Updates from September, 2010 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:24 am on 30 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Saya Bersamamu Sayang 

    Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan. Mereka adalah pasangan yang saling mencintai dan anak itu adalah buah hati mereka.

    Saat anak tersebut berumur dua tahun, suatu pagi si ayah melihat sebotol obat yg terbuka. Dia terlambat untuk ke kantor maka dia meminta istrinya untuk menutupnya dan menyimpannya di lemari. Istrinya, karena kesibukannya di dapur sama sekali melupakan hal tersebut.

    Anak itu melihat botol itu dan dengan riang memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat tersebut lalu si anak memakannya semua.

    Obat tersebut adalah obat yang keras yg bahkan untuk orang dewasa pun hanya dalam dosis kecil saja.

    Sang istri segera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi si anak tidak tertolong. Sang istri ngeri membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya.

    Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada istrinya dan mengucapkan 3 kata.

    **

    Pertanyaan :

    1. Apa 3 kata itu ?

    2. Apa makna cerita ini ?

    Jawaban :

    (1) Sang Suami hanya mengatakan “Saya bersamamu sayang

    Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal, tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang istri. Lagipula seandainya dia menyempatkan untuk menutup dan menyimpan botol tersebut maka hal ini tdk akan terjadi. Tidak ada yg perlu disalahkan. Si istri juga kehilangan anak semata wayangnya. Apa yang si istri perlu saat ini adalah penghiburan dari sang suami dan itulah yang diberikan suaminya sekarang.

    Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti ini maka akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini.

    “Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil”

    Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa sesungguhnya banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan.

    (2) Moral Cerita

    Cerita ini layak untuk dibaca. Kadang kita membuang waktu hanya untuk mencari kesalahan orang lain atau siapa yang salah dalam sebuah hubungan atau dalam pekerjaan atau dengan orang yang kita kenal. Hal ini akan membuat kita kehilangan kehangatan dalam hubungan antar manusia.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 29 September 2010 Permalink | Balas  

    Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia 

    Ibnu Abbas ra. Adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia.

    Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu: Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur. Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.

    Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu : “Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

    Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh. Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.

    Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh. Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?”

    Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”.

    Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

    Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita. Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita.

    Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

    Kelima, al malul halal, atau harta yang halal. Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.

    Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

    Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama. Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.

    Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

    Ketujuh, yaitu umur yang baroqah. Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya.

    Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

    Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia. Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW.

    Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah. Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

    Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

    Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

    Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

    Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

    ***

    Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang, disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana

    sumber: dudung.net

     
    • Sri Mulyati 7:46 pm on 29 September 2010 Permalink

      izin copi ya…

  • erva kurniawan 2:37 am on 28 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: Bdelloid rotifera   

    Makhluk yang Beranakpinak Tanpa Seks 

    Merry Wahyuningsih – detikHealth

    Ithaca, New York, Semua makhluk di dunia melakukan hubungan seks untuk meneruskan generasinya. Tapi ada satu makhluk hidup aseksual (tanpa seks) yang bisa terus beranak pinak selama 30 juta tahun.

    Peneliti Amerika Serikat menemukan hewan primitif mirip lintah bernama Bdelloid rotifera yang hidup di air dan lumpur. Hewan ini mampu bertahan hidup selama 30 juta tahun tanpa hubungan seksual. Hal ini telah memecahkan misteri lama di bidang biologi.

    Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Amerika Serikat, menekankan bahwa hewan invertebrata (tanpa tulang belakang) yang disebut bdelloid rotifera adalah makhluk aseksual dan telah bertahan hidup begitu lama hanya dengan proses kloning.

    Menurut sejarah biologi, hewan aseksual punah relatif cepat. Hanya ada kurang dari 1 persen hewan di dunia yang aseksual, tapi semuanya punah dengan cepat dalam evolusi, kecuali rotifera.

    Di masa lalu, ilmuwan memperkirakan parasit dan mikroba memusnahkan organisme aseksual, tetapi seks mengizinkan pertukaran gen organisme dan berkembang dari waktu ke waktu hingga akhirnya resisten (tahan) terhadap mikroba.

    Tapi yang mengejutkan, selain mampu bertahan hidup tanpa seks selama 30 hingga 50 juta tahun, bdelloid rotifera bahkan tumbuh dan berkembang menjadi 460 spesies yang berbeda dengan cara kloning.

    Penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan Cornell University, Paul Sherman dan Chris Wilson, telah menjelaskan bahwa bdelloid rotifera dapat bertahan hidup pada tempat yang kering, terbang terbawa angin, menetap di tempat yang jauh, dan siap terbangun bila bersentuhan dengan air.

    “Hewan-hewan dapat bertahan hidup dengan tinggal di wilayah demografi musuh mereka, menjajah habitat bebas dari parasit, mereproduksi dan meninggalkan tempat itu sebelum mereka diserang dan dihancurkan,” ujar Paul Sherman, profesor neurobiologi dan perilaku, seperti dilansir dari topnews.in, Senin (24/5/2010).

    Sherman juga menuturkan bahwa evolusi organisme memainkan ‘permainan petak umpet’ tanpa akhir.

    Penelitian ini juga menginformasikan bahwa bdelloid rotifera lebih toleran terhadap pengeringan tinggi dan mampu terbang di udara lebih lama ketimbang parasit jamur yang menyerangnya. (mer/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/05/24/100535/1362757/763/makhluk-yang-beranakpinak-tanpa-seks?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 27 September 2010 Permalink | Balas  

    UBinus: Diawali Dengan Modal Ide 

    WIDIA SOERJANINGSIH SEMUA BERAWAL DARI NOL

    Mungkin banyak yang tahu, Universitas Bina Nusantara (UBiNus) adalah salah satu perguruan tinggi ternama di Jakarta, bahkan di Indonesia. Universitas pertama yang meraih Sertifikasi ISO-9001 ini memiliki lebih dari 20 ribu mahasiswa, 700 dosen, tiga kampus yang megah, meraih penghargaan “The Best Indonesian Net Company” dan belakangan punya citra sebagai cybercampus. Tapi barangkali sedikit yang tahu bagaimana seorang Widia Soerjaningsih dan ayahnya (alm) Wibowo, mengawali dan membangun universitas ini dari sebuah kursus komputer di teras rumah. UBiNus benar-benar diawali dengan modal ide dan keberanian belaka. “Jangan khawatir, pokoknya kalau ada kemauan pasti ada jalan. Kita bisa mulai dari kecil, ke sananya maju terus,” demikianlah cara Wibowo menempa semangat putrinya.

    Tapi, bagaimana bisa sebuah kursus komputer berkembang sedemikian pesat hingga menjelma menjadi universitas besar? Barangkali salah satu faktornya adalah karena pada masa 70-an, bidang garap teknologi komputer masih jarang dilirik dan dikuasai orang. Justru yang menarik, awalnya lembaga pendidikan ini dibangun dengan prinsip ‘asal kelasnya penuh’ dan ‘pelanggan puas’. “Prinsipnya begitu mereka mau mendaftar, saya harus melayani mereka dengan baik. Tidak ada target apa-apa, yang penting setiap kelas harus penuh,” tutur Widia yang lahir 19 Oktober 1950 di Malang itu.

    Dengan prinsip demikian, diakui Widia, semula UBiNus tumbuhan biasa- biasa saja. Begitu tujuan-tujuan berhasil didefinisikan, tim yang dipimpinnya merapatkan barisan dan target-target dikejar, laju perkembangannya pun makin pesat. Tak kalah penting adalah adanya visi ke depan yang begitu kuat, profesionalisme dalam mengelola manajemen perguruan tinggi, serta jiwa entrepreneurship yang diwarisi Widia dari sang ayah. Maka, tak berlebihan jika di dunia pendidikan tinggi di Indonesia, rektor UBiNus ini adalah salah satu sosok yang layak dijadikan teladan.

    Widia yang menikah dengan Eko Atmo Budi Santoso ini, berhasil mengawinkan antara idealisme dunia pendidikan dengan sistem pengelolaan bisnis profesional. Tak heran jika pada 2002 lalu ia dinobatkan sebagai The Famous Business Woman dan The Best CEO versi Majalah SWA dan MarkPlus. Nah, spirit apa yang membawa ibu dari Stephen (25), Francis (22), dan Patrice (18) ini ke tangga kesuksesan hingga sekarang? Simak wawancara eksklusif Widia Soerjaningsih dengan Edy Zaqeus dari InMagz.Com di gedung rektorat UBiNus Jl KH Syahdan 9, Kemanggisan, Jakarta berikut ini:

    Bagaimana sejarah awal berdirinya Universitas BiNus ini?

    Saya lulus S-1 bidang elektro, tapi bidang yang paling menarik adalah komputer. Lalu kerja praktek di IBM tiga bulan, sesudah itu pernah kerja di Pertamina tahun 1973. Saya kemudian terinpsirasi oleh idenya Pertamina. Pada waktu saya kerja, plan Pertamina memang untuk membuat Achademy of Computer Technology. Zamannya Pak Ibnu Sutowo itu tahun 1973. Kita direkrut untuk menyiapkan teaching staff. Karena pengalaman saya belajar di IBM, saya disuruh mengajar teman-teman yang dikumpulkan untuk menjadi guru di fakultas teknik. Ngajar segala macam bersama kawan-kawan dari (Universitas) Trisakti. Sempat setahun di sana. Pas saya berhenti itu Pertamina mulai agak jatuh. Saya berhenti dari Pertamina bukan karena itu, tapi karena ditarik Trisakti kembali. Karena adik harus masuk perguruan tinggi, dari keluarga ndak ada biaya, jadi saya punya tugas. Saya kerja di Trisakti, adik masuk. Terus sambil lalu, karena punya pengetahuan komputer, coba usaha di Trisakti kursus komputer bersama teman-teman. Adanya di Trisakti, awalnya itu….wah banyak muridnya. Tapi biasalah, kalau kita masih muda, apalagi seumur membuat usaha bersama, akhirnya nggak bisa langgeng.

    Usia Anda berapa waktu itu?

    Ya, di umur-umur S-1 berapa yah…sekitar 24. Kemudian dari situ sempat kita jalankan satu biro diklat. Dapat muridnya banyak. Dulunya mahasiswa menganggap komputer susah, kan? Tempatnya di Trisakti waktu sore, dan memang karena membawa korps pesertanya banyak. Yang mengamati langkah ini ayah, Pak Wibowo almarhum. Begitu saya selesai kuliah, dari semua pengalaman tadi, kayaknya ada potensi untuk dijual… Kebetulan ayah memang orang wirausaha. Sudah, disuruh buka kursus sendiri. Padahal anak-anak lulusan S-1 mana mau ya disuruh begitu? Maunya cari kerja ya? Karena berpikir lulus S-1 bisa apa sih? Padahal kalau kita kerja sama orang, kita masih diajari, kan? Anak-anak yang baru lulus biasanya pandangannya seperti itu. Saya ya sama waktu itu. Makanya, disuruh kerja sendiri…”Wah saya harus belajar pada siapa nih?” Ilmunya mentok, begitu kalau dipikir.

    Tapi waktu itu berani juga?

    Ya, karena saya termasuk yang nurut. Ya sudahlah, ndak usah kerja sama orang. Kalau kerja sama orang bisa stug, naiknya pun pelan. Tapi kalau kerja sendiri, yang pasti kalau mau naik bisa tergantung usaha kita. Sudah, saya didukung menjalankannya. Akhirnya bagi tugas, saya bagian akademik, ayah bagian pemasaran dan perizinan. Dan kita mulainya di muka rumah, di teras. Rumah di Grogol, Jl Makaliwe I No.10. Yang sampai sekarang akhirnya kita beli sebagai apa….momentum, biar pun kita belum bangun sampai saat ini. Kita terima malah rumah itu ndak ada tutup, kecil ruangannya cuma dikasih bangku-bangku. Paling banyak menampung 15 orang. Strategi pemasaran kita lakukan door to door, murah meriah ya… ke tetangga-tetangga banyak mahasiswa, kan? Yang kos itu anak Trisakti, anak Untar. Kebetulan memang di kampus Trisakti, komputer itu menjadi momok mahasiswa. Ekstranya, ini logicalnya gimana sih? Menata logical berpikir, kan itu? Kalau nggak bisa nangkap, kan bingung mau mulai dari mana? Tapi ternyata pesertanya ndak hanya mahasiswa. Banyak juga orang-orang dari perusahaan. Cuma saya tahunya belakangan, “Saya dulu belajar di situ”. Tahun 1974 kita mulai.

    Di awal pendirian kursus itu, apa hambatannya?

    Hambatannya itu dari segi saya yang memulai, otomatis antara percaya dan tidak percaya, bisa saya jalankan nggak? Itu pertama. Tapi karena didorong terus oleh ayah, akhirnya ya sudah…. Kebetulan prinsip saya, kalau saya melangkah saya harus melangkah lebih baik. Itu prinsip yang saya lakukan. Jadi ndak pernah mundur kalau sudah berani melangkah. Itu semangatnya yang menang. Hambatannya, saya tidak berpikir banyak hambatan karena saya juga tidak mempunyai suatu ambisi yang terlalu terang-terangan. Jadi kalau kelasnya penuh, berhasil! Iya, kan? Yang penting biaya hidup keluarga tertutup ha..ha..ha.. Dan memang kehidupan keluarga kita digantungkan ke tangan kita. Prinsipnya begitu mereka mau mendaftar, saya harus melayani mereka dengan baik. Tidak ada target apa-apa, yang penting setiap kelas harus penuh. Itu saja target minimal ya? Kita sudah pakai nama Modern Computer Course, terkenal dengan MCC waktu itu. Dari namanya sudah bagus lho…modern ha…ha…ha… Itu visi ayah.

    Mengapa waktu itu memilih usaha bidang pendidikan, bukan usaha yang lain?

    Sebenarnya di luar usaha pendidikan, karena ayah seorang wirausaha, itu segala macam usaha pernah dilakukan. Waktu kita kecil, ayah usaha di bidang distribusi, mengambil barang dari pabrik lalu dijual ke toko-toko. Lalu pernah jatuh karena ayah ditipu cek kosong waktu itu. Ibu juga sudah mulai dengan wirausaha makanan. Jadi segala usaha sudah dilakukan. Terus ayah melihat potensi saya ada, “Ya, udah…kamu jadi guru saja!” Jadi saya sendiri tidak berpikir ke usaha yang lain. Karena saya pikir, saya bisanya ya itu.

    Dari sebuah kursus, lalu bagaimana cara mengembangkannya hingga menjadi besar?

    Jadi kita mulai dari rumah, paling punya tiga shift, pagi, siang, malam. Begitu mulai penuh, saya mulai berpikir kenapa tidak dibesarkan (kelasnya). Tapi kalau itu kan kita perlu uang? Uangnya dari mana? Ayah bilang, “Jangan khawatir, pokoknya kalau ada kemauan pasti ada jalan. Kita bisa mulai dari kecil, ke sananya maju terus”. Beliau berpikir untuk kerjasama dengan panti asuhan di Kramat Raya. Kita main ke sana terus kita bilang, “Kita punya ide ini, bagaimana kalau kita share, bagi hasil?” Akhirnya kita mulai, pokoknya semua pekerjaan kita yang lakukan, nanti dari hasil kalau kita punya hasil yang lebih, hasilnya kita bagi dua. Kita berpikir kalau kita lakukan itu, ada suatu nilai sosial yang kita tanam. Jadi di samping usaha, ada yang kita bantu, panti asuhannya. Filosofinya itu, dan mudah- mudahan mendapat rahmat Tuhan. Kebetulan ayah juga orang yang sosial.

    Perkembangan berikutnya?

    Kalau di Kramat Raya kelasnya paralel, kalau yang diteras rumah saya sendiri yang ngajar. Lalu untuk dibesarkan sebagai sekolah, kelasnya harus bisa paralel. Berapa pun murid harus bisa ditampung. Jadi filosofinya itu bagamana supaya kita bisa memenuhi ruangan. Jadi awalnya kita punya empat ruangan.

    Tapi benar…. mungkin karena misi sosialnya ada, perkembangannya cepat. Kebetulan sekali tarifnya juga murah. Orang mulai ingin tahu komputer itu apa sih? Jadi banyak sekali yang hadir dan gurunya bukan saya sendiri akhirnya. Karena saya pernah bekerja di Pertamina, saya tarik teman-teman. Murid-murid di Pertamina sudah calon guru, kan? Lalu dari situ maju-maju, walau ada hambatan. Hambatannya waktu itu pada saat kita belajar, kita menarik guru dari tempat yang sama. Jadi sempat goyang oleh tuntutan kelompok yang kuat, menuntut suatu kondisi yang lebih baik. Waktu itu kita waduh… berat juga kalau bentuk seperti ini diikuti, lain kali diulang lagi, ya? Tapi ya sudahlah kita mundur, mereka yang main-main seperti itu ndak usahlah, kita cari staf lain.

    Dari situ kita belajar untuk mencari tenaga tidak dari satu tempat. Akhirnya kita hubungi Departemen Keuangan dan departemen pemerintah lainnya, banyak yang sudah belajar komputer, kan? Lalu berjalan, makin banyak muridnya, lalu mereka pada bertanya, “Mengapa bentuknya kursus-kursus? Kami belajar dapat pengetahuan, tapi kami tidak mendapat status sosial yang lebih baik?” Kebetulan yang ngambil itu benar-benar anak yang lulus SMA yang dia tidak ngambil perguruan tinggi. Beda dengan yang saya mulai di Grogol, anak-anak mahasiswa yang sudah punya status sosial. Jadi kalau di Kramat Raya itu umum banget. Jadi anak-anak SMA yang tidak bisa bayar kuliah masuk ke sana. Itu yang mentriger kita buka akademi saja. Dan kebetulan ayah termasuk tipe orang yang apa pun kalau dia ditantang, ditangkap. Itu gaya wirausahanya, “Mana…? Kita buka saja akademi komputer!”

    Kapan dimulai?

    Sekitar 80-an, ya kita mulai akademi tahun 1981. Saya bilang…waduh…masih mikir-mikir. Lebih banyak perhitungan. Sulit dong minta akademi? Karena dari pengalaman di Trisakti, saya pernah bekerja di sana, banyak sekali mahasiswa demo. Mulai 1974-1980 itu banyak sekali demo, Malari dan semacamnya itu ya. Karena itu saya bilang, waduh! Saya paling takut kalau didemo mahasiswa ha..ha..ha…

    Sampai sekarang masih takut?

    Kalau sekarang tidak. Karena kita belajar banyak dalam pertumbuhan. Waktu itu sempat terpikir, “Waduh… bagaimana kalau anak-anak yang tidak tahu filosofi apa-apa tiba-tiba menuntut sesuatu?” Kalau soal perizinan kita sudah pengalaman sekian tahun. Tapi ayah kan selalu pantang menyerah. “Jangan khawatir, pokoknya apa yang kamu tidak bisa sebutkan, saya yang akan lakukan”. Akhirnya benar, dicarikan seorang tokoh pembina, saya anggap sebagai guru saya juga, yang waktu saya masih SMA dia tokoh organisasi mahasiswa. Dia posisinya sebagai direktur kemahasiswaan. Ini strategi ayah. Pokoknya kelemahan saya dilengkapi ayah. Ya, sudah saya tidak mikir lagi, tabrak saja.

    Begitulah 1981 kita mulai akademi. Hambatannya kalau mahasiswa berkelompok seperti itu. Hambatan lain tetap keuangan. Tapi karena orang-orang buka usaha itu jiwanya pokoknya jangan takut apa pun. Kalau masih bisa didefinisikan, pasti bisa diselesaikan. Begitu bisa didefinisikan, akhirnya ada titik terang. Nah, masalah gedung ayah bilang, “Dalam dua hari saya akan jawab!” Benar. Begitu saya bilang itu, langsung dia main ke tempat Akademi Teknik Komputer yang pertama kita dirikan. Main ketemu pemiliknya, nggak kenal, tabrak aja! Kita nggak punya uang datang ke situ. Ada gedung kosong di belakang yang nggak dipakai, kita bilang “Boleh nggak kita pakai gudangnya?” Ya, kita nggak muluklah nggak pakai gedung yang bagus, seadanya saja. Nah, kita sudah punya tempatnya. Akhirnya kita nggak bisa mundur. Saya desain kurikulum, termasuk konsep-konsep administrasi. Dari segi kurikulum, berpikirnya sederhana.

    Bahannya dari mana, karena waktu itu belum banyak acuan?

    Belum ada. Mungkin akademi komputer sudah ada Budi Luhur yang duluan tahun 1978, kita mulai 1981. Jadi kita hanya ada sedikit gambaran. Karena itu para siswa kursus kita melihat ke situ, “Kami lebih kok dari mereka, kenapa kita nggak muncul?” Semangat siswanya seperti itu. “Ya, sudah kalau kalian percaya kita coba”. Jadi kurikulum kita rancang dengan pendekatan pengetahuan yang mana saya harus bisa memuaskan semua. Paling mudah, kan? Kalau sampai ada guru yang tidak hadir, saya datang, saya selalu menjadi pengganti. Saya pikir kalau ini perguruan tinggi, ada dosen tidak datang, karena kita ingin melayani mahasiswa, kan saya harus turun? Semua mata kuliah saya tawarkan. Amankan? Saya sendiri tidak turun mengajar, hanya kalau ndak ada gurunya saya yang ngajar sekali-sekali. Benar, 1981 kita mulai, lalu kita rekrut teman-teman dari Trisakti untuk jadi dosen. Tapi saya tidak ambil angkatan saya, tapi angkatan adik saya.

    Apa alasannya?

    Tidak tahu, ada suatu feeling yang mengatakan, mungkin saya lebih mudah mendorong anak-anak yang lebih muda dari saya, daripada teman sebaya. Jadi saya rekrut adik-adik angkatan saya. Tapi masalah di tahun-tahun pertama di kampus ini, tiga orang tenaga pengajar tadi berkirim surat kepada saya, mengundurkan diri. Tiga-tiganya hilang, padahal mereka pengajar inti dan hebat-hebat. Tapi sudah karakter saya, kalau ada masalah harus bisa diselesaikan. Ya, tapi saya tidak berusaha menarik. Saya kalau sudah dibuat seperti itu, ya sudah. Akhirnya saya turun ke seluruh mahasiswa, saya sampaikan jangan khawatir kita jalan terus, saya ngajar sendiri.

    Mengajar berapa kelas?

    Waktu itu kita hanya mengendalikan dua ruangan, jadi minimal saya harus punya satu partner. Tapi dari guru yang lain, guru part time, kita masih punya. Akhirnya kita menggunakan part time untuk mencari pengganti. Itu pengalaman yang nggak boleh diulang.

    Kapan mengalami percepatan pertumbuhan dan apa faktor-faktornya? ….

    Jadi kalau dari awal, langkah yang kita lakukan adalah berbuat sebaik mungkin melayani para siswa. Itu strategi yang saya lakukan. Karena itu tumbuhnya pelan. Sampai suatu saat tahun 1995, kita punya mahasiswa tujuh ribu, gedungnya kita baru punya satu yang lengkap. Itu pun dibangun mulai 1984, tiap dua tahun kita menambah ruangan sampai 1995. Kita mulai program S-2 tahun 1993 sebagai suatu program untuk mengangkat image, otomatis kita harus merekrut orang yang lebih baik. Kemudian belajar memenej teman-teman yang pengetahuannya di atas saya. Nggak gampang juga, susah juga! Biasanya teman-teman di atas kita, kalau ditarik dia langsung positioning diri, kan? Dari sisi lebih pengetahuannya oke, karena kita undang memang karena itu.

    Tapi kadang ada satu rasa sombong yang mengakibatkan mereka lupa, dengan meremehkan organisasi kita yang lebih besar. Ini sempat terjadi. Padahal ini adalah dosen yang kita didik melalui beasiswa dinas. Itu kegagalan pertama kita menentukan resource. Kita kirim ke luar negeri untuk S-3 tapi gagal. Itu hampir membalikkan organisasi kita, sehingga terpaksa kita lepas. Pada saat itu saya bertemu teman yang mempunyai filosofi berbeda dengan approach yang saya pakai. Kawan ini bilang, “Kalau kita ingin maju kita harus tentukan ujungnya dulu, sasaran”. Kalau saya kan didorong dari bawah. Jadi kalau kawan ini, ditentukan sasarannya dulu, terus kita uber. Sehingga sejak 1995 itu mulai lebih cepat. Sekitar enam tahun berikutnya, dari 7 ribu mahasiswa menjadi 22 ribu. Ini karena strategi teman tadi yang kita pakai.

    Siapa saja yang mendorong kemajuan tersebut?

    Tim inti kita sekarang. Jadi filosofi yang saya belajar dari kawan-kawan ini adalah kalau mau melakukan sesuatu, lakukan sesuatu yang besar sekaligus karena capeknya sama. Jangan yang biasa-biasa.

    Apa inti strategi Anda sehingga bisa membangun universitas yang pesat perkembangannya?

    Kita memang punya tim inti. Di dalam tim tadi kita selalu mendorong bahwa sebenarnya kita punya visi. Visi kita adalah menjadi panutan. Terus pada waktu diskusi, yang disebut panutan itu apa? Harus bisa jadi contoh kan bagi yang lain? Mengukurnya bagaimana? Nah, kita harus membuat langkah yang berbeda dari kawan-kawan lain. Langkah pertama yang kita lakukan adalah ISO. Jadi memakai bakuan mutu ISO 9001 tahun 1997. Pesannya, kita harus beda dengan kawan-kawan lain. Kalau berbeda harus inovasi, kan? Padahal awalnya kita ISO baru belajar. Tapi berani dululah.

    Setelah berjalan, ISO itu benar-benar suatu konsep yang bagus. Karena digunakan oleh banyak usaha dan perusahaan. Konsep berpikirnya bagus dan indah sekali. Antara lain disampaikan, ‘tentukan sasaran yang ingin Anda capai’, ‘semua sasaran harus bisa diukur’, ‘apa yang Anda tulis harus bisa dilaksanakan’. Kita belajar banyak dari konsep itu, bahwa kita tidak boleh berjanji sesuatu yang kita tidak bisa berikan. Karena itu bisa menjatuhkan kita. Kita harus menanamkan kepercayaan kepada pelanggan. Kalau kita janji A, harus diberikan A, dan semuanya harus bisa diukur. Dari situ kita menerapkan konsep-konsep yang berbeda dari kawan-kawan lain, misalnya pertemuan dalam suatu kelas. Kita define per kelas dalam satu semester, dan kalau ada dosen yang tidak masuk, kita harus bisa uber sampai ada kelas. Kalau perlu hari minggu kuliah. Sekalian ini menanam konsep kepada mahasiswa, kalau dia dirugikan, dia boleh berteriak kepada kita. Karena ini alat kontrol, mereka harus berteriak. Memang babak belur.

    Babak belurnya?

    Babak belurnya, teriakan tahun pertama itu tidak di sektor akademik saja. Wah…gila juga ini! Kita sudah berusaha merapikan bagian akademik, teriakannya di bagian-bagian lain. Keseluruhan akhirnya. Berarti tantangan bagi kita untuk bisa memuaskan para pelanggan kita di semua sektor. Itu kan input? Dulu kita tidak berpikir sejauh itu. Jadi itu yang menarik, sehingga kita belajar. Itu yang mendorong kita. Akhirnya kita membuat suatu plan yang bisa kita definisikan. Begitu tim berani mendefinisikan, tugas saya nguber tim. Tidak terasa itu tercapai, yang mengakibatkan pelanggan percaya kembali kepada tim. Biar pun berat karena kita harus berubah. Kalau tahun ini kita lebih ingin mengubah konsep berpikir.

    Perubahan seperti apa kira-kira?

    Kalau kemarin ISO itu tentang tujuan dan sebagainya. Sekarang kita bisa seperti ini dan diakui masyarakat. Sehingga pengalaman yang kita rasakan ini, kita ingin turunkan secepatnya kepada para mahasiswa supaya mereka juga berhasil juga nantinya. Jadi memang di dalam perjalanan, katakan kalau ada demo mahasiswa saat ini, kalau di tempat lain pimpinan menghindar, ya. Rata-rata tidak mau menemui, kan? Kalau kita berpikir karena mereka ini mahasiswa timur, pasti mereka ingin menyampaikan sesuatu feedback. Kalau mereka ingin menyampaikan feedback kepada kita, kenapa kita ndak mau menemui? Justru kita harus cari secepat mungkin. Dan harus dididik mahasiswanya. “Kalau Anda mau demo boleh, tapi misi demonya apa? Menyampaikan kritik kepada kita, kenapa tidak bertemu kita?”

    Jadi filosofinya yang kita tanamkan. “Kalau Anda mau menyampaikan itu, ngapain pasang-pasang spanduk atau rame-rame di lapangan? Nggak sampai juga kalau saya tidak dengar, atau kalau saya pura-pura ndak dengar. Misinya kan mau menyampaikan, datang saja ketuk pintu. Anda mau ngomong atau Anda mau marah di sini juga boleh”. Jadi filosofinya yang kita ubah. Dan cukup baik hasilnya. Mereka itu senang kalau didengar, ya? Begitu kita dengar, meskipun kita katakan “Sorry saya tidak bisa melaksanakan yang kamu minta….” Ndak marah juga. Mengapa kita takut?

    Salah satu keberhasilan lembaga ini adalah kerjasamanya dengan lembaga lain. Bagaimana Anda menjalankan strategi ini?

    Memang mengelola pendidikan itu bukan suatu proses yang begitu satu proses selesai, terus kita selesai, tidak ada after sales. Kalau di industri kan mereka pakai, begitu jual, ada after sales. Konsep perguruan tinggi kan nggak? Lepas dari perguruan tinggi itu urusan masing-masing. Dia tak berhasil ya dukamu, dia berhasil ya untungmu, begitu konsep umum, ya? Cuma kita berpikir, kalau mereka tidak berhasil, ya kita sedikit berdosa, kan? Artinya kita salah dong dalam mengarahkan mereka? Iya, kan? Jadi kita berpikir, minimal kita kasih senjata sedikit lagi dong! Yang harus kita lengkapi, yang dia kemampuan minimalnya secara cepat bisa sama dengan pasar. Karena itu kita mulai bekerjasama dengan Cisco, Microsoft, IBM, itu antara lain. Tujuannya adalah mentransfer pengetahuan-pengetahuan up to date yang mereka pakai di dunia usaha ini untuk bisa dikuasai oleh mahasiswa. Biar pun itu tidak masuk di kurikulum. Kurikulum kan kita bingung karena diatur pemerintah. Itu dipasang kan beban berat?

    Soal kurikulum dalam konsep Anda, apa saja yang perlu ditambahkan?

    Dari segi kurikulum kalau zaman dulu kan banyak diatur pemerintah. Tapi sekarang sudah banyak kelonggaran. Sehingga kita melihat, wah…. ini lebih mudah lagi untuk mencapai tujuan dan sasaran kita. Yang sebenarnya kita lakukan dalam kurikulum ini, akhirnya kembali ke prinsip lagi. Filosofi dasar yang harus kita tanam kepada mahasiswa adalah suatu pengantar untuk belajar. Apa pun ilmunya, jadi bagaimana cara kita mendidik mahasiswa tentang cara belajar untuk belajar. Ini yang tidak ada di dunia pendidikan. Sekarang ini yang saya lihat, karena banyak dosennya yang part time akhirnya ‘pokoknya aku ngajar…ngerti sukamu nggak ngerti sukamu’.

    Dampaknya nggak ada inovation. Kondisi mahasiswa sekarang kalau tidak disuruh tidak jalan, nggak ngerti inovation. Belajar pun biasa dikebut dua hari, kalau nilainya tinggi ada kebanggaan. Makanya kita adakan perubahan total. Jadi konsepnya, materi tidak harus habis, yang penting cara belajarnya bisa tertanam. Sehingga mereka bisa belajar lebih banyak daripada apa yang kita berikan. Otomatis ya, semangatnya harus ditanamkan, cari bacaan sebanyak mungkin, cari informasi sebanyak mungkin. Kebetulan saya kemarin mencoba dalam kelas entrepreneur, capek! Capeknya, pada awal di kelas saya tanya, “Ini kalian masuk kelas entrepreneur karena Anda mau jadi entrepreneur atau karena dipaksa oleh sistem kita?”.

    Dan jawaban mereka?

    Jawabnya, “Kami diwajibkan.” Wah, saya kecewa. Padahal saya mengorbankan waktu malam untuk mengajar mereka. Saya bilang, “Kalau Anda hanya untuk pengetahuan dan tidak untuk diterapkan, saya rugi!”. Lalu saya balik, “Di akhir kelas saya ingin Anda mengubah konsep bahwa akhirnya Anda ingin jadi entrepreneur, karena Anda tahu semua cara entrepreneur itu bagaimana”. Lalu kita kasih PR (pekerjaan rumah), otomatis dong, proses belajar kok. Apa yang harus Anda belajar, topiknya ini, belajar buku ini, cari dari internet ini, di kelas kita tidak ngajar. Saya anggap di kelas itu mereka sudah belajar, kita bicara suatu topik, tinggal mereka menentukan apa yang mau didiskusikan. Lalu saya undang para wirausahawan dan dunia industri, dan mereka boleh menggali sebanyak mungkin dari background pengetahuan minimal yang mereka pakai.

    Jadi pada awal bagaimana, perlu uang apa nggak, wirausaha, kan? Dan akhirnya mereka melihat bahwa teman-teman yang kita datangkan semuanya memulai usaha tanpa uang. Semua start dari zero. Maka begitu akhir kelas mereka membuat business plan, disuruh presentasi, sudah hebat-hebat. Nilai kita umumkan, lalu saya inginkan feedback; “Apakah Anda ingin jadi entrepreneur?” Semua bilang oke, malah ada yang sudah berpikir “Saya mau di industri ini, ini, ini.”. Ada juga yang bilang, “Ini adalah proses belajar yang paling menyenangkan yang pernah saya alami.” Sudah bagus, kan? Padahal kita nggak ngajar, hanya skenario kita buat sedemikian rupa dan mereka sendiri yang belajar. Tapi dampaknya mereka merasa itu yang paling tinggi nilainya. Jadi memang prosesnya yang harus diubah di perguruan tinggi itu.

    Dunia pendidikan adalah dunia idealisme. Sementara pendidikan sendiri jika tidak dikelola secara profesional juga tidak jalan. Bagaimana Anda menyeimbangkan keduanya?

    Sebenarnya terpisah. Sisi idealisme kita bukannya membentuk lulusan istilahnya, tapi memvalue-added. Menanamkan suatu value added kepada mahasiswa yang masuk sehingga menjadi lulusan, itu adalah pengetahuan dan nilai-nilai. Itu yang kita tanamkan. Itu idealismenya. Jadi usaha yang kita lakukan dalam memenej pengetahuan yang kita tanam tadi, dan itu yang disebut bisnisnya ya, mengelolanya. Kalau kita compare, mengelola perguruan tinggi dengan mengelola bisnis itu sama. Tidak ada bedanya. Kan di situ ada faktor finance, ada faktor operasional? Bedanya, kalau di pabrik kan dia milih barang mentah dikelola menjadi barang jadi. Kalau di rumah sakit ya menyembuhkan penyakitnya. Kalau di kita kan hampir mirip dengan di rumah sakit. Umumnya kita menambah value, itu yang kita garap. Di bisnis sama, tidak beda ya? Makanya teman-teman banyak yang mengatakan, kalau mengelola perguruan tinggi dengan gaya bisnis itu seolah-olah berdosa. Banyak yang mengungkapkan demikian. Tapi kalau filosofinya bagaimana kita berusaha dengan profesional untuk supaya targetnya tercapai, sama (dengan bisnis: red). Kawan-kawan di dunia industri tetap bilang ini bisnis ya.

    Cuma bisnis yang muatannya lain?

    Ya, tetap ada suatu nilai idealismenya. Ya, memang harusnya bisalah.

    Ke depan, cita-cita apalagi yang ingin Anda wujudkan setelah dari semua yang Anda bangun selama ini?

    Kalau di perguruan tinggi kita kan mencoba memberikan contoh, dan kebetulan ini kegiatan terbesar yang kita lakukan. Ternyata kalau kita menerima mahasiswa masuk, banyak konsep berpikir yang salah yang ditanamkan di pendidikan sebelumnya. Di keluarga kita tidak bisa mempengaruhi karena itu hak masing-masing keluarga. Minimal yang di sekolah-sekolah di tingkat bawahnya. Yang paling mendasar dampak yang kita rasakan di perguruan tinggi adalah kemampuan bertanya. Waduh. mahasiswa yang berani bertanya. takut kan mereka bertanya? Karena ini budaya. Padahal budaya bertanya itu, kalau mereka bertanya mereka bisa explore segala macam. Minimal dia akan bertanya terus pada diri sendiri. Itu akhirnya kita berpikir, kita harus memberi contoh juga pada tingkat di bawahnya.

    Jadi kita akan mendirikan sekolah. Tapi model kita tidak akan berbentuk seperti yang sudah ada. Biar pun model ini kalau kita lihat layer kita masih pasang di layer atas. Karena kita belum berani pasang di layer bawah ditinjau dari segi ekonominya. Tapi suatu saat kita akan turun jugalah. Jadi kita masih pakai yah.menanamkan ini pada yang atas karena kita juga lagi belajar ya? Proses belajar kan harus berhasil? Jadi kita menanamnya di atas, mungkin pengalaman ini nanti akan coba kita turunkan sebagai model. Mudah-mudahan model ini tidak kalah di perguruan tinggi, secara cepat kalau ikut program lain. Kalau ini dilewati Indonesia akan bangun lebih cepat, kan?

    Hal apa yang paling memotivasi Anda untuk berkarya di bidang ini?

    Pada awal berdiri kita punya moto, bahwa kita ingin berperan membangun bangsa melalui pengetahuan. Namanya kebetulan juga Bina Nusantara. Itu pun nama yang diberikan kawan-kawan seperjuangan ayah di masa penjajahan. Dan itu menjadi spirit seluruh civitas akademik kita. Itulah kenapa dinamakan Bina Nusantara, karena kita punya cita-cita melalui pendidikan ini kita harus bisa berperan membangun bangsa Indonesia. Itu folosofi yang ditanamkan oleh penasihat kawan seperjuangan ayah. Pada awal mulai mereka juga bilang, “Jangan mengecewakan kami ya? Jika Anda mengundang kami, ikuti apa pun tujuan, visi. Jangan sampai Anda hanya pinjam nama tetapi tidak bertanggung jawab!” Itu yang selalu kita ingat. Memang masa itu waktu kita tumbuh, semua perguruan tinggi pakai nama leader ya jenderal dan sebagainya. Kalau sekarang sudah hilang ya. Cuma saya bilang waktu itu, “Saya tidak akan pernah mencatut nama. Karena tidak ada gunanyalah nama-nama yang dipasang!” Iya, toh? Sampai hari ini kita tidak pernah pasang.

    Kalau spirit dari dalam Anda sendiri?

    Kalau visi dasar saya sebagai individu adalah bagaimana saya melayani banyak orang, sehingga mereka bisa berguna bagi negara dan bangsa ini. Yang menjadi panutan paling kuat bagi saya adalah Ibu Theresa. Sentuhan kemanusiaannya.

    Bagaimana Anda memaknai perjalanan hidup dan kesuksesan ini?

    Saya merasakan bahwa apa pun yang kita capai saat ini adalah bukan dari individu. Kadang-kadang saya berpikir bahwa Binus ini bukan milik saya, tapi Binus ini milik Tuhan yang dipercayakan kepada saya. Sehingga saya harus jaga baik-baik, sehingga ya tidak mengecewakan Pemiliknya.. Filosofi sebenarnya itu. Lebih mudah, kan? Dari pada kalau milik kita, kita bisa nggak tidur! Iya, kan? Kalau dibalik seperti itu, ini hanya milik Yang di Atas, kita hanya diberi kepercayaan, kan kita tinggal membagikan itu kepada kawan-kawan yang lain dan mereka rata-rata ikut setuju. Lebih enak lagi, kan? Sehingga gerakannya saya bilang, “Saya bukan tipe seorang pemimpin yang akan memonitor day to day apa yang kalian lakukan, tapi yang ingin saya tanamkan adalah bahwa pengawasnya bukan saya, pengawasnya adalah Pemiliknya”. Lebih enak lagi, kan? []

    ***

    Keep the ideas coming guyz… and why don’t u try some of them

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 26 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Penjual Kue Semprong Itu 

    Dari seorang sahabat:

    Semalam saya keluar dari Ranch Market jam 8.30. Hujan deras. Petugas Ranch Market setengah berlari mendorong trolly berisi barang-barang belanjaan saya. Saya juga berlari-lari kecil menjajari langkahnya menuju mobil. Saya membukakan bagasi dan petugas memindahkan barang-barang belanjaan saya. Seorang penjaja kue semprong mendekati kami. Memang setahu saya banyak penjaja kue semprong disana menjajakan barang dagangannya dengan sedikit memaksa.

    Karena terlalu biasa saya tidak mengacuhkannya, apalagi di hujan deras seperti ini.

    Setelah memberikan tip saya masuk mobil, namun masih saya dengar ucapan penjaja kue semprong tersebut, ‘ Bu, beli kue semprongnya untuk ongkos pulang ke Tangerang”.

    Didalam mobil saya berpikir saya kasih uang saja karena penganan yang saya beli di supermarket sudah cukup banyak, bagaimana jika tidak ada yang menghabisnya. Nanti jatuhnya mubazir. Saya memang lebih suka dengan para penjaja kue seperti ini ketimbang pengemis. Pelajaran berharga yang pernah saya dapat dari mantan bos saya sembilan tahun lalu. Masih teringat ucapannya ketika itu kami berdiskusi di kantor.

    “Coba kalau ada penjaja makanan atau barang dan pengemis dilampu merah mana yang kamu berikan uang?, tanyanya. Belum sampai kami menjawab, ia berkata lagi “pasti yang kamu berikan uang si pengemis itu dan penjaja makanan atau barang itu kamu acuhkan”. Secara serempak kami mengiyakan. “coba pikirkan lagi, si pengemis itu pemalas tidak bermoral, kenapa kita kasih uang, sementara si penjaja makanan ataupun barang punya harga diri, dan pastinya secara pribadi lebih baik dari si pengemis, lalu kenapa kita tidak membeli barang dagangan si penjaja makanan atau barang tersebut? Teman saya nyeletuk,” karena kita ngga butuh”. Mantan bos saya bergumam, “Ya betul karena kita tidak butuh”.

    Obrolan itu begitu singkat, tapi begitu mengena di hati saya. Pak Teddy Sutiman membuka mata hati saya untuk lebih bijaksana dalam melihat suatu persoalan, bukan hanya berpikir praktis saja. Dan sejak itu saya lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan atau barang di jalanan dibandingkan para pengemis.

    Penjaja jual kue semprong itu masih dengan setia menanti disisi mobil saya. Saya menghela nafas.

    Bukan karena tidak rela berbagi rejeki tapi karena menyesali banyak sekali penganan yang sudah saya beli tadi. Akhirnya saya membuka kaca, ” Pak, saya tidak mau beli kue semprongnya, tapi kalau bapak saya beri uang mau tidak?”. Tidak dinyana penjaja kue semprong itu menggelengkan kepalanya dan pergi dengan cepatnya dari sisi mobil saya. Saya tersentak dan menutup kaca jendela, hujan mengguyur deras dan membanjiri sisi kaca dalam mobil saya karena berbicara dengan si penjaja kue semprong.

    Beberapa detik saya kehilangan daya ingat saya, karena tidak menyangka ucapan yang keluar dari penjaja kue semprong tadi. Sembilan tahun saya telah lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan ataupun barang dibanding pengemis. Sesekali jika saya tidak butuh barang mereka, selalu saya ucapkan kalimat tadi, dan hampir semuanya tidak pernah menolak pemberian saya. Baru kali ini ada yang menolaknya. Baru kali ini …

    Hujan mengguyur makin deras dan saya masih terpaku di mobil, terbayang ucapannya ” untuk ongkos pulang ke Tangerang..” sementara total nilai belanjaan saya tadi mungkin bisa untuk ongkos pulang Bapak penjaja kue semprong selama tiga bulan.

    Tersentak saya mencari-cari bayangan penjaja kue semprong ditengah kabut dari derasnya hujan, terlihat pikulannya ada di pinggir teras sebuah toko tutup.

    Hujan masih deras mengguyur kaca mobil. Mudah-mudahan hujan cepat reda supaya bapak penjaja kue semprong tadi bisa pulang tanpa kehujanan.

    Penjajanya duduk dibawah dengan muka pasrah. Saya mundurkan mobil menuju kearahnya. Kembali saya buka kaca jendela sebelah kiri ditengah guyuran hujan dan menjerit,’ Pak, memang harganya berapa ?”. Ia menyebutkan sejumlah harga yang sangat murah. Akhirnya saya katakan,” ya sudah deh beli satu”. Dia membawa kue semprong pesanan saya didalam plastik. Sampai di mobil,” saya serahkan uang, dan dia bengong karena saya tidak menyerahkan uang pas. Saya tau dia pasti bingung memikirkan kembaliannya, tapi dengan cepat saya katakan, “kembaliannya ambil buat Bapak saja”. Dia bengong. “ambil saja Pak, ini rejeki Bapak, memang hak Bapak”. Dia meneguk ludah, sebelum sempat dia mengucapkan apa-apa saya langsung menutup kaca mobil dan pergi.

    Tiba-tiba air mata ini mengalir deras melebihi derasnya hujan diluar sana.

    Kalau Bapak itu tidak menerimanya, saya tidak tahu seberapa sakitnya hati saya, karena didalam rejeki saya ada hak mereka termasuk hak Bapak penjaja kue semprong itu. Tiap bulan memang selalu saya sisihkan buat mereka, tapi mengetahui bahwa saya telah memberikan betul-betul kepada orang yang berhak menerimanya, betul betul kepada orang yang berhati mulia, dan betul-betul kepada orang yang membutuhkannya, betul-betul membuat saya merasa hidup saya begitu bermakna dan saya sangat bersyukur atas rahmat-Nya.

    Ditengah leher saya yang sakit sekali karena tercekat, saya berdoa kepada Allah agar Bapak penjaja kue semprong tersebut dan keluarganya diberikan rahmat, kemurahan rezeki dan kemudahan hidup oleh Allah. Dan saya bersyukur atas segala rahmat dan kemudahan hidup yang diberikan Allah kepada saya dan keluarga saya.

    ***

     
    • rizal 6:40 pm on 26 September 2010 Permalink

      saya juga pernah mengalami pengalaman yang hampir mirip seperti itu. saya mahasiswa, yang saat itu pulang dari kampus sekitar jam 6 magrib sore. sewaktu mengambil uang ATM, di cabang BNI jalan Kaliurang , Yogya, sekilas saya melihat nenek2 yang sudah tua, mungkin umurnya 60tahunan, menggendong daganganya yaitu pisang. nah sewaktu, mw pulang nenek itu meminta saya untuk membeli pisanngnya, padahal takutnya mubazir kalau saya bawa pulang, dan nenek itu berharap sekali, karena sejak tadi, pisangnya belum laku. yah tak ada niat untuk beli akhirnya saya pun membeli pisang, yang seharga 20rb..mahal amat ya, batinku. tanpa basi2 lagi, sy langsung pulng ke kost. sepanjang perjalanan aq, berpikir, ni pisang ndak bisa kuhabiskan nih kalau aq sendirian.. akhirnya , saya kasihkan cuma-cuma ke pengemis perempatan ringroad jalan kaliurang, semoga mendapatkan berkah.

    • kue ulang tahun bandung 1:49 pm on 28 September 2010 Permalink

      kuenya enak

    • arytama 12:14 pm on 28 November 2010 Permalink

      aku jg pengalaman yg sm dgn penjual kue semprong, beliau kakek2. Waktu itu pulang kerja, dan beliau menawarkan kuenya dengan suara lirih memelas. Sbnrny aku gak butuh tp aku beli jg krn kasihan, itung2 lumayan membantu meringankan beban kakek tersebut. Pas dibawa pulang kuenya, utk oleh2 di rumah, ternyata ortu ku senang aku bw kue itu kue trsbt dan ternyata punya memori tersendiri tentang kue itu.

  • erva kurniawan 1:24 am on 25 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , manfaat khitan, ,   

    Sunat Atasi Gangguan Penis Fimosis Pada Anak

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    Jakarta, Salah satu gangguan yang bisa terjadi pada penis anak laki-laki adalah mengalami fimosis (phimosis). Anak yang mengalami fimosis selalu merasa sakit saat kencing. Umumnya kondisi ini diobati dengan cara disunat atau dikhitan.

    Fimosis adalah kondisi kulup (bagian kulit yang menutupi ujung kepala penis) tidak dapat ditarik sehingga kulit tersebut menutupi lubang atau saluran kemih yang menyebabkan anak merasa nyeri saat buang air kecil.

    Seperti dikutip dari Menshealth.about.com, Selasa (18/5/2010) fimosis dapat disebabkan oleh:

    1. Kegagalan kulup untuk melonggar selama proses pertumbuhan
    2. Infeksi seperti balinitis
    3. Cacat yang disebabkan oleh trauma
    4. Penyakit pada alat kelamin.

    Infeksi yang terjadi kemungkinan timbul dari ketidakmampuan melakukan pembersihan yang efektif sehingga menyebabkan pembengkakan, kemerahan dan rasa sakit di daerah tersebut.

    Selain rasa nyeri dan sakit saat buang air kecil, fimosis ini juga sering disertai dengan gejala:

    1. Bagian depan penis yang menggelembung
    2. Anak menangis saat buang air kecil karena timbul rasa sakit
    3. Urine yang keluar tidak lancar
    4. Kadang disertai dengan demam tinggi atau iritasi pada penis.

    Fimosis ini bisa terjadi karena faktor kongenital (bawaan sejak bayi lahir) atau bisa juga akibat peradangan berulang yang terjadi pada kulit depan penis (kulup).

    Anak-anak seringkali sulit untuk mengungkapkan apa yang dialaminya, sehingga orangtualah yang harus cermat memperhatikan dan melihat apa yang terjadi dengan anaknya.

    Beberapa ahli medis memiliki pendapat berbeda mengenai pengobatan terhadap kondisi ini, diantaranya ada yang melarang melakukan perawatan bedah sampai anak tersebut mencapai pubertas. Namun jika penyebab dari fimosis ini adalah akibat infeksi Balanitis xeroticia obliterans, maka satu-satunya pengobatan adalah melakukan bedah sunat.

    Meski demikian ada beberapa pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi fimosis, yaitu:

    1. Menggunakan krim tropis, steroid dan non-steroid yang dioleskan pada bagian kulup.
    2. Peregangan bertahap untuk membuka kulup sehingga lebih longgar.
    3. Pembedahan untuk membentuk kembali kulup dan membuatnya lebih lebar.

    Umumnya jika fimosis tak kunjung sembuh setelah diberikan pengobatan berupa krim dan peregangan, maka dokter akan menyarankan dilakukan sunat untuk membuang kulit kulup tersebut.

    Hingga kini sunat atau khitan masih menjadi pengobatan yang efektif untuk fimosis, dan sunat ini sendiri tidak akan mengganggu fungsi reproduksi dari anak tersebut nantinya.

    Setelah dilakukan sunat, orangtua dan anak harus menjaga kebersihannya agar tidak terjadi infeksi yang dapat menghambat saluran kemih kembali.

    Selain itu usahakan untuk selalu membersihkan kepala penis perlahan-lahan setiap kali anak selesai buang air kecil. Hal ini penting untuk menjaga kebersihan dan mencegah penyumbatan saluran kemih oleh kotoran. (ver/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/05/18/154558/1359320/764/sunat-atasi-gangguan-penis-fimosis-pada-anak?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 24 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Dajjal vs Isa Ibnu Maryam 

    Sebagaimana diketahui, bahwa beriman terhadap hari akhir merupakan salah satu rukun iman dalam aqidah Ahlu Sunnah wal Jamaah. Hari Akhir tiba dengan didahului tanda-tanda kecil dan besar. Adapun yang tergolong tanda-tanda besar adalah: Munculnya Dajjal Dan Turunnya Isa Ibnu Maryam.

    Ada sebagian orang-orang (ulama lokal) seperti. Prof. Hamka, Quray Shihab, Hj. Irene (mantan biarawati) yang tidak percaya akan turunnya Isa Ibnu Maryam dan munculnya Dajjal. (lihat buku: Jangan Tunggu Nabi Isa Turun) Hal ini dikarenakan, bahwa Hadits Abi Umamah al Rahili “sanadnya lemah”, juga (oleh Hj. Irene) dikatakan cerita “Dajjal dan turunnya Isa” hanya berasal dari Bibel.

    TETAPI seorang Mujaddid dan Ahli Hadits dunia, yaitu: Asy-Syaikh al-Allamah al-Mujaddid Syaikhul Islam Muhammad Nasirudin Albani Rahimahullah, telah menyatakan, bahwa, Hadits-Hadits tentang munculnya Dajjal dan turunnya Isa Ibnu Maryam “setelah di takhrij dan tahqiq” adalah SHAHIH dan MUTAWATIR (banyak yang meriwayatkan). (lihat, Nabi Isa vs Dajjal. Hal.33)

    Kisah ini dikumpulkan hanya sebagian dari hadits-hadits dari sekian banyak hadits-hadits yang mengkisahkan tentang Dajjal vs Nabi Isa. Sumber: NABI ISA vs DAJJAL oleh: Ahli Hadits Syekh Albani, HURU-HARA HARI KIAMAT oleh: Ibnu Katsir

    (baca dengan sabar!)

    **

    Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Allah tidak pernah menurunkan ke bumi sejak penciptaan Adam hingga tejadi hari kiamat, sebuah fitnah yang lebih besar dari fitnah Dajal. Saya telah mengatakan suatu perkataan yang belum pernah seorangpun mengatakannya (dari nabi) sebelumku.Dia (Dajjal) itu dari golongan manusia, dengan (ciri-ciri): rambut keriting, mata kiri buta, diatas mata kanannya ada alis yang tebal, dan ia mampu menyembuhkan kebutaan, dan penyakit belang-belang,

    Dajjal keluar pada saat agama mulai melemah dan ilmu pengetahuan tidak lagi di gubris. Ia akan tinggal dan berjalan dibumi selama 40 hari. Sehari bagaikan setahun, setahun bagaikan sebulan, dan sehari bagaikan satu jumat. Kemudian seluruh hari-harinya seperti harimu ini.

    Ia mengajak manusia untuk mengikuti lalu diikuti, dan mengajak orang-orang lalu ia membunuh mereka. Ia menampakkan dirinya pada mereka hal seperti itu terjadi hingga ia mendatangi Madinah.

    Maka nampaklah agama Allah dan diamalkan; agama Allah diikuti dan ia (Dajjal) suka akan hal itu. Kemudian ia berkata setelah itu, “sesungguhnya aku seorang nabi!” lalu bergetarlah semua yang berakal dan mereka pun pergi meninggalkannya. Lalu ia tinggal setelah itu dan berkata, “Aku adalah Allah!” maka matanya menjadi tertutup, telinganya terpotong dan tertulis diantara kedua matanya kafir, yang terbaca oleh segenap mukmin yang mampu menulis dan yang tidak mampu menulis.

    Dia membawa fitnah (cobaan bagi manusia) yang besar. Dia memerintahkan langit untuk menurunkan hujannya, maka turunlah hujan itu dan disaksikan oleh orang-orang.

    Ketika Dajjal muncul, seorang lelaki dari orang-orang yang beriman mencarinya, maka ia bertemu dengan sekelompok dajjal-dajjal (kecil), lalu mereka bertanya kepadanya, “Apa yang kamu cari?” Dia (lelaki itu) menjawab, “saya mencari orang yang keluar!” lalu mereka bertanya kepadanya (kembali), “Apakah kamu tidak mempercayai tuhan kami?” Dia menjawab: “Tuhan kami tidaklah samar.” Lalu mereka membawanya ke hadapan Dajjal (terbesar). Ketika orang beriman itu melihatnya, dia berkata, “Wahai sekalian mamusia, inilah dajjal yang telah disebutkan oleh Rasulullah s.a.w.

    Maka Dajjal segera menyuruh merebahkan tubuh orang beriman tersebut, dan memerintahkan untuk mengupas kulit dan memukuli punggung dan perutnya. Lalu Dajjal bertanya, “Apakah engkau masih tidak mempercayai kami?” Dia menjawab, “Engkau adalah Dajjal si pendusta. Kemudian diperintahkan supaya (mukmin tersebut) digergaji dari atas kepalanya hingga kakinya menjadi dua bagian, lalu Dajjal tersebut berjalan ditengah dua bagian badan yang telah tebelah dua.

    Kemudian Dajjal memerintahkan kepadanya, “Bangunlah!” maka bangunlah dan tegaklah dia. Kemudian Dajjal bertanya lagi, “Apakah kamu masih belum percaya kepadaku?” dia menjawab, “Tidak berkurang pengetahuanku tentang kamu, bahkan bertambah yakin.” Kemudian orang beriman tersebut berkata, “Wahai sekalian orang, dia (Dajjal) tidak dapat berbuat demikian lagi kepada seorangpun (membunuh kembali mukmin tersebut).

    Maka dia (Dajjal) berusaha untuk membunuh kembali orang beriman tersebut. Tetapi Allah telah meletakkan diantara lehernya dan bagian belakang orang itu sebuah tembaga, hingga tidak mampu disembelih. (karenanya) kemudian dipeganglah tangan dan kaki orang (mukmin) tersebut lalu dilemparkannya. Mereka menyangka ia dilemparkan ke dalam neraka, padahal ia dilemparkan ke surga. Itulah manusia yang paling besar kesaksiannya (mati syahid) di sisi Tuhan Rabbul ‘Alamin.

    Kemudian kaum muslimin lari kegunung Dukhan di Syam, lalu (Dajjal) datang kepada mereka dan mengepungnya. Kepungan itu sangat hebat dan sangat membuat mereka lelah.

    Isa turun!

    Ketika keadaan mereka seperti demikian keadaannya (genting), tiba-tiba terdengar suara panggilan dari sudut bukit, “Wahai sekalian manusia, aku mendatangkan untuk kalian pertolongan. Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Sesungguhnya suara ini adalah suara laki-laki yang tidak pernah kelaparan.”

    Ibnu Maryam akan turun kepada umatnya (umat muhammad) diwaktu antara adzan dan iqomah. Ia turun di menara putih di timur Damaskus antara dua tempat. Ia menyandarkan kedua punggungnya pada sayap-sayap dua malaikat.

    Lalu turunlah (hadirlah) Isa ibnu Maryam ketika shalat shubuh, dan pemimpin (imam) mereka berkata kepadanya (Isa): “semoga Allah memberi ketenangan; silahkan (Nabi Isa) maju untuk memipin shalat!” Lalu dia (Nabi Isa) berkata: “Ummat ini adalah pemimpin (bagi) sebagian mereka kepada yang lainnya!” Lalu pemimpin (Imam) mereka maju dan memimpin shalat.

    Setalah menyelesaikan shalatnya, Isa mulai berperang, dan dia pergi kearah Dajjal. Ketika ia (Dajjal) melihatnya (melihat Isa), dia (Dajjal) merasa ketakutan (kemudian meleleh) sebagaimana timah meleleh, lalu dia (Isa) meletakkan antara dua dadanya (Dajjal), lalu membunuhnya, dan dia (Isa) juga memerangi para pengikut-pengikutnya. Pada saat itu tidak ada sesuatu yang dapat melindungi salah satu diantara mereka (pengikut Dajjal), sampai pohon akan berkata kepadanya: “Wahai orang beriman, ini orang kafir (bersembunyi)!” dan batu juga berkata: Wahai orang beriman, ini orang kafir!”

    Kemudian nabi Isa a.s. menetap di bumi selama 40 tahun sebagai pemimpin yang adil dan penengah yang jujur.

    Sabda Nabi s.a.w.: “Tidak ada antaraku dengannya (Isa) seorang nabi, dan sesungguhnya dia akan turun. Jika kalian melihatnya maka percayailah, seorang laki-laki yang kulitnya antara merah dan putih, pertengahan antara kedua warna tersebut, seakan-akan kepalanya basah sekalipun tidak dikenai air. Maka dia memerangi manusia demi islam, dia menghancurkan salib, menbunuh babi, membebaskan pajak, dan Allah menghancurkan pada zamannya itu semua agama kecuali Islam. Dia (Allah pada zaman itu) membinasakan si pembohong (Dajjal) (sehingga akhirnya penduduk di muka bumi ini merasa aman, sampai unta hitam bersusuhan dengan unta, singa dengan sapi, serigala dengan kambing, anak kecil bermain dengan ular tapi tidak membahayakannya.) Nabi Isa a.s. menetap di bumi selama 40 tahun sebagai pemimpin yang adil dan penengah yang jujur, kemudian dia wafat, maka orang-orang beriman menshalatkannya.

    ***

    Wallahualam bishowab

     
    • novia 12:13 am on 19 Maret 2011 Permalink

      apakah masih ada kehidupan setelah kiamat??

  • erva kurniawan 1:41 am on 23 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Tabiat si Yahudi 

    Wahb bin Munabah bercerita,

    Suatu ketika Isa as pergi mengembara diatas bumi ditemani oleh seorang Yahudi. Nabi Isa membawa bekal sepotong roti dan si Yahudi membawa dua potong roti. Maka Isa as berkata kepada si Yahudi, “Bolehkah aku ikut makan rotimu?” Si Yahudi menjawab, “Tentu.”. Tatkala si Yahudi mengetahui bahwa Isa as hanya membawa sepotong roti, ia menyesal telah mengiyakannya. Maka pada saat Isa as menunaikan shalat, ia pergi dan memakan sepotong roti miliknya. Selesai shalat, kedua orang itu mengeluarkan bekal makanannya. Nabi Isa as kemudian bertanya kepada temannya, “Dimana sepotong rotimu yang lain?” Si Yahudi menjawab, “Ternyata aku hanya membawa sepotong roti saja.” Maka kedua orang itu makan rotinya masing-masing.

    Kemudian kedua orang itu melanjutkan perjalanannya. Ketika mereka sampai didekat sebatang pohon, Nabi Isa as berkata kepada temannya, “Wahai kawanku, sebaiknya kita bermalam di bawah pohon ini sampai pagi menjelang.” Si Yahudi menjawab, “Baiklah.” Maka kedua orang itu bermalam dibawah pohon itu hingga pagi datang. Lalu merekapun melanjutkan perjalanan.

    Ditengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang buta. Isa berkata kepadanya, “seandainya aku mengobatimu dan Allah mengembalikan penglihatanmu kembali, apakah engkau mau bersyukut kepada-Nya?” Orang buta itu menjawab, “Tentu.” Maka Isa as mengusap kedua matanya sambil membaca doa. Orang buta itupun dapat melihat kembali. Kemudian Isa as berkata kepada si Yahudi, “Demi Zat yang telah mengembalikan penglihatannya, dimanakah rotimu yang lain?” Si Yahudi menjawab, “Demi Allah, aku tidak membawa kecuali sepotong roti.” Nabi Isa as terdiam mendengar jawabannya.

    Kemudian keduanya melewati beberapa ekor kijang yang sedang merumput. Isa as menangkap seekor kijang dan menyembelihnya, “Hiduplah enkau dengan izin Allah.” Kijang itupun hidup kembali. Si Yahudi merasa takjub melihat kejadian itu dan berkata, “Mahasuci Engkau ya Allah.” Lalu Isa as berkata kepadanya “Demi Zat yang telah memperlihatkan kebesaran-Nya ini, siapakah yang telah makan roti ketiga?”. Si Yahudi menjawab, “sungguh aku hanya membawa satu potong roti saja.”

    Kedua orang itu melanjutkan perjalanan hingga tiba disebuah sungai besar, lalu Isa as memegang tangan si Yahudi dan membawanya berjalan di atas air hingga keseberang sungai. Si Yahudi merasa takjub dan berkata, “Mahasuci Engkau ya Allah!”. Nabi Isa bertanya kepadanya, “Demi Zat yang telah memperlihatkan tanda kebesaran-Nya ini, siapakah pemilik roti yang ketiga?” Si Yahudi menjawab, “Sungguh, Demi Allah aku hanya membawa sepotong roti saja.”

    Kemudian mereka melanjutkan perjalalan hingga disebuah kampung besar yang porak poranda. Tiba-tiba didekat mereka ada 3 bongkahan besar emas, lalu Isa as berkata kepada si Yahudi, “Satu bongkahan emas untukku, satu bongkahan emas untukmu, dan satu bongkahan emas lagi untuk pemilik roti yang ketiga.” Maka si Yahudi berkata, “Akulah pemilik roti yang ketiga. Aku telah memakannya saat engkau melaksanakan shalat.” Isa as berkata kepadanya, “Ambillah emas ini untukmu semua!” Lalu Isa as meninggalkannya seorang diri. Si Yahudi tidak mempunyai alat untuk membawa emas itu, sehingga ia hanya bisa menungguinya.

    Tak lama kemudian datang tiga orang jahat. Melihat si Yahudi menunggui emas, mereka lalu membunuh si Yahudi dan mengambil bongkahan emas tersebut. Dua orang dari mereka berkata kepada yang lain, “Pergilah ke kampung dan bawalah makanan untuk kami.” Maka orang yang disuruh memberli makanan itu pergi sambil berkata dalam hati, “Aku akan menaruh racun pada makanan mereka sehingga mereka berdua mati dan aku bisa menikmati emas itu sendirian.” Maka orang itupun melaksanakan niat yang dibisikkan setan, kemudian datang menemui kedua orang temannya. Saat ia datang membawa makanan, ia dibunuh kedua orang temannya. Mereka menyantap makanan beracun itu tanpa curiga hingga akhirnya mereka berdua mati keracunan didekat bongkahan emas.

    Beberapa hari kemudian Isa as lewat ditempat itu. Tatkala ia melihat ke-4 orang itu mati tergeletak didekat bongkahan emas, ia berkata kepada pengikutnya (Hawariyyun), “Seperti inilah dunia memperlakukan penghuninya. Maka hati-hatilah terhadapnya.”

    ***

    Sumber : Kisah-kisah teladan untuk keluarga oleh Dr Mulyanto. Penerbit : Gema Insani.

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 22 September 2010 Permalink | Balas  

    Usia 50 Tahun Awal Hidup Terbaik

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    New York, Tingkat stres dan kemarahan sudah dimulai sejak usia awal 20 tahun dan akan terus menurun sepanjang hidup. Sedangkan rasa khawatir akan terus berlangsung dan menjadi suatu masalah hingga usia 50 tahun.

    Ilmuwan mengatakan saat berusia 50 tahun adalah awal dari kehidupan yang lebih menyenangkan dan tahun terbaik bagi seseorang.

    Saat berusia 50 tahun, maka seseorang akan terbebas dari tekanan atau stres pekerjaan, hidup dengan pasangan dan membesarkan anak-anak, rasa kekhawatiran yang mulai pudar serta perasaan bahagia yang mulai melonjak.

    Jika hal tersebut tidak cukup, maka hal-hal lainnya terus akan menjadi lebih baik setiap dekadenya. Hal ini tentu saja menghapus mitos bahwa orang yang sudah tua akan menjadi pemarah dan sebenarnya laki-laki yang sudah tua akan lebih ceria dibandingkan perempuan sepanjang hidupnya.

    Dalam studi ini, para peneliti bertanya pada 340.000 laki-laki dan perempuan Amerika yang berusia antara 18-85 tahun mengenai bagaimana tingkat kepuasannya terhadap kehidupan. Selain itu partisipan juga diminta menjawab seberapa sering mengalami emosi tertentu seperti kebahagiaan, kesenangan, stres dan khawatir.

    Ternyata didapati tingkat stres dan kemarahan sudah dimulai sejak usia awal 20 tahun. Rasa khawatir akan terus berlangsung dan menjadi suatu masalah hingga usia 50 tahun, namun setelah itu akan mulai berkurang. Sementara rasa bahagia dan kenikmatan hidup mulai meningkat di usia 50 tahun dan akan terus berlangsung bahkan hingga usia di atas 85 tahun.

    Para peneliti dari Stony Brook University, New York State mengatakan bahwa usia membawa seseorang pada kebijaksanaan dan kemampuan untuk bisa menyelaraskan hidup dengan perasaan.

    Penelitian ini mengungkapkan bahwa orang tua lebih baik meninggalkan segala hal negatif dan mulai berfokus pada segala hal yang baik, sehingga bisa mengekang emosinya dan menikmati setiap pengalaman yang menyenangkan.

    “Hasil studi ini mendukung penelitian sebelumnya yang mengungkapkan bahwa orang-orang yang sudah tua akan lebih mampu melihat situasi hidupnya secara positif dan kemungkinan kecil untuk mengingat pengalaman buruk,” ujar psikolog Dr Arthur Stone dari Stony Brook University, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (18/5/2010).

    (ver/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/05/18/103019/1359005/766/usia-50-tahun-awal-hidup-terbaik?l993306763

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 21 September 2010 Permalink | Balas  

    Shalat Masbuq Tepuk Pundak 

    Pertanyaan:

    Pada saat kita masbuq apakah ada dalil untuk menepuk pundak yang hendak kita jadikan imam shalat?

    Terima kasih atas jawabannya.

    Wassalam

    Jawaban:

    Assalamu `alaikum Wr. Wb.

    Bismillahirrahmanirrahiem. Alhamdulillahi Rabbil `Alamin. Wash-shalatu Was-Salamu `alaa Sayyidil Mursalin. Wa ba`d,

    Tidak ada dalil yang memerintahkan seseorang untuk menepuk pundak orang yang akan dijadikan sebagai imam.

    Perbuatan itu hanya didasarkan kepada nalar sebagian orang bahwa seorang yang tadinya shalat sendiri lalu dijadikan imam perlu mengetahui bahwa di belakangnya ada barisan makmum yang mengkutinya.

    Sehingga diharapkan agar si imam ini menyesuaikan diri dalam bacaan dan gerakan shalatnya. Misalnya pada shalat jahriyah dimana seharusnya imam mengeraskan bacaan, maka dengan memberi tanda dengan menepuk pundaknya, dia akan mengeraskan bacaan Al-fatiha dan ayat Al-Quran dan para makmum bisa mengamini.

    Tapi sebenarnya secara tidak langsung seseorang yang shalat sendiri lalu dijadikan imam tidak perlu ditepuk pundaknya, karena pastilah dengan sendirinya akan mengetahui bahwa di belakangnya ada makmum.

    Menepuk pundak itu bukan hal yang disepakati oleh semua orang, sehingga salah-salah bisa melahirkan salah tafsir dari si imam. Tidak tertutup kemungkinan orang itu tidak tahu isyarat tepuk pundak ini, sehingga dia menganggap tepukan itu justru gangguan atau peringatan bahaya, lalu dia menyingkir atau malah membatalkan shalatnya, atau yang paling parah adalah dia balas menepuk kepada makmum. Nah kalau begini bisa berabe . J

    Wallahu a`lam bis-shawab.

    Wassalamu `alaikum Wr. Wb.

    ***

    http://www.syariahonline.com

     
    • Okie 6:18 pm on 17 Mei 2013 Permalink

      Bagus mas … keep posting

  • erva kurniawan 1:32 am on 20 September 2010 Permalink | Balas  

    Bolehkah Menjadi Imam Pada Waktu Shalat Sunnah 

    Assalamu’alaikum wr.wb,

    Ustadz, saya pernah mengalami kejadian ketika sedang shalat sunnah ba’diah, ada orang yang menepuk pundak saya untuk menjadi ma’mum. Bagaimana sebenarnya tindakan yang benar ketika menghadapi hal tersebut, apakah boleh saya menjadi imam pada waktu sedang shalat sunnah, atau jika tidak boleh bagaimana cara memberi isyarat pada si calon ma’mum..?? mohon penjelasannya dengan dalil yang shahih..

    wassalamu’alaikum wr.wb,

    Jawaban:

    Assalamu `alaikum Wr. Wb.

    Sebagian ulama mengatakan bahwa tidak harus ada kesamaan niat antara imam dan makmum dan shalat berjamaah. Sehingga meski imam itu sedang shalat sunnat sekalipun, tetap orang yang melakukan shalat wajib dibolehkan bermakmum kepadanya.

    Paling tidak hal itu didasari oleh hadits Ibnu Abbas dimana beliau berdiri di samping Rasulullah SAW setelah Rasulullah SAW masuk dalam shalat. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

    Juga oleh hadits-hadits yang menerangkan bolehnya seseorang yang sudah shalat fardhu untuk mengulangi lagi shalatnya itu bersama dengan orang lain yang ingin berjamaah dengannya. Pada kondisi itu, dia boleh shalat lagi meski dia sudah melakukan shalat tersebut, namun hukumnya buat dia bukan lagi shalat wajib tapi shalat sunah. Sedangkan makmumnya melakukan shalat yang hukumnya wajib buat dirinya.

    Dari situ para ulama mengambil kesimpulan bahwa tidak ada syarat kesamaan niat dalam suatu jamaah shalat, karena imam berniat shalat sunnah sedangkan makmum berniat shalat wajib. Dan hal itu dibenarkan.

    Juga tidak disyaratkan untuk berniat menjadi imam bagi seorang imam yang diikuti, namun bagi makmum wajib berniat sebelumnya.

    Wallahu a`lam bis-shawab.

    Wassalamu `alaikum Wr. Wb.

    ***

    http://www.syariahonline.com

     
    • ma'mun cilacap 12:03 pm on 5 Maret 2012 Permalink

      Setuju saya Pak Ustaadz…?

  • erva kurniawan 1:14 am on 19 September 2010 Permalink | Balas  

    Sensasi Aneh Dalam Tubuh Manusia

    Merry Wahyuningsih – detikHealth

    Jakarta, Orang mungkin sering mengalami hal-hal aneh dalam hidupnya. Tapi mungkin Anda tidak menyadari bahwa tubuh manusia pun sering mengalami kejadian dan sensasi yang aneh. Apa saja sensasi aneh dalam tubuh manusia?

    Seperti dilansir dari Health24, Selasa (18/5/2010), berikut lima sensasi aneh yang terjadi pada tubuh manusia:

    1. Mengapa ‘cinta membuat kepala ingin selalu berada di lemari es’?

    ‘Cinta adalah kimia’, seperti dikutip dari karya musisi terkenal Lou Reed.

    Pada dasarnya, pada saat Anda melakukan hubungan intim, maka otot akan lebih banyak bekerja. Tubuh akan membakar banyak energi dengan mengoksidasi gula darah. Setelah itu, gula darah menjadi rendah dan membuat Anda lapar. Hal ini yang memunculkan istilah ‘cinta membuat kepala ingin selalu berada di lemari es’.

    2. Mengapa perut menimbulkan suara?

    Sistem digestivus atau pencernaan memiliki sistem persarafan sendiri yang disebut sistem saraf enterik. Sistem ini seluruhnya terletak di dinding usus, mulai dari esophagus dan memanjang sampai ke anus.

    Sistem saraf enterik ini bersifat sangat penting terutama dalam mengatur fungsi pergerakan dan sekresi gastrointestinal.

    Saraf-saraf sensorik dapat mengadakan reflek-reflek lokal di dalam dinding usus itu sendiri.

    Bila Anda gugup atau terangsang, perut akan mengeluarkan suara-suara. Hal ini karena sistem saraf enterik memberitahu sistem pencernaan Anda untuk bertindak dan agresif, sehingga suara-suara pun muncul.

    3. Mengapa orang menguap ketika sedang olahraga?

    Orang sering menguap, terutama pada saat merasa lelah atau mengantuk. Tapi Anda juga bisa menguap pada saat atau setelah berolahraga.

    Menguap adalah peregangan, dan peregangan mempersiapkan tubuh untuk bertindak. Manguap dapat meningkatkan denyut nadi, seperti halnya tekanan darah dan aliran darah ke otot dan bagian tubuh lainnya.

    Menguap juga meningkatkan fleksibilitas otot dan sendi. Inilah yang menyebabkan orang menguap pada saat dan setelah berolahraga.

    Menguap juga bisa diartikan bahwa tubuh kekurangan oksigen. Biasanya orang yang mengantuk saat sedang beraktivitas dan berolahraga akan menarik napas dalam-dalam atau minum banyak air, untuk menyuplai oksigen kembali dalam darah.

    4. Mengapa anggota badan kesemutan?

    Mungkin orang berpikir anggota tubuh akan kesemutan atau mati rasa karena kepala kekasih Anda sedang bersandar di lengan Anda. Tapi itu hanyalah pemikiran yang konyol.

    Kesemutan atau parestesia adalah sensasi yang terjadi ketika saraf mengalami tekanan, sehingga aliran darah tidak mengalir dengan baik. Ketika tekanan dibebaskan, maka akan ada sensasi ketika tekanan darah kembali normal, inilah yang sering disebut kesemutan.

    5. Mengapa serasa ada suara nyamuk dalam kepala?

    Hal ini disebut tinnitus, istilah untuk beberapa kondisi yang menghasilkan serangkaian suara desah, dering atau jenis suara yang tampaknya berasal di telinga atau kepala.

    Dalam banyak kasus itu bukan masalah serius, tetapi lebih merupakan gangguan yang akhirnya reda dengan sendirinya.

    Ini bukan penyakit tunggal, tetapi merupakan gejala dari kondisi lain yang mendasari.

    Salah satu penyebab paling umum dari tinnitus adalah kerusakan pada akhir mikroskopik dari saraf pendengaran di telinga dalam. Saat ini, paparan suara keras seperti senjata api dan musik intensitas tinggi sangat umum menyebabkan tinnitus, dan sering merusak pendengaran juga.

    (mer/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/05/18/164526/1359393/763/sensasi-aneh-dalam-tubuh-manusia?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 18 September 2010 Permalink | Balas  

    Shalat Jamak dan Dasar Pindah Posisi Shalat Rawatib 

    Assalamualaikum W,W. Saya mau menanyakan apakah kita diberikan ruksah menjamak shalat saat kita sedang bepergian, misalnya ada acara ke puncak dimana kita menetap tiga hari di sana. Apakah Allah tidak menganggap kita sombong jika melakukan shalat seperti biasa (tidak dijamak)? Terus saya sering melihat jika mau melaksanakan shalat rawatib ba’diyah biasanya orang-orang memindahkan posisi/tempat shalat mereka. Apa maksudnya? Apakah harus seperti itu? dan apakah Rasulullah melakukannya? Mohon penjelasannya karena saya tidak mau dalam ibadah yang saya lakukan masih terdapat keragu-raguan. Jazakumullah Khairon Katsiir.

    Jawaban:

    Assalamu `alaikum Wr. Wb.

    Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

    1. Pilihan antara Menjama ` Shalat atau Tidak Menjama` shalat adalah pilihan yang boleh dikerjakan atau tidak dikerjakan. Tidak ada dampak apa-apa bila seseorang dalam perjalanan tidak melakukan jama`. Hanya saja lebih dianjurkan mengingat :

    • Rasulullah SAW selalu melakukan jama` shalat bila beliau dalam bepergian.
    • Jama` itu merupakan rukhshah dari Allah SWT dan pemberiannya, menurut sebagian ulama, adlaah lebih baik bila kita menerima pemberian keringanan dari Allah itu.
    • Islam itu hakikatnya adalah agama yang mudah, sehingga bila ada cara yang paling ringan, maka pilihlah yang paling ringan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW ,”Yassiruu walaa tu`asiruu”. Mudahkanlah dan jangan persulit.

    2. Pindah Posisi Shalat

    Ada sejumlah riwayat yang menjelaskan bahwa berpindah tempat ketika akan melaksankan sholat rawatib, baik qabliyah maupun ba’diyyah adalah disunahkan.

    Dari Al-Mughiroh bin Syu’bah Ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Seorang imam tidak boleh sholat di tempat dimana ia sholat sehingga ia berpindah tempat” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

    Dari Abu Hurairoh Ra dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Apakah kamu merasa lemah (keberatan) apabila kamu sholat untuk maju sedikit atau mundur, atau pindah ke sebelah kanan atau ke sebelah kiri ?” (HR. Ibnu Majah)

    Hadis di atas menunjukan bahwa berpindah tempat ketika melaksanakan sholat seperti yang saudara tanyakan adalah masyru’. Alasan disyariatkannya hal tersebut adalah untuk memperbanyak tempat sujud atau ibadah, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Bukhori dan Al-Baghowi. Karena tempat-tempat ibadah tersebut akan memberi kesaksian di hari akhir nanti sebagaimana firman Allah Swt:

    “Pada hari itu bumi menceritakan khabarnya” (QS. Al-Zalzalah : 4)

    Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

    Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

    Shalat Jamak dan Dasar Pindah Posisi Shalat Rawatib
    Assalamualaikum W,W. Saya mau menanyakan apakah kita diberikan ruksah menjamak shalat saat kita sedang bepergian,misalnya ada acara ke puncak dimana kita menetap tiga hari di sana.Apakah Allah tidak menganggap kita sombong jika melakukan shalat seperti biasa(tidak dijamak)?.Terus saya sering melihat jika mau melaksanakan shalat rawatib ba’diyah biasanya orang-orang memindahkan posisi/tempat shalat mereka.Apa maksudnya? Apakah harus seperti itu? dan apakah Rasulullah melakukannya?.Mohon penjelasannya karena saya tidak mau dalam ibadah yang saya lakukan masih terdapat keragu-raguan.Jazakumullah Khairon Katsiir.
    Jawaban:
    Assalamu `alaikum Wr. Wb.
    Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d
    1. Pilihan antara Menjama ` Shalat atau Tidak Menjama` shalat adalah pilihan yang boleh dikerjakan atau tidak dikerjakan. Tidak ada dampak apa-apa bila seseorang dalam perjalanan tidak melakukan jama`. Hanya saja lebih dianjurkan mengingat :
    1. Rasulullah SAW selalu melakukan jama` shalat bila beliau dalam bepergian.
    2. Jama` itu merupakan rukhshah dari Allah SWT dan pemberiannya, menurut sebagian ulama, adlaah lebih baik bila kita menerima pemberian keringanan dari Allah itu.
    3. Islam itu hakikatnya adalah agama yang mudah, sehingga bila ada cara yang paling ringan, maka pilihlah yang paling ringan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW ,”Yassiruu walaa tu`asiruu”. Mudahkanlah dan jangan persulit.
    2. Pindah Posisi Shalat
    Ada sejumlah riwayat yang menjelaskan bahwa berpindah tempat ketika akan melaksankan sholat rawatib, baik qabliyah maupun ba’diyyah adalah disunahkan.
    Dari Al-Mughiroh bin Syu’bah Ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Seorang imam tidak boleh sholat di tempat dimana ia sholat sehingga ia berpindah tempat” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
    Dari Abu Hurairoh Ra dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Apakah kamu merasa lemah (keberatan) apabila kamu sholat untuk maju sedikit atau mundur, atau pindah ke sebelah kanan atau ke sebelah kiri ?” (HR. Ibnu Majah)
    Hadis di atas menunjukan bahwa berpindah tempat ketika melaksanakan sholat seperti yang saudara tanyakan adalah masyru’. Alasan disyariatkannya hal tersebut adalah untuk memperbanyak tempat sujud atau ibadah, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Bukhori dan Al-Baghowi. Karena tempat-tempat ibadah tersebut akan memberi kesaksian di hari akhir nanti sebagaimana firman Allah Swt:
    “Pada hari itu bumi menceritakan khabarnya” (QS. Al-Zalzalah : 4)
    Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
    Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 17 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: sujud sahwi, sujud syahwi, tata cara sujud syahwi   

    Sujud Syahwi sebab (Cara, Waktu Dan Dalam Jamaah)

    Afwan ana mau tanya soal sujud syahwi. Mengapa dan bagaimana tata caranya, dilakukan sebelum dan sesudah salam. Terus bagaimana jika sholatnya berjama’ah. Jazakalloh

    Jawaban:

    Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

    Pertanyaan anda meski singkat tapi jawabannya mencakup satu bab tersendiri dalam kitab fiqh.

    1. Sebab Sujud Sahwi

    A. Lupa

    Para ulama sepakat bahwa yang melatar-belakangi sujud sahwi adalah lupa (ghoflah). Dan bahkan lafaz “sahwi” sendiri artinya lupa, lalai, alpa.

    Dalam hal ini lupa yang mengakibatkan seseorang menambahi atau mengurangi gerakan shalat. Sedangkan bila menambahi atau mengurangi gerakan shalat karena sengaja, maka shalatnya batal.

    Dari Ibni Mas’ud ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Bila kamu lupa dalam shalat, maka sujudlah dua kali (sujud sahwi)”. HR. Muslim

    B. Ragu-ragu

    Hal kedua yang melatar-belakangi sujud sahwi adalah timbulnya rasa ragu dalam diri seseorang dalam shalat. Misalnya, seseorang ragu-ragu apakah sudah tiga rakaat atau baru dua rakaat? .

    Dalam kondisi ini para ulama sekapat bahwa tindakan yang harus diambil saat itu adalah kembali kepada apa yang lebih diyakini yaitu bilangan yang lebih sedikit lalu melakukan sujud sahwi.

    Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW,“Bila seseorang merasa ragu dalam shalatnya, dan tidak tahu sudah berapa rakaat, tiga atau empat, maka hendaklah membuang ragunya itu dan lakukan apa yang diyakini. Kemudian hendaklah sujud dua kali sebelum salam.”. HR. Muslim.

    2. Cara sujud sahwi

    Cara sujud shawi sama dengan sujud pada umumnya. Jumlahnya dua kali diselingi duduk diantara dua sujud.

    3. Waktu mengerjakan sujud Sahwi

    Ada perbedaan ulama dalam masalah ini:

    A. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa sujud sahwi itu dilakukan sesudah salam pertama. Baik karena kelebihan atau karena kekurangan dalam shalat.

    Caranya menurut mazhab ini adalah bertasyahhud lalu mengucapkan salam sekali saja, lalu sujud lagi (sujud sahwi) kemudian bertasyahud lagi lalu bersalam.

    Bila saat salam pertama dilakukan dua kali salam, maka tidak boleh lagi sujud sahwi.

    B. Sedangkan Mazhab Maliki dan menurut sebuah riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa harus dibedakan sujud sahwi berdasarkan bentuk lupanya. Bila lupanya adalah kekurangan dalam gerakan shalat, maka sujud sahwi dilakukan sebelum salam. Dan sebaliknya bila kelebihan gerakan, maka sujudnya sesudah salam atau setelah selesai shalat.

    Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Malik bin Buhainah “bahwa Rasulullah SAW langsung berdiri pada rakaat kedua dalam shalat zhuhur dan tidak duduk tasyahhud awal. Ketika telah selesai salatnya, maka beliau sujud dua kali”. HR. Bukhari dan Muslim.

    Sedangkan bila lupa yang menyebabkan kelebihan gerakan shalat, maka sujudnya sesudah salam.

    Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Mas’ud ra. Bahwa Rasulullah SAW shalat bersama kami lima rakaat. Lalu kami bertanya,“Apakah ada perubahan (tambahan) dalam shalat?” Beliau bertanya”Memangnya kenapa?”. “Anda shalat lima rakaat wahai Rasulullah”, jawab kami. “Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian, jadi aku mengingat seperti kalian mengingat dan lupa seperti kalian lupa.”. Lalu beliau sujud dua kali.” HR. Muslim.

    C. Mazhab Syafi’i dan juga riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa sujud sahwi itu dilakukan sebelum salam.

    D. Sedangkan Mazhab Hambali mengatakan bahwa sujud sahwi itu dilakukan sebelum salam.

    4. Sujud Sahwi dalam sholat jamaah

    Dalam shalat jamaah, posisi imam adalah untuk diikuti. Namun hak makmum adalah mengingatkan bila imam lalai atau lupa.

    Makmum laki-laki memberi peringatan dengan mengucapkan lafaz “Subhanallah”, sedangkan makmum wanita dengan bertepuk tangan.

    Untuk itu imam wajib mendengar peringat makmum bila melakukan kesalahan, dan diakhir salat hendaknya melakukan sujud sahwi dan wajibdiikuti oleh makmum. Meskipun yang lupa hanya imam saja, tapi makmum harus ikut imam dan melakukan sujud sahwi juga.

    Wallahu a’lam bis-shawab. Waassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

    ***

    http://www.syariahonline.com

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 16 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: bohong   

    Berbohong dan Efeknya Bagi Kesehatan

    Merry Wahyuningsih – detikHealth

    London, Berapa kali pria dan wanita berbohong dalam satu tahun? Ternyata jumlahnya cukup banyak dengan bermacam alasan. Tapi para ahli mengingatkan pentingnya berkata jujur karena berbohong tidak baik buat kesehatan.

    Hasil penelitian yang dilakukan Katie Maggs menemukan bahwa pria rata-rata berbohong 1.092 per tahun, yang berarti bohong 3 kali dalam sehari. Sebaliknya, wanita berbohong rata-rata 728 kali dalam setahun, atau sekitar 2 kali dalam sehari.

    Pria biasanya berbohong dengan alasan untuk menutupi kebiasaan buruknya, sedangkan wanita cenderung berbohong untuk menutupi perasaan yang sebenarnya.

    “Berbohong mungkin tampaknya menjadi bagian tak terelakkan dari sifat manusia, tetapi ini merupakan bagian penting dari interaksi sosial,” ujar Katie Maggs, kurator medis asosiasi di Museum Science, yang menugaskan penelitian, seperti dilansir dari Dailymail, Selasa (18/5/2010).

    Hasil studi ini telah diterbitkan dengan judul ‘Who Am I?’ di galeri museum, di barat London, yang bertujuan untuk memahami ilmu otak, genetika dan perilaku manusia.

    Tapi seperti dilansir jurnal Neuroendocrinology yang meneliti hubungan antara pikiran dan emosi pada sistem kekebalan tubuh berbohong bisa mempengaruhi kesehatan.

    Penyangkalan diri atau berbohong membuat seseorang merasakan emosi negatif yang mengarah pada stres yang dipendam. Sedangkan berkata jujur akan melepaskan tekanan emosi sehingga mengurangi risiko stres.

    Bila Anda berkata jujur maka itu akan melindungi diri dari hormon stres. Sedangkan berbohong akan membuat perasaan tertekan dan bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

    Berikut 10 kata kebohongan yang sering dilakukan pria dan wanita:

    Pria

    1. Saya tidak minum alkohol
    2. Tidak apa-apa, saya baik-baik saja
    3. Maaf, ponselku tak ada sinyal
    4. Ini tidak mahal kok
    5. Saya sedang di jalan
    6. Saya terjebak macet
    7. Pantatmu tidak besar kok sayang
    8. Maaf, saya tidak tahu kamu telepon
    9. Kamu terlihat kurus
    10. Inilah yang selalu saya inginkan

    Wanita

    1. Tidak apa-apa, saya baik-baik saja
    2. Saya tidak tahu, saya tidak pernah menyentuhnya
    3. Ini tidak mahal kok
    4. Saya tidak minum alkohol
    5. Saya pusing
    6. Saya membelinya waktu ada diskon
    7. Saya masih muda
    8. Saya tidak membuangnya kok
    9. Inilah yang selalu saya inginkan

    (mer/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/05/18/112115/1359042/766/berbohong-dan-efeknya-bagi-kesehatan?l993306763

     
  • erva kurniawan 3:23 am on 15 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: hikmah puasa, , ,   

    Kepompong Ramadhan 

    Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali shaum (puasa). Maka sesungguhnya shaum itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya (Hr. Bukhari Muslim).

    Pernahkan Anda melihat seekor ulat bulu? Bagi kebanyakan orang, ulat bulu memang menjijikkan bahkan menakutkan. Tapi tahukah Anda kalau masa hidup seekor ulat ini ternyata tidak lama. Pada saatnya nanti ia akan mengalami fase dimana ia harus masulk ke dalam kepompong selama beberapa hari. Setelah itu ia pun akan keluar dalam wujud lain, ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Jika sudah berbentuk demikian, siapa yang tidak menyukai kupu-kupu dengan sayapnya yang beraneka hiasan indah alami? Sebagian orang bahkan mungkin mencari dan kemudian mengoleksinya bagi sebagai hobi (hiasan) ataupun untuk keperluan ilmu pengetahuan.

    Semua proses itu memperlihatkan tanda-tanda Kemahabesaran Allah. Menandakan betapa teramat mudahnya bagi Allah Azza wa Jalla, mengubah segala sesuatu dari hal yang menjijikkan, buruk, dan tidak disukai, menjadi sesuatu yang indah dan membuat orang senang memandangnya. Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur dan aturannya pun ditentukan oleh Allah, baik dalam bentuk aturan atau hokum alam (sunnatullah) maupun berdasarkan hukum yang disyariatkan kepada manusia yakin Al Qur’an dan Al Hadits.

    Jika proses metamorfosa pada ulat ini diterjemahkan ke dalam kehidupan manusia, maka saat dimana manusia dapat menjelma menjadi insan yang jauh lebih indah, momen yang paling tepat untuk terlahir kemabli adalah ketika memasuki Ramadhan. Bila kita masuk ke dalam ‘kepompong’ Ramadhan, lalu segala aktivitas kita cocok dengan ketentuan-ketentuan “metamorfosa” dari Allah, niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan yakni manusia yang berderajat muttaqin, yang memiliki akhlak yang indah dan mempesona.

    Inti dari badah Ramadhan ternyata adalah melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu. Allah SWT berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.” (QS. An Nazii’at [79] : 40 – 41).

    Selama ini mungkin kita merasa kesulitan dalam mengendalikan hawa nafsu. Kenapa? Karena selama ini pada diri kita terdapat pelatihan lain yang ikut membina hawa nafsu kita ke arah yang tidak disukai Allah. Siapakah pelatih itu? Dialah syetan laknatullah, yang sangat aktif mengarahkan hawa nafsu kita. Akan tetapi memang itulah tugas syetan, apalagi seperti halnya hawa nafsu, syetan pun memiliki dimensi yang sama dengan hawa nafsu yakni kedua-duanya sama-sama tak terlihat. “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu karena syetan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala,” demikian firman Allah dalam QS. Al Fathir [25] : 6).

    Akan tetapi kita bersyukur karena pada bulan Ramadhan ini Allah mengikat erat syetan terkutuk sehingga kita diberi kesempatan sepenuhnya untuk bisa melatih diri mengendalikan hawa nafsu kita. Karenanya kesempatan seperti ini tidak boleh kita sia-siakan. Ibadah shaum kita harus ditingkatkan. Tidak hanya shaum atau menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual saja akan tetapi juga semua anggota badan kita lainnya agar mau melaksanakan amalan yang disukai Allah. Jika hawa nafsu sudah bisa kita kendalikan, maka ketika syetan dipelas kembali, mereka sudah tunduk pada keinginan kita. Dengan demikian, hidup kita pun sepenuhnya dapat dijalani dengan hawa nafsu yang berada dalam keridhaan-Nya. Inilah pangkal kebahagiaan dunia akhirat. Hal lain yang paling utama harus kita jaga juga dalam bulan yang sarat dengan berkah ini adalah akhlak. Barang siapa membaguskan akhlaknya pada bulan Ramadhan, Allah akan menyelamatkan dia tatkala melewati shirah di mana banyak kaki tergelincir, demikianlah sabda Rasulullah SAW.

    Pada bulan Ramadhan ini, kita dianggap sebagai tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah, Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamu-tamunya dengan baik. Akan tetapi sesungguhnya Allah hanya akan memperlakukan kita dengan baik jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya. Salah satunya yakni dengan menjaga shaum kita sesempurna mungkin. Tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga belaka tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh kita ikut shaum.

    Mari kita perbaiki segala kekurangan dan kelalaian akhlak kita sebagai tamu Allah, karena tidak mustahil Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir yang dijalani hidup kita, jangan sampai disia-siakan.

    Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan senantiasa melimpahkan inayah-Nya sehingga setelah ‘kepompong’ Ramadhan ini kita masuki, kita kembali pada ke-fitri-an bagaikan bayi yang baru lahir. Sebagaimana seekor ulat bulu yang keluar menjadi seekor kupu-kupu yang teramat indah dan mempesona, amiin.

    ***

    Diintisarikan dari M-Qolbunya AA Gym

     
  • erva kurniawan 7:30 am on 14 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , , , ,   

    Malu Tak Seperti Kupu-Kupu 

    kupu-kupuRamadhan baru saja berlalu. Semua telah kembali seperti semula. Sisa-sisa keteduhan nuansa ramadhan hanya tinggal sekedarnya saja. Bahkan nyaris tak berbekas. Kue-kue lebaran masih banyak di meja, karena memang persiapan buat lebaran sangat mantap. Lengkap dengan berbagai jenis kue, cat rumah yang baru, interior serba baru dan yang tentu tidak ketinggalan pakaian baru yang serba bagus. Indah memang.

    Tapi sebenarnya bukan itu yang kita tuju. Bukankah hati ini gersang? Lisan kita tetap mengumpat, mata kita masih saja liar dan nafsu masih menjadi nomor wahid? Perilaku kita masih semrawut.

    Lalu indahkah kita? Bila lidah kita bisa merasakan lezatnya kue lebaran, tapi nikmatnya iman tak jua mampu kita cicipi? Bila rumah kita indah karna warna dan interior yang serba baru namun hati dan perilaku kita masih dengan warna dan interior yang dulu, kusam, lusuh dan tak terurus?

    Warna kusam yang semakin suram. Aurat kita terbungkus hijab serta baju baru sedang jiwa kita masih setia dg nafsu sebagai pakaiannya. Adilkah ini? Apakah kita rela? Fisik kita rapi dan cantik tapi “jeroan”nya pada sakit. Ternyata kita ini belum bisa bersikap dewasa. Hanya sekedar usia yang makin bertambah.

    Seorang kawan saya, pernah berkata; “Kupu-kupu itu mulanya adalah makhluk yang menjijikkan (siapa sih yang gak geli dan jijik ngeliat ulet?), tapi setelah ia berpuasa dan melewati masa kepompong makan ia berubah menjadi makhluk yang indah. Yang siapapun akan senang melihatnya. Apalagi dengan warna-warni yang Subhanalloh cantiknya.”

    Sedikit pesimis ia tanyakan atau tepatnya menyatakan isi hatinya; “Apakah manusia yang berpuasa akan mendapatkan keindahan layaknya kupu-kupu?” Tentu anda bisa menjawabnya. Betapa malunya kita yang tak bisa seindah kupu-kupu, walaupun telah berpuasa sebulan panjangnya.

    Semoga Alloh terus membimbing kita untuk mencapai maqamamahmudah nan indah. Amiiin.

    ***

    Sumber Email dari Sahabat.

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 13 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Indahnya Berprasangka Baik 


    Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah pabrik kecap dan sama-sama tekun belajar Islam. Sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru pengakiannya. Jaraknya sekitar 10km dari rumah peninggalan orangtua mereka.

    Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaannya bekerja.

    Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.

    Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo’a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu.

    Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.

    Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo’a. Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do’a-do’anya tiada dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.

    Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.

    Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do’anya tak pernah terkabul.

    Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do’a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do’a untuk guru mereka, do’a selamat dan ada kalimah di akhir do’anya:

    “Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu, Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlah segala do’a kakak ku, bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku didunia dan akhirat,”

    Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak dinyana ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya

    ***

    Dari Sahabat

    Indahnya Berprasangka Baik . . . . . . . . .

    Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah pabrik kecap dan sama-sama tekun belajar Islam. Sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru pengakiannya. Jaraknya sekitar 10km dari rumah peninggalan orangtua mereka.
    Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaannya bekerja.
    Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.
    Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo’a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu.
    Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.
    Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo’a. Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do’a-do’anya tiada dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.
    Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.
    Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do’anya tak pernah terkabul.
    Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do’a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do’a untuk guru mereka, do’a selamat dan ada kalimah di akhir do’anya:
    “Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu, Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlah segala do’a kakak ku, bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku didunia dan akhirat,”
    Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak dinyana ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya
    ***
    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 12 September 2010 Permalink | Balas  

    Kisah Rasulullah dan Seorang Badui 

    PADA suatu masa, ketika Nabi Muhammad SAW sedang tawaf di Kaabah, baginda mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya  Karim!”

    Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”

    Orang itu berhenti di satu sudut Kaabah dan menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim!   Ya Karim!”

    Orang itu berasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah di lihatnya.

    Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

    Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”

    “Belum,” jawab orang itu.

    “Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW.

    “Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya,” jawab orang Arab badwi itu.

    Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.”

    Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya,” jawab Nabi SAW.

    Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua-dua kaki Rasulullah SAW.

    Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab badwi itu seraya  berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur,  yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”

    Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit, dia berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil mahupun yang besar.”

    Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNya.”

    Orang Arab badwi berkata lagi, “Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”

    Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.

    Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau daripada menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy  lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di syurga nanti.”

    Betapa sukanya orang Arab badwi itu, apabila mendengar berita itu dan menangis karena tidak berdaya menahan rasa terharu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 11 September 2010 Permalink | Balas  

    Benarkah Kuku dan Rambut Tetap Tumbuh Setelah Kematian? 

    Merry Wahyuningsih – detikHealth

    Jakarta, Banyak mitos yang beredar di kalangan masyarakat dan juga dipercaya oleh para dokter. Salah satunya adalah kuku dan rambut yang tetap tumbuh meskipun tubuh sudah mati. Benarkah demikian?

    Penulis Erich Maria Remarque dalam novelnya ‘All Quiet on the Western Front’, yang memulai menulis rumor bahwa rambut dan kuku tetap tumbuh setelah seseorang meninggal. Rambut digambarkan sebagai ‘rumput’ dan kuku sebagai ‘pembuka tutup botol’.

    Seorang peneliti pediatri Rachel C Vreeman bersama rekannya Aaron E Carroll, dari Indiana University School of Medicine, melakukan penelitian untuk beberapa mitos medik.

    Studi mereka menyimpulkan bahwa mitos tentang pertumbuhan kuku dan rambut setelah kematian tidak hanya beredar sebagai legenda di masyarakat, tetapi juga beberapa dokter berlisensi mempercayai bahwa mitos itu benar.

    Namun, ini hanyalah imajinasi dan mitos belaka, karena pada kenyataanya kuku dan rambut tidak tumbuh pada tubuh yang sudah mati.

    “Kuku dan rambut tidak dapat tumbuh setelah postmortum atau tubuh yang mati,” ujar Aaron E Carroll, M.D., M.S., asisten profesor pediatri dan ilmuwan Regenstrief Institute-affiliated di Indiana University School of Medicine, seperti dilansir dari Ehow, Rabu (12/5/2010).

    Menurut Carroll, setelah kematian, kulit kehilangan begitu banyak volume dan air yang menyebabkan dehidrasi rambut dan kuku yang menyebabkan rambut dan kuku tampil seolah-olah lebih menonjol keluar.

    Dehidrasi tubuh setelah kematian dan pengeringan dapat menyebabkan retraksi (pencabutan) kulit kering di sekitar rambut atau kuku.

    Seperti kulit yang ditarik, itu menciptakan tampilan rambut dan kuku yang meningkat dan semakin panjang. Fenomena ini adalah ilusi optik, yang diciptakan oleh pemotongan jaringan lunak dengan kuku dan akar rambut.

    Kuku dan rambut keduanya terbuat dari keratin, yaitu protein yang sangat kuat. Keratinisasi terjadi pada folikel (akar) dan sel-sel basal epidermis. Sirkulasi darah dan nutrisi diperlukan untuk keratinisasi, dan ini tidak dapat terjadi setelah kematian.

    Pertumbuhan rambut dan kuku juga memerlukan peraturan hormon yang kompleks, yang juga tidak mungkin terjadi setelah tubuh mati dan membusuk.

    Selain itu, satu-satunya bagian rambut yang masih hidup setelah postmortum (tubuh mati) adalah akar, yang memiliki suplai darah sendiri. Tapi bila pasokan darah hilang, maka tidak ada pertumbuhan lebih lanjut.

    Hal ini juga berlaku untuk kuku, namun pertumbuhan postmortumnya minimal, dan sel-selnya masih dapat hidup 2-3 hari setelah kematian.

    Karena tidak ada lagi aliran darah dan organisme menyebabkan tubuh membusuk, rambut dan kuku pun jatuh dari tubuh. Tingkat dekomposisi (penguraian) tergantung pada kedalaman penguburan, peti mati dan jenis tanah tempat penguburan kubur.

    Maka dapat dipastikan bahwa rumor tentang pertumbuhan kuku dan rambut yang tetap terjadi setelah seseorang meninggal hanyalah ilusi dan mitos belaka.

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/05/12/133544/1355943/763/benarkah-kuku-dan-rambut-tetap-tumbuh-setelah-kematian?l991101755

     
  • erva kurniawan 5:56 pm on 10 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: hari raya idul adha, hari raya idul fitri   

    Meneladani Rasulullah SAW Berhari Raya 

    Dari Anas ra., Rasulullah SAW pernah bersabda, “Aku datang kepada kalian sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang menjadi ajang permainan kalian pada masa Jahiliyyah. Dan sesungguhnya Allah telah menganti keduanya dengan yang lebih baik, yaitu hari raya ‘Iedul Adh-ha (An Nahri) dan ‘Iedul Fithri (Al Fithri)” (HR. Ahmad III/103, Abu Dawud no. 1134, An Nasa’i III/179 dan Al Baghawi no. 1098, hadits ini shahih)

    ‘Ied berarti suatu hari dimana terjadi perkumpulan. Imam Ibnu ‘Abidin menjelaskan bahwa disebut ‘Ied, karena pada hari itu Allah Ta’ala memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kepada hamba – hambaNya diantaranya: berbuka (tidak berpuasa) setelah adanya larangan makan dan minum, zakat fithrah, penyempurnaan haji dengan thawaf, daging kurban dan lainnya. Dan karena kebiasaan yang berlaku pada hari tersebut adalah kegembiraan, kebahagiaan, keceriaan dan hubur (kenikmatan) (Kitab Haasyiyatu Ibni ‘Abidin II/165)

    Beberapa sunnah Rasulullah SAW dalam berhari raya adalah sebagai berikut :

    Makan terlebih dahulu ketika berangkat pada hari raya ‘Iedul Fithri dan tidak makan ketika berangkat pada hari raya ‘Iedul Adh-ha. Dari Buraidah ra., ia berkata, “Nabi SAW tidak berangkat pada hari raya ‘Iedul Fithri sampai beliau makan terlebih dahulu dan pada hari raya ‘Iedul Adh-ha beliau tidak makan sampai pulang, kemudian beliau makan dari daging hewan – hewan kurbannya” (HR. At Tirmidzi no. 542, Ibnu Majah no. 1756, Ad Darimi I/375 dan Ahmad V/352, hadits ini hasan)

    Berhias diri. Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’aad (I/441) mengatakan, “Nabi biasa berangkat (ke tanah lapang) pada hari raya ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha dengan pakaian yang paling bagus”

    Di dalam kitab Al Mughni (II/228), Ibnu Qudamah mengatakan, “Dan itu menunjukan bahwa berhias diri bagi mereka pada kesempatan seperti ini (hari raya ‘Ied) sudah sangat populer”

    Mengambil jalan lain ketika berangkat dan pulang dari shalat ‘Ied. Dari Jabir ra., dia berkata, “Jika hari raya ‘Ied tiba, Nabi SAW biasa mengambil jalan lain (ketika berangkat dan pulang)” (HR. Bukhari no. 986)

    Bertakbir pada hari raya ‘Ied ketika berangkat ke tempat pelaksanaan shalat. Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kalian bersyukur” (QS Al Baqarah 185)

    Telah tetap suatu riwayat bahwa Nabi SAW biasanya berangkat menunaikan shalat pada hari raya ‘Ied, lalu beliau bertakbir hingga sampai di tempat pelaksanaan shalat, bahkan sampai shalat akan dilaksanakan. Dan jika shalat dilaksanakan, beliau menghentikan bacaan takbir (HR. Ibnu Abi Syaibah, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam kitab Silsilah Al Ahaadiits Ash Shahiihah no. 170)

    Salah satu ucapan takbir yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah SAW yaitu Abdullah bin Mas’ud ra. adalah sebagai berikut, “Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa ilaHa illallaHu wallaHu Akbar, Allahu Akbar wa lillaHiil hamdu” (HR. Ibnu Abi Syaibah II/168, hadits ini shahih)

    Dan ucapan takbir ini dilakukan dengan suara lantang seperti yang dilakukan oleh sahabat Abdullah bin Umar ra. ketika pergi untuk melaksanakan (HR. Ad Daruquthni, hadits ini shahih)

    [Hendaknya takbir ini tidak dilakukan secara bersama – sama/berjama’ah, atau dibawah 1 komando karena hal tersebut menyelisihi sunnah]

    Melaksanakan Shalat ‘Ied. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Bahwasannya Nabi SAW mengerjakan shalat dua raka’at pada hari raya, dan tidak mengerjakan shalat lainnya sebelum maupun sesudahnya” (HR. Bukhari no. 989, At Tirmidzi no. 537, An Nasa’i III/193 dan Ibnu Majah no. 1291)

    Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Kitabnya Fathul Baari II/476 mengatakan, “Bahwa shalat ‘Ied itu ditetapkan dengan tidak adanya shalat sebelum maupun sesudahnya”

    Mendengarkan Khutbah setelah shalat ‘Ied. Dari Ibnu Abdullah bin As Sa’ib, dia berkata, “Aku pernah menghadiri shalat ‘Ied bersama Nabi SAW dan ketika selesai shalat, beliau berkata, ‘Sesungguhnya kami akan berkhutbah, barangsiapa ingin duduk untuk mendengarkan khutbah maka dipersilahkan duduk. Dan barangsiapa yang ingin pergi, maka dipersilahkan untuk pergi’” (HR. Abu Dawud no. 1155, An Nasa’I III/185, Ibnu Majah no. 1290 dan Al Hakim I/295, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Irwaa III/96-98)

    Ibnul Qayyim mengatakan dalam kitabnya Zaadul Ma’aad (I/448), “Nabi memberikan keringanan bagi orang yang menghadiri shalat ‘Ied untuk duduk mendengarkan khutbah atau pergi”

    Memberikan ucapan selamat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan dalam kitabnya Majmuu’ Al Fataawaa (XXIV/253), “Adapun ucapan selamat pada hari raya ‘Ied, sebagaimana ucapan mereka terhadap sebagian lainnya jika bertemu setelah shalat ‘Ied adalah ‘TaqabbalallHu minnaa wa minkum’ (Semoga Allah SWT menerima amal kami dan kalian)”

    Tetapi Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak pernah memulai untuk mengucapkan ucapan tersebut kepada seseorang. Dan jika dia (orang tersebut) yang memulai, maka aku akan menjawabnya” (disebutkan oleh Al Jalal As Suyuthi dalam kitab Al Haawi lil Fatawaa I/81-82)

    ***

    Maraji’: Disarikan dari Buku Meneladani Rasulullah SAW dalam Berhari Raya, Syaikh Ali Hasan bin Ali Al Halabi Al Atsari*, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor, Cetakan Pertama, September 2005.

    *Beliau murid dari Syaikh Al Albani

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 9 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Cara Rasul Merayakan Idul Fitri 

    Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya bulan penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir diwajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap kembali meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu kaki-kaki melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama Allah lewat takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu segenap mata tak kuasa membendung airmata keharuan saat berlebaran. Sementara itu, langkah sepasang kaki terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan. “Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?” lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik segukan sang gadis.

    Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu seperti mencari sesosok yang amat ia rindui kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk merayakan hari kemenangan. “Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah,” tutur gadis kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya tentang Ayahnya.

    Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu. “Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?” Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki paling mulia, dan beribu seorang Ummul Mukminin?

    Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil yang bersedih dihari raya kembali tersenyum. Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah airmata. Lelaki agung itu, shalawat dan salam baginya.

    Lebaran, bagi kita sangat identik dengan pakaian bagus. Tak harus baru, setidaknya layak dipakai saat bersilaturahim dihari kemenangan itu. Namun tak dapat dipungkiri, bagi sebagian besar masyarakat kita, memakai pakaian baru sudah menjadi budaya. Mungkin budaya ini merujuk pada kisah di atas, bahwa Rasul pun memakai pakaian yang bagus dihari raya. Tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk menyambut lebaran, bahkan bagi sebagian orang, tak cukup satu stel pakaian baru disiapkan, mengingat tradisi silaturahim berlebaran di Indonesia yang lebih dari satu hari.

    Tak ada yang salah dengan budaya baju baru itu, ambil sisi positifnya saja, bahwa keceriaan hari kemenangan bolehlah diwarnai dengan penampilan yang lebih baik. Sekaligus mencerminkan betapa bahagianya kita menggapai sukses penuh arti selama satu bulan menjalani Ramadhan. Baju baru bukan cuma fenomena, bahkan sudah menjadi budaya. Tetapi ada cara berlebaran Rasulullah yang tak ikut kita budayakan, yakni menceriakan anak yatim dengan memberikan pakaian yang lebih pantas dihari istimewa.

    Anak-anak kita bangga menghitung celana dan baju yang baru saja kita belikan. Tak ketinggalan sepatu dan sandal yang juga baru. Dapatlah kita bayangkan betapa cerianya mereka saat berlebaran nanti mengenakan pakaian bagus itu. Tapi siapakah yang akan membelikan pakaian baru untuk anak-anak yatim? Tak ada Ayah atau Ibu yang akan mengajak mereka menyambangi pertokoan dan memilih pakaian yang mereka suka. Dapatkah kita bayangkan perasaan mereka berada di tengah-tengah riuh rendah keceriaan anak-anak lain berbaju baru,sementara baju yang mereka kenakan sudah usang.

    Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran, tetapi juga mengajak seorang anak yatim ikut berbaju bagus, sehingga nampak tak berbeda dengan Hasan dan Husain. Lelaki agung itu, tahu bagaimana menjadikan hari raya juga istimewa bagi anak-anak yatim. Mampukah kita meniru cara Rasul berlebaran?

    Kalau kita mampu membeli beberapa stel pakaian untuk anak-anak kita, adakah sedikit yang tersisihkan dari rezeki yang kita dapat untuk membeli satu saja pakaian bagus untuk pantas dipakai oleh anak-anak yatim tetangga kita. Kebahagiaan 1 Syawal semestinya tak hanya milik anak-anak kita, hari istimewa itu juga milik mereka.

    Maka, ikutilah! Gerakan LCR (Lebaran Cara Rasul). Gerakan ini, saya yakin sudah banyak yang melakukannya diberbagai tempat. Namun jika lebih banyak lagi orang-orang beruntung seperti kita yang mau membudayakan LCR ini, akan lebih banyak senyum anak yatim yang tercipta dihari bahagia.

    Note: Jika berkenan meneruskan tulisan ini ke berbagai milist dan komunitas, setidaknya Anda berkesempatan mengukir senyum anak-anak yatim. Apalagi jika ada yang bekerja di media, atau punya akses ke berbagai media cetak maupun elektronik, sehingga Gerakan LCR ini menjadi sebuah gerakan nasional. Akan indahlah dunia dengan berbagi.

    Maha Suci Allah.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 6:32 pm on 8 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: takbir, takbir keliling, takbiran   

    Lafazh Takbiran Sahabat Rasulullah SAW 

    Oleh : Syaikh Ali Hasan bin Ali Al Halabi Al Atsari

    Sebatas pengetahuan kami (Syaikh Ali Hasan), tidak ada satu hadits Nabi pun yang shahih dalam menjelaskan sifat takbir (pada hari raya ‘Ied). Akan tetapi ada riwayat dari sebagian sahabat Nabi SAW, seperti Ibnu Mas’ud ra. pernah mengucapkan, “AllaHu Akbar AllaHu Akbar, Laa ilaHa illallaHu wallaHu Akbar, Allahu Akbar wa lillaHiil hamdu” (HR. Ibnu Abi Syaibah II/168, hadits shahih)

    Ibnu Abbas ra. juga pernah mengucapkan, “AllaHu Akbar, AllaHu Akbar, AllaHu Akbar wa lillaHil hamd, AllaHu Akbar wa ajallu, AllaHu Akbar ‘alaa maa Haadaanaa” (HR. Al Baihaqi III/315, hadits shahih)

    Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq yang diantara jalannya terdapat pada Al Baihaqi dalam kitab As Sunan Al Kubra (III/316) dengan sanad shahih dari Salman al Khair ra., dia mengatakan, “KabbirullaHu, AllaHu Akbar, AllaHu Akbar, AllaHu Akbar”

    Cukup banyak manusia menyelisihi dzikir yang bersumber dari kaum salafush shalih, dengan membaca dzikir – dzikir lain, melakukan penambahan, serta membuat lafazh – lafazh baru yang tidak memiliki dasar sama sekali.

    Sehingga Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari (II/536) mengatakan, “Dan zaman sekarang ini telah terjadi penambahan dalam hal takbir tersebut yang tidak memiliki dasar sama sekali”

    ***

    Maraji’: Buku Meneladani Rasulullah SAW dalam Berhari Raya, Syaikh Ali Hasan bin Ali Al Halabi Al Atsari*, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor, Cetakan Pertama, September 2005.

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 7 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: dejavu   

    Deja Vu, Lintasan Memori yang Misterius

    Saat Anda memasuki ruangan kemudian bercakap-cakap dengan seseorang tiba-tiba ada perasaan aneh yang menyergap. Anda seperti pernah mengalami peristiwa ini, tapi susah untuk menjelaskannya karena itu hanya sebuah perasaan tapi tidak mampu mengingat kapan peristiwa itu terjadi.

    Lintasan memori yang misterius itulah yang dinamakan deja vu. Berasal dari bahasa Prancis deja vecu yang artinya pernah mengalami. Deja vu didefinisikan sebagai perasaan yang muncul karena merasa pernah mengalami, melihat, mendengar tapi sebenarnya belum pernah terjadi.

    Hingga kini para ahli belum bisa menemukan penyebab terjadinya deja vu. Ada yang mengaitkannya dengan kondisi seseorang yang sedang berhalusinasi, pengaruh obat-obatan, pengaruh metafisika bahkan kondisi ini diduga sering dialami penderita epilepsi.

    Peristwa-peristiwa yang menurut Anda pernah dialami itu, menurut para ahli sebagian besar memang belum pernah terjadi. Tak heran jika yang pernah merasa mengalaminya pun tidak mampu mengingat kapan peristiwa itu terjadi. Tidak ada saksi yang menguatkan peristiwa yang pernah Anda duga terjadi itu benar-benar ada.

    Deja vu memang telah menjadi misteri, namun bisa jadi misteri itu telah dipecahkan dengan penemuan yang dilakukan oleh ahli saraf di MIT’s Picower Institute for Learning and Memory. Peneliti Thomas McHugh dan beberapa koleganya telah menemukan rangkaian memori tertentu pada otak tikus yang merupakan penyebab perasaan aneh ini. Yang ternyata menjadi semacam adanya memori berbasis analog dari suatu ilusi optik.

    Para peneliti sendiri memang sudah menyadari untuk beberapa waktu, memori,– yang terdiri dari banyak komponen berbeda seperti jangka pendek, jangka panjang, episodik (kenangan peristiwa),– terjadi di berbagai bagian otak. Penelitian ini telah dilaporkan dalam edisi online Science dan peneliti menambahkan adanya fenomena menarik yang lain.

    McHugh dan timnya sedang mencoba meluruskan sirkuit saraf hippocampus,– daerah di otak yang berfungsi membuat kenangan baru terbentuk–. Ahli saraf mengetahui kumpulan memori yang terjadi sebenarnya adalah sel-sel otak yang dihubungkan dengan koneksi kimia yang kuat, ketika memori itu dipanggil telah mengakibatkan aktifnya kelompok tertentu di otak.

    Sangat penting bagi otak untuk mengetahui beberapa memori yang mirip satu sama lain, seperti memakan buah raspberrie ternyata hampir mirip dengan makan buah strawberi. Tetapi juga penting bagi otak untuk membedakan memori yang mirip tapi tidak sama seperti makan buah berry merah ternyata membuat Anda sakit. Kemampuan ini dikenal sebagai pola pemisahan.

    Rekan senior McHugh yang bernama Susumu Tonegawa,– yang pernah memenangkan Nobel mengenai kekebalan genetik–, sebelumnya telah menemukan mekanisme yang terkait yang disebut pola penyelesaian. Penemuan ini menjabarkan Anda bisa mengambil memori yang lengkap dengan hanya berdasarkan satu isyarat.

    McHugh dan Tonegawa mencurigai kegiatan sebelumnya dapat mengidentifikasi gen tertentu yang mengatur pola pemisahan. Adanya sirkuit di otak inilah yang diyakini ilmuwan sebagai penyebab terjadinya deja vu.

    Mereka percaya pola pemisahan di sirkuit otak ini yang membuat pengalaman baru tampak serupa dengan pengalaman yang pernah dirasakan. “Meskipun kejadian itu tidak terlalu sering dialami kebanyakan orang,” kata Tonegawa seperti dikutip Times, Selasa (20/10/2009).

    Tapi menariknya, beberapa orang penderita epilepsi punya pengalaman seperti itu sepanjang waktu. “Serangan epilepsi melibatkan penembakan acak saraf di temporal lobes yang di dalamnya terdapat hippocampus yang itu bisa menjadi rangkaian sirkuit,” katanya.

    McHugh dan Tonegawa berkesimpulan perasaan aneh yang terjadi dalam deja vu datang dari konflik diantara dua otak yang berbeda. Bagian otak neocortex menyadari Anda belum pernah berada dalam situasi sebelumnya, tapi bagian hippocampus memberitahukan Anda pernah memiliki pengalaman itu.

    ***

    Irna Gustia – detikHealth
    health.detik.com/read/2009/10/20/090915/1224636/766/deja-vu-lintasan-memori-yang-misterius

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 6 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Suara Emas dari Ethiopia 

    Bilal bin Rabah: Suara Emas dari Ethiopia Suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah, Bilal bin Rabbah, salah seorang sahabat utama, bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, Bilal bertemu dengan Rasulullah.

    “Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu,” demikian Rasulullah berkata dalam mimpi Bilal. “Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu dan mencium harum aroma tubuhmu,” kata Bilal masih dalam mimpinya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu. Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah. Tak menunggu senja, hampir seluruh penduduk Madinah tahu, semalam Bilal bermimpi ketemu dengan nabi junjungannya.

    Hari itu, Madinah benar-benar terbungkus rasa haru. Kenangan semasa Rasulullah masih bersama mereka kembali hadir, seakan baru kemarin saja Rasulullah tiada. Satu persatu dari mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia mulia itu. Dan Bilal sama seperti mereka, diharu biru oleh kenangan dengan nabi tercinta.

    Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat meminta Bilal mengumandangkan adzan Maghrib jika tiba waktunya. Padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi muadzin sejak Rasulullah tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal. Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu. Senjapun datang mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan. Tatkala, suara Bilal terdengar, seketika, Madinah seolah tercekat oleh berjuta memori. Tak terasa hampir semua penduduk Madinah meneteskan air mata. “Marhaban ya Rasulullah,” bisik salah seorang dari mereka.

    Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk mengumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat. Waktu itu, beberapa saat setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah, Muhammad, Bilal mengumandangkan adzan. Jenazah Rasulullah, belum dimakamkan. Satu persatu kalimat adzan dikumandangkan sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah.” Tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah Rasulullah pecah. Seperti suara guntur yang hendak membelah langit Madinah.

    Kemudian setelah, Rasulullah telah dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal untuk adzan. “Adzanlah wahai Bilal,” perintah Abu Bakar. Dan Bilal menjawab perintah itu, “Jika engkau dulu membebaskan demi kepentinganmu, maka aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, maka biarkan aku menentukan pilihanku.” “Hanya demi Allah aku membebaskanmu Bilal,” kata Abu Bakar. “Maka biarkan aku memilih pilihanku,” pinta Bilal. “Sungguh, aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah,” lanjut Bilal. “Kalau demikian, terserah apa maumu,” jawab Abu Bakar.

    ***

    Di atas, adalah sepenggal kisah tentang Bilal bin Rabah, salah seorang sahabat dekat Rasulullah. Seperti yang kita tahu, Bilal adalah seorang keturunan Afrika, Habasyah tepatnya. Kini Habasyah biasa kita sebut dengan Ethiopia.

    Seperti penampilan orang Afrika pada umumnya, hitam, tinggi dan besar, begitulah Bilal. Pada mulanya, ia adalah budak seorang bangsawan Makkah, Umayyah bin Khalaf. Meski Bilal adalah lelaki dengan kulit hitam pekat, namun hatinya, insya Allah bak kapas yang tak bernoda. Itulah sebabnya, ia sangat mudah menerima hidayah saat Rasulullah berdakwah.

    Meski ia sangat mudah menerima hidayah, ternyata ia menjadi salah seorang dari sekian banyak sahabat Rasulullah yang berjuang mempertahankan hidayahnya. Antara hidup dan mati, begitu kira-kira gambaran perjuangan Bilal bin Rabab.

    Keislamannya, suatu hari diketahui oleh sang majikan. Sebagai ganjarannya, Bilal disiksa dengan berbagai cara. Sampai datang padanya Abu Bakar yang membebaskannya dengan sejumlah uang tebusan.

    Bisa dikata, di antara para sahabat, Bilal bin Rabah termasuk orang yang pilih tanding dalam mempertahankan agamanya. Zurr bin Hubaisy, suatu ketika berkata, orang yang pertama kali menampakkan keislamannya adalah Rasulullah. Kemudian setelah beliau, ada Abu Bakar, Ammar bin Yasir dan keluarganya, Shuhaib, Bilal dan Miqdad.

    Selain Allah tentunya, Rasulullah dilindungi oleh paman beliau. Dan Abu Bakar dilindungi pula oleh sukunya. Dalam posisi sosial, orang paling lemah saat itu adalah Bilal. Ia seorang perantauan, budak belian pula, tak ada yang membela. Bilal, hidup sebatang kara. Tapi itu tidak membuatnya merasa lemah atau tak berdaya. Bilal telah mengangkat Allah sebagai penolong dan walinya, itu lebih cukup dari segalanya.

    Derita yang ditanggung Bilal bukan alang kepalang. Umayyah bin Khalaf, sang majikan, tak berhenti hanya dengan menyiksa Bilal saja. Setelah puas hatinya menyiksa Bilal, Umayyah pun menyerahkan Bilal pada pemuda-pemuda kafir berandalan. Diarak berkeliling kota dengan berbagai siksaan sepanjang jalan. Tapi dengan tegarnya, Bilal mengucap, “Ahad, ahad,” puluhan kali dari bibirnya yang mengeluarkan darah.

    Bilal bin Rabah, meski dalam strata sosial posisinya sangat lemah, tapi tidak di mata Allah. Ada satu riwayat yang membuktikan betapa Allah memberikan kedudukan yang mulai di sisi-Nya.

    Suatu hari Rasulullah memanggil Bilal untuk menghadap. Rasulullah ingin mengetahui langsung, amal kebajikan apa yang menjadikan Bilal mendahului berjalan masuk surga ketimbang Rasulullah. “Wahai Bilal, aku mendengar gemerisik langkahmu di depanku di dalam surga. Setiap malam aku mendengar gemerisikmu.” Dengan wajah tersipu tapi tak bisa menyembunyikan raut bahagianya, Bilal menjawab pertanyaan Rasulullah. “Ya Rasulullah, setiap kali aku berhadats, aku langsung berwudhu dan shalat sunnah dua rakaat.”

    “Ya, dengan itu kamu mendahului aku,” kata Rasulullah membenarkan. Subhanallah, demikian tinggi derajat Bilal bin Rabah di sisi Allah. Meski demikian, hal itu tak menjadikan Bilal tinggi hati dan merasa lebih suci ketimbang yang lain. Dalam lubuk hati kecilnya, Bilal masih menganggap, bahwa ia adalah budak belian dari Habasya, Ethiopia. Tak kurang dan tak lebih.

    Bilal bin Rabah, terakhir melaksanakan tugasnya sebagai muadzin saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Saat itu, Bilal sudah bermukim di Syiria dan Umar mengunjunginya. Saat itu, waktu shalat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan shalat. Bilal pun naik ke atas menara dan bergemalah suaranya. Semua sahabat Rasulullah, yang ada di sana menangis tak terkecuali. Dan di antara mereka, tangis yang paling kencang dan keras adalah tangis Umar bin Khattab. Dan itu, menjadi adzan terakhir yang dikumandangan Bilal, hatinya tak kuasa menahan kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir zaman.

    “Ya Allah, selamatkanlah umat Islam yg sedang sengsara di Lubnan, Palestin, Afghanistan, Iraq, Chechnya serta diseluruh pelosok dunia akibat dari angkara mungkar dan kekejaman musuh-musuh Mu. Peliharakanlah mereka, lindungilah mereka, kasihanilah mereka dan berikanlah rahmatMu ke atas mereka.

    Amin, ya Rabbal A’lamin.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • ahmad masum 2:45 am on 9 Januari 2011 Permalink

      terima kasih atas ilmuya….saya jadi menambah wawasan……

  • erva kurniawan 1:50 am on 5 September 2010 Permalink | Balas  

    PR Sekolah Mengganggu Kebersamaan Anak dan Keluarga?

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    Jakarta, Hampir setiap hari murid dibekali pekerjaan rumah (PR) dari sekolahnya. Tapi seorang penulis anak-anak menuturkan bahwa PR harus dihilangkan karena bisa mengganggu kehidupan keluarga. Seberapa perlu anak diberikan PR?

    “Semua esai dan lembar kerja seharusnya diselesaikan di sekolah, karena tugas kelas yang seharusnya dikerjakan 30 menit di sekolah bisa selesai tiga kali lipat lebih lama jika dilakukan di rumah. Hal ini akan membatasi waktu anak bersama keluarga,” ujar Eleanor Updale, seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (11/5/2010).

    Dr Updale menuturkan pekerjaan rumah tersebut akan membuat anak-anak menghabiskan waktu lebih banyak di dalam kamar atau rumah dibandingkan untuk bermain di luar. Beberapa negara ada yang tidak mewajibkan anak diberi pekerjaan rumah tapi hanya menganjurkan saja.

    “Masyarakat harus melepaskan diri dari asumsi bahwa pekerjaan rumah adalah sesuatu yang baik. Padahal anak-anak juga perlu ruang untuk diri mereka sendiri dan melakukan sesuatu yang diinginkannya, karena terkadang beban pekerjaan rumah ini terlalu mengganggu,” ungkap Updale.

    Menurutnya diperlukan pengaturan dan batas dalam pemberian pekerjaan rumah. Mengurangi tugas yang diberikan dari sekolah akan membantu mengurangi beban yang harus dibawa pulang oleh guru. Selain mengurangi efek negatif dari pekerjaan rumah yang bisa mengganggu kehidupan sebuah keluarga.

    Meski demikian kesimpulan hasil penelitian ini masih menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.

    Sementara itu Muhammad Rizal, Psi, psikolog pendidikan Universitas Indonesia saat dihubungi detikHealth, Selasa (11/5/2010) menuturkan tidak semua pekerjaan rumah mengganggu kehidupan keluarga atau sosial anak. Karena tergantung dari PR yang diberikan seperti apa dengan melihat jumlah serta tingkat kesulitannya.

    “Jika jumlahnya terlalu banyak atau hanya satu soal saja tapi tingkat kesulitannya tinggi, maka bisa saja mengganggu si anak karena waktu yang dibutukan untuk mengerjakannya akan menjadi lebih lama,” ujar Rizal dari lembaga psikologi terapan UI.

    Rizal mengungkapkan saat ini memang ada beberapa sekolah yang sudah tidak memberikan PR lagi pada murid-muridnya karena anak-anak sudah belajar di sekolah dari pagi hingga sore hari.

    “Untuk menentukan apakah pekerjaan rumah diangap perlu atau tidak bisa dilihat dari berapa banyak waktu yang sudah dihabiskan anak di sekolah serta apa tujuan dari diberikanya PR tersebut, apakah untuk membantu anak melatih pelajaran yang sudah dipelajari atau untuk memperkuat pelajaran selanjutnya,” tambahnya.

    Meski demikian sebaiknya anak tidak menggantungkan hidupnya dengan pekerjaan rumah. Karena ada atau tidak adanya PR yang diberikan oleh sekolah, setiap anak harus tetap belajar di rumah baik saat malam hari atau pagi hari sebelum sekolah.

    Lamanya durasi belajar anak di rumah tergantung dari kecerdasan, materi, minat serta potensi dari anak. Namun rata-rata anak biasanya belajar di rumah sekitar 1-2 jam di malam hari, karena biasanya hanya pada malam hari anak memiliki waktu luang untuk belajar setelah pagi hari sekolah dan setelahnya mengikuti les atau bimbel (bimbingan belajar).

    “Pekerjaan rumah sebenarnya juga bisa mengajarkan anak untuk bersosialisasi, karena jika anak tidak bisa mengerjakannya maka ia akan bertanya pada orangtua atau kakaknya,” ujar Rizal.  (ver/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/05/11/153520/1355306/764/pr-sekolah-mengganggu-kebersamaan-anak-dan-keluarga?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 4 September 2010 Permalink | Balas  

    Orang Baik Atau Orang Beragama 

    Seorang lelaki berniat untuk menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah. Seorang nenek yang merasa iba melihat kehidupannya membantunya dengan membuatkan sebuah pondok kecil dan memberinya makan, sehingga lelaki itu dapat beribadah dengan tenang.

    Setelah berjalan selama 20 tahun, si nenek ingin melihat kemajuan yang telah dicapai lelaki itu. Ia memutuskan untuk mengujinya dengan seorang wanita cantik.

    ”Masuklah ke dalam pondok,” katanya kepada wanita itu, ”Peluklah ia dan katakan ‘Apa yang akan kita lakukan sekarang’?”

    Maka wanita itu pun masuk ke dalam pondok dan melakukan apa yang disarankan oleh si nenek.

    Lelaki itu menjadi sangat marah karena tindakan yang tak sopan itu. Ia mengambil sapu dan mengusir wanita itu keluar dari pondoknya. Ketika wanita itu kembali dan melaporkan apa yang terjadi, si nenek menjadi marah.

    ”Percuma saya memberi makan orang itu selama 20 tahun,” serunya. ”Ia tidak menunjukkan bahwa ia memahami kebutuhanmu, tidak bersedia untuk membantumu ke luar dari kesalahanmu. Ia tidak perlu menyerah pada nafsu, namun sekurang-kurangnya setelah sekian lama beribadah seharusnya ia memiliki rasa kasih pada sesama.”

    **

    Apa yang menarik dari cerita diatas? Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara taat beribadah dengan memiliki budi pekerti yang luhur.

    Taat beragama ternyata sama sekali tak menjamin perilaku seseorang. Ada banyak contoh yang dapat kita kemukakan disini. Anda pasti sudah sering mendengar cerita mengenai guru mengaji yang suka memperkosa muridnya.

    Seorang kawan yang rajin shalat limawaktu baru-baru ini di PHK dari kantornya karena memalsukan dokumen. Seorang kawan yang berjilbab rapih ternyata suka berselingkuh. Kawan yang lain sangat rajin ikut pengajian tapi tak henti-hentinya menyakiti orang lain. Adapula kawan yang berkali-kali menunaikan haji dan umrah tetapi terus melakukan korupsi di kantornya.

    Lantas dimana letak kesalahannya? Saya kira persoalan utamanya adalah pada kesalahan cara berpikir. Banyak orang yang memahami agama dalam pengertian ritual dan fiqih belaka. Dalam konsep mereka, beragama berarti melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan melagukan (bukannya membaca) Alquran. Padahal esensi beragama bukan disitu. Esensi beragama justru pada budi pekerti yang mulia.

    Kedua, agama sering dipahami sebagai serangkaian peraturan dan larangan. Dengan demikian makna agama telah tereduksi sedemikian rupa menjadi kewajiban dan bukan kebutuhan. Agama diajarkan dengan pendekatan hukum (outside-in), bukannya dengan pendekatan kebutuhan dan komitmen ( inside-out).

    Ini menjauhkan agama dari makna sebenarnya yaitu sebagai sebuah sebuah cara hidup ( way of life), apalagi cara berpikir (way of thinking).

    Agama seharusnya dipahami sebagai sebuah kebutuhan tertinggi manusia. Kita tidak beribadah karena surga dan neraka tetapi karena kita lapar secara rohani. Kita beribadah karena kita menginginkan kesejukan dan kenikmatan batin yang tiada taranya.

    Kita beribadah karena rindu untuk menyelami jiwa sejati kita dan merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita. Kita berbuat baik bukan karena takut tapi karena kita tak ingin melukai diri kita sendiri dengan perbuatan yang jahat.

    Adasebuah pengalaman menarik ketika saya bersekolah di London dulu. Kali ini berkaitan dengan polisi. Berbeda dengan di Indonesia, bertemu dengan polisi disana akan membuat perasaan kita aman dan tenteram. Bahkan masyarakat Inggris memanggil polisi dengan panggilan kesayangan: Bobby.

    Suatu ketika dompet saya yang berisi surat-surat penting dan sejumlah uang hilang. Kemungkinan tertinggal di dalam taksi. Ini tentu membuat saya agak panik, apalagi hal itu terjadi pada hari-hari pertama saya tinggal di London.

    Tapi setelah memblokir kartu kredit dan sebagainya, sayapun perlahan-lahan melupakan kejadian tersebut. Yang menarik, beberapa hari kemudian, keluarga saya di Jakarta menerima surat dari kepolisian Londonyang menyatakan bahwa saya dapat mengambil dompet tersebut di kantor kepolisian setempat.

    Ketika datang kesana, saya dilayani dengan ramah. Polisi memberikan dompet yang ternyata isinya masih lengkap. Ia juga memberikan kuitansi resmi berisi biaya yang harus saya bayar sekitar 2,5 pound. Saking gembiranya, saya memberikan selembar uang 5 pound sambil mengatakan, ”Ambil saja kembalinya.”

    Anehnya, si polisi hanya tersenyum dan memberikan uang kembalinya kepada saya seraya mengatakan bahwa itu bukan haknya. Sebelum saya pergi, ia bahkan meminta saya untuk mengecek dompet itu baik-baik seraya mengatakan bahwa kalau ada barang yang hilang ia bersedia membantu saya untuk menemukannya.

    Hakekat keberagamaan sebetulnya adalah berbudi luhur. Karena itu orang yang ”beragama” seharusnya juga menjadi orang yang baik. Itu semua ditunjukkan dengan integritas dan kejujuran yang tinggi serta kemauan untuk menolong dan melayani sesama manusia.

    ***

    disadur dari Republika Kepemimpinan

    Oleh: Arvan Pradiansyah, direktur pengelola Institute for Leadership & Life Management (ILM) & penulis buku Life is Beautiful

     
    • azkaazzahra 1:41 am on 4 September 2010 Permalink

      orang baik dan beragama. cuma itu satu-satunya pilihan…
      jika dipisahkan semua sia-sia….
      salam…..

    • arwan 5:42 pm on 16 September 2010 Permalink

      sungguh ini renungan yg sangat sederhana tp,,menyentuh???

  • erva kurniawan 1:04 am on 3 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: Adakah Berbohong Yang Dibolehkan?   

    Adakah Berbohong Yang Dibolehkan? 

    Pada dasarnya Islam melarang seorang muslim untuk berbohong. Bahkan berbohong dalam Islam dipandang sebagai salah satu sifat kekufuran dan kemunafikan. Di dalam Al-Qur’an Alloh SWT berfirman, “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah mereka yang tidak mengimani (mempercayai) tanda-tanda kekuasaan Alloh. Mereka adalah kaum pendusta”. (An-Nahl: 105)

    Rasulullah SAW pun menggolongkan mereka yang berdusta termasuk orang-orang yang memiliki karekteristik kemunafikan. Beliau bersabda, “Empat hal jika semuanya ada pada seseorang ia adalah munafik semurni-murninya munafik. Jika satu di antara yang empat itu ada pada dirinya maka padanya terdapat saru sifat kemunafikan hingga ia dapat membuangnya; Jika berbicara ia berduta, jika diberi amanah ia khianat, jika berjanji ia melanggar dan jika membantah ia berbohong.” (HR. Bukhori Muslim)

    Dalil-dalil di atas menunjukan dengan tegas bagaimana kecaman Islam terhadap kebohongan dan orang-orang yang melakukannya.

    Namun demikian Rasulullah SAW memberikan pengecualian terhadap tiga kebohongan yang boleh (mubah) dilakukan oleh seorang muslim

    Dari Ummu Kultsum RA ia berkata:”Saya tidak pernah mendengar Rasulullah SAW memberi kelonggaran berdusta kecuali dalam tiga hal: [1] Orang yang berbicara dengan masud hendak mendamaikan, [2] orang yang berbicara bohong dalam peperangan dan [3] suami yang berbicara dengan istrinya serta istri yang berbicara dengan suaminya (mengharapkan kebaikan dan keselamatan atau keharmonisan rumah tangga)”. (HR. Muslim)

    Tidak mungkin dapat diterima jika orang yang hendak mendamaikan pihak-pihak yang berselisih menyampaikan apa yang oleh satu pihak kepada pihak lain. Itu pasti akan lebih mengobarkan api yang sedang menyala. Ia harus berusaha meredakan suasana, jika perlu ia boleh menambah-nambah dengan berbagai perkataan yang manis dan tidak menyebut cercaan atau umpatan pihak yang satu terhadap pihak yang lain.

    Dalam suasana perang pun tidak masuk akal jika orang memberi informasi kepada musuh, membuka rahasia pasukannya sendiri, atau memberitahu musuh tentang informasi-informasi yang mereka butuhkan. Rasulullah SAW bersabda, “Perang itu adalah tipu daya”

    Demikian pula, tidak bijaksana jika seorang istri berkata terus terang kepada suaminya tentang perasaan kasih sayangnya terhadap lelaki lain sebelum pernikahannya dengan suami sekarang padahal perasaan itu sendiri sudah hilang ditelan waktu.Atau pun suami mengkritik secara terbuka makanan yang dengan susah payah dimasakan oleh istrinya bahwa ini tidak enak lah, kurang anulah. akan menjadi lebih baik jika suami mengatakan makanan ini sangat lezat (meskipun pada kenyataannya memang tidak) hanya saja mungkin perlu tambahan ini dan itu.

    ***

    Cuplikan dari http://www.syariahonline.com

     
    • Sakti 10:25 am on 5 September 2010 Permalink

      tetapi ada orang yg tetap gak suka dibohongi walau maksudnya baik…. akhirnya tetap jadi runyam

    • halimah 12:23 am on 19 Desember 2010 Permalink

      ya benar, memang sakit hati jika tau kita telah dibohongi, apa lg dari seseorang yg kita cintai

  • erva kurniawan 1:37 am on 2 September 2010 Permalink | Balas  

    5 Fenomena Tubuh yang Sulit Dijelaskan Ilmu Medis

    Jakarta, Ada banyak kejadian dalam tubuh manusia yang sulit dijelaskan dengan akal sehat. Meski ilmu pengetahuan medis sudah berkembang begitu pesat, tapi fenomena-fenomena seperti ini sangat abstrak dan sulit diteliti.

    Orang-orang yang sangat percaya kepada kemampuan ilmu pengetahuan akan sulit mempercayainya. Tapi seperti dilansir LiveScience, Selasa (11/5/2010) ada 5 fenomena yang dialami tubuh manusia yang sukar dijelaskan secara logika dan ilmu medis:

    1. Intuisi

    Intuisi sering disebut bisikan hati atau kemampuan untuk memahami sesuatu tanpa dipikirkan dulu. Kita semua memiliki intuisi yang ketajamannya tiap orang berbeda-beda.

    Bisakah intuisi disebut indra keenam? Para ahli psikologi menyebutnya tidak bisa, karena intuisi juga sering salah menebak sesuatu seperti ketika pesawat yang Anda tumpangi mengalami turbulensi, Anda mengira pesawat akan jatuh tapi kenyataannya selamat.

    Psikolog mencatat intuisi sering muncul ketika seseorang ingin mengambil keputusan atau menuntun ke sesuatu tempat yang tanpa Anda ketahui bagaimana lokasinya. Namun intuisi ini sulit untuk dibuktikan atau dipelajari baik dalam ilmu psikologi atau medis.

    2. Deja vu

    Lintasan memori yang misterius itulah yang dinamakan deja vu. Berasal dari bahasa Prancis deja vecu yang artinya pernah mengalami. Deja vu didefinisikan sebagai perasaan yang muncul karena merasa pernah mengalami, melihat, mendengar tapi sebenarnya belum pernah terjadi.

    Deja vu identik dengan perasaan beda, bingung dan misterius. Ketika masuk ke sebuah ruangan yang belum pernah Anda kunjungi, tiba-tiba Anda merasakan seperti pernah berada di ruangan ini dengan arsitektur dan orang-orang yang ditemui sama seperti yang sedang Anda hadapi.

    Psikologi mungkin bisa menjelaskan secara natural penyebab deja vu seperti sedang berhalusinasi atau pengaruh obat-obatan. Namun pada akhirnya penyebab dan sifat fenomena itu sendiri masih merupakan misteri.

    3. Pengalaman Mati Suri

    Pengalaman mati suri (Near Death Experience) seringkali terjadi pada beberapa orang yang sedang sekarat. Ketika seseorang mendekati kematian, maka jiwanya meninggalkan tubuh dan mulai merasakan hal-hal yang biasanya tidak bisa dirasakan. Jiwanya berjalan melalui perbatasan antara hidup di dunia dan hidup di akhirat, biasanya berupa terowongan dengan cahaya di ujung.

    Secara ilmiah proses mati suri sangat kompleks, subjektif dan emosional. Mekanisme di balik beberapa pengalaman ini adalah cara otak memproses informasi sensorik.

    Orang-orang yang tidak percaya menganggap mati suri sebagai halusinasi atau trauma otak. Tapi hingga kini ilmuwan gagal menemukan apa yang terjadi saat orang mati suri dan kenapa bisa kembali hidup lagi.

    4. Kekuatan Psikis (Kekuatan Batin) dan ESP

    Kekuatan psikis atau kekuatan batin dan Extra-Sensory Perception (ESP) termasuk fenomena yang tidak dapat dijelaskan karena seseorang yang mempunyai kekuatan psikis mampu menjangkau rahasia kehidupan dan masa depan.

    Banyak orang percaya bahwa intuisi adalah suatu bentuk kekuasaan psikis. Peneliti telah menguji orang-orang yang mengklaim memiliki kekuatan batin yang hasilnya sulit dijelaskan secara ilmiah.

    Beberapa berpendapat kekuatan batin tidak bisa diuji. Hingga kini ilmuwan belum bisa membuktikan fenomena atau keberadaan ilmu batin ini.

    5. Kekuatan Tubuh dan Pikiran (The Body Mind Connection)

    Ilmu kedokteran hanyalah permulaan untuk mengerti bagaimana cara pikiran mempengaruhi tubuh. Efek placebo (obat semu tanpa bahan kimia) misalnya, menjelaskan bahwa orang bisa merasa lega karena obat yang efektif adalah percaya pada kemampuan obat tersebut meski obat yang diberikan tak ada bahan kimia. Inilah yang dinamakan kemampuan sugesti.

    Yang lebih mengherankan kalangan medis adalah kemampuan tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri tanpa melalui pengobatan moderen.

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/05/11/143514/1355252/763/5-fenomena-tubuh-yang-sulit-dijelaskan-ilmu-medis?l991101755

     
    • azzen noury 9:52 am on 8 September 2010 Permalink

      Makis…dapat ilmu baru

  • erva kurniawan 1:43 am on 1 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: lailatul qadr, malam lailatul, malam lailatul qadr   

    Keagungan Lailatul Qadr 

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadr.” (QS a,-Qadr: 1)

    Ramadhan adalah bulan yang sangat dirindukan dan dinanti-nantikan orang-orang beriman karena kemuliaan dan keagungan yang terdapat di dalamnya. Salah satunya adalah Lailatul Qadr Apakah Lailatul Qadar itu? Seberapa besarkah keagungan dan keutamaannya? Bilakah malam itu terjadi? Dan apa yang sebaiknya kita lakukan saat kita merasakan atau berada pada malam tersebut?

    Semua ini pertanyaan-pertanyaan yang menarik untuk kita ungkapkan dalam rangka mengapai dan memperoleh Lailatul Qadr. Sekalipun pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah sesuatu yang baru, tapi memiliki bobot tersendiri dan sangat relevan.

    Secara harfiyah Lailah berarti malam. Sedangkan Qadr berarti takaran, ukuran, sesuatu yang bernilai dan sesuatu yang terbatas. Kemudian para ulama beragam dalam mengartikan dan menafsirkannya.

    Ada yang menyebutnya malam kemuliaan, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan kitab suci al-Qur’an yang merupakan sumber kemuliaan manusia. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuh kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagi kamu. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS Al-Anbiyaa: 10)

    Sebagian yang lain mengartikan sebagai malam yang sangat bernilai. Karena pada malam itu ketaatan manusia akan mendapatkan nilai yang tnggi dan pahala yang besar. Bila dilihat dari kacamata bisnis keuntungan senilai 3.000.000% (1000 bulan X 30 hari X 10 kebaikan).

    Karena itu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, bulan Ramadhan telah hadir ditengah-tengah kalian. Didalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang diharamkan pada malam tersebut, berarti ia telah diharamkan dari semua kebaikan. Dan tidak ada yang yang diharamkannya melainkan orang-orang yang benar-benar merugi,” (HR Ibnu Majah dengan sanad hasan).

    Sebagian yang lain mengatakan malam yang sesak dengan Malaikat, sebab kata Qadr dapat berarti sempit. Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah SWT, “ Dan siapa yang dipersempit rezekinyaa…” (QS. Al-Thalaaq: 7)

    Banyak ayat dan hadits yang menyebutkan keutamaan dan keagungan Lailatul Qadr, baik secara tersurat maupun tersirat. Diantaranya:

    • Lailatul Qadr nilainya lebih baik dari seribu bulan, Artinya ibadah yang kita lakukan pada malam tersebu jauh lebih baik dari beribadah seribu bulan (QS al-Qadr: 3)
    • Malam tersebut penuh dengan keberkahan (kebaikan yang melimpah). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkan (al-Quran) pada malam yang penuh keberkahan”. (QS. Al-Dukhaan: 3)
    • Malam tersebut penuh dengan ampunan. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadr (dengan ibadah) semata-mata karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu,” (HR Bukhari)
    • Malam tersebut adalah malam dimana para malaikat makhluk Allah yang suci turun ke dunia untuk memberikan salam kepada hamba-hamba Allah yang taat beribadah kepada-Nya (QS Al-Qadr: 5)

    Mengenai waktu terjadinya Lailatul Qadr, para ulama beragam pendapat. Ibnu Hajar menyebutkan lebih dari 40 pendapat. Namun, bila kita membaca hadits-hadits Nabi SAW, dapat kita simpulkan sebagai berikut:

    • Lailatul Qadr terjadi setiap tahun di bulan suci Ramadhan, terutama pada malam-malam sepuluh hari terakhir ketika Rasulullah saw melakukan I’tikaf, “Apabila memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasulullah saja menghidupkan malam-malamnya dengan beribadah. Beliau membangunkan istrinya, bersungguh-sungguh dan serius bribadah,” (HR Bukhari dan Muslim)
    • Lebih utamanya pada malam-malam ganjil, yaitu 21, 23, 25, 27 , dan 29. Rasulullah saw bersabda, “Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari dan Muslim)
    • Lebih spesifik lagi adalah pada tanggal 27 Ramadhan menurut pendapat mayoritas ulama dan tanggal 21 menurut Imama Syafi’i. Ibnu Abbas pernah meminta sahabat yang lebih tua, lemah dan tidak mampu berdiri berlama-lama untuk bertanya kepada Rasul, kapankah ia bisa mendapatkan Lailatul Qadar? Rauslullah saw menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 (HR Thabrani dan Baihaqi).
    • Malam Jum’at yang jatuh pada tanggal ganjil, juga perlu diperhatikan, karena hari Jum’at adalah Sayyidul Ayyaam (penghulu hari-hari) dan Yaumul ‘Ied (Hari raya) pekanan.

    Yang paling baik kita lakukan pada Lailatul Qadr adalah beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah. Diantara ibadah yang dianjurkan adalah:

    • I’tikaf, yaitu berada di masjid. Karena, Rasulullah saw melakukan I’tikaf dan menjadikannya budaya yang tidak pernah beliau tinggalkan.
    • Qiyamul Lail (shalat Malam). Rasulullah saw bersabda,“Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan qiyamul Lail karena iman dan mengharap pahala dari Alalh, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lain,” (HR Bukhari)
    • Berdoa dan berdzikir. Aisyah ra berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu apabila aku mengetahui Lailatul Qadr? Apa yang sebaiknya aku ucapkan?” Beliau bersabda, ‘Ucapkanlah, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah pemaaf dan menyukai maaf, maka maafkanlah daku),” (HR Turmudzi).

    Lailatul Qadr dapat kita ketahui dari tanda-tandanya. Ahli hadits seperti Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Turmudzi meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Saat terjadi Lailatul Qadr, malam terasa jernih, terang, dan tenang. Cuaca Sejuk. Tidak terasa panas. Tidak terasa dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan terang benderang tanpa tertutup satu awan.”

    Semoga Allah SWT berkenan memberikan kita kemuliaan malam Qadr tersebut.

    Aamiin yaa Mujiibas Saaliliin.

    ***

    Oleh : KH Abdul Hasib Hasan , Lc. Pimpinan Ma’had Al-Hikmah, Bangka – Jakarta.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 670 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: