Langit Nyaris Pecah


Langit Nyaris Pecah

“Ada dua kejadian yang membuat langit hampir saja pecah..”

Bumi yang semakin tua terhampar luas sejauh mata memandang. Lalu, langit menaungi tanpa syarat. Seluruh alam bertasbih menurut peredarannya. Semua jadi pertanda kebesaran-Nya. Allah bisa sangat lembut dengan sifat-Nya yang Maha Pemurah. Tapi, Allah pun bisa sangat murka jika hamba-hamba-Nya berbuat kemunkaran di luar batas. Ada dua kejadian yang membuat langit hampir saja pecah.

Pertama, langit nyaris pecah karena manusia menganggap bahwa Allah itu mempunyai anak.

Dalam Alquran, hal itu ditegaskan pada ayat: “Hampir saja langit pecah dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu) karena mereka menganggap Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak,” (QS Maryam: 90-91).

Tidak bisa dibayangkan betapa dahsyatnya murka Allah karena menilai bahwa Allah memiliki anak. Allah yang memiliki sifat mukhalafatu lil hawadits (berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya) disamakan dengan manusia (yang berkembang dengan cara beranak) yang justru diciptakan untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya.

Untuk itu, Allah menegaskan dalam Alquran surat Al-Ikhlash ayat 3-4, “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.”

Pada zaman teknologi serbacanggih seperti saat ini, peristiwa yang berkaitan dengan kejadian alam atau apa pun kerap dikaji dengan sebab ilmiah atau logika. Misalnya, musibah tsunami, longsor, banjir bandang, gempa bumi, dan lain-lain. Peristiwa yang disebabkan oleh kejadian alam tersebut selalu dikaji dan dijelaskan dengan alasan-alasan ilmiah. Padahal, selalu ada hal yang tak bisa dijelaskan dengan logika atau akal manusia. Di situlah kebesaran Allah akan semua rahasia dan ketetapan-Nya.

Karena itu, penyamaan Allah dengan makhluk ciptaannya “manusia“ merupakan perbuatan yang sangat tercela. Apalagi menganggap bahwa Dia Yang Mahaperkasa mempunyai anak: Allah akan sangat murka.

Kejadian kedua yang membuat langit hampir saja pecah adalah keagungan Allah.

Dijelaskan dalam Alquran surat asy-Syura ayat 5:

“Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Allah) dan malaikat-malaikat bertasbih memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS asy-Syura: 5)

Begitu indah bahasa Alquran menggambarkan kejadian itu. Di mana para malaikat bertasbih memuji kebesaran Allah SWT serta memohonkan ampunan bagi manusia di bumi. Dan kejadian tersebut nyaris membuat langit pecah.

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar..

Betapa indah dan agungnya Allah. Kekuasaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Sampai-sampai takkala Nabi Musa ingin melihat Allah SWT di Bukit Tursina, lalu Allah menampakkan kebesaran-Nya pada langit, bukit tersebut hancur dan Nabi Musa jatuh pingsan. Langit pun hampir saja pecah karena takjub dan tak mampu melihat kebesaran dan keagungan Ilahi Rabbi. Subhanallah.

Kejadian ini sering luput dari kajian kita. Satu kejadian luar biasa, meski berbeda sebab, yang dapat mengakibatkan langit nyaris pecah.

Mengambil Hikmah

Di antara dua peristiwa yang hampir membuat langit pecah itu, banyak hikmah yang dapat dipetik.

Terkadang, tanpa kita sadari, saat kita berkuasa, kita berperi laku hendak menyamai Allah.

Merasa sebagai atasan, kita memperlakukan bawahan kita sekendaknya. Seolah, atasan adalah pemegang nasib bawahan. Tanda tangan atasan seakan sangat menentukan masa depan bawahannya. Hasilnya, senyum karena kontrak kerja diperpanjang atau muka sedih karena kontrak kerja berakhir.

Bahkan, uang bisa dianggap sebagai dewa dan layak disembah. Dengan uang, orang bisa membeli kekuasaan. Dengan uang, darah seseorang seakan tak ada nilainya. Dengan uang, dunia seolah bisa direngkuh.

Penguasa bisa mengebiri rakyat. Sebab, ini memang sudah jadi tren di negara kita. Politik jadi senjata untuk memperalat rakyat. Yang menentang “diamankan.” Bahkan, pada era sebelumnya, darah rakyat penentang kekuasaan “dihalalkan.”

Tak semestinya manusia berbuat menyerupai kekuasaan Allahu azza wa jalla. Bahkan, atas diri sendiri pun, manusia tidak memiliki hak. Allah lah yang sangat berhak berlaku takabur (Al Mutakabbir). Sebab, Dia-lah yang Maha Memiliki Segala Keagungan.

Karena itu, sudah seharusnya kita bersyukur dan merendah memohon ampunan Allah SWT. Tidak sepantasnya seorang hamba itu bangga dengan kekuasaan, uang, ataupun kepandaian. Sebab, semua itu harus dipertanggungjawabkan kelak pada hidup sesudah mati, kehidupan yang kekal: akhirat.

Sedangkan mendengarkan suara petir yang keras saja kita dibuat kaget dan takut, apalagi bila langit itu pecah. Saat kita menertawakan orang lain, saat kita membentak bawahan, saat kita menghukum murid yang bebal, pernahkah terlintas bahwa langit hampir saja pecah karena kesombongan kita. Maka, jangan membuat langit nyaris pecah karena Allah murka jikalau dengan bertasbih memuji keagungan-Nya saja langit nyaris pecah.

***

Oleh: Eko Prasetyo

About these ads