Natirah Yang Berjuang


Natirah Yang Berjuang

Natirah, 33 tahun adalah janda cerai sejak tiga tahun lalu. Ia ditinggal suaminya dengan diwarisi rumah tipe 21 yang baru lunas tiga tahun mendatang. Selain itu ia juga berkewajiban menghidupi anak-anak yang tiga orang, dan tetap mempertahankan mereka untuk sekolah. Yang pertama di SMK, yang terakhir masih SD. Untuk itu ia mencoba berjualan rempeyek. Namun mengandalkan usaha kecil ini tidak menyelesaikan masalah. Untungnya kecil, tak cukup untuk makan satu hari. Dalam keterbatasannya Natirah tetap punya cita-cita dapat mengantarkan anaknya hingga jenjang kuliah. Apakah mungkin, terkadang ia tertawa geli. Lulus sekolah saja rasanya sudah beruntung. Namun Natirah bukan sosok yang mudah menyerah. Ia sanggup berjuang!

Kemudian terbersitlah didalam pikirannya bagaimana jika ia mengojek? Tapi ia tak punya motor. Apalagi wanita jadi tukang ojek sungguh hal yang tidak biasa, duh malunya! Apa kata tetangga? Namun pikiran dan perasaan malu itu hanya sekejap melintas. Nasib anak-anak dan menjaga kelangsungan hidup keluarga menghapus pikiran tersebut.

Natirah dipinjami motor oleh kakaknya, maka Natirah memutuskan menjadi tukang ojek bagi anak-anak sekolah. Mulanya ia malu untuk menawarkan jasa, tapi kebutuhan di depan mata tak bisa dipenuhi dengan rasa malu dan gengsi. Natirah yang lulusan SMP ini perlahan menekuni profesi yang tak biasa ini. Kini ia punya sembilan pelanggan ojek. Ia mengawali waktu kerjanya sejak pukul 06.00 Satu kali angkut ia membonceng dua anak. Usai mengantar pelanggan ia pulang mengambil dagangan rempeyek, yang ia jajakan dari rumah ke rumah; warung ke warung. Jam 10.00 ia berhenti dan Natirah kembali menjemput pelanggannya, hingga waktu dzuhur. Ia setia menunggu sambil melaksanakan solat di mushala sekolah. Setelahnya ia pulang; istirahat sejenak dan kemudian mengasuh anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja. Natirah membawa anak-anak itu untuk dijaga di rumahnya yang sempit. Sambil menjaga anak-anak itu, ia memasak untuk makan anaknya sepulang sekolah. Biasanya ia juga membuat adonan rempeyek untuk digoreng malam harinya. Anita anak pertamanya selalu membantu hingga larut malam untuk menggoreng dan membungkus rempeyek. Sementara anaknya yang lain belajar. Natirah sangat bersyukur jerih payahnya terbalas oleh prestasi sekolah anak-anaknya yang membanggakan.

Menjelang Subuh, Natirah bangun untuk tahajud. Ia mengadu dan berdoa pada Allah SWT. Paginya ia merasa punya enerji baru demi membawa anak-anaknya menuju hidup yang lebih baik.

Di Bumi Sawangan Indah, Pengasinan, Sawangan, Depok, pengemudi ojek Natirah Ratnasari dengan jilbab dan kacamata hitamnya cukup dikenal. Natirah sungguh seorang perempuan dan ibu teladan yang baik, ramah dan supel. Ia tangguh, dinamis dan ulet. Perjuangan Natirah sejogyanya menjadi inspirasi bagi kaum yang lemah dan terpuruk.

***

Sebagian besar kisah ini dikutip dari REPUBLIKA.

About these ads