Malas


Malas 

Kata Rasulullah SAW malas adalah sebuah penyakit. Penyakit malas ini selalu menjadi musuh manusia dan banyak manusia yang terpedaya oleh penyakit ini. Salah satunya mungkin diri kita.

Coba kita rasakan, adakah penyakit malas didiri kita? Ketika kita mau melaksanakan shalat tahajud atau shalat subuh adakah penyakit malas disana? Ketika kita selesai shalat Fardu lalu kita berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT adakah penyakit malas disana? Ketika disuruh oleh ibu kita untuk mengerjakan sesuatu hal padahal kita lagi asyiknya nonton tv, adakah penyakit malas disana? Ketika menerima tugas dari atasan di kantor, adakah penyakit malas disana? Dan banyak lagi suasana atau keadaan diri kita yang mana pada waktu itu diri kita sedang dilanda penyakit malas. Dan ini dirasakan oleh semua, baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua.

Pernah suatu hari teman saya bilang, dulu sewaktu saya masih sekolah, saya jarang sekali dapat rengking di kelas saya, karena saya malas untuk belajar sehingga nilai ulanganpun saya selalu dapat nilai kecil. Tetapi, setelah saya buang rasa malas yang ada didiri saya, Alhamdulillah nilai-nilai ulanganpun menjadi bagus dan Alhamdulillah saya dapat rangking satu terus.

Begitupun dengan teman yang dulu satu kerjaan dengan saya yang sekarang telah tiada (meninggal dunia) mudah-mudahan Allah mengampuni atas semua dosanya dan menerima semua amal salihnya dan dilapangkan kuburnya amin. Dia pindah kerja ke perusahaan lain, disana kerjanya bagus sampai oleh atasannya dia diangkat menjadi kepala bagian diperusahannya yang lain, dan dia dapat menjalankannya dengan baik dan penuh tanggungjawab, sampai atasanya memberikan penghargaan atas dedikasi kerjanya yang baik itu. Itu semua dia lakukan dengan semangat yang tinggi dan tidak kalah penting lagi dia lakukan dengan Ikhlas.

Dan perlu diingat oleh kita semua, bahwa semua pengusaha, pendidik, pekerja, olahragawan dan lain sebagainya bisa berhasil dibidangnya, karena, mereka semua bisa melepaskan diri dari penyakit malas yang menyerangnya itu. Dan Allah SWT pun telah menganjurkan agar kita sebagai hamba-Nya untuk selalu bersemangat dalam melakukan suatu aktivitas. Baik itu dalam beribadah kepada Allah SWT maupun dalam bermuamalah dengan sesama manusia.

Ada sebuah gambaran yang sangat indah dari Allah untuk kita renungkan, yang mana gambaran itu Allah tuangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Aadiyaat ayat 1 sampai 5:

 “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,” (QS. Al-Aadiyaat (100): 1-5)

Dalam kitabnya “Tafsir Al-Qur’an Kontemporer EUstadz Aam Amiruddin mengatakan bahwa, Ayat 1-5 menggambarkan keperkasaan kuda perang yang berlari kencang menyerang kumpulan musuh . Begitu semangat dan kencangnya kuda itu berlari hingga hentakan kakinya memercikkan api dan menerbangkan debu.

Hal tersebut merupakan penggambaran yang sangat indah dari Allah SWT untuk kita renungkan. Umat Islam seharusnya menadi umat yang gigih, penuh semangat dan kerja keras dalam memperjuangkan apapun, sebagaimana halnya kuda perang yang begitu gigih, penuh semangat, dan mengerahkan seluruh kemampuannya menerjang kumpulan musuh.

Namun, fakta dalam kehidupan keseharian menunjukkan bahwa kita belum menjadi bangsa yang memiliki etos kerja yang baik. Padahal kalau kita gali pesan-pesan Ilahi, sungguh banyak ayat yang mendorong kita agar menjadi orang yang giat bekerja dan banyak berkarya, misalnya ayat-ayat berikut ini,

 “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu…,” (QS. At-Tubah (9): 105)

 “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah (94): 7-8)

Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu melakukan yang terbaik. Kalau kita menjadi ibu, jadilah ibu yang terbaik dalam mendidik anak-anak dan mengatur rumah tangga. Kalau kita menjadi ayah, jadilah ayah yang terbaik dalam mengayomi dan menapkahi keluarga. Kalau kita menjadi karyawan, jadilah karyawan yang bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas-tugas perusahaan. Jadi, apapun profesi dan bidang kerja kita, maka jadilah yang terbaik di bidangnya.

Maka tidak ada kata malas dalam ajaran Islam. Apabila kita telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain karena Allah SWT lebih menyukai muslim yang kuat daripada muslim yang lemah. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang di sukai dan dikasihi oleh Allah SWT karena kita berani melepaskan diri dari penyakit malas itu.

Wallahu A’lam

***

Sumber: jkmhal.com

e…@jkmhal.com

About these ads