Updates from Februari, 2011 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:42 am on 28 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: Lawan Penuaan Dini Dengan Anggur!, manfaat anggur, Penuaan Dini   

    Lawan Penuaan Dini Dengan Anggur! 

    Kandungan antioksidan yang tinggi pada anggur ampuh mencegah penuaan dini. Kandungan vitamin C juga bermanfaat untuk kulitnya.

    Untuk memanfaatkan kandungan tersebut pada anggur, Anda harus menjadikannya sebuah masker. Berikut bahan-bahan yang diperlukan dalam membuat masker anggur:

    • Anggur merah tanpa biji, kira-kira setangkup tangan, hancurkan anggur menggunakan blender.
    • 1 buah telur (bagian putihnya saja), kocok telur sampai berbusa.
    • 1 buah lemon yang sudah diperas.

    Campur menjadi satu semua bahan dalam sebuah wadah. Gunakan kuas untuk diaplikasikan pada wajah.

    Ratakan masker tersebut pada wajah, lalu diamkan sampai 20 menit. Basuh wajah dengan air dingin dan keringkan dengan handuk lembut.

    Setelah itu, pakailah pelembab wajah. Wajah akan terasa lebih segar dengan masker ini.

    ***

    http://www.wolipop.com/read/2010/08/29/140228/1430463/234/lawan-penuaan-dini-dengan-anggur?w992201835

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 27 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Tolak Bala dengan Sedekah

    Orang-orang yang beriman sangat sadar dengan kekuatan sedekah untuk menolak bala, kesulitan dan berbagai macam penyakit, sebagaimana sabda RasulAllah SAW, sbb :

    1. “Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah mendahului sedekah”.
    2. “Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah”.
    3. “Obatilah penyakitmu dengan sedekah”.

    Banyak dari kita yang sudah mengetahui dan memahami perihal anjuran bersedekah ini, namun persoalannya seringkali kita teramat susah untuk melakukannya karena kekhawatiran bahwa kita salah memberi, sebagai contoh kadang kita enggan memberi pengemis/pengamen yang kita temui dipinggir jalan dengan pemikiran bahwa mereka (pengemis/pengamen tsb) menjadikan meminta-minta sebagai profesinya, tidak mendidik, dll. Padahal sesungguhnya prasangka kita yang demikian adalah bisikan-bisikan setan laknatullah yang tidak rela melihat kita berbuat baik (bersedekah), sebaiknya mulai saat ini hendaknya kita hilangkan prasangka-prasangka yang demikian karena seharusnya sedekah itu kita niatkan sebagai bukti keimanan kita atas perintah Allah dan rasul-Nya yang menganjurkan umatnya untuk gemar bersedekah,

    Masalah apabila ternyata kemudian bahwa sedekah yang kita beri kepada pengemis/pengamen tadi tidak tepat sasaran, bukan lagi urusan kita, karena sedekah hakekatnya adalah ladang amal bagi hamba-hamba Allah yang bertakwa. Pengemis/pengamen/fakir miskin lainnya adalah ladang amal bagi orang yang berkecukupan, dapat kita bayangkan andaikata tidak ada lagi orang-orang tersebut, kepada siapa lagi kita dapat beramal (bersedekah)???

    Atau kalo kita termasuk orang yang tidak suka memberi sedekah (kepada pengemis/pengamen/fakir miskin) dengan berbagai alasan dan pertimbangan maka biasakanlah bersedekah dengan menyiapkan sejumlah uang sebelum sholat Jum’at dan memasukkan ke kotak-kotak amal yang tersedia dan biasakan dengan memberi sejumlah minimal setiap Jum’at, misalnya Jum’at ini kita menyumbang Rp. 10 ribu ke kotak amal maka sebaiknya Jum’at berikutnya harus sama, syukur-syukur bisa lebih dan terutama harus diiringi dengan keikhlasan.

    Sedekah anda, walaupun kecil tetapi amat berharga disisi Allah Azza Wa Jalla. Orang yang bakhil dan kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi didunia dan akhirat karena tidak mendapat keberkahan. Jadi, sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk untuk kepentingan dirinya. Sebab menginfakkan (belanjakan) harta akan memperoleh berkah dan sebaliknya menahannya adalah celaka. Tidak mengherankan jika orang yang bersedekah diibaratkan orang yang berinvestasi dan menabung disisi Allah dengan jalan meminjamkan pemberiannya kepada Allah. Balasan yang akan diperoleh berlipatganda. Mereka tidak akan rugi meskipun pada awalnya mereka kehilangan sesuatu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 26 February 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Ganjaran Bersedekah

    RasulAllah Shollallahu Alaihi Wa Sallam menganjurkan kepada kita umatnya untuk memperbanyak sedekah, hal itu dimaksudkan agar rezeki yang Allah berikan kepada kita menjadi berkah.

    Allah memberikan jaminan kemudahan bagi orang yang berdekah, ganjaran yang berlipatganda (700 kali) dan ganti, sebagaimana firman-Nya dan sabda RasuluAllah SAW, sbb :

    1. Allah Ta’ala berfirman, “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. Qs. Al Lail (92) : 5-8
    2. Allah Ta’ala berfirman, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui”. Qs. Al Baqarah (2) : 261
    3. RasulAllah SAW bersabda, “Setiap awal pagi, semasa terbit matahari, ada dua malaikat menyeru kepada manusia dibumi. Yang satu menyeru, “Ya Tuhan, karuniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kepada Allah”. Yang satu lagi menyeru “musnahkanlah orang yang menahan hartanya”.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 25 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kekuatan Sedekah

    Dikisahkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sbb : Tatkala Allah Ta’ala menciptakan bumi, maka bumipun bergetar. Lalu Allah menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumipun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada gunung?”

    Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (kita mafhum bahwa gunung batupun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi),

    Para malaikat bertanya lagi “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada besi?” Allah yang Maha Suci menjawab, “Ada, yaitu api” (besi, bahkan bajapun bisa menjadi cair dan lumer setelah dibakar api),

    Para malaikat kembali bertanya “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada api?” Allah yang Maha Agung menjawab, “Ada, yaitu air” (api membara sedahsyat apapun niscaya akan padam jika disiram air),

    Para malaikatpun bertanya kembali “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada air?” Allah yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tiada lain karena kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

    Akhirnya para malaikatpun bertanya lagi “Ya Allah, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dahsyat dari itu semua?”

    Allah yang Maha Gagah dan Maha Dahsyat kehebatannya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya”. Artinya, yang paling hebat, paling kuat dan paling dahsyat sebenarnya adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

    Berkaitan dengan ikhlas ini, Rasul Allah SAW mengingatkan dalam pidatonya ketika beliau sampai di Madinah pada waktu hijrah dari Makkah: “Wahai segenap manusia ! Sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat, dan seseorang akan mendapatkan (pahala) sesuai dengan apa yang diniatkannya”.

    Oleh karena itu hendaknya kita selalu mengiringi sedekah kita dengan niat yang ikhlas hanya karena Allah semata, tanpa tendensi ingin dipuji, dianggap dermawan, dihormati, dll yang dapat menjadikan sedekah kita menjadi sia-sia.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 24 February 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Luasnya Neraka

    “Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.” At Taubah, Ayat 68.

    Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibril datang kepada Nabi saw pada waktu yg ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh nabi s.a.w.: “Mengapa aku melihat kau berubah muka?” Jawabnya: “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yg mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman dari padanya.”

    Lalu nabi s.a.w. bersabda: “Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam.” Jawabnya: “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana panasnya.

    Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi kerana panas dan basinya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam Al-Qur’an itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh.

    Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang di ujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di ujung timur kerana sangat panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi, dan minumannya air panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan api. Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bagiannya yang tertentu dari orang laki-laki dan perempuan.”

    Nabi s.a.w. bertanya: “Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah kami?” Jawabnya: “Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda.” (nota kefahaman: yaitu yg lebih bawah lebih panas)

    Tanya Rasulullah s.a.w.: “Siapakah penduduk masing-masing pintu?” Jawab Jibril:

    “Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik, dan orang-orang yg kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a.s. serta keluarga Fir’aun sedang namanya Al-Hawiyah. Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim, Pintu ketiga tempat orang shobi’in bernama Saqar. Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha, Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah. Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa’eir.”

    Kemudian Jibril diam segan pada Rasulullah s.a.w. sehingga ditanya: “Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?” Jawabnya: “Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar dari ummatmu yg sampai mati belum sempat bertaubat.”

    Maka nabi s.a.w. jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibril meletakkan kepala nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sadar kembali dan sesudah sadar nabi saw bersabda: “Ya Jibril, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam neraka?” Jawabnya: “Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu.”

    Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibril juga menangis, kemudian nabi s.a.w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah.(dipetik dari kitab “Peringatan Bagi Yg Lalai”)

    Dari Hadits Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari Ku. Tahukah kamu bahwa neraka jahanamKu itu:

    • Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat
    • Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah
    • Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung
    • Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah
    • Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik
    • Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak
    • Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum
    • Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular
    • Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandung lautan racun yang hitam pekat.
    • Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai
    • Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat

    Mudah-mudahan dapat menimbulkan keinsafan kepada kita semua.

    Wallahua’lam.

    ***

    Dari Sahabat

    Semua Artikel yang Anda baca ini, di ambil dari berbagai Sumber. Terima Kasih.

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 23 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: Sulit Hamil   

    Sulit Hamil? Ubah Gaya Hidup Anda! 

    Gaya hidup yang tidak sehat memberikan dampak negatif pada kesehatan. Mulai dari penurunan kesehatan, penuaan dini hingga sulitnya mendapatkan keturunan dapat disebabkan oleh buruknya gaya hidup Anda.

    Merokok menjadi salah satu contoh gaya hidup tidak sehat. Sebuah studi menemukan bahwa wanita yang merokok membutuhkan waktu yang lebih lama untuk hamil bahkan kemungkinan kehamilan bisa menurun hingga 40 persen!

    Gaya hidup lain yang tidak sehat adalah minum alkohol. Sebuah penelitian di Denmark yang melibatkan 430 pasangan yang ingin memiliki anak. Hasil penelitian tersebut menyatakan kemampuan wanita memiliki anak menurun seiring semakin seringnya ia mengkonsumsi alkohol.

    Waktu tidur yang kurang dan tidak berolahraga adalah contoh lain gaya hidup yang tidak sehat. Tubuh membutuhkan istirahat sebanyak delapan jam sehari dan peredaran darah perlu dilancarkan melalui olahraga.

    Kafein juga bertanggung jawab dalam minimnya tingkat kesuburan Anda. Kopi yang sering membuat kita terjaga saat mengantuk ternyata menegangkan pembuluh darah dan menegangkan aliran darah ke rahim sehingga menyulitkan terjadinya pembuahan seperti dilansir health 24.

    Kopi tidak hanya satu-satunya minuman yang mengandung kafein. Teh dan minuman cola juga mengandung kafein meski jumlahnya tidak banyak.

    Tidak hanya rokok, alkohol dan kafein saja yang menjadi penyebab menurunnya tingkat kesuburan seseorang. Nasi putih pun ternyata bisa menjadi biang keladinya.

    Terlalu banyak mengkonsumsi karbohidrat halus seperti nasi putih, roti putih atau pasta. Untuk menghindari hal ini, maka konsumsi karbohidrat secukupnya dan perbanyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan.

    ***

    http://www.wolipop.com/read/2010/08/28/154033/1430135/849/sulit-hamil-ubah-gaya-hidup-anda?w992201835

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 22 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    20 Menit Penuh Senyum

    Oleh: Hafizh Kharisma

    “Selamat siang Bu… selamat siang Pak…” suara satpam itu ramah menyapa setiap orang yang masuk ke dalam sebuah bank pemerintah. Selain membukakan pintu bagi yang akan masuk dan keluar ruangan, dia juga seringkali mengantar mereka dengan pertanyaan “ada yang bisa saya bantu?” dan kemudian dengan sigap tangannya mengarahkan pada kertas yang berjejer rapi. “Lembar ini kalau buat transfer..”

    Siang ini saya hanya duduk diam saja di kursi tunggu bank itu karena memang tujuan datang kemari hanya untuk mengantar seorang teman yang hendak melakukan transaksi penyimpanan. Mata ini tertarik memperhatikan gerak dan sikap satpam yang tidak berhenti menarik dan menutup pintu, menyapa dan mengantarkan.. terus saja begitu tanpa berhenti melepas senyum. Pikiran saya mulai berjalan, pastilah dia capek sekali. Paling tidak sudah 15 menit saya duduk di sini (teman saya perlu waktu untuk menulis formulir dan memasuki antrian yang cukup panjang), sementara satpam itu terus berdiri entah sudah berapa lama, dari pagi mungkin dan itu juga tanpa duduk.

    Apa yang terlintas di benak saya dulu saat mendengar kata ‘satpam’ adalah gambaran orang kekar, garang, sigap, kaku, dan begitulah.. namanya juga satpam, ya sudah seharusnya di takuti, di segani. Tapi ini berbeda, satpam kini membawa citra perusahaan juga karena dia berada di garis depan, orang pertama yang ditemui oleh tamu..

    Dan satpam yang saya perhatikan ini tidak sekedar berbadan kekar dan sigap namun ia juga ramah, sopan dan senyumnya itu yang tidak pernah lupa ia lepaskan pada setiap tamunya pun ketika ia ditegur oleh seorang customer service karena mengizinkan seorang tamu duduk didepannya disaat customer service itu sedang menerima telepon (kursi tamu didepannya memang kosong).

    MasyaAllah, saya perhatikan satpam itu mengangguk sambil agak membungkukkan badannya, dan masih dengan senyumnya kudengar ia meminta maaf. Agak gemas saya lihat itu semua, terutama karena polah sang customer service yang bicara kurang ramah pada satpam, menegurnya langsung di depan sang tamu terlebih karena ia menegur dengan wajah yang jauh dari senyum.

    Bila saya uraikan dalam artian kalimat sepengetahuan saya, satpam = satuan pengamanan dan customer service (CS) = pelayanan pelanggan artinya tugas satpam itu adalah menjaga keamanan. Dan tugas CS itu ya melayani pelanggan, dalam hal bank sudah jelas pelanggan utamanya itu ya nasabah. Saya jadi agak bingung sesaat, apa mungkin satpam di bank pemerintah itu dikirim untuk mengikuti pendidikan yang biasa diikuti oleh CS sehingga ia bisa menjadi frontliner yang lebih baik dari CS itu sendiri? Atau mungkin gaji yang diterima satpam itu jauh lebih besar dari CS karena tugasnya kan jadi merangkap, tidak sekedar menjaga keamanan tapi juga melayani nasabah secara langsung? Dan pastinya ada tunjangan berdiri?

    Duh, saya jadi geli juga dengan pikiran-pikiran yang berseliweran di benak kepala saya. Jam di dinding bank menunjukkan pukul 11 lewat 50 menit, artinya sudah 20 menit saya duduk di sini menanti teman saya yang kini sedang dilayani oleh teller. Dan selama itu saya hanya memperhatikan polah satpam itu, mengagumi kesabarannya, dan mensyukuri senyum tulus yang bisa dia tebarkan pada orang-orang disekelilingnya terlepas bahwa senyum itu mungkin sudah bagian dari tugasnya namun bisa kurasakan bahwa kadang kelelahan dan kebosanan bisa saja membuat seseorang jadi sulit tersenyum atau kalau pun tersenyum agak tidak enak dipandang mata namun tidak dengan senyum satpam ini.

    “Ayo balik ke kantor” kudengar suara temanku dari arah belakang telingaku. Aku berdiri dan melangkah bersamanya menuju pintu keluar. Satpam itu dengan sigap membuka pintu mempersilakan kami berjalan keluar. “Terima kasih, selamat siang, hati-hati dijalan…”

    Kami mengangguk dan mengucapkan terima kasih juga padanya. Di atas motor aku masih sempat berpikir, jika seorang satpam saja bisa begitu ramah, sopan dan penuh senyum mengapa kita tidak? Dan bukankah senyum itu sedekah? Kita bisa sedekah dengan sangat mudah, tanpa biaya, bisa kapan saja dan di mana saja..

    Allah SWT telah begitu baiknya memberi kita peluang dan kemudahan dalam mendapatkan pahala jadi kenapa kita sebagai mahlukNya terkadang malah mempersulitnya? Entahlah…

    Semoga kita masih bisa melukis senyum tulus di wajah kita

    ***

    eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 21 February 2011 Permalink | Balas  

    Jenuh

    Oleh : Reza Ervani

    J : Jangan Berlebihan Ada seorang wanita yang datang pada Aisyah. Aisyah memuji wanita itu sebagai ahli ibadah yang luar biasa, karena saking tekunnya ia menyediakan tongkat untuk berpegangan jika ia sudah tidak kuat berdiri ketika sholat.

    Ketika hal itu disampaikan pada Nabi saw. Nabi bersabda : Jangan berlebihan, Allah itu tidak akan jenuh hingga engkau jenuh.

    Atur ritme dalam segala hal, agar tak usang.

    E : Efektifkan Komunikasi Logika apa yang paling bisa menjelaskan maraknya friendster, ramainya sms, dan larisnya free talk walaupun tengah malam. Intinya sederhana, karena manusia diciptakan dengan kebutuhan untuk bercerita dan berbagi. Curhat dong, cari teman bercerita

    N : Naik Ke Tantangan Berikutnya Looking for new challenges. Ummat ini dilahirkan untuk menjadi ummat terbaik, khairu ummah, ini sunatullah. Melanggarnya hanya akan melahirkan kejenuhan. Kejenuhan bergerak, kejenuhan beramal, kejenuhan berinisatif. Naiklah ke anak tangga berikutnya, agar kau bisa uji kekuatanmu lebih jauh.

    U : Undur Sejenak untuk Maju Lebih Jauh Ijlis Bina’ Nu’min Sa-ah, begitu ujar sahabat Nabi. Berhentilah sejenak, perbaharui iman, bersihkan sepatu yang sudah berdebu, asah kembali pedang yang tumpul, ambil air wudhu cuci wajahmu hingga bisa menatap ke depan lebih jauh lagi.

    H : Hasbiyallah wa Ni’mal Wakill Ni’mal Maula Wa Ni’man Nashir Sungguh kejenuhan itu adalah masalah hati. Dan Maha Penggenggam hati hanyalah Allah semata. Qolbu itu artinya yang berbolak-balik, ketika ia berbalik atau tertutup debu maka cahaya Allah akan terhalang, maka lahirlah kejenuhan. Maka tengadahkan tanganmu padaNya, minta Ia jaga hatimu agar tidak mati karena enggan dan malas.

    Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, (Al Quran Al Karim Surah Al Qalam ayat 10 – 12)

    Naudzubillahi min dzalik

    ***

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 20 February 2011 Permalink | Balas  

    Memimpin dengan Rendah Hati

    Pemimpin, kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah pelayan umatnya. Bukan sebaliknya, bagai “raja” yang selalu minta dilayani

    Setelah diumumkan pengangkatannya menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz menyendiri di rumahnya. Tak ada orang yang menemui, beliau pun tak mau keluar menemui seorang.

    Dalam kesendirian itu, beliau menghabiskan waktu dengan bertafakkur, berdzikir, dan berdoa. Pengangkatannya sebagai khalifah tidak disambutnya dengan pesta, tetapi justru dengan cucuran air mata.

    Tiga hari kemudian beliau keluar. Para pengawal menyambutnya, hendak memberi hormat. Umar malah mencegahnya. “Kalian jangan memulai salam kepadaku, bahkan salam itu kewajiban saya kepada kalian.”

    Itulah perintah pertama Khalifah kepada pengawal-pengawalnya.

    Umar menuju ke sebuah ruangan. Para pembesar dan tokoh telah menunggunya. Hadirin terdiam dan serentak bangkit berdiri memberi hormat. Apa kata beliau?

    “Wahai sekalian manusia, jika kalian berdiri, saya pun berdiri. Jika kalian duduk, saya pun duduk. Manusia itu sebenarnya hanya berhak berdiri di hadapan Rabbul-’Alamin.”

    Itulah yang dikatakan pertama kali kepada rakyatnya.

    Buka Hati

    Sikap pemimpin dalam Islam, sejatinya memang harus demikian. Sebagaimana kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pemimpin adalah pelayan umatnya.

    Sabda Nabi itu sungguh istimewa, sebab seorang pemimpin biasanya seperti seorang raja. Dan sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz mewarisi budaya yang demikian itu; hidup dalam gelimang kemewahan dan kekuasaan.

    Ternyata Umar tidak serta merta meneruskan budaya yang sebenarnya menguntungkannya secara pribadi itu. Beliau tak mau dihormati berlebihan dan hidup dalam kemewahan. Ia memilih sikap rendah hati dan sederhana.

    Sebagai pemimpin besar, bersikap rendah hati, sederhana, dan melayani tentu tidak mudah. Apalagi bila kesempatan bermewah-mewah itu memang terbuka di depan mata, siapa tak tergiur?

    Di negeri kita ini, kedudukan dan jabatan malah jadi rebutan. Bahkan banyak yang mati-matian berkorban apa saja, dengan segala cara, untuk mendapatkannya. Setelah berhasil meraihnya, pertama kali yang dilakukan adalah pesta kemenangan. Kemudian segeralah digunakan aji mumpung. Sim salabim, jadilah OKB (Orang Kaya Baru). Gaya hidup dan pergaulannya berbeda dengan sebelumnya. Seolah menikmati kemewahan itulah memang impiannya.

    Mari kita membuka hati ini. Dengan berbagai upaya dan gaya hidup mewah itu, apa sih sesungguhnya dicari? Dengan mobil mewah, rumah megah, pakaian serba mahal, apa sebenarnya yang dirindukan lubuk hati? Mungkin terdetak dorongan hidup terhormat dan dimuliakan.

    Tentu mencapai hidup seperti itu suatu yang normal saja. Malah aneh kalau ada orang bercita-cita hidup hina dan direndahkan. Tetapi benarkah kemuliaan dan kehormatan dapat dicapai dengan hidup berbungkus kemewahan? Coba sebutkan nama-nama orang yang menggetarkan hati karena kemuliaan dan kehormatannya. Cermati satu per satu. Benarkah hati Anda terkesan karena kemewahan mereka?

    Mari kita bercermin kepada Umar. Kita tenangkan hati dan jernihkan pikiran sejenak. Andai beliau memilih cara hidup mewah dan bermain kekuasaan sebagaimana raja-raja yang lain, akankah memiliki nama harum seperti saat ini?

    Mungkin saja kemewahan singgasana bisa menjadi topeng kemuliaan di muka rakyat. Tetapi berapa lama “kemuliaan” seperti itu bisa bertahan?

    Lihatlah para pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kesombongan dan kemewahan. Bagaimana akhir kehidupan mereka? Masa tua tidak hidup damai, malah gundah gulana karena dijerat hukum. Terbukti bahwa kemuliaan yang dibungkus materi hanyalah semu dan tipuan belaka.

    Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai orang-orang sombong. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.” (Luqman: 18-19)

    Misi Mulia

    Ya, memang tidak mudah untuk selalu rendah hati dan memilih hidup melayani. Apalagi kalau terjebak pada dorongan biologis dan egoisme semata. Maunya justru dilayani.

    Ketika sedang memegang kekuasaan, yang dipikirkan adalah apa yang dapat diambil dengan posisi ini, bukan kebaikan apa yang dapat diberikan pada orang lain. Melayani dirasakan sebagai suatu kehinaan, seolah yang harus melakukan adalah orang-orang rendahan. Padahal melayani inilah misi mulia yang sebenarnya diamanahkan Allah kepada hamba-Nya yang terpilih; Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti jejaknya.

    “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiyaa’: 107). Dengan berbagi rahmat, tersebarlah belas kasih dan kedamaian dalam kehidupan.

    Dalam bekerja, seorang pemimpin akan senantiasa berpikir bagaimana karyawannya sejahtera. Karyawan pun berpikir bagaimana bisa memberikan layanan terbaik melalui pekerjaannya.

    Sebagai pemimpin keluarga, seorang ayah yang mengasihi keluarganya akan mengantar pada suasana sakinah. Anak-anaknya pun termotivasi untuk meneladani dan berbakti kepada kedua orangtuanya.

    Setiap orang yang melayani dengan ikhlas berarti telah berpartisipasi menebar rahmat ke seluruh alam. Itulah tugas terhormat seorang pemimpin. Dan setiap kita pada hakikatnya adalah pemimpin, begitu sabda Rasulullah.

    Bila setiap orang berpikir minta dilayani, yang terjadi justru krisis. Pemimpin minta dilayani stafnya. Majikan memeras para karyawan. Petugas mempersulit rakyat. Orientasinya bukan rahmatan lil ‘alamin, tetapi keuntungan pribadi.

    Kekayaan alam yang mestinya untuk kesejahteraan rakyat, malah dikuras untuk bermewah-mewah diri dan kroninya. Hutan digunduli sehingga banjir dan longsor di sana-sini. Rakyatlah yang jadi korban.

    Melihat perilaku pemimpin yang seperti itu, rakyat pun ikut-ikutan mencari keuntungan sendiri. Sudah kaya dan berkecukupan, namun belum bersyukur dan malah berebut bantuan yang mestinya untuk fakir miskin. Sungguh cara hidup yang tidak akan berujung kepada kemuliaan, tetapi justru kehinaan. Dan inilah yang banyak disaksikan di sekeliling kita sekarang.

    “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Israa’: 16)

    Agar mampu rahmatan lil ‘alamin, kita perlu mentransformasi diri. Pusat diri yang sebelumnya egoisme dan hawa nafsu, harus diganti dengan kebeningan nurani.

    Sumber Inspirasi

    Bayangkan kalau ada orang yang rendah hati, menghormati sesama, dan suka melayani. Tidakkah hati Anda menyukai dan terkesan dengan keikhlasannya?

    Orang yang demikian itu akan membahagiakan hati sesama. Kalau dia seorang bapak, keluarganya akan menghormatinya dengan tulus. Kalau seorang ibu, anak-anaknya tentu akan senantiasa merindukan. Kalau seorang pemimpin, tentu akan menginspirasi hati sekalian rakyatnya.

    Umar bin Abdul Aziz telah membuktikan keberkahan rendah hati. Meski hanya menjabat dua tahun, terjadi perubahan besar. Akhlak rakyatnya yang sebelumnya buruk seketika berubah menjadi baik.

    Umat akan terinspirasi pemimpin yang rendah hati dan teramat jujur itu. Yang menjadi pembicaraan heboh saat itu di berbagai sudut kota, warung, sampai pinggiran ladang di desa adalah masalah iman dan amal shalih. Mungkin seheboh dunia ini ketika dihipnotis oleh perhelatan Piala Dunia yang belum lama berakhir.

    Masyarakat giat bekerja dan sejahtera. Kemakmuran mencapai puncaknya. Rakyat berdaya ekonominya dan mereka berlomba menunaikan zakat. Fakir miskin terentaskan sehingga sangat sulit mencari orang yang menerima zakat. Memberi dan memberi, itu yang menjadi paradigma mereka. Bukan meminta dan meminta.

    “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” ( Al-A’raaf: 96)

    Alam dan binatang pun digambarkan turut berbahagia. Para gembala yang biasanya takut kambingnya terancam dimakan oleh serigala, saat itu kedua binatang ini seolah berteman saja. Pintu keberkahan dibuka Allah bila manusia telah menunaikan tugas sebagai khalifah.

    Atas prestasi gemilang itu, tidak mengherankan jika beliau digolongkan sebagai Khulafa’ Ar-Rasyidin kelima setelah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan Ali.

    ***

    [Hanif Hannan/Hidayatullah]

     
    • bayu setia pambudi 10:45 am on 7 Februari 2012 Permalink

      izin copas ya!
      terima kasih !
      bagus

  • erva kurniawan 1:27 am on 19 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Maafkan Aku, Ayah dan Ibu

    Oleh Rudi Setiawan

    **

    Ayah, Ibu, maafkan Aku, ini sudah kodrat Ku. Aku lahir kedunia belum cukup pada waktunya Delapan bulan 2 hari, tepat pada tanggal 3 Oktober 2006, jam 11, 45 dengan bantuan operasi di RS Permata Ibu.

    Bahagia sekali rasaya, ketika pisau bedah menyentuh kulit plasenta yang membungkusku. Bahagia sekali rasaya aku akan berkumpul dengan keluargaku. Tapi takdir berbicara lain Allah punya rencana lain nafasku, !!! Kondisi nafasku tidak seperti yang lain. Aku harus hidup, aku harus hidup, aku ingin berkumpul dengan keluargaku.

    Tidak lama kemudian aku mendengar suara azan di telingaku. Aku berfikir inikah Orang tuaku, inikah ayahku yang bahagia melihatku dan mengumandanka azan di telingaku. Tapi apa daya RS di mana tempatku dirawat tidak mempunyai alat yang akan menolongku.Aku dipindah kan RS Sentra Medika untuk mendapat bantuan agar nafasku bisa sempurna.

    Satu hari, dua hari keadaanku sedikit membaik, aku bisa menagis, aku bisa merasakan sentuhan tangan ayahku ketika dia tahu aku sudah bisa menangis. Aku juga mendengar dia berkata, anakku, kamu harus kuat, kamu harus hidup. Ini ayah. Dan terlihat jelas air mata kebahagiaan mengucur dari matanya.

    Tapi, dengan alasan terlalu jauh aku dipindahkan lagi ke RS Fatmawati pada tanggal 5 Oktober 2006 oleh ayahku. Aku dipindahkan dengan ambulan. Di dalam hatiku. Aku bertanya. Ayah mau dibawa ke mana aku, Ayah apa aku ingin bertemu Ibu. Setelah sampai aku sadar bahwa aku masih belum sempurna, bahwa aku masih harus berjuang untuk menyempurnakan diriku. Satu hari aku di sini, terasa badanku lemas sekali. Aku susah sekali bernafas. Ayah, aku harus hidup.

    Hari kedua aku di sini, diruang kecil yang penuh dengan selang kondisi tubuhku semakin menurun. Orang yang ada disekelilingku, dengan kemampuanya sebagai seorang perawat dan Dokter berusaha untuk menolongku. Banyak sudah benda-benda yang masuk ke tubuhku.

    Di saat tidak ada kepastian yang terjadi pada diriku aku mendengar langkah lemas menghampiriku jauh bukan di dekatku. Dia melihatku, dia memandangku, dari kejauhan. Tapi aku dapat mendengar, dia menangis, dan dia berkata, nak ini ibu, ingin sekali ibu memeluk dan menciumu. Ingin sekali ibu memberimu susu. Tapi ibu tidak bisa, ibu hanya berharap kamu harus kuat, ibu hanya berharap kamu harus hidup.

    Ibu, …ibu… aku berteriak, tapi dia tidak mendengar, semua orang tidak bisa mendengar teriakanku… aku pandangi dia, dia terus saja menangis. Oh Ibu, . Andai aku bisa menghampirimu aku ingin memelukmu, aku ingin dekapanmu. Aku mau kau tersenyum untuku.

    Hari ketiga keadaanku semakin parah. Dokter memutuskan untuk memasukan selang ventilator dan kemudian darah mengalir dari dalam selang kecil masuk ke tubuhku. Tubuhku semakin bengkak dan aku semakin tidak bisa bergerak. Hingga hari keempat keadaanku semakin parah dari mulutku keluar carian berwarna merah…

    Hari kelima. Dokter yang menanganiku sudah mulai putus asa. Kemudian jam 11.30 ibu menelphon ayah. Karena dokter ingin bicara. Entah apa yang dibicarakan aku melihat ayah begitu gelisah, begitu gunda bahkan sedih sekali. Sore hari menjelang maghrib ayahku pergi untuk mengambil darah untukku lagi. Jam 11.30 malam dia sampai dan menyerahknnya ke Perawat. Ayah, Ibu, aku sudah tidak kuat, aku sudah tidak bisa lagi bernafas.

    Sesosok telah menghampiriku. Dia mengajaku, dia ingin mengajakku jauh dari sini. Jauh dari penderitaan dan kesedihan. Lembut tangannya menariku dari box kecil yang memenjarakanku. Dia membisikan kata-kata kepadaku, “Wahai Irsyad, kKamu telah dipanggil Allah. Allah memanggilmu untuk pulang. Mari pegang tanganku dan ikutlah bersamaku menghadap sang kuasa, sang pencipta. Zat yang menciptakanmu.”

    “Ayah dan Ibumu hanyalah tempat di mana kamu akan dititipkan kalau memang kamu diizinkan untuk hidup. Tapi Allah lebih cinta kamu sehingga Dia memanggilmu untuk pulang.”

    Jam 2.30 pagi aku menghembuskan nafas terakhirku. Aku pulang ke tempat di mana aku diciptakan. Ayah, Ibu, maafkan Irsyad. Aku tidak bisa bersama kalian. Aku cinta kalian. Tapi Allah lebih sayang padaku. Dia tidak mau aku menderita, dia tidak mau kalian menderita karenaku.

    Ayah, Ibu, walaupun aku tidak bersamamu tapi cinta dan sayangku selalu mengiringi kepergianku. Aku memang hanya hidup satu minggu, tapi aku yakin bahwa kalian berdua sangat mencintaiku. Ayah Ibu doaku selalu untukmu. Selamat tinggal Ayah, ibu dan kedua Kakakku. Aku mohon maaf, karena aku tidak bisa bersama kalian semua. Semoga Allah memberikan ketabahan yang kuat untuk kalian semua. Kalian harus meneruskan hidup sampai Allah akan memanggil kalian sehingga nanti kita bisa bersatu disatu tempat yang akan telah diberikanNya.

    Selamat tinggal keluargaku tercinta walaupun aku tidak bisa bersamamu. Doa dan cintaku selalu bersamamu…

    Terima kasih ibu, atas perjuanganmu mengandungku selama 8 bulan 2 hari. Cintaku selalu menyertaimu selamanya. Ayah, cinta dan ketulusanmu padaku tidak bisa aku balas dengan jiwaku. Aku cinta padamu ayah. Dan aku akan selalu mendoakanmu.

    Kakak-kakakku, kelak nanti kita pasti akan bertemu dan berkumpul. Jaga Ibu dan Ayah. Jadilah anak yang baik dansoleh, yang bisa melindungi keluarga dan kedua orang tua kita. Semoga Allah menyatukan kita di satu saat nanti, di tempat yang paling mulia di sisi-Nya.

    Wassalam

    Dari Ayah untuk anaku yang selalu dikenang Irsyad Ramadhan Lahir:3 oktober 06 Wafat:10 Oktober 06

    ***

    Source : http://www.eramuslim.com/atc/oim/45dbca4f.htm

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 18 February 2011 Permalink | Balas  

    Kenapa Bayi Suka Memasukkan Barang ke Mulut? 

    Pada usia tertentu terkadang bayi senang sekali memasukkan apapun ke dalam mulutnya yang kadang membuat orangtua menjadi khawatir. Kenapa ya bayi suka memasukkan barang ke mulutnya?

    Jika yang dimasukkan si kecil ke dalam mulutnya adalah makanan, mungkin tidak akan menjadi masalah. Tapi biasanya barang apapun yang ditemukan si kecil akan selalu dimasukkan ke dalam mulut baik berupa makanan, mainan atau benda lainnya yang ditemukan di lantai.

    “Mulut bayi memiliki ujung saraf yang lebih banyak dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya, karena itu jika ia ingin mengetahui tentang rasa atau tekstur dari sesuatu maka ia akan memasukkan barang tersebut ke dalam mulut,” ujar Penney Hames, seorang psikolog anak seperti dikutip dari Babycenter, Rabu (25/8/2010).

    Biasanya kondisi ini mulai terjadi saat bayi masih berusia di bawah satu tahun atau sekitar usia 7 bulan saat ia sudah mulai bisa menggenggam dan mengontrol tangannya. Bayi akan tertarik dengan segala jenis barang terlebih jika ia melihat mainan-mainan yang memiliki bentuk dan warna menarik.

    Beberapa mainan tertentu terkadang tidak diperbolehkan untuk anak di bawah usia 3 tahun, hal ini kemungkinan ada komponen tertentu pada mainan tersebut yang bisa berbahaya jika tertelan oleh anak.

    Kebiasaan ini biasanya akan terus terjadi hingga si kecil memasuki usia 2 tahun, namun pada usia tersebut ia juga sudah mulai tertarik tentang apa yang dilakukan atau terjadi pada mainannya sehingga mulai mengeksplorasi gerakan tangan dan matanya. Sebagian besar anak akan berhenti memasukkan barang ke dalam mulutnya saat berusia 3 tahun.

    Hames mengungkapkan bahwa kebiasaan memasukkan barang ke dalam mulut juga bisa terjadi jika si kecil akan tumbuh gigi yang biasanya disertai dengan menetesnya air liur.

    Untuk itu orangtua perlu mengawasi benda-benda dan mainan yang digunakan oleh si kecil, pastikan barang-barang ini tidak berbahaya atau tidak melukai mulut si kecil. Sebaiknya singkirkan mainan yang berbentuk terlalu kecil atau memiliki ujung tajam misalnya karena sudah ada bagian yang patah.

    Selain itu pastikan untuk selalu membersihkan lantai, mainan dan tangan bayi untuk menghindarinya dari bakteri atau virus yang bisa membuatnya sakit, namun orangtua juga tak perlu terlalu takut dengan kebiasaan ini. Serta beritahu si kecil secara baik-baik jika ia memasukkan benda-benda yang berbahaya atau kotor ke dalam mulutnya.  (ver/ir)

    ***

    health.detik.com/read/2010/08/25/124043/1427571/764/kenapa-bayi-suka-memasukkan-barang-ke-mulut?l993306763

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 17 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Semoga Allah Mempertemukan Kita di Syurga

    “Barangsiapa yang mengharapkan mati syahid dengan sepenuh hati, maka Allah akan memberikan mati syahid kepadanya, meski ia mati di tempat tidur.”

    Dunia, hanya satu terminal dari seluruh fase kehidupan. Hanya Allah yang tahu, rentang usia seorang manusia. Saya, khadijah, sebut saja demikian, menikah dengan Muhammad, 3 Oktober 1993. Muhammad, adalah kakak kelas saya di IPB. Pernikahan saya, melalui tahap yang biasa dilakukan oleh ikhwan dan akhwat. Saya tak pernah mengenal Muhammad sebelumnya. Dan, seperti layaknya pasangan baru, fase ta’aruf, konflik, dan kematangan pun saya alami.

    Meski baru saling kenal, saya rasakan suami saya sangat sayang pada saya. Seolah, tidak seimbang dengan apa yang saya berikan. Dia banyak membantu. Apalagi ketika saya menyelesaikan tugas akhir kuliah. Bisa dikatakan, ia sekretaris pribadi saya.

    Selama menikah, suami sering mengingatkan saya tentang kematian, tentang syurga, tentang syahid, dan sebagainya. Setiap kami bicara tentang sesuatu, ujung-ujungnya bicara tentang kematian dan indahnya syurga itu bagaimana. Kalau kita bicara soal nikmatnya materi, suami mengaitkannya dengan kenikmatan syurga yang lebih indah. Bahkan, berulang-ulang dia mengatakan, nanti kita ketemu lagi di syurga. Kalau saya ingat kata-kata itu, itu bukan kata-kata kosong. Bahkan itu mempunyai makna yang dalam bagi saya.

    Hari itu, 16 Januari 1996, kami ke rumah orang tua di Jakarta. Seolah suami saya mengembalikan saya kepada orang tua saya. Malam itu juga suami saya mengatakan harus kembali ke Bogor, karena harus mengisi diklat besok paginya. Menurutnya, kalau berangkat pagi dari Jakarta khawatir terlambat.

    Mendekati jam 12 malam, saya bangun dari tidur, perut saya sakit, keringat dingin mengucur, rasanya ingin muntah. Saya bilang pada ibu saya, untuk diobati. Saya kira maag saya kambuh. Saya sempat berpikir suami saya di sana sudah istirahat, sudah tenang, sudah sampai, karena berangkat sejak maghrib. Saya juga sempat berharap kalau ada suami saya, mungkin saya dipijitin atau bagaimana, Tapi rupanya pada saat itulah terjadi peristiwa tragis menimpa suami saya.

    Jam tiga malam, saya terbangun. Kemudian saya shalat. Entah kenapa, meskipun badan kurang sehat, saya ingin ngaji. Lama sekali saya menghabiskan lembar demi lembar mushaf kecil saya. Waktu subuh rasanya lama sekali. Badan saya sangat lelah dan akhirnya tertidur hingga subuh.

    Pagi harinya, saya mendapat berita, dari seorang akhwat di Jakarta, bahwa suami saya dalam kondisi kritis, Karena angkutan yang ditumpanginya hancur ditabrak truk Tronton di jalan raya Parung. Sebenarnya, waktu itu suami saya sudah meninggal. Mungkin sengaja beritanya dibuat begitu biar saya tidak kaget. Namun tak lama kemudian, ada seorang ikhwah Jakarta yang memberitahukan bahwa beliau sudah meninggal. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.

    Entah kenapa, mendengar berita itu hati saya tetap tegar. Saya sendiri tak menyangka bisa setegar itu. Saya berusaha membangun keyakinan bahwa suami saya mati syahid. Saya bisa menasehati keluarga dan langsung ke Bogor. Di sana, suami saya sudah dikafani. Sambil menangis, saya menasehati ibu, bahwa dia bukan milik kita. Kita semua bukan milik kita sendiri, tapi milik ALLAH.

    Alhamdulillah Allah memberi kekuatan, Kepada orang-orang yang berta’ziah waktu itu, saya mengatakan, “Do’a kan dia supaya syahid ….. do’akan dia supaya syahid.” Sekali lagi, ketabahan saya saat itu semata datang dari Allah. Kalau tidak, mungkin saya sudah pingsan.

    Menjelang kematiannya yang amat mendadak, saya tidak merasakan firasat atau tanda-tanda khusus. Hanya, seminggu sebelum suami meninggal, anak saya sering menangis, meski dia tidak apa-apa. Mungkin, karena merasa akan ditinggal oleh bapaknya. Entahlah.

    Seperti tuntunan Islam, segala hutang orang yang meninggal harus ditunaikan. Meski tidak ada catatannya, tapi tanpa disadari, saya ingat sekali hutang-hutang suami. Saya memang sering bercanda sama suami, “Mas kalau ada hutang, catat. Nanti kalau mas meninggal duluan saya tahu saya harus bayar berapa.” Canda itu memang sering muncul ketika kami bicara masalah kematian. Sampai saya pernah bilang pada suami saya, “Kalau mas meninggal duluan, saya yang mandiin. Kalau mas meninggal duluan, saya kembali lagi ke ummi, jadi anaknya lagi.” Semua itu akhirnya menjadi kenyataan.

    Beberapa hari setelah musibah itu, saya harus kembali ke rumah kontrakan di Bogor untuk mengurus surat-surat. Saat saya buka pintunya, tercium bau harum sekali. Hampir seluruh ruangan rumah itu wangi, Saya sempat periksa barangkali sumber wangi itu ada pada buah-buahan, atau yang lainnya. Tapi, tidak ada. Ruangan yang tercium paling wangi, tempat tidur suami dan tempat yang biasa ia gunakan bekerja.

    Beberapa waktu kemudian, dalam tidur, saya mimpi bersalaman dengan dia. Saya cium tangannya, Saat itu dia mendo’akan saya: “Zawadakillahu taqwa waghafara dzanbaki, wa yassara laki haitsu ma kunti”. (Semoga Allah menambah ketaqwaan padamu, mengampuni dosamu, dan mempermudah segala urusanmu di mana saja). Sambil menangis, saya balas do’a itu dengan do’a serupa.

    Semasa suami masih hidup, do’a itu memang biasa kami ucapkan ketika kami berpisah. Saya biasa mencium tangan suami bila ia ingin keluar rumah. Ketika kami saling mengingat, kami juga saling mendo’akan.

    Banyak do’a-do’a yang diajarkan suami saya. Ketika saya sakit, suami saya menulis do’a di white board. Sampai sekarang saya selalu baca do’a itu. Anak saya juga hafal. Saya banyak belajar darinya. Dia guru saya yang paling baik. Dia juga bisa menjelaskan bagaimana indahnya syurga. Bagaimana indahnya syahid.

    Ketika suami meninggal, saya sedang hamil satu bulan, anak yang kedua. Namanya sudah dipersiapkan oleh suami saya, Ahmad Qassam Amrul Haq, kalau lahir laki-laki. Katanya Qassam itu diambil dari nama Izzuddin Al Qassam. Izzuddinnya sudah sering dipakai, dia ingin mengunakan nama Qassam-nya. Lalu, Amrul Haq itu memang nama yang paling dia sukai. Kalau dia menulis di beberapa media, nama samarannya Abu Amrul Haq.

    Banyak kesan baik dan kenangan indah yang saya alami bersama suami. Menjelang kematiannya, saya pernah berta’ziyah ke rumah salah seorang teman yang meninggal. Sepulang suami saya dari kerja, saya pernah tanya pada suami, “Mas, kepikiran ngga’ tentang mati ?” Kami tidak saling menatap. Suami saya hanya bilang, “Memang ya, tidak ada yang tahu kapan kematian itu akan datang, persiapkan saja diri kita.”

    Waktu saya wisuda, 13 Januari 1996, saya sempat bertanya pada suami, “Mas nanti saya kerja di mana ?” Suami diam saja sejenak. Akhirnya suami saya mengatakan, supaya wanita itu memelihara jati diri. Saya bertanya, “Maksudnya apa ?” “Beribadah, bekerja membantu suaminya, dan bermasyarakat. ” Saya berpikir bahwa saya harus mengurus rumah tangga dengan baik. Tidak usah memikirkan pekerjaan.

    Alhamdulillah, setelah suami saya meninggal, Masya Allah, saya menerima rejeki banyak sekali, lebih dari tiga belas juta. Saya tidak mengira, sampai bingung, diapakan uang sebanyak ini.

    Sekarang, setiap bulan saya hidup dari pensiun pegawai negeri suami. Meskipun sedikit, tapi saya merasa cukup. Dan rejeki dari Allah tetap saja mengalir. Allah memang memberikan rejeki kepada siapa saja yang dan tidak tergantung kepada siapa saja. Katakanlah, meski suami saya tidak ada, tapi rejeki Allah itu tidak akan pernah habis.

    Insya Allah saya optimis dengan anak-anak saya. Saya ingat sabda Nabi, “Aku dan pengasuh anak yatim seperti ini,” sambil mengangkat dua jari tangannya. Saya bukan pengasuh anak yatim, tapi ibunya anak yatim. Meski masih kecil-kecil, saya sudah merasakan kedewasaan mereka lebih cepat mengerti tentang kematian, tentang neraka, tentang syurga, bahkan tentang syahid.

    Rejeki yang saya terima, tak mustahil lantaran keberkahan mereka.

    ***

    Dzikroyat, Tarbawi, Edisi 1 Th. 1 31 Mei 1999M / 15 Shafar 1420 H

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 16 February 2011 Permalink | Balas  

    Ternyata Hidup Ini Sederhana

    Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

    ”Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.”

    Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.

    ”Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.”

    Seorang anak berkata kepada ibunya: “Ibu hari ini sangat cantik.” Ibu menjawab: “Mengapa?” Anak menjawab: “Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah.”

    ”Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.”

    Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya berkata: “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur.” Petani menjawab: “Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku.”

    ”Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.”

    Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: “Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?” Ada yang menjawab: “Cari mulai dari bagian tengah.” Ada pula yang menjawab: “Cari di rerumputan yang cekung ke dalam.” Dan ada yang menjawab: “Cari di rumput yang paling tinggi.” Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: “Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana.”

    ”Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.”

    Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.” Katak di pinggir jalan menjawab: “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.” Beberapa hari kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.

    ”Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.”

    Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: “Mengapa engkau begitu santai?” Dia menjawab sambil tertawa: “Karena barang bawaan saya sedikit.”

    ”Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • nisa 12:04 pm on 17 Februari 2011 Permalink

      Ternyata banyak hikmah di balik Hal Kecil yang di lakukan…
      memang ternyata Hidup ini Sederhana.. tinggal kita menyikapinya bagaimana ?
      semua berawal dari hati..

      mas Erva.. jalan2 ya ke Blog Saya.. di http://myinspirations-emmy.blogspot.com/
      biar share..?? sy masih belajar nih..

  • erva kurniawan 1:37 am on 15 February 2011 Permalink | Balas  

    Keikhlasan Hati Orang Kecil

    Hari Senin pagi 5 Februari 2007, perjalanan dari Lebak Bulus ke kawasan Blok M relatif lebih lancar daripada biasanya. Mungkin karena sebagian orang masih mendapat kesulitan untuk keluar rumah menuju kantor, akibat banjir besar yang melanda Jakarta sejak hari Kamis yang lalu.

    Biasanya, saya berangkat dari rumah ke kantor melalui jalan Tebah, di belakang Pasar Mayestik lalu masuk ke jl Bumi dan Jalan Kerinci lalu keluar di Jalan Pakubuwono VI. Namun pagi ini, saya sengaja melintasi jalan Pati Unus untuk berbelok ke arah Jl. Paukubuwono VI karena ingin membeli pisang terlebih dahulu.

    Di depan rumah makan Warung Daun ada penjaja pisang barangan. Di situlah saya biasa membeli pisang setiap minggu. Perempuan penjajanya sudah tahu bahwa saya akan membeli 3 sisir pisang. Satu sisir matang dan 2 sisir lainnya mengkal atau terkadang masih kehijauan. begitu juga rencananya pagi ini. Saat saya menghentikan mobil, dengan sigap dia memilih-milih pisang dan menyodorkannya kepada saya. Saya mengeluarkan uang selembar 50 ribu. Itulah lembaran yang ada di dalam dompet di samping beberapa lebar ribuan di dalam kotak uang untuk pembayar ongkos parker, yang tak cukup untuk membayar 3 sisir pisang. Agak ragu perempuan itu menatap saya ;

    “Ibu … apa bisa diberikan uang pas saja?” tanyanya. Saya melihat isi dompet dan tas… ternyata sama sekali tidak ada. Maklum awal bulan begini, isi dompet sedang sekarat. Kosong setelah digunakan kewajiban rutin, dari belanja bulanan, membayar gaji pembantu sampai dengan uang sekolah anak. ”Aduh maaf … nggak ada uang pas…!” ”Saya tukar di warung dulu ya bu…” pintanya, meminta kesediaan saya menunggu. Saya melirik di sekitar jalan raya tersebut. Tidak ada warung sama sekali. Tentu saya harus menunggunya agak lama, sampai dia kembali dengan uang tukarannya. Dan saya merasa enggan menunggunya. Apalagi jalan Pakubuwono VI di pagi hari cukup ramai. ”Kalau nggak ada kembalinya, saya ambil dua sisir saja ya … saya punya uang kecil untuk itu…”, usul saya menutupi keengganan menunggunya mencari tukaran uang. Cepat saya hitung uang receh di mobil yang terdiri dari uang kertas dan koin. Semuanya berjumlah enam belas ribu. Masih kurang dua ribu. ”Nah… lihat deh, uang saya nggak cukup. Saya ambil dua sisir saja ya…” ”Jangan bu …. , ambil saja semuanya. Ibu kan besok lewat lagi, jadi besok saja bayar kekurangannya!” begitu katanya, seraya mengembalikan lembar uang 50 ribu kepada saya. ”Aduh … saya belum tentu lewat sini lagi lho besok. Jadi biar saya ambil 2 sisir saja. Saya bisa mampir kapan-kapan kesini.” ”Nggak apa-apa bu … kapan ibu lewat saja, bayarnya……”, sahutnya. Saya mengambil lembaran uang tersebut dan segera berlalu darinya. Di belakang sudah banyak mobil menunggu.

    Tiba di kantor, sambil menunggu komputer menyala baru saya sadari, betapa lugu dan naifnya penjaja pisang itu. Dia rela mengambil resiko ”kehilangan” keuntungan sebesar dua ribu rupiah. Bayangkan seandainya saya tidak lagi lewat tempatnya berjualan. Dua ribu memang kecil nilainya dibandingkan dengan pengembalian uang sebesar 32 ribu yang harus diberikannya kepada saya. Tetapi saya yakin, uang dua ribu itu begitu besar artinya bagi seorang penjaja pisang di pinggir jalan. Toh dia rela dan ikhlas ”kehilangan” sementara uang tersebut dan begitu mempercayai saya, perempuan yang kebetulan secara rutin membeli dagangannya. Sementara saya, tidak ikhlas menunggunya menukarkan uang atau bersikap seperti yang dilakukannya Apalah susahnya mengatakan …. ”Ambil saja dulu uang itu. Besok saya lewat lagi dan kembalikan saja uang saya, besok” Ternyata saya sama sekali tidak memiliki keikhlasan dan kepercayaan kepadanya seperti apa yang diperlihatkannya kepada saya. Malu rasanya menyadari hal itu. Padahal dulu, sebelum pindah ke Lebak Bulus, saya selalu mempercayai penjaja sayur yang biasa datang ke rumah atau pembantu rumah. Setiap hari, saya selalu meletakkan uang di kotak yang tersimpan di atas lemari es, untuk belanja sehari-hari, yaitu sayuran dan bumbu dapur serta ongkos transport Muslimin ke sekolah. Tanpa sekalipun meminta rincian pengeluaran. Saya mempercayai mereka sepenuhnya. Kalau pembantu mengadu bahwa Muslimin mengambil uang lebih dari jatahnya, saya dengan enteng berkata : ”Biar saja… uang itu tidak akan membuat Muslimin menjadi kaya raya mendadak atau saya menjadi jatuh miskin. Yang pasti, orang yang mengambilnya tidak akan mendapat berkah Allah SWT”

    Sekarang, saat tinggal di Lebak Bulus, saya menitipkan uang belanja sayuran kepada ibu saya. Entah bagaimana beliau mengurusnya. Saya tidak lagi menaruh uang di atas kulkas untuk belanja. Mungkinkah karena hal kecil itu saya menjadi kehilangan sensitifitas untuk mempercayai orang kecil? Astaghfirullah … betapa picik dan sombongnya saya…. Ampun Tuhan….. Sungguh saya menyesal hari ini… saya sudah terjerat pada fenomena low trust society …. tidak memberikan kepercayaan kepada lingkungan sekitar. Selalu memandang curiga kepada orang lain.

    Besok saya harus lewat dan membayar kekurangan uang itu. Dua ribu yang relatif tidak bernilai buat saya, tapi betul-betul sudah membuat martabat saya ”terjerembab” ke dasar jurang… Sungguh saya malu… selama ini saya selalu berpegang teguh untuk selalu menjaga martabat diri. Selalu berusaha untuk tidak berlaku dzalim atau mencurangi orang lain. Ternyata apa yang saya lakukan masih sebatas artificial yang dengan sangat mudah dipatahkan oleh perempuan sederhana itu….

    Kalaupun esok[1] saya ikhlas memberikan uang lebih besar daripada uang yang harus saya kembalikan, tetapi saya merasa yakin bahwa keikhlasan itu tidak lagi bernilai dimata Allah SWT. Saya sudah kehilangan momentum yang baik untuk meraih ”nilai positif” di mata Allah SWT. Pada hari ini, saya sudah menampik kesempatan untuk meraih pahala dan berkah Allah. Sungguh, kesempatan itu selalu datang dalam bentuk dan pada waktu yang sama sekali tak terduga.

    Ampuni saya ya Allah…. Jadikan hal tersebut yang pertama dan terakhir. Sungguh, berikan saya kesempatan untuk selalu menjadi golongan orang-orang yang senantiasa rendah hati dan ikhlas serta dijauhkan dari kesombongan. Amien….!

    ***

    Dari Sahabat

    Lebak bulus 5 februari 2007 jam 22.30

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 14 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: beda mentega dan margarin, margarin, mentega   

    Benarkah Mentega Lebih Sehat dari Margarin 

    By Pipiet Tri Noorastuti, Mutia Nugraheni – Jumat, 20 Agustus

    VIVAnews – Selama ini mungkin Anda berpikir bahwa mentega dan margarin sama. Keduanya memang sumber lemak. Hanya, kandungan jenis lemaknya berbeda. Mengetaui perbedaannya penting demi pilihan makanan sehat untuk keluarga.

    Menurut tim peneliti Harvard University, Amerika Serikat, margarin dan mentega adalah sumber lemak berkalori sama. Namun, mentega dianggap lebih baik karena mengandung lemak alami yang penting untuk kekuatan tulang. Mentega juga mengandung nutrisi lain untuk kesehatan tubuh.

    Sedangkan margarin mengandung lemak jenuh yang dihasilkan ketika hidrogen dipanaskan sehingga minyak sayur mengeras. Suhu tinggi dalam proses produksi margarin ini berpotensi menghancurkan vitamin E dan nutrisi lainnya.

    Margarin juga menggunakan zat pengeras dalam produksinya, semacam nikel dan cadmium. Nikel adalah logam beracun. Paparan nikel berlebih di dalam tubuh berisiko menyebabkan masalah pada paru-paru dan ginjal. Sedangkan cadmium merupakan zat beracun dari logam berat yang dapat menyebabkan penyakit serius, seperti tekanan darah tinggi.

    Selama ini, margarin sering diklaim sebagai lemak tak jenuh ganda mengandung asam lemak omega 3 dan omega 6 yang tak dihasilkan tubuh. Margarin juga dikata dapat membantu menekan kolesterol dalam darah dan melindungi tubuh dari penyakit kardiovaskular. Benarkah?

    Tim peneliti Harvard University mengungkap, margarin justru mengandung asam lemak yang dapat meningkatkan risiko inflamasi, meningkatkan risiko serangan jantung, dan mengurangi harapan hidup. Konsumsi margarin secara berlebihan juga bisa memicu penyakit seperti colitis and arthritis.

    Untuk itu, konsumsilah mentega dan margarin secara wajar. Asal tak berlebihan, tak masalah. Yang pasti, ketika dihadapkan dengan margarin dan mentega, kini Anda bisa memutuskan mana yang lebih sehat. (pet)

    ***

    id.news.yahoo.com/viva/20100820/tls-benarkah-mentega-lebih-sehat-dari-ma-34dae5e.html

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 13 February 2011 Permalink | Balas  

    Hiduplah Saat Ini

    Oleh : AndrieWongso

    Pada suatu pagi buta, seorang pemuda mendatangi rumah gurunya yang dikenal bijak di desa itu. Dia mengetuk pintu rumah dengan keras, sambil suaranya terdengar memanggil-manggil gurunya. Si guru sambil mengusap matanya dan menahan kuap membuka pintu sambil berkata, “Ada apa anakku? Pagi-pagi begini mengganggu nyenyak tidurku. Ada sesuatu yang penting?” Pemuda menjawab, “Ampun guru, maafkan saya terpaksa mengganggu tidur guru. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan.” Si guru kemudian mempersilahkannya masuk ke dalam rumah dan pemuda itu pun segera menceritakan kegundahannya, yakni semalam dia bermimpi dijemput malaikat dan diajak pergi meninggalkan dunia ini. Dia ingin menolak tetapi sesuatu seperti memaksanya harus pergi. Saat tarik menarik itulah dia terbangun sambil berkeringat dan tidak dapat tidur lagi. Timbul perasaan takut dan tidak berdaya membayangkan bila malaikat benar-benar datang kepadanya.

    Si pemuda kemudian bertanya kepada gurunya, “Guru, kapan kematian akan datang kepada manusia?” Gurunya menjawab, “Saya tidak tahu anakku. Kematian adalah rahasia Tuhan”.

    “Aaaakh, guru pasti tahu. Guru kan selalu menjadi tempat bertanya bagi semua orang di daerah sini,” desak si murid. “Baiklah. Sebenarnya rata-rata manusia meninggal pada usia 70 sampai 75 tahun. Tetapi sebagian ada yang tidak mencapai atau lebih dari perkiraan tersebut.” Merasa tidak puas dia kembali bertanya, “Jadi, umur berapakah manusia pantas untuk mati?” Sambil pandangannya menerawang keluar jendela, sang guru menjawab,

    “Sesungguhnya, begitu manusia dilahirkan, proses penuaan langsung terjadi. Sejak saat itu, manusia semakin tua dan kapan pun bisa mengalami kematian”. Si murid bertanya terus, “Lalu, bagaimana sebaiknya saya menjalani hidup ini?”

    ”Hidup sesungguhnya adalah saat ini, bukan besok atau kemarin. Hargai hidup yang singkat ini, jangan sia siakan waktu. Bekerjalah secara jujur dan bertanggung jawab, usahakan berbuat baik pada setiap kesempatan. Jangan takut mati, nikmati kehidupanmu! Mengerti?” Dengan wajah gembira si murid berkata, “Terima kasih guru, saya mengerti. Saya akan belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh, berani menghadapi hidup ini, sekaligus menikmatinya. Saya pamit guru.”

    Hiduplah saat ini, tidak usah menyesali hari kemarin, karena hari kemarin sudah berlalu, tidak usah cemas akan hari esok, karena hari esok belum datang,

    Hanya hari ini yang menjanjikan kesuksesan , kebahagian bagi setiap orang yang mau dan mampu mengaktualisasikan dirinya dengan penuh totalitas! Sekali lagi,

    Hiduplah saat ini!!

    ***

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 12 February 2011 Permalink | Balas  

    Bukan Sekedar Memberi

    Oleh I.S Astuti

    Kita sesungguhnya patut bersyukur jika di tengah semakin tingginya individualisme masyarakat, di tengah gencarnya arus hedonisme dunia, ternyata “memberi” masih berada dalam daftar aktivitas kita sehari-hari. Entah sekedar memberikan salam atau memberikan sebagian harta benda. Akan tetapi, mungkin kita tak pernah mengukur bagaimana derajat pemberian kita. Dengan kata lain, mungkin kita terlupa bahwa ternyata kita seringkali hanya sekedar memberi, memberikan apa yang sudah tidak lagi kita inginkan, memberikan apa yang sudah tak lagi kita butuhkan. Sungguh terpaut jauh dengan kualitas pemberian oleh para sahabat pendahulu Islam.

    Dahulu Fatimah r.a rela memberikan kalung yang dimilikinya kepada seorang fakir yang datang kepadanya. Kita tentu juga tidak asing lagi bagaimana QS. Al-Hasyr:9 melukiskan kemuliaan kaum Anshar yang dengan senang hati memberikan pertolongan terbaik kepada kaum muhajirin. Bercermin pada kehidupan para sahabat, betapa kita melihat untaian kisah indah mereka yang bisa menjadi para pemberi kaliber dunia, yang bukan saja bisa memberi di saat senggang dan sempit, tetapi juga bisa memberikan bagian terbaik dari diri mereka.

    Sungguh besar kemuliaan yang terpancar dari pemberian mereka. Memberikan yang terbaik adalah manifestasi keikhlasan dan pengorbanan. Memberikan yang terbaik berarti juga wujud keyakinan kita kepada janji Allah dalam QS. Al-Baqarah: 272 bahwa tak akan pernah dirugikan sedikitpun orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah. Memberikan yang terbaik pun berarti mensyukuri nikmat Allah SWT serta mengoptimalkan segala kemampuan dan potensi diri untuk bisa memberikan manfaat buat orang lain. Dan tentu, memberikan yang terbaik adalah bukti nyata cinta seorang muslim kepada saudaranya. Lihatlah, betapa semua keutamaan ini tercermin dalam kualitas pemberian mereka yang begitu tinggi.

    Sementara bagi kita agaknya jerat-jerat kehidupan dunia mungkin masih begitu kuat membekap sehingga kita lebih sering memberi sekedarnya, memberikan seperlunya. Sepertinya, logika akhirat para sahabat itu masih di luar rasio kita sehingga teramat susah bagi kita untuk bisa meniru perilaku generasi terbaik itu. Akan tetapi, bukanlah hal yang mustahil bagi kita untuk bisa mengambil sedikit dari keteladanan para sahabat, sehingga kita bisa mempersembahkan setiap hal terbaik yang ada dalam diri kita.

    Bukanlah mustahil jika suatu saat kita tak lagi sibuk mencari-cari uang recehan tatkala ada pengemis meminta, sementara berlembar-lembar ribuan masih terselip di dompet kita. Semoga kita bukanlah orang yang sibuk membongkar pakaian usang di pojok lemari ketika banjir melanda saudara kita. semoga kita bukanlah orang yang hanya membagi makanan kepada tetangga saat makanan bersisa. Semoga kita bukan lagi termasuk orang yang menjawab salam seadanya, bukan lagi termasuk orang yang berkata seadanya tanpa hendak berpikir mendalam ketika ada seseorang meminta pendapat kita. Sungguh patut kita renungkan perkataan Fudhail bin Iyadh yang mengatakan sudah selayaknyalah kita bersyukur ketika masih ada seseorang yang meminta kepada kita, ketika kita masih bisa memberikan manfaat buat orang lain. Ataukah memang sesungguhnya kita termasuk orang yang tidak pernah bersyukur?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 11 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Jeruk Busuk Rasa Manis

    Oleh Bayu Gawtama

    Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, “Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? Biar saya cepat mati?”

    Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.

    Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.

    Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut. Tiba-tiba, “Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?” suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.

    Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.

    Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya? Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah. Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya. “Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa,” kata si Ayah kepada keluarganya.

    Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk. Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.

    Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga. Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, “Jeruk asam begini kok dibawa…”

    Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli seperti jeruk manis dan segar.

    Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu.

    Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 10 February 2011 Permalink | Balas  

    Kisah Abdullah bin Al-Mubarak Dengan Seorang Yang Ditahan Karena Dililit Hutang

    Oleh Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil

    Dari Muhammad bin Isa diriwayatkan bahwa ia berkata: Abdullah bin Al-Mubarak biasa pulang pergi ke Tharasus. Beliau biasa singgah beristirahat di sebuah penginapan. Ada seorang pemuda yang mondar-mandir mengurus kebutuhan beliau sambil belajar hadits.

    Diriwayatkan bahwa suatu hari beliau mampir ke penginapan itu namun tidak mendapati pemuda tersebut. Kala itu, beliau tergesa-gesa dan keluar berperang bersama pasukan kaum muslimin. Sepulangnya beliau dari peperangan itu, beliau kembali ke penginapan tersebut dan menanyakan perihal pemuda tersebut. Orang-orang memberitahukan bahwa pemuda itu ditahan akibat terlilit hutang yang belum dibayarnya.

    Maka Abdullah bin Al-Mubarak bertanya: Berapa jumlah hutangnya? Mereka menjawab: Sepuluh ribu dirham. Beliau segera menyelidiki sampai beliau dapatkan pemilik hutang hutang tersebut. Beliau memanggil orang tersebut pada malam harinya dan langsung menghitung dan membayar hutang pemuda tadi. Namun beliau meminta lelaki itu untuk tidak memberitahukan kejadian itu kepada siapapun selama beliau masih hidup.

    Beliau berkata: Apabila pagi tiba, segera keluarkan pemuda tersebut dari tahanan. Abdullah segera berangkat pergi, dan pemuda itu segera dibebaskan. Orang-orang mengatakan kepadanya: Kemarin Abdullah bin Al-Mubarak ke sini dan menanyakan tentang dirimu, namun sekarang dia sudah pergi. Si pemuda segera menyusuri jejak Abdullah dan berhasil menjumpai beliau kira-kira dua atau tiga marhalah (satu marhalah kira-kira dua belas mil -pent) dari penginapan.

    Beliau (Abdullah) bertanya; Kemana saja engkau? Saya tidak melihat engkau di penginapan?

    Pemuda itu menjawab: Betul wahai Abu Abdirrahman, saya ditahan karena hutang.

    Beliau bertanya lagi: Lalu bagaimana engkau dibebaskan? Ada seseorang yang datang membayarkan hutangku. Sampai aku dibebaskan, aku tidak mengetahui siapa lelaki itu.

    Maka beliau berkata: Wahai pemuda, bersyukurlah kepada Allah yang telah memberi taufik kepadamu sehingga lepas dari hutang.

    Lelaki pemilik hutang itu tidak pernah memberitahukan kepada siapapun sehingga Abdullah bin Al-Mubarak wafat. [Shifatush Shafwah IV:141,142]

    ***

    Dinukil dari: Panduan Akhlak Salaf, Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil Baha-uddien `Aqiel.

    Penerjemah: Abu Umar Basyir Al-Medani. Penerbit: At-Tibyan – Solo, Cet. pertama, September 2000. Di bawah judul; Ulama As-Salaf Dalam Kejujuran dan Keikhlasan, halaman.8-9.

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 9 February 2011 Permalink | Balas  

    Getah Kaktus Dapat Memurnikan Air Minum 

    AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

    Jakarta, Di balik durinya yang tajam dan penampilannya yang bersahaja, kaktus merupakan tanaman yang sangat bermanfaat. Salah satunya untuk memurnikan air, seperti yang dilakukan oleh penduduk Amerika Latin sejak zaman dahulu.

    Pada zaman dahulu, penduduk asli Meksiko menggunakan rebusan daun kaktus untuk memurnikan air sungai yang kotor sebelum diolah menjadi air minum. Partikel tanah dan kotoran lain langsung mengendap begitu dicampur dengan rebusan kaktus.

    Perilaku penduduk Meksiko ini kemudian diteliti oleh Norma Alcantar, seorang ahli teknik biokimia dari University of South Florida. Kebetulan, Norma sendiri merupakan keturunan warga asli Meksiko yang menghuni Amerika Latin.

    “Ketika kaktus direbus, yang keluar adalah mucilago yaitu getah kental dan lengket seperti lem,” ungkap Norma, dikutip dari Discovery, Rabu (18/8/2010).

    Bagi tanaman kaktus, mucilago merupakan pelindung terhadap terik matahari. Zat ini mencegah penguapan air dari permukaan kaktus, sehingga tanaman ini dapat bertahan hidup di lingkungan yang kekurangan air seperti gurun pasir.

    Ketika bercampur dengan air kotor, mucilago yang tersusun dari gula dan karbohidrat itu mengikat partikel-partikel halus yang mengotori air. Ikatan itu lalu menggumpal, sehingga mudah dipisahkan dari bagian air yang bersih.

    Norma juga meneliti bagaimana mucilago itu membersihkan air dari arsenik, polutan berbahaya dari limbah industri dan agrikultur. Arsenik yang bisa menyebabkan kanker itu bisa juga diikat oleh mucilago, menjadi molekul yang cukup besar sehingga bisa disaring dengan pasir.

    Bukan hanya itu saja, mucilago juga dapat membunuh bakteri yang merupakan salah satu polutan berbahaya dalam air minum. Belum diketahui pasti bagaimana mekanismenya, namun Norma mengklaim mucilago bisa menghasilkan air bersih yang 98 persen bebas bakteri.

    Berdasarkan penelitiannya tersebut, Norma mengembangkan sistem pemurnian air yang menggunakan filter berisi mucilago. Sangat ekonomis karena mucilago segar dari selembar daun kaktus jenis pir berduri (prickly pear cactus) yang cukup lebar dapat memurnikan air bersih untuk memenuhi kebutuhan minum satu keluarga selama 5 pekan.

    (up/ir)

    ***

    health.detik.com/read/2010/08/18/075545/1422176/763/getah-kaktus-dapat-memurnikan-air-minum?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 8 February 2011 Permalink | Balas  

    Ketika Malaikat Maut Menjemput

    Oleh Febty Febriani

    “Dari Abdullah bin Umar: Aku pernah mendatangi Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam sebagai orang kesepuluh dari sepuluh orang yang mendatangi beliau pada saat itu. Kemudian seseorang dari kaum Anshar berdiri dan bertanya, “Wahai Nabi Allah, siapakah orang yang paling cerdik dan terkuat pendiriannya?” Beliau menjawab, “Orang yang terbanyak mengingat kematian dan yang terbanyak persiapan untuk menghadapi kematian. Mereka itulah orang yang paling cerdik di mana mereka berangkat dengan kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat” (HR Thabrani)

    Bulan November 2006. Sudah lebih satu minggu berlalu. Saat itu, Bandung mulai diguyur hujan. Langit mendung dan gelap adalah hampir menjadi teman dalam keseharian beraktivitas. Suasana dingin juga menyergap relung badan. Saat itu, belum sederas seperti saat-saat ini. Hanya berupa rintik-rintik. Namun, cukup mampu membuat basahnya tanah. Cukup mampu juga memberi minum pada tanaman-tanaman. Rasa syukur yang terperikan, bagi yang membutuhkan.

    Sama seperti saat itu. Seakan mendung juga menyelimuti suasana kantor saya. Hampir tiga minggu berturut-turut, keluarga besar kantor dihadapkan pada suasana duka. Kematian. Peristiwa pertama terjadi pada minggu kedua di bulan November basah itu. Buah hati tercinta seorang rekan kantor menghadap Sang Penciptanya. Masih kecil dia. Bahkan masih balita. Sedang lucu-lucunya. Namun, waktu yang berbicara. Masanya sudah tiba.

    Sang buah hati meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Menuju tempat peraduan abadi. Penyakit bawaan dari lahirlah yang menjadi penyebab. Masih ada goresan luka di wajah kedua orang tuanya saat kami berkunjung ke sana. Masih tersisa sembab di kedua pelupuk mata. Terbata-bata sang bunda bercerita tentang si buah hati. Ketika proses kehamilan. Ketika proses kelahiran. Ketika proses pengobatan yang menguras tenaga dan pikiran. Ketika munculnya harapan untuk bisa sembuh. Ketika keduanya –rekan kerja dan isterinya- menunggu si buah hati di rumah sakit. Dan ketika proses kematian menjelang. Runtut saya mendengarnya. Kesedihan menyelimuti ruang tamu rumahnya. Tempat kami bertamu.

    Kematian memang meninggalkan duka. Apalagi, oleh kepergian orang yang dicintai. Apalagi, bagi rekan kerja saya, yang pergi adalah sang buah hati. Bukankah, bagi kedua orang tua, sang buah hati adalah setetes embun di padang pasir? Bukankah, bagi kedua orang tua, sang buah hati adalah pengobat rindu bagi kelelahan jiwa? Bukankah, bagi kedua orang tua, sang buah hati adalah harapan? Bukankah, bagi kedua orang tua, sang buah hati adalah penyemangat? Karena itu, adalah wajar ketika saya melihat duka di wajah rekan kerja saya dan isterinya. Sejarah mencatat, hal yang sama juga dirasakan oleh junjungan kita, Nabi Muhammad, ketika ditinggal putra-putra tercintanya yang belum beranjak dewasa. Tengoklah penggalan syair yang dikumandangkan oleh Abu Bakar Ath-Tharthusi tentang perasaan kedua orang tua ketika berpisah dengan anaknya.

    Keduanya menelan beban derita atas kematian anaknya dan tersingkap kerinduan-kerinduan yang mereka sembunyikan terhadap anaknya niscaya ia akan meratapi sang ibu yang sesak nafas terkena…

    Sama. Minggu terakhir di bulan yang sama, kembali saya mendengar peristiwa yang sama. Kematian. Saat itu, saya usai menunaikan shalat Ashar di masjid kantor. Seorang rekan kerja bercerita tentang peristiwa itu. Sore itu, ternyata, isteri tercinta seorang rekan kerja yang lain sudah berpulang ke Rahmatullah. Tak diduga secepat itu. Pagi tadi, masih ada rekan kerja saya yang masih bertemu dengan rekan kerja saya itu. Artinya, pagi tadi, ketika menuju ke kantor, rekan kerja saya meninggalkan sang isteri yang mungkin dalam keadaan baik. Memang, beberapa bulan terakhir ini, kondisi isteri tercinta rekan kerja saya itu tidak dapat dikatakan dalam keadaan sehat wal’afiat. Penyakit ginjal telah bersemayam di dalam tubuhnya.

    Ada isak tangis ketika sore itu kami melayat. Hampir seluruh rekan-rekan di kantor melayat sore itu. Suasana duka terlihat di sekeliling rumahnya. Ramai. Dipenuhi oleh tetangga dekat rumah. Cuaca sore itu seakan mendukung. Langit mendung. Tidak hujan memang. Sang anak, masih dengan mengenakan pakaian seragam sekolah, terlihat menangis. Tidak hanya berupa tangis sesenggukan. Lebih dari itu. Sang bapak memegang erat tubuh si anak. Mencoba menyabarkannya. Namun, bagi sang anak, kehilangan sang bunda untuk selama-lamanya adalah suatu beban yang berat. Kami menunggu beberapa saat. Agak cukup lama. Saat itu, sang mayit sedang dimandikan.

    Setelah sang mayit dimandikan, lalu dibawa ke rumah duka dan disemayamkan.Beberapa pelayat terlihat menyalami rekan kerja saya. Menyampaikan belasungkawa. Begitu juga dengan kami. Ada sembab di wajahnya. Ada tangis di wajahnya. Ada sedih di wajahnya. Begitulah yang saya lihat. Sang isteri tercinta telah mendahuluinya. Menuju Penciptanya. Suatu hal yang wajar. Bukankah Rasulullah juga bersedih ketika sang isteri tercinta, Siti Khadijah, mendahuluinya menjemput kematian? Bagi Rasulullah, wanita agung itu adalah sang penguat. Bagi Rasulullah, wanita mulia itu adalah teman berbagi dalam suasana apapun, suka dan duka kehidupan dakwah.

    ***

    Kematian. Kata itu menyiratkan sesuatu hal. Proses akhir keberadaan kita di dunia. Tahapan menuju ke alam selanjutnya, alam kubur. Proses menuju pertanggungjawaban akan eksistensi kita selama berada di kehidupan yang fana ini. Memang, meninggalkan duka bagi orang-orang terkasih. Namun, itulah kehidupan. Ada awal. Ada akhir. Ada kelahiran. Ada kematian.

    Kita tidak pernah tahu kapan waktunya bagi kita. Kapan waktunya bagi saya. Kapan waktunya bagi Anda. Hanya Dia yang mengetahui, Sang Pemilik Jiwa kita. Dia hanya berpesan lewat firman-Nya. Termaktub dalam kitab suci Al-Quran. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, begitulah bunyi firman-Nya dalam Al-Quran Surat Al-Imran ayat 185. “… ketika ajal mereka tiba, mereka tiada daya menangguhkannya ataupun menyegerakannya sesaatpun”, Al-Quran Surat Al-A’raf ayat 34 juga memperkuat tentang hal ini. Yah, setiap jiwa yang hidup tentu akan merasakan proses itu. Ketika malaikat maut menjemput. Siapapun dia. Saya. Anda. Saudara-saudara kita. Saudari-saudari kita. Hewan. Tumbuhan. Siapapun itu yang berjiwa.

    Sore ini, ketika menuliskan cerita ini, saya merenung. Sudah cukupkah bekal saya? Sudah siapkah saya, ketika berhadapan dengan sakaratul maut yang teramat sakit bahkan akan membuat kedua betis bertaut? Sudah siapkah saya, ketika sudah tiba saatnya bagi saya untuk meninggal kehidupan dunia yang fana ini? Sudah siapkah saya, ketika malaikat maut menjemput saya?

    Bandung, Desember 2006

    ***

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 7 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sepatah Kata Sepetak Surga

    Oleh Sus Woyo

    Ketika kecil, saya senang sekali mendengarkan orang-orang berpidato atau ceramah di tempat-tempat pengajian. Sampai suatu saat terbersit keinginan ingin seperti mereka yang pandai bicara.

    Atau bahkan dulu saya sering terkagum-kagum jika pada saat menjelang pemilu para juru kampanye yang mewakili partainya masing-masing begitu semangat membakar hati massa. Atau saya juga sangat sering terpukau dengan para politikus yang sedang berbicara atau berdiskusi di layar televisi. Yang ada dalam benak saya adalah bahwa mereka termasuk orang-orang hebat.

    Akhirnya saya terbuai untuk belajar bagaimana caranya berbicara di depan orang banyak. Baik lewat buku-buku ataupun mengikuti cara guru-guru saya ketika ngaji sore hari di surau kampung saya. Sebab ada pelajaran pidato.

    Seiring dengan perjalanana waktu dan seringnya ikut berkumpul dengan teman-teman di lingkungan kampung, maka saya makin terbiasa untuk ngomong di depan orang banyak, walaupun -tentu saja- tak sepandai seperti para tokoh yang saya sebut di atas.

    Akhirnya saya menjadi terbiasa sering ngomong berbagai macam hal di lingkungan tempat tinggal saya. Pada saat sudah tak ada masalah lagi dalam hal bicara di depan forum, tiba-tiba saya dihantui perasaan sangat khawatir. Tak hanya khawatir, bahkan sering dihantui ketakutan.

    Sampai beberapa lama saya malah sangat malas jika diberi mandat untuk sekedar berbicara di depan umum. Apalagi berkaitan dengan memberi pelajaran kepada orang lain. Sebagai contoh, memberi materi kuliah subuh di masjid. Walaupun pada akhirnya tetap saya kebagian untuk bicara juga. Karena tidak ada yang lain.

    Bagi saya hal ini merupakan tugas yang sangat berat. Kalau sekedar ngomong, berpidato, orasi, itu sesuatu hal yang mudah. Tapi tanggung jawab di balik kata-kata itu adalah sesuatu yang tidak gampang.

    Hasan Basri, sorang ulama shalafussaleh yang terkenal hati-hati dan zuhud, beberapa kali menunda, bahkan menolak membahas suatu hal dalam sebuah kajian keilmuan, bukan karena alasan apa-apa, tapi lebih karena ia sendiri belum pernah melaksanakan hal-hal yang akan diterangkan kepada umat.

    Lantas bagaimana dengan saya? Sudahkan saya melaksanakan shalat malam pada saat saya membacakan hadits tentang qiamullail? Sudahkah saya bersedekah, sementara saya sering membacakan nash tentang itu kepada orang lain?

    Saya tentu saja bukanlah Hasan Basri si ulama wara’ itu, tapi melihat ke-hati-hati-an beliau dalam membuat “sepatah kata menjadi sepetak surga”, memang perlu ditiru. Dan rupanya bukanlah sesuatu hal yang mudah. Walaupun itu juga tak selamanya menjadi sebuah kesulitan.

    Karena kita semua memang sudah paham, bahwa bagi orang mu’min, antara kata dan perbuatan haruslah sama. Tidak boleh seperti orang-orang munafik, yang antara kata dan perbuatan selalu tidak sama. Wallahua’lam.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 6 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Nikmat Yang Terlewatkan

    Oleh Bunda Shafiya

    Saat itu kami; aku, bapak dan Shafiya sedang berada dalam perjalanan pulang ke rumah. Kami baru saja pulang dari menikmati semangkuk Soto Lamongan Cak Har *slruup* yang terkenal itu. Tepat di traffic light menuju ke arah Margorejo, mobil berhenti karena traffic light menunjukkan warna merah. Aku melayangkan pandangan ke seberang jalan. Nampak olehku sosok ibu pengemis dan anaknya yang sedang mesra bersenda gurau. Si anak rupanya haus dan alhamdulillah saat itu sang ibu ada rezeki untuk membelikan sekantung plastik es teh bagi si anak.

    Dengan penuh rasa kasih sayang kantung plastik es teh itu dibuka dari ikatannya dan diminumkan ke si anak dengan menggunakan sedotan. Tampak si anak sangat menikmatinya, kehausan barangkali. Setelah si anak puas, ibu itu pun mencicipi es teh itu sedikit dan ternyata walaupun es teh itu hanya bersisa sangat sedikit, mungkin hanya satu tegukan lagi sisanya, sang ibu itu tetap menyimpan sisa itu dengan hati-hati dengan mengikat kembali kantung plastik es teh itu.. Subhanallah! Betapa orang seperti mereka sangat menghargai dan mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada mereka serta menjaganya dengan sangat hati-hati.

    Dadaku terasa sesak, bersamaan dengan itu air mata mulai menetes.. Teringat akan percakapanku dengan Shafiya di depot soto itu, “Nak, udah deh, ice tea-nya nggak usah dihabiskan. Ayo.. cepetan, Bapak sudah menunggu di mobil.” Betapa bodohnya aku yang malah mengajarkan anakku untuk berbuat suatu hal yang mubazir yang mencerminkan rasa tidak bersyukur padaNya. Astagfirullah.

    Bagi orang lain, peristiwa ini mungkin bukan sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Tapi saya memaknainya lain. Alhamdulillah.Allah memberi saya petunjuk untuk selalu mensyukuri nikmatNya dalam ketaatan kepadaNya. Syukur Alhamdulillah. Ibu pengemis itu telah mengajarkan kepada saya cara untuk menghargai nikmatNya.

    Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzdzibaan? Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang engkau dustakan? Pertanyaan retoris ini membuat saya tertunduk malu tiap kali mendengarnya. Betapa tidak! saya sering kali iri dengan nikmat yang ada pada orang lain. Saya memang tidak pernah sampai dalam tahap merasa dengki dan menginginkan agar nikmat orang lain itu hilang. Naudzubillah min Dzalik.. Tapi rasa iri saya membawa saya menjadi orang yang kufur nikmat. Padahal Allah selalu baik kepada saya. Dalam studi dan karir insya Allah saya selalu lancar. Ketika saya berdoa agar mendapat pendamping hidup yang sholeh, Allah dengan cepat mengabulkan permintaan saya. Ketika saya berdoa agar dikarunai anak yang menyejukkan pandangan orang tuanya, Allah dengan berbaik hati mengabulkan permohonan saya itu.. Namun.dari banyak nikmat yang ada, sedikit sekali saya mampu menyentuhkan dahi bersujud pada Allah untuk menyampaikan rasa terima kasih saya.

    Nikmat.. begitu banyak yang saya lewatkan tanpa mensyukurinya. Ya Allah.. janganlah golongkan saya menjadi orang-orang yang merugi karena kufur terhadap nikmatMu… (Tuhan) yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan keduanya tunduk kepadaNya. Dan Allah meninggikan langit dan Dia melektakkan neraca keadilan. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan jangan kamu mengurangi neraca itu. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluknya, di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bungaan yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? (Surat Ar Rahman: 1-13)

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 5 February 2011 Permalink | Balas  

    Marah-marah Bikin Serangan Jantung 

    AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

    Jakarta, Orang yang gampang marah-marah biasanya paling rawan kena serangan jantung. Bagaimana prosesnya orang yang marah-marah hingga timbul serangan jantung?

    Orang pemarah biasanya karena ada sesuatu yang tidak puas dengan keinginannya atau targetnya. Sesekali marah justru baik, tapi jika sedikit-sedikit ketidaksempurnaan sehari-hari ditanggapi dengan marah maka jantung bisa jadi taruhannya.

    Orang yang sering marah akan membuat hipotalamus mengeluarkan hormon stres, baik yang adrenalin maupun non-adrenalin. Pengeluaran hormon ini akan memicu peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah yang mengakibatkan penebalan dinding arteri dan pembentukan bekuan dalam pembuluh darah, serta aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah arteri).

    Pembuluh darah terutama di arteri leher (carotid) yang mengalami penebalan akan menyempit sehingga memicu berbagai masalah jantung dan pembuluh darah.

    Penebalan arteri semacam itu biasanya menyertai proses penuaan. Namun menurut penelitian di US National Institute of Aging, orang dengan sifat pemarah cenderung untuk mengalaminya di usia lebih muda.

    Peningkatan risiko yang dialami cukup signifikan, yakni mencapai 40 persen dibandingkan orang dengan kepribadian yang menyenangkan. Angka itu didapat setelah disesuaikan dengan faktor risiko yang lain, misalnya merokok.

    Kecenderungan lain yang teramati adalah bahwa penebalan arteri sebagai dampak dari sifat pemarah lebih banyak dialami oleh wanita. Umumnya penebalan arteri lebih banyak dialami pria, namun wanita pemarah punya risiko yang sama dengan pria yang menyenangkan.

    Penelitian ini melibatkan sedikitnya 5.600 partisipan dari 4 desa di wilayah Sardinia, Italia. Para peneliti mengamati dan membuat perbandingan antara kondisi emosional dan kesehatan para partisipan selama kurun waktu 3 tahun.

    Menurut peneliti, pola hubungan antara emosi dengan kesehatan pembuluh darah ini ini berlaku secara umum di seluruh dunia. Beberapa penelitian serupa dengan skala lebih kecil telah dilakukan dan menunjukkan hasil yang konsisten.

    Dr David L Katz, direktur Prevention Research Center at Yale University School of Medicine menanggapi positif penelitian ini. Menurutnya, sifat pemarah merupakan faktor risiko serangan jantung yang bisa disejajarkan dengan hipertensi.

    “Perkembangan ilmu psycho-immunology mengungkap bahwa status emosional dapat mempengaruhi kondisi hormonal dan syaraf, yang seluruhnya terkait dengan fungsi kekebalan tubuh,” ungkap Dr David seperti dikutip dari Healthday, Rabu (18/8/2010).

    (up/ir)

    ***

    health.detik.com/read/2010/08/18/095542/1422265/766/kenapa-marah-marah-bikin-serangan-jantung?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 4 February 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Berapa Biaya Kesehatan 1 Bungkus Rokok?

    Sudah banyak orang yang tahu bahaya yang ditimbulkan dari rokok. Tapi hanya sedikit yang mau tahu berapa biaya kesehatan yang harus dikeluarkan dari 1 bungkus rokok. Ternyata dari 1 bungkus rokok saja biaya kesehatan rata-rata dunia mencapai Rp 1-2 juta. Itu baru satu bungkus lho.

    Harga rokok rata-rata di banyak negara yang sudah melakukan ratifikasi tembakau adalah sekitar US$ 4-7 atau (sekitar Rp 38.000-66.000).

    Tapi jangan memasukkan harga rokok di Indonesia yang memang masih sangat murah yakni kurang dari US$ 1 dan Indonesia juga belum masuk dalam negara yang melakukan ratifikasi tembakau atau Framework Convention of Tobacco Control (FCTC).

    Dari harga rata-rata rokok di negara-negara maju, peneliti berhasil menghitung berapa biaya kesehatan yang ditimbulkan dari 1 bungkus rokok. Ternyata mencapai 36 kali lipat. Itu baru dari 1 bungkus rokok saja. Sedangkan perokok biasanya merokok lebih dari 1 bungkus selama dia suka.

    Peneliti mengambil sampel di Spanyol yang harga satu bungkus rokok antara US$ 4,20- US$ 5,60 (Rp 39.000-Rp 52.000). Setelah dihitung biaya kematian prematur akibat rokok maka yang harus ditanggung oleh perokok dari satu bungkus rokok adalah US$ 150 (Rp 1,4 juta) per bungkus untuk laki-laki dan US$ 105 (Rp 987.000) per bungkus untuk perempuan.

    Peneliti menyebutnya sebagai harga sebenarnya atau ‘true cost’ dari sebungkus rokok ternyata melebihi harga yang tercantum di bungkusnya.

    Sementara di Amerika, ‘true cost’ dari satu bungkus rokok dalam beberapa tahun terakhir seperti yang diterbitkan dalam Journal of Health Economics tahun 2006 mencapai US$ 222 (Rp 2,086 juta) per bungkus untuk laki-laki.

    Tinggal kalikan saja berapa bungkus rokok yang dikonsumsi maka perokok harus menanggun biaya sebesar itu jika mengalami sakit akibat rokok.

    Perhitungan ini diharapkan bisa membantu perokok memahami berapa sebenarnya biaya yang harus ia keluarkan untuk satu bungkus rokok. Cara ini dianggap mampu mencegah seseorang untuk merokok.

    Meski Diharapkan hasil penelitian di Spanyol ini bisa diberitakan ke seluruh dunia sehingga perokok tahu berapa biaya yang harus ditanggungnya yang rata-rata 36 kali dari satu bungkus rokok saja.

    “Ini kembali mengingatkan bahwa konsumsi tembakau dapat meningkatkan risiko kematian dini dibanding dengan non-perokok, sehingga seseorang dapat menetapkan berapa biaya kematian dini bagi orang yang merokok,” ujar peneliti Angel Lopez Nicolas dari Polytechnic University of Cartagena di Spanyol, seperti dikutip dari Foxnews, Jumat (29/10/2010).

    Nicolas juga menuturkan bahwa merokok bisa memotong rata-rata usia harapan hidup seorang laki-laki sebesar 7,13 tahun dan perempuan sebesar 4,5 tahun.

    Dalam penelitian ini Nicolas dan rekannya menggabungkan Value of a Statistical Life (VSL) dengan data epidemiologi terhadap harapan hidup bagi perokok dan bukan perokok, serta data mengenai konsumsi tembakau.

    Meskipun jumlah biayanya bervariasi, peneliti mengungkapkan bahwa pemahaman yang lebih baik mengenai ‘true cost’ dari satu bungkus rokok dapat membantu mengurangi perilaku tidak sehat ini.

    ***

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    http://www.detikhealth.com/read/2010/10/29/133611/1478693/763/berapa-biaya-kesehatan-1-bungkus-rokok?l993306763

     
    • Muhammad Joe Sekigawa 5:48 pm on 5 Februari 2011 Permalink

      Bagus lah postingan ini

    • adiratna 1:40 pm on 6 Februari 2011 Permalink

      nuhun informasonya

    • flyinginjakarta 2:04 pm on 6 Februari 2011 Permalink

      setuju banget ama postingannya

    • arik 5:13 pm on 6 Februari 2011 Permalink

      dimana mana itu rokok itu lebih banyak kerugiannya dari pada manfaatnya.

    • Gusi Merah 6:50 pm on 6 Februari 2011 Permalink

      intinya sebaiknya mulai saat ini menghentikan secara berangsur-angsur cara merokok kita jika kita masih perduli akan kesehatan dan masa hidup yang panjang..apakah kita tidak mengetahui bahwa resiko kanker paru-paru sangat tinggi pada para perokok

    • hilmi 10:43 am on 7 Februari 2011 Permalink

      bagus, terima kasih atas infonya

  • erva kurniawan 1:25 am on 3 February 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Masihkah Kita Lupa Berdoa?

    Oleh DH Devita

    Kadang kita tidak menyadari, betapa malasnya diri kita untuk selalu meminta pada-Nya. Atau mungkin ada saat-saat tertentu di mana kita tidak merasakan perlunya pertolongan dan perlindungan dari-Nya.

    Ada saat-saat tertentu di mana kita merasa ‘aman-aman’ saja dengan sejumlah kenikmatan duniawi yang telah kita rengkuh. Pada saat itu, kita tak lagi peduli akan orang lain, keluarga, dan orang-orang terdekat kita.

    Memang sudah tabiat manusia yang hanya akan ingat pada Rabb-nya ketika ia merasakan susah saja. Memang sudah tabiat manusia yang cepat lupa akan perintah-Nya untuk selalu bersyukur dan memanjatkan doa.

    Dan ketika musibah atau hal yang tak diinginkan itu datang, barulah kemudian sesal berkepanjangan. Bahkan mungkin mengutuk diri yang lalai akan kewajiban mengingat-Nya, dan mendoakan keselamatan diri serta orang-orang yang dicintai.

    Ada seseorang yang Allah memberikan sebuah kelebihan padanya, yaitu setiap kali ia memanjatkan doa, apa yang ia pinta dalam waktu tak lama terkabul. Ia memang selalu mensyukuri kemudahan yang telah Ia berikan tersebut, dan memang ia adalah seseorang yang bisa dikatakan bukan seseorang yang awam dalam hal pengetahuan agama. Tapi sekali lagi, bicara tentang keimanan tak cukup hanya sampai di situ.

    Keimanan mendalam adalah sebuah konsistensi ibadah, yang dihayati sepenuh jiwa, berlandaskan sebuah kepahaman yang utuh. Dan melalui ujian-ujian lah seseorang bisa mendapatkan predikat ‘mukmin’. Juga seperti yang Rasulullah sabdakan, bahwa keimanan yang bercokol di tiap hati seorang muslim pasti ada kalanya naik dan turun. Itulah yang akan menguji konsistensi seseorang dan mujahadah-nya dalam menjaga stabilitas iman.

    Seseorang ini pun hanyalah seorang hamba yang sama lemahnya dengan manusia-manusia lainnya. Kala ia merasa berada di titik ‘aman’ tersebut, maka ia kerap kali lupa untuk menjaga konsistensinya dalam memanjatkan doa. Padahal, kepada siapa lagi kita bisa meminta? Dan bukankah Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang selalu mendekatkan diri pada-Nya?

    Akhirnya, ujian-ujian kecil pun Allah turunkan, seseorang ini mendapatkan sebuah permasalahan yang cukup mengguncangkan hatinya. Dan ketika itulah ia menyadari kekhilafannya untuk mendekatkan diri dan berdoa pada Sang Pemilik Jiwa. Karena sesungguhnya segala nikmat adalah datang dari-Nya, demikian pula hal-hal yang bisa jadi tidak kita sukai yang menimpa diri kita. Karena sesungguhnya keduanya harus selalu kita syukuri, sebab itulah yang akan menjadi alat ujian, apakah kita lolos dan berhasil mendapatkan predikat ‘mukmin’ atau tidak.

    Dan seseorang ini pun, seperti yang sudah-sudah, akhirnya kembali merapatkan hatinya untuk bersimpuh pada Allah. Melantunkan kembali doa-doa panjangnya, berharap sesuatu yang sedang menimpanya akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik. Kembali berharap bahwa Allah akan mengabulkan pintanya kali ini, dengan keyakinan bahwa Allah akan selalu mengabulkan doa hamba-Nya yang meminta. Namun akankah keadaan ini berulang sepanjang hidupnya? Bahwa ketika ia kembali dalam posisi ‘aman’ lantas ia melalaikan diri dari Rabb-nya?

    Seseorang yang saya contohkan tersebut bisa jadi adalah gambaran diri kita sehari-hari. Mungkin bisa saja kita berkilah bahwa lalai dan lupa adalah memang tabiat manusia, dan kemudian kita memaafkan diri kita yang tak sanggup mengerahkan segenap kekuatan hati kita untuk berteguh dalam beribadah pada-Nya. Atau memang sudah menjadi tabiat diri kita yang menyepelekan sebuah untaian doa, menganggap bahwa ia tak sebanding dengan ibadah lainnya yang (sepertinya) sudah kita lakukan.

    Suatu ketika Aisyah ra. mendapati Rasulullah SAW yang mendirikan qiyamullail hingga bengkak-bengkak kedua kakinya. Nurani kita mungkin mengatakan bahwa perbuatan tersebut melampaui kemampuan fisik seorang manusia. Namun seorang Muhammad yang sudah dijanjikan surga serta dihapus segala dosanya saja bisa mengatakan, “Apakah aku tak boleh mewujudkan rasa syukurku pada-Nya?”

    Lantas, bagaimanakah dengan diri kita yang tak pernah lepas dari dosa serta masih harus berharap cemas akan tempat kita di surga?

    Saya rasa, seseorang yang saya ceritakan di atas patut mensyukuri bahwa Allah masih berkenan untuk ‘mengingatkannya’ dengan memberikan ujian-ujian kecil ketika ia lupa untuk mendekatkan diri pada-Nya.

    Bagaimana pula bila Allah tak lagi peduli dan membiarkannya tenggelam dalam kenikmatan dunia, sedangkan tak ada sedikit pun keridhaan Allah padanya? Sungguh, dunia dan segala isinya tak ada artinya dibandingkan menjadi bagian dari orang-orang yang diridhai dan dicintai Allahu Rabb al-‘Alamin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 2 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Nilai Sebuah ‘Alhamdulillah’

    Oleh: Alauddin

    Mulailah segala sesuatu dengan basmalah dan akhirilah dengan membaca hamdalah. Tentu ajaran ini sudah di luar kepala bagi setiap muslim, walau kadang masih saja terlewat.

    Namun ada sesuatu yang membuat kita mengernyitkan dahi ketika ajaran seperti itu diterapkan tidak pada tempatnya. Bisakah hal itu terjadi?

    Kita ambil contoh, dalam suatu malam penganugerahan kepada para insan perfilman, seorang pemeran utama naik ke panggung dengan pakaian “seadanya” untuk menerima penghargaan sebagai pemeran terbaik, setelah menerima award seperti lazimnya, ia memberikan sepatah dua patah kata dan tak lupa ia mengucapkan salam dan puji syukur, bahkan kadang disertai sujud syukur, “Alhamdulillah berkat Allah saya dapat memenangkan award ini, bla…bla…bla…”

    Di sisi lain kita tahu bagaimana, sebagai apa, peran artis tersebut dalam suatu film, memang sih aktingnya bagus, tapi dia berperan seronok yang jauh dari pesan-pesan moral dan tuntunan agama. Suatu ketulusan yang tidak pas, suatu ketulusan yang mungkin tepat waktu, tapi tidak tepat sasaran. Tepat waktu karena dia mendapatkan anugerah yang tentu tidak semua orang bisa meraihnya, tapi tidak tepat sasaran karena apa yang ia lakukan sehingga mendapat anugerah tersebut.

    Contoh yang lebih sederhana, seorang pelajar atau mahasiswa, ketika dalam suatu ujian dia mengalami kebuntuan, tiba-tiba terpikir untuk melirik jawaban teman di bangku sebelah, karena tidak biasa nyontek, “deg-degan juga nih”, tapi karena godaan begitu kuat (dasar syetan!) akhirnya diputuskan juga untuk melirik jawaban dari tetangga sebelah yang kebetulan terkenal pintar, dan tak lupa dia menerapkan ajaran di awal tulisan ini, dia mengucap “Bismillaahirrahmaanirrahiim, semoga tidak ketahuan dengan penuh ketulusan, lhoo….?

    Seorang PSK dengan penuh kepasrahan berujar, “Walaupun pekerjaan saya seperti ini, tapi alhamdulillah saya bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak saya yang entah di mana bapaknya” welehweleh …. Mungkin pula seorang pencuri, pembunuh, pemabuk, bahkan koruptor tak melewatkan membaca bismillah dan hamdalah untuk memulai dan mengakhiri aksinya. Ini sesuatu yang tidak pas, aneh, atau bagaimana ya?

    Mungkin itulah gambaran sebagian penerapan ajaran agama dalam kehidupan di sekitar kita. Bagaimana dengan Anda?

    Tentu saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita untuk memulai sesuatu dengan menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala dan mengakhirinya dengan memuji-Nya adalah dalam hal-hal kebaikan.

    Bagaimana dengan kejadian-kejadian di atas? Jangan-jangan mereka tidak sadar, walaupun sebenarnya tahu, kalau berzina, menyontek, mencuri, korupsi, adalah perbuatan yang tidak diridhai Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak selayaknya didahului dan diakhiri dengan menyebut nama-NYA.

    Memang kadang kita tidak sadar dengan perkataan dan kelakuan kita sendiri, karena sudah menjadi kebiasaan, sebagai contoh, Sholat, karena sholat telah menjadi kebiasaan, kita telah hafal di luar kepala bacaan dan gerakan-gerakannya sampai-sampai kita mengerjakannya tanpa sadar, tiba-tiba, lho kok udah mo salam ya..??? Sungguh jauh dari khusyuk, na’udzubillah mindzaalik.

    **

    Allahkadang hanya diingat pada saat-saat sempit, sulit, terjepit, dan terlilit, pada saat-saat seperti itulah nama Allah muncul dalam hati kita, kemudian dengan penuh keikhlasan, ketulusan, dan menghiba kita memohon agar Allah subhanahu wata’ala mengabulkan, menyelamatkan, dan membebaskan kita dari segala lilitan tadi. Setelah bebas, di mana Dia, entah, tak muncul lagi dibenak kita nama-Nya. Hanya sebatas inikah kadar keimanan dan keberagamaan kita? Sungguh menyedihkan, tak jauh beda dengan imannya Fir’aun yang mengatakan aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun, namun perkataan itu tiada gunanya karena terucap di kala nyawa sudah di tenggorokan, na’udzubillah mindzaalik.

    **

    Setiap saat kita perlu bermuhasabah, melihat ke belakang apakah perkatan, pekerjaan, dan perilaku kita sudah sesuai dengan tuntunan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam?

    Selalu berpikirlah dengan apa yang sedang kita kerjakan ataupun kita katakan, tepatkah perkataan saya ini? Benarkah, pantaskah saya melakukannya? Mulailah dengan basmalah dan akhirilah dengan hamdalah, dengan penuh ketulusan dan khusyuk semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala dan hindarilah perbuatan dan perkataan yang tidak diridhai Allah subhanahu wa ta’ala.

    ***

    Source: Eramuslim.com

    Dari Sahabat

     

     
    • faz@photography 2:48 am on 2 Februari 2011 Permalink

      mantap gan….tanda orang cinta dengan kekasihnya seringlah ia menyebut namanya..

    • ute 11:39 am on 2 Februari 2011 Permalink

      alhamdulilah syukrn dah berbagi ilmunya

  • erva kurniawan 1:10 am on 1 February 2011 Permalink | Balas  

    Depresi Sama Mematikannya dengan Merokok 

    Merry Wahyuningsih – detikHealth

    Lenox, Meski tak terlihat secara langsung, depresi dapat menyebabkan efek negatif pada kesehatan tubuh. Bahkan, orang yang depresi sama tak sehatnya dengan seorang perokok.

    Depresi sama mematikannya dengan merokok. Itu adalah simpulan yang diperoleh dari penelitian unik yang dilakukan oleh ilmuwan asal Inggris dan Norwegia. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam British Journal of Psychiatry.

    Peneliti dari University of Bergen di Norwegia dan King’s College di London membandingkan data survei lebih dari 60.000 orang dengan data rata-rata kematian. Hasilnya, selama empat tahun penelitian ditemukan bahwa risiko kematian akibat depresi benar-benar sebanding dengan risiko kematian akibat merokok.

    Depresi dan merokok, keduanya diketahui sebagai faktor risiko penyakit jantung. Selain itu, orang yang tertekan dan juga perokok cenderung lebih sedikit melakukan aktivitas fisik, yang merupakan faktor serius lain penyebab penyakit jantung.

    “Depresi merupakan faktor risiko utama untuk penyakit jantung, sama halnya dengan rokok,” ujar psikolog Jeffrey Rossman, PhD, Direktur Manajemen Kehidupan di Canyon Ranch di Lenox, seperti dilansir dari MSN, Selasa (17/8/2010).

    Menurut Rossman, kebanyakan orang yang depresi hanya menyimpan segala beban dalam pikirannya dan menganggap bahwa yang dialaminya bukanlah kondisi medis.

    “Sebaiknya orang yang depresi mencari seseorang yang bisa diajak berbagi beban pikiran, seperti keluarga, teman, terapis atau dokter. Latihan aerobik secara teratur dan psikoterapi sama efektifnya dengan antidepresan untuk mengobati depresi klinis, dengan hasil jangka panjang lebih baik,” tambah Rossman.

    Rossman merekomendasikan tiga hal yang paling penting untuk mencegah depresi, yaitu:

    1. Tetap aktif dalam hubungan asrama, sosial, pekerjaan dan kegiatan lainnya.
    2. Melakukan latihan fisik minimal 30 menit selama 5 hari dalam seminggu
    3. Makan makanan yang sehat dan segar (bukan makanan kemasan) dan hindari konsumsi alkohol yang berlebihan

    (mer/ir)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 677 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: