berkata padaku :”Palingkan kepadaku punggungmu (untuk dijadikan sutroh,pent).(Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/279 dengan sanad shahih).

    7. (Dalam suatu riwayat) bahwa Salamah bin Al-Akhwa meletakkan batu di tanah.Jika dia mau mengejakan Sholat ,dia menghadap kepadanya.(Ibnu Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/278)

    8. Dari Ibnu Abbas r.a. “Aku memasang tongkat di depan Rosulullah SAW ketika di Arafah.Beliau sholat menghadapnya dan keledai lewat dibelakang tongkat.”(Ahmad dalam Al-Musnad 1/243,Ibnu Khuzaimah dalah As-Shahih 840,Thabari dalam Al-Mujamul Kabir 11/243 dan sanad dari Imam Ahmad:hasan)

    TENTANG JARAK KITA DENGAN SUTROH

    9. Diriwayatkan bahwa :”Rasulullah SAW berdiri di dekat tabir.Jarak antara beliau dengan tabir itu ada 3 hasta (HR.Bukhari dan Ahmad)

    10. Diantara tempat sujud beliau dengan dinding ada tempat berlalu kambing (H.R Bukhari dan Muslim)

    11. Beliau bersabda :”Apabila salah seorang di antara kamu sholat menghadap tabir, maka hendaklah ia mendekatkan dirinya kepada tabir itu, sehingga setan tidak memutuskan dia dari sholatnya “. (Abu Daud Al-Bazzar (p.54 Az-Zawaid),Al-Hakim dan dishahihkan olehnya,dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan An-Nawawi)

    BENDA-BENDA YANG BISA DIJADIKAN SUTROH

    12. Dan kadangkala beliau menjadikan kendaraannya sebagai tabir,lalu sholat dengan menghadap kendaraannya itu. (H.R Bukhari dan Ahmad)

    13. Hal ini berbeda dengan sholat di tempat berbaring unta .Karena beliau telah melarangnya (Muslim dan Ibnu Khuzaimah (92/2) dan Ahmad

    14. Kadangkala :”Beliau membawa semacam pelana ,lalu meluruskannya ,kemudian beliau sholat dengan menghadap kepada ujung pelana itu (H.R Bukhari dan Ahmad)

    15. Rasulullah SAW bersabda : “Apabila salah seorang diantara kamu meletakkan semacam ujung pelana di hadapannya,maka hendaklah ia shalat dengan tidak menghiraukan orang yang berlalu di belakangnya(ujung pelana itu)” (H.R Mulim dan Abu Daud)

    16. Diriwayatkan bahwa :”Sesekali beliau shalat dengan menghadap ke sebuah pohon.(H.R NasaI dan Ahmad dengan sanad yang shahih).

    17. “Kadangkala beliau shalat dengan menghadap ke tempat tidur,sedangkan Aisyah r.a berbaring di atasnya -dibawah beludrunya- (Al Bukhari,Muslim,dan Abu Yala(3/1107 -Mushawwaratu l-Maktab)

    18. Rasulullah SAW tidak pernah membiarkan sesuatu berlalu diantara dirinya dengan tabir.Dan pernah : “Beliau shalat,tiba-tiba datanglah seekor kambing berlari di hadapannya,lalu beliau berlomba dengannya hingga beliau menempelkan perutnya ke tabir -dan berlalulah kambing itu di belakang beliau-” (Ibnu Khuzaimah di dalam ash-Shahih (1/95/1),Ath-Thabrani(3/104/3),Al-Hakim dan dishahihkan olehnya,dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

    PERINGATAN KERAS BAGI YANG MELANGGAR SUTROH ORANG YANG SHOLAT

    19. :”Sekiranya orang yang berlalu di hadapan orang yang shalat itu mengetahui apa yang akan menimpanya,niscaya untuk berhenti selama 40 tahun,adalah lebih baik baginya daripada untuk berlalu dihadapannya “.(H.R Al – Bukhari dan Muslim,riwayat lainnya adalah riwayat Ibnu Khuzaimah(1/94/1)).

    20. HAL-HAL YANG MEMUTUSKAN SHALAT

    Rasulullah SAW bersabda: “Shalat seorang laki-laki,apabila tidak ada semacam ujung pelana dihadapannya,maka akan diputus oleh :wanita -yang haid (atau balighah), keledai dan anjing hitam “.

    Abu Dzar berkata bahwasanya ia berkata,”Wahai Rasulullah,apa bedanya antara anjing hitam dengan anjing merah ?” beliau bersabda,”Anjing hitam adalah setan “. (H.R Muslim,Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah (1/95/2)

    Sumber :

    1. Kitab Al-Qaulul Mubin fi Akhtail Mushallin.Diterjemahkan oleh Suyuthi Abdullah

    2. Kitab Sifat Sholat Nabi , oleh Syeikh Nashiruddin Al-Albani

     
  • erva kurniawan 2:24 am pada 20 January 2014 Permalink | Balas  

    pengadilanDilema Pengambilan Keputusan

    Cerita dibawah cukup menarik dan benar-benar memberikan kita sebuah gambaran tentang PENGAMBILAN KEPUTUSAN. Manakah yang akan Anda pilih?

    Sekelompok anak kecil sedang bermain di dekat dua jalur kereta api. Jalur yang pertama adalah jalur aktif (masih sering dilewati KA), sementara jalur kedua sudah tidak aktif. Hanya seorang anak yang bermain di jalur yang tidak aktif (tidak pernah lagi dilewati KA), sementara lainnya bermain di jalur KA yang masih aktif.

    Tiba-tiba terlihat ada kereta api yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Kebetulan Anda berada di depan panel persimpangan yang mengatur arah KA tersebut. Apakah Anda akan memindahkan arah KA tersebut ke jalur yang sudah tidak aktif dan menyelamatkan sebagian besar anak kecil yang sedang bermain??? Namun hal ini berarti Anda mengorbankan seorang anak yang sedang bermain di jalur KA yang tidak aktif. Atau Anda akan membiarkan kereta tersebut tetap berada di jalur yang seharusnya?

    Mari berhenti sejenak dan berpikir keputusan apa yang sebaiknya kita ambil???

    Sebagian besar orang akan memilih untuk memindahkan arah kereta dan hanya mengorbankan jiwa seorang anak. Anda mungkin memiliki pilihan yang sama.

    Saya-pun mempunyai pilihan demikian karena dengan menyelamatkan sebagian besar anak dan hanya kehilangan seorang anak adalah sebuah keputusan yang rasional dan dapat disyahkan baik secara moral maupun emosional.

    Namun sadarkah Anda bahwa anak yang memilih untuk bermain di jalur KA yang sudah tidak aktif, berada di pihak yang benar karena telah memilih untuk bermain di tempat yang aman? Disamping itu, dia harus dikorbankan justru karena kecerobohan teman-temannya yang bermain di tempat berbahaya.

    Dilema semacam ini terjadi di sekitar kita setiap hari. Di kantor, di masyarakat, di dunia politik dan terutama dalam kehidupan demokrasi, pihak minoritas harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas. Tidak peduli betapa bodoh dan cerobohnya pihak mayoritas tersebut.

    Nyawa seorang anak yang memilih untuk tidak bermain bersama teman-temannya di jalur KA yang berbahaya telah dikesampingkan. Dan bahkan mungkin tidak kita tidak akan menyesalkan kejadian tersebut.

    Seorang teman yang men-forward cerita ini berpendapat bahwa dia tidak akan mengubah arah laju kereta karena dia percaya anak-anak yang bermain di jalur KA yang masih aktif sangat sadar bahwa jalur tersebut masih aktif. Akibatnya mereka akan segera lari ketika mendengar suara kereta mendekat.

    Jika arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka seorang anak yang sedang bermain di jalur tersebut pasti akan tewas karena dia tidak pernah berpikir bahwa kereta akan menuju jalur tersebut.

    Disamping itu, alasan sebuah jalur KA dinonaktifkan kemungkinan karena jalur tersebut sudah tidak aman. Bila arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka kita telah membahayakan nyawa seluruh penumpang di dalam kereta. Dan mungkin langkah yang telah ditempuh untuk menyelamatkan sekumpulan anak dengan mengorbankan seorang anak, akan mengorbankan lagi ratusan nyawa penumpang di kereta tersebut.

    Kita harus sadar bahwa HIDUP penuh dengan keputusan sulit yang harus dibuat. Dan mungkin kita tidak akan menyadari bahwa sebuah keputusan yang cepat tidak selalu menjadi keputusan yang benar.

    “Ingatlah bahwa sesuatu yang benar tidak selalu populer dan sesuatu yang populer tidak selalu benar”.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:05 am pada 19 January 2014 Permalink | Balas  

    berjalan menapakiPersimpangan Hidup

    Bagi mukmin sejati, hidup adalah jalan menuju keabadian akhirat. Maka, berjuang dan bekerja keras adalah harga yang harus dibayarkan guna mencapainya. Namun, ketahuilah, sesungguhnya di setiap tempat dan waktu akan selalu ada persimpangan-persimpangan hidup yang memaksa kita untuk menentukan pilihan: terus berada pada jalan menuju keabadian itu atau berbelok mencari jalan pintas. Ya, jalan pintas yang mungkin lebih mulus, lebih cepat, lebih nikmat dan lebih menggiurkan namun sebenarnya cuma fatamorgana. Haruskah kita korbankan hidup yang begitu berharga guna mengejar fatamorgana?

    Seorang pegawai rendahan mungkin dihadapkan pada persimpangan: bergegas datang di pagi hari karena berpikir bekerja adalah amanah atau bermalas-malas saja toh gaji tidak seberapa. Seorang pedagang mungkin dihadapkan pada persimpangan: berlaku jujur dalam takaran atau mencurangi sedikit untuk memperbesar keuntungan. Seorang istri mungkin dihadapkan pada persimpangan: berterusterang dalam menyisihkan uang belanja untuk ibunya atau diam-diam saja. Seorang politikus mungkin dihadapkan pada pilihan: menerima uang sogokan yang akan memperkaya diri dan kelompoknya atau menolaknya meski membawa konsekuensi diasingkan dan dilecehkan.

    Bagi mukmin sejati, persimpangan hidup hanyalah seonggok batu ujian keimanan. Jika kita terpuruk, kita akan berada pada posisi stagnant sampai ada kesempatan persimpangan lain yang membuat kita makin terpuruk atau kembali pada derajat mulia. Wallohu’alam, kita tidak tahu persis berapa kali Allah swt memberi kesempatan ujian yang sama pada hambaNya; apakah setelah gagal di kali pertama, akan segera ada kali kedua, ketiga atau bahkan tak ada sama sekali? Yang jelas, jika kita melakukan dosa yang sama berkali-kali, maka setelah itu kita tidak lagi merasa berdosa saat melakukannya.

    Jika kita berhasil melewatinya, maka akan makin menaiklah derajat. Tapi, bisa jadi makin banyak persimpangan lain yang lebih menikung yang harus kita hadapi. Sebab, sesuai dengan janji-Nya, Allah swt akan menguji seseorang sesuai dengan tingkatannya; makin tinggi tingkat keimanannya, makin berat dan makin beragam ujiannya.

    Bagi mukmin sejati, ujian bukanlah momok yang menakutkan. Sebab, ia telah memiliki kelengkapan menghadapinya. (Yaitu) kemampuan bersabar dan bersyukur sebagai buah dari keberhasilannya melewati ujian-ujian sebelumnya. Ya, bersabar dan bersyukur adalah perangkat penting dalam menghadapi ujian dengan beragam bentuknya. Jika ujian itu berwujud sesuatu yang merujuk pada arti kesusahan, penderitaan, kesedihan, ketakutan dan sebagainya maka kunci sabar menjadi pelindung. Jika kunci ini dipakai saat menghadapi anak keras kepala, misalnya, kita akan memilih jalan tinggi. Dan jika ujian itu berwujud sesuatu yang identik dengan kesenangan, kepuasan, kenyamanan dan sebagainya, maka kunci syukur yang harus dipakai. Jika kunci ini dipakai saat menghadapi money politic, misalnya, maka kita pun akan memilih jalan tinggi.

    Sabar dan syukur memang amat diperlukan. Namun sayangnya, keduanya bukanlah anugerah yang datang begitu saja dari arsy Allah swt ke dalam dada kita. Kita perlu menatanya, sebata demi sebata, sampai ia tegak berdiri sebagai benteng yang kokoh. Kita perlu mengejanya, sekata demi sekata hingga ia terrangkai menjadi prosa nan indah. Ketahuilah, bata dan kata itu kita ambil dari ujian kecil demi ujian kecil yang kita temui dalam beragam persimpangan kecil hidup kita. Jika kita tak pernah berhasil menyimpan satu batu bata, jangan pernah berharap mampu membangun benteng nan kokoh; jika kita tak pernah memungut kata demi kata, jangan bermimpi mampu merangkai prosa nan indah. Itulah benteng atau prosa tentang kesabaran dan kesyukuran

    ***

    Diambil dari tulisan Dwi Septiawati Djafar

     
  • erva kurniawan 1:53 am pada 18 January 2014 Permalink | Balas  

    siluet-wanitaWanita

    Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). “Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS 16:58-59)

    Demikianlah keberadaan wanita di Jazirah Arab. Dan keadaan wanita diluar Jazirah Arab pun tidak lebih baik dari mereka. Namun Islam datang untuk meletakkan segala perkara pada proporsinya yang benar.  Nabi bersabda: “Wanita adalah saudara kandung pria”

    (HR:Tirmidzi)

    Ada seorang khatib terkenal berkhutbah dengan sangat emosional. Dia mengatakan: “Semoga Allah merahmati masa-masa di mana para wanita tidak keluar kecuali tiga kali, yaitu:

    1. Dari rahim ibunya kealam dunia,

    2. Dari rumah orang tuanya ke rumah suaminya,

    3. Dan, dari rumahnya ke alam kubur.

    Masa-masa ini adalah masa-masa jahiliah, semoga hal ini tidak terulang kembali dalam sejarah umat islam. Bila kita kaji ajaran Islam, maka kita mendapati bahwa ISLAM MENJUNJUNG TINGGI HARGA DIRI DAN KEMULIAAN WANITA dengan menempatkannya sebagai anak, istri, ibu, dan anggota masyarakat. Yang sangat penting dari semua itu adalah Islam menempatkan wanita sebagai manusia. Dalam Al-quran banyak ayat-ayat yang membahas tentang wanita, tentang kewajibannya dalam beribadah kepada Allah, tentang hak-haknya yang setara dengan lelaki. Secara umum surat An-Nisa ayat 32, menunjuk kepada hak-hak perempuan: “Bagi lelaki hak (atau bagian) dari apa yang dianugrahkan kepadanya dan bagi perempuan hak atau (bagian) dari apa yang dianugrahkan kepadanya.”

    Islam telah mendudukkan wanita pada posisinya yang benar agar dapat menunaikan tugasnya dalam kehidupan insani, menciptakan peradaban, dan membuat sejarah dengan sempurna sebagaimana yang dilakukan saudaranya yang lelaki. Segala sesuatu punya spesialisasi, kewajiban dan perannya masing-masing.

    Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”. (QS. 3:195)

    Tidak ada agama yang bisa berbuat adil terhadap kaum wanita sebagaimana keadilan yang diberikan oleh Islam. “Dan kaum wanita itu memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (2:228)

    Ada kata -kata yang patut kita renungkan, bahwa BAIKNYA SEBUAH MASYARAKAT, TERGANTUNG BAIKNYA WANITANYA, menjadi barometer baik tidaknya sebuah masyarakat. Tentunya mendidik wanita untuk menjadi baik adalah kewajiban kita sebagai bagian dari agama Islam itu sendiri.

    Diantara keagungan agama kita yang hanif ini adalah-bahwa untuk masa sekarang dan masa-masa sebelum ini, ia merupakan sistem perundangan pertama sekaligus terahir, yang menempatkan kaum wanita di tempat yang paling terhormat, paling baik dan paling indah.  Islam mengkategorikan kaum wanita sebagai manusia yang utuh  dan sempurna sebagaimana kaum pria dalam hal penciptaan, kemanusiaan, perasaan-perasaan serta hak-haknya.

    Dalam rentang sejarah umat Islam yang panjang, telah bermunculan wanita agung. Yang keharuman namanya takkan pernah pudar sampai ahir zaman. Dia adalah contoh wanita pada masanya dan masa setelahnya. Dialah sahabat wanita yang mulia, karena dia TERDIDIK DALAM MADRASAH TAUHID DENGAN IMANNYA YANG TINGGI. Dia menjadi panutan dan perannya sangat besar dalam mengemban risalah ini. Banyak wanita salaf dahulu yang yang menjadi gudang ilmu, keutamaan, dan fiqih dari Dien Allah.

    Dialah Aisyah RA, Nusaibah bin Kaab, Ummu Atiah Al-Anshoriah, Asma, Zainab, Fatimah, dan istri-istri Nabi yang mulia. Bila kita kaji ajaran Islam, maka kita dapati bahwa Islam menjunjung tinggi harga diri dan kemuliaan wanita dengan menempatkannya sebagai anak, istri, ibu, dan anggota masyarakat. Dan Islam juga menempatkannya sebagai manusia, yang punya hak dan kewajiban sebagaimana lelaki tentunya.

    Dalam pandangan Islam WANITA ITU BUKANLAH MUSUH PRIA, JUGA BUKAN SAINGANNYA, MELAINKAN PENYEMPURNA BAGINYA. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri,supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.” (Ar-Ruum:21)

    Ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara wanita muslimah dengan suaminya dalam rangka kerjasama  antara lain:

    1. BEKERJASAMA DALAM KETAATAN PADA ALLAH

    Salah satu yang sangat membahagiakan pasangan  suami-istri adalah manakala melihat suami/istrinya bersungguh-sungguh dalam beribadah pada ALLAH. Karena ketaatan merupakan faktor terpenting dalam kerjasama  ini. Kita bisa saksikan contoh-contoh sahabat dan sahabiah dalam rangka melakukan ketaatan pada Allah. Suami-istri SALING MENGINGATKAN kalau salah seorang sedang kendur dan lemah untuk senantiasa menjaga ketaatan pada Allah, dan senantiasa saling membantu untuk menegakkannya.

    2. BEKERJASAMA DALAM DAKWAH

    Kewajiban seorang laki-laki dan wanita adalah sama dalam rangka MENYAMPAIKAN DAKWAH ISLAM INI KEPADA SELURUH UMAT MANUSIA. Pada zaman Rasulullah, tidak hanya sahabat saja yang terjun di lapangan dakwah. Tetapi para sahabiah juga banyak yang belajar dan mengajarkan Islam. Kita bisa lihat dengan banyaknya sahabiah yang menjadi tempat rujukan dan sumber-sumber Islam setelah Rasulullah wafat. Begitu juga pada masa sekarang, WANITA DAPAT BEKERJASAMA DENGAN SUAMINYA DALAM RANGKA BERDAKWAH DI JALAN ALLAH. Saling MENYEMANGATI ketika salah seorang sedang turun imannya. Sebagian bentuk peranan seorang istri/muslimah bagi dakwah suaminya adalah MENGAJAK MUSYAWARAH, MEMBERI NASEHAT YANG IKHLAS serta MENDISKUSIKAN HAL-HAL YANG ADA KAITANNYA DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI. Ini bisa kita lihat pada kisah Ummu Salamah ra, yang pendapatnya kemudian diikuti Rasulullah saw.

    Juga salah satu bentuk KERJA SAMA YANG INDAH adalah bila SEORANG ISTRI DAPAT MENEGUHKAN JIWA SUAMINYA, MENGHIBUR, dan MEMBESARKAN HATINYA DENGAN MENGANGGAP KECIL BEBAN YANG DIPIKULNYA. Selalu MENGINGATKAN BAHWA PERTOLONGAN ALLAH SELALU BERSAMANYA. Disaat-saat Rasulullah dilanda kecemasan yang sangat, Khadijah ra datang menghibur dan menentramkan hati Beliau dengan kata-kata yang sangat menyejukkan hati Rasulullah hingga Beliau menjadi tenang.

    3. BEKERJASAMA DALAM JIHAD

    Salah satu yang dianjurkan Islam kepada suami-istri muslim dan muslimah adalah BEKERJASAMA DALAM RANGKA JIHAD DI JALAN ALLAH. Kisah sahabat Handhalah adalah KISAH KESUKSESAN SEORANG ISTRI YANG MENDORONG SUAMINYA BERJIHAD DI JALAN ALLAH. Beliau korbankan malam-malam pengantin mereka demi menggapai salah satu dari dua hal, menang atau syahid. Akhirnya Handhalah syahid dijalan Allah dan jenazahnya dimandikan para malaikat karena ketika berangkat kemedan jihad beliau masih dalam keadaan junub.

    Ada kisah sahabiah yang selalu menyemangati agar anak-anaknya selalu berjihad dijalan Allah sehingga seluruh anak-anaknya mendapat kemuliaan syahid dijalan-Nya. Peristiwa Al-Khansa, sang pelopor kaum ibu dan teladan para istri bisa kita jadikan panutan.

    Semoga kita bisa mengambil hikmah dan menjadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari terutama untuk kaum  muslimah senantiasa bisa melakukan peran -peran ini ,agar para Muslimah mendapatkan apa yang selama ini mereka harapkan yaitu TEGAKNYA ISLAM SERTA MENDAPAT SURGA ALLAH KELAK.

    Dikutip dari :

    1. Alqur’an dan hadist.

    2. Ceramah-Ceramah Hasan Al Banna.

    3. Perjalanan 1000 mil, Zainab Al-Ghazali.

    4. Membahagiakan Suami, M.Abdul Halim Hamid.

    5.Panduan Wanita Sholehah, Abu Fathan.

    ***

    Dari Sahabat Suseno

     
  • erva kurniawan 2:17 am pada 17 January 2014 Permalink | Balas  

    ghibahGhibah, Keburukan yang Makin Disenangi

    Sumber : Ummu Zaidan Feikar

    Perbuatan tercela, tapi menjadi biasa. Sebab, dikemas dalam acara yang menarik di televisi.

    Banyak hal yang bergeser dan berubah dengan hadirnya pesawat televisi ke rumah kita, terutama yang berkaitan dengan budaya dan akhlak. Salah satu yang jelas terlihat yaitu pergeseran makna bergunjing atau menggosip.

    Menggosip adalah tindakan yang kurang terpuji yang celakanya, kebiasaan ini seringkali dilekatkan pada sifat kaum wanita. Dulu, orang akan tersinggung jika dikatakan tukang gosip. Seseorang yang ketahuan sedang menggosip biasanya merasa malu. Namun, sekarang kesan buruk tentang menggosip mungkin sudah mengalami pergeseran.

    Beberapa acara informasi kehidupan para artis atau selebritis yang dikemas dalam bentuk paket hiburan (infotainment) dengan jelas-jelas menyebut kata gosip sebagi bagian dari nama acaranya. Bahkan pada salah satu dari acara tersebut pembawa acaranya menyebut dirinya atau menyapa pemirsannya dengan istilah “biang gosip”. Mereka dengan bangganya mengaku sebagai tukang gosip.

    Saat ini, hampir di setiap stasiun televisi memiliki paket acara seperti di atas. Bahkan satu stasiun ada yang memiliki lebih dari satu paket acara infotainment tersebut, dengan jadwal tayangan ada yang mendapat porsi tiga kali seminggu. Hampir semua isi acara sejenis itu, isinya adalah menyingkap kehidupan pribadi para selebritis. Walhasil, pemirsa akan mengenal betul seluk beluk kehidupan para artis, seolah diajak masuk ke dalam rumah bahkan kamar tidur para artis.

    Sepintas acara ini terkesan menghibur. Seorang ibu yang kelelahan setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya, mungkin akan terasa terhibur dengan informasi sisi-sisi kehidupan pribadi orang-orang terkenal. Apalagi kemasan acara yang semakin bervariasi ada yang diselingi nyanyi, wawancara langsung dengan artis, daftar hari ulang tahun para selebritis, dll. Namun jika kita cermati lebih jauh, isinya kurang lebih adalah menggosip atau bergunjing.

    Awal tahun ditandai dengan banyaknya artis yang pisah ranjang dan bercerai. Peristiwa-peristiwa semacam ini merupakan sasaran empuk bagi penyaji hiburan semacam ini. Pemirsa disuguhi sajian informasi yang sarat dengan pergunjingan. Masing-masing pihak merasa benar dan tentu saja menyalahkan pihak lainnya.

    Menggosip yang merupakan tindakan buruk, bisa tidak terasa lagi memiliki konotasi buruk jika terus-menerus disosialisasikan dengan paket menarik pada televisi. Menggosip akan terasa sebagai tindakan biasa dan lumrah dilakukan. Menceritakan aib orang lain menjadi sesuatu yang tanpa beban kita lakukan.Padahal jika kita cermati makna gosip -yang sama dengan ghibah- barangkali kita akan merasa ngeri.

    Ghibah dalam Islam

    Ghibah atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. “Apakah ghibah itu?” Tanya seorang sahabat pada Rasulullah saw. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. ” Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasulullah. Percakapan tersebut diambil dari HR Abu Hurairah.

    Dalam Al Qur’an (QS 49:12), orang yang suka meng-ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan,”Ketika kami bersama Rasulullah saw tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai. Maka Rasul pun berrsabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)

    Dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril, `Siapa mereka?’ Jibril menjawab, `Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain,mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!’ (dari Abu Daud berasal dari Anas bin Malik ra).

    Begitulah Allah mengibaratkan orang yang suka mengghibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah.

    Banyak kesempatan bagi ibu-ibu untuk menggosip. Pada saat berbelanja mengelilingi gerobak tukang sayur, menyuapi anak di halaman, pada acara arisan atau kumpulan ibu-ibu. Meng-ghibah kadang mendapat pembenaran dengan dalih, “Ini fakta, untuk diambil pelajarannya!”. Padahal di balik itu lebih banyak faktor ghibahnya daripada pelajarannya.

    Benarkah orang cenderung suka meng-ghibah, bahkan terkesan menikmati kebiasaan seperti ini? Seorang pengasuh konsultasi keluarga pada sebuah media cetak mengatakan rahasia mengapa rubriknya tetap disukai pembaca selama puluhan tahun. Katanya, pada diri manusia itu cenderung terdapat sifat suka menggunjingkan orang lain. Orang cenderung ingin tahu masalah yang terjadi pada orang lain. Dengan demikian ia akan merasa beruntung tidak seperti orang lain atau ternyata bukan dirinya saja yang menderita. Karena umumnya surat yang datang untuk berkonsultasi adalah mereka yang memiliki masalah.

    Jika demikian kebanyakan sifat dari manusia, tentunya kita harus sering melakukan istighfar. Syaitan dengan mudahnya mempengaruhi kebanyakan hati kita sehingga mungkin kita tengah menumpuk dosa akibat pergunjingan.

    Setiap orang mempunyai harga diri yang harus dihormati. Membuat malu seseorang adalah perbuatan dosa. “Tiada seseorang yang menutupi cacat seseorang di dunia, melainkan kelak di hari kiamat Allah pasti akan menutupi cacatnya” (HR. Muslim).

    Sosialisasi pergunjingan di televisi bagaimanapun harus dihindari. Jangan sampai kita merasa tidak berdosa melakukannya. Bahkan merasa terhibur dengan informasi semacam itu. Kita mesti berhati-hati. Bahaya ghibah harus senantiasa ditanamkan agar kita senantiasa sadar akan bahayanya. Benar kiranya jika dikatakan bahwa dulu orang tinggal di dalam rumah karena menghindari bahaya dari luar. Kini bahaya justru berasal dari dalam rumah sendiri yaitu dengan hadirnya acara yang menurunkan kualitas iman di televisi. Semoga kita bisa arif menyikapinya.

    Menangkal Ghibah

    Penyakit yang satu ini begitu mudahnya terjangkit pada diri seseorang. Bisa datang melalui televisi, bisa pula melalui kegiatan arisan, berbagai pertemuan, sekedar obrolan di warung belanjaan, bahkan melalui pengajian. Untuk menghindarinya juga tak begitu mudah, mengharuskan kita ekstra hati-hati, caranya?

    1. Berbicara Sambil Berfikir

    Cobalah untuk berpikir sebelum berbicara, “perlukah saya mengatakan hal ini?” dan kembangkan menjadi, “apa manfaatnya? Apa mudharatnya?” Berarti, otak harus senantiasa digunakan, dalam keadaan sesantai apapun. Seperti Rasulullah saw yang biasanya memberi jeda sesaat untuk berfikir sebelum menjawab pertanyaan orang.

    2. Berbicara Sambil Berzikir

    Berzikir di sini maksudnya selalu menghadirkan ingatan kita kepada Allah swt. Ingatlah betapa buruknya ancaman dan kebencian Allah kepada orang yang ber-ghibah. Bawalah ingatan ini pada saat berbicara dengan siapa saja, di mana saja dan kapan saja.

    3. Tingkatkan Rasa Percaya Diri

    Orang yang tidak percaya diri, suka mengikut saja perbuatan orang lain, sehingga ia mudah terseret perbuatan ghibah temannya. Bahkan ia pun berpotensi menyebabkan ghibah, karena tak memiliki kebanggaan terhadap dirinya sendiri sehingga lebih senang memperhatikan, membicarakan dan menilai orang lain.

    4. Buang Penyakit Hati

    Kebanyakan ghibah tumbuh karena didasari rasa iri dan benci, juga ketidakikhlasan menerima kenyataan bahwa orang lain lebih berhasil atau lebih beruntung daripada kita. Dan kalau dirinya kurang beruntung, diapun senang menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih sengsara daripada dirinya.

    5. Posisikan Diri

    Ketika sedang membicarakan keburukan orang lain, segera bayangkan bagaimana perasaan kita jika keburukan kita pun dibicarakan orang. Seperti hadis yang menjanjikan bahwa Allah akan menutupi cacat kita sepanjang kita tidak membuka cacat orang lain. Sebaliknya tak perlu heran jika Allah pun akan membuka cacat kita di depan orang lain jika kita membuka cacat orang.

    6. Hindari, Ingatkan, Diam atau Pergi

    Hindarilah segala sesuatu yang mendekatkan kita pada ghibah. Seperti acara-acara bernuansa ghibah di televisi dan radio. Juga berita-berita koran dan majalah yang membicarakan kejelekan orang.

    Jika terjebak dalam situasi ghibah, ingatkanlah mereka akan kesalahannya. Jika tak mampu, setidaknya Anda diam dan tak menanggapi ghibah tersebut. Atau Anda memilih hengkang dan `menyelamatkan diri’.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:22 am pada 16 January 2014 Permalink | Balas  

    Tenggelam Dalam Lautan Cinta 

    cintaTENGGELAM DALAM LAUTAN CINTA

    Yuni Mardiyanto

    **

    ABSTRACT: Cinta itu ibarat taman yang penuh bunga warna-warni. Ada yang datang menikmati keindahannya, mencium bau harumnya, dan kemudian datang lagi. Namun ada juga yang tidak ingin pulang, ia menikmati taman tersebut bahkan ingin menguasainya, padahal banyak orang lain yang juga ingin menikmatinya. Cinta itu juga bagai lautan, di sana ada gugusan karang terbentuk alamiah, warna-warni ikan hias yang luar biasa indahnya, ombak, bening, hangat dan dinginnya air laut, subhanallah…semuanya indah. Namun, ada bedanya antara orang yang berenang dengan mereka yang tenggelam di dalamnya. Karena orang yang berenang, ia sedang dalam perjalanan menuju Allah SWT, tetapi orang yang tenggelam merasa dirinya sudah sampai kepada Allah, karena itu tak perlu lagi berenang. Nah, bagaimana mungkin orang yang tenggelam dapat menikmati indahnya lautan? Nikmatilah keindahan lautan cinta itu dengan berenang, karena dengan itu cinta akan selalu memberikan potensi, energi dan semangat pada diri kita. Selamat berenang di lautan cinta-Nya ya akhi wa ukhti.

    **

    Syaikh Ali Ath-Thanthawi dalam bukunya “Rijalun min al-Tarikh” mengajak pembacanya untuk merenungi sejenak tentang kisah seorang pemuda kaya-raya yang karena tenggelam dalam lautan cinta akhirnya justru menjadi sengsara.

    Pemuda sukses yang saudagar itu pada mulanya seluruh hidupnya hanya diabdikan untuk berdagang. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, bahkan mimpinya sendiri hanyalah soal dagang. Di luar dunia dagang, ia nyaris tidak memperhatikannya. Orang tuanya mulai gundah, sebab sang putera sudah cukup umur untuk menikah, sementara ketertarikannya kepada wanita nyaris tidak ada. Berkali-kali ditawari menikah, ia menolaknya.

    Kedua orangtua pemuda itu tak putus asa. Hampir setiap hari keduanya mendatangkan wanita-wanita cantik nan terhormat di rumahnya, dengan harapan agar anaknya tertarik dan memilih salah satunya untuk dijadikan istri. Bujuk rayu orangtuanya tidak berhasil mencuri perhatian sang putera. Tak satu pun wanita-wanita cantik itu yang menarik perhatiannya.

    Namun yang mengejutkan, tiba-tiba pada di suatu hari, sang pemuda pergi ke pasar budak. Di pasar itu ia menjumpai seorang budak wanita, lalu jatuh cinta ia jatuh cinta kepada budak wanita tersebut. Setelah dibelinya budak itu lalu dibawanya pulang dan diperistrinya.

    Sejak saat itu berubahlah seluruh dimensi kehidupannya. Sang pemuda yang biasanya setiap pagi sudah pergi ke pasar dan baru larut malam ia kembali pulang, kini tidak seperti itu lagi. Ia tidak lagi mau pergi ke pasar, mengurus perdagangan dan meraup keuntungan. Ia kini hanya menyibukkan diri untuk mencintai sang isteri. Siang malam ia hanya bercumbu dengan isterinya, sampai akhirnya ia lupa segala-galanya.

    Kejadian ini tidak hanya berlangsung dalam hitungan hari dan pekan. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun terus bergerak, tapi pola kehidupan pasangan itu tidak berubah. Hingga sampai pada saatnya seluruh kekayaannya habis, bahkan perabot rumahtangga pun sudah mulai digadai.

    Ketika orang-orang sekitarnya mengingatkan agar ia kembali berdagang, ia berkomentar sederhana, “Tujuan dagang itu untuk apa? Mengejar keuntungan. Lalu jika keuntungan itu sudah diperoleh, digunakan untuk apa? Untuk memperoleh ketenangan, kenikmatan, dan kebahagiaan. Ketahuilah, ketiganya kini telah kudapatkan pada isteriku, lalu untuk apa aku berdagang lagi?”

    Sampai akhirnya ketika sudah tidak ada lagi miliknya yang bisa dijual, kecuali rumahnya yang tinggal tiang, dinding, dan atapnya saja, ia mulai menyadari. Kesadaran yang terlambat itupun datangnya bersamaan dengan saat-saat kritis menjelang kelahiran bayi pertamanya. Ketika sang istri akan melakukan persalinan, ia sudah tidak punya apa-apa lagi, hatta ke dukun bayi sekalipun ia tak mampu membayarnya.

    Saat itulah sang isteri meminta dengan iba agar suaminya pergi mencari minyak dan peralatan persalinan. Atas permintaa itu sang suami keluar rumah, tapi sayangnya sudah tidak ada lagi orang yang dikenali.

    Demi keselamatan sang isteri dan bayi yang akan lahir, ia terus berjalan, namun ia sudah lupa bagaimana cara mendapatkan setetes minyak dan peralatan persalinan lainnya. Lelaki itu hampir saja putus asa. Sekiranya ia tak segera sadar bahwa agama melarangnya untuk bunuh diri, tentu ia sudah mencebur ke sungai atau melemparkan badannya di tengah jalan ramai.

    Lelaki itu terus berjalan dan semakin menjauhi rumah dan tempat sang isteri akan melakukan persalinan. Meskipun demikian, bayangan isterinya yang menangis dengan mengiba-iba agar sang suami pergi mencari minyak dan peralatan persalinan tak bisa hilang dari pikiran dan perasaannya. Justru bayangan itu mendorongnya untuk semakin jauh berjalan menyusuri jalan-jalan yang tak berujung.

    Kisah pasangan ini sengaja diputus hanya sampai di sini,sebab yang menjadi fokus perhatian kita adalah sebuah pertanyaan, kenapa cinta berakhir dengan sengsara? Bukankah CINTA ITU SEBUAH ENERGI YANG DAPAT MENDORONG SESEORANG UNTUK BERBUAT DAN BERPERILAKU YANG JAUH LEBIH DAHSYAT DARIPADA SEBELUMNYA? Mengapa justru cinta mematikan potensi, energi, dan semangat yang ada dalam diri?

    Cinta itu memang indah, ibarat taman yang dipenuhi bunga yang berwarna-warni. Ada orang yang datang menikmati keindahannya, mencium bau harumnya, menghirup udara segarnya, dan kemudian pulang untuk suatu saat kembali lagi. Akan tetapi ada juga orang sekali datang ke tempat itu, menikmati keindahannya, kemudian tak mau pergi lagi. Ia ingin menguasai taman itu, sekalipun banyak orang yang juga ingin menikmatinya.

    Cinta itu kadang berubah menjadi semacam alkohol yang memabukkan. Sekali mencoba ingin terus mengulangi, hingga sampai pada titik tertentu ia kemudian mencandu. Jika sudah pada tingkatan ini, maka dari hari ke hari kadar alkoholnya semakin dinaikkan, dosisnya semakin tinggi, sampai pada saatnya orang tersebut sakit dan mati justru oleh sesuatu “yang dicintai”.

    Jika cinta kepada manusia bisa seperti itu akibatnya, bagaimana dengan cinta kepada Allah? Dalam kaitan ini, banyak kaum sufi berpendapat bahwa cinta itu bahasa universal, berlaku pada siapa saja dan untuk apa saja. Berlaku universal untuk semua subyek dan obyek.

    CINTA KEPADA ALLAH YANG DILAKUKAN DENGAN CARA YANG SALAH BISA JUGA MENYENGSARAKAN, BAHKAN MEMATIKAN, sebagaimana kisah di atas. Untuk itu, para sufi berpesan terutama kepada para pemula agar lebih hati-hati. JIKA CINTA KEPADA ILAHI ITU DIIBARATKAN SAMUDERA, MAKA ORANG YANG SELAMAT ADALAH MEREKA YANG BERENANG. ADAPUN ORANG YANG TENGGELAM DALAM “LAUTAN CINTA” ITU JUSTRU TAK AKAN PERNAH SAMPAI KE TEPI.

    Di masyarakat kita banyak dijumpai para pecinta Allah yang menenggelamkan diri. Mereka asyik masyuk berdzikir kepada Allah berjam-jam lamanya di masjid, kemudian ia lakukan da’wah dari rumah ke rumah berhari hari, berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai hitungan tahun dengan meninggalkan keluarganya, bahkan kadang tanpa bekal apapun. Mereka tenggelam dalam lautan cinta.

    Tenggelam di lautan itu memang mengasyikkan, terutama bagi mereka yang bisa menikmati keindahan taman laut. Di sana ada gugusan karang yang tertata alamiah dengan sangat indahnya. Di sana pula dijumpai warna-warni ikan hias yang luar biasa indahnya. Belum lagi ombak, bening, hangat dan dinginnya air laut. Semuanya indah, tapi BUAT APA KEINDAHAN ITU BAGI ORANG-ORANG YANG TENGGELAM?

    Untuk itu Allah menurunkan syari’at. DALAM SYARI’AT ITU ALLAH MENGENALKAN BATASAN-BATASANNYA, HINGGA KAUM BERIMAN SELAMAT DALAM MENGARUNGI BAHTERA KEHIDUPANNYA SAMPAI KE TEMPAT TUJUANNYA, BUKAN TENGGELAM LALU TIDAK DIKETAHUI DI MANA KEBERADAANNYA.

    Boleh saja orang menikmati khusyu’nya shalat sebagai sarana komunikasi dialogis dengan Allah swt. Akan tetapi shalat itu dibatasi dengan bacaan dan gerakan-gerakan. Orang yang shalat tidak boleh hanya menikmati ruku’nya saja, atau sujudnya saja, atau duduk tahiyyatnya saja. Semua gerakan, mulai dari takbiratul ihram hingga salam harus dinikmati semuanya secara proporsional. Inilah yang membedakan meditasi, baik meditasi agama-agama bumi maupun meditasi hasil karya cipta para spritualis yang kini berkembang bak jamur di musim hujan itu.

    Boleh saja shalat itu dilakukan berlama-lama di masjid, akan tetapi syari’at Allah tetap memberi batasan. Sehabis shalat kaum Muslimin harus segera pergi untuk menyebar di permukaan bumi, mencari karunia Allah berupa rizki. Dalam kaitan ini secara khusus Allah menyorotinya dalam firman-Nya:

    Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung. (Surat Al-Jumu’ah: 10)

    Apa bedanya orang yang berenang di lautan cinta Ilahi dengan mereka yang tenggelam di dalamnya? Orang yang berenang sadar bahwa ia sedang kepada Allah. Ia menikmati segala karunia yang disediakan Allah sambil terus berenang agar bisa sampai ke tujuan (Allah Swt). Adapun orang-orang yang tenggelam itu merasa dirinya sudah sampai kepada Allah. Ia tidak perlu lagi berenang, sebab tujuannya telah sampai. Ia tidak perlu lagi bersusah payah, karenanya ia menenggelamkan diri.

    Kini, apakah kita termasuk kelompok perenang atau orang yang tenggelam?

    *IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA* Al-Hubb Fillah wa Lillah,

    ***

    Author: Abu Zifora

    Editor: Abu Aufa

    Maraji’: Suara Hidayatullah

     
  • erva kurniawan 3:06 am pada 15 January 2014 Permalink | Balas  

    siluet burungKisah Seekor Burung Gereja

    Ada seekor burung gereja yang sedang terbang di musim salju. Karena mengalami kedinginan yang amat sangat, sayapnya membeku sehingga tidak bisa dikepakkannya lagi. Ia pun jatuh di sebuah tanah lapang. Setelah beberapa lama terbaring kedinginan, maka tiba2 lewat seekor sapi yang tanpa sengaja membuang kotorannya tepat menimpa badannya. Kontan sumpah serapah pun segera meluncur keluar dari mulut mungilnya !!!

    Rupanya tanpa disadari oleh burung gereja itu, hangatnya kotoran sapi yang menimpanya itu lambat laun membuat suhu tubuhnya berangsur normal. Ketika ia sedang bersiap-siap akan terbang kembali, tiba-tiba munculah seekor kucing. Keruan saja buruk gereja ini panik dan ingin secepatnya terbang menghindar. Tetapi sayangnya ternyata ia belum mampu, karena sayapnya rupanya masih agak membeku. Ia pun dengan dengan ketakutan yang amat sangat terpaksa pasrah saja menerima nasib. Namun diluar dugaannya kucing yang biasanya tidak pernah ramah terhadap burung gereja, kali ini bersifat sangat simpatik. Ia sama sekali tidak mengganggunya, bahkan menjilat-jilati badannya seolah-olah ingin membersihkan sisa-sisa kotoran sapi yang melekat pada bulu-bulunya. Sehingga akhirnya bersihlah seluruh badan burung gereja itu.

    Hangatnya kotoran sapi serta jilatan kucing itu rupanya mampu memulihkan kondisi burung gereja itu untuk dapat terbang kembali. Namun demikian burung gereja ini ternyata belum mau terbang. Rupanya ia menikmati jilatan kucing itu sebagai perlakuan yang memanjakannya. Maka ia pun membiarkan dirinya tetap terbaring sambil berpura-pura masih kedinginan, dengan harapan semoga kucing itu akan menjilatinya lagi.

    Tetapi apa yang terjadi Melihat badan burung gereja itu sudah bersih, maka kucing itu pun dengan ganasnya menerkam burung yang bodoh itu!!!!

    Burung gereja di atas melambangkan perumpamaan orang yang hanya pandai melihat yang tersurat saja. Baginya sesuatu yang tidak menyenangkannya selalu dianggapnya buruk, dan kejadian yang menyenangkannya dianggap pasti baik. Orang yang mempunyai sikap seperti ini jelas berlawanan dengan firman Allah pada surat Al-Baqarah 216, ” Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” Boleh jadi kita belum yakin sepenuhnya dengan firman Allah ini, tetapi yang pasti burung gereja itu sudah membuktikannya Dan bila kita tetap terpana dengan yang tersurat saja, bukan tidak mungkin kita akan bertemu dengan burung gereja itu.

    “Dan orang-orang itu berkata; ” seandainya kami mau mendengarkan (nasihat agama) dan kami menggunakan akal-akal kami, pasti kami tidak menjadi penghuni neraka Sair.” [Al-Mulk ayat 10].

    Wallahua’alam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:21 am pada 14 January 2014 Permalink | Balas  

    maulid-nabi-muhammadBatasan Pujian Berlebihan

    Ada dari mereka yang berpendapat bahwa Maulid Nabi adalah termasuk pujian berlebihan sebagaimana kaum Nasrani yang mengadakan perayaan Natal dengan berdalilkan

    Rasulullah bersabda: “Jangan memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Ahmad).

    Adapula yang berpendapat dari hadits tersebut bahwa Maulid Nabi termasuk mengkultuskan atau mendewakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sehingga mereka menganggap Maulid Nabi adalah yang dimaksud memuji-muji beliau yang menurut mereka berlebihan sehingga termasuk musyrik.

    Hal ini timbul dikarenakan mereka mencoba memahami hadits secara sepotong-potong.

    Kadang mereka memotong sebatas: “Jangan memujiku secara berlebihan ” atau “Jangan memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam”

    Mereka tidak memperhatikan apa fungsi bagian akhir dari sabda Rasulullah tersebut yakni “Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.”

    Hadits tersebut sudah secara jelas meberikan batasan pujian yang berlebihan yakni “seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam” yang mempunyai makna majaz (kiasan) yang maknanya adalah “seperti kaum Nasrani yang menjadikan Nabi Isa a.s sebagai putera Tuhan” Apa yang dilakukan oleh kaum Nasrani diingkari dengan “Isa putera Maryam” dan “Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.”

    Jadi tidak ada kaitannya dengan kaum Nasrani mengadakan perayaan Natal

    Dan sejak larangan Nabi itu disampaikan hingga saat ini, tidak pernah ada seorangpun dari kalangan umat Islam yang memuji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melebihi batasannya sebagai manusia.

    Sehingga benarlah apa yang disampaikan Imam Bushiri di dalam syair Burdahnya:

    “Tinggalkan pengakuan orang Nasrani atas Nabi mereka… Pujilah beliau (shallallahu alaihi wasallam) sesukamu dengan sempurna… Sandarkanlah segala kemuliaan untuk dirinya… Dan nisbahkanlah sesukamu segala keagungan untuk kemuliaannya…”

    Sudah jelas batasan berlebihan seperti juga anjuran janganlah makan berlebihan. Batasannya seperti “berhentilah sebelum kenyang” atau “1/3 udara, 1/3 air, 1/3 makanan

    Begitu pula para Sahabat pernah ditegur oleh Rasulullah ketika mereka melakukan pujian kepada Rasulullah yang diiringi dengan rebana pada kalimat “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” karena Rasulullah mengetahui kejadian-kejadian di kemudian hari hanya berdasarkan apa yang diwahyukanNya

    Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadldlal Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Dzakwan ia berkata; Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin `Afran berkata; suatu ketika, Nabi shallallahu `alaihi wasallam dan masuk saat aku membangun mahligai rumah tangga (menikah). Lalu beliau duduk di atas kasurku, sebagaimana posisi dudukmu dariku. Kemudian para budak-budak wanita pun memukul rebana dan mengenang keistimewaan-keistimewaan prajurit yang gugur pada saat perang Badar. Lalu salah seorang dari mereka pun berkata, “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” Maka beliau bersabda: “Tinggalkanlah ungkapan ini, dan katakanlah apa yang ingin kamu katakan.” (HR Bukhari 4750)

    Kesimpulannya yang dimaksud “janganlah memuji Rasulullah berlebihan” adalah memuji Beliau dengan sesuatu yang menyalahi laranganNya atau dengan sesuatu yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits

    Pujilah sesuka kita dengan segala keagungan untuk kemuliaan manusia yang paling mulia, Nabi Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

    Wassalam

    ***

    Oleh: Zon di Jonggol , Kabupaten Bogor

     
c
Compose new post
j
Postingan berikutnya/Komentar berikutnya
k
Postingan sebelumnya/Komentar sebelumnya
r
Balas
e
Edit
o
Tampilkan/Sembunyikan komentar
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 640 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: