Updates from erva kurniawan Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 7:27 am on 10 June 2014 Permalink | Balas  

    maaf (1)Memaafkan, Derajat Kemuliaan Diri

    Kawan, ingatkah kisah saat Rasulullah menolak bantuan yang ditawarkan Jibril untuk menimpakan gunung kepada masyarakat Thaif yang telah menghina Rasulullah dan para sahabat? Kala itu, Rasul membalas perlakuan masyarakat Thaif dengan memaafkan mereka. Sebuah sikap bijak yang menjadi salah satu bukti betapa Rasulullah sangat pemaaf. Kisah lain menunjukkan saat beliau menjadi orang pertama yang menjenguk seorang Quraisy kala sakit, meski sebelumnya tak bosan-bosannya meludahi Rasulullah setiap hari. Sungguh Allah-lah yang mampu memelihara hati sedemikian suci, jiwa sebegitu besar.

    Memaafkan, menjadi kata yang mudah diucapkan, namun teramat sulit untuk dilakukan. Saya pernah merasa tersakiti karena candaan yang dilontarkan seorang teman. Sakit hati yang menyebabkan saya sulit berkonsentrasi. Berhari-hari, bahkan berbilang minggu, rasa itu masih belum hilang juga. Sulit sekali rasanya untuk memaafkan, meskipun memaafkan menjadi jalan untuk melupakan yang sudah terjadi, mengambil hikmahnya, juga menjalankan kehidupan kembali normal.

    Andrew Matthews, penulis buku Being Happy, menuliskan bahwa dengan tidak memaafkan orang yang menyakiti kita, satu-satunya orang yang akan dirugikan adalah diri kita sendiri. Tidak memaafkan berarti akan menghancurkan hidup kita karena pikiran kita akan selalu terbawa emosi, sakit hati dan kecewa. Dengan memaafkan seseorang, bukan berarti kita menyetujui apa yang mereka lakukan.

    Merenungi makna subhanallah, kita tahu bahwa hanya Allah Swt yang Maha Suci, sementara manusia adalah tempat salah dan alpa. Seorang bijak pernah berkata, kesempurnaan manusia adalah dengan ketidaksempurnaannya. Allah Swt berfirman dalam Qur’an Surat Ali Imran ayat 134: “… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang”. Dengan demikian, Allah Swt menyukai orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan orang lain.

    Memaafkan, bukan hanya merupakan sikap mulia sesuai pesan Nabi Muhammad Saw, tapi juga baik bagi kesehatan dan ketenangan jiwa. Hidup kita mudah-mudahan akan berjalan dengan lebih baik karena kita tidak disibukkan dengan perasaan kecewa dan sakit hati atas perbuatan orang lain. Seperti yang dicontohkan Nabi, memaafkan seseorang tidak akan menurunkan derajat orang yang memaafkan di mata orang yang melakukan kesalahan.

    ***

    Diambil dari eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 7:17 am on 9 June 2014 Permalink | Balas  

    kerja kerasAllah Mencintai Orang Tawakkal

    “…Maka maafkanlah mereka, mintakanlah ampun dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (perang, ekonomi, dan lain-lain urusan dunia). Manakala sudah mantap tekadmu, tawakallah kepada Allah (dalam menjalankannya tanpa ragu-ragu).Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang tawakkal.” (Ali Imran : 159)

    Ayat diatas menjelaskan kepada kita tentang pentingnya tawakkal setelah melakukan pekerjaan dengan semaksimal mungkin. Perbuatan tawakkal adalah perbuatan yang dicintai oleh Allah swt dan menunjukan bahwa diri kita lemah didepan kekuasaan-Nya.

    Tawakkal ditinjau dari segi bahasa adalah perbuatan menampakan kelemahan dan bersandar kepada yang lain. Jika dikatakan, “wakkaltu amri ila Fulan” maka berarti saya lemah atau tidak mampu akan urusan itu, lalu saya menyandarkan atau menyerahkan urusan itu kepada si Fulan dan saya yakin bahwa si Fulan mampu menyelesaikannya.

    Yang dimaksud tawakkal dalam tulisan ini adalah tawakkal kepada Allah swt, dan sikap tawakkal ini adalah perbuatan hati, bukan perbuatan lidah atau anggota tubuh dan bukan pula termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan. Sebagian manusia ada yang menafsirkan tawakkal ini dengan ridha kepada sesuatu yang telah ditakdirkan Allah swt. Namun, sebelum kita berusaha dan berupaya dengan sungguh-sungguh maka kita tidak boleh bertawakkal.

    Pada hakekatnya, tawakkal itu adalah suatu keadaan yang terdiri dari berbagai hal, antara lain mengenal Allah swt beserta sifat-sifat-Nya, adanya ketetapan bahwa suatu kejadian memilki sebab yang menyebabkan kejadian, dan kemantapan hati untuk bertauhid kepada Allah swt. Maka tidaklah sempurna sikap tawakkal seseorang hingga ia memilki kemantapan dalam bertauhid, menyandarkan hati kepada-Nya, berbaik sangka, dan menerima atau ridha terhadap ketentuan Allah. Dan ini merupakan buah paling baik dari sikap tawakkal.

    Orang yang bertawakkal adalah mereka yang bersandar kepada Allah dengan menyatakan kelemahan, menyerahkan seluruh urusan kepada-Nya, percaya dan yakin bahwa apa yang Allah tetapkan pasti terlaksana, serta mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw , yakni keharusan berusaha yang merupakan bagian dari sebab-musabab. Manfaat dan mudharat tidak akan terjadi kecuali dengan adanya sebab-musabab, bahkan sebab-musabab ini merupakan bagian dari kehendak Allah swt. Segala sesuatu adalah dari-Nya dan terjadi atas kehendak-Nya.

    Allah telah memerintahkan hamba pada suatu perkara dan Allah telah memberi jaminan kepada hamba-Nya. Jika hamba Allah melaksanakan perintah-Nya dengan baik, benar dan ikhlas dan bersungguh-sungguh, maka Allah pasti akan memberi jaminan kepadanya, berupa rizki, kecukupan, pertolongan, kemenangan, dan memenuhi segala kebutuhannya. Allah akan memberi pertolongan dan kecukupan kepada siapa yang menjadikan Allah sebagai tujuan dan maksudnya, dan akan memenuhi kebutuhan hamba jika ia percaya dan mengaharapkan keutamaan dan kemurahan hanya kepada-nya. Firman Allah swt:

    “Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (Ath-Thalaq :3), “Dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman,dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakkal” (Asy-Syura:36)

    Semoga kita termasuk hamba Allah yang selalu berusaha dan bertawakkal hanya kepada-Nya. Amien.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:14 am on 8 June 2014 Permalink | Balas  

    sombongTakabur

    Salah satu penyakit yang bisa merusak tatanan sosial ialah sikap takabur yang artinya angkuh, sombong, atau menganggap orang lain tidak berharga apabila dibandingkan dengan dirinya. Sikap ini selain bertentangan dengan konsep persamaan dan kehambaan manusia di hadapan Allah, juga menghalangi pembudayaan untuk menghargai lingkungan, Hak Asasi Manusia, dan demokrasi.

    Penyakit takabur pada intinya berhubungan dengan dua hal. Pertama, takabur terhadap Allah. Ketakaburan jenis ini membawa penyakit sosial berupa menyepelekan, bahkan penolakan terhadap fungsi dan eksistensi agama dalam masyarakat. Orang tersebut menganggap agama seolah-olah penghalang modernisasi dan kemajuan. Perwujudannya dalam masyarakat adalah selalu bersikap apriori terhadap nilai dan aturan yang diserukan agama. Mereka beranggapan punya aturan sendiri yang dianggap lebih baik. Mereka merasa menjadi hina untuk melakukan pengabdian kepada Allah SWT. Alquran menyebutkan: ”Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menghambakan diri kepada-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina,” (QS Al-Mukmin [40]: 11).

    Kedua, takabur terhadap sesama manusia. Ketakaburan jenis ini bersifat langsung berupa perilaku sosial yang merusak iklim kebersamaan. Sikap yang paling menonjol adalah sikap penghinaan dan menganggap remeh pendapat serta kerja orang lain, gampang menilai orang lain tidak punya kemampuan, cepat marah apabila ada yang menyaingi, iri, dengki, bahkan dendam terhadap orang lain yang memperoleh kelebihan dan kesempatan. Rasulullah saw menggambarkan dalam sabdanya: ”Takabur itu menolak kebenaran dan menghina hak-hak manusia,” (HR Muslim).

    Di antara sebab-sebab paling berbahaya yang membawa orang pada sikap takabur ialah karena merasa memiliki kekuatan dan pengaruh di masyarakat. Wujud takabur ini macam-macam, mulai dari perilaku sombong, memaksakan kehendak, sampai kepada fenomena kediktatoran dan ”Fir’aunisme” di berbagai dimensi pergaulan masyarakat. Ini semua bermula dari sikap merasa paling unggul dalam kekuatan maupun pengaruh.

    Islam mendorong umatnya untuk memiliki kekuatan dan pengaruh selama digunakan untuk menolong dan memberi perlindungan terhadap orang yang lemah. Tapi, di lain pihak, dalam Alquran Allah memuji sikap rendah hati melalui firman-Nya: ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat Kami, mereka bersujud dan bertasbih serta memuji Tuhan. Mereka tidak menyombongkan diri,” (QS As-Sajdah [32]: 15).

    Dalam pergaulan berbangsa dan bernegara, kita memerlukan keluhuran jiwa untuk berendah hati satu sama lain, terlebih pada saat prihatin sekarang ini. Kesombongan dan ketakaburan hanya akan membuat bangsa kita terantuk pada kesulitan yang berkepanjangan. Sebaliknya rendah hati dan saling menghargai dan sudi bekerja sama akan memudahkan langkah untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan.

    ***

    Sumber dari Sahabat

     
    • Idrus® 10:00 am on 8 Juni 2014 Permalink

      Tolong saya di unsubscribe.

  • erva kurniawan 8:23 am on 7 June 2014 Permalink | Balas  

    Mandikan Aku, BUnda 

    ibu dan  anakMandikan Aku, Bunda

    Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya. Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di University Utrecht, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah. Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan. Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang “setara ” dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

    Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai Staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah “alif” dan huruf terakhir “ya”, jadilah nama yang enak didengar : Alifya. Tentunya filosofi yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula. Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi.

    Saya pernah bertanya , ” Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?”

    Dengan sigap Rani menjawab: ” Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Everything is ok.”

    Dan itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya.

    “Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini “dapat memahami” orang tuanya.

    Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani, Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya menginginkan anak seperti Alif.

    Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby-sitternya. ” Alif ingin bunda mandikan.” Ujarnya.

    Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien, baby-sitternya. Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan,” Bunda, mandikan Alif?” begitu setiap pagi.

    Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian.

    Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ” Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency”.

    Setengah terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Alloh SWT sudah punya rencana lain. Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya.

    Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya, shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ” Ini bunda, Lif. Bunda mandikan Alif.” Ucapnya lirih, namun teramat pedih.

    Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, “Ini sudah takdir, iya kan ? Aku disebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan ? “. Saya diam saja mendengarkan. “Ini konsekuensi dari sebuah pilihan.” lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani tertunduk. ” Aku ibunya !” serunya kemudian, ” Bangunlah Lif. Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan bunda sekali lagi saja, Lif”. Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-kais tanah merah ?..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 8:01 am on 6 June 2014 Permalink | Balas  

    tawadlu'Tawassul

    “Wahai orang orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah Ta’ala dan carilah perantara/wasilah kepada Allah Ta’ala”.

    Suatu hal yang mustahil apabila Allah mengajarkan syirik kepada hambanya setelah menyuruh mereka untuk beriman. Makna wasilah disini adalah perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan hajatnya dai Allah Ta’ala baik berupa amal ataupun lainnya. Dan tawassul dengan amal soleh sudah jelas jelas sangat diperbolehkan sekali sebagaimana disebutkan di atas, juga di hadist yang diriwayatkan Bukhori tentang tiga orang yang terjebak didalam goa yang longsor lantas masing masing bertawassul dengan amal soleh mereka agar bisa dikeluarkan oleh Allah dari goa yang tersumbat tersebut akibat longsor, dan mereka mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala. Hadist ini diceritakan sendiri oleh Rasul Sallallahu alaihi wasallam dan disebutkan di sohih al Bukhori.

    Lantas kita sama sama meyakini bahwa Rasul jauh lebih mulia dari pada amalan apapun juga apalagi amalan kita yang penuh dengan riya’, ‘ujub dan penyakit lainnya. Maka apakah kita tidak pantas bertawasssul dengan Rasulullah SAW? sedangkan Al Quran menyatakan di dalam tafsir dari suatu ayat : “seandainya mereka berbuat suatu kedholiman lantas mereka datang kepadamu (yaa Nabi Muhammad) dan mereka meminta ampunan Allah Ta’ala dan Rasul memohon ampunan Allah Ta’ala untuk mereka, niscaya mereka pasti akan mendapati Allah Ta’ala maha pengampun lagi maha penyayang”.

    Dan ayat ini tidak berlaku selama masa hidup Rasullullah di dunia saja, Akan tetapi ayat ini umum baik semasa beliau di dunia ataupun beliau di akherat, apakah derajat dan kemampuan Rasulullah berkurang setelah beliau keluar dari alam dunia ini? “Sesungguhnya mereka para Nabi-nabi tersebut hidup di kuburan mereka solat/berdo’a”.

    Hadits ini menerangkan keadaan umumnya nabi- nabi didalam kubur mereka, maka bagaimana halnya dengan pemimpin sekalian Nabi-nabi. Nabi Muhammad menyebutkan didalam hadits yang lain bahwa matinya pun baik untuk ummatnya, bagaimana? beliau mengatakan bahwa “laporan dari amalan kalian disampaikan kepadaku, apabila baik maka aku bersyukur kepada Allah, dan apabila tidak baik maka aku memohon ampunan Allah untuk kalian”. Dengan demikian jelaslah, bahwa wafatnya Rasul, tidak mengurangi perhatian beliau dan keampuhan doa beliau untuk ummatnya.

    Adapun tawassul dengan para Wali-wali dan sholihin itu banyak disebutkan di dalam hadist, bahkan diriwayatkan didalam do’a ketika menuju ke masjid yang isinya menyatakan tawassulnya Nabi Muhammad dengan seluruh orang soleh dari para Nabi-nabi ataupun Wali-wali.

    Dan masalah tawassul kalau mau kita kupas semua tidak cukup tumpukan buku yang tebal untuk menyebutkan dalil dalilnya akan tetapi kemampuan kita terbatas.

    Cukup ayat yang disebutkan di atas serta hadist dan kesepakatan para ulama, ahlul bait dan sahabat sebagai dalil serta fatwa akan kebenaran tawassul bagi kita yang buta akan agama. Dan setelah fatwa Allah Ta’ala dan RasulNya maka kita tidak menerima fatwa siapapun juga yang bertentangan dengan mereka.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:47 am on 5 June 2014 Permalink | Balas  

    adhanAsal-Usul Kumandang Adzan

    (Riwayat : Anas r.a; Abu Dawud; Al Bukhari)

    Seiring dengan berlalunya waktu, para pemeluk agama Islam yang semula sedikit, bukannya semakin surut jumlahnya. Betapa hebatnya perjuangan yang harus dihadapi untuk menegakkan syiar agama ini tidak membuatnya musnah. Kebenaran memang tidak dapat dmusnahkan.

    Semakin hari semakin bertambah banyak saja orang-orang yang menjadi penganutnya. Demikian pula dengan penduduk dikota Madinah, yang merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam pada masa-masa awalnya. Sudah sebagian tersebar dari penduduk yang ada dikota itu sudah menerima Islam sebagai agamanya.

    Ketika orang-orang Islam masih sedikit jumlahnya, tidaklah sulit bagi mereka untuk bisa berkumpul bersama-sama untuk menunaikan sholat berjama` ah. Kini, hal itu tidak mudah lagi mengingat setiap penduduk tentu mempunyai ragam kesibukan yang tidak sama. Kesibukan yang tinggi pada setiap orang tentu mempunyai potensi terhadap kealpaan ataupun kelalaian pada masing-masing orang untuk menunaikan sholat pada waktunya.

    Dan tentunya, kalau hal ini dapat terjadi dan kemudian terus-menerus berulang, maka bisa dipikirkan bagaimana jadinya para pemeluk Islam. Ini adalah satu persoalan yang cukup berat yang perlu segera dicarikan jalan keluarnya.

    Pada masa itu, memang belum ada cara yang tepat untuk memanggil orang sholat. Orang-orang biasanya berkumpul dimasjid masing -masing menurut waktu dan kesempatan yang dimilikinya. Bila sudah banyak terkumpul orang, barulah sholat jama `ah dimulai.

    Atas timbulnya dinamika pemikiran diatas, maka timbul kebutuhan untuk mencari suatu cara yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengingatkan dan memanggil orang-orang untuk sholat tepat pada waktunya tiba. Ada banyak pemikiran yang diusulkan. Ada sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktu sholat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan mudah melihat ketempat itu, atau setidak-tidaknya asapnya bisa dilihat orang walaupun ia berada ditempat yang jauh. Ada yang menyarankan untuk membunyikan lonceng. Ada juga yang mengusulkan untuk meniup tanduk kambing. Pendeknya ada banyak saran yang timbul.

    Saran-saran diatas memang cukup representatif. Tapi banyak sahabat juga yang kurang setuju bahkan ada yang terang-terangan menolaknya. Alasannya sederhana saja : itu adalah cara-cara lama yang biasanya telah dipraktekkan oleh kaum Yahudi. Rupanya banyak sahabat yang mengkhawatirkan image yang bisa timbul bila cara-cara dari kaum kafir digunakan. Maka disepakatilah untuk mencari cara-cara lain.

    Lantas, ada usul dari Umar r.a jikalau ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk sholat pada setiap masuknya waktu sholat. Saran ini agaknya bisa diterima oleh semua orang, Rasulullah SAW juga menyetujuinya. Sekarang yang menjadi persoalan bagaimana itu bisa dilakukan? Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid r.a meriwayatkan sbb :

    “Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk sholat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja.

    Orang tersebut malah bertanya,”Untuk apa?

    Aku menjawabnya,”Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan sholat.”

    Orang itu berkata lagi,”Maukah kau kuajari cara yang lebih baik?”

    Dan aku menjawab “Ya !”

    Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang , “Allahu Akbar,Allahu Akbar..”

    Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perihal mimpi itu kepada beliau. Dan beliau berkata,”Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.” Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal.”

    Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar r.a, ia juga menceritakannya kepada Rasulullah SAW. Nabi SAW bersyukur kepada Allah SWT atas semua ini.

    ***

    Tulisan diambil dari Al-Islam Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 7:36 am on 4 June 2014 Permalink | Balas  

    botol plastikBotol Plastik

    Mungkin sebagian dari anda mempunyai kebiasaan memakai dan memakai ulang botol plastik (Aqua, VIT etc), dan menaruhnya di mobil anda atau dikantor.

    Kebiasaan ini tidak baik, Kesimpulannya, plastic botol (disebut juga sebagai polyethylene terephthalate or PET) yang dipakai di botol-botol ini, mengandung zat-zat karsinogen (atau DEHA). Botol ini aman untuk dipakai 1-2 kali saja, jika anda ingin memakainya lebih lama, tidak boleh lebih dari seminggu, dan harus ditaruh di tempat yang jauh dari matahari. Kebiasaan mencuci ulang dapat membuat lapisan plastik rusak dan karsinogen itu bisa masuk ke air yang kamu minum. Lebih baik membeli botol air yang memang untuk dipakai berulang-ulang, jangan memakai botol plastik.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:27 am on 3 June 2014 Permalink | Balas  

    unta gurun pasirTabayyun

    ”Hai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka ber-tabayyun-lah (konfirmasikanlah), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu,” (QS Al Hujurat: 6).

    Suatu saat, Ummul Mukminin Aisyah mengikuti Rasulullah dalam sebuah ekspedisi untuk menyerang Banul Musthaliq yang berlokasi di dekat kota Mekah. Dalam perjalanan pulang, rombongan berkemah di dekat Madinah. Dalam kesempatan itu Aisyah keluar dari kemahnya untuk membuang hajat di suatu tempat. Setelah memenuhi hajatnya, putri Abu Bakar ini kembali ke kemah dan langsung masuk ke dalam sekedup (pelangkin) yang berada di atas punggung untanya. Menjelang rombongan berangkat, Aisyah merasa kehilangan kalung yang tadi dipakainya saat membuang hajat. Serta-merta beliau turun dari unta dan berusaha mencari-cari kalungnya yang hilang di kegelapan malam.

    Pada saat itulah rombongan tentara Rasul meneruskan perjalanan pulang ke Madinah. Para pengawal Aisyah tak menyadari kalau istri Rasul tak berada di dalam sekedupnya lagi. Ini disebabkan oleh karena pelangkin (tandu) itu begitu rapat. Unta itu berangkat ke Madinah dengan sekedup kosong, sedang Ummul Mukminim tertinggal di tempat semula. Akhirnya, ‘Aisyah hanya berbaring di tempat itu, berselimutkan kainnya, sambil pasrah kepada Allah dan berharap rombongan yang menyadari ketiadaannya, bakal kembali. Untunglah ada Shafwan bin Al Mu’aththol (seorang pemuda tampan dan tegap) yang juga tertinggal karena sedang mengurus suatu keperluan. Ia menemukan istri Rasul secara tak sengaja. Akhirnya, The First Lady itu dipersilakan naik untanya dan dituntunnya unta itu ke Madinah, sambil mengejar rombongan Nabi. Walau berusaha mengejar, ternyata rombongan Nabi tak dapat tersusul. Kedatangan Aisyah bersama Shafwan itu menimbulkan rumor.

    Dan, oleh Abdullah bin Ubay, tokoh yang dikenal penyebar kabar bohong, rumor itu semakin disebarluaskan. Di masyarakat akhirnya santer terdengar kabar, Aisyah melakukan penyelewengan. Hampir saja terjadi disintegrasi nasional gara-gara berita bohong ini. Sebab, dua suku terbesar di Madinah, yaitu Suku Aus dan Khazraj saling membela, mencurigai, dan menuduh. Suku Aus membela martabat dan kesucian Aisyah, sementara suku Khazraj membela Abdullah bin Ubay, karena dia berasal dari suku itu. Untungnya Rasulullah cepat bertindak menengahi pertikaian dua suku yang sebelumnya sudah menjadi musuh bebuyutan ini. Rasullullah saw ber-tabayyun (mengecek) kabar itu langsung pada Aisyah. Dan, ternyata hanya isu. Hal itu juga dikuatkan oleh wahyu dari Allah, QS An Nur ayat 11-19.

    Cara Rasulullah saw menangani kabar bohong itu adalah teladan bagi kita, di saat masyarakat dijejali oleh rumor, isu, dan desas-desus yang memecah-belah dan mengadu-domba umat. Melakukan tabayyun, melakukan uji kebenaran dan cek ulang adalah cara untuk menghindari terjadinya kesalahan pengambilan keputusan.

    Wallahu a’lam bishawab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:05 am on 2 June 2014 Permalink | Balas  

    salamanBiarkan Dia Berbicara

    Hari itu para pembesar Quraisy mengadakan sidang umum. Mereka memperbincangkan berkembangnya gerakan baru yang diasaskan Muhammad. Ada dua pilihan. To shoot it out atau to talk it out. Membasmi gerakan itu sampai habis atau mengajaknya bicara sampai tuntas. Pilihan kedua yang diambil.

    Untuk itu serombongan Quraisy menemui Nabi saw. Beliau sedang berada di masjid. Utbah bin Rabi’ah anggota Dar al-Nadwah (parlemen) yang paling pandai berbicara, berkata : “Wahai kemenakanku! Aku memandangmu sebagai orang yang terpandang dan termulia diantara kami. Tiba-tiba engkau datang kepada kami membawa paham baru yang tidak pernah dibawa oleh siapapun sebelum engkau. Kauresahkan masyarakat, kautimbulkan perpecahan, kaucela agama kami. kami khawatir suatu kali terjadilah peperangan diantara kita hingga kita semua binasa.

    Apa sebetulnya yang kaukehendaki. Jika kauinginkan harta, akan kami kumpulkan kekayaan dan engkau menjadi orang terkaya diantara kami. Jika kau inginkan kemuliaan, akan kami muliakan engkau sehingga engkau menjadi orang yang paling mulia. Kami tidak akan memutuskan sesuatu tanpa meminta pertimbanganmu. Atau, jika ada penyakit yang mengganggumu, yang tidak dapat kauatasi, akan kami curahkan semua perbendaharaan kami sehingga kami dapatkan obat untuk menyembuhkanmu. Atau mungkin kauinginkan kekuasaan, kami jadikan kamu penguasa kami semua.”

    Nabi saw mendengarkan dengan sabar. Tidak sekalipun beliau memotong pembicaraannya. ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, “Sudah selesaikah ya Abal Walid?” Sudah, kata Utbah. Nabi membalas ucapan Utbah dengan membaca surat Fushilat: “Ha mim. Diturunkan al-Qur’an dari Dia yang Mahakasih Mahasayang. sebuah kitab, yang ayat-ayatnya dijelaskan. Qur’an dalam bahasa Arab untuk kaum yang berilmu…..” Nabi saw terus membaca. ketika sampai ayat sajdah, ia bersujud.

    Sementara itu Utbah duduk mendengarkan sampai Nabi menyelesaikan bacaannya. kemudian, ia berdiri. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kaumnya berkata, “lihat, Utbah datang membawa wajah yang lain.”

    Utbah duduk di tengah-tengah mereka. perlahan-lahan ia berbicara, “Wahai kaum Quraisy, aku sudah berbicara seperti yang kalian perintahkan. Setelah aku berbicara, ia menjawabku dengan suatu pembicaraan. Demi Allah, kedua telingaku belum pernah mendengar ucapan seperti itu. Aku tidak tahu apa yang diucapkannya. Wahai kaum Quraisy! Patuhi aku hari ini. kelak boleh kalian membantahku. Biarkan laki-laki itu bicara. Tinggalkan dia. Demi Allah, ia tidak akan berhenti dari gerakannya. Jika ia menang, kemuliannya adalah kemulianmu juga.”

    Orang-orang Quraisy berteriak, “Celaka kamu, hai Abul Walid. Kamu sudah mengikuti Muhammad”. Orang Quraisy ternyata tidak mengikuti nasihat Utbah (Hayat al-Shahabah 1:37-40; Tafsir al-durr al-Mansur 7:309, Tafsir Ibn Katsir 4:90, Tafsir Mizan 17:371). Mereka memilih logika kekuatan, dan bukan kekuatan logika.

    Peristiwa itu sudah lewat ratusan tahun yang lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi saw. dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak Nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Yang menakjubkan kita adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh Utbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi saw. dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat kaum kafir. Kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Seperti pembesar-pembesar Quraisy, kita lebih sering memilih shoot it out!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 8:50 am on 1 June 2014 Permalink | Balas  

    istri solekhahIsteriku, Matahariku

    Saya pernah ditinggal istri seharian untuk mengikuti suatu acara. Acaranya memang bermanfaat, baik untuk istri saya maupun untuk kepentingan umat. Konsekuensinya saya harus momong lima anak mulai dari yang besar 11 tahun sampai si bungsu 2,5 tahun. Kebetulan hari itu nenek mereka sedang sibuk dan anak-anak pun sedang libur sekolah.

    Agenda yang saya lakukan pertama kali adalah memonitor apakah anak pertama dan kedua sudah mandi. Lalu saya membantu anak ketiga dan keempat untuk mandi sekaligus memandikan si bungsu. Berikutnya adalah makan pagi. Alhamdulillah, lauk dan nasi sudah disediakan istri sebelum ia berangkat. Anak pertama sampai ketiga sudah biasa makan sendiri, tapi anak keempat dan kelima ini harus saya suapi. Jangan harap mereka duduk manis saat saya suapi, saya malahan ikut berlarian kesana kemari mengejar si kecil untuk makan. Saat akan disuapi pun mereka akan berebut siapa yang harus disuapi lebih dulu.

    Agenda berikutnya adalah membersihkan rumah. Anak pertama mendapat tugas mencuci piring, sedangkan adiknya hari itu membersihkan halaman dan ruang tamu. Saya sendiri merapikan kamar tidur dan lain-lain seperti yang biasa dilakukan isteri. Sedangkan anak ketiga, keempat dan kelima asyik bermain-main. Satunya berlari-lari, yang lain main bongkar pasang dan satunya lagi bermain dengan anak tetangga. Namanya anak-anak, bermain selalu saja dihiasi dengan tangisan akibat berebut mainan yang terbatas jumlahnya. Belum lagi soal baju bersih yang berubah kotor saat dipakai bermain.

    Saat urusan bersih-bersih rumah usai, tahu-tahu waktu sudah menjelang siang. Berarti persiapan shalat dhuhur dan makan siang harus dilakukan. Alhamdulillah nasi dan sayurnya masih ada, walaupun lauknya sudah habis. Kebetulan masih ada telur. Tinggal goreng saja, pikir saya. Akhirnya saya menggoreng ceplok telur. Hasilnya lumayan walaupun sedikit gosong. Makannya seperti tadi pagi. Saya kembali mengejar kedua anak saya yang masih balita untuk disuapi. Baru kemudian dilanjutkan acara sholat dzuhur dan istirahat siang.

    Semua pekerjaan tetap bisa tertangani walaupun hasilnya tidak maksimal sebagaimana jika istri ada di rumah. Anak-anak juga tetap mandi, makan, bermain dan tidur siang di rumah walaupun tidak seceria saat ibunya ada di rumah. Rumah dan peralatan dapur juga bisa dibersihkan, tetapi memang tidak sebersih dan seasri ketika istri di rumah. Anak-anak juga tetap bisa menjalankan shalat, sekalipun ayahnya tidak bisa menjalankan sholat berjama’ah di Masjid. Saya juga masih bisa mengerjakan tugas-tugas rutin (mengajar di Pesantren), tapi tidak senyaman dibandingkan ketika ibunya anak-anak di rumah.

    Pengalaman itu membawa saya pada pemahaman bahwa keberadaan istri itu penting. Bukan semata-mata sebagai ibu rumah tangga saja tapi lebih kepada cahaya dalam keluarga, sesuatu yang melahirkan motivasi, rasa aman, kenyamanan dan keceriaan dalam satu keluarga. Keadaan ini memberikan jawaban untuk saya mengapa keluarga tanpa ibu terkesan suram atau juga kenyataan bahwa seorang anak lebih tidak siap ditinggal oleh ibunya dibandingkan oleh ayahnya.

    Begitu pentingnya makna kehadiran istri shalihah dalam satu rumah tangga membuat saya sadar bahwa di balik setiap orang besar seperti Rasulullah SAW ada istri yang mendukungnya.

    Saya pernah ditanya oleh seorang teman,” Apakah Anda ingin nikah lagi?” Saya menjawab,”Belum berpikir dan hingga sekarang tidak pernah berpikir ke arah sana.” Bukan berarti anti, apalagi mengharamkannya.

    Jawaban saya ini jujur dari hati saya yang paling dalam. Alasannya, pertama, istri saya telah memberikan kontribusi kebaikan yang sangat banyak dalam rumah tangga ini. Kedua, bagi saya keluarga itu merupakan susunan yang terdiri dari unsur-unsur kenangan, komitmen, emosi, cita-cita, markas atau pangkalan, labuhan dan sejarah. Jadi tidak bisa dirubah atau digantikan atau disempurnakan begitu saja oleh unsur lain kecuali dengan unsur yang yang ada di dalamnya. Kalau toh ada program menikah lagi, ide bukan dari saya tetapi dari istri dan tentunya berdasarkan hasil musyawarah dengan anak-anak. Karena merekalah yang akan merasakan dampak langsung, baik yang positif maupun yang negatif.

    Suatu kedzoliman manakala dalam diri kita muncul pikiran untuk menyia-nyiakan istri atau memberikan apresiasi yang rendah terhadap perkerjaan isteri. Ditinggal satu hari saja saya sudah kerepotan menghadapi pekerjaan rumah tangga dan anak-anak. Istri menghadapi hal itu seperti itu bukan sehari dua seperti saya, tapi sudah menjadi rutinitas. Sedikit pun ia tidak pernah mengeluh. Suatu kedzaliman pula jika sebagai suami, begitu pelit untuk memberi hadiah atau penghargaan, sekalipun hanya sebuah ucapan terima kasih, maaf atau kata-kata menyenangkan lainnya. Apalagi jika diingat-ingat lagi perjuangan untuk mendapatkan istri saya yang sekarang juga bisa dibilang tidak ringan.

    Semoga tidak berlebihan jika saya mengatakan dalam berbagai kesempatan bahwa istri ibarat matahari. Ia bersinar, menerangi dan menghangatkan setiap jiwa yang ada di dalam rumah. Karenanya, tetaplah bersinar wahai matahariku!

    ***

    Dari Sahabat: Dosen pada Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor

     
  • erva kurniawan 8:41 am on 31 May 2014 Permalink | Balas  

    prasangka baikHak Tetangga

    Tetangga itu ada tiga macam, ada yang hanya mempunyai satu hak, ada yang mempunyai dua hak, dan ada yang mempunyai tiga hak. Adapun tetangga yang mempunyai tiga hak ialah tetangga Muslim yang serahim. Dia mempunyai hak sebagai tetangga, sebagai Muslim dan sebagai saudara serahim. Adapun yang mempunyai dua hak ialah tetangga Muslim yang tidak serahim, dia mempunyai hak tetangga dan seiman. Sedang yang hanya mempunyai satu hak ialah tetangga yang musyrik, juga yang kafir,” demikian menurut pendapat para ulama. (lihat Alsukukul ijtima’i fil Islam).

    Cara memuliakan tetangga ada banyak macamnya. Abu Jumrah merinci beberapa di antaranya: senantiasa ingin berbuat baik untuk mereka, menasihatinya dengan nasihat yang baik, mendoakan supaya mendapatkan hidayah Allah swt, dan tidak membahayakannya. Terhadap tetangga, kita juga berkewajiban untuk menahannya dari perbuatan jelek dan munkar. Kita berhak memperlihatkan Islam pada tetangga kita, menyebutkan kebaikan dan kelebihan Islam, mendorongnya dengan penuh lemah-lembut agar mereka menerima Islam.

    Rasulullah saw menjelaskan berkaitan dengan berbuat baik dengan tetangga, seperti yang dikatakannya kepada Abu Dzar ra, “Wahai Abu Dzar, jika kamu memasak sayur, maka perbanyaklah airnya, dan berilah tetanggamu bagian dari sayur itu.” (HR. Muslim)

    Kepada para wanita Rasulullah saw, memperingatkan, “Wahai wanita-wanita muslimat, jangan ada seorang tetangga wanita menghina (menganggap remeh) tetangga wanita lain meskipun sebesar ujung kuku biri-biri.” (HR. Bukhari)

    Kepada orang yang tidak mau tahu menahu permasalahan tetangganya (cuek dan masa bodoh), Beliau memberi peringatan, “Tidak beriman kepadaku orang yang tidur malam dalam keadaan kenyang, sedang tetangga yang di sampingnya kelaparan, dan diapun mengetahuinya dan menyadarinya.” (HR. Tabrani dan al-Bazzar dengan isnad hasan)

    Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Jangan menganggap remeh berbuat baik kepada tetangganya, meskipun hanya sedikit.” Sementara itu Imam Ghazali secara lebih rinci menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan masalah tersebut, antara lain: Harus memulai memberi salam, banyak berbicara dengannya, jangan kerap bertanya mengenai keadaannya yang menyebabkan mereka bingung, menjenguk yang sakit, bertakziyah, menyertainya jika mereka kena musibah, ikut merasakan senang jika mereka senang, memaafkan kekurangan dan kekeliruannya, tidak mengintip dan membuka rahasianya, tidak menempelkan batang kayu pada dinding rumahnya, tidak menumpahkan air di depan rumahnya, tidak menyempitkan jalan menuju rumahnya.

    Selanjutnya Al-Ghazali menambahkan, hendaknya kita selalu menutup aib dan kesalahannya, dan tidak membukanya, turut memantau (membantu mengawasi) rumahnya jika mereka sedang bepergian, tidak mendengar pembicaraannya, memalingkan mata dari memandang istrinya, dan menunjukkan kepada mereka apa yang tidak mereka ketahui berkenaan dengan masalah-masalah agama.

    Hak tetangga itu akan lebih besar lagi jika mereka itu seorang anak yatim, janda fakir, miskin atau orang yang sudah tua renta, terlebih bila sudah tidak ada yang mengurus lagi. Semoga kita dapat menjalankannya. Amin.

    ***

    Artikel Sdr.Anom

     
  • erva kurniawan 8:34 am on 30 May 2014 Permalink | Balas  

    sholatTiga Hal Membawa Keuntungan

    Pada suatu hari Imam Syafi’i ra berkunjung ke rumah Imam Ahmad bin Hambal. Seusai makan malam bersamanya, Imam Syafi’i masuk ke kamar yang telah disediakan untuknya, beliau segera berbaring hingga esok fajar.

    Puteri Imam Ahmad yang mengamati Imam Syafi’i sejak awal kedatangannya hingga masuk kamar tidur, terkejut melihat teman dekat ayahnya itu. Dengan terheran-heran ia bertanya, “Ayah…, Ayah selalu memuji dan mengatakan bahwa Imam Syafi’i itu seorang ulama yang amat alim. Tapi setelah kuperhatikan dengan seksama, pada dirinya banyak hal yang tidak berkenan di hatiku, dan tidak sealim yang kukira.”

    Imam Ahmad agak terkejut mendengar perkataan puterinya. Ia balik bertanya, “Ia seorang yang alim, anakku. Mengapa engkau berkata demikian?”

    sang puteri berkata lagi, “Aku perhatikan ada tiga hal kekurangannya, Ayah. Pertama, pada waktu disuguhi makanan, makannya lahap sekali. Kedua, sejak masuk ke kamarnya, ia tidak shalat malam dan baru keluar dari kamarnya sesudah tiba shalat shubuh. Ketiga, ia shalat shubuh tanpa berwudhu.”

    Imam Ahmad merenungkan perkataan puterinya itu, maka untuk mengetahui lebih jelasnya dia menyampaikan pengamatan puterinya kepada Imam Syafi’i.

    Maka Imam syafi’i tersenyum mendengar pengaduan puteri Imam Ahmad tersebut. Lalu ia berkata, “Ya Ahmad, ketahuilah olehmu. Aku banyak makan di rumahmu karena aku tahu makanan yang ada di rumahmu jelas halal dan thoyib. Maka aku tidak meragukannya sama sekali. Karena itulah aku bisa makan dengan tenang dan lahap. Lagipula aku tahu bahwa engkau seorang pemurah. Makanan seorang pemurah adalah obat, sedangkan makanan orang kikir adalah penyakit. Aku makan semalam bukan untuk kenyang, akan tetapi untuk berobat dengan makananmu itu, ya Ahmad. Sedangkan mengapa aku semalam tidak shalat malam karena ketika aku meletakkan kepalaku di atas bantal tidur, tiba-tiba seakan-akan aku melihat di hadapanku kitab Alloh dan sunnah Rasul-Nya. Dengan izin Alloh, malam itu aku dapat menyusun 72 masalah Ilmu Fiqh Islam sehingga aku tidak sempat untuk shalat malam. Sedangkan kenapa aku tidak wudhu lagi ketika shalat shubuh karena aku pada malam itu tidak dapat tidur sekejap pun. Aku semalam tidak tidur sehingga aku shalat fajar dengan wudhu shalat Isya”.

    ***

    (Abu Abdurrahman Ali – khasanah no.21 th.ix)

     
  • erva kurniawan 8:16 am on 29 May 2014 Permalink | Balas  

    siluet burungAl-Balkhi dan Si Burung Pincang

    Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.

    Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-Balkhi, sahabatnya. “Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?”

    “Dalam perjalanan”, jawab al-Balkhi, “Aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan”.

    “Keanehan apa yang kamu maksud?” tanya Ibrahim bin Adham penasaran.

    “Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak”, jawab al-Balkhi menceritakan, “Aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati. “Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa”.

    “Tidak lama kemudian”, lanjut al-Balkhi, “Ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat”.

    “Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?” tanya Ibrahim bin Adham yang belum mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.

    “Maka aku pun berkesimpulan”, jawab al-Balkhi seraya bergumam, “Bahwa Sang Pemberi Rizki telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku sekali pun aku tidak bekerja”. Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang saat itu juga”.

    Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, “wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah?”

    Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, “wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah guru kami yang baik”. Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat tertunda.

    Dari kisah ini, mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya: “Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud ‘alaihis salam makan dari hasil jerih payahnya sendiri” (HR. Bukhari).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 8:24 am on 28 May 2014 Permalink | Balas  

    Seandainya pemimpin itu seperti Umar bin Khattab r.a. 

    pemimpin1Seandainya Pemimpin itu Seperti Umar bin Khattab r.a.

    Beberapa kisah pendek kebijaksanaan kepemimpinan Umar bin Khattab r.a. (Maaf, jika telah pernah mendengar kisahnya)

    Menjalankan Pemerintahan

    Pada suatu hari, Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a naik mimbar dan berkhutbah, “Wahai, kaum muslimin! Apakah tindakanmu apabila aku memiringkan kepalaku ke arah dunia seperti ini?” (lalu beliau memiringkan kepalanya).

    Seorang sahabat menghunus pedangnya. lalu, sambil mengisyaratkan gerakan memotong leher, ia berkata, “Kami akan melakukan ini.” Umar bertanya, “maksudmu, kau akan melakukannya terhadapku?” Orang itu menjawab, “Ya!”

    lalu Amirul Mukminin berkata, “Semoga Allah memberimu rahmat! Alhamdulillah, yang telah menjadikan di antara rakyatku orang apabila aku menyimpang dia meluruskan aku.”

    Menentang Pemborosan

    Umar bin Khattab r.a mendengar bahwa salah seorang anaknya membeli cincin bermata seharga seribu dirham. ia segera menulis surat teguran kepadanya dengan kata-kata sebagai berikut:

    “Aku mendengar bahwa engkau membeli cincin permata seharga seribu dirham. Kalau hal itu benar, maka segera juallah cincin itu dan gunakan uangnya untuk mengenyangkan seribu orang yang lapar, lalu buatlah cincin dari besi dan ukirlah dengan kata-kata,

    “Semoga Allah merahmati orang yang mengenali jati dirinya.”

    Khalifah Umar Meminjam Uang

    Pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab r.a membutuhkan uang untuk keperluan pribadi. ia menghubungi Abdurrahman bin ‘Auf, sahabat yang tergolong kaya, untuk meminjam uang 400 dirham.

    Abdurrahman bertanya, “mengapa engkau meminjam dari saya? Bukankah kunci baitul maal (kas negara) ada di tanganmu? mengapa engkau tidak meminjam dari sana?”

    Umar r.a menjawab, Aku tidak mau meminjam dari baitul maal. Aku takut pada saat maut merenggutku, engkau dan segenap kaum muslimin menuduhku sebagai pemakai uang baitul maal. Dan kalau hal itu terjadi, di akhirat amal kebajikanku pasti dikurangi. Sedangkan kalau aku meminjam dari engkau, jika aku meninggal sebelum aku melunasinya, engkau dapat menagih utangku dari ahli warisku.”

    Umar Mengakui Kesalahan

    Saat itu Umar bin Khattab r.a sedang berkhutbah,” Jangan memberikan emas kawin lebih dari 40 uqiyah (1240 gram). Barangsiapa melebihkannya maka kelebihannya akan kuserahkan ke baitul maal.”

    Dengan berani, seorang wanita menjawab,”Apakah yang dihalalkan Allah akan diharamkan oleh Umar? Bukankah Allah berfirman,……sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka sejumlah harta, maka janganlah kamu mengambil dari padanya sedikitpun………(An Nisaa':20) Umar berkata,” Benar apa yang dikatakan wanita itu dan Umar salah.”

    Memutuskan Perkara

    Seorang wanita mengadu kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a, bahwa ia diperkosa. Karena ia melawan dan memberontak, maka air mani lelaki tersebut tertumpah dan mengotori pakaiannya. Sebagai barang bukti, diperlihatkannya pakaiannya yang terkena tumpahan cairan putih. Umar r.a. tidak segera percaya terhadap wanita itu. Ia meminta pendapat Ali bin Abi Thalib r.a.

    Ali r.a berkata, “Sirami tumpahan putih itu dengan air panas. Kalau bercak itu membeku, maka itu pasti putih telur. Dan kalau ia hilang dan lumat bersama air, maka itu adalah air mani.”

    Ketika bercak itu disiram air panas, ternyata ia membeku. Umar r.a dan Ali r.a pun memutuskan bahwa pengaduan wanita itu palsu.

    Umar r.a. berkata kepada wanita itu, ” Bertakwalah kamu kepada Allah, wahai wanita! Pengaduanmu ternyata bohong dan tuduhanmu palsu.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 8:00 am on 27 May 2014 Permalink | Balas  

    muslimat-air-mata1Lelaki dan Air Mata

    Rasanya mungkin aneh sewaktu saya mengatakan pada seseorang “Ayolah kawan, menangislah, Jangan simpan tangismu kalau memang ada yang ingin kamu tangisi”. Mungkin (lagi !) hal tersebut tidak akan menjadi aneh kalau saya mengatakan hal tersebut pada seorang teman wanita, tapi masalahnya saya mengatakannya pada seorang teman lelaki. Namun, apakah pendapat seperti itu memang benar ataukah salah ? Tapi satu hal yang pasti, saya mengatakan hal tersebut bukan lantaran ingin menunjukkan saya lebih tegar dibanding dia dan ingin menunjukkan kelemahannya, atau biar saya bisa berbicara “ternyata dia seorang yang cengeng” atau pendapat-pendapat yang bertendensi melemahkan kaum lelaki lainnya. Tentu saya tidak berani, sebab dia ataupun kaum lelaki lainnya pasti tidak menyukai hal tersebut dan saya pasti akan mendapatkan kritik yang begitu banyak.

    Ya, saya berbicara seperti itu pada teman saya karena saya merasa bahwa airmata itu bukan hanya milik kaum hawa saja, dan ini diperkuat oleh tazkiah dari sesorang yang dimuat disalah satu majalah ibukota.

    Airmata hanya bisa keluar dari kehalusan perasaan ketika bersentuhan dengan hal-hal yang mengusik hati nurani kita. Tangis dan airmata tidak lantas identik dengan wanita. Namun demikian, bukan berarti lelaki itu makhluk yang tidak punya perasaan, cuma kadarnya saja yang berbeda. Yang jelas, secara umum laki-laki itu lebih “miskin” perasaannya dari pada wanita.

    Lelaki yang gampang menangis juga bukan lelaki banci, dan tentu saja predikat ini sungguh sangat merendahkan derajat dan martabatnya serta sangat menyinggung harga dirinya sebagai makhluk yang (maaf) superior, sehingga menangis adalah hal yang tabu dan pantangan bagi laki-laki. Maka, sebagai laki-laki harus tahan dalam situasi apapun, jangan sampai ada butir-butir bening yang menetes dikedua pipinya, apalagi sampai dilihat orang lain.

    Kurang proporsionalnya laki-laki dalam memandang tangis dan airmata ini pada akhirnya akan menjadikan kaum lelaki bertambah “miskin” kehidupan emosionalnya. Sehingga sosok yang tampak adalah sosok yang kaku, penuh dengan perhitungan-perhitungan, matematis dan jauh dari sosok yang lembut hati.

    Lelaki boleh menangis dan tetesan air matanya bukan sesuatu hal yang tabu untuk disaksikan, selama tangisannya bukan karena kecengengan, tapi menunjukkan betapa halus dan lembutnya persaan yang ia miliki. Kehalusan dan kelembutan perasaan ini, sama sekali tidak akan mengurangi sosok pribadi yang tegar dan tegas, tapi justru akan menjadian ia sebagai sosok pribadi yang ideal untuk dijadikan teladan bagi orang lain. Sebab kehalusan dan kelembutan perasaan akan menghasilkan sikap sabar, sedangkan ketegaran dan ketegasan akan menghasilkan sifat benar, sementara sabar dan benar adalah dua pilar yang harus dimiliki oleh laki-laki yang ingin sukses menjalankan fungsi ke-qowam-annya.

    Memupuk sikap benar dengan mengenyampingkan sifat sabar, menyebabkan sayap’ ke-qowam-an menjadi tidak seimbang. Mengasuh kehalusan, kelembutan, dan kepekaan rasa, sebenarnya bukan hanya untuk kaum wanita, sebab dalam batas yang proposional menjadi hal yang harus dimiliki juga oleh laki-laki.

    Misalnya dalam hal kewajibannya mendidik wanita yang menjadi istrinya, maka mau tidak mau dia harus menyelami kehidupan emosional dan karekteristik perasaan istrinya, sehingga dia akan mampu ‘mengendalikan’ istrinya itu. apalagi bila istrinya itu memiliki karekteristik yang khas dan sedikit ‘rumit’, tentu saja ini semua membutuhkan kepekaan rasa.

    Demikian juga tangis dan air mata, bukan hanya milik wanita, tapi juga milik laki-laki. Maka, jangan simpan tangismu wahai lelaki, bila ada sesuatu yang membuat kau ingin menangis, sebab tangis tidak selamanya identik dengan kecengengan kalau itu benar keluar dari kehalusan dan kelembutan rasa. sementara kehalusan dan kelembutan rasa bukan hanya milik kaum wanita, tapi juga milik lelaki, sebab adalah sesuatu yang universal, setiap orang pasti punya meski dengan kadar yang bebeda.

    Wallahu A’lam bisshawab. Semoga bermanfaat, amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:56 am on 26 May 2014 Permalink | Balas  

    alquran1Bidadari untuk Umar r.a.

    Umar r.a. adalah salah satu dari sahabat Rasulullah SAW. Semenjak ia memeluk islam kaum muslimin seakan memperoleh suatu kekuatan yang sangat besar. Sejak itulah mereka berani sholat dan thowaf dika’bah secara terang-terangan. Umar r.a. adalah seorang yang waro’, ia sangat teliti dalam mengamalkan Islam. Umar r.a. mempelajari surah Al-Baqoroh selama 10 tahun, ia kemudian melapor kepada Rasulullah SAW, “wahai Rasulullah SAW apakah kehidupanku telah mencerminkan surah Al-Baqoroh, apabila belum maka aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya”. Rasulullah SAW menjawab, “sudah…”!. Umar r.a. mengamalkan agama sesuai dengan kehendak Allah SWT. Karena kesungguhannya inilah maka banyak ayat di Al-Qur’an yang diturunkan Allah SWT berdasarkan kehendak yang ada pada hatinya, seperti mengenai pengharaman arak, ayat mengenai hijab, dan beberapa ayat Al-Qur’an lainnya.

    Rasulullah SAW seringkali menceritakan kepada para sahabatnya mengenai perjalannya mi’raj menghadap Allah SWT. Beliau SAW sering pula menceritakan bagaimana keadaan surga yang dijanjikan Allah SWT kepada sahabat-sahabatnya. Suatu hari ketika Rasulullah SAW dimi’rajkan menghadap Allah SWT malaikat Jibril AS memperlihatkan kepada Beliau SAW taman-taman surga. Rasulullah SAW melihat ada sekumpulan bidadari yang sedang bercengkrama. Ada seorang bidadari yang begitu berbeda dari yang lainnya. Bidadari itu menyendiri dan tampak sangat pemalu. Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril AS, “wahai Jibril AS bidadari siapakah itu”?. Malaikat Jibril AS menjawab, “Bidadari itu adalah diperuntukkan bagi sahabatmu Umar r.a.”. Pernah suatu hari ia membayangkan tentang surga yang engkau ceritakan keindahannya. Ia menginginkan untuknya seorang bidadari yang berbeda dari bidadari yang lainnya. Bidadari yang diinginkannya itu berkulit hitam manis, dahinya tinggi, bagian atas matanya berwarna merah, dan bagian bawah matanya berwarna biru serta memiliki sifat yang sangat pemalu. Karena sahabat-mu itu selalu memenuhi kehendak Allah SWT maka saat itu juga Allah SWT menjadikan seorang bidadari untuknya sesuai dengan apa yang dikehendaki hatinya”.

    ***

    (Diambil dari Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Poliyama Widya Pustaka)

     
  • erva kurniawan 7:50 am on 25 May 2014 Permalink | Balas  

    kerang mutiaraKalung Mutiara Imitasi

    Ini cerita tentang Muthia, seorang gadis kecil yang ceria berusia Lima tahun.

    Pada suatu sore, Muthia menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Muthia melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik.

    Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Muthia sangat ingin memilikinya. Tapi… Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik. Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya. “Ibu, bolehkah Muthia memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi… “

    Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Muthia. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Muthia yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten. “Oke … Muthia, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?”

    Muthia mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya. “Terima kasih…, Ibu”

    Muthia sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau.

    Setiap malam sebelum tidur, ayah Muthia membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya “Muthia…, Muthia sayang ngga sama Ayah ?”

    “Tentu dong… Ayah pasti tahu kalau Muthia sayang Ayah!”

    “Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu…”

    “Yah…, jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil “si Ratu” boneka kuda dari nenek…! Itu kesayanganku juga”

    “Ya sudahlah sayang,… ngga apa-apa !”. Ayah mencium pipi Muthia sebelum keluar dari kamar Muthia.

    Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi, “Muthia…, Muthia sayang nggak sih, sama Ayah?”

    “Ayah, Ayah tahu bukan kalau Muthia sayang sekali pada Ayah?”.

    “Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu.”

    “Jangan Ayah… tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini..” kata Muthia seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

    Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, Muthia sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Muthia rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. “Ada apa Muthia, kenapa Muthia ?”

    Tanpa berucap sepatah pun, Muthia membuka tangan-nya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya.

    “Kalau Ayah mau… ambillah kalung Muthia.”

    Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Muthia. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih… sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Muthia.

    “Muthia… ini untuk Muthia. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau.”

    Ya, ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Muthia.

    Demikian pula halnya dengan Alloh SWT terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Muthia. Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Alloh SWT mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik. Semoga bermanfaat, amin.

     
  • erva kurniawan 7:42 am on 24 May 2014 Permalink | Balas  

    istiqomahTetap Istiqomah

    Istiqomah adalah sikap hidup seorang muslim di dalam menjalani kehidupan ini. Ia berjalan lurus ke depan menuju keridloan Allah. Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafy r.a. pernah meminta mutiara nasihat kepada Rasulullah saw. untuk memandu jalan hidupnya. Ia mengatakan: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada saya suatu kalimat yang menyimpulkan pengertian Islam, sehingga saya tidak perlu bertanya kepada yang lain”. Nabi Muhammad saw. menjawab:

    “Katakanlah aku percaya kepada Allah, kemudian tetaplah lurus (tetap konsekuen) dengan pengakuan itu” (HR. Muslim).

    Imam Nawawi dalam kitab Riyadlus Shalihin menerangkan maksud kalimat Rasulullah saw. itu adalah: Perbaharuilah imanmu dengan penuh kesadaran, dengan bentuk ucapan yang disertai pengertian dan tanggung jawab atas pengakuan ucapan tersebut.

    Sikap istiqomah itu itu merupakan perintah Allah kepada Rasul-Nya. Dia SWT berfirman:

    Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS. Huud 112).

    Menurut Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya: istiqomah adalah terus-menerus di suatu arah tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri; maka tetap istiqomahlah dalam mentaati perintah Allah. Ad Darimi dalam Musnadnya meriwayatkan dari Utsman bin Hadlir Al Azadi yang mengatakan: “Aku masuk ke ruangan Ibnu Abbas sambil berkata: Nasihatilah aku!” Dia menjawab: “Ya, hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah dan istiqomahlah. Ikuti Sunnah Rasulullah dan janganlah membuat bid’ah”.

    Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menejelaskan bahwa Allah SWT memerintah para hamba-Nya yang mukmin agar menetapi dan men-dawam-kan sikap istiqomah. Sikap istiqomah itulah yang sangat membantu kaum muslimin mendapatkan pertolongan dan kemenangan atas musuh-musuhnya.

    Bentuk-bentuk istiqomah?

    Istiqomah memegang Islam tentu pada seluruh persoalan kehidupan. Sebab Islam itu mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, Sang Pencipta dan Pemeliharan alam semesta. Dalam hal ini Islam memiliki perangkat peraturan tentang aqidah dan ibadah. Islam mewajibkan seorang muslim memegang keimanannya kepada Islam sampai akhir hayatnya dan mengharamkan murtad. Islam juga mewajibkan agar seorang muslim hanya beribadah kepada Allah semata. Allah SWT berfirman:

    Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.(QS. Al Kahfi 110).

    Islam memiliki seperangkat peraturan tentang makanan, pakaian, dan akhlaq untuk mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Seorang muslim dituntut konsisten dengan aturan-aturan itu sehingga ia tetap lurus di jalan taqwa. Sekalipun untuk itu mungkin ia mengalami kerugian materi. Misalnya saja, seorang yang telah berjanji untuk datang tepat waktu harus menyewa taksi agar bisa memenuhi janji itu.

    Ketika seorang muslim dituntut adil, ia berlaku adil kepada semua orang, termasuk kepada diri sendiri. Ia menjauhkan diri dari sikap culas, yakni menuntut adil buat dirinya, tetapi melalaikan keadilan itu terhadap orang lain, lebih-lebih kepada orang yang dianggap musuh. Seorang yang tetap istiqomah, tetap pula keadilannya kepada orang lain, sekalipun kepada musuhnya. Ia hanya ingin memenuhi seruan Allah:

    Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. AL Maidah 8).

    Dengan kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui segala perbuatannya, seorang muslim akan tetap istiqomah untuk segala persoalan hidup, baik ketika ia melihat dirinya, ia berhubungan dengan Rabb-nya, maupun ketika berubungan dengan manusia lainnya. Dalam masalah muamalah misalnya, seorang muslim akan tetap memegang aturan Islam dalam masalah muamalah. Ia akan berjual beli menurut hukum syariah Islam. Ia akan meninggalkan riba, sekalipun dalam riba itu ada keuntungan materi. Jika ada perselisihan di antara dia dengan orang lain ia akan tunduk dengan petunjuk hukum Allah dan Rasul-Nya, sekalipun dengan hukum Allah itu mungkin dia akan kalah dalam perkara.

    Barakah dari sikap istiqomah

    Dan orang yang tetap istiqomah akan mendapatkan barakah dari Allah SWT dengan diberi rizki oleh nya. Dia berfirman :

    Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).(QS. Al Jin 16).

    Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Nabi yang termasuk asabiqunal awwalun yang tetap istiqomah dalam perjuangan menegakkan agama Islam baik di Makkah maupun di Madinah ternyata tidak pernah kekurangan rizki sampai akhir hayatnya. Demikian juga Utsman bin Affan dan sahabat-sahabat lainnya yang ahli dalam perdagangan.

    Allah memastikan bahwa orang yang istiqomah adalah tidak akan dirundung rasa takut dan sedih. Dia SWT berfirman:

    Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.(QS. Al Ahqaf 13).

    Dalam ayat lain Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang yang tak punya rasa takut dan sedih hati itu adalah para wali Allah. Allah SWT berfirman:

    Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS. Yunus 62).

    Ya, para wali Allah itu adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Mereka adalah orang-orang yang tenang dan tegar menghadapi segala persoalan hidup, serta tenang dan tegar pula menghadapi kematian.

    Ketika kaum muslimin masih terdiri dari kelompok dakwah di Makkah, dan Quraisy pun menghadapi mereka dengan berbagai cara, termasuk dengan cara fisik, khususnya terhadap mereka yang lemah (mustadl’afin), di antaranya yang dilakukan Quraisy terhadap Yasir dan keluarganya. Melihat kondisi yang menyedihkan itu, lebih-lebih Rasulullah saw. tidak punya otoritas untuk membebaskan mereka, beliau menguatkan iman mereka dengan menyuruh bersebar. Beliau saw. bersabda:

    “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya janji Allah untuk kalian adalah sorga”.

    Sumayyah dengan tegar menghadapi kematian dengan menjawab ucapan Rasulullah saw. itu: “Kami telah melihatnya dengan jelas wahai Rasulullah”.

    Sikap istiqomah itupun masih tetap dimiliki oleh kaum muslimin tatakala mereka sudah memiliki negara di Madinah. Setelah perang Uhud pernah terjadi tragedi yang menimpa enam orang pasukan intelejen kaum muslimin di daerah Raji’. Yakni mereka dikepung Bani Hudzail. Tiga orang gugur sebagai syahid. Tiga orang sisanya ditawan, yakni Abdullah bin Thariq, Zaid bin Datsanah, dan Khubaib bin Adi. Abdullah bin Thariq yang berhasil melepaskan ikatan di tangannya akhirnya mereka bunuh, sedangkan kedua sahabatnya dibawa ke Makkah dan dijual kepada para pembesar Quraisy. Kedua sahabat rasulullah saw. dihukum mati.

    Tapi keduanya yang lurus dalam iman dan amal ini dengan tenang menghadapi kematian itu tanpa keraguan pun demi membela agama Allah. Zaid bin Datsanah tatkala hendak dieksekusi ditanya oleh Abu Sufyan: “Hai Zaid, aku minta engkau bersumpah demi Allah, apakah engkau engkau senang seandainya Muhammad saat ini berada di sisi kami untuk menggantikanmu, lalu kami penggal lehernya sedangkan engkau dipulangkan kepada keluargamu?”.

    Dengan tegas Zaid menjawab: “Demi Allah, seandainya Muhammad saat ini disakiti oleh sebuah duri di rumahnya, aku tidak akan rela berdiam diri di tengah-tengah keluargaku”.

    Mendengar ucapan yang tegas dan mengagumkan itu Abu Sufyan berkata kepada orang-orang yang hadir di tempat pembantaian itu : “Aku tidak pernah melihat seorang manusia yang mencintai seseorang seperti cintanya para sahabat Muhammad mencintai Muhammad”.

    Khubaib bin Adi yang dieksekusi di tempat yang sama diberi izin untuk melaksanakan sholat sepuas-puasnya sebelum eksekusi dilaksanakan. Setelah selesai sholat Khubaib berkata kepada mereka: “Demi Allah, seandainya kalian tidak menganggap aku mengulur-ngulur waktu dari pelaksanaan eksekusi ini dengan sholat, niscaya aku akan memperbanyak sholat”. Khubaib pun disalib dan dibunuh.

    Jawaban istiqomah ini pulalah yang disebut Nabi saw. tatkala menerangkan bagaimana pejuang agama di masa lalu. Beliau mengatakan: “Sungguh telah berlalu orang-orang sebelum kalian. Mereka itu digergaji dengan gergaji dan disalib di pokok-pokok kayu dan disisir dengan sisir besi sehingga daging mereka robek. Namun itu semua tidak memalingkan mereka dari agamanya”.

    Sikap istiqomah itu pulalah yang menyebabkan para mantan tukang sihir Fir’aun bersikap tegar dan tenang menghadapi ancaman hukuman dari Firaun lantaran keimanan mereka. Dengan tegar mereka berkata kepada Firaun:

    Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mu`jizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)” (QS. Thaha 72-73).

    Al Ustadz Muhamamd Ali As Shabuni mengutip keterangan Ikrimah dalam tafsir Al Qurthubi tentang para mantan tukang sihir Firaun yang beriman kepada apa yang dibawa Musa itu. Kata Ikrimah: Tatkala mereka bersujud Allah menampakkan kepada mereka di dalam sujud mereka tempat-tempat mereka di surga. Lantaran itulah mereka bisa berkata demikian” (lihat As Shabuni, Shafwatut Tafaasiir, Juz II/220).

    Khatimah

    Itulah teladan orang-orang mukmin di masa lalu yang tetap istiqomah sekalipun menghadapi resiko dibunuh. Maka bagaimana pula kita bisa tidak istiqomah dalam mengemban Islam dan mundur dari perjuangan menegakkan syariat Allah ini kalau hanya menghadapi resiko-resiko duniawi, seperti susah mendapatkan pekerjaan, jabatan, harta dan lain-lain yang masih di bawah resiko kematian?

    ***

    Buletin AL-IHSAN

     
  • erva kurniawan 7:21 am on 23 May 2014 Permalink | Balas  

    hidayah-allahAllah Menolak 1 Doa Dari 3 Doa Rasulullah S.A.W

    ‘Amir bin Said dari bapaknya berkata bahwa : “Suatu hari Rasulullah S.A.W telah datang dari daerah berbukit. Apabila Rasulullah S.A.W sampai di masjid Bani Mu’awiyah lalu beliau masuk ke dalam masjid dan menunaikan sholat dua rakaat. Maka kami pun turut sholat bersama dengan Rasulullah S.A.W.

    Kemudian Rasulullah S.A.W berdoa dengan doa yang agak panjang kepada Allah S.W.T :

    Setelah selesai beliau berdoa maka Rasulullah S.A.W pun berpaling kepada kami lalu bersabda : “Aku telah memohon kepada Allah S.W.T tiga perkara, dalam tiga perkara itu Dia cuma memperkenankan dua perkara saja dan satu lagi ditolak.

    1. Aku telah memohon kepada Allah S.W.T supaya ia tidak membinasakan umatku dengan musim susah yang berpanjangan. Permohonanku ini diperkenankan oleh Allah S.W.T.
    2. Aku telah memohon kepada Allah S.W.T supaya umatku ini jangan dibinasakan dengan bencana tenggelam (seperti banjir besar yang telah melanda umat Nabi Nuh s.a). Permohonanku ini telah diperkenankan oleh Allah S.W.T.
    3. Aku telah memohon kepada Allah S.W.T supaya umatku tidak dibinasakan karena pergaduhan sesama mereka (peperangan, pergaduhan antara sesama Islam). Tetapi permohonanku tidak diperkenankan (telah ditolak) oleh Allah.

    Apa yang kita lihat hari ini ialah negara-negara Islam sendiri perang satu dengan lainnya, hari ini orang Islam perang dengan saudara sendiri, orang kafir menepuk tangan dari belakang, apakah ini terlihat baik?

    ***

    (Diambil dari Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Poliyama Widya Pustaka)

     
  • erva kurniawan 7:16 am on 22 May 2014 Permalink | Balas  

    itikaf2Bagaimana Anda beramal?

    Kita menjadi muslim sudah lama, Alhamdulillah. Tentunya amal-amalan ibadah di dalam dienul Islam telah banyak yang kita lakukan. Shalat, baik yang wajib maupun sunnah, shaum, zakat, infak, berdoa, dan masih banyak lagi amal yang telah kita laksanakan. Tapi bagaimana kedudukan amal tersebut di sisi Allah? Pernahkah kita merenungkannya?

    Ada orang yang melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya. Ada juga yang sangat giat beribadah, ibadahnya banyak sekali, setiap waktunya digunakan untuk beribadah kepada Allah. Bahkan istri dan anaknya hampir-hampir tidak diurusinya. Namun ada juga yang tidak peduli dengan ibadahnya, kalau ia sedang ingin beribadah, beribadah, kalau sedang malas, maka ia meninggalkannya, walaupun itu ibadah wajib. Ada juga yang berprinsip asal gugur kewajiban. Ada juga yang beribadah hanya berdasarkan adat istiadat setempat.

    Kita termasuk yang mana?

    Terlepas dari apa jawaban Anda, ada yang ingin saya sampaikan mengenai ibadah ini, semoga Anda mau menerima dan merenungkannya. Semoga bermanfaat bagi Anda. Anggaplah ini sebagai nasihat, bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda: “dien itu nasihat?” Bukankah nasehat itu bermanfaat bagi setiap muslim?

    Saudaraku, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita,

    Ada seorang ulama menulis di salah satu bukunya: “Sebelum engkau melangkah satu pun-wahai saudaraku muslim- maka engkau harus tahu jalan keselamatanmu, janganlah engkau memforsir dirimu dengan banyak amalan, karena boleh jadi orang yang banyak beramal tidak mendapatkan apa-apa, kecuali letih dan lelah.” (ucapan Syaikh Husain Al-Awaisyah di dalam bukunya Al-Ikhlas, sebagaimana dinukil di dalam “Fikih Nasehat” hal.61)

    Perkataan ulama tersebut sangat benar. Apakah Anda sependapat dengan saya? Bagaimana tidak, kita sudah berpayah-payah, badan kita capek, letih, dan lelah. Kita juga telah menghabiskan waktu, tanaga, dan biaya yang kita punya. Eh, ternyata kita tidak mendapatkan apa-apa. Bukankah ini sia-sia? Kita menjadi orang yang merugi. Kalau tahu begini, mendingan kita diam saja di rumah. Bukankah begitu?

    Tapi bagaimana mungkin, orang banyak beramal kok tidak mendapatkan apa-apa? Itu tidak masuk akal! Niat ibadah yang kita lakukan kan ikhlas untuk Allah. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda (yang artinya):

    “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya”?

    Niat kita kan baik, beribadah kepada Allah. Masa’ Allah tidak menerimanya?

    Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatNya kepada kita,

    Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman di kitabnya yang mulia, Al-Qur’anul Karim: (yang artinya):

    ”Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al-Kahfi: 103-104)

    Perhatikanlah ayat di atas. Apa komentarmu?

    Ketahuilah, bahwa agar amal ibadah yang kita lakukan diterima di sisi Allah, disyaratkan bahwa ibadah itu harus benar. Dan ibadah itu tidak dikatakan benar kecuali dengan dua syarat, yaitu:

    • Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar maupun kecil.
    • Sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (mutaba’ah).

    Syarat pertama adalah konsekuensi dari syahadat Laa ilaaha illallah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya untuk Allah dan jauh dari syirik kepadaNya.

    Adapaun syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya ta’at kepada Rasul, mengikuti syariatnya dan meninggalkan bid’ah atau ibadah yang diada-adakan.

    Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya):

    “Agar Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (Surat Al-Mulk:2)

    Perhatikanlah, Allah tidak berfirman “…yang lebih banyak amalnya”, tetapi Allah berfirman (yang artinya): “…yang lebih baik amalnya.”

    Apakah Engkau mengetahui apa yang dimaksud dengan “lebih baik amalnya”? Seorang ulama besar, Fudhail bin Iyadh, telah menjelaskan kepada kita; maksud dari “Lebih baik amalnya” yaitu: “Seikhlas-ikhlasnya, dan sebenar-benarnya.” Kemudian beliau (Fudhail bin Iyadh) berkata pula:

    “Sesungguhnya suatu amalan jika dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidaklah diterima, dan apabila amalan tersebut benar tetapi tidak dilakukan dengan ikhlas maka tidak diterima pula, sampai amalan tersebut dilakukan dengan ikhlas dan benar. Ikhlas apabila dilakukan karena Allah Ta’ala dan benar apabila sesuai dengan sunnah (Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).”

    Sekarang kita telah memahaminya bukan?

    Kedua syarat ibadah tadi, yaitu ikhlas dan sesuai contoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam harus ada kedua-duanya. Tidak bisa hanya salah satu saja. Ikhlas tapi tidak sesuai contoh Rasulullah, maka tertolak. Begitu juga sebaliknya; sesuai contoh Rasulullah tapi tidak ikhlas, maka yang demikian sia-sia.

    Syarat Pertama: Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar maupun kecil.

    Ikhlas artinya memurnikan tujuan bertaqarrub kepada Allah Azza wa Jalla dari hal-hal yang mengotorinya. Arti lainnya; menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan. Atau; mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berkonsentrasi kepada Khaliq.

    Syarat kedua: Sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (mutaba’ah).

    Kita diperintah untuk mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah berfirman (yang artinya):

    “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (Al-Hasyr:7)

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya):

    “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan kami yang bukan darinya maka tertolak.” (HR. Bukhari)

    Dalam riwayat Muslim:

    “Barangsiapa mengamalkan satu amalan yang tidak ada padanya urusan kami maka tertolak.”

    Ayat dan hadits di atas memerintahkan kita untuk mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita dilarang membuat ataupun mengamalkan bid’ah (sesuatu yang baru, menyerupai syariat dan dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah)

    Ketahuilah; di dalam buku: Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah, Syaikh Utsaimin –rahimahullah- menjelaskan bahwa mutaba’ah (mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) tidak akan tercapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syariat dalam enam perkara,

    1. Pertama: Sebab

    Jika seseorang melakukan suatu ibadah karena Allah dengan sebab yang tidak disyariatkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima (ditolak).

    Contoh: Ada orang melakukan shalat tahajud pada malam 27 rajab dengan dalih bahwa malam itu adalah malam mi’raj (dinaikkan ke atas langit) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Shalat tahajud adalah ibadah, tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut menjadi bid’ah. Karena ibadah tadi didasarkan atas sebab yang tidak ditetapkan dalam syariat. Syarat ini –yaitu ibadah harus sesuai dengan syariat dalam sebab- adalah penting, karena dengan demikian dapat diketahui beberapa macam amal yang dianggap sunnah namun sebenarnya bid’ah.

    2. Kedua: Jenis

    Artinya: Ibadah harus sesuai dengan syariat dalam jenisnya. Jika tidak, maka tidak diterima.

    Contoh: Seseorang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak sah, karena menyalahi ketentuan syariat dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan kurban yaitu unta, sapi, dan kambing.

    3. Ketiga: Kadar (bilangan)

    Kalau ada seseorang yang menambah bilangan rakaat suatu shalat, yang menurutnya hal itu diperintahkan, maka shalat itu adalah bid’ah dan tidak diterima. Karena tidak sesuai dengan ketentuan syariat dalam jumlah bilangan rakaatnya. Jadi, apabila ada orang shalat dzuhur lima rakaat, umpamanya, maka shalatnya tidak sah.

    4. Keempat: Kaifiyah (Cara)

    Seandainya ada orang yang shalat: sujud dulu baru ruku, maka ini tidak sah, karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan syariat.

    5. Kelima: Waktu

    Seseorang shalat Dhuhur di waktu shubuh, maka tidak sah, karena waktu melaksanakannya tidak menurut ajaran Islam.

    6. Keenam: Tempat

    Andaikata ada orang beri’tikaf di tempat selain masjid, maka tidak sah I’tikafnya. Sebab tempat I’tikaf hanyalah masjid.

    Ukhti, semoga Anda belum bosan mendengarkanku, kesimpulan dari penjelasan di atas adalah, bahwa ibadah seseorang tidak termasuk amal shaleh yang diterima di sisi Allah kecuali apabila memenuhi dua syarat tadi, yaitu ikhlas dan mutaba’ah. Dan mutaba’ah tidak akan tercapai kecuali dengan enam perkara yang telah diuraikan di atas.

    Sekarang, kalau Anda ditanya:”Bagaimana Anda beramal?” Jawablah dengan penjelasan di atas.

    Semoga Allah memudahkan dan menerima amal-amal sholeh kita.

    Semoga hal ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Allahu A’lam. Sholawat dan salam untuk nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga dan para shahabatnya.

    ***

    DAFTAR BACAAN DAN PENGAMBILAN:

    • Al-Ibdaa’ Fi Kamaal Asy-Syar’ Wa Khathar Al-Ibtidaa’, Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin. Edisi Indonesia: Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah.
    • Tazkiatun Nufus, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ibnu Rajjab al-Hambali, Imam Ghazali. Pentahqiq: Dr. Amad Farid. Edisi Indonesia: Tazkiah An-Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Para Salaf. Penerbit: Pustaka Arafah. Penerjemah: Imtihan Asy-Syafi’i.
    • Fikih Nasehat, Fariq bin Gasim Anuz, Penerbit: Pustaka Azzam.
     
  • erva kurniawan 1:17 am on 21 May 2014 Permalink | Balas  

    pasirHanya Karena Sebutir Pasir

    Sir Edmund Hillary, penakluk pertama Mount Everest, puncak tertinggi dunia di Pegunungan Himalaya; pernah ditanya wartawan apa yang paling ditakutinya dalam menjelajah alam?

    Hillary mengatakan bahwa dia tidak takut pada binatang buas, jurang yang curam, bongkahan es raksasa atau padang pasir yang luas dan gersang sekalipun!

    Lantas apa? – “Sebutir pasir yang terselip di sela-sela jari kaki,” kata Hillary –

    Wartawan heran, tetapi sang penjelajah melanjutkan kata-katanya, “ Sebutir pasir yang masuk di sela-sela jari kaki sering sekali menjadi awal malapetaka. Ia bisa masuk ke kulit kaki atau menyelusup lewat kuku. Lama-lama jari kaki terkena infeksi lalu membusuk (gangren). Tanpa sadar kakipun tidak bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang penjelajah sebab dia harus ditandu.”

    Harimau, dan binatang buas lainnya adalah binatang yang secara naluriah takut menghadapi manusia. Sedang untuk menghadapi jurang terjal, padang pasir, seorang penjelajah pasti sudah punya persiapan yang memadai. Tetapi jika menghadapai sebutir pasir yang akan masuk ke jari kaki, seorang penjelajah tak mempersiapkannya. Dia cenderung mengabaikannya.

    Jika kita renungkan dengan apa yang dinyatakan Hillary sebenarnya sama dengan kita, yang mengabaikan dosa kecil, seperti mencicipi minuman keras, berdusta, berburuksangka, serta tindakan tercela lainnya yang dianggap sepele.

    Sebab itulah kita akan sering ‘keterusan’ melakukan dosa-dosa kecil yang lambat laun akan menjadi kebiasaan. Dosa kecil itupun akan menjadi dosa besar yang akan merugikan diri pribadi dan lingkungan.

    Dengan melihat potensi kerusakan besar, akibat terbentuk dari dosa-dosa kecil itulah Nabi Muhammad SAW memperingatkan umatnya agar tidak mengabaikan dosa-dosa kecil seraya tidak melupakan amal kebaikan meskipun juga kecil.

    Dalam kisah sufi diceritakan bahwa seorang pelacur masuk surga hanya karena memberi minum anjing yang kehausan. Perbuatan yang cenderung dinilai sangat kecil ternyata di mata Tuhan punya nilai besar karena faktor keikhlasannya.

    Itulah nilai setetes air penyejuk yang diberikan sang pelacur pada anjing yang kehausan.

    Bukankah semua roh yang ada di seluruh jagad ini, termasuk roh anjing tersebut hakekatnya berasal dari Tuhan Yang Maha Pencipta juga?

    (Dari Motivasi_Net)

     
  • erva kurniawan 8:25 am on 19 May 2014 Permalink | Balas  

    itikaf_womenFathimah az-zahra rha dan Gilingan Gandum

    Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anandanya Fathimah az-zahra rha. Didapatinya anandanya sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis.

    Rasulullah SAW bertanya pada anandanya, “apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis”.

    Fathimah rha. berkata, “ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan ananda menangis”.

    Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anandanya. Fathimah rha. melanjutkan perkataannya, “ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta ‘aliy (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah”.

    Mendengar perkataan anandanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya “Bismillaahirrahmaanirrahiim”.

    Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anandanya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.

    Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, “berhentilah berputar dengan izin Allah SWT”, maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, “ya Rasulullah SAW, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi : (artinya)

    “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan”.

    Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, “bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam sorga”. Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.

    Rasulullah SAW bersabda kepada anandanya, “jika Allah SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat. Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.

    Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit. Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.

    Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidaklah akan aku do’akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa ridha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah SWT?. Ya Fathimah, apabil seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil. Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah SWT akan mengkaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.

    Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah SWT akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah. Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat. Ya Fathimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), “teruskanlah ‘amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang”. Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyak-kan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai sorga dan Allah SWT akan meringankan sakarotulmaut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga serta Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat”.

    ***

    (Diambil dari Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Poliyama Widya Pustaka)

     
    • TEGUH 8:29 am on 19 Mei 2014 Permalink

      Trimakasih mohon ijin kami selalu menyimak dan menyebarkan tulisan disini

      Teguh S 08567789372 – 2AE44AB0
      Cenderawasih Pos – Lombok Post

    • erva kurniawan 8:50 am on 19 Mei 2014 Permalink

      Silahkan.. Jazakallah..

  • erva kurniawan 8:14 am on 18 May 2014 Permalink | Balas  

    cincinPerhiasan Emas Bagi Laki-laki

    Oleh: Ayah Raihan

    Assalamualaikum wr. wb.

    Saudaraku, memakai perhiasan emas bagi laki-laki adalah haram/tidak boleh baik laki-laki itu sudah menikah ataupun belum, dalil-nya adalah Hadist Nabi berikut ini (artinya):

    Dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa Rasulullah melihat seorang laki-laki memakai cincin emas. Beliau mencabut cincin itu lalu membuangnya seraya berkata, “Apakah salah seorang di antara kamu sudi meletakkan bara api di tangannya?” Setelah Rasulullah pergi, ada yang berkata kepada lelaki itu, “Ambillah cincinmu! Engkau dapat memanfaatkannya!” Ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mengambilnya lagi sebab Rasulullah telah membuangnya.” (HR Muslim).

    Dari Abdullah bin Amru disebutkan bahwa Rasulullah melihat seorang sahabat memakai cincin emas, lalu beliau berpaling darinya. Sahabat itu pun membuang cincinnya dan menggantinya dengan cincin dari besi. Rasulullah berkata kepadanya, “Ini lebih buruk lagi! Ini adalah perhiasan penduduk neraka!” Sahabat itu pun membuangnya dan menggantinya dengan cincin dari perak. Setelah itu, Rasulullah membiarkannya. (HR Ahmad dan lainnya dengan sanad yang kuat dengan disertai beberapa riwayat yang lainnya).

    Dari Abdullah bin Amru dalam sebuah hadits marfu’ (sampai kepada Nabi) yang berbunyi, “Barangsiapa di antara ummatku yang memakai perhiasan emas, lalu ia wafat sedang ia masih memakainya, maka Allah haramkan emas-emas surga atasnya.” (HR Ahmad sanadnya dinyatakan shahih oleh Al-Albani).

    Jadi dengan dalil-dalil diatas maka segalah macam perhiasan emas apapun bentuknya (cincin, arloji, kacamata, gigi dan lain sebagainya) baik sepuhan atau emas asli adalah haram untuk dipakai oleh Laki-laki.

    Dengan demikian cincin kawin-pun, jika terbuat dari emas maka hukumnya adalah haram untuk dipakai oleh laki-laki.

    Demikian dari saya, dan kalau ada salah mohon untuk dikoreksi dan kepada Allah saya mohon ampunan-Nya.

    Wassalamualaikum wr. wb.

    Hamba Allah

     
  • erva kurniawan 8:10 am on 17 May 2014 Permalink | Balas  

    agus salimTokoh: H. Agus Salim

    Oleh: PakTani

    Sebagai tokoh perjuangan, ia punya kadar kualitas yang sulit dicari tandingannya. Terutama kecerdasannya, barangkali termasuk jenius. Semua orang yang pernah bicara dengannya, mengakui itu.

    Mohammad Natsir (alm), tokoh Islam termasyhur mengungkapkan, “Kalau kita hendak menggunakan kualifikasi intelektual brilian pada salah seorang putra Indonesia, maka saya rasa yang paling pertama tepat ialah pada Haji Agus Salim.”

    Tokoh tiga jaman yang hingga kini masih hidup, Prof. DR. Roeslan Abdulgani, juga mengakui, “Siapa yang pernah mengenal Oude Heer Salim dari dekat, pasti tertarik oleh nilai isi segala pembicaraannya, yang mencerminkan dua hal, yaitu ketajaman otak dan mendalamnya kehidupan keagamaannya.”

    Fisiknya sih biasa-biasa saja. Bahkan ukurannya temasuk kecil, dan yang tak pernah lupa adalah jenggotnya selalu dipelihara dan rokok kretek yang tak pernah berhenti mengepul dari dua bibirnya. Tapi tubuhnya yang kecil, tidak menjadikan dirinya kecil hati berhadapan dengan orang lain. Justru ia tampak gesit dan selalu mendominasi dalam setiap pembicaraan, seolah tidak memberi kesempatan lawan bicaranya mengungkapkan dua atau tiga patah kata. “Saya mengundang kedua beliau itu bersantap di Ruang Pertemuan Tenaga Pengajar, dan duduk di tengah kedua beliau itu saya pun terperangah,” George Mct. Kahin, profesor di Universitas Cornell Amerika Serikat, mengungkapkan kesaksiannya.

    Yang dimaksud beliau di situ adalah Ngo Dinh Diem, tokoh perjuangan kemerdekaan Vietnam Selatan, dan Agus Salim. Diem telah dikenal sebagai seorang yang senantiasa merajai setiap percakapan.

    “Percakapannya berlangsung dalam bahasa Perancis –bahasa yang paling dimahiri Diem– namun Haji Salim tetap mengungguli Diem, berbicara amat fasihnya, sehingga Diem tidak mendapat peluang sedikit pun!” McT. Kahin melanjutkan kesaksiannya.

    Lain lagi kesan Mohammad Hatta. Di samping kecerdasan, di mata mantan Wakil Presiden RI pertama ini, kekuatan Salim terletak pada keyakinan, ketangkasan, dan ketegasannya membela suatu pendirian yang sudah diambilnya. Setia kawannya juga besar. Ia sanggup menghadapi berbagai kesulitan dengan sabar.

    Dengan segala kelebihannya itu, baik lawan maupun kawan jadi segan kepadanya. Termasuk Belanda. Di antara tokoh perjuangan, Salim termasuk yang belum pernah meringkuk di penjara. Meskipun kritikan-kritikannya kepada Belanda sangat berani dan tajam. “Saya selalu sangat hati-hati akan jangkauan UU penguasa dan berusaha untuk tidak kena jerat,” kata Agus Salim tentang kiatnya.

    Bukan berarti tanpa kelemahan. “Ia kadang kurang sabar untuk mengupas suatu masalah sampai tuntas,” ujar Hatta. Mungkin karena proses berfikirnya yang terlalu cepat sehingga tampak melompat-lompat. Akibatnya, satu masalah belum selesai dikupasnya, sudah pindah ke soal lain. “Ini barangkali pembawaan dari seorang yang jenial,” tambah Hatta.

    Tapi kelemahan yang sungguh mengherankan sebagaimana dicatat Prof Schermerhorn dari Belanda adalah, Salim hidup melarat sepanjang hayatnya!

    Kukuh

    Sebagai orang yang berpendidikan dan berkemampuan tinggi, apalagi ia menjadi pemimpin ternama, agak sulit dipahami bila Salim hidup dalam kemiskinan. Tidak sulit rasanya bila Salim yang menguasai 6 bahasa asing (Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Arab dan Turki) ini ingin hidup enak dan bergelimang harta. Dengan bekerja di pemerintah Belanda, misalnya, tentu ia akan kaya. Toh itu tidak ia lakukan.

    Tahun l925 ia pernah diminta jadi pimpinan redaksi harian Hindia Baroe, milik segolongan orang pribumi dan Belanda. Di tangan Salim Hindia Baroe maju pesat. Tetapi karena tulisan-tulisan Salim yang pedas dan tajam mengkritik Belanda, membuat pemiliknya gerah juga. Mereka minta agar Salim memperlunak kritiknya. Tanpa pikir panjang, esok harinya Salim mengundurkan diri dari jabatannya. “Pendapat saya tentang Pemerintah Hindia Belanda dan kebijaksanaannya, saya tidak bersedia ditawar-tawar,” katanya kepada Mohamad Roem yang menanyakan keputusannya itu.

    Di Jakarta ia bersama keluarganya tinggal dari rumah kontrak yang satu ke rumah kontrak yang lain. Bukan rumah megah di tepi jalan raya, melainkan rumah jelek di gang-gang sempit dan becek. Di antaranya Salim pernah tinggal di daerah Tanah Abang, di Karet, Jatinegara, Gang Kerlonong, Gang Toapekong, Gang Listrik dan banyak lagi. Khususnya di Gang Listrik, di sinilah justru mereka hidup benar-benar tanpa listrik, karena tak kuat membayar sewa listrik.

    Mohamad Roem, orang yang sejak muda dekat dengan Salim menyaksikan sendiri. Salim dan keluarganya pernah tinggal dalam satu ruangan sempit. “Kopor-kopor bertumpuk di pinggir ruangan serta beberapa kasur digulung, sedangkan di tengah ada ruang yang bebas untuk duduk-duduk dan menerima tamu,” tutur Roem. Menderitakah mereka?

    Orang luar yang melihatnya tentu akan menjawab iya. Tapi tidak dengan Salim. Ia adalah seorang ayah yang sangat dekat dan sayang kepada keluarganya –semua anaknya tidak ada yang disekolahkan di luar, tapi dididik sendiri. Bukan tak mampu mengongkosi, tapi karena prinsip.

    Pernah suatu ketika istrinya yang tabah kehabisan uang untuk membeli lauk-pauk. Sambil bergurau dengan anak-anaknya, Salim menyingsingkan lengan baju beramai-ramai membuat nasi goreng. Jadilah seisi rumah riang gembira, sementara anak-anaknya merasa mendapat “traktiran” istimewa dari sang ayah.

    Seorang ayah yang pasrah dan tawakkal juga nampak dari sikapnya yang tenang ketika pernah hendak pindah rumah, namun tak ada uang untuk biaya. “Allah Maha Besar. Kita tentu akan diberi-Nya jalan,” katanya tenang. Tak lama kemudian datang wesel, kiriman pembayaran sesuatu yang tak diduga-duga.

    Dibesarkan Belanda

    Boleh dibilang, sejak remaja Salim dibesarkan Belanda. Di samping menimba ilmu di sekolah Belanda, ia pernah dibimbing secara khusus oleh Brouwer, seorang guru Belanda yang terpikat kepada kecerdasannya. Semasa menempuh pendidikan HBS di Jakarta, ia juga in de kost pada keluarga Belanda bernama Koks. Ayahnya termasuk pula pejabat di pemerintah Hindia Belanda, sehingga hidup Salim relatif tidak mengalami penderitaan karena penjajahan. Lalu mengapa ia kemudian berbalik menentang penjajah Belanda?

    Lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab pada 8 Oktober l884 di Kota Gedang, Minangkabau, Sumatera Barat. Ayahnya adalah seorang Hoofd (jaksa atau kepala jaksa) di Pengadilan Tinggi Riau dan daerah bawahannya. Kedudukan Hoofd jaksa, apalagi bagi penduduk pribumi, ketika itu termasuk tinggi dan sangat terhormat. Itulah sebabnya Salim dan kakaknya bisa diterima di Europese Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa.

    Selama menempuh pendidikan di ELS, prestasi Salim sangat cemerlang. Dalam semua pelajaran, ia mengungguli anak-anak Eropa lainnya. Pun tatkala menempuh Hogere Burger School (HBS) –sekolah setingkat SMA khusus anak-anak Eropa– di Jakarta, Salim yang punya nama asli Masyudul Haq ini tetap unggul. Pada akhir studi, ia berhasil keluar sebagai lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda (Jakarta, Bandung dan Surabaya).

    Sebenarnya ia ingin melanjutkan studi kedokteran di Belanda, tapi kandas karena tiada biaya. Berbagai upaya dilakukan, di antaranya mengajukan beasiswa dan persamaan status kewarganegaraan sederajat dengan bangsa Eropa, namun gagal juga. Kabarnya, Kartini pernah mengusahakan beasiswa untuk Salim tapi juga nihil. Di sinilah titik balik pada diri Salim mulai muncul. Ia mulai tidak senang kepada Belanda yang menjalankan politik diskriminasi.

    Gagal berangkat ke negeri Belanda, Salim kembali ke Riau dan bekerja pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Di sini ia bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris. Sebagai lulusan HBS, ia memang menguasai sejumlah bahasa asing: Belanda, Inggris, Perancis dan Jerman. Untuk pemuda seukuran Salim (21), pekerjaan itu cukup mentereng.

    Namun, lain bagi kedua orang tuanya. Ada sesuatu yang mencemaskan. Di mata kedua orang tuanya, putra kelima dari lima belas bersaudara itu menunjukkan tanda-tanda menyimpang dari nilai-nilai masyarakat ketimuran, lebih-lebih Islam. Bahkan tanda-tanda menyimpang itu sudah dirasakan sejak Salim menempuh pendidikan di HBS.

    Salim sendiri tidak mengelak. Itu sesuai pengakuan Salim ketika memberi kuliah di Cornell University Amerika Serikat tahun l953. Pendidikan di HBS, akunya, telah berhasil menjauhkan dirinya dari ajaran Islam. Setelah lima tahun di HBS, Salim merasa tak dapat berpegang kepada satu agama pun secara sungguh-sungguh. Hanya karena keluarganya termasuk taat beribadah, maka dalam berislam seakan-akan ia sekedar melanjutkan tradisi. Saat itu ia melihat agama hanya sebagai sesuatu yang dibutuhkan oleh orang yang kurang terdidik; kalau tidak, orang bakal memasuki jalan sesat.

    Dalam kondisi iman yang labil seperti itu, datanglah tawaran dari pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja di Konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Atas dorongan orang tuanya, Salim pun berangkat ke Jeddah pada tahun l906 dalam usia 22 tahun. Orang tuanya berharap, selama di Arab Saudi itu Salim bisa kembali memulihkan imannya. Apalagi di sana ada pamannya yang menjadi guru besar sekaligus imam di Masjidil Haram, yakni Syech Ahmad Khatib.

    Namun, selain orang tuanya, ternyata Prof Snouck Hurgronje juga berperan besar atas keberangkatan Salim ke Jeddah itu. Dalam pertemuannya dengan Salim tahun l906 di Jakarta, orientalis terkenal itu menyarankan Salim agar tidak usah melanjutkan studi kedokteran. “Karena menjadi dokter itu bayarannya kecil,” ujar Hurgronje yang lantas menawarkan gagasan yang menurutnya lebih baik. Di mata Hurgronje, Salim adalah seorang intelektual muda yang sangat cerdas dan fikirannya tajam serta punya keberanian luar biasa untuk ukuran orang melayu. Maka atas anjuran Hurgronje pula pemerintah Hindia Belanda menawarkan pekerjaan di konsulat Jeddah. Di sana Salim bertugas sebagai ahli penterjemah dan mengurusi jamaah haji asal Indonesia.

    Terkabul harapan orang tua Salim. Disamping bekerja, Salim tekun mendalami Islam kepada Syech Ahmad Khatib, yang juga menjadi gurunya KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Saat itu, Syech Ahmad terkenal sebagai salah satu tokoh pembaharu dari mazhab Imam Syafi’i.

    Jabatan-jabatan yang pernah diduduki Agus Salim:

    1. Anggota Volksraad l921-l924.
    2. Anggota Panitia 9 BPUPKI mempersiapkan UUD 1945.
    3. Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Syahrir II l946 dan Kabinet III l947.
    4. Tokoh kunci pembuka hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir, 1947.
    5. Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Amir Syarifuddin l947.
    6. Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta l948-l949.

    Sebagai orang yang pernah mendapat gemblengan dari sistem pendidikan barat dan berpengetahuan umum cukup luas, Salim menerima pelajaran dari pamannya dengan sikap kritis. Syech Ahmad meladeni pertanyaan muridnya itu dengan arif dan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot. Itulah yang membuat roh Islam menancap kokoh di sanubari Salim. Islam bagi Salim bukan lagi sebagai warisan, tetapi sudah dilandasi pemahaman yang mendalam.

    Ajaran Islam yang memang menentang penindasan atas manusia, semakin menebalkan sikap antipati Salim kepada Belanda. Apalagi saat itu Muhammad Abduh, intelektual dari Mesir, sedang gencar-gencarnya melancarkan pembaharuan Islam. Gerakan Abduh ini berpengaruh luas di dunia Islam dan membangkitkan negara-negara Islam yang masih banyak dihimpit kaum penjajah.

    Salim kembali ke Tanah Air pada l911. Sempat lima hari bekerja di Kantor Pekerjaan Umum Jakarta, Salim lantas mengundurkan diri dari pegawai pemerintah Hindia Belanda. Ia kemudian kembali ke Kota Gedang mendirikan sekolah dasar HIS. Tahun l915 ia kembali ke Jawa dan tak lama kemudian ia nyebur ke dunia pergerakan lewat Sarekat Islam (SI). (Bas)

    Pemberi Cap Islam di SI

    Sejak masuk Syarikat Islam (SI), peran Salim cukup besar. Bahkan dalam perjalanannya, Salim pernah menjadi tangan kanan pemimpin utama SI, yakni HOS Tjokroaminoto. Dua pemimpin ini seolah menjadi sejoli yang sulit digantikan. Keduanya punya kelebihan dan kelemahan yang saling melengkapi. Tjokro dikenal sebagai pemimpin yang kharismatis, sedang Salim adalah tokoh intelektual Islam yang luas pengetahuannya.

    Menurut Deliar Noer, di dalam bukunya Gerakan Modern Islam di Indonesia, Salimlah yang lebih banyak memberi cap Islam pada SI. “Salim bukan saja seorang yang mengetahui pikiran-pikiran Barat, tetapi dialah pemimpin SI yang paling mengetahui tentang Islam dari sumber aslinya,” tulis Deliar. Berbeda dengan Tjokroaminoto. D.A Rinkes, penasihat untuk Bumiputra yang sering mengadakan perjalanan bersama Tjokroaminoto menilai, “Tjokroaminoto lebih merupakan priyayi yang berpaham bebas daripada seorang Islam yang fanatik.”

    Peranan Salim di SI sangat menonjol terutama dalam merumuskan kebijakan dan strategi perjuangan organisasi. Hal itu tampak saat ia berusaha membersihkan orang-orang PKI yang mulai menyusup ke tubuh SI. Usaha pembersihan itu terkenal dengan istilah “Disiplin Partai”.

    Pertentangan PKI dengan Islam di SI sudah mencuat sejak tahun l917. PKI diwakili Darsono, dan Semaun dari Cabang Semarang, sedang Islam diwakili Agus Salim dan Abdoel Moeis. Sikap Tjokroaminoto sendiri tampak kurang tegas terhadap konflik tersebut. Ia lebih mengutamakan persatuan di tubuh SI ketimbang perbedaan yang menurutnya bukanlah sesuatu yang prinsip. Berbeda dengan Salim. Ia berpendapat, masalah PKI sangatlah prinsip, karena menyangkut akidah.

    Perdebatan sengit tak terelakkan saat digelar Kongres Luar Biasa SI keenam di Surabaya tahun l921, antara PKI dengan Salim. Dua agenda besar dibahas dalam Kongres: masalah disiplin partai dan penegasan asas SI.

    Soal asas Salim menyatakan, “Tidak perlu mencari isme-isme lain yang akan mengobati penyakit gerakan. Obatnya ada di dalam asasnya sendiri, asas yang lama dan kekal, yang tidak dapat dimubahkan orang, sungguhpun sedunia telah memusuhi dengan permusuhan lain. Asas itu adalah Islam.”

    Dalam hal PKI, Salim meminta agar Kongres mengeluarkannya dari SI. Sambil mengutip ayat al-Qur’an Salim menegaskan, “Di dalam al-Qur’an terkandung perintah yang melarang kita bersaudara, yakni berikatan lahir batin dengan orang yang tidak sama keyakinan dengan kita. Karena mereka selalu hendak menjerumuskan kita dan mereka suka bila kita menderita bencana.”

    Menanggapi Salim, Semaun menjawab bahwa SI perlu taktik yang lebih luas. Selama ini, katanya, SI hanya mampu mengumpulkan orang Islam saja buat bekerja bersama-sama membela hak rakyat. Padahal, selain Islam masih ada orang lain yang jumlahnya tidak sedikit. “PKI sudah nyata bisa membawa orang-orang Ambon, Manado, dan lain-lain rakyat Hindia yang tidak beragama Islam. Bilangan mereka tidak sedikit, pengaruhnya harus pula dihargakan. Di sini PKI sudah membuktikan taktiknya, bekerja dengan orang Islam Kristen guna keperluan rakyat.”

    Akan tetapi, semua argumentasi dan pembelaan Semaun dapat dipatahkan Salim dan Moeis. Dalam kongres itu Salim telah menunjukkan dirinya sebagai pemimpin Islam yang tangguh, yang tidak saja menguasai ilmu-ilmu Islam, melainkan juga pemikiran-pemikiran Barat seperti komunisme. Sehingga argumentasi-argumentasi Salim dalam perdebatannya dengan golongan komunis sangat tajam.

    Kongres akhirnya mensahkan keputusan disiplin partai dan Islam sebagai asas SI. Akibatnya, PKI harus keluar dari SI. Tak lama kemudian, Semaun dan Darsono membentuk SI sendiri yang terkenal dengan sebutan “SI Merah”.

    Tahun l934 Tjokroaminoto meninggal dunia, Salim menggantikan sebagai Ketua Umum SI. Setelah itu peran Salim di SI surut, seiring dengan konfliknya dengan Aboekosno. Pokok utamanya adalah garis partai. Salim mengusulkan agar garis kebijaksanaan SI diubah, dari non-kooperatif menjadi kooperatif. Pertimbangannya, demi menyelamatkan SI sendiri. Soalnya pada tahun-tahun itu sudah mulai bertindak keras, terhadap pihak-pihak penentangnya. Tetapi justru karena usulannya itu, ia disingkirkan Aboekosno dari SI.

    Tahun l936, Salim bersama Sangadji membentuk Barisan Penyadar. Setelah Partai Masyumi muncul pasca kemerdekaan, Salim bergabung dengan partai politik terbesar yang pernah dimiliki ummat Islam Indonesia itu.

    Salim wafat 4 November l954 pada usia 70 tahun dan mendapat gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional l961. Salim meninggalkan tujuh anak dan seorang istri bernama Zainatun Nahar Almatsier.

     
  • erva kurniawan 7:53 am on 16 May 2014 Permalink | Balas  

    Sang iblis 

    sabar (1)Sang Iblis

    Termasuk dimanakah diri kita ?? Musuh ataukah teman baik sang iblis laknatullah alaihi ??

    Sebuah cerita dari Dr Muhammad Iqbal:

    Suatu ketika iblis dan setan-setannya berkumpul dalam suatu parlemen untuk membahas perkembangan dunia dan bahaya-bahaya yang akan dihadapi setan di masa-masa yang akan datang, bahaya yang akan mengancam sistem iblis. Salah satu setan melaporkan, “Baginda, kami dengar seorang yahudi muncul dari Jerman, namanya Karl Marx, dia bukan seorang nabi tapi membawa kitab suci. Dia bermaksud memperbaiki dunia ini dan mengubah bangsa yang tertindas menjadi penguasa, ini tantangan buat kita”

    Iblis menjawab,” Tidak.. karena Marxisme menghancurkan fitrah manusia, ia tidak akan sanggup mengubah alam ini.”

    Kemudian satu demi satu melaporkan faham-faham filsafat yang akan mempengaruhi umat manusia. Kemudian Iblis berkata lagi, “Yang aku takutkan ialah suatu umat yang dalam jantungnya bergelora semangat untuk memperbaiki dunia ini, suatu umat yang didalamnya terdapat manusia yang renggang pinggangnya dari tempat tidurnya, yang berlinang air matanya pada waktu dini hari, yang bersujud bersimpuh di hadapan Allah. Yang mengancam kita adalah Islam. Islam adalah fitnah kita di masa datang, bukan istiraqiyyah,bukan jumhuriyyah, bukan marxiyyah.”

    “Aku juga tahu,” kata Iblis, “bahwa umat islam ini merupakan tantangan kita,akan tetapi sekarang umat islam sudah menjauhi Al Quran, mereka terpesona dengan kekayaan dan sibuk menghitung-hitungnya seperti juga umat terdahulu,dan saya juga tahu bahwa ulama-ulama tidak lagi memiliki tangan putih yang dengannya disinari kegelapan. Tetapi aku khawatir zaman akan datang juga,umat ini akan bangkit dan mereka menghadap ke syariat Muhammad. Aku peringatkan kalian dari agama Muhammad, agama yag mengajarkan kemuliaan dan keagungan, agama yang mengajarkan kejujuran dan kesucian, agama yang mengajarkan harga diri dan kepahlawanan, agama yang mengajarkan jihad.

    Dengan agama inilah dihilangkan seluruh penghambaan antara manusia, tidak beda dalam agama ini antara tuan dan budak, tidak beda dalam agama ini antara penguasa dan rakyat biasa. Ini yang aku takutkan karena mereka nanti bakal muncul sebagai penguasa di bumi ini dan yang aku takutkan lagi adalah pada saat mereka berteriak ‘seluruh bumi ini kepunyaan Allah, bukan lagi kepunyaan raja dan penguasa’!”

    “Karena itu berjuanglah kamu sedapat mungkin, usahakan agar agama ini tersembunyi dari mata manusia, berikan yang dianggapnya ritus-ritus keagamaan sementara tidak ada kepercayaan kepada dirinya dan Tuhannya, imannya sedikit, dan sibukkanlah mereka dengan masalah-masalah perbedaan pikir sehingga dengan itu kita sanggup melemahkan mereka, dan usahakan pula agar telinganya tidak mendengar sentuhan adzan karena adzan bisa menghancurkan sihir kita, lalu sibukkanlah mereka dengan kemaksiatan-kemaksiatan, dan jauhkanlah dari jihad dan beramal.”

    Lalu pada akhir ceritanya iblis berkata, “Duhai malangnya, alangkah celakanya kalau umat ini bangkit, hancurlah seluruh sistem kita karena kebangkitan umat ini.”

    Cerita di atas menunjukkan bahwa tantangan terbesar umat manusia bukan kenaikan harga-harga dan ancaman krisis di depan mata. Karena Iblis sudah berjanji untuk menyesatkan umat manusia dengan berbagai cara.

    Pada suatu waktu Rasulullah bertanya pada iblis, “Berapa banyak teman baikmu dari umatku?” Iblis menjawab, “Teman akrabku di antara umatmu ada 10 golongan, yaitu:

    1. Pemimpin yang tidak jujur
    2. Orang yang takabur
    3. Orang kaya yang tidak peduli dari mana hartanya didapat dan ke mana dipergunakan
    4. Orang alim yang membenarkan pemerintah berbuat Penyelewengan
    5. Pedagang yang menipu
    6. Orang yang menimbun keperluan umum untuk dijual pada waktu harga mahal
    7. Pezina
    8. Orang yang memakan harta dari hasil riba
    9. Orang bakhil, tidak memperhatikan dari mana ia mengumpulkan harta
    10. Peminum arak

    Kemudian Rasulullah bertanya lagi, “Berapa banyak pula musuhmu di antara umatku?” Iblis menjawab, “Musuh-musuhku di antara umatmu ada 20 golongan, yaitu:

    1. Yang jelas Engkau sendiri, hai Muhammad, maka sesungguhnya aku sangat membencimu.
    2. Orang alim yang beramal dengan ilmunya
    3. Orang yang memelihara Al Quran dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya.
    4. Tukang adzan yang ikhlas karena Allah
    5. Orang yang mencintai fakir miskin dan anak yatim
    6. Orang yang menyayangi sesama manusia
    7. Orang yang tunduk kepada kebenaran
    8. Pemuda yang giat dan taat kepada Allah
    9. Yang memakan makanan yang halal
    10. Dua pemuda yang saling mengasihi karena Allah
    11. Orang yang rajin shalat berjamaah
    12. Orang yang shalat malam sedang yang lain tidur Nyenyak
    13. Orang yang menah! an diri dari segala larangan Allah
    14. Orang yang menasehati saudaranya tanpa mengharapkan sesuatu dalam hatinya
    15. Orang yang senantiasa mempunyai widlu
    16. Orang yang dermawan
    17. Orang yang baik akhlaknya
    18. Orang yang membenarkan jaminan Allah yang akan diberikan kepadanya
    19. Orang yang memperhatikan kepentingan janda-janda
    20. Orang yang selalu siap sedia mati karena Allah (Hadits dari Ibnu Abbas)

    Sebenarnya untuk tidak menjadi teman iblis lebih banyak pilihannya, tapi justru lebih mudah untuk menjadi temannya. Karena telah disebutkan bahwa setan itu dari golongan jin dan manusia, maka berhati-hati jugalah dalam mencari teman.

    ***

    (sumber: cerita dari Abu Ahmad dalam lembar Jumat)

     
  • erva kurniawan 3:38 am on 15 May 2014 Permalink | Balas  

    siluet gajahKisah seorang Arab badui

    Seorang arab badui memasuki memasuki masjid lalu shalat. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a memandangnya dengan penuh perhatian. Seusai orang itu shalat, sambil memegang cambuk, Ali r.a. mendekatinya dan menyuruhnya mengulangi shalatnya. Sang badui lalu memperbagus shalatnya dengan kesempurnaan, khusyu’ dan thuma’ninah.

    Seusai shalat, Ali bin Abi Thalib r.a. bertanya : “Shalat mana yang lebih baik, yang pertama atau yang kedua?”

    Orang badui itu menjawab dengan polos, “Tentu saja yang pertama, sebab aku melakukannya untuk Allah, sedangkan shalat yang kedua karena aku takut kena cambuk Amirul Mukminin.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 14 May 2014 Permalink | Balas  

    Kakek PenjualKakek Penjual Lem

    Pada suatu hari, tepatnya itu hari jum’at. Sekitar pukul 11.45 saya pergi k mesjid belakang kampus untuk menunaikan ibadah sholat jum’at dan dzuhur. Saya berjalan dengan teman kelas yang juga beragama islam untuk menunaikan sholat bersama. Ketika perjalanan ke mesjid sekitar 10 meter dari mesjid terlihat seorang kakek tua yang duduk lemas di pinggiran dinding dan pagar kampus. Sekilas saya berfikir itu seorang pengemis, ketika makin dekat perjalanan saya dengan si kakek tua itu. Saya tergejut ternyata dia pedagang Lem kertas. Sementara saya lihat di kerumunan banyak orang yang lalu lalang, tidak ada satu pun mahasiswa yang mendekati si kakek tua itu dengan maksud membeli barang dagangannya. Hati ini berdegup kencang dengan sedikit sedih melihat kondisi si kakek yang sudah tua. Namun waktu sholat sudah hampir mulai, dengan terpaksa saya harus melanjutkan berjalanan saya ke mesjid dengan maksud nanti setelah sholat saya akan menemui kakek itu.

    Setelah saya menunaikan sholat, saya langsung keluar mesjid dan memakai sepatu saya. Dengan sedikit tergesa-gesa saya langsung menghampiri kakek tua yang ternyata dia juga baru selesai sholat. Dalam hati saya berkata “Ya Allah Hebat sekali kakek ini meskipun dia sudah tua, tetapi dia tetap menjalankan kewajiban sholatnya dengan harus berjalan kaki yang saya rasa diapun susah untuk berjalan”. Akhir nya saya sampai di tempat kakek tua, dan saya langsung berbincang kepada si kakek.

    “Kek,Jualan apa disini”.tanyaku basa-basi untuk memulai perbincangan.

    “Jual Lem kertas cu”. Jawab kakek itu pelan.

    “Berapa kek 1 nya?”. Tanyaku lagi.

    “1500 cu”. Jawab dia singkat.

    “cucu mau beli?” tanyanya.

    “ia kek, oia hari ini kakek sudah laku berapa lemnya?”.tanyaku kembali

    “Kalo kamu jadi beli, kamu pembeli pertama yang membeli dagangan kakek hari ini.”katanya.

    Akupun kaget mendengar jawabannya. Dari sekian banyak mahasiswa yang lewat belom ada 1 orang pun yang membeli barang dagangannya. Karena, untuk kalangan mahasiswa tidak terlalu membutuhkan Lem kertas.

    “Kakek kenapa berjualan? Cucu kakek kemana?”. Bertanya dengan rasa ingin tahu.

    “Kakek sendiri cu sudah 5 tahun lebih kakek hidup sendiri”. Jawabnya sambil meneteskan air mata.

    “Maaf kek kalau saya banyak bertanya, ya sudah saya ambil semua ya kek lem nya” ujarku dengan senang hati sambil mengeluarkan uang 100.000,-.

    Kakek itu pun memelukku sambil mengucapkan terima kasih.

    Saya yakin harga lem itu tidak seberapa, tapi hanya demi kebutuhan makan harian kakek itu pun rela berjualan sepanjang hari untuk melangsungan hidupnya.

     
  • erva kurniawan 7:25 am on 13 May 2014 Permalink | Balas  

    kerja keras 2Orang Bodoh yang Pegang Peranan

    1. Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya di bisnis. Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang Pintar. Walhasil Bosnya orang pintar adalah orang bodoh.
    2. Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah. Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.
    3. Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mendapatkan kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.
    4. Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato, maka disuruh orang pintar untuk membuatnya.
    5. Orang bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH). Oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.
    6. Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu orang pintar percaya. Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh. Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada diatas.
    7. Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu di dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar, walhasil orang orang pintar menjadi staffnya orang bodoh.
    8. Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja. Tapi orang-orang pintar DEMO, Walhasil orang-orang pintar “meratap-ratap” kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.
    9. Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.
    10. Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa dijadikan duit. Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.
    11. Bill Gates (Microsoft), Dell, Hendri (Ford), Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Liem Siu Liong (BCA group). Adalah orang-orang bodoh (tidak pernah dapat S1) yang kaya. Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka. Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.

    PERTANYAAN:

    1. Jadi mending jadi orang pinter atau orang bodoh??
    2. Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh??
    3. Mulia mana antara orang pinter atau orang bodoh??
    4. Susah mana antara orang pinter atau orang bodoh??

    Kesimpulan:

    1. Jangan lama-lama jadi orang pinter, lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.
    2. Jadilah Orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh.
    3. Kata kunci nya adalah “resiko” dan “berusaha”, karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil. Orang pinter perpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut. Dan mengabdi pada orang bodoh.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 12 May 2014 Permalink | Balas  

    pedagang tuaKakek Tua Pedagang Tali Sepatu dan Koran

    Jatinangor, tepatnya Universitas Padjadjaran adalah almamaterku, tempatku menimpa ilmu dan sebagai langkah awal mencapai asaku. Tak jauh berbeda memang dengan aktivitas di kampus lain dengan segala hiruk-pikuk lalu lalang para mahasiswanya. Jatinangor pun kini menjadi daerah pendidikan yang semakin mengalami perkembangan mengikuti zaman. Kultur dan pola pikir masyarakatnya pun kini mulai mengalami perubahan ke arah yang lebih dinamis, tidak hanya terpaku kepada pemikiran yang kolot semata. Namun, apakah daerah ini masih menjadi surga bagi warganya. Tidak ada yang dapat memastikan akan hal itu.

    Diperjalan menuju kampus, mataku kini terpaku pada satu sudut kampus yang mulai ramai oleh tukang ojeg yang menawarkan jasanya. Disisi lain aku melihat seorang kakek tua yang terlihat begitu sayup, namun semangatnya terus saja melekat pada diri kakek itu. Perlahan ku dekati kakek tua itu dan ternyata kakek tua itu sedang berdagang tali sepatu yang menurutku memiliki peluang yang sangat kecil untuk mendapatkan keuntungan. Namun, kakek tu yang selalu memakai topi ini selalu saja berusaha dan baginya dia rela melakukan apapun demi keluarganya.

    Setelah ditelusuri, kakek tua ini menghabiskan waktunya di Jatinangor menjajakan dagangannya hanya untuk bekal keluarganya. Dia tidak akan pulang kampong sampai dia mendapatkan penghasilan yang dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Aku pun memutuskan untuk membeli sepasang tali sepatu itu walaupun tali sepatuku masih terlihat bagus. Namun, apa salahnya membeli sebagai cadangan nantinya.

    Tadinya aku mau berbincang banyak dengan si kakek itu, namun waktu telah memaksaku untuk berpisah karena harus mengikuti perkuliahan yang lumayan padat. Rencananya aku mau mewawancarai kakek itu dilain waktu yang luang. Semoga pengalaman beliau bisa menjadi hikmah tersendiri bagi diriku pada khususnya dan teman-temanku pada umumnya. Sesampainya di kelas, aku menceritakan kejadian yang telah menimpaku kepada teman-temanku. Mereka pun merasa iba dan terharu mendengar cerita tentang si kakek itu.

    Waktu istirahat pun tiba, aku pun memutuskan untuk makan di kantin bersama teman-temanku. Setelah tiba di kantin ada hal aneh yang terjadi, aku melihat kakek tua yang tadi ada di gerbang lama Unpad. Aku heran dan memastikan apakah beliau kakek yang tadi pagi digerbang. Setelah aku bertanya, ternyata memang benar kakek itu adalah pedagang tali sepatu yang tadi pagi. Namun, kali ini kakek tua itu beralih profesi menjadi pedagang Koran. Seperti biasanya, dengan semangat yang pantang menyerah kakek itu menjajakan dagangannya dengan yakin dan kalimat persuasi para pelanggannya. Teman-temanku pun terbengong dan kagum kepada kakek tua itu, di usianya yang sudah renta yang seharunya menikmati masa tuanya masih saja bekerja demi kepentingan keluarganya.

    Salah satu temanku bertanya pada kakek itu tentang anaknya dan seharusnya anaknya yang menggantikan posisi si kakek. Namun, dengan legowo dan bijak kakek tua itu menjawab “selama masih bisa berjalan dan memiliki nikmat kesehatan, kakek masih mau membantu keluarga”. Lagi pula, anak-anaknya juga memiliki bebannya masing-masing karena semuanya sudah berumah tangga. Kondisi ekonomi juga mendesak si kakek untuk berusaha lebih di usianya kini yang tidak muda lagi. Akhirnya, percakapan kami dengan si kakek pun berakhir karena aku dan teman-temanku harus kembali kuliah. Salah satu temanku memborong Koran yang dijajakan kakek tua itu. Katanya sih untuk dibagikan juga untuk teman-temannya yang lain. Sang kakek pun tersenyum tanda terima kasih dengan bibir yang merekah.

    Semoga kita dapat mengambil hikmah kehidupan yang lebih baik. Aaamiin.

    ***

    Sumber: sahabat kaskus

     
  • erva kurniawan 8:16 am on 11 May 2014 Permalink | Balas  

    kisah-teladan-islamAsas-Asas Kemanusiaan dalam Islam

    “Telah Kami muliakan anak cucu Adam dan Kami membawa mereka di daratan dan di lautan dan Kami beri mereka rizki dari hal-hal  yang baik dan Kami telah lebihkan mereka atas kebanyakan dari makhluk yang kami ciptakan”. (QS. Al-Isra:70).

    Sehubungan dengan kelebihan tersebut, Islam telah meletakkan asas-asas yang akan menjaga hakekat kemanusiaan dalam hubungan antar individu atau antar kelompok.

    1. Saling menghormati dan memuliakan

    Islam mengajarkan untuk menghormati manusia walaupun telah menjadi mayat. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW berdiri khusyu’ menghormati jenazah seorang yahudi. Kemudian seseorang berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia jenazah yahudi”. Nabi SAW bersabda: “Bukankah dia juga adalah seorang berjiwa ?”. (HR. Imam Muslim).

    2. Menyebarkan kasih sayang

    Ini merupakan eksplorasi dari risalah Islam sebagai ajaran yang utuh, karena dia datang sebagai rahmat untuk seluruh alam. Nabi SAW bersabda: “Tidak akan terlepas kasih sayang kecuali dari orang-orang yang hina”.

    3. Keadilan dan persamaan

    Menegakkan keadilan merupakan keharusan diwaktu aman bahkan dalam keadaan perang sekalipun. Dan Islam menjadikan berlaku adil kapada musuh sebagai hal yang mendekatkan kepada ketaqwaan (QS. Al-Maidah:8). Untuk merealisasikan hal ini, Islam tidak hanya menyuruh berbuat adil, tapi juga mengharamkan kezaliman dan melarangnya sangat keras.  Adapun asas persamaan sangat ditekankan khususnya dihadapan hukum. Faktor yang membedakan antara satu orang dengan yang lain adalah taqwa dan amal shaleh. (QS.Al-Hujurat:13).

    4. Perlakuan yang sama

    Membalas suatu kebaikan dengan kebaikan yang sama atau lebih baik adalah tuntutan setiap masyarakat yang menginginkan hubungan harmonis antar anggota- anggotanya. Allah SWT menentukan hal tersebut dalam salah satu firman-Nya (QS. Al-Isra:7).

    5. Berlapang dada dan toleransi (tasamuh)

    Makna tasamuh adalah sabar menghadapi keyakinan-keyakinan orang lain, pendapat-pendapat mereka dan amal-amal mereka walaupun bertentangan dengan keyakinan dan batil menurut pandangan, dan tidak boleh menyerang dan mencela dengan celaan yang membuat orang tersebut sakit dan tersiksa perasaannya.  Asas ini terkandung dalam banyak ayat Al-Qur’an diantaranya, “Dan janganlah kalian mencela orang-orang yang berdo’a kepada selain Allah, yang menyebabkan mereka mencela Allah dengan permusuhan dengan tanpa ilmu. Demikianlah Kami menghiasi untuk setiap umat amalan mereka, lalu Dia mengabarkan kepada apa yang mereka lakukan”.  (QS.Al-An’am:108)

    6. Saling tolong menolong

    Islam tidak sekedar mengesahkan asas ini sebagai asas dalam hubungan antar manusia, tapi lebih jauh lagi Islam menentukan bahwa hamba selamanya bergantung kepada pertolongan Allah SWT, dia mengakui hal ini atau pun tidak mengakuinya. Dan Islam mengaitkan pertolongan ini dengan saling tolong menolong hamba antar mereka. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Dan Allah selalu menolong seseorang selama orang tersebut selalu menolong saudaranya”. (HR. Muslim).

    7. Menepati janji

    Melanggar janji merupakan satu tanda dari kemunafikan. Nabi SAW bersabda: “Tanda orang munafik itu ada tiga; bila berbicara dia berbohong, bila berjanji dia melanggarnya dan bila diberi amanat dia mengkhianatinya”.

    ***

    (Diambil dari buku DR.Surahman Hidayat berjudul “At ta’yusyu silmiy bainal muslimin wa gharihim” disarikan olh H. Tajuddin, Lc)

     
  • erva kurniawan 8:08 am on 10 May 2014 Permalink | Balas  

    hidayah-allahMeraih Hidayah Allah

    Setiap kita cenderung akan menjaga sesuatu yang dianggap berharga. Semakin bernilai sesuatu, semakin bersungguh-sungguh menjaganya. Sebagian orang ada yang sibuk menjaga hartanya, karena menganggap harta itu yang paling bernilai. Ada pula yang sibuk merawat wajah dan keindahan tubuhnya, mati-matian menjaga kedudukan dan jabatan, karena hal itu yang dianggap bernilai. Menurut rata-rata masyarakat ini, materi adalah segala-galanya.

    Orang yang tidak mendapatkan tuntunan dan petunjuk (hidayah) dari Allah tersebut hidupnya akrab dengan kecemasan, ketakutan, dan ketegangan. Takut tidak kebagian dunia, takut oleh manusia, takut mati, dan lain-lain. Hidup di dunia ini terasa capek, tegang, waswas, cemas, gelisah, dan bingung. Tidak sedikit orang kaya malah menderita dengan kekayaannya. Kekayaan yang melimpah ruah justru semakin membuatnya sengsara. Sebab semakin kaya semakin banyak barang yang harus dijaganya. Persis seperti orang yang masuk ke dalam rimba belantara. Walaupun membawa bekal yang banyak tapi tidak membawa peta. Dia panik karena takut kehabisan bekal. Kekalutan semacam ini juga akan dirasakan oleh siapa saja yang menjalani hidup ini tanpa diterangi petunjuk.

    La khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun (tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati). Itulah orang yang mendapat hidayah dari Allah, dia tidak pernah panik dengan dunia ini. Tapi, dia akan merasa galau kalau tidak mampu menyempurnakan apa yang bisa dia lakukan.

    Menurut Buya Hamka, hidayah itu seperti pesawat terbang. Kalau landasannya sederhana, yang mendarat adalah helikopter. Jika landasan agak bagus maka bisa didarati pesawat jenis capung. Jika lebih baik lagi mungkin bisa twin otter, lebih mantap lagi oleh cassa, lebih bagus lagi mungkin jumbo jet. Pertanyaanya adalah, apakah kita telah bersungguh-sungguh merindukan dan mempersiapkan kedatangan hidayah itu atau tidak?

    Sebagai contoh, Cat Steven, seorang penyanyi ternama yang sangat merindukan siapa Tuhan. Dia menjelajah ke sana ke sini, dan mencari terus. Sampai kakaknya memberinya the Holy Quran. Dia baca dan pelajari Alquran dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya dia tertarik, lalu masuk Islam. Begitulah, setiap orang yang bersungguh-sungguh mencari hidayah Allah, pasti Allah akan memberikan jalan. “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, maka akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami (QS.Al Ankabuut: 69).

    Mudah-mudahan dengan kesungguhan kita dalam mencari ilmu, mengamalkannya dengan ikhlas, dan memanjatkan do’a kepada-Nya, akan menjaga kita dari dicabutnya nikmat hidayah. Saudaraku, tak ada pilihan lain, kita harus berani memotong, memutus total semua keinginan untuk terus melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Hanya dengan keberanian itu hidayah dalam dada kita ini bisa selalu dijaga. Semoga Allah juga akan menambahkan semua hidayah-Nya kepada kita.

    ***

    (Diambil dari artikel Aa Gym, Refleksi Republika)

     
  • erva kurniawan 3:32 am on 9 May 2014 Permalink | Balas  

    Kisah Rabi’ah Al-Adawiyah, wanita sufi 

    siluet ontaKisah Rabi’ah Al-Adawiyah, Wanita Sufi

    Ketika Rabi’ah ditanya tentang hakikat imannya, ia menjawab, “Aku tidak beribadah kepada Allah karena takut kepadaNya. Sehingga aku serupa saja dengan budak/pelayan yang buruk yang bekerja dengan rasa takut terhadap majikannya. Aku beribadah bukan karena mengharapkan surga sehingga aku serupa dengan budak yang buruk yang diberi sesuatu untuk pekerjaannya. Tetapi aku beribadah kepada Allah karena cinta dan rinduku kepada-Nya.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:13 am on 8 May 2014 Permalink | Balas  

    Jamur-yang-Bisa-DimakanJamur dan Penyakitnya

    Anda pasti sering mendengar kata jamur. Tapi, tahukah anda, jamur adalah organisme yang terdiri dari satu sel tunggal yang ukurannya kecil sekali, sekitar 2 mikrometer. Tapi ada juga lho yang besar, ya sekitar 1 meter, seperti pada jamur kayu. Alat berkembang biak jamur adalah spora yang bentuk, ukuran, dan warnanya bervariasi.

    Nah, penyakit yang disebabkan oleh jamur ini dapat terjadi pada permukaan kulit, didalam kulit, dan jaringan didalam tubuh. Ada empat macam jamur yang menyebabkan infeksi kulit, yaitu tinea versicolor yang menyebabkan panu, tinea nigra, piedra hitam, dan piedra putih. Penderita biasanya mengeluh gatal-gatal pada kulit yang terkena jenis jamur ini. Tapi, sering juga terjadi akibat pemakaian kosmetik yang salah. Dan ini yang paling mengganggu.

    Kalau penyakit jamur yang menyerang kulit disebut mikosis kulit atau ringworm. Jamur jenis ini menyerang semua lapisan kulit, rambut, dan kuku. Daerah yang terkena menjadi gatal dan nyeri dan tentu saja mengganggu aktivitas sehari-hari. Bahkan, bisa terjadi infeksi yang disebabkan oleh bakteri sehingga kulit bernanah.

    Jenis penyakit jamur lainnya adalah :

    • Blastomyces dermatitids
    • Coccidiodes immits
    • Histoplasma capsulatum, dan…
    • Paracoccidioides brasiliensis.

    Biasanya jamur-jamur jenis ini ada di dalam binatang rendah dan tanah. Distribusinya terbatas pada daerah di Amerika Selatan, Meksiko, Amerika Utara, dan Afrika. Jamur-jamur itu bisa menyerang paru-paru kita lho. Kalau paru-paru kita terkena infeksi akibat jamur ini, maka akan menyebabkan kematian jika tidak segera diobati. Gejala yang ditimbulkan jamur yang menyerang paru-paru menyerupai gejala penyakit TBC. Jika jamur masuk ke dalam aliran darah, maka akan terjadi penyebaran ke organ-organ lain.

    Jadi, hati-hati dengan jamur. OK?!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:30 am on 7 May 2014 Permalink | Balas  

    itikafKata Bijak Orang Besar

    RASULULLOH SAW :

    “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu dan kerjakanlah apa yang tidak meragukanmu.”

    ALI BIN ABI THALIB RA :

    “Senangkanlah hati dari waktu ke waktu sebab apabila hati itu dibuat benci, maka dia akan menjadi buta.”

    ALI SHARIATI mengutip SHANDEL :

    “Bahaya yang paling besar yang dihadapi umat manusia pada zaman sekarang bukanlah ledakan bom atom, tapi perubahan fitrah.”

    JALALUDIN RUMI :

    “Mata hati punya kemampuan tujuh puluh kali lebih besar untuk melihat kebenaran daripada dua indera penglihatan.”

    AL HIMAONE :

    “Cinta sejati hanya terlahir dari kesucian hati.”

    UMAR BIN KHATTAB RA :

    “Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya.”

    UTSMAN BIN AFFAN RA :

    “Antara tanda-tanda orang bijaksana itu ialah kedua matanya menangis karena penyesalan (terhadap dosa).”

    HAMID AL LAQQAF :

    “Kucari kaya pada gelimang benda, namun kutemukan pada sikap menerima apa adanya.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:28 am on 6 May 2014 Permalink | Balas  

    Taubat 1Taubat Nasuha

    Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Agama Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuatnya. Bahkan Nabi Muhammad telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: “Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut).”

    Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. Sebagaimana firmanya dalam surat Al-Baqarah: 222,  “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

    Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara, bahkan pintunya selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari: “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat.” Tepatlah kiranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat: 133, “Bersegeralah kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu.”

    Taubat yang tingkatannya paling tinggi di hadapan Allah adalah “Taubat Nasuha”, yaitu taubat yang murni. Sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Tahrim: 66,  “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan ‘Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu'”.

    Taubat Nasuha adalah bertaubat dari dosa yang diperbuatnya saat ini dan menyesal atas dosa-dosa yang dilakukannya di masa lalu dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi di masa medatang. Apabila dosa atau kesalahan tersebut terhadap bani Adam (sesama manusia), maka caranya adalah dengan meminta maaf kepadanya. Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah penyesalan itu taubat?”, “Ya”, kata Rasulullah (H.R. Ibnu Majah).  Amr bin Ala pernah mengatakan: “Taubat Nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu pernah mencintainya”.

    ***

    (Diambil dari artikel Muhajriin Abdul Qadir, milis DKM An-Nahl)

     
  • erva kurniawan 5:09 am on 5 May 2014 Permalink | Balas  

    taubatLelah

    Kalau ada orang-orang yang masih terus menerus berdusta, aku tidak mengerti, terbuat dari apakah lidah mereka sehingga teramat hebat merangkai kata-kata indah menutupi kebenaran, menyembunyikan hakikat, mengedepankan kepalsuan. Padahal sekali saja berdusta, sudah sedemikian lelahnya kita berpikir untuk mencari segudang alasan baru untuk dusta berikutnya, sudah sebegitu kelunya lidah ini terpaksa menari mengikuti irama gendang kepalsuan yang tak hentinya bertabuh.

    Jika masih ada sebagian orang yang saling mencaci, menghina, menggunjing, berprasangka buruk dan menjelek-jelekkan saudaranya, aku tidak tahu, sekuat apa penciuman dan mulutnya karena pada saat itu ia seperti tengah memakan bangkai saudaranya sendiri.

    Seandainya masih beredar orang-orang yang tak hentinya berlaku sombong, angkuh dan takabbur, aku tak habis pikir, sebesar apa dirinya sehingga sangat lancang menantang kebesaran Tuhannya, dan sekuat apa tubuhnya kelak menanggung akibat dari kesombongannya.

    Sekiranya tetap hidup manusia-manusia yang enggan menyisihkan sebagian harta yang dimilikinya, sementara bertebaran di seluruh penjuru bumi Allah ini anak-anak yatim piatu, fakir miskin dan orang-orang lemah… aku semakin heran, apakah ia selalu berpikir bahwa semua itu diperolehnya murni dari hasil jerih payahnya? Tak pernahkah ia tahu bahwa semua yang ada padanya itu adalah atas kehendak Allah Sang Pemberi Rizki? Yang seandainya Dia berkehendak, dengan sangat mudah pula Dia mengambilnya?

    Umpamanya masih hidup orang-orang yang gemar berbuat maksiat, bangga dengan dosa-dosanya, sungguh aku tidak akan pernah memahami, setebal apa kulit mereka menahan api neraka Allah, sekuat tubuh orang-orang itu menerima adzab Allah yang tak pernah berhenti.

    ***

    (Diambil dari artikel Bayu Gautama, http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 4:00 am on 4 May 2014 Permalink | Balas  

    siluet kesendirianJawaban Seorang Murid

    Suatu ketika Syafiq Al Balkhi bertanya kepada muridnya, Hatim Al Asham, “Apakah pelajaran yang dapat engkau petik sejak menemaniku?”

    Mendengar pertanyaan dari sang guru, Hatim menjawab, “Ada enam pelajaran yang dapat aku petik. Pertama, ketika aku melihat manusia selalu mencemaskan masalah rezeki sedangkan mereka bakhil dengan apa yang telah mereka dapat dan tamak dengannya. Karena aku termasuk makhluk yang menjalar di muka bumi, maka aku tidak meresahkan hatiku apa yang telah dijamin Yang Maha Kuasa.”

    Syafiq mendengarkan dengan seksama, “Bagus.” ujarnya.

    “Yang kedua, karena aku melihat semua orang mempunyai teman yang menjadi tempat pengaduannya untuk mengatakan semua permasalahan dan rahasianya, sedangkan mereka tidak membelanya pada waktu temannya susah. Aku menjadikan amal shaleh sebagai temanku agar ia dapat membantuku kepada waktu hisab dan membelaku ketika dihadapkan kepada Alloh.”

    “Bagus,” kata Syafiq lagi, dengan terus menanti uraian kalimat berikutnya dari sang murid.

    “Ketiga, aku melihat setiap orang mempunyai musuh. Aku melihat setiap orang yang menggunjingku bukanlah musuhku, bukan orang yang mendzalimiku, bukan pula orang yang berbuat jahat kepadaku. Tapi orang-orang tersebut telah memberiku keuntungan dari mereka dan akan menanggung dosa-dosaku. Musuhku adalah orang-orang yang apabila aku mentaati Alloh, mereka menggodaku unruk melakukan kedurhakaan. Aku menganggap bahwa mereka itu adalah iblis, nafsu, dunia, dan hawa. Oleh karena itu aku menjadikan mereka sebagai musuhku. Aku akan berhati-hati dengan mereka dan mempersiapkan segala sesuatu untuk memerangi mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka mendekatiku.”

    Safiq masih dengan ketekunannya memperhatikan ucapan muridnya itu. “Bagus,” katanya lagi.

    “Keempat, aku melihat setiap makhluk hidup dalam keadaan diburu, dan pemburu tersebut adalah malaikat maut. Maka aku mempersiapkan diri untuk menemuinya dan akan segera menyambutnya tanpa penghalang.”

    “Bagus.” ungkap Syafiq lagi.

    “Kelima, aku melihat semua manusia selalu dalam keadaan saling menyayangi dan saling membenci. Lalu aku mempelajari sebab dari sayang dan benci. Oleh karena itu aku membuang jauh-jauh dariku sifat hasad. Kemudian aku mencintai semua manusia sebagaimana aku mencintai diriku sendiri.”

    Syafiq berucap lagi menanggapi perkataan muridnya, “Bagus!”

    “Keenam, aku melihat setiap orang yang bertempat pasti akan berpisah dengan tempatnya. Maka aku melihat bahwa tempat kembali semua orang yang menetap tersebut adalah kubur. Oleh karena itu aku mempersiapkan untuknya segala persiapan berupa amal-amal shaleh untuk menetap di tempatku yang baru tersebut sedangkan tidak ada tempat dibelakangnya kecuali surga dan neraka.”

    Untuk kesekian kalinya, Syafiq berkata lagi, “Bagus.” ujarnya seraya menutup pembicaraan. *** (Irfanul Hakim)

     
  • erva kurniawan 3:38 am on 3 May 2014 Permalink | Balas  

    TaubatKriteria Dosa Besar Menurut Al-Qur’an dan Hadis

    Oleh : Burhan Djamaluddin

    Di dalam ajaran Islam, dikenal adanya dosa besar dan dosa kecil. Namun tidak didapati rincian dalam al-Qur’an dan Hadis, dua sumber agama Islam, tentang kesalahan apa saja yang dikategorikan dosa besar dan dosa kecil.

    Dalam al-Qur’an, misalnya surat al-Nisa’ ayat 37, dan surat al-Najm ayat 32, disebut kata kaba’ir dan kaba’ir al-ism. Menurut Muhammad Fuad Abd al-Baqi, hanya 3 ayat dalam al-Qur’an yang mengandung kata kaba’ir atau kaba’ir al-ism. Dalam ayat-ayat itu, yang disebut kaba’ir tidak jelas. Kata kaba’ir atau kaba’ir al-ism, yang biasanya diterjemahkan dengan dosa besar dan muncul dalam al-Qur’an sebanyak 3 kali itu, semuanya tidak menyebut kesalahan apa saja yang disebut dosa besar.

    Hadis, yang fungsinya antara lain menjelaskan yang masih umum dalam al-Qur’an, tidak banyak membantu kita untuk dapat memahami kesalahan apa saja yang disebut dosa besar. Dalam Hadis, justeru yang terungkap hanya dosa-dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar (akbar al-kaba’ir), yaitu syirik, durhaka kepada kedua orang tua, saksi palsu, mundur dari medan perang melawan orang kafir, dan sihir. Jika ada dosa paling besar, tentu ada dosa besar dan dosa kecil. Dengan demikian, perincian dosa-dosa besar belum jelas adanya. Bahkan, ungkapan-ungkapan dalam al-Qur’an atau Hadis yang mengacu kepada arti dosa-dosa besar belum jelas. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba mengungkap kriteria-keriteria dosa besar, baik melalui sumber pertama (al-Qur’an) maupun sumber kedua (Hadis) Rasulullah, dengan cara menelusuri istilah atau ungkapan yang digunakan dalam dua sumber ajaran Islam tersebut.

    Sebelum dicoba diuraikan ungkapan-ungkapan yang mengacu kepada arti dosa besar dalam al-Qur’an dan Hadis, terlebih dahulu dikemukakan beberapa ungkapan yang biasa diterjemahkan dengan arti dosa dalam bahasa Indonesia.

    Istilah-Istilah Dosa Dalam Al-Qur’an

    Dalam al-Qur’an, terdapat sejumlah istilah atau kata yang biasa diterjemahkan dengan dosa dalam bahasa Indonesia. Istilah-istilah tersebut ,misalnya: al-itsm, al-zanb, al-khith’u, al -sayyi’at dan al-hub.

    Kata al-itsm dengan berbagai bentuk kata jadiannya, menurut perhitungan Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi, muncul sebanyak 44 kali dalam al-Qur’an. Menurut Lewis Ma’luf, kata al-itsm, berarti ‘amila ma la yahillu (mengerjakan sesuatu yang tidak halal atau tidak dibolehkan agama). Makna kata al-itsm, seperti diungkap Lewis Ma’luf, umum sekali, yaitu mencakup semua amal yang dilarang agama. Padahal al-Qur’an, ketika menunjuk hal-hal yang dilarang agama, misalnya zina, mengungkapnya dengan kata fahisyat. Jadi, tidak selamanya hal-hal yang dilarang agama disebut al-itsm oleh al-Qur’an. Berbeda dengan Lewis Ma’luf, Al-Raghib al-Asfahani, salah seorang pakar bahasa al-Qur’an, mengemukakan bahwa kata al-itsm berarti sebutan bagi perbuatan-perbuatan yang menghambat tercapainya pahala. Dengan kata lain, al-itsm adalah sebutan bagi tindakan yang menghambat terwujudnya kebaikan.

    Berbeda dengan Lewis Ma’luf dan al-Asfahani, al-Maraghi (penulis tafsir al-Maraghi), mengatakan bahwa al-itsm sama dengan al-zanb. Sesuatu perkataan atau tindakan baru dapat disebut al-itsm, demikian al-Maraghi, bila mendatangkan bahaya yang menimpa jasmani, jiwa, akal, dan harta benda (materi). Ibn Mandhur, penulis kamus Lisan al-Arab, lebih khusus lagi mengartikan al-itsm dengan al-khamar. Alasan yang dikemukakan Ibn Mandhur ialah bait syair Arab yang berbunyi “syaribtu al-itsm hatta dlalla ‘aqliy, kazalika al-itsm tazhabu bi al-‘uqul” (saya meminum al-ism, “al-khamar”, maka ingatanku hilang. Memang khamar dapat menghilangkan ingatan).

    Dalam al-Qur’an, terdapat dua tindakan yang dapat dikategorikan al-itsm, yakni meminum khamar dan bermain judi, seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 219. Memang, mengartikan al-itsm dengan sesuatu yang menghambat perbuatan baik, mendatangkan bahaya, dan bahkan secara eksplisit sama dengan khamar, seperti yang dilakukan oleh ibn Mandhur, tidak jauh dari hakikat kata al-itsm, seperti yang ditunjukkan oleh al-Qur’an. Seseorang yang meminum khamar dan bermain judi, misalnya, dapat mengganggu aktifitas yang positif, dapat membahayakan kesehatan jasmani dan rohani,dan dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan negatif lainnya.

    Dari sejumlah kata al-itsm yang muncul dalam al-Qur’an, terlihat bahwa kata al-ism digunakan untuk menyebut pelanggaran yang memiliki efek negatif dalam kehidupan seseorang dan masyarakat.

    Kata al-zanb dengan berbagai bentuk kata jadiannya disebut sebanyak 48 kali dalam al-Qur’an. Menurut Lewis Ma’luf, kata al-zanb berarti tabi’ahu falam yufarriq israh (menyertai dan tidak pernah berpisah). Kata al-zanab yang dirangkai dengan binatang, misalnya zanab al-hayawan berarti ekor binatang. Ekor binatang biasanya terletak di belakang, dekat dengan tempat keluarnya kotoran. Ekor, kalau begitu, menggambarkan keterbelakangan atau kehinaan. Ungkapan zanab al-qawm berarti masyarakat terkebelakang. Dengan demikian dapat dipahami bahwa ungkapan al-zanb yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan dosa, ditujukan kepada perbuatan-perbuatan yang mengandung nilai kehinaan dan keterbelakangan, seperti letak ekor binatang yang dekat dengan tempat keluarnya kotoran.

    Diantara 48 kata al-zanb yang muncul dalam al-Qur’an adalah terdapat dalam surat Ali Imran ayat 135. Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang meminta ampun dari dosa (al-zanb), karena mengerjakan fahisyat, maka Allah akan mengampuni dosa mereka. Kata fahisyat berarti al-zina atau ma yusytaddu qubhuh min al-zunub (dosa yang paling jelek atau paling besar). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kata al-zanb mengacu juga kepada perbuatan dosa yang paling jelek termasuk zina. Apalagi, diantara ulama tafsir, misalnya al-Maraghi, memang mengartikan kata fahisyat dalam ayat itu dengan arti zina.

    Tindakan lain yang dikatakan al-zanb oleh al-Qur’an adalah mengubur hidup-hidup anak perempuan, seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyah. Tindakan mereka disebutkan dalam surat al-Takwir ayat 9. Perbuatan masyarakat Jahiliyah seperti diungkap dalam ayat itu termasuk perbuatan keji, sebab tindakan itu tidak mengenal perikemanusiaan sama sekali. Dalam Islam, merusak tubuh manusia yang telah meninggal, jika tidak ada kepentingan keilmuan atau kepentingan lain, diketegorikan dosa, apalagi mengubur hidup-hidup manusia.

    Mendustakan ayat-ayat Allah diungkap pula dengan kata al-zanb, seperti terdapat dalam surat al-Anfal ayat 54. Hal ini, menurut pandangan Allah, karena dosa mendustakan ayat-ayat Allah termasuk dosa paling besar. Dalam ajaran Islam, puncak ajaran agama adalah tauhid (mengesakan Allah). Oleh karena ajaran tauhid paling penting dalam ajaran Islam, maka orang-orang yang menganggap Allah memiliki anak, seperti dalam surat al-Maidah ayat 18, dikatakan sebagai orang berdosa besar.

    Dari sekian banyak ayat yang mengadung kata al-zanb dalam al-Qur’an, dapat dipahami bahwa kata al-zanb digunakan untuk menyebut dosa terhadap Allah dan dosa terhadap sesama manusia. Kebanyakan kata al-zanb muncul dalam bentuk yang sangat umum, sehingga tidak dapat diketahui apakah dosa yang ditunjukkannya termasuk dosa besar atau dosa kecil. Untuk mengetahui besar kecilnya dosa yang ditunjuk oleh kata al-zanb harus didukung oleh petunjuk lain yang terdapat dalam konteks ayat yang memuat kata al-zanb itu, atau petunjuk dari Hadis Rasulullah.

    Al-khith’u juga termasuk salah satu kata yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan arti dosa. Bentuk kata kerja madli (kata kerja lampau) dari kata al-khith’u ialah khati’a. Penggunaan kata khathi’a fi dinih berarti salaka sabila khatha’in amidan aw ghaira amidin (mengikuti jalan yang salah, baik disengaja maupun tidak disengaja). Nampaknya, kata al-khith’u ini dianggap sama dengan kata al-zanb oleh Lewis Ma’luf. Namun, Lewis menambahkan pendapat lain bahwa al-khith’u khusus digunakan untuk mengungkap kesalahan yang tidak disengaja.

    Berbeda dengan Lewis, al-Raghib al-Asfahani, mengartikan kata al-khith’u dengan arti melenceng dari arah yang sebenarnya. Pengertian melenceng seperti diungkap al-Asfahani ini, memiliki beberapa kemungkinan. Pertama, niat mengerjakan sesuatu yang salah, kemudian benar-benar dikerjakan. Kesalahan seperti ini dinamakan al-khith’u al-tamm (betul-betul salah). Kedua, niat mengerjakan sesuatu yang boleh dikerjakan tetapi yang dikerjakan justru sebaliknya. Dengan kata lain, benar niatnya, tetapi tindakannya salah. Ketiga, niat mengerjakan yang tidak boleh dikerjakan, tetapi yang dilakukan sebaliknya, yaitu mengerjakan perbuatan yang boleh dilakukan. Yang disebut ketiga ini, salah niatnya tetapi benar tindakannya. Kata al-khith’u dalam al-Qur’an, menurut perhitungan Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, muncul sebanyak 22 kali. Diantara kata al-khith’u yang muncul dalam al-Qur’an ialah dalam surat al-Isra’ ayat 31. Kata al-khith’u dalam ayat ini dirangkai dengan kata kabiran (besar). Kata kabiran adalah sifat dari kata al-khith’u, sehingga rangkaian dua kata yang disebut terakhir ini berarti dosa besar. Dengan demikian, kata al-khith’u dalam ayat ini dapat diterjemahkan sebagai dosa besar jika dirangkai dengan kata kabiran.

    Dari sekian banyak ayat al-Qur’an yang mengandung kata al-khith’u dapat dipahami bahwa kata ini digunakan untuk menyebut dosa yang cukup bervariasi, misalnya dosa terhadap Allah, dan dosa terhadap sesama manusia. Juga dapat dipahami bahwa al-Qur’an, ketika menggunakan kata al-khith’u atau al-khathiat, tidak menjelaskan secara tersurat, apakah dosa yang ditunjukkannya dosa besar atau dosa kecil. Untuk membedakan dosa yang ditunjukkannya, dibutuhkan petunjuk lain, seperti adanya kata kabiran dalam ayat 31 surat al-isyra’ yang dikutip di depan.

    Seperti disebut di depan, kata al-sayyi’at juga termasuk kata yang diterjemahkan dalam bahasa Indoenesia dengan arti dosa. Kata ini dengan segenap kata jadiannya, menurut perhitungan Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, muncul sebanyak 167 kali. Seorang pakar bahasa al-Qur’an, al-Raghib al-Asfahani, mengartikan kata al-sayyi’at atau al-su’ dengan kullu ma yaghummu al-insan min al-umur al-dunyawiyyat wa al-ukhrawiyyat wa min al-ahwal al-nafsiyyat wa al-badaniyyat wa al-kharijat min fawat malin wa jahin wa faqd hamim (segala sesuatu yang dapat menyusahkan manusia, baik masalah keduniaan maupun masalah keakhiratan, atau baik masalah yang terkait dengan kejiwaan atau jasmani, yang diakibatkan oleh hilangnya harta benda, kedudukan dan meninggalnya orang-orang yang disayangi).

    Ternyata kata al-sayyi’at yang muncul dalam al-Qur’an, semuanya merujuk kepada arti yang disebutkan al-Asfahani tersebut. Dalam al-Qur’an, surat Thaha ayat 22, dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan Nabi Musa untuk memasukkan tangannya ke ketiaknya, niscaya tangan Nabi Musa akan keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacad. Hal itu sebagai mu’jizat lain yang dimiliki Nabi Musa dari Tuhannya. Kata al-su’, dalam ayat ini berarti penyakit, yaitu al-barash (belang), yang banyak menimpa tangan, penyakit yang selalu menyusahkan orang yang ditimpanya. Oleh karena itu, sangat tepat bila kata al-su’ diartikan juga dengan al-huzn (susah). Sesuatu hal yang jelek juga dikatakan al-su’, dan karena itu kata al-su’ dalam hal ini dilawankan dengan al-husna (baik), dan al-sayyiat dilawankan dengan kata al-hasanat, seperti terdapat dalam surat al-Nisa’ ayat 79.

    Dalam al-Qur’an, perbuatan-perbuatan yang dikategorikan al-su antara lain: perzinaan (Surat al-Nisa’ ayat 22), menjadikan syetan sebagai teman (surat al-Nisa’ ayat 38), mengubur hidup-hidup anak perempuan seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyah (surat al-Nisa’ ayat 58-59). Dari sekian banyak kata al-su’ atau al-sayyi’at yang muncul dalam al-Qur’an, kelihatannya tidak selalu mengacu kepada arti dosa besar (seperti yang disebutkan dalam Hadis Rasulullah) atau dosa kecil. Terkadang kata al-su’ digunakan untuk menyebut dosa besar, seperti zina (surat al-Isra’ ayat 32), membunuh anak perempuan hidup-hidup (surat al-Nahl ayat 59), dan sebagainya. Terkadang juga kata al-su’ ada yang mengacu kepada dosa kecil, seperti yang muncul dalam surat al-Nisa’ ayat 31. Disamping itu, ada lagi kata al-su’ dalam al-Qur’an yang tidak jelas mengacu kepada dosa besar atau dosa kecil, seperti yang muncul dalam surat al-A’raf ayat 95, surat al-Ra’d ayat 6, surat Yunus ayat 28, surat al-Naml ayat 90, surat Ghafir ayat 40, dan lain-lain.

    Kata al-hub, yang diterjemahkan dengan arti dosa, muncul dalam al-Qur’an sebanyak satu kali, yaitu dalam surat al-Nisa’ ayat 2. Menurut al-Asfahani, kata al-hub sama dan sinonim dengan kata al-itsm. Oleh karena kata al-hub ini muncul hanya satu kali dalam al-Qur’an, tidak dapat diketahui berbagai makna yang timbul dari kata tersebut, apakah ia mengacu kepada arti dosa besar atau dosa kecil, atau dosa secara umum. Khusus dalam surat al-Nisa’ ayat 2 di atas, karena kata al-hub dirangkai dengan kata kabiran, maka rangkaian itu diterjemahkan dengan dosa besar.

    Kriteria Dosa Besar

    Tidak mudah untuk menentukan kriteria dosa besar dalam al-Qur’an. Kesulitan itu tetap terasa, walaupun istilah-istilah yang biasa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan dosa telah dijelaskan sebelum ini. Diantara lima istilah tersebut, tidak satu pun yang secara eksplisit dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan dosa besar. Bila al-Qur’an menyebut dosa besar, maka istilah-istilah tersebut dirangkai dengan kata kabir atau adim (dua kata yang berarti besar). Oleh karena itu, ditemukan rangkaian kata-kata: isman adiman, isman kabiran, zanban adiman, khith’an kabiran, atau huban kabiran, untuk merujuk dosa-dosa besar. Dengan demikian, jika ditemukan kata ism, zanb, khith’ saja, maka tidak dihukumi sebagai dosa besar, tanpa melihat indikator lain yang dapat mengantarkan kita memahaminya sebagai dosa besar.

    Sebagai dikatakan di atas, Hadis pun tidak banyak membantu kita menjelaskan kekaburan itu. Yang disebut dalam Hadis hanyalah dosa-dosa terbesar diantara dosa-dosa besar. Sedangkan dosa besar itu sendiri masih kabur. Setelah tidak jelas macam-macam dosa besar, menurut al-Qur’an dan Hadis, maka ijtihadlah yang harus difungsikan untuk mengetahui macam-macam dosa besar. Oleh karena dasar untuk mengetahui dosa besar itu ijtihad, maka hasilnya menjadi relatif. Jika dampak negatif yang ditimbulkan suatu tindakan pelanggaran dijadikan tolok ukur untuk mengetahui dosa besar, kesulitan yang ditemui ialah bahwa dampak negatif itu sendiri relatif juga. Suatu pelanggaran, yang dianggap oleh seseorang memiliki dampak yang relatif cukup besar bagi dirinya, belum tentu dirasakan sebagai hal yang sama oleh orang lain. Dalam menyelesaikan problem ini, akan digunakan tolok ukur lain, yaitu istilah apa yang digunakan al-Qur’an ketika mengancam pelanggar suatu aturan. Tentu yang dianalisa adalah bahasa yang digunakan oleh al-Qur’an atau Hadis tersebut.

    Berdasarkan tolok ukur kebahasaan itu, dosa besar menurut al-Baruzi, seperti dikutip al-Ghimari setidak-tidaknya ada lima belas kategori, yaitu dosa besar yang diancam dengan hukuman had, dosa besar yang ditandai dengan ungkapan “fahisyah”, dosa besar karena pelanggaran yang dilakukan termasuk perbuatan syetan, dosa besar karena Allah tidak menyenangi tindakan itu termasuk pelakunya, dosa besar karena pelaku dosa diancam dengan laknat, dosa besar karena Allah marah terhadap pelakunya, dosa besar ditandai dengan ungkapan “shalat yang dikerjakan seseorang ditolak Allah”, dosa besar karena pelakunya dikecam sebagai orang merugi, dosa besar ditandai dengan ungkapan “bukan dari golongan kami”, dosa besar ditandai dengan ungkapan “Allah menutup pintu taubat bagi pelaku dosa”, dosa besar ditandai dengan ungkapan “kemaksiatan menghabiskan kebaikan”, dosa besar ditandai dengan ancaman wayl, dosa besar karena tindakan itu membatalkan amalan shaleh, dosa besar ditandai dengan ungkapan “Allah tidak menyenangi pelaku dosa”, dan dosa besar ditandai dengan ungkapan “tidak perlu ditanyakan resiko yang akan diterima pelaku dosa”. Macam-macam dosa besar yang dikemukakan al-Baruzi tersebut, tidak dijelaskan semua di sini, karena disamping tidak memungkinkan dari segi tempat yang disediakan, juga karena sebagian besar dari dosa-dosa tersebut, sudah disebutkan dalam Hadis Rasulullah, bahkan ada yang termasuk dosa terbesar. Oleh karena itu hanya sebagian saja yang akan diuraikan di sini.

    1. Dosa Besar Karena Diancam Dengan Hukuman Had.

    Terdapat sejumlah ayat al-Qur’an yang mengancam sebuah pelanggaran dengan hukuman had, misalnya surat al-Baqarah ayat 178. Ayat ini membicarakan hukuman had bagi pembunuh, atau terkenal dengan qishash. Secara eksplisit, memang sudah dikatakan dalam Hadis bahwa dosa pembunuhan termasuk dosa besar. Namun, tidak semua pelanggaran yang diancam dengan hukuman had disebut oleh Hadis Rasulullah. Dalam Hadis disebutkan bahwa dosa besar karena diancam hukuman had hanyalah zina, dan saksi palsu. Padahal dosa besar dengan tolok ukur ancaman had bagi sebuah pelanggaran cukup banyak, misalnya: membunuh, zina, qazaf (tuduhan palsu), mencuri, pengacau di jalan, liwath (homo seksual) .

    Kata had berasal dari kata kerja hadda. Kalimat hadda Allah ‘anna al-syarra, berarti kaffahu wa sharrafahu (menjauhkan atau memalingkan). Tegasnya, Allah menjauhkan kita dari bahaya. Ungkapan hadda al-muzniba berarti aqama ‘alyhi al-had bima yamna’u ghairahu wa yamna’uhu min irtikab al-zanb (menerapkan hukuman had kepada seseorang yang berbuat dosa, agar dia jera dan agar orang lain yang mengetahui hukuman tersebut dapat juga jera). Kemudian muncullah istilah had dan dalam bentuk jamaknya hudud, yang berarti hukuman yang diterapkan di dunia bagi pelanggar hukum tertentu, seperti pencurian dengan hukuman potongan tangan, zina dengan hukuman rajam, pembunuhan dengan hukuman qishash, dan sebagainya.

    Hukuman bagi pembunuhan, perzinaan, qazaf, mencuri, mengacau di jalan, dan liwath (homoseksual) dikategorikan dosa besar, bukan saja karena diancam dengan hukuman had, tetapi karena dampak negatif dari tindakan- tindakan tersebut memang besar. Di sini, untuk menilai tindakan-tindakan tersebut sebagai dosa besar, bukan saja acuan kebahasaan tetapi juga acuan dampak negatif yang ditimbulkannya. Pembunuhan, misalnya, memiliki dampak negatif yang cukup besar, sebab pembunuhan tidak saja menghilangkan nyawa orang yang terbunuh. Lebih dari itu, pembunuhan dapat menambah penderitaan keluarga yang ditinggalkannya, terutama jika yang terbunuh itu orang yang menjadi tulang punggung kehidupan keluarga.

    Demikian juga perzinaan, dikategorikan dosa besar, karena disamping diancam dengan hukuman had, juga karena dampak negatif yang ditimbulkan zina cukup besar. Penyakit kelamin, anak lahir tanpa orang tua sah dan hidup terlantar, cemoohan masyarakat dan masih banyak lagi yang lainnya, adalah dampak-dampak yang ditimbulkan perzinaan. Qazaf pun tidak kalah besar dampaknya bila dibandingkan dengan pembunuhan dan perzinaan. Orang yang dituduh palsu, dalam hal ini wanita baik-baik yang dituduh berzina, nama baiknya akan tercemar, termasuk nama baik keluarganya. Wanita itu juga akan dikucilkan dari masyarakat, dan akan mengalami penderitaan batin yang cukup hebat. Tidak mudah untuk memulihkan nama baiknya, dan kalaupun bisa, membutuhkan waktu yang cukup lama dan membutuhkan mental yang cukup prima. Wajar bila penuduh palsu diancam dengan hukuman berat, yaitu dipukul delapan puluh kali (hukuman had), kesaksian mereka ditolak selamanya, dan mereka dikategorikan orang fasik. Demikian juga mencuri dan mengacau di jalan, termasuk yang diancam dengan hukuman had oleh al-Qur’an. Hukuman-hukuman yang diancamkan kepada pezina, pencuri, penuduh palsu, dan pengacau di jalan tersebut cukup berat. Dengan melihat ancaman hukuman tersebut, tidak salah jika pelanggaran-pelanggaran yang diancam dengan hukuman had dikategorikan dosa besar.

    2.Dosa Besar Ditandai Ungkapan “Fahisyat’.

    Dosa besar dapat dikenal juga dengan adanya ungkapan fahisyat bagi tindakan pelanggaran. Diantara ayat yang menggunakan kata fahisyat untuk menunjuk suatu pelanggaran adalah ayat 15 surat al-Nisa’. Dalam ayat ini, Allah menetapkan bahwa para isteri yang dituduh mengerjakan perbuatan fahisyat, harus dibuktikan kebenarannya oleh empat orang saksi. Kata fahisyat berarti qabihat dan syani’at (jelek dan keji). Banyak mufassir menafsirkan kata fahisyat dalam ayat ini dengan arti zina. Namun dalam beberapa ayat lain, kata fahisyat muncul dalam makna yang sangat umum, misalnya dalam ayat 45 surat al-Ankabut. Dalam ayat disebut terakhir, dikatakan bahwa shalat dapat mencegah seseorang dari perbuatan fahsya’ (bentuk jamak dari fahisyat). Kata fahisyat dalam ayat ini tidak dapat dipahami dengan makna zina, karena tidak ada petunjuk yang mengantarkan kita untuk dapat memahaminya dengan arti zina. Demikian pula kata fahsya’ dalam ayat 169 surat al-Baqarah, ayat 28 surat al-A’raf, ayat 24 surat Yusuf, ayat 22 surat al-Nisa’ dan sebagainya, muncul dengan makna yang sangat umum. Kata-kata fahsya’ atau fahisyat dalam konteks seperti ini tidak dapat dipahami dengan mengacu kepada arti dosa besar atau dosa kecil. Namun pada saat tertentu, misalnya ada petunjuk yang tegas yang mengarah kepada arti dosa besar, kata fahisyat atau fahsya’, dapat dijadikan dasar untuk menghukumi sebuah pelanggaran sebagai dosa besar.

    3. Dosa Besar Karena Pelakunya Diancam Dengan Laknat.

    Dosa besar terkadang dapat diketahui dengan adanya ungkapan lain yang digunakan al-Qur’an atau Hadis, selain yang dikemukakan di atas, yaitu pelakunya diancam dengan laknat, misalnya dalam ayat 51-52 surat al-Nisa. Dalam ayat ini, Allah menyatakan melaknat orang-orang musyrik dan orang-orang yang percaya kepada Thaghut dan orang-orang yang mengakui bahwa orang kafir Makkah lebih benar jalannya dari orang-orang beriman. Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata “la’ana” yang, dari segi bahasa, berarti akhaza wa sabba (menyiksa dan mencaci) dan dapat juga berarti ab’adahu min al-khair (menjauhkan dari kebaikan). Lebih jauh lagi, kata la’ana berarti ‘azzaba (menyiksa). Al-Maraghi mengartikan kata la’ana dengan ab’adahu min al-khayr. Dengan arti bahasa dan istilah dari kata la’ana seperti dikutip di atas, dapat dipahami bahwa kata la’ana mengakibatkan jauhnya seseorang dari kebaikan, atau tegasnya, jauhnya seseorang dari rahmat Allah. Orang yang dijauhi memang ada kemungkinan karena tidak disenangi, dan dampak dari tidak disenangi orang antara lain tidak mendapatkan kebaikan orang lain. Orang tidak disenangi dalam ayat di atas ialah orang musyrik, dan kemusyrikan termasuk dalam akbar al-kabair (salah satu dosa terbesar diantara dosa-dosa besar).

    Orang-orang yang tidak disenangi Allah, seperti tercantum dalam al-Qur’an cukup bervariasi, misalnya orang-orang kafir (Qs. al-Ahzab ayat 64). Bahkan golongan ini dinyatakan secara tegas akan dimasukkan ke dalam neraka yang apinya menyala-nyala di akhirat nanti. Golongan yang tidak disenangi Allah, juga termasuk orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah melanggar janji kepada Allah. Hati mereka pun enggan dan kaku, serta keras bagaikan batu, sehingga tidak mau menerima ayat-ayat Allah. Bahkan lebih jauh lagi, mereka berani merubah ayat-ayat Allah (ayat al-Qur’an), seperti merubah arti dan mengurangi atau menambah huruf dan kata-kata dalam ayat al-Qur’an tersebut.

    Dalam Hadis Rasulullah pun terdapat kata la’ana, yaitu sabda Rasulullah: “la’ana Allah al-rasyi wa al-murtasyi” (Allah melaknat orang yang menyuap dan yang disuap). Beberapa kata la’ana yang muncul, baik dalam al-Qur’an maupun dalam Hadis memang mengacu kepada arti dosa besar. Apalagi pelanggaran-pelanggaran yang diungkap dengan kata la’ana, dampak negatifnya memang besar, sehingga tepat bila kata la’ana digunakan sebagai dasar untuk menghukumi pelanggaran yang ditunjuknya sebagai dosa besar.

    4. Dosa Besar Yang Ditandai Ungkapan “Kemaksiatan Dapat Merusak Kebaikan”.

    Dosa besar dalam kategori ini tidak ditemukan dalam al-Qur’an, tetapi ditemukan dalam Hadis Rasulullah. Hadis tersebut berbunyi: “Iyyakum wa al-hasad fa inna al-hasad ya’kul al-hasanat kama ta’kul al-nar al-hathab” (Jauhilah sifat hasad (dengki), sebab dengki itu dapat memakan amalan baik, sebaimana halnya api membakar kayu). Dalam kamus Arab, kata hasad digunakan, misalnya dalam ungkapan “hasada fulan ni’matahu wa ‘ala ni’matihi” yang berarti “tamanna zawala ni’matih wa tahawwulaha ilayhi” (Seseorang berharap hilangnya ni’mat yang didapat orang lain, dan dapat berpindah ke tangan dia). Hasad, kalau begitu, adalah sifat yang tidak terpuji. Kemudian, bagaimana sifat hasad dapat memakan amal-amal baik, sehingga digambarkan sebagai api membakar kayu? Tidak dijelaskan oleh Rasulullah. Dapat diduga bahwa alasan hasad dapat memakan amal-amal baik, adalah karena orang kalau sudah hasad, tidak pernah merasa puas dengan nikmat yang diberikan Allah. Bahkan, nikmat Allah yang ada di tangan orang lain diusahakan pindah ke tangannya. Dalam pandangan orang hasad, kebaikan dan nikmat yang ada di tangannya selalu dirasakan kurang. Bahkan, nikmat tersebut tidak diakui eksistensinya. Jadi, sifat hasad sama dengan api yang membakar kayu. Yang tersisa hanya arang dan debu. Lama kelamaan, arang dan debu pun akan hilang tanpa bekas. Gambaran hasad dapat menghilangkan kebaikan bersifat abstrak. Proses hilangnya kebaikan oleh sifat hasad tidak dapat dilihat. Oleh karena itu, dibutuhkan perumpamaan. Kemudian, Rasulullah mengambil perumpamaan: Hasad menghilangkan kebaikan sama dengan api membakar kayu. Dengan cara mempersamakan seperti ini, sesuatu yang awalnya bersifat abstrak berubah menjadi kongkrit. Ia menjadi seakan-akan dapat diihat, seperti halnya benda nyata. Seseorang yang telah hangus amal baiknya, berarti ia tidak memiliki peluang untuk memperoleh balasan kebaikan dari Allah. Sebaliknya, justeru balasan keburukan (neraka) yang akan diperolehnya. Bila demikian, dapat dipahami kalau sifat hasad dikategorikan sebagai dosa besar.

    5. Dosa Besar Karena Diancam Dengan Wayl (Celaka).

    Dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang mengandung kata wayl (celaka), antara lain dalam surat al-Muthaffifin ayat 1-3. Kata wayl menurut kamus bahasa Arab berarti al-halak (kehancuran). Kata wayl dalam ayat 1 surat al-Muthaffifin tersebut, menurut al-Maraghi, merujuk kepada arti kehancuran yang besar. Kehancuran besar menggambarkan besarnya dampak yang ditimbulkan. Kehancuran besar dalam ayat ini ialah menimbang dengan timbangan yang besar ketika membeli dan menimbang dengan timbangan kecil ketika menjual. Tindakan ini jelas mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dalam perdagangan, tanpa memperhatikan kerugian dan penderitaan orang lain. Setidak-tidaknya, ada dua keuntungan yang diraih oleh orang yang melakukan penipuan seperti itu: Pertama, keuntungan dari selisih timbangan barang yang dibeli; Kedua, keuntungan dari selisih harga jual barang. Oleh karena itu, tindakan tersebut sangat menguntungkan diri sendiri dan sangat merugikan orang lain. Dengan demikian, adalah tepat bila al-Qur’an mengancam pelakunya dengan kata wayl, yang merujuk kepada besarnya dosa bagi pelaku tindakan tersebut.

    Al-Asfahani mengartikan kata wayl dengan al-qubh (jelek) atau al-tahassur (penyesalan). Pengertian wayl seperti yang dikemukakan al-Asfahani, secara etimologis, berbeda dengan pengertian yang diberikan oleh Lewis Ma’luf. Namun pada hakekatnya, dua pengertian itu memiliki makna yang sama, yaitu merujuk kepada arti kejelekan atau kejahatan yang besar, dan dampaknya menimbulkan kehancuran yang besar pula. Pendusta lagi banyak berbuat dosa, sebagai dikatakan dalam al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 7, tepat diancam dengan wayl. Kedustaan sudah cukup membahayakan, apalagi ditambah dengan kesenangan melakukan dosa.

    6. Dosa Besar Ditandai Ungkapan”Allah Tidak Suka Melihat Pelaku Dosa”.

    Dosa besar dalam kategori ini ditandai ungkapan “la yandhuru” (tidak melihat). Kata nadhara, bentuk kata kerja lampau dari kata kerja yandhuru, dalam al-Qur’an ditemukan lebih seratus kali dengan berbagai bentuk kata jadiannya. Seperti dikatakan di atas, kata la yandhuru, yang berarti tidak melihat, bukan saja berarti tidak melihat karena tidak bertemu atau tidak menemukan, akan tetapi ungkapan itu memiliki arti tertentu, yaitu tidak ingin melihat karena merasa tidak senang dengan sesuatu. Dalam al-Qur’an, tidak ditemukan ungkapan la yandhuru, dalam arti seperti disebut terakhir. Ungkapan la yandhuru dalam arti tersebut terakhir hanya ditemukan dalam Hadis, misalnya “la yandhuru Allah ‘azza wa jalla ila al-rajuli ata rajulan aw imrataan fi duburiha” (Allah tidak senang melihat seseorang yang menyetubuhi sesama lelaki (homoseksual) dan bersetubuh dengan perempuan melalui duburnya (sodomi).

    Ungkapan la yandhuru (tidak mau melihat) seperti dalam Hadis di atas, disebabkan ketidaksenangan kepada sesuatu. Ketidaksenangan boleh jadi menjurus kepada tidak mau melihat yang tidak disenangi itu, sebab pada umumnya orang yang tidak senang kepada sesuatu atau kepada seseorang, boleh jadi ia tidak mau melihat sesuatu atau seseorang yang dibencinya. Dalam Hadis lain dikatakan: Salasatun la yukallimuhum Allah yawm al-qiyamat wa la yuzakkihim wa la yandhuru ilayhim wa lahum ‘azabun alim: syaikhun zanin, wa malikun kazzab, wa ‘ailun mustakbirun (ada tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah di hari qiyamat, tidak dibersihkan hatinya, dan akan disiksa dengan siksaan yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, raja pendusta, dan orang miskin yang sombong).

    Kata la yukallimuhum Allah (mereka tidak diajak bicara oleh Allah), bukan karena Allah tidak bertemu dengan orang itu, akan tetapi ungkapan itu memiliki makna kiasan, yaitu kiasan bahwa Allah tidak senang kepada mereka. Bahkan, ketidaksenangan Allah itu ditegaskan lagi dengan kata berikutnya wa la yandhuru ilayhim (Allah tidak mau melihat mereka). Mengapa Allah tidak senang kepada mereka ? Tentu saja karena perilaku mereka sudah melampaui batas. Orang tua yang berzina, dianggap melampaui batas, sebab orang tua seharusnya memberi contoh yang baik kepada anak cucu. Raja yang berdusta juga sangat dibenci Allah, sebab raja seharusnya jujur dalam menjalankan pemerintahan, bukan malah mengelabui rakyatnya.

    Kesimpulan

    Dari uraian yang telah dipaparkan sebelum ini, dapat dipahami bahwa al-Qur’an tidak menyebut secara tegas macam-macam dosa besar. Dalam al-Qur’an hanya terdapat ungkapan-ungkapan yang dapat mengantarkan kita untuk dapat menghukumi sebuah pelanggaran itu sebagai sebuah dosa besar. Dengan meresapi sejumlah istilah atau ungkapan yang menjadi tanda untuk memahami dosa besar, sebagaimana yang dikemukakan al-Baruzi, maka akan muncul puluhan macam dosa besar. Dosa-dosa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah hanyalah sebagian dari dosa-dosa besar yang terdapat dalam ajaran Islam. Untuk mengetahui secara rinci macam-macam dosa besar, kita hanya merujuk saja kepada ungkapan-ungkapan tersebut, baik yang terdapat dalam al-Qur’an maupun Hadis.

    ***

    Penulis adalah dosen tetap pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel

    Tamat S-3 dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta

     
  • erva kurniawan 2:01 am on 2 May 2014 Permalink | Balas  

    bukuBuku Merah Itu

    Kubaca kembali lembar pertama buku lusuh dihadapanku. Seperti tak percaya kubalik lembar demi lembarnya, untuk memastikan kembali isinya. Ya Allah, memang benar ini tulisanku!!!

    Buku merah itu kutemukan di tumpukan paling bawah, di laci meja belajarku. Sejak pagi hari tadi, hingga sekarang pukul 11 siang, aku sibuk membereskan kamarku yang berantakan tak terurus. Penyebab utamanya tak lain karena kesibukanku di kantor yang memuncak beberapa bulan ini.

    Kembali kuamati buku yang ujungnya telah termakan kutu buku. Masing-masing halamannya hanya terbagi dalam tiga kolom. Pertama, kolom hari dan tanggal, selanjutnya aktivitas, dan terakhir keterangan. Kucermati baris pertamanya. Jumat, 14 Juli 2000. Sholat subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya’. Sholat sunnah: tahajud, rawatib dan dhuha. Baca Al Qur’an: 3 juz, wirid: istighfar 500 kali, Tasbih, Tahmid dan Tahlil, masing-masing 100 kali, Al Ma’tsurat pagi dan sore, Surat Yaasin, Waqiah dan Ar Rahman. Selanjutnya, kulihat kolom keterangan. Tampak semua tanda centang berada di kolom ”terlaksana”, yang merupakan bagian dari kolom keterangan. Lalu, tanganku yang kotor oleh debu, refleks membalik lembar demi lembarnya yang tak menampakkan perbedaan, selain menampakkan peningkatan aktivitas ibadah, dari hari ke hari. Dan buku itu, berakhir ditulis pada tanggal 24 Agustus 2000. Subhannallah… mataku nanar, dan setetes air beningnya tak bisa kutahan lagi.

    ***

    Otakku berputar untuk mengingat tahun berapa saat ini. Robb, sudah tiga tahun hamba berpaling dari-Mu. Dan aku seperti tak merasakannya. Kesibukan yang kemudian berubah menjadi rutinitas dan membuat hatiku mengeras karena malah menyukainya, telah mengungkungku selama ini. Mungkin banyak orang berkata, bahwa catatan ibadahku tadi bukan apa-apa karena amalan sunnahnya hanya beberapa. Namun bagiku, saat itu adalah puncak kedekatanku dengan-Nya. Tuhan Pencipta Alam Semesta. Karena berikutnya, aku menjauh dan semakin menjauhi-Nya.

    Astaghfirullahal adziim.

    Ingatanku kembali menyusuri tiga tahun yang tak berasa. Aku ingat, kejauhanku dengan Robb-ku diawali dengan beratnya melaksanakan ibadah wajib tepat waktu. Lantas bersambung ke ibadah sunnah yang mulai hilang satu-satu. Ujungnya, sholat lima waktu hanya sekedarnya. Sekedar menggugurkan kewajiban. Sementara berdoa, bukan lagi kurasakan sebagai sarana komunikasi dengan Allah Yang Maha Pemurah, melainkan hanya aliran kata-kata yang tak pernah kuresapi maknanya. Air mata pun tak pernah lagi mengucur deras, saat tangan ini menengadah. Apalagi wirid, karena seusai salam kubaca, mukena pun langsung kulepas. Astaghfirullahal adziim…

    ***

    Ya Allah, tiga tahun yang sia-sia. Kerugian yang tiada terhitung. Tuhanku, hamba ingin bangkit. Terlalu banyak titik dosa yang terukir di lembaran hidup hamba, tak sebanding dengan amalan kebajikan yang hamba lakukan. Robb, beri hamba kekuatan untuk bangkit menuju-Mu… agar hati ini kembali tenang. Agar segala yang hamba lakukan mendapat ridho-Mu… Hidup hamba gersang, Tuhanku. Tak ada air sejuk yang mengaliri jalan yang hamba tempuh… tak ada tempat mengadu seperti dulu Ya Allah… hamba terlalu memanjakan diri hamba untuk tidur semalaman, hanya karena alasan terlalu lelah. Padahal, kelelahan yang sesungguhnya adalah saat ini, saat hamba jauh dari-Mu. Ya Allah… ampunkan dosa hamba, Robb. Terima hamba kembali Ya Allah… jangan biarkan hamba jauh dari nur-Mu Yaa Rohim. Hamba ingin sekali kembali, berkhalwat dengan-Mu setiap malam dan menunaikan segala perintah-Mu seperti dulu lagi. Hamba rindu kepada-Mu Ya Allah… teramat rindu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 1 May 2014 Permalink | Balas  

    siluet masjidBelajar dari Ikrimah

    Ikrimah bin Abu Jahal adalah sosok sahabat nabi yang menjadi tauladan dalam mengutamakan kepentingan orang lain. Sejarah mencatat, di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka bertiga, maka masing-masing mereka melihat kepada sahabat lainnya seraya berkata: “Berikan saja air itu kepada sahabat-sahabat di sebelahku, barangkali mereka lebih memerlukannya”. Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu.

    Dari cerita Ikrimah, saya teringat tentang ucapan seorang ulama yang mengatakan bahwa mengutamakan orang lain tidak perlu dengan melakukan hal-hal yang besar. Kita dapat melakukan hal-hal sederhana yang mungkin oleh orang lain dianggap remeh. Di dalam angkutan kota misalnya, bantulah orang lain dengan duduk di tempat yang memudahkan orang untuk masuk. Jika tempat duduk yang lain masih kosong, sebaiknya tidak duduk di dekat pintu dengan alasan lebih gampang untuk turun, lebih segar karena terkena angin dari arah pintu atau alasan-alasan yang menyenangkan diri sendiri lainnya padahal hal tersebut justru menyulitkan orang lain yang akan masuk. Begitu pula halnya jika kita menghadiri majelis taklim. Sering kita duduk di tempat-tempat yang justru menyulitkan orang lain yang akan masuk, di tangga atau di dekat pintu masuk misalnya. Padahal tidak terlalu sulit bagi kita untuk mengambil tempat duduk di tempat lain meskipun mungkin tidak senyaman di tangga atau di dekat pintu.

    Contoh lainnya, jika menaiki tangga berjalan atau mengendarai kendaraan di jalan tol sebaiknya mengambil tempat di bahu kiri karena bahu kanan biasanya digunakan oleh orang lain yang hendak bergegas. Ketika ada pengendara sepeda atau orang yang akan menyebrang jalan, berilah kesempatan kepada mereka untuk menyebrang. Apalagi pada jalan-jalan yang tidak menggunakan lampu lalu lintas dan tidak ada jembatan penyebrangan. Mungkin contoh ini hanyalah contoh kecil, tapi sangat bernilai bagi orang lain.

    Menyikapi kondisi saat ini, dimana banyak orang mengutakaman dirinya dan memperkaya pribadi, sikap mengutamakan orang lain maupun kepentingan umum merupakan suatu keharusan. Insya Allah, dengan cara tersebut, bangsa ini akan memiliki hubungan yang harmonis dan sejahtera bersama.

    ***

    (Diambil dari artikel http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 2:46 am on 30 April 2014 Permalink | Balas  

    puasa-4Puasa Sunnah yang Dianjurkan Islam

    Ketika Islam melarang berpuasa pada hari-hari tertentu,maka Islam pun menganjurkan kepada umatnya agar melakukan puasa pada hari-hari tertentu yang Rasulullah saw sendiri biasa melakukan puasa pada hari-hari tersebut.

    1. Enam Hari pada Bulan Syawal

    Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh jamaah ahli hadis kecuali Bukhari, Nasa’i dari Abu Ayyub al-Anshari bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan lalu mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka seakan-akan dia telah berpuasa selama satu tahun (sepanjang masa).”

    Puasa tersebut menurut Imam Ahmad dapat dilakukan berturut-turut atau tidak berturut-turut dan tidak ada kelebihan antara yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan menurut golongan Hanafi dan golongan Syafi’i, lebih utama melakukannya secara berturut-turut, yaitu setelah hari raya.

    2. Puasa tanggal 9 Dzul Hijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan Haji

    Kesunnahan berpuasa pada tanggal tersebut didasarkan pada hadis-hadis:

    1. Dari Abu Qatadah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu satu tahun yang telah berlalu dan satun tahun yang akan datang.” (HR Jamaah kecuali Bukhari dan Tirmidzi).

    2. Dari Hafshah ra, dia berkata, “Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah saw, yaitu puasa Asyura, puasa sepertiga bulan (yakni bulan Dzul Hijjah), puasa tiga hari dari tiap bulan, dan salat dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Ahmad dan Nasa’i).

    3. Dari Uqbah bin Amir ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hari Arafah, hari Kurban dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya umat Islam dan hari-hari tersebut adalah hari-hari makan dan minum.” HR Khamsah (lima imam hadis) kecuali Ibnu Majah dan dinyatakan sahih oleh Tirmidzi.

    4. Dari Ummu Fadhal, dia berkata, “Mereka merasa bimbang mengenai puasa Nabi saw di Arafah, lalu Nabi saw saya kirimi susu. Kemudian Nabi saw meminumnya, sedang ketika itu beliau berkhotbah di depan umat manusia di Arafah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    3. Puasa Bulan Muharrom dan Sangat Dianjurkan pada Tanggal 9 dan 10 (Tasu’a dan ‘Asyura)

    Hal ini berdasarkan pada hadis-hadis:

    1. Dari Abu Hurairah ra dia berkata, “Rasulullah saw ditanya, ‘Salat apa yang lebih utama setelah salat fardhu?’ Nabi menjawab, ‘Salat di tengah malam’. Mereka bertanya lagi, ‘Puasa apa yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?’ Nabi menjawab, ‘Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan Muharrom’.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

    2. Dari Muawiyah bin Abu Sufyan ra, dia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Hari ini adalah hari ‘Asyura dan kamu tidak diwajibkan berpuasa padanya. Sekarang, saya berpuasa, maka siapa yang mau, silahkan puasa dan siapa yang tidak mau, maka silahkan berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).

    3. Dari Aisyah ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy di masa jahiliyah, Rasulullah juga biasa mempuasakannya. Dan tatkala datang di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka, tatkala diwajibkan puasa Ramadhan beliau bersabda, ‘Siapa yang ingin berpuasa, hendaklah ia berpuasa dan siapa yang ingin meninggalkannya, hendaklah ia berbuka’.” (Muttafaq alaihi).

    4. Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Nabi saw datang ke Madinah lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka Nabi bertanya, ‘Ada apa ini?’ Mereka menjawab, hari ‘Asyura’ itu hari baik, hari Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa saw dan Bani Israel dari musuh mereka sehingga Musa as berpuasa pada hari itu. Kemudian, Nabi saw bersabda, ‘Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kamu’, lalu Nabi saw berpuasa pada hari itu dan menganjurkan orang agar berpuasa pada hari itu. ” (Muttafaq alaihi).

    5. Dari Abu Musa al-Asy’ari ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ itu diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikan sebagai hari raya. Maka, Rasulullah saw bersabda,”Berpuasalah pada hari itu.” (Muttafaq alaihi).

    6. Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Tatkala Rasulullah saw berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa pada hari itu, mereka berkata, “Ya Rasulullah, ia adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani,” maka Nabi saw bersabda, “Jika datang tahun depan, insya Allah kami berpuasa pada hari kesembilan (dari bulan Muharrom).” Ibnu Abbas ra berkata, “Maka belum lagi datang tahun depan, Rasulullah saw sudah wafat.” (HR Muslim dan Abu Daud).

    Para ulama menyebutkan bahwa puasa Asyura’ itu ada tiga tingkat: tingkat pertama, berpuasa selama tiga hari yaitu hari kesembilan, kesepuluh dan kesebelas. Tingkat kedua, berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Tingkat ketiga, berpuasa hanya pada hari kesepuluh saja.

    4. Berpuasa pada Sebagian Besar Bulan Sya’ban

    Hal ini berdasarkan hadis:

    1. Dari Aisyah ra berkata, “Saya tidak melihat Rasulullah saw melakukan puasa dalam waktu sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan dan tidak satu bulan pun yang Nabi saw banyak melakukan puasa di dalamnya daripada bulan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

    2. Dari Usamah bin Zaid ra berkata, Aku berkata, “Ya Rasulullah saw , tidak satu bulan yang Anda banyak melakukan puasa daripada bulan Sya’ban !” Nabi menjawab: “Bulan itu sering dilupakan orang, karena letaknya antara Rajab dan Ramadhan, sedang pada bulan itulah amal-amal manusia diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan Rabbul ‘Alamin. Maka, saya ingin amal saya dibawa naik selagi saya dalam berpuasa.” (HR Nasa’i dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah).

    5. Berpuasa pada Hari Senin dan Kamis

    Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw lebih sering berpuasa pada hari Senin dan Kamis, lalu orang-orang bertanya kepadanya mengenai sebab puasa tersebut, lalu Nabi saw menjawab, “Sesungguhnya amalan-amalan itu dipersembahkan pada setiap Senin dan Kamis, maka Allah berkenan mengampuni setiap muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan, maka Allah berfirman, “Tangguhkanlah kedua orang (yang bermusuhan ) itu!” (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).

    Dalam sahih Muslim diriwayatkan bahwa Nabi saw ditanya orang mengenai berpuasa pada hari Senin, maka beliau bersabda, “Itu hari kelahiranku dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku.” (HR Muslim).

    6. Berpuasa Tiga Hari Setiap Bulan

    Dari Abu Dzarr al-Ghiffari ra berkata, “Kami diperintah Rasulullah saw untuk melakukan puasa tiga hari dari setiap bulan, yaitu hari-hari terang bulan, yakni tanggal 13, 14 dan 15, sembari Rasul saw bersabda, ‘Puasa tersebut seperti puasa setahun (sepanjang masa)’.” (HR Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

    7. Berpuasa Selang-seling (Seperti Puasa Daud)

    Dari Abdullah bin Amr berkata, Rasulullah saw telah bersabda, “Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud dan salat yang paling disukai Allah adalah salat Daud. Ia tidur seperdua (separoh) malam, bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya, dan ia berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.”

    Referensi:

    Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Tamamul Minnah, Muhammad Nashirudddin al-Albani

     
  • erva kurniawan 2:12 am on 29 April 2014 Permalink | Balas  

    ilmu-adalah-pelitaMenyombongkan Ilmu

    Seorang ahli hikmah berpetuah, “Jangan sekali-kali membicarakan suatu ilmu pada tempat dan keadaan yang tidak cocok, apalagi menyombongkannya.”

    “Seperti pernah dialami seorang sarjana,” kata ahli hikmah itu. “Ketika naik perahu menuju sebuah pulau kecil nun jauh di seberang pantai, ia menerangkan bahwa sukses hidup manusia bergantung pada empat jenis ilmu : ilmu hitung, ilmu ekonomi, ilmu sosial, dan ilmu politik.”

    “Apakah anda menguasai ilmu hitung ?” tanya sang sarjana.

    “Tidak.” jawab tukang perahu.

    “Waduh bahaya, kalau begitu, sukses hidup anda berkurang 25%. Tapi tentu anda mengetahui ilmu ekonomi …?”

    “Tidak juga,” jawab tukang perahu.

    “Berarti sukses hidup Anda tinggal 50%. Itupun jika Anda menguasai ilmu sosial dan ilmu politik.”

    “Kedua ilmu itupun saya tidak tahu,” tukang perahu tersenyum kecil.

    “Gawat ! Kalau begitu, sukses hidup Anda mungkin tak ada lagi,” komentar sang sarjana sambil geleng-geleng kepala.

    Tiba-tiba datang angin puting beliung. Ombak besar pun menggulung hingga perahu terbalik. Tukang perahu dan sang sarjana terlempar ke laut. Sambil berenang santai, tukang perahu berteriak kepada sang sarjana yang timbul tenggelam tanpa daya.

    “Apakah Anda menguasai ilmu berenang, wahai Tuan Sarjana ?”

    “Ti … ti … ti …dak, toloong … “ teriak sarjana itu ketakutan.

    “Kalau begitu, 100% sukses hidup Anda hilang sudah,” gumam tukang perahu.

    Wassalaam

    ***

    Kutipan dari : Percikan Hikmah. Berdialog dengan Hati Nurani

    H. Usep Romli HM.

     
  • erva kurniawan 2:00 am on 28 April 2014 Permalink | Balas  

    aspartamePembunuh Yang Manis

    Saat ini sedang ada wabah pengerasan otak atau sumsum tulang belakang dan lupus. Kebanyakan orang tidak mengerti mengapa wabah ini terjadi dan mereka tidak mengetahui mengapa penyakit-penyakit ini begitu merajalela.

    Saya akan beritahu anda mengapa kita menghadapi masalah yang serius ini. Saat ini banyak orang menggunakan pemanis buatan. Mereka melakukan ini karena iklan di televisi yang memberitakan bahwa gula itu tidak baik buat kesehatan mereka. Hal ini memang benar sekali. Gula itu merupakan racun bagi tubuh kita, akan tetapi, apa yang orang-orang gunakan sebagai pengganti gula, lebih mematikan.

    Apa yang saya maksudkan di sini adalah Aspartame. Ini adalah biang wabah yang disebutkan di atas. Aspartame merupakan bahan kimia yang mengandung racun, yang diproduksi oleh perusahaan kimia bernama Monsanto. Aspartame telah dipasarkan ke seluruh dunia sebagai pengganti gula dan dapat dijumpai pada semua jenis minuman ringan untuk diet, seperti Diet Coke dan Diet Pepsi. Hal ini juga dapat dijumpai pada produk pemanis buatan seperti Nutra Sweet, Equal, dan Spoonful; dan ini banyak digunakan di produk-produk pengganti gula.

    Aspartame dipasarkan sebagai satu produk diet, tapi ini sama sekali bukanlah produk untuk diet. Kenyataannya, ini dapat menyebabkan berat tubuh Anda bertambah karena ini dapat membuat anda kecanduan Karbohidrat. Membuat berat tubuh anda bertambah hanyalah sebuah hal kecil yang dapat dilakukan oleh Aspartame. Aspartame adalah bahan kimia beracun yang dapat mengubah kimiawi pada otak dan sungguh mematikan bagi orang yang menderita karena penyakit parkinson.

    Bagi penderita diabetes, hati-hatilah bila mengkonsumsinya untuk jangka waktu yang lama atas produk yang mengandung Aspartame ini, karena dapat menyebabkan koma, bahkan meninggal.

    Bila ada produk yang mengklaim bahwa produk itu bebas gula, anda sudah tahu bahwa hal ini mengandung Aspartame. Jangan mengkonsumsi produk tersebut. Salah satu minuman suplemen yang mengandung ASPARTAME adalah serbuk effervescent EX**A J**S ! Pada kemasan tertulis : Mengandung Aspartame 0,06% [ADI 40 mg/kg BB]

    Beritahukan semua orang yang anda kenal akan bahaya dari produk yang mengandung Aspartame.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:24 am on 27 April 2014 Permalink | Balas  

    jagungJagung

    Seorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik buah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian. Petani itu mengaku ia sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.

    “Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?” tanya sang wartawan.

    “Tak tahukah anda?,” jawab petani itu. “Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula.”

    Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:35 am on 26 April 2014 Permalink | Balas  

    ghibahTak Mudah Mengendalikan Lidah

    Qori tak menyangka kalau omongannya berbuah petaka. Ibu usia empat puluhan ini akhirnya harus rela suaminya ditangkap polisi lantaran membacok tetangga sendiri. Peristiwa itu bermula ketika warga Semarang ini terus-menerus mengadu ke suaminya. “Saya dipelototin Heri, Mas,” begitu ucapannya. Di luar dugaan, suami Qori tega membacok kepala tetangganya itu.

    Begitulah lidah ketika kita lengah. Tak jarang, hanya karena ucapan, antar kampung bisa saling tarung, antar negara bisa adu senjata. Luka karena lidah bahkan lebih parah dari senjata. Untuk beberapa waktu, lukanya tidak tampak. Luka itu terpendam dalam hati. Bagaikan benih, luka itu tumbuh, membesar, dan menjalar. Suatu saat, luka itu akan keluar dan memperlihatkan keganasannya. Mungkin, si empunya lidah tak menyangka kalau luka yang ditorehkan bisa begitu dalam dan menganga. Siapa menyangka kalau gurauan bisa berbuntut pada bunuh-bunuhan.

    Kehatian-hatian dengan gurauan menjadi keharusan buat seorang mukmin. Karena, gurauan yang terkesan ringan bisa bermakna besar buat seseorang. Walaupun cuma panggil-panggilan sebutan, timbangannya lumayan besar di sisi Allah.

    Allah swt berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 11, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

    Betapa kasihan tubuh ini jika harus menuai cela lantaran lidah. Kasihan, karena hanya sebab lidah, kebaikan anggota tubuh lain terhapus sia-sia. Mata tak lagi merasakan kemuliaannya yang letih bergadang di jalan Allah. Tangan yang begitu cekatan menolong orang, tak lagi mendapat penghargaan yang selayaknya. Kaki yang lelah mengantar tubuh berjuang di jalan Allah tak lagi menuai berkah. Di dunia cela, di akhirat menderita siksa.

    Itulah mungkin kenapa Rasulullah saw memberikan jaminan surga buat mereka yang sukses menjaga dua anggota tubuh: kemaluan dan lidah. Dari Sahal bin Sa’ad, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa berani memberi jaminan kepadaku atas selamatnya apa yang ada di antara tulang mulutnya dan apa yang ada di antara kedua pahanya, maka aku berani memberi jaminan surga kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Tingkat keburukan, kemuliaan, kecerdasan, dan kebijaksanaan seseorang bisa dilihat dari ucapannya. Peliharalah lidah. Latih ia dengan alur kerja yang rapi, bersih, berbobot, dan punya nilai. Jika tidak, akan selalu jatuh korban karena liarnya lidah. Sirami dan ingatkan lidah Anda dengan bacaan Al-Quran setiap hari.

    ***

    (Diambil dari kolom Taujih majalah Saksi)

     
  • erva kurniawan 5:55 am on 25 April 2014 Permalink | Balas  

    restianti-siluetKuberikan Saat Masih Hidup

    Suatu ketika seorang yang sangat kaya bertanya kepada temannya.

    “Mengapa aku dicela sebagai orang yang kikir? Padahal semua orang tahu bahwa aku telah membuat surat wasiat untuk mendermakan seluruh harta kekayaanku bila kelak aku mati.”

    “Begini,” kata temannya, akan kuceritakan kepadamu tentang kisah babi dan sapi.

    Suatu hari babi mengeluh kepada sapi mengenai dirinya yang tidak disenangi manusia.

    “Mengapa orang selalu membicarakan kelembutanmu dan keindahan matamu yang sayu itu, tanya babi. Memang kau memberikan susu, mentega dan keju. Tapi yang kuberikan jauh lebih banyak. Aku memberikan lemak, daging, paha, bulu, kulit. Bahkan kakiku pun dibuat asinan! Tetapi tetap saja manusia tak menyenangiku. Mengapa?”

    Sapi berpikir sejenak dan kemudian menjawab, “Ya, mungkin karena aku telah memberi kepada manusia ketika aku masih hidup.”

    ***

    “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dan dengarlah dan taatilah, serta dan nafkahkanlah (hartamu) Itulah yang lebih baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya, maka merekalah orang-orang yang beruntung” – (At Taghaabun – QS 64:16)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:43 am on 24 April 2014 Permalink | Balas  

    siluet pulangSketsa Kehidupan

    Seorang gadis bernama Li-Li menikah dan tinggal bersama suami dan ibu mertua. Dalam waktu singkat, Li-Li menyadari bahwa ia tidak dapat cocok dengan ibu mertuanya dalam segala hal. Kepribadian mereka berbeda, dan Li-Li sangat marah dengan banyak kebiasaan ibu mertua. Li-Li juga dikritik terus-menerus. Hari demi hari, minggu demi minggu, Li-Li dan ibu mertua tidak pernah berhenti konflik dan bertengkar. Keadaan jadi tambah buruk, karena berdasarkan tradisi Cina, Li-Li harus taat kepada setiap permintaan sang mertua.

    Semua keributan dan pertengkaran di rumah itu mengakibatkan suami yang miskin itu ada dalam stress yang besar.

    Akhirnya, Li-Li tidak tahan lagi dengan temperamen buruk dan dominasi ibu mertuanya, dan dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.

    Li-Li pergi menemui teman baik ayahnya, Mr. Huang, yang menjual jamu. Li-Li menceritakan apa yang dialaminya dan meminta kalau-kalau Mr. Huang dapat memberinya sejumlah racun supaya semua kesulitannya selesai.

    Mr. Huang berpikir sejenak dan tersenyum dan akhirnya berkata, Li-Li, saya akan menolong, tapi kamu harus mendengarkan dan melakukan semua yang saya minta.

    Li-Li menjawab, “Baik, saya akan melakukan apa saja yang anda minta.” Mr. Huang masuk kedalam ruangan dan kembali beberapa menit kemudian dengan sekantong jamu.

    Dia memberitahu Li-Li, “Kamu tidak boleh menggunakan racun yang bereaksi cepat untuk menyingkirkan ibu mertuamu, karena nanti orang-orang akan curiga. Karena itu saya memberimu sejumlah jamu yang secara perlahan akan meracuni tubuh ibu mertuamu. Setiap hari masakkan daging atau ayam dan kemudian campurkan sedikit jamu ini. Nah, untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mencurigaimu pada waktu ia meninggal, kamu harus berhati-hati dan bertindak dangan sangat baik dan bersahabat. Jangan berdebat dengannya, taati dia, dan perlakukan dia seperti seorang ratu.”

    Li-Li sangat senang. Dia kembali ke rumah dan memulai rencana pembunuhan terhadap ibu mertua.

    Minggu demi minggu berlalu, dan berbulan-bulan berlalu, dan setiap hari, Lili melayani ibu mertua dengan masakan yang dibuat secara khusus. Li-Li ingat apa yang dikatakan Mr. Huang tentang menghindari kecurigaan, jadi Li-Li mengendalikan emosinya, mentaati ibu mertua, memperlakukan ibu mertuanya seperti ibu-nya sendiri dengan sangat baik dan bersahabat.

    Setelah enam bulan, seluruh rumah berubah. Li-Li telah belajar mengendalikan emosinya begitu rupa sehingga hampir-hampir ia tidak pernah meledak dalam amarah atau kekecewaan. Dia tidak berdebat sekalipun dengan ibu mertuanya, yang sekarang kelihatan jauh lebih baik dan mudah ditemani.

    Sikap ibu mertua terhadp Li-Li berubah, dan dia mulai menyayangi Li-Li seperti anaknya sendiri. Dia terus memberitahu teman-teman dan kenalannya bahwa Li-Li adalah menantu terbaik yang pernah ditemuinya. Li-Li dan ibu mertuanya sekarang berlaku sepertu ibu dan anak sungguhan.

    Suami Li-Li sangat senang melihat apa yang telah terjadi.

    Satu hari, Li-Li datang menemui Mr. Huang dan minta pertolongan lagi. Dia berkata, “Mr. Huang, tolonglah saya untuk mencegah racun itu membunuh ibu mertua saya. Dia telah berubah mencaji wanita yang sangat baik dan saya mengasihinya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak ingin dia mati karena racun yang saya berikan.”

    Mr. Huang tersenyum dan mengangkat kepalanya. “Li-Li, tidak usah khawatir. Saya tidak pernah memberimu racun. Jamu yang saya berikan dulu adalah vitamin untuk meningkatkan kesehatannya. Satu-satunya racun yang pernah ada ialah didalam pikiran dan sikapmu terhadapnya, tapi semua sudah lenyap oleh kasih yang engkau berikan padanya.”

    Teman, pernahkah engkau menyadari bahwa sebagaimana perlakukanmu terhadap orang lain akan sama dengan apa yang akan mereka lakukan terhadap kita?

    Pepatah China berkata: Orang yang mengasihi orang lain akan dikasihi.

    ***

    1. Dunia itu racun, zuhud itu obatnya.
    2. Harta itu racun, zakat itu obatnya.
    3. Perkataan yang sia-sia itu racun, zikir itu obatnya.
    4. Seluruh umur itu racun, taat itu obatnya.
    5. Seluruh tahun itu racun, Ramadhan itu obatnya.

    “Sesungguhnya Syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan melalaikan kamu dari mengingati Allah dan sembahyang, maka maukah kamu berhenti. (Berhenti daripada mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak diridhai oleh Allah)” (Al-Maaidah A.91)

    “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendah diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara (senantiasa) diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Al-A’raaf A.205)

    “Wahai anak Adam, habiskanlah waktumu beribadat kepadaKu, maka Daku akan lapangkan kamu daripada kehendak-kehendakmu, Daku akan hapuskan kemiskinanmu. Jika tidak akan Ku bebani kamu dengan urusan-urusan dan tugas-tugas yang sibuk. Serta kerjakanlah amal-amalan kebajikan supaya kamu jaya didunia dan selamat sampai ke akhirat.” (Al-Hajj A.44)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:38 am on 23 April 2014 Permalink | Balas  

    wanitaTipe Wanita yang Disunnahkan untuk Dilamar  

    Dalam melamar, seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan beberapa sifat yang ada pada wanita yang akan dilamar, diantaranya:

    1. Wanita itu disunahkan seorang yang penuh cinta kasih. Maksudnya ia harus selalu menjaga kecintaan terhadap suaminya, sementara sang suami pun memiliki kecenderungan dan rasa cinta kepadanya.

    Selain itu, ia juga harus berusaha menjaga keridhaan suaminya, mengerjakan apa yang disukai suaminya, menjadikan suaminya merasa tentram hidup dengannya, senang berbincang dan berbagi kasih saying dengannya. Dan hal itu jelas sejalan dengan firman Allah Ta’ala,

    Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kalian rasa kasih dan saying. (ar-Ruum:21).

    2. Disunahkan pula agar wanita yang dilamar itu seorang yang banyak memberikan keturunan, karena ketenangan, kebahagiaan dan keharmonisan keluarga akan terwujud dengan lahirnya anak-anak yang menjadi harapan setiap pasangan suami-istri.

    Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman, Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’. (al-Furqan:74).

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    Menikahlah dengan wanita-wanita yang penuh cinta dan yang banyak melahirkan keturunan. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat kelak. Demikian hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Nasa’I, al-Hakim, dan ia mengatakan, Hadits tersebut sanadnya shahih.

    3. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu seorang yang masih gadis dan masih muda. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahihain dan juga kitab-kitab lainnya dari hadits Jabir, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepadanya,

    Apakah kamu menikahi seorang gadis atau janda? dia menjawab,”Seorang janda.”Lalu beliau bersabda, Mengapa kamu tidak menikahi seorang gadis yang kamu dapat bercumbu dengannya dan ia pun dapat mencumbuimu?.

    Karena seorang gadis akan mengantarkan pada tujuan pernikahan. Selain itu seorang gadis juga akan lebih menyenangkan dan membahagiakan, lebih menarik untuk dinikmati akan berperilaku lebih menyenangkan, lebih indah dan lebih menarik untuk dipandang, lebih lembut untuk disentuh dan lebih mudah bagi suaminya untuk membentuk dan membimbing akhlaknya.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda,

    Hendaklah kalian menikahi wanita-wanita muda, karena mereka mempunyai mulut yang lebih segar, mempunyai rahim yang lebih subur dan mempunyai cumbuan yang lebih menghangatkan.

    Demikian hadits yang diriwayatkan asy-Syirazi, dari Basyrah bin Ashim dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam kitab Shahih al_Jami’ ash_Shaghir, al-Albani mengatakan, “Hadits ini shahih.”

    4. Dianjurkan untuk tidak menikahi wanita yang masih termasuk keluarga dekat, karena Imam Syafi’I pernah mengatakan, “Jika seseorang menikahi wanita dari kalangan keluarganya sendiri, maka kemungkinan besar anaknya mempunyai daya pikir yang lemah.”

    5. Disunahkan bagi seorang muslim untuk menikahi wanita yang mempunyai silsilah keturunan yang jelas dan terhormat, karena hal itu akan berpengaruh pada dirinya dan juga anak keturunannnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya kamu beruntung. (HR. Bukhari, Muslim dan juga yang lainnya).

    6. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia. Karena ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya pembantu bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya.

    Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, ridha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta’ala, “Sebab itu, maka wanita-wanita yang shahih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminyatidak berada di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka”. (an-Nisa:34).

    Sedangkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    “Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim, Nasa’I dan Ibnu Majah).

    7. Selain itu, hendaklah wanita yang akan dinikahi adalah seorang yang cantik, karena kecantikan akan menjadi dambaan setiap insane dan selalu diinginkan oleh setiap orang yang akan menikah, dan kecantikan itu pula yang akan membantu menjaga kesucian dan kehormatan. Dan hal itu telah disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits tentang hal-hal yang disukai dari kaum wanita.

    Kecantikan itu bersifat relatif. Setiap orang mempunyai gambaran tersendiri tentang kecantikan ini sesuai dengan selera dan keinginannya. Sebagian orang ada yang melihat bahwa kecantikan itu terletak pada wanita yang pendek, sementara sebagian yang lain memandang ada pada wanita yang tinggi.

    Sedangkan sebagian lainnya memandang kecantikan terletak pada warna kulit, baik coklat, putih, kuning dan sebagainya. Sebagian lain memandang bahwa kecantikan itu terletak pada keindahan suara dan kelembutan ucapannya.

    Demikianlah, yang jelas disunahkan bagi setiap orang untuk menikahi wanita yang ia anggap cantik sehingga ia tidak tertarik dan tergoda pada wanita lain, sehingga tercapailah tujuan pernikahan, yaitu kesucian dan kehormatan bagi tiap-tiap pasangan.

    ***

    Sumber: Fikih Keluarga, Syaikh Hasan Ayyub, Cetekan Pertama, Mei 2001, Pustaka Al-kautsar

    Dikirim oleh : abualifah

     
  • erva kurniawan 2:34 am on 22 April 2014 Permalink | Balas  

    bilal-bin-rabah-al-habasyiAku Memanggil Kalian

    Sahabat, apa kabar semuanya? Mudah-mudahan engkau diberikan limpahan kasih sayang Nya yang tak berhingga. Aamiin. Saya ingin meminjam waktumu sebentar. Ada seseorang yang ingin bertutur kepada kita. Ada seseorang yang ingin mengisahkan selaksa kehidupan yang mungkin sering kita dengar. Beginilah lantunannya. Simak baik-baik ya , Mudah-mudahan bermanfaat.

    Bismillah, Assalamualaikum.

    Perkenalkan! Namaku Bilal. Ayahku bernama Rabah, seorang budak dari Abesinia, oleh karena itu nama panjangku Bilal Bin Rabah. Aku tidak tahu mengapakah Ayah dan Ibuku sampai di sini, Makkah. Sebuah tempat yang hanya memiliki benderang matahari, hamparan sahara dan sedikit pepohonan. Aku seorang budak yang menjadi milik tuannya. Umayyah, biasa tuan saya itu dipanggil. Seorang bangsawan Quraisy, yang hanya peduli pada harta dan kefanaan. Setiap jeda, aku harus bersiap kapan saja dilontarkan perintah. Jika tidak, ada cambuk yang menanti akan mendera bagian tubuh manapun yang disukainya.

    Setiap waktu adalah sama, semua hari juga serupa tak ada bedanya, yakni melayani majikan dengan sempurna. Hingga suatu hari aku mendengar seseorang menyebutkan nama Muhammad. Tadinya aku tak peduli, namun kabar yang ku dengar membuatku selalu memasang telinga baik-baik. Muhammad, mengajarkan agama baru yaitu menyembah Tuhan yang maha tunggal. Tidak ada Tuhan yang lain. Aku tertarik dan akhirnya, aku bersyahadat diam-diam.

    Namun, pada suatu hari majikanku mengetahuinya. Aku sudah tahu kelanjutannya. Mereka memancangku di atas pasir sahara yang membara. Matahari begitu terik, seakan belum cukup, sebuah batu besar menindih dada ini. Mereka mengira aku akan segera menyerah. Haus seketika berkunjung, ingin sekali minum. Aku memintanya pada salah seorang dari mereka, dan mereka membalasnya dengan lecutan cemeti berkali-kali. Setiap mereka memintaku mengingkari Muhammad, aku hanya berucap “Ahad… ahad”. Batu diatas dada mengurangi kemampuanku berbicara sempurna. Hingga suatu saat, seseorang menolongku, Abu Bakar menebusku dengan uang sebesar yang Umayyah minta. Aku pingsan, tak lagi tahu apa yang terjadi.

    Segera setelah sadar, aku dipapah Abu Bakar menuju sebuah tempat tinggal Nabi Muhammad. Kakiku sakit tak terperi, badanku hampir tak bisa tegak. Ingin sekali rubuh, namun Abu Bakar terus membimbingku dengan sayang. Tentu saja aku tak ingin mengecewakannya. Aku harus terus melangkah menjumpai seseorang yang kemudian ku cinta sampai nafas terakhir terhembus dari raga. Aku tiba di depan rumahnya. Ada dua sosok disana. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib sepupunya yang masih sangat muda dan yang di sampingnya adalah dia, Muhammad.

    Muhammad, aku memandangnya lekat, tak ingin mata ini berpaling. Ku terpesona, jatuh cinta, dan merasakan nafas yang tertahan dipangkal tenggorokan. Wajahnya melebihi rembulan yang menggantung di angkasa pada malam-malam yang sering ku pandangi saat istirahat menjelang. Matanya jelita menatapku hangat. Badannya tidak terlalu tinggi tidak juga terlau pendek. Dia adalah seorang yang jika menoleh maka seluruh badannya juga. Dia tersenyum, dan aku semakin mematung, rasakan sebuah aliran sejuk sambangi semua pori-pori yang baru saja dijilati cemeti.

    Dia bangkit, dan menyongsongku dengan kegembiraan yang nampak sempurna. Bahkan hampir tidak ku percaya, ada genangan air mata di pelupuk pandangannya. Ali, saat itu bertanya “Apakah orang ini menjahati engkau, hingga engkau menangis?.

    “Tidak, orang ini bukan penjahat, dia adalah seorang yang telah membuat langit bersuka cita”, demikian Muhammad menjawab. Dengan kedua tangannya, aku direngkuhnya, di peluk dan di dekapnya, lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti saat itu aku merasa terbang melayang ringan menjauhi bumi. Belum pernah aku diperlakukan demikian istimewa.

    Selanjutnya aku dijamu begitu ramah oleh semua penghuni rumah. Ku duduk di sebelah Muhammad, dan karena demikian dekat, ku mampu menghirup wewangi yang harumnya melebihi aroma kesturi dari tegap raganya. Dan ketika tangan Nabi menyentuh tangan ini begitu mesra, aku merasakan semua derita yang mendera sebelum ini seketika terkubur di kedalaman sahara. Sejak saat itu, aku menjadi sahabat Muhammad.

    Kau tidak akan pernah tahu, betapa aku sangat beruntung menjadi salah seorang sahabatnya. Itu ku syukuri setiap detik yang menari tak henti. Aku Bilal, yang kini telah merdeka, tak perlu lagi harus berdiri sedangkan tuannya duduk, karena aku sudah berada di sebuah keakraban yang mempesona. Aku, Bilal budak hitam yang terbebas, mereguk setiap waktu dengan limpahan kasih sayang Al-Musthafa. Tak akan ada yang ku inginkan selain hal ini.

    Oh iya, aku ingin mengisahkan sebuah pengalaman yang paling membuatku berharga dan mulia. Inginkah kalian mendengarnya?

    Di Yathrib, mesjid, tempat kami, umat Rasulullah beribadah telah berdiri. Bangunan ini dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Sepanjang hari, kami semua bekerja keras membangunnya dengan cinta, hingga kami tidak pernah merasakan lelah. Nabi memuji hasil kerja kami, senyumannya selalu mengembang menjumpai kami. Ia begitu bahagia, hingga selalu menepuk setiap pundak kami sebagai tanda bahwa ia begitu berterima kasih. Tentu saja kami melambung.

    Kami semua berkumpul, meski mesjid telah selesai dibangun, namun terasa masih ada yang kurang. Ali mengatakan bahwa mesjid membutuhkan penyeru agar semua muslim dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam beberapa saat kami terdiam dan berpandangan. Kemudian beberapa sahabat membicarakan cara terbaik untuk memanggil orang-orang.

    Kita dapat menarik bendera , seseorang memberikan pilihan. Bendera tidak menghasilkan suara, tidak bisa memanggil mereka.

    Bagaimana jika sebuah genta? Bukankah itu kebiasaan orang Nasrani

    Jika terompet tanduk? Itu yang digunakan orang Yahudi, bukan?

    Semua yang hadir di sana kembali terdiam, tak ada yang merasa puas dengan pilihan-pilihan yang dibicarakan. Ku lihat Nabi termenung, tak pernah ku saksikan beliau begitu muram. Biasanya wajah itu seperti matahari di setiap waktu, bersinar terang. Sampai suatu ketika, adalah Abdullah Bin Zaid dari kaum Anshar, mendekati Nabi dengan malu-malu. Aku bergeser memberikan tempat kepadanya, karena ku tahu ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Nabi secara langsung.

    Wahai, utusan Allah suaranya perlahan terdengar. Mesjid hening, semua mata beralih pada satu titik. Kami memberikan kepadanya kesempatan untuk berbicara.

    Aku bermimpi, dalam mimpi itu ku dengar suara manusia memanggil kami untuk berdoa… lanjutnya pasti. Dan saat itu, mendung di wajah Rasulullah perlahan memudar berganti wajah manis berseri-seri. Mimpimu berasal dari Allah, kita seru manusia untuk mendirikan shalat dengan suara manusia juga.. Begitu nabi bertutur.

    Kami semua sepakat, tapi kemudian kami bertanya-tanya, suara manusia seperti apa, lelakikah?, anak-anak?, suara lembut?, keras? atau melengking? Aku juga sibuk memikirkannya. Sampai kurasakan sesuatu di atas bahuku, ada tangan Al-Musthafa di sana. Suara mu Bilal ucap Nabi pasti. Nafasku seperti terhenti.

    Kau tidak akan pernah tahu, saat itu aku langsung ingin beranjak menghindarinya, apalagi semua wajah-wajah teduh di dalam mesjid memandangku sepenuh cinta. Subhanallah, saudaraku, betapa bangganya kau mempunyai sesuatu untuk kau persembahkan kepada Islam ku dengar suara Zaid dari belakang. Aku semakin tertunduk dan merasakan sesuatu bergemuruh di dalam dada. Suaramu paling bagus duhai hamba Allah, gunakanlah perintah Nabi kembali terdengar. Pujian itu terdengar tulus. Dan dengan memberanikan diri, ku angkat wajah ini menatap Nabi. Allah, ada senyuman rembulannya untukku. Aku mengangguk.

    Akhirnya, kami semua keluar dari mesjid. Nabi berjalan paling depan, dan bagai anak kecil aku mengikutinya. “Naiklah ke sana, dan panggillah mereka di ketinggian itu,” Nabi mengarahkan telunjuknya ke sebuah atap rumah kepunyaan wanita dari Banu n Najjar, dekat mesjid. Dengan semangat, ku naiki atap itu, namun sayang kepalaku kosong, aku tidak tahu panggilan seperti apa yang harus ku kumandangkan. Aku terdiam lama.

    Di bawah, ku lihat wajah-wajah menengadah. Wajah-wajah yang memberiku semangat, menelusupkan banyak harapan. Mereka memandangku, mengharapkan sesuatu keluar dari bibir ini. Berada di ketinggian sering memusingkan kepala, dan ku lihat wajah-wajah itu tak mengharapkan ku jatuh. Lalu ku cari sosok Nabi, ada Abu Bakar dan Umar di sampingnya. Ya Rasul Allah, apa yang harus ku ucapkan? Aku memohon petunjuknya. Dan kudengar suaranya yang bening membumbung sampai di telinga Pujilah Allah, ikrarkan Utusan-Nya, Serulah manusia untuk shalat. Aku berpaling dan memikirkannya. Aku memohon kepada Allah untuk membimbing ucapanku.

    Kemudian, ku pandangi langit megah tak berpenyangga. Lalu di kedalaman suaraku, aku berseru :

    Allah Maha Besar. Allah Maha Besar

    Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah

    Aku bersaksi bahwa Muhammad Utusan Allah

    Marilah Shalat

    Marilah Mencapai Kemenangan

    Allah Maha Besar. Allah Maha Besar

    Tiada Tuhan Selain Allah.

    Ku sudahi lantunan. Aku memandang Nabi, dan kau akan melihat saat itu Purnama Madinah itu tengah memandangku bahagia. Ku turuni menara, dan aku disongsong begitu banyak manusia yang berebut memelukku. Dan ketika Nabi berada di hadapan ku, ia berkata ” Kau Bilal, telah melengkapi Mesjidku.

    Aku, Bilal, anak seorang budak, berkulit hitam, telah dipercaya menjadi muadzin pertama, oleh Dia, Muhammad, yang telah mengenyahkan begitu banyak penderitaan dari kehidupan yang ku tapaki. Engkau tidak akan pernah tahu, mengajak manusia untuk shalat adalah pekerjaan yang dihargai Nabi begitu tinggi. Aku bersyukur kepada Allah, telah mengaruniaku suara yang indah. Selanjutnya jika tiba waktu shalat, maka suaraku akan memenuhi udara-udara Madinah dan Makkah.

    Hingga suatu saat,

    Manusia yang paling ku cinta itu dijemput Allah dengan kematian terindahnya. Purnama Madinah tidak akan lagi hadir mengimami kami. Sang penerang telah kembali. Tahukah kau, betapa berat ini ku tanggung sendirian. Aku seperti terperosok ke sebuah sumur yang dalam. Aku menangis pedih, namun aku tahu sampai darah yang keluar dari mata ini, Nabi tak akan pernah kembali. Di pangkuan Aisyah, Nabi memanggil “ummatii.. ummatiii” sebelum nafas terakhirnya perlahan hilang. Aku ingat subuh itu, terkakhir nabi memohon maaf kepada para sahabatnya, mengingatkan kami untuk senantiasa mencintai kalam Ilahi. Kekasih Allah itu juga mengharapkan kami untuk senantiasa mendirikan shalat. Jika ku kenang lagi, aku semakin ingin menangis. Aku merindukannya, sungguh, betapa menyakitkan ketika senggang yang kupunya pun aku tak dapat lagi mendatanginya.

    Sejak kematian nabi, aku sudah tak mampu lagi berseru, kedukaan yang amat membuat ku lemah. Pada kalimat pertama lantunan adzan, aku masih mampu menahan diri, tetapi ketika sampai pada kalimat Muhammad, aku tak sanggup melafalkannya dengan sempurna. Adzanku hanya berisi isak tangis belaka. Aku tak sanggup melafalkan seluruh namanya, “Muhammad”. Jangan kau salahkan aku. Aku sudah berusaha, namun, adzanku bukan lagi seruan. Aku hanya menangis di ketinggian, mengenang manusia pilihan yang menyayangiku pertama kali. Dan akhirnya para sahabat memahami kesedihan ini. Mereka tak lagi memintaku untuk berseru.

    Sekarang, ingin sekali ku memanggil kalian, memanggil kalian dengan cinta. Jika kalian ingin mendengarkan panggilanku, dengarkan aku, akan ada manusia-manusia pilihan lainnya yang mengumandangkan adzan. Saat itu, anggaplah aku yang memanggil kalian. Karena, sesungguhnya aku sungguh merindui kalian yang bersegera mendirikan shalat.

    Alhamdulillah kisahku telah sampai, ku sampaikan salam untuk kalian.

    Wassalamu’alaikum

    ***

    Sahabat, jika adzan bergema, kita tahu yang seharusnya kita lakukan. Ada Bilal yang memanggil. Tidakkah, kita tersanjung dipanggil Bilal. Bersegeralah menjumpai Allah, hadirkan hatimu dalam shalatmu, dan Allah akan menatapmu bahagia. Saya jadi teringat sebuah kata mutiara yang dituliskan sahabat saya pada buku kenangan ketika SD “Husnul, shalatlah sebelum kamu di shalatkan”. Sebuah kalimat yang sarat makna jika direnungkan dalam-dalam.

    ***

    Oleh: Husnul Rizka Mubarikah – eramuslim

     
  • erva kurniawan 2:18 am on 21 April 2014 Permalink | Balas  

    pernikahan erva kurniawan titik rahayuningsihKomitmen Sangat Penting Menjadi Dasar Pernikahan

    Perkawinan adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Karena secara biologis setelah melewati masa pubertas, organ -organ seksual seseorang memang disiapkan untuk bereproduksi dan ada sexual desire yang harus dipenuhi. Dalam psikologi, ada sebuah teori kebutuhan yang menyebutkan bahwa perilaku manusia dilandasi oleh upaya untuk memenuhi kebutuhan. Walaupun ada anggapan bahwa tanpa berpasanganpun manusia bisa hidup, tapi ada hal-hal tertentu yang tidak bisa diperoleh dengan hanya hidup seorang diri, dan pernikahan termasuk di dalamnya. Apalagi agama pun menganjurkan untuk itu.

    Menurut Rieny Hasan, pernikahan adalah sebuah lembaga yang “paling save” untuk memberikan pemuasan kebutuhan yang paling mendasar yang disebut companionship atau kebersamaan. “Kebersamaan disini bukan sekedar kebersamaan dalam arti hanya hidup berdua saja. Tetapi di dalamnya harus ada shared vision, ada satu visi yang disepakati bersama, bahwa kebersamaan itu ditujukan bagi sesuatu yang tidak bisa dicapai kalau hanya dilakukan oleh satu orang saja, ” ujar Rieny seraya menyebutkan memiliki keturunan sebagai contoh hal yang tidak bisa dilakukan seorang diri.

    Namun Rieny menjelaskan kebutuhan manusia juga dibedakan kedalam tiga jenis, ada kebutuhan real, kebutuhan `awang-awangen’ atau kebutuhan yang sebenarnya tidak realistis dan kebutuhan neurotis atau kebutuhan yang hanya merupakan usaha untuk menutupi gejala-gejala neurotik yang sebetulnya muncul untuk memadamkan impuls-impuls yang biasanya diwarnai oleh rasa was-was, khawatir, pesimis. “dari ketiga ini, yang berpotensi untuk menimbulkan masalah adalah kebutuhan neurotis,” jelas Rieny.

    Ada banyak alasan yang menyebabkan seseorang menikah. “Dulu dibilang bahwa kesamaan akan menjamin langgengnya sebuah perkawinan, ” tapi lanjut Rieny manusia berubah dan apa-apa yang di awal perkawinan itu sama dalam perjalanan bisa saja berubah. Dalam pandangan Rieny, yang terpenting saat bersepakat untuk menikah adalah komitmen, karena hal itulah yang menurut Rieny akan membuat pasangan menganggap pernikahan bukan hanya sebagai terminal yang cuma disinggahi sesaat. Kedua, adalah penerimaan terhadap pasangan.

    “Sebuah kesalahan besar kalau kita memasuki perkawinan sambil mengatakan saya akan bisa merubah dia,” apalagi tambah Rieny yang ingin diubah adalah kebiasaan yang sudah melekat dalam diri pasangan. “Yang ada nantinya, pernikahan jadi seperti sekolah yang kalau tidak menurut akan mendapat hukuman,” jelasnya sedikit berkelakar. Ketiga, jangan jadikan perkawinan seperti pertandingan di mana harus ada yang menang dan kalah. “Kita harus berpikir win-win.”

    Komunikasi adalah penting dalam sebuah ikatan perkawinan, walaupun pembicaraan itu berupa pertengkaran. Rieny menganggap hal itu lebih sehat ketimbang dia seribu basa. “Kalau pasangan tersebut merasa sudah tidak butuh bicara, berarti pasangan itu sudah tidak punya appetite lagi untuk saling memahami. Ikatan perkawinan bisa jadi pudar kalau suami istri itu menganggap ngomong pun sudah tidak ada gunanya,” ujar Rieny serius.

    Ada indikasi yang dapat dijadikan ukuran harmonis tidaknya sebuah hubungan. Menurut Rieny yang jugfa konsultan psikologi di sebuah tabloid ini, hal itu antara lain adanya rasa nyaman bila suami dan istri itu bertemu. Atau dengan kata lain, kalau salah satu tidak ada, yang lain merasa ada sesuatu yang hilang. Kedua pasangan sebaiknya dapat berkembang bersama, tanpa ada yang harus dirugikan. Kehidupan adalah pelajaran berharga, juga untuk istri dan suami, dan Rieny menekankan bahwa kebiasaan untuk selalu mau belajar dari pengalaman sangat dibutuhkan untuk sebuah hubungan. “Hindari kata-kata yang selalu memakai kata, pokoknya, harusnya, mestinya, gue maunya dan sebagainya,” cetus Rieny tersenyum. Yang terakhir menurutnya, adalah masing-masing pasangan perlu mengenal teman-teman dan lingkungan tempat pasangannya bekerja dan bergaul.

    Kalau Anda mau sukses dalam perkawinan, hendaknya setiap orang harus tahu sebetulnya kebutuhan apa yang hendak diperoleh dari mengikatkan diri dengan orang itu. Karena perkawinan adalah keputusan untuk menyerahkan kebebasan. “Dan kita tidak bisa seperti layaknya saat sebelum menikah, ada hal-hal yang harus kita lakukan kalau mau dibilang istri, lebih banyak lagi kalau mau dibilang istri yang baik, lebih banyak lagi kalau mau dibilang menantu yang baik, ipar yang baik dan seterusnya, ” ujar Rieny sambil melepas tawanya.

    “Pernikahan itu akan susah kalau dibikin susah, tapi kalau kita membuatnya menjadi mudah, memang tak ada yang terlalu sulit untuk dijalani,” tandas Rieny, mengakhiri perbincangan. Jadi, mengapa Anda masih bimbang untuk menikah?

    ***

    Oleh: Dra. Rieny Hasan

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 661 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: