Updates from erva kurniawan Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 3:25 am on 3 September 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan  anakJika Sang Ibu Hobi Menyumpahi Buah Hatinya

    Penulis: Ummu Raihanah

    Sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari seorang ibu yang jengkel atas kenakalan atau kesalahan anak-anaknya melaknat atau menyumpahi mereka. Baik dengan kata-kata yang kotor (tidak pantas) ataupun do’a yang tidak baik. Sehingga sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Sang ibu tidak pernah merasa bersalah ataupun berdosa atas perbuatannya tersebut. Sambil bersungut-sungut dan mengumpat ia pun berlalu, meninggalkan buah hatinya dalam keadaan menangis.

    Memang profesi sebagai ibu rumah tangga mempunyai tugas yang seabrek-abrek, ibarat pekerja ibu mempunyai jam kerja yang tidak terbatas tidak seperti layaknya wanita karir kantoran yang mempunyai jadwal kerja antar 6-8 jam. Selepas itu ia bisa beristirahat dengan tenang. Sedangkan bagi ibu yang memiliki anak haruslah menjaga mereka 24 jam, belum melayani suami, memasak, mengurus rumah, menggosok pakaian, dan lain-lainnya duh capeknya!!!

    Beruntunglah para ibu yang suaminya menyediakan khadimah atau pembantu di rumah untuk meringankan tugasnya. Bagaimana bila sang suami tidak mampu? Tentu dialah yang harus menyelesaikan tugas itu sendirian, dan biasanya bila sang ibu kelelahan kondisinya sangatlah labil sedikit saja buah hatinya melakukan hal-hal yang menurutnya tidak sewajarnya, maka terkadang tidak dapat mengontrol emosinya. Jadi buntut-buntutnya keluarlah cercaan, cacian, makian, laknat dan sumpah yang tidak baik kepada anak-anak mereka. Ironisnya sang ayah yang mendengar terkadang hanya diam saja. Lalu bagaimana sebenarnya islam memandang hal ini??

    Memang jauhnya seseorang dari din yang mulia ini akan menyeret mereka dalam dosa dan maksiat bahkan terkadang mereka secara tak sadar telah menzhalimi hamba-hamba-Nya. Karena itu wajiblah bagi semua muslim dan juga muslimah mempelajari agama ini agar mereka terhindar dari apa yang di haramkan Allah dan mengerjakan apa yang di perintah-Nya.

    Karena itu wahai ukhti-ukhti muslimah tetaplah semangat dalam menuntut ilmu syariat agar Allah selalu membimbingmu.

    Islam melarang orangtua melaknat anak-anak mereka, bukan hanya itu kitapun dilarang menyumpahi diri kita sendiri ketika kita marah karena sesungguhnya kita tidak mengetahui kapan saatnya perkataan ataupun do’a (baik maupun buruk) yang kita ucapkan akan di kabulkan.

    Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu anhu, dia menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam telah bersabda:

    ”Janganlah kalian menyumpahi diri kalian, dan jangan pula menyumpahi anak-anak kalian dan harta kalian, kalian tidak mengetahui saat permintaan (do’a) dikabulkan sehingga Allah akan mengabulkan sumpah itu” (HR.Muslim)

    Hadits diatas menjelaskan bahwa ada waktu-waktu baik yang didalamnya akan dikabulkan doa, karena itu hadits ini melarang kita untuk menyumpahi diri, putera-puteri kita, dan harta kekayaan kita, supaya sumpah itu tidak bertepatan dengan waktu pengabulan do’a sehingga selamat dari bahaya.

    Tetapi sayangnya sebagaimana penulis paparkan diatas banyak dari kaum ibu yang melaknat dan menyumpahi anak-anak mereka. Mereka beralasan bahwa sebenarnya mereka tidak bermaksud demikian. Padahal sebagaimana kita ketahui alasan tersebut tidak dapat diterima karena larangannya telah jelas dan tegas.

    Penulis mendapati pengalaman yang bisa dijadikan ibrah bersama, kisah nyata yang patut untuk dijadikan renungan bersama bagi para ibu-ibu.

    Tak jauh lokasinya dari rumah penulis pada waktu itu ada tetangga ana mendapati seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia 9 tahun ditemukan tewas tersambar petir. Dus, berdatanganlah semua orang untuk melihatnya tak lama kemudian datanglah sang ibu yang menangis terisak-isak kemudian menjerit karena tidak mengira anaknya telah mati.

    Setelah beberapa waktu kemudian penulis mendengar bahwa sebab kematian anaknya tersebut adalah akibat dari sumpah siibunya sendiri yang pada waktu ketika ia marah ia menyumpahi anaknya agar tersambar petir. waliyyadzu billah…akhirnya sumpahnya tersebut dikabulkan Allah dan menyesallah sang ibu dengan penyesalan yang teramat mendalam. Nasi sudah menjadi bubur…..

    Kisah lainnya yang tak jauh berbeda juga masih sama terjadi dekat lokasi penulis…. Seorang anak laki-laki berusia kira-kira 7 tahun ditemukan tewas tenggelam di sungai. Peristiwa ini belumlah lama terjadi kira-kira 4 bulan yang lalu kejadiannya pun demikian anak tersebut terkena sumpah ibunya.

    Ibunya yang marah mendoakan kematian bagi anaknya tersebut. Dalam hujan gerimis anak itupun keluar bermain dengan kawan-kawannya ketika dia berjalan ditepian sungai malang kakinya tergelincir tenggelamlah ia kedalamnya. Kawan-kawannya tak kuasa menolongnya mereka berusaha mencari pertolongan orang dewasa, akhirnya sang anakpun terangkat ke tepi akan tetapi dia telah meninggal karena terlalu banyak menelan air sungai dan meraunglah sang ibu…..dengan ucapan bahwa dia tidak bersungguh-sungguh menyumpahi anaknya….semua orang yang hadir hanya lah terhenyak… ya … kiranya sumpah dan laknat telah menjadi budaya bagi kaum ibu-ibu kita. Sehingga sangatlah disesalkan anak-anak mereka menjadi korban.

    Sungguh sangat tragis dan menyedihkan jauhnya kita dari agama ini membuat kita terjerumus dalam kesalahan yang fatal. Semoga Allah membimbing kita semua dan mengampuni dosa-dosa kita.

    Sebenarnya banyak tips yang bisa di pelajari oleh para ibu rumah tangga agar mereka mampu mengontrol emosi mereka ketika marah.

    1. Ketika ibu marah, ingatlah bahwa Allah selalu mengawasi kita dan ingatlah bahwa anak tidaklah langsung tumbuh menjadi dewasa, kita juga dulunya anak-anak yang terkadang nakal dan menjengkelkan orangtua kita.
    2. Tarik nafas dalam-dalam dan santai (relaks) diam sejenak pandang anak dengan wajah yang lain dari biasanya tunjukkan ketidak sukaan kita akan ulah mereka, bila ibu ingin melotot atau merenggutkan muka maka lakukanlah agar anak takut
    3. Bila kedua cara diatas belum bisa menguasai emosi ibu segeralah ucapkan istighfar bila ibu ingin mengeraskan suara maka lakukanlah sehingga anak mendengar ucapan ibu, dan ingat ucapan istighfar itu akan terekam dalam otak anak-anak kita sehingga ketika mereka marah atau melakukan kesalahan secara otomatis mereka akan meniru kita
    4. Sebagaimana yang penulis jelaskan diatas bahwa kondisi seseorang mudah marah terkadang karena kelelahan, kerjakanlah pekerjaan rumah tangga apa yang ibu sanggup jangan memaksakan diri, tidurlah segera ketika anak-anak tidur sehingga ibu mempunyai waktu untuk beristirahat, dan tentu saja kerjasama antara suami istri sangat penting sekali dalam rumah tangga. Berilah pengertian kepada suami mengapa ibu tidak bisa menyelesaikan tugas rumah tangga ibu dengan penjelasan yang baik dan cara yang hikmah insya Allah suami ibu akan mengerti. Sehingga kebiasaan yang buruk menyumpahi anak ketika marah insya Allah akan berkurang sedikit demi sedikit.
    5. Jangan lupa berdo’alah kepada Allah agar Dia Yang Maha Kuasa merubah kebiasaan buruk ini sesungguhnya hati Ibu dalam genggaman-Nya. Insya Allah, kita tidak akan senang lagi menyumpahi anak-anak kita ketika marah.

    Wallahu’alam bisshawwab.

    Sumber:

    • 30 Larangan Wanita, Amr bin Abdul Mun’im, Pustaka Azzam.
    • Pengalaman pribadi
     
  • erva kurniawan 2:14 am on 2 September 2014 Permalink | Balas  

    syahadat1Amal-amal Penyelamat Umat Muhammad

    Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

    Suatu ketika terjadi tabrakan yang sangat keras antara dua kendaraan, yang menyebabkan pengendaranya luka berat. Masyarakat pun berdatangan untuk memberikan pertolongan.

    Pengendara pertama yang ditolong ternyata seorang pemuda. Wajahnya bersih bersinar dan tampak tersenyum kendati tubuhnya penuh luka. Ia tengah menghadapi sakaratul maut. Kedua bibirnya tampak bergerak-gerak seperti mengucapkan sesuatu.

    Seseorang yang menolongnya mencoba mendekatkan telinganya ke bibir pemuda itu, ia tercenung bercampur haru dan takjub. Apa yang didengarnya? Ternyata pemuda itu tengah melafalkan ayat suci Alquran hingga menghembuskan napas terakhirnya.

    Adapun pengendara kedua, juga seorang pemuda. Tubuhnya penuh luka, dan bibirnya pun bergerak-gerak seperti mengucapkan sesuatu. Si penolong itu merasa penasaran dan mendekatkan telinganya ke bibir sang pemuda. Apa yang didengarnya? Ternyata dari bibir pemuda itu terlantun sebuah lagu //rock//, dan ini terus terdengar dari mulutnya hingga tarikan napasnya yang penghabisan.

    Belakangan si penolong mengetahui lebih jauh tentang siapa pemuda yang pertama tadi. Ternyata pemuda itu tengah melakukan tugas rutin yang dilakukannya setiap bulan, yaitu mengunjungi fakir miskin di suatu kampung untuk membagikan makanan dan pakaian bekas yang ia kumpulkan selama satu bulan.

    Saat kejadian itu pun tampak di mobilnya beberapa bungkus makanan dan pakaian. Sementara di dashboard mobilnya ditemukan beberapa kaset bacaan Alquran dan ceramah.

    Bagaimana dengan pemuda yang satunya lagi? Tentu tidak perlu diungkapkan lebih lanjut di sini. Hanya saja, dengan kejadian tersebut, si penolong dan tentu kita semua seakan diberi gambaran oleh Allah SWT tentang amal seseorang ketika hidup dan kira-kira apa yang dialami keduanya setelah nyawanya tercerabut.

    Oleh karena itu, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menukilkan sebuah Hadis Rasulullah yang cukup panjang tentang amalan-amalan yang bisa menyelamatkan seseorang dari kesulitan di akhirat kelak. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Madini berbunyi, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku semalam bermimpi melihat hal yang sangat menakjubkan. Aku melihat seorang dari umatku yang didatangi oleh malaikat untuk mencabut nyawanya, lalu datang amalnya kepadanya dalam berbakti kepada dua orang tuanya, sehingga amal itu membuat malaikat itu kembali lagi.

    Aku melihat seseorang yang telah dipersiapkan kepadanya siksa kubur, lalu datang wudhunya, sehingga wudhunya itu menyelamatkannya dari siksa kubur.

    Aku melihat seseorang yang telah dikepung banyak setan, lalu datang kepadanya zikirnya kepada Allah, sehingga zikirnya itu mengusir setan-setan tersebut darinya.

    Aku melihat seseorang yang kehausan, sedang tiap kali ia mendekati telaga, ia diusir darinya. Lalu, datanglah shaum Ramadhannya, sehingga shaumnya itu memberikan minum kepadanya.

    Aku melihat seseorang di mana para nabi masing-masing duduk dalam halaqah, ia diusir dan dilarang untuk bergabung ke dalamnya. Lalu, datanglah mandinya dari hadas besar, sehingga mandinya itu membimbing ia dengan memegang tangannya seraya mendudukannya di sampingku.

    Aku melihat seseorang yang di depannya gelap sekali, begitu pula di belakang, atas, dan bawahnya, sehingga ia kebingungan mencari arah jalannya. Datanglah kepadanya haji dan umrahnya, lalu keduanya mengeluarkan ia dari kegelapan tersebut dan memasukkannya ke dalam tempat yang terang sekali.

    Aku melihat seseorang yang melindungi mukanya dengan tangannya dari panasnya kobaran api, lalu datang sedekahnya kepadanya dengan menutupi kobaran api dari mukanya seraya membimbingnya ke hadapan Allah SWT.

    Aku melihat seseorang yang mengajak bicara orang-orang mukmin, tetapi mereka mendiamkannya. Datanglah silaturahminya seraya berkata, ‘Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya ia adalah orang yang melakukan silaturahmi, maka ajaklah dia bicara’. Maka, orang tersebut diajak bicara oleh semua orang mukmin dan mereka mengulurkan tangan untuk berjabatan dengannya, sementara ia pun mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan mereka.

    Aku melihat seseorang yang telah dicengkeram Malaikat Jabaniyyah, lalu datanglah kepadanya amal ma’ruf nahyi munkar-nya, hingga amalnya itu menyelamatkan ia dari siksa Jabaniyyah dan memasukannya ke dalam lingkungan malaikat rahmat.

    Aku melihat seseorang yang jalannya merangkak dengan kedua lututnya dan di depannya terdapat tabir yang memisahkan ia dengan Allah, lalu datanglah akhlak baiknya seraya memegang tangan dan membimbingnya ke hadirat Allah SWT.

    Aku melihat seseorang yang catatan amalnya datang dari sebelah kirinya, lalu datanglah takwanya kepada Allah dan mengambil buku tersebut dengan meletakkannya di tangan kanannya.

    Aku melihat orang yang timbangan amalnya sangat ringan, lalu datang anak-anaknya yang meninggal waktu kecil, sehingga mereka memberatkan timbangan amal baiknya tersebut.

    Aku melihat seseorang yang berdiri di tebing Jahannam, lalu datanglah harapannya kepada Allah, hingga harapannya itu menyelamatkannya dari Jahannam dan ia berjalan menuju syurga dengan selamat.

    Aku melihat seseorang yang terpelanting di atas neraka, lalu datanglah air matanya karena takut pada Allah, hingga air mata itu menyelamatkannya dari jatuh ke neraka.

    Aku melihat seseorang yang tengah berada di atas jembatan dengan tubuh gemetar, lalu datang husnudzannya pada Allah, hingga sikapnya itu menjadikan dia tenang dan ia pun berjalan dengan lancar.

    Aku melihat seseorang yang jatuh bangun di atas jembatan. Terkadang ia merangkak, terkadang pula ia menggantung. Lalu datanglah shalatnya menegakkan kedua kakinya dan menyelamatkannya hingga ia mampu menyeberangi jembatan sampai ke pintu syurga.

    Aku pun melihat pula seseorang yang telah sampai ke pintu syurga, semua pintu ditutup baginya. Lalu datanglah syahadatnya, sehingga dibukalah pintu syurga dan ia pun bisa masuk ke dalamnya”.

    Itulah gambaran tentang amalan-amalan yang dengan izin Allah SWT bisa menjadi penyelamat umat Muhammad SAW yang benar-benar melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah dengan hati ikhlas.

    ps: Tolong disebarkan kepada saudara kita yang belum membacanya. Semoga kebaikan anda dibalas ALLAH SWT.

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 1 September 2014 Permalink | Balas  

    quran 2Umar Bin Khaththab (2/2)

    Khalifah Umar dan Keadilan

    Suatu ketika Umar bin Khattab sedang berkhotbah di masjid di kota Madinah tentang keadilan dalam pemerintahan Islam. Pada saat itu muncul seorang lelaki asing dalam masjid , sehingga Umar menghentikan khotbahnya sejenak, kemudian ia melanjutkan.

    “Sesungguhnya seorang pemimpin itu diangkat dari antara kalian bukan dari bangsa lain. Pemimpin itu harus berbuat untuk kepentingan kalian, bukan untuk kepentingan dirinya, golongannya, dan bukan untuk menindas kaum lemah. Demi Allah, apabila ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka kepada orang yang ditindas itu diberikan haknya untuk membalas pemimpin itu. Begitu pula jika seorang pemimpin di antara kamu sekalian menghina seseorang di hadapan umum, maka kepada orang itu harus diberikan haknya untuk membalas hal yang setimpal.”

    Selesai khalifah berkhotbah, tiba-tiba lelaki asing tadi bangkit seraya berkata; “Ya Amiirul Mu’minin, saya datang dari Mesir dengan menembus padang pasir yang luas dan tandus, serta menuruni lembah yang curam. Semua ini hanya dengan satu tujuan, yakni ingin bertemu dengan Tuan.”

    “Katakanlah apa tujuanmu bertemu denganku,” ujar Umar.

    “Saya telah dihina di hadapan orang banyak oleh ‘Amr bin ‘Ash, gubernur Mesir. Dan sekarang saya akan menuntutnya dengan hukum yang sama.”

    “Ya saudaraku, benarkah apa yang telah engkau katakan itu?” tanya khalifah Umar ragu-ragu.

    “Ya Amiirul Mu’minin, benar adanya.”

    “Baiklah, kepadamu aku berikan hak yang sama untuk menuntut balas. Tetapi, engkau harus mengajukan empat orang saksi, dan kepada ‘Amr aku berikan dua orang pembela. Jika tidak ada yang membela gubernur, maka kau dapat melaksanakan balasan dengan memukulnya 40 kali.”

    “Baik ya Amiirul Mu’minin. Akan saya laksanakan semua itu,” jawab orang itu seraya berlalu. Ia langsung kembali ke Mesir untuk menemui gubernur Mesir ‘Amr bin ‘Ash.

    Ketika sampai ia langsung mengutarakan maksud dan keperluannya.

    “Ya ‘Amr, sesungguhnya seorang pemimpin diangkat oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat. Dia diangkat bukan untuk golongannya, bukan untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya, dan bukan pula untuk menindas yang lemah dan mengambil hak yang bukan miliknya. Khalifar Umar telah memberi izin kepada saya untuk memperoleh hak saya di muka umum.”

    “Apakah kamu akan menuntut gubernur?” tanya salah seorang yang hadir.

    “Ya, demi kebenaran akan saya tuntut dia,” jawab lelaki itu tegas.

    “Tetapi, dia kan gubernur kita?”

    “Seandainya yang menghina itu Amiirul Mu’minin, saya juga akan menuntutnya.”

    “Ya, saudara-saudaraku. Demi Allah, aku minta kepada kalian yang mendengar dan melihat kejadian itu agar berdiri.”

    Maka banyaklah yang berdiri.

    “Apakah kamu akan memukul gubernur?” tanya mereka.

    “Ya, demi Allah saya akan memukul dia sebanyak 40 kali.”

    “Tukar saja dengan uang sebagai pengganti pukulan itu.”

    “Tidak, walaupun seluruh masjid ini berisi perhiasan aku tidak akan melepaskan hak itu,” jawabnya .

    “Baiklah, mungkin engkau lebih suka demi kebaikan nama gubernur kita, di antara kami mau jadi penggantinya,” bujuk mereka.

    “Saya tidak suka pengganti.”

    “Kau memang keras kepala, tidak mendengar dan tidak suka usulan kami sedikit pun.”

    “Demi Allah, umat Islam tidak akan maju bila terus begini. Mereka membela pemimpinnya yang salah dengan gigih karena khawatir akan dihukum,” ujarnya seraya meninggalkan tempat.

    ‘Amr bin’Ash serta merta menyuruh anak buahnya untuk memanggil orang itu. Ia menyadari hukuman Allah di akhirat tetap akan menimpanya walaupun ia selamat di dunia.

    “Ini rotan, ambillah! Laksanakanlah hakmu,” kata gubernur ‘Amr bin ‘Ash sambil membungkukkan badannya siap menerima hukuman balasan.

    “Apakah dengan kedudukanmu sekarang ini engkau merasa mampu untuk menghindari hukuman ini?” tanya lelaki itu.

    “Tidak, jalankan saja keinginanmu itu,” jawab gubernur.

    “Tidak, sekarang aku memaafkanmu,” kata lelaki itu seraya memeluk gubernur Mesir itu sebagai tanda persaudaraan. Dan rotan pun ia lemparkan.

    ***

    Sumber : Al-Islam

    Disampaikan oleh : Retno Wahyudiaty

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 31 August 2014 Permalink | Balas  

    quran-tasbihUmar Bin Khaththab (1/2)

    Pada hari-hari terakhir hidupnya, Khalifah Abu Bakar sibuk bertanya pada banyak orang.”Bagaimana pendapatmu tentang Umar?” Hampir semua orang menyebut Umar adalah seorang yang keras, namun jiwanya sangat baik. Setelah itu, Abu Bakar minta Usman bin Affan untuk menuliskan wasiat bahwa penggantinya kelak adalah Umar.

    Tampaknya Abu Bakar khawatir jika umat Islam akan berselisih pendapat bila ia tak menuliskan wasiat itu.

    Pada tahun 13 Hijriah atau 634 Masehi, Abu Bakar wafat dan Umar menjadi khalifah.

    Jika orang-orang menyebut Abu Bakar sebagai “Khalifatur- Rasul”, kini mereka memanggil Umar “Amirul Mukminin” (Pemimpin orang mukmin). Umar masuk Islam sekitar tahun 6 Hijriah. Saat itu, ia berniat membunuh Muhammad namun tersentuh hati ketika mendengar adiknya,Fatimah, melantunkan ayat Quran.

    Selama di Madinah, Umarlah –bersama Hamzah-yang paling ditakuti orang-orang Quraisy.Keduanya selalu siap berkelahi jika Rasul dihina. Saat hijrah, ia juga satu-satunya sahabat Rasul yang pergi secara terang-terangan. Ia menantang siapapun agar menyusulnya bila ingin “ibunya meratapi, istrinya jadi janda, dan anaknya menangis kehilangan.”

    Kini ia harus tampil menjadi pemimpin semua. Saat itu, pasukan Islam tengah bertempur sengit di Yarmuk -wilayah perbatasan dengan Syria. Umar tidak memberitakan kepada pasukannya bahwa Abu Bakar telah wafat dan ia yang sekarang menjadi khalifah. Ia tidak ingin mengganggu konsentrasi pasukan yang tengah melawan kerajaan Romawi itu.

    Di Yarmuk, keputusan Abu Bakar untuk mengambil markas di tempat itu dan kecerdikan serta keberanian Khalid bin Walid membawa hasil. Muslim bermarkas di bukit-bukit yang menjadi benteng alam, sedangkan Romawi terpaksa menempati lembah di hadapannya. Puluhan ribu pasukanRomawi -baik yang pasukan Arab Syria maupun yang didatangkan dari Yunani-tewas. Lalu terjadilah pertistiwa mengesankan itu.

    Panglima Romawi, Gregorius Theodore -orang-orang Arab menyebutnya “Jirri Tudur”– ingin menghindari jatuhnya banyak korban. Ia menantang Khalid untuk berduel. Dalam pertempuran dua orang itu, tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Ia ganti mengambil pedang besar. Ketika berancang-ancang perang lagi, Gregorius bertanya pada Khalid tentang motivasinya berperang serta tentang Islam.

    Mendengar jawaban Khalid, di hadapan ratusan ribu pasukan Romawi dan Muslim, Gregorius menyatakan diri masuk Islam. Ia lalu belajar Islam sekilas, sempat menunaikan salat dua rakaat, lalu bertempur di samping Khalid. Gregorius syahid di tangan bekas pasukannya sendiri. Namun pasukan Islam mencatat kemenangan besar di Yarmuk, meskipun sejumlah sahabat meninggal di sana. Di antaranya adalah Juwariah, putri Abu Sofyan.

    Umar kemudian memecat Khalid, dan mengangkat Abu Ubaidah sebagai Panglima Besar pengganti. Umar khawatir, umat Islam akan sangat mendewakan Khalid. Hal demikian bertentangan prinsip Islam. Khalid ikhlas menerima keputusan itu. “saya berjihad bukan karena Umar,” katanya. Ia terus membantu Abu Ubaidah di medan tempur. Kota Damaskus berhasil dikuasai. Dengan menggunakan “tangga manusia”, pasukan Khalid berhasil menembus benteng Aleppo. Kaisar Heraklius dengan sedih terpaksa mundur ke Konstantinopel, meninggalkan seluruh wilayah Syria yang telah lima abad dikuasai Romawi.

    Penguasa Yerusalem juga menyerah. Namun mereka hanya akan menyerahkan kota itu pada pemimpin tertinggi Islam. Maka Umar pun berangkat ke Yerusalem. Ia menolak dikawal pasukan. Jadilah pemandangan ganjil itu. Pemuka Yerusalem menyambut dengan upacara kebesaran. Pasukan Islam juga tampil mentereng. Setelah menaklukkan Syria, mereka kini hidup makmur.Lalu Umar dengan bajunya yang sangat sederhana datang menunggang unta merah. Ia hanya disertai seorang pembantu. Mereka membawa sendiri kantung makanan serta air.

    Kesederhanaan Umar itu mengundang simpati orang-orang non Muslim. Apalagi kaum GerejaSyria dan Gereja Kopti-Mesir memang mengharap kedatangan Islam. Semasa kekuasaan Romawi mereka tertindas, karena yang diakui kerajaan hanya Gereja Yunani. Maka, Islam segera menyebar dengan cepat ke arah Memphis (Kairo), Iskandaria hingga Tripoli, di bawah komandoAmr bin Ash dan Zubair, menantu Abu Bakar.

    Ke wilayah Timur, pasukan Saad bin Abu Waqas juga merebut Ctesiphon -pusat kerajaan Persia,pada 637 Masehi. Tiga putri raja dibawa ke Madinah, dan dinikahkan dengan Muhammad anak Abu Bakar, Abdullah anak Umar, serta Hussein anak Ali. Hussein dan istrinya itu melahirkan Zainal Ali Abidin -Imam besar Syiah.

    Dengan demikian, Zainal mewarisi darah Nabi Muhammad, Ismail dan Ibrahim dari ayah, serta darah raja-raja Persia dari ibu. Itu yang menjelaskan mengapa warga Iran menganut aliran Syi’ah. Dari Persia, Islam kemudian menyebar ke wilayah Asia Tengah, mulai Turkmenistan, Azerbaijan bahkan ke timur ke wilayah Afghanistan sekarang.

    Umar wafat pada tahun 23 Hijriah atau 644 Masehi. Saat salat subuh, seorang asal Parsi Firuz menikamnya dan mengamuk di masjid dengan pisau beracun. Enam orang lainnya tewas, sebelum Firus sendiri juga tewas. Banyak dugaan mengenai alasan pembunuhan tersebut. Yang pasti,ini adalah pembunuhan pertama seorang muslim oleh muslim lainnya.

    Umar bukan saja seorang yang sederhana, tapi juga seorang yang berani berijtihad. Yakni melakukan hal-hal yang tak dilakukan Rasul. Untuk pemerintah, ia membentuk departemen-departemen.Ia tidak lagi membagikan harta pampasan perang buat pasukannya, melainkan menetapkan gaji buat mereka. Umar memulai penanggalan Hijriah, dan melanjutkan pengumpulan catatan ayat Quran yang dirintis Abu Bakar.

    Ia juga memerintahkan salat tarawih berjamaah.

    Menurut riwayat, suatu waktu Ali terpesona melihat lampu-lampu masjid menyala pada malam hari di bulan Ramadhan. “Ya Allah, sinarilah makam Umar sebagaimana masjid-masjid kami terang benderang karenanya,” kata Ali.

    ***

    Sumber : Ukhuwah

    Disampaikan oleh : Retno Wahyudiaty

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 30 August 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan anak lelakinya berdoaYang Terlupakan

    Ibu,

    Tahun yang lalu, ketika ibu saya berkunjung, ia mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut.

    Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari yang berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi.

    Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian, saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah mencoba untuk mengikat talinya.

    Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya, seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata yang keluar tanpa saya sadari.

    Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun tersebut. Pakaian ini begitu indah, dan dia membelinya. Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya. Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengikat tali blusnya.

    Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya.

    Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya … dan yang membuatnya terkejut, memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri. Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ibu… With Love to All Mother.

    Note : Berbahagialah yang masih memiliki Ibu. Dan lakukanlah yang terbaik untuknya………

    ***

    Oleh Sahabat Nining

     
  • erva kurniawan 2:16 am on 29 August 2014 Permalink | Balas  

    siluet-anak-dan-ayahRenungan Jumat: Ayah

    Suatu ketika, ada seorang anak perempuan bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk, disertai suara batuk-batuk. Anak perempuan itu bertanya: “Ayah, mengapa wajahmu kian berkerut-merut dengan badan yang kian hari kian terbungkuk?” Ayahnya menjawab : “Sebab aku laki-laki.” Anak perempuan itu bergumam : “Aku tidak mengerti.” Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak perempuan itu, terus menepuk-nepuk bahunya sambil mengatakan : “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki.”

    Karena penasaran, anak perempuan itu kemudian menghampiri Ibunya seraya bertanya: “Ibu, mengapa wajah ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk ? Dan sepertinya ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?” Ibunya menjawab : “Anakku, seorang laki-laki yang bertanggung-jawab terhadap keluarga memang akan demikian.” Hanya itu jawaban sang Ibu.

    Anak perempuan itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa. Tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah ayahnya yang tadinya tampan dan gagah menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ? Hingga pada suatu malam, anak perempuan itu bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa kepenasarannya selama ini.

    “Saat Ku-ciptakan laki-laki, Aku membuatnya sebagai pemimpin dan tiang penyangga dari bangunan keluarga, yang akan menahan setiap ujungnya agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi. Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting tulang menghidupi keluarganya. Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringat yang halal dan bersih sehingga keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya. Demi keluarganya, dia merelakan kulitnya tersengat panas matahari dan badannya basah kuyup kedinginan tersiram hujan. Yang selalu dia ingat adalah semua orang menanti kedatangannya dan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya.”

    “Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan kerapkali menerpanya. Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya didalam kondisi apapun juga, walaupun tidak jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Ku-berikan kerutan di wajahnya agar menjadi bukti, bahwa dia senantiasa berusaha tenaga dan pikiran untuk mencari cara sehingga keluarganya bisa hidup dalam keluarga yang sakinah. Ku-jadikan badannya terbungkuk-bungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, dia senantiasa berusaha mencurahkan seluruh tenaganya demi kelangsungan hidup keluarga. Ku-berikan kepada laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat.”

    Terbangun anak perempuan itu, dan segera dia berlari, bersuci, berwudhu dan melakukan shalat malam hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdzikir. Ketika ayahnya berdiri, anak perempuan itu merengkuh dan mencium telapak tangan ayahnya.

    “Aku mendengar dan merasakan bebanmu, ayah.”

    ***

    Saudaraku, do’akanlah dia dan berbaktilah kepadanya selagi masih hidup karena Allah memerintahkan kita demikian dan dia memang menjadi jalan kelangsungan hidup kita hingga sekarang. Manfaatkan momen Ramadhan dan Idul Fitri nanti untuk menyatakan cintamu kepadanya.

    ***

    (Diambil dari milis Daarut Tauhid)

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 28 August 2014 Permalink | Balas  

    Reciting-QuranAbu Bakar Ash-Shiddiq (2/2)

    Disampaikan oleh : Retno Wahyudiaty

    Medina sebagai ibu kota Islam sangat terancam oleh gerombolan-gerombolan musuh. Nabi mengimbau perlunya dana untuk membiayai kampanye guna mempertahankan diri dari bahaya yang akan tiba. Maka, Umar yang kaya raya seketika itu juga ingin mengambil kesempatan emas ini, sehingga dia berharap bisa menandingi Abu Bakar dalam berbakti kepada Islam. Beliau bergegas pulang ke rumah dan kembali membawa sejumlah besar harta kekayaannya. Nabi sangat senang melihat tindakan sahabatnya itu, dan bertanya : “Apakah ada yang Anda tinggalkan untuk keturunan Anda?”

    “Sebagian dari harta kekayaan telah saya sisihkan untuk anak-anak saya,” jawab Umar.

    Ketika Abu Bakar membawa pula hartanya, pertanyaan yang sama juga diajukan kepadanya.

    Beliau langsung menjawab, “Yang saya tinggalkan untuk anak-anak saya hanyalah Allah dan Rasul-Nya.”

    Sangat terkesan akan ucapan Abu Bakar, Umar berkata, “Tidak akan mungkin bagi saya melebihi Abu Bakar.”

    Abu Bakar, Khalifah Islam yang pertama dan orang paling terpercaya serta pembantu Nabi yang sangat setia, dilahirkan di Mekkah dua setengah tahun setelah Tahun Gajah, atau lima puluh setengah tahun sebelum dimulainya Hijrah. Di masa pra Islam dikenal sebagai Abul Kaab dan waktu masuk Islam Nabi memberinya nama Abdullah dengan gelar Ash-Shiddiq (Orang Terpercaya). Ia termasuk suku Quraisy dari Bani Taim, dan silsilah keturunannya sama dengan Nabi SAW dari garis ke 7. Dialah salah seorang pemimpin yang sangat dihormati sebelum dan sesudah mereka memeluk agama Islam. Nenek moyangnya berdagang dan sekali-sekali mengadakan perjalanan dagang ke Syria atau Yaman. Sering Abu Bakar mengunjungi Nabi dan ketika turun wahyu, ia sedang berada di Yaman. Setelah kembali ke Mekkah ia mendengar para pemimpin Quraisy seperti Abu Jahal, Ataba dan Shoba mengejek pernyataan pengangkatan Muhammad menjadi Rasul Allah. Abu Bakar menjadi sangat marah, lalu bergegas ke rumah Nabi dan langsung memeluk agama Islam. Menurut Suyuti, pengarang Tarikhul Khulafa, Nabi berkata, “Apabila saya menawarkan agama Islam kepada seseorang, biasanya orang itu menunjukkan keragu-raguannya sebelum memeluk agama Islam. Tapi Abu Bakar adalah suatu perkecualian. Dia memeluk agama Islam tanpa ada sedikit pun keragu-raguan pada dirinya.”

    Sudah diakui secara luas, bahwa pemeluk agama Islam pertama-tama diantara orang dewasa adalah Abu Bakar, diantara kaum muda tercatat nama Ali, sedang diantara kaum wanita adalah Khadijah. Abu Bakar, sebagai seorang yang kaya raya, telah menyerahkan seluruh harta kekayaannya untuk digunakan Nabi. Disamping itu, ia membeli dan membebaskan sejumlah budak belian, termasuk menjalani segala macam penderitaan, intimidasi dan siksaan demi berbakti kepada kepercayaan barunya itu (Islam). Pada suatu ketika dia dipukul hingga pingsan. Keberanian dan kebulatan tekad yang ditunjukkan Nabi dan para sahabat yang setia dalam menghadapi oposisi keras akan selalu menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang berjuang demi kebenaran. Abu Bakar mempunyai 40.000 dirham ketika masuk agama Islam, tapi kemudian hanya tinggal 5.000 dirham saja pada waktu hijrah. Beliau pergi hijrah ke Medina menemani Nabi, dan meninggalkan istri serta anak-anaknya pada lindungan Allah

    Ia juga berjuang bahu-membahu dengan Nabi dalam pertempuran mempertahankan diri, di saat para pemeluk agama baru itu sedang berjuang untuk eksistensinya. Abdur Rahman bin Abu Bakar — putera Abu Bakar — mengatakan kepada ayahnya bahwa di dalam perang Badar, dengan mudah dia mendapat kesempatan membunuh ayahnya. Abu Bakar langsung menjawab bahwa apabila hal itu terjadi pada dirinya dalam menghadapi anaknya, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

    Abu Bakar meninggal pada 23 Agustus 634 Masehi dalam usia 63 tahun, dan ke-Khalifahannya berlangsung selama dua tahun tiga bulan sebelas hari, jenazahnya dimakamkan di samping makam Nabi.

    Pada waktu Nabi wafat, Abu Bakar dipilih menjadi khalifah Islam yang pertama. Setelah terpilih, banyak orang berebut menawarkan ‘bai’at’, Khalifah lalu menyampaikan pidatonya yang mengesankan di hadapan para pemilih.

    Abu Bakar berkata : “Saudara-saudara, sekarang aku telah terpilih sebagai Amir, meskipun aku tidak lebih baik dari siapa pun di antara kalian. Bantulah aku apabila aku berada di jalan yang benar, dan perbaikilah aku apabila aku berada di jalan yang salah. Kebenaran adalah suatu kepercayaan; kesalahan adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian akan menjadi kuat bersamaku sampai (Insya Allah) kebenarannya terbukti, dan orang yang kuat di antara kalian akan menjadi lemah bersamaku sampai (Insya Allah) kuambil apa yang menjadi haknya. Patuhilah kepadaku sebagaimana aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika akau tidak mematuhi-Nya dan Rasul-Nya, janganlah sekali-kali kalian patuh kepadaku.”

    Abu Bakar berdiri tegak bagaikan batu karang menghadapi kekuatan-kekuatan yang mengacau setelah Nabi wafat. Nampaknya seluruh struktur Islam yang telah diletakkan Nabi yang baru saja mangkat akan hancur berantakan. Namun Abu Bakar sebagai seorang sahabat setia Nabi telah membuktikan dirinya menjadi orang yang kuat memegang teguh pada jalan yang ditunjukkan Nabi. Selama Nabi sakit, satuan tentara yang berkekuatan 700 orang dimobilisir di bawah pimpinan Usama bin Zaid menuntut balas atas kekalahan orang-orang Muslim dari tangan pasukan Romawi. Dan begitu Nabi wafat terjadi pula huru-hara besar di Arab dan teman-teman dekatnya menasehati Khalifah baru agar tidak mengirimkan tentara ke luar Medina pada saat-saat kritis seperti itu. Tapi Abu Bakar tetap pada pendiriannya. Mengenai nasehat itu seandainya dilaksanakan, ia memberikan komentar bahwa dirinya akan menjadi orang terakhir di dunia yang mengubah perintah-perintah Nabi. Pengukuhan Usama sebagai panglima pasukan berkuda yang diangkat Nabi dipimpin langsung oleh Khalifah sendiri. Tentara Usama menyelesaikan tugasnya dalam tempo empat puluh hari. Ekspedisi itu berpengaruh sangat baik terhadap suku-suku bangsa yang mulai membandel dan ragu-ragu tentang kekuatan Islam yang sesungguhnya. Tindakan Abu Bakar yang imajinatif, tepat waktu, dan dinamis, telah menyatukan kekuatan Islam.

    Segera Abu Bakar menghadapi krisis yang lain. Waktu Nabi wafat, sejumlah nabi palsu, yaitu para penipu lihai yang muncul di berbagai bagian Arab. Di antara mereka yang terkenal ialah Aswad Asni, Talha Bani Asad, Musailama si Pendusta, dan Sajah seorang wanita Yaman. Di suatu daerah di Zuhl Qassa, Khalifah memberikan sebelas petaka untuk menyamai jumlah komandannya dan menugaskan mereka di berbagai sektor. Ekspedisi melawan Musailama terasa sangat berat dan baru setelah Khlaid bin Walid menggempur dengan dahsyatnya, musuh dapat dihancurkan. Musailama mati terbunuh. Seorang sejarawan bernama Tabrani mengatakan, “Belum pernah Muslimin bertempur sedahsyat pertempuran itu.”

    ***

    Tidak lama setelah pemilihan Khalifah, sejumlah anggota suku mengimbau para pemimpin Islam Medinah agar mereka dibebaskan dari membayar zakat. Keadaan tampaknya begitu suram, sehingga menghadapi masalah itu orang seperti Umar pun terpaksa mengalah dan ia mohon kepada Abu Bakar: “O, Khalifah Rasul, bersikap ramahlah kepada orang-orang ini, dan perlakukanlah mereka dengan lemah lembut.” Khalifah sangat jengkel dengan pameran kelemahan yang tidak disangka-sangka itu, dan dengan amarah yang amat sangat ia menjawab : “Anda begitu keras pada zaman jahiliyyah, tapi sekarang, Anda menjadi begitu lemah. Wahyu Allah telah sempurna dan iman kita telah mencapai kesempurnaan. Sekarang Anda ingin merusakkannya pada saat aku masih hidup. Demi Allah, walau sehelai benang pun yang akan dikurangi dari zakat, aku akan berjuang mempertahankannya dengan semua kekuatan yang ada padaku.”

    Dalam sejarahnya, Khalifah Abu Bakar adalah seorang yang memegang teguh pendirian dan integritasnya, berwatak baja. Ia selalu tampil mempertahankan ajaran dasar agama Islam pada saat-saat yang sangat kritis.

    Semua ekspedisi militer yang ditujukan terhadap orang-orang yang ingkar kepada agama dan terhadap suku-suku bangsa yang berontak, berakhir dengan sukses menjelang akhir tahun 11 Hijrah. Pemberontakan dan perselisihan yang mencekam Arab dapat ditumpas untuk selama-lamanya.

    Di dalam negeri tidak ada pergolakan lagi, tetapi Khlaifah harus menghadapi bahaya dari luar yang pada gilirannya dapat menghancurkan eksistensi Islam. Dua orang raja paling berkuasa di dunia, Kaisar dan kisra, sedang mengintai kesempatan untuk menyerang pusat agama baru itu. Orang-orang Parsi selama berabad-abad memerintah Arab sebagai maharaja, tidak dapat mentolerir setiap kekuatan Arab militan untuk bersatu membentuk kekuatan yang besar. Hurmuz adalah raja Islam yang memerintah Iraq atas naka Kisra. Penganiayaan terhadap orang-orang Arab menimbulkan pemberontakan kecil, tapi lalu berkembang menjadi peperangan berdarah. Kini, keadaan terjadi sebaliknya, orang-orang Persia dengan penuh kecongkakan dan selalu meremehkan kekuatan orang-orang Muslim, akhirnya tidak dapat menahan gelombang maju pasukan Islam, dan mereka harus mundur dari satu tempat ke tempat lainnya sampai Iraq jatuh. Pada mulanya, Muthanna yang memimpin tentara Islam melawan orang-orang Persi. Dia banyak mendapat kemenangan. Kemudian, Khalid bin Walid yang tak terkalahkan dan dikenal sebagai Pedang Allah itu bergabung. Pertempuran yang menentukan melawan Hurmuz dimenangkan orang-orang Muslim, dan saat itulah Hurmuz mati terbunuh di tangan Khalid bin Walid dan orang-orang Parsi dihancurkan dengan meninggalkan banyak korban jiwa. Seekor unta dimuati rantai seberat tujuh setengah maund yang dikumpulkan dari medan tempur, sehingga pertempuran itu dikenal sebagi “Pertempuran Rantai”

    Khalid bin Walid ketika menjabat panglima tentara Islam di Iraq memisahkan administrasi sipil dengan militer, masing-masing di bawah beberapa orang kepala. Said bin Noman diangkat sebagai kepala departemen militer, sedangkan Suwaid bin Maqran selaku kepala administrasi sipil dari daerah Iraq yang ditaklukkan. Sebagian besar daerah Iraq direbut selama pemerintah Khalifah Abu Bakar, sedang sisanya ditaklukkan di bawah pemerintahan Umar.

    Raja Byzantium, Heraclius, yang menguasai Syria dan Palestina, benar-benar musuh Islam yang paling besar dan paling perkasa. Terus-menerus raja itu bersekongkol dengan musuh-musuh Muslimin untuk menghancurkan Islam. Intrik-intrik dan akal bulusnya menimbulkan beberapa kerusuhan yang dilakukan oleh suku-suku non-Islam di arab. Dialah bahaya laten bagi Islam. Sejak tahun (?) Hijrah, Nabi sendiri telah memimpin tentara melawan orang romawi, dan ekspedisi pimpinan Usama bin Zaid juga ditujukan melawan ancaman musuh yang sama. Lagi, Abu Bakar mengirimkan tentaranya yang terlatih untuk menghadang orang-orang Romawi dan membagi kekuatannya dalam empat pasukan di bawah komando Abu Ubaikdah, Syarjil bin Hasanah, Yazid bin Sofyan dan Amr bin Al-Ash serta menempatkan mereka di berbagai sektor di Syria. Tentara Islam tanpa persenjataan yang baik, tidak terlatih dan rendah mutunya, bukanlah tandingan angkatan perang Romawi. Mereka bersenjata lengkap dan baik, terlatih dan jumlahnya lebih banyak. Khalid diperintahkan Khalifah untuk bergabung dengan pasukan Muslim di Syria dan ia bergerak dengan cepatnya melalui padang pasir gersang untuk menggores babak yang tak terlupakan dalam sejarah operasi militer.

    ***

    Pasukan Islam dan musuh berhadapan di dataran Yarmuk, Tentara Romawi yang hebat itu terdiri dari lebih 3 lakh serdadu bersenjata lengkap, di antaranya 80.000 orang diikat dengan rantai untuk mencegah kemungkinan mundurnya mereka. Tentara Muslim seluruhnya berjumlah 46.000 orang. Sesuai dengan strategi Khalid, mereka dipecah menjadi 40 kontingen untuk memberi kesan seolah-olah mereka lebih besar dari musuh. Pertempuran yang tak terlupakan ini berakhir dengan kekalahan pihak Romawi, dan ketika mengundurkan diri mereka meninggalkan banyak serdadu yang mati di medan tempur. Kemenangan ini menentukan nasib kekuasaan Romawi di Syria. Pertempuran Yarmuk, dengan persiapan-persiapan pendahuluannya yang telah dimulai sejak zaman Khalifah Abu Bakar, dimenangkan pada masa pemerintahan Umar.

    Abu Bakar adalah sahabat Nabi yang paling terpercaya. Nabi berkata, “Saya tidak tahu apakah ada orang yang melebihi Abu Bakar dalam kedermawanannya.” Ketika sakit Nabi semakin parah, beliau meminta Abu Bakar menjadi imam dalam shalat. Demikianlah, Abu Bakar mengimami shalat tujuh belas kali selama Nabi hidup.

    Nabi berkata: “Saya sudah membayar semua kewajiban saya, kecuali kepada Abu Bakar yang akan mendapatkan ganjarannya pada hari kiamat.”

    Menurut Tarmidzi, Umar pernah berkata, “O, Abu Bakar, Anda orang terbaik sesudah Rasul Allah.”

    Menurut keterangan imam Ahmad, Ali pernah berkata, “Orang-orang terbaik di antara umat Islam setelah Nabi adalah Abu Bakar dan Umar.”

    Para sejarawan dahulu maupun sekarang banyak memberikan pujian mengenai watak dan prestasi Abu Bakar. Dialah salah satu pilar Islam yang kuat, yang sangat membantu dalam menjadikan agama baru itu sebagai suatu kekuatan di dunia, juga sebagai salah seorang tokoh revolusi besar Islam, ia telah menciptakan berbagai perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang paling fundamental dalam sejarah manusia, hanya dalam waktu 30 tahun. Abu Bakar juga salah seorang peletak dasar demokrasi yang sebenarnya di dunia ini, lebih dari 1.400 tahun yang lalu, tapi tak pernah ada lagi setelah itu. Kekuasaan tertinggi negara memang berada di tangan Khalifah, dan waktu itu seorang khalifah adalah juga seorang raja yang sangat kuat. Tapi Abu Bakar berjalan hilir mudik tanpa pengawal ataupun teman. Ia makan makanan yang jelek dan memakai pakaian yang lusuh. Bahkan rakyat awam pun dapat menghubunginya setiap waktu di siang hari, dan menanyakan segala tindakannya secara terbuka.

    Di antara orang-orang Islam, Abu Bakar dan Ali yang terkenal pandai berpidato. Suatu ketika Abu Bakar menasehati Khalid bin Walid: “Cobalah jauhi kemegahan, karena kemegahan itu yang akan mengejar Anda. Carilah kematian, maka kehidupan yang akan diberikan kepada Anda.”

    Dia perintahkan pembuatan daftar tuntunan moral bagi tingkah laku para prajurit Islam. Tuntunan ini seyogyanya menjadi contoh bagi dunia yang porak poranda karena peperangan. Kepada setiap tentara diperintahkan: “Janganlah melakukan penyelewengan, jangan menipu orang, jangan ingkar kepada atasan, jangan memotong bagian badan manusia, jangan membunuh orang-orang tua, para wanita dan anak-anak, jangan menebang atau membakar pohon buah-buahan, jangan membunuh hewan kecuali disembelih untuk dimakan, jangan menganiaya para pendeta Kristen, dan jangan lupa kepada Allah atas kurnia-Nya yang telah Anda nikmati.” Adalah suatu kewajiban bagi angkatan bersenjata untuk mempertahankan moral yang tinggi. Walaupun dalam keadaan perang, mereka tetap harus menunjukkan rasa hormat kepada manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Setiap penyelewengan dari prinsip-prinsip ini akan diganjar dengan hukuman yang setimpal.

    Abu Bakar mengangkat Umar sebagai Qadhi Agung. Tapi rakyat telah terbiasa dengan hidup jujur dan kehidupan sosial mereka begitu bersih dibanding dengan kehidupan immoral zaman sebelum Islam, sehingga tidak ada pengaduan yang disampaikan kepada qadhi selama satu tahun. Adapun Ali, Utsman, dan Zaid bin Tsabit bekerja sebagai Khatib. Kesederhanaan, kejujuran dan integritas Abu Bakar telah bersatu dalam dirinya. Dialah seorang pedagang kaya yang memiliki lebih dari 40.000 dirham tunai ketika memeluk agama Islam, tapi menjadi miskin harta sewaktu wafat sebagai

    ***

    Khalifah satu ini tidak meninggalkan usaha dagangnya ang telah dirintis oleh kakeknya. Tetap saja dia menggotong lembar-lembar kain di atas pundaknya untuk dijual di pasar-pasar Madina. Itu terjadi pada enam bulan sejak ia menjabat sebagai Khalifah. Namun, mengingat tugas-tugas resmi menyita banyak waktu, sehingga tidak ada lagi waktu tersisa untuk pekerjaan pribadi, setelah itu agar ia mau menerima uang tunjangan. Dewan Muslimin menetapkan uang tunjangan dalam status hidup sebagai warga negara biasa. Ia harus memberikan baju-baju usang miliknya untuk ditukarkan dengan yang baru dari Baitul Maal (Perbendaharaan Umum).

    Sebelum mendapatkan kedudukan yang agung sebagai Khalifah, ia sudah terbiasa memerah susu kambing milik orang-orang sekampungnya. Suatu ketika, waktu ia sedang berjalan di sebuah jalan di kota Madina, didengarnya seorang anak perempuan berkata, “Sekarang dia sudah jadi Khalifah, dan sejak saat ini dia tidak akan memerah susu kambing-kambing kita lagi.” Sekejap itu juga beliau menjawab, “Tidak anakku, tentu saja saya akan memerah susu sebagaimana biasanya. Saya harap dengan rahmat Allah, kedudukan saya tidak akan mengubah kerja sehari-hari saya.” Ia sangat mencintai anak-anak, dan mereka suka memeluk dan memanggilnya dengan sebutan Baba (Ayah).

    Seorang wanita miskin tinggal di luar kot Madina. Sekali-sekali Umar mengunjunginya untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangganya. Itu sudah berlangsung sejak lama. Tapi akhir-akhirnya, setiap kali ia pergi ke sana, kepadanya bahwa seseorang lainnya telah mendahuluinya dalam tugas tersebut. Umar jadi penasaran. Suatu ketika, pagi-pagi sekali, ia mengunjungi rumah orang perempuan miskin itu dan bersembunyi di suatu sudut untuk melihat siapa orangnya yang sering datang pada waktu yang bersamaan itu. Beliau kaget melihat bahwa orang tersebut tidak lain adalah Khalifah sendiri.

    Abu Bakar orangnya cermat dalam mengambil uang bantuan dari Baitul Mal. Dia ambil secukupnya saja untuk keperluan hidup minimal setiap hari. Pernah isterinya minta manisan tapi si suami tidak punya uang lebih untuk membelinya. Untung, isterinya punya tabungan beberapa dirham selama dua minggu, yang lalu diberikannya uang itu kepada suaminya untuk membeli manisan. Melihat uang itu, Abu Bakar bilang terus terang kepada isterinya bahwa tabungannya itu telah membuatnya mengambil uang melebihi dari jumlah yang mereka butuhkan. Lalu dikembalikan uang itu kepada Baitul Mal dan dikurangi pengambilan uangnya di masa mendatang.

    Abu Bakar senang sekali mengerjakan semua pekerjaan dengan tangannya sendiri, dan tidak pernah mengizinkan siapa pun juga untuk ikut membantu melakukan pekerjaan rumah tangganya. Bahkan seandainya tali kekang untanya terjatuh, ia tidak akan pernah meminta siapa pun untuk mengambilnya. Ia lebih suka turun dri unta dan mengambilnya sendiri.

    Apabila di hadapannya ada orang memujinya, dia berkata, “Ya Allah! Engkau lebih tahu akan diriku daripada aku sendiri, dan aku mengetahui diriku sendiri lebih daripada orang-orang ini. Ampunilah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui, dan janganlah mengakibatkan aku bertanggung jawab atas puja-puji mereka itu.”

    Abu Bakar dikenal memiliki kebiasaan hidup sangat sederhana. Pada suatu hari, seorang putra mahkota Yaman dalam pakaiannya yang mewah tiba di Madinah. Dilihatnya Abu Bakar hanya mengenakan dua lembar kain warna cokelat, yang selembar menutupi pinggang dan yang selembar lagi menutupi bagian badan lainnya. Putra mahkota itu begitu terharu melihat kesederhanaan Khalifah, sehingga dia juga membuang pakaiannya yang indah itu. Dia berkat, “Di dalam Islam, saya tidak menikmati kepalsuan seperti ini.”

    Pada waktu akhir perjalan hidupnya, Abu Bakar bertanya kepada petugas Baitul Mal, berapa jumlah yang telah ia ambil sebagai uang tunjangan. Petugas memberitahu bahwa beliau telah mengambil 6.000 dirham selama dua setengah tahun kekhalifahan. Ia lalu memerintahkan agar tanah miliknya dijual dan seluruh hasilnya diberikan kepada Baitul Mal. Amanatnya sebelum mangkat itu telah dilaksanakan. Dan untuk seekor unta dan sepotong baju seharga seperempat rupee milik pribadinya, ia amanatkan agar diberikan kepada khalifah baru setelah ia meninggal dunia. Ketika barang-barang tersebut dibawa kepada yang berhak, Umar yang baru saja menerima jabatan sebagai khalifah mengeluarkan air mata dan berkata, “Abu Bakar, engkau telah membuat tugas penggantimu menjadi sangat sulit.”

    Pada malam sebelum meninggal, Abu Bakar bertanya pada putrinya, Aisyah, berapa jumlah kain yang digunakan sebagai kain kafan Nabi. Aisyah menjawab, “Tiga.” Seketika itu juga ia bilang bahwa dua lembar yang masih melekat di badannya supaya dicuci, sedangkan satu lembar kekurangannya, yaitu lembar ketiga, boleh dibeli. Dengan berurai air mata Aisyah berkata bahwa dia tidaklah sedemikian miskinnya, sehingga tidak mampu membeli kain kafan untuk ayahnya. Khalifah menjawab, kain yang baru lebih berguna bagi orang yang hidup daripada bagi orang meninggal.

    Banyak penghargaan yang diberikan kepada Khalifah Abu Bakar tentang kepandaian dan kebaikan hatinya. Baik kawan maupun lawan memuji kesetiaannya kepada agama baru itu, demikian pula watak kesederhanaannya, kejujuran, dan integritas pribadinya. Jurji Zaidan, sejarawan Mesir beragama Kristen menulis : “Zaman khalifah-khalifah yang alim adalah merupakan masa keemasan Islam. Ketika Abu Bakar masuk Islam, ia memiliki 40.000 dirham, jumlah yang sangat besar pada waktu itu, akan tetapi ia habiskan semua, termasuk uang yang diperolehnya dari perdagangan, demi memajukan agama Islam. Ketika wafat, tidaklah ia memiliki apa-apa kecuali uang satu dinar. Ia biasa berjalan kaki ke rumahnya di Sunh, di pinggiran Kota Madinah. Ia juga jarang sekali menunggangi kudanya. Ia datang ke Madinah untuk memimpin sembahyang berjamaah dan kembali ke Sunh di sore hari. Setiap hari Abu Bakar membeli dan menjual domba, dan mempunyai sedikit gembalaan yang sesekali harus ia gembalakan sendiri. Sebelum menjadi khalifah, ia telah terbiasa memerah susu domba milik kabilahnya, sehingga ketika ia menjadi khalifah, seorang budak anak perempuan menyesalkan dombanya tidak ada yang memerah lagi. Abu Bakar kemudian meyakinkan anak perempuan itu bahwa ia akan tetap memerah susu dombanya, dan martabat tidak akan mengubah tingkah lakunya. Sebelum wafat ia memerintahkan menjual sebidang tanah miliknya dan hasil penjualannya dikembalikan kepada masyarakat Muslim sebesar sejumlah uang yang telah ia ambil dari masyarakat sebagai honorarium.”

    ***

    Sumber : alsofwah

     
  • erva kurniawan 7:29 am on 27 August 2014 Permalink | Balas  

    Abu Bakar Ash-Shiddiq (1/2) 

    quranAbu Bakar As-Siddiq (1/2)

    Disampaikan oleh : Retno Wahyudiaty

    Khalifah pertama dari al-Khulafa’ ar-Rdsyidun, sahabat Nabi SAW yang terdekat, dan termasuk di antara orang-orang yang pertama masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun).

    Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abi Kuhafah at-Tamimi. Pada masa kecilnya Abu Bakar bernama Abdul Ka’bah. Nama Ini diberikan kepadanya sebagai realisasi nazar ibunya sewaktu mengandungnya. Kemudian nama itu ditukar oleh Nabi SAW menjadi Abdullah. Gelar Abu Bakar diberikan Rasulullah SAW karena ia seorang yang paling cepat masuk Islam, sedang gelar as-Siddiq yang berarti “amat membenarkan” adalah gelar yang diberikan kepadanya karena ia amat segera membenarkan Rasulullah SAW dalam berbagai macam peristiwa, terutama peristiwa Isra Mikraj.

    Ayahnya bernama Usman (juga disebut Abi Kuhafah) bin Amir bin Amr bin Sa’d bin Taim bin Murra bin Ka’ab bin Lu’ayy bin Talib bin Fihr bin Nadr bin Malik. Ibunya bernama Ummu Khair Salma binti Sakhr yang berasal dari keturunan Kuraisy. Garis keturunan ayah dan ibunya bertemu pada neneknya yang bernama Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murra. Kedua orang-tuanya berasal dari suku Taim, suku yang melahirkan banyak tokoh terhormat.

    Sejak kecil ia dikenal sebagai anak yang baik dan sabar, jujur, dan lemah lembut. Sifat-sifat yang mulia itu membuat ia disenangi dalam masyarakat. Ia menjadi sahabat Nabi SAW sejak keduanya masih remaja. Setelah dewasa ia mencari nafkah dengan jalan berdagang. Sebagai pedagang ia dikenal amat jujur, berhati suci, dan sangat dermawan. Di samping itu, Abu Bakar dikenal mahir dalam ilmu nasab (pengetahuan mengenai silsilah keturunan). Ia menguasai dengan baik berbagai nasab kabilah dan suku-suku Arab, bahkan juga dapat mengetahui ketinggian dan kerendahan derajat masing-masing dalam bangsa Arab, terlebih lagi suku-suku Arab Kuraisy.

    Abu Bakar masuk Islam pada hari-hari pertama Islam didakwahkan. Tidak sulit baginya meyakini ajaran-ajaran yang disampaikan Nabi SAW karena sejak muda ia sudah kenal betul akan keagungan Nabi Muhammad SAW. Setelah masuk Islam, ia menumpahkan seluruh perhatiannya untuk pengembangan Islam. Ia merupakan sahabat yang paling banyak mendermakan harta bendanya bagi kepentingan dakwah Islam. Sebagai seorang yang disegani di kalangan bangsawan Arab, keislaman Abu Bakar membuat banyak orang Arab Kuraisy tertarik masuk Islam, seperti Usman bin Affan, Abdur Rahman bin Auf, dan Zubair bin Awwam.

    Di antara Abu Bakar dan Nabi SAW terjalin hubungan persahabatan yang sangat erat karena selain diikat oleh tali persaudaraan seiman, juga karena salah seorang putri Abu Bakar, Aisyah RA, menjadi istri Nabi SAW. Dengan kata lain Nabi SAW adalah menantu Abu Bakar.

    Banyak peristiwa yang menggambarkan betapa kecintaan Abu Bakar kepada Nabi SAW. Setiap kali Abu Bakar melihat Nabi SAW diganggu dan disakiti oleh orang-orang kafir Kuraisy, ia selalu tampil membela Nabi SAW. Dalam suatu riwayat diceriterakan bahwa Nabi SAW sedang khusyuk melakukan salat di Masjidilharam, tiba-tiba datanglah Uqbah bin al-Muit dan langsung mencekik Nabi SAW yang sedang sujud. Hampir saja Nabi SAW berada dalam bahaya kalau tidak ada Abu Bakar yang datang menolongnya.

    Peristiwa lain adalah kesetiaannya mendampingi Nabi SAW dalam perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah, suatu perjalanan yang penuh dengan risiko.

    Perjuangan Abu Bakar dan darma baktinya bagi pertumbuhan dan perkembangan Islam banyak yang dapat disebutkan. Di antaranya, ia sangat menaruh perhatian kepada penderitaan kaum lemah, khususnya para budak yang menerima dakwah Nabi SAW. Sejumlah budak yang disiksa oleh tuannya karena mereka memeluk Islam ditebus

    oleh Abu Bakar dengan hartanya untuk kemudian dimerdekakan. Salah satu dari budak-budak itu adalah Bilal bin Rabah Dalam setiap pertempuran yang terjadi pada masa Nabi SAW, Abu Bakar tidak pernah absen, melainkan selalu berada dekat Nabi SAW. Dalam peperangan Tabuk bukan hanya jiwa yang dipertaruhkannya, tetapi juga seluruh harta bendanya habis dikorbankan untuk memenangkan perjuangan Islam.

    Ketika kota Mekah berhasil ditundukkan, umat Islam bersiap-siap menunaikan ibadah haji tahun berikutnya. Karena kesibukan di Madinah, Nabi SAW tidak dapat memimpin jemaah haji, sebagai wakilnya beliau menunjuk Abu Bakar. Dalam banyak kesempatan Abu Bakar sering dipercayakan Nabi SAW untuk mewakili dirinya. Rasulullah SAW telah memberikan kedudukan yang tinggi kepada Abu Bakar, bahkan lebih tinggi daripada sekian banyak sahabat yang lain.

    Ini terbukti pada saat Rasulullah SAW uzur (berhalangan), tidak dapat mengimami salat di Masjid Madinah, Nabi SAW menunjuk Abu Bakar untuk menggantikannya sebagai imam salat. Abu Bakar juga berhasil membina putra-putrinya menjadi penganut Islam yang rela berkorban untuk kepentingan Islam. Di antaranya yang terkenal dalam sejarah adalah kedua putrinya, Aisyah RA dan Asma, sedang putranya adalah Abdur Rahman dan Abdullah.

    Setelah Rasulullah SAW wafat tahun 632, Abu Bakar terpilih sebagai khalifah pertama pengganti Rasulullah SAW dalam memimpin negara dan umat Islam. Waktu itu, daerah kekuasaan Islam hampir mencakup seluruh Semenanjung Arabia yang terdiri atas berbagai suku Arab. Ada dua faktor utama yang mendasari terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah, yaitu:

    • Menurut pendapat umum yang ada pada zaman itu, seorang khalifah (pemimpin) haruslah berasal dari suku Kuraisy; pendapat ini didasarkan pada hadis yang berbunyi ala’immah min Quraisy (kepemimpinan itu di tangan orang Kuraisy)
    • Sahabat sependapat tentang ketokohan pribadi Abu Bakar sebagai khalifah karena beberapa keutamaan yang dimilikinya, antara lain ia adalah laki-laki dewasa pertama yang memeluk Islam, ia satu-satunya sahabat yang menemani Nabi SAW pada saat hijrah dari Mekah ke Madinah dan ketika bersembunyi di Gua Sur, ia yang ditunjuk Rasulullah SAW untuk mengimami salat pada saat beliau sedang uzur, dan ia keturunan bangsawan, cerdas, dan berakhlak mulia.

    Sebagai khalifah, Abu Bakar mengalami dua kali dibaiat. Pertama di Saqifah Bani Sa’idah yang dikenal dengan bai’ah khassah dan kedua di Masjid Nabi (Masjid Nabawi) di Madinah yang dikenal dengan bai’ah ‘ammah.

    Seusai acara pembaiatan di Masjid Nabi di Madinah, Abu Bakar sebagai khalifah yang baru terpilih berdiri dan mengucapkan pidato. Ia memulai pidatonya dengan menyatakan sumpah kepada Allah SWT dan menyatakan ketidak berambisiannya untuk menduduki jabatan khalifah tersebut.

    Abu Bakar selanjutnya mengucapkan, “Saya telah terpilih menjadi pemimpin kamu sekalian meskipun saya bukan orang yang terbaik di antara kalian. Karena itu, bantulah saya seandainya saya berada dijalan yang benar dan bimbinglah saya seandainya saya berbuat salah. Kebenaran adalah kepercayaan dan kebohongan adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian akan menjadi kuat dalam pandangan saya hingga saya menjamin hak-haknya seandainya Allah menghendaki dan orang yang kuat di antara kalian adalah lemah dalam pandangan saya sehingga saya dapat merebut hak daripadanya. Taatilah saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bila saya mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, janganlah ikuti saya.”

    Masa awal pemerintahan Abu Bakar diwarnai dengan berbagai kekacauan dan pemberontakan, seperti munculnya orang-orang murtad, aktifnya orang-orang yang mengaku diri nabi, pemberontakan dari beberapa kabilah Arab dan banyaknya orang-orang yang ingkar membayar zakat. Munculnya orang-orang murtad disebabkan oleh keyakinan mereka terhadap ajaran Islam belum begitu mantap, dan wafatnya Rasulullah SAW menggoyahkan keimanan mereka.

    Tentang orang-orang yang mengaku diri nabi sebenarnya telah ada sejak masa Rasulullah SAW, tetapi kewibawaan Rasulullah SAW menggetarkan hati mereka untuk melancarkan aktivitasnya. Mereka mengira bahwa Abu Bakar adalah pemimpin yang lemah sehingga mereka berani membuat kekacauan. Pemberontakan kabilah disebabkan oleh anggapan mereka bahwa perjanjian perdamaian yang dibuat bersama Nabi SAW bersifat pribadi dan berakhir dengan wafatnya Nabi SAW sehingga mereka tidak perlu lagi taat dan tunduk kepada penguasa Islam yang baru.Orang-orang yang ingkar membayar zakat hanyalah karena kelemahan iman mereka.

    Terhadap semua golongan yang membangkang dan memberontak itu Abu Bakar mengambil tindakan tegas. Ketegasan ini didukung oleh mayoritas umat. Untuk menumpas seluruh pemberontakan, ia membentuk sebelas pasukan, masing-masing dipimpin oleh panglima perang yang tangguh, seperti Khalid bin Walid, Amr bin As, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Syurahbil bin Hasanah.Dalam waktu singkat seluruh kekacauan dan pemberontakan yang terjadi dalam negeri dapat ditumpas dengan sukses.

    Meskipun fase permulaan dari kekhalifahan Abu Bakar penuh dengan kekacauan, ia tetap berkeras melanjutkan rencana Rasulullah SAW untuk mengirim pasukan ke daerah Suriah di bawah pimpinan Usamah bin Zaid. Pada mulanya, keinginan Abu Bakar ditentang oleh sahabat dengan alasan suasana dalam negeri sangat memprihatinkan akibat berbagai kerusuhan yang timbul. Akan tetapi, setelah ia meyakinkan mereka bahwa itu adalah rencana Rasulullah SAW, akhirnya pengiriman pasukan itu pun disetujui.

    Langkah politik yang ditempuh Abu Bakar itu ternyata sangat strategis dan membawa dampak yang sangat positif. Pengiriman pasukan pada saat negara dalam keadaan kacau menimbulkan interpretasi di pihak lawan bahwa kekuatan Islam cukup tangguh sehingga para pemberontak menjadi gentar.

    Di samping itu, langkah ini juga merupakan taktik untuk mengalihkan perhatian umat Islam dari perselisihan yang bersifat intern. Pasukan Usamah berhasil menunaikan tugasnya dengan gemilang dan kembali dengan membawa harta rampasan perang yang berlimpah. Sebagai usaha berikutnya, ia melakukan perluasan wilayah Islam ke luar Jazirah Arab. Daerah yang dituju adalah Irak dan Suriah yang berbatasan langsung dengan wilayah kekuasaan Islam. Abu Bakar berpendapat bahwa daerah itu harus ditaklukkan untuk memantapkan keamanan wilayah Islam dari serbuan dua adikuasa, Persia dan Bizantium. Ekspansi ke Irak dipimpin panglima Khalid bin Walid, ke Suriah dipimpin oleh tiga panglima, yaitu Amr bin As, Yazid bin Abu Sufyan, dan Syurahbil bin Hasanah. Pasukan Khalid dapat menguasai al-Hirah pada tahun 634.

    Akan tetapi, tentara Islam yang menuju Suriah, kecuali pasukan Amr bin As, mengalami kesulitan karena pihak lawan, yaitu tentara Bizantium, mempunyai kekuatan yang jauh lebih besar dan perlengkapan perangnya jauh lebih sempurna.

    Untuk membantu pasukan Islam di Suriah, Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Walid segera meninggalkan Irak menuju Suriah dan kepadanya diserahi tugas memimpin seluruh pasukan. Khalid mematuhi perintah Abu Bakar dan berhasil memenangkan pertempuran. Kemenangan itu tidak dapat disaksikan oleh khalifah karena ketika peperangan sedang berkecamuk, Abu Bakar jatuh sakit dan tidak berapa lama kemudian meninggal.

    Selain usaha memperluas wilayah ke luar Semenanjung Arabia, Khalifah Abu Bakar juga melakukan pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang selama ini berserakan di berbagai tempat. Usaha ini dilakukan atas saran Umar bin Khattab.

    Pada mulanya ia agak berat melaksanakan tugas ini karena belum pernah dilakukan pada masa Nabi SAW. Akan tetapi, Umar mengemukakan alasan banyaknya sahabat penghafal Al-Qur’an yang gugur di medan pertempuran dan dikhawatirkan akan habis seluruhnya. Abu Bakar pun dapat menyetujuinya. Selanjutnya ia menugaskan kepada Zaid bin Sabit, penulis wahyu pada masa Rasulullah SAW, untuk mengerjakan tugas pengumpulan itu.

    Dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala negara dan pemimpin umat Islam, Abu Bakar senantiasa meneladani perilaku Rasulullah SAW. Prinsip musyawarah dalam pengambilan keputusan, seperti yang dijalankan Nabi SAW, selalu dipraktekkannya. Ia sangat memperhatikan keadaan rakyatnya dan tidak segan-segan membantu mereka yang kesulitan. Terhadap sesama sahabat, perhatiannya juga sangat besar. Sahabat yang telah menduduki suatu jabatan pada masa Nabi SAW tetap dibiarkan pada jabatannya, sedangkan sahabat lain yang belum mendapatkan jabatan dalam pemerintahan juga diangkat berdasarkan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya.

    Untuk meningkatkan kesejahteraan umum, Abu Bakar membentuk lembaga Bait al-Mal, semacam kas negara atau lembaga keuangan. Pengelolaannya diserahkan kepada Abu Ubaidah, sahabat Nabi yang digelari amin al-‘ummah (kepercayaan umat).

    Selain itu didirikan pula lembaga peradilan yang ketuanya dipercayakan kepada Umar bin Khattab. Kebijaksanaan lain yang ditempuh Abu Bakar adalah membagi sama rata hasil rampasan perang (ganimah).

    Dalam hal ini, ia berbeda pendapat dengan Umar bin Khattab yang menginginkan pembagian dilakukan berdasarkan jasa tiap-tiap sahabat. Alasan yang dikemukakan Abu Bakar adalah semua perjuangan yang dilakukan atas nama Islam akan mendapat balasan pahala dari Allah SWT di akhirat. Karena itu, biarlah di dunia mereka mendapat bagian yang sama.

    Persoalan besar yang sempat diselesaikan Abu Bakar sebelum wafat adalah menetapkan calon khalifah yang akan menggantikannya. Dengan demikian, ia telah mempersempit peluang bagi timbulnya pertikaian di antara umat Islam mengenai jabatan khalifah.

    Dalam menetapkan calon penggantinya, Abu Bakar tidak memilih anak atau kerabatnya yang terdekat, melainkan memilih orang lain yang secara obyektif dinilai mampu mengemban amanah dan tugas sebagai khalifah, yaitu sahabat Umar bin Khattab. Pilihan itu tidak segera diputuskannya sendiri, tetapi dimusyawarahkannya terlebih dahulu dengan sahabat-sahabat besar.

    Setelah disepakati, barulah ia mengumumkan calon khalifah itu.

    Abu Bakar dengan masa pemerintahannya yang amat singkat (kurang lebih dua tahun) telah berhasil mengatasi tantangan-tantangan dalam negeri Madinah yang baru tumbuh itu, dan juga menyiapkan jalan bagi perkembangan dan perluasan Islam di luar Semenanjung Arabia.

    ***

    Sumber : Ukhuwah

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 26 August 2014 Permalink | Balas  

    161848_abunawasAbu Nawas di Antara Sengketa 2 Perempuan

    Jakarta – Kebijaksanaan Abu Nawas lagi-lagi diuji. Suatu ketika, Khalifah Harun Al Rasyid memanggilnya ke istana. Khalifah tengah dibingungkan oleh dua perempuan yang bersengketa terhadap seorang bayi mungil. Sang khalifah telah berupaya segala langkah damai, tapi gagal. Kedua perempuan itu tetap mati-matian saling mengakui sebagai pemilik absah sang bayi. Sengketa ini sampai berlangsung berhari-hari.

    Langkah terakhir, Sang Khalifah pun memanggil Abu Nawas untuk meminta pertolongan. Biasanya dari pikiran Abu Nawas selalu keluar ide-ide gila yang tak tepikirkan banyak orang untuk menyelesaikan sebuah persoalan.

    Lalu, datanglah Abu Nawas ke istana. Sang Khalifah tampaknya lebih mempercayai Abu Nawas daripada hakim untuk urusan ini. Kedua perempuan dihadapkan ke persidangan. Sementara Abu Nawas berperan sebagai hakim. Namun setelah persidangan berjalan, Abu Nawas tidak langsung memberikan keputusan solusi saat itu juga. Baru keesokannya Abu Nawas mencetuskan ide yang cemerlang.

    Saat sidang dilanjutkan di hari kedua, semua hadirin termasuk Khalifah meyakini Abu Nawas yang dikenal cerdik dan pandai itu dapat menyelesaikan kasus tersebut.

    Benar saja, Abu Nawas pun mengeluarkan keputusan yang ‘gila’. Keputusan Abu Nawas membuat semua hadirin yang datang termasuk sang khalifah tercengang. Apa keputusannya? Dia memerintahkan algojo untuk membelah dua bayi mungil itu dengan pedang.

    Sontak dua perempuan itu terkejut dan marah. Mereka bertanya, apa yang akan dilakukan Abu Nawas terhadap bayi yang tidak berdosa.

    Abu Nawas lalu berkata, “Sebelum saya mengambil tindakan, apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang memang berhak memilikinya?”

    “Tidak, bayi itu adalah anakku,” teriak kedua perempuan itu.

    Dua perempuan itu masih belum ada yang bersedia mengalah meski algojo sudah mengeluarkan pedangnya. Sikap keras kepada dua perempuan itu memaksa Abu Nawas untuk memutuskan membelah bayi itu menjadi dua. Sebagian untuk perempuan yang pertama, sebagian lain untuk perempuan kedua.

    “Jangan, tolong jangan belah bayi itu. Biarlah, aku rela bayi itu seutuhnya diserahkan kepada perempuan itu,” pinta perempuan kedua dengan suara setengah berteriak.

    Sementara perempuan pertama tak berkata kecuali hanya diam dan tercengang.

    Mendengar itu, Abu Nawas tersenyum lega. Dengan segera dia menyerahkan bayi itu kepada perempuan kedua yang memohon tadi. Menurut Abu Nawas, tidak ada satu orang pun ibu yang tega anaknya disembelih. Seorang ibu lebih memilih dirinya menderita dari pada anaknya.

    ***

    ( rmd / rmd )

    Ramdhan Muhaimin – detikRamadan

     
  • erva kurniawan 2:03 am on 25 August 2014 Permalink | Balas  

    144608_abunawas2Cara ‘Gila’ Abu Nawas Luaskan Rumah yang Sempit

    Jakarta – Bukan Abu Nawas namanya kalau tidak bisa menyelesaikan persoalan rumit. Cara-cara tak biasa seringkali keluar dari idenya.

    Seperti dikisahkan di masanya, hidup seorang laki-laki yang tinggal di sebuah rumah yang luas. Ia tinggal bersama seorang istri dan 3 orang anaknya yang masih kecil-kecil. Suatu saat laki-laki itu merasa rumahnya semakin sempit. Dia pun ingin memperluas rumahnya tetapi enggan mengeluarkan uang untuk meluaskannya.

    Setelah berpikir, pergilah dia ke rumah Abu Nawas, si cerdik yang sangat tersohor di negeri Islam saat itu. Laki-laki itu meminta saran dari Abu Nawas bagaimana cara memperluas rumah tanpa harus mengeluarkan biaya.

    Mendengar kisahnya, Abu Nawas menyuruh laki-laki itu untuk membeli sepasang ayam jantan dan betina kemudian kandangnya ditaruh di dalam rumah. Laki-laki itu merasa aneh dengan saran Abu Nawas, tetapi tanpa berpikir panjang dia ikut saran Abu Nawas. Dia pergi ke pasar dan membeli sepasang ayam jantan dan betina.

    Hari berikutnya dia datang kembali ke rumah Abu Nawas. Dia mengeluh rumahnya semakin sempit dan bau karena ayam-ayam yang dibelinya. Mendengar cerita itu, Abu Nawas hanya tersenyum dan menyuruh menambahkan sepasang bebek yang kandangnya juga ditaruh di dalam rumah. Dia bertambah heran, tetapi dia tetap menuruti nasehat Abu Nawas.

    3 Hari berlalu, datanglah dia ke rumah Abu Nawas lagi. Dia bercerita kalau rumahnya semakin semrawut semenjak kehadiran bebek. Abu Nawas justru menyuruhnya untuk menambahkan kambing yang kandangnya juga ditaruh dalam rumah.

    Hari berikutnya laki-laki itu kembali datang ke rumah Abu Nawas. Lelaki itu menceritakan bahwa istrinya marah sepanjang hari, anak-anaknya menangis, hewan-hewan berkotek dan mengembik, ditambah hewan-hewan itu juga mengeluarkan bau tak sedap. Abu Nawas hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian Abu Nawas menyuruhnya untuk menjual hewan-hewan itu satu persatu mulai dari ayam yang dijual terlebih dahulu, bebek, kemudian yang terakhir kambing.

    Datanglah lelaki itu ke rumah Abu Nawas setelah selesai menjual kambingnya.

    Abu Nawas:”Kulihat wajahmu cerah hai fulan, bagaimana kondisi rumahmu saat ini?”

    Si lelaki:”Alhamdulillah ya Abu, sekarang rasanya rumahku sangat lega karena ayam dan kandangnya sudah tidak ada. Kini istriku sudah tidak marah-marah lagi, anak-anakku juga sudah tidak rewel.”

    Abu Nawas: “(sambil tersenyum) Nah, kau lihat kan, sekarang rumahmu sudah menjadi luas padahal kau tidak menambah bangunan apapun atau memperluas tanah bangunanmu. Sesungguhnya rumahmu itu cukup luas, tapi hanya hatimu yang sempit sehingga kau tak melihat betapa luasnya rumahmu. Mulai sekarang kau harus lebih banyak bersyukur karena masih banyak orang yang rumahnya lebih sempit darimu. Sekarang pulanglah kamu, dan atur rumah tanggamu, dan banyaklah bersyukur atas apa yang dirizkikan Tuhan padamu, dan jangan banyak mengeluh.”

    ***

    Ramdhan Muhaimin – detikRamadan

     
  • erva kurniawan 2:59 am on 24 August 2014 Permalink | Balas  

    abunawas4Siasat Doa Abu Nawas Minta Istri Cantik

    Jakarta – Ada saja cara Abu Nawas berdoa agar dirinya mendapatkan jodoh dan menikah. Karena kecerdasan dan semangat dalam dirinya, akhirnya Abu Nawas mendapatkan istri yang cantik dan shalihah.

    Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa. Kala masih bujangan, seperti pemuda lainnya, ia juga ingin segera mendapatkan jodoh lalu menikah dan memiliki sebuah keluarga.

    Pada suatu ketika ia sangat tergila-gila pada seorang wanita. Wanita itu sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita yang ahli ibadah. Abu Nawas berkeinginan untuk memperistri wanita salihah itu. Karena cintanya begitu membara, ia pun berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT.

    “Ya Allah, jika memang gadis itu baik untuk saya, dekatkanlah kepadaku. Tetapi jika memang menurutmu ia tidak baik buatku, tolong Ya Allah, sekali lagi tolong pertimbangkan lagi ya Allah,” ucap doanya dengan menyebut nama gadis itu dan terkesan memaksa kehendak Allah.

    Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu. Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya. Berjalan lebih 3 bulan, Abu Nawas merasa doanya tak dikabulkan Allah. Ia pun introspeksi diri.

    “Mungkin Allah tak mengabulkan doaku karena aku kurang pasrah atas pilihan jodohku,” katanya dalam hati.

    Kemudian Abu Nawas pun bermunajat lagi. Tapi kali ini ganti strategi, doa itu tidak diembel-embeli spesifik pakai nama si gadis, apalagi berani “maksa” kepada Allah seperti doa sebelumnya.

    “Ya Allah berikanlah istri yang terbaik untukku,” begitu bunyi doanya.

    Berbulan-bulan ia terus memohon kepada Allah, namun Allah tak juga mendekatkan Abu Nawas dengan gadis pujaannya. Bahkan Allah juga tidak mempertemukan Abu Nawas dengan wanita yang mau diperistri. Lama-lama ia mulai khawatir juga. Takut menjadi bujangan tua yang lapuk dimakan usia. Ia pun memutar otak lagi bagaimana caranya berdoa dan bisa cepat terkabul.

    Abu Nawas memang cerdas. Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit “diplomatis” dengan Allah. Ia pun mengubah doanya.

    “Ya Allah, kini aku tidak minta lagi untuk diriku. Aku hanya minta wanita sebagai menantu Ibuku yang sudah tua dan sangat aku cintai Ya Allah. Sekali lagi bukan untukku Ya Tuhan. Maka, berikanlah ia menantu,” begitu doa Abu Nawas.

    Barangkali karena keikhlasan dan “keluguan” Abu Nawas tersebut, Allah pun menjawab doanya.

    Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas. Abu Nawas bersyukur sekali bisa mempersunting gadis pujaannya. Keluarganya pun berjalan mawaddah warahmah.

    ***

    ( rmd / rmd )

    Ramdhan Muhaimin – detikRamadan

     
  • erva kurniawan 2:54 am on 23 August 2014 Permalink | Balas  

    tetes-airAir Wudhu dan Sakit Mata Junaid Al Baghdadi

    Jakarta – Suatu hari, Junaid Al-Baghdadi sakit mata. Dia pun segera berobat kepada seorang tabib terkenal di Kota Bagdad. Karena dia tahu betul bahwa menjaga kesehatan tubuh adalah sunnah Rasulullah, dan mengobati penyakit adalah kewajiban agar seorang muslim bisa menyempurnakan ibadahnya.

    Saat tabib mendengar bahwa Junaid akan berobat kepadanya, dia langsung mendatangi rumah Junaid. Ketika bertemu Junaid, tabib itu segera memeriksa kedua mata Junaid. Kemudian sang tabib memberi tahu jika Junaid ingin cepat sembuh dari sakit matanya, dia harus menjaga matanya jangan sampai terkena air.

    Ketika tabib itu pergi, terdengarlah suara azan. Saatnya Junaid untuk sholat. Diapun segera pergi ketempat wudhu. Rupanya dia sedikit bimbang. Kalau dia mengambil air wudhu, tentu matanya akan terkena air, sakit matanya akan bertambah parah seperti kata tabib. Tetapi akhirnya Junaid tetap berwudhu membasuh mukanya untuk sholat. Dia meyakini bahwa Allah sajalah yang akan menyembuhkannya.

    Setelah sholat, Junaid pun tertidur. Anehnya, sakit matanya hilang. Sesaat sebelum Junaid terjaga dari tidurnya, dia mendengar suara, “Junaid sembuh karena ia lebih ridha kepada-Ku. Seandainya ahli neraka minta pada-Ku dengan semangat Junaid, niscaya Aku luluskan permintaannya.”

    Berita kesembuhan Junaid Al-Baghdadi terdengar oleh tabib. Dia pun kembali mendatangi Junaid dan memeriksa mata Junaid yang telah sembuh. Dia benar-benar keheranan. “Apa yang telah engkau lakukan wahai Junaid?” tanya sang tabib.

    “Aku telah membasuh muka dan mataku saat berwudhu untuk menunaikan sholat,” jawab Junaid. Tabib itu adalah seorang nasrani, mendengar dan melihat peristiwa itu, sang tabib menyatakan diri sebagai muslim.

    “Itu adalah obat dari Tuhan yang telah menciptakan sakit mata. Dialah yang menciptakan obatnya. Sebenarnya aku juga sedang sakit mata hatiku. Dan Junaidilah tabibnya!” Tabib itu pun bersyahadat didepan Junaid Al-Baghdadi.

    ***

    Ramdhan Muhaimin – detikRamadan

    sumber : Buku 100 Kisah Islami

     
  • erva kurniawan 2:49 am on 22 August 2014 Permalink | Balas  

    tetesan-airBening Hati Berbalas Surga

    Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di masjid dikelilingi para sahabat. Beliau tengah mengajarkan ayat-ayat Qur’an. Tiba-tiba Rasulullah berhenti sejenak dan berkata,”Akan hadir diantara kalian seorang calon penghuni surga”. Para sahabat pun bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang istimewa yang dimaksud Rasulullah ini?. Dengan antusias mereka menunggu kedatangan orang tersebut. Semua mata memandang ke arah pintu.

    Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki melenggang masuk masjid. Para sahabat heran, inikah orang yang dimaksud Rasulullah? Dia tak lebih dari seorang laki-laki dari kaum kebanyakan. Dia tidak termasuk di antara sahabat utama. Dia juga bukan dari golongan tokoh Quraisy. Bahkan, tak banyak yang mengenalnya. Pun, sejauh ini tak terdengar keistimewaan dia.

    Ternyata, kejadian ini berulang sampai tiga kali pada hari-hari selanjutnya.

    Tiap kali Rasulullah berkata akan hadir di antara kalian seorang calon penghuni surga, laki-laki tersebutlah yang kemudian muncul.

    Maka para sahabat pun menjadi yakin, bahwa memang laki-laki itulah yang dimaksud Rasulullah. Mereka juga menjadi semakin penasaran, amalan istimewa apakah yang dimiliki laki-laki ini hingga Rasulullah menjulukinya sebagai calon penghuni surga?

    Akhirnya, para sahabat pun sepakat mengutus salah seorang di antara mereka untuk mengamati keseharian laki-laki ini. Maka pada suatu hari, sahabat yang diutus ini menyatakan keinginannya untuk bermalam di rumah laki-laki tersebut. Si laki-laki calon penghuni surga mempersilakannya.

    Selama tinggal di rumah laki-laki tersebut, si sahabat terus-menerus mengikuti kegiatan si laki-laki calon penghuni surga. Saat si laki-laki makan, si sahabat ikut makan. Saat si sahabat mengerjakan pekerjaan rumah, si sahabat menunggui. Tapi ternyata seluruh kegiatannya biasa saja. “Oh, mungkin ibadah malam harinya sangat bagus,” pikirnya. Tapi ketika malam tiba, si laki-laki pun bersikap biasa saja. Dia mengerjakan ibadah wajib sebagaimana biasa. Dia membaca Qur’an dan mengerjakan ibadah sunnah, namun tak banyak. Ketika tiba waktunya tidur, dia pun tidur dan baru bangun ketika azan subuh berkumandang.

    Sungguh, si sahabat heran, karena ia tak jua menemukan sesuatu yang istimewa dari laki-laki ini. Tiga malam sang sahabat bersama sang calon penghuni surga, tetapi semua tetap berlangsung biasa. Apa adanya.

    Akhirnya, sahabat itu pun pun berterus terang akan maksudnya bermalam. Dia bercerita tentang pernyataan Rasulullah. Kemudian dia bertanya,”Wahai kawan, sesungguhnya amalan istimewa apakah yang kau lakukan sehingga kau disebut salh satu calon penghuni surga oleh Rasulullah? Tolong beritahu aku agar aku dapat mencontohmu”.

    Si laki-laki menjawab,” Wahai sahabat, seperti yang kau lihat dalam kehidupan sehari-hariku. Aku adalah seorang muslim biasa dengan amalan biasa pula. Namun ada satu kebiasaanku yang bisa kuberitahukan padamu. Setiap menjelang tidur, aku berusaha membersihkan hatiku. Kumaafkan

    orang-orang yang menyakitiku dan kubuang semua iri, dengki, dendam dan perasaaan buruk kepada semua saudaraku sesama muslim. Hingga aku tidur dengan tenang dan hati bersih serta ikhlas. Barangkali itulah yang menyebabkan Rasulullah menjuluki demikian.”

    Mendengar penjelasan itu, wajah sang sahabat menjadi berseri-seri. “Terima kasih kawan atas hikmah yang kau berikan. Aku akan memberitahu para sahabat mengenai hal ini”. Sang sahabat pun pamit dengan membawa pelajaran berharga.

    ***

    Kawan, kisah di atas barangkali tak lagi asing. Namun tiada rugi untuk ditutur kembali. Surga bukan hanya hak para wali, nabi, syuhada dan ulama. Jika kita merasa hanyalah orang kebanyakan, itu tak berarti kita tak berhak atas nikmat surga. Karena amalan kecil pun bisa menjadi kunci masuk surga.

    Dan ternyata kebersihan hati itu sangat besar nilainya.

    Jangan pernah berputus asa atas rahmatNya. Sungguh Dia Maha Pemberi Karunia.

    Insya Allah, jika kita ikhlas, tulus dan mengerjakan penuh cinta, Dia takkan menyia-nyiakan hambaNya. Wallahu a’lam

     
  • erva kurniawan 9:49 am on 21 August 2014 Permalink | Balas  

    puasa 2Fidyah Puasa

    (DSNI Nurul Islam)

    Fidyah berarti penebus [kesalahan]. Yang dimaksud ialah suatu kewajiban memberi makan seorang miskin untuk orang-orang yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan.

    Firman Alloh :

    “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya [jika mereka tidak berpuasa] membayar fidyah [yaitu] memberi makan seorang miskin. [QS. Al-Baqarah, 2 : 184].

    SEBAB-SEBAB YANG MENGHARUSKAN MEMBAYAR FIDYAH

    1. Tidak mampu melakukan ibadah puasa, seperti para orang tua yang sudah kesulitan melaksanakannya, maka dibolehkan untuk berbuka dan wajib membayar fidyah sebanyak hari yang ditinggalkannya. Dan jika mereka pun tidak mampu membayar fidyah maka gugurlah seluruh kewajiban darinya karena Alloh tidak membebani suatu jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya.

    Ibnu Abbas berkata, bahwa hukum fidyah tersebut berlaku bagi laki-laki dan perempuan yang sudah sangat tua, yang keduanya tidak kuat untuk puasa, sehingga sebagai keduanya wajib memberi makan : tiap-tiap satu hari satu orang miskin [Tafsir Ibnu Katsir].

    Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas berkata :

    “Telah diberi kelonggaran [rukhsah] bagi orang yang sangat tua apabila ia berbuka, memberi makan [fidyah], dan tidak ada kewajiban meng-qhada atasnya.” [HR. Daruquthni dan Al-Hakim].

    1. Wanita hamil dan menyusui karena khawatir akan keselamatan anaknya, wajib baginya untuk membayar fidyah dan meng-qhada shaum yang ditinggalkannya. Demikian ini menurut pendapat jumhur ulama, sedang menurut Abu Hanifah cukup dengan meng-qhada puasa saja.

    Sesungguhnya Rasululloh SAW bersabda :

    “Sesungguhnya Alloh Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia telah menggugurkan kewajiban puasa musafir, dan juga menggugurkan separuh dari shalatnya. [Alloh menggugurkan juga kewajibannya] puasa dari perempuan yang menyusui.” [HR. Tirmidzi].

    1. Dan wajib atas orang yang mengakhirkan qadha puasa hingga masuk Ramadhan berikutnya karena kelalaiannya. Sedangkan bagi orang yang mengakhirkan qadha puasa karena sakit, atau bepergian, atau haidh, nifas, hamil dan menyusui, maka tidak ada kewajiban atas mereka untuk membayar fidyah.
    2. Juga termasuk kepada orang-orang yang harus membayar fidyah bagi yang tidak sanggup menjalankan ibadah puasanya itu adalh orang-orang yang bekerja keras untuk penghidupannya [misalnya menarik becak, kuli angkut pelabuhan dan pekerjaan-pekerjaan berat yang menuntut kekuatan fisik lainnya], orang yang jika berpuasa akan sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh. Orang yang membayar fidyah ini tentu saja tidak wajib lagi melakukan qadha puasa.

    Fidyah menurut Abu Hanifah adalah 1/2 sha’ dari tepung gandum atau ± 3,125 gr gandum atau kurma [makanan pokok] atau yang seharga dengannya, sedang menurut jumhur adalah 1 ‘mud sekitar 5/6 liter [= ukuran zakat fitrah] dari makanan menurut kebiasaan yang berlaku pada suatu wilayah, dikalikan dengan berapa hari seseorang meninggalkan puasa.

    ***

    Reference:

    • Al-Qur’an Al-Karim.
    • Kitab Hadits Shahih Bukhari.
    • Fisqhus Sunnah, Sayyid Sabiq.
    • Tamamul Minnah, Syekh Muhammad Nashirudin al-Albani.
    • Syarah Ihya ulumuddin, Al-Ghazali, Said Hawwa.
    • Fiqh Zakat Dr. Yusuf Al Qaradhawi.
    • Makalah-makalah & artikel-artikel.
     
  • erva kurniawan 1:53 pm on 20 August 2014 Permalink | Balas  

    cincin pernikahanPengantin Itu Menikah di Hadapan Jenasah Ayahnya

    Pada tahun 1987 ada sepasang muda-mudi, Fulan dan Katrina yang mencoba untuk menjalin hubungan. Sepertinya keduanya tidak mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan, karena di antara mereka banyak kesamaan.

    Tetapi ada yang sesuatu perbedaan yang sangat prinsipal yang apabila difikirkan, sama sekali mereka tidak mungkin bersatu. Perbedaan itu adalah perbedaan agama. Fulan adalah seorang muslim sedangkan Katrin adalah non muslim.

    Pada saat itu keduanya masih tidak menyadari arti dari perbedaan itu. Yang mereka fikirkan hanya rasa rindu dan keinginan untuk selalu bertemu. Karena mereka belum berfikir ke arah hubungan yang lebih tinggi atau ke jenjang pernikahan.

    Ada satu kemudahan yang diberikan oleh orang tua Katrina tersebut.

    Putrinya tidak dilarang berhubungan dengan kekasihnya walaupun dia beda agama, karena mereka berfikir kalau hubungan putrinya adalah bersifat sementara.

    Selain itu kemudahan yang lain adalah kekasih putrinya itu diberikan kemudahan untuk menjalankan kewajibanya mendirikan Sholat lima waktu di rumahnya apabila masuk waktu Sholat. Dan itu dilaksanakan dari awal behubungan.

    Dengan berjalannya waktu tidak disadari hubungan mereka telah memasuki tahun ke 8 dan pada saat itu kebetulan mereka sama-sama berada di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta, satu fakultas dan satu kelas.

    Namun perbedaan tersebut sudah mulai mengganggu perasaan keduannya. Perlu diketahui bahwa keduanya berasal dari keluarga yang sama-sama memegang teguh keyakinannya. Tetapi Fulan maupun Katrina tidak berani saling mempengaruhi untuk masuk agamanya salah satu di antara mereka, karena mereka takut apabila masalah itu di bahas maka akan menimbulkan pertengkaran yang berujung dengan perpisahan.

    Pada suatu hari dalam perjalanan menuju kampus di dalam bis seperti hari-hari biasanya banyak pedagang asongan yang sedang menjajakan dagangannya. Ada salah satu pedagang yang menawarkan buku-buku keagama’an (belajar sholat, Iqro’, dll) yang kesemuanya berjumlah 5 buah buku.

    Katrina tiba-tiba berkata “Mas, aku beli’in itu dong”

    Fulan tidak menyadari apa yang diinginkan oleh kekasihnya karena disitu banyak pedangan yang lain.

    ” Yang mana??” tanya Fulan, “Itu yang itu tu….” kata Katrina, ketika menyadari apa yang ditunjuk kekasihnya itu, Fulan sangat terkejut dan memandangi pasangannya dengan wajah penuh keheranan. Tanpa ada yang berbicara Katrina menganggukkan kepalanya.sepertinya mereka sedang berbicara dengan bahasa batin.

    Lalu Katrina berkata “Mas mau ngajarin aku Sholat nggak???”

    Dengan rasa haru yang mendalam dan dengan mata yang berkaca-kaca Fulan itu mengangguk tidak bisa berkata apa-apa. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia bersyukur “Tuhan terima kasih Engkau telah melepaskan beban di pundakku yang selama ini menggangu fikiranku, Engkau telah mengabulkan do’aku selama ini dan Engkau telah membukakan hidayah kekasihku untuk memeluk Agama yang aku yakini kebenarannya”.

    Mulai hari itu Fulan mengajarkan tentang Sholat, Puasa, semua kewajiban-kewajiban seorang Muslim. Serta hukum-hukum di dalam Islam dan lain sebagainya Dengan demikian Fulan bertambah yakin bahwa kekasihnya itu memang diciptakan untuknya.

    Tetapi masih ada masalah yang masih menggagu keduannya yaitu bagaimana berbicara kepada kedua orang tua Katrina, pasti mereka akan mendapat marah besar. Selama itu Katrina belajar dengan cara sembunyi- sembunyi di rumahnya.

    Tetapi rupanya Tuhan berkehendak lain.

    Pada suatu hari Kakak lelaki Katrina membuat suatu keputusan berbicara kepada Bapaknya bahwa dia ingin pindah agama dan memeluk agama Islam. Subhanallah, Bapaknya tidak melarangnya.

    Mendengar kakaknya masuk Islam dan diperbolehkan Bapaknya, Katrina kemudian memberanikan untuk membicarakan hal yang sama yaitu bahwa dia juga ingin memeluk agama Islam. Bapaknya juga mengijinkan.

    Bukan main gembiranya hati Katrina dan Fulan, dengan demikian sudah tidak ada lagi beban yang mengganjal di hati mereka, dan Fulan semakin yakin dapat mempersunting Katrina karena mereka bisa se-iman yaitu Islam.

    Berarti di rumah Katrina yang terdiri dari 4 orang itu yang 2 orang telah memeluk Islam. Dan pada suatu hari terjadi berita yang menggemparkan dalam keluarga Katrina.. ketika tiba-tiba Ayah Katrina pada suatu sore pergi dengan menggunakan sarung dan baju putih menuju ke Masjid terdekat di sekitar rumahnya. Tentu saja ini membuat anggota keluarganya baik yang Muslim dan yang nonmuslim menjadi keheranan.

    Bagi Katrina dan Kakaknya ini adalah suatu Rahmat yang tidak ternilai harganya karena kini Ayah mereka juga memeluk agama Islam, tapi tidak demikian dengan Ibunya, tentu saja hal ini menjadi kesedihan yang sangat mendalam baginya.

    Dengan demikian di dalam satu rumah itu hanya Ibunya saja yang non muslim. Ibunya mengatakan bahwa dirinya tidak mungkin pindah agama karena sejak kecil agama yang diyakininya adalah agama yang dianutnya sekarang.

    Namun demikian baik Katrina, Kakaknya serta Fulan memberi tahu kepada Ibunya bahwa ibunya tidak usah kawatir mereka akan tetap berbakti kepada ibunya. Ayahnya sendiri berkata bahwa bersedia untuk mengantarkan istrinya ke tempat peribadatan yang diyakini Istrinya. Dan tidak satupun dari mereka yang berusaha untuk mempengaruhi ibunya untuk masuk agama Islam.

    Dengan kata lain mereka sekeluarga tidak memaksa ibunya untuk pindah agama apalagi memusuhinya bahkan tetap menghormatinya sebagai seorang ibu.

    Dalam benak seorang suami (bapaknya Katrina) selalu berharap agar istrinya dapat seiman dengannya tetapi tidak diutarakannya untuk menjaga perasaan istrinya.

    Kehidupan keluarga itupun kesehariannya tidak ada masalah karena toleransi yang cukup tinggi yang diterapkan oleh keluarga tersebut dan sudah berjalan selama satu setengan tahun.

    Namun Bapaknya Katrina setiap tengah malam selalu bangun untuk Sholat Tahajud. Dan di dalam Sholatnya itu ia berdo’a dengan tulus dan ikhlas. Dia memohon kepada Allah SWT. agar dibukakan pintu Hidayah bagi istrinya untuk dapat seiman dengannya. Hal ini dilaksanakan secara terus menerus selama empat puluh malam berturut-turut tanpa alpa satu malam pun.

    Pada suatu malam, tepatnya malam keempat puluh Ayahnya Katrina melaksanakan Sholat Tahajud, di sebelahnya Istrinya sedang terlelap. Di dalam tidurnya (ibu Katrina) bermimpi di datangi seseorang dengan wujud Pocongan. Tetapi Ibunya Katrina tidak bilang kepada siapa-siapa tentang mimpinya kecuali kepada Katrina yang diteruskan kepada kekasihnya, Fulan.

    Kemudian malam berikutnya kembali Ibu Katrina bermimpi didatangi seseorang pria dengan memakai Jubah dan mengenakan sorban putih dengan wajah tampan dan bersinar memandanginya dengan tersenyum.

    Mimpi di datangi pria bersorban dan berjubah putih itu dialami ibunya Katrina selama tiga malam berturut-turut. Ibunya masih tidak mengerti apa arti dari mimpinya itu, begitu juga dengan Katrina yang menjadi curahan hati ibunya dalam berbagi cerita mengenai mimpinya.

    Malam ke lima Ibunya Katrina bermimpi, kali ini dia bermimpi kalau dia melakukan suatu gerakan-gerakan yang tidak dia mengerti. Gerakan- gerakan tersebut setelah diceritakan kepada Katrina ternyata adalah gerakan sholat.

    Malam berikutnya kembali Ibunya Katrina bermimpi, kali ini ia bermimpi bahwa dia sedang membaca Alqur’an dengan lancar. Luar Biasa.

    Akhirnya tepat di malam yang ke tujuh Ibunya kembali bermimpi, yang terakhir ini Ia bermimpi sedang melaksanakan Ibadah Haji, Subhanallah…

    Dan disetiap mimpinya itu ibunya selalu bercerita kepada Katrina, hingga disuatu hari tepatnya malam minggu di pertengahan tahun 1996 di mana Fulan dan Katrina sedang berbincang-bincang di teras rumah, Ibunya ikut bergabung. Tiba-tiba ibunya berbicara kepada Katrina.

    Dik (karena Katrina anak bungsu, dia selalu dipanggil adik oleh orang tua dan kakanya), Dik.. kembali ibunya mengulangi ucapannya…

    Dik aku pinjem buku kamu dong…

    Buku yang mana jawa Katrina di depat Fulan..

    Buku kamu yang dari Mas Fulan… Buku tentang Sholat dan lain-lain…

    Mendadak Fulan dan Katrina terperangah dan tersenyum, tanpa bicara apa-apa Katrina langsung berlari dan menghampiri ibunya lalu memeluknya erat-erat sambil berkata lirih.. Allahu Akbar.. Subhanallah…

    Tentu saja berita sangat mengejutkan, karena ibunya pernah berkata bahwa ia tidak akan pindah agama walau apapun yang terjadi. Dan berita inipun menyebar di lingkungan keluarganya dan disambut dengan suka cita apalagi dengan Ayahnya. Karena ayahnya Katrina merasa bahwa do’anya di dalam Sholat telah didengar dan dikabulkan Allah SWT.

    Maka tanpa diduga dan hanya karena kehendak Allah SWT. Seluruh keluarga tersebut menjadi Mualaf..Subhanallah…

    Dan pada awal tahun 1998 kedua orang tua Fulan dan Katrina sepakat akan melanjutkan hubungan putra-putri mereka ketingkat yang lebih tinggi yaitu pernikahan. Tepatnya pernikahan itu akan dilangsungkan pada bulan Oktober 1998. Dan persiapan pernikahan itupun mulai dilaksanakan.

    Namun Allah punya rencana lain Akhir bulan Juli 1998 setelah memasuki tahun ke tiga Ayahnya Katrina memeluk agama Islam dan di tengah- tengah persiapan pernikahan putrinya, tiba-tiba Beliau terserang stroke dan setelah sembilan hari dirawat di rumah sakit Ayahnyapun berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 29 Juli 1998 pukul 16:00. Dan sampai akhir hayatnyapun sewaktu di rumah sakit beliau selalu melaksanakan Sholat Wajib walaupun dengan berbaring, sampai-sampai pada saat beliau tidak sadar, tangan selalu bergerak-gerak seperti orang sedang Sholat.

    Akhirnya Fulan dan Katrina atas persetujuan kedua belah pihak dan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan serta untuk menjaga Ibu mereka maka Keduanya dinikahkan di depan Jenazah Ayahnya sesaat sebelum Ayahnya dikebumikan…

    Itulah kehendak Allah SWT….

    Kesimpulan:

    1. Salah satu manfaat dari Sholat Tahajud seperti apa yang telah dialami sorang Bapak di atas. Yang dapat merubah seseorang kepada kebajikan tanpa paksaan.
    2. Cerita di atas dapat mengandung arti bahwa dengan memperlihatkan Wajah Islam yang sebenarnya, yang berisi dengan kedamaian, rasa saling menghormati, toleransi yang tinggi dapat membuat seseorang menjadi terkesan sehingga ingin memeluk agama Islam tanpa adanya unsur paksaan, intimidasi dan lain sebagainya.
    3. Sesungguhnya hanya Allah SWT. Yang dapat membukakan hidayah seseorang.
    4. Manusia punya rencana tetapi Allah SWT. punya kehendak.

    Semoga kisah nyata di atas dapat bermanfaat. Dan semoga kita selalu berada di bawah lindungan ALLAH SWT. Amiin……….

     
  • erva kurniawan 7:37 am on 19 August 2014 Permalink | Balas  

    Keluarga SakinahBila Rumah Tangga Cinta Dunia

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    “Dan tiadalah kehidupan di dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesunguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui” Al-Ankabut ayat 64

    Seakan telah menjadi bagian yang sangat standar dari skenario kehidupan ini, bahwa hampir sepanjang rentang usia dunia hingga saat ini, betapa banyak orang yang selama hidupnya begitu disibukkan oleh kerja keras, peras keringat banting tulang dalm mencari penghidupan, persis seperti ketakutan tidak kebagian makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpul-kumpulkan dan ditimbun dengan seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.

    Ada juga orang yang dalam hidupnya teramat merindukan penghargaan dan penghormatan, sehingga hari-harinya begitu disibukan dengan memperindah rumah, mematut-matut diri, membeli aneka asesori, dan sebagainya, yang semua itu notabene dilakukan semata-mata ingin dihargai orang.

    Inilah fenomena kehidupan yang menunjukan betapa manusia dalam kehidupannya akan selalu berpeluang dekat dengan hawa nafsu yan merugikan. Oleh sebab itu, bagi siapa pun yang berniat mengayuh bahtera rumah tangga, hendaknya jangan membayangkan rumah tangga akan beroleh kebahagiaan dan ketenangan bila hanya dipenuhi dengan hal-hal duniawi belaka. Karena, segala asesoris duniawi diberikan oleh Alloh kepada orang yang terlaknat sekalipun.

    Sekiranya tujuan sebuah rumah tangga hanya duniawi belaka, maka batapa para penghuninya akan merasakan letih lahir batin karena energinya akan lebih banyak terkuras oleh segala bentuk pemikiran tentang taktik dan siasat, serta nafsu menggebu untuk mengejar-ngejarnya terus menerus siang malam. Padahal, apa yang didapatkannya tak lebih dari apa yang telah ditetapkan Alloh untuknya. Walhasil, hari-harinya akan terjauhkan dari ketenteraman batin dan keindahan hidup yang hakiki karena tak ubahnya seorang budak. Ya, budak dunia !

    Alloh ‘Azza wa jalla memang telah berfirman untuk siapa pun yang menyikapi dunia dengan cara apa pun : cara hak maupun cara bathil. “Hai dunia, titah-Nya, “ladeni orang yang sungguh-sungguh mengabdikan dirinya kepada-Ku. Akan tetapi sebaliknya, perbudak orang yang hidupnya hanya menghamba kepada-Mu” !

    Rumah tangga yang hanya ingin dipuji karena asesoris duniawi yang dimilikinya, yang sibuk hanya menilai kebahagiaan dan kemuliaan datang dari perkara duniawi, adalah rumah tangga yang pasti akan diperbudak olehnya.

    Rumah tangga yang tujuannya hanya Alloh, ketika mendapatkan karunia duniawi, akan bersimpuh penuh rasa syukur kehadiratnya. Sama sekali tidak akan pernah kecewa dengan seberapa pun yang Alloh berikan kepada-Nya. Demikian pun manakala Alloh mengamininya kembali dari tangannya, sekali-kali tidak akan pernah kecewa karena yakin bahwa semua ini hanyalah titipannya belaka.

    Pendek kata adanya duniawi di sisinya tidak membuatnya sombong tiadanya pun tiada pernah membuatnya menderita dan sengsara, apalagi jadi merasa rendah diri karenanya. Lebih-lebih lagi dalam hal ikhtiar dalam mendapatkan karunia duniawi tersebut. Baginya yang penting bukan perkara dapat atau tidak dapat, melainkan bagaimana agar dalam rangka menyongsong hati tetap terpelihara, sehingga Alloh tetap ridha kepadanya. Jumlah yang didapat tidaklah menjadi masalah, namun kejujuran dalam menyongsongnya inilah yang senantiasa diperhatikan sungguh-sungguh. Karena, nilainya bukanlah dari karunia duniawi yang diperolehnya, melainkan dari sikap terhadapnya.

    Oleh karena itu, rumah tangga yang tujuannya Alloh Azza wa Jalla sama sekali tidak akan silau dan terpedaya oleh ada atau tidak adanya segala perkara duniawi ini. Karena, yang penting baginya,ketika aneka asesoris duniawi itu tergenggam di tangan, tetap membuat Alloh suka. Sebaliknya, ketika semua itu tidak tersandang, Alloh tetap ridha. Demikian pun gerak ikhtiarnya akan membuahkan cinta darinya.

    Merekalah para penghuni rumah tanggga yang memahami hakikat kehidupan dunia ini. Dunia, bagaimana pun hanyalah senda gurau dan permainan belaka, sehingga yang mereka cari sesungguhnya bukan lagi dunianya itu sendiri, melainkan Dzat yang Maha memiliki dunia. Bila orang-orang pencinta dunia bekerja sekeras-kerasanya untuk mencari uang, maka mereka bekerja demi mencari dzat yang Maha membagikan uang kalau orang lain sibuk mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama manusia, maka mereka pun akan sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan penghargaan dan pujian dari Dia yang Maha menggerakan siapapun yang menghargai dan memuji

    Perbedaan itu, jadinya begitu jelas dan tegas bagaikan siang dan malam. Bagi rumah tangga yang tujuannya yang hanya asesoris duniawi pastilah aneka kesibukannya itu semata-mata sebatas ingin mendapatkan ingin mendapatkan yang satu itu saja sedangkan bagi rumah tangga yang hanya Alloh yang menjadi tujuan dan tumpuan harapannnya, maka otomatis yang dicarinya pun langsung tembus kepada Dzat Maha pemilik dan penguasa segala-galanya.

    Pastikan rumah tangga kita tidak menjadi pencinta dunia. Karena, betapa banyak rumah tangga yang bergelimang harta, tetapi tidak pernah berbahagia. Betapa tak sedikit rumah tangga yang tinggi pangkat, gelar dan jabatannya, tetapi tidak pernah menemukan kesejukan hati. Memang, kebahagian yang hakiki itu hanyalah bagi orang-orang yang disukai dan dicintai oleh-Nya.

    “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, periasam dan bermegah-megahan diantara kamu, serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menguning, kemudian menjadi hancur dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Alloh serta keridoannya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Q.S.Al-Hadid ayat 20]. Wallahu ‘alam

    ***

    (fzyqn)

    [manajemenqolbu.com]

     
  • erva kurniawan 7:29 am on 18 August 2014 Permalink | Balas  

    quranGelap Gulita Yang Tindih-Bertindih

    Ketika anda berada di ruangan yang gelap gulita, apa yang bisa anda lakukan? Tentu saja anda akan meraba-raba untuk menemukan jalan sambil mengerahkan daya insting anda. Anda tak tahu jalan untuk keluar, nafas anda sesak dan kegelisahan mulai menyelimuti anda. Tak ada sebersit cahayapun yang menyinari tempat anda berada.

    Sekarang bayangkan bila hidup anda tak disinari oleh cahaya ilahi. Tentu saja anda pun akan berputar-putar tanpa arah di dalam kegelapan. Atau dalam bahasa Al-Qur’an: “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia, mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS 24: 40)

    Di saat keadaan gelap gulita, jiwa gelisah dan anda tak tahu apa yang harus anda kerjakan, beban kerjapun semakin menumpuk, himpitan ekonomi menghadang langkah anda, tubuh anda bergetar dan semuanya menjadi serba tak berarturan dan serba salah, jika hal ini menimpa anda maka carilah cahaya ilahi agar anda dapat keluar dari kegelapan itu.

    Bagaimana caranya mencari cahaya ilahi yang akan menerangi hati anda?

    “dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (QS 74:4-5)

    Mari kita bersihkan pakaian kita.tengoklah diri kita di cermin, berapa banyak pakaian kesombongan, pakaian riya’, pakaian dengki, pakaian takabur yang kita kenakan. Pakaian itu kita percantik dengan segala macam asesoris seperti lalai mengingat Allah, enggan bersedekah, merasa berat untuk pergi haji, dan lain sebagainya. Maka bersihkanlah segala macam pakaian lengkap dengan asesorisnya tersebut. Setelah itu usahakanlah untuk tak mengenakan pakaian itu selamanya.

    Sekarang tengoklah hati anda, rasakan cahaya ilahi mulai masuk ke dalam relung hati. “Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki…”(QS 24: 35)

    Mari kita kumpulkan cahaya ilahi itu mulai sekarang, dari hari ke hari hingga di hari kiamat nanti kita berdo’a, sebagaimana terekam dalam QS 66:28 : “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Berbahagialah mereka yang mendapat cahaya ilahi….

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:27 am on 17 August 2014 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-saw1Kesabaran dan Keramahan Rasulullah

    Dan sayyidina Anas bin Malik pernah berkata: “Sepuluh tahun aku hidup bersama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan berkhidmah kepadanya, dan belum pernah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam menegur atau memarahiku atas hal yang aku buat atau yang tidak aku buat”.

    Berkata Sayyiduna Anas bin Malik Radhiallahu Anhu menceritakan tentang kehidupannya bersama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam: “Suatu hari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam memerintahkanku untuk menunaikan beberapa keperluannya di luar, maka akupun pergi ke luar untuk menunaikan hajat tersebut.

    Di perjalanan aku bertemu dengan beberapa temanku yang sedang bermain maka akupun ikut bermain bersama mereka dan aku lupa perintah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, maka ketika aku sedang asyik bermain tiba-tiba seseorang di belakangku menutup kedua mataku dengan kedua belah tangannya dan akupun segera mengetahui dari kelembutan dan keharuman tangan tersebut, bahwa tangan tersebut adalah tangan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Maka aku gunakan kesempatan itu dan berpura pura tidak tahu siapa orang tersebut, akupun langsung menyandarkan punggungku dan aku gosokan punggungku di perut Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam sambil berkata “siapa ini..?? siapa ini..??” Maka ketika orang tersebut melepaskan kedua tangannya maka tenyata orang tersebut adalah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, dan seraya berkata kepadaku “Apakah telah kau kerjakan apa yang aku perintahkan kepadamu ya Anas?”. Maka akupun menjawab “Sekarang aku pergi ya Rasulullah” dan beliau tidak berbuat apapun kecuali menatapku dengan penuh senyuman.

    Dan sayyidina Anas bin Malik pernah berkata: “Sepuluh tahun aku hidup bersama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan berkhidmah kepadanya, dan belum pernah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam menegur atau memarahiku atas hal yang aku buat atau yang tidak aku buat”.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:22 am on 16 August 2014 Permalink | Balas  

    bendera-merah-putih2Celoteh Merdeka

    “Kemerdekaan ialah hak segala bangsa”, begitu bunyi bagian dari Pembukaan UUD 45. Kalimat yang lahir melalui proses olah fikir para founding fathers Republik Indonesia terasa begitu indah. Indahnya, bukan semata-mata karena kalimat itu terumuskan menjelang persiapan kemerdekaan, dan ditetapkan setelah kemerdekaan bangsa Indonesia. Tapi juga karena kalimat itu berarti tekad segenap bangsa Indonesia, melalui founding fathersnya, untuk berperan aktif memperjuangkan kemerdekaan yang lebih luas bagi bangsa-bangsa lain yang masih terjajah. Letak keindahan lain ialah bahwa rumusan kalimat tersebut senada dengan fitrah manusia serta misi utama yang diemban para Nabi, misi pembebasan.

    Di bagian lain dari Pembukaan UUD 45, juga tersurat kalimat “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Para founding fathers negeri ini tahu betul, bahwa penjajahan bukan hanya mengakibatkan derita panjang berupa kemiskinan serta derita fisik lainnya, tapi juga kebodohan yang melanda anak-anak negeri. Kebodohan itupun bukan semata-mata disebabkan bakat maupun faktor-faktor alam lainnya, tapi juga karena system pembodohan yang merupakan bagian dari paket penjajahan. Dengan meletakkan cita-cita “mencerdaskan bangsa” sebagai salah satu agenda utama bangsa yang baru merdeka, di situ tersirat kesadaran bahwa kecerdasan lah yang memungkinkan setiap manusia, lebih luas lagi bangsa untuk sadar akan hak-haknya dan dengan sendirinya menolak apabila hak-haknya dikangkangi oleh pihak dari luar dirinya. Hanya dengan kecerdasanlah anak-anak negeri mampu menopang dan menjaga bangunan kemerdekaan yang baru berdiri dan sangat rentan terhadap berbagai macam gangguan. Dengan kecerdasanlah bisa diharapkan kelak anak-anak negeri bisa berdiri sejajar dengan Bapak-Bapak bangsa, yang memungkinkan dihapuskannya istilah “Bapak-Anak”. Karena sejajar, maka semua adalah “Bapak” sekaligus semua adalah “Anak”.

    Cita-cita tinggal cita-cita. Tanpa menafikkan sama sekali usaha mewujudkan cita-cita tersebut, sulit dipungkiri bahwa perjalanan bangsa ini selanjutnya lebih didominasi warna yang bertentangan dengan cita-cita mulia itu. Keterjajahan selama kurun waktu yang sangat panjang ternyata bukan sekedar melahirkan kemiskinan, kebodohan dan kawan-kawannya, tetapi juga “dendam”. Keterjajahan berhasil mempertontonkan betapa nikmatnya menjajah. Dan itulah yang diam-diam merasuk dan mengendap ke alam bawah sadar manusia terjajah. Penjajahan baru, dengan bentuk-bentuknya yang juga baru mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Penjajahan baru itupun selanjutnya melahirkan “dendam” baru dan menjadi seperti lingkaran setan yang membelit bangsa.

    Cita-cita mencerdaskan bangsa mesti didengungkan kembali. Mesti digali lagi untuk menemukan format-format baru guna mematahkan mata rantai lingkaran setan bangsa ini. Format-format lama mesti diseleksi ulang, mana yang masih dipakai dan mana yang mesti dibuang jauh-jauh agar bangsa ini bisa lebih segar, lebih cerdas, lebih sadar akan hak-haknya dan lebih tanggap terhadap berbagai macam penjajahan baru yang coraknya jauh lebih beragam dan -bahkan- lebih halus, sehingga sulit terdeteksi. Hanya dengan tingkat kecerdasan yang berkembang dan terus berkembanglah, manusia bisa mendeteksi untuk selanjutnya menolak penjajahan-penjajahan baru yang juga berkembang.

    Kata merdeka pun mestinya dimaknai ulang, bukan hanya sebatas bebas dari penjajahan bangsa lain maupun merdeka-merdeka yang sifatnya artifisial semata. Namun mesti digali makna merdeka yang lebih hakiki, ke arah mana cakrawala pandang manusia dan bangsa diarahkan. Biarkan makna merdeka serta wilayah-wilayah cakupannya berkembang dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, seirama perkembangan kecerdasan manusia yang tidak semestinya dihambat atas nama apapun. Biarkan tiap orang, melalui berbagai caranya, menggali dan menemukan makna merdeka tanpa harus didiktekan oleh unsur-unsur luar. Dan biarkan pula tiap orang membawa makna merdekanya masing-masing untuk kemudian dirundingkan sampai batas mana ekspresi kemerdekaan, untuk dirumuskan menjadi makna merdeka yang lebih hakiki. Lebih hakiki, artinya lebih dari sebelumnya dan sangat membuka peluang bagi yang lebih lainnya yang mungkin ditemukan dan dirumuskan di masa akan datang. Begitu dan begitu terus, tanpa harus di finalkan makna hakiki itu.

    “Jo .. Jo .. nonton lomba panjat pinang yuk !”

    Lamunan Paijo buyar oleh ajakan  Blothong yang sudah dandan necis.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:04 am on 15 August 2014 Permalink | Balas  

    sabarAntara Sabar dan Mengeluh

    Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Pada waktu tawaf tiba-tiba beliau melihat seorang wanita yang ceria dan berseri wajahnya.

    “Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu, tidak lain pasti karena tidak pernah merasa risau dan bersedih hati,” ucap beliau.

    Wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, “Apakah katamu wahai saudaraku? Demi Allah aku terbelenggu oleh perasaan duka dan sedih, dan tiada seorang pun yang mengetahui perasaanku ini.”

    Abu Hassan bertanya, “Apa kiranya hal yang membuatmu bersedih, wahai saudariku?”

    Wanita itu menjawab, “Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban. Pada waktu itu aku masih bersama dua orang anakku yang sudah bermain, dan yang lain masih menyusu. Ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang lebih besar berkata pada adiknya, “Hai adikku, maukah kutunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?”

    Jawab adiknya, “Bagaimana caranya, Kak?”

    Lalu disuruh adiknya berbaring dan disembelih leher adiknya tersebut. Kemudian sang Kakak merasa ketakutan setelah melihat banyaknya darah yang keluar dan akhirnya dia lari ke bukit, kemudian di sana ia dimakan oleh serigala. Lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sampai meninggal dunia karena kehausan. Ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas mengenai badannya, habis melepuh kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah menikah dan tinggal di daerah lain. Seketika ia jatuh pingsan, sampai akhirnya menemui ajalnya. Dan sekarang aku tinggal sebatang kara tiada lagi sanak saudara.”

    Lalu Abul Hassan bertanya, “Bagaimanakah kamu bisa bersabar menghadapi semua musibah yang itu?”

    Wanita itu menjawab, “Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada yang berbeda. Adapun dengan bersabar, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun dengan mengeluh, maka orang tersebut tidak mendapat gantinya kecuali sia-sia belaka.”

    Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat dianjurkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah. Oleh karena itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:

    “Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil kekasaihnya di dunia kemudian ia bersabar, melainkan syurga baginya.”

    Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Oleh karena itu Rasulullah s.a.w bersabda,:

    “Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang.”

    Dan sabdanya pula, “Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya pakaian dari uap api neraka.” (Riwayat oleh Imam Majah)

    Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.

    Abu Abdurrahman Ali.

     
  • erva kurniawan 2:28 am on 14 August 2014 Permalink | Balas  

    berapa-lama-kita-dikuburJenazah Berubah Menjadi Babi Hutan

    (Kisah-kisah Teladan)

    Seorang anak mendatangi Rasulullah sambil menangis. Peristiwa itu sangat mengharukan Rasulullah S.A.W yang sedang duduk bersama-sama sahabat yang lain.

    “Mengapa engkau menangis wahai anakku?” tanya Rasulullah. “Ayahku telah meninggal tetapi tiada seorang pun yang datang melawat. Aku tidak mempunyai kain kafan, siapa yang akan memakamkan ayahku dan siapa pula yang akan memandikannya?” Tanya anak itu.

    Segeralah Rasulullah memerintahkan Abu Bakar dan Umar untuk menjenguk jenazah itu. Betapa terperanjatnya Abu Bakar dan Umar, mayat itu berubah menjadi seekor babi hutan. Kedua sahabat itu lalu segera kembali melapor kepada Rasulullah S.A.W.

    Maka datanglah sendiri Rasulullah S.A.W ke rumah anak itu. Didoakan kepada Allah sehingga babi hutan itu kembali berubah menjadi jenazah manusia. Kemudian Nabi menyembahyangkannya dan meminta sahabat untuk memakamkannya. Betapa herannya para sahabat, ketika jenazah itu akan dimakamkan berubah kembali menjadi babi hutan.

    Melihat kejadian itu, Rasulullah menanyakan anak itu apa yang dikerjakan oleh ayahnya selama hidupnya.

    “Ayahku tidak pernah mengerjakan solat selama hidupnya,” jawab anak itu. Kemudian Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, “Para sahabat, lihatlah sendiri. Begitulah akibatnya bila orang meninggalkan solat selama hidupnya. Ia akan menjadi babi hutan di hari kiamat.”

    ***

    Abu Abdurrahman Ali

     
  • erva kurniawan 3:18 am on 13 August 2014 Permalink | Balas  

    pernikahan erva kurniawan dan titiki rahayuningsBermesra, Berpahala dan Menghapus Dosa

    Kemesraan hubungan suami istri tentunya merupakan dambaan setiap keluarga. Kemesraan bukan hanya ada pada saat suami istri melakukan hubungan seksual (jima’) saja, akan tetapi ada banyak hal yang dapat menjadikan hubungan suami istri mesra dan harmoni.”

    Hal ini terkadang tidak disadari, sehingga jarang dilakukan secara sadar untuk menjaga kemesraan tersebut. Padahal bila dilakukan dengan niat yang benar dapat menambah kemesraan, mendapat pahala dan sekaligus dapat menghapus dosa-dosa.

    Kita sebagai muslim patut bersyukur, karena Rasululloh SAW sebagai uswah terbaik kita telah memberikan tuntunan yang lengkap termasuk dalam hal menjaga kemesraan hubungan suami istri. Dengan demikian kita tidak perlu mencari-cari sumber lain yang kadang justeru menjerumuskan ke dalam hal-hal yang melanggar syari’at. Beberapa hal yang dituntunkan Rasululloh SAW dalam menjaga kemesraan hubungan suami istri, antara lain :

    a.   Bergandengan Tangan

    Bergandengan tangan (saling memegang tangan) nampaknya merupakan hal sepele yang kadang dilupakan oleh pasangan suami istri. Padahal bila ini dilakukan dengan lemah lembut dan perasaan kasih sayang yang mendalam, merupakan satu hal yang dapat menjadikan suasana semakin mesra bagi pasangan tersebut. Ini sangat bermanfaat jika sebelumnya ada hal-hal yang kurang mengenakkan, sehingga untuk membicarakannya perlu suasana yang tenang dan penuh kasih sayang.

    Yang lebih penting lagi, bila dilakukan dengan niat untuk mencari keridhoan Alloh, ketika seorang suami memegang tangan istrinya dengan penuh kasih sayang, dosa-dosa mereka akan keluar melalui celah-celah jari tangan mereka, seperti yang diriwayatkan dalam hadits dari Abu Sa’id.

    Ada perkataan bijak yang perlu dipertimbangkan setiap pasutri : “Sungguh bila seorang suami memandang istrinya (dengan rasa kasih sayang) dan istrinya juga memandang suaminya (dengan rasa kasih sayang), maka Alloh akan memandang keduanya dengan pandangan kasih sayang. Dan bila suami memegang tapak tangan istrinya, maka dosa-dosa mereka keluar dari celah-celah jari mereka.”

    b.   Membelai

    Hal yang kedua yang dicontohkan Rasululloh SAW, yang menambah kemesraan hubungan suami istri adalah membelai. Dengan belaian yang lembut penuh kasih sayang dari suaminya, seorang istri akan merasakan ketenangan batin, sehingga hal ini dapat menjadikan dia semakin sayang kepada suaminya. Hal ini dilakukan Rasululloh SAW kepada para istrinya, sekalipun beliau belum akan mencampurinya. Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat :

    “Rasululloh SAW biasa setiap hari tidak melupakan untuk mengunjungi kami (para istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampirinya dan membelainya, sekalipun tidak mencampurinya, sehingga sampai ke tempat istri yang tiba gilirannya, lalu bermalam disitu.” (HR. Abu Dawud).

    Hal ini kadang tidak dilakukan oleh pasangan suami istri, karena mungkin dinilai memperlakukan istri seperti kanak-kanak, atau memang belum mengetahui bahwa hal ini sebenarnya diperlukan istri untuk menunjukkan kasih sayangnya.

    c.   Mencium

    Ada cara lain untuk menciptakan suasana kemesraan suami istri yang juga dicontohkan Rasululloh SAW, diantaranya adalah beliau mencium istrinya sekalipun ia sedang berpuasa. Berciuman merupakan cara sederhana dan mudah dilakukan untuk tetap menjaga kemesraan suami istri.

    Berciuman tidak hanya dilakukan ketika akan melakukan hubungan seksual. Hal ini baik juga dilakukan pada saat terlarang untuk berhubungan seksual. Misalnya ketika sedang berpuasa dan saat istri sedang haid atau nifas. Pada saat-saat itu kemesraan tetap harus dijaga. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya :

    Dari Umar bin Abu Salamah, sungguh ia pernah bertanya kepada Rasululloh SAW : “Apakah seorang yang berpuasa boleh mencium?” Beliau menjawab : “Tanyakan kepada orang ini (maksudnya Ummu Salamah).” Lalu (Ummu Salamah) memberitahukan bahwa Rasululloh sering berbuat begitu… “ (HR. Muslim).

    Dalam beberapa riwayat lain juga dijelaskan bahwa Rasululloh SAW pernah mencium istrinya setelah beliau berwudhu sebelum menjalankan sholat.

    d.   Tidur Seranjang

    Jika suami istri tidur seranjang, tentunya lebih banyak hal yang dilakukan dalam bermesraan. Dengan tidur satu ranjang memungkinkan mereka saling berdekapan dan berpelukan. Hal ini menjadikan keduanya merasa tentram dan tenang. Hal ini juga dapat menjadi wahana hiburan atau penyegaran setelah melakukan tugas rutin sehari-hari.

    Mengingat pentingnya tidur seranjang ini, maka Rasululloh SAW mencontohkan bahwa, beliau tetap tidur seranjang dengan istrinya sekalipun istrinya sedang haidh, seperti diceritakan pada sebuah hadits :

    Dari Aisyah ra, ujarnya : “Rasululloh SAW dahulu biasa menyuruh kami berkain, lalu beliau sentuhkan dirinya padaku, padahal saya sedang haidh.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Sebaliknya seorang istri yang tidak bersedia tidur seranjang akan mendapat laknat malaikat, sebagaiman sabda Rasululloh SAW pada hadits berikut :

    Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : “Rasululloh SAW pernah bersabda : “Jika seorang istri semalaman tidur memisahkan diri dengan suaminya, maka malaikat melaknatnya hingga shubuh.” (HR. Bukhari).

    e.   Mandi Bersama

    Mandi bersama juga merupakan hal penting untuk menjaga kemesraan suami istri. Mandi bersama dapat menjadikan hiburan yang menyenangkan sekaligus menyegarkan. Rasululloh SAW sebagai tauladan kita juga mencontohkan mandi bersama istrinya, sebagaimana diriwayatkan pada hadits berikut :

    Dari Aisyah ra, ia berkata : “Aku biasa mandi bersama Rasululloh SAW dalam satu tempat mandi. Antara tanganku dan tangan beliau saling bergantian mengambil air, tetapi beliau mendahului aku, sehingga aku berkata : “Sisakan untukku, sisakan untukku”. Ketika itu kami sedang junub.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Di samping sebagai sarana menambah kemesraan hubungan suami istri, seorang istri yang memandikan suaminya dengan niat mencari ridho Alloh akan mendapatkan rahmat. Hal ini dijelaskan pada hadits berikut :

    Dari Aisyah ra, ia berkata : “Rasululloh SAW pernah bersabda : “Semoga Alloh merahmati suami yang dimandikan istrinya dan ditutup (kekurangan) akhlaqnya.” (HR. Baihaqi).

    Itulah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menambah kemesraan hubungan suami istri sesuai dengan tuntunan Rasululloh SAW, dengan harapan kita mendapat pahala dan sekaligus dosa-dosa kita terampuni.

    Sumber : Majalah NIKAH, oleh Abu Fathimah.

     
  • erva kurniawan 4:54 am on 12 August 2014 Permalink | Balas  

    pengemisHukum Orang Yang Menjadikan Mengemis Sebagai Profesi

    Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail As-Sulaimani Al-Mishri

    Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail As-Sulaimani Al-Mishri ditanya : Kami menjumpai sebagian orang yang menjadikan meminta-minta dan mengemis sebagai profesi, sehingga ia dapat memiliki rumah, kendaraan dan dapat menanam saham di perusahaan-perusahaan. Kami sering menjumpai mereka di masjid-masjid atau di pinggir-pinggir jalan menengadahkan tangannya kepada orang-orang yang lalu lalang. Bagaimana sikap kami terhadap mereka .?

    Jawaban Beliau:

    Tentu saja itu adalah perbuatan tercela. Cinta dunia telah menyeret orang-orang seperti itu untuk menjual agama dan kehormatannya. Sedangkan orang-orang yang yakin (akan agamanya) dan memiliki kejujuran akan terhindar dari perbuatan seperti itu. Allah telah menyebutkan sifat mereka, yaitu memelihara diri dari meminta-minta di dalam Al-Qur’an.

    “Artinya : (Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat oleh jihad di jalan Allah mereka tidak dapat berusaha di muka bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang-orang kaya karena menahan diri dari meminta-minta” [Al-Baqarah : 273]

    Oleh sebab itu, wajib memberikan nasehat kepada peminta-minta seperti itu tanpa mencela dan mempermalukan mereka, kecuali jika dampak buruk perbuatan mereka tersebut tidak dapat dibendung, saat itu perlu ditegur dengan keras, dan hendaklah memberikan nasehat dan peringatan kepada mereka. Dengan menyampaikan beberapa hadits Nabi, di antaranya :

    1.   Hadits Ibnu Umar dari Rasulullah, beliau bersabda.

    “Artinya : Senantiasa seseorang meminta-minta hingga ia datang pada hari kiamat tanpa membawa sekerat dagingpun di wajahnya” [Muttafaqun 'Alaihi]

    2.   Hadits Abu Said dari Rasulullah, beliau bersabda.

    “Artinya : Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, niscaya Allah akan menjaga kehormatannya, barangsiapa yang merasa cukup, niscaya Allah akan men-cukupinya, barangsiapa berlatih kesabaran, niscaya Allah akan mencurahkan kesabaran baginya, dan tiada seorangpun mendapat karunia yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran” [Muttafaqun 'Alaihi]

    3.   Hadits Hakim bin Hizam di dalam Shahihain ia berkata.

    Aku pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah, lalu beliau memberikannya, kemudian aku kembali meminta kepada beliau, beliau masih memberikannya, demikianlah sampai tiga kali. Kemudian beliau berkata :

    “Artinya : Wahai Hakim, harta ini memang indah dan manis, barangsiapa yang mengambilnya dengan kelapangan hati -yaitu dengan kezuhudan dari penerima dan kerelaan hati yang memberi- niscaya akan dilimpahkan berkah baginya. Sebaliknya, barangsiapa yang menerima dengan ketamakan, pasti tidak akan dilimpahkan berkah baginya. Bagaikan orang makan yang tidak kunjung kenyang, dan tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang dibawah”.

    Hakim berkata : Ya Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran. Saya tidak akan menerima pemberian apapun dari seseorang sepeninggalmu selamanya -yaitu aku tidak akan mengurangi hartanya dan tidak akan meminta-minta kepadanya-. [Lihat "Fathul Bari" III : 336]

    Kemudian pada masa Khalifah Abu Bakar, beliau memanggilnya untuk memberi hadiah kepadanya dari baitul-maal, namun Hakim menolaknya. Juga pada masa Khalifah Umar, beliau juga memanggil Hakim untuk memberinya hadiah, namun ia pun menolaknya. Sehingga Umar berkata : Wahai Kaum Muslimin, saya membuat persaksian kepada kamu bahwa saya telah memberi kepada Hakim bagiannya dari harta Fa’i tetapi ia enggan menerimanya. Demikianlah, Hakim tetap tidak mau menerima dari seorangpun sepeninggal Rasulullah hingga ia meninggal dunia.

    Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan satu riwayat Ibnu Rahuyah bahwa ketika Hakim wafat, tidak ada seorangpun yang lebih kaya dari beliau. Namun sanad riwayat ini perlu diteliti kembali.

    4.   Hadits Az-Zubeir bin Awwam dari Rasulullah beliau bersabda.

    “Artinya : Sekiranya salah seorang dari kamu membawa tali lalu pergi ke bukit untuk mencari kayu, kemudian ia pikul ke pasar untuk menjualnya demi mejaga kehormatannya, niscaya yang demikian itu lebih baik dari pada meminta-minta kepada orang lain, baik diberi maupun di tolak” [Hadits Riwayat Musim]

    5.   Hadits Abu Hurairah dari Rasulullah beliau bersabda.

    “Artinya : Barangsiapa yang meminta-minta untuk memperbanyak hartanya, tiada lain ia hanyalah memperbanyak bara api kemudian terserah kepadanya akan memperbanyak bara api tersebut atau menguranginya” [Hadits Riwayat Muslim]

    6.   Hadits Habsyi bin Junadah dari Rasulullah beliau bersabda.

    “Artinya : Barangsiapa yang meminta-minta bukan karena kefakirannya, maka seakan-akan ia telah memakan bara api” [Hadits Riwayat Ahmad]

    Dan banyak sekali hadits-hadits lain tentang kejelekan meminta-minta dan tentang keutamaan bersabar dan menjaga kehormatan diri. Telah dirangkum sebagian besar hadits-hadits tersebut di dalam buku berjudul “Dzammul-Mas’alah” karangan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i. Semoga Allah menjaga beliau dari kejelekan-kejelakan. Di dalam buku itu Syaikh Muqbil menjelaskan adanya indikasi penularan penyakit berbahaya ini -yaitu berlomba-lomba memperbanyak harta- dari para pengemis tersebut kepada sebagian orang yang mengaku sebagai juru dakwah. Tentu saja sikap semacam ini justru membuat hina ilmu dan dirinya di hadapan khalayak umum.

    Benarlah yang dikatakan oleh seorang penyair :

    Seandainya Ahli Ilmu menjaga kehormatan ilmunya, tentulah ilmu itu akan menjaga kehormatan dirinya, dan sekiranya ia agungkan ilmu itu di dalam dirinya tentulah ia akan dihormati. akan tetapi jika ia menyia-nyiakan ilmu tersebut, niscaya ilmu itu akan membuatnya hina, serta mengotorinya dengan ketamakan hawa nafsunya hingga menjadi hitam kelam

    Penyair lain berkata :

    Aku menjaga kehormatan diriku dengan harta ku, dan aku tidak akan mengotorinya di dalam kubangan harta, tidak ada keberkahan bagi kehormatan yang tercemar dengan harta dunia.

    Penyair lain berkata :

    Kita menata kemilau dunia dengan merobek-robek kehormatan agama kita. Tiada satupun yang berhasil kita raih, baik dunia apalagi agama (akhirat) kita. Betapa beruntungnya seorang hamba yang mengutamakan kehendak Rabbnya, serta mempergunakan dunianya untuk menggapai masa depan (akhirat)nya

    Penyair lain mengatakan :

    Sesungguhnya ada beberapa hamba Allah yang bijaksana, mereka menjauhi dunia karena takut fitnah (godaan), mereka renungkan lalu mereka menyadari bahwa dunia bukan tempat tinggal hidup abadi, mereka anggap dunia ini bagaikan samudra, dan mereka mempergunakan amal shalih sebagai bahteranya

    Bukankah Allah hanya meminta kepada kita keistiqomahan di atas agama-Nya .? Dan agar mengajak ummat untuk melakukan kebaikan-kebaikan, serta menjelaskan kepada mereka jalan terbaik untuk meraihnya, yaitu mengajak mereka untuk membantu para pelaksana proses belajar mengajar agar manfaat dari proses belajar mengajar ini dapat dirasakan oleh segenap kaum muslimin diamanpun mereka berada. Apalagi pada zaman sekarang ini sangat sedikit orang-orang yang menyadari urgensi ilmu di dalam penyebaran dakwah. Jangan sampai masalah dana menjadi penyebab kebencian dan antipati masyarakat terhadap dakwah.

    Semoga Allah menjaga kita semua dari segala keburukan, dan memudahkan kita untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Sesungguhnya Ia Maha memberi lagi Maha Mulia.

    Catatan :

    Kita juga tidak boleh menyamaratakan semua peminta-minta. Kita tidak boleh menuduh mereka macam-macam, karena hal itu termasuk buruk sangka tanpa alasan. Seharusnya kita bersyukur kepada Allah yang telah menjaga kita dari meminta-minta. Allah berfirman :

    “Artinya : Dan terhadap orang yang meminta-minta makan janganlah kamu menghardiknya” [Ad-Dhuha : 10]

    Ayat ini umum bagi semua peminta-minta, kecuali jika kita mengetahui bahwa dia adalah orang jahat.

    Adapun tentang hadits :

    “Artinya : Setiap peminta-minta punya hak ( untuk diberi ) walaupun ia datang dengan mengendarai kuda” adalah hadits dhaif (lemah) dinyatakan dhaif oleh Syaikh Al-Albani [Lihat "Silsilah Hadits Dhaif" No. 1378]

    **

    Disalin dari buku Silsilah Al-Fatawa Asy-Syar’iyah edisi Indonesia Bunga Rampai Fatwa-Fatwa Syar’iyah oleh Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail As-Sulaimani Al-Mishri, terbitan Pustaka At-Tibyan hal. 70 – 74. Penerjemah Abu Ihsan

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 11 August 2014 Permalink | Balas  

    Lampu-merahBapak, Muslim Nak!!! “

    Penulis : Ahmad Syauqi

    “Yah rese deh, kena lampu merah lagi…!” Belum dua menit yang lalu kena lampu merah, kini aku lagi-lagi harus menginjak rem motor untuk menyambut si bohlam bulat merah. Desah kesal menghiasi telingaku saat ini. Apalagi saat kulihat beberapa motor dengan enaknya melanjutkan perjalanan, mentang-mentang tak ada polisi berjaga di sana.

    Sambil melihat ulah anak-anak kecil menunggu receh dari para pengendara mobil didepanku, pandanganku tertumbuk pada sesosok bapak yang menjajakan sebuah gambar berukuran sedang dan sebuah hiasan meja. Oh! Gambar berpigura yang diapit tangan kanan itu ternyata gambar Yesus, dan hiasan meja yang digenggam tangan kiri adalah salib. Ah.. biasa saja. Mau jual apapun, itu hak siapa saja. Namun… rasa kagetku muncul saat melihat bapak penjaja itu memakai … peci haji !! Loh, gimana sih?!!

    Si bapak kini mendekati aku, Kubuka helm yang sedari tadi melindungi kepalaku. Aku penasaran betul, ingin berbicara barang sedikit dengan bapak itu.

    “Malem Pak.. Wah,malam-malam begini, masih jualan juga Pak? Belum pulang?” tanyaku sambil tak lupa mengulum senyum manis

    “Belum mas….”, jawab si bapak tak kalah ramah. “Biasanya bapak pulang jam 11-an”.

    “Dagangannya laku berapa Pak hari ini?”. Aku kembali bertanya, sambil melihat-lihat pigura bergambar Yesus dan hiasan salib keramik yang dibawanya.

    Si Bapak menjawab sambil mengangkat sedikit salib keramik itu. “Yah, yang salib sih laku 1 biji. Yang gambar ini,belum laku mas. Mas mau beli?!!”

    Aku tersenyum getir,walau tetap berusaha tampil manis. “Hehe… saya… saya muslim Pak. Maaf yah…!!”

    “Oh, mas muslim thoo… Waduh saya yang minta maaf nih, Hmm, saya juga muslim.”” Hihi.. si bapak jadi salah tingkah begitu.

    Heh? Bener dugaanku. Wah, Ada yang nggak bener neh. “Bapak Muslim? Lalu… mm… kenapa bapak jualan beginian?” tanyaku dengan hati-hati.

    “Ya.. sebenarnya bapak juga ndak suka, mas. Biasa mas, gara-gara urusan perut”. jawab si bapak.

    I knew it !! Kulihat raut wajahnya kini agak “mendem”. Waduh, jadi gak enak nih

    “Trus Pak… tadi bapak bilang, hari ini baru laku 1 biji. Trus berapa untungnya? Apa cukup keuntungan 1 dagangan itu untuk kebutuhan sehari, Pak?”

    “Mm… sebenarnya, laku nggak laku nggak jadi soal mas. Setiap hari, asal saya mau menjajakan ini, saya dikasih 25 ribu. Kalau dagangannya laku, semua uangnya buat saya… Kalo ada yang bisa ngasih pekerjaan lebih baik, saya udah pasti ndak mau jalanin ini. Saya tahu ini nggak halal. Tapi… kalo gak begini, kami sekeluarga makan apa mas…”

    Aku masih terdiam. Sampai tak sadar bahwa mesin motorku mati, kalau saja bapak itu tidak mengingatkan. “Tapi mas boleh percaya, saya tetap muslim, gusti Allah tetep Tuhan saya. Kalau ada kerjaan lain dan hasilnya cukup untuk keluarga, saya pasti gak jualan beginian”.

    “Iya Pak. Mm.. apa bapak belum pernah coba jualan yang lainnya, gitu?”

    “Iya, pernah…jualan koran, makanan kecil dan rokok, tapi hasilnya gak cukup mas, buat makan aja kurang, apalagi bayar sekolah anak …. jauh lah ama yang sekarang ini mas….”.

    TIINN!! TIIN !! Pengemudi mobil di belakang sudah membunyikan klakson. Ternyata lampu merah sudah padam, sampai kendaraan di belakang saya ngomel-ngomel.

    “Oke pak… makasih banyak yah…. maaf sebelumnya. Assalamu’alaikum!” Aku bergegas menarik gas motorku, melewati perempatan pramuka yang saat itu sudah mulai sepi.

    Sepanjang perjalanan Rawasari – Sumur Batu, aku betul-betul gundah. Kurang ajar misionaris itu !! Umpatan demi umpatan silih berganti memenuhi relung hatiku saat itu. Tapi mendadak aku tersadar. Hey… ini bukan salah misionaris itu ! Mereka hanya memanfaatkan situasi yang ada ! Situasi dimana umat Islam kini sudah betul-betul lemah dalam hal ekonomi. Situasi di mana umat Islam tak lagi peduli pada saudara seagamanya yang dhu’afa. Situasi di mana Rasululah pernah ungkapkan 14 abad silam, bahwa umat Islam yang mayoritas, tak ubahnya seperti buih di lautan. Tak berkekuatan. Tak berwibawa. Tak bergigi. Tak berpengaruh. Antara ada-tiada. Innaa lillaah…

    Apa yang bisa aku lakukan? Apa yang bisa aku sumbangkan? Apa yang bisa aku bantu? Lagi-lagi berondongan pertanyaan menghujani pikiranku. Ahh… pusing…

    Peristiwa itu ternyata betul-betul terlupakan… sampai tadi aku menyaksikan acara di sebuah televisi swasta, yang menayangkan profil kaum dhu’afa, seorang bapak penjual kerupuk. Mendadak aku teringat pada si bapak penjual hiasan di perempatan Pramuka. Apa kabarnya sekarang? Apakah di bulan Ramadhan ini beliau tetap berjualan seperti biasanya? Ah… ingin rasanya memacu motor bebekku menemuinya. Tapi hm… sudah malam.

    Ya Allah, semoga ini adalah teguran darimu, betapa kesadaran kami akan pentingnya saling tolong menolong pada sesama saudara segama, masih belum terpatri dengan baik, masih belum menjadi hiasan akhlak kami dalam menapaki hidup ini.

    Ya Rabb, berikanlah kami kekuatan, karuniakanlah kami kesadaran, sinarilah hati kami dengan pancaran kasih dan sayangMu, sehingga kami bisa berusaha semaksimal mungkin menyayangi dan mengasihi sesama kami. Ya Rahmaan, yaa Rahiim.

    Di luar sana banyak saudara-saudara kami yang mendapatkan nafkah melalui cara yang mungkin tidak Engkau ridhai, karena kondisi yang memaksa. Berilah mereka ampunan, berilah mereka hidayah, maafkanlah ketidaktahuan mereka, ya Rabb. Tuntunlah mereka menuju jalan yang Engkau ridhai, dan tuntunlah kami untuk membantu mereka…..

     
  • erva kurniawan 2:10 am on 10 August 2014 Permalink | Balas  

    berdoaDoa yang Indah

    Ada suatu doa lama tapi indah yang biasa diucapkan oleh para nelayan di pantai Perancis : “O, Tuhan, laut Mu begitu luas dan perahuku begitu kecil.”

    Hanya sampai di situ saja bunyinya. Ada yang mengatakan itu sama sekali bukan doa, hanya sekedar menggumam atau ungkapan kekaguman… Tetapi dari ucapan itu kita bisa memperoleh suatu landasan dan pangkal dari semua doa adalah : Manusia yang dengan penuh kesadaran-keikhlasan berdiri dihadapan Tuhan Yang Maha Agung.

    “Ya Allah, Tuhanku, Tolonglah aku supaya aku mensyukuri nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan berikanlah kesempatan kepadaku untuk berbuat baik yang Engkau  ridha-i dan masukkanlah aku ke dalam sayang-Mu-pemeliharaan-Mu dan pergaulan orang-orang yang baik-baik” ( dari An Naml : 19)

    Amin Ya Robbal Alamin

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:46 am on 9 August 2014 Permalink | Balas  

    38berdoaZikir-zikir Setelah Solat Fardhu.

    Dalam buku “Sifat Shalat Nabi” karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin :

    Sesuai shalat, hendaklah ia membaca dzikir setelah shalat diantaranya mengucapkan istighfar “astaghfirullah” sebanyak tiga kali.

    Kemudian membaca : “Allaahumma antas salaam waminkas salaam, tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam” (H.R Muslim).

    Kemudian membaca : “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir, Allaahumma laa maani’a limaa a’thaita walaa mu’ thiya limaa mana’ta, walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu” (Muttafaqun ‘alaihi)

    Kemudian membaca : “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir, laa ilaaha illallaahu walaa na’budu illa iyyaahu, lahun ni’mah walahul fadhl walahuts tsanaa’ul hasan, laa ilaaha illallaahu mukhlishiina lahud diin walau karihal kaafiruun” (H.R Muslim)

    Kemudian membaca : – Subhaanallah 33x – Alhamdulillaah 33x – Allaahu Akbar 33x

    Setelah itu mengucapkan : “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir” 1x (H.R Muslim).

    Setelah itu, hendaklah ia membaca ayat kursi (Al Baqarah ayat 255), berdasarkan sebuah hadits riwayat An Nasai dalam kitab “Amalul Yaumi wal Lailah” dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Hadits Shahih no 972.

    Lalu membaca surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq, dan surat An-Naas, berdasarkan sebuah hadits riwayat Abu Dawud dan telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab “Shahih Abu Dawud” no 1348.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:36 am on 8 August 2014 Permalink | Balas  

    Kisah pedagang yang jujur 

    kakek penjualKisah Pedagang yang Jujur

    SubhanaLLAH… Inilah akhlak seseorang yang menjunjung nilai-nilai mulia. Nilai-nilai itu bernama ISLAM.

    Dikisahkan bahwa pada zaman dahulu ada seorang pedagang yang sangat jujur, ia memiliki seorang penjaga toko. pada penjaga toko tersebut ia senantiasa berpesan agar berlaku jujur, diantaranya adalah dengan menjelaskan cacat barang yang hendak dijual.

    Pada suatu hari, datang seorang Yahudi berbelanja pada pedagang tersebut. Si pedagang sedang pergi, yang ada hanya penjaga toko. Si penjaga toko ketika melihat yahudi ini tidak menjelaskan cacat barang dagangan dan lupa pada pesan si pedagang.

    Maka Yahudi ini membeli sepotong baju seharga 3000 dirham, kemudian segera pergi. Ketika pedagang itu pulang dan didapati baju yang cacat telah laku terjual maka ia bertanya pada penjaga toko, “Apakah kau jelaskan padanya, bahwa baju itu ada cacatnya ?”

    Dijawab oleh penjaga toko, “Aku tidak menjelaskan padanya”

    Ditanya lagi, “Siapa yang membeli baju itu?”.

    Dijawab, “seorang yahudi yang sedang dalam perjalanan”.

    Saat itu juga pedagang tadi mengambil uang dan pergi menyusul rombongan musafir itu, dan setelah 3 hari baru berhasil ditemukan.

    Setelah berhasil bertemu dengan si Yahudi tadi, pedagang itu berkata, “Serahkan baju yang kau beli itu, sesungguhnya baju itu ada cacatnya, Pesuruhku lupa menjelaskannya padamu, dan aku akan kembalikan semua uangmu”

    Si Yahudi berkata, “Kenapa Kamu jadi begini ?” (maksudnya terlalu jujur-red)

    Pedagang itu menjawab, “Islam !”

    Kemudian pedagang itu berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda “Bukan golongan kami orang yang menipu”

    Si Yahudi itu tertegun, dan berkata, “Ketahuilah bahwa uang 3000 dirham itu juga palsu, sekarang aku akan menggantinya dengan yang asli, dan aku bersumpah akan menambahkan dengan beberapa dirham lagi… dan saksikanlah bahwa aku bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah”..

    ***

    Dari Haditsul Tsulasa’ Syeikh Syahid Hasan AlBanna

     
  • erva kurniawan 4:16 am on 7 August 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan anak lelakinya berdoaSorga di Bawah Telapak Kaki Ibu

    “Ibu… Ibu… mau ke Ibu… ” suara tangisan itu terdengar sangat menyedihkan. Di keheningan tengah malam, di saat orang lain tertidur pulas, ada seorang anak yang gelisah, tidak bisa tidur. Ketika dia terbangun, orang yang sangat dicintainya tidak berada di sampingnya seperti biasa. Karena keterbatasan ekonomi, Ibu yang single parent itu mengambil keputusan untuk menitipkan puterinya di panti asuhan.

    Masih terngiang bujukan si Ibu kepada anaknya, “Karena Ibu sayang sama kamu nak, Ibu titipkan kamu di sini, kan kamu bilang kamu ingin sekolah ? Ibu ga punya uang. Kamu harus sabar ya nak…atau kamu mau kita seperti dulu lagi ? Jualan sambil hujan-hujanan atau kepanasan dan kalau “cape” tidur di pinggir jalan ?” Percakapan antara ibu dan anak tersebut pastilah asing di telinga kita yang punya sejuta nikmat. Sekolah tinggal sekolah, sarapan tinggal makan atau kemana-mana diantar oleh supir. Ah, semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur.

    Kembali kepada si anak. Hatinya yang belum dirasuki oleh “hingar bingar” dunia telah terpatri begitu kuat dengan hati si ibu. Teringat pula saya pada seorang Ibu yang “sadis” kepada anaknya. Hampir setiap hari si anak dipukul dengan bermacam-macam benda. Tapi hati yang “virgin” tadi tidak mau tahu, Ibu tetaplah orang yang paling dicintainya. Ketika sang Ibu pergi, tangisan yang dilantunkannya juga sama dengan tangisan anak yatim di atas yang hidup dengan belaian Ibu penuh cinta. Wahai Ibu! Waktu akan cepat sekali berlalu, anakpun dengan cepat bertambah usia. Hatinya tidak lagi “terkekang” oleh cinta seorang Ibu. Banyak “tawaran” cinta di luar rumah yang akan didapatnya. Seorang anak akan mulai menerjemahkan cinta sesuai dengan kebutuhannya. Bila cinta ibu kalah bersaing, tidak akan cukup air mata untuk mengembalikannya ke dalam pelukan.

    Saya teringat kisah nyata yang ditulis oleh seorang Ibu (sebagai ibrah). Karena karir, si Ibu lalai memperhatikan anaknya yang beranjak dewasa. Si Mbok, pembantu yang setia dengan cinta polosnya telah mengisi seluruh ruang batin puterinya, hingga tiap lembar diary sang puteri hanya bercerita tentang si mbok, tidak selembarpun tersisa untuk menulis kenangan bersama sang Ibu. Ketika si mbok harus menghadap Rabb-Nya, si anak tidak siap, overdosis! (cinta “putaw” mengalahkan cinta Ibu). Puterinya itupun “pergi’ dalam kerinduan terhadap cinta si mbok, sementara sang ayah stroke karena tidak bisa menerima kenyataan. Innaalillaahi. Ada juga ibu yang baru merasa kehilangan ketika seorang anak sudah tidak bisa dipisahkan dengan kekasihnya yang beda agama hingga “kawin lari” pun menjadi pilihan. Kebersamaan dengan seorang Ibu tidak meninggalkan kesan apa-apa. Na’uzubillahi min zalik. Dan mungkin banyak kisah ratapan anak-anak lainnya yang begitu rindu dibelai oleh jari jemari ibu. Wallaahu a’lam.

    Betapa berat amanah yang dipikul oleh seorang Ibu hingga Allah pun bersedia “meletakkan” sorga-Nya di bawah telapak kaki Ibu. Kisah kepahlawan seorang Ibu pun menjadi perhatian penting dalam tapak sejarah, seperti Al-Khansa yang sanggup memotivasi dan menghantarkan putra-putranya mati syahid atau Siti Asiah isteri Fir’aun yang menerjemahkan kasih sayangnya dengan membawa putra-putranya “ikut” bersama menemui Khalik demi mempertahankan keimanannya. Saya optimis! Masih banyak ibu-ibu di jaman sekarang yang tidak rela mengurangi kehormatan sorga di bawah telapak kakinya.

    Untuk Mama yang telah membesarkan dan mendidik dengan samudera cinta. Sayangi mamaku ya Allah..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:20 am on 6 August 2014 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-saw1Kalau Saja Muhammad SAW Menerima…

    Oleh Hamim Thohari, redaktur senior Majalah Hidayatullah

    “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24)

    Di awal da’wahnya, selain mendapat tekanan yang sangat keras dari komunitas kafir Quraisy, Rasulullah Shallallaahu `alaihi wa sallam juga mendapatkan tawaran yang menggiurkan. Melalui Abu Thalib, paman sekaligus pelindungnya, para petinggi Quraisy menawarkan tiga hal, yaitu wanita, harta benda, dan kekuasaan. Jika mau, kaum Quraisy bersedia dipimpin Muhammad dengan suka cita.

    Tawaran ini ditolak dengan tegas oleh Rasulullah Saw, melalui pernyataannya yang sangat terkenal: “Sekiranya engkau mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, niscaya aku tak akan pernah melepas pekerjaan da’wah ini sampai maut menjemputku.”

    Mengapa Rasulullah menolak tawaran kekuasaan, bukankah dengan kekuasaan itu beliau lebih mudah memperbaiki kualitas hidup masyarakatnya, mengenalkan da’wah dan missi perjuangannya? Mengapa beliau tidak menerima jabatan politik yang oleh sebagian besar orang diyakini sangat efektif sebagai sarana perjuangan ideologi? Jawabnya sederhana.

    Pertama, beliau hendak meyakinkan kepada kita semua bahwa tujuan da’wah sama sekali bukanlah kekuasaan. Adalah salah besar jika seseorang atau sekelompok orang melakukan da’wah dengan tujuan meraih jabatan politik atau mendapatkan kekuasaan dan kepemimpinan dunia. Kesalahan dalam memahami masalah ini bisa jadi berakibat sangat fatal. Sebagian ada yang mudah frustrasi setelah sekian lama berjuang dan ternyata tak pernah meraih jabatan politik atau kekuasaan apapun. Sebagian lagi malah berbuat nekat dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Tak sedikit yang kemudian menggunakan jalan kekerasan dan menyebarkan kebencian untuk meraih kekuasaan yang telah dijadikan tujuan da’wahnya.

    Kedua, bahwa kekuasaan itu tidak bisa dijalankan seorang diri. Rasululah sadar pada saat itu pendukungnya sangat sedikit. Jika ia berkuasa seorang diri, maka tak ubahnya seperti menara gading. Berkuasa tapi tidak bisa berbuat apa-apa, sebab orang-orang yang mengitarinya tak memiliki visi dan misi yang sama. Kekuasaan seperti ini sangat rapuh, mudah diganggu oleh pihak-pihak yang kurang senang atau kurang diuntungkan. Daripada berkuasa kemudian di tengah jalan diturunkan, lebih baik mundur terlebih dahulu.

    Bagi Rasulullah, kekuasaan tidak lebih dari alat untuk memperkuat gerakan amar ma’ruf nahi munkar. Jika kekuasaan tidak bisa dimainkan seperti itu, untuk apa harus dipegang? Masih banyak alat lain yang mungkin lebih efektif daripada sekadar kekuasaan.

    Ketiga, kekuasaan yang dijalankan oleh seorang diri tidak akan berjalan secara efektif. Kekuasaan seperti ini tidak akan menghasilkan apa-apa, kecuali simbol-simbol pemujaan yang tidak berguna. Rasulullah tak ingin dikultus-individukan, itulah sebabnya beliau bergaul erat dengan kaum lemah dan golongan bawah. Sebagai pemimpin, yang paling utama adalah ditaati, bukan sekadar dipuji. Beliau tidak ingin “dirajakan”.

    Kekuasaan itu baru efektif jika dikendalikan oleh sebuah komunitas besar yang mempunyai visi dan platform kerja yang sama. Komunitas itu tak lain adalah sebuah jama’ah. Jika kekuasaan dikendalikan sebuah jama’ah, maka roda kekuasaan akan menggerakkan seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat di dalamnya. Bagaikan mesin arloji, sekali diputar semua komponen mesinnya ikut bergerak. Tidak ada yang diam. Meskipun ada yang harus berputar lebih cepat dan ada pula yang sangat lambat, tapi semuanya bergerak sesuai fungsi dan tugasnya masing-masing.

    Betapa banyaknya penguasa di muka bumi yang kekuasaannya sebatas menjadi “raja” tanpa memiliki kendali. Mereka berkuasa tapi tali kendalinya dipegang orang lain. Segala putusan dan kebijakannya ditentukan pihak-pihak yang secara de facto sesungguhnya merekalah yang berkuasa. Penguasa seperti ini tak akan pernah bisa berbuat apa-apa kecuali sekadar memenuhi kehendak kelompok kecil (minoritas) yang mengendalikannya. Penguasa jenis ini tak ada bedanya dengan sapi yang telah dicokok hidungnya.

    Keempat, Rasulullah saw menyadari bahwa kekuasaan itu bisa mengantarkan seseorang pada keadaan “lupa diri”. Tanpa kontrol jama’ah yang kuat, besar kemungkinan seseorang yang menduduki jabatan politik atau sedang berkuasa justru memanfaatkan kekuasaannya untuk memperkaya dan memenuhi kepentingannya sendiri. Tanpa kontrol jama’ah, besar kemungkinan seseorang yang memegang kekuasaan menjadi “lepas kendali”.

    Kekuasaan itu dapat diibaratkan pisau bermata dua, jika tak pandai menggunakannya bisa jadi pisau itu akan melukai dirinya sendiri. Kekuasaan yang seperti ini, alih-alih memperbaiki masyarakat, malah mencelakakan masyarakat, juga menjerumuskan penguasanya sendiri dalam kehinaan.

    Rasulullah Saw dikenal sepanjang zaman sebagai manusia yang arif. Beliau tidak terburu-buru untuk berkuasa walaupun kesempatan untuk itu telah terbuka. Lebih baik meniti kekuasaan dari bawah, merangkak, berjalan pelan-pelan, sampai pada akhirnya harus berlari. Itulah teladan utama yang diwariskan kepada ummatnya. Sayangnya, seringkali ummatnya kurang sabar. Mereka mengira, hari ini berda’wah, besok sudah seribu orang langsung menjadi pengikutnya. Hari ini mendirikan partai, besok langsung menang pemilu.

    Muhammad Saw sepanjang hidupnya belum pernah mendeklarasi dirinya sebagai penguasa Madinah hatta seluruh wilayah Madinah telah berada dalam komando kekuasaannya. Demikian pula beliau tidak pernah meproklamirkan dirinya sebagai penguasa jazirah arab, walaupun wilayah kekuasaannya sudah menjangkau seluruh jazirah arab, tanpa kecuali.

    Konsep ini berintikan pelajaran politik kepada ummat manusia, bahwa untuk berkuasa tidak perlu berebut atau memperebutkan. Sebab dalam Islam, kekuasaan bukan hak monopoli pribadi, akan tetapi adalah hak jama’i. Oleh karenanya, jika mayoritas rakyat telah menjadi jama’ah, komunitas yang memiliki kesamaan ideologi, fikrah, manhaj, standar-standar akhlaq dan cita-cita yang sama, maka kekuasaan itu dengan sendirinya akan beralih kepada jama’ah tersebut.

    Justeru perjuangan yang paling berat adalah menyiapkan masyarakat menjadi sebuah jama’ah. Itulah yang dilakukan Nabi Saw selama di Makkah, dan itu pula yang dilakukannya selama di Madinah. Pada masa masa itulah keringat tak berhenti mengucur dari anggota tubuh. Air mata hampir tak pernah kering. Demikian pula dengan tetesan darah. Itulah saat-saat berat, tapi sangat menentukan.

    Ketika jama’ah sudah mapan, maka datang kemenangan secara nyata. Kemenangan itu secara jelas digambarkan Allah untuk masyarakat manapun yang istiqamah membangun jama’ah, seperti di ayat Al-Quran yang mengawali tulisan ini.

    ***

    Dari: Ummu Ja’far

    hidayatullah.com

     
  • erva kurniawan 3:28 am on 5 August 2014 Permalink | Balas  

    dzikir 2Dzikir Menurut Sunnah

    Assalamualaikum wr. wb.

    Berikut adalah dzikir yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW beserta ganjaran yang akan kita dapatkan jika kita membacanya dan mendalami maknanya (saya nukilkan dari Kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani dgn penerjemah A. Hasan terbitan CV. Diponegoro Bandung Bab Dzikir dan Do’a, Hadits nomor 1570 sampai nomor 1575). Dzikir yang diajarkan Nabi SAW ini tidak terikat oleh waktu ini dan itu, dianjurkan untuk dibaca setiap hari.

    1. Dari Abi Ayyub Al Anshari, Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW: “Barang siapa berkata “LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR” (artinya : Tiada sesembahan yang hak melainkan Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. MilikNyalah ke-rajaan dan pujian, sedang Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) sebanyak sepuluh kali, adalah ia seperti orang yang memerdekakan empat jiwa dari anak cucu Ismail.” (HR Bukhari & HR Muslim).

    2. Dari Abi Hurairah, Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW: “Barang siapa berkata “SUBHAANALLAH WABIHAMDIHI” (artinya : Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya (aku berbakti)); seratus kali, niscaya digugurkan daripadanya dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih laut.” (HR Bukhari & HR Muslim).

    3. Dari Juwariyah binti Al Harits, Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW kepada saya : “Sesungguhnya aku telah berkata, mengiringi ucapanmu, empat kalimat yang jika ditimbang dengan apa yang engkau ucapkan hari ini, niscaya setimbang dengannya (yaitu) : “SUBHAANALLAH WABIHAMDIHI ADADA KHALQIHI WA RIDLA-A NAFSIHI WAZINATA ‘ARSYIHI WA MIDADA KALIMATIHI” (artinya : Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya (aku berbakti), sebaik-baik bilangan maklhuk dan sebaik-baik ridla diri-Nya dan sebanyak-banyak timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak-banyak tinta (penulis) firman-firman-Nya).” (HR Muslim).

    4. Dari Abi Sa’id Al Kudri, Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW: “(Ucapan-ucapan) yang kekal yang baik (ialah): “LAA ILAAHA ILLALLAHU WA SUBHAANALLAHI WALLAHU AKBARU  WALHAMDULILLAHI WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAHI” (artinya : Tiada sesembahan yang hak melainkan Allah Yang Maha Esa, dan Maha Suci Allah, dan Allah itu Maha Besar, dan segala pujian kepunyaan Allah, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dgn pertolongan) Allah).” (HR Nasa’i dan disahkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim).

    5. Dari Samurah bin Jundab, Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW: “Ucapan yang amat disukai oleh Allah, empat, yang engkau tidak dipandang salah dengan mana saja engkau memulai: “SUBHAANALLAHI WALHAMDULILLAHI  WA LAA ILAAHA ILLALLAHU WALLAHU AKBARU” (artinya : Maha Suci Allah, dan segala pujian kepunyaan Allah, dan tiada sesembahan yang hak melainkan Allah Yang Maha Esa, dan Allah itu Maha Besar).” (HR Muslim).

    6. Dari Abi Musa Al Asy’ari, Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW kepada saya : “Hai Abdullah bin Qais, maukah aku tunjukkan kepadamu satu simpanan daripada simpanan-simpanan surga? (ialah) “LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAHI” (artinya : tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dgn pertolongan) Allah). (HR Bukhari & HR Muslim).

    Semoga bermanfaat dan berguna.

    Wassalamualaikum wr. wb.

    ***

    Hamba Allah

     
  • erva kurniawan 5:05 am on 4 August 2014 Permalink | Balas  

    puasa 2Puasa Sunnah (Tathawwu’)

    Ketika Islam melarang berpuasa pada hari-hari tertentu–sebagaimana telah dipaparkan pada edisi yang lalu–maka Islam pun menganjurkan kepada umatnya agar melakukan puasa pada hari-hari tertentu yang Rasulullah saw sendiri biasa melakukan puasa pada hari-hari tersebut.

    Enam Hari pada Bulan Syawal

    Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh jamaah ahli hadis kecuali Bukhari, Nasa’i dari Abu Ayyub al-Anshari bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan lalu mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka seakan-akan dia telah berpuasa selama satu tahun (sepanjang masa).”

    Puasa tersebut menurut Imam Ahmad dapat dilakukan berturut-turut atau tidak berturut-turut dan tidak ada kelebihan antara yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan menurut golongan Hanafi dan golongan Syafi’i, lebih utama melakukannya secara berturut-turut, yaitu setelah hari raya.

    Puasa tanggal 9 Dzul Hijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan Haji

    Kesunnahan berpuasa pada tanggal tersebut didasarkan pada hadis-hadis:

    • Dari Abu Qatadah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu satu tahun yang telah berlalu dan satun tahun yang akan datang.” (HR Jamaah kecuali Bukhari dan Tirmidzi).
    • Dari Hafshah ra, dia berkata, “Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah saw, yaitu puasa Asyura, puasa sepertiga bulan (yakni bulan Dzul Hijjah), puasa tiga hari dari tiap bulan, dan salat dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Ahmad dan Nasa’i).
    • Dari Uqbah bin Amir ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hari Arafah, hari Kurban dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya umat Islam dan hari-hari tersebut adalah hari-hari makan dan minum.” HR Khamsah (lima imam hadis) kecuali Ibnu Majah dan dinyatakan sahih oleh Tirmidzi.
    • Dari Ummu Fadhal, dia berkata, “Mereka merasa bimbang mengenai puasa Nabi saw di Arafah, lalu Nabi saw saya kirimi susu. Kemudian Nabi saw meminumnya, sedang ketika itu beliau berkhotbah di depan umat manusia di Arafah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Puasa Bulan Muharrom dan Sangat Dianjurkan pada Tanggal 9 dan 10 (Tasu’a dan ‘Asyura)

    Hal ini berdasarkan pada hadis-hadis:

    • Dari Abu Hurairah ra dia berkata, “Rasulullah saw ditanya, ‘Salat apa yang lebih utama setelah salat fardhu?’ Nabi menjawab, ‘Salat di tengah malam’. Mereka bertanya lagi, ‘Puasa apa yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?’ Nabi menjawab, ‘Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan Muharrom’.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).
    • Dari Muawiyah bin Abu Sufyan ra, dia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Hari ini adalah hari ‘Asyura dan kamu tidak diwajibkan berpuasa padanya. Sekarang, saya berpuasa, maka siapa yang mau, silahkan puasa dan siapa yang tidak mau, maka silahkan berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).
    • Dari Aisyah ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy di masa jahiliyah, Rasulullah juga biasa mempuasakannya. Dan tatkala datang di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka, tatkala diwajibkan puasa Ramadhan beliau bersabda, ‘Siapa yang ingin berpuasa, hendaklah ia berpuasa dan siapa yang ingin meninggalkannya, hendaklah ia berbuka’.” (Muttafaq alaihi).
    • Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Nabi saw datang ke Madinah lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka Nabi bertanya, ‘Ada apa ini?’ Mereka menjawab, hari ‘Asyura’ itu hari baik, hari Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa saw dan Bani Israel dari musuh mereka sehingga Musa as berpuasa pada hari itu. Kemudian, Nabi saw bersabda, ‘Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kamu’, lalu Nabi saw berpuasa pada hari itu dan menganjurkan orang agar berpuasa pada hari itu. ” (Muttafaq alaihi).
    • Dari Abu Musa al-Asy’ari ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ itu diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikan sebagai hari raya. Maka, Rasulullah saw bersabda,”Berpuasalah pada hari itu.” (Muttafaq alaihi).
    • Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Tatkala Rasulullah saw berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa pada hari itu, mereka berkata, “Ya Rasulullah, ia adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani,” maka Nabi saw bersabda, “Jika datang tahun depan, insya Allah kami berpuasa pada hari kesembilan (dari bulan Muharrom).” Ibnu Abbas ra berkata, “Maka belum lagi datang tahun depan, Rasulullah saw sudah wafat.” (HR Muslim dan Abu Daud).

    Para ulama menyebutkan bahwa puasa Asyura’ itu ada tiga tingkat: tingkat pertama, berpuasa selama tiga hari yaitu hari kesembilan, kesepuluh dan kesebelas. Tingkat kedua, berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Tingkat ketiga, berpuasa hanya pada hari kesepuluh saja.

    Berpuasa pada Sebagian Besar Bulan Sya’ban

    Hal ini berdasarkan hadis:

    • Dari Aisyah ra berkata, “Saya tidak melihat Rasulullah saw melakukan puasa dalam waktu sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan dan tidak satu bulan pun yang Nabi saw banyak melakukan puasa di dalamnya daripada bulan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).
    • Dari Usamah bin Zaid ra berkata, Aku berkata, “Ya Rasulullah saw , tidak satu bulan yang Anda banyak melakukan puasa daripada bulan Sya’ban !” Nabi menjawab: “Bulan itu sering dilupakan orang, karena letaknya antara Rajab dan Ramadhan, sedang pada bulan itulah amal-amal manusia diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan Rabbul ‘Alamin. Maka, saya ingin amal saya dibawa naik selagi saya dalam berpuasa.” (HR Nasa’i dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah).

    Berpuasa pada Hari Senin dan Kamis

    Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw lebih sering berpuasa pada hari Senin dan Kamis, lalu orang-orang bertanya kepadanya mengenai sebab puasa tersebut, lalu Nabi saw menjawab, “Sesungguhnya amalan-amalan itu dipersembahkan pada setiap Senin dan Kamis, maka Allah berkenan mengampuni setiap muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan, maka Allah berfirman, “Tangguhkanlah kedua orang (yang bermusuhan ) itu!” (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).

    Dalam sahih Muslim diriwayatkan bahwa Nabi saw ditanya orang mengenai berpuasa pada hari Senin, maka beliau bersabda, “Itu hari kelahiranku dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku.” (HR Muslim).

    Berpuasa Tiga Hari Setiap Bulan

    Dari Abu Dzarr al-Ghiffari ra berkata, “Kami diperintah Rasulullah saw untuk melakukan puasa tiga hari dari setiap bulan, yaitu hari-hari terang bulan, yakni tanggal 13, 14 dan 15, sembari Rasul saw bersabda, ‘Puasa tersebut seperti puasa setahun (sepanjang masa)’.” (HR Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

    Berpuasa Selang-seling (Seperti Puasa Daud)

    Dari Abdullah bin Amr berkata, Rasulullah saw telah bersabda, “Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud dan salat yang paling disukai Allah adalah salat Daud. Ia tidur seperdua (separoh) malam, bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya, dan ia berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.”

    Referensi:

    Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    • Tamamul Minnah, Muhammad Nashirudddin al-Albani
    • Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
     
  • erva kurniawan 7:37 am on 3 August 2014 Permalink | Balas  

    Hari Hari yang Dilarang Puasa Hari hari yang… 

    orang berbuka puasaHari-Hari yang Dilarang Puasa

    Hari-hari yang dilarang puasa meliputi sebagai berikut.

    1. Dua Hari Raya

    Para ulama telah sepakat (ijma’) atas haramnya berpuasa pada kedua hari raya, baik puasa fardu maupun puasa sunnah, berdasakan hadis Umar ra, “Sesungguhnya Rasulullah saw melarang puasa pada kedua hari ini. Adapun hari raya Idul fitri, ia merupakan hari berbuka dari puasamu, sedang hari raya Idul adha maka makanlah hasil kurbanmu.” (HR Ahmad dan imam empat)

    2. Hari-Hari Tasyriq

    Haram berpuasa pada hari-hari tasyriq, yaitu tiga hari berturut-turut setelah hari raya Idul adha (tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijah), berdasakan riwayat Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah mengutus Abdullah bin Hudzaifah berkeliling kota Mina untuk menyampaikan, Janganlah kamu berpuasa pada hari ini karena ia merupakan hari makan minum dan berzikir kepada Allah.” (HR Ahmad dengan sanad yang jayyid).

    3. Berpuasa pada Hari Jumat secara Khusus

    Hari Jumat merupakan hari raya mingguan bagi umat Islam. Oleh sebab itu, agama melarang berpuasa pada hari itu. Akan tetapi, jumhur (sebagian besar ulama) berpendapat bahwa larangan itu berarti makruh,bukan menunjukkan haram, kecuali jika seseorang berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya atau sesuai dengan kebiasaannya atau secara kebetulan bertepatan pada hari Arafah (9 Dzulhijah) atau hari Asyura (10 Muharam), maka tidaklah makruh berpuasa pada hari Jumat itu.

    Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah saw masuk ke rumah Juwairiyah binti Harits pada hari Jumat sedang ia sedang berpuasa. Lalu Nabi bertanya kepadanya, “Apakah engkau berpuasa kemarin?” Dia menjawab, “Tidak”, dan besok apakah engkau bermaksud ingin berpuasa? “Tidak,” jawabnya. Kemudian Nabi bertanya lagi, dia menjawab tidak pula. “Kalau begitu, berbukalah sekarang!” (HR Ahmad dan Nasa’i dengan sanad yang jayyid).

    Diriwayatkan pula dai Amir al-Asy’ari, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya hariJumat itu merupakan hari rayamu, karena itu janganlah kamu berpuasa pada hari itu, kecuali jika kamu berpuasa sebelum atau sesudahnya!” (HR al-Bazar dengan sanad yang hasan).

    Ali ra berpesan: “Siapa yang hendak melakukan perbuatan sunnah di antaramu, hendaklah ia berpuasa pada hari Kamis dan jangan berpuasa pada hari Jumat, karena ia merupakan hari makan dan minum serta zikir.” HR Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang hasan.

    Menurut riwayat Bukhari dan Muslim yang diterima dari Jabir ra bahwa Nabi saw bersabda, “Janganlah kamu berpuasa pada hari Jumat, kecuali jika disertai oleh satu hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya.” Dan menurut lafal Muslim: “Janganlah kamu mengkhususkan malam Jumat di antara malam-malam itu buat bangun beribadah, dan jangan kamu khususkan hari Jumat itu di antara hari-hari lain untuk berpuasa, kecuali bila bertepatan dengan puasa yang dilakukan oleh salah seorang di antaramu!”

    4. Berpuasa pada Hari Sabtu secara Khusus

    Larangan berpuasa pada hari ini didasarkan pada dalil yang telah dipadukan (al-Jam’u Bainal Adillah) dari dalil-dalil yang membolehkan puasa pada hari Sabtu dan dalil-dalil yang melarang puasa pada hari itu.

    Di antara dalil itu adalah hadis Busr seperti di bawah ini:

    Dari Busr as-Sulami dari saudara perempuannya, ash-Shamma’ bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kamu berpuasa pada hari Sabtu, kecuali karena diwajibkan kepada kamu. Dan seandainya seseorang di antaramu tidak menemukan kecuali kulit anggur atau bungkal kayu, hendaklah dimamahnya makanan itu!” (HR Ahmad, Ashhaabus Sunan, dan Hakim seraya mengatakan, hadis tesebut shahih menurut syarat Muslim).

    Turmudzi mengatakan, hadis tersebut Hasan, seraya berkata: “Dimakruhkan di sini maksudnya ialah jika seseorang mengkhususkan hari Sabtu untuk berpuasa, karena orang-orang Yahudi membesarkan hari Sabtu.”

    Dari Ummu Salamah dia berkata, “Nabi saw lebih banyak melakukan puasa pada hari-hari Sabtu dan Minggu daripada hari-hari yang lainnya dan beliau bersabda: ‘Kedua hari itu merupakan hari besar orang-orang musyrik, maka saya ingin berbeda dengan mereka’.” (HR Ahmad, Baihaqi, Hakim dan Ibnu Khuzaimah seraya keduanya yang terakhir ini menyatakan sah.

    Berdasarkan bermacam-macam hadis ini, Syekh Albani berpendapat: “Dari sini, maka tampaklah dengan jelas bahwa kedua macam ini membolehkan (puasa hari Sabtu). Maka, jika dilakukan kompromi antara hadis-hadis yang membolehkan dengan hadis ini (hadis yang melarang puasa hari Sabtu), bisa ditarik kesimpulan bahwa hadis ini (yang melarang) lebih didahulukan daripada hadis-hadis yang membolehkan. Demikian juga, sabda Nabi saw kepada Juwairiyah: “Apakah kamu akan berpuasa besok?” dan yang semakna dengan sabda ini adalah dalil yang membolehkan juga, maka tetap lebih mendahulukan hadis yang melarang daripada Sabda Nabi saw kepada Juwairiyah ini.”

    5. Berpuasa pada Hari yang Diragukan

    Dari Ammar bin Yasir ra berkata, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukannya, berarti ia telah durhaka kepada Abul Qasim (Muhammad saw).” (HR Ash-Habus Sunan).

    Menurut Turmudzi, hadis ini hasan lagi shahih dan menjadi amalan bagi kebanyakan ulama. Hadis itu juga merupakan pendapat Sufyan Tsauri, Malik bin Anas, Abdullah ibnu Mubarok, Syafi’i, Ahmad, serta Ishak.

    Kebanyakan mereka berpendapat, jika hari yang dipuasakannya itu termasuk bulan Ramadhan, hendaklah ia mengqadha satu hari sebagai gantinya. Dan jika ia berpuasa pada hari itu karena kebetulan bertepatan dengan kebiasaannya, maka hukumnya boleh tanpa dimakruhkan.

    Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Janganlah kamu mendahului puasa Ramadhan itu dengan sehari dua hari, kecuali jika bertepatan dengan hari yang biasa dipuasakan, maka bolehlah kamu berpuasa pada hari itu.” (HR al-Jamaah).

    6. Berpuasa Sepanjang Masa

    Hal ini berdasarkan hadis:

    “Tidaklah berpuasa, orang yang berpuasa sepanjang masa.” (HR Ahmad, Bukhari, dan Muslim).

    Solusi dari larangan ini adalah hendaknya seseorang berpuasa dengan puasa Daud as, yaitu sehari puasa dan sehari berbuka.

    ***

    Referensi:

    1. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    2. Tamamul Minnah, Muhammad Nashiruddin al-Albani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Dari Sahabat Retno Wahyudiaty

     
  • erva kurniawan 4:01 am on 2 August 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan anak lelakinya berdoaJangan Biarkan Warisan Suci Ramadhan Hanyut Ditelan Zaman

    Madrasah Ramadhan suci boleh berlalu. Tapi hikmah dan nilai-nilai sakralnya yang amat sarat itu, tak boleh hanyut terbawa waktu. Seyogyanya, Ramadhan yang telah mengajari kita sebulan penuh tentang makna hidup sebenarnya, harus menjadikan rumah tangga kita lebih baik, lebih kokoh, dan lebih bijak dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Itulah nilai-nilai taqwa yang diwariskan Ramadhan kepada kita, agar kita menjadikannya (nilai-nilai taqwa itu) sebagai fondasi bangunan rumah tangga kita.

    Sepatutnyalah, Ramadhan bagi keluarga adalah bulan penguatan cinta dan kasih sayang antar sesama anggotanya. Bulan pelestari ikatan hubungan antara suami-istri, orangtua dengan anak, serta hubungan antar sesama anak-anak kita. Bukankah Ramadhan mengajarkan kita untuk berlaku ramah, santun, kasih, pema’af, dan penyabar antar sesama kita? Sebaliknya, ia melarang kita berlaku kasar, kurang ajar, kejam, pendendam, dan bersikap terburu nafsu meraih kesenangan sesaat. Inilah saat pengimplementasian nilai-nilai itu, untuk membuktikan bahwa kita memang layak menjadi pemenang Ramadhan.

    Jika demikian halnya, sepatutnyalah pasca Ramadhan ini, hubungan kita dengan suami/istri harus semakin mesra. Bukan malah sebaliknya. Kalau dulu kita tak pernah peduli soal penampilan diri untuk menarik hasrat pasangan kita, hari ini hal itu tidak boleh lagi terjadi. Di hadapan pasangan kita, kita harus selalu fresh, prima, wangi, dan berpenampilan sedap dipandang. Bahkan kalau perlu kita harus senantiasa menjadi pesolek yang “genit” setiap berhadapan dengan pasangan kita. Jangan malah sebaliknya, di luar kita fresh, tapi di dalam rumah berpenampilan kumel dan kucel.

    Khusus kepada para istri, bahwa sepenat atau sesedih apapun dia, hal itu tidak bisa dijadikannya sebagai alasan untuk tidak melayani suami. Rasulullah SAW mengingatkan kaum wanita yang telah berumah tangga, untuk tidak menyakiti hati suami dengan cara menolak meladeni hasrat seksualnya dengan alasan apapun. “Bila di malam hari seorang istri meninggalkan tempat tidur suaminya, ia mendapat laknat dari para malaikat sampai pagi.” (HR. Bukhori dan Muslim).

    Dalam hadits lainnya, Rasul mulia lagi-lagi mengingatkan para ibu rumah tangga untuk bisa memahami kondisi birahi suaminya. Dari Abu Hurairoh r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Tidak halal bagi seorang istri untuk berpuasa, sementara suaminya bersamanya (tidak dalam bepergian), kecuali dengan izinnya.” (Muttafaq ‘alaih).

    Marilah kita simak sebuah hadits shahih dalam kitab Shahih Bukhori, berikut ini.

    Ketika itu seorang anak Abu Thalhah sedang sakit keras. Kemudian Abu Thalhah pergi, dan sebelum pulang, anaknya meninggal dunia. Ketika pulang ke rumah, Abu Thalhah bertanya kepada istrinya;

    “Bagaimana kabar anakku?”

    Ummu Sulaim (istrinya) menjawab; “Ia lebih tenang dari sebelumnya.”

    Kemudian Ummu Sulaim menghidangkan makan malam dan Abu Thalhah pun menyantapnya. Ia juga melakukan hubungan suami-istri. Setelah semuanya selesai; Ummu Sulaim bertanya kepada Abu Thalhah;

    “Bila ada barang yang dipinjam oleh seseorang sampai batas tertentu. Lalu pemilik barang itu mengirim utusan untuk mengambil kembali barang tersebut. Apakah si peminjam barang berhak untuk menolaknya?”

    “Tidak !” jawab Abu Thalhah.

    “Ia ada di kamar!” ujar istrinya.

    Kemudian Abu Thalhah melihat anaknya dan kembali lagi seraya mengucapkan; “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.”

    Setelah datang waktu pagi, Abu Thalhah menemui Rasulullah SAW, dan menceritakan ucapan istrinya. Nabi SAW bersabda;

    “Demi Dzat Yang telah mengutusku dengan kebenaran, Allah SWT telah memberi janin laki-laki di dalam rahimnya atas kesabaran terhadap kematian anaknya.”

    Ada pelajaran berharga dari kasus Ummu Sulaim, khususnya untuk para istri.

    Pertama, kesedihan tidak sepatutnya dijadikan alasan istri untuk menolak bersikap mesra dan menolak melayani dahaga birahi pasangannya.

    Kedua, seorang istri sebaiknya tidak mengganggu suasana bathin suaminya yang telah berniat ingin bermesraan dengannya, dengan menginformasikan berita-berita yang membuat emosinya terguncang.

    Ketiga, bahwa pahala yang dijanjikan Allah SWT bagi para istri yang ta’at menyambut ajakan suaminya, adalah sangat besar. Ia merupakan ibadah mulia di sisi Alla ‘Azza wa Jalla.

    Kesimpulannya adalah, bahwa tidak sepatutnya kita yang telah dibina sebulan penuh dalam Madrasah Rabbani itu, tidak tersibghoh (terwarnai) oleh nilai-nilainya yang agung. Dan tidak sepatutnya, keluarga kita membiarkan warisan suci Ramadhan hanyut ditelan zaman. Wallahu a’lam.

    ***

    Oleh: Sulthonhi –  eramuslim

     
  • erva kurniawan 4:56 am on 1 August 2014 Permalink | Balas  

    berdoa 1Adakah Ramadhan Menyapa Kita Lagi Tahun Depan?

    Ramadhan tak lama lagi akan meninggalkan kita. Tak terasa bulan yang penuh rahmat dan ampunan Allah itu berlalu. Dan tak lama lagi pula malam penuh kemuliaan dan keindahan bersama Tuhan, Laitul Qadar tak menyapa kita untuk bermunajat kepada Sang Pencipta siang dan malam. Boleh jadi kegigihan baca Al-Qur’an kita pun berubah jadi kemalasan dengan berubahnya bulan!

    Sementara itu, kita yang ditinggalkan tak sadar bahwa sikap dan perilaku kita di bulan Ramadhan itu tak jauh beda dengan di bulan- bulan lainnya. Kita masih lalai dengan amal-amal mulia yang sesungguhnya di bulan suci itu. Yakni, berbuat sesuatu tanpa pamrih, meniru akhlak Tuhan. Hidupnya tidak bergantung kepada sesuatu apa pun, dari mulai jabatan, pangkat, status sosial, uang, harta dan semacamnya kecuali hanya kepada Allah Swt saja. Kita pun masih sibuk dengan urusan-urusan yang tak pernah menjanjikan apa pun di bulan Ramadhan.

    Memang rugi dan sangat rugi bagi mereka yang berpuasa tapi tak merubah niat dan tata cara hidupnya untuk menuju keridhaan Tuhan. Nihil sama sekali nilai Ramadlan kita kali ini jika cara berpikir, bicara, bergaul, makan, tidur, berpolitik, berpakaian, bekerja dan sebagainya masih menimbun rasa duka dan derita bagi orang lain. Kita harus berani meninggalkan cara dan gaya hidup setan itu agar kita betu-betul menjadi hamba yang pandai bersyukur.

    Sesungguhnya kegagalan kita menjadi orang yang pandai bersyukur adalah karena kegagalan kita menjadi orang yang memperoleh petunjuk- Nya. Dan kegagalan kita memperoleh petunjuk adalah karena kegagalan kita dalam beramadlan. Jika kita gagal dalam hal itu semua berarti kita juga gagal dalam mengagungkan Allah Swt. Bukankah semua ibadah dalam Islam untuk mengagungkan Rabb Pencipta Alam Semesta ini? “Wa litukabbiru Allah `ala maa hadaakum wa la’allakum tasykuruun” (Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas pentujuk-Nya, supaya kalian menjadi orang yang pandai bersyukur, QS. Al-Baqarah : 185).

    Jika kita gagal mengisi Ramadlan, berarti langkah kita di bulan-bulan selanjutnya pun akan mengalami kesulitan dan kemalasan untuk mengisi keindahan dan kemuliaan dalam kehidupan . Boleh jadi pula Ramadhan di tahun depan terus terlewatkan begitu saja tanpa sebuah pemaknaan dan harapan. Karena, bagi seorang Muslim, kehidupan di bulan Ramadlan itu cara hidup yang sesungguhnya. Dan di bulan itu pula cara beriman kita yang seharusnya, yakni, bermakrifatullah (mengenal Allah Swt) lalu ikhlas kepada-Nya.

    Bagi mereka yang sudah optimal dengan khusyu’ dan ikhlas mendayagunakan energi, perasaan, dan harta di bulan Ramadlan maka mereka juga harus meramadlankan hidupnya di bulan-bulan lain hingga kematian datang seperti datangnya Ramadlan. Kita gembira saat Ramadlan datang dan kita juga gembira di saat ajal datang menjemput badan.

    Kita berharap kepada-Nya mudah-mudahan di tahun mendatang Ramadlan masih menyapa kita dengan keteduhan dan kedamaian. Amien.

    ***

    Oleh: Udien Al- Farry – eramuslim

     
  • erva kurniawan 3:13 am on 31 July 2014 Permalink | Balas  

    itikafHanya Ingin Jadi Orang Baik

    Hari ini aku lelah fisik dan batin. Seharian tadi aku melangkahkan kaki untuk mencari barisan kata penyampai fakta. Tak mudah. Aku harus berlari, berkejaran dengan waktu dan debu. Aku harus berlomba, beradu dengan manusia, sekedar untuk mendapat rangkaian kalimat yang keluar dari mulut sang pejabat. Sekedar meminta ucapan dari sekumpulan orang yang mengaku orang baik. Padahal, sejarah memaparkan, sebagian mereka adalah pembual. Pembual besar.

    Kadang aku harus sedikit merayu dan memaksa. Bukan apa-apa, tanpa rayu dan paksaan, ada narasumberku yang enggan membuka mulutnya. Padahal dari kalimatnya lah aku mendapat upah. Padahal dari ceritanya lah aku mendapat penghargaan. Sekedar ucapan, “berita kamu bagus.”

    Tak jarang aku harus berpura-pura iba, mengumbar senyum dan seolah ikut merasai mereka yang memikul duka. Padahal kutahu luka mereka bukan sembarang luka. Luka mereka adalah luka teramat dalam yang tak akan pernah hilang. Luka yang tak pernah kering oleh panasnya matahari. Luka yang tak pernah bisa diterbangkan oleh angin.

    Namun aku malah memaksanya kembali mengingat dan memaparkan lukanya. Tanpa hatiku memaknai, merasakan lukanya. Tanpa tanganku menawarkan, melingkarkan sebuah pelukan, memberikan sedikit rasa nyaman. Lagi-lagi demi sebuah pujian, demi sebuah kekaguman.

    Pernah aku dihadapkan pada pilihan. Saat aku harus memutuskan satu saja dari dua. Saat kulihat luka menganga disekitarku, aku harus memilih. Mencoba mengobati luka mereka sesegera atau mendahulukan membuat cerita dari luka itu. Dan aku memilih mendapat acungan jempol, karena cerita ku memampangkan luka itu.

    Seringkali aku memaksa membuka memori mereka. Kenangan yang tak ingin dibuka. Dan aku memaksanya membuka atau memaksaku membukanya. Tanpa seijin pemiliknya, tanpa merasai akibatnya. Dan itu demi sebuah cerita. Cerita yang membuatku dikejar kalimat berbunga.

    Waktu lalu, aku juga pernah menjual kata-kata manis. Seolah aku adalah peri yang bisa membantu si kecil. Padahal tak lain itu adalah bagian dari strategi. Berpura-pura simpati. Kepura-puraan untuk mulusnya penyusunan sebuah kisah. Kisah sejati dan mengharukan. Demi tetesan air mata pendengar cerita. Indikator keberhasilan penyajian cerita duka.

    Pernah aku menatap bencana dengan datar. Karena itu bukan bencanaku. Bencana itu milik tokoh dalam kisahku. Aku hanya sekedar menyampaikan bencana itu dengan kata-kata haru. Tambahan pemanis disana-sini. Menuntun si tokoh untuk berekspresi sesuai dengan skenarioku.

    Seolah itu adalah fiksi, bukan nyata. Tak perlu dimaknai, tak perlu dihargai. Hanya dibungkus. Untuk santapan mata dan kuping sekumpulan orang yang dinamakan penonton. Penonton cerita. Makin banyak mereka, makin baguslah aku.

    Tapi, hari ini aku lelah.

    Hari ini, aku tiba-tiba saja ingin merenung. Merenungi makna hidupku, merasai peranku dalam perjalanan sang waktu. Kali ini aku merasa tak lagi berhati. Kali ini di kepalaku hanya ada obsesi. Obsesi dihargai manusia dan diimbali deretan angka di rekeningku setiap bulan berganti.

    Hari ini aku hanya ingin mengingat. Merindui masa saat aku bercita sederhana. Menjadi orang baik. Orang yang memberi arti bagi orang lain. Tak pernah melukai, meski setitik. Tak pernah menyakiti, meski senoktah.

    Padahal aku tak pernah ingin berpura-pura dalam hidupku. Aku ingin menjadi aku. Dengan idealismeku dulu. Menyampaikan apa yang perlu kusampaikan. Tak perlu menyampaikan kepalsuan. Aku ingin menyampaikan kebenaran. Jika kepalsuan itu harus disampaikan, semata untuk membuat si palsu terkuak. Aku ingin menjadi orang baik.

    Padahal aku ingin, dengan peranku aku memberi secercah harap. Seberkas asa. Bagi mereka, Tuhan. Mereka yang dihempas duka, mereka yang terluka, mereka yang menahan jerit. Meski sekedar uluran tangan. Pelukan seorang saudara. Sekedar menenangkan. Meski hanya sementara. Menjadi orang baik.

    Padahal, dengan peranku, aku bisa tulus berbagi dengan mereka. Membiarkan mereka membagi luka, memberi sedikit kehangatan. Dengan ikhlasku, dengan kerelaanku. Sebagai saudara, sebagai teman, sebagai tempat berbagi. Menjadi orang baik.

    Padahal dengan peranku, aku tak usah berpura-pura. Aku bisa lebih memaknai senyumku untuk menghadiahkan sedikit bahagia dihati mereka. Dengan simpati yang tak lagi palsu. Sebenar-benarnya simpati.

    Padahal dengan peranku, dengan kelurusan niatku, aku ingin membuat cerita-ceritaku bermakna. Membuat kisah-kisah dari tanganku dapat merubah dunia. Membuat manusia lain lebih merasa dan berterimakasih atas takdir mereka yang lebih. Membuat mereka berlomba menjadi orang baik.

    Padahal dengan peranku, aku bisa mengungkap dusta dan mengusir si durjana. Dengan keteguhan dan keberanianku, aku bisa menghapus kotoran-kotoran dunia. Menuntut mereka untuk menjadi orang baik.

    Wahai Penguasa Dunia, Penguasa Diriku…..

    Ampuni aku yang telah menutup hati dan mengebalkan rasa. Ampuni aku yang tidak memaknai peranku. Aku mencintai peranku, Yang Maha Perkasa. Aku ingin lelah fisik dan batinku memberi arti, hanya bagiMu, Penulis Skenario sesungguhnya, bukan sekedar kekaguman para ciptaanmu.

    Penguasaku, luruskan langkahku. Untuk menjadi ciptaanmu yang tak sia-sia. Yang tak terlupa oleh kecantikan fana. Yang tak membuat peranku, amanahMu, mengantarku pada amarahMu. Yang selalu diingatkan untuk menjadi orang baik. Seperti cita sederhanaku dulu.

    Raja Dunia, tetapkan niatku untuk memaknai setiap detik peranku. Merasainya, menikmatinya, mensyukurinya sebagai sebuah kepercayaan-Mu padaku. Kuatkan aku untuk melangkahkan kakiku dan menghargai keringatku dengan harapan hanya balasan-Mu. Menjadi orang baik.

    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah padaKu.” (Adz Dzariyaat:56)

    ***

    Dari Sahabat Karlina

     
  • erva kurniawan 4:52 am on 30 July 2014 Permalink | Balas  

    maaf11 Bulan Pembuktian Paska Ramadhan

    Apa yang bisa kita ambil dari ibadah selama bulan Ramadhan? Banyak lika-liku, suka-duka, maupun pengalaman mengesankan dalam menjalankan roda kehidupan di kala bulan Ramadhan. Dimulai dari dini hari, pada saat dimana pada umumnya manusia masih terlelap, kita memulai aktivitas Ramadhan dengan bersahur. Sahur kita lakukan untuk mempersiapkan diri sebelum berpuasa sepanjang hari nantinya. Walaupun hanya segelas air, itupun sudah cukup, sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullah.

    Dilanjutkan di siang hari, di kala kita sedang beraktivitas. Di tengah terik panas matahari, kita tetap bersabar untuk menahan haus. Demikian pula, ketika beban kerja begitu menekan. Dalam keadaan ingin marah, kita langsung ingat bahwa kita sedang berpuasa. Sehingga amarah menjadi reda kembali. Tidak lupa kita senantiasa menjaga pandangan dari hal yang menjurus maksiat dan sia-sia. Begitu tiba saatnya berbuka, kita lepas lapar dan dahaga. Rasulullah menganjurkan menyegerakan berbuka dan dengan makanan-makanan yang ringan seperti korma. Aktivitas kita diakhiri dengan melakukan ibadah shalat malam. Demikian seterusnya selama satu bulan penuh.

    Kalau kita mau memikirkan hikmah di balik aktivitas selama Ramadhan, insya Allah banyak pelajaran yang bisa diambil. Dalam memulai beraktivitas kita dianjurkan untuk selalu mempersiapkan diri, sebagaimana tercermin dari sahur. Bagaimana kita akan menjadi manusia yang sukses jika kita tidak mengawali dengan persiapan yang baik. Kita pun dituntut untuk bekerja dengan efektif, yaitu menjauhi perbuatan sia-sia dan maksiat, sebagaimana kita lakukan di siang hari kala berpuasa. Hal ini merupakan kontrol yang efektif bagi manusia. Karena tanpa perlu disuruh atasan, kita akan selalu mengendalikan diri, karena merasa ada yang mengawasi yaitu Allah. Demikian pula di saat berbuka, pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwa dalam hidup kita dituntut untuk senantiasa sederhana. Walaupun kita dapat mengumbar nafsu untuk menyantap hidangan semaunya, kita tetap dianjurkan untuk memakan makanan yang sederhana terlebih dahulu.

    Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah manajemen waktu yang begitu terjaga di kala Ramadhan. Mulai dari sahur, berpuasa di siang hari, sampai berbuka, kita dituntut untuk selalu mematuhi waktu itu. Setelah melakukan semua rangkaian aktivitas itu, kita diminta untuk mengembalikan semua itu kepada Allah saat melakukan shalat malam. Di dalam hidup ini, demikianlah adanya dimulai dengan berikhtiar semaksimal mungkin dan harus selalu dibarengi dengan tawakkal hanya kepada Allah.

    Betapa murah hatinya Allah, memberikan pelatihan kepada kita selama Ramadhan ini untuk bisa menjadi manusia yang dapat mengatur hidupnya menjadi lebih baik. Apakah berhasil pelatihan yang Allah berikan ini? Pelatihan di bulan Ramadhan akan berhasil jika kita bisa mengimplikasikannya dalam bulan-bulan selain Ramadhan. Karena sesungguhnya hal itu bisa kita lakukan tidak hanya di bulan Ramadhan. Justru cobaan akan terjadi di sebelas bulan mendatang, apakah Ramadhan kita berhasil atau tidak. Ibadah Ramadhan kita dikatakan berhasil, jika di sebelas bulan ke depan, kita dapat beraktivitas sebaik di bulan Ramadhan.

    Akan sangat beruntunglah kita yang dapat tetap menjaga ibadah maupun ritme kehidupan seperti di kala Ramadhan dalam sebelas bulan mendatang sampai bertemu Ramadhan yang akan datang, insya Allah. Betapa kita akan menjadi orang yang beruntung, karena setiap hari lebih baik dari hari yang kemarin. Bulan ini menjadi lebih baik dari yang kemarin, dan insya Allah bulan yang akan datang lebih baik dari bulan ini. Ramadhan kali ini lebih baik dari Ramadhan kemarin, dan demikian pula insya Allah Ramadhan yang akan datang kita persiapkan agar lebih baik dari Ramadhan kali ini. Dengan demikian insya Allah kita akan menjadi manusia berhasil dunia dan akhirat.

    Wallahu’a’lam bishshawab

    ***

    Oleh: Zulfikar –  eramuslim

     
  • erva kurniawan 6:39 am on 29 July 2014 Permalink | Balas  

    kerja kerasKenapa Tidak Minta Yang Terbaik?

    Manusia memang tidak pernah luput dari yang namanya “menyesal”. Setelah menyesal, barulah dia merasa sedih dan memohon ampun pada Sang Khalik. Memang seperti itulah kodratnya. Tetapi bagi hamba yang telah mencapai titik keimanan yang lebih, tentunya ia tidak akan mengalami hal seperti diatas, dia akan pasrah kepada-Nya, dan menerima semua keputusan-Nya dengan lapang dada, sehingga tidak tampak penyesalan di wajahnya.

    Manusia memang diberi nafsu oleh Allah Swt. Jika nafsu itu bisa dikelola dengan baik, artinya apa yang diinginkannya semata-mata adalah untuk mencapai keridhoan-Nya, maka apapun hasilnya, insya Allah, akan menyenangkan. Lain halnya jika manusia bernafsu akan suatu hal, tetapi ia tidak mengelolanya dengan baik, maka hasil apapun yang diberi Allah dianggapnya sebagai suatu tanda bahwa Allah tidak sayang lagi padanya.

    Manusia hanya manusia pemikir, begitu kata teman saya, semuanya akan kembali kepada Allah juga. Ketika usaha sudah kita lakukan dengan segenap kemampuan kita, sudah sepatutnya semua hasilnya pun kita serahkan pada Allah, tidak lantas memaksa Allah untuk mengabulkan apa maunya kita sendiri. Allah Maha Tahu segalanya, apa yang ada di hati kita Dia tahu, apa yang terbaik untuk kita jelas Dia sangat tahu. Kenapa masih saja kita memaksakan suatu keinginan kepada-Nya?

    Seringkali kita baca ayat yang menyebutkan bahwa, apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, dan apa yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah, tapi kenapa pula kita seringkali tidak merealisasikan ayat tersebut?

    Banyak rahasia Allah yang tidak kita ketahui, mungkin dibalik apa yang buruk menurut kita, Allah menyimpan suatu keberhasilan untuk kita di kemudian hari. Atau sebaliknya, mungkin dibalik apa yang baik menurut kita tersimpan suatu kegagalan di hari depan, sehingga tidak Ia kabulkan apa yang kita minta tersebut.

    Sudah sepantasnya kita ber-husnudzon kepada Allah. Tidak berat rasanya di setiap do’a kita meminta Allah memberikan yang terbaik untuk hari depan kita, beratkah mengucapkan sebaris kata-kata itu? Mungkin berat karena hati kita masih dikuasai oleh nafsu. Nafsu yang menyelimuti hati punya porsi lebih besar dari kepasrahan kita kepada-Nya. Coba kita latih untuk bisa mengucapkan kalimat itu di hadapan-Nya, setiap kita berdo’a. Jika kita sudah mampu mengatakannya, insya Allah, hati kita telah pasrah kepada-Nya dan insya Allah hasil apapun yang Allah berikan akan dapat kita terima dengan ikhlas dan lapang dada. Allah pun, insya Allah, akan memberikan pahala buat kita. Amiin.

    Berdo’a apa saja memang Allah anjurkan, asalkan itu adalah kebaikan. Tapi tidak ada salahnya jika di setiap akhir do’a kita sisipkan kata-kata itu, sehingga hati lebih tentram. Saya yakin hasil apa pun yang akan Allah berikan akan dapat kita terima dengan ikhlas dan menjalaninya pun akan dengan senang hati.

    Mulailah untuk dapat meminta yang terbaik kepada Allah, jangan sampai kita terbelenggu oleh nafsu kita sendiri. Ingat, Allah Maha Tahu dan akan memberi yang terbaik untuk hamba-Nya yang beriman. Wallahu’alam bishowab.

    Terimakasih ya Allah, hamba tahu inilah yang terbaik untuk hamba.

    ***

    eramuslim

     
  • erva kurniawan 6:34 am on 28 July 2014 Permalink | Balas  

    NIKMATNYA MAIYAH 

    89masjidNikmatnya Maiyah

    Dalam forum Maiyahan, tempat pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar, sering saya bertanya kepada forum :

    “Apakah Anda punya tetangga?”

    Dijawab serentak  “ Tentu punya!”

    “Punya istri enggak tetangga Anda?” –

    “Ya, punya dooooong”

    “Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu?”

    “Secara khusus, tak pernah melihat” –

    “Jari-jari kakinya lima atau tujuh?”

    “Tidak pernah memperhatikan” –

    “Body-nya sexy enggak?”

    Hadirin tertawa lepas. Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka.

    “Sexy atau tidak bukan urusan kita, kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja.

    Keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah  disimpan didalam hati. Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar, ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah. Justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam. Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran. Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter, umpamanya.

    Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misalnya kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhammadiyah. Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya. Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing.

    Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun. Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapi pun kita bekerjasama nyingkal dan nggaru sawah. Itulah lingkaran tulus hati dengan hati. Itulah Maiyah.”

    Emha Ainun Nadjib

     
  • erva kurniawan 6:25 am on 27 July 2014 Permalink | Balas  

    Nasehat IbuCinta Tak Berujung

    Sore ini seperti biasa aku pulang naik angkot. Tidak terlalu jauh memang, tapi kemacetan seringkali membuat aku harus lebih banyak menghirup sesaknya udara polusi. Dan di sinilah, aku seringkali mengingat kisah kami, aku dan bayiku.

    Saat itu, ketika setiap hari ibu membawamu ke kantor, saat itu pula tumbuh rasa sesal di hati ibu. Mungkin sebuah penyesalan yang wajar bagi seorang bunda. Karena ibu sudah memaksamu untuk keluar rumah, menikmati hiruk pikuknya dunia. Idealnya, di usiamu yang masih rentan itu, ibu menungguimu di rumah. Di kamar yang bersih dan sejuk, tanpa polusi, tanpa kericuhan, tanpa keramaian dan tanpa hal-hal yang membuat ibu sendiri pusing. Padahal ibu sudah dewasa, anakku. Bagaimana denganmu, yang masih berusia dua bulan.

    Namun ibu lalui semuanya dengan senyum. Bersama dukungan ayahmu dan iringan tawa riangmu. Hati ibu pun semakin menguat tatkala melihat keluarga yang kurang beruntung. Yang tinggal di pinggir-pinggir jalan. Juga di terminal tempat angkot kita berhenti untuk berganti angkot berikutnya. Ibu melihat betapa anak-anak itu juga bisa tumbuh dewasa, walaupun dengan segala keterbatasan fasilitas orang tuanya. Dari wajah-wajah mereka yang ceria, mereka juga tampak sehat. Allah memang Maha Adil, sayang. Ibu sangat percaya itu.

    Ibu yakin, hal yang terbaik untukmu saat itu adalah dekat dan mendapatkan air susu ibumu. Dan, satu-satunya jalan untuk mewujudkannya, hanya dengan membawamu kemanapun ibu pergi. Aneh! Beberapa orang yang ibu temui di jalan menganggapnya demikian. Pun dengan rekan-rekan sekerja ibu. Apalagi saat ibu memilih menghampirimu daripada menghadiri undangan meeting, saat kau menangis kehausan. Beberapa rekan mengatakan bahwa ibu bisa di-PHK karena itu.

    Tapi ibu tidak takut, sayang. Yang lebih ibu khawatirkan adalah jika ibu tidak bisa memberikan hak yang seharusnya kau terima. Rizki yang diberikan oleh Dzat Yang Maha Welas Asih melalui ibumu yaitu air susu. Karena ibu sangat berharap, bisa menggenapkan kewajiban ibu hingga dua tahun usiamu.

    Untuk itu, maafkan ibu jika terpaksa mengurungmu dalam sesaknya polusi di angkot yang kita naiki. Sungguh, kami tak pernah menghendakinya, sayang.

    Hanya doa yang ibu panjatkan tiap saat agar rasa sesal ini sedikit berkurang. Bermohon kekuatan dan kesehatan untukmu. Mohon agar kau bisa tumbuh sehat dan kuat. Bisa tumbuh dan berkembang dengan sempurna untuk menjadi generasi yang lebih baik daripada kami.

    Ya Tuhanku Allah Yang Maha Waspada…
    Allah Yang Tak Pernah Lengah…
    Dzat Yang Maha Pemurah…

    Berikan perlindungan untuk putra-putri kami…
    Awasi dia selalu…
    Jaga fitrahnya Ya Robb
    Jadikan mereka putra-putri yang sholeh dan sholehah

    Jangan timpakan hukuman pada mereka akibat dosa dan kesalahan kami, Tuhanku…

    Ampuni kami Ya Allah, Berilah kami kekuatan untuk menjadi orang tua yang adil buat mereka, aamiiin.

    ***

    Aku tahu…dan teramat sadar, bahwa aliran kata-kata bermakna doa yang selalu kuhadirkan buat buah hatiku, bukanlah apa-apa dibandingkan dengan pengorbanan ibu bapakku. Aku hanya ingin memulainya saat ini. Untuk menjadi bunda yang baik baginya… untuk menjadi madrasah yang berkualitas buatnya.

    Dengarlah doaku Ya Robbi, dan kabulkan keinginanku.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:40 am on 26 July 2014 Permalink | Balas  

    Panduan Shalat ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha 

    shalat-tarawih-puasa-pertama_fullPANDUAN SHALAT ‘IEDUL FITHRI DAN ‘IEDUL ADHHA

    1. Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata : Adalah Nabi saw. pada hari raya ‘iedul fitri dan ‘iedul adhha keluar ke mushalla (padang untuk shalat), maka pertama yang beliau kerjakan adalah shalat, kemudian setelah selesai beliau berdiri menghadap kepada manusia sedang manusia masih duduk tertib pada shof mereka, lalu beliau memberi nasihat dan wasiat (khutbah) apabila beliau hendak mengutus tentara atau ingin memerintahkan sesuatu yang telah beliau putuskan,beliau perintahkan setelah selesai beliu pergi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

    2. Telah berkata Jaabir ra: Saya menyaksikan shalat ‘ied bersama Nabi saw. beliau memulai shalat sebelum khutbah tanpa adzan dan tanpa iqamah, setelah selesai beliau berdiri bertekan atas Bilal, lalu memerintahkan manusia supaya bertaqwa kepada Allah, mendorong mereka untuk taat, menasihati manusia dan memperingakan mereka, setelah selesai beliau turun mendatangai shaf wanita dan selanjutnya beliau memperingatkan mereka. (H.R : Muslim)

    3. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Umar mendapati pakaian tebal dari sutera yang dijual, lalu beliau mengambilnya dan membawa kepada Rasulullah saw. lalu berkata : Yaa Rasulullah belilah pakaian ini dan berhiaslah dengannya untuk hari raya dan untuk menerima utusan. Maka beliaupun menjawab : Sesungguhnya pakaian ini adalah bagian orang-orang yang tidak punya bagian di akherat (yakni orang kafir). (H.R Bukhary dan Muslim)

    4. Diriwayatkan dari Ummu ‘Atiyah ra. ia berkata : Rasulullah saw. memerintahkan kami keluar pada ‘iedul fitri dan ‘iedul adhha semua gadis-gadis, wanita-wanita yang haidh, wanita-wanita yang tinggal dalam kamarnya. Adapun wanita yang sedang haidh mengasingkan diri dari mushalla tempat shalat ‘ied), mereka meyaksikan kebaikan dan mendengarkan da’wah kaum muslimin (mendengarkan khutbah). Saya berkata : Yaa Rasulullah bagaimana dengan kami yang tidak mempunyai jilbab? Beliau bersabda : Supaya saudaranya meminjamkan kepadanya dari jilbabnya. (H.R : Jama’ah)

    5. Diriwayatkan dariAnas bin Malik ra. ia berkata : Adalah Nabi saw. Tidak berangkat menuju mushalla kecuali beliau memakan beberapa biji kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah bilangan ganjil. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

    6. Diriwayatkan dari Buraidah ra. ia berkata : Adalah Nabi saw keluar untuk shalat ‘iedul fitri sehingga makan terlebih dahulu dan tidak makan pada shalat ‘iedul adhha sehingga beliau kembali dari shalat ‘ied. (H.R :Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan Ahmad)

    7. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Bahwasanya Nabi saw. Keluar untuk shalat ‘iedul fitri dua raka’at, tidak shalat sunah sebelumnya dan tidak pula sesudahnya. (H.R : Bukhary dan Muslim)

    8. Diriwayatkan dari Jaabir ra. ia berkata : Adalah Nabi saw apabila keluar untuk shalat ‘ied ke mushalla, beliau menyelisihkan jalan (yakni waktu berangkat melalui satu jalan dan waktu kembali melalui jalan yang lain (H.R : Bukhary)

    9. Diriwayatkan dari Yazid bin Khumair Arrahbiyyi ra. ia berkata : Sesungguhnya Abdullah bin Busri seorang sahabat nabi saw. Keluar bersama manusia untuk shalat ‘iedul fitri atau ‘iedul adhha, maka beliau mengingkari keterlambatan imam, lalu berkata : Sesungguhnya kami dahulu (pada zaman Nabi saw.) pada jam-jam seperti ini sudah selesai mengerjakan shalat ‘ied. Pada waktu ia berkata demikian adalah pada shalat dhuha. (H.R : Abu Daud dan Ibnu Majah)

    10. Diriwayatkan dari Abi Umair bin Anas, diriwayatkan dari seorang pamannya dari golongan Anshar, ia berkata : Mereka berkata : Karena tertutup awan maka tidak terlihat oleh kami hilal syawal, maka pada pagi harinya kami masih tetap shaum, kemudian datanglah satu kafilah berkendaraan di akhir siang, mereka bersaksi dihadapan Rasulullah saw.bahwa mereka kemarin melihat hilal. Maka Rasulullah saw. memerintahkan semua manusia (ummat Islam) agar berbuka pada hari itu dan keluar menunaikan shalat ‘ied pada hari esoknya. (H.R : Lima kecuali At-Tirmidzi)

    11. Diriwayatkan dari Azzuhri, ia berkata : Adalah manusia (para sahabat) bertakbir pada hari raya ketika mereka keluar dari rumah-rumah mereka menuju tempat shalat ‘ied sampai mereka tiba di mushalla (tempat shalat ‘ied) dan terus bertakbir sampai imam datang, apabila imam telah datang, mereka diam dan apabila imam ber takbir maka merekapun ikut bertakbir. (H.R : Ibnu Abi Syaibah)

    12. Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud ra. bertakbir pada hari-hari tasyriq dengan lafadz sbb : (artinya) : Allah maha besar, Allah maha besar, tidak ada Illah melainkan Allah dan Allah maha besar, Allah maha besar dan bagiNya segala puji. (H.R Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih)

    13. Diriwayatkan dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari neneknya, ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw. bertakbir pada shalat ‘ied dua belas kali takbir. dalam raka’at pertama tujuh kali takbir dan pada raka’at yang kedua lima kali takbir dan tidak shalat sunnah sebelumnya dan juga sesudahnya. (H.R : Amad dan Ibnu Majah)

    14. Diriwayatkan dari Samuroh, ia berkata : Adalah Nabi saw. Dalam shalat kedua hari raya beliau membaca : Sabihisma Rabbikal A’la dan hal ataka haditsul ghosiah. (H.R : Ahmad)

    15. Diriwayatkan dari Abu Waqid Allaitsi, ia berkata : Umar bin Khaththab telah menanyakan kepadaku tentang apa yang dibaca oleh Nabi saw. Waktu shalat ‘ied . Aku menjawab : beliau membaca surat (Iqtarabatissa’ah) dan Qaaf walqur’anul majid). (H.R : Muslim)

    16. Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra. ia berkata : Nabi saw. Mendirikan shalat ‘ied, kemudian beliau memberikan ruhkshah / kemudahan dalam menunaikan shalat jum’at, kemudian beliau bersabda : Barang siapa yang mau shalat jum’ah, maka kerjakanlah. (H.R : Imam yang lima kecuali At-Tirmidzi)

    17. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. Bersabda pada hari kamu ini, telah berkumpul dua hari raya (hari jum’ah dan hari raya), maka barang siapa yang suka shalat jum’ah, maka shalatnya diberi pahala sedang kami akan melaksanakan shalat jum’ah. (H.R : Abu Daud)

    KESIMPULAN

    Hadits-hadits tersebut memberi pelajaran kepada kita tentang adab-adab shalat hari raya sbb :

    Pakaian

    Pada saat mendirikan shalat kedua hari raya disunnahkan memakai pakaian yang paling bagus. (dalil : 3)

    Makan

    a. Sebelum berangkat shalat hari raya fitri disunnahkan makan terlebih dahulu, jika terdapat beberapa butir kurma , jika tidak ada maka makanan apa saja.

    b. Sebaliknya pada hari raya ‘iedul adhha, disunnahkan tidak makan terlebih dahulu sampai selesai shalat ‘iedul adhha. (dalil : 5 dan 6) Mendengungkan takbir

    a. Pada hari raya ‘iedul fitri, takbir didengungkan sejak keluar dari rumah menuju ke tempat shalat dan sesampainya di tempat shalat terus dilanjutkan takbir didengungkan sampai shalat dimulai. (dalil : 11)

    b. Pada hari raya ‘iedul adhha, takbir boleh didengungkan sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzul Hijjah) hingga akhir hari tasyriq (13 Dzul Hijjah). (dalil : 12)

    Jalan yang dilalui

    Disunnahkan membedakan jalan yang dilalui waktu berangkat shalat hari raya dengan jalan yang dilalui di waktu pulang dari shalat ‘ied (yakni waktu berangkat melalui satu jalan, sedang waktu pulang melalui jalan yang lain). (dalil : 8)

    Bila terlambat mengetahui tibanya hari raya

    Apabila datangnya berita tibanya hari raya sudah tengah hari atau petang hari, maka hari itu diwajibkan berbuka sedang pelaksanaan shalat hari raya dilakukan pada hari esoknya. dalil : 10)

    Yang menghadiri shalat ‘ied

    Shalat ‘ied disunnahkan untuk dihadiri oleh orang dewasa baik laki-laki maupun wanita, baik wanita yang suci dari haidh maupun wanita yang sedang haidh dan juga kanak-kanak baik laki-laki maupun wanita. Wanita yang sedang haidh tidak ikut shalat, tetapi hadir untuk mendengarkan khutbah ‘ied. (dalil :4)

    Tempat shalat ‘ied

    Shalat ‘ied lebih afdhal (utama) diadakan di mushalla yaitu suatu padang yang di sediakan untuk shalat ‘ied, kecuali ada uzur hujan maka shalat diadakan di masjid. Mengadakan shalat ‘ied di masjid padahal tidak ada hujan sementara lapangan (padang) tersedia, maka ini kurang afdhal karena menyelisihi amalan Rasulullah saw. yang selalu mengadakan shalat ‘ied di mushalla (padang tempat shalat), kecuali sekali dua kali beliau mengadakan di masjid karena hujan. (dalil : 1 dan 8)

    Cara shalat ‘ied

    a. Shalat ‘ied dua raka’at, tanpa adzan dan iqamah dan tanpa shalat sunnah sebelumnya dan sesudahnya. (dalil : 1,2 dan 7)

    b. Pada raka’at pertama setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah, ditambah 7 kali takbir. Sedang pada raka’at yang kedua sebelum membaca Al-Fatihah dengan takbir lima kali. (dalil 13)

    c. Setelah membaca Fatihah pada raka’at pertama di sunnahkan membaca surat (sabihisma Rabbikal a’la / surat ke 87) atau surat iqtarabatissa’ah / surat ke 54). Dan setelah membaca alFatihah pada raka’at yang kedua disunnahkan membaca surat (Hal Ataka Haditsul Ghaasyiyah / surat ke 88) atau membaca surat (Qaaf walqur’anul majid / surat ke 50).(dalil : 15)

    d. Setelah selesai shalat , imam berdiri menghadap makmum dan berkhutbah memberi nasihat-nasihat dan wasiat-wasiat, atau perintah-perintah penting.

    e. Khutbah hari raya ini boleh diadakan khusus untuk laki-laki kemudian khusus untuk wanita.

    f. Khutbah hari raya ini tidak diselingi duduk .(dalil : 1 dan 2)

    Waktu shalat

    Shalat ‘ied diadakan setelah matahari naik, tetapi sebelum masuk waktu shalat dhuha. (dalil : 9)

    Hari raya jatuh pada hari jum’ah Bila hari raya jatuh pada hari jum’ah, maka shalat jum’ah menjadi sunnah, boleh diadakan dan boleh tidak, tetapi untuk pemuka umat atau imam masjid jami’ sebaiknya tetap mengadakan shalat jum’at. (dalil : 16 dan 17)

     

     
  • erva kurniawan 2:22 am on 25 July 2014 Permalink | Balas  

    kerja kerasAlasan Apa Lagi?

    Tatkala seorang yang kaya raya ditanya. Mengapa engkau tidak beribadah….? Sang hartawan beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurusi kekayaanya. Mungkin ia lupa, bahwa dirinya sebenarnya tidaklah lebih kaya dari nabi Sulaeman as. Yang justru menjadi semakin bertakwa dengan bertambah kekayaannya.

    Alasan apa lagi……?

    Pertanyaan serupa ditujukan pada seorang karyawan. Mengapa engkau tidak beribadah….? Sang karyawan berargumen bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin ia pun lupa, bahwa dirinya tidaklah lebih sibuk dibandingkan dengan nabi Muhammad saw. yang disamping sebagai kepala negara, panglima perang, beliau juga seorang pendidik umat.

    Alasan apa lagi…..?

    Begitupun ketika seorang hamba sahaya ditanya. Mengapa engkau tidak beribadah….? Sang hamba sahaya beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena sibuk melayani majikannya. Tidakkah ia lupa, bahwa dirinya tidaklah lebih sibuk dan sengsara dibandingkan dengan nabi Yusuf as?

    Alasan apa lagi…..?

    Seorang yang sakit ditanya dengan pertanyaan yang sama. Mengapa engkau tidak beribadah….? Sang pasien beralasan bahwa ia tidak punya waktu dan tenaga untuk beribadah karena derita sakitnya. Cobalah ia ingat, derita penyakitnya itu belumlah seberapanya dibandingkan dengan penderitaan yang dirasakan oleh nabi Ayub as.

    Alasan apa lagi…..?

    Ketika pertanyaan yang sama ditujukan pada seorang yang fakir miskin. Mengapa engkau tidak beribadah….? Sang fakir miskin menjawabnya bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena kemiskinannya. Apakah ia lupa, bahwa ia tidaklah lebih miskin dari nabi Isa as, yang terpaksa harus memakan dedaunan dan minum air hujan?

    Alasan apa lagi…..?

    Seorang yang tidak berpendidikan ditanyanya. Mengapa engkau tidak beribadah….? Ia beralasan, bahwa ia tidak mampu untuk beribadah karena ilmunya rendah. Tidakkah ia lupa bahwa nabi Muhammad saw itu tidak bisa membaca dan menulis?

    Alasan apa lagi…..?

    Padahal Alloh telah jelas berfirman dalam Al-Qur’an surat Adz- Dzariyat ayat 56: “Tidak semata-mata Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

    Sekarang………….mau alasan apa lagi……….?

    (Dicuplik dari : Sentuhan Kalbu melalui kultum, Ir.Permadi Alibasyah)

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 24 July 2014 Permalink | Balas  

    sholat-berjamaahKisah Keutamaan Sholat di Masjid

    Ada seorang buta yang rajin solat berjemaah di masjid . Ada tali yang di buat untuk menghubungkan rumahnya dan masjid. Antara rumah dan masjid ada satu lubang yang berair.

    Suatu hari, dia terjatuh ke dalam lubang tersebut dan beliau akhirnya kembali ke rumah, untuk ganti baju yang bersih. Kali kedua, dia terjatuh lagi dan balik ke rumah lagi untuk ganti baju. Kali ketiga, ketika akan terjatuh lagi, tiba-tiba ada orang yang menyambut untuk menahannya dari jatuh dan membimbingnya hingga sampai ke masjid.

    Beliau bertanya kepada orang tersebut, siapakah dia. Orang itu menjawab Aku adalah syaitan? Orang buta itu terkejut lalu bertanya, kenapa dia menolongnya dari jatuh ke dalam lubang tersebut. Syaitan menjawab , Aku menolong sebab aku takut dosa orang-orang Islam lain terampun. Ini karena semasa engkau terjatuh untuk kali pertama, dosamu Allah ampunkan, semasa engkau jatuh kali kedua, seluruh dosa ahli keluargamu diampunkan, dan jika aku biarkan engkau jatuh kali ketiga maka seluruh dosa umat Islam akan terampun. Sebab itu aku menolongmu.?

    Lihatlah dan fikirkanlah betapa besarnya pahala orang yang melangkah ke masjid atau surau, itu belum ditambah dengan pahala mengerjakan solat berjemaah. Orang yang butapun sanggup bersusah payah untuk solat berjemaah di masjid, bagaimana kita yang sehat walafiat tanpa ada halangan kecuali halangan nafsu yang sering membujuk kita untuk terus malas dalam menambah pahala untuk bekal ke akhirat, kehidupan yang lebih kekal.

    Dari Abdullah bin ‘Amr r.a, Rasulullah saw bersabda : “Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat.”

    Muhasabahlah diri sendiri (yakni diri saya) sebelum muhasabah diri orang lain.

    Apa yang baik dan benar itu datangnya dari Allah swt. Apa yang salah dan khilaf itu adalah dari kelemahan manusia itu sendiri.

    Wassalam

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:29 am on 23 July 2014 Permalink | Balas  

    air mataMengapa Engkau Menangis?

    Penulis:Saad Saefullah

    Ketika mendengar suara hiruk-pikuk, Aisyah sontak bertanya, “Apakah yang telah terjadi di kota Madinah?”

    “Kafilah Abdurrahman bin Auf baru datang dari Syam membawa barang- barang dagangannya,” seseorang menjawab.

    Ummul Mukminin berkata lagi, “Kafilah yang telah menyebabkan semua ini?”

    “Benar, ya Ummul Mukminin. Karena ada 700 kendaraan.”

    Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya. Pandangannya jauh menerawang seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat dan didengarnya. Kemudian ia berkata, “Aku ingat, aku pernah mendengar Rasululah berkata, `Kulihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan perlahan-lahan.”

    Sebagian sahabat mendengar itu. Mereka pun menyampaikannya kepada Abdurrahman bin Auf. Alangkah terkejutnya saudagar kaya itu. Sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskan, ia segera melangkahkan kakiknya ke rumah Aisyah. “Engkau telah mengingatkanku sebuah hadits yang tak mungkin kulupa.” Abdurrahman bin Auf berkata lagi, “Maka dengan ini aku mengharap dengan sangat agar engkau menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah.”

    Dan dibagikanlah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya. Sebuah infak yang mahabesar. Abdurrahman bin Auf adalah seorang pemipin yang mengendalikan hartanya. Bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya. Sebagai bukti, ia tidak mau celaka dengan mengumpulkan harta kemudian menyimpannya. Ia mengumpulkan harta dengan jalan yang halal. Kemudian, harta itu tidak ia nikmati sendirian. Keluarga, kaum kerabatnya, saudara-saudaranya dan masyarakat ikut juga menikmati kekayaan Abdurrahman bin Auf.

    Saking kayanya Abdurrahman bin Auf, seseorang pernah berkata, “Seluruh penduduk Madinah bersatu dengan Abdurrahman bin Auf. Sepertiga hartanya dipinjamkan kepada mereka. Sepertiga lagi dipergunakannya untuk membayar utang-utang mereka. Dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi-bagikan kepada mereka.”

    Abdurahman bin Auf sadar bahwa harta kekayaan yang ada padanya tidak akan mendatangkan kelegaan dan kesenangan pada dirinya jika tidak ia pergunakan untuk membela agama Allah dan membantu kawan-kawannya. Adapun, jika ia memikirkan harta itu untuk dirinya, ia selalu ragu saja.

    Pada suatu hari, dihidangkan kepada Abdurahman bin Auf makanan untuk berbuka. Memang, ketika itu ia tengah berpuasa. Sewaktu pandangannya jatuh pada hidangan tersebut, timbul selera makannya. Tetapi, beberapa saat kemudian ia malah menangis dan berkata, “Mush’ab bin Umair telah gugur sebagai seorang syahid. Ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku. Ia hanya mendapat kafan sehelai burdah; jika ditutupkan ke kepalanya, maka kelihatan kakinya. Dan jika ditutupkan kedua kakinya, terbuka kepalanya.”

    Abdurrahman bin Auf berhenti sejenak. Kemudian melanjutkan, “Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku. Ia pun gugur sebagai syahid, dan di saat akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir telah didahulukan pahala kebaikan kami.”

    Begitulah Abdurrahman bin Auf. Ia selalu takut bahwa hartanya hanya akan memberatkan dirinya di hadapan Allah. Ketakutan itu sering sekali, akhirnya menumpahkan air matanya. Padahal, ia tidak pernah mengambil harta yang haram sedikitpun.

    Pada hari lain, sebagian sahabat berkumpul bersama Abdurrahman bin Auf menghadapi jamuan di rumahnya. Tak lama setalah makanan diletakkan di hadapan mereka, tiba-tiba ia kembali menangis. Sontak para sahabat terkejut. Mereka pun bertanya, “Kenapa kau menangis, wahai Abdurrahman bin Auf?”

    Abdurrahman bin Auf sejenak tidak menjawab. Ia menangis tersedu-sedu. Sahabat benar-benar melihat bahwa betapa halusnya hati seorang Abdurrahman bin Auf. Ia mudah tersentuh dan begitu penuh kekhawatiran akan segala apa yang diperbuatnya di dunia ini. Kemudian terdengar Abdurrahman bin Auf menjawab, “Rasulullah saw. wafat dan belum pernah beliau berikut keluarganya makan roti gandum sampai kenyang. Apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan?”

    Jika sudah begini, bukan hanya Abdurrahman bin Auf yang menangis, para sahabat pun akan ikut menangis. Mereka adalah orang-orang yang hatinya mudah tersentuh, dekat dengan Allah dan tak pernah berhenti mengharap rida Allah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 22 July 2014 Permalink | Balas  

    madu (1)Kisah Sesendok Madu (Mulailah Dari Diri Sendiri)

    Diceritakan, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warga kotanya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit di tengah kota. Seluruh warga kota memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya. Tetapi, dalam pikiran seorang warga kota ( katakanlah namanya Fulan); terlintas cara untuk mengelak perintah tersebut. “Aku akan membawa sesendok penuh, tapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungiku dari pandangan mata orang lain. Sesendok air tidak akan mempengaruhi isi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota.”

    Tibalah waktu yang ditetapkan. Apa kemudian yang terjadi? Bejana itu ternyata seluruhnya berisi penuh dengan air! Rupanya seluruh warga kota berpikiran sama dengan si Fulan. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.

    Kisah simbolik ini sering terjadi dalam berbagai kehidupan masyarakat. Idealnya memang bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian melibatkan pengikut-pengikutnya.

    Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS 12:108)

    Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS 4:84)

    Perhatikanlah kata-kata : “tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri”. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu” Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Berarti setiap orang harus harus tampil terlebih dulu. SIkap mental yang seperti ini akan menyebabkan bejana sang raja akan penuh dengan madu, bukan air, apalagi racun.

    (Dari : Lentera Hati, M Quraish Shihab)

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 21 July 2014 Permalink | Balas  

    motor tuaMotor Tua

    Dengan riang kulangkahkan kaki memasuki pekarangan rumah. Ah, cukup lama aku meninggalkan orang-orang yang kucintai. Langkahku terhenti, pandanganku tertumbuk pada sebuah motor tua. 20 tahun yang lalu motor itu sangat berarti. Allah menyatukan hati papa, mama, aku dan adik-adik (kami 4 bersaudara) lewat kendaraan bekas yang sekarang sudah dipenuhi debu dan karat itu. Sebagai pegawai negeri biasa dengan ekonomi pas-pasan, papa dan mama hanya bisa mencicil sebuah motor sebagai sarana transportasi kami sekeluarga. Waktu itu aku berusia 5 tahun, adikku no 2 berusia 3 tahun, no 3 berusia 2 tahun dan adik bungsuku berusia kira-kira 5 bulan. Kalau kedua orang tuaku pergi, kami semua pasti dibawa.. tentu saja dengan motor tua itu.

    Sejenak, senyumku mengembang seiring memori yang tetap mengalunkan kenangan indah. Urutan-urutan di motor itu adalah : adikku no.2 di depan sekali (di tank bensin), papa (sebagai rider), adikku no.3, aku dan terakhir mama duduk miring ke satu arah dengan menggendong adik bungsuku yang masih bayi. Aku juga ga habis pikir kenapa bisa muat dan kenapa orang tuaku begitu berani ? Tapi sudahlah, semua sudah berlalu dan aku sedang menikmati kebersamaan kami ketika itu.

    Hal yang paling bertahan dalam ingatanku adalah ketika tiba-tiba hujan turun, papa segera menepikan motornya, kami semua diturunkan karena mantel hujan tersimpan di bawah sadel. Mantel dikeluarkan .. kemudian kami kembali menempati posisi dan masuk ke dalam mantel. Mantel satu dipakai ramai-ramai. Pemandangan yang tadinya indah mendadak gelap gulita tapi tawa canda tetap mewarnai perjalanan hingga tempat tujuan.

    Namun… perjalanan hidup tidak selamanya bahagia. Di suatu sore, dalam keadaan kurang sehat papa pulang ke rumah untuk istirahat. Namun di perjalanan papa tidak sempat mengelakkan segerombolan sapi yang melintas dan menabrak salah satunya. Papa terpental dari motor dan mengalami patah kaki. Otomatis, kebersamaan di motor tua terhenti untuk sementara waktu. Terasa ada yang lain.. kami merindukan kehangatan berdesakan di motor tua (tak terasa air mataku mengalir)..

    Betapa bersyukurnya aku dikarunia keluarga yang hidup pas-pasan oleh Allah. Kenangan ini menjadi milikku… belum tentu dimiliki oleh orang lain. Kebahagiaan dan kebersamaan keluargaku dibangun di atas motor tua. Antara percaya dan tidak, tapi aku yakin motor itu jadi salah satu sarana kehangatan aku dan keluarga hingga sekarang. Dengan menyusut air mata, kulangkahkan kaki menuju pintu dan subhaanallaah… suara orang tua dan adik-adik riuh rendah menyambut kedatanganku… Betapa hangatnya cinta-Mu ya Allah. Ijinkan aku untuk selalu ingin memiliki cinta ini…dalam sabar dan syukurku…

    Ayo sobat, bangkitkan kenangan indah beserta anggota keluarga. Janganlah sesekali menyesali kondisi keluarga. Insya Allah kebahagiaan dan semangat akan selalu mewarnai hidup kita. Jangan lupa bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada orang-orang yang berjasa kepada kita.

    ***

    (Diambil dari http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 20 July 2014 Permalink | Balas  

    itikaf2Malam Keagungan

    Al-qadar artinya keagungan. Dan dalam ajaran Islam, ia telah diabadikan menjadi nama dari suatu malam di antara malam-malam bulan Ramadhan. Itulah ” Lailatul-Qodar”. Malam di mana sang hamba pada saat itu terbangun. Mensucikan diri. Menghadap Tuhannya yang menciptakan dirinya dan seluruh alam yang ia diami. Malam, yang sepenuhnya menyatu dalam kekhusukan sujud. Malam, yang datang seirama dengan dzikir dan dtangis sang hamba di belahan bumi manapun; di pojok-pojok masjid dan di rumah-rumah di tengah keterpencilan kampung. Di malam itulah, ia telah menemukan identitas kehambaan yang sebenarnya. Ia telah terbebas dari penyakit ‘Riyak’ (ingin dipuji orang), ketika ia sembahyang, dimana semua manusia sedang nyenyak dalam tidur… ketika ia menagis beristighfar, hanya di depan Tuhannya (bukan di depan siapa-siapa, bukan di depan uang dan patung dunia lainnya).

    Demikianlah setidaknya, seorang hamba di Lailatul Qodar, itu. Dan betapa kwalitas kehambaan itu kian lengkap, ketika ia memburu malam-malamnya, seperti memburyu Lailatul qodar. (Dan semoga kita termasuk dalam model hamba yang semacam ini ameen).

     Keistimewaan Lailatul Qodar.

    Apa yang membuat malam Lailatul Qodar lebih agung dari malamm-malam lainya?. Sedemikian rupa, sehingga keberadaan sang hamba di malam itu, bagai tenggelam dalam sebuah upacara yang sakral. Inilah sebuah pertanyaan, yang sejak dini telah dijawab oleh Allah SWT dalam al Qur’an, surat al Qodar yang artinya : Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

    Terlihat dalam surat pendek ini, dari awal sampai akhir hanya melukiskan malam yang agung dengan segala keistimewaannya. Dan setidaknya ada keistimewaan yang bisa diraba dari gambaran tersebut:

    a- Ia sebuah malam pertama kalinya diturunkan al-Qur’an kepada Rasulullah saw. Karenanya, malam ini adalah malam yang penuh berkah. Seperti yang Allah swt. lukiskan dalam surat ad-Dukhan;

    b- Ia sebuah malam yang dalam definisi Allah swt., lebih mulya dari pada seribu bulan: Suatu definisi yang menunjukan betapa agungnya kehadiran malam itu di tengah-tengah stuktur kehambaan manusia. Dan ternyata di malam itulah Allah swt. dengan segala kemaha kuasaan-Nya menjelaskan semua urusan yang mengandung hikmah (ad-Dukhan; 4).

    Dari definisi ini, ada beberapa hal yang cukup penting untuk digaris bawahi, yaitu: Pertama : seorang mufasir kontemporer; Dr. Wahbah al Zuhaily mengatakan bahwa jika pada malam itu seseorang melakukan amal baik, maka nilai perbuatan itu lebih besar dibandingkan dengan seribu bulan perbuatan serupa di malam-malam lainnya. Kedua : dalam sebuah riwayat yang dikishkan oleh imam Ibnu Abi hatim dan Al wahidy, bahwa suatu hari Rasulullah saw. pernah menceritakan seorang di antara bani Israil yang berjuang merangkul senjata di jalan Allah swt. selama seribu bulan.  Pada waktu itu, para sahabat terkagum-kagum terhadap kepribadian mujahid yang diceritakan Rasulullah saw. itu. Sejak itulah Allah swt. kemudian menurunkan surat al Qodar ini, yang menerangkan ahwa beribadah di malam Lailatul qodar masih lebih utama dari seribu bulan berjihat di jalan Allah swt. Ketiga : dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh imam Bukhori dan Muslim Rasulullah saw. bersabda : “Barang siapa bangun di malam Lailatul qodar dengan bekal iman seraya melakukan muhasabah; introspeksi diri maka pahalanya adalah ampunan atas segala dosa-dosanya yang telah lewat “.

    c- Ia sebuah malam, yang di dalamnya Alllah swt. menurunkan malaikat-malaikatNya, termasuk juga malaikat Jibril. Maksud pengiriman delegasi para malaikat ini, seperti yang ditafsirkan olleh Dr, Wahbah Al Zuhaily- tafsir al Munir- adalah untuk merekam segala perbuatan manusia; berbentuk ketaatan maupun kemaksiatan.

    d- Ia sebuah malam yang menyimpan kedamaian, ketenangan dan barakah yang tiada bandingannya. Dan kedamaian ini terus berlangsung hingga terbit fajar. Suatu kedamaian, yang dalam pandangan Dr Wahbah, ditandai dengan turunya segala kebaikan dan barakah. Turunya para malaikat silih berganti sambil menghantarkan rahmat Allah swt. Demikianlah suasana itu mengalir bagai air bah, hingga menjelang fajar. pada waktu itu, malam menjadi seperti sebuah mekanisme Illahiah yang berbeda dari malam-malam lainnya; tiada balak (siksaan langsung dari Allah swt), tiada keleluasaan bagi Syetan untuk beroprasi, dan meloloskan semua siasatnya. Karena di malam itu, semua hamba pada menyatukan sujud di hadapan penciptanya; Allah swt.

    Bagaimana Mengetahui Lailatul Qodar

    Pertama ; dalam riwayat imam Ahmad, Rasulullah saw bersabda bahwa lailatul Qodar turun pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Terutama pada malam-malam yang ganjil; ke sembilan, ketujuh, kelima, ketiga atau pada malam yang paling akhir.

    Kedua ; Sebagian besar ulama’ meyakini bahwa malam Lailatul qodar itu turun pada malam ke 27 dari bulan Ramadhan. Dasar keyakinan itu adalah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim  dan Tirmizi bahwa Ziir Ibnu Jubais berkata kepada Ubai Ibnu Kaab bahwa saudara Ibnu Masud berkata: “Barang siapa (tidak pernah tidur malam) sepanjang tahun pasti akan mendapatkan malam lailatul qadar. Ubai berkata: semoga Allah swt. mengampuni Abi Abdirrohman (Ibnu MAsud). Dia  sebenarnya mengetahui bahwa malam lailatul qadar itu turun pada sepuluh  hari terakhir dari bulan Ramadhan. Bahkan ia tahu bahwa lailatul qadar itu turun pada tanggal 27 Ramadhan. (tapi ia tidak menerangkan hal itu)  supaya orang-orang tidak hanya bangun di malam itu saja. (untuk menguatkan perkataannya ini ) Ubai kemudian berrsumpah bahwa malam itu jatuh pada malam 27 Ramadhan. Ziir berkata kepada Ubai: dengan apa kau bisa berkata demikian wahai Abu Mundzir ? Ubai menjawab : dengan tanda-tanda yang telah diberitahukan oleh Rasulullah saw. yakni bahwa matahari pada waktu itu terbit dengan  tanpa cahaya.

    Ketiga : hal yang juga menandai hadirnya malam lailatul qadar ini, bisa di intip dari kenyataan alam; jika di pagi harinya matahari  agak suram dan cahayanya tidak begitu terang , berarti di malam harinya, lailatul qadar telah turun. Itulah seperti yang di terangkan dalam riwayat berikut:

    1. Riwayat Ibnu Abbas bahwa Rasululah saw. bersabda : Malam lailatul qadar hawanya sedang; tidak panas dan tidak dingin. Dan dipagi harinya matahari terbit dengan cahaya yang agak lemah dan kemerah-merahan.

    2. Riwayat Jabir Ibnu Abdullah: Rasulullah saw. bersabda bahwa belia melihat lailatul qadar , hawanya sedang, tidak panas dan tidak dingin. Cerah  seperti berbulan. Pad waktu itu syetan pada terdiam hingga terbit fajar.

    Jabir ra. dalam sebuah riwayat berkata : “saya pernah menyaksikan malam laulatul qadar. (Namun entah  ) malam itu (tiba-tiba) hilang dari ingatan saya. (yang jelas) malam itu jatuh pada sepuluh hari terakhir dari malam-malam (bulan Ramadhan). Ia tampak cerah dan terang. Tidak panas dan tidak dingin . Terlihat seperti di sinari bulan. Pada waktu itu, tidak keluar syetan-syetan malam , hingga cahaya fajar memancar.”

    Penutup

    Yang jelas, rahasia disembunyikannya lailatul qadar ini, banyak hikmahnya. Seperti disembunyikannya waktu kapan dari setiap hamba ini akan mati. Diantara hikmah yang paling pokok adalah agar masign-masing dari hamba ini kian bersungguh-sungguh untuk meningkatkan amal soleh dan menjauhi segala macam bentuk kemungkaran , sebagaimana ia harus bersungguh-sungguh dalam mengintai malam lailatul  qadar. Seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw.: Intailah malam lailatul qadar, pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.

    Semoga uraian singkat ini ada mamfaatnya bagi penulis,khususnya, dan bagi para pembaca pada umumnya. Hasbiyallah wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’mannasiir…

    ***

    Pesantren Virtual

    Disusun oleh : Amir Faishol Fath.

     
  • erva kurniawan 3:35 am on 19 July 2014 Permalink | Balas  

    Panduan Mengeluarkan Zakat Fitrah 

    zakatPANDUAN MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH

    1. Diriwayatkan dari Ibnu Umar t.ia berkata : Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah dari bulan Ramadhan satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari sya’iir. atas seorang hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslilmin. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

    2. Diriwayatkan dari Umar bin Nafi’ dari ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata ; Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari sya’iir atas seorang hamba, merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin dan beliau memerintahkan agar di tunaikan / dikeluarkan sebelum manusia keluar untuk shalat ‘ied. (H. R : Al-Bukhary, Abu Daud dan Nasa’i)

    3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Rasulullah saw telah memfardhukan zakat fithrah untuk membersihkan orang yang shaum dari perbuatan sia-sia dan dari perkataan keji dan untuk memberi makan orang miskin. Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum shalat, maka ia berarti zakat yang di terima dan barang siapa yang mengeluarkannya sesudah shalat ‘ied, maka itu berarti shadaqah seperti shadaqah biasa (bukan zakat fithrah). (H.R : Abu Daud, Ibnu Majah dan Daaruquthni)

    4. Diriwayatkan dari Hisyam bin urwah dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda : Tangan di atas (memberi dan menolong) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta-minta), mulailah orang yang menjadi tanggunganmu (keluarga dll) dan sebaik-baik shadaqah adalah yang di keluarkan dari kelebihan kekayaan (yang di perlukan oleh keluarga) (H.R : Al-Bukhary dan Ahmad)

    5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Rasulullah sw. memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fithrah unutk anak kecil, orang dewasa, orang merdeka dan hamba sahaya dari orang yang kamu sediakan makanan mereka (tanggunganmu). (H.R : Daaruquthni, hadits hasan)

    6. Artinya : Diriwayatkan dari Nafi’ t. berkata : Adalah Ibnu Umar menyerahkan (zakat fithrah) kepada mereka yang menerimanya (panitia penerima zakat fithrah / amil) dan mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fithrah sehari atau dua hari sebelum ‘iedil fitri. (H.R.Al-Bukhary) 7. Diriwayatkan dari Nafi’ : Bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar menyuruh orang mengeluarkan zakat fithrah kepada petugas yang kepadanya zakat fithrah di kumpulkan (amil) dua hari atau tiga hari sebelum hari raya fitri. (H.R: Malik)

    KESIMPULAN

    Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa :

    1 Wajib bagi tiap kaum muslimin untuk mengeluarkan zakat fithrah untuk dirinya , keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak kecil, laki-laki maupun wanita. (dalil : 1,2 dan 5)

    2. Yang wajib mengeluarkan zakat fithrah adalah yang mempunyai kelebihan dari keperluan untuk dirinya dan keluarganya. (dalil : 4)

    3. Sasaran zakat fithrah adalah dibagikan kepada kaum miskin dari kalangan kaum muslimin. (dalil : 3)

    4. Zakat fithrah dikeluarkan dari makanan pokok (di negeri kita adalah beras) sebanyak lebih kurang 3,1 liter untuk seorang. (dalil : 1 dan 2)

    5. Cara menyerahkan zakat fithrah adalah sebagai berikut :

    a. Bila diserahkan langsung kepada yang berhak (fakir miskin muslim) waktu penyerahannya adalah sebelum shalat ‘ied yakni malam hari raya atau setelah shalat Shubuh sebelum shalat ‘iedul fitri. (dalil : 2 dan 3)

    b. Bila diserahkan kepada amil zakat fithrah (orang yang bertugas mengumpulkan zakat fithrah), boleh diserahkan tiga,dua atau satu hari sebelum hari raya ‘iedul fitri. (dalil : 6 dan 7)

    6. Zakat fithrah disyari’atkan untuk membersihkan pelaksanaan shaum Ramadhan dari perbuatan sia-sia dan perkataan keji di waktu shaum. (dalil : 3)

     
  • erva kurniawan 4:23 am on 18 July 2014 Permalink | Balas  

    Panduan I’tikaf Ramadhan 

    itikafPANDUAN I’TIKAF RAMADHAN

    Diantara rangkaian ibadah-ibadah dalam bulan suci Ramadhan yang dangat dipelihara sekaligus diperintahkan (dianjurkan ) oleh Rasulullah SAW adalah i’tikaf. setiap muslim dianjurkan (disunnatkan) untuk beri’tikaf di masjid, terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. I’tikaf merupakan sarana meditasi dan kontemplasi yang sangat efektif bagi muslim dalam memelihara keislamannya khususnya dalam era globalisasi, materialisasi dan informasi kontemporer.

    Definisi I’tikaf

    Para ulama mendefinisikan i’tikaf yaitu berdiam atau tinggal di masjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu dengan niat ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT . Ibnu Hazm berkata: I’tikaf adalah berdiam di masjid dengan niat taqorrub kepada Allah SWT pada waktu tertentu pada siang atau malam hari. ( al Muhalla V/179)

    Hukum I’tikaf

    Para ulama telah berijma’ bahwa i’tikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnatkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri senantiasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. A’isyah, Ibnu Umar dan Anas ra meriwayatkan: “Adalah Rasulullah SAW beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan ” HR. Bukhori & Muslim) Hal ini dilakukan oleh beliau hingga wafat, kecuali pada tahun wafatnya beliau beri’tikaf selama 20 hari. Demikian halnya para shahabat dan istri beliau senantiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Imam Ahmad berkata: ” Sepengetahuan saya tak seorang pun ulama mengatakan i’tikaf bukan sunnat”.

    Fadhilah ( keutamaan ) I’tikaf

    Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukan anda hadits yang menunjukkan keutamaan I’tikaf? Ahmad menjawab : tidak kecuali hadits lemah. Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah I’tikaf itu sendiri sebagai taqorrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keuatamaanya bahwa Rasulullah SAW, para shahabat, para istri Rasulullah SAW dan para ulama’ salafus sholeh senantiasa melakukan ibadah ini.

    Macam-macam I’tikaf

    I’tikaf yang disyariatkan ada dua macam; satu sunnah, dan dua wajib. I’tikaf sunnah yaitu yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqorrub kepada Allah SWT seperti i’tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan I’tikaf yang wajib yaitu yang didahului dengan nadzar (janji), seperti : “Kalau Allah SWT menyembuhkan sakitku ini, maka aku akan beri’tikaf.

    Waktu I’tikaf

    Untuk i’tikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinadzarkan , sedangkan i’tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja pada malam atau siang hari, waktunya bisa lama dan juga bisa singkat. Ya’la bin Umayyah berkata: ” Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk i’tikaf”.

    Syarat-syarat I’tikaf

    Orang yang i’tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :

    1. Muslim.

    2. Berakal

    3. Suci dari janabah ( junub), haidh dan nifas. Oleh karena itu i’tikaf tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu membedakan), orang junub, wanita haidh dan nifas.

    Rukun-rukun I’tikaf

    1. Niat (QS. Al Bayyinah : 5), (HR: Bukhori & Muslim tentang niat)

    2. Berdiam di masjid (QS. Al Baqoroh : 187)

    Disini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat i’tikaf . Sebagian ulama membolehkan i’tikaf disetiap masjid yang dipakai shalat berjama’ah lima waktu. Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan shalat jama’ah setiap waktu. Ulama lain mensyaratkan agar i’tikaf itu dilaksanakan di masjid yang dipakai buat shalat jum’at, sehingga orang yang i’tikaf tidak perlu meninggalkan tempat i’tikafnya menuju masjid lain untuk shalat jum’at. Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi’iyah bahwa yang afdhol yaitu i’tikaf di masjid jami’, karena Rasulullah SAW i’tikaf di masjid jami’. Lebih afdhol di tiga masjid; masjid al-Haram, masjij Nabawi, dan masjid Aqsho.

    Awal dan akhir I’tikaf

    Khusus i’tikaf Ramadhan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke 21. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : ” Barangsiapa yang ingin i’tikaf dengan ku, hendaklah ia beri’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan (HR. Bukhori). 10 (sepuluh) disini adalah jumlah malam, sedangkan malam pertama dari sepuluh itu adalah malam ke 21 atau 20. Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, kalau i’tikaf dilakukan 10 malam terakhir, yaitu setelah terbenam matahari, hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab (disenangi) adalah menuggu sampai shalat ied.

    Hal-hal yang disunnahkan waktu i’tikaf

    Disunnahkan agar orang yang i’tikaf memperbanyak ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT , seperti shalat, membaca al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi SAW, do’a dan sebagainya. Termasuk juga didalamnya pengajian, ceramah, ta’lim, diskusi ilmiah, tela’ah buku tafsir, hadits, siroh dan sebagainya. Namun demikian yang menjadi prioritas utama adalah ibadah-ibadah mahdhah. Bahkan sebagian ulama meninggalkan segala aktifitas ilmiah lainnya dan berkonsentrasi penuh pada ibadah-ibadah mahdhah.

    Hal-hal yang diperbolehkan bagi mu’takif (orang yang beri’tikaf)

    1. Keluar dari tempat i’tikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap istrinya Shofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhori Muslim)

    2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.

    3. Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang mengantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid. Tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluannya .

    4. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

     Hal-hal yang membatalkan I’tikaf

    1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar, karena meninggalkan salah satu rukun i’tikaf yaitu berdiam di masjid.

    2. Murtad ( keluar dari agama Islam ) (QS. 39: 65

    3. Hilangnya akal, karena gila atau mabuk

    4. Haidh

    5. Nifas

    6. Berjima’ (bersetubuh dengan istri) (QS. 2: 187). Akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri- istrinya.

    7. Pergi shalat jum’at ( bagi mereka yang membolehkan i’tikaf di mushalla yang tidak dipakai shalat jum’at)

    I’tikaf bagi Muslimah

    I’tkaf disunnahkan bagi wanita sebagaimana disunnahkan bagi pria. Selain syarat-syarat yang disebutkan tadi, i’tikaf bagi kaum wanita harus memenuhi syarat-syarat lain sbb:

    1. Mendapat izin (ridlo) suami atau orang tua. Hal itu disebabkan karena ketinggian hak suami bagi istri yang wajib ditaati, dan juga dalam rangka menghindari fitnah yang mungkin terjadi.

    2. Agar tempat i’tikaf wanita memenuhi kriteria syari’at.

    Kita telah mengetahui bahwa salah satu rukun atau syarat i’tikaf adalah masjid. Untuk kaum wanita, ulama sedikit berbeda pendapat tentang masjid yang dapat dipakai wanita beri’tikaf. Tetapi yang lebih afdhol- wallahu ‘alam- ialah tempat shalat di rumahnya. Oleh karena bagi wanita tempat shalat dirumahnya lebih afdhol dari masjid wilayahnya. Dan masjid di wilayahnya lebih afdhol dari masjid raya. Selain itu lebih seiring dengan tujuan umum syari’at Islamiyah, untuk menghindarkan wanita semaksimal mungkin dari tempat keramaian kaum pria, seperti tempat ibadah di masjid. Itulah sebabnya wanita tidak diwajibkan shalat jum’at dan shalat jama’ah di masjid. Dan seandainya ke masjid ia harus berada di belakang. Kalau demikian, maka i’tikaf yang justru membutuhkan waktu lama di masjid , seperti tidur, makan, minum, dan sebagainya lebih dipertimbangkan. Ini tidak berarti i’tikaf bagi wanita tidak diperboleh di masjid. Wanita bisa saja i’tikaf di masjid dan bahkan lebih afdhol apabila masjid tersebut menempel dengan rumahnya, jama’ahnya hanya wanita, terdapat tempat buang air dan kamar mandi khusus dan sebagainya. Wallahu ‘alam.

     
  • erva kurniawan 3:47 am on 17 July 2014 Permalink | Balas  

    malamAjaklah Keluarga Berjumpa Allah Lebih Dekat Di Malam Qodr

    Begitu cepat waktu berlalu. Amboi, tak terasa kita telah berada di penghujung Ramadhan. Kelelahan fisik yang mendera kita, seperti sirna oleh semangat kita untuk memetik pahala Taqwa di bulan yang penuh ampunan ini. Setiap tetes keringat kita yang jatuh, dana yang sudah keluar, serta jerih payah yang kita upayakan demi tegaknya Ramadhan di dalam keluarga kita, insya Allah ia akan menjadi investasi kebajikan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Saudaraku, jangan pernah putus asa untuk mencapai puncak keutamaan bulan seribu bulan ini.

    Jangan pernah menyerah dan kalah terhadap nafsu kita. Lawan rasa malas itu, enyahkan bisikan-bisikan manja yang akan meninabobokan semangat ibadah kita yang tengah menggebu di bulan Ramadhan. Bersiagalah, jangan sampai “si malam seribu bulan” (lailatul Qodr) datang pada saat kita sedang loyo dalam beribadah. Pada saat kita malas berdoa dan berdzikir. Di saat kita dalam kondisi lesu dan segan untuk menegakkan malam-malam Ramadhan dengan kebajikan. Ketika pikiran dan hati kita mulai gandrung pada kemilau dunia yang fana. Astaghfirulloh….!

    Mari kita ajak seluruh anggota keluarga untuk berjaga di “malam keberkahan 1000 bulan” yang menaburkan keselamatan sepanjang malam hingga fajar itu. Malam dimana Malaikat Jibril turun membawa rahmat Allah bagi hamba-hambaNya yang tetap istiqomah menegakkan malam-malam Ramadhannya. Malam untuk kita bisa “berjumpa” Allah lebih dekat.

    Alangkah baiknya bila kita bisa mengumpulkan seluruh anggota keluarga di malam-malam sepuluh hari terakhir ini dalam satu majelis dzikir dan do’a. Setidaknya, jika tidak bisa mengajak mereka seluruhnya i’tikaf di masjid, kita bisa berwukuf di rumah menegakkan malam-malam di penghujung Ramadhan. Ajaklah seluruh anggota keluarga melakukan muhasabah, berdzikir, bertaubat, dan berdo’a.

    Malam sepuluh terakhir, adalah momentum yang paling kondusif untuk kita mengakui kekerdilan kita di hadapan Dzat Yang Maha Agung. Mengakui ketololan kita di hadapan Dzat Yang Maha ‘Alim dan Maha Bijaksana. Mengakui kelemahan kita di hadapan Yang Maha Gagah dan Maha Kuat. Mengakui kelalaian kita di hadapan Dzat Yang Selalu Waspada dan Tidak Pernah Lupa.

    Inilah malam-malam dibukanya pintu ampunanNya yang luas tak terbatas. Menangislah sepuasnya, seraya memohon kepadaNya, agar dosa-dosa dan kelalaian kita di masa lalu Ia hapus. Ya, inilah malam yang tepat untuk kita mengadukan segala kelemahan, persoalan hidup yang sulit kita cerna dan pecahkan. Kita mohonkan pada Allah ‘Azza wa Jalla di malam seribu bulan ini, agar seluruh persoalan hidup dimudahkanNya. Agar anak-anak kita menjadi hamba-hambaNya yang ta’at, penyantun, dan lembut hatinya. Kita tundukkan diri serendah-rendahnya di hadapan Dzat Yang Maha Agung dan Perkasa, seraya menengadahkan tangan memohon semohon-mohonnya, supaya Dia tak pernah meninggalkan kita. Agar Dia selalu menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga kita.

    Ya Allah Robbul ‘Izzati janganlah Engkau tinggalkan kami walau cuma sekejap. Berikanlah kami kekuatan dan hidayahMu agar kami mampu menghadapi setiap persoalan hidup dengan tegar, dan tetap istiqomah di atas jalanMu. Jadikanlah anak-anak kami sebagai generasi pencinta Al Qur’an, generasi pencinta kebajikan, dan pemuda-pemudi yang memiiki rasa malu, menutup aurat mereka, serta selalu menjauhi zina.

    Ya Allah Ya Rohman Ya Rohim, jauhkan anak-anak kami dari sifat pengecut, malas, penghambur-hambur harta. Jauhkan mereka ya Allah, dari pergaulan yang rusak. Hiasilah hati-hati kami dengan rasa rindu berjumpa denganMu dan takut pada adzabMu yang pedih ya Allah.

    Ya Allah ya Jalaali wal Ikrom, kuatkan dan kokohkanlah sendi-sendi bangunan keluarga kami sekokoh-kokohnya. Hiasilah selalu rumah kami dengan rahmat, maghfiroh, dan ampunanMu. Jauhkanlah seluruh anggota keluarga kami dari sifat hasad, pemarah, dengki, khianat dan perpecahan.

    Ya Allah wafatkanlah kami sebaik-baiknya, tatkala kami telah menunaikan amanat keluarga ini hingga mencapai keridhoanMu. Hingga kami menghasilkan generasi yang Engkau cintai dan ridhoi. Amien ya Allah, ya Robbal ‘alamien….!

    ***

    Sumber: Eramuslim – Sulthoni

     
  • erva kurniawan 3:14 am on 16 July 2014 Permalink | Balas  

    Panduan Menggapai Lailatul Qodar 

    malam lailatul qodrPANDUAN MENGGAPAI LAILATUL QODAR

    Muqadimah

    Sesudah disyariatkannya ibadah shaum, dan agar umat Islam dapat merealisasikan nilai taqwa, Allah SWT melengkapi nikmat-Nya dengan memberikan adanya “Lailat al qodr”. Allah berfirman : ” Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada ” Lailat al qodr”. Tahukah kalian apakah ” Lailat al qodr” ?. Itulah malam yang lebih utama dari pada seribu bulan” (QS. Al Qodr : 1-3)

    Keutamaan Lailat al Qodr

    Ayat yang dikutip di atas jelas menunjukkan nilai utama dari ” Lailat al qodr”. Mengomentari ayat di atas Anas bin Malik ra menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan keutamaan disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah al-Qur’an, dan dzikir serta amal sosial (seperti shodaqoh dana zakat), yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu di luar malam lailat al qodr sendiri). Dalam riwayat lain Anas bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya Allah mengkaruniakan ” Lailat al qodr” untuk umatku, dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya. Sementara berkenaan dengan ayat 4 surat al qodr, Abdullah bin Abbas ra menyampaikan sabda Rasulullah bahwa pada saat terjadinya lailat al qodr, para malaikat turun kebumi menghampiri hamba-hamba Allah yang sedang qiyam al lail, atau melakukan dzikir, para malaikat mengucapkan salam kepada mereka. Pada malam itu pintu-pintu langit dibuka, dan Allah menerima taubat dari para hambaNya yang bertaubat. Dalam riwayat Abu Hurairah ra, seperti dilaporkan oleh Bukhori, Muslim dan al Baihaqi, Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan , “barangsiapa melakukan qiyam ( shalat malam) pada lailat al qodr, atas dasar iman serta semata-mata mencari keridloan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakukannya”. Demikian banyaknya keutamaan lailat al qodr, sehingga Ibnu Abi Syaibah pernah menyampaikan ungkapan al Hasan al Bashri, katanya : ” Saya tidak pernah tahu adanya hari atau malam yang lebih utama dari malam yang lainnya, kecuali ‘ Lailat al qodr’, karena lailat al qodr lebih utama dari (amalan) seribu bulan”.

    Hukum “Menggapai” Lailat al Qodr.

    Memperhatikan pada arahan (taujih) Rasulullah SAW, serta contoh yang beliau tampilkan dalam upaya “menggapai” lailat al qodr, dalam hal ini misalnya Umar pernah menyampaikan sabda Rasulullah SAW : ” Barangsiapa mencari lailat al qodr, hendaknya ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh” (HR. Ahmad). Maka para ulama’ berkesimpulan bahwa berupaya menggapai lailat al qodr hukumnya sunnah. IV. Kapankah terjadinya Lailat al Qodr Sesuai dengan firman Allah pada awal surat Al Qodr, serta pada ayat 185 surat Al Baqoroh, dan hadits Rasulullah SAW. Maka para ulama’ bersepakat bahwa ” Lailat al qodr” terjadi pada malam bulan Ramadhan. Bahkan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Abu Dzar, dan Abu Hurairah, lailat al qodr bukannya sekali terjadi pada masa Rasulullah SAW saja, malainkan ia terus berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk mashlahat umat Muhammad, sampai terjadinya hari qiyamat. Adapun tentang penentuan kapan persis terjadinya lailat al qodr, para ulama berbeda pendapat disebabkan beragamnya informasi hadits Rasulullah, serta pemahaman para shahabat tentang hal tersebut. Sebagaimana tersebut dibawah ini :

    1. Lailat al qodr terjadi pada malam 17 Ramadhan, malam diturunkannya Al Qur’an. Hal ini disampaikan oleh Zaid bin Arqom, dan Abdullah bin Zubair ra. (HR. Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan Bukhori dalam tarikh).

    2. Lailat al qodr terjadi pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululah SAW: “Carilah lailat al qodr pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhori, Muslim dan Baihaqi)

    3. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 21 Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abi Said al Khudri yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.

    4. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.

    5. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Ibnu Umar, seperti dikutip oleh Ahmad. Dan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, bahwa Umar bin al Khoththob, Hudzaifah serta sekumpulan besar shahabat, yakin bahwa lailat al qodr terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan. Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, juga pernah menyampaikan kepada shahabat yang telah tua dan lemah tak mampu qiyam berlama-lama dan meminta nasehat kepada beliau kapan ia bisa mendapatkan lailat al qodr, Rasulullah SAW kemudian menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 bulan Ramadhan (HR. Thabroni dan Baihaqi).

    6. Seperti difahami dari riwayat Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim, terjadinya lailat al qodr mungkin berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sesuai dengan informasi terakhir ini, dan karena langka dan pentingnya lailat al qodr, maka selayaknya setiap muslim berupaya selalu mendapatkan lailat al qodr pada sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

    Tanda-tanda terjadinya Lailat al qodr

    Seperti diriwayatkan Oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: ” Pada saat terjadinya lailat al qodr itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas tidak juga dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan jernih terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan”.

    Apa yang perlu dilakukan pada lailat al qodr dan agar dapat menggapai lailat al qodr

    1. Lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri dari semua hal yang dapat mengurangi keseriusan beribadah pada hari-hari itu. Dalam peribadatan ini juga dengan mengikutsertakan keluarga. Hal itulah yang dahulu dicontohkan Rasulullah SAW.

    2. Melakukan i’tikaf dengan berupaya sekuat tenaga. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

    3. Melakukan qiyamu al lail berjama’ah, sampai dengan rekaat terakhir yang dilakukan imam, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar ra.

    4. Memperbanyak do’a memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah dengan lafal : “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibul afwa fa’fu ‘anni”. Hal inilah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah ra ketika beliau bertanya : ‘ wahai Rasulullah, bila aku ketahui kedatangan lailat al qodr, apa yang mesti aku ucapkan”? (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

    Menggapai ” Lailat al qodr” bagi Muslimah

    Sebagaimana tersirat dari dialog Rasulullah SAW dengan Aisyah, istri beliau itu, maka mudah disimpulkan bahwa kaum muslimah-pun disyari’atkan dan diperbolehkan menggapai lailat al qodr . Dengan melakukan maksimalisasi ibadah yang memang diperbolehkan untuk dilakukan seorang muslimah. VIII. Khotimah Demikian panduan ringkas ini, mudah-mudahan pada bulan Ramadhan tahun ini Allah memperkenankan kita meraih ” Lailat al qodr”, malam yang utama dari 1000 bulan alias 83 tahun itu.

     

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 689 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: