Updates from Maret, 2011 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:35 am pada 31 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Persembunyian Terbaik: Terang dan Terbuka

    Oleh: Bayu Gawtama

    Suatu hari, ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya. “Guru, tunjukkan saya satu tempat sebagai tempat sembunyi paling aman…”

    Dengan tenang, sang guru menjawab, “bersembunyilah di tempat yang terang dan terbuka, ”

    Mendengar jawaban itu, si murid terheran dan bertanya kembali, “Guru, saya ini sudah lelah terus menerus sembunyi namun tetap saja diketahui orang. Setiap kali saya merasa sudah menemukan tempat terbaik untuk bersembunyi, selalu saja mudah bagi orang lain menemukan saya. Kenapa justru guru menganjurkan saya bersembunyi di tempat terang dan terbuka? Ya sudah pasti akan lebih mudah orang melihat saya…”

    Untuk jawaban kedua, Sang guru hanya mengeluarkan kalimat yang hampir sama, “Cobalah, bersembunyilah di tempat yang saya sarankan…”

    Merasa tidak puas. Akhirnya si murid pergi meninggalkan gurunya. Namun sepanjang perjalanan ia terus merenungi kalimat gurunya, yang menganjurkannya bersembunyi di tempat terang dan terbuka. Tentu ada maksud tertentu dari sang guru dari anjuran tersebut.

    Suatu hari, ia kembali merasa dikejar perasaan bersalah atas perbuatannya tempo dulu. Ia merasa setiap mata terus menerus mencari jejaknya dan akan mengadilinya. Maka ia pun kembali berlari dan mencari tempat sembunyi. Di saat itulah, ia teringat pesan gurunya, “bersembunyilah di tempat yang terang dan terbuka”

    Maka, melengganglah ia dengan tenang di depan khalayak ramai, di pasar, di taman bermain, dan tempat-tempat keramaian lain yang menjadi pusat aktivitas orang banyak. Aneh memang, pada mulanya ia merasa malu pada setiap pasang mata yang menatapnya tajam, pada setiap mulut yang pedas mencibirnya, atau bahkan makian yang membuat hatinya tercabik-cabik. Tetapi beberapa saat setelah itu, hatinya sangat tenang, wajahnya kembali berseri dan ia tak perlu menundukkan kepala setiap melintasi tempat keramaian.

    Selama ini, ia selalu merasa cemas dan ketakutan karena merasa semua orang di muka bumi mencarinya. Selama ini, setiap kali menemukan tempat persembunyian yang dianggap paling aman, justru ia merasa tidak aman. Rasa cemas dan takut terus menerus menghantui dirinya selama di tempat persembunyian, dan karena itulah setiap orang teramat mudah menemukan tempat persembunyiannya.

    Setelah mengikuti anjuran sang guru untuk bersembunyi di tempat terang dan terbuka, justru ia merasa aman dan nyaman, meski harus didahului dengan perasaan malu dan sakit. Tetapi ia tidak lagi merasa dihantui terus menerus, tidak lagi cemas, dan hatinya sangat tenang.

    Maka, ia pun merasa harus mengunjungi gurunya. “Saya baru mengerti maksud guru tentang tempat terbaik untuk bersembunyi itu. Ternyata yang guru maksud tempat terang dan terbuka itu tidak lain tidak bukan adalah; jujur”

    **

    Setiap manusia pasti dan pernah melakukan kesalahan. Bersembunyi, atau menyembunyikan kesalahan terus menerus hanya akan membuat hati cemas, gelisah dan takut. Selalu khawatir jika suatu waktu dan pada akhirnya orang lain mengetahui perbuatan salah kita itu. Kejujuran kadang harus dibayar dengan perih dan malu, tetapi sesungguhnya itu akan membawa ketenangan batin selamanya. Jujur dan terbuka, di situlah mata air ketenangan jiwa (Gaw)

    ***

    Sumber: Eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 1:28 am pada 30 March 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Riset Amerika Tegaskan Manfaat Shalat Dan Ibadah

    Sebuah riset di Amerika yang diadakan Medical Center di salah satu universitas di sana ‘Pyok’ menegaskan, shalat dapat memberikan kekuatan terhadap tingkat kekebalan tubuh orang-orang yang rajin melaksanakannya melawan berbagai penyakit, salah satunya penyakit kanker. Riset itu juga menegaskan, adanya manfaat rohani, jasmani dan akhlak yang besar bagi orang yang rajin shalat.

    Riset itu mengungkapkan, tubuh orang-orang yang shalat jarang mengandung persentase tidak normal dari protein imun Antarlokin dibanding orang-orang yang tidak shalat. Itu adalah protein yang terkait dengan beragam jenis penyakit menua, di samping sebab lain yang mempengaruhi alat kekebalan tubuh seperti stres dan penyakit-penyakit akut.

    Para peneliti meyakini, ibadah dapat memperkuat tingkat kekebalan tubuh karena menyugesti seseorang untuk sabar, tahan terhadap berbagai cobaan dengan jiwa yang toleran dan ridha. Sekali pun cara kerja pengaruh hal ini masih belum begitu jelas bagi para ilmuan, akan tetapi cukup banyak bukti atas hal itu, yang sering disebut sebagai dominasi akal terhadap tubuh. Bisa jadi melalui hormon-hormon alami yang dikirim otak ke dalam tubuh di mana orang-orang yang rajin shalat memiliki alat kekebalan tubuh yang lebih aktif daripada mereka yang tidak melakukannya. Demikian seperti dilansir situs ‘Laha’.

    Profesor Mas’ud Shabri, anggota Persatuan Ulama Islam Internasional mengatakan, “Kita mengimani bahwa shalat memiliki banyak manfaat rohani, sosial, medis dan sebagainya akan tetapi semua ini masih masuk dalam lingkup ijtihad yang sebagian kalangan bisa benar, dan sebagian kalangan yang lain bisa salah. Bila salah seorang, misalnya ada yang berkata, ‘Di antara manfaat shalat begini,’ kemudian ilmu sekarang ini menyingkap ketidakbenaran info ini, maka kesalahan itu dilimpahkan kepada orang yang mengatakan adanya manfaat tertentu itu, bukan pada shalat itu sendiri.!!??

    Shabri menambahkan, “Sebelum segala sesuatunya, sikap yang pertama kali harus ditunjukkan adalah bahwa kita wajib menjadikan shalat sebagai suatu ibadah dulu. Kemudian setelah itu, boleh menyebutkan adanya manfaat atau tidak darinya. Andaikata shalat tidak memiliki manfaat seperti itu selain ketaatan kepada Allah, maka itu sudah cukup bagi kita sebagai suatu kemuliaan berdiri di hadapan Allah swt dalam sehari lima waktu shalat fardhu. Bagi siapa saja yang ingin berdiri lebih lama lagi, maka pintu terbuka untuk itu. Ini sama sekali tidak mengurangi nilai shalat itu sendiri dari sisi-sisi non ibadah.!!

    ***

    Sumber: Mufakkira el-Islam, tgl 21 Syawwal 1427 H

     
    • sa 7:42 am pada 30 Maret 2011 Permalink

    • tha 7:45 am pada 5 April 2011 Permalink

      mas, ijin share ya :)

    • penghematbensinmotor 5:43 pm pada 5 April 2011 Permalink

      Sebenarnya kalau mat Islam melakukan apa yang di contohkan oleh Rasulullah Muhammad S.A.W. maka diri kita akan senantiasa mulia. Sedangkan sholat itu sendiri adalah ibadah yang wajib bagi umat Islam, dan mengandung banyak keutamaan di dalamnya, termasuk juga dalam hal kesehatan.
      nfo yang bermanfaat Gan….

    • fani 6:06 pm pada 30 Juli 2011 Permalink

      artikel yang sangat bagus.. saya izin jadin rujukan y mas ^^

    • Puhawang Eka Putra 1:49 am pada 8 Juni 2012 Permalink

      InsyaAllah dengan ijin-Nya… Kita semua umat Islam mendapat manfaat sholat….

  • erva kurniawan 1:26 am pada 29 March 2011 Permalink | Balas  

    Efek Samping Mengejutkan dari Antibiotik 

    Antibiotik telah banyak digunakan untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Tapi ada beberapa efek samping antibiotik yang mengejutkan dan belum banyak diketahui orang. Apa saja?

    Antibiotik merupakan senyawa atau kelompok obat yang dapat mencegah perkembangbiakan berbagai bakteri dan mikroorganisme berbahaya dalam tubuh. Selain itu, antibiotik juga digunakan untuk menyembuhkan penyakit menular yang disebabkan oleh protozoa dan jamur.

    Tapi belum banyak orang yang tahu bahwa antibiotik juga dapat menyebabkan efek samping yang cukup membahayakan. Dilansir dari Ehow, Jumat (17/9/2010), berikut beberapa efek samping antibiotik:

    1. Gangguan pencernaan

    Salah satu efek samping antibiotik yang paling umum adalah masalah pencernaan, seperti diare, mual, kram, kembung dan nyeri.

    2. Gangguan fungsi jantung dan tubuh lainnya

    Beberapa orang yang mengonsumsi antibiotik mengalami jantung berdebar-debar, detak jantung abnormal, sakit kepala parah, masalah hati seperti penyakit kuning, masalah ginjal seperti air kecing berwarna gelap dan batu ginjal dan masalah saraf seperti kesemutan di tangan dan kaki.

    3. Infeksi

    Efek samping yang paling rentan dirasakan perempuan adalah infeksi jamur pada organ reproduksi yang dapat menyebabkan keputihan, gatal dan vagina mengeluarkan bau serta cairan.

    4. Alergi

    Orang yang mengonsumsi antibiotik juga sering mengalami alergi, bahkan hingga bertahun-tahun. Alergi yang sering terjadi adalah gatal-gatal dan pembengkakan di mulut atau tenggorokan.

    5. Resistensi (kebal)

    Orang yang keseringan minum antibiotik bisa mengalami resistensi atau tidak mempan lagi dengan antibiotik. Ketika seseorang resisten terhadap antibiotik, ada beberapa penyakit dan infeksi yang tidak dapat lagi diobati, sehingga memerlukan antibiotik dengan dosis lebih tinggi. Semakin tinggi dosis maka akan semakin menimbulkan efek samping yang serius dan mengancam jiwa.

    6. Gangguan serius dan mengancam nyawa

    Penggunaan antibiotik dosis tinggi dan dalam jangka lama dapat menimbulkan efek sampaing yang sangat serius, seperti disfungsi atau kerusakan hati, tremor (gerakan tubuh yang tidak terkontrol), penurunan sel darah putih, kerusakan otak, kerusakan ginjal, tendon pecah, koma, aritmia jantung (gangguan irama jantung) dan bahkan kematian.

    Untuk menghindari efek samping antibiotik yang berbahaya tersebut, maka sangat dianjurkan untuk menggunakan antibiotik sesuai dengan dosis dan aturan pemakaian. (mer/ir)

    ***

    Merry Wahyuningsih – detikHealth

    health.detik.com/read/2010/09/17/075559/1442128/763/efek-samping-mengejutkan-dari-antibiotik

     
  • erva kurniawan 1:57 am pada 28 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Himpunan Fatwa Haram Merokok

    1. Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Merokok haram hukumnya berdasarkan makna yang terindikasi dari zhahir ayat Alquran dan As-Sunah serta i’tibar (logika) yang benar. Allah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195).

    Maknanya, janganlah kamu melakukan sebab yang menjadi kebinasaanmu. Wajhud dilalah (aspek pendalilan) dari ayat di atas adalah merokok termasuk perbuatan yang mencampakkan diri sendiri ke dalam kebinasaan.

    Sedangkan dalil dari As-Sunah adalah hadis shahih dari Rasulullah saw. bahwa beliau melarang menyia-nyiakan harta. Makna menyia-nyiakan harta adalah mengalokasikannya kepada hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebagaimana dimaklumi bahwa mengalokasikan harta dengan membeli rokok adalah termasuk pengalokasian harta pada hal yang tidak bermanfaat, bahkan pengalokasian harta kepada hal-hal yang mengandung kemudharatan.

    Dalil yang lain, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah dari kitab Al-Ahkam 2340).

    Jadi, menimbulkan bahaya (dharar) adalah ditiadakan (tidak berlaku) dalam syari’at, baik bahayanya terhadap badan, akal, ataupun harta. Sebagaimana dimaklumi pula bahwa merokok adalah berbahaya terhadap badan dan harta.

    Adapun dalil dari i’tibar (logika) yang benar yang menunjukkan keharaman rokok adalah karena dengan perbuatan itu perokok mencampakkan dirinya ke dalam hal yang menimbukan bahaya, rasa cemas, dan keletihan jiwa. Orang yang berakal tentu tidak rela hal itu terjadi pada dirinya sendiri. Alangkah tragisnya kondisinya, dan demikian sesaknya dada si perokok bila tidak menghisapnya. Alangkah berat ia melakukan puasa dan ibadah-ibadah lainnya karena hal itu menghalagi dirinya dari merokok. Bahkan, alangkah berat dirinya berinteraksi dengan orang-orang saleh karena tidak mungkin mereka membiarkan asap rokok mengepul di hadapan mereka. Karena itu, Anda akan melihat perokok demikian tidak karuan bila duduk dan berinteraksi dengan orang-orang saleh.

    Semua i’tibar itu menunjukkan bahwa merokok hukumnya diharamkan. Karena itu, nasehat saya untuk saudara-saudara kaum muslimin yang masih didera oleh kebiasaan menghisap rokok agar memohon pertolongan kepada Allah dan mengikat tekad untuk meninggalkannya. Sebab, di dalam tekad yang tulus disertai dengan memohon pertolongan kepada Allah, mengharap pahala dari-Nya dan menghindari siksaan-Nya, semua itu adalah amat membantu di dalam upaya meninggalkan hal tersebut.

    Jawaban Atas Berbagai Bantahan

    Jika ada orang yang berkilah, “Sesungguhnya kami tidak menemukan nash, baik di dalam kitabullah ataupun sunah Rasulullah saw. perihal haramnya rokok.”

    Maka, jawaban atas penyataan ini adalah bahwa nash-nash Alquran dan sunah terdiri dari dua jenis;

    1. Jenis yang dalil-dalilnya bersifat umum seperti Adh-Dhawabith (ketentuan-ketentuan) dan kaidah-kaidah yang mencakup rincian-rincian yang banyak sekali hingga hari kiamat.

    2. Jenis yang dalil-dalilnya memang diarahkan kepada suatu itu sendiri secara langsung.

    Sebagai contoh untuk jenis pertama adalah ayat Alquran dan dua hadis yang kami sebutkan di atas yang menunjukkan keharaman merokok secara umum meskipun tidak diarahkan secara langsung kepadanya.

    Sedangkan untuk jenis kedua, adalah seperti fiman Allah (yang artinya), “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (dagig hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.” (Al-Maidah: 3).

    Dan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji yang termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu.” (Al-Maidah: 90).

    Jadi, baik nash-nash itu termasuk jenis pertama atau kedua, ia bersifat keniscayaan (keharusan) bagi semua hamba Allah karena dari sisi pengambilan dalil mengindikasikan hal itu.

    Sumber: Program Nur ‘alad Darb, dari Fatwa Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, dari kitab Fatwa-Fatwa Terkini 2.

    2. Syaikh Muhammad bin Ibrahim

    Rokok haram karena di dalamnya ada racun. Al-Qur’an menyatakan, “Dihalalkan atas mereka apa-apa yang baik, dan diharamkan atas mereka apa-apa yang buruk (kotoran).” (al-A’raf: 157). Rasulullah juga melarang setiap yang memabukkan dan melemahkan, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Ummu Salamah ra. Merokok juga termasuk melakukan pemborosan yang tidak bermanfaat. Selanjutnya, rokok dan bau mulut perokok bisa mengganggu orang lain, termasuk pada jamaah shalat.

    3. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Rokok haram karena melemahkan dan memabukkan. Dalil nash tentang benda memabukkan sudah cukup jelas. Hanya saja, penjelasan tentang mabuk itu sendiri perlu penyesuaian.

    4. Ulama Mesir, Syria, Saudi

    Rokok haram alias terlarang, dengan alasan membahayakan. Di antara yang mendukung dalil ini adalah Syaikh Ahmad as-Sunhawy al-Bahuty al-Anjalaby dan Syaikh Al-Malakiyah Ibrahim al-Qaani dari Mesir, An-Najm al-Gazy al-Amiry as-Syafi’i dari Syria, dan ulama Mekkah Abdul Malik al-Ashami.

    5. Dr Yusuf Qardhawi

    Rokok haram karena membahayakan. Demikian disebut dalam bukunya ‘Halal & Haram dalam Islam’. Menurutnya, tidak boleh seseorang membuat bahaya dan membalas bahaya, sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah. Qardhawi menambahkan, selain berbahaya, rokok juga mengajak penikmatnya untuk buang-buang waktu dan harta. Padahal lebih baik harta itu digunakan untuk yang lebih berguna, atau diinfaqkan bila memang keluarganya tidak membutuhkan.

    6. SyariahOnline.com

    Keharaman rokok tidaklah berdasarkan sebuah larangan yang disebutkan secara ekplisit dalam nash Al-Quran Al-Kariem atau pun As-Sunnah An-Nabawiyah.

    Keharaman rokok itu disimpulkan oleh para ulama di masa ini setelah dipastikannya temuan bahwa setiap batang rokok itu mengandung lebih dari 4000 jenis racun berbahaya.

    Dan karena racun itu merusak tubuh manusia yang sebenarnya amanat Allah SWT untuk dijaga dan diperlihara, maka merokok itu termasuk melanggar amanat itu dan merusak larangan.

    Namun banyak orang yang menganggap hal itu terlalu mengada-ada, sebab buktinya ada jutaan orang di muka bumi ini yang setiap hari merokok dan buktinya mereka masih bernafas alias tidak langsung mati seketika itu juga.

    Karena itulah kita masih menemukan rokok di sekeliling kita dan ternyata pabrik rokokpun tetap berdiri tegar. Bahkan mampu memberikan masukan buat pemerintah dengan pajaknya. Sehingga tidak pernah muncul keinginan baik dari pembuat hukum untuk melarang rokok.

    Ini adalah salah satu ciri ketertinggalan informasi dari masyarakat kita. Dan di negeri yang sudah maju informasinya, merupakan bentuk ketidak-konsekuenan atas fakta ilmu pengetahuan. Dan kedua jenis masyarakat ini memang sama-sama tidak tahu apa yang terbaik buat mereka. Misalnya di barat yang konon sudah maju informasinya dan ipteknya, masih saja ada orang yang minum khamar. Meski ada larangan buat pengemudi, anak-anak dan aturan tidak boleh menjual khamar kepada anak di bawah umur. Tapi paling tidak, sudah ada sedikit kesadaran bahwa khamar itu berbahaya. Hanya saja antisipasinya masih terlalu seadanya.

    Sedangkan dalam hukum Islam, ketika sudah dipastikan bahwa sesuatu itu membahayakan kesehatan, maka mengkonsumsinya lantas diharamkan. Inilah bentuk ketegasan hukum Islam yang sudah menjadi ciri khas. Maka khamar itu tetap haram meski hanya seteguk ditelan untuk sebuah malam yang dingin menusuk.

    Demikian pula para ulama ketika menyadari keberadan 4000-an racun dalam batang rokok dan mengetahui akitab-akibat yang diderita para perokok, mereka pun sepakat untuk mengharamkannya. Sayangnya, umat Islam masih saja menganggap selama tidak ada ayat yang tegas atau hadits yang eksplisit yang mengharamkan rokok, maka mereka masih menganggap rokok itu halal, atau minimal makruh.

    7. Ustadz Ahmad Sarwat Lc, Konsultasi eramuslim.com

    Awalnya belum ada ulama yang mengharamkan rokok, kecuali hanya memakruhkan. Dasar pemakruhannya pun sangat berbeda dengan dasar pengharamannya di masa sekarang ini.

    Dahulu para ulama hanya memandang bahwa orang yang merokok itu mulutnya berbau kurang sedap. Sehingga mengganggu orang lain dalam pergaulan. Sehingga kurang disukai dan dikatakan hukumnya makruh.

    Sebagian kiyai di negeri kita yang punya hobi menyedot asap rokok, kalau ditanyakan tentang hukum rokok, akan menjawab bahwa rokok itu tidak haram, tetapi hanya makruh saja.

    Mengapa mereka memandang demikian? Karena literatur mereka adalah literatur klasik, ditulis beberapa ratus tahun yang lalu, di mana pengetahuan manusia tentang bahaya nikotin dan zat-zat beracun di dalam sebatang rokok masih belum nyata terlihat. Tidak ada fakta dan penelitian di masa lalu tentang bahaya sebatang rokok.

    Maka hukum rokok hanya sekedar makruh lantaran membuat mulut berbau kurang sedang serta mengganggu pergaulan.

    Penelitian Terbaru

    Seandainya para kiyai itu tidak hanya terpaku pada naskah lama dan mengikuti rekan-rekan mereka di berbagai negeri Islam yang sudah maju, tentu pandangan mereka akan berubah 180 derajat.

    Apalagi bila mereka membaca penelitian terbaru tentang 200-an racun yang berbahaya yang terdapat dalam sebatang rokok, pastilah mereka akan bergidik. Dan pastilah mereka akan setuju bahwa rokok itu memberikan madharat yang sangat besar, bahkan teramat besar.

    Pastilah mereka akan menerima bahwa hukum rokok itu bukan sekedar makruh lantaran mengakibatkan bau mulut, tapi mereka akan sepakat mengatakan bahwa rokok itu haram, lantaran merupakan benda mematikan yang telah merenggut jutaan nyawa manusia. Prosentase kematian disebabkan rokok adalah lebih tinggi dibandingkan karena perang dan kecelakaan lalulintas.

    Badan kesehatan dunia WHO menyebutkan bahwa di Amerika, sekitar 346 ribu orang meninggal tiap tahun dikarenakan rokok. Dan tidak kurang dari 90% dari 660 orang yang terkena penyakit kanker di salah satu rumah sakit Sanghai Cina adalah disebabkan rokok.

    Penelitian juga menyebutkan bahwa 20 batang rokok per hari akan menyebabkan berkurangnya 15% hemoglobin, yakni zat asasi pembentuk darah merah. Seandainya para kiyai mengetahui penelitian terakhir bahwa rokok mengandung kurang lebih 4.000 elemen-elemen dan setidaknya 200 di antaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan, pastilah pandangan mereka akan berubah.

    Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin dan karbon monoksida. Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru. Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen dan mampu memicu kanker paru-paru yang mematikan. Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen. Efek racun pada rokok ini membuat pengisap asap rokok mengalami resiko14 kali lebih bersar terkena kanker paru-paru, mulut, dan tenggorokan dari pada mereka yang tidak menghisapnya.

    Penghisap rokok juga punya kemungkinan4 kali lebh besar untuk terkena kanker esophagus dari mereka yang tidak menghisapnya. Penghisap rokok juga beresiko 2 kali lebih besar terkena serangan jantung dari pada mereka yang tidak menghisapnya.

    Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung serta tekanan darah tinggi. Menggunakan rokok dengan kadar nikotin rendah tidak akan membantu, karena untuk mengikuti kebutuhan akan zat adiktif itu, perokok cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama.

    Tidak ada satu pun orang yang bisa menyangkal semua fakta di atas, karena merupakan hasil penelitian ilmiyah. Bahkan perusahaan rokok pun mengiyakan hal tersebut, dan menuliskan pada kemasannya kalimat berikut:

    MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGUGAN KEHAMILAN DAN JANIN.

    Kalau produsen rokok sendiri sudah menyatakan bahaya produknya berbahaya dan mendatangkan penyakit, bagaimana mungkin konsumen masih mau mengingkarinya?

    ***

    Dari Sahabat

     
    • suheri 11:02 pm pada 31 Maret 2011 Permalink

      Jika memang benar di haramkan,. dan hukum rokok itu haram,. berarti negara kita sudah ribuan tahun memakan uang haram,. sebab masih mengijinkan memproduksi yg haram, masih menerima pajak pabrik rokok.? yaah… kita orang islam,. tergantung keyakinan masing2

    • Ainal Yakin Bin Akhiruddin 11:23 am pada 21 April 2011 Permalink

      Assalamualaikum w w.segala hukum sudah sempurna dan lengkap dalam agama islam .halalkan lah yang halal,haramkanlah yang haram.yang mskhruh tidak akan jadi halal dan haram.bicaralah ikut amanah/islam/ilmu.

    • agaf 6:01 am pada 25 Agustus 2011 Permalink

      orang boleh berpendapat masing2…yang jelas,segala sesuatu yang banyak mudharatny/kerugian untuk diri sendiri dan orang lain lebih baik di hindari ato ditinggalkan saja…

    • Chacha 6:05 pm pada 31 Mei 2012 Permalink

      Subhanallah bagus sekali penjelasannya, hari ini hari tanpa rokok sedunia, ketika saya banyak memposting himbauan untuk tidak merokok kepada lingkungan saya banyak yang merasa tidak senang entah kenapa, beberapa dari mereka juga orang Islam, seharusnya jadilah Islam yang sempurna, memang kita hidup di jaman Globalisasi, tetapi bukan berarti harus terbawa arus global

      Jika kita saja masih menawar2 apa yang sudah agama ajarkan dan perintahkan, sepertinya Allah juga berhak bimbang apakah harus menempatkan kita di surga? atau lebih baik neraka? :)

    • Heri 11:11 am pada 10 November 2012 Permalink

      terserah deh

    • much.isrok 10:48 pm pada 24 Desember 2012 Permalink

      menurutku, hukum itu ya hukum, makruh ya makruh halal ya halal haram ya haram… dari ahli fiqh sejak dulu menyatakan rokok makruh , skrg muhammadiyah menyatakan haram, kenapa ga dari dulu2 menyatakan haram, dan anehnya orang muhammadiyah juga bnyk jg yg perokok berat… kalo aq sih tergantung niat bro… jadi utk semuanya aja nih kita jangan asal melihat sesuatu dari dhohirnya saja, coba pake roso bro… dan amatilah dan tanyakanlah pada sbgian besar kyai besar ato habib besar malah perokok berat, kenapa? harusnya anda semua perlu tanyakan, ternyata merokok mereka sbg sarana ibadah gimana tidak, beliau merokok utk sarana menutupi dzikir syiri nya agar ga terlihat riya, beda dg kyai panggung ato kyai tiban (karena skrg pasar aja ada yg tiban jadi pasar tiban, kyai jg ada kyai tiban) yg dzikir pake tasbih dibawa kesana kemari itu ada terbesit niate pamer bro, coba tnyakan janjine ojo mukir, menurut gue nih… merokok itu BAIK dan yg tidak merokok lebih baik… salam damai. peace… ah

    • gandoe 1:45 am pada 6 Juli 2013 Permalink

      ass.. ini adalah syech yg bilang. brarti syech2 yg dulu itu kurang pintar atau syec skrg yg kurang pintar ne

    • dimasadilaksono 10:37 pm pada 14 Agustus 2013 Permalink

      sebenarnya merokok itu tidak haram secara mutlak dari al qur”an dan hadits,hanya makruh saja hukumnya,memang merokok itu lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya,yang di haramkan merokok itu ya anak di bawah umur,pelajar2,perempuan2,khususnya yang hamil n menyusui,ahli medis,n alim ulama,tergantung keyakinan kita aja masing2,

  • erva kurniawan 1:56 am pada 27 March 2011 Permalink | Balas  

    Syukurilah Semua Pemberian Allah SWT

    Assalamu `alaikum Wr. Wb.

    Syukur terbagi ke dalam dua jenis : Syukur Umum dan Syukur Khusus

    Syukur Umum terkait dengan dunia, misalnya bersyukur atas nikmat seperti pakaian, makanan, harta, kesehatan, dan kendaraan. Syukur Khusus terkait dengan akhirat, misalnya bersyukur atas nikmat seperti iman, tauhid, hidayah, bimbingan hingga bisa beribadah, istri shalihah, anak-anak shalih, dan urusan akhirat lainnya.

    Tragisnya, sebagian besar manusia hanya mengerjakan syukur umum, karena menurut mereka, manfaatnya bisa dirasakan secara langsung. Memang seperti itulah watak manusia.

    Syarat-Syarat Syukur

    Ibnu Al-Qayyim berkata, “Syukur seorang hamba terasa lengkap jika ia memenuhi tiga syarat dan ia dikatakan orang bersyukur jika melengkapi ketiga syarat itu.” Ketiga syarat tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Ia mengakui nikmat Allah pada dirinya.
    2. Ia menyanjung Allah atas nikmat itu.
    3. Ia menggunakan nikmat itu untuk mendapatkan keridhaan-Nya.

    Mengakui nikmat Allah Ta’ala pada diri kita bisa dilakukan dengan cara kita tidak mengklaim nikmat itu kita peroleh murni karena keahlian, atau pengalaman, atau usaha, atau jabatan, atau status sosial, atau kekuatan kita. Tapi kita nyatakan nikmat itu murni berasal dari Allah Ta’ala. Ketika Qarun mengklaim nikmat pada dirinya murni ia peroleh karena keilmuannya. Karena itu, Allah Ta’ala menenggelamkannya beserta istananya ke dalam bumi.

    Jika seseorang mengakui nikmat pada dirinya berasal dari Allah Ta’ala, otomatis ia menyanjung-Nya atas nikmat-nikmat itu. Jika seseorang meyakini Allah Ta’ala pemberi nikmat dan menyanjung-Nya, maka ia tidak etis menggunakan nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya. Misalnya ia mengembangkan hartanya secara ribawi, atau seseorang diberi kesehatan tapi ia mendzalimi orang lain.

    Jika kita melengkapi ketiga syarat syukur itu, Allah Ta’ala pasti menambah nikmat-Nya pada kita dan memberkahi nikmat-Nya pada kita, karena Dia berfirman,

    Artinya : “…..Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim:7)

    Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

    Sumber : Buku “Taujih Ruhiyah – Pesan-pesan Spiritual Penjernih Hati” karya Abdul Hamid al-Bilali

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:47 am pada 26 March 2011 Permalink | Balas  

    Cengir (CErita NGIbul Ringan): Horee 

    Judul : Cengir (CErita NGIbul Ringan): Horee

    Oleh : AL-Pacitan

    ***

    Di suatu siang yg amat terik, di daerah agak kumuh, daerah tempat banyak sekali pedagang kaki lima…

    Hari itu, para pedagang kaki lima satupun tidak ada yg berjualan, semuanya pada berkumpul di tempat biasa mereka berjualan….

    Diantara mereka banyak sekali yg membawa spanduk yg masih tergulung, sehingga tidak bisa di baca….

    Tidak berapa lama, suara kendaraan mesin berat (traktor ) menderu -nderu dari kejauhan semakin mendekat ke tempat mereka…

    Di depan beberapa mesin berat yg sedang berjalan mendekat, ada tiga kendaraan yg mendahulinya, satu mobil kijang bak terbuka penuh dng aparat TIBUM dan yg dua lagi mengiringi di belakangnya adalah truk yg bermuatan penuh dng aparat keamanan dari Kepolisian & ABRI….

    Aparat keamanan baik dari Kepolisian & dari ABRI, semuanya membawa pentungan dan Tameng, sedangkan petugas TIBUM hanya membawa pentungan….

    Suara amat berisik terjadi, setelah kendaraan berat ( traktor ) mulai menghantam, mengobrak-abrik menghancur leburkan warung-warung & lapak-lapak yg sehari-hari untuk berjualan para pedagang kaki-lima hingga rata dng tanah…

    Semua awal penghancuran itu di iringi dng turun-nya semua aparat dari kendaraan masing-masing dng wajah serem, tegang, Beringas dan dng tameng terpasang di depan badan mereka masing-masing sambil berlarian menyebar mengamankan situasi…

    Tapi ada yg ANEH, hari itu TIDAK ADA penghadangan, TIDAK ADA aksi PROTES & TIDAK ADA AKSI DEMO dari para pedagang kaki lima yg disertai dng tangis pilu & tangis HISTERIS seperti yg biasa terjadi …

    Tapi yg terjadi hari itu adalah malah justru sebaliknya, semua pedagang kaki-lima yg tempat dagang mereka di obrak-abrik & di hancur luluhkan oleh aparat semuanya bebaris rapi sangat teratur berjejer memanjang di pinggir jalan dng wajah semuanya terlihat SUMRINGAH, BAHAGIA dan mesam-mesem….

    Suasana itu menjadikan semua aparat keamanan yg berwajah beringas itu menjadi LING-LUNG, kebingungan, saling pandang satu sama lain seolah tidak tahu harus berbuat apa, karena Instruksi yg mereka dapat & yg mereka harus jalankan dari atasan adalah, begitu turun ke arena penghancuran mereka harus bertindak TEGAS, bahkan boleh KASAR & SADIS terhadap para pedagang kaki-lima…..

    Mesin-mesin berat terus menderu melabrak, merusak, menghancurkan & meluluh lantak-kan semua tenda-tenda, lapak-lapak, warung-warung para pedagang kaki-lima tanpa ampun…

    Berbarengan dng hancur luluhnya tempat dagang mereka, para pedagang kaki-lima tersebut malah banyak yg mulai bersorak-sorak, bertepuk-tangan sambil jingkrak-jingkrak ke-girangan dng di iringi musik dangdut dari tape yg mereka bawa sambil meneriak-kan yel-yel….HIDUP TIBUM… HIDUP Pak Polisi… Hidup pak ABRI… Hidup pak TENTARA…..

    Bahkan spanduk yg dari tadi di gulung telah di buka lebar, sehingga terlihat dng jelas tulisan besar yg berbunyi…..HIDUP Para PEJABAT TINGGI…..HIDUP PEMERINTAH…..TERIMA KASIH KAMI UCAPKAN atas penghancuran lapak-lapak kami…..

    Suasana ini jelas membuat semua aparat baik dari TIBUM maupun Polisi & dari ABRI terbengong-bengong semakin Ling-Lung dan menjadi blingsatan…

    Bahkan semua wartawan dari berbagai media & semua stasiun televisi yg meliput kejadian ini juga banyak yg menjadi kecewa, karena kejadian yg biasa terjadi yg seperti mereka harapkan yaitu bentrok para aparat versus pedagang kaki-lima yg biasa di sertai dng jatuhnya korban hari itu TIDAK terjadi…

    Berhembus berita ada yg mengatakan bahwa hari itu bahkan ada beberapa wartawan & beberapa aparat keamanan yg justru menjadi strees berat…..

    Wartawan menjadi strees berat karena hari itu mereka TIDAK MENDAPAT LIPUTAN yg biasa terjadi serta mereka harapkan yg bisa di jadikan sebagai HEAD LINE…

    Dari sisi aparat keamanan hari itu NIAT mereka untuk berbuat TEGAS bahkan KASAR & BERINGAS pada pedagang kaki-lima sesuai dng instruksi atasan TIDAK mendapatkan ALASAN & TIDAK MENDAPATKAN PEMBENARAN sehingga semuanya menjadi SULIT di lakukan…

    Hal inilah yg menjadikan beberapa aparat justru malah menjadi strees berat, karena mereka mungkin TAKUT di PECAT oleh atasan mereka karena di nilai TIDAK berani berbuat TEGAS, BERINGAS & KASAR pada pedagang kaki-lima sesuai instruksi atasan…

    Ada beberapa rumor yg beredar, mengapa para pedagang kaki-lima TIDAK mengadakan AKSI PROTES, TIDAK DEMO, TIDAK MENGADAKAN PERLAWANAN disertai dng tangis histeris yg berujung bentrok dng para aparat & jatuh korban seperti biasa saat tempat mereka mencari nafkah, saat tempat mereka berjualan di hancur-leburkan, di obrak-abrik oleh aparat, yaitu…

    Kabarnya beberapa hari sebelum tempat mereka berjualan di hancurkan, ada orang kaya yg baik hati memberikan uang pesangon sebesar sepuluh juta pada setiap para pedagang kaki-lima…

    Rumor versi lain menyebutkan bahwa semua para pedagang kali-lima tersebut memang sudah jauh-jauh hari merencanakan Pindah & Pulang kampung, bahkan kabarnya ada beberapa yg sudah mendaftarkan diri sebagai transmigran…..

    Sedangkan mereka oleh dinas setempat di- HARUS-kan & di-WAJIB-kan merubuhkan, menghancurkan semua bangunan & Lapak-lapak mereka, semua warung-warung mereka terlebih dahulu sebelum mereka semua meninggalkan tempat mereka berdagang & mencari nafkah ….

    Dan jelas itu membutuhkan DANA yg CUKUP BESAR bagi ukuran pedagang kaki-lima seperti mereka…

    Jadi dng kedatangan para aparat dng membawa alat-alat berat mengobrak-ambrik, meluluh lantak-kan tempat dagang mereka justru menjadi BERKAH bagi mereka serta menjadikan semua para pedagang kaki-lima itu Justru malah ber-Syukur, tidak perlu capek-capek, tidak perlu mengeluarkan tenaga & tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membersihkan semua itu…

    Para aparat yg mendengar kabar ini selain ada beberapa yg malah menjadi stress berat juga banyak yg menggerutu di buat-nya….

    Dari kejauhan terlihat bangunan yg paling tinggi semi permanen dari tembok perlahan mulai rubuh di dorong oleh traktor aparat, disertai dng tepuk tangan & suara gemuruh kompak dari semua pedagang kaki-lima bagaikan koor….HOREEEEE……..

    Selesai.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:19 am pada 25 March 2011 Permalink | Balas  

    Anak yang Aktif Punya Memori Lebih Kuat 

    Jika ingin memiliki anak yang pintar dan cerdas di sekolah, maka ajarkan olahraga dan kegiatan aktif lainnya pada anak sejak dini. Studi membuktikan aktifitas fisik dapat meningkatkan kecerdasan dan tingkat memori.

    Tim ilmuwan dari Amerika telah menggunakan alat pemindai (scan otak) untuk menunjukkan bahwa daerah otak benar-benar berkembang sejalan dengan aktifitas fisik yang diberikan pada anak-anak.

    Studi ini menunjukkan bahwa anak-anak yang aktif dan fit cenderung lebih cerdas dan memiliki memori yang lebih baik daripada anak yang jarang melakukan aktivitas fisik.

    Ilmuwan menemukan bahwa pada anak fit, salah satu bagian terpenting dari otaknya ternyata 12 persen lebih besar daripada anak yang tidak fit. Ilmuwan percaya bahwa mengajarkan aktivitas fisik sejak dini akan membantu meningkatkan nilai akademis anak di sekolah.

    Peneliti dari University of Illinois, Amerika Serikat, mempelajari otak 49 anak usia 9-10 tahun dengan menggunakan scan MRI, yaitu suatu teknik yang memberikan gambar sangat rinci tentang organ dan jaringan dalam tubuh.

    Peneliti lalu menguji tingkat kebugaran fisik anak dengan memintanya berjalan di treadmill. Hasilnya, peneliti menemukan bahwa hippocampus (bagian otak yang bertanggung jawab untuk memori dan kemampuan belajar) anak yang fit 12 persen lebih besar daripada anak lainnya.

    “Temuan ini akan membawa implikasi positif untuk mendorong orangtua mengajarkan olahraga pada anak sejak usia muda,” ujar Professor Art Kramer, pemimpin studi, seperti dilansir dari Dailymail, Jumat (17/9/2010).

    Menurut Prof Kramer, meski gen, faktor lingkungan dan status sosial ekonomi dapat mempengaruhi perkembangan otak tapi aktivitas fisik sejak usia dini juga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan otak.

    “Temuan ini bisa membuktikan, walaupun Anda mendapatkan beberapa gen buruk dari orangtua, tapi dengan aktivitas fisik juga masih bisa membantu perkembangan otak,” tambah Prof Kramer.

    Temuan ini juga dapat mendorong orangtua dan sekolah untuk menjadikan olahraga lebih prioritas untuk anak-anak di usia muda.

    Hasil temuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal Brain Research. (mer/ir)

    ***

    Merry Wahyuningsih – detikHealth

    health.detik.com/read/2010/09/17/140205/1442376/764/anak-yang-aktif-punya-memori-lebih-kuat?l993306763

     
    • zahra 11:58 am pada 7 April 2011 Permalink

      Karna itu sy sangat setuju jika anak usia sekolah dasar aktif main diluar rumah..
      selama itu main yg baik2.., misal ; main bola, gobak sodor, mencari jejak, badminton
      dll, ketimbang yang diem dirumah main game atw nonton tv melulu….

      info yg bermanfaat..^_^.., jalan-jalan yaa.. ke blog-ku di :

      http://myinspirations-emmy.blogspot.com

  • erva kurniawan 1:25 am pada 24 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Orang Yang Beriman Selalu Menepati Ucapannya 

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Orang Yang Beriman Selalu Menepati Ucapannya

    Suatu hari, pada masa pemerintahan Khalifah Umar, ketika Umar sedang duduk-duduk dengan para sahabatnya, tiga pemuda bangsawan yang tampan memasuki majelisnya. Dua orang di antaranya berkata, “Kami berdua bersaudara. Ketika ayah kami sedang bekerja di ladangnya, dia dibunuh oleh pemuda ini, yang sekarang kami bawa kepada tuan untuk diadili. Hukumlah dia sesuai dengan Kitabullah.” Khalifah Umar menatap orang yang ketiga dan memintanya untuk berbicara.

    “Walaupun di sana tidak ada saksi sama sekali, Allah, Yang selalu Hadir, mengetahui bahwa mereka berdua berkata yang sebenar-benarnya,” kata si tertuduh itu. “Aku sangat menyesal ayah mereka terbunuh di tanganku. Aku orang dusun. Aku tiba di Madinah tadi pagi untuk berziarah ke makam Rasullulah saw. Di pinggir kota, aku turun dari kudaku untuk menyucikan diri dan berwudhu. Kudaku mulai memakan ranting-ranting pohon kurma yang bergelantungan melewati tembok. Segera setelah aku melihatnya, aku menarik kuda menjahui ranting-ranting tersebut. Pada saat itu juga, seorang laki-laki tua yang sedang marah mendekatiku dengan membawa sebuah batu yang besar. Dia melemparkan batu itu ke kepala kidaku, dan kudaku langsung mati. Karena itu aku sangat menyayangi kuda itu, aku kehilangan kendali diri. Aku mengambil batu itu dan melemparkannya kembali ke orang tersebut. Dia roboh dan meninggal. Jika aku ingin melarikan diri, aku dapat saja melakukannya, tetapi kemana? Jika aku tidak mendapatkan hukuman di sini, di dunia ini, aku pasti akan mendapatkan hukuman yang abadi di akhirat nanti. Aku tidak bermaksud membunuh orang itu, tetapi kenyataannya dia mati di tanganku. Sekarang tuanlah yang berhak mengadili aku.”

    Khalifah berkata, “Engkau telah melakukan membunuh. Menurut hukum Islam, engkau harus menerima hukuman yang setimpal dengan apa yang telah engkau lakukan.” Walaupun pernyataan itu berati satu pengumuman kematian, pemuda itu tetap bersabar; dan dengan tenang dia berkata, “Kalau begitu, laksanakanlah. Namun, aku menanggung satu tanggung jawab untuk menyimpan harta kekayaan anak yatim yang harus aku serahkan kepadanya bila ia telah cukup umur. Aku menyimpan harta tersebut di dalam tanah agar aman. Tak ada seorangpun yang tahu letaknya kecuali aku. Sekarang aku harus menggalinya dan menyerahkan harta tersebut kepada pengawasan orang lain. Kalau tidak, anak yatim itu akan kehilangan haknya. Beri aku tiga hari untuk pergi ke desaku dan menyelesaikan masalah ini.”

    Umar menjawab, “Permintaanmu tidak dapat dipenuhi kecuali ada orang lain yang bersedia menggantikanmu dan menjadi jaminan untuk nyawamu.”

    “Wahai Amirul Mukminin,” kata pemuda tersebut, “Aku dapat melarikan diri sebelumnya jika aku mau. hatiku sarat dengan rasa takut kepada Allah; yakinlah bahwa aku akan kembali.” Khalifah menolak permintaan itu atas dasar hukum. Pemuda itu memandang kepada para pengikut Rasullulah saw, yang mulia yang berkerumun di sekeliling khalifah. Dengan memilih secara acak, ia menunjuk Abu Dzar Al-Ghifari dan berkata, “Orang ini akan menjadi jaminan bagiku.” Abu Dzar adalah salah satu saeorang sahabat Rasulullah saw, yang paling dicintai dan disegani. Tanpa keraguan sedikit pun, Abu Dzar setuju untuk menggantikan pemuda itu. Si tertuduh pun dibebaskan untuk sementara waktu.

    Pada hari ketiga, kedua penggugat itu kembali ke sidang khalifah. Abu Dzar ada di sana, tetapi tertuduh itu tidak ada. Kedua penuduh itu berkata: “Wahai Abu Dzar, anda bersedia menjadi jaminan bagi seseorang yang tidak anda kenal. Seandainya dia tidak kembali, kami tidal akan pergi tanpa menerima pengganti darah ayah kami.”

    Khalifah berkata: “Sungguh, bila pemuda itu tidak kembali, kita harus melaksanakan hukuman itu kepada Abu Dzar.” Mendengar kata-kata tersebut, setiap orang yang hadir di sana mulai menangis, karena Abu Dzar, orang yang berakhlak sempurna dan bertingkah laku sangat terpuji, merupakan cahaya dan inpirasi bagi semua penduduk Madinah.

    Ketika hari ketiga itu mulai berakhir, kegemparan, kesedihan dan kekaguman orang-orang mencapai puncaknya. Tiba-tiba pemuda itu muncul. Dia datang dengan berlari dan dalam keadaan penat, berdebu dan berkeringat. “Aku mohon maaf karena telah membuat Anda khawatir,” dia berkata terengah-engah, “Maafkan aku karena baru tiba pada menit terakhir. Terlalu banyak yang harus aku kerjakan. Padang pasir sangatlah panas dan perjalanan ini teramat panjang. Sekarang aku telah siap, laksanakanlah hukumanku.” Kemudian dia berpaling kepada kerumunan massa dan berkata, “Orang yang beriman selalu menepati ucapannya. Orang yang tidak dapat menepati kata-katanya sendiri adalah orang munafik. Siapakah yang dapat melarikan diri dari kematian, yang pasti akan datang cepat atau lambat? Apakah saudara-saudara berpikir bahwa aku akan menghilang dan membuat orang-orang berkata, “Orang-orang Islam tidak kagi menepati ucapannya sendiri?”

    Kerumunan massa itu kemudian berpaking kepada Abu Dzr dan bertanya apakah ia sudah mengetahui sifat yang terpuji dari pemuda tersebut. Abu Dzar menjawab, “Tidak, sama sekali. Tetapi, saya tidak merasa mampu untuk menolaknya ketika dia memilih saya, karena hal itu sesuai dengan asas-asas kemuliaan. Haruskah saya menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tak ada lagi perasaan haru dan kasih sayang yang tersisa dalam Islam?” Hati dan perasaan kedua penuduh itu tersentuh dan bergetar. Mereka lalu menarik tuduhannya, seraya berkata, “Apakah kami harus menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tiada lagi rasa belas kasihan di dalam Islam?” s

    Oleh: Sumarah Wahyudi, sumber buku FUTUWWAH.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

     
    • hilmi 10:28 am pada 24 Maret 2011 Permalink

      luar biasa….. terima kasih atas ceritanya….

    • nino 9:31 am pada 13 Agustus 2011 Permalink

      Subhanallah..terima kasih untuk cerita nya..

    • rizkyaputriambia 5:51 pm pada 15 Desember 2011 Permalink

      subhanallah..ada yang meningal kita harus bilang apah

    • Nyoto utomo 1:51 pm pada 7 Februari 2012 Permalink

      Sukr0n ya., atas cerita dan nasehatnya, sm0ga brmanfaat bagi kita semua, Amii…in.

  • erva kurniawan 1:20 am pada 23 March 2011 Permalink | Balas  

    Keutamaan Tafakur

    Oleh : Sigit Indrijono

    Allah SWT telah memberikan karunia kepada manusia berupa akal. Dalam Alquran, orang-orang yang berakal disebut ulil albab, yaitu orang yang mempergunakan akalnya untuk melakukan tafakur. Tafakur berasal dari akar kata fikr yang berarti memikirkan.

    ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran [3]: 190-191).

    Ayat di atas menerangkan bahwa tafakur yang dikehendaki oleh Allah SWT adalah tafakur yang dibarengi dengan dzikir kepada-Nya. Sayid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalilquran menerangkan bahwa ulil albab adalah orang-orang yang memiliki pemikiran dan pemahaman yang benar. Mereka membuka pikirannya untuk menerima tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

    Beberapa ayat Alquran diakhiri penegasan untuk bertafakur, seperti, ”Supaya kamu berpikir,” (QS Albaqarah [2]: 219); ”Tanda-tanda bagi kaum yang berpikir,” (QS Arrum [30]: 21); ”Apakah kamu tidak memikirkan,” (QS Ashshaafaat [37]: 138), ”Tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir,” (QS Azzumar [39]: 42).

    Objek tafakur tidak terbatas jumlahnya. Mulai dari penciptaan diri kita sendiri, penciptaan berbagai makhluk hidup di muka bumi, tatanan alam semesta yang menakjubkan, aneka peristiwa yang terjadi, sejarah masa lalu, serta hal-hal yang gaib hingga kehidupan akhirat. Dengan tafakur, kita bisa menghayati secara lebih mendalam tentang kebesaran maupun kekuasaan Allah SWT.

    Fenomena alam, seperti turunnya hujan, pergantian siang dan malam, atau pergerakan angin, sering dianggap sebagai rutinitas. Padahal, jika rutinitas tersebut ditafakuri secara mendalam, akan terbukalah hijab kebesaran-Nya. Kejadian yang tiba-tiba seperti gempa bumi ataupun gunung meletus, secara seketika akan membuat kita bertafakur. Kita menyadari betapa lemah dan kecilnya serta tidak berdayanya kita di hadapan keagungan, kebesaran, dan kekuasaan Allah SWT.

    Bekal potensi tafakur yang melekat sesuai sunatullah adalah suatu karunia yang akan memberikan kesadaran yang hakiki untuk memosisikan diri sebagai hamba yang dikehendaki-Nya. Sehingga, akan diperoleh perasaan selalu dekat dengan-Nya dan meningkatkan takwa kepada-Nya.

    ***

    Sumber: Republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:11 am pada 22 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: hidup sehat, Sehat Lahir Batin   

    10 Cara Sehat Lahir dan Batin 

    Ada banyak cara untuk meraih kebahagiaan, termasuk sehat jasmani dan rohani. Tapi para ahli psikologi mengungkapkan ada beberapa cara sehat untuk meraih kebahagiaan lahir batin. Apa saja?

    Semua orang pasti ingin sehat lahir batin sehingga dapat terbebas dari stres dan sakit. Perasaan emosional ini tidak hanya dipengaruhi oleh gen semata, tapi banyak hal lainnya yang bisa bikin bahagia.

    Kebahagiaan adalah salah satu hal yang ingin dicapai oleh semua orang, tapi tanpa disadari banyak hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan suasana hati tersebut.

    Psikolog Amerika telah menerbitkan sebuah laporan dalam jurnal The Psychological Science, yang mengungkapkan rahasia kebahagiaan dan mengelompokkannya dalam sepuluh faktor.

    Selain itu, jurnal tersebut juga menunjukkan bahwa ada hal-hal kecil yang ternyata bisa menjadi kunci utama untuk merasakan kebahagiaan.

    Hanya dengan kebahagiaan kecil ternyata dapat mengatasi berbagai macam penyakit dengan lebih cepat dan dapat memperpanjang waktu hidup bahkan hingga 7 tahun.

    Dilansir dari GeniusBeauty, Sabtu (18/9/2010), berikut 10 faktor untuk meraih kebahagiaan yang :

    1. Berbagi kebahagiaan dengan orang lain
    2. Menganalisa memori-memori yang menyenangkan
    3. Pujilah diri Anda sendiri
    4. Fokuslah pada sensasi yang menyenangkan
    5. Selalu berpikir positif dan berpikir bahwa Anda bisa melakukan hal dengan lebih baik
    6. Lakukan aktivitas yang Anda sukai
    7. Berpura-puralah bahagia meski sebenarnya Anda sedang tidak dalam suasana bahagia
    8. Rayakan momen besar dalam hidup Anda
    9. Jauhkan pikiran suram, ketakutan dan keraguan
    10. Katakan ‘terima kasih’ sesering mungkin

    (mer/ir)

    ***

    Merry Wahyuningsih – detikHealth

    health.detik.com/read/2010/09/18/080948/1442808/766/10-cara-sehat-lahir-dan-batin?l991101755

     
    • nisa 10:06 am pada 22 Maret 2011 Permalink

      nice info..,
      yuuk.. kita coba..:P

    • zahra 10:13 am pada 22 Maret 2011 Permalink

      ada tambahan lagi.. perbanyak senyum ..^_^
      bagus untuk diri sendiri dan orang lain.. hehe..

      silahkan jalan-jalan mas Erva ke Blog saya
      ditunggu kritik dan saran-nya..
      di..:

      http://myinspirations-emmy.blogspot.com/

    • sayyidahali 12:46 pm pada 22 Maret 2011 Permalink

      dan selalu berprasangka baik atas ketentuan Allah..

      maaf..Blog mas aku pasang di blogku,,biar mudah aja aku buka blog ini..bolehkan????

    • erva kurniawan 2:10 pm pada 22 Maret 2011 Permalink

      boleh sekali :)
      terimakasih kunjungannya

    • jhick 11:07 pm pada 31 Maret 2011 Permalink

      artikel dan tulisannya menarik sekali mas….boleh saya share….???

    • yoenidokter 8:30 am pada 27 November 2011 Permalink

      good artikle..bisa dishare?makasih

  • erva kurniawan 1:58 am pada 21 March 2011 Permalink | Balas  

    Batas Waktu Tinggalnya Dajjal di Bumi

    Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Berapa lama batas waktu tinggalnya Dajjal di muka bumi ?

    Jawaban:

    Lamanya Dajjal tinggal di muka bumi hanya empat puluh hari. Akan tetapi sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan dan sehari seperti seminggu. Seluruh hari-hari yang dilaluinya seperti hari-hari yang kita lalui sekarang. Demikianlah yang dituturkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat pernah bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, hari yang seperti setahun ini, apakah cukup shalat sehari saja ?” Beliau menjawab, “Tidak! Kira-kirakanlah saja !”

    Perhatikanlah contoh seperti ini agar kita bisa mengambil pelajaran bagaimana para sahabat senantiasa membenarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak mau mentahrif (merubah atau menyelewengkan makna) atau menta’wil atau mengatakan bahwa hari tidak mungkin molor, karena matahari itu senantiasa beredar pada porosnya dan tidak berubah, akan tetapi memanjang lantaran banyak kesulitan yang terjadi pada hari itu atau karena hari itu sungguh melelahkan. Mereka tidak mengatakan demikian sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang sok pintar, akan tetapi membenarkan bahwa hari itu setahunnya juga dua belas bulan secara hakiki tanpa perlu ditahrif ataupun di ta’wil.

    Demikianlah mestinya seorang mukmin yang hakiki senantiasa tunduk terhadap apa yang diberikan oleh Allah dan RasulNya berupa masalah-masalah ghaib meskipun akalnya tidak sampai. Mereka tahu bahwa apa yang diberitakan oleh Allah dan RasulNya tidak mungkin sesuatu yang mustahil secara akal akan tetapi akal yang tidak sampai karena tak mampu mengetahuinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa hari pertama dari hari-hari yang dilalui oleh Dajjal adalah seperti setahun. Sekiranya hadits ini dibaca oleh roang-orang “belakangan” (muta’akhirin) yang mengaku sebagai kaum intelektual, mereka akan mengatakan, bahwa panjangnya hari itu merupakan majaz dari keletihan dan kesulitan yang ada pada hari itu, karena hari-hari bahagia adalah pendek sedangkan hari-hari sial adalah panjang.

    Berbeda dengan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum yang karena kejernihan hati dan ketundukan mereka menerima apa adanya dan mengatakan dengan polos bahwa Dzat yang telah menciptakan matahari menjadikannya berputar selama dua puluh empat jam sehari semalam kuasa untuk menjadikannya berputar selama dua belas bulan, karena Pencipta itu hanya satu dan Dia Maha Kuasa. Karena itulah mereka menerima dan pasrah, sedangkan yang ditanyakan adalah, “Bagaimana kami melakukan shalat !” Mereka menanyakan tentang masalah syar’i yang dibebankan kepada mereka, yaitu shalat.

    Demi Allah, ini merupakan hakikat ketundukan dan kepasrahan. Mereka mengatakan, “Ya Rasulullah! Hari yang seperti setahun itu, cukupkah bagi kita shalat sehari saja ?” Beliau menjawab, “Tidak, namun kira-kirakanlah saja !” Subhanallah …. Jika anda mau merenungkan, pasti jelas sekali bawah dien ini benar-benar sempurna dan menyeluruh, karena tidak mungkin ada satu masalahpun yang dibutuhkan oleh manusia sampai hari kiamat melainkan akan dia dapatkan pangkalnya dien ini.

    Bagaimana Allah membuat para sahabat itu menanyakan yang demikian ? Ini dimaksudkan agar dien ini menjadi sempurna dan tidak lagi butuh penyempurnaan. Manusia yang hidup di daerah-daerah kutub sekarang ini membutuhkan penjelasan semacam ini, karena disana bisa terjadi malam hari selama enam bulan dan siang hari selama enam bulan pula. Oleh karena itu, mereka membutuhkan hadits ini. Perhatikanlah bagaimana Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan fatwa seperti ini sebelum problema seperti ini terjadi, karena Allah telah berfirman.

    “Artinya : Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian din kalian dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian” [Al-Ma’idah : 3]

    Demi Allah, kalau kita renungkan “Telah Aku sempurnakan din kalian atas kalian”, pastilah kita tahu bahwa selamanya tidak akan terdapat satu kekuranganpun. Ia sempurna dari segala sisi. Sedangkan kekurangan ada pada diri kita, entah karena sempitnya akal dan pemahaman kita atau karena adanya kehendak-kehendak yang tidak terarah dan tidak terkendali dari manusia yang hanya ingin memenangkan pendapatnya sehingga ia buta dari kebenaran. Namun kalau saja kita mau perhatikan berdasarkan ilmu dan pengetahuan serta niat baik, pasti akan kita dapatkan bahwa dien ini tidak memerlukan penyempurna dan tidak mungkin muncul satu masalah yang kecil ataupun yang besar melainkan terdapat pemecahannya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

    Akan tetapi ketika hawa nafsu telah mendominasi manusia, jadilah sebagian manusia buta dari kebenaran dan kebenaran itu tidak tampak olehnya. Anda akan dapati mereka itu jika muncul suatu peristiwa atau masalah yang belum pernah dikenal sebelumnya secara persis, meskipun jenisnya sama, mereka saling berselisih pendapat lebih dari jumlah jari-jari mereka. Jika hal itu mengandung dua pendapat, ada dapati mereka terdapat sepuluh pendapat. Ini semua karena hawa nafsu telah mendominasi manusia dewasa ini. Seandainya tidak dan niat yang ada adalah lurus, pemahamannya bersih, serta ilmunya luas, tentu kebenaran itu akan jelas.

    Pokoknya, bahwa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa Dajjal itu akan tinggal selama empat puluh hari, dan setelah empat puluh hari itu turunlah Al-Masih Isa putra Maryam yang dahulu telah dianggkat oleh Allah kepadaNya. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan : “Dia (Nabi Isa) akan turun di Menara Putih timur kota Damaskus dengan meletakkan kedua telapaknya pada sayap dua malaikat. Jika kepalanya menunduk keluar aroma dan jika diangkat keluar permata seperti mutiara. Tiada seorang kafirpun yang mendapatkan baunya kecauali ia pasti mati”. Ini merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Selanjutnya Nabi Isa terus memburu Dajjal sehingga terpojok di Pintu Ludd di Palestina lalu dibunuh di sana. Saat itulah akhir riwayatnya.

    Nabi Isa selanjutnya tidak mau menerima agama lain selain Islam dan dia tidak mau menerima jizyah. Dia juga akan menghancurkan salib dan membunuh babi sehingga tiada yang diibadahi dan disembah selain Allah. Bertolak dari sini, jizyah yang diwajibkan oleh umat Islam berakhir sampai di sini, ketika turunnya Isa. Namun tidak bisa dikatakan bahwa ini syari’at Nabi Isa ‘alaihis salam, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan hal itu serta menetapkannya. Tidak diberitahukan hal itu serta menetapkannya. Tidak diberlakukannya lagi jizyah setelah turunnya Nabi Isa merupakan Sunnah atau ketetapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena sunnah Rasul itu meliputi perkataan, perbuatan serta iqrar (pengakuan). Beliau berbicara tentang Nabi Isa putra Maryam serta memberikan pengakuan, maka ini termasuk sunnahnya. Isa tidaklah membawa syari’at baru dan tidak ada seorangpun yang akan membawa syari’at baru kecuali dengan syari’at Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari kiamat.

    Inilah beberapa hal yang berkaitan dengan Dajjal yang bisa kami terangkan. Kita memohon kepada Allah agar melindungi kita semua dari fitnahnya.

    [Disalin dari kitab Fatawa Anil Iman wa Arkaniha, yang di susun oleh Abu Muhammad Asyraf bin Abdul Maqshud, edisi Indonesia Soal-Jawab Masalah Iman dan Tauhid, Pustaka At-Tibyan]

     

     
  • erva kurniawan 1:51 am pada 20 March 2011 Permalink | Balas  

    Audisi Penghuni Surga

    STUDIA Edisi 335/Tahun ke-8 (2 April 2007)

    Jujur aja nih, kita pantas bertanya: baik dalam hati maupun teriak keras. Bertanya tentang apa? Lengkapnya bukan bertanya aja, tapi sekaligus mempertanyakan. Kita harus bertanya: mengapa begitu banyak temen-temen remaja yang berebut ambil jatah untuk audisi jadi seleb? Lihat aja, bukan cuma rela berkeringat dan pegal menunggu giliran audisi KDI dan Indonesian Idol, tapi begitu semangat ketika memamerkan keahliannya menyanyi—dan tentu bergaya—di depan juri audisi acara tersebut.

    Pertanyaan tadi kudu terjawab. Nah, sebelum menjawab pertanyaan, saya justru ingin mempertanyakan: mengapa audisi semacam itu yang ditumbuh-suburkan oleh pengelola media massa? Mengapa bukan audisi untuk berlomba dalam menggapai kehidupan akhirat? Kalo pun ada audisi dai (Dai TPI dan Pildacil), sayangnya nggak jauh beda dengan audisi untuk kepentingan entertainment semata. Cuma bungkusnya doang pake label islami. Ciloko!

    Sobat muda muslim, sungguh kita prihatin banget dengan kondisi seperti ini. Sekadar membandingkan aja dengan `perlombaan’ teman-temen remaja untuk `audisi’ menjadi bintang di akhirat kelak. Mereka yang ikut audisi KDI dan Indonesian Idol mau aja untuk ngantri, berjubel ribuan orang. Buktinya bisa kamu saksikan berita tentang hal itu di televisi dan baca di media cetak. Iya kan? Tapi nih, untuk menghadiri majelis-majelis ilmu dan taushiyah yang hadir untuk `audisi’ biar kepilih sama Allah Swt. untuk mendapatkan bekal amal baik di akhirat jumlahnya nggak seheboh audisi KDI dan Indonesian Idol. Iya nggak seh?

    Terus nih, sungguh kita juga kecewa kok media massa (baik cetak maupun elektronik) seolah bersatu padu untuk memeriahkan audisi macam KDI dan Indonesian Idol. Iklannya gede-gedean, dan publikasinya sangat sering. Wajar dong kalo kemudian opini tersebut mendominasi informasi dan bikin temen-temen remaja kepengen banget ikutan untuk kepilih. Ya, siapa tahu jadi seleb dadakan di bidang olah vokal dan olah tubuh—maksudnya menari yang seringnya kalo di KDI jadi murahan karena memamerkan auratnya. Halah!

    Karena dunia lebih menyilaukan Nah, ini jawaban buat pertanyaan pertama yang ditulis di awal obrolan kita tadi. Dunia memang menyilaukan. Perhiasanya rata-rata menyilaukan dan mempesonakan: harta, tahta, dan tentu ketenaran. Siapa sih yang nggak butuh duit? Siapa pula yang nggak mau punya jabatan? Ehm, angkat tangan kalo ada di antaramu ingin terkenal. Semua orang pasti ingin memiliki harta-tahta-popularitas. Iya kan? Apalagi sekarang ada jalan pintas untuk mendapatkannya. Jadinya ya, sangat wajar kalo ribuan teman remaja berlomba ikutan audisi untuk jadi seleb dadakan. So, niat udah kuat dan kesempatan dapat. Klop.

    Boys and girls, dunia memang gemerlap. Siapa pun pasti terpesona dengan indah dan kerlap-kerlipnya kehidupan dunia. Ini memang fakta. But, apa karena terpesona dunia, lalu kita nggak pilih-pilih hiasan dunia itu? Boleh kok menikmati gemerlapnya dunia, asalkan hal itu sesuai tuntunan ajaran Islam, agama yang kita peluk dan jadikan cara hidup. So, nggak asal ambil aja. Kita punya patokan untuk menentukan baik-buruk, terpuji-tercela dan halal atau haram suatu perbuatan menurut ajaran Islam. Bukan ajaran yang lain. Setuju kan?

    Nah, itu artinya dalam hidup ini kita kudu punya pegangan. Kita wajib tahu dan sadar dari mana kita berasal, mau ngapain di dunia ini, dan akan ke mana setelah `pensiun’ dari dunia ini. Kita berasal dari Allah Swt. Untuk apa di dunia? Untuk ibadah kepadaNya. Lalu, akan ke mana setelah mati dan ninggalin dunia ini? Jawabannya, kita akan kembali kepada Allah Swt. Makanya nih, di keranda jenazah biasanya ditutup kain hijau bertuliskan: “Innalillaahi wa inna ilaihi roojiuun” (sesungguhnya kami berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya).

    Yup, alasan yang paling masuk akal kenapa di keranda jenazah mesti ditulis seperti itu adalah untuk ngingetin kita yang masih hidup, bahwa suatu saat kalo ajalnya udah datang pasti menyusul teman atau saudara yang sedang diusung jenazahnya saat itu. Iya nggak sih? Kecuali kalo di tempatmu ada orang iseng dengan mengganti tulisan di keranda jenazah dengan tulisan: “Yang tidak berkepentingan dilarang masuk!” Walah!

    Oke, setelah kita tahu dan sadar soal kehidupan ini, lalu apa yang akan kita lakukan? Tentu, berlomba untuk memperbanyak amal shalih buat bekal di akhirat kelak dong ya. Itu alasan yang paling logis, Bro. So, wajar dong kalo kemudian kita berusaha untuk berlomba dalam kebaikan demi dapetin predikat penghuni surga. Perlu audisi atau tes juga kelihatannya ya. Surga emang nggak gampang untuk diraih, perlu ketahanan, kesabaran, semangat, dan yang utama adalah keimanan. Kita siap kan?

    Provokasi media massa Bro, publikasi acara audisi macam KDI dan Indonesian Idol emang gencar banget. Terutama tentu disyiarkan terus oleh jaringan media yang menjadi penggagas acara tersebut. MNC (Media Nusantara Citra) yang menaungi stasiun televisi TPI, RCTI, dan Global TV, juga menggurita di media cetak dengan bendera koran Seputar Indonesia dan Tabloid Genie terus mengobarkan opini dua program audisi tersebut.

    Nah, karena disebarkan via media massa, maka jelas ada pengaruhnya dong ya. Baik bagi masyarakat secara umum maupun individu. Budaya massa bisa saja tercipta. So, kalo terus ditayangkan program pencarian bakat macam KDI dan Indonesian Idol (dan juga sejenisnya) ini, maka akan membekas dalam benak pemirsanya dan sangat mungkin menjadi budaya mereka. Ini bisa dibuktikan dengan teori agenda seting yang digagas Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Menurut dua pakar komunikasi ini, teori agenda seting bisa diliat dari seringnya media massa `memilihkan’ topik tertentu bagi pemirsa atau pembaca sehingga mereka menjadi akrab dengan topik tersebut dan dianggap penting. Iya kan, Bro? Rasakan buktinya saat ini ya.

    Sobat muda, provokasi media massa juga bakalan menumbuhkan pengaruh kepada individu dan juga masyarakat yang mengakses opininya. Satu lagi teori yang bisa membuktikan pengaruh dari media massa adalah teori Spiral of Silence alias spiral kebisuan yang dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman bisa menjadi dalil bahwa media massa cukup berpengaruh kepada masyarakat pemirsa atau pembacanya.

    Menurut teori ini, individu pada umumnya berusaha untuk menghindari isolasi, dalam arti sendirian mempertahankan sikap atau keyakinan tertentu. Itu sebabnya, orang akan mengamati lingkungannya untuk mempelajari pandangan-pandangan mana yang bertahan dan mendapatkan dukungan dan mana yang tidak dominan atau populer. Jika orang merasakan bahwa pandangannya termasuk di antara yang tidak dominan atau tidak populer, maka ia cenderung kurang berani mengekspresikannya, karena adanya ketakutan akan isolasi tersebut.

    Maka nih, jika media massa secara agresif dan getol–apalagi itu dilakukan oleh banyak media–dalam nampilin gambaran tentang prestasi remaja dalam KDIIndonesian Idol atau ajang sejenis, maka pemirsa atau pembaca yang tak ingin terisolasi dari lingkungannya akan melakukan perintah seperti “apa kata media”. Itulah alasan mengapa banyak bacaan dan visualisasi tentang audisi jadi seleb, dalam kasus ini, menjadi terus marak dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat secara luas. Meski tentu tak semua bisa terpengaruh memang. Tapi kita melihat dampak yang nyata secara umum. Betul? dan Siapa mau ikut ke surga?

    Jika ditanyakan kepada manusia, pilih surga atau neraka? Dengan pengetahuan yang seadanya, dengan bekal info minim bahwa surga itu nikmat dan neraka itu menyeramkan, maka dengan lantang pasti akan memilih surga. Tapi, tahukah kita bahwa jalan menuju surga itu sulit dan jalan menuju neraka begitu mudah?

    Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Ketika Allah menciptakan surga, Dia berfirman kepada Jibril, `Pergi dan lihatlah (surga itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. Jibril kembali seraya berkata, `Tuhanku, demi keperkasaanMu, tidak seorang pun mendengar (tentang surga itu) kecuali dia (ingin) memasukinya’. Kemudian Allah Swt. mengelilingi (surga) dengan kesulitan-kesulitan (untuk mencapainya) dan berfirman kepada Jibril, `Wahai Jibril! Pergi (lalu) lihatlah (surga itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, `Tuhanku, demi keperkasaanMu, sungguh aku khawatir tidak seorang pun yang (dapat) memasukinya’.” Rasulullah saw. juga bersabda: “Tatkala Allah Ta’ala menciptakan neraka, Dia berfirman, `Wahai Jibril! Pergi (lalu) lihatlah (neraka itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, `Wahai Tuhanku, demi keperkasaanMu dan kemuliaanMu, tidak seorang pun mendengar (tentang neraka itu) kecuai ia tidak berkeinginan untuk memasukinya’. Kemudian Allah Swt. mengelilingi (neraka itu) dengan keinginan-keinginan syahwati dan berfirman kepada Jibril, `Wahai Jibril! Pergi dan lihatlah neraka itu’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. Kemudian ia kembali dan berkata, `Wahai Tuhanku, demi keperkasaanMu dan kemualiaanMu, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan tersisa seorang pun kecuali akan memasukinya’.” (Dalam penjelasan kitab Sunan Abu Daud, hlm. 13-14)

    Surga dan neraka adalah ibarat ganjaran bagi orang yang lulus ujian (semacam audisi kali ye?). Oya, perlu ditekankan bahwa hidup di dunia ini setiap detiknya adalah ujian. Ujian yang hasilnya akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah kelak di akhirat. Itu artinya, setiap hari kita harus menerima dan mengatasi berbagai ujian yang diberikan oleh Allah Swt.

    Jangan bayangkan bahwa ujian selalu hal yang pasti sulit dan menderita, adakalanya ujian yang diberikan Allah Ta’ala justru kita rasakan sebagai nikmat dan istimewa. Memang benar, ujian yang mendera kita berupa rasa sakit dan kesulitan ekonomi seringkali membuat kita harus lebih banyak bersabar dan berdoa untuk tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kekafiran. Tapi, jangan bayangkan pula jika kita diberikan kesehatan, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan adalah semata sebagai kebahagiaan, karena sejatinya itu juga merupakan ujian dari Allah. Sebab, siapa tahu sehat tapi nggak bersyukur kepada Allah Swt., kaya raya tapi kikir, tenar tapi merendahkan orang lain, berkuasa tapi dzalim. Iya nggak?

    Ini kian meneguhkan bahwa selama kita masih hidup, ujian akan datang menghampiri kita selama itu. Karena hidup itu sendiri adalah ujian. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan menjadikan kehidupan ini lebih bermakna berlandaskan keimanan kepada Allah Swt. Dzat yang telah menciptakan kita dan seluruh alam ini, termasuk surga dan neraka. Oke Bro, pertanyaannya sekarang, ada yang mau ikut audisi penghuni surga nggak? Kalu mau ikut audisi penghuni surga, maka dalam setiap kehidupan kita pastikan selalu dalam koridor syariat Allah Swt., yakni Islam. Bukan yang lain. Landasan berbuat kita adalah halal-haram menurut ajaran Islam. Penilaian kita terhadap suatu perbuatan apakah baik-buruk atau terpuji-tercela juga wajib mengikuti aturan baku yang ditetapkan Islam. Bukan yang lain. Tolong dicatet baik-baik ye. Makasih.

    Sobat, syaratnya insya Allah mudah saja kalo pengen berhasil dalam `audisi’ penghuni surga. Pertama, beriman kepada Allah Swt. Kedua, berilmu agar bisa membedakan mana yang salah dan benar—baik ilmu agama maupun ilmu umum. Ketiga, beramal baik. Keempat berdakwah, yakni melakukan amar ma’ruf (mengajak kebaikan) sekaligus nahyi munkar (melarang kemungkaran) baik melalui lisan maupun tulisan dan sarana lainnya. Kelima, ikhlas dalam setiap amal kita. Itu aja dulu ye. Oke deh, semoga kita menjadi para penghuni surgaNya kelak. Yuk, mulai sekarang kita cintai Islam, pelajari, pahami, dan amalkan ajarannya. Jangan lupa semarakkan syiarnya dengan dakwah. Jangan kalah dengan syiar yang miskin manfaat apalagi syiar yang udah jelas maksiat kepada Allah Swt. Hidup kita di dunia ini cuma sekali dan sementara pula, Bro. Waktu kita makin berkurang setiap detik, maka mari berlomba dalam kebaikan untuk mendapat ridhoNya. Siap?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am pada 19 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sebuah Perjalanan Ba’da Dzuhur

    Siang itu kami meluncur dari kantor pusat kantor kami di Jl. MT Haryono ke RSCM. Saya dan teman saya yang sekarang dipercaya sebagai Manajer Baitul Maal di kantor kami rencananya akan ke Tanjung Priuk, disana kami akan on the spot ke satu titik pemukiman kumuh di Ibukota, tapi setelah obrolan ba’da dzuhur akhirnya saya dan teman saya menyempatkan diri ke RSCM sebelum ke Tanjung Priuk.

    Di tengah perjalanan, kami pun memperbincangkan rencana yang akan berkunjung ke seorang pasien yang sedang kritis di IGD RSCM. Meski teman saya sama sekali belum kenal dengan si pasien, tetapi sudah menjadi tanggung jawab moral untuk menjenguknya dengan membawa sejumlah dana ala kadarnya agar dapat meringankan biaya pengobatannya. Teman saya tahu kondisi si pasien dari dua orang aktivis bernama Pak Andi dan Pa Ahmad yang belum lama ia kenal. Keduanya mengajukan bantuan dana ke Baitul Maal yang akan dimanfaatkan untuk biaya pengobatannya.

    Akhirnya dengan semua atribut kemacetan Ibukota jam 14.00 kami pun sampai. Kami parkir di belakang kamar jenazah RSCM, karena di depan IGD RSCM parkir selalu penuh dan bisa-bisa kami pun tidak boleh parkir disitu. Rupanya Pak Andi yang kami cari-cari belum ada disana. Kami kesulitan karena Pak Andi tidak memiliki alat komunikasi HP. Kami pun harus menunggu dan bolak balik ke depan parkir dan ke dalam, ternyata Pak Andi belum juga ada. Selang tiga puluh menit Pak Andi pun telepon ke HP teman saya dan satu menit kemudian kami pun bertemu.

    Perbincangan pun langsung terfokus kepada kondisi si pasien. Pak Andi ternyata tidak tahu di kamar mana si pasien sekarang berada, karena dari tanggal 15 Maret dia selalu bergantian menjaga pasien bersama dengan Pak Ahmad. Dan pasien dipindahkan ruangannya pada saat Pak Ahmad yang menjaganya. Akhirnya kami pun harus menunggu Pak Ahmad. Sambil menunggu Pak Ahmad kami bertiga ke ruang P3RN (ruang informasi) disana kami tanyakan kepada petugas dimana keberadaan si pasien sekarang ini. Dengan keramahan yang ala kadarnya petugas menyampaikan bahwa dia tidak tahu keberadaan si pasien yang kami maksud.

    Sebagai seorang yang besar di lingkungan Ibukota yang penuh dengan intrik-intrik penipuan, saya pun mulai timbul rasa curiga. Jangan jangan dua orang ini cuma mengada-ngada, dia hanya ingin memanfaatkan dana dari Baitul Maal kami. Akhirnya kami pun kembali lagi ke ruang IGD, dicari-cari tetap tidak ada. Kami tanya ke suster yang bertugas disana pun tidak ada (ehm… tapi kali ini bicaranya cukup ramah).

    Saya pun mengajak teman saya keluar ruangan IGD. Saya bilang, ” Jangan-jangan di cuma mau menipu kita saja, buktinya sekarang pasiennya tidak ada, sementara dia sendiri tidak tahu dimana keberadaan pasien yang akan kita bantu “. Teman saya pun cuma tersenyum, dan dia tetap bersabar. Dia bilang, ” Mungkin yang tahu cuma Pak Ahmad, kita tunggu saja Pak Ahmad “. Akhirnya saya pun berargumen, “Wah, hati-hati lho, ini Jakarta Bung. Lagian saya jam 4 sore sudah janjian dengan seseorang di Bogor dan mana sempat kita ke Tanjung Priuk.

    Dengan dalih yang beraneka ragam, akhirnya teman saya mau juga mengikuti kemauan saya. Kami pun berpamitan dengan Pak Andi, dan langsung meluncur ke arah parkir. Di selasar kamar jenazah ternyata Pak Ahmad telepon via wartel, dia tahu keberadaan si pasien dan memohon untuk ditunggu. Akhirnya dengan pertimbangan yang macam-macam kami berdua pun berpisah. Teman saya kembali ke sana, sementara saya menuju ke parkir dan langsung ke Bogor. Dalam perjalanan ke Bogor otak saya masih diselimuti kecurigaan yang luar bisa tentang dua orang aktivis itu. Dan saya sangat yakin kalau kali ini adalah salah satu modus penipuan berkedok permintaan bantuan dana.

    Satu hari berlalu, pagi-pagi dapat sms dari teman saya ” Pak, pasien yang kemarin benar, sekarang sudah meninggal, kena HIV dan Narkoba “.

    Langsung saya tersentak, “Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun, Astaghfirullah…..jantung saya serasa copot, ternyata dugaan saya salah !”. Ternyata Pak Ahmad dan Pak Andi adalah benar-benar dua orang yang mulia, yang rela mengorbankan waktunya untuk seorang yang bernama Dorris. Untuk seorang preman yang terinfeksi HIV. Untuk seorang preman pecandu narkoba. Untuk seorang preman yang sakit dan dinistakan di emperan toko di Ibukota.

    Selamat jalan Dorris, semoga Allah SWT mengampuni semua dosa-dosamu.

    Untuk temanku, kau memang orang yang sangat sabar, teruslah berjuang di jalan Allah SWT.

    Mohon maaf Pak Ahmad dan Pak Andi, saya sudah terinfeksi dengan virus-virus kecurigaan dan kemunafikan Ibukota yang lebih berbahaya daripada virus HIV yang diderita Dorris. Prasangka buruk kepada saudara-saudaranya sendiri.

    ” Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. ” (QS.49.12).

    Astagfirullah aladziim…………..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:36 am pada 18 March 2011 Permalink | Balas  

    Cara Sehat yang Aneh Tapi Nyata 

    Banyak cara yang dilakukan orang untuk membuat tubuhnya tetap sehat. Tapi ada beberapa solusi terbaik untuk masalah kesehatan yang sederhana, kecil dan seringkali merupakan hal-hal yang tidak biasa dan aneh.

    Dilansir dari MensHealth, Jumat (3/9/2010), berikut beberapa cara sehat yang aneh tapi nyata:

    1. Menggunakan toilet yang paling dekat pintu kamar mandi

    Berdasarkan analisa dari 51 toilet, para ahli menemukan bahwa toilet yang terdekat dengan pintu kamar mandi secara konsisten memiliki tingkat bakteri terendah. Hal ini karena kebanyakan orang akan memilih toilet paling jauh untuk menjaga privasi, terutama di kamar mandi pria.

    2. Menyangga lengan yang patah dengan majalah

    Untuk keadaan darurat, pergelangan tangan yang patah bisa disangga dengan majalah yang tebal, kemudian diikat dengan perban dan pembalut, agar tidak memperparah luka dan fraktur yang terjadi.

    3. Menuduh orang lain mengambil kunci

    Penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan nyata antara bagaimana kaum muda dan orang tua menafsirkan tentang lupa tempat menyimpan kunci.

    Orang muda biasanya akan menyalahkan orang lain, seperti “Siapa yang mengambil kunci saya?”, sedangkan orang tua akan menyalahkan dirinya sendiri, “Saya sudah mulai tua sampai-sampai lupa menaruh kunci.”

    Nah, berdasarkan hasil ini, orang akan menyalahkan orang lain bila melupakan sesuatu karena dengan begitu orang tersebut akan dianggap bukan lupa dan bisa dijadikan sebagai trik mental yang efektif.

    4. Menggaruk bagian tubuh lainnya

    Bila Anda mengalami gatal di kulit, cobalah menggaruk tempat lain di bagian tubuh yang sama, misal kaki atau tangan. Ini merupakan trik untuk mengelabui otak dan meredakan rasa gatal di kulit.

    5. Menggunakan es di pangkal paha saat demam

    Orang yang mengalami demam biasanya diobati dengan banyak minum cairan. Tapi cara yang cepat menurunkan panas adalah meletakkan kantong es di pangkal paha. Hal ini mungkin tidak nyaman, tapi bekerja cepat menurunkan panas pada inti tubuh.

    6. Mengoles luka dengan madu

    Cobalah oleskan madu pada permukaan kulit yang terluka sebelum dibalut dengan perban. Madu memiliki sifat antibakteri yang kuat. Sebuah studi baru-baru ini telah mengungkapkan bahwa madu mampu menghancurkan hampir semua jenis bakteri yang banyak menginfeksi luka.

    7. Lada hitam untuk menghentikan perdarahan

    Bila jari Anda terluka saat memasak, bersihkan luka dengan air dingin dan gunakan lada hitam untuk menghentikan perdarahan. Lada hitam memiliki sifat analgesik, antibakteri dan antiseptik.

    8. Mencuci kumis dua kali sehari

    Jika Anda rentan terhadap alergi dan punya kumis, cuci dua kali sehari kumis Anda dengan sabun cair. Hal ini akan menghilangkan alergen yang terjebak di kumis Anda.

    9. Hewan peliharaan dapat menurunkan tekanan darah

    Untuk mengurangi risiko serangan jantung dan stroke, peliharalah hewan seperti kucing, kelinci atau anjing. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hewan peliharaan dapat menjaga tekanan darah di bawah kontrol ketika Anda sedang stres.

    10. Mengganti nama

    Menurut studi, orang dengan inisial nama positif, seperti JOY atau WOW, hampir 4,5 tahun hidup lebih lama dibandingkan dengan inisial netral, seperti DUD atau ASS. Sedangkan orang dengan inisial nama negatif, seperti ILL dan DED menunjukkan usia yang pendek.

    ***

    Merry Wahyuningsih – detikHealth

    health.detik.com/read/2010/09/03/173002/1434655/766/cara-sehat-yang-aneh-tapi-nyata?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:29 am pada 17 March 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Nasihat

    Nasihat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Bahkan, Allah SWT menjadikannya salah satu karakter dari orang yang tidak merugi dalam kehidupan. ”Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-’Ashr [103]: 1-3).

    Nasihat adalah ucapan maupun perbuatan yang bertujuan untuk memperbaiki dan mendatangkan kebaikan bagi yang diberinya. Di antara sesama orang beriman, hendaklah saling menasihati saudaranya dari waktu ke waktu agar menjadi lebih baik.

    Dengan demikian, seorang Muslim dalam pergaulan sosialnya menjadi cermin bagi Muslim lainnya serta menolong saudaranya untuk perbaikan diri dengan memahami kekurangannya melalui nasihat yang baik. Maka setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan, rakyat biasa dan pejabat, pasti membutuhkan nasihat.

    ”Agama itu nasihat. Kami (para sahabat) bertanya, untuk siapa? Beliau menjawab, Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin.” (HR Muslim). Nasihat kepada Allah SWT adalah ketulusan dan ikhlas dalam keimanan kepada-Nya, nasihat kepada Alquran dengan mengimani, membaca, menghayati, dan mengamalkannya.

    Sedangkan nasihat kepada Rasulullah SAW berupa pembenaran atas risalah yang dibawa dan mengikuti sunahnya. Nasihat kepada pemimpin adalah membantu amanah kepemimpinannya, menegakkan keadilan, dan menghapus kezaliman. Nasihat kepada kaum Muslimin adalah saling menuntun untuk kebaikan dunia dan akhirat.

    Karena itu, nasihat bukanlah menghukumi setiap kesalahan atau keburukan. Nasihat bermaksud mendatangkan kemaslahatan, bukan membongkar aib atau menjatuhkan kehormatan. Nasihat yang tulus dilakukan dengan cara yang baik, santun, dan penuh kasih sayang.

    Salah satu adab menasihati adalah dilakukan tanpa diketahui orang lain. Ini untuk menutup kekurangan dan menjaga kehormatan saudaranya. Nasihat yang tulus, tidak mungkin dilakukan dengan cara yang buruk. Fudhail bin Iyadh berkata, ”Orang beriman adalah orang yang menutup aib saudaranya yang menasihati, sedangkan orang fasik adalah orang yang merusak dan mencela.”

    Adakalanya nasihat bukanlah hal yang mudah dilakukan. Diperlukan kesabaran dan bahkan kesiapan untuk menerima risikonya, manakala orang yang diberi nasihat tidak menerima, menolak, dan malah melawan. Maka, ketulusanlah yang menjadi penawarnya, semata mencari ridha Allah SWT, dan di atas rasa kasih sayang persaudaraan seiman (ukhuwah).

    (Hilman Rosyad Syihab )

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am pada 16 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sebab Aku Cinta Sebab Aku Angin

    by : Helvy Tiana Rosa

    Malam mengelam. Mendekap Batu Merah dengan segala kegalauan. Gerimis turun menyapa sunyi. Mengencerkan ceceran darah, di sepanjang jalan. Mengusir asap kepedihan yang mengepul, dari bangunan yang telah menjadi arang.

    Kupandangi nona di hadapanku sekali lagi. Wajah hitam manisnya menyembul dari balik jendela kayu yang terbuka. Ia tampak lusuh. Jilbabnya kumal berdebu, compang -camping dan terkena percikan darah di sana-sini. Meski lelah, wajah keras itu tak juga berubah. Beku. Kaku. Sebilah tombak ada dalam genggamannya. Senjata itu dijulurkannya ke luar jendela, lalu berkali-kali dihunjamkannya ke tanah.

    “Cinta, menangislah,”kataku dengan suara risau mendesau.

    Perempuan itu menatap puing-puing bangunan masjid, di seberang kami. Lama sekali.”Beta seng bisa manangis,”suaranya bergetar, rahangnya mengeras.

    Tetapi aku sangat ingin, bisikku. Tubuhku berguncang, bergetar. Berputar. Semakin lama semakin kencang. Meliuk-liuk..

    Cinta! Cinta! Sungguh, aku melihat semua!

    “Karudung ini bagus sekali, Bu. Pantas untuk beta pakai menghadap Allah di hari raya,”dari jendela kayu yang terbuka, kulihat nona tersenyum, menampakkan lesung pipitnya yang dalam.

    Mamanya tertawa, menggantungkan sesisir pisang meja di sisi lemari kayu. “Ya, Nak. Itu rezeki dariNya. Bapakmu juga membelikan Ali dan Abid songkok baru.”

    “Selesai salat, Jangan lekas pulang. Apalagi Bapak yang mengisi khutbah Ied,”suara Bapak bangga.

    “Iya! Iya!”

    “Wah, bagia ini enak sekali!”kata Ali dan Abid berbarengan. Kedua bocah itu mengerling nakal, lalu mencomot sepotong dua potong bagia, yang akan dimasukkan ke dalam toples.

    Semua tertawa. Bahagia.

    Keesokan harinya, 19 Januari 1999. Pagi-pagi sekali, kulihat Nona dan keluarganya, juga kaum muslimin yang lain berduyun duyun ke tanah lapang. Gema takbir terdengar di mana-mana. Dengan khusyu mereka melakukan salat Ied.lalu..

    Entah dari mana, ratusan mahluk menyeramkan menyerang mereka yang tengah melaksanakan salat! Ada yang membawa tombak, kalewang, panah, parang, pisau juga pistol! Jeritan memilukan terdengar di mana-mana! Oto dan rumah di sekitar juga kena sasaran.

    “Serang!”

    “Bunuh!”

    “Bakar!”

    Hiruk pikuk. Semua berlari menyelamatkan diri. Banyak jamaah yang terinjak-injak. Ratapan, tangisan, jeritan semakin memerihkan pagi! Para lelaki berpeci, mencoba melawan tanpa senjata. Api berkobar. Orang-orang terkapar. Menggelepar. Seperti ikan-ikan yang terlempar dari air kehidupan. Darah muncrat, mengalir, lalu membentuk beberapa kubangan. Pekat.

    “Nak, tolooong!”

    “Mamaaaa!”

    DUG!

    Perempuan itu tersungkur di pangkuan anaknya, dengan kepala remuk terkena lemparan batu.

    “Aliii!”

    “Abiid!”

    “Aaaaaaaaaa!”

    Tangan-tangan kotor mengayun-ayunkan bocah itu dan melemparnya ke dalam bangunan yang terbakar.

    Nona terbelalak! Ternganga! Lenso putih di tangannya jatuh ke tanah.

    “Bapaaaaak!”

    CRESH!

    Kepala lelaki separuh baya itu putus dari badannya! Menggelinding di tanah lapang yang basah meresap darah.

    Nona terpaku. Tak bergerak. Hanya tubuhnya yang terdorong ke sana ke mari, didesak mereka yang panik menyelamatkan diri.

    Nona masih kaku. Merasa tubuhnya tertanam dalam tanah, saat palu raksasa menghantamnya berkali-kali. Jiwanya bagai mengelupas. Tetapi tak ada setetes pun air mata. Aku hanya mendengar gema isakan dalam relung-relung batinnya. Kulihat dadanya naik turun. Detak jantungnya terdengar berkejaran. Ia berteriak sekuat tenaga! Menyebut nama Allah berkali-kali. Aku melihat semua! Juga ketika tangan-tangan jahanam itu menyeretnya. Mendorong. Memeluk,melecehkannya bergantian. Mereka menarik-narik jilbabnya sambil tertawa tanpa henti. Lalu merobeknya kasar dengan belati! Nona mencoba meloloskan diri. Ia menggigit, mencakar, menendang, meludahi monster-monster itu! Hup, ia bahkan berhasil merampas sebuah tombak! Ya, meski tangannya berdarah terkena ujung tombak yang tajam. Lalu dengan sisa-sisa tenaga ia berlari. Jatuh bangun. Tersengal-sengal. Kadang tersandung tubuh-tubuh manusia yang terbongkar, di tengah jalan..

    Siapa mahluk-mahluk buas dengan mata dan ikat kepala merah itu? Lalu yang memakai ikat kepala ungu? Mereka seakan baru saja menenggak berbotol-botol sopi dan sagure. Mereka membawa panah api! Di mana polisi? Di mana tentara? Aku mendesau risau.

    Hening. Bulan sepotong di langit. Bintang tiada.

    “Cinta., Nona…,” sapaku pelan.

    Wajah itu kaku. Dingin.

    “Nona harus pi,” kutiup wajah manisnya. “Ose harus mengungsi. Orang-orang pergi ke pelabuhan. Mereka memakai arumbai atau kole-kole untuk keluar dari sini.”

    “Seng!”tegas Cinta tiba-tiba. “Beta tak akan pernah pergi!” Wajahnya terangkat beberapa senti.

    Aku tersentak. Oh, Cintaku. Ia sangat berani. Tetapi.apakah ia tak menyadari?

    Lawannya bukan manusia, tetapi monster! Mereka tak punya nurani. Monster-monster ini serupa dengan mereka yang membantai kaum muslimin Bosnia, Palestina, Kashmir, Kosovo, Myanmar, Azerbaijan, Chechnya, Aljazair dan yang lainnya!

    Lalu siapa yang akan membelamu, Cinta? Apakah orang-orang yang selalu berteriak-teriak mengatasnamakan HAM di muka bumi ini akan tergetar pada deritamu? Akankah mereka mendengar jeritan menyayat dari tanah yang tercabik-cabik ini? Ah, mereka akan terus tidur, Cinta. Mereka punya banyak urusan. Juga uang dari negeri antah berantah. Terkadang mereka berteman erat dengan monster-monster itu.

    “Kini milikku hanya Allah dan tanah ini. Beta harus bajuang demi kebenaran!”

    Aku meliuk perih. Terhempas-hempas.

    Cinta., Cinta.

    Aku ingat. Beberapa waktu lalu, ia pergi ke Masjid Raya Al Fatah, masjid besar di kota ini. Menyaksikan sendiri tumpukan lara. Puluhan ribu pengungsi yang rumahnya terbakar berjejalan di sana. Kebanyakan mereka perempuan, anak-anak dan lansia. Mereka kelaparan, kehausan dan terkena berbagai penyakit. Erangan dan tangisan di sana bagai air mendidih dalam jerangan.

    Cinta tak mampu lagi tersedu. Ia membentangkan kedua tangannya memeluk para balita. Menghibur mereka. Ia bercerita tentang Rasulullah saw dan para sahabatnya pada anak-anak itu, hingga walau sesaat mereka lupa akan lapar. Ia membantu memasak bubur, menumbuk sagu. Menegarkan para wanita, mengobati yang terluka. Juga mengasah bambu runcing.

    “Biar katong membela diri!” serunya garang, ketika seorang tentara melarang mereka bertindak. Padahal saat itu mereka diserang membabi buta. “Beta tak mengerti. Mengapa kalian membiarkan monster-monster itu? Mengapa katong tak boleh mempertahankan nyawa sendiri? Di mana keadilan?”teriak Cinta.

    Orang-orang di sekitar masjid memandangnya dengan mata basah dan sukma tercabik.

    “Siapa nona pemberani itu?” Mereka berbisik-bisik.

    “Puteri Haji Latusina. Satu-satunya yang tersisa dari keluarga itu!” sahut yang lain.

    Bulan sepotong di langit. Bintang tiada.

    Kupandang lagi nona. Lalu sayup, kudengar lagi irama langkahnya, saat memasuki gerbang sebuah rumah sakit, beberapa hari yang lalu.

    Saat itu ia mengantar seorang perempuan jamaah masjid yang akan melahirkan. Baru saja perempuan itu terbaring di atas ranjang putih, entah dari mana datangnya, para monster itu telah menyerbu rumah sakit! Panik! Semua porak poranda. Bangunan putih tersebut dalam sesaat penuh cipratan darah. Tangisan, teriakan histeris memecah udara! Ibu-ibu hamil itu memekik, kala dianiaya secara paling biadab, sebelum dibunuh. Begitu juga penghuni rumah sakit yang diketahui muslim. “Buka jilbabmu sebelum mereka melihatnya!” kata seorang perawat. “Jangan bilang ose muslimah!”

    Cinta menatapnya dengan pandangan menyala. “Tidak. Beta muslimah, sejak beta dilahirkan hingga kembali padaNya!” seru Cinta dengan suara dan tubuh bergetar.

    Pada detik terakhir sebelum bangunan itu dihancurkan, tertatih-tatih, Cinta membawa beberapa muslimah, menjauhi rumah sakit. Bersembunyi di rumah kosong, tak jauh dari sana. Peluh dan darah mengucur deras dari dahinya.

    Nona, nona.

    Setiap kali kupandang mata jelinya yang kini bengkak dan sayu, kutemukan lima ratus mayat lebih terbujur kaku di sana. Kujumpai kepedihan Pelauw, Sirisori, Tulehu, Kate-kate dan Kampung Kolang. Kusaksikan nyeri menebari Kuda Mati, Wailela, Kampung Labuhan Raja, Air Laew, Karang Tagepe.. Lebih dari satu setengah bulan, sejak hari raya berdarah itu. Tak ada apa pun, kecuali rejam kekejian yang menggila. Bahkan 2 Maret lalu, para jamaah yang sedang salat subuh di Masjid Al Huda, kembali dibantai, tanpa sempat membela diri.

    Kini bulan hampir habis di langit. Bintang tiada. Dari jauh terdengar bunyi tiang listrik dipukul berkali-kali.

    Tiba-tiba Cinta bangkit dari duduknya.

    “Mereka menyerang lagi!”teriak Cinta. “Monster-monster itu telah kembali!” Kegeraman seakan membungkus keberanian gadis itu berlapis-lapis. “Allahu ma’i! Allahu ma’ii!”katanya berkali-kali.

    Cinta mengangkat tombaknya. Menutup jendela yang engselnya hampir terlepas itu. Ia bergegas ke kamar mandi. Perlahan sekali kudengar guyuran air. Aku tahu, gadis itu pasti sedang membersihkan dirinya. Di daerah ini, sejak masa Pattimura, bila akan berjihad, mereka selalu mandi dan mengenakan pakaian putih.

    Suara tiang listrik yang dipukul, terdengar lagi. Semakin keras. Cinta bergegas ke luar rumah. Aku yakin, ia akan pergi ke masjid itu. Bergabung dengan yang lain. Sekali lagi ditatapnya rumah kenangan yang sebagian telah hancur diterjang bom rakitan. “Selamat tinggal,” lirihnya.

    Sementara itu suara gemuruh para monster terdengar semakin dekat. Mereka berteriak-teriak kasar. Berjalan sambil mengacung-acungkan senjata! Mencorat-coret tembok rumah yang masih berdiri tegak dengan segala hujatan, atau menghancurkannya!

    Cinta berlari. Membawa tombak di tangannya. Juga salawaku yang telah ditempanya beberapa hari lalu.

    Tiba-tiba, belum jauh ia berlari, di hadapannya tampak puluhan monster menyeringai. Mereka membawa berbagai senjata di tangan. Mengerikan. Kian lama mereka semakin banyak. Mereka datang dari berbagai arah. Tampaknya sebagian besar bukan berasal dari daerah itu! Mata mereka merah! Jalan mereka terhuyung-huyung! Mereka mengenakan ikat kepala yang sama seperti dahulu. Merah dan ungu!

    “Hua.ha.ha.,”mereka tertawa-tawa. Lalu dari mulut mereka ke luar berbagai makian. Terkadang monster-monster itu tanpa malu memanggil-manggil Tete Manis.

    Cinta terkepung.

    “Allaaaaahu Akbar!” teriak Cinta. “Allaaaaahu Akbarrr!” ulangnya berkali-kali. Aku dapat merasakan dadanya menggelegak. Nyaris pecah.

    Para pengecut itu menyerang Cinta! Mengamuk! Mereka bakalai! Nona manise sempat terjatuh dan diinjak-injak!

    Biadab! Marahku menjalar.

    Tiba-tiba aku mendengar sebuah panggilan. Suara itu! Tubuhku bergetar hebat. Menggigil ngilu. Itu adalah Panggilan Agung yang menggetarkan segenap alam.

    Cinta! Kulihat ia berdiri, mengayun-ayunkan tombaknya ke sana kemari. Nona terdesak.

    Sekuat tenaga aku meliuk-liuk di udara. Meniup sekuat-kuatnya. Aku berputar-putar. Terus berputar-putar. Memanas. Mengganas! Sekonyong-konyong monster-monster itu berpentalan. Aku tak sudi membiarkan mereka begitu saja. Aku bertiup lagi. Memekik-mekik. Kali ini kuangkat tubuh Cinta. Nona melayang-layang di udara.

    “Lihat! Dia terbang! Dia terbang!”

    Orang-orang berikat kepala ungu memanah Cinta dengan panah api. Kutiup anak panah itu, hingga kembali kepada si pemanah. Mereka masih memanah tanpa henti. Aku meliuk-liuk. Menggemuruh. Panah-panah itu mengejar mereka. Mereka berteriak-teriak histeris. Ketakutan. Semua lintang pukang! Aku menurunkan Cinta dengan lembut. Nona masih memejamkan mata.

    Sepi. Tak ada suara apa pun. Hanya desiranku.

    “Beta cinta Allah dan RasulNya. Juga tanah ini,” bisik Nona.

    Aku mengangguk. Aku tahu. Karena itu aku selalu memanggilmu Cinta, kataku sendiri.

    “Allahu Akbar. Engkau telah mengirimkan tentaramu,” katanya lagi. “Benar Ustad Abdul Aziz, kala bercerita Kau mengirimkan ribuan malaikat, saat masjid raya diserang.”

    Aku kembali melihat lesung pipit itu di tempatnya. Ah, setelah sekian lama.

    “Dan kini Kau kirim tentaramu yang lain,” sambung gadis itu. “Angin..”

    Aku bertiup pelan. Lembut. Semilir.

    Nona menengadah ke langit. Jilbabnya berkibar. Matanya basah. Darah masih mengucur deras dari kedua lengan dan kakinya.

    Dari balik kota yang sekarat, mentari merambat naik pelan-pelan. Menyapa kusu-kusu yang membisu di tepi jalan.

    Ya, monster-monster itu mungkin akan kembali. Tetapi tak ada yang sudi pergi dari tanah ini. Tak akan, sampai kapan pun. Sebab Cinta, sebab angin dan semua, akan bangkit menghadapi. Demi Allah!

    ***

    Daftar Istilah :

    beta: aku seng: tidak nona: gadis kalewang: parang panjang pisang meja: pisang Ambon ose: kamu katong: kami arumbai: perahu/kapal besar kole-kole: perahu kecil bajuang: berjuang bagia: kue sagu kering oto: mobil tete manis: tuhan (non muslim) pi: pergi lenso: saputangan manangis: menangis sopi, sagure: minuman keras salawaku: tameng bakalai: berkelahi kusu-kusu: alang-alang

    6 Februari 2001

     
  • erva kurniawan 1:29 am pada 15 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sajadah Tua Milik Ibu

    Cerpen oleh: Maria Magdalena Bhoemomo

    Sajadah milik Ibu sudah tua, Bahkan lebih tua dibanding umurku yang kini sudah berkepala tiga. Ketuaan sajadah itu bisa dilihat dari warnanya yang sudah kusam dan susunan serat kainnya yang sudah rapuh sehingga bolong-bolong. Jika dikebat-kebatkan, sehabis digunakan untuk shalat, banyak serpihan serat kainnya berguguran.

    Meskipun demikian, Ibu tetap selaiu melakukan shalat dengan menggunakan sajadah tua itu, Padahal, di dalam lemari pakaiannya. ada lima lembar sajadah lain yang bagus-bagus, Sebagai anak semata wayang, yang sudah cukup makmur karena berpenghasiian cukup tinggi sebagai anggota legislatif, aku sangat malu melihat Ibu mengikuti shalat berjamaah di masjid dengan memakai sajadah tuanya itu. Sudah berkali-kali aku memprotesnya, agar membuang atau membakar sajadah luanya itu. Tapi Ibu tak pernah menggubris protesku.

    “Aku sangat malu kalau sajadah lua yang sudah layak dibuang ke tong sampah itu tetap Ibu gunakan untuk shalat di masjid,” ujarku dengan kesal, ketika melihat Ibu pulang dari masjid selepas maghrib.

    “Kenapa kamu yang malu? Padahal, Ibu tidak malu. Dan Ibu akan selalu memakai sajadah tua ini setiap melakukan shalat di mana pun.”

    “Ibu kolot!”

    “Ya, maklumlah. Orangtua memang harus kolot.”

    “Ibu tidak mau bersyukur.”

    “Apa katamu? Justru Ibu bersyukur, karena bisa tetap melaksanakan shalat dengan sajadah tua ini.”

    Aku ingin berdebat lagi. Tapi rasanya percuma saja berdebat dengan Ibu yang sudah terlanjur menyukai sajadah tuanya itu. Lalu aku teringat riwayat sajadah tua itu.

    Konon, sajadah tua itu merupakan mas kawin yang diberikan oleh Ayah (sekarang almarhum) ketika menikahi Ibu. Dan konon, Ayah memang sedang miskin, tak punya uang, dan satu-satunya barang berharga yang bisa digunakan untuk mas kawin adalah sajadah tua itu.

    Dan konon pula, sajadah tua itu bukan dibeli oleh Ayah, melainkan merupakan hadiah istimewa dari Ustadz Basyir. Ayah mendapat hadiah istimewa berupa sajadah tua itu dari Ustad Basyir, karena Ayah berhasil menghapal 30 juz Al-Qur’an dalam usia 20 tahun. Begitulah, semasa mudanya. Ayah memang menjadi santri di pondok milik Ustadz Basyir untuk belajar menghapal Al-Qur’an.

    ***

    MALAM itu sudah larut. Ibu sudah tidur. Istriku juga sudah tidur bersama anak-anak, Tapi aku masih saja duduk termenung di ruang kerjaku. Pikiranku rasanya tegang, karena tetap merisaukan sajadah tua milik Ibu yang tetap selalu dipakainya untuk shalat di masjid. Seandainya sajadah tua itu hanya dipakai untuk shalat di rumah, mungkin tidak akan merisaukanku.

    Tiba-tiba aku mendapat gagasan jahat: Mencuri, lalu membuang atau membakar sajadah tua itu, agar Ibu bersedia memakai sajadahnya yang lain yang bagus-bagus, Ya, aku memang harus mencurinya. Dan tanpa berpikir panjang lagi, segera aku memasuki kamar Ibu dan mencuri sajadah tuanya itu. Sebagaimana maling, langkahku bersijingkat, sangat pelan, ketika masuk dan kemudian keluar dari kamar Ibu dengan membawa sajadah tua itu. Tapi, sebelum aku keluar dari kamar Ibu, jendelanya kubuka lebar-lebar, agar mengesankan ada maling betulan yang telah memasuki kamarnya dan kemudian mencuri sajadah tuanya itu.

    Begitulah, sajadah tua milik Ibu kemudian kusembunyikan di dalam almari buku di ruang kerjaku. Aku tidak tega jika langsung membuang atau membakarnya. Aku masih dihinggapi perasaan iba dan khawatir. Ya, aku pasti kasihan jika melihat Ibu bersedih gara-gara kehilangan sajadah tuanya itu. Dan aku tidak ingin Ibu kemudian jatuh sakit karena terus menerus bersedih.

    Malam semakin larut, Dan aku kemudian tidur bersama istri dan anak-anak. Dan menjelang waktu subuh, seperti biasanya Ibu bangun tidur dan langsung mandi serta berwudhu sebelum kemudian berangkat ke masjid untuk mengikuti shalat subuh berjamaah.

    “Maling sial! Maling terkutuk! Kenapa sajadah tua yang tidak mungkin bisa dijual harus kamu curi, maling terkutuk?!” teriak Ibu berulang-ulang sambil menangis. Aku dan istriku tersentak bangun.

    “Cepat keluar, Mas. Mungkin ada maling yang telah memasuki kamar Ibu,” perintah istriku dengan wajah panik.

    Dengan sikap tenang, aku beranjak ke kamar ibu. Dan aku sangat terkejut ketika melihat Ibu tergeletak lemas di lantai kamar. Segera kuangkat Ibu untuk kubaringkan di atas ranjangnya. Mata Ibu berbuka lebar-lebar, dan bibirnya bergerak-gerak membisikkan kata-kata kutukan: “Maling terkutuk. Maling terkutuk. Maling terkutuk.”

    Dadaku berdebar-debar mendengar kutukan Ibu yang diulang-ulang itu. Aku merasa sangat bersalah dan menyesal, karena telah menjadi maling yang mencuri sajadah tua milik Ibu itu. Aku sangat takut, jika kutukan Ibu dikabulkan oleh Tuhan. Tapi, semuanya sudah terlanjur. Aku tidak akan mengaku telah mencuri sajadah tua itu kepada siapa pun, khususnya kepada Ibu dan istriku. Sebab, aku yakin, jika aku mengaku telah mencuri sajadah tua itu, maka Ibu akan menuntutku agar mengembalikannya dan kemudian Ibu kembali akan memakainya untuk shalat sebagaimana biasanya. Tidak. Aku tidak mau menanggung malu terus menerus gara-gara Ibu selalu memakai sajadah tuanya itu untuk shalat di masjid.

    Istriku menyusulku ke kamar Ibu. Dan setelah melihat Ibu nampak habis terserang stroke, istriku kemudian menatap jendela yang terbuka lebar-lebar itu.

    “Pasti malingnya masuk lewat jendela itu, Mas,” tebak istriku.

    “Ya, mungkin saja.”

    “Tapi aneh rasanya, ada maling kok sudi mencuri sajadah tua yang pasti tidak akan bisa dijual,” lanjut istriku dengan kening berkerut.

    “Mungkin malingnya punya tujuan khusus, Misalnya, ingin mendapatkan jimat. Konon, sajadah tua memang bisa digunakan untuk jimat,” ujarku. Ibu masih saja membisikkan kalimat kutukan terhadap maling yang telah mencuri sajadah tuanya. Dan aku mendengarnya dengan hati yang semakin berdebar-debar. Aku takut jika kutukan Ibu menimpa diriku. Lalu, dengan lembut aku dan istriku menghibur Ibu.

    “Sudahlah, Bu. Lupakan saja sajadah tua yang telah dicuri oleh maling itu. Bukankah Ibu masih punya lima sajadah yang bagus-bagus?” hibur istriku. “Doakan saja semoga malingnya bertobat, dan kemudian rajin melakukan shalat dengan menggunakan sajadah tua yang dicurinya itu, Bu. Sebaiknya Ibu mengikhlaskannya dan memaafkan malingnya, agar Ibu mendapat banyak bahala,” hiburku.

    Ibu kemudian tidak membisikkan lagi kalimat kutukan. Tapi untuk selanjutnya, Ibu tidak bisa bangkit lagi, tetap saja terbaring, karena menderita lumpuh.

    Dengan demikian, setiap melakukan shalat, Ibu tidak membutuhkan sajadah lagi, karena shalatnya dilakukan sambil berbaring. Istriku ikut-ikutan mengutuk maling yang telah mencuri sajadah tua milik Ibu, yang membuat Ibu jatuh sakit dan menderita kelumpuhan permanen itu.

    “Gara-gara maling sial dan terkutuk itu, aku jadi repot sekali merawat Ibu,” gerutu istriku menjelang tidur.

    Mendengar istriku mengutuk maling yang sebenarnya adalah diriku, aku semakin ketakutan. Sebab, konon, kutukan seorang Ibu, juga istri, bisa menjadi kenyataan.

    ***

    SEBAGAI anggota legislatif dari partai reformis, aku dikenal bersih dan anti korupsi. Bahkan, gara-gara aku menjadi tokoh reformasi yang sering lantang menentang korupsi, kemudian aku direkrut masuk partai kemudian berhasil duduk sebagai anggota legislatif.

    Tapi, setelah aku menjadi maling yang mencuri sajadah tua milik Ibu, beberapa rekanku yang gemar melakukan korupsi suka membujukku agar ikut-ikutan melakukan korupsi.

    “Pada masa kini, menjadi orang jujur bisa justru ajur. Dan menjadi orang bersih bisa justru tersisih!” ujar rekanku.

    “Pada mulanya, melakukan korupsi memang sangat merisaukan hati. Tapi, jika kita melihat kenyataan yang ada, betapa korupsi adalah sesuatu yang wajar, maka perasaan risau itu dengan sendirinya akan sirna,” tutur rekanku yang lain.

    Begitulah. Mula-mula, aku mencoba ikut-ikutan melakukan korupsi dana proyek rehabilitasi jalan-jalan dan jembatan yang sengaja digelembungkan. Dan hasil korupsi itu kemudian kugunakan untuk membeli mobil mewah.

    “Uang dari mana yang kamu gunakan untuk membeli mobil mewah ini, Mas?” tanya istriku ketika aku pulang membawa mobil mewah tipe terbaru yang harganya hampir satu milyar rupiah itu.

    “Ini hadiah istimewa dari Pak Gubernur, karena aku dan rekan-rekan telah berhasil mengesahkan undang-undang baru yang sangat menguntungkan pihak eksekutif,” jawabku berbohong.

    “Oh, begitu. Aku kira kamu sudah mulai suka melakukan korupsi, Mas.”

    “Eh, jangan suka berprasangka buruk. Jelek-jelek begini, aku tetap punya moral dan sejak dulu dikenal sebagai tokoh reformis yang anti korupsi.”

    Dan sejak punya mobil mewah, tiba-tiba aku gemar menghabiskan waktu di tempat-tempat hiburan. Mungkin karena selalu risau, maka aku membutuhkan hiburan. Mula-mula, aku mencoba mencicipi minuman keras, agar punya pengalaman mabuk. Konon, dengan mabuk seseorang bisa mengusir rasa risau di hatinya. Lalu, karena di tempat hiburan ada banyak cewek cantik yang siap menghiburku, maka aku pun kemudian mencoba mengajak tidur seorang cewek cantik yang mengaku masih kuliah itu, Dan sehabis bercinta dengan cewek cantik itu, tiba-tiba kelaminku sangat gatal dan panas. Lalu segera aku berobat ke dokter.

    “Anda terkecoh,” kata dokter. “Cewek itu pasti pelacur profesional yang menderita penyakit kelamin kronis. Sebaiknya Anda melakukan tes darah. Siapa tahu, Anda bukan hanya tertular kencing nanah, tapi juga AIDS.”

    Dengan sedih dan panik, aku kemudian menjalani tes darah. Dan hasilnya ternyata positif: Aku telah tertular virus mematikan itu.

    ***

    SEBAGAI pengidap AIDS, aku merasa betapa hari kematianku sangat dekat. Aku sangat marah, menyesal, dan putus asa. Perilakuku semakin buruk. Semakin sering aku terlibat kasus korupsi, dan hasilnya kugunakan untuk berfoya-foya di tempat-tempat hiburan. Istriku nampak bersikap toleran, karena telah mendapatkan semua gajiku perbulan yang cukup besar. Sedangkan untuk merawat Ibu sehari-hari, istriku sudah punya dua orang pembantu di rumah. Dan sebagai istri anggota legislatif, istriku pun semakin gemar berbelanja mewah dan mencoba memasak berbagai menu sesuai dengan resep-resep terbaru yang dimuat di majalah-majalah.

    Suatu malam, istriku memprotesku, karena sudah lama aku tidak mengajaknya bercinta.

    “Kamu sudah bosan denganku, ya? Atau, jangan-jangan kamu suka main serong atau bahkan punya simpanan?”

    “Memangnya aku ini orang yang bias santai? Maklumlah, aku ini anggota legislatif, yang selalu sibuk dan capek setiap hari,” tukasku.

    Ya, setiap kali aku pergi ke tempat-tempat hiburan atau bercinta dengan pelacur di hotel, selalu aku pamit hendak mengikuti rapat tertutup. Dan istriku selalu mempercayai kata-kalaku. Dan jika aku tidak pernah lagi mengajaknya bercinta, semata-mata karena aku sayang kepada keluarga. Aku tidak ingin istriku tertular penyakit AIDS. Namun, malam itu, istriku benar-benar bergairah dan memaksaku bercinta. Maka aku pantang menolak, apalagi istriku berseloroh bahwa dia telah menyangsikan keperkasaanku, karena aku terus menerus sibuk dan capek.

    Dan setelah bercinta denganku, istriku menderita flu berat. Dan setelah berobat ke dokter, istriku tidak kunjung sembuh. Lalu dokter memintanya untuk menjalani tes darah. Dan hasilnya, istriku positif dinyatakan mengidap AIDS.

    “Rupanya kamu telah berbohong kepadaku, Mas. Kamu telah berkhianat. Kamu tega menularkan penyakit AIDS kepadaku. Kamu kejam, Mas.”

    Istriku menangis dan meratap-ratap. Aku sangat iba dan ikut-ikutan menangis. Kukatakan bahwa nasibku yang sial mungkin karena dikutuk oleh Ibu, gara-gara aku mencuri sajadah tua itu.

    “Di mana sajadah tua itu sekarang, Mas?” tanya istriku. “Kalau masih ada. cepat serahkan kembali kepada Ibu. Dan kamu harus minta maaf kepadanya.”

    Dengan terpaksa, aku segera mengambil sajadah tua yang kusimpan di lemari buku di ruang kerjaku. Lalu segera kuberikan sajadah tua itu kepada Ibu.

    Sungguh ajaib. Ibu langsung bangkit dan tidak lumpuh lagi, begitu melihat sajadah tuanya. Segera ibu menciumi sajadah tuanya itu, sebelum kemudian bergegas mengambil wudhu dan melakukan sujud syukur dengan menggunakan sajadah tuanya itu. Dan untuk selanjutnya, Ibu kembali melakukan shalat lima waktu di masjid dengan sajadah tuanya itu.

    Sementara itu, nasibku dan nasib istriku semakin buruk. Bahkan, istriku harus dirawat di rumah sakit dengan diperlakukan khusus sebagai pasien AIDS. Istriku ditempatkan di kamar khusus, mirip karantina, karena kondisinya semakin memburuk. Tidak ada pembesuk yang dibolehkan menemuinya, kecuali aku dan anak-anak.

    Tubuhku juga semakin lemah dan kurus. Tapi aku berusaha untuk tetap tegar dan tetap menjalankan tugas-tugasku sebagai anggota legislatif. Dengan mobil mewah, aku pergi dan pulang kerja. Dan jika pikiranku sangat risau dan sedih, segera aku pergi ke hotel dan bercinta dengan pelacur cantik.

    Suatu malam, ketika aku sedang bercinta dengan pelacur cantik di hotel, tiba-tiba HP-ku berdering. Rupanya ada telepon dari rumah sakit tempat istriku dirawat.

    “Istri Anda telah diambil oleh Tuhan. Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.”

    Dengan terburu-buru, aku segera melarikan mobilku kencang-kencang menuju rumah sakit. Padahal, aku sangat letih dan setengah mabuk akibat minuman keras yang habis kureguk. Dan ketika melesat melewati tikungan yang cukup ramai, mobilku lerlalu kencang berlari, sehingga beberapa becak yang memadati jalan kutabrak dengan keras, sebelum kemudian mobilku membentur keras-keras pagar jalan.

    Teriakan-teriakan umpatan dan kutukan para tukang becak sangat menakutkanku. Mobilku telah ringsek. Aku tetap duduk di belakang setir yang menjepit dadaku. Aku masih sadar, dan bisa melihat beberapa tukang becak mengumpat-umpat dan mengutukku sambil menyulut bensin yang tumpah di bawah mobilku. Aku pun masih bisa melihat api mulai berkobar membakar mobilku, sebelum kemudian membakar tubuhku.

    Aku sangat yakin, meski aku telah mati, betapa esok pasti koran-koran memuat di halaman pertama gambar mobilku yang terbakar bersama diriku yang telah hangus. Dan di bawannya, ada tulisan singkat: Seorang anggota dewan legislatif mengalami kecelakaan tragis.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:50 am pada 14 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: membaca dongeng   

    6 Manfaat Mendongengkan Anak Sebelum Tidur 

    Membacakan buku pada anak sebelum tidur mungkin sudah jarang dilakukan orangtua. Padahal ada banyak manfaat yang bisa diperoleh jika anak didongengkan cerita sebelum tidur.

    “Manfaat yang bisa didapatkan anak-anak dari rutinitas mendongengkan cerita sebelum tidur tidak hanya untuk intelektualnya saja, tapi juga secara emosional,” ujar Dr Terri Apter, seorang psikolog sosial di University Cambridge, seperti dikutip dari HealthToday, Kamis (2/9/2010).

    Dongeng atau membaca buku cerita sebelum tidur tidak hanya bermanfaat bagi balita dan anak-anak, karena kaum remaja pun masih bisa mendapatkan manfaatnya.

    Ini dia beberapa manfaat yang bisa didapatkan melalui kegiatan mendongeng sebelum tidur, yaitu:

    Membantu perkembangan bicara dan bahasa anak

    Mengajarkan anak berbicara sudah bisa dimulai sejak awal kehamilan, karena orangtua yang mengajak anaknya berbicara akan direspons oleh otak anak dan berusaha untuk menyerap suara serta bahasa yang digunakan ibunya.

    Jika kebiasaan mendongengkan anak sebelum tidur ini berlanjut, maka akan mendorong anak untuk berbicara dan mengembangkan kemampuan bahasanya. Cara ini merupakan salah satu teknik belajar yang menyenangkan bagi anak.

    Membantu menenangkan anak yang menangis

    Membacakan dongeng sebelum tidur adalah salah satu cara penghilang stres yang efektif. Biasanya orangtua akan membacakan cerita dalam suasana santai dan nyaman, dramatisasi dengan membuat intonasi nada yang berbeda akan membuat anak tertarik untuk mendengarkan cerita. Lama kelamaan anak-anak akan merasa nyaman sehingga tingkat stresnya berkurang.

    Membantu meningkatkan IQ anak

    Pada anak yang baru belajar membaca, mendongengkan buku cerita yang sama berulang-ulang bisa membantunya mengajarkan bahasa, meningkatkan memori dan mengembangkan imajinasi. Saat pertama kali mendengarkan cerita, anak tidak bisa menangkap semuanya. Tapi jika diulang-ulang, maka anak akan memperhatikan pola dan urutan dari cerita tersebut.

    Orangtua harus memperhatikan jenis buku cerita yang akan didongengkan pada anak, misalnya tidak boleh membacakan cerita yang terlalu merangsang atau menakutkan bagi anak. Serta lakukan dengan cara yang positif dan menyenangkan agar bisa bermanfaat bagi anak.

    Membantu anak agar cinta dengan buku

    Membacakan sebuah cerita sebelum anak tidur akan membuat anak mencintai buku dan menjadi senang membaca. Jika anak sudah cinta dengan buku, maka anak akan melihat buku sebagai teman yang menyenangkan seperti halnya mainan. Buku merupakan salah satu media aktif yang dapat menjaga kerja otak anak dan membantu anak menjadi lebih kreatif.

    Membantu mengembangkan keterampilan mendengarkan anak

    Jika anak ingin memahami isi dari buku yang didongengkan, maka anak harus mendengarkan ceritanya. Karena itu anak akan menyiapkan pikirannya untuk menyerap kata-kata yang diucapkan orangtua dan menciptakan kata sendiri untuk memahaminya. Jadi anak akan mendengarkan dengan seksama dan berusaha menguasai keterampilan ini. Selain itu, cara ini juga membantu meningkatkan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak.

    Membantu anak memiliki pola tidur yang sehat

    Ketika anak-anak sudah terbiasa mendengarkan cerita sebelum tidur, maka ritual nyaman ini akan menjadi alarm bagi anak bahwa setelah itu adalah saatnya tidur. Kondisi ini akan membantu anak memiliki jam tidur dan bangun yang sama setiap harinya, karena itu dianjurkan untuk melakukan rutinitas ini pada jam yang sama sejak anak masih kecil.  (ver/ir)

    ***

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    health.detik.com/read/2010/09/02/143011/1433674/764/6-manfaat-mendongengkan-anak-sebelum-tidur?l991101755

     
    • susi 9:41 am pada 14 Maret 2012 Permalink

      assalamu’alaikum…
      permisi numpang membaca, dan sekalian izin copas ya. Terima kasih.

    • lesprivat pep 11:18 pm pada 29 Juni 2013 Permalink

      mantab gan artikelnya .. terimakasih infonya

  • erva kurniawan 1:50 am pada 13 March 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Terapi Ghibah

    Dalam perjalanan Isra Mi’raj, Rasulullah SAW sempat melihat pemandangan mengerikan. ”Aku diperlihatkan orang yang mencakar-cakar mukanya sendiri dengan kuku-kuku tajam mereka.”

    Lantas Rasulullah SAW bertanya kepada Malaikat Jibril. ”Wahai Jibril siapakah mereka itu?” Malaikat Jibril menjawab, ”Mereka adalah yang menggunjing orang lain dan membuka aib kehormatan dirinya.” (HR Abu Daud).

    Menggunjing orang lain (ghibah) menjadi faktor penyebab azab kubur. Seperti juga diceritakan Jabir ketika bersama Rasulullah SAW melewati dua kuburan. ”Mereka berdua sedang disiksa di dalam kubur bukan karena dosa besar yang dilakukannya, tapi yang satu karena gemar ghibah, sedangkan yang lain karena tidak bersuci setelah kencing.”

    ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu berbuat ghibah terhadap yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat [49]: 12).

    Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan, ayat ini merupakan gambaran betapa ghibah bagaikan mencabik-cabik orang dari belakang tanpa sempat orang tersebut membelanya. Karena tak dapat membela itulah maka diibaratkan orang mati, yang hanya bisa diam saja sekalipun dirobek-robek. Menikmati ghibah sama seperti makan sekerat daging, enak rasanya hingga susah menghentikannya. Namun, mereka tidak mengetahui bahwa daging itu sudah basi alias telah menjadi bangkai.

    Agar terhindar dari azab kubur karena ghibah, ada beberapa terapi mengatasinya. Pertama, Rasulullah SAW mengarahkan agar orang Mukmin gemar berbicara yang baik atau lebih baik diam. Kedua, melakukan klarifikasi (tabayyun) bila ditemukan pembicaraan ghibah yang dapat merembet ke fitnah memecah belah umat. (QS Al-Hujurat [49]: 6).

    Ketiga, memberi nasihat bila ditemukan kesalahan orang lain, bukan malah membicarakan di belakang. ”Tiga perkara bila dikerjakan niscaya tidak ada kedengkian dalam hati, yaitu ikhlas beramal karena Allah semata, saling menasihati sesama Muslim, dan tetap berada dalam jamaah Muslimin.” (HR Ad-Darimi). Keempat, memperbanyak dzikrullah. Dzikrullah ibarat obat penyakit, sementara ghibah adalah pantangannya. (Ali Farkhan Tsani )

    ***

    Sumber: Republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:44 am pada 12 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Menikah Lagi

    Cerpen Oleh Zaenal Radar T.

    Aku berniat menikahi janda itu. Tapi, apakah istriku bersedia menerimanya? Dulu aku sudah berjanji pada istriku, bahwa kami akan setia sehidup semati. Kalau ia mendengar aku akan menikah lagi, apakah Ia sudi menjalaninya, menjadi istri yang dimadu?

    Perempuan janda yang akan kunikahi itu tidak terlalu cantik. Usianya sekitar empat puluh lima tahun. Ia memiliki empat orang anak yang masih sekolah. Kehidupan keluarganya selalu kekurangan karena penghasilan yang tidak memadai. Sehari-harinya perempuan itu menjadi pelayan di sebuah rumah makan, Kupikir, kalau ia kunikahi, aku akan menjadi ayah dari anak-anak mereka, Menjadi penunjang ekonomi keluarganya.

    Aku sudah lima kali berkunjung ke rumahnya, Keempat anaknya menerima kedatanganku dengan baik. Yang tertua kelas tiga SMA. Yang dua SMP dan satu lagi masih SMP. Tentu biaya yang ditanggung itu cukup berat bagi seorang perempuan tak bersuami yang tidak memiliki karir bagus dalam pekerjaannya.

    Ketika berada di rumahnya, kusampaikan maksud kedatanganku, bahwa aku akan menikahinya, menjadi ayah anak-anaknya.

    “Mas harus pikir masak-masak. Saya sendiri sangat bersedia menjadi istri mas. Dan anak-anak kelihatannya senang menerima kehadiran mas. MungKin mereka ingin memiliki ayah, seperti teman-temannya. Tapi, bagaimana dengan keluarga mas sendiri?”

    Pertanyaan itu tak bisa kujawab. Aku sendiri belum tahu apa reaksi keluargaku bila mendengar aku akan menikah lagi. Apakah hal itu sebaiknya kurahasiakan?

    Aku tidak mau berbohong pada istri dan anak-anakku. Aku tidak mau memberi contoh yang tidak baik pada mereka. Seadainya ditutup-tutupi, pasti suatu saat akan tercium juga. Baiknya aku berterus terang saja, menjelaskan pada mereka bahwa aku akan menikah lagi!

    Suatu sore seluruh keluargaku kukumpulkan di ruang tengah. Istri dan anak-anakku tampak bertanya-tanya, mengapa aku mengumpulkan mereka. Seperti ada sesuatu yang sangat penting. Atau mungkin juga mereka berfikir akan mendapatkan kejutan.

    “Ada apa sih, yah? Ayah mau membawa kami keliling Bandung lagi? Atau, mungkin kita akan berangkat umroh ke tanah suci sekeluarga untuk yang kedua kali?”

    “Bukan, bukan itu, Nada. Kamu dengar dulu cerita ayah. Dan kalian semua, jangan dulu marah pada ayah, Ayah akan menceritakan…”

    Tiba-tiba aku berubah pikiran. Setelah kutimbang-timbang, rasanya tak baik menceritakan hal ini pada seluruh keluargaku. Mengapa tidak lebih baik kuceritakan pada istriku saja? Kalau istriku setuju, anak-anak mungkin lebih bisa diatur.

    “Lho?! Kok, ayah jadi ragu begitu?” sosor Arman, anakku yang paling kecil. Hal itu membuat istriku tersenyum. Perempuan yang masih sangat kelihatan cantik itu tampak bangga melihat putra bontotnya kritis begitu.

    “Ayo dong, yah! Ceritanya diterusin!”

    “lya, ayah ini gimana sih? Katanya mau cerita??”

    Kupandangi keempat anakku. Mereka terlihat penasaran pada cerita yang akan kusampaikan. Istriku masih tersenyum-senyum.

    “Baik, akan ayah lanjutkan. Begini anak-anak. Besok kalian akan ayah titipkan di rumah nenek. Karena ayah dan ibu punya urusan yang sangat penting!”

    “Maksud ayah apa?!” lagi-lagi Arman menyela. Dan ketiga anakku yang lain semakin bingung. Juga istriku, jadi ikut-ikutan bingung. Senyumnya tak lagi terlihat.

    “Nanti saja akan ayah ceritakan setelah kalian pulang dari rumah nenek.”

    “Yaa, ayah…!”

    Semua anak-anakku protes. Ibu mereka membujuk agar mereka mau mengerti.

    Malam itu, saat anak-anak kutitipkan di rumah nenek mereka, aku akan berterus terang pada istriku. Mengapa hal ini kulakukan tidak di depan anak-anak, yakni agar menjaga kemungkinan yang tidak mengenakkan terjadi. Kalau tiba-tiba istriku mengamuk di depan anak-anak, khawatir akan menyebabkan kekacauan pada diri mereka nantinya. Dan seandainya istriku menahan amarahnya demi menjaga nama baiknya di depan anak-anak, ini juga tidak baik.

    Aku ingin tahu tanggapan istriku sejujurnya, setelah mendengar apa yang akan kusampaikan nanti. Apakah ia bersedia bila aku menikah lagi?

    Aku mesti mencari kalimat yang paling enak, paling masuk akal, paling beralasan, paling bisa diterima, sehingga istriku tidak terlalu terkejut. Ya, terkejut. Aku yakin istriku akan terkejut mendengar pengakuanku nanti. Dan aku tak mau ia akan terkejut dengan main-main, atau terkejut sekali! Aku ingin ia terkejut biasa-biasa saja. Aha, terkejut biasa-biasa saja…? Apa ada?

    “Begini bu, tadi siang sebenarnya ayah ingin bercerita di depan anak-anak. Tapi ayah khawatir anak-anak tidak siap menerimanya. Dan ayah pikir, mereka belum mengerti pada hal-hal yang akan ayah ceritakan.” Istriku menatapku, dengan tak lupa menyunggingkan senyumnya. Aku melihat ia menghela napas perlahan, begitu rileksnya.

    “Selama ini ayah telah bekerja keras demi ibu, demi anak-anak, juga demi persiapan kebutuhan kita kelak. Ayah ingin hidup kita bahagia, sampai akhir hayat…”

    Istriku mengangguk. Senyumnya masih tersisa.

    “Namun ayah merasa masih ada sesuatu yang kurang. Kita memang sudah cukup banyak beramal. Kita tak pernah lupa menyisihkan bagian harta kita untuk yayasan anak-anak yatim dan panti jompo. Setiap tahun kita pun tak pernah berhenti mengundang orang-orang tidak mampu untuk diberikan sedekah. Dan yang dimaksud kurang bagi ayah adalah…”

    Kali ini istriku tak lagi tersenyum. Air mukanya seperti orang berharap-harap cemas. Menunggu sebuah keputusan yang tak bisa diterkanya.

    “Ibu rasa…. ayah terus terang saja. Selama ini ibu merasa sudah menjadi ibu yang baik bagi ayah, bagi anak-anak, bagi keluarga besar kita, juga bagi lingkungan. Kalau masih ada yang kurang dari ibu, barangkali karena keterbatasan ibu sebagai manusia biasa, yang tak luput dari kekurangan.”

    “Maaf bu, ayah jadi tak enak mengutarakan ini… Sebab, ayah dan ibu pernah bersumpah sehidup semati…”

    Tiba-tiba kulihat airmata istriku berair. Nampaknya perempuan cantik yang sangat kusayangi ini sudah mengetahui maksud pembicaraanku. Ia mulai terisak.

    “Kalau ibu merasa bersalah… hiks… maafkan ibu… Tapi… jangan terlantarkan anak-anak kita…. Hiks… yang selama ini telah kita rawat dengan baik. Ibu cuma minta… kejujuran ayah… apa yang menyebabkan hal ini tejadi…”

    Isak itu semakin menjadi-jadi. Aku sungguh beruntung telah mengungsikan anak-anak ke rumah nenek. Sebab kalau tidak, aku tak akan mampu menjelaskan pada anak-anak mengapa ibu mereka menangis.

    “Bu,.. dengar dulu…”

    “Kalau ayah sudah tak sayang padaku, ceraikan saja yah… ceraikan saja…” Istriku menangis.

    “Ssst…Bu…”

    ”Ayah…tak usah…memberikan alasan macam-macam…! Tak perlu… bicara panjang lebar…! Hanya akan membuat sakit hati ibu! Hiks…Kalau ayah… hendak menceraikan ibu… ibu akan menerimanya dengan lapang dada…! Biarkan anak-anak ibu rawat..,! Dan ayah bisa pergi dengan perempuan lain yang menjadi pilihan ayah…!”

    “Bu… dengar dulu…”

    Tangis istriku makin menjadi-jadi. Aku bingung bagaimana menjelaskannya, Ia sudah termakan oleh perasannya sendiri.

    “Bu, siapa yang mau menceraikan ibu?!”

    Istriku diam, tapi isaknya masih sesekali terdengar. Aku merengkuh tubuhnya, tapi ia mengelak. Huh, baru kali ini ia begitu.

    “Bu, dengar ya…”

    Aku ceritakan tentang seorang janda yang memiliki empat anak yang masih sangat membutuhkan seorang ayah. Kuceritakan dengan jujur bagaimana perempuan yang hendak kunikahi itu.

    “Bagaimana Bu? Apakah ibu mau menerimanya??!”

    Istriku menarik nafas dengan berat. Menghelanya sambil menggelengkan kepala.

    “Bu…?!”

    Istriku tetap diam, lalu berlari ke kamarnya. Aku mengejarnya. Namun tak berhasil menangkapnya karena ia telah mengunci pintu kamar dari dalam, Semalaman ini istriku mengunci diri di dalam kamar, dan aku tak bisa tidur di ruang tengah.

    Pagi-pagi sekali, ketika suara azan subuh terdengar, aku beranjak ke kamar mandi. Aku mengambil wudhu lalu melangkah ke ruang sembahyang. Di sana, aku sudah melihat istriku tengah bersujud, sambil tubuhnya terguncang-guncang karena isak tangis.

    Selama seminggu aku dan istriku berdiam-diam. Kami bicara seperlunya saja. Di depan anak-anak, kami berpura-pura mesra. Namun selepas anak-anak keluar rumah, istriku ke kamarnya mengunci diri.

    Namun suatu sore, saat aku pulang kantor, pintu kamarnya lupa terkunci, Padahal anak-anak belum pulang karena tes tambahan, atau yang terbesar mungkin sedang mampir di rumah salah satu temannya. Seminggu ini aku memang kehilangan konsentrasi mengurus anak-anak.

    Di dalam kamar, aku tidak menemukan istriku. Lalu kuhubungi nomor telepon genggamnya. Ternyata tidak diaktifkan. Setelah itu kuhubungi anak-anakku satu persatu. Aku menyuruh mereka segera pulang.

    Sebelum anak-anak pulang, istriku sudah kembali ke rumah. Ketika kutanya, ia tak menyahut. Rupanya, genderang perang sudah berbunyi. Namun aku tidak mau berperang dengan istriku sendiri. Selama ini kami tak pernah serius bertengkar. Kalau pun pernah, tak lebih dari dua jam kami akan akur kembali. Tapi kini, sudah seminggu kami berdiam-diam.

    Aku tak mau menyalahkannya. Kesalahan harus kutumpahkan pada diriku sendiri. Aku tak mau mengorbankan keluarga hanya karena kepuasanku semata. Sejujurnya kuakui, keinginanku menikah dengan perempuan janda dengan empat orang anak itu bukan semata-mata rasa kasihan pada mereka. Namun juga karena benih cinta yang secara tak sengaja bersemi di antara aku dan janda penunggu rumah makan itu.

    Selain ingin menikahinya, aku juga berharap mendapat kasih sayangnya, sekaligus bisa membantu keluarga perempuan itu. Dan nampaknya semua itu tak mungkin aku lakukan. Sebab aku harus menyelamatkan keluargaku.

    Menarik kembali sayap istriku yang mungkin hendak terbang meninggalkanku!

    Biar bagaimanapun, aku tak mau kehilangan istriku. Aku dan dia telah berjanji sahidup semati. Kami tak mungkin bisa dipisahkan, kecuali oleh ajal!

    Sore menjelang malam, kami semua berkumpul. Istriku seperti biasa, terlihat sangat ceria di depan anak-anak. Padahal aku tahu, barangkali hatinya telah remuk. Ia memang perempuan yang sangat pandai menjaga perasan di depan anak-anak. Aku sangat beruntung menjadikannya sebagai istri.

    Menjelang malam, anak-anak berangkat tidur. Istriku sepetri biasanya, masuk terlebih dahulu ke kamar. Tetapi kali ini ia tak menguncinya. Ketika kubuka, ia masih belum tidur. Ia kudapati tengah membaca sebuah majalah, terlihat begitu santai.

    Di kamarku sendiri, aku bagai orang asing, Inilah mungkin hukuman bagi orang yang bersalah, yang merasa terpenjara oleh perasaannya sendiri.

    “Bu…”

    Istriku melipat majalah, memberikan konsentrasi penuh terhadapku. Sungguh perubahan yang sangat menggembirakan. Sebelum ini aku tak pernah mendapat kesempatan bicara padanya. Tapi kali ini, sepertinya ia siap mendengar kata-kataku.

    “Bu, maafkan kata-kata ayah tempo hari. Ayah sungguh menyesal mengatakannya pada ibu. Ayah memang lelaki tak tahu di untung. Ayah lelaki yang tak mensyukuri karunia Tuhan…”

    Aku berhenti. Tapi istriku tak menunjukkan perubahan sikap. Ia masih saja diam, seolah tak mau memotong kata-kataku.

    “Bu… maafkan ayah…”

    Baru kali ini, sepanjang sejarah pernikahan kami, aku meneteskan airmata kesedihan di depan istriku.

    “Bu… maafkan bila ayah telah khilaf… Ayah tak mau kehilangan ibu. Demi Tuhan, ayah tak mau bercerai. Dan ayah berjanji tak akan menikah lagi…”

    Istriku beranjak dari tempatnya, lalu merapatkan tubuhnya ke dekatku. Tak sadar, kepalaku sudah berada di pangkuannya. Dan kurasakan, ia membelai-belai rambutku. Menunjukkan kasih sayangnya, yang selama ini tak pernah hilang sejak kami menikah dulu.

    “Ayah… ibu juga minta maaf…”

    Sambil berkata begitu, istriku masih tetap membelai-belai rambutku. Aku menjadi seperti anak kecil yang manja pada orang tuanya.

    “Ibu minta maaf telah menyusahkan ayah. Selama ini ibu mengurung diri bukan bermaksud membenci ayah. Ibu hanya perlu menenangkan diri agar perasaan sakit yang ibu rasakan tak terlihat oleh orang lain, apalagi oleh anak-anak kita… Tadi siang ibu sudah mendatangi perempuan yang menjanda itu, dan bertemu dengan anak-anak mereka. Nampaknya mereka memang memerlukan seorang lelaki untuk menjadi pelindung mereka…”

    “Kalau sekiranya ayah bersungguh-sungguh mau membantu mereka, dan terbersit rasa sayang ayah terhadap perempuan itu, ibu ikhlas melepas ayah… untuk menjadi kepala keluarga bagi mereka… Hanya saja, biarkanlah hal ini menjadi rahasia kita berdua. Anak-anak jangan sampai tahu.”

    Dengan teramat tegar kata-kata itu diucapkannya. Namun ketika kutatap wajahnya, kulihat bola matanya basah.

    “Bu…”

    “Sudahlah, yah… jangan lagi bicarakan masalah ini. Semuanya sudah jelas. Mari kita tidur…”

    Istriku menggeser tubuhnya, lalu beringsut mematikan lampu kamar. Ia meluruskan tubuhnya di ranjang, aku di sebelahnya. Tak lama kemudian kudengar dengkuran. halusnya. Dan malam itu, aku tak berkutik di sampingnya. Aku tak beranjak ke mana-mana, meski kedua biji mata ini sulit sekali kupejamkan

    ***

    Dari Sahabat

     
    • nisa 3:43 pm pada 17 Maret 2011 Permalink

      sad story…, ga.. bisa dijelaskan dgn kata..kata.. :(
      antara hancurnya hati seorang wanita dan ketabahannya..

    • rossi 10:57 am pada 26 Maret 2011 Permalink

      panjang n ber belit belit…

  • erva kurniawan 1:56 am pada 11 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: berkata baik   

    Berkata Baik atau Diam

    Dalam kehidupan bermasyarakat, seorang Muslim memiliki keistimewaan yang menjadi ciri khasnya, yaitu adanya sifat kasih sayang dan persaudaraan. Kasih sayang harus senantiasa menghiasi diri mereka. Persaudaraan ini jelas seperti yang difirmankan Allah SWT, ”Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Qs Al Hujurat [49]: 10).

    Allah SWT telah mengharamkan atas kaum mukminin untuk melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Jangankan bertikai, mendekati perbuatan yang menyebabkan pertikaian dan kebencian pun dilarang (lihat QS Al-Maidah [5]: 91). Salah satu langkah menghindari permusuhan adalah dengan menjaga perkataannya. Kadangkala, perbincangan yang halal dapat berubah menjadi perbincangan yang makruh dan bahkan menjadi perbincangan yang haram, karena lidahnya tidak dijaga.

    Dalam hadis yang telah disepakati keshahihannya ini disebutkan tidak layak seseorang berbicara kecuali jika kata-katanya itu mengandung kebaikan. Jika seseorang ragu tentang ada atau tidaknya kebaikan pada apa yang akan diucapkannya, maka hendaklah ia tidak berbicara. ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata-kata yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Bahaya lisan itu sangat banyak. Lidah yang tidak terjaga, memang sangat berbahaya. Suatu perkataan yang semula dimaksudkan bercanda, bisa jadi menyakiti perasaan lawan bicara kita. Apalagi, bila terang-terangan bermaksud menyinggung dan menyakitinya. Rasulullah SAW dalam hadisnya mengingatkan, ”Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya.” (HR Timridzi).

    Pemikir besar Islam di masa lampau, Imam Syafi’i, mempunyai kiat agar lidah selalu terjaga. ”Jika seseorang akan berbicara hendaklah ia berpikir sebelum berbicara. Bila yang akan diucapkannya itu mengandung kebaikan maka ucapkanlah, namun jika ia ragu (tentang ada atau tidaknya kebaikan pada apa yang akan ia ucapkan) hendaklah tidak berbicara hingga yakin bahwa apa yang akan diucapkan itu mengandung kebaikan.”

    Yang terpenting dari semua itu adalah mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab. ”Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya.” (QS Al Isra’ [17]: 36).

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    ***

    Oleh: Ummu Hasna Syahidah

    Sumber:  www.republika.co.id

     

     
    • muh dandy 2:34 pm pada 22 Maret 2011 Permalink

      nice . ijin copy

  • erva kurniawan 1:49 am pada 10 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: ujub   

    Ujub

    Oleh : Moch Aly Taufiq

    Sahabat Ali bin Abi Thalib berkata, ”Keburukan (sayyi’ah) yang menyebabkanmu gundah gulana, lebih baik di sisi Allah, daripada kebaikan (hasanah) yang menyebabkanmu ‘ujub (berbangga diri).

    Ada dua poin dalam kalimat mutiara tersebut. Pertama, perbuatan tercela (selain dosa besar), tetapi membuat sang pelaku gundah, tidak tenang, serta menyesal, dapat menjadi sugesti untuk bertobat. Kedua, perbuatan terpuji, tetapi menyebabkan sang pelaku menjadi sombong. Menurut sepupu Nabi SAW tersebut, ”Yang pertama lebih baik daripada kedua.”

    ‘Ujub adalah sifat terlalu membanggakan diri, sehingga individu lain dipandang rendah, lemah, dan buruk. Seperti perkataan iblis, ”Saya lebih baik dari Adam, Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Al-A’raf [7]: 12).

    ‘Ujub adalah penyakit jiwa dan hati, yang seringkali menjangkiti orang-orang yang dikaruniai harta melimpah, jabatan bergengsi, tubuh sempurna, ilmu luas, gelar tinggi, dan wajah rupawan. ‘Ujub juga bisa menjangkiti seseorang yang ilmu agamanya luas. Intinya, siapa pun bisa terserang ‘penyakit’ ini.

    Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Tiga perkara yang membuatmu hancur adalah kikir, mengikuti hawa nafsu, dan sifat membanggakan diri. ” Hujjatul Islam, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali mengatakan, ”Sifat sombong dan ‘ujub mampu menghapus segala bentuk keutamaan dan bisa merendahkan diri.” Sebanyak apa pun sedekah kita, bila dilakukan dengan ‘ujub, tidak akan bernilai di sisi Allah.

    Sesering apa pun ibadah kita, akan sia-sia, jika di dalam hati terdapat sejengkal ruang ‘ujub maka sia-sia apa yang telah kita lakukan. Hal ini makin menguatkan, segala yang dikaruniakan kepada kita, baik jabatan, harta, atau ilmu, adalah ujian. Barang siapa tetap rendah hati dengan segala keutamaan yang dimiliki, maka kedudukannya makin tinggi, baik di mata manusia maupun di sisi Allah. Tapi, bagi hamba yang ‘ujub, keutamaan tersebut menjadi kerendahan.

    Maka, tak berlebihan bila Ali menyebut lebih baik perbuatan tercela, tapi bisa menjadikan kita gundah dan bertobat. Rasa menyesal mendorong kita selalu menghindari cela. Dan memang begitu rendah, perbuatan terpuji, tapi berbuah kesombongan dan kecongkakan sehingga hati semakin ‘sakit’ dan susah ditembus oleh nasihat bijak. Na’udzu billahi min dzalika.

    ***

    Sumber: http://www.republika.co.id

     

     
  • erva kurniawan 1:21 am pada 9 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: menstruasi, Menstruation Machine, mesin menstruasi   

    Pria Bisa Merasakan Nyeri Haid dengan Menstruation Machine 

    London, Jika Anda pria yang penasaran ingin tahu rasa sakit wanita saat haid atau menstruasi, kini bisa mencobanya. Dengan Menstruation Machine, pria bisa mengetahui bagaimana rasanya sakit bulanan wanita itu.

    Menstruasi adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Biasanya, pada periode ini wanita mengalami dismenore atau nyeri haid bulanan.

    Dismenore biasanya mulai timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang.

    Dismenore sering disertai dengan nyeri perut, mulas, sakit kepala, mual, sembelit atau diare, demam, nyeri dan bengkak pada payudara dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah.

    Secara hormonal, menstruasi dan dismenore hanya dapat dirasakan oleh wanita. Tapi Hiromi Ozaki alias Sputniko (25 tahun), seniman Jepang-Inggris yang juga seorang programmer merancang sebuah perangkat yang memungkinkan pria bisa merasakan nyeri haid bulanan wanita.

    Ozaki yang kuliah di Fakultas Matematika dan Ilmu Komputer Imperial College, London, memberi nama perangkatnya dengan Menstruation Machine. Menstruation Machine ini merupakan proyek seni yang dikerjakan karena ketertarikan Ozaki dengan siklus bulanan yang hampir selalu dirasakan wanita.

    Dengan menampilkan fitur dari Royal College of Art’s Design Interactions, perangkat mesin ini dimaksudkan untuk membiarkan pria merasakan nyeri haid yang dirasakan wanita, meski alat ini juga dirancang untuk wanita.

    Dilansir dari CNetNews, Kamis (2/9/2010), perangkat mesin berwarna silver ini secara konseptual dikalungkan di pinggang seperti sabuk.

    Untuk meneteskan darah, perangkat ini dilengkapi dengan mekanisme blood dispensing, yang akan meneteskan sekitar 80 mililiter (2,7 ons) darah dari tangki yang menstimulasikan periode haid rata-rata lima hari.

    Perangkat ini juga menyediakan teknologi semacam iPad yang berfungsi untuk menghambat aliran darah.

    Selain itu, perangkat ini juga dilengkapi dengan elektroda stimulasi perut bawah (lower-abdomen-stimulating electrodes), yaitu mesin yang akan menstimulasi kram pada perut mirip dengan nyeri haid bulanan wanita.

    Menstruation Machine dapat dipakai oleh pria yang ingin merasa lebih dekat dengan wanita (misal ibu atau istrinya) dan pengalaman nyeri haid yang dirasakannya.

    Perangkat ini juga bisa digunakan oleh wanita yang sudah tidak lagi mengalami menstruasi, biasanya proses ini hanya menjadi ritual dan sebagai identitas gender.  (mer/ir)

    ***

    Merry Wahyuningsih – detikHealth

    health.detik.com/read/2010/09/02/130100/1433513/763/pria-bisa-merasakan-nyeri-haid-dengan-menstruation-machine?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:35 am pada 8 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sedekah Dikembalikan Kontan Berlipat

    Pada pagi yang biasanya mendung itu, Istriku berucap perlahan seolah takut membuatku marah. “Pak, antar ke pasar yuk, sudah habis persediaan di rumah, Ibu masih ada sedikit uang, biar Allah saja yang mencukupkan”

    Akhir-akhir ini memang aku sangat sensitif karena sedang tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan, sudah enam bulan dan entah sampai kapan. Sepanjang-jalan ke pasar kami tidak banyak berbicara. Istriku cukup memahami situasi kegalauanku sehingga tidak banyak bertanya. Bagaimana tidak galau 10 hari lagi adalah waktunya hutang- hutang pinjaman usaha ke Bank harus kami cicil kembali untuk pembayaran bulan ini dan luar biasa rekening bank sampai bisa bernilai nol karena dipotong pembayaran atomatis. Sementara pembayaran hasil usaha belum dibayar, sudah terlambat tujuh bulan dan entah kapan serta bagaimana terealisasinya. “Ya Allah lindungilah aku dan keluargaku dari tekanan hutang piutang” do’aku dalam hati.

    Seperti biasa di pasar kelompok basah tidak ada barang palsu, semua asli ciptaan Allah. Sayur, daging, ikan pasti sulit cari yang palsu, aduuh rasanya harus bersyukur masih mudah merasakan keaslian ciptaanNya. Tiada terasa sampailah ke pedagang beras dan Istriku berujar: “Pak, uang kita tidak cukup membeli beras, masih terlalu mahal, mudah-mudahan beras di rumah cukup untuk beberapa hari ke depan, kita pulang saja, cukup untuk hari ini”

    Tertegun dan sedih dalam hati “Ya Allah sampailah saatnya aku tidak sanggup membeli beras, percuma menggerutu hasil operasi pasar, mudahkanlah kami ya Allah”

    Seminggu setelah itu, usai sholat Subuh, aku teringat adik pengojeg yang memiliki 2 tanggungan sementara menanggung pula adik iparnya beserta 1 anak yatim masih harus membagi dua hasil ojegnya setiap hari dengan tetangganya. Terlintas pula tetangga tukang bangunan yang sedang tidak memiliki pekerjaan sementara Istrinya menjadi pembantu rumah tangga harian dengan 4 tanggungan anak. Mereka pasti lebih sulit dari aku.

    Menjelang waktu Dhuha, Istriku menelepon bank, mudah-mudahan sudah ada pembayaran, ternyata belum…dug seperti dipukul palu untuk kesekian kalinya. Istriku menangis karena merasa terdesak, kami hanya dapat melakukan Dhuha dan Istikharah saat itu. Setelah selesai tiba-tiba aku teringat bahwa masih ada jalan untuk membeli beras dibanding pengojeg dan tukang bangunan itu, dengan meminjam kembali ke Bank. Diawali sholat mutlak, kupanjatkan pada Allah bahwa aku tidak mau menganiaya diri sendiri dengan menambah hutang, aku punya sedikit keleluasaan berhutang, bila kubelikan 3 karung beras dan 2 karung ku sedekahkan pada pengojeg dan tukang bangunan untuk memudahkan mereka, ku harap hanya Allah saja yang memudahkan seluruh urusanku apapun bentuknya.

    Hari itu kami berhutang kembali, tidak lebih, hanya untuk 3 karung beras dengan niat 2 karung sedekah ikhlas karena Allah SWT. Sepulang dari pasar kami langsung ke rumah tetangga tukang bangunan, kami serahkan 1 karung saat Istrinya masih bekerja. Hanya ada 1 rasa saat itu, lega berbuat sesuatu yang diperlukan orang lain, mudah- mudahan mendatangkan kebaikan bagi semua. Keesokan malamnya dalam hujan setelah menempuh 1,5jam perjalanan, datang adik beserta istrinya yang ternyata sedang hamil 7 bulan untuk mengambil beras. Selama ini mereka menerima raskin 5Kg/Bln/Jiwa, kembali hanya ada 1 rasa saat itu, lega berbuat sesuatu yang diperlukan orang lain, mudah-mudahan mendatangkan kebaikan bagi semua.

    Hari ini adalah saatnya pembayaran cicilan pinjaman bank, Ya Allah Alhamdulillah dalam rekening sudah ada pembayaran hasil pekerjaan dan kami tidak perlu mencicil tapi karena ijin Allah dapat dilunasi semua. Kalau dibandingkan secara matematis maka beras sedekah itu dibayar kontan oleh Allah sebesar 300 kali lipat.

    Allah Maha Pengatur. Terlambat satu hari, denda dan bunga bank cukup menyakitkan. Lebih cepat satu hari, rasa bergantungnya pada Allah akan terasa lain dan tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Ternyata rejeki tidak hanya uang, tetapi momen, kesehatan, keselamatan, kejernihan hati dan fikiran, kenikmatan beribadah dan beramal dan masih banyak lagi… semua adalah rejeki.

    Bonus yang didapat karena Allah adalah membebaskan satu keluarga dari pinjaman rentenir dan memberikan satu keluarga lain sarana usaha. Maha Suci Allah, kami memiliki jalan lagi dari Allah untuk mengumpulkan harta bekal `pulang’ kami nanti. Ya betul-betul harta untuk bekal kami sendiri bukan untuk diwariskan. Sedangkan harta yang katanya milik kita, sebenarnya bukan harta kita tapi harta warisan ahli waris kita…Astagfirullah jangan sampai kita sibuk mengurus harta ahli waris kita sementara kita lupa `bekal pulang harta’ kita sendiri.

    “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan” (QS 2: 245)

    Oleh: Tabuat Ahusan

    ***

    Dari Sahabat

     

     
  • erva kurniawan 1:29 am pada 7 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: penyakit kuru   

    Kuru, Penyakit Langka Akibat Makan Otak Manusia

    Papua Nugini, Ketika orang dari Suku Fore di Papua Nugini (Papua New Guinea) meninggal tubuhnya akan dipotong-potong oleh keluarganya. Daging dari orang yang sudah meninggal ini sangat dihargai sebagai makanan untuk menghormatinya.

    Tapi bukan berarti suku Fore kanibal atau membunuh sesama manusia, tapi karena kebudayaan proses pemakaman suku Fore.

    Ketika orang Fore meninggal tubuhnya akan dipotong-potong oleh keluarga yang meninggal dari pihak ibu. Perempuan akan mengiris tangan dan kaki, otot strip dari tulang dan mengeluarkan otak serta organ internalnya.

    “Daging dari orang yang sudah meninggal ini sangat dihargai sebagai makanan sejak daging tersebut menyerupai lapisan lemak babi, sehingga masyarakat mengonsumsinya,” ujar Shirley Lindenbaum, salah seorang peneliti awal penyakit Kuru, seperti dikutip dari Healthmad, Kamis (23/12/2010).

    Rupanya dari sinilah penyakit langka ini berasal. Penyakit langka di dunia ini akibat mengonsumsi otak manusia yang terinfeksi, yang dinamakan penyakit Kuru.

    Penyakit aneh ini biasanya dimulai dengan kehilangan koordinasi sehingga membuatnya goyah saat berjalan, lalu diikuti dengan gejala lainnya seperti timbul tremor, sakit kepala, nyeri sendi, kehilangan nafsu makan serta perubahan suasana hati yang parah.

    Perubahan suasana hati yang parah ini seperti rasa marah yang secara seketika berubah menjadi serangan tawa yang menakutkan. Tawa seram dan mengganggu ini mendorong orang-orang Fore menyebutnya sebagai penyakit aneh Kuru.

    Dalam bahasa inggris arti Kuru secara kasar diterjemahkan sebagai The Sickness Laughing. Sebagian besar orang suku mengira ia menderita penyakit mental atau disangka mengalami kutukan.

    Semakin hari semakin banyak suku Fore yang meninggal. Pada tahun 1957 hingga 5 tahun ke depan sekitar 1.000 orang meninggal akibat penyakit Kuru, sehingga menjadi endemik. Setelah melakukan banyak penelitian ditemukan orang yang menderita penyakit ini mirip dengan penyakit sapi gila atau Bovine spongiform encephalopathy.

    Tapi sapi gila ditularkan akibat mengonsumsi otak dan jaringan tulang belakang sapi yang sudah terinfeksi. Sedangkan untuk penyakit Kuru disebabkan oleh mengonsumsi jaringan otak manusia yang terinfeksi oleh prion (protein atau partikel yang menyerang). Kondisi ini disebabkan oleh kebiasaan suku Fore yang kanibal atau mengonsumsi daging manusia.

    Umumnya perempuan suku Fore memiliki kesempatan lebih besar tertular penyakit ini dibanding laki-laki. Hal ini karena perempuan biasanya mengonsumsi potongan dari jaringan otak, sedangkan laki-laki tidak.

    Selain itu ada beberapa alasan lain yang membuat perempuan lebih sering mengonsumsi otak, yaitu karena laki-laki mengambil potongan daging pilihan sehingga perempuan mau tidak mau harus mengonsumsi otak atau karena otak dianggap sebagai makanan yang lebih lezat sehingga dikonsumsi oleh perempuan yang menyiapkan makanan.

    Meski demikian perempuan memang memiliki kontak lebih lama dengan darah dan jaringan dari otak lainnya ketika ia menyiapkan makanan, sehingga memiliki risiko terinfeksi akibat luka terbuka yang dimilikinya.

    Ciri khas dari penyakit ini adalah adanya gumpalan molekul protein di dalam otak. Masa inkubasi dari penyakit ini panjang, sehingga dibutuhkan waktu beberapa tahun setelah infeksi awal hingga timbulnya gejala. Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini, dan salah satu cara untuk mencegahnya adalah menghentikan praktik kanibalisme.

    Karenanya sebuah kampanye mendidik skala besar dilakukan untuk memberantas penyakit aneh ini serta memberikan tindakan keras terhadap kebiasaan mengonsumsi anggota tubuh suku Fore yang sudah meninggal. Saat ini penyakit Kuru dianggap sudah benar-benar punah. (ver/ir)

    ***

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    http://www.detikhealth.com/read/2010/12/23/145846/1531799/763/kuru-penyakit-langka-akibat-makan-otak-manusia?l991101755

     
    • Wawan setiawansyah 1:36 pm pada 12 Maret 2011 Permalink

      Tu orang bego bnget apa emang engk ada agama di sana..Daging manusia haram..Untk d makan..Tau..Sadis…Banget..

    • aiko 6:43 pm pada 15 November 2011 Permalink

      atas saya: baca lagi dari atas. emang nggak ada agamanya, orang suku Papua Nugini terpencil gitu. semoga mereka diberi hidayah deh :)

  • erva kurniawan 1:24 am pada 6 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: manfaat wudhu   

    Manfaat Wudhu

    ”Sungguh ummat-Ku akan diseru pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhunya.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Selain memiliki banyak keutamaan, wudhu ternyata sangat bermanfaat terhadap kesehatan. Dr Ahmad Syauqy Ibrahim, peneliti bidang penderita penyakit dalam dan penyakit jantung di London mengatakan, ”Para Pakar sampai pada kesimpulan mencelupkan anggota tubuh ke dalam air akan mengembalikan tubuh yang lemah menjadi kuat, mengurangi kekejangan pada syaraf dan otot, menormalkan detak jantung, kecemasan, dan insomnia (susah tidur).”

    Dalam buku Al-I’jaaz Al-Ilmiy fii Al-Islam wa Al-Sunnah Al-Nabawiyah dijelaskan, ilmu kontemporer menetapkan setelah melalui eksperimen panjang, ternyata orang yang selalu berwudhu mayoritas hidung mereka lebih bersih, tidak terdapat berbagai mikroba.

    Rongga hidung bisa mengantarkan berbagai penyakit. Dari hidung, kuman masuk ke tenggorokan dan terjadilah berbagai radang dan penyakit. Apalagi jika sampai masuk ke dalam aliran darah. Barangkali inilah hikmah dianjurkannya istinsyaaq (memasukkan air ke dalam hidung) sebanyak tiga kali kemudian menyemburkannya setiap kali wudhu.

    Ada pun berkumur-kumur dimaksudkan untuk menjaga kebersihan mulut dan kerongkongan dari peradangan dan pembusukan pada gusi. Berkumur menjaga gigi dari sisa-sisa makanan yang menempel. Sementara membasuh wajah dan kedua tangan sampai siku, serta kedua kaki memberi manfaat menghilangkan debu-debu dan berbagai bakteri. Apalagi dengan membersihkan badan dari keringat dan kotoran lainnya yang keluar melalui kulit. Dan juga, sudah terbukti secara ilmiah penyakit tidak akan menyerang kulit manusia kecuali apabila kadar kebersihan kulitnya rendah.

    Dari segi rohani, wudhu menggugurkan ‘daki-daki’ yang menutupi pahala. Bersama air wudhu, dosa-dosa kita dibersihkan, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ”Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu, tatkala ia membasuh wajahnya keluarlah dari wajahnya seluruh dosa yang dilakukan matanya bersamaan dengan air itu atau dengan tetesan terakhirnya. Apabila dia membasuh dua tangannya maka akan keluar seluruh dosa yang dilakukan tangannya bersamaan dengan air itu atau tetesan air yang terakhir. Apabila dia membasuh dua kakinya maka keluarlah seluruh dosa yang telah dilangkahkan oleh kakinya bersama air atau tetesannya yang terakhir sehingga dia selesai wudhu dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.” (HR Muslim)

    Maka, berbahagialah orang-orang yang selalu menjaga wudhunya dan menjaga hatinya tetap suci.

    ***

    (M Mahbubi Ali )

     
  • erva kurniawan 1:25 am pada 5 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    ‘Pembalasan’ di Stasiun Kereta Api

    Oleh Denny Hermawan

    **

    Senin, 12 Maret 2007, Dukuh-Atas Hari itu, sama seperti hari-hari biasanya. Kepulangan ku menuju rumah di bilangan bintaro, tangerang, terpaksa tertunda. Hal ini disebabkan oleh terlambatnya kereta api ekspres jurusan serpong, hingga aku pun bergumam, “Ah.dasar Indonesia. Mana ada sih transportasi yang on-time.”

    18. 45 WIB Tiga puluh delapan menit berlalu sudah dari yang seharusnya kereta api itu telah sampai di tempatku berdiri saat ini. Pemandangan stasiun kali itu terllihat lebih lengang, tidak ‘sesumpek’ biasanya. Ada kemungkinan sebagian besar penumpang telah terangkut di pemberangkatan sebelumnya, pukul 18. 05. “Yah..gak apa-lah. Telat-telat juga, yang penting aku berpeluang mendapat duduk di kereta ekspres pemberangkatan terakhir itu… “, dan aku pun menunggu kembali.

    18. 48 WIB “Duhh… Lapar”, tiba-tiba saja desakan organ-organ lambungku yang sudah setengah hari ini belum mendapat suplai makanan, memaksa mataku untuk memandang ke sekeliling stasiun, mencari tempat-tempat yang menyediakan penganan ringan, “Hmm.uangku terbatas nih. Beli apa ya?” Kebingunganku di dalam memilih makanan saat itu sebenarnya didasari oleh konsep hidupku. Akhir-akhir ini aku sedang berusaha untuk disiplin di dalam berbagai hal, termasuk masalah pengeluaran uang. Budget-ku pada hari itu tinggal-lah ongkos untuk pulang ‘plus’ seribu-dua ribu yang dapat aku gunakan untuk jajan cemilan (walau aku juga membawa uang lebih untuk keperluanyanglain, tapi aku berusaha untuk tidak menggunakannya). Karenanya, aku mencoba mencari makanan dengan harga yang sesuai.

    “Eh ada keripik pedas tuh!”, sebuah cemilan cekung berwarna merah yang terpampang di sudut kiri atas etalase sebuah warung kecil, telah mencuri hatiku untuk mendekatinya. Aku yakin bahwa harganya pastilah tidak terlampau mahal, karena dari ukuran bungkusannya pun juga kecil. Dan benar saja, dengan berbekal uang Rp 1500; sekantong kecil keripik pedas ‘plus’ segelas air mineral telah berpindah ke tanganku. Maka tak lama kemudian, sekeping-dua keping keripik pedas dan beberapa seruputan air mineral perlahan mulai masuk ke dalam mulutku, berayun dan berhimpitan didalamnya disebabkan oleh gencarnya gigi dan lidah-ku mencengkramnya. “Ahh.alhamdulillah.nikmatnya “

    18. 50 WIB “Kepada para penumpang kereta api ekspres jurusan serpong, di informasikan bahwa kereta api masih terhambat di stasiun manggarai. Kereta sedang dalam perbaikan AC. Kami mohon maaf atas keterlambatan ini dan kepada para penumpang diharap untuk bersabar.” Sebuah pengumuman keras melalui speaker stasiun mengusik keasyikan prosesi ‘ngemil’ yang sedang kujalani. Ya, sekali lagi aku harus sabar menunggu. Karena untuk berpindah ke jenis kendaraan lain aku harus menggunakan jalur bis Blok M – Bintaro yang justru akan memakan waktu lebih lama lagi, sekitar 2x waktu perjalanan menggunakan kereta api.

    Maka aku pun kembali melanjutkan aktivitas ngemilku, sambil sesekali menengok kekiri dan kekanan, sekedar melihat suasana sekeliling. “Tetap sepi”, bisikku pada diri sendiri. “Hmm asyik juga untuk merenung nih, sambil….”, belum selesai ku keluarkan bisikan-bisikan kecilku, aku tertegun pada sebuah sosok yang berada tidak jauh dari posisiku. Seorang remaja tanggung dengan usia sekitar 10-12 tahun, terduduk dan tertunduk sambil memainkan kaki tanpa alasnya di atas aspal statisiun.

    Aku bukannya tidak tahu sama sekali akan kehadirannya. Sebelum terduduk di kursi panjang tempatku bersantai saat itupun, aku sudah tahu bahwa ada orang di sampingku. Namun yang aku kritisi ialah aku tidak memperhatikan dengan jelas siapa orang itu, dan lagi aku hanya asyik makan dan minum sendiri sementara disebelahku ada orang lain, yang bila kutebak, keadaanya tidak lebih baik dariku (saat itu). Ia adalah seorang penyapu kereta, ini terlihat dari tangan kirinya yang memegang sapu bertangkai rendah.

    Dengan sehelai baju tipis dan celana pendek selutut yang melekat di tubuhnya, ia terlihat kuyu dan agak lemas. Barangkali pada sore itu ia belum makan dan ini sangat mungkin sekali. Baginya, barangkali penghasilan yang didapat masih lebih baik ditabung untuk keperluan di rumahnya ketimbang membeli makanan, yang sepertinya ia masih dapat menahan rasa laparnya

    Dan akupun bermaksud mengambil kembali penganan, persis seperti apa yang kubeli sebelumnya di warung yang tidak jauh posisi dudukku saat itu, untuk diberikan kepada pemuda tanggung itu. Namun sebelum aku bertindak, sebuah keraguan datang menghampiri, “Wah.kalau aku membelikan untuknya, aku harus keluar uang lagi dong. Seribu lima ratus memang bukan uang yang terlalu besar sih. Tapi, aku kan sudah janji untuk disiplin dengan budget harian ku. Hmm.bagaimana ya?”

    Aku sempat bingung untuk melangkah, apakah memilih disiplin terhadap budgetku, atau memberi kepada tukang sapu kereta itu. Namun pada akhirnya aku tak kuasa menahan gerak tangan kananku, yang sejurus kemudian telah memegang sekantong keripik pedas dan air mineral, persis seperti apa yang kubeli beberapa saat yang lalu. “Hmm, gak apa deh deh. Toh gak setiap saat aku mendapatkan kesempatan memberi ‘sesuatu’ pada orang-orang sepertinya, walau konsekuensinya sih, aku harus mengurangi budgetku hari esok dikarenakan telah digunakan hari ini. Bismillah… “

    Ucapan basmalah mengiringi perpindahan ‘snack’ yang kubeli untuk keduakalinya itu, menuju tadahan tangannya. Persis seperti yang kukira, ia tidak menolak dan langsung menerima pemberianku. Setelah mengucapkan terima kasih, ia memulai untuk mencoba menikmati rezeki Allah sore itu. Tangan kanan dan mulutnya sibuk berkoordinasi antara mengambil dan menyantap penganan keripik dan air mineral itu, sambil sesekali tangannya menyeka keringat yang mulai mengucur membasuhi kening dan mukanya. “Ahh, Subhanallah. Jadikan makan itu barakah baginya ya Allah… “, rasa haru dan suka menyeruak di hatiku, seiring datangnya kesejukan di jiwa tatkala melihat pemandangan yang jarang aku dapatkan itu, “Ya Allah…ia begitu menikmatinya”

    18. 52 WIB “Diberitahukan kepada para calon penumpang kereta api serpong ekspres, anda dipersilahkan menukar karcis kereta ekspres anda dengan karcis kereta ekonomi. Silahkan naik ke loket 1.” Sekali lagi, pengumuman dari moncong pengeras suara stasiun kereta api menghardik aktivitas menungguku, namun kali ini dengan sedikit kernyitan didahi, “Apa… Apa maksud pengumuman tadi? Apakah pemberangkatan di batalkan, atau ada pergantian jenis kereta? Tapi kalau harus naik kereta ekonomi, aku..aku..” Rasa penasaran yang masih berkecamuk sengaja kubiarkan sembari mencari info diloket 1 yang dimaksud. Mengenai kereta ekonomi, setahuku memang ada 1 pemberangkatan kereta ekonomi jurusan serpong, namun itupun masih harus menunggu sekitar 1 jam lagi (pemberangkatan pukul 19. 45, dan itupun belum terhitung waktu telatnya). Selain itu, perjalanan menggunakan kereta ekonomi dimalam hari memang menjadi pertimbangan khusus bagiku, lebih pada hal ‘keamanan’. Maka dari itu, aku lebih memilih menggunakan kereta ekspres walau tarifnya lebih mahal

    “Maaf pak, ini bagaimana jadinya? Kami harus berganti kereta ekonomi?” Pertanyaan inti langsung kuungkapkan kepada petugas loket 1 begitu aku tiba di sana “Oh nggak, bukan begitu. Kami mohon maaf sebelumnya karena kereta ekspres jurusan serpong, ACnya belum bisa diperbaiki. Namun begitu, kereta tersebut masih bisa dijalankan, walau tanpa fasilitas AC. Jadi bapak dan penumpang lainnya kami kenakan tarif kereta ekonomi untuk pemberangkatan kali ini” “Hah, benarkah ini?!”, keterkejutan di hatiku menggumpal begitu saja tatkala mendengar kabar yang baru saja masuk ke telingaku. Aku memiliki alasan untuk bersikap demikian. Pertama, ini adalah pertamakalinya aku bisa menaiki kereta ekspres dengan tarif ekonomi, walau tanpa AC. Dan bagiku itu tidak terlalu bermasalah, mengingat perjalanan menuju rumahku hanya memakan waktu sekitar 40-60 menit. Dan yang kedua, ini yang menjadi ketakjubanku, aku UNTUNG! kalau dihitung dari angka, perubahan tarif kereta ekspres menuju ekonomi menghasilkan selisih Rp 6.500; dan apabila dikurangi pengeluaranku untuk pemuda tukang sapu tadi (Rp 1.500;) maka aku masih mendapatkan Rp 5.000; Itu baru dari segi angka. Dari sisi waktu, aku masih lebih beruntung karena tidak harus berganti tujuan menuju blok M, yang pastinya memakan waktu lebih lama lagi.

    “Subhanallah… Allahu Akbar… “, aku kembali tertegun membayangkan semua ini, sembari berusaha mempercayai apa yang baru saja terjadi. “Ya Allah pembalasanMu Engkau realisasikan saat itu juga. Padahal, sejujurnya aku tak pernah berpikir sampai sejauh itu. Aku tak pernah mengira bahwa uang yang ku keluarkan tadi, yang kugunakan untuk makan kecil pemuda itu, yang aku tidak berharap apa-apa darinya, Engkau balas berlipat-lipat, dan terjadi saat itu juga… Tanpa pernah aku menduganya. Terima kasih ya Allah… Alhamdulillah hirabbil ‘alamiin.”

    Malam itu menjadi malam yang berkesan dan bermakna bagiku. Semoga, kesan dan makna itu juga dapat melekat & mengilhami kepada para pembaca, untuk tetap percaya kepada janji-janji yang telah Ia berikan dan istiqomah di jalanNya. Amiin…

    “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkah hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan” (QS 2: 245)

    ***

    Eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 1:01 am pada 4 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: berhenti merokok   

    Cara Berhenti Merokok yang Tidak Biasa 

    Berhenti merokok memang tak mudah, apalagi jika Anda adalah perokok berat. Tapi bagi orang yang sudah menyadari bahaya merokok, segala cara akan dilakukan untuk menghentikan kebiasaannya, meskipun dengan cara yang tidak biasa.

    Dilansir dari WebMD, Senin (30/8/2010), berikut beberapa cara aneh yang dilakukan perokok untuk dapat berhenti merokok:

    Cinta ibu

    Salah satu orang yang melakukannya adalah Sandi Sedberry, seorang ibu usia 44 tahun asal Rock Hill, SC. Sedberry merokok selama 26 tahun. November 2009, ketika ia menemukan bahwa putranya Ricky (19 tahun) mempunyai kebiasaan merokok, ia termotivasi untuk berubah.

    “Kami membuat perjanjian bersama untuk berubah. Tak ada paksaan, tak ada hipnotis, saya hanya berusaha untuk memastikan anak saya tidak memiliki kebiasaan buruk juga,” ujar Sandi Sedberry.

    Sedberry membeli permen karet dan ia berusaha untuk tidak merokok selama 2 bulan. Meski sulit, tapi ia berhasil. Ricky pun berhasil berhenti merokok.

    Tantangan di tempat kerja

    Melissa Gold, wanita usia 34 tahun asal Washington, berhenti merokok pada tahun 2001. Ia bisa berhenti karena bisa menaklukkan tantangan dari bosnya.

    Tantangannya adalah perokok yang tidak merokok akan mendapat 5 dolar (sekitar Rp 45 ribu) per hari, yaitu seharga sebungkus rokok di Washington. Uang itu dibayarkan di luar uang gaji bulanan dan disimpan dalam dana berhenti merokok selama 6 bulan.

    Bos di tempat kerja Gold juga membayar apapun yang karyawannya butuhkan untuk dapat berhenti merokok, seperti biaya akupuntur rokok atau membeli permen karet penghilang kecanduan nikotin.

    Vitamin dan mantra

    Susan Brannan, wanita 33 tahun asal Rochester, berhenti merokok dengan menggunakan permen isap vitamin C dan membaca mantra yang ditemukannya secara online (NOPE- Not One Puff Ever).

    Brannan pernah mencoba berhenti merokok dengan pelega tenggorokan, tetapi ia tidak menyukai rasanya. Ia lalu berpikir menggunakan permen karet, tetapi khawatir dengan perawatan giginya.

    Akhirnya, ia memutuskan menggunakan permen isap vitamin C karena ia menyukai rasa jeruk. Selain itu, mantra-mantra digunakannya untuk menyemangati diri sendiri agar bisa tergoda dari godaan rokok.

    Mencari hobi baru

    Beberapa orang perokok mungkin telah mencoba mengganti rokok dengan kegiatan lain. Reeve McNamara dari Atlanta menghabiskan bertahun-tahun untuk mencoba berhenti dan menemukan satu-satunya cara yang berhasil adalah lari. McNamara tak lagi merokok, ia bahkan sekarang kecanduan untuk melakukan olahraga lagi.

    “Orang-orang selalu bertanya padaku, seberapa jauh saya akan berlari. Jawabannya adalah sampai saya tidak ingin merokok, dimulai dari hanya beberapa kilometer,” ujar McNamara.

    Cara militer

    Robert Brown, pria usia 46 tahun, direktur website How Quit, membuat model program penghentian merokok setelah ia pensiun dari marinir.

    “Saya telah menemukan bahwa berhenti merokok tidak terlalu sulit ketika Anda percaya Anda bisa melakukannya. Sebagai mantan marinir, saya memiliki kepercayaan diri dan tahu bahwa saya bisa melakukannya sendiri. Tetapi ada ribuan, bahkan jutaan perokok yang bukan mantan militer dan membutuhkan bantuan untuk berhenti,” ujar Brown.

    Brown mengkombinasikan teknik efektif dengan strategi boot-camp (tempat latihan calon pelaut) untuk merancang program yang dapat diikuti orang lain dengan sukses.

    Prinsipnya seperti membuang semua peralatan merokok, menggunakan sistem buddy (memperbanyak sahabat), menyibukkan diri dengan aktivitas dan latihan serta mengandalkan semangat tim untuk dapat berhenti merokok.

    ***

    health.detik.com/read/2010/08/30/163016/1431319/763/cara-berhenti-merokok-yang-tidak-biasa?l993306763

     
    • Artikel Tentang Kesehatan 12:27 am pada 27 Juli 2011 Permalink

      Wah artikel yang sangat bermanfaat, saya perokok berat bak/mas (soalnya namanya bingung erva =cewek, kurniawan = cowok) sehari bisa 2-4 bungkus, pernah nyoba berhenti namun selalu gagal, mungkin niat kali ya, yang belum mantaPPP. Kalau ada waktu mampir ke blog saya ya, baru 3 hari bikin blog tentang kesehatan!

  • erva kurniawan 1:54 am pada 3 March 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Renungan: Penerbangan Gratis Akherat 

    RENUNGKAN MAKNANYA

    Orang cerdas adalah orang yang mengingat akan kematian, berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga dapat menjadikan hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan tinggal menunggu waktunya, wassalam

    INFORMASI PENERBANGAN GRATIS AL-JENAZAH AIRLINES, LAYANAN PENUH 24 JAM

    Bila kita akan “berangkat” dari alam ini ia ibarat penerbangan ke sebuah negara. Dimana informasi tentangnya tidak terdapat dalam brosur penerbangan, tetapi melalui Al-Qur’an dan Al-Hadist. Dimana penerbangan bukannya dengan Garuda Airlines, Singapore Airlines, atau American Airlines, tetapi Al-Jenazah Airlines. Dimana bekal kita bukan lagi tas seberat 23Kg, tetapi amalan yang tak lebih dan tak kurang. Dimana bajunya bukan lagi Pierre Cardin, atau setaraf dengannya, akan tetapi kain kafan putih. Dimana pewanginya bukan Channel atau Polo, tetapi air biasa yang suci. Dimana passport kita bukan Indonesia, British atau American, tetapi Al-Islam. Dimana visa kita bukan lagi sekedar 6 bulan, tetapi ‘Laailaahaillallah’ Dimana pelayannya bukan pramugari jelita, tetapi Izrail dan lain-lain. Dimana servisnya bukan lagi kelas business atau ekonomi, tetapi sekedar kain yang diwangikan. Dimana tujuan mendarat bukannya Bandara Cengkareng, Heathrow Airport atau Jeddah International, tetapi tanah pekuburan. Dimana ruang menunggunya bukan lagi ruangan ber AC dan permadani, tetapi ruang 2×1 meter, gelap gulita. Dimana pegawai imigrasi adalah Munkar dan Nakir, mereka hanya memeriksa apakah kita layak ke tujuan yang diidamkan. Dimana tidak perlu satpam dan alat detector. Dimana lapangan terbang transitnya adalah Al Barzah. Dimana tujuan terakhir apakah Syurga yang mengalir sungai di bawahnya atau Neraka Jahannam.

    Penerbangan ini tidak akan dibajak atau dibom, karena itu tak perlu bimbang. Sajian tidak akan disediakan, oleh karena itu tidak perlu merisaukan masalah alergi atau halal haram makanan. Jangan risaukan cancel pembatalan, penerbangan ini senantiasa tepat waktunya, ia berangkat dan tiba tepat pada masanya. Jangan pikirkan tentang hiburan dalam penerbangan, anda telah hilang selera bersuka ria. Jangan bimbang tentang pembelian tiket, tiketnya telah siap di booking sejak anda ditiupkan ruh di dalam rahim ibu.

    YA!BERITA BAIK!! Jangan bimbangkan siapa yang duduk di sebelah anda. Anda adalah satu-satunya penumpang penerbangan ini. Oleh karena itu bergembiralah selagi bisa! Dan sekiranya anda bisa! Hanya ingat! Penerbangan ini datang tanpa ‘Pemberitahuan’ . Cuma perlu ingat!! Nama anda telah tertulis dalam tiket untuk Penerbangan. … Saat penerbangan anda berangkat… tanpa doa Bismillahi Tawakkaltu ‘Alallah, atau ungkapan selamat jalan. Tetapi Inalillahi Wa Inna ilaihi Rajiuun…. Anda berangkat pulang ke Rahmatullah. Mati.

    ADAKAH KITA TELAH SIAP UNTUK BERANGKAT? ‘Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat kematian. Karena dengan kecerdasannya dia akan mempersiapkan segala perbekalan untuk menghadapinya. ‘

    ASTAGHFIRULLAH 3X, semoga ALLAH SWT mengampuni kita beserta keluarga… Amiin WALLAHU A’LAM

    Catatan: Penerbangan ini berlaku untuk segala umur, tanpa kecuali, maka perbekalan lebih baik dipersiapkan sejak dini, sangat tidak bijak dan tidak cerdas bagi yang menunda-nunda mempersiapkan perbekalannya. SUARA YANG DIDENGAR MAYAT Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga hal yaitu:

    1. Keluarga
    2. Hartanya
    3. Amalnya

    Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal Bersamanya yaitu;

    1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali
    2. Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

    Maka ketika roh meninggalkan jasad, terdengarlah suara dari langit memekik, “Wahai Fulan anak si Fulan. Apakah kau yang telah meninggalkan dunia, atau dunia yang meninggalkanmu apakah kau yang telah menumpuk harta kekayaan, atau kekayaan yang telah menumpukmu apakah kau yang telah menumpuk dunia, atau dunia yang telah menumpukmu apakah kau yang telah mengubur dunia, atau dunia yang telah menguburmu.”

    Ketika mayat tergeletak akan dimandikan, terdengar dari langit suara memekik, “Wahai Fulan anak si Fulan, mana badanmu yang dahulunya kuat, mengapa kini te rkulai lemah mana lisanmu yang dahulunya fasih, mengapa kini bungkam tak bersuara mana telingamu yang dahulunya mendengar, mengapa kini tuli dari seribu bahasa mana sahabat-sahabatmu yang dahulunya setia, mengapa kini raib tak bersuara”

    Ketika mayat siap dikafan, suara dari langit terdengar memekik,“Wahai Fulan anak si Fulan berbahagialah apabila kau bersahabat dengan ridha celakalah apabila kau bersahabat dengan murka allah wahai Fulan anak si Fulan, kini kau tengah berada dalam sebuah perjalanan nun jauh tanpa bekal kau telah keluar dari rumahmu dan tidak akan kembali selamanya kini kau di tengah safar pada sebuah tujuan yang penuh pertanyaan.”

    Ketika mayat diusung, terdengar dari langit suara memekik, “Wahai Fulan anak si Fulan, berbahagialah apabila amalmu adalah kebajikan berbahagialah apabila matimu diawali tobat berbahagialah apabila hidupmu penuh dengan taat.”

    Ketika mayat siap dishalatkan, terdengar dari langit suara memekik, “Wahai Fulan anak si Fulan, setiap pekerjaan yang kau lakukan kelak kau lihat hasilnya di akhirat apabila baik maka kau akan melihatnya baik apabila buruk, kau akan melihatnya buruk.”

    Ketika mayat dibaringkan di liang lahat, terdengar suara memekik dari langit, “Wahai Fulan anak si Fulan, apa yang telah kau siapkan dari rumahmu yang luas di dunia untuk kehidupan yang penuh gelap gulita di sini wahai Fulan anak si Fulan, dahulu kau tertawa, kini dalam perutku kau menangis dahulu kau bergembira,kini dalam perutku kau berduka dahulu kau bertutur kata, kini dalam perutku kau bungkam seribu bahasa.”

    Ketika semua manusia meninggalkannya sendirian, Allah berkata kepadanya, “Wahai hamba-ku, kini kau tinggal seorang diri tiada teman dan tiada kerabat di sebuah tempat kecil, sempit dan gelap, mereka pergi meninggalkanmu seorang diri padahal, karena mereka kau pernah langgarperintahku hari ini, akan kutunjukan kepadamu kasih sayang-ku yang akan takjub seisi alam aku akan menyayangimu lebih dari kasih sayang seorang ibu pada anaknya”.

    Kepada jiwa-jiwa yang tenang Allah berfirman, “Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-nya maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba- ku dan masuklah ke dalam jannah-ku”

    Anda Ingin Beramal Shaleh? Tolong Kirimkan Kepada Rekan-Rekan Muslim Lainnya Yang Anda Kenal.!!! Semoga Kematian akan menjadi pelajaran yang berharga bagi kita dalam menjalani hidup ini.

    Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut) dan dalam sebuah hadithnya yang lain, beliau bersabda “Wakafa bi almauti wa’idha”, artinya, “Cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagimu!”

    Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amiin

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:25 am pada 2 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Jujur

    **

    Siang ini tadi yayangku tiba-tiba nelpon.

    “Makan siang yuk”, ajaknya. “Oke”, jawabku.

    So she picked me up at the lobby of Jakarta Stock Exchange building. Selepas SCBD, kami masih belum ada ide mau makan dimana. Ide ke soto pak Sadi segera terpatahkan begitu melihat bahwa yang parkir sudah sampai sebrang-sebrang.

    Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado di Kertanegara. Bisa makan di mobil soalnya. Sampai di sana masih sepi. Baru ada beberapa mobil. Kami masih bisa milih parkir yang enak. Mungkin karena masih pada jumatan. Begitu parkir, seperti biasa, joki gado-gado sudah menanyakan mau makan apa, minum apa. Kami pesan dua porsi gado-gado + tehbotol.

    Sambil menunggu pesanan, kami pun ngobrol. So, ketika tiba2 ada seorang pemuda lusuh nongol di jendela mobil kami, kami agak kaget.

    “Semir om?”, tanyanya.

    Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya terakhir aku nyemir sepatuku sendiri? Aku sendiri lupa. Saking lamanya. Maklum, aku kan karyawan sok sibuk… Tanpa sadar tanganku membuka sepatu dan memberikannya pada dia. Dia menerimanya lalu membawanya ke emperan sebuah rumah. Tempat yang terlihat dari tempat kami parkir. Tempat yang cukup teduh. Mungkin supaya nyemirnya nyaman.

    Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol. Sambil memperhatikan pemuda tadi nyemir sepatuku. Pembicaraan pun bergeser ke pemuda itu.

    Umur sekitar 20-an. Terlalu tua untuk jadi penyemir sepatu. Biasanya pemuda umur segitu kalo tidak jadi tukang parkir or jadi kernet, ya jadi pak ogah.

    Pandangan matanya kosong. Absent minded. Seperti orang sedih. Seperti ada yang dipikirkan. Tangannya seperti menyemir secara otomatis. Kadang2 matanya melayang ke arah mobil-mobil yang hendak parkir, (sudah mulai ramai). Lalu pandangannya kembali kosong.

    Perbincangan kami mulai ngelantur kemana-mana. Tentang kira2 umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa enggak, kenapa dia jadi penyemir dll. Kami masih makan saat dia selesai menyemir. Dia menyerahkan sepatunya padaku. Belum lagi dia kubayar, dia bergerak menjauh, menuju mobil-mobil yang parkir sesudah kami.

    Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah mobil. Menawarkan jasa. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam kesedihan. Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi dengan gontai ke mobil lainnya. Menawarkan lagi. Ditolak lagi. Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya kami juga merasakan penolakan itu. Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia rasakan.

    Tiba-tiba kami tersadar. Konyol ah. Who said life would be fair anyway. Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus menyemir ? hihihi… Perbincangan pun bergeser ke topik lain.

    Di kejauhan aku masih bisa melihat pemuda tadi, masih menenteng kotak semirnya di satu tangan, mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya. Bahkan, selain penolakan, di beberapa mobil, dia juga mendapat pandangan curiga. Akhirnya dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas kotak semirnya. Tertunduk lesu…

    Kami pun selesai makan. Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar. Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku. Uang sisa parkir. Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahuku jasa nyemir biasanya 2 ribu rp.

    Dia berkata kalem “Kebanyakan om. Seribu aja”.

    BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku. It-just-does-not-compute-with-my-logic! Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan hak-nya.

    Aku masih terbengong-bengong waktu nerima uang seribu rp yang dia kembalikan. Se-ri-bu Ru-pi-ah. Bisa buat apa sih sekarang? But, dia merasa cukup dibayar segitu.

    Pikiranku tiba-tiba melayang. Tiba-tiba aku merasa ngeri. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Betapa aku masih suka merasa kurang dengan gajiku. Padahal keadaanku sudah -jauh- lebih baik dari dia.

    Allah sudah sedemikian baik bagiku, tapi perilaku-ku belum seberapa dibandingkan dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya, masih mau memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan.

    Siang ini aku merasa mendapat pelajaran berharga. Siang ini aku seperti diingatkan. Bahwa kejujuran itu langka.

    Sudahkah kita berani jujur? Kepada diri sendiri, kepada orang lain, dan kepada Allah?

    ***

    Dari Sahabat

     
    • nurvhie 3:23 pm pada 2 Maret 2011 Permalink

      true story yang begitu menggugah nurani.
      thx atas sharingnya

  • erva kurniawan 1:15 am pada 1 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Sedekah Yang Pahalanya Terus Mengalir

    Dari Abu Hurairah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda : “Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrad).

    Berikut contoh konkrit, sadaqah (amal) jariah, yang pahalanya terus mengalir walaupun si pemberi sadaqah telah wafat :

    SADAQAH JARIAH – KEBAIKAN YANG TAK BERAKHIR AL SADAQAT AL JARIYAH – THE ACTIONS WHICH OUTLIVES YOU !

    1. Berikan Al-Quran pada seseorang, setiap saat Al-Quran tersebut dibaca, anda mendapatkan kebaikan. Give Quran to someone and each time they read from it, you will gain hasanaat.
    2. Ajarkan seseorang sebuah do’a. Pada setiap bacaan do’a itu, anda mendapatkan kebaikan. Teach someone to recite a dua. With each recitation, you will gain hasanaat.
    3. Sumbangkan kursi roda ke RS dan setiap orang sakit menggunakannya, anda mendapatkan kebaikan. Donate a wheel chair to a hospital and each time a sick person uses it, you will gain hasanaat.
    4. Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau hewan berlindung dibawahnya atau makan buahnya, anda dapat kebaikan. Plant a tree. Each time any person or an animal sits under its shade or eats from the tree, you will gain hasanaat.
    5. Tempatkan pendingin air di tempat umum. Place a water cooler in a public place.
    6. Berbagi bacaan yang membangun dengan seseorang. Share constructive reading material with someone.
    7. Libatkan diri dalam pembangunan mesjid. Participate in the building of a mosque.
    8. Berbagi CD Quran atau Do’a. Share a dua or Quran CD.
    9. Bantulah pendidikan seorang anak. Help in educating a child.
    10. Bagikan pengetahuan ini dengan orang lain. Jika seseorang menjalankan salah satu dari hal diatas, Anda dapat kebaikan sampai hari Qiamat. Share this with someone. If one person applies any of the above you will receive your hasanaat until the Day of Judgment.

    Jadilah dai “sejuta artikel” dengan meneruskan artikel ini kepada saudara-saudara kita sesama muslim yang barangkali belum mengetahuinya, sehingga kita tidak dilaknat Allah dan seluruh mahluk karena tidak menyampaikan (menyembunyikan) apa yang telah kita ketahui, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran surah Al-Baqarah Ayat 159 : “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk hidayat, sesudah Kami terangkannya kepada manusia di dalam Kitab Suci, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk”.

    Dari Abdullah bin ‘Amru ra, RasulAllah S.A.W bersabda: “Sampaikanlah pesanku walaupun hanya satu ayat”.

    Semoga Allah Ta’ala membalas ‘amal Ibadah kita.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • kahmadz 2:55 pm pada 19 November 2011 Permalink

      Mohon izin gunakan photo diatas. Terima kasih.

c
Compose new post
j
Postingan berikutnya/Komentar berikutnya
k
Postingan sebelumnya/Komentar sebelumnya
r
Balas
e
Edit
o
Tampilkan/Sembunyikan komentar
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 640 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: