Updates from November, 2009 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 8:41 pm on 30 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Tujuh Keajaiban Dunia 

    water-lilySekelompok pelajar kelas geografi belajar mengenai “Tujuh Keajaiban Dunia”. Pada akhir pelajaran, pelajar tersebut di minta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan “Tujuh Keajaiban Dunia” saat ini. Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi:

    1. Piramida Besar di Mesir,
    2. Taj Mahal,
    3. Grand Canyon,
    4. Panama Canal,
    5. Empire State Building,
    6. St. Peter’s Basilica,
    7. Tembok China.

    Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar,seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya.Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya. Gadis pendiam itu menjawab, “Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya.” Sang guru berkata, “Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya. ” Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, “Saya pikir Tujuh Keajaiban Dunia adalah:

    1. Bisa menyentuh,
    2. Bisa mencicip,
    3. Bisa melihat,
    4. Bisa mendengar, dia ragu lagi sebentar, dan kemudian
    5. Bisa merasakan,
    6. Bisa tertawa,
    7. Dan bisa mencintai.

    Ruang kelas tersebut sunyi seketika. Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya “keajaiban” sementara kita lihat lagi semua yang telah Allah lakukan untuk kita, menyebutnya sebagai “biasa”. Semoga Anda hari ini diingatkan tentang segala hal yang betul-betul ajaib.

    ***

     
    • zoelokam124 4:08 pm on 2 Desember 2009 Permalink

      ▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■
      ■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓

      Mengapa Mereka (ACEH) Begitu Membenci Rakyat Indonesia, Saudaranya Sendiri
      ↓↓↓↓↓↓↓↓

      http://aceh.notlong.com/


      ■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓
      ▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■▓■

  • erva kurniawan 6:53 pm on 29 November 2009 Permalink | Balas  

    Untaian Harap 

    Siluet masjid 4Dengarkanlah untaian harap seorang hamba yang duduk bersimpuh sambil menengadahkan tangan ditengah sunyinya malam diakhir sujud-sujud panjangnya.

    “….. Ya Allah berikan aku handphone lengkap dengan pulsanya yang banyak supaya aku bisa mudah berhubungan saudara2ku dan mengetahui kabarnya”

    “Ya Allah berikan aku notebook plus multimedia dan printer portable-nya agar aku bisa mengetahui informasi dunia memberitahu pada yang belum tahu dan membuat dokumentasi yang baik”

    “Ya Allah berikan aku mobil yang keciil saja supaya aku bisa dipakai urusan da’wah dengan mudah survey, syuro, jemput muajih”

    “Ya Allah berikan aku sebuah rumah sederhana yang luaaas pekarangannya supaya bisa kujadikan markazud da’wah”

    “Ya Allah berikan aku kompor gas dan tabungnya supaya aku bisa buat konsumsi dengan cepat untuk para mujahid”

    “Ya Allah berikan aku otak yang encer dan kesempatan belajar setinggi2nya supaya aku bisa pintar dan mudah menghafal Al Qur’an”

    “Ya Allah berikan aku uang yang banyak biar bisa kusumbangkan pada yang membutuhkan”

    “Ya Allah berikan pasangan hidup yang Engkau sukai dan baik supaya aku bisa bersama-sama membangun miniatur daulah yang baik”

    “Ya Allah berikan aku anak-anak yang cerdik dan sholeh supaya bisa dijadikan kebanggaan dan tabungan di akhirat kelak”

    “Ya Allah berikan aku kesempatan untuk keliling dunia supaya kubisa tafakuri belahan duniaMu yang lain”

    Namun Ya Allah aku, (sambil terisak ia meneruskan untaian harapnya), aku ini hanyalah seorang hamba yang dhoif dan lemah, seringkali khilaf untuk bersyukur, janganlah kau kabulkan Ya Allah, jangan, kalau sekiranya itu semua bisa membuatku terlena. Apalah arti semua itu, kalau bukan untukMu.

    Ya Allah , sesungguhya kuminta semua itu karna hanya ingin membuktikan cinta padaMu dengan berbagai cara, Engkaulah yang Maha Mengetahui mana saja yang patut kudapat, atau tidak sama sekali bila itu semua justru membuatku jauh dariMu tak usahlah Kau berikan, cukup saja hamba diberi setitik cintaMu, kabulkanlah Ya Allah.

    (Adzan Subuh berkumandang menutup untaian-untaian harap seorang hamba)

    “Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wafil aakhirati hasanah waqinaa adzabannaar”.

    ***

     
    • flames 9:11 am on 12 Januari 2010 Permalink

      wooww

  • erva kurniawan 6:48 pm on 28 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , , muflis   

    Muflis 

    water-lilies-2Suatu ketika Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian siapakah muflis itu?”

    Para sahabat menjawab, “Yaitu orang-orang yang tidak memiliki satu dinar pun dan tidak pula satu dirham pun alias bangkrut.”

    Rasulullah berkata, “Bukan itu yang dimaksud sebagai muflis. Orang muflis adalah orang yang ketika hidup di dunia dia banyak melakukan kebaikan, dia shalat, zakat, dan juga berhaji. Namun pada saat yang sama ia sering berbuat dzalim terhadap orang lain. Sehingga, ketika di akhirat kelak segala amal kebaikannya habis untuk melunasi tuntutan orang-orang yang dianiayanya. Dan ketika tuntutan itu belum selesai, saking banyaknya orang yang didzalimi sedangkan amal kebaikannya telah habis, maka kesalahan-kesalahan orang-orang itu akan ditimpakan kepadanya. Itulah orang muflis yang akhirnya menderita di akhirat karena amalnya ketika di dunia sia-sia belaka.”

    Setiap manusia berpotensi untuk melakukan kedzaliman terhadap sesamanya. Dan, apabila ia memegang suatu kekuasaan memimpin maka potensi berbuat dzalim terhadap sesama semakin besar. Dan semakin tinggi wilayah kuasa seseorang maka potensi berbuat dzalim itu pun semakin besar pula.

    Kekhawatiran inilah yang ditangkap oleh Khalifah Umar ibn Khattab ketika menerima amanah memimpin kaum Muslimin. Hari-harinya dilalui dengan amat berat karena memikul tanggung jawab atas urusan seluruh umat yang apabila ia lalai maka ia telah berbuat dzalim terhadap seluruh kaum Muslimin.

    Rasa khawatir itu pula yang menjadikan air mata Khalifah Umar ibn Abdul Aziz sering tertumpah tatkala diberi amanah memimpin umat. Hari-hari yang dijalani adalah hari-hari yang terasa berat menanggung urusan umat. Mereka adalah termasuk orang-orang yang khawatir terjerumus ke dalam golongan orang-orang muflis yang merugi di akhirat karena berbuat dzalim terhadap sesama.

    Lalu bagaimana pemimpin yang ada sekarang? Yang jelas jutaan orang atau lebih orang merasa disakiti. Kelak mereka di akhirat akan seperti orang yang digambarkan oleh Rasulullah yaitu orang yang defisit amal, bangkrut amal kebaikannya. Itulah orang-orang muflis.

    Naudzubillahi min dzalik.

    ***

    Hikmah Harian Republika, oleh Diding Suhandy

     
  • erva kurniawan 6:39 pm on 27 November 2009 Permalink | Balas  

    Kebaikan bagi Setiap Mukmin dan Mu’minah 

    sholatBersabda Nabi Muhammad S.A.W “Barangsiapa memohonkan ampunan untuk orang-orang mukmin dan mukminah, maka Allah akan tuliskan untuknya kebaikan dari setiap mukmin dan mukminah” (HR. Ath Thabrani dan dihasankan oleh Al Bani).

    Alangkah indahnya jika seseorang berdoa untuk dirinya, orangtuanya, dan orang -orang mukmin dan mukminah baik yang hidup ataupun yang mati (diantara mereka). Allah Ta’ala berfirman dalam menceritakan doa Nabi Nuh as:

    QS. Nuh (71) :28 “Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”.

    Doa Nabi Ibrahim as (14) :41 “Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat) “.

    Firman Allah ketika memuji hamba-hambaNya yang mukmin:

    Qs Al Hasyr (59):10 “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. “

    ***

     
  • erva kurniawan 6:35 pm on 26 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: muhammad, , rasulullah   

    Siapakah Gerangan Manusia Yang Paling Sayang Kepadamu 

    muhammad 2Sahabatku rahimakumullah, siapakah gerangan manusia yang paling penyayang kepadamu? Paling peduli akan dirimu dan masa depanmu? Yach, dialah Rasulullah Saw.

    Gambaran kasih sayangnya kepada kita dapat dilihat dalam Firman Allah Swt QS. At Taubah 9 ayat 128, yang artinya:

    “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”. (Al Qur’an At Taubah 9 ; 128)

    Pada suatu malam, Beliau berdo’a semalam suntuk kepada Allah dengan ungkapan segenap jiwa dan perasaannya yang penuh kasih, berdo’a agar kita selamat.

    “Ya Allah, Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba_Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al Qur’an Al Maidah 5 ; 118)

    Dengan mengangkat kedua belah tangannya, Beliau berucap, “Allahumma, ummati, ummati ! Wahai Allah, umatku, ! umatku, !” Kemudian berlinang air matanya,

    Dari Abu Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash r.a, katanya, Nabi Saw membaca Firman Allah (do’a Nabi Isa a.s./Al Qur’an Al Maidah 5 ; 118) tersebut di atas. Lalu Rasulullah Saw mengangkat kedua tangannya seraya  berkata, “Allahumma, ummati, ummati !” (Wahai Allah! Umatku! Umatku!). dan sesudah itu Rasulullah Saw menangis. Maka berfirman Allah Azza wa Jalla kepada Jibril a.s., “Hai, Jibril ! Pergilah kepada Muhammad ! (dan sesungguhnya Tuhanmu Maha Tahu) Tanyalah kepadanya kenapa dia menangis. Maka pergilah Jibril kepada Muhammad Saw, menanyakan kenapa. Rasulullah Saw lalu menceritakan kepada Jibril kenapa beliau menangis dan mengatakan (Padahal Allah Maha Tahu). Maka firman Allah, “Hai, Jibril! Pergilah kepada Muhammad, katakana kepadanya: “Aku akan memperkenankanmu membela umatmu dan tidak akan mengecewakanmu”.

    Ridha Allah atas pembelaan Rasul kepada kita dan seluruh umatnya inilah yang dinamakan syafaat Beliau kepada kita. Namun dengan syarat kita tidak boleh mempersekutukan Allah Swt.

    Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah Saw, bersabda : “Setiap Nabi mempunyai do’a mustajab (do’a yang pasti diperkenankan), karena itu para nabi segera memanfaatkan do’anya untuk menolong umatnya. Tetapi aku akan memanfaatkan nanti untuk membela umatku di hari kiamat. Insya Allah do’aku itu akan mencapai setiap umatku yang meninggal dengan tidak mempersekutukan Allah Swt”.

    Dan seandainya saja kita tahu betapa ikhlas dan tulusnya Rasulullah Saw kepada kita dan seluruh umatnya,  Beliau ingin kita semua selamat dan beroleh jalan yang lurus,  Tidak ingin kita tersesat jalan (kafir) tertutup hatinya dari menerima kebenaran, hal ini dapat kita lihat:

    Dari ‘Abdullah (bin Mas’ud) r.a., katanya Rasulullah Saw, bersabda kepadanya, sabdanya: “Bacakanlah Qur’an kepadaku !” Jawabku, Bagaimana pula aku harus membacakannya kepada anda, sedangkan Qur’an itu sendiri diturunkan kepada anda. Sabda beliau : “Aku ingin mendengarkannya dari orang lain.” Karena itu kubacakan kepada beliau Surah An Nisa. Ketika bacaanku sampai kepada ayat:

    Fakaifa idza ji’na min kulli ummatin bisyahidin wa ji’na bika haula syahida’. “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)”. (Al Qur’an An-Nisa’ 4 ; 41)

    Ketika itu aku mengarahkan pandanganku kepada beliau, maka kelihatan olehku air matanya mengalir.

    Karena itu, pantaslah saja Allah sangat menyayanginya, mengasihinya, dan bersyalawat untuknya, Bagaimana dengan kita?,

    ***

    Rindu kami padamu ya Rasul, Rindu tiada terperih, berabad jarak darimu ya Rasul, serasa dikau di sini, Cinta ikhlasmu pada manusia bagaikan cahya suarga. Dapatkah kami membalas cintamu, secara bersahaja.

     
  • erva kurniawan 3:53 am on 25 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Seputar Ibadah Qurban 

     

    aidil-adha

    Qurban dalam bahasa Arab artinya dekat, ibadah qurban artinya menyembelih hewan sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah qurban disebut juga “udzhiyah” artinya hewan yang disembelih sebagai qurban. Ibadah qurban disinggung oleh al-Qur’an surah al-Kauthar “Maka dirikanlah shalat untuk Tuhanmu dan menyembelihlah” .

    Keutamaan qurban dijelaskan oleh sebuah hadist A’isyah, Rasulullah s.a.w. bersabda “Sebaik-baik amal bani adam bagi Allah di hari iedul adha adalah menyembelih qurban. Di hari kiamat hewan-hewan qurban tersebut menyertai bani adam dengan tanduk-tanduknya, tulang-tulang dan bulunya, darah hewan tersebut diterima oleh Allah sebelum menetes ke bumi dan akan membersihkan mereka yang melakukannya” (H.R. Tirmizi, Ibnu Majah).

    Dalam riwayat Anas bin Malik, “Rasulullah menyembelih dua ekor domba putih bertanduk, beliau meletakkan kakinya di dekat leher hewan tersebut lalu membaca basmalah dan bertakbir dan menyembelihnya” (H.R. Tirmizi dll).

    Hukum ibadah qurban, Mazhab Hanafi mengatakan wajib dengan dalil hadist Abu Haurairah yang menyebutkan Rasulullah s.a.w. bersabda “Barangsiapa mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan qurban, maka jangan lah ia mendekati masjidku” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah). Ini menunjukkan sesuatu perintah yang sangat kuat sehingga lebih tepat untuk dikatakan wajib.

    Mayoritas ulama mengatakan hukum qurban sunnah dan dilakukan setiap tahun bagi yang mampu. Mazhab syafi’i mengatakan qurban hukumnya sunnah ‘ain (menjadi tanggungan individu) bagi setiap individu sekali dalam seumur dan sunnah kifayah bagi sebuah keluarga besar, menjadi tanggungan seluruh anggota keluarga, namun kesunnahan tersebut terpenuhi bila salah satu anggota keluarga telah melaksanakannya.

    Dalil yang melandasi pendapat ini adalah riwayat Umi Salamh, Rasulullah s.a.w. bersabda “Bila kalian melihat hilal dzul hijjah dan kalian menginginkan menjalankan ibadah qurban, maka janganlah memotong bulu dan kuku hewan yang hendak disembelih” (H.R. Muslim dll), hadist ini mengaitkan ibadah qurban dengan keinginan yang artinya bukan kewajiban.

    Dalam riwayat Ibnu ABbas Rasulullah s.a.w. mengatakan “Tiga perkara bagiku wajib, namun bagi kalian sunnah, yaitu shalat witir, menyembelih qurban dan shalat iedul adha” (H.R. Ahmad dan Hakim).

    Qurban disunnahkan kepada yang mampu. Ukuran kemampuan tidak berdasarkan kepada nisab, namun kepada kebutuhan per individu, yaitu apabila seseorang setelah memenuhi kebutuhan sehari-harinya masih memiliki dana lebih dan mencukupi untuk membeli hewan qurban, khususnya di hari raya iedul adha dan tiga hari tasyriq.

    Dalam beribadah qurban harus disertai niyat berqurban untuk Allah atas nama dirinya. Berqurban atas nama orang lain menurut mazhab Syafi’i mengatakan tidak sah tanpa seizin orang tersebut, demikian atas nama orang yang telah meninggal tidak sah bila tanpa dasar wasiat. Ulama Maliki mengatakan makruh berqurban atas nama orang lain. Ulama Hanafi dan Hanbali mengatakan sah saja berqurban untuk orang lain yang telah meninggal dan pahalanya dikirimkan kepada almarhum.

    Dalam menyembelih qurban disunnahkan membaca bismillah, membaca sholawat untuk Rasulullah, menghadapkan hewan ke arah kiblat waktu menyembelih, membaca takbir sebelum basmalah dan sesudahnya sarta berdoa ” Ya Allah qurban ini dari-Mu dan untuk-Mu”.

    Wallohu ‘alam bissawab

    ***

    (Sumber: pesantren-online)

     
  • erva kurniawan 5:38 pm on 24 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Pohon Mangga 

    MangoTreeTersebutlah konon dahulu kala tumbuhlah sebatang pohon mangga. Daunnya rimbun, sarat dengan buah tak terhenti sepanjang tahun. Seorang bocah senang sekali datang bermain setiap hari di pohon mangga itu dan sekitarnya. Ia memanjat ke puncak pohon, merayap ke dahan, memetik dan makan buah mangga. Kemudian meluncur turun bersandar di batang pohon dan terlelap dalam kesejukan naungan daun yang rimbun Ia mencintai pohon mangga itu dan pohon itu demikian pula kepadanya.

    Waktu meluncur dengan cepatnya tak terasa. Bocah itu bertumbuh menjadi remaja. Sudah tidak senang bermain-main lagi, telah jarang mendatangi pohon mangga itu.

    Syahdan, sampai pada suatu hari sedang rembang matahari bocah yang telah remaja itu datang mendekati pohon mangga dengan wajah sedih. Pohon mangga menyambutnya dengan gembira: “Mari bermain seperti dahulu”. “Saya bukan bocah lagi, saya sudah remaja, sudah tidak senang bermain”, jawab bocah yang telah remaja itu.” “Lalu apa masalahmu. Katakanlah segera, mungkin saya dapat menolongmu, keluar dari kesusahanmu,” pohon mangga membujuk. “Begini, saya ingin mempunyai kecapi yang merdu untuk menghibur kekasihku,” bocah yang telah remaja itu mengutarakan kemusykilannya.” “Oh, itu gampang, petiklah buahku sehabis-habisnya, kemudian juallah untuk memperoleh uang. Dan engkau dapat membeli kecapi yang merdu”. Bocah yang telah remaja itu bangkit gairahnya. Dipetiknya buah mangga habis-habisan dan meninggalkan pohon mangga, yang dalam sejenak itu bocah yang telah remaja itu menghilang dalam pandangan pohon mangga. Tampak gembira pohon mangga, karena telah mengeluarkan bocah yang telah remaja itu dari belenggu kesusahannya.

    Arkian, tibalah pula suatu hari remaja itu datang lagi ke pohon mangga. Bergembiralah pohon mangga memanggil untuk bermain. “Saya tidak punya waktu untuk bermain, saya telah dewasa, telah beristeri,” ujar remaja yang telah dewasa itu. “Lalu kesulitan apa pula yang membelenggumu, boleh jadi saya dapat menolongmu lagi,” kata pohon mangga.” “Begini, saya membutuhkan rumah tempat tinggal”, belum sempat remaja yang telah dewasa itu mengakhiri kalimatnya, pohon mangga menyela: “Oh, gampang pangkaslah semua dahan, dan cabang dari batangku, cukuplah itu untuk mendirikan rumah.” Remaja yang telah dewasa itu, karena memang profesinya tukang kayu, segera mengambil peralatan pertukangan kayu, lalu memangkas. Maka tinggallah pohon mangga seperti tonggak, hanya batang tanpa dahan, tanpa cabang, tanpa ranting dan tanpa daun. Tumbuh tidak, matipun tidak.

    Syahdan, tahun berganti tahun, datanglah pula remaja yang sudah dewasa itu ke pohon mangga yang sudah menjadi tonggak itu, tumbuh tidak, matipun tidak. “Kita tak dapat bermain lagi, saya sudah menjadi tonggak,” dengan sedih berkata pohon mangga yang sudah menjadi tonggak itu, tumbuh tidak, matipun tidak. “Boleh jadi inilah yang terakhir saya minta nasihat kepadamu. Saya sudah menjelang manula. Ingin menikmati hari tua, bersenggang waktu, berlayar-layar di danau. Bagaimana mungkin saya mendapatkan perahu,” berujar bocah yang meremaja, yang mendewasa dan menjelang manula itu. “Oh, itu gampang, tebanglah batangku pada pangkalnya, buatlah perahu”, itulah kata akhir pohon mangga yang telah menonggak itu.

    Alhasil, pohon mangga yang dahulu berdaun rimbun, berbuah lebat, tinggal akar-akarnya saja yang tersembul sedikit di atas tanah, dari tonggak menjadi seperti bantal. Qissah belum berakhir, walaupun kata akhir telah terucapkan oleh pohon mangga yang dahulu berdaun rimbun, berbuah lebat, tinggal akar-akarnya saja yang tersembul sedikit di atas tanah itu.

    Musim berganti musim, tahun berganti tahun datang lagi bocah yang meremaja, yang mendewasa yang menjelang manula dan sudah top, tua, pikun, ompong datang laki ke pohon mangga yang dahulu berdaun rimbun, berbuah lebat, tinggal akar-akarnya saja yang tersembul sedikit di atas tanah seperti bantal. Yang sudah top itu merebahkan diri berbantalkan akar pohon mangga.

    Kisah ini untuk siapa saja. Pohon mangga ibarat kedua orang tua kita. Ketika bocah kita senang bermain dengan kedua beliau. Tatkala bertumbuh dewasa, kita tinggalkan beliau berdua, hanya datang bila dianggap perlu, atau sedang dalam kesusahan. Tidak menjadi soal bagaimanapun keadaan orang tua kita, tetap akan memberikan segalanya kepada kita. Maka durhakalah kita jika tidak mendoakan kedua beliau itu, sekurang-krurang selesai shalat wajib lima waktu:

    Rabbighfirli- waliwa-lidayya warhamhuma- kama- rabbaya-ni- shagi-ran, artinya: Ya, Maha Pemeliharaku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan kasihanilah keduanya sebagaimana keduanya memelihara dengan penuh kasih sayang di waktu kecilku (71:28 dan 17: 24). WaLlahu a’lamu bishshawab.

    ***

    [H.Muh.Nur Abdurrahman]

     
  • erva kurniawan 5:31 pm on 23 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ujian Saringan Tiga Kali 

    socratesDi jaman Yunani kuno, Dr. Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanannya yang tinggi. Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan berkata, “Tahukah anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman anda?”

    “Tunggu sebentar,” jawab Dr. Socrates. “Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut dinamakan Ujian Saringan Tiga Kali.”

    “Saringan tiga kali?” tanya pria tersebut. “Betul,” lanjut Dr. Socrates. “Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Kali. Saringan yang pertama adalah KEBENARAN. Sudah pastikah anda bahwa apa yang anda akan katakan kepada saya adalah benar?”

    “Tidak,” kata pria tersebut,”sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada anda”.

    “Baiklah,” kata Socrates.” Jadi anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak.”

    Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu : KEBAIKAN. Apakah yang akan anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik ?”

    “Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk”.

    “Jadi,” lanjut Socrates, “anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin kalau itu benar. Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu: KEGUNAAN. Apakah apa yang anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya ?”

    “Tidak, sungguh tidak,” jawab pria tersebut.

    “Kalau begitu,” simpul Dr. Socrates,” jika apa yang anda ingin beritahukan kepada saya… tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, kenapa ingin menceritakan kepada saya ?”

    ***

    Sebuah panah yang telah melesat dari busurnya dan membunuh jiwa yang tak bersalah, dan kata-kata yang telah diucapkan yang menyakiti hati seseorang, keduanya tidak pernah bisa ditarik kembali. Jadi sebelum berbicara, gunakanlah Saringan Tiga Kali.

     
    • wahyu am 5:42 pm on 23 November 2009 Permalink

      nice post gan :)

      penuh makna

    • sirwoyo 10:11 pm on 24 November 2009 Permalink

      oke mudah mudahan kita bisa menyaring apa yang akan kita perbuat !

  • erva kurniawan 5:14 pm on 22 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , gosip   

    Ghibah, Keburukan Yang Makin Disenangi 

    acara tvSumber : Ummu Zaidan Feikar

    Perbuatan tercela, tapi menjadi biasa. Sebab, dikemas dalam acara yang menarik di televisi.

    Banyak hal yang bergeser dan berubah dengan hadirnya pesawat televisi ke rumah kita, terutama yang berkaitan dengan budaya dan akhlak. Salah satu yang jelas terlihat yaitu pergeseran makna bergunjing atau menggosip.

    Menggosip adalah tindakan yang kurang terpuji yang celakanya, kebiasaan ini seringkali dilekatkan pada sifat kaum wanita. Dulu, orang akan tersinggung jika dikatakan tukang gosip. Seseorang yang ketahuan sedang menggosip biasanya merasa malu. Namun, sekarang kesan buruk tentang menggosip mungkin sudah mengalami pergeseran.

    Beberapa acara informasi kehidupan para artis atau selebritis yang dikemas dalam bentuk paket hiburan (infotainment) dengan jelas-jelas menyebut kata gosip sebagi bagian dari nama acaranya. Bahkan pada salah satu dari acara tersebut pembawa acaranya menyebut dirinya atau menyapa pemirsannya dengan istilah “biang gosip”. Mereka dengan bangganya mengaku sebagai tukang gosip.

    Saat ini, hampir di setiap stasiun televisi memiliki paket acara seperti di atas. Bahkan satu stasiun ada yang memiliki lebih dari satu paket acara infotainment tersebut, dengan jadwal tayangan ada yang mendapat porsi tiga kali seminggu. Hampir semua isi acara sejenis itu, isinya adalah menyingkap kehidupan pribadi para selebritis. Walhasil, pemirsa akan mengenal betul seluk beluk kehidupan para artis, seolah diajak masuk ke dalam rumah bahkan kamar tidur para artis.

    Sepintas acara ini terkesan menghibur. Seorang ibu yang kelelahan setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya, mungkin akan terasa terhibur dengan informasi sisi-sisi kehidupan pribadi orang-orang terkenal. Apalagi kemasan acara yang semakin bervariasi ada yang diselingi nyanyi, wawancara langsung dengan artis, daftar hari ulang tahun para selebritis, dll. Namun jika kita cermati lebih jauh, isinya kurang lebih adalah menggosip atau bergunjing.

    Awal tahun 2002 ditandai dengan banyaknya artis yang pisah ranjang dan bercerai. Peristiwa-peristiwa semacam ini merupakan sasaran empuk bagi penyaji hiburan semacam ini. Pemirsa disuguhi sajian informasi yang sarat dengan pergunjingan. Masing-masing pihak merasa benar dan tentu saja menyalahkan pihak lainnya.

    Menggosip yang merupakan tindakan buruk, bisa tidak terasa lagi memiliki konotasi buruk jika terus-menerus disosialisasikan dengan paket menarik pada televisi. Menggosip akan terasa sebagai tindakan biasa dan lumrah dilakukan. Menceritakan aib orang lain menjadi sesuatu yang tanpa beban kita lakukan. Padahal jika kita cermati makna gosip -yang sama dengan ghibah- barangkali kita akan merasa ngeri.

    Ghibah dalam Islam

    Ghibah atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. “Apakah ghibah itu?” Tanya seorang sahabat pada Rasulullah saw. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. ” Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasulullah. Percakapan tersebut diambil dari HR Abu Hurairah.

    Dalam Al Qur’an (QS 49:12), orang yang suka meng-ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan, “Ketika kami bersama Rasulullah saw tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai. Maka Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)

    Dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril, `Siapa mereka?’ Jibril menjawab, `Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!’ (dari Abu Daud berasal dari Anas bin Malik ra).

    Begitulah Allah mengibaratkan orang yang suka mengghibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah.

    Banyak kesempatan bagi ibu-ibu untuk menggosip. Pada saat berbelanja mengelilingi gerobak tukang sayur, menyuapi anak di halaman, pada acara arisan atau kumpulan ibu-ibu. Meng-ghibah kadang mendapat pembenaran dengan dalih, “Ini fakta, untuk diambil pelajarannya!”. Padahal di balik itu lebih banyak faktor ghibahnya daripada pelajarannya.

    Benarkah orang cenderung suka meng-ghibah, bahkan terkesan menikmati kebiasaan seperti ini? Seorang pengasuh konsultasi keluarga pada sebuah media cetak mengatakan rahasia mengapa rubriknya tetap disukai pembaca selama puluhan tahun. Katanya, pada diri manusia itu cenderung terdapat sifat suka menggunjingkan orang lain. Orang cenderung ingin tahu masalah yang terjadi pada orang lain. Dengan demikian ia akan merasa beruntung tidak seperti orang lain atau ternyata bukan dirinya saja yang menderita. Karena umumnya surat yang datang untuk berkonsultasi adalah mereka yang memiliki masalah.

    Jika demikian kebanyakan sifat dari manusia, tentunya kita harus sering melakukan istighfar. Syaitan dengan mudahnya mempengaruhi kebanyakan hati kita sehingga mungkin kita tengah menumpuk dosa akibat pergunjingan.

    Setiap orang mempunyai harga diri yang harus dihormati. Membuat malu seseorang adalah perbuatan dosa. “Tiada seseorang yang menutupi cacat seseorang di dunia, melainkan kelak di hari kiamat Allah pasti akan menutupi cacatnya” (HR. Muslim).

    Sosialisasi pergunjingan di televisi bagaimanapun harus dihindari. Jangan sampai kita merasa tidak berdosa melakukannya. Bahkan merasa terhibur dengan informasi semacam itu. Kita mesti berhati-hati. Bahaya ghibah harus senantiasa ditanamkan agar kita senantiasa sadar akan bahayanya. Benar kiranya jika dikatakan bahwa dulu orang tinggal di dalam rumah karena menghindari bahaya dari luar. Kini bahaya justru berasal dari dalam rumah sendiri yaitu dengan hadirnya acara yang menurunkan kualitas iman di televisi. Semoga kita bisa arif menyikapinya.

    Menangkal Ghibah

    Penyakit yang satu ini begitu mudahnya terjangkit pada diri seseorang. Bisa datang melalui televisi, bisa pula melalui kegiatan arisan, berbagai pertemuan, sekedar obrolan di warung belanjaan, bahkan melalui pengajian.

    Untuk menghindarinya juga tak begitu mudah, mengharuskan kita ekstra hati-hati, caranya?

    1. Berbicara Sambil Berfikir

    Cobalah untuk berpikir sebelum berbicara, “perlukah saya mengatakan hal ini?” dan kembangkan menjadi, “apa manfaatnya? Apa mudharatnya?” Berarti, otak harus senantiasa digunakan, dalam keadaan sesantai apapun. Seperti Rasulullah saw yang biasanya memberi jeda sesaat untuk berfikir sebelum menjawab pertanyaan orang.

    2. Berbicara Sambil Berzikir

    Berzikir di sini maksudnya selalu menghadirkan ingatan kita kepada Allah swt. Ingatlah betapa buruknya ancaman dan kebencian Allah kepada orang yang ber-ghibah. Bawalah ingatan ini pada saat berbicara dengan siapa saja, di mana saja dan kapan saja.

    3. Tingkatkan Rasa Percaya Diri

    Orang yang tidak percaya diri, suka mengikut saja perbuatan orang lain, sehingga ia mudah terseret perbuatan ghibah temannya. Bahkan ia pun berpotensi menyebabkan ghibah, karena tak memiliki kebanggaan terhadap dirinya sendiri sehingga lebih senang memperhatikan, membicarakan dan menilai orang lain.

    4. Buang Penyakit Hati

    Kebanyakan ghibah tumbuh karena didasari rasa iri dan benci, juga ketidakikhlasan menerima kenyataan bahwa orang lain lebih berhasil atau lebih beruntung daripada kita. Dan kalau dirinya kurang beruntung, diapun senang menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih sengsara daripada dirinya.

    5. Posisikan Diri

    Ketika sedang membicarakan keburukan orang lain, segera bayangkan bagaimana perasaan kita jika keburukan kita pun dibicarakan orang. Seperti hadis yang menjanjikan bahwa Allah akan menutupi cacat kita sepanjang kita tidak membuka cacat orang lain. Sebaliknya tak perlu heran jika Allah pun akan membuka cacat kita di depan orang lain jika kita membuka cacat orang.

    6. Hindari, Ingatkan, Diam atau Pergi

    Hindarilah segala sesuatu yang mendekatkan kita pada ghibah. Seperti acara-acara bernuansa ghibah di televisi dan radio. Juga berita-berita Koran dan majalah yang membicarakan kejelekan orang.

    Jika terjebak dalam situasi ghibah, ingatkanlah mereka akan kesalahannya. Jika tak mampu, setidaknya Anda diam dan tak menanggapi ghibah tersebut. Atau Anda memilih hengkang dan `menyelamatkan diri’.*

     
    • the riza de kasela 5:47 pm on 22 November 2009 Permalink

      Godaan setan yang paling tidak disadari nih
      ______________________________________________
      Tidak menolak kunjungan Anda ke blog saia yang lain di http://rizaherbal.wordpress.com/

  • erva kurniawan 5:03 pm on 21 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Mendapat Hidayah Di Biara 

    siluet masjidHidayah – Jakarta,

    Hj. Irena Handono, Mendapat Hidayah Di Biara

    Reporter: Siwi Wulandari

    ***

    Allah selalu memberi petunjuk kepada siapa saja yang mencari kebenaran, di mana pun hamba-Nya berada, di biara sekali pun. Itulah yang terjadi pada Irena Handono yang mendapat hidayah justru saat mencari kelemahan Islam. Ketika membaca surat Al Ikhlas hatinya tunduk akan keesaan Allah swt. Ia mengakui bahwa tak ada yang paling berkuasa dan patut disembah di jagad raya ini selain Sang Khalik.

    Berikut penuturannya kepada Siwi WulAndari dari Majalah Hidayah:

    Mendapat hidayah di Biara

    Aku dibesarkan dalam keluarga yang rilegius. Ayah dan ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibabtis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja.

    Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya dalam hidupku.

    Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayaku adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donatur terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara.

    Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan. Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku.

    Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah. Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi, walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu.

    Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakaku, mereka justru bangga punya adik yang masuk biarawati.

    Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan. Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Instituit Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.

    Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi.

    Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam. Di awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang melarat itu siapa?, Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang tinggal di bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal setiap hari jumat siapa? Yang berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa? Yang jadi teroris siapa? Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.

    Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu merampok Negara Palestina.

    Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.

    Kebenaran surat Al Ikhlas

    Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur’an, aku bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang-panjang, bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari terjemah.

    Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas.

    Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. “Ini ‘kok bagus, dan bisa diterima!” pujiku lagi.

    Pagi harinya, saat kuliah teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji lagi surat al-Ihklas. “Allahhu ahad, ini yang benar,” putusku pada akhirnya.

    Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku katakana, “Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan.”

    “Yang mana yang Anda belum paham?” tanya Pastur.

    Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan.

    “Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi,” tanyaku lebih mendalam.

    Dosen menjawab, “Tidak bisa!”

    Aku jawab bisa saja, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh. Mengapa tidak boleh? Tanya saya semakin tak mengerti.

    “Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja!” tegas Pastur.

    Aku katakana, kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana?

    “Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa!” tegas Pastur mengakhiri.

    Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja?” Dia tidak mau jawab.

    “Coba Anda jawab!” Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu.

    “Lalu kenapa?” tanya Pastur lagi.

    “Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu,” saya mencoba menjelaskan.

    “Apa maksud Anda?” Tanya Pastur penasaran.

    Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia.

    Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas. Hari berikutnya, aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang melantik RW?” Saya ditertawakan. Mereka pikir, ini ‘kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW?.

    “Sebetulnya saya tahu,” ucapku.

    “Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya? Coba jelaskan!” tantang mereka.

    “Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak syah.”

    “Apa maksud Anda?” Mereka semakin tak mengerti.

    Saya mencoba menguraikan, “Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah.”

    Keluar dari Biara

    Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas. Kembali terjadi dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja.

    Menurut semua literratur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima, Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien kaisar romawi.

    Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat Yesus yang mengatakan ‘Aku Tuhanmu’? Tidak pernah ada.

    Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis. Dan sampai pada pertemua berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata saya tidak mampu menemukan kelemahan al-Qur’an. Bahkan, saya yakin tidak ada manusia yang mampu.

    Kebiasaan mengkaji al-Qur’an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanaallah.

    Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur’an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam.

    Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah. Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat.

    Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung bercampur sedih.

    Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya. Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah menikah, ya selesai!

    Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya.

    Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama. Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua. Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu.

    Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam. Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, “Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya?”

    “Siap!” jawabku.

    “Apakah Anda tahu konsekwensinya?” tanya beliau.

    “Pernikahan saya!” tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin kuat.

    “Kenapa dengan dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih?” Tanya beliau lagi.

    “Islam” jawabku tegas.

    Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada agamanya.  Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah, saat mereka telah menjadi muslim dan muslimah.

    Shalat pertama kali

    Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung melaksanakan shalat.

    Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar. Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia terkejut, ‘kok ada perempuan shalat? Ia piker ada orang lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.

    Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak saat itulah terjadi keretakan diantara kami.

    Agama baruku yang kupilih tak dapat diterima. Akhirnya aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia. Setelah ibu saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai sekarang.

    Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas. Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.

    Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, “kalau Engkau, ya Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan begitu, saya tidak perlu banyak penderitan. Mengapa jalan hidup saya harus berliku-liku seperti ini?” ungkapku sedikit kesal.

    Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam.

    Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalh agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, “Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu?”

    Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab. Allah memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali diundang berdakwah di Jakarta. Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa. Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya karena Allah.

    ***

     
    • Nia 8:22 pm on 18 Juni 2010 Permalink

      Subhanallah..
      semoga Allah selalu memberikan Nur Hidayah-Nya kepada kita.
      Amien,.

  • erva kurniawan 4:14 pm on 20 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Anak Yang Bijak 

    siluet masjid 2siluet masjid 2annisa zhaafirah : gadis baik lembut dan beruntung
    alya radhiyah : berada di tempat yang tinggi dan pandai
    farah salmaa : gembira dan selamat
    alisha latif : mulia dan lemah lembut
    Callysta anya : kecantikan luar biasa penuh keagungan
    Leilani Elysia : bunga dari surga
    Maritza latif : Mendapat berkat ilahi lemah lembut
    Arfah Kamilia = Gembira, Bunga, suci
    Lauzah Yusrin = Berguna, berhasil, Kaya
    Nazifa Inani = Bersih Hadapanku
    Khairunnisa Kurniaputri = Gadis yang paling cantik
    Khalisah Yasmin = Yang jujur, Bunga melur
    Syakirah Alif = Yang berterima kasih, Ramah tamah dalam bersahabat
    Alifah Balqis : Ramah tamah dalam bersahabat, Ratu istri Nabi sulaiman as
    Yusrina Amjad = Kaya, Mulia, kehormatan, kewibawaan
    Farisah Afnan = Pahlawan Permohonan yang berbuah
    Nazifa Fairuz = Bersih Permata
    Valerie Nisrina : Bunga mawar putihKuat
    Faustine Alina : Beruntung Terang
    Faustine Naurah : Beruntung Bunga
    Faustine Nesha Beruntung Murni
    Jovita Alina : Periang Terang

    siluet masjid 2Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat sejahtera membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin. Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin.

    Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya, “Bagaimana perjalanan tadi?” “Sungguh luar biasa, Pa.” “Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?” tanya sang ayah.

    “Iya, Pa,” jawabnya. “Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan ini?” tanya ayahnya lagi.

    Si anak menjawab, “Saya melihat kanyataan bahwa kita mempunyai seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor. Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil yang tak terhingga panjangnya. Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka. Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan milik mereka seluas horison. Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka mempunyai tanah sejauh mata memandang. Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita tetapi mereka melayani diri mereka sendiri. Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka menanam sendiri. Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka.

    Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa.

    Kemudian si anak menambahkan, “Terima kasih, Pa, akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita.”

    ***

    Terlalu sering kita melupakan apa yang kita miliki dan hanya berkonsentrasi terhadap apa yang tidak kita miliki. Kadang kekurangan yang dimiliki seseorang merupakan anugerah bagi orang lain.

    Semua berdasar pada perspektif setiap pribadi. Pikirkanlah apa yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah disediakan oleh-Nya bagi kita, daripada kuatir untuk meminta lebih lagi.

    Sumber email teman

     
  • erva kurniawan 9:54 pm on 19 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Syarat Maksiat 

    siluet masjidSuatu hari seorang lelaki menemui Ibrahim bin Adham. Dia berkata, ‘Wahai Aba Ishak! Saya selalu melakukan maksiat, tolong berikan aku nasihat’.

    Ibrahim berkata, ‘Jika kamu mau menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka kamu boleh teruskan melakukan maksiat.’

    1. Jika kamu maksiat kepada Allah, jangan makan rezekiNya.” Lelaki itu seraya berkata, ‘Aku mau makan dari mana? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah? ”Ya,” tegas Ibrahim bin Adham. ”Kalau kamu sudah memahaminya, masi pantaskah memakan rezekinya, sementara kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya? ”
    2. ”Yang kedua,” kata Ibrahim, ”kalau mau bermaksiat, jangan tinggal dibumi-Nya! Syarat ini membuat lelaki itu kaget setengah mati. Ibrahim kembali berkata kepadanya, ”Wahai Abdullah, pikirkanlah, apakah kau layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kamu melanggar segala larangan-Nya? ” ”Ya, Anda benar,” kata lelaki itu.
    3. Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab,”Kalau kamu masih mau bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!” Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata, ”Wahai Ibrahim, ini nasihat macam apa? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?” ”Nah, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan berlaku maksiat?” kata Ibrahim. Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat.
    4. Ibrahim melanjutkan, ”Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu,katakanlah kepadanya, ‘Mundurkan kematianku dulu. Aku masih mau bertobat dan melakukan amal saleh’.” Kembali lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersadar, ”Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permohonanku? ” ”Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahwa kamu tidak bisa menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau bisa lari dari murka Allah?” ”Baiklah, apa syarat yang kelima?”
    5. Ibrahim pun menjawab, ”Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak menggiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau mau ikut bersamanya.” Perkataan tersebut membuat lelaki itu tersadar. Dia berkata, ”Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya. ” Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran. ”Mulai saat ini aku bertobat kepada Allah,” katanya sambil terisak.

    ***

    Sumber email teman

     
  • erva kurniawan 8:04 am on 18 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: amalan bulan dzulhijah, bulan dzulhijah, dzulhijah, , , keutamaan bulan dzulhijah   

    Amalan Bulan Dzulhijjah 

    wukuf-arafah

    Wukuf di Padang Arafah

    Khusus tentang puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasa di hari Arafah menghapuskan dosa setahun yang lalu dan dosa setahun yang akan datang.”

    Rasulullah SAW telah bersabda: “Dua bulan untuk berhari raya tidak berkurang keduanya, Ramadhan dan Dzulhijjah.” (HR Muslim ).

    Dalil-dalil tentang keutamaan bulan Dzulhijjah

    Firman Allah subhanahu wata’ala:  Demi fajar dan malam yang sepuluh” (QS. Al Fajr :1-2)

    Diriwayatkan dari shahabat Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari (dari bulan Dzulhijjah).” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad fi sabilillah?” Beliau bersabda: “Dan tidak pula jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatupun.” (HR Jama’ah kecuali Muslim dan an-Nasa’i).

    Dalam kitabnya Fathul Baari menyatakan : “Tampaknya sebab mengapa sepuluh hari Dzul Hijjah diistimewakan adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpulnya semua ibadah-ibadah yang utama yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji dan tidak ada selainnya waktu seperti itu”.

    Amal-amal yang Disyariatkan pada Hari-hari Tersebut

    0121. Melaksanakan ibadah haji dan umrah.

    Kedua ibadah inilah yang paling utama dilaksanakan pada hari-hari tersebut, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda : “Umrah yang satu ke umrah yang lainnya merupakan kaffarat (penghapus dosa-dosa) diantara keduanya, sedang haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    2. Shaum pada hari Arafah, ketika jamaah haji sedang wukuf (9 Dzulhijjah).

    Tidak diragukan lagi bahwa ibadah puasa merupakan salah satu amalan yang paling afdhal dan salah satu amalan yang dilebihkan oleh Allah SWT dari amalan-amalan shalih lainnya. Sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi.

    Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka (karena puasanya) sejauh 70 tahun perjalanan” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Khusus tentang puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasa di hari Arafah menghapuskan dosa setahun yang lalu dan dosa setahun yang akan datang.”

    takbir23. Memperbanyak takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut.

    Sebagaiman a Firman Allah subhanahu wata’ala:  “Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang tertentu” (QS. Al Hajj: 28)Tafsiran dari “hari-hari yang tertentu” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu para ulama kita menyunnahkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut.

    Dan penafsiran itu dikuatkan pula dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Tidak ada hari-hari yang lebih agung dan amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah padanya, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil , takbir dan tahmid.”

    4. Bertaubat dan menjauhi kemaksiatan serta seluruh dosa agar mendapatkan maghfirah dan rahmat dari Allah SWT.

    Hal ini penting dilakukan karena kemaksiatan merupakan penyebab ditolaknya dan jauhnya seseorang dari rahmat Allah SWT, sebaliknya ketaatan merupakan sebab kedekatan dan kecintaan Allah SWT kepada seseorang.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh Allah itu cemburu dan kecemburuan Allah apabila seseorang melakukan apa yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    5. Memperbanyak ibadah-ibadah sunnat seperti shalat, membaca Al Qur’an, bersedekah, dan ibadah sunah lainnya.

    Amalan tersebut akan dilipat gandakan pahalanya jika dilakukan pada hari-hari tersebut. Ibadah yang kecil pun jika dilakukan pada hari-hari tersebut akan lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala daripada ibadah yang besar yang dilakukan pada waktu yang lain. Contohnya jihad, yang merupakan seutama-utama amal, namun akan dikalahkan oleh amal-amal shalih lain yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulah Dzulhijjah, kecuali orang yang mendapat syahid.

    6. Disyariatkan pada hari-hari tersebut bertakbir di setiap waktu, baik itu siang maupun malam, terutama ketika selesai shalat berjama’ah di masjid.

    Takbir ini dimulai sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, sedang bagi jama’ah haji sejak Zhuhur hari penyembelihan (10 Dzulhijjah). Adapun akhir hari bertakbir adalah pada hari Tasyrik yang terakhir (13 Dzulhijjah).

    Imam Bukhori berkata: “Adalah Ibnu Umar dan Abu Hurairah radiallahuanhuma keluar ke pasar pada hari sepuluh bulan Dzul Hijjah, mereka berdua bertakbir dan orang-orangpun ikut bertakbir karenanya.”

    kurban7. Memotong hewan qurban (udlhiyah) bagi yang mampu pada hari raya Qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11,12,13 Dzulhijjah).

    Hal ini merupakan sunnah bapak kita Ibrahim AS ketika Allah subhanahu wata’ala mengganti anak beliau dengan seekor sembelihan yang besar.

    Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim menyatakan, Nabi Muhammad SAW berqurban dengan dua ekor domba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir.

    8. Bagi orang yang berniat untuk berqurban hendaknya tidak memotong rambut dan kukunya sejak masuk tanggal 1 Dzulhijjah sampai dia berqurban.

    Diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian telah melihat awal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kalian berniat untuk menyembelih hewan qurban maka hendaknya dia menahan rambut dan kukunya.”

    Di riwayat lain disebutkan: “Maka janganlah dia (memotong) rambut dan kuku-kukunya sehingga dia berqurban.”

    Kemungkinan hikmah larangan tersebut agar menyerupai orang yang menggiring (membawa) qurban sembelihan saat melakukan ibadah haji, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala: “… Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebelum qurban sampai di tempat penyembelihannya…” (QS. Al Baqarah :196).

    9. Melaksanakan shalat ‘Ied berjama’ah.

    Karenanya janganlah seseorang menjadikan hari ‘Ied untuk berbuat kejahatan dan kesombongan. Serta jangan pula menjadikannya sebagai kesempatan untuk bermaksiat kepada Allah SWT dengan mendengarkan nyanyian-nyanyian dan musik-musik yang melalaikan, minuman keras dan yang semacamnya. Perbuatantersebut menyebabkan terhapusnya amalan kita yang telah dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan tersebut.

    Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada agar kita termasuk orang-orang yang memanfaatkan kesempatan emas seperti ini dengan baik. Amin.

    ***

    (Sumber : cybermq.com)

     
    • fikri 8:13 pm on 18 November 2009 Permalink

      asl,,,Bang gmn cara rubah Icon Linknya sama foto sendiri kaya link punya abang?

  • erva kurniawan 9:35 pm on 17 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kemuliaan Makam Rasulullah SAW 

    muhammadSayyidina Umar bin Khattab ra adalah salah seorang pecinta Rasul saw, beliau ra selalu tak ingin berpisah dengan Rasul saw, maka ketika ia telah dihadapan sakratulmaut, Yaitu sebuah serangan pedang yang merobek perutnya dengan luka yang sangat lebar, beliau tersungur roboh dan mulai tersengal sengal beliau berkata : “dekatkan aku susu”, alangkah mulianya Amirulmukminin ini, beliau masih ingat sunnah Nabinya saw yang menyukai susu, maka saat susu itu diminumkan, segera susu itu tumpah dari luka diperutnya, maka ia memahami bahwa ia sudah diambang sakratulmaut, ia menoleh dan berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar ra), “Pergilah pada ummulmukminin, katakan padanya aku berkirim salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan disebelah Makam Rasul saw dan Abubakar ra”,

    Maka ketika Ummulmukminin telah mengizinkannya maka berkatalah Umar ra : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu (dimakamkan disamping makam Rasul saw), maka bila aku wafat, usunglah aku kesana, dan ucapkan lagi salam, dan mohonkan izin lagi pada ummulmukminin, bila beliau mengizinkan maka kuburkan aku, kalau beliau menolak maka tolaklah aku ke pekuburan muslimin” (Shahih Bukhari hadits no.1328).

    Mustahil Umar ra meminta berkali-kali untuk diizinkan dimakamkan disebelah makam Rasul saw dan Abubakar ra, kenapa?, apakah sekedar iseng belaka?, melainkan bukti bahwa Makam Rasul saw mempunyai kemuliaan, demikian pula Makam Abubakar Shiddiq ra, sehingga Umar ra dalam sakratulmautnya masih sempat mengucapkan kalimat bahwa tak ada yang lebih diperdulikannya selain pembaringan disebelah mereka.

    Demikianlah Mahabbah (cinta) kepada Rasul saw, dan setelah Rasul saw wafat, diriwayatkan bahwa peninggalan-peninggalan pakaian Rasul saw disimpan oleh para sahabat, sebagaimana cincin beliau saw dipakai oleh Anas bin malik, lalu pindah ketangan Abubakar ra, lalu pindah ketangan Umar bin Khattab ra, lalu pindah ketangan Usman bin Affan ra, lalu terjatuh ke sumur Aris, dan berkata Anas bin malik : Aku mencarinya bersama usman bin Affan selama 3 hari dan kami tak juga menemukannya (Shahih Bukhari hadits no.5540).

    Betapa mereka menjaga barang barang peninggalan Rasul saw, kalau seandainya cincin itu tak ada nilai mahabbah, maka tak perlulah Usman bin Affan mencarinya hingga 3 hari, ini menunjukkan barang peninggalan Rasul saw dimuliakan dan dicintai oleh para sahabat besar, radhiyallahu ‘anhum. Lalu siapa pula yang mengingkari Abubakar Shiddiq ra?, siapapula yang mengingkari Umar bin Khattab ra?, Usman bin Affan ra?, Ali bin Abi Thalib kw?, mereka kesemuanya seperti yang disebutkan Imam Bukhari dan para muhadditsin besar lainnya, demikian mereka ini dan para penerusnya dari zaman ke zaman, para pecinta Rasul saw terus ada dan terus mengenang sang nabi saw, puji-pujian pada Nabi saw terus digandrungi, dan Rasul saw bersabda : “Orang yang dahsyat Cintanya padaku di ummat ini, adalah mereka yang hidup setelah aku wafat, namun hati mereka lebih condong untuk melihatku lebih daripada harta dan keluarga mereka” (Shahih Muslim hadits no.2832)

    Wahai para pemuda bangkitlah.. kenalkan dirimu.. katakan pada mereka, dan jangan kau malu dan ragu, katakana pada semua temanmu.. : “Kalian ber idola lah dengan idola kalian, idolaku adalah Muhammad Rasulullah saw..!”, bangkitlah dengan mencintai sunnah beliau saw, mengenalkan sunnah beliau saw kepada teman teman, Maka mereka yang menolak memuji Rasul saw, dan melarang orang memuji Rasul saw di masjid-masjid, mereka adalah pengkhianat nabi saw, mereka membawa ajaran sesat dari bisikan syaitan, dan bahwa telah terjadi di zaman Rasul saw seorang lelaki menyeramkan dengan jenggot memanjang dan dahi menjorok kedepan, mata membelalak, dan berkepala sulah, menegur Rasul saw seraya berkata : “Bertakwalah kepada Allah wahai Rasul..!”, maka murkalah Rasul saw dan berkata : “Bukankah aku yang paling berhak atas ketakwaan dimuka bumi ini..?”, maka berkata Khalid bin walid ra: Izinkan aku menebas lehernya Wahai rasulullah..!, maka berkatalah Rasul saw:

    “Jangan.. barangkali dia ini shalat”, maka berkata Khalid : berapa banyak orang yang shalat dan hatinya tidak shalat?, maka Rasul saw menjawab : “Aku tidak diutus untuk membelah dada mereka untuk memeriksa iman mereka”, lalu Rasul saw terus memandangi lelaki buruk akhlak itu seraya bersabda : “akan lahir dari sulbi orang ini suatu kaum yang membaca Kitabullah dengan lembab, tidak melewati tenggorokannya (tidak diamalkan/tidak memahami kemuliaan Alqur’an, hanya sekedar hafal lalu menghina orang lain), mereka menjauh dari agama sebagaimana menjauhnya anak panah dari busurnya, bila aku menjumpai mereka aku akan memerangi mereka sebagaimana memerangi kaum tsamud” (Shahih Muslim hadits no.1063,1064).

    Muncullah wabah akidah dizaman kita, mereka banyak menghafal Alqur’an namun pula bibir mereka kotor dengan menuduh Musyrik pada orang muslimin. Wahai Allah.. terbitkan matahari Mahabbah dan cinta kami pada Idola kami Muhammad saw…, curahkanlah hidayah pada semua muslimin yang terperangkap oleh perangkat sesat ini, palingkan hati mereka untuk mencintai Nabi Muhammad saw. Sebagaimana para sahabat mencintai nabi saw, amiin.. amiin..

    ***

     
  • erva kurniawan 9:36 pm on 16 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: buraq, buroq   

    Buraq 

    imaginative_imagery_alburaq_or45smAsal kata dari Baraqa artinya gemilap/gemerlap, khususnya menggambarkan sinar. Kendaraan Buraq digambarkan seperti kuda yang membawa malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW ketika melaksanakan Isra dan Miraj.

    Di India digambarkan Buraq ini berkepala manusia wanita dan berekor merak bertubuh kuda dan di Cirebon bahkan ada keseniannya, juga menggambarkan kuda berkepala manusia wanita dan bersayap. Di Indonesia malah buraq adalah merek salah satu maskapai penerbangan, mungkin mengacu bahwa pesawat tersebut terbang secepat buraq. Tinggi buraq digambarkan lebih tinggi dari keledai. Apakah gambaran buraq yang dipercayai masyarakat awam ini karena pengaruh agama Hindu saat berkembangnya agama Islam, hal ini tidak dibahas dalam literatur-literatur. Gambaran ini bisa dimaknai bahwa buraq adalah mahluk fantastik yang merupakan perpaduan antara untsur manusia dan binatang sehingga ia merupakan simbol perpaduan seluruh mahluk yang mengantarkan nabi menuju surga.

    Di dalam riwayat yang membahas tentang isra miraj, buraq digambarkan sebagai kendaraan yang lebih cepat dari pada cahaya, dimana pandangan matanya sejauh dunia dan satu luncatannya melebihi dunia. Dari riwayat bisa dipahami bahwa buraq sesungguhnya merupakan wujud intellect (aql) atau wujud realitas spiritual, yang mesti difahami dan dikenal sifat-sifatnya dengan tidak menggunakan proses analisis dan akal fikiran saja tapi iman, sebagaimana Abu Bakar as Shidiq mempercayai tanpa reserve.

    isra-mikrajDi dalam Al Quran tidak ada kata bouraq, mungkin masuk dalam peristiwa isra miraj yang dinyatakan dalam QS Al Isra: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsa yang kami berkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepada-Nya sebagian dari tanda-tanda kami. Sesungguhnya Tuhan Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS:17:1).

    Buraq dalam pembahasan logika tentu tidak masuk akal, di sini ada hal yang menarik, umumnya manusia menganggap kepergian Rosul adalah tebang menuju langit/luar angkasa menggunakan buraq seperti pesawat ulang alik challenger. Dus, hal ini mengandung makna bahwa Rosul harus terbang ke angkasa melebihi kecepatan cahaya. Tentunya, secara logika hal ini tidak masuk akal. Kasus ketidakpercayaan dialami juga oleh kaum kafir quraisy pada masanya. Sekarang berkembang faham bahwa kepergian rosul adalah perjalanan spiritual di mana yang bergerak adalah ruhaninya, dan dimensi alam-alam langit adalah bukan vertikal melainkan horisontal dalam dimensi tinggi melewati alam jin dan malakut.

    Isra miraj memang akan terus diperdebatkan, hal yang sebaiknya ditanya adalah mengapa ada isra miraj, bukan bagaimananya. Begitu ditanya bagaimana maka akan didapat hal-hal yang tidak masuk akal, bagi penulis mengenai buraq bisa saja ada karena kekuasaan itu Tuhan tidak tebatas… ungkapan “Kun Fayakun” menjelaskan bahwa apa yang akan dikehendaki-Nya pasti terjadi.

    ***

    Sumber email teman

     
    • rosmala 2:38 pm on 20 November 2009 Permalink

      waw…. seru…..
      kapan – kapan kalo ada pembahasan lagi mengenai isra mi’raj, share ya… syukron

    • ahmed 2:19 am on 14 April 2012 Permalink

      seru bgt cerita ini aku suka

  • erva kurniawan 9:16 pm on 15 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Segenggam Garam 

    garamSuatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang pemuda yang kelihatannya sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka sangat kusut. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Kemudian Ia menyampaikan segala keluh kesahnya pada Pak Tua. Dengan tatapan yang bijak, Pak Tua hanya mendengarkan dengan seksama, tanpa berkomentar sedikitpun.

    Setelah pemuda itu selesai, Pak Tua segera mengambil segenggam garam, dan meminta sang pemuda untuk menyiapkan segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya.”, ujar Pak tua itu. “Pahit. Pahit sekali”, jawab sang pemuda, sambil memuntahkan semua air yang diminumnya. Pak Tua itu, sedikit tersenyum.

    Pak Tua kemudian mengajak tamunya untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Sesampainya di telaga, Pak Tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk seakan garam itu dibuatnya merata ke seluruh telaga.

    “Coba ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Setelah pemuda itu meminumnya, Pak Tua bertanya lagi, “Bagaimana rasanya?”. Pemuda menjawab,”segar”. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si pemuda.

    Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si Pemuda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.

    “Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.

    Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Luasnya hatimu, akan menawarkan segala kepahitan yang mendatangimu. Janganlah pernah engkau menolaknya, karena kepahitan itu selalu datang untuk mendewasakanmu, menyiapkan dirimu tuk menyambut kepahitan berikutnya…

    ***

    Sumber: email teman

     
    • annisa 4:05 pm on 16 November 2009 Permalink

      Masalah yang menimpa kita pasti mendewasakan kita..
      dan dapat menjadi cambuk agar kita lebih kuat dan bijak dlm menjalani hidup ini..
      serahkan semua kesedihan kita kpd Allah, maka Allah akan menyembuhkan luka dari tempat / org yg tdk kita sangka

  • erva kurniawan 9:07 pm on 14 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sebutir Korma Penjegal Doa 

    kurmaUsai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.

    Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.

    Empat Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali.

    Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

    “Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu.

    “Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.

    Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT garagara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. “Astaghfirullahal adzhim” Ibrahim beristighfar.

    Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma, untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

    Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. “4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?” tanya ibrahim.

    “Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.

    “Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”.

    Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. “Nah, begitulah” kata ibrahim setelah bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?”.

    “Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”

    “Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.”

    Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.

    Empat bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah Ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.”

    “O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”

    Oleh sebab itu berhati-hatilah dgn makanan yg masuk ke tubuh kita, sudah halal-kah? Lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu…

    ***

    Sumber: email teman

     
    • days 11:54 pm on 15 November 2009 Permalink

      astagfirullah……………..
      ….takut rasanya mengingat smua yg terlanjur terjadi…..
      astagfirullah hal adzim…….

    • annisa 3:50 pm on 16 November 2009 Permalink

      astaghfirullah.. trim’s sudah mengingatkan…
      sudah bersihkah diri ini ???

  • erva kurniawan 8:28 pm on 13 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: kapal nabi nuh   

    Bukti Tawasul Nabi Nuh Kepada Rasulullah 

    PERAHU NABI NUHPada bulan Juli 1951 sebuah tim yang terdiri dari ahli-ahli Rusia melakukan penelitian terhadap Lembah Kaat. Sepertinya mereka tertarik untuk menemukan sebuah tambang baru di daerah tersebut. Dalam penelitiannya mereka menemukan beberapa potong kayu di daerah tersebut berserakan.

    Mereka kemudian mulai menggali tempat tersebut dengan tujuan untuk menemukan sesuatu yang berharga. Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan kumpulan potongan-potongan kayu tertimbun di situ. Salah seorang ahli yang ikut serta memperkirakan, setelah meneliti beberapa lapisanya, bahwa kayu-kayu tersebut bukanlah kayu yang biasa, dan menyimpan rahasia yang sangat besar di dalamnya.

    Mereka mengekskavasi tempat tersebut dengan penuh keingintahuan. Mereka menemukan cukup banyak potongan-potongan kayu di daerah penggalian tersebut, dan di samping itu mereka juga menemukan hal-hal lain yang sangat menarik. Mereka juga menemukan sepotong kayu panjang yang berbentuk persegi. Mereka sangatlah terkejut setelah mendapati bahwa potongan kayu yang berukuran 14 X 10 inchi tersebut ternyata kondisinya jauh lebih baik dibandingkan potongan-potongan kayu yang lain. Setelah waktu penelitian yang memakan waktu yang cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka mengambil kesimpulan bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan dari bahtera Nabi Nuh a.s. yang terdampar di puncak Gunung Calff (Judy). Dan potongan (pelat) kayu tersebut, di mana terdapat beberapa ukiran dari huruf kuno, merupakan bagian dari bahtera tersebut.

    kapal-nabi-nuh3

    Setelah terbukti bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan kayu dari bahtera Nabi Nuh a.s., timbullah pertanyaan tentang kalimat apakah yang tertera di potongan kayu tersebut. Sebuah dewan yang terdiri dari kalangan pakar dibentuk oleh Pemerintah Rusia di bawah Departemen Riset mereka untuk mencaritahu makna dari tulisan tersebut. Dewan tersebut memulai kerjanya pada tanggal 27 Februari 1953. Berikut adalah nama-nama dari anggota dewan tersebut:

    1. Prof. Solomon, Universitas Moskow
    2. Prof. Ifa Han Kheeno, Lu Lu Han College, China
    3. Mr. Mishaou Lu Farug, Pakar fosil
    4. Mr. Taumol Goru, Pengajar Cafezud College
    5. Prof. De Pakan, Institut Lenin
    6. Mr. M. Ahmad Colad, Asosiasi Riset Zitcomen
    7. Mayor Cottor, Stalin College

    noah_arkKemudian ketujuh orang pakar ini setelah menghabiskan waktu selama delapan bulan akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa bahan kayu tersebut sama dengan bahan kayu yang digunakan untuk membangun bahtera Nabi Nuh a.s., dan bahwa Nabi Nuh a.s. telah meletakkan pelat kayu tersebut di kapalnya demi keselamatan dari bahtera tersebut dan untuk mendapatkan ridho Illahi.

    Terletak di tengah-tengah dari pelat tersebut adalah sebuah gambar yang berbentuk telapak tangan dimana juga terukir beberapa kata dari bahasa Saamaani. Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno, dari Mancester, Inggris telah menerjemahkan kalimat yang tertera di pelat tersebut menjadi:

    “Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan dari dzatMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir. Karena mereka adalah yang teragung dan termulia. Dunia ini diciptakan untuk mereka maka tolonglah aku demi nama mereka.”

    Semuanya sangatlah terkejut setelah mengetahui arti tulisan tersebut. Terutama yang membikin mereka sangatlah bingung adalah kenapa pelat kayu tersebut setelah lewat beberapa abad tetap dalam keadaan utuh dan tidak rusak sedikitpun. Pelat kayu tersebut saat ini masih disimpan dengan rapih di Pusat Penelitian Fosil Moskow di Rusia.

    Jika anda sekalian mempunyai waktu untuk mengunjungi Moskow, maka mampirlah di tempat tersebut, karena pelat kayu tersebut akan menguatkan keyakinan anda terhadap kedudukan Ahlul Bayt a.s.

    Terjemahan kalimat tersebut telah dipublikasikan antara lain di:

    1. Weekly – Mirror, Inggris 28Desember 1953
    2. Star of Britain, London, Manchester 23 Januari 1954
    3. Manchester Sunlight, 23Januari 1954
    4. London Weekly Mirror, 1Februari 1954
    5. Bathraf Najaf, Iraq 2 Februari 1954
    6. Al-Huda, Kairo 31 Maret 1954
    7. Ellia – Light, Knowledge & Truth, Lahore 10 Juli 1969

    ***

    Sumber: email teman

     
    • Fahreza 10:39 am on 15 November 2009 Permalink

      Artikel yang menarik.

    • Fadiel 2:05 pm on 2 Desember 2009 Permalink

      Allahumma shali ala muhammad wa alii muhammad… afwan kpd yg punya blog ini saya mohon izin untuk mengcopy nya… terima kasih

    • mnrizki 5:57 pm on 8 Februari 2010 Permalink

      Pada admin minta ijin copas artikelnya, terima kasih.
      Kunjungi: http://majlisdzikrullahpekojan.org

    • boy paskand 10:08 pm on 13 April 2010 Permalink

      hanya allah yg tahu……

    • rago 2:52 pm on 14 April 2010 Permalink

      Subahanallah….Allah maha besar….Maha Agung

    • Arex QPAS 10:44 am on 7 Mei 2010 Permalink

      Subhanallah..Maha suci Allah…
      Dia telah membuktikan kekuasaan-Nya terhadap Qta…
      Allahuakbar…

    • ikram 11:44 am on 9 Mei 2010 Permalink

      masya Allah ,maha besar Allah….
      di dalam Alquran telah terbukti bahwa kapal Nabi NUH benar-benar ada……
      mudah mudahan kita semua bisa sadar……..

    • rizal 1:51 pm on 13 Mei 2010 Permalink

      untuk yang memiliki blog ini saya minta izin meng_copynya
      semoga saja semua orang bisa sadar atas kebesaranNya

    • rizal 8:02 pm on 13 Mei 2010 Permalink

      maaf saya telah mng opy blog anda

    • -dayat Love Dea- 11:22 am on 17 Mei 2010 Permalink

      kiamat sudah dekat ya…………….?

    • -dayat Love Dea- 11:25 am on 17 Mei 2010 Permalink

      semua manusia sgra taubat……………?

    • -Henii nurr haenii- 2:43 pm on 21 Mei 2010 Permalink

      Subhanallah….

    • Kasih, sayang dan cinta 9:55 pm on 29 Mei 2010 Permalink

      MASA ALLOH

    • putra 10:01 pm on 24 Juni 2010 Permalink

      Subhanallah, Allahuakbar

    • muhammad imam 8:52 pm on 24 Maret 2011 Permalink

      Subhanalla ,maha besar allloh

    • kanjeng 9:25 am on 13 September 2011 Permalink

      pukulan telak bagi mereka yg mrngingkari keutamaan Ahl bait……………………………….

  • erva kurniawan 8:15 pm on 12 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Serigala Berbulu Ulama 

    siluetUstadz (1)Sepasang merpati yang sedang bertengger di cabang pohon melihat seorang alim datang dengan sebuah buku yang dikepit di satu tangan dan tongkat di tangan yang lain.

    Seekor merpati berkata pada yang lain, “Mari terbang, orang itu bisa membunuh kita.”

    Pasangannya menyahut, “Dia bukan pemburu. Dia seorang ulama, tidak akan membahayakan kita.”

    Sang ulama melihat keberadaannya dan seketika memukulkan tongkatnya ke merpati betina, lantas ia sembelih agar dagingnya menjadi halal.

    Merasa dizalimi, pasangannya mengadu kepada Nabi Sulaiman.

    Ulama itu pun dipanggil ke istana. “Kejahatan mana yang saya lakukan?” sanggahnya. “Bukannya daging merpati itu halal,” lanjutnya.

    Merpati jantan menimpal, “Saya tahu bahwa hal itu halal bagimu. Tetapi, jika datang untuk berburu, engkau semestinya mengenakan pakaian seorang pemburu. Engkau curang dan datang sebagai ulama.”

    ***

    Seorang ulama atau intelektual memang telanjur dinisbatkan sebagai sosok pelindung kemaslahatan umum. Nalarnya memberi lentera di kegelapan; nuraninya memberi oasis di tengah-tengah krisis keyakinan. Tetapi, dalam realitas hari ini, banyak orang berpakaian ulama/intelektual tapi dengan peran yang telah ditanggalkan, begitukah ??

     
  • erva kurniawan 11:59 am on 11 November 2009 Permalink | Balas  

    Geologi dalam Peradaban Islam 

    geologiGeologi merupakan cabang ilmu alam yang mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, dan proses asal mula terbentuknya bumi serta sejarah perkembangannya. Studi ini mendapat perhatian penting dari para ilmuwan Muslim di zaman kekhalifahan.

    Ilmu ini dipandang memiliki kegunaan dan manfaat yang begitu besar. Betapa tidak. Geologi mampu membantu peradaban Manusia dalam menemukan dan mengatur sumber daya alam yang ada di bumi, seperti minyak bumi, batu bara, dan juga metal seperti besi, tembaga, emas dan uranium.

    Selain itu, studi yang dikembangkan para saintis Islam itu juga sangat membantu dalam menemukan zat mineral lainnya yang memiliki nilai ekonomi, seperti: asbestos, perlit, mika, fosfat, zeolit, tanah liat, pumis, kuarsa, dan silika, dan juga elemen lainnya seperti belerang, klorin, dan helium. Sejak era kekhalifahan, umat Islam telah mampu menemukan ladang minyak serta besi, emas dan lainnya.

    Adalah ilmuwan Barat bernama Fielding H Garisson yang menyatakan bahwa studi geologi modern dimulai pada era kekhalifahan. Dalam bukunya berjudul History of Medicine, Garisson mengatakan, “Umat Islam di abad pertengahan tak hanya mengawali berkembangnya aljabar, kimia dan geologi. Namun, juga telah meningkatkan dan memuliakan peradaban.”

    Abdus Salam (1984) dalam Islam and Science menyatakan bahwa Abu al-Raihan al-Biruni (973-1048 M) merupakan geolog Muslim perintis yang berjasa mendirikan studi geologi modern. Secara mendalam, ilmuwan Muslim abad ke-11 M itu menulis tentang geologi India. Al-Biruni melontarkan sebuah hipotesis bahwa anak benua India awalnya adalah sebuah lautan.

    “Jika Anda melihat tanah India dengan mata sendiri dan mengamati alamnya, sebenarnya daratan India awalnya adalah laut,” papar al-Biruni dalam Book of Coordinates. Ia juga menuturkan bahwa keberadaan kerang dan fosil di wilayah negeri Hindustan menunjukkan bahwa kawasan itu adalah lautan yang kemudian meningkat menjadi daratan kering.

    Berdasarkan penemuannya itu, al-Biruni menyatakan bahwa bumi secara konstan mengembang. Temuannya itu memperkuat pandangan Islam yang menyatakan bahwa bumi tak kekal. Teori bumi tak kekal yang dilontarkan al-Biruni itu berlawanan dengan keyakinan ilmuwan Yunani Kuno yang berpendapat bahwa bumi itu kekal.

    Al-Biruni pun lalu menyatakan bahwa bumi juga memiliki usia. Pendapat sang ilmuwan Muslim di era kekhalifahan itu terbukti. Para Geolog modern akhirnya membuktikan pendapat itu dengan menyatakan usia Bumi diperkirakan sekitar 4,5 miliar (4,5×10^9) tahun.

    Ilmuwan Muslim legendaris, Ibnu Sina (981-1037) juga turut memberi kontribusi yang amat penting bagi studi geologi. Avicenna – begitu masyarakat Barat biasa menyebutnya – menamakan geologi sebagai Attabieyat. Dalam bab lima ensiklopedia berjudul Kitab al-Shifa, Ibnu Sina menjelaskan tentang mineralogi, meteorologi.

    Selain itu, bab keenam Kitab Al-Shifa, juga mengupas berbagai hal tentang bumi dan proses pembentukannya. Secara rinci dan lugas, Ibnu Sina membahas tentang; pembentukan gunung; manfaat gunung dalam pembentukan awan: sumber-sumber air, asal muasal gempa bumi; pembentukan mineral-mineral; serta keanekaragamaan lahan tanah di bumi.

    Pemikiran Ibnu Sina tentang geologi ternyata sangat berpengaruh terhadap peradaban Barat. Berkat jasa Avicenna-lah, masyarakat Barat kemudian mengenal hukum superposisi, konsep katastropisme (bencana besar) serta doktrin uniformitarianism. Buah pikir Ibnu Sina juga banyak mempengaruhi ilmuwan Barat bernama James Hutton dalam mencetuskan Teori Bumi pada abad ke-18 M.

    Secara terang-terangan, dua akademisi Barat bernama Toulmin dan Goodfield (1965), menjelaskan sumbangsih yang diberika Ibnu Sina bagi studi geologi modern. “Sekitar abad ke-10 M, Avicenna telah melontarkan hipotesis tentang asal-muasal bentangan gunung. Padahal, 800 tahun kemudian, pemikiran seperti itu masih dianggap radikal di dunia Kristen,” papar Toulim dan Goodfield.

    Tak cuma itu, metodelogi ilmiah serta observasi lapangan yang dikembangkan Ibnu Sina hingga kini masih tetap menjadi bagian yang penting dalam investigasi geologi modern. Studi geologi juga sebenarnya secara lusa tercantum dalam Alquran. Dalam Surat Al-Hijr ayat 19 Allah SWT berfirman: “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.

    Dalam Surat An-Nahl ayat 15, Sang Khalik juga berfirman: “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” Ayat-ayat inilah yang kemungkinan memberi inspirasi bagi para ilmuwan Muslim untuk mengkaji studi geologi.

    Sumbangan lainnya yang didedikasikan ilmuwan Muslim untuk studi geologi adalah penemuan kristalisasi dalam proses pemurnian. Terobosan penting yang dilakukan Jabir Ibnu Hayyan – saintis pada abad ke-8 M – itu sangat penting dalam kristallogi. Bapak Sejarah Sains, George Sarton menegaskan bahwa Jabir Ibnu Hayyan juga turut berkontribusi dalam geologi.

    “Kami menemukan dalam tulisannya (Jabir) pandangan tentang metode penelitian kimia, sebuah teori pembentukan logam pada lapisan tanah,” papar Sarton. Dalam risalah yang ditulisnya, papar Sarton, Jabir Ibnu Hayyan menyatakan bahwa pada dasarnya terdapat enam logam yang berbeda, akibat adanya perbedaan perbandingan sulfur dan merkuri pada keenam jenis logam itu.

    Bila kita simak secara teliti, studi geologi mendapat perhatian dalam Alquran. Selain banyak memaparkan tentang gunung, ayat suci Alquran juga membahas tentang tanah. Dalam surat Al-A’raaf ayat 58, Allah SWT berfirman, “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”

    Dalam ayat lainnya, Alquran juga menjelaskan adanya kandungan penting dalam tanah. “Kepunyaan-Nya- lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.” (QS:Thaahaa: ayat 6). Allah SWT juga berfirman dalam Surat Al-Kahfi ayat 41, “Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”.

    Sumbangsih Saintis Muslim bagi Geologi

    Sejarah mencatat begitu banyak ilmuwan Muslim yang mengkaji geologi di era keemasan Islam. Menurut Guru Besar Universitas Yordania, Prof Abdulkader M Abed, para saintis Islam itu mengkaji tema-tema khusus seperti mineral, batu-batuan serta permata. Sayangnya, kebanyakan risalah itu banyak yang hilang dan tak eksis lagi.

    Berikut ini beberapa ilmuwan Muslim yang mengkaji geologi:

    • Yahya bin Masawaih (wafat 857 M): Dia menulis tentang permata dan kekayaannya.
    • Al-Kindi (wafat 873 M): Menulis tiga risalah. Salah satu karyanya yang terbaik berjudul “Gems and the Likes”.

    *  Al-Hasan Bin Ahmad al-Hamdani(334 H): Menulis tiga buku mengenai metode eksplorasi emas, perak, permata dan bahan mineral lainnya.

    • Ikhwaan As-Safa (pertengahan abad ke-4 H): Menulis ensiklopedia yang berisi bagian-bagian minelar serta klasifikasinya.
    • Abu Ar-Rayhan Mohammad Bin Ahmad al-Biruni: (wafat 1048 M): Adalah ahli minerallogi terhebat sepanjang sejarah peradaban Islam. Selain menulis Book of Coordinates, dia juga menyusun buku berjudul Al-Jamhir fi Ma’rifatil Al-Jawahir. Yang mengupas tentang cara mengenali permata. Buku itu dinilai sebagai kontribusi terbaik yang disumbangkan perdaban Islam bagi studi minerallogi.
    • Ahmad Bin Yousef Al-Tifashi: Ia menulis kitab Azhar Al-Afkar fi Jawahir Al-Ahjar yang berisi tentang cara mengenali batu-batu mulia.
    • Mohammad Bin Ibrahim Ibnu Al-Akfani (wafat 1348A): menulis buku berjudul Nukhab Al-Thakhair fi Ahwaal Al-Jawahir. Mengupas karakteristik batu-batu mulia.

    Mineralogi di Era Kekhalifahan

    Para ilmuwan Muslim di abad ke-10 hingga 11 M banyak menaruh perhatian untuk meneliti dan menulis risalah tentang mineralogi. Studi mineralogi merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari geologi. Sebab, mineralogi merupakan cabang geologi yang berfokus pada sifat kimia, struktur kristal, dan fisika dari mineral.

    Studi ini juga mencakup proses pembentukan dan perubahan mineral. Sekitar 10 abad yang lalu, para saintis Muslim sudah mampu mengidentifikasi beragam jenis mineral. Mereka mendedikasikan dirinya untuk mempelajari mineral. Al-Biruni dikenal sebagai pakar mineralogi Muslim yang paling hebat dalam sejarah peradaban Islam.

    Di zaman itu, para ilmuwan Islam sudah mampu menjelaskan komposisi kimia dan struktur kristal. Batu permata dan batu mulia dinilai para ilmuwan Muslim sebagai jenis mineral yang khusus. Intan, batu nilam, jamrud serta yang lainnya digolongkan ke dalam mineral. Sejak zaman dahulu batu-batu mulia itu menjadi lambang kemewahan raja-raja dan para wanita.

    Sumbangan peradaban Islam dalam bidang mineralogi tak lepas dari keberhasilan umat Islam menguasai wilayah-wilayah penting seperti Mesir, Mesopotamia, India dan Romawi. Peradaban wilayah itu sebelumnya juga telah mengenal beragam jenis mineral, batu mulia, dan permata. Karya-karya terdahulu itu lalu dikembangkan dan diteliti lebih lanjut oleh para ilmuwan Muslim. Hri

    ***

    http://www.republika.co.id/berita/61926/Geologi_dalam_Peradaban_Islam

     
  • erva kurniawan 11:53 am on 10 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: amar maruf, nahi munkar   

    Bila Amar Ma’ruf Nahi Munkar Diabaikan 

    siluet masjid 9Allah SWT mensifati umat Islam dalam Al-Qur’an sebagai umat yang terbaik karena menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. (Al-Imran [3] ayat 110) yang artinya :

    “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

    Kebaikan Umat Islam ini diperkuat oleh Rasulullah saw.dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi bahwa Rasulullah saw. bersabda tentang ayat 110 surat Ali Imran: “Kamu melengkapi tujuh puluh umat, kamulah yang paling baik dan paling  mulia di sisi Allah.”

    Kalau kita perhatikan susunan ayat di atas kita dapatkan bahwa penyebutan amar ma’ruf dan nahy munkar (menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar) didahulukan dari pada penyebutan iman kepada Allah, padahal iman kepada Allah merupakan derajat tertinggi dan lebih dahulu keberadaannya, bahkan amar ma’ruf dan nahy munkar merupakan konsekwensi iman kepada Allah.

    Ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya amar ma’ruf dan nahy munkar, dan umat yang melakukannya adalah umat yang terbaik, karena umat itu telah mencurahkan segala potensi dan kemampuannya untuk mewujudkan kebaikan dan mencegah timbulnya kejahatan bagi umat manusia.

    Karena pentingnya amar ma’ruf dan nahy munkar, Allah SWT memerintahkan umat  Islam untuk melakukannya. Firman Allah SWT dalam surat (Al-Imran [3] ayat 104) yang artinya :

    “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

    Sebagai perintah Allah, sudah barang tentu jika dilaksanakan akan menyebabkan lahirnya berbagai macam kebaikan baik di dunia maupun di akhirat, sebaliknya jika perintah ditinggalkan dan diabaikan akan menyebabkan timbulnya keburukan baik di dunia maupun di akhirat.

    Dalam tulisan ini akan diuraikan secara singkat akibat-akibat yang akan timbul jika amar ma’ruf dan nahy munkar ditinggalkan dan diabaikan, agar dalam diri kita timbul rasa takut kalau kita mengabaikan dan menyia-nyiakannya, yang pada akhirnya kita terdorong untuk melakukannya.

    **

    Pengertian Amar Ma’ruf Dan Nahy Munkar

    Untuk menghindari perbedaan penafsiran tentang amar ma’ruf dan nahy munkar, terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian amar ma’ruf dan nahy munkar.

    1. Pengertian amar ma’ruf

    Dr. Sayyid Muhammad Nuh menjelaskan dalam bukunya Taujihat Nabawiyyah ‘Ala al-Thariq bahwa al-ma’ruf adalah nama yang mencakup semua yang dicintai dan diridhai Allah, baik perkataan, maupun perbuatan lahir dan batin.

    Jadi al-ma’ruf mencakup keyakinan, yaitu iman kepada Allah, malaikat Nya, kitab Nya, Rasul Nya, hari akhir dan qadar (takdir).

    Juga mencakup ibadah, yaitu shalat, zakat, shaum, haji, jihad, nikah dan thalaq, menyusui anak, pemeliharaan anak, nafkah, iddah dan semacamnya.

    Mencakup juga hukum danperundang- undangan seperti mu’amalah maliyyah (transaksi harta), hudud (hukuman-hukuman) , qishash, transaksi-transaksi , perjanjian-perjanjian dan semacamnya. Mencakup juga akhlaq, seperti shidiq (jujur), ‘adil, amanah, ‘iffah (menjaga diri dari yang haram), setia janji dan semacamnya.

    Semuanya itu dikatakan ma’ruf ( yang menurut bahasa berarti dikenal) karena  fitrah yang bersih dan akal yang sehat mengenalnya dan menyaksikan kebaikannya.

    Jadi pengertian amar ma’ruf ( menyuruh kepada yang ma’ruf ) adalah mengajak  dan memberikan dorongan kepada orang untuk melaksanakannya, menyiapkan sebab-sebab dan sarana-sarananya dalam bentuk mengokohkan pilar-pilarnya serta menjadikannya sebagai ciri umum bagi seluruh kehidupan.

    2. Pengertian nahy munkar

    Al-Munkar (kemungkaran) adalah nama yang mencakup semua yang dibenci dan tidak diridhai Allah, baik perkataan maupun perbuatan lahir dan batin.

    Jadi munkar (kemungkaran) mencakup : kemusyrikan dengan segala bentuknya, mencakup segala penyakit hati seperti riya’, hiqd (dengki), hasad (iri),permusuhan, kebencian dan semacamnya. Mencakup juga penyia-nyiaan ibadah seperti shalat, zakat, shaum, haji dan semacamnya. Mencakup juga perbuatan-perbuatan keji seperti zina,mencuri, minum khamar (minuman keras), menuduh berzina, merampok, berbuat aniaya dan semacamnya.

    Juga mencakup dusta, zalim, khiyanat, perbuatan hina, pengecut dan semacamnya.

    Kemungkaran dikatakan munkar karena fitrah yang bersih dan akal yang sehat mengingkari dan menyaksikan kejahatan, kerusakan dan bahaya yang ditimbulkannya.

    Jadi pengertian nahy munkar (mencegah dari yang munkar) adalah memperingatkan, menjauhkan dan menghalangi orang dari melakukannya, memutuskan sebab-sebab dan sarana-sarananya dalam bentuk membasminya sampai ke akar-akarnya serta membersihkan kehidupan dari segala bentuk kemungkaran.

    **

    Akibat Mengabaikan Perintah Amar Ma’ruf Dan Nahy Munkar

    Sebagaimana diungkapkan dalam pendahuluan karena pentingnya amar ma’ruf dan nahy munkar, Allah memerintahkan umat Islam untuk melakukan amar ma’ruf dan nahy munkar. Ketika kewajiban itu diabaikan dan tidak dilaksanakan, maka pasti orang-orang yang mengabaikan dan tidak melaksanakannya akan mendapat dosa. Tidak ada satu umatpun yang mengabaikan perintah amar ma’ruf dan nahy munkar kecuali Allah menimpakan berbagai hukuman kepada umat itu.

    Berikut ini akan disebutkan sebagiannya sebagaimana disebutkan oleh Dr.Muhammad Abdul Qadir Abu Faris dalam bukunya Al-Amru Bil-Ma’ruf Wan-Nahyu’Anil- Munkar dan Dr. Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya Taujihat Nabawiyyah.

    1. Azab yang menyeluruh

    Apabila kemaksiatan telah merajalela di tengah-tengah masyarakat, sedangkan orang-orang yang shalih tidak berusaha mengingkari dan membendung kerusakan tersebut, maka Allah SWT akan menimpakan azab kepada mereka secara menyeluruh baik orang-orang yang jahat maupun orang-orang yang shalih. Firman Allah:

    “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (QS.Al-Anfal [8] ayat 25).

    Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dengan sanadnya dari Zainab binti Jahsy bahwa ia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa padahal di tengah-tengah kita ada orang-orang yang shalih? Rasulullah saw. menjawab: “Ya, apabila kemaksitan telah merajalela.”

    Abu Bakar r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya jika orang-orang melihat orang yang berbuat zalim lalu tidak mencegahnya, maka hampir saja menimpakan siksa secara menyeluruh kepada mereka”. (HR. Tirmidzi).

    2. Tidak dikabulkannya do’a orang-orang yang shalih

    Apabila suatu masyarakat mengabaikan amar ma’ruf dan nahy munkar serta tidak mencegah orang yang berbuat zalim dari kezalimannya, maka Allah akan menimpakan siksa kepada mereka dengan tidak mengabulkan do’a mereka.

    Sabda Rasulullah saw.: “Demi dzat yang diriku ada di tangan-Nya hendaknya kamu menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, atau Allah akan menimpakan siksa kepadamu kemudian kamu berdo’a kepada-Nya lalu tidak dikabulkan. (HR. Tirmidzi).

    3. Berhak mendapatkan laknat

    Di antara hukuman orang yang mengabaikan amar ma’ruf dan nahy munkar adalah berhak mendapatkan laknat, yakni terusir dari rahmat Allah sebagaimana yang telah menimpa Bani Israil ketika mengabaikan amar ma’ruf dan nahy munkar.

    Abu Daud meriwayatkan dalam kitab Sunannya dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Pertama kerusakan yang terjadi pada Bani Israil, yaitu seseorang jika bertemu kawannya sedang berbuat kejahatan ditegur: wahai fulan, bertaqwalah pada Allah dan tinggalkan perbuatan yang kamu lakukan, karena perbuatan itu tidak halal bagimu, kemudian pada esok harinya bertemu lagi sedang berbuat itu juga, tetapi ia tidak menegurnya, bahkan ia telah menjadi teman makan minum dan duduk-duduknya. Maka ketika demikian keadaan mereka, Allah menutup hati masing-masing, sebagaimana firman Allah:

    “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. sampai firman Allah (tapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik).”

    Kemudian Nabi bersabda: “Tidak, sekali-kali jangan seperti mereka. Demi Allah, kamu harus menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar dan mencegah orang yang berbuat zalim, kamu harus mengembalikannya ke jalan hak, dan kamu batasi di dalam hak itu. Atau kalau tidak, Allah akan menutup hatimu, kemudian melaknat kamu sebagaimana melaknat mereka.”

    4. Timbulnya perpecahan

    Sudah merupakan aksiomatis bahwa kemungkaran yang paling berat dan dan paling keji dapat menjauhkan syari’at Allah dari realitas kehidupan dan ditinggalkannya hukum-hukum Nya dalam kehidupan manusia.

    Apabila hal ini terjadi dan orang-orang diam, tidak mengingkari dan tidak mencegahnya, maka Allah akan menanamkan perpecahan  dan permusuhan di kalangan mereka sehingga mereka saling melakukan pembunuhan dan menumpahkan darah. Inilah yang diperingatkan Rasulullah saw kepada umatnya dan beliau mohon perlindungan Allah agar umatnya tidak menemukan hal itu.

    Ibnu Majah meriwayatkan dalam kitab Sunannya dengan sanadnya dari Abdullah bin Umar r.a. bahwa ia bekata: Rasulullah saw. datang kepada kami dengan mengatakan: Wahai golongan Muhajirin, Ada lima hal apabila kalian melakukannya, pasti kalian akan ditimpa berbagai macam azab, saya berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menemukannya. Tidaklah pemimpin-pemimpin kalian tidak berhukum dengan Al-Qur’an dan memilih hukum selain hukum Allah, kecuali Allah menanamkan perpecahan di antara kalian.”

    5. Pemusnahan mental

    Sebagai kehormatan kepada Nabi Muhammad saw, Allah tidak memusnahkan umat beliau secara fisik sebagaimana yang telah menimpa umat-umat terdahulu seperti kaum Nabi Hud, Shalih, Nuh, Luth dan Syu’aib yang telah mendustakan para Nabi dan mendurhakai perintah Allah. Tetapi bisa saja Allah membinasakan umat Muhammad SAW secara mental.

    Maksudnya umat ini tidak dimusnahkan fisiknya, tetap dalam keadaan hidup, sekalipun melakukan dosa dan maksiat yang menyebabkan kehancuran dan kebinasaan, namun walaupun jumlahnya banyak, kekayaannya melimpah ruah, di sisi Allah tidak ada nilainya sama sekali, musuh-musuhnya tidak merasa takut, serta kawan-kawannya tidak merasa hormat. Inilah yang diberitakan Rasulullah saw. ketika umat ini takut mengatakan yang hak dan tidak mencegah orang yang berbuat zalim dari kezalimannya.

    Beliau bersabda: “Apabila kamu melihat umatku tidak mau mengatakan kepada orang yang berbuat zalim di antara mereka: “Kamulah orang yang berbuat zalim,” maka mereka dibiarkan dalam kemaksiatan yang mereka lakukan dalam keadaan hina.” (HR. Ahmad)

    **

    Penutup

    Demikianlah di antara hukuman Allah akibat diabaikannya amar ma’ruf dan nahy munkar. Cukuplah lima hukuman yang disebutkan di atas menumbuhkan rasa  takut bagi seorang mukmin untuk tidak mengabaikan perintah amar ma’ruf dan nahy munkar, sekaligus mendorongnya untuk melakukan perintah tersebut.

     
  • erva kurniawan 11:35 am on 9 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Allaahumma Hawwin ‘Alainaa Fii Sakaraatil Maut 

    jenazah (1)“Tiap – tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan”. QS.Al-Ankabut (29):57.

    “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. QS. Az-Zumar (39):30.

    “Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang dhalim”. QS. Al-Jum’ah (62):7.

    “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. QS. Al-Jum’ah (62): 8.

    **

    Bila kita berbicara tentang kematian sering kali kita dicela oleh orang orang yang merasa tidak nyaman mendengarkan cerita tentang kematian itu, mereka pada umumnya menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia saja, dan pada umumnya seseorang tidak ingin memikirkan peristiwa tentang kematian dirinya, padahal tidak ada satu makhlukpun yang dapat menjamin bahwa seseorang akan tetap hidup dalam satu, dua jam kedepan, dan atau hari hari berikutnya.

    Betapa hebatnya bila kita setiap hari, manakala kita menyaksikan kematian orang lain yang ada disekitar kita, kita juga memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya, dan betapa hebat dan baiknya bila kita sadar dan menyadari bahwa kematian itu juga sedang mengintai dan menunggu kita, dan betapa habat yang amat luarbiasa bila kita menyadari bahwa dari detik ke detik, dari menit kemenit dari waktu kewaktu dan dari hari kehari yang kita lalui selama ini justru semakin mendekatkan diri kita dari kematian, sebagaimana juga yang berlaku bagi orang orang yang ada disekeliling kita baik yang kita saksikan kita dengar dari mulut kemulut ihwal berita duka tersebut, atau dari berbagai mass media, keistimewaan yang telah menggiringnya untuk menyiapkan berbagai bekal, seperti amal shaleh, patuh dan taat pada perintah Allah yang telah ditetapkan bagi dirinya sebagai seorang hamba yang lemah, juga dengan ikhlas tabah dan sabar manakala mendapat musibah dengan berpasarah diri kepada Nya, juga sekuat tenaga berusaha untuk menjauhi segala larangan larangan dari sang Maha Pencipta dan sang Maha memelihara dirinya, dan sekuat tenaga mempertahankan serta tidak menyekutukan Allah SWT dengan apapun, sebagai bekal yang dapat dibawa manakala maut telah menjemputnya.

    Akan tetapi justru sebaliknya pada umumnya masyarakat kita sangat sulit dan sangat takut bila mendengar tentang kematian bahkan cenderung mereka mengalihkan perhatian serta berusaha untuk menghindar dari kematian, sebagaimana yang telah Allah SWT informasikan pada kita dalam QS. Al-Jum’ah (62) ayat 7 yang artinya tercantum diatas, dengan berbagai cara mereka mengalihkan dan berusaha untuk menghindari kematian, seseorang biasanya menghindari kematian dengan menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan kematian, mereka berpikir tentang di mana mereka akan mengadakan pertemuan, dimana mereka akan melanjutkan pendidikan atau kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, pakaian apa yang akan mereka gunakan untuk menghadiri undangan acara yang telah disiapkan, apa yang akan dimasak untuk makan nanti, serta masih banyak contoh lain, yang mereka anggap dapat mengalihkan dan menghidari dari kematian, hal-hal ini merupakan persoalan – persoalan penting yang sering kita pikirkan selama ini, karena kehidupan yang kita jalani selama ini kita artikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari – hari.

    Kita sadari atau tidak, kita persiapkan atau tidak, kematian merupakan hal yang pasti, dan kita semua pasti tidak akan dapat menghindari, serta melarikan diri dari kematian, sesuai firman Allah dalam QS. Al-Jum’ah (62) ayat 8 yang artinya tercantum tersebut diatas, tanpa terkecuali, kita semua pasti mati, kita semua baik yang saat ini masih hidup, maupun yang akan hidup, pasti akan menghadapi kematian yang selama ini kita hindari kehadirannya, pada hari yang telah Allah tentukan, namun justru masyarakat kita pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan dan kebetulan saja, maka manakala kita menghadapi kematian, hampir dipastikan kita tidak siap serta tidak memiliki kesiapan apapun.

    Wahai saudaraku betapa indahnya, bila kematian yang telah menanti saatnya tiba untuk kita semua telah hadir menjemput kita sesuai ketetapan yang telah Allah tetapkan pada semua hambanya, sebagai hamba Allah yang beriman, Dan Allah SWT mengabulkan do’a yang telah kita panjatkan setiap saat, dengan ungkapn “ALLAHUMMA HAWWIN ALAINAA FII SAKARAATIL MAUUT” serta diakhir kata tidak terucap kata kata lain selain ucapan yang sangat indah yakni dengan ucapan “LAAILLAHAILLALLOHU MUHAMMADARASULULLOH”, dari saat kita menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, kita semua sudah tidak ada apa-apanya lagi selain hanya “seonggok daging dan tulang”, tubuh kita yang diam dan terbujur kaku akan segera dimandikan untuk yang terakhir kalinya, dan tubuh kita yang sudah menjadi mayat dibungkus kain kafan, jenazah kita yang sudah dishalati akan segera dibawa ke kuburan dalam keranda, dan sesudah jenazah kita dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi seluruh badan kita, inilah kesudahan cerita hidup kita, dan mulai saat itu kita hanyalah seorang yang namanya terukir pada batu nisan diatas kuburan.

    Wahai saudaraku mumpung saat ini kita masih dapat membaca, masih dapat mengedipkan mata, masih dapat menggerakkan semua anggota badan, kita masih dapat berbicara, kita masih dapat tertawa, kita juga masih dapat beraktifitas sebagaimana biasa,  semua ini merupakan fungsi tubuh karena kita masih hidup, hari ini kita yang melihat dan menonton tayangan TV tentang kematian saudara saudara kita, bisa jadi suatu saat nanti saudara saudara kita dibelahan bumi lain yang menonton jenazah jenazah kita yang ditayangkan oleh berbagai mass media, dan mari kita renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh kita setelah kita mati nanti, apakah kita dapat mengucapkan dua kalimah syahadat diakhir hayat kita, apakah ketika kita menemui ajal dalam keadaan taqwa atau justru sebaliknya, marilah kita segera bertaubat, agar setiap saat bila ajal menjemput kita, kita telah siap dengan sebenar benarnya berdasarkan dan sesuai tuntunan Nabi kita Nabi Muhammad SAW, serta kita semua mendapat ampunan serta keringanan juga mati dalam keadaan husnul khotimah dan bukan suul khotimah

    Allaahumma innaa nas aluka Salaamatan Fiddiin Wa ‘Aafiyatan Fil Jasadi Wa Ziyaadatan Fil ‘Ilmi Wa Barakatan Fir Rizqi Wa Taubatan Qablal Maut Wa Rahmatan Indal Maut Wa Maghfiratam Ba’dal Maut Allaahumma Hawwin ‘Alainaa Fii Sakaraatil Maut Wan Najaata Minnannar Wal ‘Afwa Indal Hisab Rabbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idzhadaitanaa Wa Hab Lanaa Milladunka Rahmatan Innaka Antal Wahhaab.

    Semoga bermanfaat, dan terimakasih

    ***

    Oleh: Mujiarto Karuk

     
    • Suzanna 4:58 pm on 17 Desember 2010 Permalink

      Carilah duniamu seolah-olah engkau akan hidup selama-lamanya dan carilah akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok pagi” (Hadis Riwayat Ibnu Asahin)

  • erva kurniawan 11:10 am on 8 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: adab mengucapkan salam, assalamualaikum, salam   

    Ucapkan Salam Sesuai Tuntunan 

    assalamualaikum13QS. An-Nisa’ [4] : 86. yang artinya “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).  Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”.

    Sewaktu saya menunggu chikatetsu (kereta bawah tanah) menuju pulang, saya melihat ada seorang muslimah. Ya, muslimah. Saya jarang bisa melihat atau bertemu muslimah di Negeri Matahari Terbit ini. Dari perawakannya, sepertinya dia dari bangsa Arab. Dia menoleh ke arah saya yang berada di barisan depan dan menggerakkan bibirnya mengucapkan sesuatu. Dia mengucapkan, “Assalamu’alaikum! ” Saya spontan menjawab dengan suara pelan, “Wa’alaikumsalam” dan kusambung dalam hati, “Warahmatullahi wabarakatuh. “

    Sungguh hati ini bagaikan gurun sahara mendapat curahan hujan. Demikian damai dan bahagia sekali. Tidak setiap hari saya mendapatkan salam langsung seperti itu. Biasanya saya hanya mendapat salam lewat email atau telepon. Atau bila saya bertemu sahabat-sahabat saya sesama muslim Indonesia, maka salam pun bertebaran demikian indahnya.

    Tentu saja, salam formal khas Jepang tiap hari saya dapatkan. Ohayou gozaimasu, konnichiwa ataupun konbanwa (selamat pagi, selamat siang ataupun selamat malam), sudah biasa terdengar. Tetapi itu berbeda dengan salam dalam Islam.

    Pada pertemuan pengajian pun, teman yang datang belakangan akan mengucapkan salam kepada yang telah lebih dulu datang. Tidaklah elok bila yang datang belakangan, tetapi menyalami teman akrabnya yang duduk agak jauh. Sedangkan dia akan melewati teman lain yang duduk dekat pintu masuk. Seperti sabda Rasulullah, salam bukan saja diucapkan kepada orang yang dikenal tetapi juga kepada yang belum dikenal.

    Bagaimana dengan salam yang ditulis singkat atau diucapkan sambil lalu? Saya pernah membaca email yang salam penutupnya hanya ditulis “Wass.” Entahlah apakah saya saja yang merasa nelangsa dan merasa diacuhkan dengan salam seperti itu. Seakan ditinggal pergi buru-buru oleh si pemberi salam. Benarkah dia memberi salam ataukah empat huruf itu hanyalah suara yang mirip salam? Tidakkah terpikir untuk menambah empat huruf lagi hingga salam penutup itu mempunyai makna?

    Pernah pula, belum selesai saya menamatkan salam penutup yang pendek pun, si penelepon sudah menutup telepon. Begitu pula sebaliknya, telepon diputus tanpa jawaban salam saya dengar dari seberang.

    “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS An-Nisaa': 86)

    Bukankah salam itu doa? Doa yang diucapkan untuk saudaranya seakidah, “Semoga Allah memberi keselamatan padamu.” Walaupun memberi salam itu sunnah. Tetapi tahukah kita bahwa yang mengucapkan salam lebih dulu itu lebih dicintai Allah? Siapa yang tidak mau dicintai Allah? Semua makhluk berlomba mendapatkan cinta Allah. Kebalikannya, menjawab salam itu wajib. Salam dalam Islam merupakan doa. Selain itu salam juga merupakan sedekah.

    Pernah sahabat Rasulullah, Umar bin Khatab mengadukan Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah. “Ya, Rasulullah, Ali bin Abi Thalib tidak pernah memulai mengucapkan salam kepadaku…” Rasulullah lalu menanyakan hal itu kepada Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib membenarkan pengaduan Umar bin Khatab itu. “Ya, Rasulullah, itu kulakukan karena aku ingin supaya Umar bisa mendapatkan istana di Surga! Seperti yang disabdakan olehmu, ya Rasulullah. Bahwa siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan istana baginya di Surga.”

    Bayangkan dengan memberi salam kita bisa membangun istana di Surga. Dengan salam, hati-hati kita terikat untuk saling mencintai. Kenapa kita tidak bersegera menebar salam kepada sahabat, handai taulan, keluarga dan saudara-saudara kita seiman? Sabda Rasulullah, “Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

    ***

    Oleh: Seriyawati, Arsip Eramuslim

     
    • amalia 1:38 pm on 12 November 2009 Permalink

      ijin share yah

  • erva kurniawan 10:58 am on 7 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Terhindar Dan Menghindari Murka Allah 

    PPD_bus“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. QS.Al-Isro’ [17] : 32.

    **

    Bus jurusan Jawa Tengah meninggalkan terminal Pulogadung, setiba di pasar Cakung, naik seorang wanita cantik berambut sepinggang dan dibiarkan terurai, dengan busana yang serba ketat hingga sangat jelas terlihat lekuk lekuk tubuhnya.

    Karena kapasitas bangku bus yang tersedia tinggal tersisa satu, maka penumpang bus seorang wanita dari pasar Cakung tersebut sebagai pelengkap, wanita tersebut duduk disampingnya seorang pemuda, pada bagian dalam.

    Sebelum Bus masuk pintu gerbang tol cakung, terdengar teriakan dari wanita penumpang terakhir tadi, dengan suara keras “MALIING…….”, tanpa dikomando sang pemuda yang duduk disamping wanita itu, bergegas loncat mengejar sang penjambret tas wanita tersebut.

    Mungkin karena sudah terbiasa sang penjambret tas wanita tadi meloncat keluar bus dan menuju pagar pembantas tol dan meloncat pagar pembatas tersebut yang cukup tinggi, sang pemuda yang sudah terlanjurt mengejar tidak ingin kehilangan jejak sang penjambret, maka sang pemuda ikut meloncari pagar pembatas tersebut masuk kampung disebelah jalan tol cakung tersebut sambil teriak Maliiing Maliing Maliing.

    Penduduk pun ikut mengejar sang penjambret, hanya hitungan menit sang penjembret dapat dilumpuhkan oleh sang pemuda bersama sama penduduk setempat, sang penjambret nyaris dihakimi masa, bila saja Pak Polisi yang berada tidak jauh dari depan pintu Tol Cakung, ikut mengejar sang penjembet yang tidak diketahui oleh sang pemuda tadi.

    Baik bus maupun seluruh penumpang dibawa ke Kantor Polisi terdekat, untuk dimintai keterangan sebagai saksi atas terjadinya penjambretan tersebut, setelah selesai diidentivikasi baik Bus dan seluruh penumpang diizinkan melanjutkan perjalanan menuju Jawa Tengah, kecuali pemuda yang menangkap sang penjambret dan wanita yang menjadi korban penjambretan, harus menjalani dan dibuatkan Berita Acara sempai keterangan selesai.

    Jam sudah menunjukan pukul 20.00 pemeriksaan yang cukup melelahkan dari pukul 15.30, dan baik pemuda maupun wanita korban penjambretan setelah dirasa cukup untuk melengkapi berkas perkara oleh Polisi, mereka berdua diizinkan melanjutkan perjalanan menuju Jawa Tengah.

    Karena  sudah malam dan tidak ada bus yang langsung menuju Jawa Tengah, mereka sepakat naik bus arah Cirebon dan dari Cirebon baru nyambung Bus ke arah Jawa Tengah.

    Diluar dugaan dan perhitungan mereka, ternyata jam 01.30 mereka sudah sampai dan Bus sudah masuk terminal Cirebon.

    Dan ternyata setelah lama mereka berdua menunggu bus yang menuju Jawa Tengah tidak kunjung datang, sementara mereka berdua sudah sangat lelah, akhirnya mereka sepakat mencari penginapan.

    Karena malam akhir pekan maka penginapan yang mereka dapatkan, semua kamar sudah terisi penuh kecuali hanya tinggal satu kamar dan satu tempat tidur saja.

    Mereka berdua kompromi dan sepakat untuk menginap dipenginapan tersebut.

    Setelah sampai kamar sang pemuda berkata kepada sang wanita, karena tempat tidur hanya satu maka saya mengalah dan tidur dibawah beralaskan selimut yang ada diatas tempat tidur itu, dan adik tidur diatas tempat tidur itu, sang wanita menolak dan berkata sejak siang kita berdua di kantor Polisi berdua, dalam perjalan pun berdua, maka bila kakak tidur dibawah saya juga ikut tidur dibawah, juga biar adil, kata sang wanita.

    Akhirnya sang pemuda mengalah karena khawatir akan gangguan kesehatan bagi sang wanita tersebut, maka sang pemuda menyetujui tidur bersama dengan sang wanita sama sama ditempat tidur asal ada pembatasnya, usulan sang pemuda tersebut disetujui oleh sang wanita.

    Jam menunjukan pukul 06.00 sang pemuda baru terbangun, mungkin karena perjalanan panjang dan melelahkan maka sang pemuda, tertidur lelap, setelah terbangun sang pemuda bergegas kekamar mandi dengan mengambil baju salin dan handuk dan dibawa masuk kekamar mandi.

    Setelah selesai mandi dan berganti baju hingga rapih, sang pemuda keluar kamar mandi dengan membawa dan menyimpan baju yang kotor, seraya membangunkan sang wanita.

    Agak lama sang wanita tidak terbangun, sang pemuda mulai cemas dan mendekati sang wanita yang tertelungkup diatas bantal, ternyata sang wanita tersebut sedang menangis, sang pemuda bertanya, wahai adik yang cantik bangunlah dan berhentilah mengangis, apa yang membuatmu jadi menangis…?, lama sang wanita tidak menjawab malah semakin keras dan terdengar jelas suara wanita menagis, hati sang pemudapun gundah, setelah dibujuk, akhirnya sang wanita sambil tetap menagis berkata, wahai kakak yang baik….!, pagar pembatas jalan Tol dengan gagah berani kakak lompati untuk menangkap sipenjambret, dan menyelamatkan tas yang berisi berbagai harta benda yang aku bawa, sementara hanya dibatasi sebuah guling kakak tidak mampu melompati untuk menerima tanda terimakasihku, yang telah menjagaku, dan menyelamatkan harta bendaku.

    Sang pemuda berkata wahai adik yang cantik, walau kita sejak kemarin siang berdua, duduk berdua, berjalan berdua, memberikan kesaksian dikantor Polisi berdua, dan berada disebuah kamar diatas tempat tidur berdua, akan tetapi saya bukan suamimu dan engkaupun bukan istriku, maka tidak halal bagiku menerima yang bukan miliku.

    Ketahuilah wahai kakak yang baik, aku rindu laki laki yang dapat melindungiku, aku rindu laki laki yang dapat menjagaku, aku rindu laki laki yang dapat menjadikan aku bagian belahan jiwanya, kasih sayangnya dan yang selalu menjadikan aku ratu bagi hidupnya, sementara yang aku terima selama ini, aku hanya dijadikan pemuas nafsu dan aku juga tidak tahu berapa banyak laki laki yang telah meniduriku, dan menjadikan aku hanya sebagai wanita penghibur dan pemuas nafsu bagi dirinya, aku adalah hanya wanita penghibur dan wanita hina, tidak lain hanya pelacur wahai kakak yang baik.

    Sang pemuda dengan suara lembut berkata, dari sejak kemarin siang, hingga pagi ini, aku tidak melihat dan menyaksikan sebagaimana yang telah engkau katakan itu wahai adik yang cantik, dimataku engkau tetap wanita baik dan berhati mulia, marilah bangun dan mandilah serta bersihkan badanmu, mari kita sujud dan taubat, ketahuilah wahai adik yang cantik, Tuhan yang menciptakan kita tidak pernah menghina dan menelantarkan ciptaanya, seburuk apapun ciptaan Nya itu, tetap Ia pelihara dan Ia beri rezeki serta Ia perlakukan baik dengan kasih sayang yang amat baik, dan ketahuilah wahai adik yang cantik Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha pengampun dan Tuhan Maha tahu apa apa yang telah kita lakukan, dan mari kita lanjutkan perjalanan, keluarga kita telah menanti, agar kita dapat selamat berjumpa dengan mereka.

    **

    Wahai pemuda dan pemudi serta wahai kaum laki laki dan kaum wanita, betapa mulianya ajaran Tuhan Yang Maha Esa pada kita semua hambanya, agar kita terhindar dari segala jenis penyakit kelamin, agar kita semua terhindar dari murka-Nya, Allah SWT telah mengingatkan pada kita semua, agar kita menghindari dan menjauhkan diri dari perbuatan yang nista dan hina tersebut, dan pasti malapetaka bagi sipelanggar perintah yang telah diperintahkan oleh Allah sesuai QS. Al-Isro’ tersebut diatas, dengan berbagai balak, penyakit dan bencana, sebagaimana yang sama sama kita lihat, kita dengar dan kita ketahui dari berbagai berita baik cetak mapun elektronik.

    Mari sejak dini kita jaga kehormatan wanita, dan kita sayangi mereka sebagaimana mana kita menyayangi diri kita sendiri, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa’ [4] ayat 1 yang artinya : “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.

    Semoga kita semua selamat baik dunia sampai akhirat.

    ***

    Penulis: Mujiarto Karuk

     
  • erva kurniawan 10:42 am on 6 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: musibah, musibah akherat, musibah dunia   

    Tiga Jenis Manusia Dalam Menghadapi Musibah 

    musibahBissmillahirrohmaan irrohiim

    “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”. QS. Al-Isra’ (17) ayat 16.

    “Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan”. Asy-Syuara (26) : 208

    “Tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman yang Kami telah membinasakannya sebelum mereka; maka apakah mereka akan beriman?“. QS.Al-Anbiya (21) ayat 6.

    “Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kelaliman”. QS. Al-Qashash 28 ayat 59.

    “Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertobat)”. Al-Ahqaaf (46) ayat 27.

    “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lohmahfuz)” . QS.Al-Isyra’ (17) ayat 58.

    Musibah berasal dari kata ashaaba, yushiibu, mushiibatan yang berarti segala yang menimpa pada sesuatu kaum baik berupa kesenangan maupun kesusahan, akan tetapi umumnya musibah selalu identik dengan kesusahan, padahal, kesenangan yang dirasakan pada hakikatnya juga musibah juga. Dan dengan musibah, Allah SWT hendak menguji, siapa yang paling baik amalnya.

    “Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, karena Kami hendak memberi cobaan kepada mereka, siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya. QS Al-Kahfi (18) : 7

    Dan didalam Al-Qur’an juga dijelaskan bahwa ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah.

    “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. QS. Al-An’am (6) : 125

    “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. Qs. Al-Baqarah (2) ayat 156.

    Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalh sebagai hukuman dan azab kepadanya, sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh.

    Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa, Ia tidak pernah menyerahkan apa – apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT.

    Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya, Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.

    Dan Musibah yang ditimpakan kepada umat manusia ada dua macam. pertama, musibah dunia dan yang kedua, musibah akhirat.

    Musibah dunia salah satunya ialah ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surat Al-Baqarah  (2) ayat 155. “Dan pasti akan kami uji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.

    Adapun musibah akhirat adalah orang yang tidak punya amal saleh dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Orang yang terkena musibah, bukanlah seperti yang kalian ketahui, tetapi orang yang terkenamusibah yaitu yang tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya.

    Orang yang terkena musibah berupa kesusahan di dunia, jika ia hadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT, hakikatnya ia tidak terkena musibah. Justru yang ia dapatkan adalah pahala.

    Sebaliknya, musibah kesenangan selama hidupnya, jika ia tidak pandai mensyukurinya, maka itulah musibah yang sesungguhnya. karena, bukan pahala yang ia peroleh, melainkan dosa dan siksa.

    Berkenaan dengan hal tersebut, dalam hadis Qudsi Allah SWT berfirman, “Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku tiada mengeluarkan hamba-Ku yang Aku inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga Aku tebus perbuatan-perbuatan dosanya dengan penyakit pada tubuhnya, kerugian pada hartanya, kehilangan anaknya, apabila masih ada dosa yang tersisa dijadikan ia merasa berat di saat sakaratul maut, sehingga ia menjumpai Aku seperti bayi yang baru dilahirkan.

    Kesimpulan musibah demi musibah yang kita hadapi selama ini, masih lebih baik apabila kita mau bertobat, dan musibah demi musibah yang kita lihat , kita rasakan dan kita alami, bila kita hadapi dengan sabar, ikhlas dan tetap istikomah serta taubat sebenar-benarnya taubat dan juga kembali kepada baik hukum Allah yang telah Allah SWT gariskan dan telah Allah tetapkan dalam Al-Qur’an serta bimbingan yang telah Nabi Muhammad SAW contohkan untuk kita semua sesuai yang tertera dalam hadits yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, pastilah kita akan mendapat pahala serta petunjuk dan Insya Allah kita semua selamat baik dunia sampai akhirat, semoga….

    Aamiin Yarobbal Alamiin

    Marilah kita taubat sebenar-benarnya taubat, agar musibah yang kita rasakan kita alami dan kita dengar, Allah ganti dengan keberkahan dan keridhoan serta kebahagian baik dunia sampai akhirat.

    ***

    Penulis: Mujiarto Karuk

    Sumber: berbagai Sumber

     
  • erva kurniawan 10:09 am on 5 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: keajaiban sholat, keajaiban sujud, , sujud   

    Mari Perbanyak Sujud Agar Otak Kita Sehat dan Selalu Segar 

    sujud“Sholat itu Bikin Otak Kita Sehat” “Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah”. Q.S Al Kautsar (102) : 2

    “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk”. QS. Al-Baqarah (2) ayat 43.

    Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia), sedangkan ia biasa melalaikan Shalatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)”. Hadist Riwayat Tabrani.

    Tergantung pada kecintaan dalam mengerjakan sholat. Oleh karena itu kenalilah dirimu sendiri wahai hamba Allah! Takutlah kamu jika nanti menghadap Allah Azza Wa Jalla tanpa membawa kualitas keislaman yang baik. Sebab kualitas keislaman dalam hal ini ditentukan oleh kualitas ibadah sholatmu. (Ibn al Qayyim, ash Sholah, hal 42 dan ash Sholah wa hukmu taarikihaa, hal 170-171)

    **

    Shalat dan Otak Manusia

    Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita?

    Seorang Doktor di Amerika (Dr. Fidelma) telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran.

    Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Qur’an” Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

    Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal.

    Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang diwajibkan oleh Islam.

    Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena Sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

    **

    Kesimpulannya :

    Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan Secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini.

    Sumber : National Geographic 2002 Road to Mecca (Ustz. Arifin Ilham)

     
    • elqolam 11:22 am on 18 Desember 2009 Permalink

      Ternyata Allah memerintahkan shalat buat kita juga yah. Tapi aneh banyak juga yang meninggalkannya.

    • sarah 2:52 pm on 3 Mei 2010 Permalink

      wah artikelnya bagus…..saya izin reposting yah mbak

  • erva kurniawan 6:47 am on 4 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Dikubur 26 Tahun Jasad Masih Utuh Secara Teori Tidak Masuk Akal 

    jenazahSudah Siapkah Kita Menghadapi Kematian ?

    ***

    Sampai sejauh ini, tak ada orang yang hidup kembali dari kematiannya sehingga dapat berbagi cerita tentang pengalamannya, selama di alam kematian, dengan demikian mari kita gali dan kita keetahui perihal kematian, melalui Al-quran.

    Kematian, sebagaimana dijelaskan dalam Alquran, sangat jauh berbeda dari kematian medical, hal ini terkait dengan Surat Al – Waqiah yang artinya “Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat”. (QS. Al Waqiah (56) : 83 – 85).

    Kematian orang beriman penuh berkah : “(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik, oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): Salaamunalaikum. Masuklah kamu ke dalam surga itu, disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. An-Nahl (16) : 32)

    Ayat-ayat ini menguak fakta penting tak terbantah tentang kematian: saat datangnya kematian, jalan yang dilalui oleh orang mati dan hal-hal yang dapat diamati merupakan pengalaman yang berbeda-beda, misalnya, seseorang yang menghabiskan seluruh hidupnya sebagai seorang kafir dan degil barangkali nampak mengalami “kematian yang damai”, Akan tetapi, ruh, yang berada pada dimensi berbeda, merasakan kematian yang menyakitkan.

    Sedangkan ruh orang beriman, meskipun nampak menderita, seperti kaum muslimin dimanapun berada yang saat ini ditimpa dan menjadi korban gempa, misalnya, akan tetapi ruh mereka meninggalkan jasadnya dalam keadaan ‘terhormat’.

    Al-quran menjelaskan sejumlah kesukaran-kesukaran yang dialami orang kafir ketika nyawa mereka dicabut, karena malaikat membuat perhitungan dengan ruh atau jiwa orang kafir saat kematiannya: “Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa-apa yang menimbulkan) keridlan-Nya”. QS. Muhammad (47) : 27-28.

    Dalam Al-quran dijelaskan pula mengenai “tekanan-tekanan sakaratul maut”, di mana saat itu malaikat mengabarkan tentang adanya azab yang kekal: “…………. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat diwaktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): ”Keluarkan nyawamu!” Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar, dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”. QS. Al-An’am (6) : 93.

    ”Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar” (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya”. QS. Al- Anfal (8) : 50-51.

    Sebagaimana dijelaskan oleh ayat di atas, kematian orang kafir diliputi kesengsaraan, ketika orang-orang di sekitarnya melihatnya begitu tenang di pembaringan, sesungguhnya azab fisik dan spiritual sedang dialaminya, Malaikat maut mencabut nyawanya, menimpakan penderitaan dan kehinaan baginya. Dalam Alquran, malaikat yang mencabut nyawa orang-orang kafir digambarkan: “Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras”. QS. An-Naziat (79) : 1.

    Tahap terakhir bagaimana nyawa atau ruh dicabut dijelaskan sebagai berikut : “Sekali-kali jangan! Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya); Siapakah yang dapat menyembuhkan? dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)”. (QS. Al-Qiyamah (75) : 26-29).

    Saat itu, orang kafir mendapati kebenaran yang dibantahnya semasa hidupnya, Dengan kematian, ia akan menerima segala konsekuensi dari dosa dan bantahannya, Malaikat memukul punggungnya dan mencabut nyawanya dengan keras, dan itu hanya sebagian kecil dari duka panjang yang menantinya.

    Sebaliknya, kematian orang-orang beriman merupakan awal dari kebahagiaan abadi. Tidak seperti orang kafir yang menderita kepahitan, “jiwa orang beriman dicabut dengan lemah lembut”. QS. An-Nazi’at (79) : 2.

    “Dan Malaikat berkata; Salaamunalaikum ! Masuklah kamu kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”.(QS. An-Nahl (16) : 32.

    Ini sama seperti dalam keadaan tidur, dalam tidur, jiwa / ruh masuk ke dimensi lain, seperti digambarkan dalam ayat berikut : “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan”. QS. Az-Zumar (39) : 42.

    Ini adalah kebenaran tak terbantahkan mengenai kematian. Penampakan luar dari seseorang yang menjelang ajal yaitu tatkala malaikat memukul wajah dan punggungnya, maupun ketika nyawanya sampai ke kerongkongannya, hanya jiwa orang-orang yang mengalaminya yang dapat merasakan dan melihat gambaran ini.

    Akan tetapi, kematian sejati dirasakan di dalam setiap sudut oleh orang yang sedang sakaratul maut dalam dimensi yang sama sekali tidak dikenal oleh orang yang menyaksikan kematian dari luar. dengan kata lain, apa yang dialami dalam kematian adalah “perubahan dalam dimensi”.

    Sudah banyak yang membuktikan dan melihat sebagai contoh yang telah Allah SWT tunjukan pada kita khususnya warga Jakarta dan Tangerang baru baru ini, Allah melindungi dan menjaga dari kehancuran akan tubuh seorang ulama dari Daerah Tangerang yang bernama : KH.Abdullah, atau pada daerah daerah lain dipenjuru bumi ini, bersama ini saya lampirkan cuplikan berita dan sumber dimaksud.

    **

    Dikubur 26 Tahun Jasad Masih Utuh Secara Teori Tidak Masuk Akal

    Jakarta- Lahan seluas lapangan bulutangkis itu kini hanya tinggal puing-puing. Dulu di lahan tersebut berdiri sebuah musala yang diberi nama An-Najat. Di musala itu KH. Abdullah memberikan pengajian kepada murid-muridnya, sejak tahun 1950-an.

    Nama Kiai Abdullah kini ramai menjadi perbincangan di Tangerang karena jasadnya yang sudah dikubur selama 26 tahun ternyata masih utuh bahkan bau wangi. Kondisi jenazah persis sama seperti saat dikubur dulu. Hanya tubuhnya agak menyusut saja, dan rambutnya memutih.

    Sepanjang hidupnya, Kiai Abdullah banyak menghabiskan waktunya untuk belajar dan mengajar agama. Menurut Achmad Fathi, putra Kiai Abdullah, sewaktu muda Kiai Abdullah sempat dibimbing Kiai Mursan, seorang ulama yang tinggal di kampung Blenduk, Batu Ceper, Tangerang, yang letaknya sekitar 2 kilometer dari kediamannya.

    Setelah 5 tahun menuntut ilmu di Kiai Mursan, pria kelahiran 16 Desember 1919 itu kemudian diperintah KH Marsan untuk menambah ilmu di Darul Ulum, Mekkah, Arab Saudi. Di sana ia belajar selama kurang lebih 7 tahun.

    Kiai Abdullah akhirnya pulang ke tanah air setelah gurunya, Syekh Yasin, asal Padang, Sumatera Barat, memintanya pulang ke Indonesia, untuk menularkan ilmunya kepada masyarakat, khususnya di wilayah Batu Ceper, Tangerang.

    “Ayah saya diperintahkan pulang untuk mengajar oleh Syekh Yasin, saat perang dunia ke II (1939-1945), ” jelas Achmad Fathi saat ditemui detikcom.

    Sesuai perintah gurunya, Kiai Abdullah kemudian mulai memberikan pengajian di sekitar rumahnya. Sistem pengajaran yang dilakukan Kiai Abdullah bukan model pesantren melainkan berbentuk majelis.

    Lokasi pengajian dilakukan di Musala An-Najat sejak beduk Magrib hingga jam sembilan malam. Usai pengajian, biasanya murid-murid bermalam di musala dan pulang selepas salat Subuh berjamaah.

    Materi pengajian yang diajarkan Kiai Abdullah berupa ilmu Fiqih (hukum) maupun tafsir Al Quran. Adapun kitab-kitab yang diajarjakan, antara lain, Jurmiyah, Nahwu, Shorof, Fathul Qorib, Fathul Muin, maupun tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaludin As-Suyiti.

    Saat mengajar, sang kiai dikenal sangat tegas. Namun meski dikenal galak dalam mengajar, murid-muridnya justru semakin hari semakin bertambah. Mereka umumnya datang dari daerah Batu Ceper dan wilayah Tanggerang.

    Selain mengajarkan ilmu agama, Kiai Abdullah juga mengajarkan murid-muridnya cara bercocok tanam. Saat siang hari biasanya murid-muridnya bekerja di sawah maupun kebun pepaya milik Abdullah. “Murid-murid kalau siang hari ditugasi mengelola sawah dan kebun milik keluarga kami,” jelas Achmad Fathi.

    Kesolehan dan ilmu yang mumpuni yang dimiliki Kiai Abdullah lama-lama tersiar ke seantero Tangerang. Itu sebabnya, Pemda Tangerang pada tahun 1973 memintanya untuk menjadi Wakil Ketua Pengadilan Agama Tengerang.

    Namun sekalipun telah bekerja di pemerintahan, sikap sederhana dan rendah hati tetap melekat dalam diri Kiai Abdullah. Setiap bekerja ia hanya menggunakan sepeda ontel.

    Jarak antara rumahnya ke Pengadilan Agama Tangerang berjarak sekitar 10 kilometer.

    “Kata bapak hidup sederhana dan apa adanya merupakan perintah Nabi Muhammad SAW. Karena itu selama hidup bapak tidak mau hidup secara berlebih-lebihan, ” jelas Abdul Zibaki, anak Kiai Abdullah Lainnya.

    Selama hidup Kiai Abdullah memiliki tiga orang istri, yakni Rohani, Maswani, dan Romlah. Ia pertama menikah dengan Rohani, yang merupakan putri gurunya, KH Mursan, sekitar tahun 1945. Dari pernikahannya dengan Rohani, dikarunia dua orang anak. Namun tidak lama setelah melahirkan anak kedua, Rohani meninggal dunia.

    Selang dua tahun kemudian Kiai Abdullah menikah lagi dengan Maswani, yang merupakan tetangga rumahnya. Dari Maswani, Kiai Abdullah dikaruniai 5 orang anak. Dan lagi-lagi istri keduanya ternyata pergi menghadap Sang Pencipta lebih dulu darinya. Maswani wafat tahun 1980.

    Setelah kematian istri keduanya Kiai Abdullah sebenarnya tidak mau menikah lagi. Namun karena desakan anak-anaknya, ia akhirnya menikah dengan Romlah, warga tetangga Desa Juru Mudi. “Kami merasa kasian sama bapak karena tidak ada yang mengurusinya. Makanya kami mendesaknya untuk menikah lagi,” tutur Mukhtar Ali, anak sulung Kiai Abdullah.

    Namun dari pernikahannya dengan Romlah, Kiai Abdullah tidak dikaruniai anak hingga ia wafat pada 22 Oktober 1983. Kiai Abdullah meninggal dunia lantaran penyakit ginjal yang dideritanya. Sebelum meninggal ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

    Kiai Abdullah dimakamkan di belakang musala An-Najat berdasarkan wasiat yang disampaikannya kepada anaknya, Mukhtar sebelum meninggal. Sang kiai beralasan ingin dikubur di sana mengingat musala itu merupakan tempat perjuangannya pertama kali di dunia dakwah.

    Musala tempatnya pertama kali mengajar seakan menjadi kenangan sendiri bagi Abdullah.

    Meskipun ia sebenarnya juga telah mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang diberi nama Islahuddiniyah, sejak tahun 1970-an. Lokasi madrasah itu persis berada di depan rumah Kiai Abdullah.

    Soal utuhnya jasad Kiai Abdulah setelah dikubur selama 26 tahun dikatakan salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Said Budairy sebagai karunia Allah. Menurutnya, jenazah itu dilindungi oleh Allah.

    “Kejadian seperti itu sudah sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Dan biasanya yang jasadnya seperti itu adalah orang-orang yang hafidz Alquran dan alim,” jelasnya.

    Ditambahkannya, untuk melihat kealiman si jenazah bisa dilihat dari perjalanan hidup almarhum.

    “Dan kalau seperti yang saya dengar kiai itu sebagai orang yang ahli ilmu, itu sudah tidak salah lagi. Berarti kiai itu dilindungi Allah di dalam kuburnya,” imbuhnya.

    Sementara Agus Hendratno, anggota Ikatan Ahli Geologi Yogyakarta mengatakan, dari teori geologi, memang bisa saja jasad manusia yang dikubur akan tetap utuh.

    Penyebabnya mungkin saja di dalam tanah itu tidak terdapat hewan organik yang bisa mengubah jasad manusia, seperti kulit dan daging menjadi tanah.

    Menurut Agus, dalam peristiwa utuhnya jenazah Kiai Abdullah mungkin saja bisa disebabkan di liang lahat tidak terdapat hewan organik.

    “Sebenarnya peristiwa utuhnya jenazah masuk lebih kepada urusan spiritual. Tapi kalau mau dikait-kaitkan ke dalam teori geologi, bisa saja di liang lahat itu tidak terdapat hewan organik,” urainya. Tapi, kata Agus, bila lokasi tanah yang berair dan lembab seperti di wilayah Batu Ceper, yang dikenal dahulunya merupakan daerah rawa-rawa, teori itu terbantahkan. Dengan kata lain Agus berpendapat jika peristiwa utuhnya jenazah Kiai Abdullah sangat unik dan di luar kebiasaan. (ddg/iy).

    ***

    Sumber: berbagai sumber dan : http://www.detiknews.com/read/2009/08/21/173439/1187447/159/secara- teori-tidak- masuk-akal

    QS. Al-Baqarah (2) :154. “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”.

    Semoga bermanfaat bermanfaat.

    Penulis: Mujiarto Karuk

     
  • erva kurniawan 8:08 pm on 3 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Suka Malu Sendiri Atas Doa Yang Kita Panjatkan 

    siluet masjid“Mengapa doa-doa saya belum terkabulkan setelah sekian lama?” tanya seorang jemaah kepada gurunya. Sang guru berdehem. Ia bukannya gak mau jawab, tapi pertanyaan ini sudah berulang kali ia terima dari jemaah pengajian seputar masalah yang tidak jauh berbeda, yakni tentang kapan Allah mengijabah doa.

    Rasanya sudah banyak jawaban yang pernah diutarakan oleh sang ustadz, namun kali ini ia harus mencari cara lain untuk bisa membuat jemaah ini mengerti, paham dan selalu husnuzhon kepada Allah Swt.

    “Memang sering kita berdoa kepada Allah, namun sepertinya Allah Swt belum juga memenuhi hajat kita” jelas sang ustadz membuka jawaban.

    “Namun ketahuilah bahwa banyak orang meminta harta yang banyak kepada Allah Swt dalam doanya. Ada juga yang minta agar naik jabatan. Ada pula yang berdoa agar diberikan jodoh yang cantik, sholihah, dan lain sebagainya. Belum lagi permintaan ini dan itu sepuas hati mereka! Tidak sedikit manusia yang berdoa kepada Allah Swt dengan nafsu syahwat mereka… Segala hal terbaik ingin mereka minta, sebab ia percaya bahwa Allah Sang Pemberi Anugerah akan sangat mudah mengabulkan permintaan mereka…. Namun sayang mereka maunya menang sendiri. Selalu minta, namun jarang memberi! Minta yang manis, tidak mau yang pahit! Padahal mereka belum mengerti bahwa kalau saja Allah Swt memberi apa yang mereka inginkan, belum tentu hal itu membawa kebaikan untuk mereka….” jelas pak ustadz.

    “dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. 2:216)

    Itulah sifat manusia yang mengira bahwa mereka suka berdoa untuk diberikan anugerah apa yang mereka kira baik, padahal Allah Swt mengijabah doa mereka dengan tidak mengabulkan permintaannya!

    Coba anda bayangkan, apabila setiap makhluk Allah Swt ciptakan semuanya kaya raya seperti yang mereka inginkan, apa jadinya dunia ini?!

    Betapa banyak manusia yang ingin mendapatkan jabatan. Ia mengira bahwa bila ia menjabat ia akan banyak melakukan kebaikan, namun begitu diberikan rupanya ia tidak siap menerimanya sehingga jabatan bukan lagi sebagai anugerah, namun menjadi musibah.

    Maka makna yang terpenting yang harus menjadi pelajaran bagi kita adalah bagaimana kita bisa senantiasa menyetel hati & pikiran kita untuk senantiasa ridha atas keputusan Allah Swt.

    Mau Allah Swt buat hidup kita lapang atau sempit, kita selalu berucap hamdalah. Mau Dia Swt bikin hidup kita senang or susah, gak ada masalah. Atau Allah Swt angkat derajat kita kemudian ia jatuhkanpun juga gak apa-apa. Yang penting asal Allah Swt ridho kepada kita, maka kita pun juga akan selalu ridha kepada-Nya.

    **

    Inilah sebuah kisah yang termaktub dalam shahih Bukhari tentang permohonan para sahabat kepada Rasulullah Saw.

    Siang itu Rasulullah Saw sedang menyampaikan khutbah Jum’at. Dalam keheningan dan kekhusyukan khutbah, maka terdengar teriakan orang-orang yang berdiri dan berseru kepada beliau, “Ya Rasulullah, kemarau berkepanjangan. Pepohonan kering dan hewan ternak mati kehausan. Mohon kiranya Anda berdoa kepada Allah Swt agar berkenan menurunkan hujan.”

    Rasulullah Saw lalu berdoa kepada Allah Swt, “Allahummas qinaa… Ya Allah berilah kami hujan… turunkan untuk kami hujan!”

    Maka Allah Swt pun mengijabah permintaan Nabinya. Maka angin pun meniupkan awan hingga berkumpul. Mendung pun menanungi manusia. Hingga saat Rasulullah Saw turun dari mimbar maka hujan pun turun membasahi bumi.

    Celakanya, saking mustajab doa Rasulullah Saw tersebut maka hujan tidak berhenti turun hingga hari Jum’at berikutnya. Maka manusia pun menjadi resah sebab anugerah yang terlalu kebanyakan.

    Saat Rasulullah Saw berkhutbah di Jum’at berikutnya, maka lagi-lagi beberapa orang

    berdiri mengiterupsi khutbah beliau. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, hujan yang turun ini terlalu banyak hingga rumah-rumah rusak dan jalan menjadi becek. Mohon kiranya Anda sudi untuk berdoa agar Allah Swt menghentikannya.”

    Mendengarnya Rasulullah Saw tersenyum… Lalu sejurus kemudian beliau Saw berdoa, “Allahumma hawalina la alaina…. Ya Allah, buatlah hujan turun di sekeliling kami bukan di atas kepala kami.”

    Maka atas doa sang Nabi Saw, Allah pun menghentikan hujan di Madinah, namun masih menurunkannya di luar batas kota Madinah.

    Itulah kisah permintaan doa manusia yang pernah terjadi di zaman Rasulullah Saw. Pelajaran yang dapat diambil dari hadits di atas adalah bahwa kita harus mengakui bahwa kita suka memaksakan kehendak pribadi saat kita berdoa kepada Allah Swt.

    Kebodohan dan keterbatasan ilmu kita mengisyaratkan bahwa kita mengira bahwa apa yang kita inginkan adalah hal yang terbaik. Padahal begitu Allah Swt kabulkan apa yang kita inginkan, malah itu menjadi hal yang merepotkan bagi diri kita.

    Tidakkah kita merasa malu kepada Allah Swt saat ia menyingkapkan suatu saat kepada kita bahwa apa yang kita minta rupanya amat buruk bagi kita?!

    Pada kisah dalam hadits itu disebutkan bahwa Rasulullah Saw saja tersenyum melihat tingkah manusia yang suka meralat sendiri doanya. Bila Rasulullah Saw saja tersenyum melihat kenaifan kita saat berdoa, lalu bagaimana dengan Allah Swt di atas Ars-Nya yang mendengar semua permintaan & munajat kita?!

    Maka jadikan hatimu senantiasa ridha atas keputusan-Nya!

    ***

    Sumber: Cahaya Langit, Bobby Heriwibowo

     
  • erva kurniawan 8:02 pm on 2 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Berhenti dan Lihat Yang Baik 

    PemulungKlontang…klontang …klonteng. …,bunyi botol kaleng bekas minuman ringan membentur jalan aspal dan rupanya bukan jatuh namun sengaja dibuang oleh pemiliknya karena sudah habis isinya. Lemparan kaleng tersebut rupanya dilempar sengaja mengarah ke sudut tertentu – sambil berlalu dengan kendaraan roda duanya. Tempat yang dituju oleh pemilik kaleng kosong tersebut adalah mendekati seorang pemulung yang sedang berjalan sambil memperhatikan sekitarnya – berharap ada sesuatu barang yang dibuang pemiliknya yang masih dapat dimanfaatkan olehnya.

    “Woy…”! teriak pemulung tersebut.

    “Liat-liat dong buang sampah…buta apa?”, lanjutnya. Sementara pemilik kaleng tersebut hanya menoleh dari atas motornya & segera melanjutkan perjalannya sambil mengangkat tangan sebagai tanda permintaan maafnya.

    Pemulung tersebut mulai mencari tahu benda apa yang dilempar orang tsb ke arahnya. Dia mulai berhenti berjalan, melihat ke kiri, ke kanan, memutar badan ke kiri dan memutar badan ke kanan semata hanya untuk memenuhi rasa keingintahuannya. Bahkan dia sampai harus menanyakan orang yang kebetulan dekat dengannya apa dan ke mana jatuhnya benda yang dilempar ke arahnya itu. “Itu tuh Pak jatuh ke selokan,”ujar sesorang lelaki yang sedang membuka gembok pintu warungnya yang baru akan dibuka pagi itu.

    Pemulung tersebut bergegas menuju selokan sesuai arah yang ditunjuk oleh lelaki tersebut dan mendapatinya sebuah kaleng bekas botol minuman ringan yang berwarna biru tersangkut diantara sampah. Segera dia melepaskan gendongan besar yang berada di punggungnya, meletakannya di atas trotoar dan sementara dirinya berjongkok hingga lututnya menyentuh trotoar dan mulai menggunakan kaitan besi yang dibawanya untuk meraihnya. Sedikit aga sulit untuk meraih kaleng tersebut, namun usaha pemulung tersebut membuahkan hasil juga dan berhasil mendapatkan kaleng bekas minuman tersebut dan dimasukannya ke dalam keranjangnya. Kemudian pemulung tersebut pun pergi melanjutkan perjalanannya mencari rezeki hari itu.

    Saya yang memperhatikannya dari awal kejadian itu, berkali-kali berucap syukur pada Tuhan (Alloh SWT) atas pelajaran yang diperlihatkanNYA dari peristiwa tesebut. Ada keyakinan dalam diri saya (InsyaAlloh benar) bahwa pengendara sepeda motor tersebut memang sengaja membuang kaleng bekas minuman ringannya itu ke arah pemulung agar dapat dimanfaatkan oleh pemulung tersebut sebagai bagian dari rezekinya hari itu.

    Padahal bisa saja pengendara motor itu membuangnya langsung ke selokan, atau ke tempat sampah yang ditemuinya di perjalanannya atau membuangnya ke sembarang arah. Tapi itu semua tidak dilakukannya dan Tuhan (Alloh SWT) lah yang menggerakan pengendara motor tersebut agar memberikan kaleng bekas minuman tersebut ke pemulung itu.

    Sementara sang pemulung tidak menyadari bahwa dia sedang mendapatkan rezeki, namun malah marah dan mengupat pengendara motor itu. Sang pemulung hanya bereaksi spontan yang mungkin didasarkan atas perasaan “jadi orang kecil”, atau mungkin kemarahan karena tidak dihargai orang lain, atau kekecewaan akan nasib hidupnya yang kurang beruntung, atau masalah yang sedang dihadapinya dan atau banyak kemungkinan- kemungkinan lainnya yang jadi alasan dari reaksinya itu (dan mungkin kita juga akan berbuat hal yang sama seperti sang pemulung tersebut dan mungkin juga dengan berbagai alasan yang sama dengan pemulung tersebut).

    Beruntung sang pemulung berhenti dari kondisi tersebut (sebenarnya dikarenakan juga oleh pengendara motor tsb yang lebih memilih pergi & tidak meladeni makian sang pemulung) – yaitu kondisi dimana dia masih meributkan lemparan ke arahnya dan perasaan-perasaanny a yang terpicu akibat lemparan tersebut (kesulitan). Sang pemulung mulai mencari tahu apa yang di lemparnya dengan proses pembelajaran di dalamnya (sang pemulung harus tengok kiri, tengok kanan dan bahkan bertanya pada orang lain) dan setelah mengetahuinya – justru apa yang dimakinya malah memberikannya keuntungan (kemudahan) yaitu dia mendapatkan sebuah kaleng kosong yang dapat dia manfaatkan meskipun dia harus sedikit usaha untuk mendapatkannya (kesulitan).

    Terakhir…. (dan ini yang sering kita melupakannya) sang pemulung pergi begitu saja dengan raut muka yang datar, biasa-biasa saja, tanpa perasaan bahagia dan tanpa terucap sedikit syukur atas rezekinya – seolah ini adalah hasil usahanya sendiri. Seolah-olah tidak ada campur tangan orang lain dalam rezeki yang didapatnya dan seolah-olah Tuhan (Alloh SWT) tidak menggerakan “KuasaNYA” sehingga rezekiNYA dapat sampai pada sang pemulung itu dengan baik dan bukan ke pemulung yang lain.

    Sepertinya sang pemulung masih merasa marah & kesal atas perlakuan pengendara motor itu. Padahal….itulah rahasia Tuhan (Alloh SWT) yang Maha Tahu dengan cara bagaimana DIA berkomunikasi dengan hambaNYA. Sebuah rahasia yang berisi ujian kesulitan dan kemudahan dalam satu paket untuk hambaNYA yang mau “berhenti dan melihat yang baiknya saja”.

    ***

    “Kaya itu bukanlah banyak harta benda, tetapi kaya ialah kaya hati (HR. Bukhori/Muslim) “

    Sumber: daarut tauhid

     
    • Fathy Farhat khan 3:49 pm on 4 November 2009 Permalink

      Assalamu’alaikum, salam kenal….Subhanallah, tulisan yang selain memberikan pencerahan ide baru juga sangat inspiratif kawan, nice blog, keep on blogging!!!kayaknya yang betul tauhid uluhiyah bukan ufuhiyah deh, salah ketik kali ya? :-) artikel-artikel untuk menjadi muslim kaya juga bisa aku temukan di sini : http://muslim-kaya.blogspot.com/

  • erva kurniawan 7:53 pm on 1 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Bertaubatnya Si Gay 

    siluet masjid 7Oleh: Yudi Rohim

    ***

    Pagi itu, hari senin sekitar pukul 7.30 tapi aku lupa tanggal berapa di tahun 2005, aku tengah bersantai membaca koran pagi ketika telepon itu berdering. Sebagai seorang marboth masjid, aku harus melayani jamaah termasuk jika ada telepon.

    Salam menyapa, “Assalamu’alaikum”, sapaku.

    “Wa’alaikumsalam”, jawabnya.

    “Maaf mas, boleh saya datang ke Al Ghifari”, tanya si penelepon.

    “Oh.. tentu boleh, silakan”, jawabku.

    Sekitar 1 menit kemudian terdengar lagi salam sambil mengetuk pintu kamar marboth.

    “Assalamu’alaikum”.

    “Wa’alaikumussalam”. Aku keluar melihat siapa yang datang.

    “Maaf mas saya yang tadi nelpon”.

    “Hah.. cepet amat, emang tadi nelpon dari mana?”, tanyaku.

    “Oh dari telepon umum yang ada di depan”, jawabnya.

    “Lho, kenapa ga datang aja langsung?”. Dulu di depan masjid memang ada telepon umum koin.

    “Mmm, untuk memastikan aja ada orang atau ngga”, katanya.

    “Oh, silakan duduk mas”. Kupersilakan ia duduk di kursi depan tempat wudhu akhwat.

    “Tahu dari mana telepon Al Ghifari?”, tanyaku.

    “Di depan kan ada tulisannya”.

    O iya ya pikirku. “Ada yang bisa saya Bantu?”, tanyaku.

    “Mmm, boleh saya cerita mas?”.

    “Boleh, silakan”.

    “Tapi mas jangan marah ya?”.

    “Lho kenapa saya harus marah?”, tanyaku.

    “Mmm, begini mas”.

    Dia bercerita kepadaku panjang lebar tentang jalan hidupnya. Bermula dari aktivitasnya selama di kampung halamannya yang aktif di remaja masjid. Lalu diterimanya ia di IPB untuk kuliah. Wah, anak IPB juga rupanya dan ternyata seangkatan. Itulah yang membuat kami kian akrab. Aku fakultas MIPA, dia dari fakultas yang lain, cuma dia D3. Akhirnya dia masuk ke inti pembicaraan. Semula aku mengira ia akan meminta bantuan keuangan seperti banyak orang yang telah datang ke Al Ghifari dengan berbagai alasan. Tapi ternyata aku salah, dia malah menceritakan masalah penderitaan hidup yang dia alami selama ini.

    Selama di IPB ia kesulitan masalah biaya. Tapi ia adalah orang yang mandiri yang tidak mau menyulitkan orang tuanya. Maka ia berusaha mencari uang sendiri mulai dari menjual koran hingga menyemir sepatu. Sampai pada akhirnya, ia mengalah, sepertinya tidak mungkin meneruskan kuliah dan ia pun memutuskan untuk berhenti.

    Di tengah usahanya mencari kehidupan, ia bertemu seseorang yang baik yang ingin menawarkan pekerjaan. Langsung saja ia terima tawaran tersebut, bahkan ia ditawari tempat tinggal bersama orang tersebut di sekitar Ciapus. Awalnya ia diperlakukan dengan sangat baik. Namun beberapa hari kemudian ia merasakan hal yang aneh dalam rumah tersebut. Penghuni rumah adalah laki-laki semua, tetapi kemesraan sesama lelaki terjadi di sana. Sampai pada suatu saat ia dipaksa melakukan hal itu, sebab jika tidak ia akan dibunuh.

    Ya, ia diper**** oleh sesama lelaki. Setiap hari! Karena memang itu aktivitas penghuni jika sudah berkumpul. Mulai dari sakit yang ia rasakan, tertekan batin sampai kenikmatan dan ketagihan yang ia rasakan selama menghuni rumah tersebut selama beberapa bulan.

    Setelah itu, ia mangkal tiap malam di daerah Taman Topi dan depan DPRD. Biasa, mencari pelanggan. (Ternyata ada lho di Bogor, mungkin banyak). Dan itu ia lakukan selama sekitar 3 tahun lebih.

    Namun suatu saat, ketika ia tengah bersantai sambil nonton sinetron, ia mendapati sinetron yang katanya religius, tentang azab kepada kaum gay. Menonton sinetron itu, ia ditertawakan oleh yang lain. Namun setelah hari itu, ia merasa gelisah. Hatinya takut jika yang ia tonton itu terjadi pada dirinya. (ternyata ada juga manfaat sinetron begituan). Terlebih ia pun sudah mengidap penyakit kelamin. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan. Akhirnya ia memutuskan harus keluar dari lingkungan itu. Ia pun kabur menuju keluarganya di daerah Cibinong.

    Ia bercerita hal yang sama seperti yang ia ceritakan kepadaku. Namun keluarganya tersebut malah mengusir dia dengan hinaan. “Pergi kamu, jijik saya ngeliat kamu. Pergi..pergi. .”. Begitulah ia menceritakan kepadaku. Hal itu membuat dirinya kecewa dan merasa tidak berguna. Suatu saat ia ingin bunuh diri, tapi urung ia lakukan karena takut.

    Akhirnya ia kembali lagi ke rumah itu. Beberapa bulan kemudian dia kembali teringat sinetron itu. Dan kali ini dia memutuskan benar-benar akan pergi. Entah ke mana, yang penting pergi. Lebih baik mati dari pada hidup seperti itu. Begitulah katanya. Sampai tidak sengaja dia melewati masjid Al Ghifari. Dia berharap ada yang bisa membantu masalahnya, minimal memberikan dorongan moril buatnya. Begitulah ia bercerita kepadaku sambil menangis.

    Terus terang, sebenarnya aku pun merasa jijik mendengarnya, terutama ketika ia bilang ia sudah terkena penyakit kelamin. Ingin aku menjauhinya, meski tidak ingin mengusirnya.

    Tapi tidak tega, terlebih ketika ia bilang, “mas saya ingin tobat, saya ingin pulang, ingin bertemu ibu, ingin mencium kakinya”. Tidak terasa air mataku pun meleleh. Aku peluk dia. Entah”¦ tiba-tiba hilang rasa jijikku. Yang aku tahu, ada orang yang membutuhkan pertolongan saat itu. Mungkin inilah tugasku menjadi seorang da’i yang bermanfaat bagi orang lain.

    Aku tenangkan dia, lalu aku ajak masuk ke kamar marbot. Aku suruh tunggu karena mau membeli makan buatnya. Setelah itu kami makan bersama, terpaksalah aku membatalkan puasa sunnahku untuknya. Kemudian aku tawarkan pengobatan kepadanya.

    “Mau ga dibekam?”.

    “Apa tuh mas dibekam?”.

    Lalu aku jelaskan mengenai bekam.

    “Ga mau ah mas, pasti sakit”.

    “Ya paling sakitnya sedikit”.

    “Ga ah, takut ngeliat darah”.

    Dia tak mau, akhirnya aku aja ia ke tempat temanku yang bisa refleksi. Setelah diperiksa, ia memang menjerit ketika ditekan titik untuk saluran pembuangan. Aku tidak langsung cerita ke temanku itu. Setelah itu kami istirahat. Untuk meyakinkan diri kalau ia benar-benar ingin taubat, aku tahan ia selama 3 hari di Al Ghifari. Setiap hari aku kasih makan. Kadang diajak jalan-jalan.

    Bahkan aku ingin membuktikan kalau ia dulu pernah aktif di remaja masjid. Ternyata ia memang bisa baca Qur’an meski tidak lancar. Dia bilang, dia ingin lagi aktif seperti dulu, belajar agama. Dia janji kalau sudah sampai rumah ia ingin belajar agama lagi.

    Ketika malam aku ajak dia tidur di dalam kamar. Dia menolak, tapi aku paksa. Akhirnya dia mau. Kami tidur bersebelahan, karena memang tidur di karpet. Aku terjaga tidak bisa tidur memikirkan yang terjadi hari ini, kok bisa-bisanya aku mendapati hal ini. Sambil juga memikirkan, khawatir aku diapa-apain waktu tidur. Tapi segera kusingkirkan pikiran itu, terlebih dia sudah tertidur lelap, mungkin karena cape dan menahan sakitnya.

    Tiga hari sudah dia di Al Ghifari. Shalat 5 waktu, baca Qur’an. Aku melihat sepertinya ada kesungguhan dalam dirinya untuk berubah. Malamnya aku persiapkan perbekalan untuknya pulang kampung. Aku berikan ia sebuah tas kenang-kenangan milikku, sebuah Al-Qur’an satu-satunya yang sangat kusayangi, sebuah surat dan seluruh uang mengajarku yang tidak seberapa. Tidak kupikirkan diriku yang tak punya uang lagi, meski sempat bertanya dalam hati, entar gua makan apa ya. Tapi bodo ah, yang kutahu manusia hanya akan mati kalau memang rezkinya sudah habis. Sebelum berangkat, aku tawarkan ia untuk bertahan di Al Ghifari. Tapi ia katakan tidak. Ia sudah bertekad untuk pergi dari Bogor. Ia ingin kembali ke kampung halamannya dan memulai hidup baru.

    Aku antar ia sampai naik angkot. Dan terakhir kami berpelukan kembali. Ia mengucapkan terima kasih. Dan ia berjanji akan kembali ke rumahnya dan tidak akan kembali ke kehidupan yang jahiliyah itu lagi. Dan ia pun akan mengingatku seumur hidupnya.

    Setelah itu, baru aku cerita kepada marbot yang lain siapa orang itu. Yang lain hanya bisa heran”¦

    Ya Allah selamatkanlah dia dan kami. Tunjukilah jalan yang terbaik buat dia dan kami. Ya Allah, Engkau Maha segalanya, jika Engkau tidak sempat mempertemukan kembali di dunia ini, maka pertemukanlah kami di surga-MU ya Allah”¦

    Teruntuk saudaraku Yeri (bukan nama sebenarnya), moga engkau sehat saja selalu dan telah sembuh dari penyakitmu. Semoga kau hidup bahagia di samping ibumu, di kampung halamanmu, di Sumatra Barat.

    ***

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 691 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: